Sang Calon Ilmuan Pelahap Buku

 

Dia terlahir dengan nama Hizbullah Ash-Shidiqy, dan biasa dipanggil dengan “Hizbah”. Alumni SMART Ekselensia Indonesia yang sekarang berkuliah di ITB sesuai mimpi dan harapnya ini kerap membuat hati kami bergetar manakala melihatnya berdoa sambil sujud dalam waktu yang lama.

 

Siswa ini unik, tidak banyak bicara. Berbeda dari kebanyakan teman-temannya, tidak ada waktu yang tersisa dari keseharian Hizbah, selain untuk belajar, membaca buku, dan tilawah Al-Qur`an. Dia banyak membaca buku-buku penulis hebat, terutama karya-karya Dr. Aidh al-Qarni. Karya-karya al-Qarni, seperti Laa Tahzan, dikenal mampu menyentakkan jiwa dan relung kalbu para pembacanya. Nasihat-nasihatnya begitu mudah dicerna, tapi mendalam sekaligus menentramkan jiwa. Kuat dugaan, tulisan-tulisan al-Qarnilah yang kemudian membekas di hati Hizbah sehingga ia rajin berdoa dan bersujud dalam tempo yang lama. Hampir setiap selesai Shalat Maghrib siswa asal Bandung ini melakukannya.

 

Suatu ketika saya menghampirinya. Hizbah terduduk khusyuk membaca bukunya. Lagi-lagi buku karya Aidh al-Qarni tentang nasihat agama untuk seorang pemuda.

 

Berapa lama kamu membaca buku setebal 300-an halaman ini, Nak?” ,“Kurang lebih dua-tiga hari, Ustaz, jika tidak ada PR.” jawabnya.

 

MasyaAllah, saya sangat kagum. Dahsyat, keren. Waktu yang singkat mampu membaca lebih dari 300 halaman. Begitu bukunya selesai dibaca, Hizbah pasti pergi ke perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) yang ada di lingkungan SMART. Ia mencari buku lainnya. Kawan, berapa buku yang kauhabiskan dalam satu pekan, satu bulan, atau pertiga bulan? Sungguh saya sangat kagum terhadap siswa ahli sujud ini. Meskipun doyan melahap buku koleksi PSB, hafalan Al-Qur`an Hizbah tidak kalah tertinggal dari teman-temannya.

 

“Apa cita-citamu, Hizbah?” tanya saya suatu waktu.

“Saya ingin jadi ilmuwan di bidang sains, Ustaz. Saya ingin kuliah di ITB,” jawabnya dengan mantap.

 

Suatu hari siswa-siswa kelas 1 mengadakan bakti sosial di Masjid An-Nur, Desa Jampang. Kami, wali asrama, menyiapkan berbagai bingkisan berupa alat kebersihan, mikrofon jepit, dan kipas angin. Agar kegiatan ini lebih berkesan, kami menasihati para siswa untuk saling berbagi dengan menyumbangkan sebagian uang sakunya.

 

Hampir semua siswa menyumbang, tanpa terkecuali Hizbah. Namun, yang benar-benar di luar dugaan saya, uang yang diberikan Hizbah tidak kurang 25 kali lipat rata-rata sumbangan setiap siswa! MasyaAllah. Kawan, tidakkah kita merenung, ada keteladanan dalam diri anak ini. Betapa sikap kedermawanan telah tumbuh dalam dirinya. Tahajudnya tidak pernah putus, shaum-nya selalu terlaksana. Rasanya kita sebagai manusia dewasa pantas malu terhadap prestasi ibadahnya.

 

MasyaAllah, rasa takjub ini begitu besar dan bertanyatanya dalam hati tentang keluarganya. Rasa keingintahuan ini begitu memuncak, seperti hausnya seorang yang berpuasa menjelang waktu berbuka. Setelah saya telusuri, ternyata anak Sulawesi ini terlahir dari seorang ibu yang sederhana, bersahaja, dan bersuamikan seorang ustaz. Orang bilang, buah itu tak jauh dari pohonnya. Tampaknya pepatah ini berlaku pula pada Hizbah. Kami di SMART mendoakan semoga Hizbah tetap istiqamah hingga menjadi sosok yang saleh nan cendekia.

 

Soleh Ingin Salat Berjamaah

Syamsumar (Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia)

 

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.15. Saya sedang duduk di kantor asrama Daarul Ilmi sambil mendata dan mengecek kartu izin siswa yang keluar hari itu. Kemudian saya bermaksud ingin menyalakan muratal sebagai tanda persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.

Semua aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan persiapan shalat berjamaah harus dihentikan. Ternyata salah seorang wali asrama yang lain sudah menyalakannya terlebih dahulu. Saya pun langsung pergi menuju tempat para siswa biasa menyaksikan televisi. Di situ saya melihat mereka sedang asyik menikmati salah satu siaran yang tampaknya tengah seru-serunya. Ada siswa yang tersenyum, ada yang tertawa, bahkan ada juga yang bercanda ria sambil mengikuti ekspresi sesuai yang mereka saksikan. Saya lantas ikut tersenyum sambil mengingatkan mereka.

“Sekarang sudah waktunya untuk melakukan persiapan shalat berjamaah. Silakan TV dimatikan.”

“Sebentar lagi, Ustaz. Kalau sudah iklan ya!” sahut sebagian siswa.

Saya pun menunggu dengan sabar sambil mengingatkan siswa yang lainnya yang ada di setiap kamar. Di salah satu kamar saya mendapatkan ada siswa yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca buku yang ada di tangannya. Saya pun mengingatkannya untuk melakukan persiapan Salat Magrib berjamaah.

“Buku apa yang sedang kamu baca?” tanya saya.

“Komik. Memangnya kenapa, Ustaz?” siswa itu balik bertanya, tapi tak lama kemudian meneruskan bacaannya.

“Tidak apa-apa,” jawab saya.

“Baiklah, sekarang sudah waktunya mandi dan persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.”

“Kenapa kita harus shalat berjamaah di masjid, Ustaz?” tanya siswa bernama Sholeh.

“Shalat berjamaah pahalanya lebih besar dibandingkan salat sendiri.”

“Tapi bukankah di kamar kita juga bisa melakukan salat berjamaah?” sergah Sholeh tidak puas.

“Betul, tapi alangkah baiknya kita salat berjamahnya di masjid.”

Siswa yang sama masih menunjukkan ketidakpuasan atas jawaban saya. “Tapi, pahala jamaahnya sama saja kan?”

“Beda! Kalau kita salat berjamaah di masjid setiap langkah kita menuju masjid akan dihitung pahalanya oleh Allah Swt, begitu pula saat kembali dari masjid. Apalagi kita tinggal di salah satu lembaga tempat kita harus mengikuti disiplin dan menaati peraturan-peraturan yang ada.” Sholeh menyimak kata-kata saya tanpa menginterupsinya.

“Sebagai manusia,” lanjut saya, “kita harus ingat bahwa hidup ini tidak terlepas dari disiplin, kapan pun dan di mana pun kita berada. Jangankan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sekalipun harus hidup berdisiplin. Kalau tidak, ia akan mati. Lalu lintas juga ada disiplinnya, ada peraturannya. Kalau tidak diikuti, maka akan celaka, akan saling bertabrakan. Apalagi manusia, apa jadinya kalau hidup tanpa disiplin?”

“Benar, Ustaz. Terima kasih atas masukan dan sarannya.” Saya tersenyum senang. Anak-anak seusia Sholeh memang terkadang suka unjuk diri; semata untuk memenuhi keingintahuan atau bahkan membutuhkan perhatian dari orang dewasa di lingkungan sekolah atau asrama.

“Baik, sekarang silakan kamu mandi dan siap-siap untuk Salat Magrib berjamaah.” Anak itu pun menutup komik yang dipegangnya sedari tadi. Ia bersiap untuk beranjak ke kamar mandi.

“Baik, Ustaz!”

Kamu Berapa Watt?

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis, Alumni SMART Angkatan IX

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.

 

 

———–
REDUP
———–

Oleh: Muhammad Habiburohman

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

Ini Puisi. Ini Rendra

Oleh: Muhammad Habiburahman

Alumni SMART Angkatan 9 saat ini berkuliah di UNS Jurusan Sastra Indonesia 2017

 

Aku tahu ini bukan Georgia, Rendra.
Tidak ada Negro di sini, kecuali si Jawa
Dan gereja boleh dimasuki siapa saja

Tidak ada yang menderita, di sini
Kecuali tukang becak yang seharian pulas
Tertidur dalam pangkuan becaknya

“Betsy.
Di mana engkau, Betsy?”
“Kulo senes Betsy.
Niki kulo, Pariem.”

Ini bukan Georgia, Rendra.
Ini Solo, tempat mbok Pariem menahan
kesedihan dalam pejam matanya.

Solo, 2018

 

“Meski terasa letih, engkau tak letih memberi. Agar mimpi kami terlaksana …,“ demikianlah petikan puisi berjudul Insan Berdedikasi karya Rafa Al-Fayed, siswa SMP SMART Ekselensia Indonesia. Selain dibawakan dengan memukau oleh rekan-rekan sejawatnya, puisi karya Rafa tersebut juga apik memotret bagaimana keseharian seorang guru.

.
Ya, gelar Insan Berdedikasi memang layak disandangkan kepada para guru, di samping Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tak peduli sepelik apa pun masalah yang ada di rumah, mereka tetap tampil dengan wajah sumringah, demi menunaikan kewajiban mendidik anak-anak bangsa. Jika kita semua meyakini bahwa pendidikan adalah tiket untuk membawa suatu bangsa kepada kejayaan, gurulah ujung tombak untuk mendapatkan tiket itu. Tentu saja hal itu membuat tugas guru menjadi vital. Semapan apa pun sistem pendidikan dalam sebuah negara dibangun, tak akan berarti jika guru-gurunya tak memiliki dedikasi.

 

Karenanya, pada momen Hari Guru Nasional ini, kami ingin berucap terima kasih kepada seluruh guru Indonesia. Sungguh dedikasimu tak terbayar, jasamu tak terukur. Hanya Allah saja yang kuasa membalas semua lelahmu.

 

Semoga keberkahan menyertai setiap langkahmu, Guru …

 

“Guru pendidik sejati yang tak pernah letih berbagi”

 

Kiprah guru memang tak perlu dipertanyakan lagi. Namun di kala pandemi kegigihan guru diuji. Belum lagi mereka harus mengatasi kegagapan dalam proses penyesuaian kegiatan belajar mengajar dari kelas menuju daring. Tak ayal hal ini membuat para guru kesulitan dan harus berjuang lebih keras untuk cepat beradaptasi dengan teknologi serta bergumul dengan masalah keterbatasan siswa sampai sinyal telekomunikasi.

 

Lalu bagaimana guru menyikapi ini semua?

 

Temukan jawabannya dalam Press Conference spesial Hari Guru Nasional bertajuk “Berkualitas Meskipun Terbatas: Kiprah, Perjuangan, dan Pemaksimalan Guru Selama Pandemi” yang diadakan Dompet Dhuafa dan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional).

 

Menghadirkan:
– M. Syafi’ie el Bantanie, Direktur Pendidikan Dompet Dhuafa
– Ahmad Fikri, Kepala Divisi Pendistribusian BAZNAS
– Agung Rakhmad, Guru dan Aktivis Sekolah Guru Indonesia (SGI)
– Helmi Nursirwan, Wakil Kepala Sekolah Cendikia BAZNAS

 

Catat tanggal dan jamnya berikut ini:

🗓 Rabu, 25 November 2020
⏰ 10.00 WIB
🔴 Live streaming di Channel Youtube BAZNAS TV dan DDTV

 

Jangan lewatkan acara ini karena akan ada pengumuman pemenang lomba hari guru dan kuis interaktif mini konser.

 

Bersama guru, kita bersamai kemajuan pendidikan bangsa!

 

Jakarta – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh setiap 25 November merupakan momentum menguatkan peran besar guru sebagai nahkoda kemajuan bangsa yang memiliki peran strategis untuk mengoptimalkan potensi generasi penerus bangsa. Eksistensi guru menjadi kunci agar kegiatan belajar mengajar daring bisa terlaksana dengan baik, sebab itulah penting sekali mengapresiasi dedikasi tinggi mereka.

 

Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras guru di seluruh Indonesia, Dompet Dhuafa dan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) mengadakan ragam kegiatan untuk memperingati Hari Guru Nasional. Menggadang tema “Berkualitas Meskipun Terbatas” peringatan Hari Guru Nasional ini diramaikan Lomba Ucapan Terima Kasih Guru dengan peserta orang tua murid (dari jenjang SD hingga SMA dari seluruh Indonesia), Lomba Guru Heroik untuk para guru (dari jenjang SD hingga SMA di seluruh Indonesia), dan penggalangan dana yang dikemas dalam bentuk Mini Konser bertajuk ”Terima Kasih Guru” dengan menggandeng Samsons, Fauzan Daulay, Is Pusakata, Umaru Takaeda, dan Sharfira Umm yang disiarkan langsung melaui kanal Youtube BAZNAS TV dan Dompet Dhuafa TV pada Sabtu (21/11) lalu.

 

Hasil penggalangan dana nantinya akan didistribusikan kepada para guru dalam bantuan berupa alat penunjang dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan tematik.

 

 

Menurut Ahmad Fikri, Kepala Pendistribusian BAZNAS, pelatihan guru akan diintegrasikan dengan area Zakat Community Development yang akan berfokus di sepuluh titik. “Lubuk Bangkar, Toraja, Bedono, Kebon Manggis, Kampung Cibuluh,  Cemplang, Sambik Elen, Palalangon, Tuva, dan Sukaindah Bekasi, akan menjadi titik utama distribusi bantuan dari masyarakat,” terang Fikri.

 

Sedangkan Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, M.Syafi’ie el Bantanie, menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa akan berfokus pada lokasi penempatan guru Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang mencakup beberapa titik di pelosok nusantara seperti, Buton, Dompu, Bombana, Sambas, Belitung, Lebak, Pandeglang, Halmahera Utara, Nunukan, Sumbawa Barat, Kuburaya, Polewali Mandar, Gorontalo, Muna dan Wakatobi. “Di titik-titik inilah para guru berjuang untuk menciptakan pembelajaran terbaik meskipun terhimpit keterbatasan,” tuturnya.

 

Sinergi antara Dompet Dhuafa dan BAZNAS sebagai lembaga yang peduli pada masalah serta perkembangan pendidikan, memiliki visi misi yang sejalan dengan semangat dan pengabdian guru di Indonesia. Dua lembaga zakat terbesar di Indonesia ini berkomitmen memberikan bantuan dalam peningkatan kualitas pengajaran sehingga mampu mencetak pendidik yang berkepribadian cerdas secara spiritual, sosial, dan intelektual, selain mempunyai profil yang sangat baik.

 

Diharapkan kolaborasi kebaikan antar Dompet Dhuafa dan BAZNAS mampu membuat guru dan tenaga kependidikan lainnya bisa terus berjuang membersamai kemajuan pendidikan bangsa.

 

 

Narahubung:

BAZNAS: Sri Nurhidayah  0812 13876 08

Dompet Dhuafa: Akhie 0821-1075-4717

Oleh: Ervan, Guru SMART

 

Hari ini adalah Guru Nasional. Hari para pendidik se-Indonesia, yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat yang sungguh luar biasa. Hari yang mengapresiasi peradaban tujuan hidup manusia di bumi yaitu belajar selagi hidup.

 

Selamat hari guru…

 

Pendidikan merupakan investasi yang penting dan membutuhkan waktu yang lama. Produk konkret belajar adalah perubahan diri pada civitas akademika. Bukan benda, bukan uang dan bukan jabatan, namun proses belajar yang lama itu menghasilkan karakter, sikap dan kedudukan yang baik di hadapan manusia dan hadapan Tuhan, Allah Yang Maha Esa.

 

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa belajar, Nabi Muhammad saw. pernah menyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib. Kewajiban untuk belajar berdampak terhadap peningkatan proses tumbuh dan kembangnya setiap diri manusia. Logikanya manusia semakin berilmu maka semakin bijak.

 

Selamat hari guru…

 

Tahun 2020 memang berbeda, berbeda dalam situasi dan kondisi kehidupan hingga saat ini manusia memasuki masa gelombang kedua Pandemi Covid-19. Covid-19, makhluk mikroskopis ini memberikan ilmu pelajaran yang sangat berguna. Di HGN ini, kita jadi belajar bagaimana menjaga kebersihan diri, kebersihan fisik, kebersihan lingkungan dan kebersihan pola hidup manusia. Covid-19 mengajarkan manusia untuk mencuci tangan dengan sabun, kebiasaan yang jarang bagi kita manusia untuk bersikap bijak dalam menjaga kebersihan makanan dan tangan kita.

 

Covid-19 juga mengajarkan kita untuk menghargai arti sehat. Kesehatan sungguh berharga untuk tahun ini. Semua manusia merasa takut akan tanda-tanda keberadaan Covid-19. Virus ini memang tidak terlihat, namun menunjukkan eksistensinya di tubuh dan lingkungan manusia. Manusia merasa jaga jarak dan jaga diri ketika dalam kerumunan.

 

Selamat hari guru…

 

Semester 2 di tahun ajaran 2019-2020 semua sekolah berubah dalam pola belajar konvensional menjadi pola belajar jarak jauh. Pola yang sepertinya sering terlihat di sekolah terbuka, menjadi pola yang dirasa aman dalam kondisi Covid-19. Pola belajar jarak jauh, Covid-19 ini membuat manusia, membuat civitas akademika yang biasa tatap muka menjadi jauh muka, dari yang biasa bersosialisasi interaksi konkrit dengan manusia menjadi terisolasi diri, membatasi interaksi, dan membatasi ruang gerak sosial.

 

Gebrakan pertama adalah mencoba mengenal seluk beluk virus Covid-19. Mencoba mengenal karakteristik virus pernapasan ini. Dalam situasional mengenal virus Covid-19, maka jalan aman sementara adalah membatasi interaksi sosial manusia. Pola belajar jarak jauh berlanjut hingga semester 1 tahun ajaran 2020-2021. Pola belajar jarak jauh semakin mengeratkan civitas akademika dengan dunia digital, dunia virtual dan dunia internet.

 

Tanpa internet, tanpa gadget, tanpa laptop dan tanpa kuota data maka proses interaksi sosial manusia, interaksi belajar menjadi terhenti. Sungguh luar biasa kondisi yang dibuat oleh virus Covid-19. Namun, apakah gegap gempita kita dalam memandang virus Covid-19 dengan menyatakan bahwa langkah 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak masih memberi potensi besar akan tertular dan terinfeksi virus pernapasan ini?

 

Konsep hidup dalam masa pandemi ini adalah virus tersebut merupakan virus pernapasan, yang artinya perlu menjaga diri dalam pernapasan kita. Udara sehat mutlak diperlukan, namun udara yang terkontaminasi virus ya berbahaya, disaat tubuh dalam kondisi yang tidak sehat.

 

Imunitas diri dan pola hidup yang bersih, etika lingkungan dan etika interaksi sosial perlu untuk dibenahi. Pola belajar jarak jauh yang hampir dilakukan selama 8 bulan, memberi kepada kita konsekuensi kualitas pendidikan Indonesia yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

 

Guru dan peserta didik membutuhkan interaksi tatap muka yang konkret dalam proses belajar mengajar. Peserta didik sekolah dasar dan menengah masih sangat tergantung dengan guru atau orang dewasa. Pembelajaran jarak jauh apakah masih dilakukan di tahun 2021?

 

Model pembelajaran kita perlu waktu transisi. Hari guru di tahun 2020 membutuhkan pendekatan psikologis, kinestetik dan mentalitas dalam belajar. Ada pendapat yang menyatakan peserta didik mulai ‘bosan’ dan ‘jenuh’ belajar di rumah. Lebih enak dan asyik belajar di sekolah. Peserta didik terbatasi ruang geraknya. Keterbatasan ruang gerak ini karena munculnya dugaan bahwa lingkungan sekitar belum aman dari Covid-19.

 

Sekolah di Indonesia juga belum dinyatakan steril dari Covid-19. Karena Covid-19 hidup, tumbuh dan berkembang di dalam diri manusia. Peserta didik dan pendidik hingga warga sekolah belum dinyatakan steril dan terbebas dari Covid-19. Artinya setiap sekolah memungkinkan menjadi cluster baru akan adanya Covid-19. Bagaimana solusinya?

 

Jadi bagaimana….?

 

Model pembelajaran tetap mengacu dua cara, cara konvensional dan cara digital atau jarak jauh. Dalam satu pekan pembelajaran diperlukan tatap muka dengan protokol kesehatan, teknis nya jam belajar dan jam istirahat dikurangi dan tidak ada jam makan di sekolah. Waktu belajar yang dibatasi dan pemantauan 3 M yang terjadwal dengan baik.

 

Peserta didik perlu interaksi sosial dengan peserta didik lainnya, satu pekan masuk belajar tatap muka sebanyak dua atau tiga kali cukup untuk memberikan ruang interaksi sosial sesama dalam belajar. Waktu belajar lima jam dalam sesi pembelajaran untuk jam pertemuan mata pelajaran selama 30 menit cukup untuk mengurangi beban belajar jarak jauh peserta didik. Pertemuan tatap muka adalah proses belajar materi esessial atau materi penting/ susah apabila di pelajari secara mandiri oleh peserta didik.

 

Warga sekolah baik kepala sekolah dan guru telah menyiapkan materi essensial yang akan di ajarkan selama tatap muka, dan pemberian tugas untuk pembelajaran jarak jauh. Guru dan wali kelas menyediakan waktu konsultasi belajar per individu dan antar peserta didik dapat terjadi peer teaching atau kolaborasi dengan media digital dalam belajar di saat model pembelajaran jarak jauh.

 

Selamat hari guru…

 

Masa transisional learning methode mesti di gelorakan. Tidaklah mungkin belajar tanpa tatap muka, pasti ada keterbatasan dan ketertinggalan kualitas output pembelajaran. Karakter peserta didik akan berbeda pada masa belajar jarak jauh, dan akan memulai dari zero pembentukan karakter belajar di semester dua ini.

 

Siapapun akan memperkirakan kebimbangan semua pihak dalam mencerna dan mengaplikasikan proses belajar para peserta didik. Belajar yang dilaksanakan jarak jauh di rumah akan cukup berat bila dijalankan hingga tiga tahun kedepan. Pembelajaran konvensional dan digital mesti bersebelahan dalam kondisi masa pandemi ini.

 

Belajar esensial pasti memerlukan kehadiran guru, belajar non esensial dapat dilakukan secara mandiri dengan bimbingan atau arahan guru dari jarak jauh. Teknologi sudah dikenal dan dimanfaatkan.

 

Menyambut hari guru nasional, pembelajaran dengan kehadiran peserta didik dan guru sudah menjadi keniscayaan, satuan tugas Covid-19 akan bersedia membimbing dan memantau keberlangsungan prosesi belajar mengajar di setiap satuan pendidikan.

 

Kesehatan dan imunitas hingga protokol kesehatan akan menjadi keharusan dan tanggung jawab bersama. Pendidikan bermutu dan peserta didik yang bersemangat meraih cita dan prestasi akan menjadi keberlanjutan generasi muda Indonesia.

 

Dirgahayu Hari Guru Nasional tahun 2020, tanpa guru dan orang tua, generasi muda akan berjalan tanpa bimbingan meraih prestasi. Mari kita kembalikan kejayaan bangsa dan negara Indonesia dengan pendidikan yang bermutu dan berhasil.

Pandemi mengubah perwajahan pendidikan saat ini, dari luring menuju daring. Namun apa pun bentuk perubahannya, seorang guru pasti telah menyiapkan solusi terbaik untuk anak didiknya. Sebab mereka adalah pejuang tanpa tanda jasa, sang penggerak kapal besar bernama Indonesia.

 

Sebagai apresiasi atas kerja keras guru di seluruh Indonesia Dompet Dhuafa dan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) berkolaborasi bersama musisi dan seniman Indonesia dalam Mini Concert Hari Guru Nasional 2020. Mini Concert Hari Guru Nasional 2020 merupakan bentuk dukungan dan penghargaan atas perjuangan dan pencapaian para guru, dengan kolaborasi kebaikan ini kami ingin para guru bisa terus semangat membersamai para penerus negeri ini.

 

Jangan sampai ketinggalan! Catat tanggal mainnya!

🗓️ Waktu : Sabtu, 21 November 2020
🕰️ Pukul : 19.00 – 21.00 WIB
🎥 Hanya di DDTV dan BAZNAS TV

 

Menghadirkan penampilan dari
– Samsons
– Fauzan Daulay
– Is Pusakata
– Umaru Takaeda

 

Dipandu oleh Shafira Umm

.
Kamu juga bisa berdonasi melalui:
DKI Syariah 708.0900.050 a.n Yayasan Dompet Dhuafa Republika
dan
– BNI syariah 928.407.773 a.n BAZNAS ( Badan Amil Zakat Nasional)

Seluruh hasil donasi yang terkumpul pada Mini Concert ini akan disalurkan untuk para guru yang terdampak Covid-19.

Jangan lupa bagikan kabar gembira ini ke keluarga dan kawan-kawan untuk ikut berpartisipasi dan berbagi.

 

Saksikan bersama di Youtube DDTV dan BAZNAS TV.