Duka kembali merundung ibu pertiwi. Setelah
rangkaian bencana alam yang meluluh lantakkan
sebagian wilayah, kini Indonesia dihadapkan
pada wabah corona.

Sekolah sepi, jalanan lengang, kantor kosong,
semua orang berdiam di rumah, menjaga jarak,
menjaga corona tak makin merebak. Dari Sabang
sampai Merauke, semua berjaga.

“Kami punya ratusan rencana merangkai mimpi ini
Kami punya sejuta upaya mencerdaskan bangsa ini
Kami punya milyaran semangat membangun negeri ini

Izinkan kami berjuang kembali,
Melanjutkan cita dan asa membangun negeri
Membangun manusia”

Namun kami yakin, kita kuat, Indonesia kuat!
Maka Saudaraku, mari eratkan solidaritas.
Saling dukung, saling jaga. Seraya tak putus
doa, agar wabah corona segera berakhir, agar
kita bisa maksimalkan bakti kembali untuk
negeri ini.

 

Oleh: M.Atiatul Muqtadir, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2019. PM BAKTI NUSA

 

Hingga hari ini, kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Indonesia per 27 Maret 2020 di situs resminya, sebanyak 1046 orang telah terkonfirmasi Covid-19 dengan korban mencapai 87 orang, pasien sembuh sebanyakan 46 orang, dan 913 pasien dalam perawatan. Ini adalah sebuah tragedi yang sangat memprihatinkan, di mana kurva kasus Covid-19 senantiasa meningkat dibarengi kemampuan tenaga medis berserta ketersediaan alat untuk melindungi mereka kian menurun. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

 

Social distancing yang tidak efektif

 

Ketika akhir Februari Covid-19 semakin menyebar, desakan lockdown pun muncul dari kalangan masyarakat. Namun pemerintah mengambil opsi lain, yakni social distancing. Sejatinya lockdown dan social distancing bukanlah istilah yang dipakai di peraturan kita, yakni UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Berdasarkan UU tersebut istilah lockdown lebih mirip dengan karantina sedangkan social distancing serupa dengan bagian kelima undang-undang ini yakni pembatasan sosial berskala besar.

Sayangnya, social distancing yang dipilih pemerintah sebagai langkah penanggulangan pandemi Covid-19 lebih mirip dengan kampanye daripada sebuah kebijakan. Pasalnya, tak ada peraturan pemerintah yang diterbitkan dengan terminologi yang mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018. Pemerintah justru bekerja mirip dengan lembaga masyarkat: mengumumkan informasi dan membagian bantuan. Tak salah dengan dua hal tersebut, pemerintah memang perlu melakukan itu, tapi lebih dari itu pemerintah adalah penghasil kebijakan. Di mana seharusnya jika memang pemerintah mengambil opsi ‘social distancing’, perlu diterbitkan peraturan mengenai pembatasan sosial berskala besar mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018 lengkap dengan segala teknis pelaksanaan, cakupan kebijakan, dan sanksinya.

 

Sebagai contoh, dalam pasal 59 ayat (3) dijelaskan bahwa pembatasan sosial berskala besar paling sedikit meliputi: peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Lantas, dalam pelaksanaannya, masih ada daerah yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan, masih ada yang berkumpul di kafe, masih ada kantor yang meminta pegawainya bekerja, masih ada guru yang harus masuk sekolah. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar, kebijakan apa yang sebenarnya diambil oleh pemerintah? Benarkah pemerintah sedang mengambil kebijakan pembatasan sosial berskala besar? Apakah mereka yang saya contohkan di atas dapat disebut melanggar? Atau Apakah mereka dapat dikenai sanksi? Selama tak ada peraturan yang jelas, penanganan Covid-19 ini menjadi buram. Baik bagi aparat yang bertugas, maupun bagi masyarakat.

 

Selain itu, social distancing pada wilayah masyarakat Indonesia memang sulit dilakukan. Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Universitas Indonesia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia ini memiliki karakter yang komunal dan secara kultural merupakan short term society atau masyarakat jangka pendek. Ketergantungan terhadap orang lain sangat tinggi dan memegang prinsip ‘kita hidup untuk hari ini’. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa seharusnya social distancing bukan sekadar ‘kampanye’ melainkan sebuah kebijakan yang mencakup sanksi maupun pemberian insentif.

 

 

Karantina wilayah seharusnya sejak awal

 

Jauh sebelum Covid-19 menyebar antar wilayah, seharusnya pemerintah secara tegas mengambil opsi karantina wilayah. Sebagaimana tercantum dalam pasal 53 ayat (2) UU Nomor 6 Tahun 2018, “karantina wilayah dilaksanakan kepada seluruh anggota masyarakat di suatu wilayah apabila dari hasil konfirmasi laboratorium sudah terjadi penyebaran penyakit antar anggota masyarakat”. Dari pasal ini kita mengetahui, bahwa karantina wilayah dilakukan ketika penyakit telah menyebar antar masyarakat. Tujuannya agar penyakit ini tidak menyebar ke wilayah lainnya. Berbeda dengan karantina rumah yang dilakukan ketika penyakit hanya terjadi hanya di dalam satu rumah (pasal 50).

 

Sebagai contoh, ketika kasus ini telah terkonfirmasi di Jakarta, dengan kasus yang terjadi tidak hanya dalam satu rumah, seharusnya akses keluar masuk Jakarta ditutup sehingga tak menyebar ke wilayah lain. Kita telah mengetahui bersama, kasus Covid-19 yang terjadi di berbagai daerah rata-rata berasal dari orang yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah yang telah terjadi penularan antar masyarakat.

 

Melihat situasi hari ini, di mana social distancing tidak berjalan efektif dan angka kematian dan penyebaran Covid-19 terus meningkat, karantina wilayah harus segera diberlakukan. Pemerintah harus segera menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah terutama wilayah yang telah terjadi penyebaran Covid-19 antar masyarakat. Belajar dari kampanye social distancing, efektivitas pelaksanaan karantina wilayah bergantung pada peraturan pemerintah yang dibentuk. Jika masih bersifat umum, tidak rinci, dan tidak tegas, karantina wilayah justru dapat menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah lengkap dengan teknis pelaksanaan serta pemberian insentif ataupun bantuan kebutuhan hidup dasar bagi orang di wilayah karantina sebagaimana UU Nomor 6 Tahun 2018. Pasalnya efektif

 

 

Saat ini kesehatan masyarakat Indoenesia bergantung pada ketegasan pemerintah. Sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia, kebijakan yang diambil pemerintah cenderung lamban dan tak tegas. Pada awal kasus ini terjadi, alih-alih memberikan peringatan kepada masyarakat, pemerintah justru menganggap enteng kasus ini bahkan hingga menjadikannya bahan bercandaan. Kini, virus yang sempat kita tertawakan, telah memakan banyak korban. Cukup belajar dari kesalahan, sebelum terlalu jauh terlambat, karantina wilayah perlu segera diberlakukan.

 

 

Sunyi Kayak Hati

Karya Muhammad Habibur Rohman

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di FIB UNS

 

Bagi Kesunyian

Bagi kesunyian

Hening adalah bunga

Atau semacam cahaya

Yang menyala di rimbun angkasa

 

Bagi kesunyian

Senyap bukan ketiadaan

Atau tahun-tahun yang usang

Yang begitu jauh dan terlupakan

 

Sajak ini, bagimu

Hanyalah semacam nyanyian

Pada suatu pagi, pada sebuah kesunyian

 

Pemuda Kudu Baca Ini!

Oleh: Muhammad Sapei

Apa yang terlintas dalam benak dan terpikir dalam pikiran kita ketika disebut kata remaja dan pemuda? Mungkin banyak di antara kita yang berpikir bahwa remaja dan pemuda adalah masa-masa labil dan bergejolak, masanya mencari jati diri. Benarkah demikian?

Celakanya, kita, orang dewasa, membenarkan hal itu tanpa mengkajinya lebih mendalam, sehingga kita memaklumi jika remaja dan pemuda melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Kita mentolelir jika remaja dan pemuda ibadahnya tidak bagus dan akhlaknya tidak baik.

Salah satu faktor yang menyebabkan kita bersikap seperti itu bisa jadi karena teori yang kita jadikan rujukan. Kita banyak merujuk teori-teori dari Psikologi Barat tanpa membandingkannnya dengan teori dalam Psikologi Islam, bahkan lebih tegas lagi dengan Alquran dan Hadis. Data dari Barat memang menunjukkan hal itu bahwa remaja dan pemuda di Barat memang kacau; hedonis dan permisif. Hidupnya banyak hura-hura dan aktifitas yang tidak bermanfaat. Orang-orang Barat mentolelirnya sebagai masa pencarian jati diri.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau ikut-ikutan pola pikir mereka? Konyol sekali menurut saya. Akankah kita menjadikan anak-anak dan murid-murid kita hari ini menjadi korban pendidikan ala Barat? Saya tidak menafikan ada hal-hal positif dari Barat. Tetapi, poin yang ingin saya sampaikan adalah mari kita memfilternya dengan pedoman hidup kita, Alquran dan Hadis. Jangan menelan mentah-mentah teori dari Barat dan dianggap sebagai aksioma. Jika baik, kita ambil. Namun, jika buruk, tentu saja tinggalkan.

Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pemuda memiliki peran strategis bagi kelangsungan sebuah peradaban. Karena itulah, Yahudi dan Barat berusaha menghancurkan peradaban Islam dengan menghancurkan pemudanya. Mereka masuk lewat konsep-konsep pendidikan dan psikologi agar kita mengekor teori mereka. Mereka rusak pemuda Islam dengan gaya hidup hedonis dan pola pikir permisif.

Kita pun sama-sama memahami bahwa masa muda adalah masa yang (semestinya) paling produktif. Karena, tenaga sedang prima-primanya, pikiran sedang kuat-kuatnya, dan semangat pun sedang menggebu-gebunya. Maka, jika para pemuda sebuah negeri baik, maka besarlah kebermanfaatan yang akan terwujud. Sebaliknya, jika para pemuda sebuah negeri buruk, maka besar pula keburukan yang akan terjadi.

Karena itu, mari kita telaah Alquran dan sejarah untuk membantah anggapan masa muda adalah masa labil dan pencarian jati diri.

Pertama, Ibrahim as. ketika melawan tirani Raja Namrud dan menghancurkan berhala masih diusia sangat muda. Hal ini tegas dari kata “fata” yang digunakan Alquran untuk menyebut Ibrahim as. Bahkan, kata fata itu lebih muda daripada kata syabab (pemuda). Artinya, sangat muda sekali, belia.

Kedua, Yusuf as. ketika menunjukkan keimanan yang kokoh saat digoda oleh istri pejabat Mesir juga berusia sangat muda. Kita bisa bayangkan Yusuf hanya berdua dengan perempuan cantik jelita itu di dalam sebuah kamar. Tetapi, Yusuf dapat mempertahankan keimanannya.

Ketiga, Daud as. ketika ikut berperang melawan Jalut dan berhasil membunuhnya juga masih dalam usia sangat belia. Kita bisa membayangkan bagaimana Daud pada usia yang sangat belia memiliki keberanian sebesar itu menghadapi Jalut.

Keempat, para pemuda Ashabul Kahfi yang tegas mempertahankan akidahnya meski harus mengasingkan diri. Mereka juga berusia sangat belia. Alquran menggunakan kata “fityah” (jama’ dari fata) untuk menyebut mereka.

Lihat pula kisah Isma’il as., Yahya as., dan kisah Yusya, seorang yang menemani Nabi Musa as. untuk menemui Nabi Khidir as. Yusya diusia yang masih belia telah menjadi seorang ahli ilmu di bawah bimbingan Nabi Musa as.

Lihatlah, betapa para pelaku sejarah itu, orang-orang besar itu telah mendemonstrasikan kekokohan akidah dan imannya, serta keteguhan sikapnya sebagai seorang pemuda. Maka, salah besar jika masa muda dianggap sebagai masa labil dan pencarian jati diri.

Mari kita telaah lebih dalam lagi dengan mengkaji sejarah para pemuda yang mengelilingi dakwah Rasulullah saw. Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al-Kahfi yang mengisahkan tentang para pemuda Ashabul Kahfi menerangkan, “Demikianlah dakwah Rasulullah saw juga dikelilingi oleh para pemuda.”

Dari sepuluh orang sahabat Rasulullah saw generasi awal yang dijamin masuk surga hanya tiga orang yang usianya kepala tiga, yakni Sayidina Abu Bakar, Sayidina Usman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf, dua orang usianya kepala dua, bahkan lima orang di antara mereka usianya di bawah dua puluh tahun. Jelas sekali betapa anak-anak muda ini telah matang emosional dan spiritualnya. Tidak ada galau dan pencarian jati diri diusia mudanya.

Mari kita telaah lebih dekat, siapa sebenarnya aktor dibalik pembukaan Madinah sebagai pusat dakwah Islam? Merekalah enam pemuda belia. Rasulullah menemui enam pemuda ini ketika musim haji di Mekah. Seperti biasa, Rasulullah memanfaatkan musim haji untuk berdakwah mengunjungi satu tenda ke tenda lain. Hingga sampailah ke tenda enam pemuda ini yang berasal dari Madinah. Terjadilah dialog antara Rasulullah dan enam pemuda ini.

Singkat cerita, enam pemuda ini tertarik dengan Islam dan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Enam pemuda ini bertekad, “Ya Rasulullah, tahun depan di tempat yang sama dan diwaktu yang sama, kami akan datang kembali kepadamu dengan pemuda yang lebih banyak dari sekarang.”

Satu tahun kemudian, enam pemuda ini menepati janjinya. Mereka datang dengan membawa tujuh pemuda lain untuk mengingkarkan dua kalimah syahadat. Saat itulah, terjadi Bai’at Aqabah I. Dari sini saja bisa dibayangkan betapa hebatnya peran pemuda dalam dakwah. Enam orang berhasil mengajak tujuh orang. Keberhasilannya seratus persen. Tapi, mari kita telisik lebih dekat lagi.

Kemudian, 13 pemuda ini kembali ke Madinah dan melanjutkan dakwahnya. Untuk mengawal dan mempercepat proses dakwah di Madinah, Rasulullah mengutus Mus’ab bin Umair untuk menyertai 13 pemuda ini. Siapakah Mus’ab bin Umair? Ya, ia tak lain seorang pemuda belia. Setahun kemudian, 13 pemuda ini berhasil mengajak 75 orang untuk menemui Rasulullah pada musim haji dan terjadilah Bai’at Aqabah II. Cermati percepatannya, pada tahun pertama enam pemuda berhasil mendakwahi tujuh orang. Pada tahun kedua 13 pemuda berhasil mendakwahi 75 orang. Berapa persen peningkatannya?

Namun, kiprah para pemuda ini belum usai. Mereka menyusun strategi dakwah bersama Mus’ab bin Umair. Mereka merancang pertemuan Mus’ab dengan para pemimpin suku-suku di Madinah. Sampai akhirnya, Mus’ab bertemu dengan pemimpin besar suku-suku Madinah, Sa’ad bin Mu’adz. Terjadi dialog dan diskusi antara Sa’ad bin Mu’adz dan Mus’ab bin Umair. Sekali lagi cermati bagaimana Mus’ab, seorang pemuda belia, mampu menaklukkan Sa’ad bin Mu’adz, seorang pemimpin besar Madinah? Seperti apa kualitas diri Mus’ab bin Umair?

Pada akhirnya, Sa’ad bin Mu’adz memperoleh hidayah dan masuk Islam. Masuk Islamnya Sa’ad diikuti oleh masuk Islamnya suku-suku di bawah pimpinan Sa’ad bin Mu’adz. Cermati bagaimana strategi dakwah para pemuda ini. Mereka tentu tidak punya kekuatan dan bukan pemegang kekuasaan untuk memaksa warga Madinah memeluk Islam. Tapi, saksamailah bagaimana para pemuda ini mengatur pertemuan dengan para pemimpin Madinah dan mempengaruhi mereka.

Dari sinilah peristiwa hijrah yang monumental itu bermula. Tonggak awal perjuangan dakwah Islam memasuki babak baru, fase Madinah. Ternyata ada peran besar para pemuda dibaliknya. Para pemuda didikan Rasulullah saw. Para pemuda hebat yang kokoh akidahnya dan teguh keimanannya.

Karena itu, sebuah kesalahan besar jika dalam pembangunan peradaban, kita mengabaikan pemuda. Dalam konteks yang lebih kecil, dalam upaya membangun peradaban di Bumi Pengembangan Insani, peran pemuda di dalamnya sangatlah sentral. Perlu ditegaskan bahwa bukan menafikan peran para orangtua. Tidak sama sekali. Para orangtua memiliki tempat tersendiri di hati para pemuda. Merekalah para pembimbing, penasehat, dan guru bagi para pemuda.

Sebagai penutup, mari kita resapi kisah indah antara Usamah bin Zaid (17 tahun) dan Khalifah Abu Bakar (60 tahun). Kisah ini bermula dari keputusan Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang.

Menjelang wafatnya, Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang pasukan muslim untuk diberangkatkan ke Romawi Timur. Saat itu, ada beberapa sahabat yang sempat mempertanyakan. Rasulullah menjawab, “Demi Allah, Usamah pantas menjadi pemimpin.”

Usamah berangkat memimpin pasukannya. Namun, baru beberapa mil, Usamah mendengar kabar kewafatan Rasulullah saw. Usamah memutuskan kembali ke Madinah. Usai Sayidina Abu Bakar dipilih menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah saw dalam tugas memimpin negara, Khalifah Abu Bakar tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang dan memerintahkan Usamah untuk segera berangkat.

Khalifah Abu Bakar meminta Usamah naik ke atas kuda. Kemudian, Khalifah Abu Bakar menuntun kuda Usamah dan bermaksud mengantarnya sampai gerbang kota Madinah.

“Jangan perlakukan aku seperti itu, wahai khalifah,” ujar Usamah dan dengan sigap turun dari kudanya.

Usamah meminta Khalifah Abu Bakar yang naik ke atas kuda dan ia yang akan menuntun kuda tersebut. Namun, Khalifah Abu Bakar menolak. Usamah pun menolak untuk naik ke atas kuda. Hingga akhirnya, Khalifah Abu Bakar mengucapkan kata-kata pamungkas, “Wahai Usamah, engkau akan pergi berjihad. Maka, izinkan aku mengotori kakiku dengan debu-debu jihad.”

Lihatlah, Usamah sebagai anak muda memiliki adab menghormati Khalifah Abu Bakar. Namun, Khalifah Abu Bakar sebagai orangtua pun tahu menempatkan pemuda (Usamah) sebagai pemimpin. Indah sekali.
Bangkitlah para pemuda. Ambillah peran dan tanggung jawabmu untuk kejayaan Islam. Demi tegaknya agama Allah di bumi ini. Energimu masih besar. Semangatmu masih membara. Kobarkan dan pekikkan Allaahu Akbar!

“Tiada bergerak satu langkah pun seorang di antara kamu hingga kau ditanya empat hal, salah satunya, ‘Masa mudamu, untuk apa kau habiskan?…’”, demikian wasiat Rasulullah saw.

 

Menjadi Pembelajar Sejati? Siapa Takut!

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

Sekolah kami SMART Ekselensia
Kami dari Sumatra hingga Papua
Hanya satu tekad di dalam diri
Menjadi pembelajar sejati…

Bait di atas adalah penggalan reff dari mars SMART Ekselensia Indonesia. Ketika pertama kali saya bergabung dengan SMART Ekselensia pada 26 Juli 2010 dan pertama kali mendengar mars di atas, saya bergumam, “Wah keren sekali mars-nya.” Sedari dulu saya menyukai istilah “pembelajar sejati”. Bukan karena kemegahan intelektual yang tersirat dari istilah itu, melainkan spirit untuk terus membaca, menelaah, merenungi, memikirkan, dan menginsyafi, inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan istilah ini.

Pembelajar sejati merupakan penafsiran dari wahyu pertama, Iqra. Seorang pembelajar sejati mesti menginsyafi bahwa belajar tidak terbatas waktu, tempat, dan usia. Tepat sekali sabda Rasulullah saw. yang merangkan, “Menuntut ilmu itu sedari buaian hingga datangnya kematian.”

Di mana saja berada, dengan siapapun berinteraksi, seorang pembelajar sejati bisa memetik hikmah dan mereguk wawasan. Berjalan ke penjuru negeri dan mengamati perilaku manusia merupakan inspirasi untuk berkarya bagi pembelajar sejati. Peristiwa sepele dan sederhana bagi kebanyakan orang, bisa menjadi ide cemerlang bagi pembelajar sejati untuk menuliskannya. Dan, dengan tulisan itu dia berbagi inspirasi ke sebanyak mungkin orang. Lebih hebat lagi bila dengan tulisan itu banyak orang yang tercerahkan dan tersadarkan.

Itulah mengapa Alquran menyuruh kita untuk berjalan di penjuru bumi, perhatikan dan pikirkan alam semesta serta cermati dan saksamai jejak perilaku orang-orang terdahulu untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang di masa kini. Menurut penulis buku Ayat-ayat Semesta, ayat-ayat Alquran tentang semesta jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat tentang hukum. Mengapa? Karena, dengan mengamati dan merenungi semesta akan semakin menambah keimanan kita kepada Allah. Dan, berapa banyak di dalam Alquran, setelah menerangkan betapa harmoninya disain alam semesta, selalu diakhiri dengan ungkapan, “Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan”. Sebagai contoh saksamailah surat Ar-Rum ayat 22 – 26.

Oleh karena itu, sungguh ironi jika masyarakat sekarang memahami belajar adalah sekolah. Tugas orangtua selesai dengan menyekolahkan anaknya. Anak pun seperti itu, merasa telah cukup belajar dengan bersekolah. Atas nama lulus sekolah, tak mengapa ujian nasional menyontek. Bila perlu menyontek masal dan difasilitasi oleh sekolah. Pemutihan nilai rapor pun menjadi legal. Sekali lagi atas nama sekolah. Tak beda juga dengan kelakuan oknum para pegawai negeri yang mengejar ijazah demi kenaikan pangkat dan jabatan meski kuliahnya asal-asalan. Bahkan, skripsi atau tesis pun bisa jadi dituliskan oleh orang lain. Sekali lagi atas nama sekolah.

Makna belajar telah sedemikian terpalingkan dari makna aslinya. Tegas sekali yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah. Sekolah hanyalah salah satu cara dan tempat untuk belajar, namun bukan satu-satunya. Bahkan, bisa jadi sekolah (yang tidak bermutu) bisa menjadi tempat yang salah untuk belajar. Ini bukan berarti meng-absurd-kan sekolah. Tidak sama sekali. Saya hanya bermaksud untuk menyadarkan kita semua bahwa yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah.

Maka, jadikan sekolah sebagai salah satu saja sarana untuk belajar. Selain itu, belajarlah di sekolah kehidupan ini. Belajarlah di sekolah alam semesta ini. Maka, belajar tak pernah mengenal kata lulus. Kita selamanya pembelajar. Dari sini bisa dikenali mana pembelajar sejati, dan pembelajar musiman. Ketika musim sekolah dan kuliah, jadi pembelajar. Begitu musim wisuda, berhenti jadi pembelajar.

Misalnya, seorang mahasiswa yang lulus menjadi sarjana pendidikan dan kemudian menjadi guru. Lalu, karena sudah menjadi guru semangat belajarnya menjadi luntur, bahkan perlahan menghilang. Sejatinya, dia adalah pembelajar musiman. Dia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Dan, untuk sekolah yang memiliki guru-guru semacam ini, sulit untuk menjadi sekolah peradaban yang melahirkan generasi pembangun peradaban.

Menutup tulisan ini, saya ingin menceritakan seorang teman saya, lebih tepatnya senior saya, sekadar untuk memantik semangat belajar kita. Kami sama-sama lulusan UIN Jakarta. Hanya beda generasi. Dia seorang pemimpin redaksi penerbit nasional. Gelar akademisnya cukup sarjana saja. Namun, intelektualitasnya mungkin bisa setaraf doktor. Kemampuan Bahasa Inggris dan Arab-nya pun tak diragukan. Karena, ia biasa menerjemahkan buku-buku berbahasa Inggris dan Arab. Dan, kualitas terjemahannya juga berbobot dan enak dibaca. Dengan kompetensinya itu, dia kerap diundang keluar negeri untuk berbicara pada forum-forum internasional. Terakhir, beliau bercerita baru saja menjelajah beberapa negara Eropa atas undangan UNESCO, PBB.

Dari cerita di atas, kita juga bisa menginsyafi bahwa kualitas seseorang belum tentu dilihat dari sederet gelar akademis yang menyertai namanya di depan dan di belakang. Melainkan, sekuat dan sekonsisten apa dia belajar dan terus belajar sepanjang hayatnya. Selamat menjadi pembelajar sejati.

 

Cara Jitu Hentikan Peredaran Narkoba yang Kudu Kamu Tahu

Oleh: Wildan Khoirul Anam, Alumni SMART Angkatan 8, berkuliah di UNPAD

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, zat yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pecandu narkotika atau biasa disebut junkies bertebaran di muka Bumi, termasuk di Indonesia. Dan apakah para junkies menyebabkan masalah bagi negara? Dari sudut pandang mereka, mereka tidak merugikan siapapun secara langsung. Mereka mamakai narkoba dan itu merugikan diri mereka sendiri. Namun, lain halnya jika kita berbicara tentang perdaran narkotika di Indonesia. Jelas itu merupakan masalah negara.

Menurut hasil pengungkapan Polri dalam Data Tindak Pidana Narkoba Tahun 2007-2011, data kasus narkoba berdasarkan jenis dari tahun 2007 hingga 2011 berjumlah total kasus 138.475 kasus dengan jenis Ganja, Heroin, Hashish, Kokain, Kode’in, Morfin, Ekstasi, Shabu (Meth), Daftar G, Benzodiazepine, Barbiturate, Ketamine, dan Miras. Kasus terbanyak terjadi pada 2009, kasus paling sedikit adalah untuk jenis morfin, hanya satu kasus dan itu pun hanya pada 2008.

Jika dilihat dari data di atas, kasus narkoba di Indonesia sudah sangat parah. Jika keadaan seperti ini terus menerus berlanjut, mau jadi apa generasi mendatang? Apakah masih ada generasi harapan bangsa yang kita nantikan? Ataukah hanya ada generasi pecandu narkoba yang akan memimpin Indonesia di masa mendatang? Oleh karena itu, pemberantasan narkoba perlu dilakukan. Namun bagaimana caranya? Itulah pertanyaan besar bagi kita. Bagaimana cara memberantas narkoba?

Sebenarnya sulit bagi pihak berwajib untuk menangani narkoba tanpa bantuan dari masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat punya kewajiban untuk ikut serta mencegah dan memberantas narkoba. Bagaimana cara masyarakat melakukannya? Dengan memastikan bahwa semua anggota keluarganya tidak tersentuh narkoba, sebenarnya cara itu sudah efektif jika semua keluarga melakukannya. Berapa orang di Indonesia yang tidak memiliki keluarga? Mungkin hanya segelintir yang sama sekali tidak memiliki keluarga.

Namun bagaimana jika cara tersebut tidak efekif? Apa yang harus dilakukan? Pertanyaan bagus. Apa yang harus dilakukan? Seperti yang disebutkan dalam UUD nomor 5 tahun 1997 pasal 54 tentang peran serta masyarakat. Disebutkan pada ayat satu bahwa masyarakat memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam membantu mewujudkan upaya pencegahan penyalahgunaan psikotropika sesuai dengan undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Dan ayat dua yang berbunyi masyarakat wajib melaporkan kepada pihak yang berwenang bila mengetahui tentang psikotropika yang disalahgunakan dan/atau dimiliki secara tidak sah.

Saya punya cara yang cukup mantap namun sangat berisiko dan mungkin sudah sering dilakukan oleh pihak berwajib untuk menangkap para pengedar dan pecandu narkoba. Cara tersebut saya beri nama “Bos Pengkhianat”. Berikut adalah langkah-langkahnya :

  1. Siapkan satu orang polisi yang sudah siap fisik dan mental. Untuk selanjutnya si polisi akan kita sebut dengan “The Actor”.
  2. Jadikan “The Actor” tersebut agen narkoba dan ketika dia sudah mendapat banyak klien, biarkan! Tunggu waktu.
  3. Klien “The Actor”akan semakin banyak seiring berjalannya waktu dan secara bertahap dia akan menjadi agen besar.
  4. Di dunia per-narkobaan “The Actor” akan bertemu banyak orang yang terkait sindikat narkoba.
  5. Lalu tinggal menunggu waktu sampai “The Actor”bertemu bos narkoba di Indonesia. Dan kalau beruntung, dia bisa bertemu “pemain-pemain besar” dunia.
  6. The Actor” berteman dengan bos itu lalu mereka pun jadi teman akrab.
  7. Ketika si bos akan pensiun, dia akan menyarahkan tahtanya pada“The Actor” selaku teman dekatnya. Dan ketika dia mendapatkan tahtanya, maka dia mendapat data agen-agen dan bandar-bandar di Indonesia.
  8. Dan saat itulah saatnya membuka aib per-narkobaan di Indonesia. Terbongkarlah semua rahasia yang tersimpan. Dan langkah selanjutnya setelah menangkap para junkies tersebut adalah eksekusi massal.

Kelemahan dari teknik tersebut adalah keadaan si polisi penyamar dan waktu. Cara ini akan memakan waktu yang lama namun hasilnya tidak main-main. Dan jika si polisi tergelincir sedikit saja maka dia akan menjadi di luar kendali. Namun tak masalah kita punya data pribadinya karena dia dulu seorang polisi. Saya mendapat ide ini dari film kesukaan saya yang berjudul “Homefront” yang diperankan oleh idola saya, Jason Statham.

Delapan langkah mematikan yang telah saya paparkan mungkin terdengar sangat fiksi. Namun tidak salah untuk dicoba. Dan ketika semua langkah berjalan sukses, kehidupan “The Actor” mungkin agak sedikit terganggu oleh penghianatan yang dilakukannya. Namun sebenarnya dia telah berjasa besar dan mungkin dia bisa mendapat gelas “Pahlawan Negara”.

KAMI WASPADA, KITA SEMUA PERLU WASPADA!

Dompet Dhuafa Pendidikan melakukan langkah kewaspadaan menghadapi Covid-19 dengan menyemprotkan desinfektan ke seluruh
ruangan kelas dan kantor. Selain itu, kami juga memberlakukan sistem shift dan Work From Home untuk guru dan beberapa karyawan.

Amanah dari masyarakat harus kami tunaikan, sehingga tidak memungkinkan untuk seluruh karyawan bekerja dari
rumah secara serentak.

Sahabat Pendidikan kami akan selalu waspada, kita semua harus waspada karena Covid-19 nyata adanya dan sudah merenggut banyak korban jiwa.

Jika tidak ada hal mendesak,
sebaiknya #DiRumahAja. Jaga diri, jaga keluarga, serta tak putus berdoa agar Covid-19 segera hilang dari kehidupan kita semua.

Eduaction: Kenalkan Profesi Barista, Si MoBa Ajak Siswa Gali Potensi Diri

 

 

Bogor – Si Mobil Baca (Si MoBa) besutan Dompet Dhuafa Pendidikan dinilai mampu membuka gerbang akses buku lebih luas untuk masyarakat, sehingga masyarakat terutama anak-anak dapat mendapatkan akses membaca buku yang lebih beragam dan berkualitas. Namun pada paktiknya Si MoBa tak hanya menyediakan ragam buku, namun juga ragam kegiatan berkualitas sebagai wahana edukasi serta rekreasi berbasis literasi.

 

Untuk menggali potensi anak-anak sejak dini, Si MoBa mengajak ratusan siswa sekolah dasar mengikuti kelas inspirasi “Mengenal Profesi Roaster dan Barista” bersama Ampas Kopi Kita dan Komunitas Batas Kota. Menurut Muhammad Iqbal, Koordinator Si MoBa, Si MoBa ingin memberikan pengalaman tak terlupakan kepada siswa usia sekolah dasar agar mereka makin semangat menggapai cita, “Zaman ini banyak profesi mumpuni, salah satunya menjadi Barista. Kolaborasi kami bersama Ampas Kopi Kita dan Komunitas Batas Kota kami yakini dapat memberikan insight baru untuk anak-anak,” jelasnya

 

Ida, Teman Si MoBa sekaligus inisiator Ampas Kopi Kita, menyampaikan jika saat ini profesi Barista menjadi profesi yang diminati anak muda khususnya kaum milenial, “profesi Barista sudah tak bisa lagi dipandang sebelah mata karena peminatan anak muda mendalami jagat kopi ada dalam tahap yang membanggakan,” papar Ida. Ia menambahkan jika ketertarikan milenial menjajaki dunia kopi dapat meningkatkan kuantitas komoditas petani kopi lokal.

Selama kegiatan berlangsung para siswa diajak berkenalan dengan bermacam peralatan membuat kopi hingga berbagai jenis kopi dan cara pengolahannya. “Indonesia memiliki beraneka jenis biji kopi, saking kayanya banyak jenis biji kopi mahal yang hanya bisa dinikmati segelintir orang, karena itulah penting untuk mengenalkan kekayaan kopi Indonesia sejak dini,” tegas Ida.

 

Setelah berkeliling dari Cianten, Sukabumi, Tenjolaya, dan Bojong Sempu, Si MoBa sampai juga ke Klapanunggal, Cileungsi, Jawa Barat. Dalam eksekusi kelima ini Si MoBa masih menghadirkan bermacam aktivitas literasi menyenangkan; bukan hanya untuk anak-anak, SI MoBa turut menyelenggarakan pelatihan membuat media pembelajaran bagi guru dan masyarakat sekitar. Kedatangan Si MoBa di Klapanunggal melengkapi rangkaian perjalanan memperkenalkan literasi kepada masyarakat di 22 titik wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

 

Menurut Muhammad Iqbal, Koordinator Si MoBa, Si MoBa terus melebarkan sayapnya demi memberikan kebermanfaatan lebih luas ke masyarakat khususnya di bidang literasi. “Si MoBa mampu membuka gerbang akses buku lebih luas untuk masyarakat, sehingga masyarakat terutama anak-anak dapat mendapatkan akses membaca buku yang lebih beragam dan berkualitas. Tak hanya menyediakan ragam buku dan kegiatan berkualitas, Si MoBa juga dapat digunakan sebagai wahana edukasi serta rekreasi berbasis literasi,” ujarnya.

 

“Kelebihan Si MoBa ialah memberikan pelatihan pengembangan diri kepada masyarakat agar lebih berdaya. Si MoBa juga digadang dapat memberikan dampak baik secara konsisten karena memberikan alternatif terhadap solusi peningkatan kualitas literasi di masyarakat,” pungkas Iqbal. (AR)

Kegagalan Itu Harga Untuk Seonggok Kesuksesan Sob

Oleh Halah

 

Menurut KBBI arti dari kata konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak); dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan secara singkta bahwa tidaklah mudah dalam membangun sebuah konsistensi, dibutuhkan komitmen yang tinggi, pengulangan yang dilakukan berulang akan suatu hal sehingga menjadikan hukum konsistensi itu bekerja sesuai dengan tujuan akhir yang diharapkan. Seseorang yang sudah melakukan sesuatu dengan konsisten akan menjadikan dirinya memiliki kepakaran dalam suatu bidang, menjadi ahli dan menggapai sukses.

 

 

Simak contoh berikut, kita tentu pernah mendengar kekayaan dari seorang Bill Gates, ataupun Warren Buffet, ataupun Walt Disney, ya mereka adalah para pejuang sukses dalam hidupnya yang berhasil melawan segenap potensi keburukan dan mengubahnya menjadi potensi kebaikan, jika kita telisik seberapa jauh hidup seorang Bill Gates dalam melakukan pencapaian besar dalam hidupnya, hampir ia habiskan dengan penuh kegagalan. Itulah harga yang harus dibayar untuk seonggok kesuksesan. Konsistensi mampu memberikan enegri untuk mengalahkan setiap konsekuensi kekalahan yang akan dihadapi dalam menggapai suksesnya.

 

 

Konsistensi Al Fatih akan sholat tahajjud yang tidak pernah ia tinggalkan sejak balig menghantarkan ia menjadi pemimpin terhebat penakluk benteng konstantinopel. Konsistensi mba Dewi Nur Aisyah untuk tidur hanya selama tiga jam sehari berhasil membuat dirinya menamatkan kuliah kurun waktu tiga setengah tahun dengan perdikat lulusan terbaik disamping menjalani belasan amanah di berbagai organisasi yang dia ikuti.

 

 

Begitulah juga dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang ada dalam keseharian kita, seperti mengalahkan sikap egois dalam diri bukanlah hal yang gampang. Melatih diri dengan kebiasaan kebiasaan baik tentunya bukan hal yang mudah, membentuk kebiasaan ibarat memperbaiki mesin daripada sebuah kapal, memperbaiki sistem pusat yang akan bekerja mengatur kehidupan. Hukum konsistensi ini akan menciptakan sebuah produk yang dinamakan kebiasaan, pola kebiasaan akan merubah dan masuk ke dalam alam bawah sadar.

 

 

Terbiasa tahajjud tiap hari, tentunya ada sebuah proses panjang dalam menggapainya, itulah yang dinamakan hukum konsistensi, melakukan secara terus menerus, ibarat batu yang ditetesi oleh air, tentu akan berlubang bukan. Orang yang membiasakan diri untuk tenang dalam menghadapi masalah akan membentuk karakter yang tegar, dan cenderung tidak gegabah dalam mengambil keputusan, orang yang senantiasa membiasakan untuk berdzikir, tentunya Allah akan mudahkan ia dalam menyebut tiap asmanya di segala kondisi.

 

 

Mari bangun komitmen yang baik, agar dapat menciptakan konsisten dalam hal kebaikan pula.

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4, Lulusan Kedokteran UI Depok

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah Swt. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.