Jones Bermartabat

Oleh: Syafei Al Bantanie

 

Bila kau diejek teman-temanmu, “ATM aja bersama, kamu masih mandiri aja”.

“Sandal aja berpasangan, kamu masih jomblo aja”.

“Pantai aja memiliki ombak, kamu memiliki siapa?”

Maka, jawablah dengan mantap, “Jomblo itu layaknya bendera di atas tiang. Sendiri tapi dihormati dan ditinggikan”.

Kuncupku di Pojok SMART

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

Malam yang bunga
Jejak bulan di angkasa

Sekuntum bintang kecil
Seharum kerlip kantil

Di sini, tinggal mata menuju tua
Di sini, kuncup rindu senyap di dada

Way Halim, 2017

Sepilu hidup seperti paku

Kadang hidup terasa ngilu

Walaupun itu memang perlu

Agar hidup lebih berlaku

 

Sepilu hidup seperti paku

Menghadapi hidup penuh kelu

Walaupun kadang penuh tipu

Tapi hidup terasa seru

 

Arti Sebuah Perjuangan

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Guru Agama Islam SMART Ekselensia Indonesia 2010 – 2012)
Setiap orang pasti punya cerita kehidupan masing-masing yang sifatnya personal. Cerita tentang kuliah sambil kerja barangkali bukan hal baru. Banyak mahasiswa yang punya cerita kehidupan seperti itu.
Namun, bisa saja itu cerita kehidupan yang bermakna dan berkesan bagi seorang mahasiswa yang menjalaninya. Dibaliknya, ada cerita tentang bertahan untuk bisa kuliah dan kelangsungan kehidupan. Dibaliknya mungkin saja ada air mata perjuangan, yang bagi orang yang tidak mengalaminya, tidak bisa merasakan maknanya. Layaknya manisnya gula tak pernah sempurna dijelaskan, kecuali dengan merasakannya.
Dibaliknya, ada cerita tentang kesabaran dan keyakinan akan kebenaran janji Tuhan. Bahwa satu kesulitan diapit oleh banyak kemudahan. Bahwa ada janji pertolongan Tuhan usai kegigihan ditunjukkan.
Singkatnya, ini tentang arti sebuah perjuangan. Setiap perjuangan punya makna dan kesan personal. Tidak bisa dikatakan perjuangan si A lebih bermakna dan berkesan daripada perjuangan si B. Hanya ada satu kesamaan dalam perjuangan, yakni kemuliaan. Selebihnya, punya makna sendiri-sendiri (personal).
Siang tadi (2/11/2019), usai menyampaikan materi “Pemimpin Muda: Integritas dan Intelektualitas” di FIB Undip, saya dibonceng motor Vikram menuju sebuah cafe untuk makan siang dan janjian ketemuan dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia yang di Semarang (Undip dan Unnes).
Kejutan. Sosok pemuda yang membukakan pintu cafe dan mempersilakan masuk adalah anak muda yang saya kenal. Namanya Lazuda (alumni SMART Ekselensia Indonesia), angkatan X, mahasiswa semester III Fakultas Perikanan dan Kelautan Undip. Rupanya Lazuda bekerja di cafe tersebut. Inilah satu cerita perjuangan seorang Lazuda.
Vikram, mahasiswa semester V Fakultas Ilmu Budaya Undip, juga punya cerita perjuangan yang personal. Sampai saat ini Vikram berjualan pempek di kantin fakultasnya. Ini tentang menjaga izzah diri dari membebani oranglain. Ini tentang nilai diri seorang pemuda. Maka, cerita ini mengingatkan saya pada firman Allah,
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba [34]: 13).
Bekerja itu bentuk syukur. Syukur atas nikmat anggota tubuh. Maka, gunakan untuk bekerja, bukan meminta-minta. Hasil bekerja gunakan untuk nafkah yang diridhai-Nya. Ini bentuk syukur kita.
Dua cerita tentang Lazuda dan Vikram mengawali banyak cerita kehidupan dalam perjumpaan saya dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia di Semarang. Ujungnya tentang  kesamaan cita-cita berjuang bagi kejayaan Islam dan kemaslahatan umat.
Cerita-cerita kehidupan inspiratif ini akan terus diproduksi di inkubasi kehidupan bernama SMART Ekselensia Indonesia. Maka, berbahagialah orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Ilmu Komputer untuk Kebaikan Kami Semua

Oleh: Ari Kholis Fazari Guru TIK SMART Ekselensia Indonesia

 

Awal semester sebentar lagi akan dimulai,  tak ada yang berbeda masih sama seperti dulu ketika pertama kali saya berada di SMART Ekselensia Indonesia. Masing-masing anak di SMART mempunyai karakteristik berbeda, bahkan kemampuan tentang penguasaan teknologi juga berbeda; terutama kemampuan mereka tentang komputer khususnya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mata pelajaran yang saya ajarkan untuk anak-anak kelas 1 dan 2.

Saat memulai pelajaran pun jelas terlihat kebingungan mereka ketika berkenalan dengan komputer.

“Ustaz gimana cara nyalain TV-nya?” salah seorang anak bertanya kepada saya.

“TV yang mana, Dik?”

Anak tadi kemudian menunjuk ke monitor komputer. Itulah sebagian dari keawaman anak SMART ketika baru pertama kali masuk ke kelas komputer. Ketika pertama kali saya berada di sini, saya pun sempat kebingungan mulai dari mana saya harus mengajar. Sebabnya, masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berbeda tentang komputer, mulai dari yang benar-benar tidak tahu nama masing-masing hardware komputer sampai yang sudah tahu komputer. Apalagi, SMART mempunyai target yang cukup tinggi terhadap siswanya dalam hal penguasaan komputer.

Tantangan lain, sistem operasi komputer yang digunakan di SMART berbeda dengan sistem operasi komputer yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, yakni menggunakan open source software. Otomatis saya harus membuat sendiri administrasi pembelajaran mulai dari silabus sampai ke Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebab saya belum menemukan sekolah setingkat SMP yang belajar sistem operasi dan program-program yang sama seperti yang ada di SMART ini.

Ada suatu pengalaman yang tidak mudah saya lupakan ketika awal saya bekerja di sini sebagai guru komputer. Ketika itu, saya dihadapkan oleh komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswanya, dalam arti jumlah komputer yang bisa digunakan hanya separuh dari jumlah siswa yang ada. Terlebih lagi komputer komputer tersebut tampak sudah jadul di eranya. Jadi, secara otomatis banyak masalah ketika mulai digunakan oleh siswa yang notabene siswa kelas 1 yang masih belum mengerti sama sekali tentang komputer, apalagi pada saat itu warnet atau rental-rental komputer belum menjamur seperti sekarang ini. Ketika saya tanya sebagian siswa tentang pengetahuan komputer, hampir semuanya belum pernah memegang komputer sama sekali. Belum lagi ada beberapa siswa yang menangis ketika belajar komputer lantaran rindu dengan orangtuanya. Ketika itu saya bertanya pada diri saya sendiri, “Harus dimulai dari manakah semua ini?”

Saya pun berusaha mencari metode-metode yang sesuai untuk menangani hal ini, mulai dari mencoba sesuai dengan text book sampai dengan saya coba-coba sendiri. Pada akhirnya, saya mulai mengerti bahwa yang saya hadapi adalah anak-anak cerdas dan saya yakin mereka akan cepat belajar. Itulah yang muncul dari dalam hati saya sampai saat ini. Ketika saya berpikir mereka adalah anak-anak cerdas, maka saya akan semakin bersemangat untuk belajar dan belajar lagi.

Tidak terasa, tahun kelima akan dilalui para siswa SMART. Sesuai tradisi di SMART, setiap anak yang akan meninggalkan sekolah atau lulus dari sini mereka wajib mengerjakan Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS). Ada beberapa siswa yang membuat saya terharu ketika saya mengujikan KISS, karena judul KISS yang diajukan berkaitan dengan komputer. Ya, mereka mengambil topik seputar dunia komputer. Entah mengapa ada perasaan bangga ketika mereka lulus dari sidang KISS.  Segera saja saya teringat masa lalu mereka tatkala pertama kali mengenal mouse, keyboard, monitor, Linux, OpenOffice, sampai akhirnya ia dapat menganalisis kekurangan dan kelebihan sebuah sotiware komputer.

Dan tibalah saatnya mereka harus meninggalkan SMART untuk mengarungi dunia yang sesungguhnya. Momentum wisuda SMART menjadi pembuka semua itu. Pada saat prosesi wisuda, seperti angkatan sebelumnya, para siswa memberikan bunga kertas kepada guru- guru mereka. Ketika itu ada salah satu siswa memberikan bunga kepada saya. Padahal, saya sudah diberi bunga kertas oleh siswa yang lain. Tiba-tiba siswa itu datang dan memeluk saya sambil menangis.

“Ini buat Ustadz. Terima kasih, Ustadz, selama ini sudah membimbing saya, dan maatian saya….”

Setelah ia melepaskan pelukan, saya pun terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Apa sih yang pernah saya berikan pada mereka?”

Meskipun “hanya” mengajar komputer, saya juga ingin membangun harapan untuk mereka. Karena bagaimanapun juga, saya sudah menjadi bagian dari keluarga SMART yang berusaha mengubah senyum-senyum anak bangsa semakin lebar. Saya rasa, mungkin seperti inilah kebanggaan seorang guru, sebuah profesi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Semoga anak-anak didik saya itu bisa mengamalkan ilmu komputer yang didapat di kemudian hari untuk kebaikan.