Karena Perjuangan Pasti Berbuah Manis

Oleh: Devon, Alumni SMART Angkatan X berkuliah di Undip 2018

 

Kisah kami dimulai dari kelas akhir pada awal semester dua. “Anak-anak, bimbel  (bimbingan belajar) akan dimulai pada Senin depan ya,” itulah kalimat sakti dari Ustazah Ulfi, kalimat yang membuat siswa kelas akhir harus merelakan waktu paginya untuk mempelajari materi SBMPTN. Di saat yang lainnya berangkat ke sekolah pukul 06.30, kami, siswa akhir harus berangkat pukul  06.00. Udara Bogor yang dingin kerap kali membuat kami enggan untuk menyentuh air yang sedingin es. Namun, kami harus tetap memaksakan diri untuk selalu mandi, menata kamar, dan merapikan tugas-tugas sepagi itu. Jika dihitung-hitung, waktu persiapan kami hanya sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit saja. Otomatis, kami harus melaksanakan semua lis di atas dengan cekatan. Mungkin pada waktu itu saya berpikir bahwa hal itu sangat melelahkan, menjalani hari-hari dengan sedikit malas, dan menganggap semua itu sia-sia. Namun, akhirnya saya menyadari bahwa semua yang saya lakukan waktu itu membuahkan hasil yang baik serta membentuk kebiasaan diri menjadi lebih baik.

Pada saat melakukan  bimbingan belajar, kami dibekali dengan buku sakti, sebuah buku tebal berisi materi SBMPTN. Karena setebal bantal kadang kami jadikan alas kepala dikala belajar malam hari sampai tertidur. Buku ini harus kami bawa setiap hari pada saat bimbel dilaksanakan karena menjadi acuan kami pada saat pembelajaran. “SBMPTN itu levelnya lebih sulit, tidak seperti UN atau soal-soal lainnya, jadi kalian harus belajar lebih giat lagi,” ucap seorang ustazah yang membuat kami kembali merenung dan berpikir lebih keras. Ucapan terngiang terus dan membuat kami harus belajar lebih keraas bagai kuda.

Hari pun berlalu, ketika kami memasuki H-2 bulan menjelang UN dan SBMPTN kegiatan belajar mengajar di kelas mulai dikurangi karena materi pelajaran reguler telah kami selesaikan dan digantikan dengan mendalami soal-soal UN dan SBMPTN. Memasuki hari H kami, Angkatan X, berkumpul untuk mmbicarakan program yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan belajar kami. Seringkali kami berkumpul di malam hari. Kami menikmati sangat menikmati momen tersebut, momen yang mungkin tidak bisa kami dapatkan ketika kuliah nanti.

Jadwal kami sangatlah padat, bahkan di akhir pekan kami dihujani dengan berbagai latihan. Setumpuk jadwal try out kami laksanakan dengan sepenuh hati. Nilai-nilai try out tersebut nantinya menjadi acuan bagi kami dan pihak sekolah, kami berharap nilai tinggi tetapi kami harus realistis dengan nilai yang ada.

Kami dijadwalkan untuk melakukan bimbingan konseling dengan Ustazah Amal, Guru Konseling, hal itu dilakukan untuk mengarahkan minat kami, terlepas dari acuan nilai yang akan tetap dipakai unuk menentukan jurusan yang akan kami pilih. Pada sistem penyeleksian universitas terdapat jalur SNMPN sebelum SBMPTN, jalur ini merupakan jalur undangan tanpa tes, jadi kami para siswa hanya memasukkan  nilai di web. Setelah itu, akan dipilih 50% dari total siswa untuk selanjutnya diseleksi dengan siswa lain se-indonesia. Saya pada awalnya berniat untuk masuk ke jurusan Teknik Kimia di Universitas Diponegoro, universitas ini berada di luar daerah SMA saya, sehingga kurang menguntungkan jika dipilih di jalur SNMPTN. Saya memang sedikit berharap masuk ke 50% siswa tersebut tetapi saya masih bingung jurusan apa yang akan saya ambil, jika saya tetap pada jurusan yang saya hendaki, kemungkinan untuk lolos sangat kecil.

Awalnya saya bingung, apakah saya akan tetap pada pilihan atau mencoba mencari pilihan lain. Untuk meminimalisasi kebingungan akhirnya saya berkonsultasi dengan guru konseling lagi, meminta saran orangtua, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Alhasil, di jalur SNMPTN saya hanya memilih satu jurusan, yaitu Teknologi Pangan Universitas Padjajaran. Saya merelakan keinginan saya demi kemungkinan yang lebih besar.

Tibalah di saat pengumuman SNMPTN, kami semua yang mengikuti jalur ini cukup cemas, khawatir tidak lolos. Benar saja kecemasan saya menjadi kenyataan, saya tidak lolos. Itu artinya saya harus mengikuti SBMPTN. Saya mulai membangun semangat dan strategi baru yang telah runtuh, saya berkeyakinan untuk masuk di jurusan yang saya minati. Semoga jodoh untuk berkuliah di Undip tercapai.

Strategi yang saya terapkan salah satunya ialah mulai menambah jam belajar. Saya belajar lebih keras lagi untuk mencapai mimpi itu, setiap malam saya menyempatkan diri untuk membaca materi, mengerjakan beberapa soal, menanyakan bagian-bagian yang masih kurang saya pahami kepada teman-teman yang lebih paham, dan meminta bimbingan secara pribadi kepada seorang guru untuk menyelesaikan soal-soal yang belum mampu saya kerjakan.

Usaha telah saya lakukan dengan maksimal. Saya juga tak henti berdoa dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar saya dan teman-teman diberikan yang terbaik, dimudahkan dalam belajar, dan mampu mengerjakan soal dengan baik. Ujian SBMPTN dilaksanakan tiga hari setelah wisuda dilaksanakan, kami memang harus meluangkan diri untuk mempersiapkan wisuda tetapi tetap tidak boleh lalai untuk terus belajar. Wisuda yang kami laksanakan menjadi semakin mencekam, mengingat sebentar lagi ujian tulis dilakukan.

Pada saat ujian, kami dibagi ke beberapa tempat. Saya di tempatkan di salah satu SMK di Bogor. Kami berangkat pagi-pagi agar bisa mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor pendaftaran. Waktu ujian masih lama, sehingga kami tak henti-hentinya memanjatkan doa dan mengatur hati agar tidak minder ketika melihat saingan darin sekolah lain. Saya mengerjakan tes tulis sepenuh hati, semua soal saya isi sekalipun beberapa soal kurang yakin, tapi  dengan Bismillah saya isi sebaik-baiknya.

Setelah ujian, kami hanya bisa bertawakal, menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Kami hanya bisa berdoa terus menerus, berharap semua dari kami lolos di jalur ini. Pengumuman yang berjarak cukup lama dari jadwal tes tulis membuat kami tak tenang dan harap-harap cemas. Kami tetap optimis dan berdoa agar hasilnya memuaskan.

Pengumuman yang dinantikan tiba. Kami tak sabar ingin melihat hasil yang kami dapat tetapi kami juga cemas apabila tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Beberapa dari kami takut untuk memasukkan nomor pendaftaran kami untuk melihat pengunguman, beberapa dari kami menunggu yang lainnya. Saya, termasuk yang legowo, saya langusung saja memasukkan nomor pendaftaran dan tanggal lahir. Web yang saya akses tidak merespon, wajar saja ribuan bahkan jutaan yang lain juga sedang beraa di depan layar, mengakses web yang sama dengan perasaan yang sama. Hal ini membuat perasaan semakin tak karuan. Dan akhirnya, saya melihaat layar saya, tertulis “SELAMAT Anda lullus dalam seleksi SBMPTN…” saya berteriak dan memeluk ibu saya sembari menangis bahagia. Mungkin benar, saya ditakdirkan untuk masuk di jurusan dan kampus ini, mungkin benar apa yang dikatakan teman saya, bahwa jodoh saya mungkin di situ, maka semoga di sana saya mendapatkan keberkahan.

Beberapa dari kami memang belum lolos, tetapi masih bersemangat dan berusaha untuk mendapatkan kampus yang diminati. Berbagai ujian pun dilakukan. Jadi saya masih tetap berdoa bagi kesuksesan saya dan teman-teman saya, terkhusus bagi teman-teman saya yang masih belum lolos di seleksi SBMPTN. Saya juga berharap, saya dapat menjalani pendidikan saya nantinya dengan penuh keberkahan, mendapatkan kemudahan dalam segala urusan nantinya, dan semoga jalan saya ini membimbing saya untuk menjadi orang yang berhasil di masa depan.

Selalu Ada Jalan Untuk Mereka yang Mau Berusaha

 Oleh: Muhammad Ikrom Azzam, Alumni SMART Angkatan IX Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

Nama saya Muhammad Ikrom Azzam. Saya  lahir di Jakarta pada 02 April 2000. Saya anak pertama dari empat bersaudara, saya adalah alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX. Tepat satu tahun yang lalu, saya baru saja menggunakan toga dan memulai memasuki ranah perkuliahan  di sebuah kampus negeri beralmamater hijau di Jakarta. Ada sebuah kisah menarik yang terjadi selama setahun terakhir tepat ketika saya memulai kehidupan di bangku perkuliahan.

Memilih jurusan kuliah bagi saya pribadi sama seperti menentukan masa depan. Memang kadang nasib baik bisa membawa salah jurusan ke posisi pekerjaan yang oke, tapi alangkah lebih baik kalau semua kita persiapkan dan rencanakan. Saya sendiri dari kecil bercita-cita sebagai diplomat dan politisi sehingga ingin sekali saya berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, namun ketika tes masuk baik SBMPTN dan UMPTKIN takdir berkata lain.  Alhamdulillah Allah masih  meloloskan saya di dua universitas dengan jurusan berbeda, Allah meloloskan saya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Pendidikan Bahasa Arab melalui jalur SBMPTN dan juga meloloskan saya di UIN Jakarta Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam melalui jalur UMPTKIN, memang bukan jalan dan rezekinya saya masuk jurusan dan kampus impian saya. Namun, saya percaya bahwa Allah selalu memberikan suatu rezeki yang dibutuhkan dan terbaik bagi hamba-Nya. Akhirnya, setelah beberapa pertimbangan dan menerima masukan dari orangtua, saya pun memilih jurusan yang sebenarnya saya baru pelajari yakni Pendidikan Bahasa Arab UNJ. Saya memilih jurusan ini meskipun belum memiliki dasar pelajaran sama sekali namun saya berniat bahwa di jurusan ini saya bisa mendalami intisari agama lewat Al-Quran dan hadis yang berbahasa Arab.

Awal perjuangan belajar di kehidupan perkuliahan dimulai ketika masuk semester pertama, kesan manis dan pahit terhampar di masa ini. Saya kewalahan beradaptasi dan berinteraksi dengan buku serta tulisan dosen di papan tulis yang dituliskan menggunakan huruf arab tanpa harakat, mendengarkan dosen mengajar menggunakan Bahasa Arab, belum lagi ketika masa ujian datang saya makin bingung dan gelisah karena membuat saya kian yakin kalau salah masuk jurusan.

Pertanyaan seperti “Apakah saya memang harus pindah kuliah atau pindah jurusan?” semakin menguat tiap harinya.

Meskipun pertanyaan tersebut terus membayangi, namun saya cukup tercengang melihat nilai hasil evaluasi semester satu yang tidak terlalu mengecewakan (IP saya saat itu 3.69). Entah kenapa saya semakin optimis untuk tetap berjuang dan berprestasi kembali. Karena itulah saya mulai mengikuti beragam perlombaan di beberapa PTS dan PTN di wilayah Jabodetabek.  Alhasil dalam waktu cukup singkat saya berhasil memenangkan sembilan penghargaan dari lomba yang saya ikuti. Rinciannya bisa kamu lihat di bawah ini:

  1. Juara 1 Story Telling Competition Tingkat Nasional di Pesantren IIQ
  2. Juara 2 Debat Keislaman Tingkat Nasional di Universitas Esa Unggul
  3. Juara 1 Lomba Dai Muda Tingkat Nasional di Fakultas Ekonomi UNJ
  4. Juara 2 English and Arabic Speech Contest Tingkat Nasional di UHAMKA
  5. Juara 1 Lomba Essai Bidikmisi UNJ
  6. Juara 3 Lomba Puisi Bahasa Arab di UNJ
  7. Juara 1 Lomba Ceramah Mahasantri Sulaimaniyah
  8. Juara Harapan 1 Lomba Mendongeng Tingkat DKI Jakarta
  9. Juara 1 Lomba English Speech Contest Tingkat Nasional di UHAMKA Limau

Untuk menjadi juara jelas tidak mudah, saya harus sering berlatih dan mempersiapkan mental. Saya selalu menekankan pada diri bahwa kalah menang itu biasa, yang penting ialah tetap semangat. Setiap mengikuti lomba saya selalu menyempatkan diri berdo’a, berharap menjadi yang terbaik, dan tak lupa meminta restu orangtua.

Terima kasih atas segala doa, dan dukungan yang diberikan terkhusus untuk orangtua saya, para donator, dan ustaz ustazah SMART Ekselensia Indonesia.

Ini Penantianku, Penantianku Menuju Bahagia

Oleh: Ikhsan Burhanudin, Alumni SMART Angkatan X berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Administrasi Publik 2018

 Nama saya Ikhsan Burhanudin, alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan X lulusan tahun 2018. Saya berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Sleman. Sekarang saya diterima di Universitas Padjadjaran Jurusan Administrasi Negara (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) melalui jalur SBMPTN 2018. Alhamdulilah dengan capaian tersebut saya sangat bersyukur bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya juga mendaftar program  beasiswa Bidikmisi dari pemerintah.

Tidak terasa lima tahun berada di SMART Ekselensia Indonesia untuk mengenyam pendidikan SMP & SMA. Perjalanan ini saya mulai pada 11 Juli 2013, meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu di kawah candradimuka SMART Ekselensia Indonesia. Di sini saya berjumpa dengan teman-teman dari Medan sampai Papua yang mempunyai kesamaan latar belakang keluarga. Di tempat ini kami ditempa untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan. Selain itu, kami juga dibina untuk disiplin, berkepribadian Islami, mandiri, serta berjiwa pemimpin.

Pada 2016 lalu saya beranjak masuk SMA dan mengambil jurusan IPS. Mulai saat itu juga saya merencanakan untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Setiap siswa pasti memiliki mimpi masuk PTN dengan jurusan idaman, Alhamdulillah saya juga memiliki PTN dan jurusan yang menjadi prioritas yakni bisa masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik. Ketika SMA, kebijakan sekolah berubah dengan menetapkan KKM untuk angkatan kami dengan nilai 86. Hal ini tidak menjadi beban bagi kami.

Saya juga mempunyai impian untuk bisa masuk PTN melalui jalur SNMPTN (undangan). Jalur ini menggunakan nilai rapor dan prestasi. Nilai rapor yang digunakan mulai dari semester 2 hingga semester 5. Untuk lolos pemeringkatan SNMPTN otomatis nilai rapot di setiap semesternya harus meningkat. Saat kelas XII, SMART Ekselensia Indonesia memberikan fasilitas yaitu psikotes untuk mengetahui minat dan bakat sebelum menentukan jurusan PTN. Selain itu, pihak sekolah juga menyediakan Bimbingan Konseling (BK) untuk membantu siswa dalam memilih jurusan. Saya pun memanfaatkan BK untuk membantu dan memberikan arahan dalam memilih jurusan.

Di saat saya duduk di kelas XII, guru BK memberikan jadwal konseling kepada masing-masing siswa kelas XII. Tibalah jatah konseling saya waktu itu. Ketika itu guru BK menanyakan tentang latar belakang keluarga saya dan mengenai perkuliahan. Obrolan pun berlanjut dan guru BK menanyakan kepada saya, “Ikhsan, apa kamu berkeinginan untuk SNMPTN?”. Saya pun menjawab, “inginlah, ustazah”. Kemudian guru saya tersebut memberikan daftar nilai dan ranking saya selama 5 semester serta hasil psikotes PTN. Alhamdulillah, tanpa disadari saya selalu mendapat ranking 3 dan nilai rapot rata-rata selalu meningkat. Hasil psikotes pun menunjukkan bahwa saran jurusan saya yaitu akuntansi dan manajemen kebijakan publik. Dari hasil psikotes juga menunjukkan minat kerja saya ada di bagian clerical (berhubungan dengan tugas rutin yang sistematis dan teratur), computation (berhubungan dengan angka), dan personal (berhubungan dengan pelayanan terhadap banyak orang).

Kemudian ustazah bertanya lagi ke saya, “apa kamu yakin bisa lolos pemeringkatan SNMPTN dan seandainya kamu lolos, jurusan apa dan PTN mana yang akan kamu ambil”. Saya pun menjawab “saya sih fifty-fifty, zah. Seandainya lolos pemeringkatan saya akan ambil UGM Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik walaupun kemungkinan kecil untuk diterima. Karena orangtua menyuruh saya untuk kuliah di UGM agar dekat dengan rumah”. Ustazah pun kembali memberikan tanggapan, “jadi kamu mau misi “bunuh diri”. Karena kalau ikhsan mau ambil UGM melalui SNMPTN itu mustahil untuk lolos itu di luar region sekolah kita meskipun niai-nilaimu bagus, coba lihat kakak kelas sebelumnya dan apakah kamu yakin bisa lolos untuk SBMPTN seandainya SNMPTN-mu gagal”. “InsyaAllah saya siap untuk SBMPTN dan yakin lolos” itulah jawaban saya meskipun pada kenyataannya saat itu saya belum siap untuk SBMPTN. Pada tahun ini, pihak manajemen sekolah memasang target bisa lolos 100% siswanya ke perguruan tinggi negeri. Ini menjadi tantangan dan motivasi buat kami terlebih buat saya.

Akhirnya tibalah pengumuman pemeringkatan SNMPTN. Ketika itu saya mencoba untuk login ke akun saya dan Alhamdulillah saya lolos pemeringkatan. Setelah itu saya berdiskusi kepada orangtua, kakak pertama, dan Ustazah Amal, Guru BK. Orangtua dan kakak menyarankan saya untuk memilih UGM dengan berbagai pertimbangan salah satunya dekat dengan rumah dan biaya hidupnya. Kemudian saya konseling dengan guru BK terkait jurusan untuk SNMPTN. Guru BK pun memberikan masukan kepada saya ,”jika kamu tidak lolos SNMPTN, kamu segera move on dan kamu harus bertanggung jawab karena ini keputusanmu”. Saya pun menjawab, “Iya saya siap karena ini keputusan yang saya ambil dan saya juga tidak menyangka bisa lolos pemeringkatan”.

Pada saat finalisasi pendaftaran SNMPTN saya mengambil dua pilihan, pilihan pertama UGM Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik sedangkan pilihan kedua UNPAD Jurusan Administrasi Negara. Meskipun saya lolos pemeringkatan, saya tetap belajar untuk SBMPTN dan menguatkan doa sembari berharap lolos SNMPTN meskipun itu tidak mungkin bagi saya.

Hari pengumuman SNMPTN pun tiba, 17 April 2018 pukul 17.00. Saat itu 16 siswa dinyatakan lolos SNMPTN 2018. Akan tetapi nama saya tidak ada dalam pengumuman tersebut. Saya dinyatakan belum lolos SNMPTN dan harus berjuang di SBMPTN. Hasil tersebut tidak membuat saya patah semangat dan itu adalah keputusan yang saya ambil jadi tidak harus kecewa. Kegagalan adalah awal dari sebuah kesuksesan dari kegagalanlah kita dapat mengambil pelajaran, itulah yang membuat saya tetap semangat untuk berusaha masuk PTN. Saya juga beranggapan Allah mempunyai jalan lain dan mampu untuk mengikuti SBMPTN hingga lolos.

Kemudian saya fokus untuk SBMPTN dengan lebih serius lagi belajar, latihan soal-soal, serta serius dalam TO. Sembari itu, saya juga berkonsultasi jurusan yang akan saya pilih untuk SBMPTN kepada orangtua, kakak, dan ustazah amal selaku guru BK. Saya berkonsultasi dengan melihat beberapa TO yang sudah dijalani dengan hasil yang belum sesuai target. Orangtua dan kakak untuk tetap mengambil UGM dipilihkan pertama dengan jurusan yang sama. Alasannya sama yaitu biayanya dan dekat dengan rumah. Kemudian pilihan kedua saya adalah UNPAD Jurusan Administrasi Negara sedangkan pilihan ketiga yaitu UNY Jurusan Administrasi Negara juga. Guru BK dan manajemen sekolah pun menyetujui pilihan SBMPTN saya. Ketika TO pun saya menggunakan pilihan tersebut. Hasil yang didapat ketika TO pun kurang memuaskan karena saya belum bisa lolos tapi hanya direkomendasikan. Hal ini karena poin atau nilai saya kurang sedikit dari target. Saya terus belajar dan latihan soal-soal.

Hingga akhirnya pendaftaran SBMPTN tiba. Sesuai dengan persetujuan manajemen sekolah dan guru BK, saya mendaftarkan tiga jurusan tadi. Pilihan pertama saya SBMPTN yaitu UGM Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik, pilihan kedua UNPAD Jurusan Administrasi Negara, dan pilihan ketiga UNY Jurusan Ilmu Administrasi Negara. SBMPTN dilaksanakan pada 8 Mei 2018 dan saya mendapatkan lokasi di SMA Tunas Harapan Bogor. Dalam masa penantian ujian SBMPTN ini, saya dan teman-teman Angkatan X SMART Ekselensia Indonesia melaksanakan wisuda terlebih dahulu pada Sabtu, 5 Mei 2018.

Hari yang ditunggu tiba, Selasa 8 Mei 2018, saya dan teman-teman Angkatan X berjuang untuk mengikuti ujian tulis SBMPTN. Dengan penuh ketenangan, ketelitian, serta keseriusan saya menjawab soal-soal SBMPTN. Tak terasa ujian SBMPTN selesai dan hasilnya baru akan diumumkan pada 3 Juli 2018.

Dalam menanti pengumuman SBMPTN, tak lupa saya terus memanjatkan doa agar diberikan yang terbaik supaya tembus di salah satu PTN pilihan. Terlebih lagi waktu itu masuk Bulan Ramadan, waktu di mana doa setiap hamba-Nya dikabulkan. Saya terus memanjatkan doa dan tak lupa melakukan amalan sunah seperti Salat Tahajjud dan Duha. Tak lupa pula saya meminta doa kepada orangtua serta saudara-saudara agar lolos SBMPTN. Sambil menunggu pengumuman, saya pergi berlibur ke beberapa tempat untuk melepas penat dan membuang beban.

Tak terasa waktu pun berlalu dan sampailah pada hari pengumuman. Pengumuman dilaksanakan pada pukul 15.00 dan di akses di web SBMPTN. Waktu itu saya deg-degan, maka saya perbanyak beristigfar dan mencoba login ke laman SBMPTN. Kemudian saya masukkan nomor peserta dan tanggal lahir saya. Setelah itu saya enter dan muncul tulisan nomor peserta, nama, dan tanggal lahir saya serta muncul tulisan selamat anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2018 di PTN Universitas Padjadjaran program studi Ilmu Administrasi Negara. Setelah itu saya dan keluarga bersyukur, Alhamdulillah lulus SBMPTN dan bisa masuk PTN. Alhamdulillah ternyata pilihan kedua yang lolos, karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Mungkin ini salah satu jalan saya menuju puncak kesuksesan.

Semoga ketika kuliah nanti saya bisa berbagi manfaat kepada masyarakat sekitar. Saya dapat aktif dan berkontribusi dalam setiap organisasi kampus serta dapat membanggakan almamater. Selain itu bisa membahagiakan dan membanggakan orangtua dan kakak-kakak saya serta keluarga besar SMART Ekselensia Indonesia, Dompet Dhuafa, dan para donatur. Tak lupa selalu bersyukur kepada Allah Swt., Dialah yang memberikan semua ini. Karena motivasi saya ialah Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada SMART Ekselensia Indonesia terutama dompet dhuafa dan para donatur yang telah memberikan saya beasiswa pendidikan selama 5 tahun di kawah candradimuka. Terima kasih saya ucapkan kepada ustaz dan ustadzah yang telah memberikan segenap ilmu serta seluruh civitas yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Anak Kalimantan Ini Berhasil Masuk Universitas Brawijaya, Simak Kisahnya Di Sini Sob!

Oleh: Ahmad Roni Erlangga, Alumni SMART Angkatan X berkuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Perpajakan 2018

 

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah tempatku menjalani pendidikan SMP dan SMA. SMART merupakan sekolah yang sangat luar biasa, sekolah yang mampu mengubah pandangan akun si anak Kalimantan ini.

Berawal dari informasi yang diberikan oleh guru SD, aku akhirnya mengenal SMART Ekselensia Indonesia. Ketika mendapat informasi tersebut, aku langsung tertarik dengan sekolah ini. Dengan menjalani serangkaian tes yg cukup berat, aku akhirnya lulus beasiswa sekolah ini.

Berat memang ketika awal berada di sekolah ini karena harus jauh dari orangtua di usia yang masih belia. Anak Kalimantan ini, harus cepat beradaptasi dengan lingkungan yang masih sangat asing. Namun, berkat guru-guru dan pengurus sekolah ini, aku dapat melaluinya dengan baik.

Banyak hal yang aku dapatkan sejak bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Anak Kalimantan ini sebelumnya belum mengenal teknologi, masih sangat buta dengan dunia luar. Namun, SMART Ekselensia Indonesia membuatku mengenal semua itu.

Sebuah pengalaman luar biasa bisa bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia.  Sekolah ini tidak hanya berfokus pada nilai akademik saja, akhlak siswa juga menjadi fokus utama. Selain itu ada banyak sekali kegiatan di sekolah ini yang sangat membantu meningkatkan kemampuan siswa. Segala kegiatan siswa selalu di fasilitasi oleh sekolah. Hal itulah yang membuatku mengikuti banyak kegiatan di sekolah ini untuk meningkatkan kapasitas diriku.

Aku tergabung dalam sebuah grup musik yang unik di sekolah ini yaitu Trash Music (TRASHIC). Sebuah grup musik yang alat musiknya dar barang-barang bekas. Kegiatan TRASHIC ini memberikan ku banyak pengalaman. Aku bisa tampil di depan banyak orang dan menghibur mereka. Ada perasaan yang tak bisa dijelaskan ketika melihat orang-orang tersenyum karena penampilanku. Aku juga bisa melihat modern dan megahnya Kota Jakarta yang biasanya hanya kulihat di televisi karena sering diundang untuk tampil. Aku juga bisa berprestasi dan membanggakan  sekolah dengan menjadi juara di sebuah perlombaan perkusi.

Aku juga aktif dalam organisasi di SMART Ekselensia Indonesia. Aku mencalonkan diriku menjadi Ketua OSIS walaupun akhirnya tidak terpilih. Aku akhirnya menjadi ketua bagian kerohanian Islam dan sosial. Tugasku cukup banyak dalam organisasi, aku dan timku harus membuat kegiatan yang dapat meningkatkan jiwa keislaman siswa. Selain itu, aku juga bertanggung jawab untuk membuat kegiatan sosial yang bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Walaupun melelahkan dan menguras banyak tenaga, aku sangat menikmati kesibukanku karena ada imbalan setimpal berupa keterlibatan banyak pihak.

Aku juga aktif dalam berbagai kegiatan, seperti menjadi panitia berbagai acara besar yang diadakan sekolah. Aku sadar betapa besar tanggung jawab ketika bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia, karena sekolahku dibiayai dana zakat. Oleh karena itu, aku selalu aktif dalam berbagai kegiatan yang aku yakin dapat bermanfaat ketika kuliah dan dewasa nanti.

Walaupun ikut berbagai kegiatan yang cukup menyita banyak waktu, aku tidak boleh lupa dengan pelajaran di sekolah. Aku harus bisa membagi waktuku untuk belajar dan mengikuti berbagai kegiatan lainnya. Nilai pelajaran ku di sekolah sangat baik. Hal itu terbukti dengan nilai rapor ku yang selalu diatas KKM, walaupun KKM di SMART Ekselensia Indonesia terbilang cukup tinggi. Aku juga bisa berprestasi di bidang akademik dengan memenangi perlombaan akuntansi.

Hal itu tidak terlepas dari peran para guru yang sangat besar. Guru selalu bisa menyampaikan pelajaran dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Guru juga bisa menjadi teman curhat ketika kami memiliki banyak masalah. Guru di SMART juga selalu mau membantu siswa dalam urusan apapun walaupun itu sudah di luar tugas mereka. Aku menemukan guru-guru yang sangat luar biasa dan berbeda dari sekolah lain.

Aku bercita-cita menjadi Kepala Dirjen Pajak Indonesia. Aku sangat menyukai pelajaran ekonomi, aku juga menemukan guru ekonomi yang luar biasa di sekolah ini. Sekolah juga sangat mendukung cita cita ku ini. Sekolah senantiasa mengarahkanku menuju cita-cita itu. Aku diarahkan untuk memilih jurusan perpajakan ketika kuliah nanti.

Aku pun memilih Jurusan Administrasi Perpajakan di Universitas Brawijaya. Dengan segala usaha dan bimbingan belajar dari guru-guru yang luar biasa, aku bisa lolos di jurusan yang aku ingingkan melalui jalur SBMPTN.

Kini, aku akan menghadapi dunia perkuliahan di universitas impian. Bekal yang telah diberikan oleh SMART Ekselensia Indonesia akan sangat bermanfaat bagiku, aku sangat berterima kasih kepada SMART Ekselensia Indonesia karena aku bisa sampai di titik ini. Aku akan menjadi orang besar dan bisa bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat dengan meraih cita-citaku. Terima kasih SMART Ekselensia Indonesia.

 

 

 

 

 

Ibu, Bapak, Sekarang Saya Anak Hukum

Oleh: Syahrizal Rachim, Alumni SMART Angkatan X berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Ilmu Hukum

 

Nama saya Syahrizal Rachim, kamu pasti sudah akrab dengan saya karena tulisan saya sering mejeng di web SMART. Saya lahir pada 18 Oktober 2000 di Depok dan kini saya bertempat tinggal di Bogor. Saya bersekolah di SMA SMART Ekselensia Indonesia, sebuah sekolah menengah atas berakselerasi dan berasrama yang berbasis keislaman dan kepemimpinan (islamic boarding leadership school). Sebagai siswa sekolah tersebut, saya hanya berkesempatan tinggal di rumah pada saat liburan sekolah yang hanya ada sekali dalam setahun, yaitu saat akhir tahun.

Ayah saya bernama Deddy Suwardi. Beliau bekerja sebagai ojeg antar jemput anak sekolah di sekitar rumah saya. Beliau bekerja dari Senin sampai Jum’at mengikuti jadwal sekolah dan les siswa yang diantarnya. Beliau hanya bekerja sendiri. Beliau adalah seorang tamatan SMA. Adapun ibu saya bernama Ati Ingewati. Beliau tidak bekerja, melainkan fokus sebagai ibu rumah tangga. Beliaulah yang mengurus rumah sepanjang hari dan seorang diri. Beliau adalah seorang tamatan SMA.

Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Jadi, saya memiliki seorang kakak kandung. Kakak saya saat ini berada di jenjang kelas 3 SMA.

Saya tinggal di rumah milik nenek saya yang berada di bilangan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Sebelumnya saya beberapa kali berpindah dari satu rumah kerabat keluarga ke rumah kerabat lainnya karena terkena imbas penggusuran rumah. Selain itu, rumah ini berada di sebuah permukiman yang cukup padat serta sangat dekat dengan Sungai Ciliwung yang berada persis di depan rumah saya

Pada 2007, saya mulai bersekolah di SDN Cilangkap 2 yang letaknya dekat dengan rumah pada saat itu. Selama saya bersekolah SD, saya beberapa kali pindah rumah namun saya tidak berpindah SD. Saat kelas lima SD, saya beberapa kali mengikuti lomba olimpiade sains untuk menjadi perwakilan SD maupun kota dalam bidang IPA. Ketika saya duduk di kelas enam, saya mencoba untuk mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa SMART Ekselensia Indonesia. Saya mengetahui informasi SMART dari salah seorang paman saya dan seorang pengurus DKM sebuah masjid. Saya mengikuti seleksi mulai dari nilai rapor, tes tulis, psikotes, hingga pantukhir yang berlangsung kurang lebih selama 5 bulan. Sekitar bulan Mei 2013, Alhamdulillah saya mendapat kabar bahwa saya diterima masuk SMART Ekselensia Indonesia. Hal ini sangatlah membantu meringankan beban ekonomi keluarga saya yang sedang sulit sekaligus melukis cita-cita dan mimpi besar.

Setelah itu, pada tahun yang sama, saya melanjutkan sekolah di SMP SMART Ekselensia Indonesia. Letaknya di Parung, Bogor. Tidak seperti saat SD, kali ini saya harus hidup di asrama bersama teman-teman saya yang menurut saya sangat hebat dalam bidang akademik dari seluruh penjuru Indonesia. Sama seperti teman yang lainnya, saya sempat sulit untuk beradaptasi hidup jauh dari kakak dan orangtua di asrama. Saya juga bersyukur dapat mempunyai teman-teman yang baik dan lingkungan yang mendukung. Berkat dorongan yang kuat saya berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mencapai target cita-cita dalam memaksimalkan potensi semangat belajar yang ada di SMART Ekselensia.

Saya mulai mengikuti berbagai kegiatan mulai dari berbagai perlombaan dan organisasi siswa di sekolah. Saat kelas 1 dan 2 SMP, Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh SMART mengikuti lomba OSN tingkat kabupaten dan puji syukur mendapatkan juara 2 serta mewakili Kabupaten Bogor di tingkat Provinsi Jawa Barat. Di SMART Ekselensia Indonesia saya sangat menyukai dunia menulis dan jurnalistik. Hingga pada suatu ketika di kelas 3, Alhamdulillah saya berhasil meraih penghargaan jurnalistik tingkat nasional dan anugerah penulis opini terbaik dari Kemendikbud RI di Solo, Jawa Tengah.

Setelah lulus SMP, saya lanjut ke tingkat SMA. Di masa SMA, Alhamdulillah saya mendapat amanah untuk menjadi pengurus OSIS dan ketua sebuah kegiatan sekolah berskala nasional. Di samping itu pula saya harus memerhatikan nilai akademik yang harus konsisten. Alhamdulillah, saya kembali berhasil menjadi juara Olimpiade Sains Kabupaten di bidang kebumian dan menjadi salah satu Duta Bahasa Pelajar Jawa Barat. Alhamdulillah, saat acara kelulusan saya mendapat amanah oleh sekolah dengan menjadi Wisudawan Terbaik SMART Ekselensia Angkatan X. Hal ini menjadi motivasi mendalam untuk terus istiqomah menjaga kesungguhan dan semangat yang selama ini SMART tanamkan kepada seluruh siswa-siswanya oleh para Ustaz dan Ustazah.

Selain itu, saya menemukan cita-cita yang ingin saya capai dan memang sesuai dengan minat dan bakat di sekolah ini. Saya ingin menjadi seorang Jaksa Agung yang jujur dan adil di Indonesia. Saya ingin berkontribusi untuk memajukan negara melalui bidang hukum dan meningkatkan rasa adil bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya juga beranggapan bahwa menjadi Jaksa adalah hal yang istimewa walau penuh dengan tantangan maupun halangan dari berbagai sisi. Pekerjaan ini memang memerlukan keahlian mumpuni karakter yang mengakar seperti kejujuran dan fokus yang tinggi serta kecakapan dalam mengemukakan pendapat. Oleh karena itu, saya ingin menuntut ilmu di Jurusan Ilmu Hukum, Universitas Padjadjaran, sebagai tempat terbaik dalam rangka mencapai cita-cita tersebut. Saya yakin bahwa banyak manfaat, kemampuan, dan pengalaman yang saya peroleh di jurusan tersebut.

Alhamdulillah, sekarang saya resmi diterima di Jurusan Ilmu Hukum-Unpad, bahkan melalui jalur seleksi undangan SNMPTN. Saat ini, saya berusaha untuk fokus mempersiapkan segala hal agar dapat berkuliah dengan baik di tempat tersebut, tempat yang akan saya datangi untuk melanjutkan ikhtiar saya meraih cita-cita setinggi-tingginya.

Memasuki dunia baru pastinya akan banyak tantangan yang datang untuk menguji seberapa besar konsistensi kita dalam memegang nilai-nilai yang telah ditanam sejak masa di SMART Ekselensia Indonesia. Dengan hal tersebut, saya memiliki harapan untuk memaksimalkan diri di dalam kegiatan keorganisasian dan menciptakan karya yang bermanfaat serta berkontribusi nyata bagi kehidupan seluas-luasnya.

Semoga benih-benih kebermanfaatan yang telah ditanam oleh SMART Ekselensia Indonesia tidak akan pernah hilang dan terus membentang segala kebaikan ke seluruh penjuru dunia.

Sudah Saatnya Bangun Duhai Pemuda!

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.

Karena Perjuanganku Baru Dimulai Setelah SMART

Oleh: Muhammad Fatih Daffa

Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

 

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

 

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”.

Sekian.

Mimpiku, SMART, dan Kedokteran UI

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah SWT. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

Yuk Manfaatkan Media Sosial Sebaik-baiknya

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

Dompet Dhuafa hadir dengan pedoman lima pilar program, salah satunya adalah pendidikan. Sekolah SMART Ekselensia Indonesia menjadi salah satu program dari pilarnya.

Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Muhammad Syafi\’i Elbantani (Kak Syaf) mengatakan, program SMART Ekselensia Indonesia berbentuk sekolah bebas biaya untuk anak-anak dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. Anak-anak dhuafa yang lolos seleksi akan disekolahkan di SMP dan SMA SMART Ekselensia Indonesia pada Lembaga Pengembangan Insani di Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dijelaskan Kak Syaf, anak-anak akan belajar di SMP selama tiga tahun dan di SMA selama dua tahun. Mereka juga akan tinggal di asrama yang segala kebutuhannya telah disediakan oleh donatur Dompet Dhuafa

“Semua anak-anak dibiayai Dompet Dhuafa dari kebaikan para donatur, mulai dari kedatangan, seleksi, biaya pendidikan, makan dan semuanya dicover Dompet Dhuafa, bahkan sampai mereka lulus SMA,” kata Kak Syaf kepada Republika.co.id, Kamis (7/2).

Ia menjelaskan, SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah kepemimpinan. Siswa-siswa SMP dan SMA belajar kurikulum nasional dari pemeritah. Tapi mereka juga belajar kepemimpinan, berbicara di depan umum, berargumentasi dan memecahkan masalah. Artinya mereka belajar keterampilan sebagai seorang pemimpin (personal leadership skill).

Selain itu, siswa-siswa juga belajar keterampilan kepemimpinan sosial (social leadership). Seperti belajar manajemen organisasi dan rekayasa sosial. Mereka juga diberi pengalaman magang di desa dan membuat proyek sosial di tengah masyarakat

Sehingga siswa SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi. Tapi mereka juga berpikir bagaimana berkontribusi untuk masyarakat.

“Karena mereka lahir dari Dompet Dhuafa, Dompet Dhuafa lahir untuk memberdayakan masyarakat marginal, maka setiap penerima manfaatnya harus memiliki nilai itu,” ujarnya

Kak Syaf menegaskan, sekolah SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya mendidik anak-anak supaya pintar di bidang akademik. Tapi juga melatih mereka supaya memiliki jiwa sosial yang berkontribusi untuk kepentingan umum. Hasilnya sudah bisa dilihat, sebanyak 90 persen lebih, lulusan SMART Ekselensia Indonesia diterima di perguruan tinggi negeri

Alumni SMART Ekselensia Indonesia juga bisa mendapat beasiswa dari pemerintah. Rata-rata mereka menduduki posisi penting di organisasi kampusnya masing-masing. Ini adalah hasil belajar keterampilan kepemimpinan saat mereka belajar di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

“Jadi yang menonjol di sekolah SMART Ekselensia Indonesia selain akademik, juga kepemimpinan siswanya, itu diukur dari kontribusi anak-anak SMART Ekselensia Indonesia kepada masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sumber : Republika