, ,

Indonesia Pasti Bisa Bangkit Sob! Indonesia Kuat!

 

Duka kembali merundung ibu pertiwi. Setelah
rangkaian bencana alam yang meluluh lantakkan
sebagian wilayah, kini Indonesia dihadapkan
pada wabah corona.

Sekolah sepi, jalanan lengang, kantor kosong,
semua orang berdiam di rumah, menjaga jarak,
menjaga corona tak makin merebak. Dari Sabang
sampai Merauke, semua berjaga.

“Kami punya ratusan rencana merangkai mimpi ini
Kami punya sejuta upaya mencerdaskan bangsa ini
Kami punya milyaran semangat membangun negeri ini

Izinkan kami berjuang kembali,
Melanjutkan cita dan asa membangun negeri
Membangun manusia”

Namun kami yakin, kita kuat, Indonesia kuat!
Maka Saudaraku, mari eratkan solidaritas.
Saling dukung, saling jaga. Seraya tak putus
doa, agar wabah corona segera berakhir, agar
kita bisa maksimalkan bakti kembali untuk
negeri ini.

 

,

Antara Lockdown dan Social Distancing dan Covid-19 yang Kian Menjadi

Oleh: M.Atiatul Muqtadir, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2019. PM BAKTI NUSA

 

Hingga hari ini, kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Indonesia per 27 Maret 2020 di situs resminya, sebanyak 1046 orang telah terkonfirmasi Covid-19 dengan korban mencapai 87 orang, pasien sembuh sebanyakan 46 orang, dan 913 pasien dalam perawatan. Ini adalah sebuah tragedi yang sangat memprihatinkan, di mana kurva kasus Covid-19 senantiasa meningkat dibarengi kemampuan tenaga medis berserta ketersediaan alat untuk melindungi mereka kian menurun. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

 

Social distancing yang tidak efektif

 

Ketika akhir Februari Covid-19 semakin menyebar, desakan lockdown pun muncul dari kalangan masyarakat. Namun pemerintah mengambil opsi lain, yakni social distancing. Sejatinya lockdown dan social distancing bukanlah istilah yang dipakai di peraturan kita, yakni UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Berdasarkan UU tersebut istilah lockdown lebih mirip dengan karantina sedangkan social distancing serupa dengan bagian kelima undang-undang ini yakni pembatasan sosial berskala besar.

Sayangnya, social distancing yang dipilih pemerintah sebagai langkah penanggulangan pandemi Covid-19 lebih mirip dengan kampanye daripada sebuah kebijakan. Pasalnya, tak ada peraturan pemerintah yang diterbitkan dengan terminologi yang mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018. Pemerintah justru bekerja mirip dengan lembaga masyarkat: mengumumkan informasi dan membagian bantuan. Tak salah dengan dua hal tersebut, pemerintah memang perlu melakukan itu, tapi lebih dari itu pemerintah adalah penghasil kebijakan. Di mana seharusnya jika memang pemerintah mengambil opsi ‘social distancing’, perlu diterbitkan peraturan mengenai pembatasan sosial berskala besar mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018 lengkap dengan segala teknis pelaksanaan, cakupan kebijakan, dan sanksinya.

 

Sebagai contoh, dalam pasal 59 ayat (3) dijelaskan bahwa pembatasan sosial berskala besar paling sedikit meliputi: peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Lantas, dalam pelaksanaannya, masih ada daerah yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan, masih ada yang berkumpul di kafe, masih ada kantor yang meminta pegawainya bekerja, masih ada guru yang harus masuk sekolah. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar, kebijakan apa yang sebenarnya diambil oleh pemerintah? Benarkah pemerintah sedang mengambil kebijakan pembatasan sosial berskala besar? Apakah mereka yang saya contohkan di atas dapat disebut melanggar? Atau Apakah mereka dapat dikenai sanksi? Selama tak ada peraturan yang jelas, penanganan Covid-19 ini menjadi buram. Baik bagi aparat yang bertugas, maupun bagi masyarakat.

 

Selain itu, social distancing pada wilayah masyarakat Indonesia memang sulit dilakukan. Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Universitas Indonesia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia ini memiliki karakter yang komunal dan secara kultural merupakan short term society atau masyarakat jangka pendek. Ketergantungan terhadap orang lain sangat tinggi dan memegang prinsip ‘kita hidup untuk hari ini’. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa seharusnya social distancing bukan sekadar ‘kampanye’ melainkan sebuah kebijakan yang mencakup sanksi maupun pemberian insentif.

 

 

Karantina wilayah seharusnya sejak awal

 

Jauh sebelum Covid-19 menyebar antar wilayah, seharusnya pemerintah secara tegas mengambil opsi karantina wilayah. Sebagaimana tercantum dalam pasal 53 ayat (2) UU Nomor 6 Tahun 2018, “karantina wilayah dilaksanakan kepada seluruh anggota masyarakat di suatu wilayah apabila dari hasil konfirmasi laboratorium sudah terjadi penyebaran penyakit antar anggota masyarakat”. Dari pasal ini kita mengetahui, bahwa karantina wilayah dilakukan ketika penyakit telah menyebar antar masyarakat. Tujuannya agar penyakit ini tidak menyebar ke wilayah lainnya. Berbeda dengan karantina rumah yang dilakukan ketika penyakit hanya terjadi hanya di dalam satu rumah (pasal 50).

 

Sebagai contoh, ketika kasus ini telah terkonfirmasi di Jakarta, dengan kasus yang terjadi tidak hanya dalam satu rumah, seharusnya akses keluar masuk Jakarta ditutup sehingga tak menyebar ke wilayah lain. Kita telah mengetahui bersama, kasus Covid-19 yang terjadi di berbagai daerah rata-rata berasal dari orang yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah yang telah terjadi penularan antar masyarakat.

 

Melihat situasi hari ini, di mana social distancing tidak berjalan efektif dan angka kematian dan penyebaran Covid-19 terus meningkat, karantina wilayah harus segera diberlakukan. Pemerintah harus segera menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah terutama wilayah yang telah terjadi penyebaran Covid-19 antar masyarakat. Belajar dari kampanye social distancing, efektivitas pelaksanaan karantina wilayah bergantung pada peraturan pemerintah yang dibentuk. Jika masih bersifat umum, tidak rinci, dan tidak tegas, karantina wilayah justru dapat menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah lengkap dengan teknis pelaksanaan serta pemberian insentif ataupun bantuan kebutuhan hidup dasar bagi orang di wilayah karantina sebagaimana UU Nomor 6 Tahun 2018. Pasalnya efektif

 

 

Saat ini kesehatan masyarakat Indoenesia bergantung pada ketegasan pemerintah. Sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia, kebijakan yang diambil pemerintah cenderung lamban dan tak tegas. Pada awal kasus ini terjadi, alih-alih memberikan peringatan kepada masyarakat, pemerintah justru menganggap enteng kasus ini bahkan hingga menjadikannya bahan bercandaan. Kini, virus yang sempat kita tertawakan, telah memakan banyak korban. Cukup belajar dari kesalahan, sebelum terlalu jauh terlambat, karantina wilayah perlu segera diberlakukan.

 

 

Asal Kamu Tahu Bermanfaat Jauh Lebih Manfaat

Oleh: Yonatan Y. Anggara

 

Semoga kita akan sadar kalau ukuran passion bukan hanya tentang suatu hal yang kita senangi. Passion tidak lantas berhenti pada titik kulminasi yang banyak di bangga bangga kan di media sosial saat ini: pencapaian. Semoga kita akan mengerti bahwa passion berbeda dengan titik nyaman. Bisa jadi, passion justru tumbuh dari sesuatu yang di paksakan. Sesuatu hal yang dulu nya sangat tidak mungkin untuk kita kerjakan.

 

 

Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu hal yang menjadikan kita bermanfaat. Artinya passion tidak melulu tentang ketertarikan kita. Passion adalah hadiah dari ketekunan dan kedisiplinan kita. Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu yang amat kita cintai. Bukan karena kita menyukai atau tertarik denganya, melainkan karena sesuatu itu kita lakukan dengan mengharap ridho Allah semata. Lakukanlah setiap kebaikan dengan penuh ketulusan niat, niscaya passion akan tumbuh beriring dengan kebahagiaan yang semakin melapangkan hati.

 

 

Seperti halnya Abdurahman Bin Auf yang tidak ragu membantu banyak urusan umat muslim. Menyumbangkan harta-hartanya untuk umat. Mungkin sebelum Rasul ada, ia tidak punya passion memberi semenakjubkan itu. Setelah islam datang, Ada suatu hal yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

 

 

Seperti halnya Utsman bin Affan yang dengan cekatan memutar otak mengatasi kekeringan waktu itu. Kapitalisasi sumur oleh Yahudi akhirnya disudahi oleh 152 juta harta Utsman. Dengan santainya ia memberikannya pada masyarakat. Mungkin sebelum datang risalah Islam ia tidak punya passion problem solving seperti itu. Setelah Islam datang, ada yang jauh lebih penting dari sekedar passion.

 

 

Seperti halnya Abu bakar yang dengan yakinya merogoh uang sekitar 143 juta hanya untuk menebus budak hitam bernama Bilal yang sedang ditindih batu besar di padang pasir yang panas. Mungkin sebelum datangnya Muhammad itu tidak pernah punya passion take care. Namun setelah Islam datang, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

 

 

Ada yang jauh lebih penting dari sekadar passion, yaitu menjadi bermanfaat

Kesuksesan Punya Kita Semua Kalau Ikuti Tiga Tips Ini!

Oleh: Rosyid, SH

Setiap orang ingin sukses. Tidak ada yang ingin menjadi pecundang, gagal, dan kalah. Mungkin arti sukses di dunia ini sebanyak jumlah manusia itu sendiri, karena setiap orang memiliki arti sukses mereka sendiri. Sukses adalah sesuatu yang kasat mata. Ia ada dalam diri kita, ada dalam pikiran kita. Sebenarnya untuk apa kita mengejar kesuksesan? Apa yang menjadi dasar alasan yang mendorong kita untuk meraih kesuksesan? Ada banyak hal yang menjadi alasan kenapa kita rela bekerja keras demi meraih kesuksesan yang kita impikan.

 

Being Happy

 

Menjadi bahagia adalah sebuah hal yang harus dimiliki semua orang tanpa terkecuali. Tubuh yang bahagia akan lebih mudah dalam menjalankan aktivitas. Ketika kita sukses menyelesaikan sekolah, kuliah, atau pekerjaan, kita akan merasa bahagia. Ketika kita sukses menjadi seorang pengusaha kita bahagia. Saat kita sukses menjadi apa yang kita inginkan, kita akan merasa bahagia. Kebahagiaan tidak hanya kita rasakan saat kesuksesan tersebut sudah dapat kita raih. Tapi melalui proses yang kita lalui, bekerja, dan berusaha meraih kesuksesan.

 

Being a Child

Sebenarnya ketika kita ingin menjadi orang sukses kita harus berpikir seperti anak kecil. Mengapa? Ternyata banyak sekali sifat positif anak kecil yang tidak dimiliki oleh orang dewasa. Sifat pantang menyerah, seorang anak kecil memiliki sifat ini yaitu pada umumnya seorang anak kecil atau baby selalu berusaha mempelajari sesuatu hingga mereka berhasil, coba kamu perhatikan ketika anak kamu mulai belajar berjalan, dia mulai dari merangkak kemudian berdiri dan terjatuh lagi, entah tak terhitung berapa kali seorang anak kecil terjatuh dalam proses belajar berjalan namun tak pernah berhenti untuk belajar meskipun selalu terjatuh, bandingkan dengan diri kamu sudah berapakali kamu terjatuh dan bangkit lagi karena itu jika kamu ingin sukses miliki sifat pantang menyera, karena itu jangan lihat berapa kali kamu gagal tapi lihatlah sudah berapa kali kamu bangkit dari kegagalan.

 

Kedua mudah memaafkan, kalau kita mencermati perilaku anak kecil kadang mereka bertengkar satu sama lain hingga sala satu diantara mereka menangis, namun uniknya sesudah mereka menangis mereka kembali bermain bersama. Semua ini bisa terjadi karena adanya sifat yang mereka miliki yaitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, dan susah melupakan kebaikan orang lain, bagaimana denganmu? Apakah kamu memiliki sifat pemaaf ini?

 

Ketiga positif thinking, seorang anak kecil di dalam pola pikirnya selalu melihat masalah secara positif dan dalam benaknya tak pernah ada kata gagal dan selalu ingin belajar dan mencoba hingga berhasil,coba saja kamu tanya anak kecil mau jadi apa dia pasti dia menjawab mau jadi polisi bahkan presiden mungkin juga kasus seperti ini kamu alami juga di waktu kecil, kenapa cita-cita mereka sangat tinggi semua itu disebabkan pikiran positif pada anak kecil sangat dominan, nanti setelah dewasa karena adanya faktor lingkungan maupun keluarga hingga pikiran negatif itu mulai mendominasi sehingga mereka tidak mengejar lagi cita-citanya, karena itu jika kamu ingin sukses bumi dan langit senantiasa berfikir positif dalam menghadapi masalah termasuk berpikiran positif kepada Tuhan.

 

Being a Striker

Konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu atau fokus ketika menjalani kehidupan sekitarnya bahkan ketika mereka bermain bola selalu fokus pada saat itu, mereka tidak berfikir akan hari esok bahkan hari kemarin,mereka menyadari eksistensinya pada saat itu juga, sehingga mereka senantiasa bahagia,sangat kontras dengan kamu yang lebih fokus akan hari esok sehingga selalu gelisah dan tak tenang, karena itu kalau kamu ingin sukses maka fokuslah. Kekuatan fokus ini sungguh dahsyat lihat saja cahaya matahari kalau difokuskan bisa membakar apapun. Karena itu fokuslah sebagai langkah awal kamu menjadi sukses.

 

 

Jangan Sepelekan Mental Illness Sob

 

Maraknya kasus bunuh diri yang menjadi pemberitaan hangat belakangan ini, menjadi PR penting bagi pemerintah maupun masyarakat  agar lebih aware untuk memperhatikan lingkungan sekitar agar orang terdekat kita tak menjadi salah satu korban yang mungkin saja nekat melakukan hal yang serupa. Kasus bunuh diri yang marak ini tidak lepas dari permasalahan pribadi yang dialami korban sehingga memiliki kebuntuan untuk terus melanjutkan hidup mereka.

 

Kasus bunuh diri harus menjadi perhatian penting di dunia. Pasalnya, sudah ada lebih dari 800 ribu kasus bunuh diri terjadi didunia, yang berarti ada 1 orang yang meninggal dunia per 40 detik di dunia menurut pengetahuan dari Benny Prawira Siauw, Kepala Komunitas Into The Light Indonesia. Di Indonesia sendiri, sudah terjadi lebih dari 8.580 kasus bunuh diri sejak tahun 1990-2016 dan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

 

Dalam kasus bunuh diri di Indonesia bahkan di Dunia sebagian besar berakibat dari Mental Illness. Secara luas, mental illness mempunyai makna yang luas yaitu gangguan kejiwaan yang mempengaruhi pemikiran, perasaan dan perilaku manusia mulai dari yang skala kecil hingga besar. Dalam skala kecilnya, penyebab bunuh diri yang menjadi bagian dari Mental Illness yaitu Depresi. Fun Fact-nya, Depresi lebih banyak menyerang usia remaja atau di usia awal 20-an.

 

Depresi dapat muncul dari berbagai faktor, terlebih di usia remaja yang notabennya belum terlalu bisa mengendalikan emosi dan diri mereka. Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang rentan depresi yaitu kesepian, trauma masa kecil baik akibat pelecehan atau yang lainnya, masalah keuangan, keluarga atau yang paling marak terjadi saat ini yaitu kasus bullying. Tak jarang kita dengar kasus bunuh diri yang diakibatkan oleh kasus Bullying. Hal ini membuktikan bahwa bullying bukan kasus yang main-main.

 

Bullying juga sangat rentan terjadi kepada remaja usia anak sekolah, jadi sering usia remaja yang belum bisa mengendalikan emosinya memiliki depresi yang berlebih. Hal ini menjadi salah satu akibat besarnya angka bunuh diri bagi seseorang apalagi remaja.

 

Untuk mengatasi hal itu, merupakan peran penting bagi kita untuk dapat mencegah orang-orang yang terkena mental illness / depresi. Kita harus mengetahui apa saja gejala-gejala yang ditimbulkan oleh orang-orang yang terkena depresi atau jika kita mencurigai orang terdekat kita yang rentan terkena depresi. Sulitnya, tak semua orang yang terkena depresi / mental illness menunjukkan gejala yang semestinya.

 

Beberapa gejala yang mungkin saja tampak bagi mereka yang menderita mental illness atau depresi yaitu merasa sedih berlebihan, cenderung lebih emosi dari biasanya dan melakukan kekerasan, merusak diri sendiri, lebih murung, menarik diri dari lingkungan sosial, kekhawatiran berlebih, dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini sering menjadi gejala yang mengantarkan orang cenderung kearah depresi dan bukannya tidak mungkin jika tidak diatasi secara cepat dan baik akan berujung kearah bunuh diri.

 

Sebagai makhluk sosial, kita harus selalu punya sikap peduli terhadap sesama, apalagi untuk kasus yang satu ini. Kasus depresi yang berujung bunuh diri bukanlah hal yang remeh, karena semakin kita membiarkan tentu akan semakin banyak korban yang berjatuhan. Kita harus melakukan pencegahan sejak dini dengan selalu memperhatikan orang-orang sekitar kita yang mungkin saja rentan terkena depresi.

 

Hal utama yang bisa kita lakukan yaitu mempelajari apa saja mengenai mental illness / depresi berlebih, mengetahui lebih dahulu mengenai depresi, kita akan memiliki langkah-langkah efektif yang bisa kita terapkan kepada mereka penderita depresi. Selain itu, kita juga harus selalu mencari tahu kabar dari orang-orang yang mungkin saja terkena hal tersebut. Dengan kita selalu menjaga komunikasi dengan mereka, kita akan terus mengetahui kabar dari mereka.

 

Kita juga harus selalu mendengarkan curhatan dari teman yang cenderung mengalami depresi, apa yang mereka alami sehingga cenderung merasakan hal tersebut. Jika depresi yang diderita teman kita cenderung lebih berat dari biasanya, kita juga punya kewajiban untuk mendampingi atau membawa mereka untuk melakukan pengobatan kepada seseorang yang lebih ahli dibidangnya.

 

Untuk itu, dari beberapa tulisan diatas kembali lagi bahwa kita harus tetap aware dan memperhatikan lingkungan sekitar kita agar dapat menghindari penyebab-penyebab dari mental illness apalagi yang cenderung untuk melakukan tindakan bunuh diri.

KAMI WASPADA, KITA SEMUA PERLU WASPADA!

KAMI WASPADA, KITA SEMUA PERLU WASPADA!

Dompet Dhuafa Pendidikan melakukan langkah kewaspadaan menghadapi Covid-19 dengan menyemprotkan desinfektan ke seluruh
ruangan kelas dan kantor. Selain itu, kami juga memberlakukan sistem shift dan Work From Home untuk guru dan beberapa karyawan.

Amanah dari masyarakat harus kami tunaikan, sehingga tidak memungkinkan untuk seluruh karyawan bekerja dari
rumah secara serentak.

Sahabat Pendidikan kami akan selalu waspada, kita semua harus waspada karena Covid-19 nyata adanya dan sudah merenggut banyak korban jiwa.

Jika tidak ada hal mendesak,
sebaiknya #DiRumahAja. Jaga diri, jaga keluarga, serta tak putus berdoa agar Covid-19 segera hilang dari kehidupan kita semua.

Eduaction: Kenalkan Profesi Barista, Si MoBa Ajak Siswa Gali Potensi Diri

Eduaction: Kenalkan Profesi Barista, Si MoBa Ajak Siswa Gali Potensi Diri

 

 

Bogor – Si Mobil Baca (Si MoBa) besutan Dompet Dhuafa Pendidikan dinilai mampu membuka gerbang akses buku lebih luas untuk masyarakat, sehingga masyarakat terutama anak-anak dapat mendapatkan akses membaca buku yang lebih beragam dan berkualitas. Namun pada paktiknya Si MoBa tak hanya menyediakan ragam buku, namun juga ragam kegiatan berkualitas sebagai wahana edukasi serta rekreasi berbasis literasi.

 

Untuk menggali potensi anak-anak sejak dini, Si MoBa mengajak ratusan siswa sekolah dasar mengikuti kelas inspirasi “Mengenal Profesi Roaster dan Barista” bersama Ampas Kopi Kita dan Komunitas Batas Kota. Menurut Muhammad Iqbal, Koordinator Si MoBa, Si MoBa ingin memberikan pengalaman tak terlupakan kepada siswa usia sekolah dasar agar mereka makin semangat menggapai cita, “Zaman ini banyak profesi mumpuni, salah satunya menjadi Barista. Kolaborasi kami bersama Ampas Kopi Kita dan Komunitas Batas Kota kami yakini dapat memberikan insight baru untuk anak-anak,” jelasnya

 

Ida, Teman Si MoBa sekaligus inisiator Ampas Kopi Kita, menyampaikan jika saat ini profesi Barista menjadi profesi yang diminati anak muda khususnya kaum milenial, “profesi Barista sudah tak bisa lagi dipandang sebelah mata karena peminatan anak muda mendalami jagat kopi ada dalam tahap yang membanggakan,” papar Ida. Ia menambahkan jika ketertarikan milenial menjajaki dunia kopi dapat meningkatkan kuantitas komoditas petani kopi lokal.

Selama kegiatan berlangsung para siswa diajak berkenalan dengan bermacam peralatan membuat kopi hingga berbagai jenis kopi dan cara pengolahannya. “Indonesia memiliki beraneka jenis biji kopi, saking kayanya banyak jenis biji kopi mahal yang hanya bisa dinikmati segelintir orang, karena itulah penting untuk mengenalkan kekayaan kopi Indonesia sejak dini,” tegas Ida.

 

Setelah berkeliling dari Cianten, Sukabumi, Tenjolaya, dan Bojong Sempu, Si MoBa sampai juga ke Klapanunggal, Cileungsi, Jawa Barat. Dalam eksekusi kelima ini Si MoBa masih menghadirkan bermacam aktivitas literasi menyenangkan; bukan hanya untuk anak-anak, SI MoBa turut menyelenggarakan pelatihan membuat media pembelajaran bagi guru dan masyarakat sekitar. Kedatangan Si MoBa di Klapanunggal melengkapi rangkaian perjalanan memperkenalkan literasi kepada masyarakat di 22 titik wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

 

Menurut Muhammad Iqbal, Koordinator Si MoBa, Si MoBa terus melebarkan sayapnya demi memberikan kebermanfaatan lebih luas ke masyarakat khususnya di bidang literasi. “Si MoBa mampu membuka gerbang akses buku lebih luas untuk masyarakat, sehingga masyarakat terutama anak-anak dapat mendapatkan akses membaca buku yang lebih beragam dan berkualitas. Tak hanya menyediakan ragam buku dan kegiatan berkualitas, Si MoBa juga dapat digunakan sebagai wahana edukasi serta rekreasi berbasis literasi,” ujarnya.

 

“Kelebihan Si MoBa ialah memberikan pelatihan pengembangan diri kepada masyarakat agar lebih berdaya. Si MoBa juga digadang dapat memberikan dampak baik secara konsisten karena memberikan alternatif terhadap solusi peningkatan kualitas literasi di masyarakat,” pungkas Iqbal. (AR)

Kegagalan Itu Harga Untuk Seonggok Kesuksesan Sob

Kegagalan Itu Harga Untuk Seonggok Kesuksesan Sob

Oleh Halah

 

Menurut KBBI arti dari kata konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak); dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan secara singkta bahwa tidaklah mudah dalam membangun sebuah konsistensi, dibutuhkan komitmen yang tinggi, pengulangan yang dilakukan berulang akan suatu hal sehingga menjadikan hukum konsistensi itu bekerja sesuai dengan tujuan akhir yang diharapkan. Seseorang yang sudah melakukan sesuatu dengan konsisten akan menjadikan dirinya memiliki kepakaran dalam suatu bidang, menjadi ahli dan menggapai sukses.

 

 

Simak contoh berikut, kita tentu pernah mendengar kekayaan dari seorang Bill Gates, ataupun Warren Buffet, ataupun Walt Disney, ya mereka adalah para pejuang sukses dalam hidupnya yang berhasil melawan segenap potensi keburukan dan mengubahnya menjadi potensi kebaikan, jika kita telisik seberapa jauh hidup seorang Bill Gates dalam melakukan pencapaian besar dalam hidupnya, hampir ia habiskan dengan penuh kegagalan. Itulah harga yang harus dibayar untuk seonggok kesuksesan. Konsistensi mampu memberikan enegri untuk mengalahkan setiap konsekuensi kekalahan yang akan dihadapi dalam menggapai suksesnya.

 

 

Konsistensi Al Fatih akan sholat tahajjud yang tidak pernah ia tinggalkan sejak balig menghantarkan ia menjadi pemimpin terhebat penakluk benteng konstantinopel. Konsistensi mba Dewi Nur Aisyah untuk tidur hanya selama tiga jam sehari berhasil membuat dirinya menamatkan kuliah kurun waktu tiga setengah tahun dengan perdikat lulusan terbaik disamping menjalani belasan amanah di berbagai organisasi yang dia ikuti.

 

 

Begitulah juga dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang ada dalam keseharian kita, seperti mengalahkan sikap egois dalam diri bukanlah hal yang gampang. Melatih diri dengan kebiasaan kebiasaan baik tentunya bukan hal yang mudah, membentuk kebiasaan ibarat memperbaiki mesin daripada sebuah kapal, memperbaiki sistem pusat yang akan bekerja mengatur kehidupan. Hukum konsistensi ini akan menciptakan sebuah produk yang dinamakan kebiasaan, pola kebiasaan akan merubah dan masuk ke dalam alam bawah sadar.

 

 

Terbiasa tahajjud tiap hari, tentunya ada sebuah proses panjang dalam menggapainya, itulah yang dinamakan hukum konsistensi, melakukan secara terus menerus, ibarat batu yang ditetesi oleh air, tentu akan berlubang bukan. Orang yang membiasakan diri untuk tenang dalam menghadapi masalah akan membentuk karakter yang tegar, dan cenderung tidak gegabah dalam mengambil keputusan, orang yang senantiasa membiasakan untuk berdzikir, tentunya Allah akan mudahkan ia dalam menyebut tiap asmanya di segala kondisi.

 

 

Mari bangun komitmen yang baik, agar dapat menciptakan konsisten dalam hal kebaikan pula.

Usahamu Gak Akan Pernah Khianat Sob

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4, Lulusan Kedokteran UI Depok

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah Swt. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

Wiken Ini Piknik Yuk Sob!

Wiken Ini Piknik Yuk Sob!

Oleh: Muhammad Syafei

Salah satu perintah Allah, yang bagi saya, menarik adalah perintah menjelajahi bumi. Bahasa anak Rohisnya rihlah, kalau bahasa gaulnya traveling alias jalan-jalan. Namun, memang bukan sembarang traveling, melainkan traveling dalam rangka menghayati kebesaran dan keagungan Allah yang terhampar di bumi dan memetik pelajaran dari rekam jejak umat-umat atau bangsa-bangsa terdahulu. Perintah menjelajahi bumi banyak tersebar dalam Alquran.

Alquran menerangkan, “Katakanlah (Muhammad), ‘Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyekutukan (Allah).’” (QS. Ar-Rum [30]: 42).

Saya sendiri menikmati sekali setiap kali keluar kota dan keluar negeri dalam rangka memberikan training atau mengisi kajian Islam. Sedari awal saya niatkan untuk berdakwah. Maka, setiap langkah perjalanannya, saya menikmati sekali. Ketika di bandara menunggu jadwal pesawat, saya biasanya memerhatikan orang yang hilir mudik. Betapa manusia itu bermacam-macam, tapi tak ada yang sama wajahnya. Nyata sekali kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Ketika sudah naik di atas pesawat, lebih hebat lagi kebesaran dan keagungan Allah yang tersaji. Saya selalu terkagum-kagum menyaksikan langit membentang dan gugusan awan berarak. Wah, terasa sekali deh kebesaran dan keagungan Allah. Dan, berasa banget kalau diri ini kecil, nggak ada apa-apanya. Biasanya ada rasa nyeess di dalam dada. Sejuk dan damai sekali. Makanya, saya selalu meminta kursi dekat jendela saat check in supaya bisa menikmati pemandangan indah itu.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah para awak kabin alias pramugari. Setiap pramugari pasti melayani dengan sopan dan santun. Saya berpikir semoga ini tidak hanya tuntutan pekerjaan, namun juga terejawantah dalam kehidupan sehari-harinya. Karena, sopan santun adalah bagian akhlak seorang muslim dan muslimah. Saya juga berpikir andai para pramugari itu diberikan haknya untuk mengenakan busana muslimah dan jilbab, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Bisa jadi di antara mereka ada yang berkeinginan untuk mengenakan jilbab, namun terhalang oleh peraturan perusahaan.

Saya pernah mendapat curhatan dari seorang pembaca buku saya yang berprofesi sebagai pramugari. Ia menyampaikan kegundahannya. Ia ingin sekali berjilbab karena itu kewajiban sebagai muslimah, namun terhalang peraturan perusahaan. Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak maskapai penerbangan di Indonesia. Setahu saya baru ada satu maskapai penerbangan yang memberikan hak kepada pramugarinya untuk mengenakan jilbab. Semoga segera disusul oleh maskapai penerbangan lainnya. Terutama, maskapai penerbangan milik pemerintah.

Kembali ke asyiknya menjelajahi bumi. Tiba di bandara tujuan, lalu menaiki mobil menuju tempat tujuan juga tak kalah asyiknya. Terutama, ketika saya mengisi training dan kajian Islam di sudut-sudut kota di Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Dari Bandara kota setempat masih menempuh perjalanan darat antara 2 sampai 6 jam perjalanan. Membelah bukit dan menyusuri hutan dan tepian jurang. Seru banget ‘kan?. Sesekali monyet-monyet liar berlarian di tepi jalan mencari makanan. Terjadi pemandangan hijau dan rimbunnya pepohonan di bukit dan hutan. Belum lagi track yang berkelok-kelok dan menanjak. Anak muda banget pokoknya.

Kamu ingin ‘kan? Bisa jalan-jalan dan makan gratis, menginspirasi banyak orang, dan pulangnya dikasih oleh-oleh. Makanya, seriuslah belajar dan menuntut ilmu. Agar kelak dengan ilmumu, kau bisa berdakwah ke segenap penjuru Indonesia dan bumi. Bonusnya bisa jalan-jalan gratis. Hehehe…

Mumpung kalian masih muda, belum ada tanggung jawab keluarga, menjelajahlah. Jejakilah setiap jengkal dan sudut bumi ini. Minimal bumi Indonesia. Rasakan guyuran hujannya, hiruplah aroma tanahnya, tataplah jejeran pepohonan, bukit-bukit, dan rawa-rawa yang terhampar. Dengarkan gemericik airnya, suara binatang malam yang sejatinya sedang bertasbih. Resapi dan hayati kebesaran dan keagungan Allah di mana saja kalian menjejakkan kaki.

Petiklah pelajaran dari rekam jejak bangsa-bangsa terdahulu di kota atau negara yang kamu singgahi itu. Akrabilah warganya dengan segala keunikannya. Galilah informasi dan wawasan sebanyak-banyaknya dari mereka. Cermatilah betapa indahnya Allah jadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Lalu, atas semua catatan perjalanan yang mencerahkan itu, jadikan sebagai inspirasi untuk berkontribusi bagi dakwah Islam dan perbaikan umat. Masa depan Islam di masa mendatang ada pada pundak para pemudanya. Pemuda harus berada di garis depan, mengambil peran untuk kejayaan Islam dan kesejahteraan umat.