Millenials Ooooo Millenials, Baca Ini Yuk

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

  • [1] http://jarvis-store.com/
  • [2] http://timorexpress.fajar.co.id/

Sebuah Peta Bernama SMART

Oleh: Wayan Muhammad Yusuf

Alumni SMART Angkatan 8. Saat Ini Berkuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Ilmu Ekonomi Prodi Ekonomi Islam.

 

Asrama. Sekolah. Asrama. Sekolah. Asrama lagi. Sekolah lagi. Yah begitulah keseharian kami di SMART Ekselensia Indonesia. Dikatakan bosan, gak juga. Tapi dibilang gak bosan, namun tak dapat digambarkan. Hampir lima tahun saya berada di SMART, selama di sini saya cukup mengerti arti jauh dari keluarga dan arti “terkekang” dalam aturan. Di tulisan ini saya tak akan bercerita tentang suka duka selama di SMART atau suka duka ketika jauh dari keluarga, melainkan tentang peta. Hah? Peta? Hubungannya apa coba? Ada, pasti ada.

Saya teringat cerita seorang guru, kata-katanya yang paling saya ingat adalah: “Nasihat (aturan) itu ibarat sebuah peta”. Tuh kan ada hubungannya sama peta. Lalu maksudnya bagaimana? Begini, SMART itu tak seperti sekolah lain pada umumnya dan kami yang ada di sini bisa dikatakan tidak seperti anak-anak di luar pada umumnya. Di sini kami harus taat pada aturan ini dan aturan itu. Terus kalo tak taat aturan dihukum? Paling dibotaki dan ujung-ujungnya dikeluarkan dari SMART. Eh lupa kok malah dijawab duluan. Saya lanjutkan dulu ya pesan guru saya: “Mungkin saat ini orang yang kita nasihati tidak mengikutinya. Ibarat orang akan terus berjalan tidak pada tempatnya, tapi apa yang membedakan antara orang yang dinasihati dan yang tidak? Bedanya –kalau misalnya- orang yang diberi peta ingin selalu berjalan pada tempatnya dan menjadi lebih baik, maka dia hanya perlu melihat peta tersebut. Berbeda dengan orang yang tak mempunyai peta, dia pasti bingung untuk mengambil jalan yang mana jika ia ingin berubah haluan.

Benar gak? Masih belum percaya? Saya paparkan beberapa pengalaman saya ya, saya mengenal seorang teman di SMART EI, di akhir semester ia menyatakan ingin berubah dan memutuskan untuk menghafal beberapa juz Al-Quran. Lalu kenapa dia memilih untuk menghafal Al-Quran? Jawabannya karena ia ingat nasihat yang disampaikan guru Al-Qurannya tentang keutamaan menghafal Quran, Quran itu diibaratkan peta yang akan membimbing kita semua ke jalan yang lebih baik. Dengan Quran juga kita takkan mudah tersesat karena Quran akan selalu memandu kita.

Sekarang sudah mengerti dong korelasi antara nasihat dengan peta? Di SMART mereka yang menurut akan aturan merupakan orang-orang yang mengikuti peta, mereka ingin menjadi lebih baik dan baik lagi walau mungkin terbersit perasaan jenuh. Sedangkan mereka yang dibotaki atau bahkan dikeluarkan dari SMART merupakan orang-orang yang tidak mengikuti atau bahkan menolak menggunakan peta.

Nah untuk adik-adik kelas saya di SMART, SMART bukanlah penjara; aturannya juga bukanlah kungkungan, walaupun terkadang aturannya terkesan “memaksa” namun dari sanalah kalian akan mampu untuk menggambarkan petamu sendiri walau mungkin saat ini kalian tidak mengerti, namun di masa depan pastilah sangat berguna.

Ingin Lebih Bermanfaat? Baca Tulisan Kakak Kelas Kami yuk

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, berkuliah di Universitas Diponegoro 2017

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu  harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa  pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama 5 tahun  untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut  tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima  manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada

disekitarku.

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan.  Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan  oleh SMART kepadaku.  Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

Berada di SMART selama 4 tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia  yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Al-Quran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadits tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Jampang mengaji salah satu cara agar aku dapat mengajarkan ilmu yang telah aku dapat kepada anak-anak disekitar Jampang dengan memberikan mereka pengetahuan tentang Al-Quran dengan baik dan benar.

Pada program Jampang Mengaji aku ditunjuk menjadi koordinator  selama enam bulan atau satu semester. Menjadi koodinator sekaligus pengajar Jampang Mengaji membuatku senang karena dengan begitu aku dapat menyebarkan ilmu yang telah didapat dari SMART kepada anak-anak disekitar Jampang.

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat melihat para peserta Jampang Mengaji  bersemangat dalam mempelajari  ilmu Al-Quran. Tentunya para pengajar merasa senang, terutama aku sebagai koordinator Jampang Mengaji. Saat para peserta mengaji dengan sungguh-sungguh dan ceria, bahkan ada beberapa peserta Jampang Mengaji yang sudah datang ke SMART pukul 14:00 WIB padahal kegiatan baru dimulai setelah asar.

Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain. Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika,fisika,bahasa, biologi atau yang lainseperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu.

Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar. Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

Duta Gemari Baca ini bertugas untuk menyebarkan informasi  tentang literasi kepada semua orang dan mengajak orang lain untuk senang membaca. Aku sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian dari Duta Gemari Baca yang dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Menjadi Duta Gemari Baca membuatku merasa menjadi orang yang berguna untuk mengajak orang lain mengenal dan menyukai literasi.

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

 

Mau Punya Karakter Mumpuni? Baca Ini Dulu Sob

Oleh: Aidil Ritonga

Umar bin Khathab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil 2 pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah SAW menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Kekhasan Pemimpin dan Generasi yang Mengikutinya

 

 

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, an sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.

Hoax Menghibur? Baca Di Sini Sob!

Oleh: Anisa Sholihat.

Duta Gemari Baca PSB Makmal Pendidikan, saat ini berkuliah di Fakultas Pendidikan Guru SD (UNJ). Kontributor SMART Corner

Pada zaman modern seperti saat ini, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sudah semakin maju. Proses penyampaian pesan dan informasi tidak hanya dilakukan melalui surat menyurat ataupun Short Message Service (SMS), melainkan dapat dilakukan melalui gadget dan media sosial yang mutakhir seperti Twitter, Facebook (FB), Instagram (IG), Whatsapp (WA) dan BlackBerry Messenger (BBM). Hal itu mengakibatkan melesatnya penyampaian informasi yang terjadi di masyarakat. Membludaknya informasi yang kita terima melalui media sosial merupakan salah satu bukti kemajuan teknologi. Sayangnya, kemudahan untuk mendapatkan informasi tidak selalu memberikan dampak positif, terselip pula beberapa dampak negatif seperti mudah tersebarnya berbagai berita bohong yang tidak jelas kebenarannya atau berita hoax.

Berita-berita hoax sangat mudah kita temui ketika sedang berselancar di dunia maya. Parahnya, berita tersebut amat mudah tersebar dan menjadi viral di kalangan masyarakat. Rendahnya sikap kritis masyarakat ketika mendapatkan berita, menjadi salah satu penyebab menjamurnya peredaran berita hoax. Berita yang diterima melalui media sosial, biasanya ditelan mentah-mentah, kemudian segera dibagikan kepada khalayak ramai.

Bagi sebagian besar orang, berita hoax dianggap sangat meresahkan dan mengganggu. Namun, bagi beberapa orang yang memiliki daya kreativitas yang tinggi, viralnya berita hoax di masyarakat dimanfaatkan untuk membuat akun parodi yang memuat berita-berita hoax yang menggelitik dan memancing tawa pembaca. Berita-berita hoax tersebut tentunya sangat tidak serius dan hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat, namun di sisi lain, mereka tetap meraup keuntungan, misalnya pendapatan dari iklan suatu produk karena viralnya berita yang mereka buat.

Berikut ini beberapa akun media sosial yang kerap mengunggah berita dan menyampaikan informasi yang tidak benar atau hoax dari sisi parodi yang tentunya sangat tidak serius dan menggelitik.

Liputan9

Akun Liputan9 merupakan akun parodi dari Liputan6 yang digagas oleh Federal Marcos dan diasuh oleh co founder Rahmat Saputra. Akun yang memiliki tagline kedaluwarsa, tumpul dan tidak dapat dipercaya ini dibentuk pada 14 Februari 2012. Latar belakang dibentuknya akun Liputan9 karena melihat peluang di mana saat itu belum banyak akun yang menyiarkan berita-berita parodi. Liputan9 hadir sebagai salah satu akun penyebar  berita parodi di sosial media. Tanggapan positif mereka terima dari masyarakat yang merasa terhibur, namun ada beberapa pihak yang kontra ketika membahas isu politik.

Selama lima tahun menggeluti akun Liputan9, tentu saja banyak sekali pengalaman dan suka duka yang tim Liputan9 rasakan diantaranya kebahagiaan karena mendapatkan keuntungan berupa invoice dari viralnya berita yang mereka buat serta iklan dari beberapa produk. Selain kisah bahagia, tentu terdapat pula kisah kurang menyenangkan, semisal, karya yang mereka buat diklaim oleh akun lain.

Berawal dari keisengan, kini, akun Liputan9 telah memiliki follower dalam jumlah fantastis, yaitu 868.000 pengikut di twitter, 9.000 pengikut di instagram dan 39.500 penyuka di LINE.

Contoh berita yang diunggah Liputan9:

“Perplocoan di dunia satwa, flamingo ini disetrap dengan mengangkat satu kaki.”

“Hormati bulan Ramadhan, Arsenal datang ke Indonesia dengan puasa gelar selama 8 tahun”.

“Harga bawang naik, Nia Ramadhani dan Revalina S. Temat sepi job”.

Rahmat Saputra, selaku co-founder liputan9, merasa sangat prihatin dengan banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial dan dapat membuat orang lain saling membenci dan bermusuhan. Lebih disayangkan lagi, menurutnya, hoax menjadi bisnis menggiurkan bagi pihak tertentu. Meskipun ia juga memanfaatkan momen viralnya berita hoax, namun liputan9 tidak memprovokasi ataupun memberitakan kabar yang dapat meresahkan masyarakat. Berita-berita hoax yang diunggahnya, tak lain hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat.

Berita Ngakak (@BeritaBodor)

Akun twitter Berita Ngakak (@BeritaBodor) dibuat pada 2011, setelah mengamati tren di kalangan anak muda. Seperti halnya Liputan9, akun Berita Ngakak pun menyajikan berita-berita parodi yang bertujuan menghibur pembaca, biasanya berita yang disiarkan berupa plesetan dari berita sungguhan.

Contoh berita yang diunggah Berita Ngakak di Twitter:

“Karena mata duitan, Tuan Crab ditangkap dan diperiksa KPK”

“Karena maraknya kebakaran akibat arus listrik hubungan pendek maka PLN akan merubah arus listrik jadi hubungan LDR.”

“Karena kebut-kebutan, jenazah di dalam mobil jenazah kini terbangun dan sopir mobil jenazah tersebut tewas karena terkena serangan jantung.”

Sampai saat ini, pengikut di akun twitter @BeritaBodor sebanyak 950.000 follower, sedang di instagram sebanyak 135.000 pengikut. Dengan followers sebanyak itu, bukan hal yang aneh jika mereka mendapatkan banyak sekali tawaran iklan dari berbagai produk. Dari situlah, mereka mendapatkan keuntungan.

Hiduplah Dengan Berani Karena Mati Hanya Sekali Sob

 

Panji Laksono, Presiden Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (KM) IPB tahun 2017 tercatat sebagai mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 50. Pria kelahiran 22 Mei 1996 di Desa Danau Salak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini merupakan salah satu penerima Beasiswa Aktivis Nusantara angkatan 2017.

Titik balik kehidupan seorang Panji dimulai pada awal kelulusan dari sekolah dasar (SD). Seorang guru menyarankannya untuk masuk ke Sekolah SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa yang terletak di Parung, Bogor, Jawa Barat. Dari sepuluh orang pendaftar yang berasal dari Kalimantan Selatan, Panji adalah satu-satunya siswa yang diterima di sekolah tersebut.

Kehidupan sekolah asrama tentu bukan perkara mudah bagi seorang anak yang baru lulus dari bangku SD. Sebagai siswa baru, Panji tidak diizinkan keluar dari asrama selama dua bulan. Ia pun hanya memiliki waktu 20 menit selama seminggu untuk menelpon keluarganya di Kalimantan. Dengan jadwal sekolah yang padat, perlahan Panji mulai terbiasa dengan kehidupan di SMART Ekselensia Indonesia. Ia pun hanya bisa pulang ke Kalimantan setiap satu tahun sekali pada liburan awal tahun, sedangkan liburan Ramadan biasa dihabiskan bersama keluarga donatur atau teman seasramanya.

Selama di sekolah, Panji aktif mengikuti kegiatan non akademik seperti Organisasi Siswa SMART Ekselensia Indonesia (OASE) atau biasa dikenal dengan OSIS dan tim perkusi sekolah. Ia pernah menjadi staf OASE sewaktu SMP, Menteri Keuangan, dan Presiden OASE sewaktu SMA. Baginya, pengalaman paling berharga didapat melalui tim perkusi sekolah. Ia pernah tampil di berbagai tempat, mulai dari kementerian hingga pemukiman kumuh. Di sinilah ia mulai belajar mengenai kehidupan bahwa dunia ini tidak sekadar tegakan pohon karet seperti di desanya di Kalimantan.

Perjuangan Panji untuk menjadi mahasiswa pun bukan perkara mudah. Panji mencoba semua kemungkinan untuk dapat diterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Ada tiga PTN yang saat itu menerimanya, hingga akhirnya ia menentukan pilihan pada IPB.

Pilihannya tidak salah, banyak pengalaman berharga yang Panji dapatkan selama menjadi mahasiswa IPB. Mulai dari menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU), Ketua Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) 51 dan 52, anggota BEM FMIPA, Ketua BEM FMIPA, dan kini menjadi Presiden Mahasiswa.

Alasan Panji memilih terjun di dunia aktivis cukup sederhana. Ia hanya ingin belajar sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan di dalam ruang kelas. Dengan menjadi seorang aktivis, banyak pengalaman dan kesempatan baru yang ia dapatkan. Contohnya ketika ia mengikuti Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut (LKMM-TL) belum lama ini. Pertemuannya dengan salah satu peserta LKMM mengubah cara berpikir Panji dalam membangun Indonesia.

Kembali ke kampung halaman merupakan impian seorang Panji. Ia ingin membangun usaha keluarga dengan memanfaatkan potensi lahan di daerahnya. Panji juga bermimpi untuk menjadi Kepala Desa di desanya. Ia percaya bahwa pembangunan harus dimulai dari lini terkecil yaitu desa. Indonesia tentu akan maju jika para pemudanya mau kembali dan membangun ke desanya masing-masing.

Inilah pembeda Panji dengan penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) lainnya. Kehidupan semasa sekolah asrama telah mengubah seorang Panji. Dari anak SD yang ‘cengeng’ menjadi remaja mandiri yang mampu tinggal di tanah Jawa seorang diri. Masa kampusnya pun diwarnai dengan banyak halang rintang. Tidak mudah memimpin kepanitiaan terbesar dengan jumlah peserta terbanyak di IPB selama dua tahun berturut-turut, yaitu MPKMB 51 dan 52.

Sebagai Presiden KM IPB, Panji bukan hanya bertanggung jawab dengan anggota BEM-nya saja tapi juga seluruh mahasiswa IPB. Ia mewakili suara mahasiswa dalam Majelis Wali Amanat (MWA) di IPB dan menjadi ujung tonggak perjuangan pada pemilihan rektor mendatang. Di tataran BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Panji merupakan representasi dari mahasiswa IPB serta menjadi penanggung jawab isu pertanian BEM SI bersama dengan teman-teman Kementerian Kebijakan BEM KM IPB.

Ada satu motivasi dari Kepala Asrama di SMART Ekselensia Indonesia yang masih dipegang teguh oleh Panji. ‘Hiduplah dengan berani karena mati hanya sekali.’ Panji menjalani kehidupannya dengan penuh keberanian sesuai dengan pesan Kepala Asramanya. Baginya, jika ada kesempatan untuk belajar, maka cobalah kesempatan tersebut. Karena setiap perjalanan hidup tentu terdapat pembelajaran di dalamnya.(MI)

Jeleknya Pacaran yang Kudu Kamu Ketahui Sob

Pacaran? No way. Serius, pacaran itu nggak ada manfaatnya. Ini bukan sok alim atau sok suci, bukan pula karena nggak laku, melainkan berdasarkan fakta dan kenyataan. Memang nyatanya pacaran itu nggak ada manfaatnya, malah banyak mudharatnya. Tidak sedikit lho remaja dan mahasiswi yang terjerumus dalam zina karena pacaran. Saya banyak menerima konseling masalah ini. Saya sangat miris setiap kali menerima konseling masalah ini. Kok bisa ya?

Kalau sudah kejadian kehormatannya direnggut gratisan oleh pacar, baru deh nyesel dan nangis bombay. Sayangnya, penyesalan yang terlambat. Bunga sudah layu tak bisa dibuat mekar kembali. Kalaupun kamu tidak sampai terjerumus dalam hubungan seks, harga diri kamu juga sudah terendahkan. Karena, kamu sudah dipegang-pegang dan dicium-cium oleh pacarmu, seperti orang beli mangga.

Sudah gitu, ujung-ujungnya putus. Terang saja kamu yang rugi, bro. Seolah kamu tidak ada harga dirinya. Bisa diperlakukan seperti itu. Emang kamu mau digituin? Nggak ‘kan! Hormati dan sayangi dirimu dengan tidak pacaran. Pacaran hanya merendahkan perempuan. Tidak ada pacaran yang memuliakan perempuan. Kenapa? Karena, orientasi pacaran itu fisik.

Banyak remaja dan mahasiswi pacaran alasannya untuk penjajakkan. Ia yang terjadi adalah penjajakkan fisik. Sudah didapat, ditinggal pergi. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Kurang ajar ‘kan? Makanya, kamu jangan mau jadi korban pacaran, Sist. Sudahlah putusin sekarang juga dan jangan pacaran lagi ya. Pada waktunya nanti, jika kamu sudah siap, menikahlah. Hanya dengan menikah kamu akan termuliakan.

Sudahlah jangan ngeles. Nggak ada pacaran yang sehat. Kamu mau ngomong gitu ‘kan? Pacaran sehat. Hehehe… Saya sudah banyak menerima curhatan remaja. Jadi, saya tahu ngelesnya remaja dengan menyebut pacaran sehat. Mana ada pacaran sehat? Ngawur orang yang berpendapat kayak gitu. Lebih ngawur lagi pacaran Islami. Waduh tambah kacau nih pola pikirnya.

Emang kayak gimana pacaran Islami? Pacarannya di bawah tangga masjid gitu? Atau pacarannya sms-an ngingetin shalat dan ngaji. Hadeeuhh, itu cuma pembenaran  untuk melegalkan pacaran. Pokoknya nggak ada kompromi. Sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Titik. Yap, pacaran itu dilarang dalam Islam. Maka, sudah semestinya kamu menjauhinya.

Islam melarang pacaran mesti ada hikmahnya, antara lain agar tidak ada celah masuk setan untuk menjerumuskan kamu ke perbuatan hina (zina). Berpacaran berarti membuka celah masuk yang lebar kepada setan untuk menggoda dan menjerumuskan kamu dan pacarmu pada kemaksiatan. Ingat, setan itu super licik dan gigih buat menjerumuskan kamu dan pacarmu pada maksiat.

Setan akan menyerang kamu dan pacarmu habis-habisan; dari depan-belakang dan kanan-kiri. Dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok kamu berdua. Kamu tidak akan dibiarkan lolos sampai terperangkap pada maksiat. Dada akan terasa bergemuruh karena bisikan setan yang terus berhembus. Apa kamu dan pacarmu bisa tahan?

Sadarilah iman kamu masih tipis ‘kan? Hehehe… Karena itu, hindari berpacaran dan berdua-duaan dengan pacar. Jangan beri celah setan untuk menjerumuskan kamu pada zina. Boleh jadi kamu awalnya nggak ada niat, tetapi ketika kesempatan terbuka, setan menyerang habis-habisan, pacarmu juga terus mendesak, apa kamu kuat bertahan, Sist? Dari konseling yang saya terima, banyak remaja perempuan yang terjebak dalam perangkap zina.

Okelah, saya anggap kamu bisa teguh menjauhi zina meski berpacaran. Namun demikian, pikirkanlah waktu produktifmu. Apakah dengan pacaran kamu bisa mengisi waktumu untuk kegiatan produktif? Nggak ‘kan. Malah, pacaran itu menghambat banget untuk pengembangan diri. Alasannya? Sederhana saja, waktumu akan habis tersedot oleh pacar. Mulai dari sms/wa/bbm nanyain kabar sampai merayu gembel eh salah maksudnya gombal.

Berangkat dan pulang sekolah berdua, jalan-jalan berdua dengan pacar, wah banyak banget deh waktu kamu yang tersita. Eh ujung-ujungnya putus. Sudah banyak yang kamu korbankan, eh doi malah pacaran lagi sama cewek lain. Sakitnya tuh di sini (ngelus dada). Kok bisa? Ya, bisa sajalah. Lha wong, pacaran itu nggak ada ikatan hukumnya, nggak ada statusnya. Kamunya saja yang mau di PHP-in. Mau-maunya menjalin hubungan tanpa ikatan hukum.

Mungkin kamu mau ngeles lagi, pacaran ‘kan dalam rangka mencari jodoh. Saya ingatkan ya, jangan pernah berharap mendapatkan jodoh yang baik dengan pacaran. Nggak akan pernah didapat. Bagaimana bisa mendapatkan sesuatu yang baik dengan jalan yang tidak baik. Pacaran bukan jalan yang disyariatkan agama untuk mendapatkan jodoh.

Mari kita pikir dengan saksama, dalam Islam, pernikahan itu sesuatu yang serius dan agung. Islam menyebutnya dengan mitsaqan ghalizhan (perjanjian yang berat). Ya, sejatinya orang yang menikah itu membuat perjanjian yang berat dengan Allah untuk menjalankan syariat pernikahan. Nah, sekarang kamu pikirkan jika ada seorang laki-laki yang bilang cinta padamu dan ingin menikah denganmu, tapi tidak berani melamarmu, hanya berani memacarimu, apakah cintanya benar dan serius? Kamu bisa jawab sendiri ya.

Tanda laki-laki serius dan benar cintanya padamu adalah dia berani datang ke orangtuamu untuk melamarmu. Itu baru laki-laki yang serius dan benar cintanya. Kalau lelaki yang hanya berani menyatakan cinta dan memacarimu, tolak cintanya dan tinggalkan saja. Dia hanya ingin senang-senang denganmu. Makanya, beraninya memacarimu.

Sudah banyak kok buktinya. Alih-alih mencari jodoh, yang terjadi malah kehilangan kehormatan dan harga diri. Serius, Sist. Sudah banyak lho remaja perempuan yang konseling langsung ke saya terjebak dalam pacaran yang melegalkan hubungan seks. Awalnya sih menolak, tapi karena terus didesak oleh pacar, akhirnya mau juga. Terjadilah dosa besar itu (zina). Dosa yang menghinakan kamu dalam pandangan Allah. Dosa yang menghalangi ibadah selama 40 tahun jika tidak ditobati dengan tobat nasuha.

Kalau sampai kejadian seperti itu, coba kamu pikir masih mungkinkah kamu memperoleh jodoh yang baik? Kamu menikah dengan pacarmu yang sudah merenggut kehormatanmu? Iya, kalau dia mau tobat nasuha. Jika tidak, kamu hanya akan melewati masa-masa kelabu bersamanya. Jika sebelum menikah saja dia berani berbuat seperti itu kepada kamu, bukan tidak mungkin saat sudah menikah denganmu, dia melakukan hal yang sama kepada perempuan lain. Kalau sudah begitu, pasti rumit masalahnya.

Karena itu, sekali lagi saya ingatkan, sebelum kejadian, lebih baik kamu jauhi pacaran. Kalau yang sudah terlanjur pacaran, segeralah putusin. Jangan sampai kamu jadi korban pacaran. Kamu sendiri yang rugi, Sist. Kerugiannya bukan sesaat, tetapi bertahun-tahun, bahkan bisa jadi sepanjang hidupmu.

Tiada jalan lain bagi yang ingin mencari jodoh yang baik selain melalui menikah. Ungkapan dan ekspresi cinta yang tulus hanya bisa terwujud melalui pernikahan. Karena, dengan menikah, berarti kamu telah menjadi satu jiwa dengan pasanganmu. Al-Qur’an menyebutnya dengan ungkapan sangat indah, “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.” (Istri-istrimu pakaian bagimu, dan kamu pakaian bagi mereka).

Jelas sekali ‘kan? Kalau mau mencari jodoh yang baik, bukan dengan pacaran. Karena itu, jadilah jomblo bermartabat. Fokus saja menata masa depanmu. Terus mempersiapkan dan memantaskan diri untuk diberikan jodoh terbaik. Pada waktunya, ketika kamu sudah siap dan memantaskan diri, insya Allah jodoh akan bertamu ke rumahmu. Indah ‘kan?

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/pacaran-no-way/

Saatnya Kita Belajar Untuk Belajar Sob

Oleh: Saiful Choirudin

Alumni SMART Angkatan 1

Assalamu’alaikum. Nama saya Saiful Choirudin, lulusan angkatan pertama SMART. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman berharga saya.

Sejak kuliah di Universitas Paramadina, saya sudah mengajar membuat kartun di SMP Islam Al- Syukro Universal, Ciputat. Di sana, saya mengajar ekstrakurikuler khusus untuk membuat dan belajar mengetahui apa-apa saja yang berhubungan dengan kartun. Saya tahu ada lowongan kerja sambilan di sekolah itu dari seorang ustadz yang sebelumnya pernah mengajar pelajaran bahasa Inggris dan juga menjadi kepala asrama di SMART yaitu Ustadz Heri Sriyanto.

Saya mengajar untuk satu tujuan yang besar, yaitu untuk belajar. Jadi, saya masih ingin belajar meskipun sudah bekerja. Hanya belajar dan belajar.

Setelah mendapat gelar S1, saya masih ingin belajar lagi. Saat itu, belum ada pikiran yang muncul tentang mencari kerja. Kalau teman-teman saya sudah banyak yang mencari lowongan pekerjaan, saya tidak. Saya masih ingin belajar. Seakan-akan hanya ada pemikiran tentang belajar saja. Saya mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Mahardika juga masih untuk belajar, tepatnya belajar bersyukur.

Mungkin kebanyakan orang menganggap anak-anak yang berada di SLB itu gila, jelek, kotor, dsb. Tetapi saya tidak. Saya menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah Swt. sebagai tempat untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua.

Di SLB sendiri ada banyak hal yang unik dan berbeda dari sekolah-sekolah biasa. Satu kelas di SLB hanya berisi 5-8 siswa. Berbeda dari sekolah biasa yang bisa menampung lebih dari 20 siswa untuk satu kelas. Ketika mengajar, harus ada tenaga ekstra untuk memerhatikan dan mengawasi para siswa. Apabila seorang pengajar lalai sedikit saja, salah satu muridnya bisa melakukan hal yang tidak baik.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya pernah mengajar menggambar dan saya sedikit lalai. Apa yang terjadi? Salah satu murid saya ada yang memakan krayon yang dipegangnya. Mungkin dia mengira bahwa itu adalah sebuah permen. Saya juga pernah diludahi ketika masuk ke sebuah kelas. Saya sudah terbiasa akan hal seperti itu. Apabila di sekolah biasa seorang pengajar bisa mengajar setiap hari, di SLB tidak bisa. Seorang pengajar biasanya hanya mengajar 3 kali dalam seminggu.

Ada hal unik lain di SLB. Salah satunya adalah para orangtua murid yang selalu bersemangat mengawasi anak-anaknya. Mereka bagaikan mesin penjaga 24 jam bagi anak mereka.

Anak-anak yang bersekolah di SLB memang memiliki banyak kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, tersimpan banyak hal yang kadang tidak dimiliki oleh orang biasa.

Bangunlah Pemuda!

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.