Selalu Ada Jalan Untuk Mereka yang Mau Berusaha

 Oleh: Muhammad Ikrom Azzam, Alumni SMART Angkatan IX Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

Nama saya Muhammad Ikrom Azzam. Saya  lahir di Jakarta pada 02 April 2000. Saya anak pertama dari empat bersaudara, saya adalah alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX. Tepat satu tahun yang lalu, saya baru saja menggunakan toga dan memulai memasuki ranah perkuliahan  di sebuah kampus negeri beralmamater hijau di Jakarta. Ada sebuah kisah menarik yang terjadi selama setahun terakhir tepat ketika saya memulai kehidupan di bangku perkuliahan.

Memilih jurusan kuliah bagi saya pribadi sama seperti menentukan masa depan. Memang kadang nasib baik bisa membawa salah jurusan ke posisi pekerjaan yang oke, tapi alangkah lebih baik kalau semua kita persiapkan dan rencanakan. Saya sendiri dari kecil bercita-cita sebagai diplomat dan politisi sehingga ingin sekali saya berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, namun ketika tes masuk baik SBMPTN dan UMPTKIN takdir berkata lain.  Alhamdulillah Allah masih  meloloskan saya di dua universitas dengan jurusan berbeda, Allah meloloskan saya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Pendidikan Bahasa Arab melalui jalur SBMPTN dan juga meloloskan saya di UIN Jakarta Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam melalui jalur UMPTKIN, memang bukan jalan dan rezekinya saya masuk jurusan dan kampus impian saya. Namun, saya percaya bahwa Allah selalu memberikan suatu rezeki yang dibutuhkan dan terbaik bagi hamba-Nya. Akhirnya, setelah beberapa pertimbangan dan menerima masukan dari orangtua, saya pun memilih jurusan yang sebenarnya saya baru pelajari yakni Pendidikan Bahasa Arab UNJ. Saya memilih jurusan ini meskipun belum memiliki dasar pelajaran sama sekali namun saya berniat bahwa di jurusan ini saya bisa mendalami intisari agama lewat Al-Quran dan hadis yang berbahasa Arab.

Awal perjuangan belajar di kehidupan perkuliahan dimulai ketika masuk semester pertama, kesan manis dan pahit terhampar di masa ini. Saya kewalahan beradaptasi dan berinteraksi dengan buku serta tulisan dosen di papan tulis yang dituliskan menggunakan huruf arab tanpa harakat, mendengarkan dosen mengajar menggunakan Bahasa Arab, belum lagi ketika masa ujian datang saya makin bingung dan gelisah karena membuat saya kian yakin kalau salah masuk jurusan.

Pertanyaan seperti “Apakah saya memang harus pindah kuliah atau pindah jurusan?” semakin menguat tiap harinya.

Meskipun pertanyaan tersebut terus membayangi, namun saya cukup tercengang melihat nilai hasil evaluasi semester satu yang tidak terlalu mengecewakan (IP saya saat itu 3.69). Entah kenapa saya semakin optimis untuk tetap berjuang dan berprestasi kembali. Karena itulah saya mulai mengikuti beragam perlombaan di beberapa PTS dan PTN di wilayah Jabodetabek.  Alhasil dalam waktu cukup singkat saya berhasil memenangkan sembilan penghargaan dari lomba yang saya ikuti. Rinciannya bisa kamu lihat di bawah ini:

  1. Juara 1 Story Telling Competition Tingkat Nasional di Pesantren IIQ
  2. Juara 2 Debat Keislaman Tingkat Nasional di Universitas Esa Unggul
  3. Juara 1 Lomba Dai Muda Tingkat Nasional di Fakultas Ekonomi UNJ
  4. Juara 2 English and Arabic Speech Contest Tingkat Nasional di UHAMKA
  5. Juara 1 Lomba Essai Bidikmisi UNJ
  6. Juara 3 Lomba Puisi Bahasa Arab di UNJ
  7. Juara 1 Lomba Ceramah Mahasantri Sulaimaniyah
  8. Juara Harapan 1 Lomba Mendongeng Tingkat DKI Jakarta
  9. Juara 1 Lomba English Speech Contest Tingkat Nasional di UHAMKA Limau

Untuk menjadi juara jelas tidak mudah, saya harus sering berlatih dan mempersiapkan mental. Saya selalu menekankan pada diri bahwa kalah menang itu biasa, yang penting ialah tetap semangat. Setiap mengikuti lomba saya selalu menyempatkan diri berdo’a, berharap menjadi yang terbaik, dan tak lupa meminta restu orangtua.

Terima kasih atas segala doa, dan dukungan yang diberikan terkhusus untuk orangtua saya, para donator, dan ustaz ustazah SMART Ekselensia Indonesia.

Ramadan dan SMART. Sebuah Cerita

Syahrizal Rachim. Alumni SMART Angkatan 10. Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Ini adalah kisahku selama menjalani Ramadan di SMART, sebuah kisah yang tak akan pernah aku lupa walau sudah tak lagi bersekolah di sana. Beberapa bagian dari kisah ini mungkin sudah tak relevan, tapi aku harap kamu bisa menikmatinya.

“… waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Segera bangun dan santap sahur di kantin!,” seru seorang wali asrama kami yang membangunkan siswa-siswa tercintanya untuk santap sahur melalui pelantang suara.

Hari itu masihlah sangat gelap. Ayam-ayam pun belum sempat berkokok tanda mentari masih malu-malu menampakan dirinya. Akan tetapi,kami sudah harus bangun dan bersemangat memulai aktivitas di bulan penuh ampunan ini. Santap sahur secara bersama-sama mengawali aktivitas harian kami di bulan ini. Sebenarnya tidak ada perasaan sahur yang berbeda dengan sahur di bulan-bulan lainnya karena di asrama pun kami sudah dibiasakan sahur untuk menjalankan puasa sunnah. Lantas,setelah dirasa cukup kenyang, kami langsung bersiap menuju masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. Banyak siswa yang memaksimalkan waktu untuk mencapai target tilawah di bulan penuh berkah.

Kegiatan belajar di sekolah secara reguler tetap dilaksanakan walau ada sedikit perbedaan kegiatan di siang hari,yaitu kultum yang disampaikan oleh para ustad. Mereka tidak bosan-bosan untuk memotivasi siswa agar memaksimalkan potensi ibadah kita. Matahari yang semakin menuruni langit menjadi tanda akan dilaksanakannya  buka puasa bersama. Buka puasa bersama menjadi momen menjalin silaturahim dan melepas penat secara menyenangkan setelah berpuasa seharian penuh. para siswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan nama sahabat rasul dari kelas satu hingga lima.

Momen kece selanjutnya adalah salat tarawih. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti salat tarawih secara tertib dan berjamah. Hampir tidak ada yang berbeda dari pelaksanaan salat tarawih kebanyakan, kami tidak luput untuk menambah tabungan tilawah setelahnya. Buku-buku pelajaran sekolah telah menanti untuk dibaca sebelum kami beristirahat menutup hari yang indah di bulan penuh rahmat ini. Kebetulan, pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun bertepatan dengan ramadhan. Akan tetapi, kami tetap bersemangat dan fokus meraih hasil ujian yang terbaik.

Setelah bergulat dengan soal-soal ujian, akhirnya, tiba juga liburan akhir semester. Dalam liburan kali ini, diisi dengan berbagai kegiatan menyemarakkan Ramadan. Dari sisi kreativitas dan seni, terdapat lomba menghias kamar dan asrama dan menghias parsel . Setiap siswa saling bekerja sama mengembangkan kreativitas dan potensi untuk meraih hasil yang terbaik. Tak pelak, seluruh sudut asrama penuh dengan dekorasi bertema Ramadan, sahabat nabi, kota-kota bersejarah, dan lainnya. Parsel-parsel lebaran juga disulap menjadi rapi dan menarik serta memilliki nilai yang lebih tinggi.

Dari sisi olah suara,terdapat lomba azan. Para muazin-muazin terbaik SMART saling beradu kemampuan untuk menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini. masing-masing pemenang lomba mendapatkan hadiah menarik dan pastinya memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dalam semarak Ramadan.

Setelah asik berkecimpung dalam dunia lomba-lomba, pada malam 17 Ramadan, diadakanlah sebuah acara untuk memperingati pertama kali diturunkan Al-Quran, Nuzulul Quran. Setiap siswa dibagi menjadi beberapa halaqoh untuk menuntaskan tilawah 30 Juz. Setelah tilawah usai, ustad-ustad memberikan kajian tentang keutamaan Al-Quran dan memberikan penghargaan kepada siswa dengan tilawah terbanyak. Tak disangka, banyak diantara teman-temanku mendapatkan penghargaan tersebut. Hal ini semakin menguatkan semangatku untuk selalu berusaha terbaik.

Disaat sepuluh malam terakhir,terdapat sebuaha kegiatan yang menjadi rutinitas ku selama Ramadan, Itikaf. Dalam kegiatan Itikaf, siswa-siswa disebar ke berbagai masjid untuk melaksanakan sunnah nabi tersebut. Di sana kami tidak hanya sekadar beristirahat melainkan menambah keberkahan Ramadan dengan mengikuti kajian-kajian, bertilawah, dan salat tarawih serta tahajud berjamaah. Banyak diantara kami saling bercengkrama dengan sesama peserta itikaf ldari berbagai untuk saling menebar keceriaan dan pesan-pesan Ramadan.  Malam yang paling kami nantikan dan harapkan akan tiba, Lailatul Qadar. Walaupun tidak ada yang tahu persis kapan ada Lailatul Qadar, tetapi beberapa sumber banyak yang menyebutkan bahwa malam yang lebih baik daripada 1000 bulan tersbut jatuh pada tanggal ganjil di 10 malam terakhir Ramadan. Banyak peserta Itikaf yang bersungguh-sungguh dalam beribadah untuk mendapatkan kesmpatan malam yang penuh dengan kedamaian tersebut

Selain mengikuti Itikaf, beberapa teman kami terpilih untuk mengikuti kegiatan Homestay. Dalam kegiatan Homestay,dipilihlah beberapa siswa menginap bersama kelurga donatur untuk saling berbagi keceriaan di bulan penuh kemuliaan. Selain itu, dengan mengikuti Homestay, diharapkan mendapat  inspirasi-inspirasi untuk menggapai kesuksesan di masa depan.

Di masa pengujung bulan kemuliaan, sebuah aktivitas yang kami nantikan akhirnya tiba, takbiran. Seluruh siswa bersuka cita menyambut datangnya Idul Fitri sekaligus sedih ditinggal bulan yang penuh dengan rahmat dan hidayah. Semoga Ramadan-Ramadan selanjutnya kita lebih maksimal beribadah dan banyak menebar keceriaan serta senyuman impian sesama umat manusia.

Tak Kenal, Maka Kenalan Sob! Yuk Mengenal SMART

 

Sob dalam perjalanan mewujudkan visi sebagai Sekolah Kelas Dunia, SMART Ekselensia Indonesia banyak menelurkan sistem manajemen profesional pengelolaan sekolah lho. Nah upaya ini salah satunya untuk mematahkan stigma buruk bahwa manajemen sekolah bagi kaum papa selalu dikelola seadanya.

Sekolah kami menolak stigma itu karena pada dasarnya siswa marjinal tak bisa hanya sekadar bisa bersekolah, lebih dari itu kami diharapkan dapat menorehkan banyak prestasi. Untuk itulah, input, proses, dan output yang terlibat dalam SMART harus berkualitas. Dari input (siswa dan guru) yang berkualitas, dan proses (kurikulum, metode pembelajaran, infrastruktur) yang berkualitas pula, diharapkan memunculkan output berkualitas. Harapannya dengan hadirnya output berkualitas, rantai kemiskinan yang ada di tengah masyarakat dapat terputus.

SMART sendiri memiliki guru-guru dengan latar belakang pendidikan minimal S-1 dari berbagai kampus terkemuka di Indonesia seperti UI, ITB, UGM, dan IPB. Di SMART keteladanan adalah hal yang selalu dibuktikan oleh para guru ke dalam gerak-gerik keseharian, mengingat SMART menghendaki kami menjadi yang terbaik. SMART memberikan ruang kepada guru-guru untuk tidak sekadar mengajar, namun juga memberikan arti lebih dalam dari sebuah makna mendidik. Guru-guru SMART tidak hanya memberikan pelajaran di kelas, namun juga memberikan pendidikan moral dan karakter di luar kelas. Dengan demikian, guru-guru SMART memiliki karakter sebagai pendidik yang patut digugu dan ditiru oleh siswanya.

Sebagai sekolah model bagi anak-anak marjinal, tentu memiliki tantangan tersendiri bagi setiap guru SMART. Oleh karena itu Sob, setiap guru SMART dilatih dan dikondisikan untuk menjadi figur yang bersikap optimis, bersemangat, dan penuh kerja keras.

Dalam pertemuan rutin pun, guru senantiasa diingatkan tentang visi dan misi SMART. Demikian pula dalam pelbagai training pengembangan SDM SMART, guru selalu diingatkan tentang tugas dan tanggung jawabnya bagi anak-anak Indonesia yang kelak menjadi pemimpin- pemimpin bangsa. Jadi, selain menjadikan para siswa sebagai manusia unggul dan berkarakter, SMART pun menghendaki para guru sebagai manusia visioner.

Tahukah kamu Sob kalau siswa SMART adalah anak-anak cerdas yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia dengan latar belakang adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda? Nah dengan latar belakang keluarga marjinal, kami mempunyai tekad kuat untuk belajar. Kondisi yang jauh dari keluarga menjadikan kami terlatih untuk mandiri dan gigih
belajar. Sehari-hari kami terbiasa untuk saling menyemangati satu sama lain, baik dalam kehidupan akademis ataupun non-akademis. Kami selalu berupaya untuk berprestasi bersama-sama; bukan melangkah maju seorang diri. Hasilnya, kami mampu mencapai kelulusan Ujian Nasional tanpa meninggalkan satu orang pun rekan mereka yang gagal. Demikian pula saat mereka bersama-sama berhasil meraih kursi PTN favorit.

Lalu untuk memenuhi kebutuhan kognitif kami, SMART memberikan dukungan penuh dengan menyediakan sistem Moving Class, Ceruk Ilmu, dan fasilitas buku yang lengkap di Pusat Sumber Belajar dan Komunitas (PSBK). Nah agar kemampuan psikomotorik kami terpenuhi SMART juga menyediakan laboratorium komputer dan laboratorium MIPA. Walau kami tinggal di asrama tapi banyak hal bisa kami lakukan Sob, karena SMART telah menyediakan banyak sarana dan prasarana seperti lapangan olahraga (sepak bola, futsal, basket), ruang musik dan peralatan musik (gitar, organ, biola, arumba, trash music) di dalamnya.

Bersekolah di SMART menjadikan kami pribadi mandiri yang siap menghadapi dunia dengan wajah berseri,

 

 

Pulang Kampung. Momen spesial yang selalu dinanti oleh siswa SMART Ekselensia Indonesia. Bukan berarti tak betah di boarding school. Namun, pulang selalu memberikan makna dan kesan tersendiri. Kita semua pasti “pulang”. Karenanya, pulang itu fitrah dan kebutuhan asasi. Sungguh mengherankan jika ada di antara kita yang tak mau pulang.

 

Meski pulang kampung tahun ini terasa berbeda karena masih dalam kondisi pandemi. Namun, tetap saja kerinduan untuk pulang terus dinanti. Maka, dengan bertawakal kepada Allah diiringi menerapkan protokol kesehatan, sejak Sabtu pagi, malam, hingga esok dan Ahad malam, siswa SMART secara bergelombang pulang kampung.

 

Teriring doa tulus terpanjatkan di hati. Semoga Allah senantiasa membersamai dan melindungi. Semoga pulang kampung tahun ini memberikan sejuta kesan dan makna. Bahwa kita hidup di dunia tak selamanya. Kita pasti pulang ke negeri sebenarnya. Akhirat yang abadi dan selamanya. Berjumpa dengan Rasulullah tercinta dan puncaknya memandang Allah Subhaanahu Wata’aala.

Jomblo Bukan Sembarang Jomblo

 

Oleh: Reza Bagus

Alumni SMART Angkatan 9 berkuliah di UGM Jurusan Sosiatri 2017

Sendirian, kepanasan, kehujanan, ketiduran, kelaparan, semua aktivitas jomblo itu sudah biasa bagiku. Aku sudah menjomblo sekitar…. Berapa abad ya??? Eh salah berapa tahun ya? Hmm saking lamanya aku sampai lupa.

Aku menjomblo karena aku memang jomblo. Jadi, dulu waktu aku  kudet (kurang update) dan nggak tahu apa itu jomblo, teman-temanku banyak yang ngomongin tentang jomblo. Aku pun mulai bingung. Jomblo itu kantong kresek jenis apa ya? Dijual di pasar nggak? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bermunculan di kepalaku dan datang nggak bilang-bilang dan ngilang-ngilang.

Aku semakin bingung setelah mendengar kalau ternyata jomblo itu ada berbagai macam jenis. Ada jomblo petualang, ada jomblo ngenes, ada jomblo kaleng (ini kok malah kayak banci kaleng ya? ataukah ini jomblo yang suka ngumpulin kaleng?), ada jomblo kritis (mungkin kelamaan menjomblo), ada juga jomblo dramatis (suka mendramatisir keadaan), dan jomblo fisabilillah alias jomblo bukan karena nasib melainkan prinsip.

Aku yang semakin penasaran akhirnya nanya ke teman yang cudet (celalu update) perihal jomblo-menjomblo ini, namanya Irvan.

“Eh, Pan. Jomblo itu apa sih? Kantong kresek bukan?”tanyaku.

“Hahaha… Hari gini, nggak tahu apa itu jomblo? Jomblo itu nggak punya pacar! Persis deh kayak kamu gitu,.” jawabnya.

Akupun sempat nanya ke beberapa teman lain. Akhirnya,  dapat disimpulkan bahwa kalau jomblo itu selalu nyesek kerjaannya. Ngeliat cowok sama cewek berduaan, nyesek. Ngeliat cewek sama cewek berduaan, nyesek. Ngeliat sendal sepasang, nyesek. Ngeliat orang lain nyesek, nyesek juga.

Gitu doang??? Ah, itu sih gampang. Aku sudah terbiasa sendiri. Secara mental, fisik, serta matematis, aku siap jadi jomblo. Beberapa bulan kemudian, cobaan itu mulai datang silih berganti, dari kanan dan kiri, dari sana dan sini, dari sekarang dan tadi, pokoknya dari-dari lah.

Cobaan pertama. Waktu itu aku lagi jalan kaki, jalan sambil Ngeliatin kaki, sambil bilang, “Ini kaki, yaa?” Tiba-tiba aku melewati sebuah warung. Di dalamnya ada cowok dan cewek, kayaknya mereka lagi pacaran. Aku perhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata mereka sedang suap-suapan. Sontak seperti ada anak panah yang nyucuk dada aku, JLEB!!!

Cobaan kedua. Waktu itu aku lagi di taman, duduk, sendirian di kursi goyang. Aku rasa tempat ini adalah tempat penyiksaan jomblo. Dikit-dikit ada orang berduaan dan dikit-dikit ada orang pegangan tangan. JLEB level 2

Cobaan ketiga. Aku sedang berjalan di sebuah kompleks. Aku melewati sebuah danau. Di sana ada banyak sekali pasangan berdua-duaan, dan mereka nampak sedang bercumbu. Miris

Aku akhirnya sadar, kalo jadi jomblo itu nggak mudah, nggak gampang. Aku pun masuk ke dalam tahap galau karena status kejombloanku. Aku sedikit sedih, tapi rasa lapar lebih banyak menghampiri, akhirnya aku berniat membeli bakso untuk menghilangkan kesedihan. Sesampainya di kedai penjual nbakso, aku langsung memesan bakso seporsi.

“Mang, bakso satu porsi, nggak pake lama ya mang,” ucapku mantap penuh rasa lapar.

“Ini, Mas. Baksonya, 10.000 aja,” kata mamang penjual bakso.

Setelah selesai makan, kubuka dompetku untuk membayar. Di sana, nampak foto kedua orangtuaku sedang tersenyum manis, semanis madu. Melihat senyum mereka aku tersadar kalau aku sudah terlalu berlebihan meratapi nasibku sebagai seorang jomblo. Aku juga terlau berlebihan karena selalu mencari ‘orang yang akan memberikanku kebahagiaan’ sementara itu semua bisa kudapatkan dari orangtua yang telah membesarkanku selama ini, merekalah yang seharusnya aku bahagiakan, merekalah sumber kebahagiaanku.

Orangtuaku menginginkanku belajar dengan baik, jadi orang yang baik, dan taat agama. Pacaran? Sama sekali nggak ada di agama Islam. Aku akan menjadi orang paling berdosa kalau sampai membuat kedua senyum itu berubah menjadi cemberut tanda kecewa, apalagi tangisan. Akhirnya aku memutuskan, aku akan jadi JONES, bukan jomblo ngenes, tapi jomblo happiness. No khalwat, until akad. Satu-satunya alasanku menjomblo adalah kedua orangtuaku, aku belum bisa membahagiakan mereka, tak pantas rasanya berbuat macam-macm. So, you can call me JONES. Tapi, sebenernya sih aku bukan jomblo, tapi single. Karena single itu prinsip, sedangkan jomblo itu nasib.

SMART Ekselensia Indonesia (SMART) ialah Leadership Boarding School untuk tingkat SMP-SMA. Sekolah ini didirikan oleh lembaga zakat nasional Dompet Dhuafa pada 2004. Hingga kini SMART telah meluluskan lebih dari 600 siswa yang berasal dari seluruh Indonesia dan sukses mengantarkan 90% alumninya melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit di seluruh Indonesia.

Sejak berdiri, SMART telah menerapkan program akselerasi untuk level SMA yang kemudian digantikan dengan program percepatan dengan SKS (Sistem Kredit Semeater) berdasarkan Keputusan Nomor 819/17/88-set-Disdik dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat pada Oktober 2018.

 

Selama 16 tahun, siswa SMART telah meraih berbagai prestasi nasional di bidang akademik maupun non-akademik. SMART juga berhasil mengantarkan siswa-siswanya ke perguruan tinggi favorit di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (Unair), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Andalas (Unand), Universitas Hasanudin (Unhas), dan beberapa perguruan tinggi negeri lainnya.

 

 

Selama berkuliah, para alumni masih mendapat bimbingan dari para guru agar tetap terjaga perilaku dan prestasinya selama di kampus. Untuk menambah kebermanfaatan, di tahun pelajaran 2021/2022 SMART Ekselensia Indonesia kembali membuka pendaftaran dengan menerima siswa lulusan SMP/sederajat.

 

 

 

Persyaratan Umum

1. Beragama Islam.
2. Berasal dari keluarga kurang mampu/majinal
3. Laki-laki.
4. Berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular.
5. Bersedia mengikuti seluruh tahapan seleksi sesuai dengan ketentuan berlaku.
6. Tidak memiliki anggota keluarga (saudara kandung) yang sedang atau pernah mendapatkan beasiswa Dompet Dhuafa.
7. Memperoleh izin orang tua/wali untuk tinggal di asrama.

 

SMP

1. Lulus/akan lulus SD atau sederajat
2. Usia maksimal 14 tahun pada 31 Juli 2021
3. Rata-rata nilai rapor kelas IV-V minimal 7,0

 

SMA

1. Lulus/akan lulus SMP atau sederajat
2. Usia maksimal 17 tahun pada 31 Juli 2021
3. Rata-rata nilai rapor kelas VII-VIII minimal 7,5

 

 

Persyaratan Khusus

1. Mengisi formulir pendaftaran calon peser ta seleksi nasional beasiswa SMART
tahun 2021/ 2022 yang disediakan panitia.
2. Menempelkan pas foto calon peser ta ukuran 4×6 di formulir pendaftaran.
3. Melampirkan fotokopi rapor kelas IV hingga V yang telah dilegalisasi oleh pihak
sekolah asal (Seleksi SMP).
4. Melampirkan fotokopi rapor kelas VII dan VIII yang telah dilegalisasi oleh pihak
sekolah asal (Seleksi SMA).
5. Melampirkan fotokopi piagam penghargaan/ sertifikat (bila ada).
6. Melampirkan fotokopi akte kelahiran/ surat kenal lahir.
7. Melampirkan fotokopi kar tu keluarga dan KTP Orang Tua/ Wali yang berlaku.
8. Melampirkan Surat Pernyataan Tidak Merokok.

 

 

Alur dan Tahapan Seleksi

– Pendaftaran: Desember 2020 – 25 Januari 2021
– Seleksi administrasi: Januari 2021
– Tes kompetensi mata pelajaran: Februari 2021
– Psikotes dan wawancara: Maret 2021
– Home visit: April 2021
– Pantuhir: April 2021
– Pengumuman: Mei 2021

 

 

Yuk unduh formulir pendaftarannya di bawah ini:

 

Unduh formulir pendaftaran untuk SMP pada link berikut: KLIK DI SINI 

Unduh formulir pendaftaran untuk SMA pada link berikut: KLIK DI SINI

 

 

Cek juga lis panitia daerah yang bisa dihubungi di sini Panitia Daerah

 

 

Pendaftaran dan penyerahan berkas adiministrasi akan kami buka sampai 8 Februari 2021. Pantengin terus akun kami untuk update informasi terbaru seleksi SNB SMART ya.

 

Informasi lebih lanjut sila Whatsapp narahubung kami di 08128996939 ya Sob.

 

Soleh Ingin Salat Berjamaah

Syamsumar (Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia)

 

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.15. Saya sedang duduk di kantor asrama Daarul Ilmi sambil mendata dan mengecek kartu izin siswa yang keluar hari itu. Kemudian saya bermaksud ingin menyalakan muratal sebagai tanda persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.

Semua aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan persiapan shalat berjamaah harus dihentikan. Ternyata salah seorang wali asrama yang lain sudah menyalakannya terlebih dahulu. Saya pun langsung pergi menuju tempat para siswa biasa menyaksikan televisi. Di situ saya melihat mereka sedang asyik menikmati salah satu siaran yang tampaknya tengah seru-serunya. Ada siswa yang tersenyum, ada yang tertawa, bahkan ada juga yang bercanda ria sambil mengikuti ekspresi sesuai yang mereka saksikan. Saya lantas ikut tersenyum sambil mengingatkan mereka.

“Sekarang sudah waktunya untuk melakukan persiapan shalat berjamaah. Silakan TV dimatikan.”

“Sebentar lagi, Ustaz. Kalau sudah iklan ya!” sahut sebagian siswa.

Saya pun menunggu dengan sabar sambil mengingatkan siswa yang lainnya yang ada di setiap kamar. Di salah satu kamar saya mendapatkan ada siswa yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca buku yang ada di tangannya. Saya pun mengingatkannya untuk melakukan persiapan Salat Magrib berjamaah.

“Buku apa yang sedang kamu baca?” tanya saya.

“Komik. Memangnya kenapa, Ustaz?” siswa itu balik bertanya, tapi tak lama kemudian meneruskan bacaannya.

“Tidak apa-apa,” jawab saya.

“Baiklah, sekarang sudah waktunya mandi dan persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.”

“Kenapa kita harus shalat berjamaah di masjid, Ustaz?” tanya siswa bernama Sholeh.

“Shalat berjamaah pahalanya lebih besar dibandingkan salat sendiri.”

“Tapi bukankah di kamar kita juga bisa melakukan salat berjamaah?” sergah Sholeh tidak puas.

“Betul, tapi alangkah baiknya kita salat berjamahnya di masjid.”

Siswa yang sama masih menunjukkan ketidakpuasan atas jawaban saya. “Tapi, pahala jamaahnya sama saja kan?”

“Beda! Kalau kita salat berjamaah di masjid setiap langkah kita menuju masjid akan dihitung pahalanya oleh Allah Swt, begitu pula saat kembali dari masjid. Apalagi kita tinggal di salah satu lembaga tempat kita harus mengikuti disiplin dan menaati peraturan-peraturan yang ada.” Sholeh menyimak kata-kata saya tanpa menginterupsinya.

“Sebagai manusia,” lanjut saya, “kita harus ingat bahwa hidup ini tidak terlepas dari disiplin, kapan pun dan di mana pun kita berada. Jangankan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sekalipun harus hidup berdisiplin. Kalau tidak, ia akan mati. Lalu lintas juga ada disiplinnya, ada peraturannya. Kalau tidak diikuti, maka akan celaka, akan saling bertabrakan. Apalagi manusia, apa jadinya kalau hidup tanpa disiplin?”

“Benar, Ustaz. Terima kasih atas masukan dan sarannya.” Saya tersenyum senang. Anak-anak seusia Sholeh memang terkadang suka unjuk diri; semata untuk memenuhi keingintahuan atau bahkan membutuhkan perhatian dari orang dewasa di lingkungan sekolah atau asrama.

“Baik, sekarang silakan kamu mandi dan siap-siap untuk Salat Magrib berjamaah.” Anak itu pun menutup komik yang dipegangnya sedari tadi. Ia bersiap untuk beranjak ke kamar mandi.

“Baik, Ustaz!”

 

“Guru pendidik sejati yang tak pernah letih berbagi”

 

Kiprah guru memang tak perlu dipertanyakan lagi. Namun di kala pandemi kegigihan guru diuji. Belum lagi mereka harus mengatasi kegagapan dalam proses penyesuaian kegiatan belajar mengajar dari kelas menuju daring. Tak ayal hal ini membuat para guru kesulitan dan harus berjuang lebih keras untuk cepat beradaptasi dengan teknologi serta bergumul dengan masalah keterbatasan siswa sampai sinyal telekomunikasi.

 

Lalu bagaimana guru menyikapi ini semua?

 

Temukan jawabannya dalam Press Conference spesial Hari Guru Nasional bertajuk “Berkualitas Meskipun Terbatas: Kiprah, Perjuangan, dan Pemaksimalan Guru Selama Pandemi” yang diadakan Dompet Dhuafa dan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional).

 

Menghadirkan:
– M. Syafi’ie el Bantanie, Direktur Pendidikan Dompet Dhuafa
– Ahmad Fikri, Kepala Divisi Pendistribusian BAZNAS
– Agung Rakhmad, Guru dan Aktivis Sekolah Guru Indonesia (SGI)
– Helmi Nursirwan, Wakil Kepala Sekolah Cendikia BAZNAS

 

Catat tanggal dan jamnya berikut ini:

🗓 Rabu, 25 November 2020
⏰ 10.00 WIB
🔴 Live streaming di Channel Youtube BAZNAS TV dan DDTV

 

Jangan lewatkan acara ini karena akan ada pengumuman pemenang lomba hari guru dan kuis interaktif mini konser.

 

Bersama guru, kita bersamai kemajuan pendidikan bangsa!

 

Jakarta – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh setiap 25 November merupakan momentum menguatkan peran besar guru sebagai nahkoda kemajuan bangsa yang memiliki peran strategis untuk mengoptimalkan potensi generasi penerus bangsa. Eksistensi guru menjadi kunci agar kegiatan belajar mengajar daring bisa terlaksana dengan baik, sebab itulah penting sekali mengapresiasi dedikasi tinggi mereka.

 

Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras guru di seluruh Indonesia, Dompet Dhuafa dan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) mengadakan ragam kegiatan untuk memperingati Hari Guru Nasional. Menggadang tema “Berkualitas Meskipun Terbatas” peringatan Hari Guru Nasional ini diramaikan Lomba Ucapan Terima Kasih Guru dengan peserta orang tua murid (dari jenjang SD hingga SMA dari seluruh Indonesia), Lomba Guru Heroik untuk para guru (dari jenjang SD hingga SMA di seluruh Indonesia), dan penggalangan dana yang dikemas dalam bentuk Mini Konser bertajuk ”Terima Kasih Guru” dengan menggandeng Samsons, Fauzan Daulay, Is Pusakata, Umaru Takaeda, dan Sharfira Umm yang disiarkan langsung melaui kanal Youtube BAZNAS TV dan Dompet Dhuafa TV pada Sabtu (21/11) lalu.

 

Hasil penggalangan dana nantinya akan didistribusikan kepada para guru dalam bantuan berupa alat penunjang dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan tematik.

 

 

Menurut Ahmad Fikri, Kepala Pendistribusian BAZNAS, pelatihan guru akan diintegrasikan dengan area Zakat Community Development yang akan berfokus di sepuluh titik. “Lubuk Bangkar, Toraja, Bedono, Kebon Manggis, Kampung Cibuluh,  Cemplang, Sambik Elen, Palalangon, Tuva, dan Sukaindah Bekasi, akan menjadi titik utama distribusi bantuan dari masyarakat,” terang Fikri.

 

Sedangkan Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, M.Syafi’ie el Bantanie, menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa akan berfokus pada lokasi penempatan guru Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang mencakup beberapa titik di pelosok nusantara seperti, Buton, Dompu, Bombana, Sambas, Belitung, Lebak, Pandeglang, Halmahera Utara, Nunukan, Sumbawa Barat, Kuburaya, Polewali Mandar, Gorontalo, Muna dan Wakatobi. “Di titik-titik inilah para guru berjuang untuk menciptakan pembelajaran terbaik meskipun terhimpit keterbatasan,” tuturnya.

 

Sinergi antara Dompet Dhuafa dan BAZNAS sebagai lembaga yang peduli pada masalah serta perkembangan pendidikan, memiliki visi misi yang sejalan dengan semangat dan pengabdian guru di Indonesia. Dua lembaga zakat terbesar di Indonesia ini berkomitmen memberikan bantuan dalam peningkatan kualitas pengajaran sehingga mampu mencetak pendidik yang berkepribadian cerdas secara spiritual, sosial, dan intelektual, selain mempunyai profil yang sangat baik.

 

Diharapkan kolaborasi kebaikan antar Dompet Dhuafa dan BAZNAS mampu membuat guru dan tenaga kependidikan lainnya bisa terus berjuang membersamai kemajuan pendidikan bangsa.

 

 

Narahubung:

BAZNAS: Sri Nurhidayah  0812 13876 08

Dompet Dhuafa: Akhie 0821-1075-4717

Oleh: Ervan, Guru SMART

 

Hari ini adalah Guru Nasional. Hari para pendidik se-Indonesia, yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat yang sungguh luar biasa. Hari yang mengapresiasi peradaban tujuan hidup manusia di bumi yaitu belajar selagi hidup.

 

Selamat hari guru…

 

Pendidikan merupakan investasi yang penting dan membutuhkan waktu yang lama. Produk konkret belajar adalah perubahan diri pada civitas akademika. Bukan benda, bukan uang dan bukan jabatan, namun proses belajar yang lama itu menghasilkan karakter, sikap dan kedudukan yang baik di hadapan manusia dan hadapan Tuhan, Allah Yang Maha Esa.

 

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa belajar, Nabi Muhammad saw. pernah menyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib. Kewajiban untuk belajar berdampak terhadap peningkatan proses tumbuh dan kembangnya setiap diri manusia. Logikanya manusia semakin berilmu maka semakin bijak.

 

Selamat hari guru…

 

Tahun 2020 memang berbeda, berbeda dalam situasi dan kondisi kehidupan hingga saat ini manusia memasuki masa gelombang kedua Pandemi Covid-19. Covid-19, makhluk mikroskopis ini memberikan ilmu pelajaran yang sangat berguna. Di HGN ini, kita jadi belajar bagaimana menjaga kebersihan diri, kebersihan fisik, kebersihan lingkungan dan kebersihan pola hidup manusia. Covid-19 mengajarkan manusia untuk mencuci tangan dengan sabun, kebiasaan yang jarang bagi kita manusia untuk bersikap bijak dalam menjaga kebersihan makanan dan tangan kita.

 

Covid-19 juga mengajarkan kita untuk menghargai arti sehat. Kesehatan sungguh berharga untuk tahun ini. Semua manusia merasa takut akan tanda-tanda keberadaan Covid-19. Virus ini memang tidak terlihat, namun menunjukkan eksistensinya di tubuh dan lingkungan manusia. Manusia merasa jaga jarak dan jaga diri ketika dalam kerumunan.

 

Selamat hari guru…

 

Semester 2 di tahun ajaran 2019-2020 semua sekolah berubah dalam pola belajar konvensional menjadi pola belajar jarak jauh. Pola yang sepertinya sering terlihat di sekolah terbuka, menjadi pola yang dirasa aman dalam kondisi Covid-19. Pola belajar jarak jauh, Covid-19 ini membuat manusia, membuat civitas akademika yang biasa tatap muka menjadi jauh muka, dari yang biasa bersosialisasi interaksi konkrit dengan manusia menjadi terisolasi diri, membatasi interaksi, dan membatasi ruang gerak sosial.

 

Gebrakan pertama adalah mencoba mengenal seluk beluk virus Covid-19. Mencoba mengenal karakteristik virus pernapasan ini. Dalam situasional mengenal virus Covid-19, maka jalan aman sementara adalah membatasi interaksi sosial manusia. Pola belajar jarak jauh berlanjut hingga semester 1 tahun ajaran 2020-2021. Pola belajar jarak jauh semakin mengeratkan civitas akademika dengan dunia digital, dunia virtual dan dunia internet.

 

Tanpa internet, tanpa gadget, tanpa laptop dan tanpa kuota data maka proses interaksi sosial manusia, interaksi belajar menjadi terhenti. Sungguh luar biasa kondisi yang dibuat oleh virus Covid-19. Namun, apakah gegap gempita kita dalam memandang virus Covid-19 dengan menyatakan bahwa langkah 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak masih memberi potensi besar akan tertular dan terinfeksi virus pernapasan ini?

 

Konsep hidup dalam masa pandemi ini adalah virus tersebut merupakan virus pernapasan, yang artinya perlu menjaga diri dalam pernapasan kita. Udara sehat mutlak diperlukan, namun udara yang terkontaminasi virus ya berbahaya, disaat tubuh dalam kondisi yang tidak sehat.

 

Imunitas diri dan pola hidup yang bersih, etika lingkungan dan etika interaksi sosial perlu untuk dibenahi. Pola belajar jarak jauh yang hampir dilakukan selama 8 bulan, memberi kepada kita konsekuensi kualitas pendidikan Indonesia yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

 

Guru dan peserta didik membutuhkan interaksi tatap muka yang konkret dalam proses belajar mengajar. Peserta didik sekolah dasar dan menengah masih sangat tergantung dengan guru atau orang dewasa. Pembelajaran jarak jauh apakah masih dilakukan di tahun 2021?

 

Model pembelajaran kita perlu waktu transisi. Hari guru di tahun 2020 membutuhkan pendekatan psikologis, kinestetik dan mentalitas dalam belajar. Ada pendapat yang menyatakan peserta didik mulai ‘bosan’ dan ‘jenuh’ belajar di rumah. Lebih enak dan asyik belajar di sekolah. Peserta didik terbatasi ruang geraknya. Keterbatasan ruang gerak ini karena munculnya dugaan bahwa lingkungan sekitar belum aman dari Covid-19.

 

Sekolah di Indonesia juga belum dinyatakan steril dari Covid-19. Karena Covid-19 hidup, tumbuh dan berkembang di dalam diri manusia. Peserta didik dan pendidik hingga warga sekolah belum dinyatakan steril dan terbebas dari Covid-19. Artinya setiap sekolah memungkinkan menjadi cluster baru akan adanya Covid-19. Bagaimana solusinya?

 

Jadi bagaimana….?

 

Model pembelajaran tetap mengacu dua cara, cara konvensional dan cara digital atau jarak jauh. Dalam satu pekan pembelajaran diperlukan tatap muka dengan protokol kesehatan, teknis nya jam belajar dan jam istirahat dikurangi dan tidak ada jam makan di sekolah. Waktu belajar yang dibatasi dan pemantauan 3 M yang terjadwal dengan baik.

 

Peserta didik perlu interaksi sosial dengan peserta didik lainnya, satu pekan masuk belajar tatap muka sebanyak dua atau tiga kali cukup untuk memberikan ruang interaksi sosial sesama dalam belajar. Waktu belajar lima jam dalam sesi pembelajaran untuk jam pertemuan mata pelajaran selama 30 menit cukup untuk mengurangi beban belajar jarak jauh peserta didik. Pertemuan tatap muka adalah proses belajar materi esessial atau materi penting/ susah apabila di pelajari secara mandiri oleh peserta didik.

 

Warga sekolah baik kepala sekolah dan guru telah menyiapkan materi essensial yang akan di ajarkan selama tatap muka, dan pemberian tugas untuk pembelajaran jarak jauh. Guru dan wali kelas menyediakan waktu konsultasi belajar per individu dan antar peserta didik dapat terjadi peer teaching atau kolaborasi dengan media digital dalam belajar di saat model pembelajaran jarak jauh.

 

Selamat hari guru…

 

Masa transisional learning methode mesti di gelorakan. Tidaklah mungkin belajar tanpa tatap muka, pasti ada keterbatasan dan ketertinggalan kualitas output pembelajaran. Karakter peserta didik akan berbeda pada masa belajar jarak jauh, dan akan memulai dari zero pembentukan karakter belajar di semester dua ini.

 

Siapapun akan memperkirakan kebimbangan semua pihak dalam mencerna dan mengaplikasikan proses belajar para peserta didik. Belajar yang dilaksanakan jarak jauh di rumah akan cukup berat bila dijalankan hingga tiga tahun kedepan. Pembelajaran konvensional dan digital mesti bersebelahan dalam kondisi masa pandemi ini.

 

Belajar esensial pasti memerlukan kehadiran guru, belajar non esensial dapat dilakukan secara mandiri dengan bimbingan atau arahan guru dari jarak jauh. Teknologi sudah dikenal dan dimanfaatkan.

 

Menyambut hari guru nasional, pembelajaran dengan kehadiran peserta didik dan guru sudah menjadi keniscayaan, satuan tugas Covid-19 akan bersedia membimbing dan memantau keberlangsungan prosesi belajar mengajar di setiap satuan pendidikan.

 

Kesehatan dan imunitas hingga protokol kesehatan akan menjadi keharusan dan tanggung jawab bersama. Pendidikan bermutu dan peserta didik yang bersemangat meraih cita dan prestasi akan menjadi keberlanjutan generasi muda Indonesia.

 

Dirgahayu Hari Guru Nasional tahun 2020, tanpa guru dan orang tua, generasi muda akan berjalan tanpa bimbingan meraih prestasi. Mari kita kembalikan kejayaan bangsa dan negara Indonesia dengan pendidikan yang bermutu dan berhasil.