Sudah Saatnya Kita Belajar dari Abilitas Penyandang Disabilitas Sob

 

Oleh: Purwo Udiutomo

“Dia yang Mau Menerima Saya Apa Adanya!” judul tulisan dari salah seorang kawan tiba-tiba terlintas ketika aku menghadiri Grand Launching ThisAble Creative di Unpad Training Center. Tidak mengherankan, karena tulisan tersebut baru dikirim sehari sebelumnya. Tulisan mengenai berbagai penolakan dan pertanyaan sensitif yang mengiringi hidup seorang penyandang disabilitas. Sekaligus ungkapan kesyukuran atas hadirnya pendamping hidup dan keluarganya yang begitu tulus menerimanya. Tulisan dari seorang teman penyandang disabilitas yang begitu produktif menulis. Penulis novel ‘Sepotong Diam’ dan ‘Masih Ada’ sekaligus founder One Day One Post Community.

ThisAble Creative (TAC) merupakan sebuah gerakan sosial yang diinisiasi oleh penerima Dompet Dhuafa Pendidikan. Gerakan ini bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat difabel dalam memunculkan potensinya sehingga lebih mandiri dan dapat menciptakan inklusifitas di tengah masyarakat. Dalam acara grand launching bertemakan “Commemorate the Extraordinary” ini dilakukan penyerahan kaki palsu yang dibuat handmade oleh difabel dan untuk difabel, sharing inspirasi oleh para penyandang disabilitas, serta launching tas TAC yang dibuat langsung oleh para difabel.

Di tengah hiruk pikuk isu diskriminasi SARA terhadap para difabel seolah luput dari hiruk pikuk. Padahal para penyandang disabilitas sangat rentan terhadap tindak diskriminatif, bahkan tindak kriminal. Pelecehan dan diskriminasi yang kadang dirasakan oleh jomblowan dan jomblowati jelas jauh lebih ringan dibandingkan apa yang menimpa para penyandang disabilitas. Lingkaran setan kemiskinan berputar di sebagian besar para difabel. Mencoba memperbaiki nasib, akses terhadap pekerjaan terbatas. Hendak memutus rantai kemiskinan, akses terhadap pendidikan juga terbatas. Belum lagi terbatasnya akses fasilitas dan sarana layanan publik, ditambah berbagai stigma negatif yang dilekatkan kepada para difabel, menambah panjang daftar tindak diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas.

Berbeda dengan isu SARA yang kental nuansa keyakinan dan budaya yang dogmatis, diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas semestinya tidak perlu terjadi karena disatukan oleh isu kemanusiaan yang universal. Kesetaraan, saling membutuhkan dan saling membantu. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Artinya ketidaksempurnaan fisik tidak seharusnya menjadi pembeda. Sayangnya keangkuhan acapkali menghijabi kesyukuran, rasa gengsi kerapkali menutupi rasa empati, alhasil diskriminasi terus terjadi. Padahal dari penuturan para penyandang disabilitas, mereka tidak ingin diistimewakan. Mereka hanya ingin dimanusiakan, bukan sebagai orang cacat yang layak dihujat, bukan epidemi yang harus dijauhi, bukan komunitas terzholimi yang minta dikasihani, juga bukan bangsawan yang segala sesuatunya harus disediakan. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia. Peduli dan dipedulikan, mencintai dan dicintai.

Dan hari ini aku belajar banyak akan arti kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Salah seorang penerima kaki palsu sudah hapal lebih dari 5 juz Al Qur’an, ada juga juara paralympic yang sudah mengharumkan nama bangsa. Sementara mereka yang (katanya) ‘sempurna’ justru belum menorehkan karya apa-apa. Sekali lagi aku diingatkan bahwa setiap manusia dikaruniai kelebihan dan kekurangan. Ya, kekurangan hakikatnya adalah karunia jua, bukan aib. The extraordinary people bukanlah mereka yang tidak punya kekurangan, tetapi merekayang memiliki kekurangan namun bukannya menjadi kelemahan, namun justru menjadi kekuatan. Dan ternyata para penyandang disabilitas ini memiliki potensi yang luar biasa, menjadikannya memiliki abilitas yang tidak kalah dari para ‘penyandang non-disabilitas’. Allah Maha Adil, Dia melengkapi segala kekurangan dengan sesuatu yang setimpal…

I firmly believe that the only disability in life is a bad attitude” (Scott Hamilton)

Sob batik telah menjadi warisan budaya nusantara sejak dahulu kala, terutama di keraton Jawa. Kata “batik” sendiri berasal dari gabungan kata bahasa Jawa “hamba” dan “titik”, yang artinya menulis dalam titik. Awalnya membatik menjadi kegiatan pembinaan kerohanian bagi putra-putri keraton. Hal ini karena membatik memerlukan konsentrasi tinggi dan kesabaran sehingga bisa menuntun pada kebersihan jiwa.

 

 

Seiring berjalannya waktu, saat ini batik telah menjamur di penjuru nusantara dengan kekhasan corak masing-masing daerah. Batik Indonesia juga telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia pada tahun 2009. Prestasi tersebut diperkuat pada tahun 2014 saat Yogyakarta dinobatkan sebagai Kota Batik dunia.

 

 

Di dalam negeri, batik pun kian menguat menjadi identitas bangsa Indonesia. Pada satu dekade belakangan ini pemerintah gencar mewajibkan pemakaian batik sebagai seragam di banyak instansi baik negeri maupun swasta. Tentunya bukan karena coraknya yang menawan saja, namun diharapkan filosofi batik dapat merasuk ke dalam jiwa setiap anak bangsa.

 

 

Ya, batik adalah kita. Selamat Hari Batik Nasional!