Dejavu Penuh Memori Berarti

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan V, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

 

 

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

 

 

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustaz ustazah di sana.

 

 

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

 

 

Dari dulu mungkin ustaz-ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

 

 

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk 5 orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon.

 

 

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

 

 

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

 

 

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

 

 

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh Ustaz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

 

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

 

 

 

Kokoh dan Lemahnya Manusia Tergantung Kualitas Konsepsi di Dalam Jiwa Kita Sob

 

 

 

Sob siapa coba yang gak kenal sama sosok Umar bin Khattab? Ia adalah sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendiriannya. Ia juga dikenal sebagai orang yang selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

 

 

 

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad saw.) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya”.

 

 

 

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

 

 

 

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran yaitu sebagai berikut:

 

 

 

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

 

 

 

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan diawali dengan mengubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah saw. menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

 

 

 

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

 

 

 

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

 

 

 

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Surah Asy-Syams (bahasa Arab: الشّمس‎) adalah surah ke-91 dalam Alquran, terdiri atas lima belas ayat, termasuk golongan surah Makkiyah, diturunkan sesudah surah Al-Qadr. Dinamai Asy Syams (matahari) diambil dari perkataan Asy Syams yang terdapat pada ayat permulaan surat ini.

 

 

Surat Asy Syams menerangkan bahwa orang yang menyucikan jiwanya akan memperoleh keberuntungan dan orang yang mengotori jiwanya akan diazab Allah, Naudzubillah. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mensucikan jiwa dan mendapat keberuntungan di sisi Allah.

 

 

Haqers pasti sudah mengenal kak Fathur ya, ia adalah penerima BAKTI NUSA Dompet Dhuafa angkatan 8. Kalau kak Ihsan adalah santri eTahfizh. eTahfizh merupakan program investasi SDM strategis yang berfokus pada Tahfizh-plus (Alquran, Islamic studies, dan leadership), yang diperuntukkan bagi anak-anak pilihan lulusan SMP/MTs/sederajat yang memiliki kemampuan akademik tinggi dan potensi kepemimpinan, namun memiliki keterbatasan finansial.

 

 

Cita-cita Ekselensia Tahfizh School adalah mencetak para pemimpin yang tidak hanya cakap dalam memimpin, tapi juga mampu menjadi penghafal Alquran.

 

 

 

 

e

Asal Yakin Semua Hal Bisa Kamu Raih Sob!

 

 

“Berawal dari sebuah mimpi yang dituliskan di sebuah kertas ketika masih menjadi maba, dan kini mimpi tersebut nyata adanya dan gelar Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni 2019 itu pun dinobatkan padanya”.

 

 

Halo Sob! Perkenalkan nama saya Muhammad Ikrom Azzam, saya  lahir di Jakarta pada 02 April 2000, anak pertama dari empat bersaudara. Saya adalah alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX. Dua tahun yang lalu, pada saat mengikuti masa pengenalan akademik sebagai mahasiswa baru Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya pernah menuliskan sebuah impian di sebuah kertas. Ketika itu, panitia meminta untuk menuliskan tiga impian sebelum resmi menjadi mahasiswa di UNJ. Tak banyak berpikir panjang, saat itu segera saja saya tuliskan impian yang ingin dicapai dari dahulu, yakni: Selama kuliah ingin sekali rasanya bisa keluar negeri naik pesawat, ingin memenangkan berbagai macam perlombaan antar universitas dan menjadi Mahasiswa Berprestasi UNJ. Impian yang agak mustahil sebenarnya bisa saya capai pada saat itu, tapi tekad kuat membuat saya ingin merealisasikan impian tersebut. Alhasil dengan beraninya saya menempelkan kertas impian tersebut di lemari buku asrama.

 

 

Awal perjuangan belajar di kehidupan perkuliahan dimulai ketika masuk semester pertama, kesan manis dan pahit terhampar di masa ini. Awalnya merasa kewalahan dengan pembelajaran yang saya ikuti di perkuliahan karena merasa salah jurusan semakin menguat tiap harinya. Terlebih lagi karena memang dasar pelajaran yang belum banyak di bidang bahasa Arab membuat saya seringkali kesulitan. Tapi komitmen membuat saya terus berusaha, meskipun berat akan saya hadapi dengan kemampuan terbaik. Yang terpenting sudah berani mencoba.

 

 

Kesulitan pembelajaran selama kuliah pernah membuat hampir putus asa dan memutuskan mengubur jauh-jauh tiga mimpi di atas. Tapi rasa-rasanya akan sangat sayang sekali jika saya harus berhenti dan kerja keras yang sudah saya lakukan sampai saat ini, beasiswa demi beasiswa yang saya dapatkan sejak SMP hingga kuliah saat ini tak sepatutnya  manfaatnya berhenti hanya untuk saya, tapi sudah seharusnya terus dilanjutkan manfaatnya ke banyak oranglah yang memacu semangat saya untuk terus berusaha, belajar, dan bekerja keras untuk menggapai semua mimpi-mimpi saya. Pada saat semester dua, entah kenapa rasa optimis untuk tetap berjuang dan berprestasi kembali semakin memuncak. Karena itulah saya mulai mengikuti beragam perlombaan di beberapa PTS dan PTN di wilayah Jabodetabek, nasional, dan memberanikan diri untuk mengikuti perlombaan internasional.

 

 

Selama proses mengikuti dan memenangi berbagai perlombaan di bidang public speaking, literasi, dan penelitian Ilmiah selama semester dua dan semester tiga berkuliah di UNJ. Alhamdulillah semua prestasi saya mampu mengantarkan menjadi peserta termuda pada seleksi pemilihan Mahasiswa Berprestasi di UNJ pada 2019. Tak ada yang menyangka memang, mahasiswa semester tiga yang sebenarnya agak salah jurusan kuliah ini karena dasar bahasa Arabnya yang belum banyak dibandingkan mahasiswa pendidikan bahasa Arab UNJ lainnya mampu diamanahkan untuk mewakili prodi ke tingkat fakultas dan universitas sebagai mahasiswa berprestasi. Bukan sebuah undian berhadiah saya bisa terpilih menjadi Perwakilan Prodi Pendidikan Bahasa Arab maju pada pemilihan mahasiswa berprestasi karena pada saat itu syarat utamanya adalah harus punya IPK sementara di atas 3,5 dan Alhamdulillahnya IPK sementara saya dari semester 1-3 masuk syarat kualifikasi tersebut yakni 3,65 dan memiliki poin lebih karena punya 9 prestasi individu tingkat nasional, 1 prestasi kelompok tingkat nasional, dan 2 prestasi Internasional selama berkuliah dari semester 1-3 kuliah di UNJ.

 

 

Dalam pemilihan mahasiswa berprestasi, saya harus sering berlatih dan mempersiapkan mental karena aspek yang diujikan dalam pemilihan mahasiswa berprestasi meliputi kemampuan bahasa Inggris, kemampuan komunikasi, nilai IPK yang setinggi mungkin (rata-rata IPK di atas 3,5), memiliki karya ilmiah yang solutif, memiliki kepribadian yang baik dan lolos tahap wawancara psikologi. Saya selalu menekankan pada diri bahwa kalah menang itu biasa, yang penting ialah tetap semangat. Setiap mengikuti seleksi menjadi mahasiswa berprestasi di UNJ, saya selalu menyempatkan diri berdoa, berharap menjadi yang terbaik, dan tak lupa meminta restu orangtua. Meskipun saya pada saat itu masih semester tiga, dan harus bersaing dengan kakak kelas saya dari jurusan lainnya di Fakultas Bahasa dan Seni tak membuat gentar karena saya percaya bisa mengejar cita-cita selama kuliah sesuai impian di kertas lemari saya sebagai pemacu agar terus menampilkan yang terbaik. Alhamdulillah, “Kun FA Yakun” Allah menakdirkan saya menjadi Juara dua Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni di UNJ setelah melewati proses seleksi di Grand Final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni 2019 secara ketat dan kompetitif. Tangis haru dan sujud syukur saya panjatkan Kepada Allah Swt. di depan panggung pada saat prosesi pembagian hadiah pemilihan mahasiswa berprestasi, sungguh terharu karena mampu merealisasikan mimpi yang di catatan kala itu, tak sia-sia usaha keras pada awal menjadi mahasiswa baru. Meskipun pada awalnya tidak ada yang pernah percaya bahwa mahasiswa semester 3 tanpa dasar pelajaran Bahasa Arab dan sering mengira kalau ia salah masuk jurusan kuliah namun dengan semangat dan tekad ia mampu melawan semua keterbatasan.

 

 

Terima kasih atas segala doa, dan dukungan yang diberikan terkhusus untuk orang tua, para donatur, ustaz ustazah SMART Ekselensia Indonesia, dan para dosen di UNJ sehingga gelar dan kepercayaan menjadi Mahasiswa Berprestasi ini mampu saya raih dan semoga bisa jadi motivasi bagi adik-adik kelas dan kamu semua ya Sob supaya berani menuliskan mimpi dan berusaha melawan semua keterbatasan dengan tekad dan keyakinan yang besar bahwa kita mampu meraih segala mimpi yang kita harapkan. Aaamin. Semangat Berprestasi!

 

SMART Mewadahi Usahaku Menjadi Orang yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, Undip Jurusan Sastra Indonesia 2017

 

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

 

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama 5 tahun untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

 

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada

disekitarku.

 

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan. Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan oleh SMART kepadaku. Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

 

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

 

Berada di SMART selama lima tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

 

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Alquran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadis tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Alquran dan mengajarkannya.

 

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat mengajar dan yang kuajarkan bersemangat dalam mempelajari  ilmu Alquran. Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain.  Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika, fisika, bahasa, biologi atau yang lain seperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

 

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang dulu aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu. Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

 

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar.  Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

 

Duta Gemari Baca ini bertugas untuk menyebarkan informasi  tentang literasi kepada semua orang dan mengajak orang lain untuk senang membaca. Aku sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian dari Duta Gemari Baca yang dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Menjadi Duta Gemari Baca membuatku merasa menjadi orang yang berguna untuk mengajak orang lain mengenal dan menyukai literasi.

 

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di Desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

 

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

 

Sob pernah mendengar pepatah “banyak jalan menuju Roma” dong? Nah pepatah kudu banget kita sematkan dalam pikiran sebagai pemantik semangat agar kita tetap fokus berkarya dan berkembang. Sebagai milenial perubah masa depan bangsa, sudah sepatutnya kita tak henti berinovasi sesuai bakat dan peminatan masing-masing. Seperti Jerome Polin, si jagoan matematika yang juga selebgram dan peraih beasiswa di Waseda University, Jepang. Ternyata Jerome Polim memiliki rahasia supaya bisa langgeng mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Yuk ah baca di bawah sini

 

1. Berkomitmen mau belajar giat untuk mengumpulkan prestasi sebanyak-banyaknya. Komitmen dan konsistensi dalam mengejar mimpi adalah kunci utama dalam menggapai tujuan lho Sob. Karena atas dasar keyakinan tersebut kita bisa membuka diri dan percaya akan kemampuan diri. Ketekunan dan kerajinan juga diperlukan untuk meraih prestasi sebanyak-banyaknya agar mampu membuka jalan beasiswa.

2. Pantang menyerah, berusaha mampu menyelesaikan soal yang sulit. Habiskan seluruh jatah kegagalanmu, maka selanjutnya kamu akan memetik buah kesuksesan. Jangan takut dan jangan merasa lelah, cari teman sesama pejuang untuk sama2 menjalani hari dalam rangka berproses mencari beasiswa.

3. Tangkap peluang dan berani mencoba.
Bung Karno pernah berkata, bermimpilah setinggi langit. Maka jika gagal kamu akan jatuh di antara para bintang. Carilah informasi sebanyak-banyaknya dan buka jaringan seluas-luasnya. Dengan cara ini pintu beasiswa akan bisa datang dari mana saja.

4. Gak hanya berusaha, berdoa juga penting. Tuhan adalah penentu segalanya. Percaya pada kekuatanNya, dan yakin pada takdir terbaik yang telah Tuhan berikan kepada kita. Karena usaha tanpa berdoa akan celaka, dan berdoa tanpa berusaha akan sia-sia.

5. Bersungguh-sungguh dalam bekerja keras demi mencapai target.
Lakukan setiap rinci proses beasiswa dengan teliti dan semangat. Persiapkan jauh – jauh hari, ambil banyak referensi, dan bayangkan target itu ada di depan matamu. Karena usaha maksimal, tidak akan mengkhianati hasil.

 

Tetap semangat Sob, kamulah pemenangnya. Maka taklukkan dunia, dengan prestasi supaya dapat beasiswa 😇

Sob, ada kabar baik nih dari SMART! Apakah itu? Yap, waktu pendaftaran Seleksi Nasional Beasiswa SMART Ekselensia Indonesia kami PERPANJANG sampai 8 Februari 2021 lhooooo!


Jangan lupa daftarkan dirimu segera ya Sob.


Informasi lebih lengkap saila klik tautan ini >>  http://bit.ly/FormSNBSMP2021 (SMP)⁣ dan ini >> http://bit.ly/FormSNBSMA2021 (SMA)

 

Untuk informasi lebih lanjut sila hubungi 08128996939 (hanya Whatsapp)⁣

Kami tunggu ya!

Ide Hebat dari Watt

 

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

 

 

Hidup atau mati

Keringat bercucuran dari tubuhnya

Teriak keras pada dunia

Sampai nyawa pun rasa tercekat

Hidup

Tampaklah senyum di bibirnya

Bahagia penuh pada hatinya

Walaupun mati di depan mata

Bahagia

Guru terbaik sepanjang masa

Walaupun dia pernah terluka

Senyum bahagia tetap ada

 

Manfaat Menghafal Alquran yang Perlu Kamu Tahu Sob

  Sob seperti yang kita tahu kalau Alquran merupakan mukjizat terbesar Rasulullah saw. yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Bukan hanya menjadi pedoman hidup, ternyata Alquran juga dapat memberikan banyak keberkahan dalam hidup. Tahukah kamu Sob jika ada kajian baru yang membuktikan tentang pengaruh menghafal Alquran terhadap kesehatan? Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, Guru Besar Psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, Arab Saudi,  meneliti dua kelompok responden; mereka terdiri dari mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz dan kelompok mahasiswa Al Imam Asy-Syathibi, yang mana dari kedua kelompok tersebut berjumlah sama yakni 170 responden. Ia menyebutkan bahwa kondisi sehat secara psikologis dapat dinyatakan dengan adanya keselarasan psikis individu. Menurutnya terdapat tiga faktor utama yang digunakan untuk dapat mendefinisikan kesehatan psikologis seseorang, yakni dari aspek agama (spiritual), sosiologis, dan jasmani. Parameter yang digunakan pada penelitian ini adalah kesehatan psikis dari Sulaiman Duwairiat, terdiri dari 60 unit. Berdasarkan hasil penelitian ini, menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis. Mahasiswa yang unggul dalam hafalan Alquran memiliki perbedaan tingkat kesehatan psikis yang sangat jelas. Berikut manfaat-manfaat yang dapat dirasakan dari menghafal Alquran:
  1. Pikiran yang jernih.
  2. Kekuatan memori.
  3. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
  4. Senang dan bahagia.
  5. Terbebas dari takut, sedih, dan cemas.
  6. Mampu berbicara di depan publik.
  7. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
  8. Terbebas dari penyakit takut.
  9. Dapat meningkatkan IQ.
  10. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.
Karena Allah Swt. berfirman: بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ “Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim” (QS. Al ‘Ankabut: 49). Disadur dari: Islampos.com