Lepas SMART Aku Harus Apa?

Oleh: Muhammad Fatih Daffa Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran. Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri.

 

Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu. Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS.

 

Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini. Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”. Sekian.

Diujung tanduk!

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari kala itu. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata seoranng ustazah menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata, “Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan Azan Zuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar, sudah hampir lulus kuliah, teman-teman yang tadinya selalu dekat sekarang sudah mulai berjauhan. Sungguh pun aku kangen akan masa-masa itu, tak terasa lima tahun di SMART telah kulewati, ingin rasanya kuulang momen kebersamaan yang tak terlupakan. Terima kasih SMART atas banyak hal yang semakin kusyukuri keberadaannya.

Memori Indahku di SMART

 

“Selamat ya mas Azzam, sekarang kamu sudah resmi menjadi anak SMA. Jangan lupa belajar dan berdoa, ya nak. Insha Allah kamu pasti bisa meraih semua impianmju. Umi selalu mendoakan yang terbaik buat mas Azzam”.

Itulah pesan ibu ketika saya menunjukan rapor SMP semester terakhir kala itu. Saya ingat betul ada kata ‘Lulus’ terpampang di sana dan membuat saya tak jenuh melihatnya terus menerus.

Nama saya Muhammad Ikram Azzam. Saat ini saya berumur 16 tahun dan berasal dari Jakarta, saya merupakan alumni SMART Angkatan IX, saat ini saya berkuliah di UNJ Jurusan Sastra Arab. Sungguh tak terasa lima tahun saya merantau ke Kota Hujan untuk bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Di sini saya berjuang demi menggapai impian menjadi seorang diplomat bergelar cendikiawan muslim. Banyak sekali keseruan dan keceriaan yang hadir dalam rutinitas yang saya jalani selama mengenyam pendidikan di SMART, selain bersekolah kala itu saya juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah dan kegiatan di luar sekolah. Saya pernah menjabat Ketua OSIS periode 2016/2017, saya juga didapuk menjadi Duta Gemari Baca oleh Makmal Pendidikan, dan saya juga berhasil menyabet Pemustaka Jawara Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan serta mengikuti Konferensi Forum OSIS se-Jawa Barat di Bandung dua tahun lalu.

Di SMART saya bisa bertemu teman-teman hebat dan cerdas dari seluruh Indonesia, buat saya itu adalah pengalaman paling berkesan dari sekian banyak pengalaman yang saya dapat. Saya juga merasa terhormat karena bisa diajar oleh pengajar hebat yang SMART miliki. Para guru di SMART membuat saya semakin mengerti akan arti perjuangan, tanpa lelah mereka terus menyemangati saya untuk mengejar impian  agar tak pupus di tengah jalan.

Berbicara mengenai impian, saya jadi teringat kenapa saya ingin sekali menjadi seorang diplomat. Dulu ketika masih duduk di Sekolah Dasar saya rajin membaca ensiklopedia tentang  peradaban dunia, saya tertarik dengan keragaman dan kerukunan yang digambarkan di sana. Dari situ saya membayangkan jika suatu hari saya bisa menjelajah dan mengeksplorasi kemegahan dunia sambil menyuarakan dan menciptakan kedamaian di dunia, saya pikir hanya diplomat yang bisa seperti itu. Tekad saya untuk meraih mimpi semakin kuat apalagi didukung oleh teman-teman dan para guru, kata menyerah seakan tak ada lagi dalam kamus hidup saya.

Kini saya sudah menjadi mahasiswa, perjuangannya terasa lebih berat namun saya menikmatinya demi menggapai cita. Saya akan terus berjuang agar bisa menghatrumkan nama SMART dikancah dunia. Pesan saya kepada adik-adik kelas, jangan pernah patah semangat karena kondisi, karena kondisi hanya kitalah yang bisa mengubahnya.

Tugas Kita Sebagai Manusia Hanyalah Berusaha Sob

Oleh: Muhammad Fatih Daffa

Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

 

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

 

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”.

Sekian.

Kami Bangga Jadi Anak Kreatif

Dalam wacana kreativitas di dunia pendidikan, semangat mencoba dan mau tampil beda merupakan syarat utama untuk bisa mendalami dan menggelutinya. Banyaknya jam terbang dalam menjalaninya, juga bagian yang mampu menajamkan potensi diri menjadi inspirasi yang imajiner kala mengembangkan ide-ide segar. Berani memandang dari sisi yang bukan pada umumnya adalah bagian keunikan yang bersifat orisinal dan alamiah.

Inspirasi untuk memberdayakan siswa marginal yang tergabung di SMART Ekselensia Indonesia merupakan tantangan tersendiri. Bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengembangkan bakat dan potensi mereka. Butuh berbagai variasi ketajaman teori perkembangan peserta didik dan keluasan referensi metode mendidik yang tidak hanya mengajar secara konvensional.

Sentuhannya bukan hanya semangat, melainkan juga tambahan suplemen pengorbanan dan tingginya tingkat kepedulian. Inilah perpaduan tangguh untuk menjadikan siswa kreatif. Bentuk inspirasi itu antara lain berupa gabungan mengolah sampah anorganik menjadi tampilan musik. Istilah yang sering dikenal orang banyak adalah trashic (trash music) atau musik sampah.

Awal kali gagasan ini dimunculkan memang cukup mengerutkan dahi yang mendengarnya. Bisa dibayangkan, panci bolong, wajan usang, pelek motor bekas, tempat jemuran, semua ini difungsikan sebagai perkusi. Ditambah ritmis suara yang mengaplikasi dari gema hukum fisika pada botol yang berisikan air. Alat-alat musik kagetan ini mampu mengeluarkan harmoni tangga nada yang memainkan peran sebagai melodi. Dan sebagai penguat semangat warna musik terdapat pada bas yang dimainkan dari tong plastik berkapasitas 100 liter, yang berteman setia pada jeriken minyak plastik berkapasitas 20 liter. Fungsi esensinya pada ritme keterpaduan cara pukul dan waktu masuk dalam satu alunan lagu.

“Kok bisa ya, Pak? Itu semua kan barang yang enggak layak pakai? Terus cara ngedapatinnya juga harus keliling satu RW, ya?”

Cetus keheranan salah satu anggota masyarakat itu bukan sekali saya dengar. Awalnya, sebagian (besar) orang memandangnya aneh bercampur heran, tapi berikutnya mereka akan memuji setelah alat-alat perkusi itu dimainkan oleh siswa SMART. Permainan musik ala siswa-siswa SMART ini pernah meraih penghargaan pemenang pertama dalam sebuah acara unjuk kreativitas di sebuah stasiun televisi  swasta nasional.

“Wah, keren-keren! Ini baru yang namanya kreatif. Jarang-jarang yang bisa kaya begini.”

Awal mula dibentuknya musik trashic ini berdasarkan pada keisengan siswa-siswa SMART. Sekolah ini memang berupaya menggali potensi kecerdasan siswanya, salah satu nya dalam bakat bermusik. Keisengan mereka berupa seringnya memukul-mukul bangku, meja, dinding pembatas kelas, bahkan ujung ballpoint dan pensil, menjadi inspirasi  untuk membuat satu alat musik yang dijadikan sebagai sarana hiburan mereka. Bakat-bakat siswa itu kemudian di berdayakan dalam satu wadah yang mendukung pembelajaran mereka di kelas. Tantangan kepada mereka untuk bisa mengaransemen satu lagu dalam wadah dan alat yang telah disediakan dari barang bekas tersebut ternyata disambut dengan penuh antusias.

Regenerasi tim yang ada juga sudah tertata dengan sistem yang cukup baik. Setiap angkatan baru masuk, semangat memainkan alat musik trashic sudah ditularkan. Dorongan memotivasi juga diembuskan kepada siswa kelas 1 itu dengan menjelaskan manfaat ikut bergabung dalam trashic.

“Selain waktu untuk berjalan-jalan semakin luas dan lama, tabungan kalian juga bisa bertambah banyak.” Kata-kata ini diberikan untuk membangkitkan ketertarikan para siswa.

Ya, karena bergabung dalam trashic memiliki keuntungan tersendiri. Selain mereka bisa menghibur orang lain, terkadang mereka menerima uang amplop dari pihak pengundang. Isi dalam amplop itu diatur seadil mungkin dalam pembagiannya. Dari lima tahun mereka berada di SMART, mereka akan menerima undangan untuk menghibur orang banyak dalam beberapa kali kesempatan. Dari pembagian ini, para siswa itu bisa menabung. Tabungan para alumni SMART sendiri cukup terbilang besar, setidaknya dalam ukuran mereka, yakni rata-rata satu juta rupiah.

Satu juta rupiah bagi anak-anak kota mungkin tidaklah besar. Namun, bagi siswa SMART, yang semuanya memang berlatar belakang anak marginal, satu juta rupiah adalah spirit, kesabaran, daya juang, ekspresi seni, dan semangat penuh ketangguhan. Satu juta yang dihasilkan dari niat yang tulus menghibur, berkampanye mengenai pemanasan global, peduli terhadap lingkungan, dan yang terpenting adalah usaha mereka untuk mau dan mampu menjadi manusia Indonesia yang mandiri, cerdas, dan penuh keimanan. []

Mau Menyuarakan Pendapat? Nulis Dong Sob

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumni SMART Angkatan XI Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Kebudayaan nusantara merupakan salah satu hal yang saat ini menjadi perbincangan hangat diantara para pelajar di Indonesia. Para pelajar berlomba-lomba untuk menciptakan kreasinya sendiri untuk mewariskan budaya yang ada di Indonesia.

 

Hal ini menjadikan kegiatan jurnalistik menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting untuk mengenalkan budaya kepada siapa saja. Peliputan budaya-budaya dengan kreatif dan pengemasan media menjadi menarik membuat para “penikmat” hasil karya jurnalistik semakin tergugah untuk mencintai budaya Indonesia.

 

Semangat para jurnalis muda di sekolah seharusnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelestarian budaya yang ada di negeri ini.

 

Berbagai macam pelatihan mengenai cara mengelola karya jurnalistik sangatlah diperlukan di tengah minimnya kegiatan literasi untuk mengenal budaya di sekolah. Program desa budaya yang ada di berbagai daerah mampu menjadi pengembang budaya pada masyarakat. Siswa-siswa sebaiknya lebih mengetahui industri pembuatan barang kebudayaan, sehingga pada akhirnya berbagai peninggalan budaya di Indonesia dapat terus berkembang untuk mempercepat pengembangan karakter siswa.

 

Sebab itu penanaman literasi sangat dibutuhkan oleh generasi milenial saat ini agar kelak bisa menyuarakan banyak hal melalui tulisan, karena jika tindakan tak dapat mengubah bangsa siapa yang tahu jika tulisan malah mampu menjadi penggerak. Maka berkaryalah!

 

 

  

 

 

 Kekuatan Pemuda yang Perlu Kamu Pahami Sob

Oleh: Purwoudiutomo

 

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp. 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika dilis, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

Bangun Sob!

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.

Percaya Saja Kalau Murid Kita Pasti Bisa

 

Bukan perkara mudah memadatkan materi Geografi kelas 5 IPS selama satu tahun menjadi hanya satu semester di SMART Ekselensia Indonesia. Kesulitan yang aku yakin hampir dialami oleh semua guru Geografi SMA, khususnya yang mengajar kelas XII IPS, karena akan menghadapi UN dan SNMPTN. Namun, inilah pembelajaran aktif dan menyenangkan yang justru akan lebih membantu siswa dalam memahami keterampilan pemetaan.

Hari itu cuaca cerah dan terik matahari menggetarkan semangat kami yang siang itu akan berjalan mengelilingi lingkungan sekolah. Aku bersama siswa kelas 5 siang ini akan melakukan praktik pemetaan untuk membuat denah sekolah. Ya, hanya membuat denah gedung sekolah. Tidak begitu luas memang, tetapi inilah pembelajaran agar siswa lebih memahami kondisi ruang tempat mereka tinggal dan beraktivitas.

Keterampilan pemetaan ini sangat dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memahami ruang. Misalnya saja ketika seorang siswa yang baru melakukan perjalanan tiba-tiba tersesat ataupun kebingungan tak tahu arah pulang. Atau ketika siswa kebingungan mencari tempat strategis untuk memasang mading sekolah.

Awal praktik pemetaan ini, aku membagi siswa menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok sudah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk pengukuran di lapangan, antara lain kompas bidik, meteran, busur, penggaris, dan alat tulis. Kecuali alat tulis, peralatan-peralatan tersebut dipinjam dari laboratorium sekolah kami. Keterbatasan peralatan (misalnya saja kompas yang cuma ada dua) tidak menjadi halangan dalam proses pembelajaran ini.

Tahap pertama, aku mengarahkan siswa menentukan titik pusat untuk membidik arah utara dan mengetahui sudut azimuth. Pada tahap ini, siswa dituntut untuk sangat teliti dalam melihat ukuran sudut di kompas karena akan sangat menentukan arah pengukuran selanjutnya. Jika terjadi kesalahan, maka gambar denah gedung sekolah tidak akan seperti bentuk aslinya. Titik pusat atau titik awal pengukuran dimulai dari tiang bendera, kemudian kompas diarahkan ke sudut titik selanjutnya.

“Oke, sekarang lihat jarum jam di kompas dan arahkan menuju arah utara.”

“Ustazah, kok saya menghadap sini arah utaranya? Beda sama Alif?” sahut Ruly.

“Gak mungkin, pasti sama. Coba posisi badan jangan berubah-ubah, pegangnya yang benar,” jawabku meyakinkan Ruly.

“1600… 1650… 1610… 400… 1600 lebih…” lapor beberapa siswa yang membidik dengan kompas.

“400? Rasanya tidak mungkin! Coba Ustazah lihat.”

Aku sebenarnya masih ingin meyakinkan bahwa alatnya dalam kondisi baik, tetapi ketika aku lihat ternyata benar kompas itu sudah rusak. Arah utara yang ditunjukkan salah. Padahal, kompas inilah yang pernah dibawa salah seorang ustadzah ke luar negeri untuk menunjukkan arah kiblat.

“Maaf, ya, tadi Ustazah gak percaya.”

“Tuh kan, Ustazah, saya benar kan?”

Aku tersenyum mendengar perkataan siswa tersebut. Di sekolah ini, sejatinya aku masih belajar. Belajar memahami diri bahwa menjadi seorang guru tidak selalu menjadi orang yang selalu benar. Aku harus terbuka, termasuk dengan siswa, terlebih siswa yang intelektualitasnya di atas rata-rata pandai seperti di SMART ini. Tidak perlu penjelasan banyak untuk memahamkan mereka pada sebuah materi, termasuk soal penggunaan kompas karena mereka lebih bersemangat belajar dengan melakukannya sendiri.

“Learning by doing… Ustazah!” celetuk sebagian besar siswa-siswaku itu.

Aku benar-benar melihat kesungguhan mereka dalam memahami apa yang belum mereka ketahui. Aku bukan hanya melihat sosok siswa-siswa biasa, tapi siswa yang ingin sukses. Aku lantas teringat dengan kata-kata salah seorang di antara mereka, “Ustazah, saya berani meninggalkan kampung halaman dan keluarga saya, maka saya juga harus sukses dan saya yakin saya sukses. Sukses sekarang, sukses juga masa depan saya!”

 

Tahap berikutnya adalah pengukuran jarak dengan meteran. Di sini dibutuhkan kerja sama yang apik agar pengukuran jarak sebenarnya bisa cepat dan tepat. Setelah pengukuran jarak, tahapan pertama dilakukan kembali, yakni membidik arah untuk titik selanjutnya dengan kompas dan terus dilakukan pengukuran jarak di lapangan. Begitu seterusnya hingga kembali ke titik awal, setelah mengelilingi gedung sekolah.

Kegiatan ini adalah kegiatan outdoor pertama yang aku lakukan sebagai pembelajaran untuk siswa. Aku jadi bisa melihat karakter siswa dengan lebih jelas, ada yang inisiatif, kreatif, sok mengatur, serius, dan cerewet mengoordinasikan teman-temannya. Meskipun demikian, aku lihat semua siswa mau bekerja sama, baik antarsiswa di dalam kelompok maupun siswa di luar kelompok. Bagaimanapun juga, pengukuran di lapangan, khususnya mengukur gedung sekolah, sangat mengandalkan kesolidan tim, terlebih lagi alat praktiknya terbatas.

Setelah semua pengukuran selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah menggambarkan hasil pengukuran di lapangan dengan skala tertentu. Di tahapan inilah siswa dapat memahami dengan baik peran skala peta dalam menggambarkan kondisi lingkungan asli atau ukuran sesungguhnya dengan perbandingan tertentu agar dapat digambarkan ke bidang datar yang memiliki ukuran terbatas. Masing-masing kelompok harus dapat menggambarkan ke bidang datar. Ukuran yang digunakan adalah kertas A4, dengan skala peta ditentukan masing-masing kelompok. Dari hasil akhir pengukuran akan terlihat, apakah bentuknya sudah sesuai dengan bentuk aslinya. Apakah sama bentuknya antarkelompok, atau apakah ada gambar denah yang tidak terbentuk karena pengukuran di lapangan kurang tepat sehingga penentuan skala peta pun tidak sesuai.

“Ustazah, kok gambarnya gak sama, ya?” cetus Sayfodin.

“Harusnya sama, kalaupun beda harusnya tidak terlampau jauh selisihnya,” jawabku.

Aku menghampiri kelompoknya, memastikan mengapa denahnya tidak sesuai. Beberapa menit kuperhatikan gambar dan datanya. Memang ada yang salah.

“Kami mengulang aja, Ustazah.”

“Tidak perlu, kalau sudutnya sama, bisa ditarik garis lurus saja.”

“Tapi data kami salah, Ustazah. Kami belajar jujur dong, Ustadzah.”

Tanpa dihiraukan lagi kelompok Sayfodin langsung mengulang pengukuran sudut dengan kompas. Dengan waktu yang terbatas, mereka berjanji dapat menyelesaikannya. Tak lama berselang, kelompok lainnya mulai mengalami kegundahan.

“Kok gak sesuai, ya, dengan skalanya?” salah seorang siswa dalam kelompoknya terheran-heran.

Kebenaran data yang didapat ketika pengukuran menjadi hal yang mutlak agar gambar yang diinginkan sesuai dengan bentuk aslinya. Mulailah mereka mengulang beberapa pengukuran. Sebenarnya mereka bisa saja memanipulasi data karena sudah terlihat bentuknya. Ini akan memudahkan mereka. Tetapi para siswa itu memilih untuk tidak melakukannya. Meski jam menunjukkan hampir pukul tiga sore, mereka tetap mengulang beberapa pengukuran yang dibutuhkan.

“Ayo, semangat! Tuntaskan… selesaikan semua dengan kejujuran!”

“Ustazah, kalo orang bikin peta, mudah saja, ya,berbohong? Buktinya, kalo kami mau, bisa saja kami berbohong. Mudah saja bagi kami untuk memanipulasi data,” ujar seorang siswa.

“Sangat mudah, bahkan dengan teknologi digital pun akan menjadi sangat mudah, tapi lakukanlah pekerjaanmu dengan hati nurani,” jawabku sambil tersenyum.

Alhamdulillah, melalui kejujuran, semua pekerjaan mereka selesaikan pada pukul 15.30, bertepatan dengan kumandang azan Salat Ashar. Mereka menyelesaikannya dengan baik walaupun yang digambar baru dengan pensil dan belum sempat dirapikan. Semua kelompok bentuk gambarnya sama.

Siang dan sore itu, aku memperoleh keyakinan bahwa pembelajaran yang mengajak siswa lebih aktif dan menyenangkan adalah pembelajaran yang luar biasa. Siswa bukan hanya memahami pelajaran sebagai kewajiban seorang pelajar, tetapi juga siswa dapat belajar dan melatih karakter-karakter yang baik seperti kerja sama, bersungguhsungguh, dan jujur.

Juru Masak Kami Hebat!

Oleh: J. Firman Sofyan, Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Disadari atau tidak, waktu terasa begitu cepat berada di SMART. Kala itu saya kembali bertemu dengan siswa angkatan 5 SMART Ekselensia Indonesia. Satu tahun saya tidak pernah bersama mereka secara formal di kelas, sekarang mereka telah lulus kuliah dan bekerja. Pertama kali mengajar di sekolah nonprofit ini, mereka masih kelas 1.

Di awal tahun pelajaran 2012/2013, saya memulai pertemuan dengan siswa kelas lima dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan terkait data diri siswa. Salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah “Berapa tinggi dan berat badanmu sekarang?”. Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan cepat dan tepat oleh siswa. Namun, nyatanya mereka membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk menjawab pertanyaan dasar tersebut. Ini bukti kalau ada masalah di sini. Pertanyaan lain adalah “Berapa pertambahan tinggimu dari kelas satu sampai saat ini?”.

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan mudah karena tinggal mengurangi tinggi badan sekarang dengan tinggi badan ketika pertama kali datang ke SMART empat tahun yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab di dalam sebuah kertas kecil. Sisa pertanyaan sepertinya tidak perlu saya deskripsikan di sini.

Jawaban siswa terkait pertanyaan kedua memang sangat bervariasi. Ada yang cuma 3,5 cm, 8 cm, bahkan ada yang mencapai 40 cm. Jawaban-jawaban tersebut menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa rata-rata pertambahan tinggi siswa adalah antara 20-30 cm. Saya pun dapat menyimpulkan bahwa ada pengaruh gizi yang berbeda yang siswa dapatkan ketika mereka di rumahnya masing-masing dengan di SMART. Perbedaan yang cukup signifikan dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertama kali tiba ke sekolah ini, tinggi mereka berkisar 125-160 cm. Angka terakhir pun sangat jarang ditemukan. Biasanya siswa yang tingginya mencapai angka tersebut adalah siswa yang sebelum diterima di sekolah ini telah bersekolah selama satu tahun di jenjang menengah (SMP).

Perbedaan ini seolah mempertegas cerita beberapa siswa terkait kondisi mereka di desanya. Salah satunya adalah menu makanan. Beberapa kali saya mengobrol dengan siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Obrolan terkait menu makanan mereka sehari-hari yang menurut mereka jauh lebih tidak enak dan tidak bergizi dibandingkan di SMART. Fatqur, misalnya, siswa yang berasal dari Banggai, pernah mengatakan bahwa jarang sekali bisa makan dengan nasi. Ia bersama keluarganya yang berdomisili tidak jauh dari pantai lebih sering makan ikan tanpa nasi. Sepintas sangat bergizi karena setiap hari bisa mengonsumsi ikan laut. Kemiskinanlah penyebab utama sulitnya mereka mengonsumsi nasi yang harganya bisa sama dengan harga satu sak semen di Pulau Jawa. Namun, konsumsi makanan laut tanpa diimbangi sayur-sayuran dan buah-buahan tidak terlalu bagus. Tidak ada keseimbangan antara karbohidrat, vitamin, kalsium, dan mineral.

Andi, siswa yang berasal dari Sorong, pernah bercerita kalau keluarganya sanggup menikmati olahan dari ayam hanya satu kali dalam tiga bulan. Harga ayam di sana sama sekali tidak terjangkau oleh orangtuanya yang hanya bekerja sebagai pekerja bengkel kecil. Akhirnya, makanan sehariharinya tidak jauh dari sagu dan ikan hasil tangkapan sendiri. Itu pun kalau ada. Kalau tidak, ya makan sagu saja ditemani garam.  Sungguh ironis!

Mungkin hal tersebut bisa dianggap wajar karena terjadi terhadap siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Namun, bagaimana kalau yang bercerita adalah siswa yang berasal dari Pulau Jawa? Kisah yang satu ini memang tidak saya dapatkan secara lisan; kisah ini berbentuk audio visual. Sedih saya ketika melihat sebuah video yang telah diunggah di salah satu situs penyedia video tentang keluarga Ahmad Darmansyah, salah satu siswa SMART yang telah meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam video yang berdurasi sekitar delapan menit itu, saya bisa melihat bagaimana perjuangan keluarga Ahmad dalam mencari nafkah. Orang tua Ahmad hanya seorang pengusaha tahu skala rumah (industri rumah tangga) yang pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari-hari, yang mungkin tidak pernah diperhitungkan kandungan gizinya. Boro-boro untuk menabung atau menyekolahkan anak-anaknya, untuk membeli bahan baku tahu saja ia kesulitan.

Di tempat lain, saya mendapat cerita yang disampaikan salah satu pengajar SMART.

“Ane kaget, ternyata Muhib bisa marah-marah terhadap orang tuanya waktu pulang kampung,” Ustaz Cipto memulai pembicaraan dengan saya. Ceritanya berisi cerita tentang salah satu siswa SMART angkatan 8 yang bernama Muhibudin.

“Kenapa emang?” saya menimpali.

“Dia memprotes ibunya karena membagi sebutir telur goreng menjadi empat bagian agar bisa dimakan bersama anggota keluarga lain. Padahal, di sekolah ia bisa mendapatkan sebuah telur yang utuh, diberi bumbu macam-macam pula!”

Saya tidak tahu harus menjawab apa lagi. Namun, kisah-kisah di atas tampaknya mewakili kondisi semua siswa yang memang berlatar belakang dhuafa ini. Gizi, ah, itu mungkin istilah asing bagi orang tua mereka di desa sana. Istilah yang sama sekali tidak pernah ada dalam memori ingatan mereka. Bisa membesarkan anak mereka sampai melewati tahap yang bernama bayi, anak-anak, remaja, atau bahkan dewasa itu sudah menjadi sebuah prestasi. Tidak peduli dengan terpenuhinya gizi atau tidak. Toh mereka “berhasil” mendidik anak-anak cerdas dan rendah hati, yang akhirnya terpilih dari ratusan anak Indonesia yang mendaftar di sekolah yang berlokasi di Parung, Bogor ini.

Kendatipun demikian, kadang-kadang, kondisi siswa yang “kurang gizi” ini menimbulkan pemandangan yang cukup unik. Salah satu pemandangan tersebut terjadi pada sebuah pertandingan futsal yang diselenggarakan SMART dalam rangkaian acara Olimpiade Humaniora Nusantara. Lomba yang sangat banyak peminatnya ini dikhususkan untuk siswa jenjang SMP atau sederajat. Salah satu pesertanya adalah tuan rumah sendiri, yang kemudian disebut tim SMART.

Di pertandingan pertama, tim SMART melawan salah satu SMP yang berasal dari daerah Parung. Yang menarik dalam pertandingan tersebut adalah adanya perbedaan yang sangat signifikan pada postur para pemain yang membela masing-masing tim. Siswa SMART, yang merupakan siswa jenjang pertama dan kedua, terlihat seperti para liliput di antara para pemain dari sekolah milik pemerintah tersebut. Sungguh seperti David dan Goliath. Bisa ditebak pemenangnya? Yang pasti siswa-siswa imut tersebut telah memberikan perlawanan yang maksimal meskipun akhirnya hanya mampu mencetak dua gol, berbanding lima gol dari kerja lawan. Lagi-lagi penyebabnya adalah gizi.

Itu semua berawal dari cerita yang disampaikan secara langsung atau tidak. Mau bukti yang lebih sahih? Datanglah ke sekolah kami. Lihatlah siswa-siswa yang masih di dua jenjang paling awal. Kulit mereka tidak hanya hitam, namun maaf, kusam, dekil, dan lusuh. Kulit tersebut membungkus tulang-tulang yang terlihat lebih dominan dibandingkan dengan daging. Daging tampaknya bersifat maya dalam tubuh mereka. Lemak? Dari apa mereka mendapatkan lemak jika daging saja tidak pernah mereka makan? Lebih parah lagi, rangkaian tulang dan selimut kulit tersebut memberikan aroma yang tidak pernah saya temukan sebelumnya. Bau yang hampir tidak bisa didefinisikan oleh indra penciuman saya. Bau yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata.

Cerminan dari ketidakmampuan pemerintah menjadikan warganya hidup layak sesuai dengan visi dan misi negara ini. Rasa syukur sudah selayaknya diucapkan oleh siswa-siswa cerdas tersebut. Lima tahun berada si sekolah ini, penampilan mereka berubah drastis, seperti sebuah jeans bolong yang baru saja dipermak. Bagaimana tidak, selain mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, mereka memiliki tim koki (yang kemudian lebih sering disebut pantry oleh pihak-pihak yang berada di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan) yang peduli terhadap kandungan gizi pada setiap masakan yang mereka masak. Tidak perlu pengetahuan yang mendalam tentang gizi ini. Saya bisa menyimpulkan hal ini dari realitas yang memang nyata. Buktinya? Menunya pun variatif. Ukuran lauknya besar-besar. Tidak jarang pula disertai dengan segelas es buah atau bahkan jus yang variatif pula. Sesekali bahkan disediakan susu dalam kemasan.

Meskipun sering dikeluhkan oleh siswa, masakan yang koki masak setiap harinya tidak pernah saya caci. Selalu nikmat di lidah dan tidak pernah membuat saya tidak berselera makan. Oleh karena itu, tidak perlu heran ketika melihat siswa SMART angkatan berapa pun ketika mereka telah menginjakkan kaki di kelas 5, kulit mereka semakin bersih, postur proporsional, dan yang pasti lebih wangi dibandingkan empat atau lima tahun yang lalu. Tidak bisa dimungkiri bahwa ada campur tangan tim koki yang peduli terhadap keseimbangan gizi para siswa. Maka, jangan pernah sungkan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Terima kasih koki! []