Pentingnya Budaya Salam

Pentingnya Budaya Salam

  “Assalamu’alaikum, Ustaz….” “Assalamu’alakum, Ustazah…” Kata-kata tersebut sering kali diucapkan oleh siswa-siswa SMART Ekselensia Indonesia ketika bertemu guru-gurunya, wali asrama, atau orang yang lebih tua di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan. Salam kepada para guru dan/atau wali asrama bergaung di kelas, di luar kelas, di selasar, di masjid, di tangga, dan di mana pun di lingkungan SMART, salah satu sekolah unggul yang berada di Bogor. Ketika pertama kali bergabung di SMART, saya langsung disapa dengan salam tersebut. Sebuah sapaan yang sangat berkesan buat saya mengingat di sekolah-sekolah tempat mengajar sebelumnya saya belum menemukan budaya salam seperti di SMART. Seyogianya, ucapan salam dan budaya positif seperti ini, dimiliki oleh setiap pelajar Muslim di sekolah mana pun. Menyebarkan salam merupakan salah satu sunnah Rasulullah yang perlu diterapkan dalam kehidupan seharihari. Alhamdulillah, guru-guru SMART sudah layak berbangga dengan terbudayakannya salam ini, sebuah budaya untuk mewujudkan model pendidikan berkualitas Sebagai sekolah berasrama, mungkin mudah menerapkan budaya salam. Pekerjaan rumah guru dan wali asrama adalah bagaimana mendidik siswa untuk tetap menerapkan budaya salam ini di masyarakat pada saat mereka sedang liburan atau pulang ke rumahnya. Liburan ke daerah asal ala siswa SMART dinamakan sebagai “pulang kampung”. Saya berharap tinggi sebenarnya bahwa selain siswa dievaluasi ibadahnya oleh orangtuanya pada saat pulang kampung, alangkah baiknya budaya salam ini juga masuk di dalamnya. Substansi dari budaya salam ini adalah bagaimana siswa dapat membangun dan mengembangkan kecerdasan interpersonal. Dengan kecerdasan interpersonal ini, setiap siswa diharapkan mampu hidup dalam kehidupan kolektif. Hidup secara kolektif merupakan fitrah manusia. Hidup secara kolektif membutuhkan tegur sapa, komunikasi, kerja sama, termasuk juga menyelesaikan konflik. Dalam budaya salam ini, guru dan wali asramanya sudah cukup berperan aktif sebagai fasilitator dan pengarah bagi siswa. Bola terakhir sebetulnya ada di tangan siswa untuk mengejawantahkan budaya salam ini di dalam masyarakat ataupun ketika kelak berada di lingkungan perguruan tinggi. []
,

Jangan Ragukan Potensi Dalam Diri Siswa

Jangan Ragukan Potensi Dalam Diri Siswa

Oleh : Uci Febria Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Zah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memerhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustadzah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Dzah?”

“Ustazah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Zah?” Siswa-siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustazah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustazah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Zah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustazah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Zah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauh-jauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustazah jadi siswa kan? Saya minta Ustazah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together.” Saya memimpin doa dalam bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang ,mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

 

,

Kamu Berapa Watt?

Kamu Berapa Watt?

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis, Alumni SMART Angkatan IX

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.

 

 

,

Bangun Sob!

Bangun Sob!

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.

Percaya Saja Kalau Murid Kita Pasti Bisa

Percaya Saja Kalau Murid Kita Pasti Bisa

 

Bukan perkara mudah memadatkan materi Geografi kelas 5 IPS selama satu tahun menjadi hanya satu semester di SMART Ekselensia Indonesia. Kesulitan yang aku yakin hampir dialami oleh semua guru Geografi SMA, khususnya yang mengajar kelas XII IPS, karena akan menghadapi UN dan SNMPTN. Namun, inilah pembelajaran aktif dan menyenangkan yang justru akan lebih membantu siswa dalam memahami keterampilan pemetaan.

Hari itu cuaca cerah dan terik matahari menggetarkan semangat kami yang siang itu akan berjalan mengelilingi lingkungan sekolah. Aku bersama siswa kelas 5 siang ini akan melakukan praktik pemetaan untuk membuat denah sekolah. Ya, hanya membuat denah gedung sekolah. Tidak begitu luas memang, tetapi inilah pembelajaran agar siswa lebih memahami kondisi ruang tempat mereka tinggal dan beraktivitas.

Keterampilan pemetaan ini sangat dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memahami ruang. Misalnya saja ketika seorang siswa yang baru melakukan perjalanan tiba-tiba tersesat ataupun kebingungan tak tahu arah pulang. Atau ketika siswa kebingungan mencari tempat strategis untuk memasang mading sekolah.

Awal praktik pemetaan ini, aku membagi siswa menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok sudah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk pengukuran di lapangan, antara lain kompas bidik, meteran, busur, penggaris, dan alat tulis. Kecuali alat tulis, peralatan-peralatan tersebut dipinjam dari laboratorium sekolah kami. Keterbatasan peralatan (misalnya saja kompas yang cuma ada dua) tidak menjadi halangan dalam proses pembelajaran ini.

Tahap pertama, aku mengarahkan siswa menentukan titik pusat untuk membidik arah utara dan mengetahui sudut azimuth. Pada tahap ini, siswa dituntut untuk sangat teliti dalam melihat ukuran sudut di kompas karena akan sangat menentukan arah pengukuran selanjutnya. Jika terjadi kesalahan, maka gambar denah gedung sekolah tidak akan seperti bentuk aslinya. Titik pusat atau titik awal pengukuran dimulai dari tiang bendera, kemudian kompas diarahkan ke sudut titik selanjutnya.

“Oke, sekarang lihat jarum jam di kompas dan arahkan menuju arah utara.”

“Ustazah, kok saya menghadap sini arah utaranya? Beda sama Alif?” sahut Ruly.

“Gak mungkin, pasti sama. Coba posisi badan jangan berubah-ubah, pegangnya yang benar,” jawabku meyakinkan Ruly.

“1600… 1650… 1610… 400… 1600 lebih…” lapor beberapa siswa yang membidik dengan kompas.

“400? Rasanya tidak mungkin! Coba Ustazah lihat.”

Aku sebenarnya masih ingin meyakinkan bahwa alatnya dalam kondisi baik, tetapi ketika aku lihat ternyata benar kompas itu sudah rusak. Arah utara yang ditunjukkan salah. Padahal, kompas inilah yang pernah dibawa salah seorang ustadzah ke luar negeri untuk menunjukkan arah kiblat.

“Maaf, ya, tadi Ustazah gak percaya.”

“Tuh kan, Ustazah, saya benar kan?”

Aku tersenyum mendengar perkataan siswa tersebut. Di sekolah ini, sejatinya aku masih belajar. Belajar memahami diri bahwa menjadi seorang guru tidak selalu menjadi orang yang selalu benar. Aku harus terbuka, termasuk dengan siswa, terlebih siswa yang intelektualitasnya di atas rata-rata pandai seperti di SMART ini. Tidak perlu penjelasan banyak untuk memahamkan mereka pada sebuah materi, termasuk soal penggunaan kompas karena mereka lebih bersemangat belajar dengan melakukannya sendiri.

“Learning by doing… Ustazah!” celetuk sebagian besar siswa-siswaku itu.

Aku benar-benar melihat kesungguhan mereka dalam memahami apa yang belum mereka ketahui. Aku bukan hanya melihat sosok siswa-siswa biasa, tapi siswa yang ingin sukses. Aku lantas teringat dengan kata-kata salah seorang di antara mereka, “Ustazah, saya berani meninggalkan kampung halaman dan keluarga saya, maka saya juga harus sukses dan saya yakin saya sukses. Sukses sekarang, sukses juga masa depan saya!”

 

Tahap berikutnya adalah pengukuran jarak dengan meteran. Di sini dibutuhkan kerja sama yang apik agar pengukuran jarak sebenarnya bisa cepat dan tepat. Setelah pengukuran jarak, tahapan pertama dilakukan kembali, yakni membidik arah untuk titik selanjutnya dengan kompas dan terus dilakukan pengukuran jarak di lapangan. Begitu seterusnya hingga kembali ke titik awal, setelah mengelilingi gedung sekolah.

Kegiatan ini adalah kegiatan outdoor pertama yang aku lakukan sebagai pembelajaran untuk siswa. Aku jadi bisa melihat karakter siswa dengan lebih jelas, ada yang inisiatif, kreatif, sok mengatur, serius, dan cerewet mengoordinasikan teman-temannya. Meskipun demikian, aku lihat semua siswa mau bekerja sama, baik antarsiswa di dalam kelompok maupun siswa di luar kelompok. Bagaimanapun juga, pengukuran di lapangan, khususnya mengukur gedung sekolah, sangat mengandalkan kesolidan tim, terlebih lagi alat praktiknya terbatas.

Setelah semua pengukuran selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah menggambarkan hasil pengukuran di lapangan dengan skala tertentu. Di tahapan inilah siswa dapat memahami dengan baik peran skala peta dalam menggambarkan kondisi lingkungan asli atau ukuran sesungguhnya dengan perbandingan tertentu agar dapat digambarkan ke bidang datar yang memiliki ukuran terbatas. Masing-masing kelompok harus dapat menggambarkan ke bidang datar. Ukuran yang digunakan adalah kertas A4, dengan skala peta ditentukan masing-masing kelompok. Dari hasil akhir pengukuran akan terlihat, apakah bentuknya sudah sesuai dengan bentuk aslinya. Apakah sama bentuknya antarkelompok, atau apakah ada gambar denah yang tidak terbentuk karena pengukuran di lapangan kurang tepat sehingga penentuan skala peta pun tidak sesuai.

“Ustazah, kok gambarnya gak sama, ya?” cetus Sayfodin.

“Harusnya sama, kalaupun beda harusnya tidak terlampau jauh selisihnya,” jawabku.

Aku menghampiri kelompoknya, memastikan mengapa denahnya tidak sesuai. Beberapa menit kuperhatikan gambar dan datanya. Memang ada yang salah.

“Kami mengulang aja, Ustazah.”

“Tidak perlu, kalau sudutnya sama, bisa ditarik garis lurus saja.”

“Tapi data kami salah, Ustazah. Kami belajar jujur dong, Ustadzah.”

Tanpa dihiraukan lagi kelompok Sayfodin langsung mengulang pengukuran sudut dengan kompas. Dengan waktu yang terbatas, mereka berjanji dapat menyelesaikannya. Tak lama berselang, kelompok lainnya mulai mengalami kegundahan.

“Kok gak sesuai, ya, dengan skalanya?” salah seorang siswa dalam kelompoknya terheran-heran.

Kebenaran data yang didapat ketika pengukuran menjadi hal yang mutlak agar gambar yang diinginkan sesuai dengan bentuk aslinya. Mulailah mereka mengulang beberapa pengukuran. Sebenarnya mereka bisa saja memanipulasi data karena sudah terlihat bentuknya. Ini akan memudahkan mereka. Tetapi para siswa itu memilih untuk tidak melakukannya. Meski jam menunjukkan hampir pukul tiga sore, mereka tetap mengulang beberapa pengukuran yang dibutuhkan.

“Ayo, semangat! Tuntaskan… selesaikan semua dengan kejujuran!”

“Ustazah, kalo orang bikin peta, mudah saja, ya,berbohong? Buktinya, kalo kami mau, bisa saja kami berbohong. Mudah saja bagi kami untuk memanipulasi data,” ujar seorang siswa.

“Sangat mudah, bahkan dengan teknologi digital pun akan menjadi sangat mudah, tapi lakukanlah pekerjaanmu dengan hati nurani,” jawabku sambil tersenyum.

Alhamdulillah, melalui kejujuran, semua pekerjaan mereka selesaikan pada pukul 15.30, bertepatan dengan kumandang azan Salat Ashar. Mereka menyelesaikannya dengan baik walaupun yang digambar baru dengan pensil dan belum sempat dirapikan. Semua kelompok bentuk gambarnya sama.

Siang dan sore itu, aku memperoleh keyakinan bahwa pembelajaran yang mengajak siswa lebih aktif dan menyenangkan adalah pembelajaran yang luar biasa. Siswa bukan hanya memahami pelajaran sebagai kewajiban seorang pelajar, tetapi juga siswa dapat belajar dan melatih karakter-karakter yang baik seperti kerja sama, bersungguhsungguh, dan jujur.

Juru Masak Kami Hebat!

Juru Masak Kami Hebat!

Oleh: J. Firman Sofyan, Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Disadari atau tidak, waktu terasa begitu cepat berada di SMART. Kala itu saya kembali bertemu dengan siswa angkatan 5 SMART Ekselensia Indonesia. Satu tahun saya tidak pernah bersama mereka secara formal di kelas, sekarang mereka telah lulus kuliah dan bekerja. Pertama kali mengajar di sekolah nonprofit ini, mereka masih kelas 1.

Di awal tahun pelajaran 2012/2013, saya memulai pertemuan dengan siswa kelas lima dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan terkait data diri siswa. Salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah “Berapa tinggi dan berat badanmu sekarang?”. Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan cepat dan tepat oleh siswa. Namun, nyatanya mereka membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk menjawab pertanyaan dasar tersebut. Ini bukti kalau ada masalah di sini. Pertanyaan lain adalah “Berapa pertambahan tinggimu dari kelas satu sampai saat ini?”.

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan mudah karena tinggal mengurangi tinggi badan sekarang dengan tinggi badan ketika pertama kali datang ke SMART empat tahun yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab di dalam sebuah kertas kecil. Sisa pertanyaan sepertinya tidak perlu saya deskripsikan di sini.

Jawaban siswa terkait pertanyaan kedua memang sangat bervariasi. Ada yang cuma 3,5 cm, 8 cm, bahkan ada yang mencapai 40 cm. Jawaban-jawaban tersebut menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa rata-rata pertambahan tinggi siswa adalah antara 20-30 cm. Saya pun dapat menyimpulkan bahwa ada pengaruh gizi yang berbeda yang siswa dapatkan ketika mereka di rumahnya masing-masing dengan di SMART. Perbedaan yang cukup signifikan dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertama kali tiba ke sekolah ini, tinggi mereka berkisar 125-160 cm. Angka terakhir pun sangat jarang ditemukan. Biasanya siswa yang tingginya mencapai angka tersebut adalah siswa yang sebelum diterima di sekolah ini telah bersekolah selama satu tahun di jenjang menengah (SMP).

Perbedaan ini seolah mempertegas cerita beberapa siswa terkait kondisi mereka di desanya. Salah satunya adalah menu makanan. Beberapa kali saya mengobrol dengan siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Obrolan terkait menu makanan mereka sehari-hari yang menurut mereka jauh lebih tidak enak dan tidak bergizi dibandingkan di SMART. Fatqur, misalnya, siswa yang berasal dari Banggai, pernah mengatakan bahwa jarang sekali bisa makan dengan nasi. Ia bersama keluarganya yang berdomisili tidak jauh dari pantai lebih sering makan ikan tanpa nasi. Sepintas sangat bergizi karena setiap hari bisa mengonsumsi ikan laut. Kemiskinanlah penyebab utama sulitnya mereka mengonsumsi nasi yang harganya bisa sama dengan harga satu sak semen di Pulau Jawa. Namun, konsumsi makanan laut tanpa diimbangi sayur-sayuran dan buah-buahan tidak terlalu bagus. Tidak ada keseimbangan antara karbohidrat, vitamin, kalsium, dan mineral.

Andi, siswa yang berasal dari Sorong, pernah bercerita kalau keluarganya sanggup menikmati olahan dari ayam hanya satu kali dalam tiga bulan. Harga ayam di sana sama sekali tidak terjangkau oleh orangtuanya yang hanya bekerja sebagai pekerja bengkel kecil. Akhirnya, makanan sehariharinya tidak jauh dari sagu dan ikan hasil tangkapan sendiri. Itu pun kalau ada. Kalau tidak, ya makan sagu saja ditemani garam.  Sungguh ironis!

Mungkin hal tersebut bisa dianggap wajar karena terjadi terhadap siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Namun, bagaimana kalau yang bercerita adalah siswa yang berasal dari Pulau Jawa? Kisah yang satu ini memang tidak saya dapatkan secara lisan; kisah ini berbentuk audio visual. Sedih saya ketika melihat sebuah video yang telah diunggah di salah satu situs penyedia video tentang keluarga Ahmad Darmansyah, salah satu siswa SMART yang telah meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam video yang berdurasi sekitar delapan menit itu, saya bisa melihat bagaimana perjuangan keluarga Ahmad dalam mencari nafkah. Orang tua Ahmad hanya seorang pengusaha tahu skala rumah (industri rumah tangga) yang pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari-hari, yang mungkin tidak pernah diperhitungkan kandungan gizinya. Boro-boro untuk menabung atau menyekolahkan anak-anaknya, untuk membeli bahan baku tahu saja ia kesulitan.

Di tempat lain, saya mendapat cerita yang disampaikan salah satu pengajar SMART.

“Ane kaget, ternyata Muhib bisa marah-marah terhadap orang tuanya waktu pulang kampung,” Ustaz Cipto memulai pembicaraan dengan saya. Ceritanya berisi cerita tentang salah satu siswa SMART angkatan 8 yang bernama Muhibudin.

“Kenapa emang?” saya menimpali.

“Dia memprotes ibunya karena membagi sebutir telur goreng menjadi empat bagian agar bisa dimakan bersama anggota keluarga lain. Padahal, di sekolah ia bisa mendapatkan sebuah telur yang utuh, diberi bumbu macam-macam pula!”

Saya tidak tahu harus menjawab apa lagi. Namun, kisah-kisah di atas tampaknya mewakili kondisi semua siswa yang memang berlatar belakang dhuafa ini. Gizi, ah, itu mungkin istilah asing bagi orang tua mereka di desa sana. Istilah yang sama sekali tidak pernah ada dalam memori ingatan mereka. Bisa membesarkan anak mereka sampai melewati tahap yang bernama bayi, anak-anak, remaja, atau bahkan dewasa itu sudah menjadi sebuah prestasi. Tidak peduli dengan terpenuhinya gizi atau tidak. Toh mereka “berhasil” mendidik anak-anak cerdas dan rendah hati, yang akhirnya terpilih dari ratusan anak Indonesia yang mendaftar di sekolah yang berlokasi di Parung, Bogor ini.

Kendatipun demikian, kadang-kadang, kondisi siswa yang “kurang gizi” ini menimbulkan pemandangan yang cukup unik. Salah satu pemandangan tersebut terjadi pada sebuah pertandingan futsal yang diselenggarakan SMART dalam rangkaian acara Olimpiade Humaniora Nusantara. Lomba yang sangat banyak peminatnya ini dikhususkan untuk siswa jenjang SMP atau sederajat. Salah satu pesertanya adalah tuan rumah sendiri, yang kemudian disebut tim SMART.

Di pertandingan pertama, tim SMART melawan salah satu SMP yang berasal dari daerah Parung. Yang menarik dalam pertandingan tersebut adalah adanya perbedaan yang sangat signifikan pada postur para pemain yang membela masing-masing tim. Siswa SMART, yang merupakan siswa jenjang pertama dan kedua, terlihat seperti para liliput di antara para pemain dari sekolah milik pemerintah tersebut. Sungguh seperti David dan Goliath. Bisa ditebak pemenangnya? Yang pasti siswa-siswa imut tersebut telah memberikan perlawanan yang maksimal meskipun akhirnya hanya mampu mencetak dua gol, berbanding lima gol dari kerja lawan. Lagi-lagi penyebabnya adalah gizi.

Itu semua berawal dari cerita yang disampaikan secara langsung atau tidak. Mau bukti yang lebih sahih? Datanglah ke sekolah kami. Lihatlah siswa-siswa yang masih di dua jenjang paling awal. Kulit mereka tidak hanya hitam, namun maaf, kusam, dekil, dan lusuh. Kulit tersebut membungkus tulang-tulang yang terlihat lebih dominan dibandingkan dengan daging. Daging tampaknya bersifat maya dalam tubuh mereka. Lemak? Dari apa mereka mendapatkan lemak jika daging saja tidak pernah mereka makan? Lebih parah lagi, rangkaian tulang dan selimut kulit tersebut memberikan aroma yang tidak pernah saya temukan sebelumnya. Bau yang hampir tidak bisa didefinisikan oleh indra penciuman saya. Bau yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata.

Cerminan dari ketidakmampuan pemerintah menjadikan warganya hidup layak sesuai dengan visi dan misi negara ini. Rasa syukur sudah selayaknya diucapkan oleh siswa-siswa cerdas tersebut. Lima tahun berada si sekolah ini, penampilan mereka berubah drastis, seperti sebuah jeans bolong yang baru saja dipermak. Bagaimana tidak, selain mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, mereka memiliki tim koki (yang kemudian lebih sering disebut pantry oleh pihak-pihak yang berada di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan) yang peduli terhadap kandungan gizi pada setiap masakan yang mereka masak. Tidak perlu pengetahuan yang mendalam tentang gizi ini. Saya bisa menyimpulkan hal ini dari realitas yang memang nyata. Buktinya? Menunya pun variatif. Ukuran lauknya besar-besar. Tidak jarang pula disertai dengan segelas es buah atau bahkan jus yang variatif pula. Sesekali bahkan disediakan susu dalam kemasan.

Meskipun sering dikeluhkan oleh siswa, masakan yang koki masak setiap harinya tidak pernah saya caci. Selalu nikmat di lidah dan tidak pernah membuat saya tidak berselera makan. Oleh karena itu, tidak perlu heran ketika melihat siswa SMART angkatan berapa pun ketika mereka telah menginjakkan kaki di kelas 5, kulit mereka semakin bersih, postur proporsional, dan yang pasti lebih wangi dibandingkan empat atau lima tahun yang lalu. Tidak bisa dimungkiri bahwa ada campur tangan tim koki yang peduli terhadap keseimbangan gizi para siswa. Maka, jangan pernah sungkan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Terima kasih koki! []

 

Lepas SMART Aku Harus Apa?

Lepas SMART Aku Harus Apa?

Oleh: Muhammad Fatih Daffa Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran. Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri.

 

Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu. Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS.

 

Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini. Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”. Sekian.

,

Tak Mengapa Berjauhan Dari Keluarga

Tak Mengapa Berjauhan Dari Keluarga

Namaku Ahmad Rofai, Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 6 asal Lampung. Aku berkuliah di Jurusan Ilmu Kesejahteran Sosial Universitas Indonesia.

 

Aku anak rantau, maka jarang sua dengan keluarga adalah absolut konsekuensi.
Aku anak rantau, maka rindu masakan mama, tangisan adik, tawaan ayah, obrolan kaka, marahan tetangga adalah sajian pikiran sehari-hari.

Aku anak rantau, bukan main makin paham arti jarak, cinta, waktu, sayang, benci (untuk menjadi cengeng karena amat rindu) dan tangis sebagai satu satuan paket rasa hidup.

 

Aku anak rantau, maka tak punya kata untuk ungkap bahagia saat famili datang membersamai tempat selama kau menetap dalam masa perantauan. Lalu haru dalam tangis. Alhamdulillah, Alhamdulillah. Tiba masa merasa perlu menghargai apa apa yang telah selesai. Aku malas mengangguk, meng-aamiin-i dan mengiyakan kalimat “Ini bukan lah akhir, melainkan awal untuk itu, itu dan ini” pada segala jenis pernyataan seremonial.

Selalu ada selesai pada apa-apa yang pernah dimulai. Olehnya, penting mensyukuri dan menghargai diri dengan mengaku ‘selesai’ pada apa yang secara sadar pernah memulai.

Alhamdulillah aku telah menyelesaikan studiku di UI. Mendatang, tiba saat menyelesaikan apa-apa yang belum selesai. Mohon doa kawan :”)

,

Pantang Tinggal Diam Demi Cita

Pantang Tinggal Diam Demi Cita

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan V, baru saja menyeselasikan studinya di IPB Jurusan Biologi

 

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustaz ustazah di sana.

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

Dari dulu mungkin ustaz-ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk 5 orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh Ustaz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

 

 

 

,

SMART Bukan Penjara  

SMART Bukan Penjara

Oleh: Ahfie Rofi. Alumni SMART Angkatan 7. Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata Ustazah Dini, guruku, menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

 

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.