Sepi

Oleh: Karya Nadhif Putra Widiansah

Sepi, sepi, sepi
sepi bukan mimpi
sepi bukan imaji
sepi bukan ilusi
sepi bukan puisi
sepi bukan diksi
sepi bukan narasi
sepi bukan petisi
sepi bukan mosi
sepi bukan intuisi
sepi juga bukan hati
sepi, sepi, sepi
sepi, untuk diriku sendiri

(Buitenzorg, 2017)

 

———–
Hilang Tanpa Bekas
———–

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

Ini Investasi Kami Dunia Akhirat Sob, Ikutan yuk!

Oleh: Syafei Al-Bantanie,Direktur Dompet Dh uafa Pendidikan

“Menolong layaknya sebuah investasi yang sangat menguntungkan. Kita akan memanennya disaat yang tepat.”

 

 

 

Alkisah, seorang ibu tua terlihat bingung di tepi sebuah jalan yang masih sepi. Mobil itu mogok. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia tidak mengerti mesin mobil. Saat itu, seorang lelaki muda melintas di jalan itu mengendarai sepeda motor. Ia berhenti tepat di sebelah si ibu. Lelaki muda itu menawarkan bantuannya untuk mengecek mobil. Si ibu mempersilakan dengan senang hati.

 

 

 

Lelaki muda itu membuka kap mobil, mengutak-ngatik kabel-kabel di dalamnya. Kemudian, ia juga tak sungkan untuk masuk ke kolong mobil. Mungkin ada bagian yang harus dibetulkan. Kurang lebih 30 menit, lelaki muda itu mencoba membetulkan mobil si ibu.

 

 

 

“Sudah selesai. Silakan coba nyalakan mesinnya,” ujar si lelaki muda.

 

 

 

Si ibu menyalakan stater, dan suara mesin mobil mulai menyala. Alhamdulillaah, mobil itu sudah bisa berjalan kembali. Si ibu tampak gembira. Ia membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar rupiah. Si ibu menyerahkannya ke lelaki muda itu sambil berucap terima kasih.

 

 

 

“Maaf ibu, saya tidak bisa menerimanya,” tegas lelaki itu.

 

 

 

“Mengapa? Anda sudah menolong saya. Ini ungkapan terima kasih saya kepada Anda,” terang si Ibu.

 

 

 

“Maaf ibu, bagi saya menolong bukanlah suatu pekerjaan. Karena itu, saya tidak berhak menerima imbalan. Kalau ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan,” terang si lelaki muda.

 

 

 

“Baiklah kalau begitu. Tapi siapa namamu?”

 

 

 

“Namaku Ihsan.”

 

 

 

Si Ibu berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. Mobil bergerak meninggalkan lelaki muda itu.

 

 

 

Di tengah perjalanan, si ibu singgah di sebuah kedai. Ia memesan makanan dan minuman. Seorang perempuan yang tengah hamil dengan sigap menyiapkan pesanan si Ibu. Melihat perempuan muda yang tengah hamil itu, si Ibu teringat dengan kata-kata Ihsan, “Kalau Ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan”.

 

 

 

Usai makan dan minum, si Ibu meminta bon. Ketika pelayan perempuan muda itu sedang membuatkan bon, si Ibu pergi tanpa diketahui pelayan perempuan itu. Pelayan perempuan itu menghampiri meja si Ibu. Ia bingung karena tidak mendapati si Ibu di mejanya. Di mejanya tergeletak secarik kertas dan uang yang cukup banyak.

 

 

 

Surat itu tertulis, “Di perjalanan, mobilku mogok. Ada seorang lelaki muda bernama Ihsan yang berbaik hati membetulkan mobilku. Akan tetapi, ia tidak mau menerima imbalan dariku. Ia meminta saya untuk menolong orang lain sebagai imbalannya. Aku melihat kau sedang hamil. Aku ingin membantu biaya persalinan anakmu nanti. Aku tinggalkan uang ini sebagai pembayaran makanan dan minumanku. Sisanya ambillah untuk biaya persalinan anakmu. Semoga kau berbahagia dengan suami dan anakmu”.

 

 

 

Perempuan muda itu berkaca-kaca membaca surat si Ibu. Sore hari, perempuan itu pulang ke rumahnya. Bertemu sang suami yang dicintainya. Malam harinya, saat si suami tertidur pulas karena lelah bekerja, si perempuan itu mengusap kepala suaminya sambil berbisik, “Mas Ihsan, kau tidak usah merisaukan biaya persalinan untuk anak kita. Keikhlasanmu menolong orang lain telah berbuah kebaikan untuk kita”.

 

 

 

***

 

 

 

Betapa indahnya hidup ini jika kita saling menolong satu sama lain. Menolong atas dasar keikhlasan bukan karena ada tujuan dibaliknya. Meski orang yang kita tolong tidak atau belum bisa membalas kebaikan kita, tetapi yakinlah Allah pasti menggerakan tangan-tangan lain untuk menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan.

 

 

 

Satu kebaikan kecil bisa berarti besar bagi orang yang membutuhkan. Saya teringat kisah yang diceritakan teman saya. Ia bercerita tentang seorang supir angkot yang masih muda. Disaat jam kerja angkot-angkot berlomba-lomba mencari penumpang untuk mengejar setoran.

 

 

 

Ketika itu, ada seorang Ibu dengan tiga anaknya berdiri di tepian jalan. Setiap angkot yang lewat disetopnya, angkot itu berhenti sejenak, lalu jalan kembali. Tibalah angkot yang disupiri oleh pemuda ini yang distop oleh si Ibu.

 

 

 

“Mas, angkot ini sampe terminal bis ya?” tanya si Ibu.

 

 

 

“Iya, Bu,” jawab supir angkot.

 

 

 

“Tapi, saya tidak punya uang untuk bayar ongkosnya,” ujar si Ibu jujur.

 

 

 

“Nggak apa-apa, Bu. Ayo, naiklah,” sahut pemuda supir angkot.

 

 

 

Si Ibu dan tiga anaknya pun naik. Disaat supir angkot lain berebut penumpang untuk mengejar setoran, pemuda supir angkot ini malah merelakan empat kursi untuk Ibu dan tiga anaknya.

 

 

 

Saat sampai terminal, para penumpang turun juga si Ibu dan tiga anaknya. Ibu ini berucap terima kasih pada si pemuda supir angkot itu. Ada penumpang seorang bapak yang juga turun dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah. Pemuda supir angkot itu memberikan kembalian enam belas ribu rupiah, namun bapak itu menolaknya.

 

 

 

“Ambil saja kembaliannya. Itu untuk ongkos Ibu dan tiga anaknya tadi. Dik, terus berbuat baik, ya,” pesan si Bapak itu pada pemuda supir angkot.

 

 

 

Lihatlah, betapa indah hidup saling tolong-menolong. Andaikan separuh saja penduduk bumi ini berpikir untuk menolong oranglain, maka akan damailah dunia ini. Karena itu, mari kita saling membantu dan menolong satu sama lain. Kita adalah saudara. Saudara itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian lain ikut merasakannya. Kemudian, sama-sama memulihkan bagian tubuh yang sakit itu.

 

 

 

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

Ini ceritaku waktu masih duduk di bangku SMART. Aku selalu merasa jika sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari kala itu. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai tempat “mengerikan”. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

 

 

 

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

 

 

 

Lalu apa kata seoranng ustazah menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata, “Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah”.

 

 

 

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

 

 

 

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan Azan Zuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orang tua kami masing-masing.

 

 

 

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

 

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

 

 

 

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

 

 

 

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

 

 

 

Sekarang kami sudah besar, sudah hampir lulus kuliah, teman-teman yang tadinya selalu dekat sekarang sudah mulai berjauhan. Sungguh pun aku kangen akan masa-masa itu, tak terasa lima tahun di SMART telah kulewati, ingin rasanya kuulang momen kebersamaan yang tak terlupakan. Terima kasih SMART atas banyak hal yang semakin kusyukuri keberadaannya.

Asal Ada Kemauan untuk Bekerja Keras, Kamu Pasti Bisa!

 

Oleh: M.Atiatul Muqtadir, Ketua BM KM UGM

 

 

 

“Kerja Mengungguli bakat” begitu tulisan Richard St. John dalam bukunya 8 To Be Great. Delapan hal itu adalah kesimpulan dari penelitian dan wawancaranya dari lebih dari lima ratus orang sukses dunia.

 

 

 

Dalam perjalanan menuju Jakarta, aku menemukan sebuah paragraf menarik yang mengembalikan kesadaran kita tentang bakat selama ini.

 

 

 

Pernahkah dalam proses kerja keras kita, sesekali terpikir “coba saja aku punya bakat di sini, aku ga harus kerja sekeras ini”? Ya, kita terkadang menganggap, bakat sebagai satu-satunya modal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan di bidang itu.

 

 

 

Padahal Mozart, seorang pianis ternama dan ‘berbakat’ harus menghabiskan waktu dua belas jam sehari selama lebih dari satu dekade untuk menghasilkan masterpiece pertamanya. Pun begitu dengan Michaelangelo, seorang seniman dunia, dalam wawancaranya ia justru berterimakasih pada kerjanya dibandingkan dengan bakatnya. “Jika orang-orang tahu betapa keras aku bekerja untuk ini,” katanya yakin, “semuanya mungkin tak nampak menakjubkan lagi”.

 

 

 

Tidak semua orang berbakat mendapatkan kesuksesan. Bakat yang tidak disertai dengan kerja keras adalah harta karun yang disia-siakan. Mutiara yang tidak diasah. Emas yang tidak ditempa.

 

 

 

Mereka yang berpikir hanya dengan bakat ia dapat berjalan menuju sukses, sehingga tidak mengutamakan kerja, justru orang yang sedang mengikis bakatnya untuk lama-lama menghilang. Michael Jordan misalnya, merasa bakatnya cukup baik lantas permainannya mengendur saat berada di Tim universitasnya, hingga sang pelatih pun mengeluarkannya.

 

 

 

Syukurlah ia tersadar, bahwa permainannya tak bergantung pada bakat semata. Orang malas itu telah bertaubat dan menjadi salah satu pemain basket yang bekerja paling keras. Dan saat ini, siapa yang tidak mengenalnya?

 

 

 

“Kita terlalu memuja bakat,” kata Richard memulai paragraf terkahir di sub bab ini, “menandang rendah kerja karena kita tidak melihat segala usaha dibalik suatu kesuksesan. Yang kita lihat adalah ketenaran selama lima belas menit dari penari ‘berbakat’ dan bukannya usaha selama lima belas tahun untuk meraihnya. Kita melihat dua ratus halaman buku, dan bukan 20.000 jam penuh keringat yang dihabiskan oleh penulis ‘berbakat’.

 

 

 

Anda, saya, kita semua, mungkin telah memiliki percikan bakat untuk memulai, tapi kerjalah yang mengubah percikan tersebut menjadi nyala api yang bergelora. Ketahuilah, bakat memang merupakan suatu karunia, tetapi yang lebih besar dari itu adalah karunia berupa kemauan untuk bekerja keras.

 

 

Sob Pemuda Harus Punya Karakter yang Kokoh lho

Oleh: Aidil Ritonga

 

 

 

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

 

 

 

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya”.

 

 

 

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

 

 

 

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran yaitu sebagai berikut:

 

 

 

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

 

 

 

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah saw. menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

 

 

 

 

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

 

 

 

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

 

 

 

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam.

Sob kamu pasti tahu deh kalau Rasulullah adalah contoh sosok motivator yang dapat menjalankan perannya sebagai Rasul, kepala keluarga, pedagang, dan guru bagi umat Muslim tanpa menomorduakan salah satunya, maka patut jika kita menjadikan beliau sebagai motivator dalam beribadah.      

 

 

 

Allah senantiasa dekat dengan para hamba-Nya, Allah memberi petunjuk bagi hamba-Nya yang beriman pada-Nya, Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa yakin dalam menjalani hidup dan yakin akan kehidupan di akhirat nanti, berikut 17 Ayat Al Qur’an tentang motivasi :      

 

 

 

1. QS At Taubah : 40      

 

 

 

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah selalu bersama kita”. Ketika menghadapi suatu ujian, tak perlu bersedih hati, kebahagiaan dan kesedihan kadang datang silih berganti tergantung bagaimana kita menghadapinya dan mengambil pelajaran darinya. Kembalikan segalanya pada sang pencipta bahwa segala yang terjadi adalah ketetapan yang terbaik dari-Nya.      

 

 

 

2. QS Al Baqarah : 155 – 156      

 

 

 

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar, yaitu yang ketika ditimpa musibah mereka mengucapkan : sungguh kita semua ini milik Allah dan sungguh kepada-Nya lah kita kembali”.  Sabar bukan hal yang mustahil untuk dimiliki semua mukmin, ketika ditimpa suatu ujian kadang kita menyalahkan diri sendiri atau bahkan menyalahkan takdir. Ingatlah bahwa segala ujian pasti ada hikmah di dalamnya.      

 

 

 

3. QS Yusuf : 87      

 

 

 

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah melainkan orang orang yang kufur”.  Harapan selalu ada bagi orang yang percaya, hadapi setiap tantangan dalam hidup dengan niat mencari ridho-Nya, lakukan usaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan disertai dengan doa. bahaya putus asa dalam Islam sudah jelas di dalam Alquran, berarti ia bukan termasuk golongan orang beriman.      

 

 

 

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu berharap”. Orang mukmin senantiasa berharap hanya kepada Allah, bukan kepada orang lain atau berbangga diri berharap sepenuhnya dari diri sendiri. Dalam setiap kepentingan hendaknya melibatkan Allah dengan memohon kemudahan dan keberkahan dari-Nya.      

 

 

 

5. QS Al Mukmin : 60      

 

 

 

Berdoalah kepada ku pastilah aku kabulkan untukmu”. Setiap kali memiliki hajat atau menginginkan sesuatu hendaknya mengusahakan dengan sungguh sungguh dan meminta pada Allah untuk mengabulkan hajat anda. Allah senang pada hamba-Nya yang senantiasa berdoa, karena doa menghubungkan langsung antara seorang hamba dengan Allah.      

 

 

 

6. QS Al Imran : 139      

 

 

 

Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman”. Tidak diperkenankan senantiasa memandang diri sebagai orang yang buruk atau penuh kekurangan, setiap manusia mendapat anugrah dari Allah berupa kelebihan dan kelemahan masing masing. Berpikir negatif terhadap diri sendiri menandakan kurang nya rasa syukur. Maksimalkan kelebihan yang Haqers punya untuk kebaikan dan jadikan kekurangan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri.      

 

 

 

7. QS Al Baqarah : 186      

 

 

 

Hendaknya mereka memenuhi perintah Ku dan hendaklah mereka yakin kepada Ku agar selalu berada dalam kebenaran”.  Ikuti perintah Allah dan syariat Islam dalam kehidupan sehari hari agar anda berada pada jalan yang lurus, senantiasa yakin kepada Allah bahwa setiap insan yang diciptakan memiliki peran dan bermanfaat untuk orang lain.      

 

 

 

8. QS Al Baqarah : 286      

 

 

 

Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya”. Jelas sekali dalam firman tersebut Allah senantiasa mengasihi hamba-Nya, tidak akan diberikan ujian jika hamba-Nya tidak sanggup melewati. Karena itu tidak selayaknya kita berputus asa dalam menghadapi segala tantangan hidup.

 

 

 

9. QS. Al Imraan : 200      

 

 

 

Bersabarlah kamu dan kuatkkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu menang”. Allah memerintahkan kepada orang orang beriman untuk senantiasa berusaha dalam kesabaran dan keyakinan. keutamaan sabar dalam Islam memang sangat dianjurkan.      

 

 

 

10. QS. Al Insyirah : 5      

 

 

 

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Jika seorang hamba menghadapi sebuah ujian dan menghadapinya dengan ikhtiar dan doa serta dalam kesabaran, maka Allah akan menunjukkan baginya petunjuk berupa jalan keluar atau kemudahan atas kesulitan yang dialaminya, seusai dari selesainya ujian tersebut akan lebih menguatkan tingkat keimanannya.      

 

 

 

Demikian pembahasan tentang ayat Alquran yang mengandung motivasi, amalkan setiap ayat tersebut dalam kehidupan sehar hari agar kita senantiasa memiliki motivasi untuk memperbaiki diri dan menjadi manusia dengan kualitas keimanan yang lebih baik. Sampai bertemu lagi di artikel selanjutnya dan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel saya ini. Sekian semoga bermanfaat.

Sejatinya Selalu Ada Kemudahan Dibalik Kesulitan Sob

Sob masalah dan kesulitan ada untuk menguatkan kita, bukan melemahkan. Masalah dan kesulitan ada untuk mendewasakan kita. Tanpa ada masalah dan kesulitan, barangkali kita tidak belajar menjadi dewasa. Namun demikian, wajar dan manusiawi bila kita bersedih saat menghadapi masalah dan kesulitan. Yang dilarang adalah berputus asa. Karena, putus asa itu sifatnya orang kafir (QS. 12: 87) dan orang tersesat (QS. 15: 56).
Seorang mukmin haruslah memiliki ketangguhan mental dan spiritual saat menghadapi masalah serumit apapun dan kesulitan seberat apapun. Layaknya Bunda Hajar ketika hadapi kehausan Ismail di tengah padang pasir gersang dan tiada oase sekalipun.
Sejatinya, Allah telah menjanjikan satu kesulitan diapit banyak kemudahan. Ini jaminan-Nya yang tertuang indah dalam Alquran. Saksamailah firman indah-Nya dalam surat Al-Insyirah ayat lima dan enam. “Maka, sesungguhnya bersama kesulitan (al-‘usr) ada kemudahan (yusran). Sesungguhnya, bersama kesulitan (al-‘usr) ada kemudahan (yusran).” (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6).
Perhatikan, ketika Allah menyebut kesulitan, ada alif lam yang melekat. Ini artinya, al-‘usr bentuknya isim makrifat Sob. Sedangkan ketika Allah menyebut kemudahan tiada alif lam melekat. Ini artinya, yusran bentuknya isim nakirah. Isim makrifat bermakna spesifik, khusus, tertentu. Sedangkan, isim nakirah bermakna general, luas, banyak. Artinya, kesulitan pada ayat enam adalah kesulitan yang sama dengan ayat lima. Sedang, kemudahan pada ayat enam adalah kemudahan yang berbeda dengan ayat lima.
Maka, makna ayat di atas selengkapnya adalah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada banyak kemudahan. Indah sekali janji dari Allah ini. Tugas kita adalah mengerahkan kemampuan terbaik untuk menemukan jalan-jalan kemudahan tersebut.
Masihkah kita merasa lemah dalam menghadapi masalah dan kesulitan?
Disadur dari tulisan Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

Mumpung Masih SMA, Kudu Paham Quarter Life Crisis

Oleh : Dinni Ramayani

 

“Keberhasilan orang lain bukanlah kegagalan bagimu”

 

Kutipan tersebut merupakan salah satu tulisan yang saya baca di blog Mr.Budi Waluyo. Barangkali, secara tidak sadar kamu sering merasa gagal ketika melihat teman berhasil meraih sesuatu. Kita mulai mengkhawatirkan diri kita sendiri yang berdampak pada menurunnya rasa percaya diri.

 

Berbicara tentang ini, ada inspirasi dari buku teh Novie Ocktaviane Mufti yang berjudul Healing Yourself, buku mantap untuk mereka yang tengah berada di masa Quarter Life Crisis (QLC) atau krisis seperempat abad. Pada zona ini kita rentan terkena virus “membanding-bandingkan dan penuh kekhawatiran”. Teh Novie dalam bukunya menceritakan bahwa semua orang tentunya sama-sama memiliki kekhawatiran pribadi tentang diri, kehidupan, dan masa depan. Pada usia 20-an, orang bilang kekhawatiran itu bertambah-tambah, bahkan mencapai puncaknya. Yap Haqers, itulah yang disebut masa QLC.

 

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Karena, kata teh Novie dalam bukunya, di usia-usia inilah individu berhadapan dengan keputusan-keputusan yang boleh jadi berdampak permanen untuk kehidupannya, seperti memilih pekerjaan, pasangan hidup, merencanakan masa depan, melanjutkan studi, bahkan keputusan memilih cita. Awalnya mungkin terasa biasa saja melalui fase ini, namun sedikit demi sedikit kebanyakan orang akan bertanya-tanya, “Kok dia hebat ya udah bisa jadi selebgram di usia segitu? Kok dia keren bisa bikin usaha sambil kuliah?” dan pertanyaan lainnya. Disadari atau tidak, pertanyaan itulah yang yang membuat Quarter Life Crisis ini semakin besar , besar, besar dan menjadi monster dalam keseharian kita. Kita merasa tertinggal akan keberhasilan orang lain.

 

Lantas, sebagai seorang muslim, bagaimana kita menghadapi Quarter Life Crisis ini?

 

Pola pikir seorang muslim dan muslimah itu seharusnya tidak sama dengan orang kebanyakan, tidak akan galau. Kenapa ? Tauhid. Tauhid/Keimanan mengajarkan keyakinan dan kebergantungan kepada Allah. Bukan berarti khawatir itu tidak ada, tapi iman membuat kita tahu ke mana kita bisa bergantung dan mengembalikan segala urusan. Jadi, QLC ini bisa terkelola dengan baik dengan iman dan berbaik sangka pada Allah. Nah, sekarang kalau kita galau, coba cek lagi jiwa kita, apakah terpaut sama Allah? Cek juga amalan shalih kita, apakah berantakan?

 

Sebenarnya kita menyadari bahwa khawatir itu melelahkan. Sayangnya, kita sering mengkhawatirkan apa-apa yang sudah Allah tetapkan. Padahal, akan seperti apa pencapaian mimpi-mimpi kita, bagaimana kisah hidup kita, dengan siapa kita menikah, dan bagaimana aktualisasi diri kita sudah Allah atur sedemikian rupa. Teh Novie dalam bukunya juga melempar sebuah pertanyaan yang patut jadi renungan, “Apa mungkin ketika kita mengambil sikap untuk khawatir berarti kita tanpa sadar sedang ragu bahwa Allah adalah yang maha mengatur dan menjamin dengan baik segalanya?” Astaghfirullah.

 

Selalu ingat bahwa kita punya garis start masing-masing, kita punya lintasan masing-masing, punya finish masing-masing, dan yang perlu disadari adalah kita punya waktu masing-masing. Dan semua itu telah Allah desain, dan Allah tahu kapan waktunya semua ingin kita akan tertunaikan. Bukankah semua telah Allah kendalikan? Masa lalu, masa sekarang dan masa depan tak pernah luput dari pengawasan Allah Swt.

 

Lalu, maukah mulai hari ini kita tak lagi khawatir atas apa-apa yang sudah Allah jamin? Maukah mulai hari ini kita tepis segera kekhawatiran itu dengan keimanan pada-Nya?

 

 

 

 

Oleh: Rosyid, SH

Setiap orang ingin sukses. Tidak ada yang ingin menjadi pecundang, gagal, dan kalah. Mungkin arti sukses di dunia ini sebanyak jumlah manusia itu sendiri, karena setiap orang memiliki arti sukses mereka sendiri. Sukses adalah sesuatu yang kasat mata. Ia ada dalam diri kita, ada dalam pikiran kita. Sebenarnya untuk apa kita mengejar kesuksesan? Apa yang menjadi dasar alasan yang mendorong kita untuk meraih kesuksesan? Ada banyak hal yang menjadi alasan kenapa kita rela bekerja keras demi meraih kesuksesan yang kita impikan.

 

Being Happy

 

Menjadi bahagia adalah sebuah hal yang harus dimiliki semua orang tanpa terkecuali. Tubuh yang bahagia akan lebih mudah dalam menjalankan aktivitas. Ketika kita sukses menyelesaikan sekolah, kuliah, atau pekerjaan, kita akan merasa bahagia. Ketika kita sukses menjadi seorang pengusaha kita bahagia. Saat kita sukses menjadi apa yang kita inginkan, kita akan merasa bahagia. Kebahagiaan tidak hanya kita rasakan saat kesuksesan tersebut sudah dapat kita raih. Tapi melalui proses yang kita lalui, bekerja, dan berusaha meraih kesuksesan.

 

Being a Child

Sebenarnya ketika kita ingin menjadi orang sukses kita harus berpikir seperti anak kecil. Mengapa? Ternyata banyak sekali sifat positif anak kecil yang tidak dimiliki oleh orang dewasa. Sifat pantang menyerah, seorang anak kecil memiliki sifat ini yaitu pada umumnya seorang anak kecil atau baby selalu berusaha mempelajari sesuatu hingga mereka berhasil, coba kamu perhatikan ketika anak kamu mulai belajar berjalan, dia mulai dari merangkak kemudian berdiri dan terjatuh lagi, entah tak terhitung berapa kali seorang anak kecil terjatuh dalam proses belajar berjalan namun tak pernah berhenti untuk belajar meskipun selalu terjatuh, bandingkan dengan diri kamu sudah berapakali kamu terjatuh dan bangkit lagi karena itu jika kamu ingin sukses miliki sifat pantang menyera, karena itu jangan lihat berapa kali kamu gagal tapi lihatlah sudah berapa kali kamu bangkit dari kegagalan.

 

Kedua mudah memaafkan, kalau kita mencermati perilaku anak kecil kadang mereka bertengkar satu sama lain hingga sala satu diantara mereka menangis, namun uniknya sesudah mereka menangis mereka kembali bermain bersama. Semua ini bisa terjadi karena adanya sifat yang mereka miliki yaitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, dan susah melupakan kebaikan orang lain, bagaimana denganmu? Apakah kamu memiliki sifat pemaaf ini?

 

Ketiga positif thinking, seorang anak kecil di dalam pola pikirnya selalu melihat masalah secara positif dan dalam benaknya tak pernah ada kata gagal dan selalu ingin belajar dan mencoba hingga berhasil,coba saja kamu tanya anak kecil mau jadi apa dia pasti dia menjawab mau jadi polisi bahkan presiden mungkin juga kasus seperti ini kamu alami juga di waktu kecil, kenapa cita-cita mereka sangat tinggi semua itu disebabkan pikiran positif pada anak kecil sangat dominan, nanti setelah dewasa karena adanya faktor lingkungan maupun keluarga hingga pikiran negatif itu mulai mendominasi sehingga mereka tidak mengejar lagi cita-citanya, karena itu jika kamu ingin sukses bumi dan langit senantiasa berfikir positif dalam menghadapi masalah termasuk berpikiran positif kepada Tuhan.

 

Being a Striker

Konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu atau fokus ketika menjalani kehidupan sekitarnya bahkan ketika mereka bermain bola selalu fokus pada saat itu, mereka tidak berfikir akan hari esok bahkan hari kemarin,mereka menyadari eksistensinya pada saat itu juga, sehingga mereka senantiasa bahagia,sangat kontras dengan kamu yang lebih fokus akan hari esok sehingga selalu gelisah dan tak tenang, karena itu kalau kamu ingin sukses maka fokuslah. Kekuatan fokus ini sungguh dahsyat lihat saja cahaya matahari kalau difokuskan bisa membakar apapun. Karena itu fokuslah sebagai langkah awal kamu menjadi sukses.