Dilarang Membanding-Bandingkan Hidup ah

Privilege. Isu ini kembali jadi trending gegara pelantikan staf khusus  Presiden Jokowi beberapa waktu lalu lho Sob. Seperti yang kita tahu, salah satu staf yang dilantik adalah Putri Tanjung, yang notabene merupakan anak dari pengusaha terkenal, Chairul Tanjung. Banyak orang yang menganggap bahwa pencapaian Putri Tanjung menjadi staf khusus presiden di usianya yang baru 23 tahun, tidak lepas dari kenyataan dari garis keturunan yang ia miliki.

Memang apa sih privilege? Berdasarkan Cambridge Dictionary, privilege memiliki arti keuntungan yang hanya dimiliki seseorang atau sebagian kelompok, biasanya karena posisi atau kekayaan mereka. Seperti apa bentuk privilege? Ya macam – macam. Sekolah ke luar negri tanpa mikir biaya, itu privilege. Lulus kerja langsung dimodalin buat usaha, itu privilege. Punya tempat nyaman buat tidur malam hari ini, itu privilege.

Privilege itu nyata. kita bisa menjadi yang sekarang juga tidak terlepas dari privilege yang kita miliki. Kalau tidak memiliki akses pendidikan hingga jenjang sarjana, kita mungkin tidak bisa mendapat pekerjaan yang kita inginkan.

See, kita semua tahu bahwa keberhasilan dan pencapaian dalam hidup bukan hanya karena kerja keras, melainkan ada hak – hak istimewa yang kita dapatkan secara cuma-cuma –yang tidak ada hubungannya dengan apa yang telah kita perbuat.

Privilege yang dimiliki orang jelas berbeda-beda bentuk dan tingkat levelnya. Saat kita melihat orang dengan tingkat privilege di atas kita, ya wajar saja untuk merasa iri. Kita sendiri terkadang masih suka berkhayal kalau orang tua kita bisa se-tajir itu, mungkin kita bisa kuliah ke luar negri seperti Maudy Ayunda tanpa repot-repot ikut pendaftaran beasiswa. Masih bisa hidup layak pula! Tapi toh iri juga tidak membawa kita ke mana-mana kan Sob? Tidak bakal mengubah apa-apa juga. Jadi, daripada energi kita habiskan buat iri, akan lebih baik kalau diarahkan untuk fokus ke tujuan pribadi saja. Tujuan hari ini, tujuan buat besok. Saya suka menghibur diri, bahwa setidaknya kita sudah melakukan yang terbaik yang kita mampu untuk menjalani hidup.

Saatnya berpikir bahwa setiap orang punya benchmark masing-masing. Dengan modal yang dia punya, seharusnya dia bisa meraih tingkat atau hasil yang seberapa. Bisa jadi seseorang (A) terlihat sudah sukses bagi orang lain (B), karena  benchmark B lebih rendah dari A. Seharusnya dengan modal yang A miliki, dia bisa meraih lebih dari itu. Benchmark ini yang sangat absurd dan abstrak untuk dilihat dan diukur dalam hidup. Kadang kita lebih suka mengartikannya dalam bentuk uang dan materi. Tapi untuk ketenangan hidup, alangkah baiknya kita fokus ke benchmark kita, ke hidup kita, tanpa membanding-bandingkan dengan orang lain.

Mengerti bahwa privilege itu ada dan sebagian dari kita memilikinya, membuat kita seharusnya mau mengakui bahwa sebuah kesuksesan –apapun definisi dan bentuknya, bukan hanya dibangun dengan keringat dan air mata kita, namun juga ada faktor ‘untung’ dan hak cuma-cuma. Dengan begitu, akan membuat kita semakin bijak untuk tidak meremehkan atau merendahkan orang lain yang menurut kita (manusia yang suka khilaf untuk sombong) tidak sesukses kita.

Hari Ini Harus Lebih Baik Dari Hari Kemarin

Manusia dari hari ke hari selalu bergerak, ada yang bergerak maju, ada yang jalan di tempat ada juga yang bergerak mundur. Pergerakan ini ditentukan berdasarkan kebiasaan sehari-hari manusia itu sendiri. Bila kebiasaannya baik maka akan menuntun manusia itu untuk bergerak maju. Begitu sebaliknya, bila kebiasaan itu buruk maka cenderung menuntun manusia untuk bergerak mundur/stagnan. Pergerakan manusia dalam hidup ini bermula karena manusia mencoba untuk memenuhi kebutuhan fundamentalnya. Kebutuhan fundamental manusia ada 3. Pertama need of social; kebutuhan untuk bersosial. Kedua need of religion; kebutuhan untuk beragama. Ketiga adalah need of achievement, yaitu kebutuhan untuk bisa mencapai sesuatu. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi maka manusia akan naik level ke proses aktualisasi diri.  Proses aktualisasi diri membutuhkan manusia yang berkualitas, manusia yang memiliki kebiasaan yang apik. Lantas, kebiasaan yang apik itu seperti apa? Kebiasan yang apik itu dibentuk dengan cara yang bagaimana?

Jawabannya, kebiasaan yang apik itu mengajak manusia untuk keluar dari Zona Nyamannya/ Comfort Zone. Dan Cara membentuk kebiasaan baik itu adalah dengan memahami cara keluar dari Comfort Zone. Mengapa harus keluar dari Zona Nyaman? Padahal Zona Nyaman adalah tempat ternyaman manusia, dan tempat yang ‘memungkinkan’ manusia memperoleh kebahagiaan.

Eits, Zona Nyaman bisa jadi memberikan kebahagiaan, namun itu bersifat sementara. Manusia perlu keluar dari Zona Nyamannya. Ingat, manusia perlu keluar dari Zona Nyaman.

Zona Nyaman itu sebenarnya apa sih?

Zona Nyaman adalah sesuatu kegiatan yang sudah kebiasaan di masa lalu kita, sehingga kegiatan itu sudah jadi kegiatan yang biasa (alam bawah sadar). Zona nyaman, memberikan kenyamanan bagi manusia yang sudah sering melakukan kegiatan tersebut. Jadi seorang manusia yang berada di Zona Nyaman akan selalu melakukan kegiatan yang sama setiap harinya. Kegiatan yang sama setiap harinya menandakan bahwa manusia itu tidak berkembang, tidak ada target/tujuan baru dalam hidupnya. Kondisi ini berbahaya, karena membuat manusia sulit bergerak ke proses aktualisasi diri, karena sudah nyaman dengan kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja, yang tidak memberikan pembentukkan diri yang lebih baik. Logikanya jika manusia itu hanya melakukan kegiatan yang sama setiap harinya, maka pergerakan manusia itu akan sama setiap harinya, atau bisa dibilang stagnan. Maka, kata motivasi “Hari Ini Harus Lebih Baik Dari Hari Kemarin” tidak akan tercapai jika hanya berada di Zona Nyaman. Oleh karena itu, manusia harus keluar dari Zona Nyamannya, dan Menantang diri sendiri untuk melakukan kegiatan baru yang positif dan menjadikannya Habit/Kebiasaan baru yang akan membentuk diri jadi lebih baik.

Namun proses membentuk Kebiasaan baru yang baik atau istilahnya adalah keluar dari Zona Nyaman tidaklah mudah.

Zona Nyaman, memiliki dua hal yang akan memberontak habis-habisan jika, manusia ingin keluar dari Zona ini. 2 hal ini akan menarik lagi niat manusia untuk melakukan kegiatan-kegiatan baru yang positif. 2 hal ini adalah Inner Voice dan Sensasy Phisiology. Inner Voice adalah suara-suara dair dalam diri manusia yang akan memberi tahu manusia jika akan melakukan hal-hal baru. Inner voice ini akan berbicara ke kita untuk mengurungkan niat mengerjakan kegiatan baru. Contoh inner voice; Jika kita ingin merubah kebiasaan bangun siang (jam 11), jadi bangun pagi (jam 5) maka Inner Voice akan berbisik, “Udah tidur aja dulu baru jam 4 ini, masih sejam lagi jam 5.” Pas lihat jam eh tiba-tiba sudah jam 8, dan kita ingin segera bangun, tapi Inner Voice akan berbisik lagi, “Udah tidur lagi aja dulu, ini hari libur loh, gak papa kita tidur lebih lama. Kasihlah tubuhmu istirahat yang cukup” Dan akhirnya Habit baru untuk bisa bangun pagi jam 5, tidak terlaksana, karena ada si Inner Voice ini. Contoh lagi, jika kita ingin mengubah kebiasaan agar tidak mengerjakan tugas mepet waktu/deadliner, maka kita akan berusaha untuk mencicil tugas itu dari jauh-jauh hari sebelum waktunya tugas dikumpulkan. Namun, inner voice akan muncul dan berbisik, “Loh, ini kan baru tanggal 9, masih tujuh hari lagi kok tugasnya dikumpulkan, masih lama. Udah kamu nyelesain yang lain aja dulu. Tuh lihat tuh, temen kamu ngajak belanja. Udah belanja aja dulu, toh kebutuhan kamu udah pada habis kan. Tenang tujuh hari masih lama” Dan sampai deadline tugas, tugasnya belum selesai dikerjakan. Dan Habit baru untuk tidak jadi deadliner tidak terbentuk.

Hal satu lagi yang ada di Zona Nyaman yang menghalangi manusia untuk membentuk Habit baru, yaitu Sensasy Phisiology. Sensasy Phisiology itu adalah sesuatu yang membuat kita gak bisa, dan membuat kita merasa sungkan untuk melakukan habit baru..

Dua hal itu, sulit untuk dihindari karena itu melekat di setiap zona nyaman manusia. Lalu, Trik untuk menghadapi 2 hal ini adalah dengan tidak membangunkan mereka. Dan membiarkan mereka yang secara tidak sadar sedang kita bawa ke habit baru yang kita rencanakan.

Sejatinya, zona nyaman memberikan tiga prinsip;

Setiap manusia merasa nyaman dengan zona nyamannya
Setiap manusia merasa terganggu dengan kebiasaan baru
Setiap manusia yang memaksa melakukan ketidaknyamanan akan menghasilkan kenyamanan di masa depan

Maka, dapat dikatakan sebuah perubahan habit/ keluar dari Zona Nyaman jika ada perbedaan kegiatan pada proses sebelum dan setelah. Indikator perubahan ada tiga:

Yang awalnya gak dilakukan, jadi dilakukan (0)
Ada nilai tambah. Awalnya tidak melakukan akhirnya melakukan. (+)
Terjadi pengurangan dari hal-hal destruktif (-)

Nah, kabar baiknya kebiasaa baru dapat dinobatkan sebagai Habit baru jika Habit itu bertahan minimal dalam 21 hari.

Agar bisa mempertahankannya dalam 21 hari, maka perlu untuk tidak membangunkan dua hal tadi, Inner voice dan sensasa phisiology. Maka habit baru perlu dilakukan sedikit demi sedikit. Prinsipnya adalah “Think Big Start Small. Bisa karena Biasa, Biasa karena Pembiasaan.” Oleh karena itu, yuk semangat berubah untuk masa depan yang lebih cerah.

,

SMART Ekselensia Indonesia Adakan Tes Akademik Tes Akademik Seleksi Nasional Beasiswa 2020

SMART Ekselensia Indonesia Adakan Tes Akademik Tes Akademik Seleksi Nasional Beasiswa 2020

 

 

Bogor –  SMART Ekslensia Indonesia adakan Tes Akademik Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART 2020 yang dilaksanakan di Lembaga Pengembangan Insani, Parung, Jawa Barat, pada Sabtu (23/02). Kegiatan ini merupakan program sekolah yang dilakukan setiap tahun.

 

Sebanyak 88 peserta yang terbagi atas 62 orang peserta SMP dan 26 orang peserta SMA memadati ruangan kelas yang telah disediakan panitia. Selama tes berlangsung para peserta akan mengerjakan tiga jenis tes bidang studi yaitu, bahasa Indonesia, pendidikan agama Islam, dan matematika; sementara untuk SMA mengerjakan lima jenis tes bidang studi yaitu, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA, pendidikan agama Islam, dan matematika.

“Tes akademik akan dibagi ke dalam dua sesi. Empat jam di sesi pertama untuk SMP dan SMA, dan tiga jam di sesi kedua khusus untuk SMA,” ucap Novi, Panitia SNB SMART 2020.

Ia menambahkan jika Tes Akademik ini adalah salah satu rangkaian SNB SMART yang dilaksanakan serentak. Selain Jabodetabek, tes juga juga dilaksanakan di beberapa daerah mitra yaitu Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah berjenjang SMP dan SMA di bawah naungan Dompet Dhuafa Pendidikan memiliki visi menjadi sekolah model yang melahirkan generasi berkepribadian Islami dan berjiwa pemimpin yang siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan.  Untuk mewujudkan visi tersebut, SMART Ekselensia Idonesia menyediakan kurikulum yang dirancang secara berjenjang selama lima tahun, tiga tahun SMP dan dua tahun SMA dengan program Sistem Kredit Semester (SKS) dan pendidikan kepemimpinan. (AR)

 

,

Saatnya Aku Kamu Aksi Seperti Kak Palupi

Saatnya Aku Kamu Aksi Seperti Palupi

Mungkin tak pernah terbayangkan bagi anak-anak di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, akan memiliki sebuah perpustakaan yang nyaman. Ya, sebuah perpustakaan yang menyenangkan untuk membaca atau pun bermain, kini hadir bagi mereka. Fun Garden of Literacy (FGL) telah membuatkan Pojok Baca ramah anak untuk anak-anak dan warga Pekojan.
FGL didirikan pada 28 Juni 2016 oleh Palupi Mutiasih, mahasiswi PGSD Universitas Negeri Jakarta dan sekarang sedang melanjutkan studi Pasca Sarjana Jurusan Magister Pendidikan Dasar Universitas Pendidikan Indonesia. Oleh Palupi, FGL diarahkan menjadi sebuah taman literasi yang seramah mungkin untuk anak-anak. Di dalamnya ada kegiatan membaca buku, permainan edukatif, dongeng, kreasi, panggung boneka, dan lain sebagainya. Jangkauan aktivitasnya tidak hanya di Pekojan saja, namun melingkupi beberapa wilayah lain di Jakarta.
FGL menjadi sarana bagi Palupi untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya setelah dinobatkan sebagai Duta Gemari Baca, Dompet Dhuafa Pendidikan. Tugas utama Duta Gemari Baca adalah membudayakan literasi di tengah masyarakat. Sebelumnya, Palupi dan kawan-kawannya mengikuti workshop secara intensif sebagai bekal melaksanakan tugas tersebut.
“Awalnya kehadiran FGL ini dianggap aneh. ‘Apaan sih, ngajak anak-anak baca, dongeng, dan nggak dibayar lagi’, mungkin itu yang terlintas di benak masyarakat Pekojan waktu itu,” kenang Palupi. Namun itu tak membuat Palupi menyerah. Ia pun berupaya menarik minat masyarakat dengan berbagai cara.
Menggaet relawan adalah salah satu caranya. Relawan-relawan ini difokuskan untuk aktivasi Pojok Baca dan menjalankan kegiatan literasi. “Awalnya hanya ada 3 founder, sekarang sudah ada 25 relawan. Di setiap kegiatan yang kami laksanakan, ada sekitar 100 anak yang ikutan,” papar Palupi bangga.
Sejak tahun 2019, FGL melebarkan sayap kegiatannya tidak hanya untuk anak-anak. “Kami mulai mengadakan workshop untuk guru-guru PAUD di Pekojan, juga untuk orang tua. Materinya tentang bagaimana bercerita dan membacakan buku untuk anak. Sehingga semua pihak sama-sama aware bahwa membacakan buku itu penting bagi anak-anak,” terang Palupi.
Keberadaan FGL tidak hanya dirasakan manfaatnya untuk masyarakat Pekojan, namun Palupi sendiri pun merasakan. Dirinya merasa bahwa FGL adalah tabungan energi positifnya. Saat menemui kesulitan dalam menjalankan FGL maupun dalam kehidupan pribadinya, tabungan itu kemudian cair untuk Palupi.
“Bentuknya bantuan, tapi bukan dari mereka yang terbantu, tapi dari orang lain. Sejak mendirikan FGL, saya lebih mudah mendapatkan beasiswa, mudah lanjut jenjang S2, mengikuti workshop, dan sebagainya,” ujar Palupi.
Beasiswa yang didapatkan Palupi tersebut adalah Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) dari Dompet Dhuafa Pendidikan. Beasiswa ini diberikan kepada para aktivis kampus yang memiliki program sosial kemasyarakatan secara nyata. Palupi mendapatkan BAKTI NUSA pada tahun 2017 lalu. Selain mendapatkan dana untuk mendukung keberlangsungan FGL, Palupi juga mendapatkan pembinaan intensif bagaimana membangun kepemimpinan di tengah masyarakat.
Kiprah Palupi untuk warga dan anak-anak Pekojan ini selayaknya menjadi inspirasi bagi para pemuda yang lain. “Akan lebih baik jika energi positif para pemuda digunakan untuk kembali pada masyarakat. Karena mereka benar-benar membutuhkan anak muda untuk membuat perubahan dan inovasi,” pungkasnya.
, ,

Ini Dia AKtivitas Dompet Dhuafa Pendidikan yang Penting Kamu Tahu!

Tak terasa bulan pertama di 2020 sudah terlampaui. Apa saja kegiatanmu di bulan Januari lalu Sob?
Kegiatan kami cukup padat di awal tahun ini, nah semua kegiatan tersebut bisa kamu lihat di bawah ya Sob
Jika ditanya “buat apa sih, awal tahun sudah banyak aktivitas?”  Karena masalah
pendidikan di negeri kita kan juga nggak pakai libur. Maka
sebagai lembaga yang berkhidmat pada kemajuan pendidikan Indonesia, Dompet Dhuafa Pendidikan berupaya
memberikan kontribusi terbaik terhadap pengentasan masalah tersebut.
Terima kasih atas dukunganmu untuk program dan aktivitas yang kami lakukan Sob. Sungguh dukungan Sahabat Pendidikan sangat berarti. Mari kita kembali bersinergi memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan negeri ini.

Nilai Yang Tak Ternilai

20 Februari 2020. Pagi ini syahdu, mendung ditemani rintik hujan membersamai derap langkah para mujahid ilmu di tatar cendekia.

 

Hujan di pagi hari tak menyurutkan sedikitpun semangat kami dalam melakukan aktivitas berbau pendidikan, salah satunya Apel Pagi. Di saat orang lain memilih menarik lagi selimutnya dan meneruskan mimpi indah, para pembelajar sejati di SMART tetap semangat menyongsong pagi.

 

Apel pagi yang biasanya dilaksanakan di lapangan kali ini harus menerima nasibnya ketika dilaksanakan di lapangan. Kenapa dan untuk apa Apel Pagi diadakan? Kan bisa kalau Apel Pagi ditiadakan saja karena hujan.

 

اذا عرفت بعد السفر فالستعد

 

“Jika kamu sungguh telah mengetahui jauhnya perjalanan, maka bersiaplah (siapkan segala sesuatu) dengan baik”.

 

Karena kami sadar langkah kami masih terlalu pagi untuk kami hentikan, ungkapan dari pepatah arab itu mengajarkan kepada kami untuk menyiapkan perjalanan belajar dengan baik.  Dengan Apel Pagi, kami tanamkan nilai Disiplin.

 

Siswa dan guru secara khidmat, rapi dan tertib mengikuti kegiatan apel pagi.K ami tanamkan nilai-nilai disiplin bukan hanya dengan memberi contoh tapi menjadikan setiap hela nafas dan gerak kami qudwah bagi siapapun. Semoga berdirinya kami (siswa dan guru) pagi ini menjadi saksi dan pemberat amal baik kami dihadapan Rabb Jalla Jalaluh. Allahumma Aamin

 

Harta, ilmu, pangkat dan jabatan hakikatnya semua titipan yang kelak pada saatnya akan ditanggalkan.

 

-Asep Rogia_

Guru Bahasa Arab SMART

 

Penyakit Apa yang Viral Hayo? Intip yuk Sob

Virus, virus apa yang viral?

Apalagi kalau bukan virus corona?

Virus yang muncul 31 desember 2019 langsung menjadi topik hangat di bagian berita belahan dunia manapun. Nggak heran sih, karena memang peran media sosial dari hari ke hari semakin besar. Mungkin ketika ada wabah semacam ini terjadi, bahkan belum sampai ditetapkan sebagai wabahpun, seluruh dunia bisa tahu dalam waktu kurang dari satu jam.

Merasakan ketegangan virus corona di dunia nyata ibarat menjadi pemeran film di film-film yang mengangkat wabah virus, penyakit, dan sejenisnya sebagai salah satu konflik di dalamnya, bukan? let’s say, film I Am a Legend, Contagius, Train to busan, dan masih banyak lagi. Parno. Seluruh dunia gempar. Ditambah efek live report keadaan wuhan, tempat terjadinya outbreak pertama kali, persis seperti film scene resident evil yang sangat sepi dan menyeramkan. Hal ini semakin menambah insecuritas semua orang. Tapi, bagaimana perasaan tenaga kesehatan sendiri? Terkhususnya, pandangan penulis sendiri.

Kami yang sudah sering terpapar pasien TB, membantu lahiran ibu hepatitis B positif, melakukan vaksin pada anak dengan ibu HIV positif adalah “makanan“ sehari-hari. Apakah karena itu kami jadi kebal dan tidak parno? Kami bukannya tidak parno, tapi, bagaimana cara kami membantu pasien jika sebelum membantunya saja sudah takut duluan? Karena, kami tau konsepnya, asalkan imunitas kami bagus, maka virus maupun bakteri yang datang akan kalah dengan sel imun kita. Bukannya karena kami sehat lalu kami kebal dengan penyakit yaa.. kami pastilah lebih rentan berisiko tertular saat mengobat pasien dengan TB, HIV, hepatitis B, bahkan corona dibandingkan tenaga non kesehatan, yang bisa kami lakukan adalah menjaga diri sendiri seperti menjaga tubuh tetap sehat, memakai alat pelindung diri, dan berhati-hati ketika bersentuhan dengan pasien.

Risiko tertular tetap ada, bahkan tidak usah di rumah sakit sekalipun. Seseorang yang berinteraksi dengan orang lain pada hari-harinya juga berisiko tertular-entah virus apa yang ada pada lawan bicaranya atau orang yang bertemu dengannya, jika memang dia tidak memiliki kekebalan tubuh yang baik, maka akan sakit juga.

Sakit, musibah, ujian, bahkan kematian sekalipun tidak akan bisa kita hindari. Sehingga, tidak perlu takut akan tertular, tertimpa, atau meninggal tiba-tiba, yang Maha kuasa tahu hamba yang perlu mendapatkan ujian, penggugur dosa, yang sesuai dengan kemampuan hamba-hambanya.

Hikmah yang didapatkan dari viralnya corona ini bisa menjadikan seseorang lebih concern terhadap kesehatannya sendiri, cuci tangan, makan-makanan yang sehat, olahraga. Dan juga mengingat kematian, sakit, musibah, dan ujian.

Seaman apapun tempat perlindungan jika waktunya meninggal ya akan meninggal juga. Jika waktunya corona masuk indonesia, ya akan masuk juga. Tapi kepada siapa tertularnya tergantung masing-masing. Bisa jadi kan corona telah menginfeksi tetangga atau orang yang berseliweran di jalan dan kita menghirup bersinnya? Bisa jadi. Tapi, untuk tahu siapa yang tertular tetap menjadi kehendak-Nya. Hal yang bisa kita lakukan selain menjaga diri sendiri adalah dengan berdoa 😊

INI DIA PENGUMUMAN SELEKSI LOLOS ADMINISTRASI SNB SMART 2020

INI DIA PENGUMUMAN SELEKSI LOLOS ADMINISTRASI SNB SMART 2020

 

Setelah melewati serangkaian seleksi, ini dia nama-nama yang lolos seleksi administrasi SNB SMART 2020. Berkasnya bisa kamu unduh di bawah ini ya Sob!

SMP

PENGUMUMAN SELEKSI ADMISTRASI SMP-_SNB_2020 (1)

 

SMA

PENGUMUMAN SELEKSI ADMINISTRASI SMA_SNB_2020 (1)

Kita Kudu Paham Finansial Sejak Dini lho Sob!

Manusia yang sehat tentu memiliki berbagai perencanaan hidup yang baik. Ia tentu memiliki rencana untuk menjadikan tiap waktu yang dimilikinya menjadi bernilai. Beribadah, mencari nafkah, bersilaturrahim, membantu siapapun kapanpun dan di manapun, dan banyak peluang kebermanfaatan lainnya. Rasa-rasanya, sebelum membantu kehidupan ummat yang banyak ini, diperlukan kesiapan diri yang tidak sedikit. Seseorang dengan niat dan rencana mulia tadi harus lebih dulu selesai dengan kehidupan pribadinya sendiri. Mulai dari diri sendiri, keluarga kecil, hingga keluarga dan orang-orang terdekatnya yang adalah tanggung jawabnya.

Maka selain mendahulukan ruhiyah dan mental dalam berdakwah, finansialpun harus telah tercukupi. Akan sangat baik rasanya jika memiliki passive income sebelum berdakwah. Selain kebutuhan keluarga tercukupi, dapat lebih hemat waktu untuk leluasa berdakwah. Ditambah, bisa mandiri dalam membiayai dakwah itu sendiri. Belum lagi bonus-bonusnya bisa mempekerjakan banyak orang. Menjadi media sambungan Allah dalam melimpahkan rezeki. Aamiin yaaAllah yaaRobbal ‘aalamiin.

Balik lagi, finansial menjadi salah satu indikaor penting dalam berdakwah. Kesehatan keuangan menjadi penting, terlebih sebagai #1 Financial Check Up untuk merefleksi apakah diri memiliki hutang kepada orang lain, apakah pengeluaran lebih besar dari pada penghasilan, apakah memiliki dana darurat, pun dana tabungan untuk masa depan. Menurut Mba Prita dari ZAP Finance di acara Sharia Investment Week yang saya ikuti sekitar 1 minggu yang lalu, terdapat 5 Hak Alokasi Rezeki sesuai hadist Rasulullah saw. sebagai wujud #2 Pengelolaan Arus Kas.

  1. Hak Orang Lain (Zakat)
  2. Hak Hidup Masa Sulit (Assurance)
  3. Hak Hidup Hari Ini (Present Consumption)
  4. Hak Hidup Masa Depan (Future Spending)
  5. Hak Masyarakat  (Investment)

Adapun berikut saran  7 Pos Pengeluaran bulanan bersumber gaji dengan acuan 5 hak di atas:

  1. Zakat, Sedekah, dan Sosial (5%)
  2. Dana Darurat (5%)
  3. Premi Asuransi (5%)
  4. Biaya Hidup Bulanan dan Cicilan (60%)
  5. Nabung Pembelian Besar (5%)
  6. Investasi Masa Depan (10%)
  7. Gaya Hidup dan Hiburan (10%)

Terakhir, harus ada #3 Perencanaan Keuangan yang matang dalam sebuah keluarga.

  1. Menetapkan Mimpi
  2. Hitung Kebutuhan
  3. Susun Strategi
  4. Pahami & Pilih Produk Keuangan
  5. Implementasi
  6. Monitor & Evaluasi

Maqashid Asy-Syariah dalam buku al-Mutasyfa oleh Imam Ghazali menyatakan pentingnya menjaga keimanan, kehidupan, akal, keturunan dan harta. Inilah bentuk ikhtiar kita untuk menjaga semua nikmat Allah. Berfokus untuk menjaga sumber finansial agar sesuai syariat islam juga harus selalu dilakukan.

Bismillaah, semoga kita bisa menjadi muslim kaya muslim berdaya seperti khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sahabat rasulullah lainnya. Aamiin yaaAlllah yaaRobbal ‘aalamiin!

4 Catatan GM Pendidikan Dompet Dhuafa untuk Kebijakan BOS

4 Catatan GM Pendidikan Dompet Dhuafa untuk Kebijakan BOS

JAKARTA – Sabtu (15/2), bertempat di Ibis Tamarin, Jakarta Pusat, MNC Trijaya menghelat gelar wicara akhir pekan bertajuk Polemik. Tema yang diangkat pada gelar wicara tersebut adalah “Skema Dana BOS, Kenapa Diubah?” Sederet ahli dan praktisi pendidikan pun diundang untuk berdiskusi bersama pada acara tersebut. GM Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa, Asep Sapaat, turut hadir mengungkapkan gagasannya.
Selain Asep, empat narasumber lainnya adalah Ade Erlangga Masdiana (Plt Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Kemendikbud), Ledia Hanifa Amaliah (Anggota Komisi X DPR RI), Kresnadi Prabowo Mukti (Kasubdit Dana Alokasi Khusus Nonfisik, DJPK, Kemendikbud), dan Didi Suprijadi (Ketua PB PGRI Masa Bakti XXI & Pembina Federasi Guru dan Tenaga Honorer Swasta Indonesia).
Pada diskusi interaktif tersebut, Asep memaparkan empat catatan pentingnya terkait kebijakan dana BOS saat ini. Pertama, Asep menyoroti tentang penggunaan dana BOS yang mayoritas masih bersifat fix cost. Menurutnya, dana BOS selayaknya tidak hanya menjadi biaya reguler yang dikirim dan digunakan sampai habis.
“Dana BOS mesti dipahami sebagai biaya investasi yang mesti diukur capaian perubahan yang dikehendaki dari kebijakan tersebut. Oleh karena itu, mestinya ada parameter perubahan yang terukur sebagai dampak dari kebijakan dana BOS ini,” ujar Asep.
Kedua, dirinya memberikan catatan tentang dana BOS yang langsung ditransfer ke sekolah. Menurut Asep, hal ini menjadi ujian penting terhadap kepemimpinan dan kemampuan manajerial kepala sekolah untuk mengelola dana BOS. Terutama pengelolaan untuk kebutuhan peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada peserta didik.
“Dari aspek kepemimpinan, apakah kepala sekolah memiliki integritas agar tak ada penyelewengan? Selain itu, kredibilitas kepala sekolah juga diuji dalam konteks pemanfaatan BOS untuk meningkatkan capaian kinerja sekolah dalam berbagai aspek. Seperti hasil belajar peserta didik, pengembangan profesionalisme guru berkelanjutan, kualitas pembelajaran, dan sebagainya,” lanjut Asep.
Ketiga, Asep juga mengomentari tentang kebijakan meningkatkan persentase porsi anggaran untuk gaji guru honorer. Menurutnya, kebijakan tersebut tak otomatis akan menyejahterakan guru honorer. “Guru honorer akan sejahtera jika kebutuhan pokok hidupnya terpenuhi dan pengembangan dirinya sebagai guru profesional terus berkembang secara berkelanjutan,” ungkap Asep.
Terakhir, Asep mengutarakan gagasannya tentang kriteria sekolah penerima dana BOS. Gagasannya ini didasari oleh studi Reeves (2006) tentang posisi dan pemetaan sekolah. Reeves mengungkapkan ada empat kategori sekolah. Kategori pertama disebut sebagai Sekolah Beruntung. Sekolah ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi, namun tak memiliki strategi penentu hasil. Akibatnya, sekolah seperti ini sulit mengulang keberhasilan di masa silam.
Kategori kedua adalah Sekolah Kalah, yaitu sekolah dengan tingkat keberhasilan rendah dan tak memiliki strategi penentu hasil. Berikutnya, Sekolah Belajar. Sekolah ini memiliki tingkat keberhasilan rendah, namun sudah memiliki strategi penentu hasil. Sekolah Belajar berpotensi untuk terus berkembang di masa mendatang.
Kategori terakhir dinamai Reeves dengan Sekolah Memimpin. Sekolah dalam kategori ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi yang diraih karena efektivitas strategi penentu hasil. Menurut Asep, sekolah-sekolah yang layak menerima dana BOS adalah mereka yang masuk dalam kategori Sekolah Memimpin ini.
Dirinya pun kemudian menjelaskan tentang konsekuensi logis yang harus dilakukan oleh kepala sekolah pada kategori ini, setelah menerima dana BOS. “Konsekuensi logisnya, kepala sekolah di kategori Sekolah Memimpin mesti melakukan alih pengetahuan dan keterampilan kepada Sekolah Kalah, Sekolah Belajar, dan Sekolah Beruntung,” papar Asep.
Dalam fase tertentu, menurut Asep, jika ketiga sekolah lainnya sudah memiliki kapasitas kepala sekolah dan sistem yang mapan dalam pengelolaan program dan anggaran sekolah, dana BOS bisa ditransfer langsung. “Intinya, kita tak bicara soal besaran dana dan juknis penyaluran BOS, tetapi membangun kapasitas institusi sekolah dalam mengelola dana tersebut,” pungkas Asep. (NRS)