Duka kembali merundung ibu pertiwi. Setelah
rangkaian bencana alam yang meluluh lantakkan
sebagian wilayah, kini Indonesia dihadapkan
pada wabah corona.

Sekolah sepi, jalanan lengang, kantor kosong,
semua orang berdiam di rumah, menjaga jarak,
menjaga corona tak makin merebak. Dari Sabang
sampai Merauke, semua berjaga.

“Kami punya ratusan rencana merangkai mimpi ini
Kami punya sejuta upaya mencerdaskan bangsa ini
Kami punya milyaran semangat membangun negeri ini

Izinkan kami berjuang kembali,
Melanjutkan cita dan asa membangun negeri
Membangun manusia”

Namun kami yakin, kita kuat, Indonesia kuat!
Maka Saudaraku, mari eratkan solidaritas.
Saling dukung, saling jaga. Seraya tak putus
doa, agar wabah corona segera berakhir, agar
kita bisa maksimalkan bakti kembali untuk
negeri ini.

 

Oleh: M.Atiatul Muqtadir, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2019. PM BAKTI NUSA

 

Hingga hari ini, kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Indonesia per 27 Maret 2020 di situs resminya, sebanyak 1046 orang telah terkonfirmasi Covid-19 dengan korban mencapai 87 orang, pasien sembuh sebanyakan 46 orang, dan 913 pasien dalam perawatan. Ini adalah sebuah tragedi yang sangat memprihatinkan, di mana kurva kasus Covid-19 senantiasa meningkat dibarengi kemampuan tenaga medis berserta ketersediaan alat untuk melindungi mereka kian menurun. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

 

Social distancing yang tidak efektif

 

Ketika akhir Februari Covid-19 semakin menyebar, desakan lockdown pun muncul dari kalangan masyarakat. Namun pemerintah mengambil opsi lain, yakni social distancing. Sejatinya lockdown dan social distancing bukanlah istilah yang dipakai di peraturan kita, yakni UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Berdasarkan UU tersebut istilah lockdown lebih mirip dengan karantina sedangkan social distancing serupa dengan bagian kelima undang-undang ini yakni pembatasan sosial berskala besar.

Sayangnya, social distancing yang dipilih pemerintah sebagai langkah penanggulangan pandemi Covid-19 lebih mirip dengan kampanye daripada sebuah kebijakan. Pasalnya, tak ada peraturan pemerintah yang diterbitkan dengan terminologi yang mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018. Pemerintah justru bekerja mirip dengan lembaga masyarkat: mengumumkan informasi dan membagian bantuan. Tak salah dengan dua hal tersebut, pemerintah memang perlu melakukan itu, tapi lebih dari itu pemerintah adalah penghasil kebijakan. Di mana seharusnya jika memang pemerintah mengambil opsi ‘social distancing’, perlu diterbitkan peraturan mengenai pembatasan sosial berskala besar mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018 lengkap dengan segala teknis pelaksanaan, cakupan kebijakan, dan sanksinya.

 

Sebagai contoh, dalam pasal 59 ayat (3) dijelaskan bahwa pembatasan sosial berskala besar paling sedikit meliputi: peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Lantas, dalam pelaksanaannya, masih ada daerah yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan, masih ada yang berkumpul di kafe, masih ada kantor yang meminta pegawainya bekerja, masih ada guru yang harus masuk sekolah. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar, kebijakan apa yang sebenarnya diambil oleh pemerintah? Benarkah pemerintah sedang mengambil kebijakan pembatasan sosial berskala besar? Apakah mereka yang saya contohkan di atas dapat disebut melanggar? Atau Apakah mereka dapat dikenai sanksi? Selama tak ada peraturan yang jelas, penanganan Covid-19 ini menjadi buram. Baik bagi aparat yang bertugas, maupun bagi masyarakat.

 

Selain itu, social distancing pada wilayah masyarakat Indonesia memang sulit dilakukan. Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Universitas Indonesia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia ini memiliki karakter yang komunal dan secara kultural merupakan short term society atau masyarakat jangka pendek. Ketergantungan terhadap orang lain sangat tinggi dan memegang prinsip ‘kita hidup untuk hari ini’. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa seharusnya social distancing bukan sekadar ‘kampanye’ melainkan sebuah kebijakan yang mencakup sanksi maupun pemberian insentif.

 

 

Karantina wilayah seharusnya sejak awal

 

Jauh sebelum Covid-19 menyebar antar wilayah, seharusnya pemerintah secara tegas mengambil opsi karantina wilayah. Sebagaimana tercantum dalam pasal 53 ayat (2) UU Nomor 6 Tahun 2018, “karantina wilayah dilaksanakan kepada seluruh anggota masyarakat di suatu wilayah apabila dari hasil konfirmasi laboratorium sudah terjadi penyebaran penyakit antar anggota masyarakat”. Dari pasal ini kita mengetahui, bahwa karantina wilayah dilakukan ketika penyakit telah menyebar antar masyarakat. Tujuannya agar penyakit ini tidak menyebar ke wilayah lainnya. Berbeda dengan karantina rumah yang dilakukan ketika penyakit hanya terjadi hanya di dalam satu rumah (pasal 50).

 

Sebagai contoh, ketika kasus ini telah terkonfirmasi di Jakarta, dengan kasus yang terjadi tidak hanya dalam satu rumah, seharusnya akses keluar masuk Jakarta ditutup sehingga tak menyebar ke wilayah lain. Kita telah mengetahui bersama, kasus Covid-19 yang terjadi di berbagai daerah rata-rata berasal dari orang yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah yang telah terjadi penularan antar masyarakat.

 

Melihat situasi hari ini, di mana social distancing tidak berjalan efektif dan angka kematian dan penyebaran Covid-19 terus meningkat, karantina wilayah harus segera diberlakukan. Pemerintah harus segera menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah terutama wilayah yang telah terjadi penyebaran Covid-19 antar masyarakat. Belajar dari kampanye social distancing, efektivitas pelaksanaan karantina wilayah bergantung pada peraturan pemerintah yang dibentuk. Jika masih bersifat umum, tidak rinci, dan tidak tegas, karantina wilayah justru dapat menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah lengkap dengan teknis pelaksanaan serta pemberian insentif ataupun bantuan kebutuhan hidup dasar bagi orang di wilayah karantina sebagaimana UU Nomor 6 Tahun 2018. Pasalnya efektif

 

 

Saat ini kesehatan masyarakat Indoenesia bergantung pada ketegasan pemerintah. Sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia, kebijakan yang diambil pemerintah cenderung lamban dan tak tegas. Pada awal kasus ini terjadi, alih-alih memberikan peringatan kepada masyarakat, pemerintah justru menganggap enteng kasus ini bahkan hingga menjadikannya bahan bercandaan. Kini, virus yang sempat kita tertawakan, telah memakan banyak korban. Cukup belajar dari kesalahan, sebelum terlalu jauh terlambat, karantina wilayah perlu segera diberlakukan.

 

 

KAMI WASPADA, KITA SEMUA PERLU WASPADA!

Dompet Dhuafa Pendidikan melakukan langkah kewaspadaan menghadapi Covid-19 dengan menyemprotkan desinfektan ke seluruh
ruangan kelas dan kantor. Selain itu, kami juga memberlakukan sistem shift dan Work From Home untuk guru dan beberapa karyawan.

Amanah dari masyarakat harus kami tunaikan, sehingga tidak memungkinkan untuk seluruh karyawan bekerja dari
rumah secara serentak.

Sahabat Pendidikan kami akan selalu waspada, kita semua harus waspada karena Covid-19 nyata adanya dan sudah merenggut banyak korban jiwa.

Jika tidak ada hal mendesak,
sebaiknya #DiRumahAja. Jaga diri, jaga keluarga, serta tak putus berdoa agar Covid-19 segera hilang dari kehidupan kita semua.

Eduaction: Kenalkan Profesi Barista, Si MoBa Ajak Siswa Gali Potensi Diri

 

 

Bogor – Si Mobil Baca (Si MoBa) besutan Dompet Dhuafa Pendidikan dinilai mampu membuka gerbang akses buku lebih luas untuk masyarakat, sehingga masyarakat terutama anak-anak dapat mendapatkan akses membaca buku yang lebih beragam dan berkualitas. Namun pada paktiknya Si MoBa tak hanya menyediakan ragam buku, namun juga ragam kegiatan berkualitas sebagai wahana edukasi serta rekreasi berbasis literasi.

 

Untuk menggali potensi anak-anak sejak dini, Si MoBa mengajak ratusan siswa sekolah dasar mengikuti kelas inspirasi “Mengenal Profesi Roaster dan Barista” bersama Ampas Kopi Kita dan Komunitas Batas Kota. Menurut Muhammad Iqbal, Koordinator Si MoBa, Si MoBa ingin memberikan pengalaman tak terlupakan kepada siswa usia sekolah dasar agar mereka makin semangat menggapai cita, “Zaman ini banyak profesi mumpuni, salah satunya menjadi Barista. Kolaborasi kami bersama Ampas Kopi Kita dan Komunitas Batas Kota kami yakini dapat memberikan insight baru untuk anak-anak,” jelasnya

 

Ida, Teman Si MoBa sekaligus inisiator Ampas Kopi Kita, menyampaikan jika saat ini profesi Barista menjadi profesi yang diminati anak muda khususnya kaum milenial, “profesi Barista sudah tak bisa lagi dipandang sebelah mata karena peminatan anak muda mendalami jagat kopi ada dalam tahap yang membanggakan,” papar Ida. Ia menambahkan jika ketertarikan milenial menjajaki dunia kopi dapat meningkatkan kuantitas komoditas petani kopi lokal.

Selama kegiatan berlangsung para siswa diajak berkenalan dengan bermacam peralatan membuat kopi hingga berbagai jenis kopi dan cara pengolahannya. “Indonesia memiliki beraneka jenis biji kopi, saking kayanya banyak jenis biji kopi mahal yang hanya bisa dinikmati segelintir orang, karena itulah penting untuk mengenalkan kekayaan kopi Indonesia sejak dini,” tegas Ida.

 

Setelah berkeliling dari Cianten, Sukabumi, Tenjolaya, dan Bojong Sempu, Si MoBa sampai juga ke Klapanunggal, Cileungsi, Jawa Barat. Dalam eksekusi kelima ini Si MoBa masih menghadirkan bermacam aktivitas literasi menyenangkan; bukan hanya untuk anak-anak, SI MoBa turut menyelenggarakan pelatihan membuat media pembelajaran bagi guru dan masyarakat sekitar. Kedatangan Si MoBa di Klapanunggal melengkapi rangkaian perjalanan memperkenalkan literasi kepada masyarakat di 22 titik wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

 

Menurut Muhammad Iqbal, Koordinator Si MoBa, Si MoBa terus melebarkan sayapnya demi memberikan kebermanfaatan lebih luas ke masyarakat khususnya di bidang literasi. “Si MoBa mampu membuka gerbang akses buku lebih luas untuk masyarakat, sehingga masyarakat terutama anak-anak dapat mendapatkan akses membaca buku yang lebih beragam dan berkualitas. Tak hanya menyediakan ragam buku dan kegiatan berkualitas, Si MoBa juga dapat digunakan sebagai wahana edukasi serta rekreasi berbasis literasi,” ujarnya.

 

“Kelebihan Si MoBa ialah memberikan pelatihan pengembangan diri kepada masyarakat agar lebih berdaya. Si MoBa juga digadang dapat memberikan dampak baik secara konsisten karena memberikan alternatif terhadap solusi peningkatan kualitas literasi di masyarakat,” pungkas Iqbal. (AR)

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4, Lulusan Kedokteran UI Depok

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah Swt. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

Wiken Ini Piknik Yuk Sob!

Oleh: Muhammad Syafei

Salah satu perintah Allah, yang bagi saya, menarik adalah perintah menjelajahi bumi. Bahasa anak Rohisnya rihlah, kalau bahasa gaulnya traveling alias jalan-jalan. Namun, memang bukan sembarang traveling, melainkan traveling dalam rangka menghayati kebesaran dan keagungan Allah yang terhampar di bumi dan memetik pelajaran dari rekam jejak umat-umat atau bangsa-bangsa terdahulu. Perintah menjelajahi bumi banyak tersebar dalam Alquran.

Alquran menerangkan, “Katakanlah (Muhammad), ‘Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyekutukan (Allah).’” (QS. Ar-Rum [30]: 42).

Saya sendiri menikmati sekali setiap kali keluar kota dan keluar negeri dalam rangka memberikan training atau mengisi kajian Islam. Sedari awal saya niatkan untuk berdakwah. Maka, setiap langkah perjalanannya, saya menikmati sekali. Ketika di bandara menunggu jadwal pesawat, saya biasanya memerhatikan orang yang hilir mudik. Betapa manusia itu bermacam-macam, tapi tak ada yang sama wajahnya. Nyata sekali kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Ketika sudah naik di atas pesawat, lebih hebat lagi kebesaran dan keagungan Allah yang tersaji. Saya selalu terkagum-kagum menyaksikan langit membentang dan gugusan awan berarak. Wah, terasa sekali deh kebesaran dan keagungan Allah. Dan, berasa banget kalau diri ini kecil, nggak ada apa-apanya. Biasanya ada rasa nyeess di dalam dada. Sejuk dan damai sekali. Makanya, saya selalu meminta kursi dekat jendela saat check in supaya bisa menikmati pemandangan indah itu.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah para awak kabin alias pramugari. Setiap pramugari pasti melayani dengan sopan dan santun. Saya berpikir semoga ini tidak hanya tuntutan pekerjaan, namun juga terejawantah dalam kehidupan sehari-harinya. Karena, sopan santun adalah bagian akhlak seorang muslim dan muslimah. Saya juga berpikir andai para pramugari itu diberikan haknya untuk mengenakan busana muslimah dan jilbab, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Bisa jadi di antara mereka ada yang berkeinginan untuk mengenakan jilbab, namun terhalang oleh peraturan perusahaan.

Saya pernah mendapat curhatan dari seorang pembaca buku saya yang berprofesi sebagai pramugari. Ia menyampaikan kegundahannya. Ia ingin sekali berjilbab karena itu kewajiban sebagai muslimah, namun terhalang peraturan perusahaan. Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak maskapai penerbangan di Indonesia. Setahu saya baru ada satu maskapai penerbangan yang memberikan hak kepada pramugarinya untuk mengenakan jilbab. Semoga segera disusul oleh maskapai penerbangan lainnya. Terutama, maskapai penerbangan milik pemerintah.

Kembali ke asyiknya menjelajahi bumi. Tiba di bandara tujuan, lalu menaiki mobil menuju tempat tujuan juga tak kalah asyiknya. Terutama, ketika saya mengisi training dan kajian Islam di sudut-sudut kota di Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Dari Bandara kota setempat masih menempuh perjalanan darat antara 2 sampai 6 jam perjalanan. Membelah bukit dan menyusuri hutan dan tepian jurang. Seru banget ‘kan?. Sesekali monyet-monyet liar berlarian di tepi jalan mencari makanan. Terjadi pemandangan hijau dan rimbunnya pepohonan di bukit dan hutan. Belum lagi track yang berkelok-kelok dan menanjak. Anak muda banget pokoknya.

Kamu ingin ‘kan? Bisa jalan-jalan dan makan gratis, menginspirasi banyak orang, dan pulangnya dikasih oleh-oleh. Makanya, seriuslah belajar dan menuntut ilmu. Agar kelak dengan ilmumu, kau bisa berdakwah ke segenap penjuru Indonesia dan bumi. Bonusnya bisa jalan-jalan gratis. Hehehe…

Mumpung kalian masih muda, belum ada tanggung jawab keluarga, menjelajahlah. Jejakilah setiap jengkal dan sudut bumi ini. Minimal bumi Indonesia. Rasakan guyuran hujannya, hiruplah aroma tanahnya, tataplah jejeran pepohonan, bukit-bukit, dan rawa-rawa yang terhampar. Dengarkan gemericik airnya, suara binatang malam yang sejatinya sedang bertasbih. Resapi dan hayati kebesaran dan keagungan Allah di mana saja kalian menjejakkan kaki.

Petiklah pelajaran dari rekam jejak bangsa-bangsa terdahulu di kota atau negara yang kamu singgahi itu. Akrabilah warganya dengan segala keunikannya. Galilah informasi dan wawasan sebanyak-banyaknya dari mereka. Cermatilah betapa indahnya Allah jadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Lalu, atas semua catatan perjalanan yang mencerahkan itu, jadikan sebagai inspirasi untuk berkontribusi bagi dakwah Islam dan perbaikan umat. Masa depan Islam di masa mendatang ada pada pundak para pemudanya. Pemuda harus berada di garis depan, mengambil peran untuk kejayaan Islam dan kesejahteraan umat.

 

Ini SMART, Ini (Bukan) Penjara!

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!
Sisa waktuku di SMART kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….
Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?
Lalu apa kata Ustazah Dini, guruku, menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

 

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”
Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.
Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.
Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.
Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.
Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.
Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.

Kalo Ada Kemauan Pasti Ada Jalan

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah SWT. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

Sudahkah Kamu Belajar Dari Hidup Hari Ini?

Oleh: Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, Undip Jurusan Sastra Indonesia 2017

 

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

 

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama 5 tahun untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada disekitarku.

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan. Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan oleh SMART kepadaku. Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

Berada di SMART selama 4 tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Al-Quran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadits tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Jampang mengaji salah satu cara agar aku dapat mengajarkan ilmu yang telah aku dapat kepada anak-anak disekitar Jampang dengan memberikan mereka pengetahuan tentang Al-Quran dengan baik dan benar.

Pada program Jampang Mengaji aku ditunjuk menjadi koordinator selama enam bulan atau satu semester. Menjadi koodinator sekaligus pengajar Jampang Mengaji membuatku senang karena dengan begitu aku dapat menyebarkan ilmu yang telah didapat dari SMART kepada anak-anak disekitar Jampang.

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat melihat para peserta Jampang Mengaji  bersemangat dalam mempelajari  ilmu Al-Quran. Tentunya para pengajar merasa senang, terutama aku sebagai koordinator Jampang Mengaji. Saat para peserta mengaji dengan sungguh-sungguh dan ceria, bahkan ada beberapa peserta Jampang Mengaji yang sudah datang ke SMART pukul 14:00 WIB padahal kegiatan baru dimulai setelah Asar.

Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain.  Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika,fisika,bahasa, biologi atau yang lain seperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu.

Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar.  Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

Duta Gemari Baca ini bertugas untuk menyebarkan informasi  tentang literasi kepada semua orang dan mengajak orang lain untuk senang membaca. Aku sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian dari Duta Gemari Baca yang dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Menjadi Duta Gemari Baca membuatku merasa menjadi orang yang berguna untuk mengajak orang lain mengenal dan menyukai literasi.

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di Desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

Tanda Tanya Besar

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis, Alumni SMART Angkatan IX

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.