Soleh Ingin Salat Berjamaah

Syamsumar (Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia)

 

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.15. Saya sedang duduk di kantor asrama Daarul Ilmi sambil mendata dan mengecek kartu izin siswa yang keluar hari itu. Kemudian saya bermaksud ingin menyalakan muratal sebagai tanda persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.

Semua aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan persiapan shalat berjamaah harus dihentikan. Ternyata salah seorang wali asrama yang lain sudah menyalakannya terlebih dahulu. Saya pun langsung pergi menuju tempat para siswa biasa menyaksikan televisi. Di situ saya melihat mereka sedang asyik menikmati salah satu siaran yang tampaknya tengah seru-serunya. Ada siswa yang tersenyum, ada yang tertawa, bahkan ada juga yang bercanda ria sambil mengikuti ekspresi sesuai yang mereka saksikan. Saya lantas ikut tersenyum sambil mengingatkan mereka.

“Sekarang sudah waktunya untuk melakukan persiapan shalat berjamaah. Silakan TV dimatikan.”

“Sebentar lagi, Ustaz. Kalau sudah iklan ya!” sahut sebagian siswa.

Saya pun menunggu dengan sabar sambil mengingatkan siswa yang lainnya yang ada di setiap kamar. Di salah satu kamar saya mendapatkan ada siswa yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca buku yang ada di tangannya. Saya pun mengingatkannya untuk melakukan persiapan Salat Magrib berjamaah.

“Buku apa yang sedang kamu baca?” tanya saya.

“Komik. Memangnya kenapa, Ustaz?” siswa itu balik bertanya, tapi tak lama kemudian meneruskan bacaannya.

“Tidak apa-apa,” jawab saya.

“Baiklah, sekarang sudah waktunya mandi dan persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.”

“Kenapa kita harus shalat berjamaah di masjid, Ustaz?” tanya siswa bernama Sholeh.

“Shalat berjamaah pahalanya lebih besar dibandingkan salat sendiri.”

“Tapi bukankah di kamar kita juga bisa melakukan salat berjamaah?” sergah Sholeh tidak puas.

“Betul, tapi alangkah baiknya kita salat berjamahnya di masjid.”

Siswa yang sama masih menunjukkan ketidakpuasan atas jawaban saya. “Tapi, pahala jamaahnya sama saja kan?”

“Beda! Kalau kita salat berjamaah di masjid setiap langkah kita menuju masjid akan dihitung pahalanya oleh Allah Swt, begitu pula saat kembali dari masjid. Apalagi kita tinggal di salah satu lembaga tempat kita harus mengikuti disiplin dan menaati peraturan-peraturan yang ada.” Sholeh menyimak kata-kata saya tanpa menginterupsinya.

“Sebagai manusia,” lanjut saya, “kita harus ingat bahwa hidup ini tidak terlepas dari disiplin, kapan pun dan di mana pun kita berada. Jangankan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sekalipun harus hidup berdisiplin. Kalau tidak, ia akan mati. Lalu lintas juga ada disiplinnya, ada peraturannya. Kalau tidak diikuti, maka akan celaka, akan saling bertabrakan. Apalagi manusia, apa jadinya kalau hidup tanpa disiplin?”

“Benar, Ustaz. Terima kasih atas masukan dan sarannya.” Saya tersenyum senang. Anak-anak seusia Sholeh memang terkadang suka unjuk diri; semata untuk memenuhi keingintahuan atau bahkan membutuhkan perhatian dari orang dewasa di lingkungan sekolah atau asrama.

“Baik, sekarang silakan kamu mandi dan siap-siap untuk Salat Magrib berjamaah.” Anak itu pun menutup komik yang dipegangnya sedari tadi. Ia bersiap untuk beranjak ke kamar mandi.

“Baik, Ustaz!”

Kamu Berapa Watt?

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis, Alumni SMART Angkatan IX

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.

 

 

 

“Guru pendidik sejati yang tak pernah letih berbagi”

 

Kiprah guru memang tak perlu dipertanyakan lagi. Namun di kala pandemi kegigihan guru diuji. Belum lagi mereka harus mengatasi kegagapan dalam proses penyesuaian kegiatan belajar mengajar dari kelas menuju daring. Tak ayal hal ini membuat para guru kesulitan dan harus berjuang lebih keras untuk cepat beradaptasi dengan teknologi serta bergumul dengan masalah keterbatasan siswa sampai sinyal telekomunikasi.

 

Lalu bagaimana guru menyikapi ini semua?

 

Temukan jawabannya dalam Press Conference spesial Hari Guru Nasional bertajuk “Berkualitas Meskipun Terbatas: Kiprah, Perjuangan, dan Pemaksimalan Guru Selama Pandemi” yang diadakan Dompet Dhuafa dan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional).

 

Menghadirkan:
– M. Syafi’ie el Bantanie, Direktur Pendidikan Dompet Dhuafa
– Ahmad Fikri, Kepala Divisi Pendistribusian BAZNAS
– Agung Rakhmad, Guru dan Aktivis Sekolah Guru Indonesia (SGI)
– Helmi Nursirwan, Wakil Kepala Sekolah Cendikia BAZNAS

 

Catat tanggal dan jamnya berikut ini:

🗓 Rabu, 25 November 2020
⏰ 10.00 WIB
🔴 Live streaming di Channel Youtube BAZNAS TV dan DDTV

 

Jangan lewatkan acara ini karena akan ada pengumuman pemenang lomba hari guru dan kuis interaktif mini konser.

 

Bersama guru, kita bersamai kemajuan pendidikan bangsa!

 

Jakarta – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh setiap 25 November merupakan momentum menguatkan peran besar guru sebagai nahkoda kemajuan bangsa yang memiliki peran strategis untuk mengoptimalkan potensi generasi penerus bangsa. Eksistensi guru menjadi kunci agar kegiatan belajar mengajar daring bisa terlaksana dengan baik, sebab itulah penting sekali mengapresiasi dedikasi tinggi mereka.

 

Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras guru di seluruh Indonesia, Dompet Dhuafa dan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) mengadakan ragam kegiatan untuk memperingati Hari Guru Nasional. Menggadang tema “Berkualitas Meskipun Terbatas” peringatan Hari Guru Nasional ini diramaikan Lomba Ucapan Terima Kasih Guru dengan peserta orang tua murid (dari jenjang SD hingga SMA dari seluruh Indonesia), Lomba Guru Heroik untuk para guru (dari jenjang SD hingga SMA di seluruh Indonesia), dan penggalangan dana yang dikemas dalam bentuk Mini Konser bertajuk ”Terima Kasih Guru” dengan menggandeng Samsons, Fauzan Daulay, Is Pusakata, Umaru Takaeda, dan Sharfira Umm yang disiarkan langsung melaui kanal Youtube BAZNAS TV dan Dompet Dhuafa TV pada Sabtu (21/11) lalu.

 

Hasil penggalangan dana nantinya akan didistribusikan kepada para guru dalam bantuan berupa alat penunjang dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan tematik.

 

 

Menurut Ahmad Fikri, Kepala Pendistribusian BAZNAS, pelatihan guru akan diintegrasikan dengan area Zakat Community Development yang akan berfokus di sepuluh titik. “Lubuk Bangkar, Toraja, Bedono, Kebon Manggis, Kampung Cibuluh,  Cemplang, Sambik Elen, Palalangon, Tuva, dan Sukaindah Bekasi, akan menjadi titik utama distribusi bantuan dari masyarakat,” terang Fikri.

 

Sedangkan Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, M.Syafi’ie el Bantanie, menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa akan berfokus pada lokasi penempatan guru Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang mencakup beberapa titik di pelosok nusantara seperti, Buton, Dompu, Bombana, Sambas, Belitung, Lebak, Pandeglang, Halmahera Utara, Nunukan, Sumbawa Barat, Kuburaya, Polewali Mandar, Gorontalo, Muna dan Wakatobi. “Di titik-titik inilah para guru berjuang untuk menciptakan pembelajaran terbaik meskipun terhimpit keterbatasan,” tuturnya.

 

Sinergi antara Dompet Dhuafa dan BAZNAS sebagai lembaga yang peduli pada masalah serta perkembangan pendidikan, memiliki visi misi yang sejalan dengan semangat dan pengabdian guru di Indonesia. Dua lembaga zakat terbesar di Indonesia ini berkomitmen memberikan bantuan dalam peningkatan kualitas pengajaran sehingga mampu mencetak pendidik yang berkepribadian cerdas secara spiritual, sosial, dan intelektual, selain mempunyai profil yang sangat baik.

 

Diharapkan kolaborasi kebaikan antar Dompet Dhuafa dan BAZNAS mampu membuat guru dan tenaga kependidikan lainnya bisa terus berjuang membersamai kemajuan pendidikan bangsa.

 

 

Narahubung:

BAZNAS: Sri Nurhidayah  0812 13876 08

Dompet Dhuafa: Akhie 0821-1075-4717

Oleh: Ervan, Guru SMART

 

Hari ini adalah Guru Nasional. Hari para pendidik se-Indonesia, yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat yang sungguh luar biasa. Hari yang mengapresiasi peradaban tujuan hidup manusia di bumi yaitu belajar selagi hidup.

 

Selamat hari guru…

 

Pendidikan merupakan investasi yang penting dan membutuhkan waktu yang lama. Produk konkret belajar adalah perubahan diri pada civitas akademika. Bukan benda, bukan uang dan bukan jabatan, namun proses belajar yang lama itu menghasilkan karakter, sikap dan kedudukan yang baik di hadapan manusia dan hadapan Tuhan, Allah Yang Maha Esa.

 

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa belajar, Nabi Muhammad saw. pernah menyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib. Kewajiban untuk belajar berdampak terhadap peningkatan proses tumbuh dan kembangnya setiap diri manusia. Logikanya manusia semakin berilmu maka semakin bijak.

 

Selamat hari guru…

 

Tahun 2020 memang berbeda, berbeda dalam situasi dan kondisi kehidupan hingga saat ini manusia memasuki masa gelombang kedua Pandemi Covid-19. Covid-19, makhluk mikroskopis ini memberikan ilmu pelajaran yang sangat berguna. Di HGN ini, kita jadi belajar bagaimana menjaga kebersihan diri, kebersihan fisik, kebersihan lingkungan dan kebersihan pola hidup manusia. Covid-19 mengajarkan manusia untuk mencuci tangan dengan sabun, kebiasaan yang jarang bagi kita manusia untuk bersikap bijak dalam menjaga kebersihan makanan dan tangan kita.

 

Covid-19 juga mengajarkan kita untuk menghargai arti sehat. Kesehatan sungguh berharga untuk tahun ini. Semua manusia merasa takut akan tanda-tanda keberadaan Covid-19. Virus ini memang tidak terlihat, namun menunjukkan eksistensinya di tubuh dan lingkungan manusia. Manusia merasa jaga jarak dan jaga diri ketika dalam kerumunan.

 

Selamat hari guru…

 

Semester 2 di tahun ajaran 2019-2020 semua sekolah berubah dalam pola belajar konvensional menjadi pola belajar jarak jauh. Pola yang sepertinya sering terlihat di sekolah terbuka, menjadi pola yang dirasa aman dalam kondisi Covid-19. Pola belajar jarak jauh, Covid-19 ini membuat manusia, membuat civitas akademika yang biasa tatap muka menjadi jauh muka, dari yang biasa bersosialisasi interaksi konkrit dengan manusia menjadi terisolasi diri, membatasi interaksi, dan membatasi ruang gerak sosial.

 

Gebrakan pertama adalah mencoba mengenal seluk beluk virus Covid-19. Mencoba mengenal karakteristik virus pernapasan ini. Dalam situasional mengenal virus Covid-19, maka jalan aman sementara adalah membatasi interaksi sosial manusia. Pola belajar jarak jauh berlanjut hingga semester 1 tahun ajaran 2020-2021. Pola belajar jarak jauh semakin mengeratkan civitas akademika dengan dunia digital, dunia virtual dan dunia internet.

 

Tanpa internet, tanpa gadget, tanpa laptop dan tanpa kuota data maka proses interaksi sosial manusia, interaksi belajar menjadi terhenti. Sungguh luar biasa kondisi yang dibuat oleh virus Covid-19. Namun, apakah gegap gempita kita dalam memandang virus Covid-19 dengan menyatakan bahwa langkah 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak masih memberi potensi besar akan tertular dan terinfeksi virus pernapasan ini?

 

Konsep hidup dalam masa pandemi ini adalah virus tersebut merupakan virus pernapasan, yang artinya perlu menjaga diri dalam pernapasan kita. Udara sehat mutlak diperlukan, namun udara yang terkontaminasi virus ya berbahaya, disaat tubuh dalam kondisi yang tidak sehat.

 

Imunitas diri dan pola hidup yang bersih, etika lingkungan dan etika interaksi sosial perlu untuk dibenahi. Pola belajar jarak jauh yang hampir dilakukan selama 8 bulan, memberi kepada kita konsekuensi kualitas pendidikan Indonesia yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

 

Guru dan peserta didik membutuhkan interaksi tatap muka yang konkret dalam proses belajar mengajar. Peserta didik sekolah dasar dan menengah masih sangat tergantung dengan guru atau orang dewasa. Pembelajaran jarak jauh apakah masih dilakukan di tahun 2021?

 

Model pembelajaran kita perlu waktu transisi. Hari guru di tahun 2020 membutuhkan pendekatan psikologis, kinestetik dan mentalitas dalam belajar. Ada pendapat yang menyatakan peserta didik mulai ‘bosan’ dan ‘jenuh’ belajar di rumah. Lebih enak dan asyik belajar di sekolah. Peserta didik terbatasi ruang geraknya. Keterbatasan ruang gerak ini karena munculnya dugaan bahwa lingkungan sekitar belum aman dari Covid-19.

 

Sekolah di Indonesia juga belum dinyatakan steril dari Covid-19. Karena Covid-19 hidup, tumbuh dan berkembang di dalam diri manusia. Peserta didik dan pendidik hingga warga sekolah belum dinyatakan steril dan terbebas dari Covid-19. Artinya setiap sekolah memungkinkan menjadi cluster baru akan adanya Covid-19. Bagaimana solusinya?

 

Jadi bagaimana….?

 

Model pembelajaran tetap mengacu dua cara, cara konvensional dan cara digital atau jarak jauh. Dalam satu pekan pembelajaran diperlukan tatap muka dengan protokol kesehatan, teknis nya jam belajar dan jam istirahat dikurangi dan tidak ada jam makan di sekolah. Waktu belajar yang dibatasi dan pemantauan 3 M yang terjadwal dengan baik.

 

Peserta didik perlu interaksi sosial dengan peserta didik lainnya, satu pekan masuk belajar tatap muka sebanyak dua atau tiga kali cukup untuk memberikan ruang interaksi sosial sesama dalam belajar. Waktu belajar lima jam dalam sesi pembelajaran untuk jam pertemuan mata pelajaran selama 30 menit cukup untuk mengurangi beban belajar jarak jauh peserta didik. Pertemuan tatap muka adalah proses belajar materi esessial atau materi penting/ susah apabila di pelajari secara mandiri oleh peserta didik.

 

Warga sekolah baik kepala sekolah dan guru telah menyiapkan materi essensial yang akan di ajarkan selama tatap muka, dan pemberian tugas untuk pembelajaran jarak jauh. Guru dan wali kelas menyediakan waktu konsultasi belajar per individu dan antar peserta didik dapat terjadi peer teaching atau kolaborasi dengan media digital dalam belajar di saat model pembelajaran jarak jauh.

 

Selamat hari guru…

 

Masa transisional learning methode mesti di gelorakan. Tidaklah mungkin belajar tanpa tatap muka, pasti ada keterbatasan dan ketertinggalan kualitas output pembelajaran. Karakter peserta didik akan berbeda pada masa belajar jarak jauh, dan akan memulai dari zero pembentukan karakter belajar di semester dua ini.

 

Siapapun akan memperkirakan kebimbangan semua pihak dalam mencerna dan mengaplikasikan proses belajar para peserta didik. Belajar yang dilaksanakan jarak jauh di rumah akan cukup berat bila dijalankan hingga tiga tahun kedepan. Pembelajaran konvensional dan digital mesti bersebelahan dalam kondisi masa pandemi ini.

 

Belajar esensial pasti memerlukan kehadiran guru, belajar non esensial dapat dilakukan secara mandiri dengan bimbingan atau arahan guru dari jarak jauh. Teknologi sudah dikenal dan dimanfaatkan.

 

Menyambut hari guru nasional, pembelajaran dengan kehadiran peserta didik dan guru sudah menjadi keniscayaan, satuan tugas Covid-19 akan bersedia membimbing dan memantau keberlangsungan prosesi belajar mengajar di setiap satuan pendidikan.

 

Kesehatan dan imunitas hingga protokol kesehatan akan menjadi keharusan dan tanggung jawab bersama. Pendidikan bermutu dan peserta didik yang bersemangat meraih cita dan prestasi akan menjadi keberlanjutan generasi muda Indonesia.

 

Dirgahayu Hari Guru Nasional tahun 2020, tanpa guru dan orang tua, generasi muda akan berjalan tanpa bimbingan meraih prestasi. Mari kita kembalikan kejayaan bangsa dan negara Indonesia dengan pendidikan yang bermutu dan berhasil.

Pandemi mengubah perwajahan pendidikan saat ini, dari luring menuju daring. Namun apa pun bentuk perubahannya, seorang guru pasti telah menyiapkan solusi terbaik untuk anak didiknya. Sebab mereka adalah pejuang tanpa tanda jasa, sang penggerak kapal besar bernama Indonesia.

 

Sebagai apresiasi atas kerja keras guru di seluruh Indonesia Dompet Dhuafa dan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) berkolaborasi bersama musisi dan seniman Indonesia dalam Mini Concert Hari Guru Nasional 2020. Mini Concert Hari Guru Nasional 2020 merupakan bentuk dukungan dan penghargaan atas perjuangan dan pencapaian para guru, dengan kolaborasi kebaikan ini kami ingin para guru bisa terus semangat membersamai para penerus negeri ini.

 

Jangan sampai ketinggalan! Catat tanggal mainnya!

🗓️ Waktu : Sabtu, 21 November 2020
🕰️ Pukul : 19.00 – 21.00 WIB
🎥 Hanya di DDTV dan BAZNAS TV

 

Menghadirkan penampilan dari
– Samsons
– Fauzan Daulay
– Is Pusakata
– Umaru Takaeda

 

Dipandu oleh Shafira Umm

.
Kamu juga bisa berdonasi melalui:
DKI Syariah 708.0900.050 a.n Yayasan Dompet Dhuafa Republika
dan
– BNI syariah 928.407.773 a.n BAZNAS ( Badan Amil Zakat Nasional)

Seluruh hasil donasi yang terkumpul pada Mini Concert ini akan disalurkan untuk para guru yang terdampak Covid-19.

Jangan lupa bagikan kabar gembira ini ke keluarga dan kawan-kawan untuk ikut berpartisipasi dan berbagi.

 

Saksikan bersama di Youtube DDTV dan BAZNAS TV.

Guru

 

Perjuanganmu tak tersorot kamera tapi semangatmu tetap teguh dan membara.

Demi kami anak didikmu agar menjadi insan yang berbudi dan berilmu.

Tak bisa kami membalas jasamu yang penuh dengan rasa ikhlas

Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik di surgaNya kelak

Guru adalah garda terdepan pencetak generasi terbaik bangsa, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang penuh jasa untuk kita.

 

Namun, tak semua guru dapat memberikan pengabdian terbaik mereka karena keterbatasan akses. Baik akses dalam upgrade pengetahuan diri maupun dalam pembuatan media pembelajaran untuk mendukung mereka dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini banyak dirasakan oleh para guru pedalaman Indonesia.

 

Menuju momentum Hari Guru Nasional 25 November 2020 ini, maukah Sahabat Baik menyalakan asa para guru pedalaman agar dapat memberikan pengabdian terbaik mereka? Dukungan kita akan membantu mencetak guru-guru berkarakter yang akan mengabdi di pedalaman indonesia melalui Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

Berikan dukunganmu sekarang di

Aksikebaikan.com/program/gurupedalaman

 

*SGI merupakan program yang berkomitmen memberikan pembinaan dan pemberdayaan guru di daerah pelosok Indonesia agar memiliki karakter seorang guru yang reflektif, kreatif, problem solver, peduli dan berjiwa pemimpin.

Ini Dia, SMART, Sekolah Penuh Semangat!


“Selamat ya mas Azzam, sekarang kamu sudah resmi menjadi anak SMA. Jangan lupa belajar dan berdoa, ya nak. Insha Allah kamu pasti bisa meraih semua impianmju. Umi selalu mendoakan yang terbaik buat mas Azzam”.

Itulah pesan ibu ketika saya menunjukan rapor SMP semester terakhir kala itu. Saya ingat betul ada kata ‘Lulus’ terpampang di sana dan membuat saya tak jenuh melihatnya terus menerus.

Nama saya Muhammad Ikram Azzam. Saat ini saya berumur 16 tahun dan berasal dari Jakarta, saya merupakan alumni SMART Angkatan IX, saat ini saya berkuliah di UNJ Jurusan Sastra Arab. Sungguh tak terasa lima tahun saya merantau ke Kota Hujan untuk bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Di sini saya berjuang demi menggapai impian menjadi seorang diplomat bergelar cendikiawan muslim. Banyak sekali keseruan dan keceriaan yang hadir dalam rutinitas yang saya jalani selama mengenyam pendidikan di SMART, selain bersekolah kala itu saya juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah dan kegiatan di luar sekolah. Saya pernah menjabat Ketua OSIS periode 2016/2017, saya juga didapuk menjadi Duta Gemari Baca oleh Makmal Pendidikan, dan saya juga berhasil menyabet Pemustaka Jawara Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan serta mengikuti Konferensi Forum OSIS se-Jawa Barat di Bandung dua tahun lalu.

Di SMART saya bisa bertemu teman-teman hebat dan cerdas dari seluruh Indonesia, buat saya itu adalah pengalaman paling berkesan dari sekian banyak pengalaman yang saya dapat. Saya juga merasa terhormat karena bisa diajar oleh pengajar hebat yang SMART miliki. Para guru di SMART membuat saya semakin mengerti akan arti perjuangan, tanpa lelah mereka terus menyemangati saya untuk mengejar impian  agar tak pupus di tengah jalan.

Berbicara mengenai impian, saya jadi teringat kenapa saya ingin sekali menjadi seorang diplomat. Dulu ketika masih duduk di Sekolah Dasar saya rajin membaca ensiklopedia tentang  peradaban dunia, saya tertarik dengan keragaman dan kerukunan yang digambarkan di sana. Dari situ saya membayangkan jika suatu hari saya bisa menjelajah dan mengeksplorasi kemegahan dunia sambil menyuarakan dan menciptakan kedamaian di dunia, saya pikir hanya diplomat yang bisa seperti itu. Tekad saya untuk meraih mimpi semakin kuat apalagi didukung oleh teman-teman dan para guru, kata menyerah seakan tak ada lagi dalam kamus hidup saya.

Kini saya sudah menjadi mahasiswa, perjuangannya terasa lebih berat namun saya menikmatinya demi menggapai cita. Saya akan terus berjuang agar bisa menghatrumkan nama SMART dikancah dunia. Pesan saya kepada adik-adik kelas, jangan pernah patah semangat karena kondisi, karena kondisi hanya kitalah yang bisa mengubahnya.

Saatnya Milenial Berjuang Lewat Tulisan!

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumni SMART Angkatan XI Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Kebudayaan nusantara merupakan salah satu hal yang saat ini menjadi perbincangan hangat diantara para pelajar di Indonesia. Para pelajar berlomba-lomba untuk menciptakan kreasinya sendiri untuk mewariskan budaya yang ada di Indonesia.

 

Hal ini menjadikan kegiatan jurnalistik menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting untuk mengenalkan budaya kepada siapa saja. Peliputan budaya-budaya dengan kreatif dan pengemasan media menjadi menarik membuat para “penikmat” hasil karya jurnalistik semakin tergugah untuk mencintai budaya Indonesia.

 

Semangat para jurnalis muda di sekolah seharusnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelestarian budaya yang ada di negeri ini.

 

Berbagai macam pelatihan mengenai cara mengelola karya jurnalistik sangatlah diperlukan di tengah minimnya kegiatan literasi untuk mengenal budaya di sekolah. Program desa budaya yang ada di berbagai daerah mampu menjadi pengembang budaya pada masyarakat. Siswa-siswa sebaiknya lebih mengetahui industri pembuatan barang kebudayaan, sehingga pada akhirnya berbagai peninggalan budaya di Indonesia dapat terus berkembang untuk mempercepat pengembangan karakter siswa.

 

Sebab itu penanaman literasi sangat dibutuhkan oleh generasi milenial saat ini agar kelak bisa menyuarakan banyak hal melalui tulisan, karena jika tindakan tak dapat mengubah bangsa siapa yang tahu jika tulisan malah mampu menjadi penggerak. Maka berkaryalah!

 

 

  

 

 

Banyak Jalan Menuju Roma. Banyak Jalan Menuju PTN Sob

Oleh: Johan FJR

Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK).

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI.

Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu.

Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI.

Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4.

“Gantian woi!”

Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang.

Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti.

Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci.

“Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?”

“Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.”

Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata!

“Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …”

Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau.

“ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ”

Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana?

“ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ”

… nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA!

“NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah!

“NAMAKU JUGA!” ujar Rofi

Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?

Kami berdua mengerubungi Bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan Bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe.

Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau.

Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa.

Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:

  1. Ilmu Komunikasi UIYap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura.2. Sosiatri UGM

    Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe.

    3. Jurnalistik Unpad

    Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.