Kamu Kudu Banget Tau Cara Menjaga Diri Dari Godaan Setan Sob!

 

Pacaran? Nggak dulu deh. Serius, pacaran itu unfaedah. Ini bukan sok alim atau sok suci, bukan pula karena nggak laku, melainkan berdasarkan fakta dan kenyataan. Memang nyatanya pacaran itu nggak ada manfaatnya, malah banyak mudaratnya. Tidak sedikit lho remaja dan mahasiswi yang terjerumus dalam zina karena pacaran. Miris setiap kali menerima konseling masalah ini. Kok bisa ya? Kalau sudah kejadian kehormatannya direnggut gratisan oleh pacar, baru deh nyesel dan nangis bombay. Sayangnya, penyesalan yang terlambat. Bunga sudah layu tak bisa dibuat mekar kembali. Kalaupun kamu tidak sampai terjerumus dalam hubungan seks, harga diri kamu juga sudah terendahkan. Karena, kamu sudah dipegang-pegang dan dicium-cium oleh pacarmu, seperti orang beli mangga. Sudah gitu, ujung-ujungnya putus. Terang saja kamu yang rugi, Sob. Seolah kamu tidak ada harga dirinya. Bisa diperlakukan seperti itu. Emang kamu mau digituin? Nggak ‘kan! Hormati dan sayangi dirimu dengan tidak pacaran. Pacaran hanya merendahkan perempuan. Tidak ada pacaran yang memuliakan perempuan. Kenapa? Karena, orientasi pacaran itu fisik. Banyak remaja dan mahasiswi pacaran alasannya untuk penjajakkan. Ia yang terjadi adalah penjajakkan fisik. Sudah didapat, ditinggal pergi. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Kurang ajar ‘kan? Makanya, kamu jangan mau jadi korban pacaran, Sist. Sudahlah putusin sekarang juga dan jangan pacaran lagi ya. Pada waktunya nanti, jika kamu sudah siap, menikahlah. Hanya dengan menikah kamu akan termuliakan.

 

 

Sudahlah jangan ngeles. Nggak ada pacaran yang sehat. Kamu mau ngomong gitu ‘kan? Pacaran sehat. Hehehe. Mana ada pacaran sehat? Ngawur orang yang berpendapat kayak gitu. Lebih ngawur lagi pacaran Islami. Waduh tambah kacau nih pola pikirnya. Emang kayak gimana pacaran Islami? Pacarannya di bawah tangga masjid gitu? Atau pacarannya sms-an ngingetin shalat dan ngaji. Hadeeuhh, itu cuma pembenaran  untuk melegalkan pacaran. Pokoknya nggak ada kompromi. Sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Titik. Yap, pacaran itu dilarang dalam Islam. Maka, sudah semestinya kamu menjauhinya. Islam melarang pacaran mesti ada hikmahnya, antara lain agar tidak ada celah masuk setan untuk menjerumuskan kamu ke perbuatan hina (zina).

 

 

Berpacaran berarti membuka celah masuk yang lebar kepada setan untuk menggoda dan menjerumuskan kamu dan pacarmu pada kemaksiatan. Ingat, setan itu super licik dan gigih buat menjerumuskan kamu dan pacarmu pada maksiat. Setan akan menyerang kamu dan pacarmu habis-habisan; dari depan-belakang dan kanan-kiri. Dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok kamu berdua. Kamu tidak akan dibiarkan lolos sampai terperangkap pada maksiat. Dada akan terasa bergemuruh karena bisikan setan yang terus berhembus. Apa kamu dan pacarmu bisa tahan? Sadarilah iman kamu masih tipis ‘kan? Hehehe… Karena itu, hindari berpacaran dan berdua-duaan dengan pacar. Jangan beri celah setan untuk menjerumuskan kamu pada zina. Boleh jadi kamu awalnya nggak ada niat, tetapi ketika kesempatan terbuka, setan menyerang habis-habisan, pacarmu juga terus mendesak, apa kamu kuat bertahan, Sist? Dari konseling yang saya terima, banyak remaja perempuan yang terjebak dalam perangkap zina. Okelah, saya anggap kamu bisa teguh menjauhi zina meski berpacaran. Namun demikian, pikirkanlah waktu produktifmu. Apakah dengan pacaran kamu bisa mengisi waktumu untuk kegiatan produktif? Nggak ‘kan. Malah, pacaran itu menghambat banget untuk pengembangan diri. Alasannya? Sederhana saja, waktumu akan habis tersedot oleh pacar. Mulai dari SMS/WA/DM IG nanyain kabar sampai merayu gembel eh salah maksudnya gombal. Berangkat dan pulang sekolah berdua, jalan-jalan berdua dengan pacar, wah banyak banget deh waktu kamu yang tersita. Eh ujung-ujungnya putus. Sudah banyak yang kamu korbankan, eh doi malah pacaran lagi sama cewek lain. Sakitnya tuh di sini (ngelus dada). Kok bisa? Ya, bisa sajalah. Lha wong, pacaran itu nggak ada ikatan hukumnya, nggak ada statusnya. Kamunya saja yang mau di PHP-in. Mau-maunya menjalin hubungan tanpa ikatan hukum. Mungkin kamu mau ngeles lagi, pacaran ‘kan dalam rangka mencari jodoh. Saya ingatkan ya, jangan pernah berharap mendapatkan jodoh yang baik dengan pacaran. Nggak akan pernah didapat. Bagaimana bisa mendapatkan sesuatu yang baik dengan jalan yang tidak baik. Pacaran bukan jalan yang disyariatkan agama untuk mendapatkan jodoh.

 

 

Mari kita pikir dengan saksama, dalam Islam, pernikahan itu sesuatu yang serius dan agung. Islam menyebutnya dengan mitsaqan ghalizhan (perjanjian yang berat). Ya, sejatinya orang yang menikah itu membuat perjanjian yang berat dengan Allah untuk menjalankan syariat pernikahan. Nah, sekarang kamu pikirkan jika ada seorang laki-laki yang bilang cinta padamu dan ingin menikah denganmu, tapi tidak berani melamarmu, hanya berani memacarimu, apakah cintanya benar dan serius? Kamu bisa jawab sendiri ya. Tanda laki-laki serius dan benar cintanya padamu adalah dia berani datang ke orangtuamu untuk melamarmu. Itu baru laki-laki yang serius dan benar cintanya. Kalau lelaki yang hanya berani menyatakan cinta dan memacarimu, tolak cintanya dan tinggalkan saja. Dia hanya ingin senang-senang denganmu. Makanya, beraninya memacarimu. Sudah banyak kok buktinya. Alih-alih mencari jodoh, yang terjadi malah kehilangan kehormatan dan harga diri. Serius, Sob. Sudah banyak lho remaja perempuan yang terjebak dalam pacaran yang melegalkan hubungan seks. Awalnya sih menolak, tapi karena terus didesak oleh pacar, akhirnya mau juga. Terjadilah dosa besar itu (zina). Dosa yang menghinakan kamu dalam pandangan Allah. Dosa yang menghalangi ibadah selama empat puluh tahun jika tidak ditobati dengan tobat nasuha. Kalau sampai kejadian seperti itu, coba kamu pikir masih mungkinkah kamu memperoleh jodoh yang baik? Kamu menikah dengan pacarmu yang sudah merenggut kehormatanmu? Iya, kalau dia mau tobat nasuha. Jika tidak, kamu hanya akan melewati masa-masa kelabu bersamanya. Jika sebelum menikah saja dia berani berbuat seperti itu kepada kamu, bukan tidak mungkin saat sudah menikah denganmu, dia melakukan hal yang sama kepada perempuan lain. Kalau sudah begitu, pasti rumit masalahnya. Karena itu, sekali lagi saya ingatkan, sebelum kejadian, lebih baik kamu jauhi pacaran. Kalau yang sudah terlanjur pacaran, segeralah putusin. Jangan sampai kamu jadi korban pacaran. Kamu sendiri yang rugi, Sist. Kerugiannya bukan sesaat, tetapi bertahun-tahun, bahkan bisa jadi sepanjang hidupmu. Tiada jalan lain bagi yang ingin mencari jodoh yang baik selain melalui menikah. Ungkapan dan ekspresi cinta yang tulus hanya bisa terwujud melalui pernikahan. Karena, dengan menikah, berarti kamu telah menjadi satu jiwa dengan pasanganmu. Alquran menyebutnya dengan ungkapan sangat indah, “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.” (Istri-istrimu pakaian bagimu, dan kamu pakaian bagi mereka).

 

 

Jelas sekali ‘kan? Kalau mau mencari jodoh yang baik, bukan dengan pacaran. Karena itu, jadilah jomblo bermartabat. Fokus saja menata masa depanmu. Terus mempersiapkan dan memantaskan diri untuk diberikan jodoh terbaik. Pada waktunya, ketika kamu sudah siap dan memantaskan diri, InsyaAllah jodoh akan bertamu ke rumahmu. Indah ‘kan?

 

 

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/pacaran-no-way/

Assalamualaikum. Selamat pagi Sob! Alhamdulillah ya kita masih dipertemukan dengan Senin yang cerah ini. Bagaimana liburan kalian? Semoga menyenangkan ya. Nah kami mau berbagi cerita dari Kak Ahmad Darmansyah, alumni SMART, yang penuh dengan pelajaran berharga. Yuk kita baca sama-sama.

Manusia Kodratnya Bergerak. Maka Bergeraklah Sob!

Oleh: Ahmad Darmansyah (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)   Desa. Apa yang terpikirkan dalam kata ‘desa’? Asri, indah, damai, tenteram? Kalau seperti itu, alangkah beruntungnya aku. Atau, justru terbelakang, marginal, terisolasi? Jika begitu, betapa kasih dan sayangnya Allah menakdirkanku sebagai anak desa. Terlahir di desa membuatku menjadi orang yang sederhana sekaligus tersederhanakan. Aku senang sederhana karena sederhana membuatku nyaman, tak banyak pikiran. Ya, apa yang harus dipikirkan jika untuk menanak nasi dengan tungku belaka? Atau, apa yang memusingkan jika hanya bermain congklak dan petak umpet? Apa yang memusingkan dan membebani pikiran? Tapi, hidupku harus beranjak. Aku perlu beranjak dari tempat satu ke tempat lain. Tak boleh tidak. Karena, kata ibuku, manusia kodratnya berpindah, bergerak, tumbuh. Maksudnya? Tak tahulah aku apa arti pastinya. Yang jelas, aku harus berpindah tempat. Maka, hidupku tak boleh selamanya sederhana. Oh bukan, tak boleh sepenuhnya sederhana karena aku masih senang sederhana. Tawaran berpindah pun datang. Takdir Allah datang berupa status menjadi siswa SMART Ekselensia Indonesia. Sekarang SMART Ekselensia Indonesia sudah dan akan tetap menjadi bagian besar dalam hidupku. Mengapa bisa begitu? Apa spesialnya? Aku jawab, ya 100%. Sebab, SMART telah banyak mengambil peran dalam hidupku. Satu hal terpenting yang SMART ajarkan kepadaku adalah bagaimana mengubah paradigma kesederhanaan itu. Saya tidak perlu menjauhi sederhana untuk sebuah perpindahan. Berkat rahmat Allah, dukungan dan doa dari orang-orang tercinta, aku bisa naik pesawat. Pesawat yang bahkan waktu kecil aku hanya bisa mendongakkan kepala ke atas untuk mencari di mana dan ke mana burung besi itu pergi. Tak jarang, hanya suara menderu dan silau sinar matahari yang aku dapatkan. Tiket pesawat itu aku raih setelah melewati dan memenangi sebuah kompetisi. Kata orang, sering kali momen pertama itu paling berkesan. Tapi, aku tak mau momen mengesankan naik pesawat menjadi momen menggelikan. Agar tidak terjadi, aku persiapkan baik-baik supaya semua lancar pada waktunya. Menurut Ustaz Mulyadi, guruku di SMART (sekarang beliau sudah tak memegang jabatan sebagai guru lagi), visualisasi itu penting. Visualisasi tentang apa yang ingin kita raih, tentang apa yang ingin kita lakukan pada masa mendatang. Aku pakai jurus itu, visualisasi. Visualisasi pertamaku adalah orang yang naik pesawat umumnya membawa koper. Sebenarnya aku lebih nyaman dan sreg memakai tas safari. Tapi, aku berpikir, aku tak boleh sepenuhnya lagi sederhana. Aku pun mencari teman yang berasal dari luar Jawa (karena mereka datang menggunakan pesawat yang biayanya ditanggung SMART). Target didapat. Eko namanya. Aku mencarinya di kamar Kairo. “Eko, pinjam koper lo dong?!” “Buat apa? Oh, buat ke Medan ya?” Tanyanya sambil tersenyum. “Hehe… Iya. Masak gue harus bawa tas? Koperlah!” “Oh, gitu. Ya sudah, tuh kopernya di atas lemari!” Aku pun mengambil koper itu. Ringan karena isinya mungkin kosong. “Kodenya?” Eko pun memberitahukannya, tapi sejurus kemudian dia berkata, “Tapi lo jangan ngomong ke siapa-siapa.” “Sip! Percaya deh sama gue!” Aku sesuaikan kodenya. Klik! Terbuka. Kopernya bersih, hanya beberapa bagian luar yang sedikit berdebu sehingga aku tidak perlu mencucinya terlebih dulu. Aku melihat-lihat koper tersebut. Ada tulisan nama pemiliknya, Eko. Hal pertama yang kulakukan adalah menutupnya dengan perekat ganda kertas. Selanjutnya, aku menuliskan namaku di kertas tersebut. Masih di kamar Kairo, aku duduk di kasur Eko, di sampingnya. “Pengalaman lo gimana?” Tanyaku. “Maksud?” “Ya, naik pesawat. Kasih gue gambaran dong!” “Oh, itu. Lo rombongan kan? Paling nanti diurus pendamping.” “Maksudnya?” “Ya, nanti kan dikasih tiket. Tiket nanti dikasihkan ke petugasnya, check-in. Terus, angkat barang-barang ke bagasi. Habis itu, lo dapat boarding pass, bayar airport tax, terus nunggu pesawat deh.” “Oh, gitu.” “Ya. Tapi, biasanya diurus sama dinas mungkin. Lo yang penting tinggal ikut, bawa barang, udah selesai.” “Thanks, Ko.” Aku kembali ke kamar, bersiap-siap untuk hari esok. Sambil memaket-maketkan barang, aku mengingat-ingat kata-kata Eko. Semua harus lancar, tanpa masalah. Hari H tiba. Aku dan rombongan sudah datang dan berkumpul. Kami memasuki bandara. Aku hanya mengikuti arus rombongan, dan yang penting percaya teman, percaya pada perkataan Eko tempo hari. Hanya ikut, bawa barang, selesai. Akhirnya benar. Setelah beberapa menit menunggu, aku memasuki pesawat. Semua lancar. Hanya saja, aku sedikit menyesal. Menyesal telah menghindari kesederhanaan yang selama ini aku senangi. Aku memilih jaket tipis yang terlihat modis daripada jaket tebal yang terkesan biasa saja. Sementara itu, di dalam pesawat pendingin ruangan sudah membuat banyak orang kedinginan. Kesederhanaan malah ditunjukkan seorang teman dari rombongan. Dia duduk di sebelahku. Dia telah membawa sarung sejak di ruang tunggu. Padahal, kalau dilihat dari sekolah asalnya, dia dapat dipastikan bukan anak orang sembarangan. “Yang penting nyaman, cuek aja!” Katanya. Aku tersadar akan makna penting dari kata ‘sederhana’. Sederhana bukan masalah seorang membeli barang mahal ataupun murah, modis atau kurang modis, bukan masalah kaya atau miskin. Sederhana hanya masalah tentang bagaimana kita nyaman, tanpa berpikir repot-repot segala urusan pernak-pernik yang menyertainya. Ternyata Allah telah menakdirkan yang terbaik bagiku sedemikian rupa. Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puja-puji syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu, ya Allah. Dzat yang telah mengirimku ke dalam kepompong ini. Kepompong yang membuatku bermetamorfosis demi masa depan yang lebih baik. Kepompong yang akan mengeluarkanku sebagai orang yang akan dan terus peduli dengan kemanusiaan. Kepompong bernama SMART Ekselensia Indonesia.  

Bakat Ngemsiku Tumbuh Berkat SMART!

Oleh: Rizki Idsam Matura alumni Angkatan 4 Nama saya Rizki Idsam Matura. Kata ‘matura’ dalam nama saya bukanlah nama marga atau nama keluarga, melainkan sebuah singkatan yang menurut penuturan Ibu adalah “Menyumbangkan Tenaga Untuk Rakyat”. Sebuah singkatan yang sangat berat untuk dipikul oleh seorang anak kampung yang sekadar bermimpi ke kota pun tak berani. Hingga suatu ketika mau atau tidak mau saya harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu hari, ketika asyik bermain kelereng, saya dipanggil Abang. Dia menanyakan apakah saya ingin melanjutkan pendidikan di luar Lampung. Sontak saya kaget. Bermalam semalam di rumah teman saja saya tidak berani, apalagi untuk tinggal dalam waktu lama di lingkungan yang tidak saya kenal.

Saya pun bertanya terlebih dahulu kepada Ibu, apakah saya diizinkan untuk pergi dan apakah saya kira-kira kuat untuk hidup tanpa didampingi keluarga. Dengan tenang, Ibu mengatakan kalau saya diizinkan. Beliau juga memberikan kepada saya kekuatan untuk berani merantau. Akhirnya dengan semangat menggebu-gebu saya mengiyakan ajakan Abang saya untuk sekolah di Jawa.

Tidak seperti yang saya perkirakan, seleksi untuk menjadi bagian dari sekolah itu sangat sulit. Selain itu, banyak peserta yang menjadi saingan saya. Seleksi awal yang dilakukan adalah seleksi administratif. Tanpa piagam, tanpa sertifikat, dan tanpa nilai yang menonjol, saya memberanikan diri untuk mengikuti seleksi awal. Satu-satunya kebanggaan saya adalah selalu menjadi tiga besar di kelas.

Alhamdulillah, saya berhasil lolos dalam tahap awal dan siap mengikuti seleksi bidang studi yang diadakan di Ibu Kota. Dalam seleksi inilah saya baru mengenal nama sekolahnya, yaitu SMART Ekselensia Indonesia. Ternyata, setelah bertanya lebih lanjut, saya mengetahui bahwa sekolah ini merupakan salah satu jejaring dari Dompet Dhuafa. Sebelum mengenal SMART, saya terlebih dahulu mengenal Dompet Dhuafa dari programnya yang ada di kabupaten saya, yaitu Kampung Ternak.

Setelah lolos tes bidang studi dan seleksi-seleksi tahap selanjutnya, saya diterima menjadi salah satu bagian dari Siswa SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4. Kelulusan saya ini menjadi cerita tersendiri di desa saya. Betapa tidak, dalam pengumuman tersebut disampaikan pula bahwa saya beserta teman-teman yang terpilih dari Lampung akan pergi dengan menggunakan pesawat.

Sehari sebelum keberangkatan saya, tepatnya pada malam harinya, di rumah saya diadakan syukuran untuk melepas kepergian saya. Dalam acara itu pula tetangga dan kerabat menitipkan nasihat-nasihat untuk saya ketika sudah hidup negeri orang.

Di SMART kami diizinkan untuk mengikuti berbagai ekstrakurikuler untuk menunjang kemampuan non-akademik kami. Ekskul yang saya ikuti adalah English Club, yaitu wadah bagi para siswa SMART yang tertarik untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Selain mempelajari teori-teori dalam kelas, kami juga sering mengetes kemampuan berbahasa Inggris kami dengan orang asing. Caranya? Bule hunting ke tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi turis asing.

Pengalaman bule hunting pertama yang saya ikuti bertempat di Monumen Nasional. Pada kesempatan itu, kami mencari sebanyak-banyaknya turis asing untuk diajak mengobrol. Karena kemampuan berbahasa Inggris saya saat itu tidak terlalu baik, saya lebih sering menjadi pendengar ketika teman-teman saya bertanya kepada bule-bule itu.

Selain sebagai ajang mempraktikkan secara langsung kemampuan berbahasa Inggris, bule hunting merupakan salah satu media kami untuk refreshing mencari udara segar di luar asrama. Maklum, kami hanya diizinkan keluar seminggu sekali. Walaupun begitu, kami tidak serta-merta memanfaatkan aktivitas ini untuk bersenang-senang tak bertanggung jawab karena kami diwajibkan membuat laporan kegiatan (dalam bahasa Inggris tentunya) dan menyerahkan kepada penanggung jawab ekstrakurikuler ini.

Selain bule hunting, sesekali kami menjadi narasumber di RRI Pro 2 Bogor dalam program English Service Programme yang merupakan program kerja sama dengan Dompet Dhuafa Pendidikan. Materi yang dibawakan tidak jauh dari kehidupan kami sebagai anak asrama, seperti suka atau duka menjadi anak asrama. Sesuai namanya, tentu saja kami harus menjawab pertanyaan pembawa acara dengan menggunakan bahasa Inggris. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan pada saat menjawab pertanyaan, kami melakukan briefing terlebih dahulu dengan pembawa acara.

Baik ketika kami mendengar program ini atau saat kami menjadi pembicaranya, kemampuan berbahasa Inggris kami sedikit demi sedikit meningkat. Seiring dengan peningkatan kemampuan berbahasa Inggris kami, kami dipercaya untuk menjadi penanggung jawab dalam acara-acara berbahasa Inggris yang diadakan sekolah. Seperti pada saat penyelenggaraan Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA), saya dipercaya untuk menjadi Koordinator lomba story telling. Atau ketika rombongan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris se-Indonesia di bawah Kementerian Agama datang ke sekolah kami, saya dan teman saya di English Club dipercaya menjadi MC di hadapan orang-orang yang sudah pasti mahir berbahasa Inggris. Grogi? Pasti. Tapi kami berusaha menampilkan yang terbaik sebagai tuan rumah. Hasilnya, kami diapresiasi oleh peserta.

Hal yang paling berkesan selama saya menjadi salah satu anggota English Club adalah ketika kami kedatangan tamu dari Negeri Ginseng, Korea Selatan, tepatnya dari sekolah-sekolah di Pulau Jeju. Mereka tergabung dalam Korea Youth Volunteer Programme. Ada dua tim yang dikirim dalam program ini, satu ke Garut dan satu lagi ke Bogor atau tepatnya ke SMART. Beruntungnya, karena sudah sering diberi tanggung jawab untuk menjadi MC dalam kegiatan berbahasa Inggris, saya dan teman saya kembali diberi kepercayaan untuk menjadi MC pada pembukaan dan penutupan program ini.

Pengalaman menjadi MC pada program ini merupakan pengalaman baru bagi saya, terlebih lagi secara tidak langsung saya membawa nama negara. Untuk itu, saya membutuhkan waktu berhari-hari demi mempersiapkan diri. Mulai dari pemilihan kostum, pembuatan run down acara, bahkan kami sempat dilatih Bahasa Korea demi suksesnya acara.

Pada pelaksanaannya, saya tidak hanya berperan sebagai MC yang membuka dan menutup acara, tetapi ikut serta pada program kerelawanan yang mereka lakukan. Selama pelaksanaan program tersebut, kami tidak hanya memperkenalkan dan mengajarkan budaya yang ada di Indonesia, tetapi juga sharing kebudayaan Korea dan Indonesia.

Transformasi Mengejutkan Siswa SMART Berkat Juru Masak

Oleh: J. Firman Sofyan, Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Disadari atau tidak, waktu terasa begitu cepat berada di SMART. Kala itu saya kembali bertemu dengan siswa angkatan 5 SMART Ekselensia Indonesia. Satu tahun saya tidak pernah bersama mereka secara formal di kelas, sekarang mereka telah lulus kuliah dan bekerja. Pertama kali mengajar di sekolah nonprofit ini, mereka masih kelas 1.

Di awal tahun pelajaran 2012/2013, saya memulai pertemuan dengan siswa kelas lima dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan terkait data diri siswa. Salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah “Berapa tinggi dan berat badanmu sekarang?”. Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan cepat dan tepat oleh siswa. Namun, nyatanya mereka membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk menjawab pertanyaan dasar tersebut. Ini bukti kalau ada masalah di sini. Pertanyaan lain adalah “Berapa pertambahan tinggimu dari kelas satu sampai saat ini?”.

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan mudah karena tinggal mengurangi tinggi badan sekarang dengan tinggi badan ketika pertama kali datang ke SMART empat tahun yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab di dalam sebuah kertas kecil. Sisa pertanyaan sepertinya tidak perlu saya deskripsikan di sini.

Jawaban siswa terkait pertanyaan kedua memang sangat bervariasi. Ada yang cuma 3,5 cm, 8 cm, bahkan ada yang mencapai 40 cm. Jawaban-jawaban tersebut menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa rata-rata pertambahan tinggi siswa adalah antara 20-30 cm. Saya pun dapat menyimpulkan bahwa ada pengaruh gizi yang berbeda yang siswa dapatkan ketika mereka di rumahnya masing-masing dengan di SMART. Perbedaan yang cukup signifikan dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertama kali tiba ke sekolah ini, tinggi mereka berkisar 125-160 cm. Angka terakhir pun sangat jarang ditemukan. Biasanya siswa yang tingginya mencapai angka tersebut adalah siswa yang sebelum diterima di sekolah ini telah bersekolah selama satu tahun di jenjang menengah (SMP).

Perbedaan ini seolah mempertegas cerita beberapa siswa terkait kondisi mereka di desanya. Salah satunya adalah menu makanan. Beberapa kali saya mengobrol dengan siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Obrolan terkait menu makanan mereka sehari-hari yang menurut mereka jauh lebih tidak enak dan tidak bergizi dibandingkan di SMART. Fatqur, misalnya, siswa yang berasal dari Banggai, pernah mengatakan bahwa jarang sekali bisa makan dengan nasi. Ia bersama keluarganya yang berdomisili tidak jauh dari pantai lebih sering makan ikan tanpa nasi. Sepintas sangat bergizi karena setiap hari bisa mengonsumsi ikan laut. Kemiskinanlah penyebab utama sulitnya mereka mengonsumsi nasi yang harganya bisa sama dengan harga satu sak semen di Pulau Jawa. Namun, konsumsi makanan laut tanpa diimbangi sayur-sayuran dan buah-buahan tidak terlalu bagus. Tidak ada keseimbangan antara karbohidrat, vitamin, kalsium, dan mineral.

Andi, siswa yang berasal dari Sorong, pernah bercerita kalau keluarganya sanggup menikmati olahan dari ayam hanya satu kali dalam tiga bulan. Harga ayam di sana sama sekali tidak terjangkau oleh orangtuanya yang hanya bekerja sebagai pekerja bengkel kecil. Akhirnya, makanan sehariharinya tidak jauh dari sagu dan ikan hasil tangkapan sendiri. Itu pun kalau ada. Kalau tidak, ya makan sagu saja ditemani garam.  Sungguh ironis!

Mungkin hal tersebut bisa dianggap wajar karena terjadi terhadap siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Namun, bagaimana kalau yang bercerita adalah siswa yang berasal dari Pulau Jawa? Kisah yang satu ini memang tidak saya dapatkan secara lisan; kisah ini berbentuk audio visual. Sedih saya ketika melihat sebuah video yang telah diunggah di salah satu situs penyedia video tentang keluarga Ahmad Darmansyah, salah satu siswa SMART yang telah meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam video yang berdurasi sekitar delapan menit itu, saya bisa melihat bagaimana perjuangan keluarga Ahmad dalam mencari nafkah. Orang tua Ahmad hanya seorang pengusaha tahu skala rumah (industri rumah tangga) yang pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari-hari, yang mungkin tidak pernah diperhitungkan kandungan gizinya. Boro-boro untuk menabung atau menyekolahkan anak-anaknya, untuk membeli bahan baku tahu saja ia kesulitan.

Di tempat lain, saya mendapat cerita yang disampaikan salah satu pengajar SMART.

“Ane kaget, ternyata Muhib bisa marah-marah terhadap orang tuanya waktu pulang kampung,” Ustaz Cipto memulai pembicaraan dengan saya. Ceritanya berisi cerita tentang salah satu siswa SMART angkatan 8 yang bernama Muhibudin.

“Kenapa emang?” saya menimpali.

“Dia memprotes ibunya karena membagi sebutir telur goreng menjadi empat bagian agar bisa dimakan bersama anggota keluarga lain. Padahal, di sekolah ia bisa mendapatkan sebuah telur yang utuh, diberi bumbu macam-macam pula!”

Saya tidak tahu harus menjawab apa lagi. Namun, kisah-kisah di atas tampaknya mewakili kondisi semua siswa yang memang berlatar belakang dhuafa ini. Gizi, ah, itu mungkin istilah asing bagi orang tua mereka di desa sana. Istilah yang sama sekali tidak pernah ada dalam memori ingatan mereka. Bisa membesarkan anak mereka sampai melewati tahap yang bernama bayi, anak-anak, remaja, atau bahkan dewasa itu sudah menjadi sebuah prestasi. Tidak peduli dengan terpenuhinya gizi atau tidak. Toh mereka “berhasil” mendidik anak-anak cerdas dan rendah hati, yang akhirnya terpilih dari ratusan anak Indonesia yang mendaftar di sekolah yang berlokasi di Parung, Bogor ini.

Kendatipun demikian, kadang-kadang, kondisi siswa yang “kurang gizi” ini menimbulkan pemandangan yang cukup unik. Salah satu pemandangan tersebut terjadi pada sebuah pertandingan futsal yang diselenggarakan SMART dalam rangkaian acara Olimpiade Humaniora Nusantara. Lomba yang sangat banyak peminatnya ini dikhususkan untuk siswa jenjang SMP atau sederajat. Salah satu pesertanya adalah tuan rumah sendiri, yang kemudian disebut tim SMART.

Di pertandingan pertama, tim SMART melawan salah satu SMP yang berasal dari daerah Parung. Yang menarik dalam pertandingan tersebut adalah adanya perbedaan yang sangat signifikan pada postur para pemain yang membela masing-masing tim. Siswa SMART, yang merupakan siswa jenjang pertama dan kedua, terlihat seperti para liliput di antara para pemain dari sekolah milik pemerintah tersebut. Sungguh seperti David dan Goliath. Bisa ditebak pemenangnya? Yang pasti siswa-siswa imut tersebut telah memberikan perlawanan yang maksimal meskipun akhirnya hanya mampu mencetak dua gol, berbanding lima gol dari kerja lawan. Lagi-lagi penyebabnya adalah gizi.

Itu semua berawal dari cerita yang disampaikan secara langsung atau tidak. Mau bukti yang lebih sahih? Datanglah ke sekolah kami. Lihatlah siswa-siswa yang masih di dua jenjang paling awal. Kulit mereka tidak hanya hitam, namun maaf, kusam, dekil, dan lusuh. Kulit tersebut membungkus tulang-tulang yang terlihat lebih dominan dibandingkan dengan daging. Daging tampaknya bersifat maya dalam tubuh mereka. Lemak? Dari apa mereka mendapatkan lemak jika daging saja tidak pernah mereka makan? Lebih parah lagi, rangkaian tulang dan selimut kulit tersebut memberikan aroma yang tidak pernah saya temukan sebelumnya. Bau yang hampir tidak bisa didefinisikan oleh indra penciuman saya. Bau yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata.

Cerminan dari ketidakmampuan pemerintah menjadikan warganya hidup layak sesuai dengan visi dan misi negara ini. Rasa syukur sudah selayaknya diucapkan oleh siswa-siswa cerdas tersebut. Lima tahun berada si sekolah ini, penampilan mereka berubah drastis, seperti sebuah jeans bolong yang baru saja dipermak. Bagaimana tidak, selain mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, mereka memiliki tim koki (yang kemudian lebih sering disebut pantry oleh pihak-pihak yang berada di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan) yang peduli terhadap kandungan gizi pada setiap masakan yang mereka masak. Tidak perlu pengetahuan yang mendalam tentang gizi ini. Saya bisa menyimpulkan hal ini dari realitas yang memang nyata. Buktinya? Menunya pun variatif. Ukuran lauknya besar-besar. Tidak jarang pula disertai dengan segelas es buah atau bahkan jus yang variatif pula. Sesekali bahkan disediakan susu dalam kemasan.

Meskipun sering dikeluhkan oleh siswa, masakan yang koki masak setiap harinya tidak pernah saya caci. Selalu nikmat di lidah dan tidak pernah membuat saya tidak berselera makan. Oleh karena itu, tidak perlu heran ketika melihat siswa SMART angkatan berapa pun ketika mereka telah menginjakkan kaki di kelas 5, kulit mereka semakin bersih, postur proporsional, dan yang pasti lebih wangi dibandingkan empat atau lima tahun yang lalu. Tidak bisa dimungkiri bahwa ada campur tangan tim koki yang peduli terhadap keseimbangan gizi para siswa. Maka, jangan pernah sungkan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Terima kasih koki! []

 

Aku Menemukanku di SMART

SMART? Apa itu SMART? Aku tidak tahu SMART itu apa, selain sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya cerdas atau pintar.

Ini adalah kisahku, seorang perantau asal Medan yang ingin menjadi kebanggaan orang tua di Medan.

Oleh: Rizky Dwi Satrio, alumni SMART Angkatan XI berkuliah di Universitas Sebelas Maret.

Hari itu, saat aku kelas 6 SD, tepatnya pada semester 2, aku mendengar kata “SMART Ekselensia Indonesia” dari guruku. Guruku bertanya padaku, “Apakah Satrio mau sekolah di SMART?” Dalam hati aku malah bertanya, “SMART itu sekolah seperti apa?” Sebelum aku mengutarakannya, guruku langsung menjelaskan hal-hal terkait SMART Ekselensia. Guruku sepertinya sudah tahu kebingunganku.

Setelah mendengar semua penjelasannya, aku pun tahu bahwa SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah berasrama yang didirikan untuk anak berprestasi namun orang tuanya kurang dalam finansial, dibangun oleh Dompet Dhuafa, dananya berasal dari zakat, sedekah, infak, dan lain-lain. “Ini kesempatan untukku,” kataku dalam hati dengan sedikit merenung. “Gimana Satrio?” tanya guruku. “ Oh iya, Bu, saya sih mau, tapi belum tentu dengan orang tua saya.” “Ya sudah, ini formulir pendaftarannya. Jika ayahmu setuju, bilang pada Ibu.”

Waktu terasa sangat lama hari itu. Padahal, aku ingin segera memberitahukannya kepada Ayah. Aku terus melihat jam sekolah yang putarannya terasa lama. Tapi, aku baru ingat kalau Ayah sedang bekerja dan biasanya pulang pada waktu maghrib.

Di rumah, setelah pulang sekolah aku memutuskan untuk tidur siang, agar tidak terasa lama menunggu Ayah datang. Kebetulan hari itu aku tidak ada jadwal mengaji, jadi aku bisa tidur.

Akhirnya, setelah lama menunggu, Ayah datang juga. Wajar saja aku sangat ingin memberitahukan hal itu pada Ayah. Pasalnya, aku dan Ibu sudah tak serumah lagi. Aku tinggal bersama Ayah. Ayah dan Ibu sedang mengurus perceraian mereka. Aku sangat sedih melihat keadaan keluargaku, melihat keduanya bertengkar. Aku sering menangis saat berdoa karena memikirkan keadaan keluargaku.

Setelah Ayah selesai mandi dan salat, aku langsung mengatakan informasi di sekolah tadi. “Yah, Ayah setuju tidak kalau Rio sekolah di SMART di Bogor?” “Sekolahnya jelas atau tidak ?” Ayah langsung bertanya. “Rio juga kurang tahu, coba Ayah telepon guru Rio”.

Ayah langsung menelepon guruku. Setelah selesai berbincang, Ayah berkata padaku, “Rio, kalau tekadmu sudah kuat, silakan kamu sekolah di sana, kalau urusan seleksi Ayah yakin kamu pasti lulus”.

Mendengar perkataan tersebut, jantungku langsung berdegup kencang dan mataku berair. Perasaanku antara senang dan sedih, aku tidak menyangka Ayah akan berkata seperti itu.

Bila benar aku diterima, aku sedih karena akan berjauhan dengan keluarga dan teman-teman. Tapi, di sisi lain, hati kecilku berkata bahwa aku tenang dan jauh dari kesedihan yang dialami keluargaku yang mulai hancur. Dengan pergi ke Bogor, aku akan jauh dari masalah dan juga perceraian orangtuaku. Saat itu aku benar-benar sangat sedih. Sebisa mungkin aku ingin pergi jauh dari rumah.

Hari demi hari berlalu aku lewati dengan perkataan Ayah yang selalu teringat di benakku. Sampai-sampai aku berpikir, apakah ini jalan yang terbaik untukku? Saat aku memikirkannya, aku dengan segera menepis jauh pemikiran galau itu.

Detik, menit, dan jam terus berganti, dan saat itu yang aku lakukan hanyalah persiapan untuk seleksi masuk SMART.

Mulai dari menambah jam belajar, berdoa, hingga ikhtiar penunjang. Semunya aku lakukan agar aku bisa mengerjakan soal saat tes nanti. Setelah aku sangat lama menunggu hingga berganti bulan, akhirnya hari untuk seleksi pun tiba. Seleksi pertama adalah tes tulis. Pesertanya telah dilihat nilai rapornya terlebih dahulu; jika nilainya di atas rata-rata, ia pantas untuk tes tulis.

Tes tulis itu diadakan di tempat yang cukup jauh dari rumahku. Jadi, aku bersiap pergi ke sana setelah Salat Subuh. Aku berangkat bersama Ayah mengendarai becak. Ayah memang penarik becak. Walaupun begitu, aku tidak pernah malu, bahkan aku selalu bersyukur.

Setelah cukup lama berkendaraan, akhirnya kami sampai juga. Tempat tesnya sebuah kampus. Aku bersegera masuk ke ruangan tes dan langsung duduk. Aku juga sempat belajar sebelum tes dimulai. “Tes akan segera dimulai!” ucap seorang panitia.

Tes yang pertama adalah pelajaran kesukaanku, matematika. Soalnya cukup banyak dan ada gambar pizza di salah satu soal. Aku tak menemui banyak kesulitan pada soal-soalnya karena aku sangat suka matematika, dan soal-soalnya pun sudah pernah kupelajari.

Tes yang kedua adalah bahasa Indonesia. Kali ini tugasnya adalah mengarang dengan tema “Sekolahku Masa Depanku” sebanyak satu halaman kertas dobel folio. Aduh, aku belum ada inspirasi saat mengarang. Akhirnya aku memutuskan untuk meletakkan pulpen di atas meja dan duduk bersandar sambil mencari inspirasi. Alhamdulillah, inspirasiku datang pada saat 30 menit sebelum tes usai. Jadi, aku memutuskan untuk menulis dengan secepat-cepatnya. Aku pun selesai tepat waktu dengan karanganku yang berjudul “Dengan Sekolah Masa Depanku Terbentuk.”

Tes yang terakhir adalah pelajaran Pendidikan Agama Islam. Soalnya tidak susah dan bisa kujawab dengan baik walaupun aku belum belajar. Akhirnya tes tulis usai, aku pun bergegas pulang. Aku tidak menaiki becak Ayah seperti saat aku pergi namun menaiki angkot. Di perjalanan ada beberapa orang yang menertawaiku karena aku memakai seragam sekolah di hari Minggu.

Sekitar dua minggu kemudian, aku pun mendapat informasi bahwa aku lulus tes tulis. Aku pun cukup senang dan bersyukur. Sebelumnya aku sudah yakin bahwa aku akan lulus tes tahap satu ini. Beberapa hari setelah pengumuman itu, aku harus tes lagi. Tapi kali ini berupa psikotes. Aku tak tahu apa-apa mengenai psikotes, jadi aku memutuskan untuk tidak belajar apa pun.

Aku pergi bersama Ayah menaiki becak. Hari itu aku memakai baju seragam SD, tapi aku yakin takkan ada yang menertawaiku karena hari itu bukan Minggu. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan lama, akhirnya kami pun sampai. Aku pun langsung memasuki ruang tes. Ternyata sisa peserta hanya tinggal tiga anak, salah satunya selain aku adalah siswa bernama Helmi (satu siswa lagi aku lupa namanya). Kami pun memulai tes tersebut. Tesnya cukup mudah karena seperti tebak-tebakan dan menguji kreativitas. Ada soal yang mengharuskanku untuk menggambar dan menghitung.

Setelah tes tersebut selesai, ada satu lagi yang harus kuikuti, yaitu wawancara. Mungkin wawancara ini salah satu bagian dari psikotes. Ketika giliranku diwawancarai, aku ditanya tentang latar belakang diriku

Sampailah pada pertanyaan yang membuatku sedih. “Hal apa yang paling membuat kamu sedih?” tanya si pewawancara. “Perceraian kedua orang tuaku,” jawabku dengan suara terisak. Aku pun tak bisa membendung air mata. Aku menangis dan menaruh kepala di atas meja. Aku terus menangis tanpa henti. Aku merasa itulah kejadian yang paling membuatku sedih dan tak bisa kulupakan selamanya. “Sudah jangan nangis lagi, sabar aja ya,” pewawancara itu menenangkanku.

Beberapa menit kemudian, wawancara pun selesai. Pulangnya aku diantar oleh Helmi dan ayahnya. Ternyata orang tua Helmi dan orang tuaku teman dekat. Di perjalanan mataku masih saja sembab karena aku menangis saat tes.

Aku lega karena rangkaian tes telah selesai. Hanya ada satu tahap lagi, yaitu home visit. Tapi, home visit tidak begitu melibatkan diriku. Benar saja, beberapa hari kemudian kunjungan ke rumahku dilaksanakan saat aku berada di sekolah.

Sekitar dua pekan setelah home visit dilaksanakan, aku mendapat SMS dari Ayah saat ia sedang bekerja. “Kamu lulus ke SMART”.

Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian, aku pun langsung sujud syukur atas kelulusanku. Sekarang aku sudah tak di SMART, sudah menjadi mahasiswa. Aku bersyukur Allah menakdirkanku untuk bersekolah di sini. Aku banyak mendapatkan pelajaran berharga di sini, aku mendapatkan teman dan keluarga baru, dan aku menemukan diriku. 

Mengajak Siswa Lebih Aktif Adalah Pembelajaran yang Luar Biasa

Bukan perkara mudah memadatkan materi Geografi kelas 5 IPS selama satu tahun menjadi hanya satu semester di SMART Ekselensia Indonesia. Kesulitan yang aku yakin hampir dialami oleh semua guru Geografi SMA, khususnya yang mengajar kelas XII IPS, karena akan menghadapi UN dan SNMPTN. Namun, inilah pembelajaran aktif dan menyenangkan yang justru akan lebih membantu siswa dalam memahami keterampilan pemetaan.

Hari itu cuaca cerah dan terik matahari menggetarkan semangat kami yang siang itu akan berjalan mengelilingi lingkungan sekolah. Aku bersama siswa kelas 5 siang ini akan melakukan praktik pemetaan untuk membuat denah sekolah. Ya, hanya membuat denah gedung sekolah. Tidak begitu luas memang, tetapi inilah pembelajaran agar siswa lebih memahami kondisi ruang tempat mereka tinggal dan beraktivitas.

Keterampilan pemetaan ini sangat dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memahami ruang. Misalnya saja ketika seorang siswa yang baru melakukan perjalanan tiba-tiba tersesat ataupun kebingungan tak tahu arah pulang. Atau ketika siswa kebingungan mencari tempat strategis untuk memasang mading sekolah.

Awal praktik pemetaan ini, aku membagi siswa menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok sudah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk pengukuran di lapangan, antara lain kompas bidik, meteran, busur, penggaris, dan alat tulis. Kecuali alat tulis, peralatan-peralatan tersebut dipinjam dari laboratorium sekolah kami. Keterbatasan peralatan (misalnya saja kompas yang cuma ada dua) tidak menjadi halangan dalam proses pembelajaran ini.

Tahap pertama, aku mengarahkan siswa menentukan titik pusat untuk membidik arah utara dan mengetahui sudut azimuth. Pada tahap ini, siswa dituntut untuk sangat teliti dalam melihat ukuran sudut di kompas karena akan sangat menentukan arah pengukuran selanjutnya. Jika terjadi kesalahan, maka gambar denah gedung sekolah tidak akan seperti bentuk aslinya. Titik pusat atau titik awal pengukuran dimulai dari tiang bendera, kemudian kompas diarahkan ke sudut titik selanjutnya.

“Oke, sekarang lihat jarum jam di kompas dan arahkan menuju arah utara.”

“Ustazah, kok saya menghadap sini arah utaranya? Beda sama Alif?” sahut Ruly.

“Gak mungkin, pasti sama. Coba posisi badan jangan berubah-ubah, pegangnya yang benar,” jawabku meyakinkan Ruly.

“1600… 1650… 1610… 400… 1600 lebih…” lapor beberapa siswa yang membidik dengan kompas.

“400? Rasanya tidak mungkin! Coba Ustazah lihat.”

Aku sebenarnya masih ingin meyakinkan bahwa alatnya dalam kondisi baik, tetapi ketika aku lihat ternyata benar kompas itu sudah rusak. Arah utara yang ditunjukkan salah. Padahal, kompas inilah yang pernah dibawa salah seorang ustadzah ke luar negeri untuk menunjukkan arah kiblat.

“Maaf, ya, tadi Ustazah gak percaya.”

“Tuh kan, Ustazah, saya benar kan?”

Aku tersenyum mendengar perkataan siswa tersebut. Di sekolah ini, sejatinya aku masih belajar. Belajar memahami diri bahwa menjadi seorang guru tidak selalu menjadi orang yang selalu benar. Aku harus terbuka, termasuk dengan siswa, terlebih siswa yang intelektualitasnya di atas rata-rata pandai seperti di SMART ini. Tidak perlu penjelasan banyak untuk memahamkan mereka pada sebuah materi, termasuk soal penggunaan kompas karena mereka lebih bersemangat belajar dengan melakukannya sendiri.

“Learning by doing… Ustazah!” celetuk sebagian besar siswa-siswaku itu.

Aku benar-benar melihat kesungguhan mereka dalam memahami apa yang belum mereka ketahui. Aku bukan hanya melihat sosok siswa-siswa biasa, tapi siswa yang ingin sukses. Aku lantas teringat dengan kata-kata salah seorang di antara mereka, “Ustazah, saya berani meninggalkan kampung halaman dan keluarga saya, maka saya juga harus sukses dan saya yakin saya sukses. Sukses sekarang, sukses juga masa depan saya!”

 

Tahap berikutnya adalah pengukuran jarak dengan meteran. Di sini dibutuhkan kerja sama yang apik agar pengukuran jarak sebenarnya bisa cepat dan tepat. Setelah pengukuran jarak, tahapan pertama dilakukan kembali, yakni membidik arah untuk titik selanjutnya dengan kompas dan terus dilakukan pengukuran jarak di lapangan. Begitu seterusnya hingga kembali ke titik awal, setelah mengelilingi gedung sekolah.

Kegiatan ini adalah kegiatan outdoor pertama yang aku lakukan sebagai pembelajaran untuk siswa. Aku jadi bisa melihat karakter siswa dengan lebih jelas, ada yang inisiatif, kreatif, sok mengatur, serius, dan cerewet mengoordinasikan teman-temannya. Meskipun demikian, aku lihat semua siswa mau bekerja sama, baik antarsiswa di dalam kelompok maupun siswa di luar kelompok. Bagaimanapun juga, pengukuran di lapangan, khususnya mengukur gedung sekolah, sangat mengandalkan kesolidan tim, terlebih lagi alat praktiknya terbatas.

Setelah semua pengukuran selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah menggambarkan hasil pengukuran di lapangan dengan skala tertentu. Di tahapan inilah siswa dapat memahami dengan baik peran skala peta dalam menggambarkan kondisi lingkungan asli atau ukuran sesungguhnya dengan perbandingan tertentu agar dapat digambarkan ke bidang datar yang memiliki ukuran terbatas. Masing-masing kelompok harus dapat menggambarkan ke bidang datar. Ukuran yang digunakan adalah kertas A4, dengan skala peta ditentukan masing-masing kelompok. Dari hasil akhir pengukuran akan terlihat, apakah bentuknya sudah sesuai dengan bentuk aslinya. Apakah sama bentuknya antarkelompok, atau apakah ada gambar denah yang tidak terbentuk karena pengukuran di lapangan kurang tepat sehingga penentuan skala peta pun tidak sesuai.

“Ustazah, kok gambarnya gak sama, ya?” cetus Sayfodin.

“Harusnya sama, kalaupun beda harusnya tidak terlampau jauh selisihnya,” jawabku.

Aku menghampiri kelompoknya, memastikan mengapa denahnya tidak sesuai. Beberapa menit kuperhatikan gambar dan datanya. Memang ada yang salah.

“Kami mengulang aja, Ustazah.”

“Tidak perlu, kalau sudutnya sama, bisa ditarik garis lurus saja.”

“Tapi data kami salah, Ustazah. Kami belajar jujur dong, Ustadzah.”

Tanpa dihiraukan lagi kelompok Sayfodin langsung mengulang pengukuran sudut dengan kompas. Dengan waktu yang terbatas, mereka berjanji dapat menyelesaikannya. Tak lama berselang, kelompok lainnya mulai mengalami kegundahan.

“Kok gak sesuai, ya, dengan skalanya?” salah seorang siswa dalam kelompoknya terheran-heran.

Kebenaran data yang didapat ketika pengukuran menjadi hal yang mutlak agar gambar yang diinginkan sesuai dengan bentuk aslinya. Mulailah mereka mengulang beberapa pengukuran. Sebenarnya mereka bisa saja memanipulasi data karena sudah terlihat bentuknya. Ini akan memudahkan mereka. Tetapi para siswa itu memilih untuk tidak melakukannya. Meski jam menunjukkan hampir pukul tiga sore, mereka tetap mengulang beberapa pengukuran yang dibutuhkan.

“Ayo, semangat! Tuntaskan… selesaikan semua dengan kejujuran!”

“Ustazah, kalo orang bikin peta, mudah saja, ya,berbohong? Buktinya, kalo kami mau, bisa saja kami berbohong. Mudah saja bagi kami untuk memanipulasi data,” ujar seorang siswa.

“Sangat mudah, bahkan dengan teknologi digital pun akan menjadi sangat mudah, tapi lakukanlah pekerjaanmu dengan hati nurani,” jawabku sambil tersenyum.

Alhamdulillah, melalui kejujuran, semua pekerjaan mereka selesaikan pada pukul 15.30, bertepatan dengan kumandang azan Salat Ashar. Mereka menyelesaikannya dengan baik walaupun yang digambar baru dengan pensil dan belum sempat dirapikan. Semua kelompok bentuk gambarnya sama.

Siang dan sore itu, aku memperoleh keyakinan bahwa pembelajaran yang mengajak siswa lebih aktif dan menyenangkan adalah pembelajaran yang luar biasa. Siswa bukan hanya memahami pelajaran sebagai kewajiban seorang pelajar, tetapi juga siswa dapat belajar dan melatih karakter-karakter yang baik seperti kerja sama, bersungguhsungguh, dan jujur.

———–
Pelan-Pelan Meredup
———–

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

 

Sekuat dan Sekokoh Teri

 

Ada keluguan dan kelucuan jika kita mau mengamati kelakuan anak-anak daerah yang bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Hal itu dapat ditemukan pada saat mereka melakukan aktivitas belajar, baik di asrama maupun di sekolah. Dua tempat itulah yang menjadikan tereksplorasikannya pengalaman menarik yang didapat dari hasil mengamati tingkah lakunya. Dua sisi keluguan dan kelucuan siswa pada tulisan ini didapat dari aktivitas mereka ketika berada di asrama.

Seperti yang tertulis pada program kerja satu tahun pengajaran SMART, target utama yang menjadi fokus kerja para guru dan wali asrama adalah keseimbangan antara pengetahuan yang berorientasi pada kognitif maupun yang mengoptimalkan peran motorik. Target proses yang bisa menjadi acuan dari para siswa adalah diperkayanya pengalaman belajar mereka. Pengalaman tersebut harus mampu menyatukan dua potensi kognitif yang berpadu dengan motorik sehingga dapat menghasilkan satu inside learning (hikmah) yang bermetamorfosis dalam tingkah laku, yang selanjutnya biasa diistilahkan menjadi satu sikap tingkah laku (afektif).

Dari sisi kognitif, bekal yang harus kita penuhi berupa wawasan guru yang baik. Hal tersebut dapat berupa wawasan pedagogik (pengetahuan mendidik) maupun wawasan profesional keilmuan (wawasan keahlian ilmu). Dua elemen pengetahuan tersebut akan berpadu membentuk sisi keragaman etos kerja dari kinerja dan dedikasi guru.

Sementara pengembangan dari sisi motorik, selain membutuhkan pembekalan strategi pengajaran dan variasi games, juga memerlukan asupan gizi yang layak dari setiap hidangan yang disajikan. Gizi makanan menjadi satu perhatian khusus yang tidak bisa ditinggalkan, baik pada saat makan pagi, makan siang, maupun makan malam.

Khusus untuk biaya makan di SMART; dalam satu hari, biaya yang harus dikeluarkan sebanyak Rp 3 juta untuk 175 siswa. Variasi makanan pun menjadi menu yang cukup bisa dinikmati di setiap harinya. Hal ini yang senantiasa digaungkan untuk menjadi satu kepedulian siswa, sebagai satu bentuk rasa syukur mereka. Bagaimanapun juga, mereka telah mendapatkan banyak nikmat: gedung sekolah yang representatif, makanan yang penuh gizi, guru yang baik, seragam, dan buku mata pelajaran. Semuanya didapat secara gratis alias tak perlu bayar sepeser pun!

Ada satu hal menarik yang pernah diungkapkan oleh salah satu siswa baru. Ketika baru dua minggu merasakan makanan di SMART, ia bertanya kepada saya.  “Ustaz Ahmad, waktu saya sekolah di SD dulu, saya diajarkan untuk selalu mengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Ada sayur mayur, daging, kacang-kacangan, buah, dan susu,” ujar siswa tersebut.

“Oh begitu. Jadi, di SMART ini kamu tidak merasakan apa yang kamu ketahui sewaktu di SD dulu?” tanya saya menerka arah pembicaraan si siswa.

“Alhamdulillah, Ustaz, semua sudah pernah saya rasakan. Tapi, yang sering saya rasakan sama teman-teman, jenis makanan yang menunya baru, Ustaz. Kandungan vitaminnya juga pasti akan dirasakan baru, Ustaz.”

Saya pun terkejut. “Masya Allah, menu makanan apa itu, Nak?”

Siswa itu pun menjelaskannya dengan sangat antusias.

“Di sini, Ustaz, makanan pagi, siang, dan malam, jika kita mau polakan selama satu Minggu, masakannya tak lain memiliki menu LIMA T Plus SATU B, Ustaz.”

Saya pun langsung menimpalinya dengan pertanyaan yang lebih spesifik lagi.

“Wah, makanan apa lagi itu, ya? Saya baru mendengarnya selama hampir empat tahun mengajar di sini, lho. Makanan apa itu, Nak?”

Siswa baru itu pun dengan sigap kembali menguraikan.

“Setiap kita makan selama hampir dua Minggu, menu lauknya tak jauh dari… toge, tempe, tahu, terong, dan teri rasa baja, Ustaz. Kenapa teri ada rasa bajanya, Ustaz?”

“Itu teri kok ada rasa bajanya? Kira-kira kenapa, Nak?”

“Iya, Ustaz, karena dimasaknya kurang matang atau setengah mentah. Itu ikan teri. Jadi, alot rasanya. Susah dikunyah!”

Saya berusaha bersikap bijak menghadapi siswa baru ini.

“Oh, itu maksud dari menu dan vitamin barunya, Nak.”

“Semua yang baru tidak selamanya baik buat saya, Ustaz.”

“Apanya yang tidak baik?”

“Jika kita selalu disuguhkan yang baru-baru,” terang siswa itu, “kita akan melalaikan yang lama-lama atau yang telah lalu. Dan itu yang tidak baik, Ustaz. Ayah kandung dan ibu kandung kita kan bukan orang baru. Mereka orang yang sudah lama menemani kita, membimbing kita, mendidik kita, masak mereka mau dilupakan, Ustaz? Itu yang pertama, Ustaz.”

Saya menyimak kata-kata siswa yang luar biasa ini.

“Ada lagi yang kedua, Ustaz. Kampung kita semua jenis budayanya, makanannya, ciri khas yang menjadikan rindu ini terus ada di dalam hati. Itu semua kan keunikan yang ada di masa lalu, yang memang tidak boleh kita lupakan, Ustaz?” Saya segera menangkap arah pernyataan penuh hikmah ini.

“Subhanallah, itu yang Ustaz maksud, Nak. Jangan pernah kita terlena dengan fasilitas yang ada, bahkan hati-hati dengan fasilitas yang ada. Jika kita tidak pandai mengaturnya, fasilitas itu akan menjadi penghambat semangat belajar kita. Kalau semangat sudah terhambat, yang muncul adalah sifat malas, acuh tak acuh dengan prestasi. Yang ada, tinggal kita yang ditinggal maju oleh teman-teman kita.”

“Saya paham, Ustaz. Saya juga paham kenapa ikan teri sengaja dibuat alot.”

Saya tercekat heran. “Kenapa, Nak?”

“Teri itu sengaja dimasak alot supaya kita punya mental seperti baja. Kuat, kokoh, dan tangguh dalam belajar.”

Saya mengacungkan jempol atas jawabannya.

“Anak cerdas!” spontan saya memujinya walau di dalam hati. Dan saya tidak lupa segera mendoakan kesuksesan baginya, baik di dunia maupun di akhirat. []

 

Selalu Ada Potensi Dalam Diri Siswa

Oleh : Uci Febria (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

 

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Zah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memerhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustadzah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Dzah?”

“Ustazah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Zah?” Siswa-siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustazah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustazah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Zah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustazah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Zah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauh-jauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustazah jadi siswa kan? Saya minta Ustazah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together.” Saya memimpin doa dalam bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang ,mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

 

Sebuah Kepercayaan Pada Siswa

 

Aku dipercaya untuk mengajarkan Bahasa Inggris di SMART Ekselensia Indonesia. Sebagai guru full time, ada tiga kelas yang aku ajar, yaitu 2B, 3A, dan 3B. Karena kelas 3A dan 3B bakal menghadapi Ujian Nasional (UN), aku harus membuat mereka siap. Semampuku aku membantu mereka untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, khususnya di pelajaranku. Pada try out pertama Diknas dilaksanakan, siswa-siswaku terlihat kurang siap menghadapinya. Hasilnya terbukti, sebagian dari mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata.

“Kamu kenapa bisa dapat nilai segitu? Emang soalnya susah banget?” tanyaku kepada salah satu siswa yang mendapatkan nilai terendah.

 “Gak tahu, Zah. Kami baru tahu ada try out itu pas paginya, dan kami belum belajar apa-apa.”

“Kok gitu? Kamu kurang cari informasi mungkin? Ayo nilainya ditingkatkan, nanti Ustadzah kasih bonus kalau sampai nilai kamu meningkat,” kataku mengimingi dengan menyebut sebuah merek wafer.

“Iya, Dzah, nanti mah saya serius ngerjainnya, saya bakal dapet 8, Zah.”

Aku tidak meragukan kemampuan mereka dalam menjawab soal try out, toh mereka adalah anak-anak pilihan. Aku hanya mengkhawatirkan kesungguhan dan keseriusan mereka dalam menghadapi ujian. Beberapa kali aku kurangi jam mengajarku hanya untuk menceramahi mereka agar lebih serius lagi dalam mengerjakan dan menghadapi try out. Sempat aku ingin menyerah dalam situasi seperti ini.

Tapi, aku tersadar, bukankah Allah tidak suka dengan orang yang mudah putus asa? Try out kedua pun dilaksanakan. Kembali aku khawatir dengan hasilnya. Namun, aku percayakan kepada mereka dan pastinya terhadap Allah.

“Semangat, ya… pasti bisa,” ucapku sebelum mereka masuk ruang ujian.

Mereka hanya tersipu, entah apa yang ingin mereka sampaikan.

Tidak Lama Kemudian, HASIL try out kedua keluar. Alhamdulillah, nilai mereka meningkat, dan sebagai penyemangat aku memberikan reward untuk mereka sesuai janji. Ini salah satu apresiasiku terhadap usaha dan kesungguhan mereka. Belum selesai kegembiraanku, try out ketiga siap menanti.

Salah satu usahaku untuk membantu mereka siap menghadapi UN adalah memberikan latihan-latihan soal. Setelah mereka menyelesaikan try out ketiga Diknas, selama tiga jam mata pelajaran (3×40 menit) kami membahas soalsoal di kelas 3A. Berhubung soal Bahasa Inggris ini banyak berupa teks, volume suaraku pun mengecil. Untungnya, seorang siswa mengerti keadaanku.

“Zah, biar saya bantu menjelaskan ya, tadi pagi kan kelompok saya sudah membahas soal yang ini waktu bimbel.”

Bimbel atau bimbingan belajar adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar jam pelajaran, dimulai sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 khusus untuk kelas 3. Aku hanya tersenyum melihat tindakan siswa ini karena biasanya ia suka membuat ribut di kelas dengan pertanyaanpertanyaan yang kadang tidak berhubungan dengan materi yang dibahas. Aku terima niat baiknya. Setelah membahas soal, aku memberikan PR yang harus dikumpulkan besok.

Keesokan harinya, aku mengajar kelas 3B. Jam pelajaran Bahasa Inggris dimulai setelah istirahat. Ketika aku dan siswa kelas 3B sudah di kelas, masih ada beberapa siswa kelas 3A yang singgah karena jam pelajaran selanjutnya belum dimulai.

Dan kesempatan ini pun aku gunakan untuk mengobrol bersama siswa kelas 3A. Aku mengumumkan siapa saja di antara mereka yang masuk ke dalam datiar Klinik Bahasa Inggris (salah satu program sekolah untuk menindaklanjuti anak-anak yang masih lemah dalam mata pelajaran Bahasa Inggris).

“Kamu, Ustazah masukkan ke klinik, ya?” Aku bertanya kepada siswa 3A yang membantuku menjelaskan soal dan jawaban kepada temannya di kelas.

“Iya, Ustazah,” jawabnya sambil tersenyum.

Mendengar jawabannya aku merasa ada yang beda karena biasanya bukan respons seperti itu yang ia berikan. Akan ada tawar-menawar terlebih dahulu sebelum ia mengiyakan pernyataanku.

“Kamu gak masuk ke lab komputer? Kan sebentar lagi kelasnya dimulai?” tanyaku lagi. Jarang-jarang ada siswa yang datang terlambat ke ruang lab komputer.

“Iya, Zah, nanti saja,” jawabnya dengan tatapan yang kosong.

Setelah mengajar aku pun menjalankan aktivitas seperti biasanya. Kemudian ditambah jadwal video conference (VC) yang biasanya aku lakukan seminggu dua sampai tiga kali. Video conference adalah program menghubungkan siswa SMART dengan anak-anak Indonesia yang bersekolah atau berkuliah di luar negeri, seperti di Kanada, Australia, dan Jepang. Mereka berbincang dan bersilaturahim melalui aplikasi Skype. VC dimulai dari pukul 16.00 sampai 17.00. Sambil mengawasi anak-anak melakukan kegiatan VC, aku juga menunggu PR kelas 3A yang mereka kumpulkan hari itu. Beberapa siswa kelas 3A bergantian mengumpulkan tugas mereka, tapi masih ada beberapa siswa yang belum mengumpulkan, mungkin karena lupa.

Di Rumah, Ketika Jam menunjukkan pukul 03.00 aku terbangun. Aku mendengar getaran ponselku yang terletak tidak jauh dari kepalaku. Ada pesan di WhatsApp grup para guru SMART. Betapa kagetnya aku begitu membaca isi pesan yang menyebutkan bahwa ibunda salah satu siswa kelas 3A meninggal dunia pada hari kemarin, tepatnya pagi hari. Rasa kagetku tak berhenti sampai di situ karena aku membaca bahwa yang meninggal adalah ibunda dari anak yang dua hari sebelumnya membantuku menjelaskan jawaban atas soal-soal yang sedang kami bahas. Ya, siswa yang ketika aku tanya tentang klinik, ia hanya menjawab iya dan tersenyum; anak yang ketika di kelas kadang bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran.

Seketika aku terdiam membayangkan wajah siswa itu, yang biasanya ceria dan sering berpendapat tentang apa pun. Aku membayangkan betapa pedih hatinya karena ditinggal ibundanya tersayang, bahkan sekaligus kehilangan calon adiknya yang masih berada di dalam kandungan sang ibunda. Saat itu juga aku berdoa agar hati dan jiwanya kuat menghadapi cobaan dari Allah dalam usia semuda itu.

Ingin rasanya waktu segera menunjukkan pukul 06.00 agar aku dapat langsung ke sekolah dan mengetahui keadaannya. Sayangnya, saat aku sampai di sekolah, anak itu ternyata sudah pergi ke  bandara menuju Batam, tempat keluarganya tinggal.

“Semoga ia diberi kekuatan dan keselamatan,” doaku dalam hati.

Kemudian aku menuju kelas untuk menyimpan tas karena setiap hari kami selalu melaksanakan apel pagi pada pukul 06.40. Sesampainya di kelas, kulihat ada kertas jawaban seorang anak yang mungkin diletakkan sekitar pukul 17.00 ke atas karena kemarin aku tidak menemukan apa-apa di atas mejaku. Aku tahu itu kertas jawaban siswa 3A yang harusnya dikumpulkan kemarin.

Setelah kulihat, ternyata di situ tertulis nama “Muhammad Ihda Alhusnayain”, anak yang baru saja ditinggal oleh ibundanya. Dalam keadaan bersedih ia masih berpikir untuk mengumpulkan tugasnya. Dalam keadaan terpuruk dan pasti sangat terpukul, ia masih merasa bertanggung jawab untuk memenuhi tugasnya karena ia tahu dirinya tidak bisa mengumpulkan tugasnya dalam tiga hari ke depan dikarenakan harus pulang menengok keluarganya.

Sekembalinya dari Batam tak banyak yang berubah dari Ihda. Dia tetap semangat menjalani hari-harinya walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Semoga setelah musibah ini Ihda tetap mempunyai semangat untuk menghadapi UN. Semoga anak ini tetap ceria, tetap aktif dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk ustaz dan ustazahnya, tetap tegar demi adik dan ayahnya, dan  yang pasti semoga ia tambah pintar. Begitu juga dengan siswa-siswa yang lain, khususnya kelas 3 yang semoga tetap diberi semangat dan kecerdasan agar mereka dapat melewati UN dengan baik dan lancar serta mendapatkan hasil yang terbaik.

Aku percaya pada anak-anak pilihan ini.