IELTS menjadi salah satu syarat untuk studi lanjut khususnya diluar negeri. Umumnya band score yang dibutuhkan berada di range minimal 6.5 atau 7.0 namun bisa ada syarat khusus dari jurusan yang dituju. Ujian IELTS ada 4 macam yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Kebanyakan dari kita terlalu fokus terhadap persiapan dirangkaian test dan melupakan persiapan sekunder yang ternyata berdampak besar di saat test.

  1. Paspor/KTP

Mengikuti test IELTS, peserta harus memiliki kartu identitas. Disarankan buat teman-teman agar menggunakan paspor daripada KTP untuk ditunjukkan saat registrasi. Resiko pemakaian paspor lebih kecil daripada KTP, jika menggunakan paspor yang dicek hanya fotonya saja tapi jika menggunakan KTP tanda tangan teman-teman akan dicek dan harus sama persis titik dan lekukan-lekukan untuk bisa ikut test. Jika dianggap tidak sesuai maka teman-teman tidak bisa ikut.

  1. Membiasakan diri menggunakan pensil HB

Biasanya kalau test-test kita umumnya menggunakan pensil 2B tapi IELTS menggunakan pensil HB yang teksturnya lebih keras daripada 2B. Kenyamanan alat tulis biasanya memengaruhi kenyamanan menulis juga. Oh ya saat test semua alat tulis disediakan oleh penyelenggara IELTS.

  1. Menulis rapi

Ternyata kerapihan dalam menulis sangat penting loh. Hampir seluruh test IELTS ‘memaksa’ kita agar memiliki tulisan yang dapat dibaca oleh examiner. Jika teman-teman memiliki tulisan yang kurang rapi, jangan lupa berlatih menulis lebih rapi dan mudah dibaca.

  1. Kroscek lembaga tempat test IELTS

Setiap penyelenggara memiliki fasilitas yang terstandar namun tentu memiliki karakteristiknya masing-masing. Teman-teman mengecek review terhadap fasilitas dan pelayanan yang diberikan demi kenyamanan saat test berlangsung.

  1. Menggunakan baju warna cerah

Tidak ada disebutkan sih hal ini akan berpengaruh terhadap nilai hanya mungkin ini dapat membantu teman-teman saat akan menghadapi examiner saat speaking test. Warna cerah dapat membuat teman-teman terlihat fresh dan cerah serta dapat memancarkan mood yang baik juga sehingga dapat memungkinkan tendensi yang teman-teman rasakan berkurang.

  1. Cek jadwal test

Hal ini menjadi krusial untuk teman-teman yang punya target beasiswa atau sejenisnya yang membuat teman-teman harus segera test. Biaya test IELTS dapat dikatakan tidak terlalu murah sekitar 2.9 juta Rupiah sehingga pendaftarnya tidak sebanyak TOEFL. Bisa saja test yang teman-teman daftarkan dibatalkan karena tidak mencapai jumlah minimum peserta. Jadi pastikan bahwa jadwalnya akan terlaksana.

  1. Tidak banyak minum

Ruangan test biasanya akan sangat dingin dan teman-teman saat sarapan jangan terlalu banyak minum agar saat ditengah test tidak ingin ke toilet. Selain tidak fokus, jika teman-teman ke toilet tidak ada penambahan waktu pengerjaan dan teman-teman harus scan sidik jari lagi dipintu masuk seperti saat awal registrasi.

 

“Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS. 87: 6-7).   Surah Al-A’la adalah surat ke 87 dalam Alquran tergolong surat makiyyah yang terdiri atas 19 ayat. Dinamakan Al A’laa berarti Yang Paling Tinggi diambil dari perkataan Al A’laa dan terdapat pada ayat pertama surat ini.   Allah menjaga wahyu dan kitab-Nya dengan menurunkan malaikat Jibril yang terus memantau hafalan Nabi Muhammad saw. dan mengeceknya terus. Sebagian ulama mengartikan bahwa Nabi Muhammad saw. dikaruniai hafalan sangat kuat sehingga tidak akan lupa. Kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Dzat Yang Maha Tahu dan hal tersebut tidak terjadi.   Di akhir pekan ini jangan lupa untuk menyempatkan membaca dan menghafal Alquran ya Sob
https://youtu.be/u6k5Xd8bWwg

Ngomongin Pemimpin yuk Sob!

 

Siswa merupakan suatu gelar yang sangat istimewa yang ada pada pemuda. Adapun peranan siswa yang tidak akan berubah, yaitu agent of change, social control, dan iron stock. Agent of change adalah peran mahasiwa dalam melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik. Siswa yang sedang berada tahap belajar, mulai memahami kaidah- kaidah yang semestinya yang diterapkan pada kehidupan bernegara. Jika ada sesuatu yang tidak berada dalam aturannya, maka siswalah yang akan mengembalikan ke jalur yang semestinya. Social control adalah peran siswa dalam mengamati lingkungan dan negaranya. Seringkali, pemerintah yang berada diatas hirarki bernegara melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi masyarakatnya atau dapat dikatakatan menguntungkan diri sendiri. Maka itulah peran siswa memperbaiki hal tersebut dengan tanpa kepetingan tertentu didalamnya. Yang terakhir adalah Iron stock, siswa diharapkan menjadi pemimpin- pemimpin negara yang lebih baik. Karena siswa telah mengetahui bagaimana hal yang semestinya diperbaiki untuk menyejahterakan negara, hal tersebut Karena siswa telah mengkaji kebijakan-kebijakan pemimpin sebelumnya. Dengan mengetahui hal yang dipaparkan tersebut hendaknya kita sebagai siswa menjadi pemimpin yang dapat berguna bagi rakyat.

 

 

Kontribusi dalam kamus besar Bahasa Indonesia dapat berarti sumbangan. Nah, sumbangan seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini. Menilik dari permasalahan bangsa ini di saat sekarang sudah jelaslah solusi dari permasalahn tersebut, dibutuhkan kesadaran pemuda bangsa ini untuk menjadi pemimpin negeri ini dalam memberantas krisis ideologi yang tengah terjadi. Seorang pemimpin yang terus mempelajari dan berbagi mengenai seluk beluk ideologi pancasila yang sebenar–benarnya.

 

 

Adalah suatu kesia-siaan jika gelar siswa ini tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sangat mubazir jika kita hanya menjadi seorang apatis yang hanya kuliah-pulang atau kuliah-kafe. Belum lagi peran kita sebagai manusia yang diciptakan dimuka bumi untuk menjadi pemimpin umat sedunia.

 

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

 

 

Berbicara tentang pemimpin, pemimpin Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi zaman sekarang, seharusnya pemimpin Indonesia dapat membuat terobosan terbaru yang efektif dan efesien dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Biarlah terobosan tersebut hanya hal kecil. Bisa saja hal kecil seperti sebuah akun khusus dan laman khusus yang akan otomatis ada ketika sebuah akun pemuda Indonesia aktif. Akun khusus inilah nantinya yang menjadi media berbagi serta menguatkan prinsip – prinsip Pancasila kepada setiap pengguna media sosial di tanah air.

 

 

Selain itu, pemimpin juga harus mengetahui segala problematika yang terjadi di Indonesia. Permasalahan saat ini sebenarnya dapat teratasi jika generasi muda sebagai calon pemimpin benar-benar menerapkan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Namun sayangnya ada pemuda yang menganggap pancasila itu tidak relevan. Meskipun ada pemuda yang mengaku mencintai pancasila, tapi mereka tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila seutuhnya. Mereka memang mempunyai nilai nasonalisme yang cukup tinggi, tapi apakah nasionalisme saja sudah cukup untuk memahami makna pancasila? Tidak, karena dalam pancasila telah dirumuskan nilai-nilai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan kepada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Untuk itu, pemimpin dengan pemahaman tinggi terhadap ideologi sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

 

 

Oleh karena itu janganlah kita menyia-nyiakan waktu yang kita miliki, karena Ahmad Rifa’i Rif’an seorang penulis buku Hidup Sekali, Berarti lalu Mati pernah menyampaikan dalam bukunya:

 

 

Bukankah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan maha karya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah? Lahir, hidup, mati tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya.

 

 

Tahun Baru Saatnya Asah Jiwa Kepemimpinanmu Sob!

 

Memahami kepemimpinan Islam

Kepemimpinan merupakan karakter istimewa yang menjadi harga mahal dalam kehidupan manusia. Jika orang memiliki karakter pemimpin, maka pasti hidupnya akan disibukkan dengan kebutuhan masyarakat. Penerapan karakter pemimpin tidak hanya dinisbatkan pada posisi struktural belaka. Hampir semua aspek lini kehidupan, karakter pemimpin menjadi karakter yang sangat dituntut oleh masyarakat karena pentingnya sifat tersebut.

Maka dari itu penting bagi seseorang yang menjabat hajat orang banyak untuk memiliki karakter pemimpin, sebuah karakter yang mendahulukan kebutuhan jamaah (kelompok) diatas kepentingan pribadi. Dalam Alquran, istilah pemimpin identik kata Imam, yang berasal dari kata ‘amma ya’ummu yang berarti menuju, menumpu atau meladani. Kata tersebut seakar dengan kata umat, pemimpin masyarakatnya sering disebut Imam, sedangkan masyarakatnya disebut umat.[1] Dalam kajian kepemimpinan ilmuan barat (orientalisme), kepemimpinan cenderung materelistis mengedepankan keuntungan sebanyak-banyaknya dari yang dipimpinnya. Maka tak heran jika kita selalu mendengar masa sekolah dahulu, pemimpin adalah orang yang bisa mempengaruhi. Sedangkan dalam konsep Islam, bersumber pada wahyu Alquran dan Hadis dan Sirah Nabawi, kepemimpinan tidak hanya bersifat materelistik. Akan tetapi juga mempertimbangkan aspek ukhrawinya (akhirat), yang secara otomatis lebih humanis.

Menurut Bachtiar Firdaus[2] terdapat lima  unsur kepemimpin yang bersumber dari para Nabi (profetik) yang berkelindan tidak dapat dipisahkan satu diantaranya. Penjebaran dari lima unsur kepemimpinan tersebut akan diformulasikan dalam bagan sebagai berikut.

  1. Kepemimpinan berilmu;

Sudah selayaknya pemimpin berilmu, pemimpin adalah nahkoda bagi awak kapalnya yang membawa penumpang sampai pada tujuannya. Sungguh akan berbahaya jika pemimpin tidak memiliki ilmu, maka kesesatan dan kelayuan akan menimpa sekumpulan orang tersebut. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw., mengingatkan betul bahwa “jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (HR. Bukhari)

  1. Kepemimpinan kuat

Diriwayatkan dalam Imam Muslim bahwa Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah saw.” “Yaa Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku sebagai pengusa (amil)?” Rasulullah Menjawab, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan. Kecuali orang-orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya”. Maka sudah sepantasnya kita mengukur diri untuk meminta amanah, dan memastikan amanah datang pada orang yang tepat.

  1. Kepemimpinan bertaqwa

Ibarat kepala bagi sebuah badan, pemimpin adalah otaknya yang mengatur semua gerakan anggota tubuhnya. Karena pemimpin tidak hanya cerdas, tetapi adil dan jujur.  Dalam QS. Al-Maidah 5;8, I’diluu huwa aqrabu littaqwa – Berbuat adillah, karena adil itu dekat dengan taqwa. Dan dampak dari taqwa mempengaruhi segala aspek kehidupan. Jika penduduk bumi taqwa, niscaya Allah turunkan keberkahan dan rahmatnya.

  1. Kepemimpinan amanah

Para Nabi memberikan contoh integritas yang luar biasa dalam sirah para ulama’. Kredibelitas dan integritas tinggi yang dapat dipercaya oleh kaumnya beserta cobaannya membuat teguh para Nabi memegang amanah. Maka, orang yang amanah tidak akan mudah oleh godaan materi, berupa harta, tahta, dan tipu daya duniawi.

  1. Kepemimpinan regeneratif

Nabi Muhammad saw. selain sukses memegang amanah kenabian, ia juga sukses membangun generasi unggul. Setelah kepemimpinan nubuwwah (kenabian). Khulafarrassyidin, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali sukses melanjutkan risalah dakwah Islamiyah. Bahkan perkembangan dan pembebesan pada masa ini cukup besar dan luas membentang dari keseluruh penjuru negeri mencerahkan umat. Menyiapkan generasi yang lebih baik merupakan keharusan dari setiap pemimpin. Sekali lagi, kelima unsur tersebut akan saling berkaitan, berkelindan tidak dapat dipisahkan. Maka fainsyaAllaah jika kelimanya dalam sebuah pemimpin, keridhaan Allah beserta keberkahan rahmatnya turun kepada setiap entitas yang menerapkannya.

 

Pentingnya jaringan dalam kepemimpinan

Salah satu indikator berhasilnya organisasi atau secara personal adalah kemampuan membangun jejaring (networking). Mampu melihat peluang dari setiap sudut yang dilihatnya dan kemudian akan di follow up dengan kemampuan komunikasi yang matang untuk mendapatkan maksud dan tujuan yang diharapkan. Jejaring merupakan suatu hal yang penting di era millenium serba teknologi. Jika kita masih merasa bisa sendiri, merasa mampu melakukan suatuha sendiri layaknya Superman, tentu kita akan digilas oleh zaman.

Kondisi manusia millenial pada hari ini pun terkondisikan dengan semangat kolaboratif. Jika kebaikan proyek sosial bisa dilakukan bersama-sama, kenapa harus sendirian. Kiranya begitu tagline manusia millenial jaman now. Kita bisa melihat bagaimana munculnya platform digital crowdfunding begitu banyaknya dan memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat misalnya kita bisa sebut kitabisa.com dan masih banyak lagi. Artinya, tidak bisa dipungkiri berjejaring adalah keharusan bagi pemimpin di era sekarang.

Berjejaring akan menentukan kualitas pribadi seseorang atau kelembagaan tertentu. Kita tahu GoJek bisa semakin besar karena suntikan dana dari investor, sehingga bisa mengembangkan inovasi yang menghasilkan produk yang tepat sasaran menjadi kebutuhan masyarakat. Begitu seterusnya kualitas seseorang juga akan semakin baik hidupnya jika memiliki banyak jaringan untuk saling membantu melengkapi diantara satu dengan yang lain.

Untuk lebih dalam mengeksplorasi pentingnya membangun jaringan, penulis akan visualisasi pengelolaan jejaring dalam studi kasus di organisasi sebagai berikut.

  1. Strategi pengelolaan jejaring
  2. Inventarisisasi jejaring

Perlu diinventarisir siapa saja elemen eksternal yang sekiranya bisa membantu (support) baik kebutuhan personal ataupun kebutuhan organisasi. Misal jika posisi barada dalam organisasi maka perlu dicatat kembali siapa saja alumni yang bisa dihubungi untuk terus dimintai masukan baik dari segi pemikiran, atau bahkan finansial. Optimalisasi peran alumni sangat penting dalam organisasi. Kadang terdapat alumni yang sudah menjadi tokoh sehingga bisa menjadi pemateri yang tidak perlu dibayar lagi, dan bahkan memberikan support finansial ke organisasi. Perlu diinventarisir siapa saja alumni sesuai dengan pekerjaannnya sehingga kita bisa silaturahmi jika membutuhkan bantuan alumni. Selain alumni, perlu diinventarisir perusahaan yang biasa kerja sama dengan organisasi, donatur yang biasa membantu, dan elemen ekternal lain yang sekiranya bisa membantu.

 

 

Analisis kondisi jejaring

Analisis kembali hasil inventarisasi yang sudah dilakukan. Kategorikan ke dalam dua hal, alumni atau perusaahaan yang masih ada kontaknya dan bisa dikontak, sama alumni atau perusahaan yang sudah tidak ada datanya dan sudah tidak bisa kontak kembali.

Untuk alumni atau perusahaan yang hilang kontak tapi sekiranya dipertimbangkan bisa komunikasi dimintai bantuan, segera dicari kembali, juga lakukan peremajaan data alumni terbaru beserta perusahaan yang sevisi dan lumrah membantu kegiatan/kepanitian organisasi.

Sedangkan bagi alumni atau perusahaan yang sudah tidak bersedia diminta bantuan atau sekedar silaturahmi maka dibersihkan supaya organisasi fokus dengan data yang bisa dioptimalkan. Pendataan alumni dan perusahaan menjadi sangat penting dan cukup signifikan membantu organisasi.

 

 

Komunikasi kembali dengan jejaring

Lakukan komunikasi rutin dengan alumni dan perusahaan. Rajut silaturahmi di awal kepengurusan, tengah, dan akhir. Buat report bulanan yang singkat padat namun tetap informatif untuk memberikan kabar update. Hindari kontak mendadak dan meminta bantuan dana tanpa ada silaturrahmi sebelumnya dan atau setelah terdampak masalah.

 

Meeting menghasilkan kesepakatan

Pastikan kesiapan mental dan bahan meeting sudah terpenuhi sebelum melakukan meeting dengan alumni atau dengan perusahaan. Hindari kesalahan teknis di proposal.

 

Teknik lobi

Soft skill yang harus dimiliki dalam ikhtiar berjejaring adalah kemampuan lobi. Sebenarnya sederhana terkait ilmu lobbying, yakni kematangan publik speaking, emosional, pengetahuan terhadap lawan bicara dan memiliki attitude yang baik. Prinsip setiap perusahaan memiliki dana sosial (CSR) untuk dikeluarkan disalurkan kepada kegiatan yang dianggap sesuai dengan visinya. Maka kemungkinan besar jika acara tepat dengan keinginan perusahaan, beserta klasifikasi penanggung jawab (PJ) sponsorship yang mumpuni berjalan dengan baik, maka InsyaAllah semuanya akan berjalan baik pula.

 

Dalam studi kasus lain misalnya mengajak kerjasama komunitas juga jika acara cocok dengan komunitas yang diundang dan PJ delegasi sesuai dengan klasifikasi di atas pun InsyaAllah berhasil mendapatkan tujuan. Maka dari itu, disini perlu diperhatikan betul PJ humas atau delegasi sponsorship untuk melakukan lobbying menghasilkan kesepakatan. Kemampuan berjejaring dengan baik akan menentukan kualitas kepemimpinan seseorang yang akan memberikan dampak signifikan baik secara personal ataupun kelembagaan. (*)

 

[1] Bachtiar Firdaus. 2016. Prophetic Leadership. Surabaya : Saga. Hlm. 124.

[2] Bachtiar Firdaus. Ibid. hlm

 

 

Ini Dia Peran Kita Semua Sebagai Generasi Penerus Bangsa Sob

 

Pemuda merupakan suatu generasi penerus bangsa memang telah menjadi suatu pemahaman yang tidak baru lagi. Bahkan kemajuan suatu bangsa juga sering dikaitkan dengan bagaimana peran pemuda didalamnya, seperti bagaimana produktifitas pemuda demi kemajuaan dan eksistensi bangsanya. Tidak terkecuali bagi bangsa Indonesia, generasi muda juga menjadi suatu tonggak bagi kemajuan dan pembangunan bangsa.

 

 

Hal ini bahkan sudah terjadi dari masa perjuangan sejarah kemerdekaan Indonesia, yaitu saat adanya beberapa peranan pemuda dalam meningkatkan semangat perjuangan demi mengusir penjajah dan mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, dalam kesempatan kali ini akan dibahas mengenai peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, apa dan bagaimana pemuda seharusnya berperan sebagai kunci atau penerus bangsa Indonesia.

 

Memang ketika pernyataan peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa biasanya lebih mengarah pada masa-masa sekarang, tetapi bukan berarti peran pemuda kemerdekaan RI dimana lalu bukan merupakan sebuah penerus bangsa. Bahkan jika di pikir ulang tanpa peran pemuda di masa perjuangan dulu, maka bangsa Indonesia mungkin tidak dapat berdiri kokoh seperti sekarang ini. Inilah mengapa peranan pemuda, terutama pemuda Indonesia sendiri bagi bangsa Indonesia sudah terjadi sejak dahulu dan juga tercatat didalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, mengingat kembali apa saja peranan pemuda dimasa sejarah tersebut juga penting sebelum mengetahui atau memahami peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa saat ini.

 

 

Peran pemuda dalam sejarah yang pertama bisa di lihat dari adanya pergerakan Budi Utomo yang berlangsung pada tahun 1908. Setelah itu ada pula peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi pada tahun 1928 dimana menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda seluruh Indonesia dalam semangat kemerdekaan Indonesia. Ada pula peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 yang mana juga menyangkut golongan muda didalamnya. Terlebih lagi banyak sekali pergerakan pemuda, pelajar, dan juga mahasiswa yang berlangsung pada sekitar tahun 1966, hingga pergerakan mahasiswa yang kemudian berhasil meruntuhkan kekuasaan orde baru pada tahun 1998 yang juga sekaligus mengantarkan bangsa Indonesia pada masa reformasi.

 

 

Dilihat dari beberapa peristiwa sejarah yang penting untuk dikenang tersebut, memang dapat disimpulkan bahwa peran pemuda dalam mencapai suatu kemerdekaan Indonesia menjadi suatu titik awal dari peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini juga membuktikan bahwa pemuda menjadi suatu tonggak bagi bangsa Indonesia dalam masa pembangunan nasional, artinya bahwa penting adanya peran pemuda dalam pembangunan nasional. Sebagai penerus bangsa, generasi muda berarti menanggung harga dan martabat bangsa Indonesia terutama di dunia Internasional, dimana persaingan dan penjajahan identitas bangsa dapat berlangsung di berbagai macam bidang kehidupan. Oleh sebab itulah penting pula menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda dan juga sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa saja peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, terutama dalam masa atau jaman yang semakin global dan berkembang modern ini.

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pemuda merupakan generasi penerus bangsa Indonesia, maka sebenarnya generasi muda juga menjadi komponen yang penting dan perlu dilibatkan dalam pembangunan bangsa Indonesia, baik secara nasional maupun daerah. Mengapa demikian? Hal ini berkaitan erat dengan dasar dari generasi muda yang sebenarnya memiliki fisik yang kuat, pengetahuan yang baru, inovatif, dan juga memiliki tingkat kreativitas yang tinggi pula.

 

Kondisi tersebutlah yang membuat peranan pemuda sebenarnya penting dalam proses pembangunan bangsa Indonesia maupun sebagai penerus bangsa. Tanpa adanya peranan generasi muda atau pemuda Indonesia maka bangsa Indonesia pastinya akan sulit mengalami perubahan dan akan mudah pula kehilangan identitas bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa sebenarnya memiliki beberapa peranan yang seharusnya dapat dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Beberapa peranan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

 

  • Agent of Change

Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa Indonesia yang pertama dapat dilihat dari peran pemuda sebagai agent of change atau agen perubahan. Artinya bahwa pemuda Indonesia sebenarnya memiliki peranan untuk menjadi pusat dari kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri. Dalam hal ini dapat dilakukan melalui pengadaan perubahan-perubahan dalam lingkungan masyarakat, baik secara nasional maupun daerah, menuju kepada arah yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa ada pernyataan seperti peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, karena yang menentukan kemajuan bangsa Indonesia dimasa depan adalah para generasi mudanya melalui keberhasilan perubahan-perubahan positif yang dapat dilakukan. Memang berbagai macam tantangan pastinya akan dihadapi atau dialami oleh para generasi muda, tetapi setidaknya para pemuda dapat kembali menengok pada makna sumpah pemuda atau pun makna kemerdekaan Indonesia.

 

Di mana segala tantangan yang ada akan dapat dihadapi jika perbedaan-perbedaan yang ada dapat dihadapi dengan positif dan dilakukan secara bersama-sama yang juga sesuai dengan asas Bhinneka Tunggal Ika. Seperti melalui upaya saling memotivasi dan mendorong adanya kemajuan pada masyarakat. Salah satu kunci agar dapat sukses menjadi agent of change pastinya adalah keyakinan yang dimiliki para pemuda, maksudnya adalah para generasi muda harus yakin akan apa yang mereka miliki dan selalu melakukannya dengan baik dan benar.

 

  • Agent of Developmet

Selain menjadi agen perubahan, peran pemuda juga sebagai agent of development atau agen pembangunan sebagai penerus bangsa. Artinya bahwa para pemuda Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab dalam upaya melancarkan atau melaksanakan berbagai macam pembangunan di berbagai macam bidang, baik pembangunan nasional maupun pembangunan daerah.

Mengapa agen pembangunan juga menjadi suatu peran penting pemuda sebagai penerus bangsa? Hal ini disebabkan karena para pemuda Indonesia wajib menjaga eksistensi bangsa Indonesia di kancah dunia, serta selalu dapat memberikan kesan yang baik di mata dunia. Sebagai contoh seperti mengembangkan bidang kebudayaan daerah Indonesia, kemudian memperkenalkannya pada dunia internasional.

Bahkan agen pembangunan disini bukan hanya sebatas pembangunan fisik maupun non fisik secara nasional dan daerah saja, tetapi juga menyangkut mengenai kemampuan pengembangan potensi generasi muda lainnya. Artinya adalah diperlukan adanya upaya bagaimana potensi dan produktifitas yang ada di diri para generasi muda dapat dikembangkan secara bersama-sama demi mencapai tujuan pembangunan bangsa Indonesia dimana sekarang maupun dimasa yang akan datang.

 

  • Agent of Modernizations

Peran yang selanjutnya adalah menjadi agent of modernization atau agen pembaharuan bangsa Indonesia. Artinya bahwa para pemuda Indonesia wajib memiliki kemampuan dalam menganalisa perubahan zaman yang pastinya memberi pengaruh besar pada bangsa Indonesia, sehingga mereka dapat memilih mana yang memang perlu untuk dirubah dan juga mana yang seharusnya dipertahankan.

Sebagai contoh seperti perkembangan teknologi yang semakin maju di berbagai bidang, dimana melalui aktivitas pemuda pula bangsa Indonesia kemudian dapat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang semakin maju, sehingga tidak menjadi suatu bangsa yang tertinggal. Namun dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin maju dan modern juga menjadikan segala pengaruh bahkan kebudayaan asing masuk lebih mudah, maka disinilah muncul tantangan bagi pemuda Indonesia untuk tetap dapat mempertahankan identitas bangsa Indonesia.

 

  • Membangun Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu pondasi dari berbagai peranan diatas, tanpa adanya pendidikan yang kuat maka para pemuda Indonesia pastinya akan merasakan kesusahan dalam menjalankan peran mereka sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, wajib berpendidikan juga penting untuk ditanamkan pada generasi muda bangsa Indonesia. Beberapa peran pemuda dalam membangun pendidikan di Indonesia juga dapat dilihat dari adanya banyak tenaga pendidik yang masih tergolong muda dan semangat memberikan pendidikan yang bermutu pada generasi penerusnya. Belum lagi banyak pula kegiatan-kegiatan pemuda Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama pada daerah-daerah terpencil di pulau-pulau yang tersebar diseluruh pelosok bangsa Indonesia. Kondisi tersebut juga sudah termasuk dalam upaya para pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa dalam usahanya membangun pendidikan yang lebih baik lagi dari masa-masa sebelumnya.

 

  • Memiliki Semangat Juang yang Tinggi

Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang terakhir adalah tertanamnya jiwa semangat perjuangan yang tinggi pada generasi muda baik pada masa sekarang maupun masa terdahulu. Hal yang dapat dilakukan adalah seperti selalu berusaha sebaik mungkin untuk dapat mencapai prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia di mata dunia, menghilangkan jiwa mudah menyerah, menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, dan lain sebagainya. Terlebih lagi semangat pemuda dalam usahanya mencapai tujuan pembangunan nasional, seperti dengan menyampaikan ide-ide pembangunan yang baru maupun keinginan untuk terjun langsung dalam pembangunan bangsa Indonesia. Walaupun kegagalan sering dialami oleh para pemuda Indonesia, tetapi perlu diingat kembali untuk tidak mudah menyerah karena sebenarnya kegagalan merupakan suatu awal dari kebangkitan dan juga kesuksesan. Tidak lupa pula, semangat yang tinggi ini juga dapat diraih dengan terus menerapkan makna sumpah pemuda dan juga makna kemerdekaan Indonesia.

 

 

Itulah dia beberapa peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang penting untuk dipahami dan juga diupayakan untuk dilakukan demi kebaikan bangsa Indonesia sendiri, baik masa masa dahulu, sekarang, maupun di masa depan. Dari beberapa peranan tersebut juga dapat disimpulkan bahwa memang benar pemuda merupakan suatu tonggak atau kunci dari adanya pembangunan dan perubahan yang terjadi pada bangsa Indonesia, oleh sebab itulah pemuda dianggap sebagai suatu penerus bangsa, terutama bagi bangsa Indonesia sendiri. Dengan adanya peran pemuda yang signifikan, seperti peran generasi muda dalam mengisi kemerdekaan, dapat menjadi suatu langkah atau pintu awal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi lebih maju dan berkembang lagi dimasa yang akan datang, terlebih di mata dunia. Demikian ulasan mengenai peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, semoga bermanfaat.

Sob sebelum memasuki krisis paruh hidup atau dikenal dengan istilah quater life crisis adalah suatu fase hidup (usia 20-30 tahun) di mana pada fase ini, seseorang akan merasa dipersimpangan jalan yang membuatnya dilema dalam menentukan arah karena dihadapkan dengan berbagai tuntutan. Hal ini menyebabkan sering kali individu bersangkutan merasa tertekan dan stress dengan berbagai pilihan yang memiliki konsekuensi tersendiri seperti dari bangku perguruan tinggi menuju masyarakat, mencari pekerjaan, melanjutkan studi, atau rencana lainnya.  Kondisi ini pada akhirnya membuat banyak penulis menjelaskan saran untuk menghadapi tekanan dan stress yang semakin hari semakin tinggi, salah satunya Mark Manson.

 

 

Dalam buku international best seller berjudul Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (terjemahan indonesia), Mark Manson menjelaskan bagaimana seni untuk mengabaikan tekanan dan tuntutan dewasa ini. Berdasarkan uraiannya, Manson berpandangan bahwa hidup terkadang memang menyebalkan. Banyak keinginan yang tidak tercapai, seperti kita bukanlah seorang yang populer di kampus, belum memiliki pasangan, tidak terlalu kaya, dll. “Namun, apa yang salah dengan itu?” “Bukankah hal tersebut tidak mempengaruhi apapun?” Maksud Manson, kita tentu masih tetap bisa berkarya dan hidup seperti biasa. Perasaan inferior yang didapat dari tekanan tren media sosial atau masyarakat sering kali membuat kita menciptakan parameter palsu dimana hidup bahagia adalah seperti hidup orang lain, meskipun pada faktanya, hidup orang lain tidak sesempurna yang kita kira.  Oleh karena itu menurut Manson, “peduli amat dengan semua hal-hal keren versi masyarakat?” “Kita sejatinya dapat hidup dengan parameter dan kebahagiaan kita sendiri”.“Jadi, masa bodo sajalah!”

 

 

Meskipun menarik dan solutif, permasalahan yang diajukan oleh Manson dengan quater life crisis sangat berbeda. Manson dengan seni bersikap masa bodoh versinya, menyorot tekanan tren di masa kini sebagai masalah. Sehingga, solusi yang diajukan yakni menyadari kepalsuan dari tren dan mulai menerima hidup yang lebih realistis guna mencapai kebahagian. Namun, dalam krisis paruh hidup, yang membuat individu merasa tertekan bukan tren dimasa kini, melainkan tekanan dari kemungkinan  yang akan terjadi dimasa depan. Rasa khawatir tentang pekerjaan, pendidikan, atau bahkan pasangan hidup, tentu saja tidak dapat diabaikan dengan masa bodoh. Maksud penulis, “bagaimana mungkin bersikap masa bodoh tentang masa depan?” Oleh sebab itu, pada tulisan ini, penulis mencoba menguraikan bagaimana seni untuk bertindak masa pintar (sebagai anti-thesis masa bodoh) versi filsafat stoisisme, khusus bagi siapa saja yang sedang menghadapi quater life crisis.

 

 

Filsafat Stoisisme ; Sebuah Pengantar

Filsafat Stoisisme adalah aliran filsafat Yunani-Romawi yang pada awalnya dikembangkan oleh masyarakat Stoa melalui kombinasi filsafat Plato dan Aristoteles dengan etika versi Stoa. Inti dari dasar pemikiran stoisisme yaitu bagaimana mengendalikan afeksi manusia dan alam serta bagaimana menanggung penderitaan dengan tenang dan hidup bahagia dengan melakukan kebajikan. Berbeda dengan filsafat Plato dan Aristoteles yang lebih menekankan rasionalisme dan empirisme, stoisisme justru menekankan metafisisme (ketuhanan). Filsafat Stosisme dimulai dari 3 abad sebelum masehi dan terus berkembang hingga 3 abad setelah masehi. Adapun tokoh-tokoh Stosisme yakni Zeno (generasi awal), Saneca (generasi tengah), hingga generasi akhir (Marcus Aurelius).

 

 

Dari pekembangannya selama ratusan tahun, Stosisme waktu demi waktu membentuk asumsi-asumsi dasar. Setidaknya, terdapat 3 asumsi dasar Stosisme yang relevan dengan konteks krisis paruh hidup. Asumsi dasar pertama yaitu dunia berjalan dengan pola-pola tertentu, walaupun dalam praktiknya tidak selalu sama. Di setiap pola ini, selalu ada Tuhan yang meliputi. Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebutnya hukum alam atau Sunnatullah. Pola-pola yang sudah ditetapkan ini, membuat setiap makhluk, termasuk manusia memiliki perannya sendiri. Asumsi kedua, karena dunia berjalan berdasarkan hukum yang ditetapkan Tuhan, maka tidak semua keadaan yang terjadi dapat ditentukan manusia. Terakhir, untuk dapat hidup dengan tentang, manusia harus berdamai dengan alam dan dirinya sendiri.

 

 

Seni Untuk Bertindak Pintar Amat

Masih segar di dalam pikiran, ketika penulis tengah menghadapi masa kelulusan dan menuju perguruan tinggi. Masa itu memberikat efek khawatir yang tidak tergambarkan. Perasaan takut apakah dapat lulus pada PTN yang diinginkan, apakah dapat memperoleh beasiswa, apakah dapat menjalani studi dengan nilai yang memuaskan, dan lainnya selalu berkecamuk di pikiran. Namun, seiring berjalan waktu, semua kekhawatiran dan ketakutan hilang. Kini, penulis mendapati bahwa empat tahun sudah berlalu dan penulis telah lulus dari perguruan tinggi. Memang, terdapat kekhawatiran yang benar-benar terjadi. Akan tetapi, dalam prosesnya terdapat skenario yang juga tidak terduga sehingga dapat masa sulit dapat dilalui. Ini berarti, setiap kekhawatiran dan ketakutan yang kita alami hari ini, sebetulnya adalah hasil dari olah pikiran yang tidak pada tempatnya. Masa depan adalah sesuatu yang ada diluar jangkauan manusia. Namun, ketika masa itu datang, manusia akan selalu beradaptasi dengan sendirinya, sebagaimana penulis dan pembaca beradaptasi dengan segala hal yang ada pada hari ini. Dalam mengahadapi quater life crisis,individu harus menyadari bahwa segala kekhawatiran dimasa depan akan terselesaikan di tempatnya yaitu di masa depan. Setiap hari, memiliki penyelesaian tersendiri. Jadi, tenanglah

Oleh: Dede Iwanah, S.Pd.

Guru IPS SMP SMART Ekselensia Indonesia

 

Hari itu, Sabtu siang nan terik, berkumpulah belasan bapak/ibu guru dari berbagai jenjang sekolah mulai PAUD, SD baik negeri maupun swasta dan MI di Pusat Studi Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Mereka datang dari beberapa wilayah di Kabupaten Bogor.

Nampak dari raut wajah mereka sangat antusias dn terlihat semangat menimba ilmu meski terpaut usia yang cukup timpang satu sama lain. Ya, siang itu saya diamanahi menjadi fasilitator workshop media pembelajaran pada kegiatan Komunitas Guru Pembuat Media Pembelajaran (KOMED) yang dimotori oleh PSB.

Siang itu, saya mempresentasikan tentang Monasean, sebuah produk permainan yang diadopsi serupa monopoli baik bentuk ataupun permainannya dan dipadukan dengan materi ASEAN pada mata pelajaran IPS kelas IX semester 1. Monasean adalah salah satu produk orisinil karya siswa kelas IX A SMP SMART Ekselensia Indonesia tempat saya mengajar.

Tibalah saat lokakarya, di mana mereka dipersilahkan mempraktikkan membuat permainan sejenis dengan tema yang berbeda dan cara bermain yang berbeda pula sesuai dengan jenjang pendidikan siswa yang mereka ajar. Di luar dugaan para peserta lokakarya sangat antusias dengan produk Monasean, sehingga tidak perlu menunggu lama untuk mereka langsung bergerak dan menyiapkan seluruh peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Dengan sigap mereka langsung membentuk kelompok dan berbagi tugas, sehingga  beberapa waktu kemudian terciptalah Monopes (Monopoli Pesawat Sederhana), Monua (Monopoli Benua), dan Monomazi (Monopoli Makanan Bergizi) meski belum rampung 100%.

Subhanallah, siswa/siswi mereka patut berbangga kepada mereka, bahkan Indonesia patut mengapresiasi dedikasi mereka. Di saat orang lain berakhir pekan dengan keluarga, guru-guru yang tergabung dengan KOMED harus rela berakhir pekan dengan membuat berbagai media pembelajaran sebagai bahan ajar di kelas mereka demi melihat senyum di wajah polos para siswanya. Dua jempol untuk semangat mereka yang luar biasa.

Sungguh menyenangkan menjadi bagian dari mereka yang bekerja keras demi sebuah media pembelajaran dan larut dalam sebuah situasi di mana kertas karton warna warni, spidol, lem, aneka gambar berserakan mewarnai lantai berkarpet Ruang Audio Visual PSB. Sungguh membanggakan, merekalah guru sejati.

Setiap dari kita adalah seorang guru, seorang pembelajar sejati, seorang inspirator bagi seluruh siswanya dan bagi dunia. Kita lah guru harapan masa depan pendidikan Indonesia. Semoga semangat berkontribusi terpatri pada setiap diri kita meski bagai buih di lautan.

“A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron (seorang guru yang berusaha mengajarkan tanpa menginspirasi muridnya dengan keinginan untuk belajar adalah seperti memalu besi dingin) ~ Horace Mann

 

Oleh: Syafei Al-Bantanie

“Menolong layaknya sebuah investasi yang sangat menguntungkan. Kita akan memanennya disaat yang tepat.”

Alkisah, seorang ibu tua terlihat bingung di tepi sebuah jalan yang masih sepi. Mobil itu mogok. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia tidak mengerti mesin mobil. Saat itu, seorang lelaki muda melintas di jalan itu mengendarai sepeda motor. Ia berhenti tepat di sebelah si ibu. Lelaki muda itu menawarkan bantuannya untuk mengecek mobil. Si ibu mempersilakan dengan senang hati.

Lelaki muda itu membuka kap mobil, mengutak-ngatik kabel-kabel di dalamnya. Kemudian, ia juga tak sungkan untuk masuk ke kolong mobil. Mungkin ada bagian yang harus dibetulkan. Kurang lebih 30 menit, lelaki muda itu mencoba membetulkan mobil si ibu.

“Sudah selesai. Silakan coba nyalakan mesinnya,” ujar si lelaki muda.

Si ibu menyalakan stater, dan suara mesin mobil mulai menyala. Alhamdulillaah, mobil itu sudah bisa berjalan kembali. Si ibu tampak gembira. Ia membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar rupiah. Si ibu menyerahkannya ke lelaki muda itu sambil berucap terima kasih.

“Maaf ibu, saya tidak bisa menerimanya,” tegas lelaki itu.

“Mengapa? Anda sudah menolong saya. Ini ungkapan terima kasih saya kepada Anda,” terang si Ibu.

“Maaf ibu, bagi saya menolong bukanlah suatu pekerjaan. Karena itu, saya tidak berhak menerima imbalan. Kalau ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan,” terang si lelaki muda.

“Baiklah kalau begitu. Tapi siapa namamu?”

“Namaku Ihsan.”

Si Ibu berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. Mobil bergerak meninggalkan lelaki muda itu.

Di tengah perjalanan, si ibu singgah di sebuah kedai. Ia memesan makanan dan minuman. Seorang perempuan yang tengah hamil dengan sigap menyiapkan pesanan si Ibu. Melihat perempuan muda yang tengah hamil itu, si Ibu teringat dengan kata-kata Ihsan, “Kalau Ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan.”

Usai makan dan minum, si Ibu meminta bon. Ketika pelayan perempuan muda itu sedang membuatkan bon, si Ibu pergi tanpa diketahui pelayan perempuan itu. Pelayan perempuan itu menghampiri meja si Ibu. Ia bingung karena tidak mendapati si Ibu di mejanya. Di mejanya tergeletak secarik kertas dan uang yang cukup banyak.

Surat itu tertulis, “Di perjalanan, mobilku mogok. Ada seorang lelaki muda bernama Ihsan yang berbaik hati membetulkan mobilku. Akan tetapi, ia tidak mau menerima imbalan dariku. Ia meminta saya untuk menolong orang lain sebagai imbalannya. Aku melihat kau sedang hamil. Aku ingin membantu biaya persalinan anakmu nanti. Aku tinggalkan uang ini sebagai pembayaran makanan dan minumanku. Sisanya ambillah untuk biaya persalinan anakmu. Semoga kau berbahagia dengan suami dan anakmu.”

Perempuan muda itu berkaca-kaca membaca surat si Ibu. Sore hari, perempuan itu pulang ke rumahnya. Bertemu sang suami yang dicintainya. Malam harinya, saat si suami tertidur pulas karena lelah bekerja, si perempuan itu mengusap kepala suaminya sambil berbisik, “Mas Ihsan, kau tidak usah merisaukan biaya persalinan untuk anak kita. Keikhlasanmu menolong orang lain telah berbuah kebaikan untuk kita.”

***

Betapa indahnya hidup ini jika kita saling menolong satu sama lain. Menolong atas dasar keikhlasan bukan karena ada tujuan dibaliknya. Meski orang yang kita tolong tidak atau belum bisa membalas kebaikan kita, tetapi yakinlah Allah pasti menggerakan tangan-tangan lain untuk menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan.

Satu kebaikan kecil bisa berarti besar bagi orang yang membutuhkan. Saya teringat kisah yang diceritakan teman saya. Ia bercerita tentang seorang supir angkot yang masih muda. Disaat jam kerja angkot-angkot berlomba-lomba mencari penumpang untuk mengejar setoran.

Ketika itu, ada seorang Ibu dengan tiga anaknya berdiri di tepian jalan. Setiap angkot yang lewat disetopnya, angkot itu berhenti sejenak, lalu jalan kembali. Tibalah angkot yang disupiri oleh pemuda ini yang distop oleh si Ibu.

“Mas, angkot ini sampe terminal bis ya?” tanya si Ibu.

“Iya, Bu,” jawab supir angkot.

“Tapi, saya tidak punya uang untuk bayar ongkosnya,” ujar si Ibu jujur.

“Nggak apa-apa, Bu. Ayo, naiklah,” sahut pemuda supir angkot.

Si Ibu dan tiga anaknya pun naik. Disaat supir angkot lain berebut penumpang untuk mengejar setoran, pemuda supir angkot ini malah merelakan empat kursi untuk Ibu dan tiga anaknya.

Saat sampai terminal, para penumpang turun juga si Ibu dan tiga anaknya. Ibu ini berucap terima kasih pada si pemuda supir angkot itu. Ada penumpang seorang bapak yang juga turun dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah. Pemuda supir angkot itu memberikan kembalian enam belas ribu rupiah, namun bapak itu menolaknya.

“Ambil saja kembaliannya. Itu untuk ongkos Ibu dan tiga anaknya tadi. Dik, terus berbuat baik, ya,” pesan si Bapak itu pada pemuda supir angkot.

Lihatlah, betapa indah hidup saling tolong-menolong. Andaikan separuh saja penduduk bumi ini berpikir untuk menolong oranglain, maka akan damailah dunia ini. Karena itu, mari kita saling membantu dan menolong satu sama lain. Kita adalah saudara. Saudara itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian lain ikut merasakannya. Kemudian, sama-sama memulihkan bagian tubuh yang sakit itu.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

Oleh: Zealandia Sarah

Penerima Manfaat BAKTI NUSA 6 Yogyakarta

 

Setiap pemimpin memiliki masa, dan tiap masa ada pemimpinnya”

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, an sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.

Salah satu perintah Allah, yang bagi saya, menarik adalah perintah menjelajahi bumi. Bahasa anak Rohisnya rihlah, kalau bahasa gaulnya traveling alias jalan-jalan. Namun, memang bukan sembarang traveling, melainkan traveling dalam rangka menghayati kebesaran dan keagungan Allah yang terhampar di bumi dan memetik pelajaran dari rekam jejak umat-umat atau bangsa-bangsa terdahulu. Perintah menjelajahi bumi banyak tersebar dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an menerangkan, “Katakanlah (Muhammad), ‘Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyekutukan (Allah).’” (QS. Ar-Rum [30]: 42).

Saya sendiri menikmati sekali setiap kali keluar kota dan keluar negeri dalam rangka memberikan training atau mengisi kajian Islam. Sedari awal saya niatkan untuk berdakwah. Maka, setiap langkah perjalanannya, saya menikmati sekali. Ketika di bandara menunggu jadwal pesawat, saya biasanya memerhatikan orang yang hilir mudik. Betapa manusia itu bermacam-macam, tapi tak ada yang sama wajahnya. Nyata sekali kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Ketika sudah naik di atas pesawat, lebih hebat lagi kebesaran dan keagungan Allah yang tersaji. Saya selalu terkagum-kagum menyaksikan langit membentang dan gugusan awan berarak. Wah, terasa sekali deh kebesaran dan keagungan Allah. Dan, berasa banget kalau diri ini kecil, nggak ada apa-apanya. Biasanya ada rasa nyeess di dalam dada. Sejuk dan damai sekali. Makanya, saya selalu meminta kursi dekat jendela saat check in supaya bisa menikmati pemandangan indah itu.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah para awak kabin alias pramugari. Setiap pramugari pasti melayani dengan sopan dan santun. Saya berpikir semoga ini tidak hanya tuntutan pekerjaan, namun juga terejawantah dalam kehidupan sehari-harinya. Karena, sopan santun adalah bagian akhlak seorang muslim dan muslimah. Saya juga berpikir andai para pramugari itu diberikan haknya untuk mengenakan busana muslimah dan jilbab, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Bisa jadi di antara mereka ada yang berkeinginan untuk mengenakan jilbab, namun terhalang oleh peraturan perusahaan.

Saya pernah mendapat curhatan dari seorang pembaca buku saya yang berprofesi sebagai pramugari. Ia menyampaikan kegundahannya. Ia ingin sekali berjilbab karena itu kewajiban sebagai muslimah, namun terhalang peraturan perusahaan. Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak maskapai penerbangan di Indonesia. Setahu saya baru ada satu maskapai penerbangan yang memberikan hak kepada pramugarinya untuk mengenakan jilbab. Semoga segera disusul oleh maskapai penerbangan lainnya. Terutama, maskapai penerbangan milik pemerintah.

Kembali ke asyiknya menjelajahi bumi. Tiba di bandara tujuan, lalu menaiki mobil menuju tempat tujuan juga tak kalah asyiknya. Terutama, ketika saya mengisi training dan kajian Islam di sudut-sudut kota di Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Dari Bandara kota setempat masih menempuh perjalanan darat antara 2 sampai 6 jam perjalanan. Membelah bukit dan menyusuri hutan dan tepian jurang. Seru banget ‘kan?. Sesekali monyet-monyet liar berlarian di tepi jalan mencari makanan. Terjadi pemandangan hijau dan rimbunnya pepohonan di bukit dan hutan. Belum lagi track yang berkelok-kelok dan menanjak. Anak muda banget pokoknya.

Kamu ingin ‘kan? Bisa jalan-jalan dan makan gratis, menginspirasi banyak orang, dan pulangnya dikasih oleh-oleh. Makanya, seriuslah belajar dan menuntut ilmu. Agar kelak dengan ilmumu, kau bisa berdakwah ke segenap penjuru Indonesia dan bumi. Bonusnya bisa jalan-jalan gratis. Hehehe…

Mumpung kalian masih muda, belum ada tanggung jawab keluarga, menjelajahlah. Jejakilah setiap jengkal dan sudut bumi ini. Minimal bumi Indonesia. Rasakan guyuran hujannya, hiruplah aroma tanahnya, tataplah jejeran pepohonan, bukit-bukit, dan rawa-rawa yang terhampar. Dengarkan gemericik airnya, suara binatang malam yang sejatinya sedang bertasbih. Resapi dan hayati kebesaran dan keagungan Allah di mana saja kalian menjejakkan kaki.

Petiklah pelajaran dari rekam jejak bangsa-bangsa terdahulu di kota atau negara yang kamu singgahi itu. Akrabilah warganya dengan segala keunikannya. Galilah informasi dan wawasan sebanyak-banyaknya dari mereka. Cermatilah betapa indahnya Allah jadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Lalu, atas semua catatan perjalanan yang mencerahkan itu, jadikan sebagai inspirasi untuk berkontribusi bagi dakwah Islam dan perbaikan umat. Masa depan Islam di masa mendatang ada pada pundak para pemudanya. Pemuda harus berada di garis depan, mengambil peran untuk kejayaan Islam dan kesejahteraan umat.

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/ruang-konseling/kolom-konseling-remaja/menjelajah/46.html