Sudah sepatutnya pemuda memiliki tekad kuat untuk mengubah bangsanya ke arah lebih baik, hal tersebut dikarenakan pemuda merupakan motor penggerak kemajuan bangsa. Hanya saja sebagai motor penggerak rasanya tak cukup jika pemuda tak berperan aktif dalam kegiatan sosial serta kerelawanan, aktif dalam kegiatan sosial dan kerelawanan menjadi upaya menumbuhkan kepekaan dan kepedulian.

Itulah yang dilakukan Haikal Ramadhan, alumni SMART angkatan 9 dan mahasiswa Universitas Tidar Magelang jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia yang menyisihkan waktu, pikiran, dan tenaganya membersamai Si Mobil Baca (Si MoBa).

Menurut Haikal rasa penasaran yang besar membawanya kepada rentetan pertanyaan seputar Si MoBa, dengan penuh keberanian ia mendatangi kantor sekretariat Si MoBa di Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa Pendidikan Bogor, Jawa Barat. “Program yang ditawarkan Si MoBa membuat saya ingin terlibat di dalamnya. Meski memiliki embel-embel perpustakaan keliling tetapi Si MoBa terlihat berbeda karena mampu mendekatkan masyarakat memperoleh akses informasi dan program literasi aplikatif yang dapat diterapkan di masyarakat,” kata Haikal.

Selama tiga hari mengikuti kegiatan bersama Si MoBa di Cianten, Jawa Barat, ia mengaku mendapatkan ilmu baru seputar siasat jitu mendongeng, aktvitas literasi yang menyenangkan, permainan interaktif dan banyak insight positif lain yang memperkaya pengetahuannya di bidang literasi. “Ingin lebih produktif di masyarakat menjadi target saya setelah mengikuti Si MoBa wara wiri di Cianten,” tegasnya.

Si MoBa merupakan perpustakaan keliling yang diinisiasi karena keterbatasan masyarakat dalam menjangkau serta mendapatkan aksesibilitas terhadap perpustakaan dan manfaat program Gemari Baca, walaupun baru seumur jagung program ini diharapkan menjadi alternatif upaya dan solusi peningkatan kualitas literasi di masyarakat.

“Dengan program sekeren ini saya harap Si MoBa bisa terus melaju kencang hingga ke berbagai pelosok negeri, semakin banyak yang dapat terlibat dan dilibatkan, semakin banyak pula manfaat yang dapat di rasakan dari adanya Si MoBa ini,” tukas Haikal. (AR)

Jangan Diam Saja Saatnya Aku Kamu Aksi di Bidang Literasi Seperti Joana

 

Sudah saatnya #AkuKamuAksi, terpilih menjadi peserta terbaik dalam gelaran Residensi Pegiat Literasi di Lampung Selatan, Joana Zettira belum lama ini diundang ke Makassar untuk mengikuti Festival Literasi Indonesia dan Peringatan Puncak Hari Aksara Internasional. Joana yang juga menyandang gelar Duta Gemari Baca, mengaku dirinya masih terhitung baru dalam jagat literasi dan masih harus banyak belajar.

 

Meski demikian, ia terlibat aktif dalam berbagai komunitas yang bergerak dalam bidang literasi, sastra, dan pendidikan; diantaranya Sagasitas Research and Journal Center, Sagasitas Choir, Komunitas Pencinta Sastra Indonesia, Moco Buku Rame Rame (Mobura), Teater Teras Evi Idawati, dan Korwil Mentor Anak Juara.

 

“Mungkin ini belum ada apa-apanya, tapi saya berharap, apa yang saya lakukan dapat memberi manfaat untuk banyak orang. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, ” tutur Joana.

 

Sebagai Duta Gemari Baca, Joana aktif mengampanyekan budaya membaca melalui beragam praktik literasi. Duta Gemari Baca merupakan program yang diinisiasi Dompet Dhuafa Pendidikan, kegiatannya menyasar anak muda sebagai konektor kebaikan untuk sesama.

 

Para Duta diberi serangkaian pembinan sehingga memiliki kapasitas dalam mengembangkan literasi di daerahnya. Aktivitas literasi yang dilakukan gadis kelahiran 13 Juni 1999 ini meliputi fun literacy activity, sharing literacy, story telling, dan lapak baca rutin.

 

Tak hanya aktif berorganisasi, Joana yang tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga juga telah menyabet berbagai kejuaraan sejak Sekolah Dasar hingga duduk di bangku perkuliahan. Tak hanya kejuaraan di tingkat regional, beberapa kompetisi nasional pernah ia raih.

 

Antara lain Juara 3 Story Telling FLS2N tingkat Provinsi DIY, Juara 2 Pidato Kependudukan BKKBN, Juara 3 Penulisan Naskah Drama Balai Bahasa Yogyakarta, Juara 1 Jejak Tradisi Budaya Regional di Banyumas, Juara 2 Jejak Tradisi Budaya Nasional di Sumatera Barat yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Duta Museum 2020, dan  sederet prestasi lainnya.

 

Kalau Joana saja bisa maka sudah saatnya Aku Kamu Aksi buat pendidikan Indonesia lebih baik!

SMART Ekselensia Indonesia Adakan Tes Akademik Tes Akademik Seleksi Nasional Beasiswa 2020

 

 

Bogor –  SMART Ekslensia Indonesia adakan Tes Akademik Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART 2020 yang dilaksanakan di Lembaga Pengembangan Insani, Parung, Jawa Barat, pada Sabtu (23/02). Kegiatan ini merupakan program sekolah yang dilakukan setiap tahun.

 

Sebanyak 88 peserta yang terbagi atas 62 orang peserta SMP dan 26 orang peserta SMA memadati ruangan kelas yang telah disediakan panitia. Selama tes berlangsung para peserta akan mengerjakan tiga jenis tes bidang studi yaitu, bahasa Indonesia, pendidikan agama Islam, dan matematika; sementara untuk SMA mengerjakan lima jenis tes bidang studi yaitu, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA, pendidikan agama Islam, dan matematika.

“Tes akademik akan dibagi ke dalam dua sesi. Empat jam di sesi pertama untuk SMP dan SMA, dan tiga jam di sesi kedua khusus untuk SMA,” ucap Novi, Panitia SNB SMART 2020.

Ia menambahkan jika Tes Akademik ini adalah salah satu rangkaian SNB SMART yang dilaksanakan serentak. Selain Jabodetabek, tes juga juga dilaksanakan di beberapa daerah mitra yaitu Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah berjenjang SMP dan SMA di bawah naungan Dompet Dhuafa Pendidikan memiliki visi menjadi sekolah model yang melahirkan generasi berkepribadian Islami dan berjiwa pemimpin yang siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan.  Untuk mewujudkan visi tersebut, SMART Ekselensia Idonesia menyediakan kurikulum yang dirancang secara berjenjang selama lima tahun, tiga tahun SMP dan dua tahun SMA dengan program Sistem Kredit Semester (SKS) dan pendidikan kepemimpinan. (AR)

 

Saatnya Aku Kamu Aksi Seperti Palupi

Mungkin tak pernah terbayangkan bagi anak-anak di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, akan memiliki sebuah perpustakaan yang nyaman. Ya, sebuah perpustakaan yang menyenangkan untuk membaca atau pun bermain, kini hadir bagi mereka. Fun Garden of Literacy (FGL) telah membuatkan Pojok Baca ramah anak untuk anak-anak dan warga Pekojan.
FGL didirikan pada 28 Juni 2016 oleh Palupi Mutiasih, mahasiswi PGSD Universitas Negeri Jakarta dan sekarang sedang melanjutkan studi Pasca Sarjana Jurusan Magister Pendidikan Dasar Universitas Pendidikan Indonesia. Oleh Palupi, FGL diarahkan menjadi sebuah taman literasi yang seramah mungkin untuk anak-anak. Di dalamnya ada kegiatan membaca buku, permainan edukatif, dongeng, kreasi, panggung boneka, dan lain sebagainya. Jangkauan aktivitasnya tidak hanya di Pekojan saja, namun melingkupi beberapa wilayah lain di Jakarta.
FGL menjadi sarana bagi Palupi untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya setelah dinobatkan sebagai Duta Gemari Baca, Dompet Dhuafa Pendidikan. Tugas utama Duta Gemari Baca adalah membudayakan literasi di tengah masyarakat. Sebelumnya, Palupi dan kawan-kawannya mengikuti workshop secara intensif sebagai bekal melaksanakan tugas tersebut.
“Awalnya kehadiran FGL ini dianggap aneh. ‘Apaan sih, ngajak anak-anak baca, dongeng, dan nggak dibayar lagi’, mungkin itu yang terlintas di benak masyarakat Pekojan waktu itu,” kenang Palupi. Namun itu tak membuat Palupi menyerah. Ia pun berupaya menarik minat masyarakat dengan berbagai cara.
Menggaet relawan adalah salah satu caranya. Relawan-relawan ini difokuskan untuk aktivasi Pojok Baca dan menjalankan kegiatan literasi. “Awalnya hanya ada 3 founder, sekarang sudah ada 25 relawan. Di setiap kegiatan yang kami laksanakan, ada sekitar 100 anak yang ikutan,” papar Palupi bangga.
Sejak tahun 2019, FGL melebarkan sayap kegiatannya tidak hanya untuk anak-anak. “Kami mulai mengadakan workshop untuk guru-guru PAUD di Pekojan, juga untuk orang tua. Materinya tentang bagaimana bercerita dan membacakan buku untuk anak. Sehingga semua pihak sama-sama aware bahwa membacakan buku itu penting bagi anak-anak,” terang Palupi.
Keberadaan FGL tidak hanya dirasakan manfaatnya untuk masyarakat Pekojan, namun Palupi sendiri pun merasakan. Dirinya merasa bahwa FGL adalah tabungan energi positifnya. Saat menemui kesulitan dalam menjalankan FGL maupun dalam kehidupan pribadinya, tabungan itu kemudian cair untuk Palupi.
“Bentuknya bantuan, tapi bukan dari mereka yang terbantu, tapi dari orang lain. Sejak mendirikan FGL, saya lebih mudah mendapatkan beasiswa, mudah lanjut jenjang S2, mengikuti workshop, dan sebagainya,” ujar Palupi.
Beasiswa yang didapatkan Palupi tersebut adalah Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) dari Dompet Dhuafa Pendidikan. Beasiswa ini diberikan kepada para aktivis kampus yang memiliki program sosial kemasyarakatan secara nyata. Palupi mendapatkan BAKTI NUSA pada tahun 2017 lalu. Selain mendapatkan dana untuk mendukung keberlangsungan FGL, Palupi juga mendapatkan pembinaan intensif bagaimana membangun kepemimpinan di tengah masyarakat.
Kiprah Palupi untuk warga dan anak-anak Pekojan ini selayaknya menjadi inspirasi bagi para pemuda yang lain. “Akan lebih baik jika energi positif para pemuda digunakan untuk kembali pada masyarakat. Karena mereka benar-benar membutuhkan anak muda untuk membuat perubahan dan inovasi,” pungkasnya.
Tak terasa bulan pertama di 2020 sudah terlampaui. Apa saja kegiatanmu di bulan Januari lalu Sob?
Kegiatan kami cukup padat di awal tahun ini, nah semua kegiatan tersebut bisa kamu lihat di bawah ya Sob
Jika ditanya “buat apa sih, awal tahun sudah banyak aktivitas?”  Karena masalah
pendidikan di negeri kita kan juga nggak pakai libur. Maka
sebagai lembaga yang berkhidmat pada kemajuan pendidikan Indonesia, Dompet Dhuafa Pendidikan berupaya
memberikan kontribusi terbaik terhadap pengentasan masalah tersebut.
Terima kasih atas dukunganmu untuk program dan aktivitas yang kami lakukan Sob. Sungguh dukungan Sahabat Pendidikan sangat berarti. Mari kita kembali bersinergi memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan negeri ini.

Virus, virus apa yang viral?

Apalagi kalau bukan virus corona?

Virus yang muncul 31 desember 2019 langsung menjadi topik hangat di bagian berita belahan dunia manapun. Nggak heran sih, karena memang peran media sosial dari hari ke hari semakin besar. Mungkin ketika ada wabah semacam ini terjadi, bahkan belum sampai ditetapkan sebagai wabahpun, seluruh dunia bisa tahu dalam waktu kurang dari satu jam.

Merasakan ketegangan virus corona di dunia nyata ibarat menjadi pemeran film di film-film yang mengangkat wabah virus, penyakit, dan sejenisnya sebagai salah satu konflik di dalamnya, bukan? let’s say, film I Am a Legend, Contagius, Train to busan, dan masih banyak lagi. Parno. Seluruh dunia gempar. Ditambah efek live report keadaan wuhan, tempat terjadinya outbreak pertama kali, persis seperti film scene resident evil yang sangat sepi dan menyeramkan. Hal ini semakin menambah insecuritas semua orang. Tapi, bagaimana perasaan tenaga kesehatan sendiri? Terkhususnya, pandangan penulis sendiri.

Kami yang sudah sering terpapar pasien TB, membantu lahiran ibu hepatitis B positif, melakukan vaksin pada anak dengan ibu HIV positif adalah “makanan“ sehari-hari. Apakah karena itu kami jadi kebal dan tidak parno? Kami bukannya tidak parno, tapi, bagaimana cara kami membantu pasien jika sebelum membantunya saja sudah takut duluan? Karena, kami tau konsepnya, asalkan imunitas kami bagus, maka virus maupun bakteri yang datang akan kalah dengan sel imun kita. Bukannya karena kami sehat lalu kami kebal dengan penyakit yaa.. kami pastilah lebih rentan berisiko tertular saat mengobat pasien dengan TB, HIV, hepatitis B, bahkan corona dibandingkan tenaga non kesehatan, yang bisa kami lakukan adalah menjaga diri sendiri seperti menjaga tubuh tetap sehat, memakai alat pelindung diri, dan berhati-hati ketika bersentuhan dengan pasien.

Risiko tertular tetap ada, bahkan tidak usah di rumah sakit sekalipun. Seseorang yang berinteraksi dengan orang lain pada hari-harinya juga berisiko tertular-entah virus apa yang ada pada lawan bicaranya atau orang yang bertemu dengannya, jika memang dia tidak memiliki kekebalan tubuh yang baik, maka akan sakit juga.

Sakit, musibah, ujian, bahkan kematian sekalipun tidak akan bisa kita hindari. Sehingga, tidak perlu takut akan tertular, tertimpa, atau meninggal tiba-tiba, yang Maha kuasa tahu hamba yang perlu mendapatkan ujian, penggugur dosa, yang sesuai dengan kemampuan hamba-hambanya.

Hikmah yang didapatkan dari viralnya corona ini bisa menjadikan seseorang lebih concern terhadap kesehatannya sendiri, cuci tangan, makan-makanan yang sehat, olahraga. Dan juga mengingat kematian, sakit, musibah, dan ujian.

Seaman apapun tempat perlindungan jika waktunya meninggal ya akan meninggal juga. Jika waktunya corona masuk indonesia, ya akan masuk juga. Tapi kepada siapa tertularnya tergantung masing-masing. Bisa jadi kan corona telah menginfeksi tetangga atau orang yang berseliweran di jalan dan kita menghirup bersinnya? Bisa jadi. Tapi, untuk tahu siapa yang tertular tetap menjadi kehendak-Nya. Hal yang bisa kita lakukan selain menjaga diri sendiri adalah dengan berdoa 😊

INI DIA PENGUMUMAN SELEKSI LOLOS ADMINISTRASI SNB SMART 2020

 

Setelah melewati serangkaian seleksi, ini dia nama-nama yang lolos seleksi administrasi SNB SMART 2020. Berkasnya bisa kamu unduh di bawah ini ya Sob!

SMP

PENGUMUMAN SELEKSI ADMISTRASI SMP-_SNB_2020 (1)

 

SMA

PENGUMUMAN SELEKSI ADMINISTRASI SMA_SNB_2020 (1)

4 Catatan GM Pendidikan Dompet Dhuafa untuk Kebijakan BOS

JAKARTA – Sabtu (15/2), bertempat di Ibis Tamarin, Jakarta Pusat, MNC Trijaya menghelat gelar wicara akhir pekan bertajuk Polemik. Tema yang diangkat pada gelar wicara tersebut adalah “Skema Dana BOS, Kenapa Diubah?” Sederet ahli dan praktisi pendidikan pun diundang untuk berdiskusi bersama pada acara tersebut. GM Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa, Asep Sapaat, turut hadir mengungkapkan gagasannya.
Selain Asep, empat narasumber lainnya adalah Ade Erlangga Masdiana (Plt Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Kemendikbud), Ledia Hanifa Amaliah (Anggota Komisi X DPR RI), Kresnadi Prabowo Mukti (Kasubdit Dana Alokasi Khusus Nonfisik, DJPK, Kemendikbud), dan Didi Suprijadi (Ketua PB PGRI Masa Bakti XXI & Pembina Federasi Guru dan Tenaga Honorer Swasta Indonesia).
Pada diskusi interaktif tersebut, Asep memaparkan empat catatan pentingnya terkait kebijakan dana BOS saat ini. Pertama, Asep menyoroti tentang penggunaan dana BOS yang mayoritas masih bersifat fix cost. Menurutnya, dana BOS selayaknya tidak hanya menjadi biaya reguler yang dikirim dan digunakan sampai habis.
“Dana BOS mesti dipahami sebagai biaya investasi yang mesti diukur capaian perubahan yang dikehendaki dari kebijakan tersebut. Oleh karena itu, mestinya ada parameter perubahan yang terukur sebagai dampak dari kebijakan dana BOS ini,” ujar Asep.
Kedua, dirinya memberikan catatan tentang dana BOS yang langsung ditransfer ke sekolah. Menurut Asep, hal ini menjadi ujian penting terhadap kepemimpinan dan kemampuan manajerial kepala sekolah untuk mengelola dana BOS. Terutama pengelolaan untuk kebutuhan peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada peserta didik.
“Dari aspek kepemimpinan, apakah kepala sekolah memiliki integritas agar tak ada penyelewengan? Selain itu, kredibilitas kepala sekolah juga diuji dalam konteks pemanfaatan BOS untuk meningkatkan capaian kinerja sekolah dalam berbagai aspek. Seperti hasil belajar peserta didik, pengembangan profesionalisme guru berkelanjutan, kualitas pembelajaran, dan sebagainya,” lanjut Asep.
Ketiga, Asep juga mengomentari tentang kebijakan meningkatkan persentase porsi anggaran untuk gaji guru honorer. Menurutnya, kebijakan tersebut tak otomatis akan menyejahterakan guru honorer. “Guru honorer akan sejahtera jika kebutuhan pokok hidupnya terpenuhi dan pengembangan dirinya sebagai guru profesional terus berkembang secara berkelanjutan,” ungkap Asep.
Terakhir, Asep mengutarakan gagasannya tentang kriteria sekolah penerima dana BOS. Gagasannya ini didasari oleh studi Reeves (2006) tentang posisi dan pemetaan sekolah. Reeves mengungkapkan ada empat kategori sekolah. Kategori pertama disebut sebagai Sekolah Beruntung. Sekolah ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi, namun tak memiliki strategi penentu hasil. Akibatnya, sekolah seperti ini sulit mengulang keberhasilan di masa silam.
Kategori kedua adalah Sekolah Kalah, yaitu sekolah dengan tingkat keberhasilan rendah dan tak memiliki strategi penentu hasil. Berikutnya, Sekolah Belajar. Sekolah ini memiliki tingkat keberhasilan rendah, namun sudah memiliki strategi penentu hasil. Sekolah Belajar berpotensi untuk terus berkembang di masa mendatang.
Kategori terakhir dinamai Reeves dengan Sekolah Memimpin. Sekolah dalam kategori ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi yang diraih karena efektivitas strategi penentu hasil. Menurut Asep, sekolah-sekolah yang layak menerima dana BOS adalah mereka yang masuk dalam kategori Sekolah Memimpin ini.
Dirinya pun kemudian menjelaskan tentang konsekuensi logis yang harus dilakukan oleh kepala sekolah pada kategori ini, setelah menerima dana BOS. “Konsekuensi logisnya, kepala sekolah di kategori Sekolah Memimpin mesti melakukan alih pengetahuan dan keterampilan kepada Sekolah Kalah, Sekolah Belajar, dan Sekolah Beruntung,” papar Asep.
Dalam fase tertentu, menurut Asep, jika ketiga sekolah lainnya sudah memiliki kapasitas kepala sekolah dan sistem yang mapan dalam pengelolaan program dan anggaran sekolah, dana BOS bisa ditransfer langsung. “Intinya, kita tak bicara soal besaran dana dan juknis penyaluran BOS, tetapi membangun kapasitas institusi sekolah dalam mengelola dana tersebut,” pungkas Asep. (NRS)
Sudah saatnya #AkuKamuAksi, terpilih menjadi peserta terbaik dalam gelaran Residensi Pegiat Literasi di Lampung Selatan, Joana Zettira belum lama ini diundang ke Makassar untuk mengikuti Festival Literasi Indonesia dan Peringatan Puncak Hari Aksara Internasional. Joana yang juga menyandang gelar Duta Gemari Baca, mengaku dirinya masih terhitung baru dalam jagat literasi dan masih harus banyak belajar.
Meski demikian, ia terlibat aktif dalam berbagai komunitas yang bergerak dalam bidang literasi, sastra, dan pendidikan; diantaranya Sagasitas Research and Journal Center, Sagasitas Choir, Komunitas Pencinta Sastra Indonesia, Moco Buku Rame Rame (Mobura), Teater Teras Evi Idawati, dan Korwil Mentor Anak Juara. “Mungkin ini belum ada apa-apanya, tapi saya berharap, apa yang saya lakukan dapat memberi manfaat untuk banyak orang. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, ” tutur Joana.
Sebagai Duta Gemari Baca, Joana aktif mengampanyekan budaya membaca melalui beragam praktik literasi. Duta Gemari Baca merupakan program yang diinisiasi Dompet Dhuafa Pendidikan, kegiatannya menyasar anak muda sebagai konektor kebaikan untuk sesama.
Para Duta diberi serangkaian pembinan sehingga memiliki kapasitas dalam mengembangkan literasi di daerahnya. Aktivitas literasi yang dilakukan gadis kelahiran 13 Juni 1999 ini meliputi fun literacy activity, sharing literacy, story telling, dan lapak baca rutin.
Tak hanya aktif berorganisasi, Joana yang tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga juga telah menyabet berbagai kejuaraan sejak Sekolah Dasar hingga duduk di bangku perkuliahan. Tak hanya kejuaraan di tingkat regional, beberapa kompetisi nasional pernah ia raih.
Antara lain Juara 3 Story Telling FLS2N tingkat Provinsi DIY, Juara 2 Pidato Kependudukan BKKBN, Juara 3 Penulisan Naskah Drama Balai Bahasa Yogyakarta, Juara 1 Jejak Tradisi Budaya Regional di Banyumas, Juara 2 Jejak Tradisi Budaya Nasional di Sumatera Barat yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan yang terbaru Duta museum DIY 2020 .
Di luar perkiraan kami, minat pendaftar SMART Ekselensia Indonesia (SMART) membludak. Bahkan di hari jelang penutupan masih ada yang ingin mengirimkan berkas pendaftaran.
Terima kasih banyak atas antusiasme terhadap Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART. Terima kasih juga kepada Sahabat Pendidikan untuk dukungan dan kerjasamanya menyebarkan informasi seleksi ini.
Untuk mewadahi antusiasme dan minat terhadap SMART, maka kami memutuskan untuk memperpanjang masa pendaftaran hingga 10 Februari 2020. Pendaftaran bisa dilakukan secara daring (online) dengan tiga cara:
1. Scan barcode yang ada di poster.
2. Daftar langsung di http://bit.ly/SNBSMART2020
3. Segera kontak 081288338840
Jangan lewatkan kesempatan ini! Jangan lupa juga untuk  menyebarkan informasi SNB SMART ke berbagai penjuru ya! Terima kasiiih!