Assalamualaikum Sob!

 

Setelah penantian cukup lama, setelah melewati ragam proses ini dan itu, malam ini kami mau mengumumkan nama-nama yang LOLOS  seleksi administasi SNB SMART Ekselensia Indonesia tahun pelajaran 2021/2022.

 

 

Pengumuman ini didasarkan pada Surat Keputusan Nomor: 027/SMART/Pcl/Seleksi/II/2021 tentang Penetapan Hasil Seleksi Nasional Beasiswa lho, berikut kami umumkan daftar calon siswa yang dinyatakan lolos.

 

Daftar Lolos Calon Siswa SMP SMART KLIK DI SINI

Daftar Lolos Calon Siswa SMA SMART KLIK DI SINI

Informasi terkait seleksi akademik akan diinformasikan lewat panitia daerah. Sila hubungi panitia daerah terdekat di kotamu ya. Lebih lengkap bisa kamu CEK DI SINI

 

Oleh: Reza Bagus

Alumni SMART Angkatan 9 berkuliah di UGM Jurusan Sosiatri 2017

 

Hari kasih sayang? APHA ITU? Aku sih terbiasa sendirian, kepanasan, kehujanan, ketiduran, kelaparan, semua aktivitas jomblo itu sudah biasa bagiku. Aku sudah menjomblo sekitar…. Berapa abad ya??? Eh salah berapa tahun ya? Hmm saking lamanya aku sampai lupa.

Aku menjomblo karena aku memang jomblo. Jadi, dulu waktu aku  kudet (kurang update) dan nggak tahu apa itu jomblo, teman-temanku banyak yang ngomongin tentang jomblo. Aku pun mulai bingung. Jomblo itu kantong kresek jenis apa ya? Dijual di pasar nggak? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bermunculan di kepalaku dan datang nggak bilang-bilang dan ngilang-ngilang.

Aku semakin bingung setelah mendengar kalau ternyata jomblo itu ada berbagai macam jenis. Ada jomblo petualang, ada jomblo ngenes, ada jomblo kaleng (ini kok malah kayak banci kaleng ya? ataukah ini jomblo yang suka ngumpulin kaleng?), ada jomblo kritis (mungkin kelamaan menjomblo), ada juga jomblo dramatis (suka mendramatisir keadaan), dan jomblo fisabilillah alias jomblo bukan karena nasib melainkan prinsip.

Aku yang semakin penasaran akhirnya nanya ke teman yang cudet (celalu update) perihal jomblo-menjomblo ini, namanya Irvan.

“Eh, Pan. Jomblo itu apa sih? Kantong kresek bukan?”tanyaku.

“Hahaha… Hari gini, nggak tahu apa itu jomblo? Jomblo itu nggak punya pacar! Persis deh kayak kamu gitu,.” jawabnya.

Akupun sempat nanya ke beberapa teman lain. Akhirnya,  dapat disimpulkan bahwa kalau jomblo itu selalu nyesek kerjaannya. Ngeliat cowok sama cewek berduaan, nyesek. Ngeliat cewek sama cewek berduaan, nyesek. Ngeliat sendal sepasang, nyesek. Ngeliat orang lain nyesek, nyesek juga.

Gitu doang??? Ah, itu sih gampang. Aku sudah terbiasa sendiri. Secara mental, fisik, serta matematis, aku siap jadi jomblo. Beberapa bulan kemudian, cobaan itu mulai datang silih berganti, dari kanan dan kiri, dari sana dan sini, dari sekarang dan tadi, pokoknya dari-dari lah.

Cobaan pertama. Waktu itu aku lagi jalan kaki, jalan sambil Ngeliatin kaki, sambil bilang, “Ini kaki, yaa?” Tiba-tiba aku melewati sebuah warung. Di dalamnya ada cowok dan cewek, kayaknya mereka lagi pacaran. Aku perhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata mereka sedang suap-suapan. Sontak seperti ada anak panah yang nyucuk dada aku, JLEB!!!

Cobaan kedua. Waktu itu aku lagi di taman, duduk, sendirian di kursi goyang. Aku rasa tempat ini adalah tempat penyiksaan jomblo. Dikit-dikit ada orang berduaan dan dikit-dikit ada orang pegangan tangan. JLEB level 2

Cobaan ketiga. Aku sedang berjalan di sebuah kompleks. Aku melewati sebuah danau. Di sana ada banyak sekali pasangan berdua-duaan, dan mereka nampak sedang bercumbu. Miris

Aku akhirnya sadar, kalo jadi jomblo itu nggak mudah, nggak gampang. Aku pun masuk ke dalam tahap galau karena status kejombloanku. Aku sedikit sedih, tapi rasa lapar lebih banyak menghampiri, akhirnya aku berniat membeli bakso untuk menghilangkan kesedihan. Sesampainya di kedai penjual nbakso, aku langsung memesan bakso seporsi.

“Mang, bakso satu porsi, nggak pake lama ya mang,” ucapku mantap penuh rasa lapar.

“Ini, Mas. Baksonya, 10.000 aja,” kata mamang penjual bakso.

Setelah selesai makan, kubuka dompetku untuk membayar. Di sana, nampak foto kedua orangtuaku sedang tersenyum manis, semanis madu. Melihat senyum mereka aku tersadar kalau aku sudah terlalu berlebihan meratapi nasibku sebagai seorang jomblo. Aku juga terlau berlebihan karena selalu mencari ‘orang yang akan memberikanku kebahagiaan’ sementara itu semua bisa kudapatkan dari orangtua yang telah membesarkanku selama ini, merekalah yang seharusnya aku bahagiakan, merekalah seumber kebahagiaanku.

Orang tuaku menginginkanku belajar dengan baik, jadi orang yang baik, dan taat agama. Pacaran? Sama sekali nggak ada di agama Islam. Aku akan menjadi orang paling berdosa kalau sampai membuat kedua senyum itu berubah menjadi cemberut tanda kecewa, apalagi tangisan. Akhirnya aku memutuskan, aku akan jadi JONES, bukan jomblo ngenes, tapi jomblo happiness. No khalwat, until akad. Satu-satunya alasanku menjomblo adalah kedua orangtuaku, aku belum bisa membahagiakan mereka, tak pantas rasanya berbuat macam-macm. So, you can call me JONES. Tapi, sebenernya sih aku bukan jomblo, tapi single. Karena single itu prinsip, sedangkan jomblo itu nasib.

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

Masa-masa akhir di kelas lima di SMART Ekselensia Indonesia. Walaupun nilai UN-ku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan. Menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri. Memilih tempat. Mencari suasana. Terkadang untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah itu baik atau buruk. Sangat sulit. Benar-benar sulit. Itu yang kurasakan di situasiku saat ini. Betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku). Saat itu mungkin fisikku sangat mendapat hal yang “istimewa”. Namun, saat ini aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Seorang guruku di SMART selalu menyampaikan ini padaku, “tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”.

Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”. Sekian.

Sob walau banyak PR dan tugas sekolah lainnya jangan sampai lupa untuk meluangkan waktu menghafal Al-Qur’an. Nah kalau kamu bingung harus memulai dari mana, siapa tahu uraian di bawah dapat membantu kamu menghafal:

  1. Mulailah menghafal dari Juz 30 atau juz 29 atau juz 28, setelah itu silahkan mulai dari Juz 1 dan seterusnya.
  2. Gunakan Mushaf Al-Qur’an Huffadzh, yakni Alquran cetakan standar international, di mana setiap juz-nya rata-rata terdiri dari +/- 10 lembar (20 halaman; di mana setiap halaman maksimal terdiri dari 15 baris), usahakan istiqamah dengan satu mushaf, tapi bukanlah alasan untuk tidak menghafal ketika suatu ketika lupa membawa mushaf, tetaplah menghafal meski dengan mushaf yang berbeda, ini hanya untuk lebih memudahkanmu dengan sebuah kebiasaan.
  3. Persiapkan diri dengan mengatur 5 waktu khusus untuk menghafal dalam sehari, dan kami sangat menyarankan bahwa waktu tersebut adalah setiap kita selesai menunaikan salat wajib.
  4. Jika kamu memiliki media yang memungkinkan untuk membantu seperti gawai, MP3/MP4 Player atau apa saja yang dilengkapi dengan fasilitas recorder & playback maka gunakanlah media tersebut, rekam suara (bacaan) Haqers pada media tersebut agar bisa mendengarnya di setiap kesempatan sebelum tiba waktu selanjutnya. Kegiatan ini sebagai media muraja’ah dengan pendengaran sekaligus melatih telinga kita untuk terbiasa 
  5. Gunakan kesempatan Qiyam Al Layl sebagai waktu tambahan untuk memuraja’ah hafalan-hafalanmu.   Kami doakan semoga kamu bisa selalu istiqmah dalam menghafal Al-Qur’an di tengah kesibukan saat ini, aamiin.

 Pertemanan yang Hanya Bisa Kamu Temui di SMART

Oleh: Muhamad Reza Alamsyah,

Alumni SMART Angkatan 7, saat ini berkuliah di Unpad jurusan Bahasa dan Sastra Inggris

 

 

”Friendship is not something you learn in SCHOOL. But if you haven’t learned the meaning of FRIENDSHIP, you really haven’t learned anything.”
Muhammad Ali

 

Kalimat pembuka yang sangat sok-sokan ya hmm. Biarkan terlebih dahulu saya bercerita sedikit mengenai siapa saya sebenarnya. Nama lengkap saya Muhamad Reza Alamsyah, angkatan 7 SMART Ekselensia Indonesia (kami mengidentitaskan diri sebagai INDIERS), berhasil lulus dengan selamat pada tahun 2015, dan sekarang berkuliah di Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Iya, memang belum lama.

Rasanya baru kemarin saya berangkat meninggalkan Makassar, kota kelahiran saya, dengan berat hati sambil membawa tekad kuat untuk mencapai sukses. Sangat klise memang, tapi begitu manis, apalagi untuk seorang anak yang baru memasuki usia 12 tahun pada saat itu.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di SMART Ekselensia Indonesia dan mengetahui saya akan berada di sini selama lima tahun ke depan yang tentu bukan waktu yang singkat, saya langsung diserang rasa takut dan sedih secara bersamaan sehingga berkeinginan kuat untuk berhenti melangkah dan lebih baik pulang saja ke Makassar. Tapi, ya tentu ada tapinya, setelah beberapa bulan merasakan atmosfer yang betu-betul sebuah hal baru bagi saya, kesadaran bahwa saya tidak akan sendiri melangkah dan mengingat betapa banyaknya orang di kampung saya, khusunya keluarga, yang mengharapkan masa depan yang cerah bagi saya, keputusan untuk menetap sambil melanjutkan perjuangan akhirnya bulat.

Saya dipertemukan dengan anak-anak yang Subhanallah dalam banyak hal. Melakukan banyak kegiatan bersama membuat saya tidak ada keraguan untuk menganggap mereka sebagai sahabat atau mungkin lebih jauh, sebagai saudara baru, yang akhirnya dipertemukan di sekolah ini.

Masih amat jelas melekat mengenai begitu banyaknya kisah yang kami alami bersama. Kami pernah menundukkan kepala sambil menggerutu dalam hati ketika dihukum massal oleh Anggota KOPASSUS atas kesalahan kami yang katanya menjadi contoh buruk bagi adik kelas kami. Pernah juga menangis jika mengingat atau diingatkan mengenai keluarga yang jauh di sana oleh ustad atau ustadzah kami yang entah sengaja atau tidak, dan juga tertawa puas atas lelucon-lelucon lama yang sebenarnya tidak terlalu lucu tapi entah bagimana jadi lucu dan segar kembali untuk dibahas. Berkelana ke berbagai tempat yang dulunya hanya bisa kami saksikan melalui layar kaca dan mengagumi indahnya dari sana. Pulang balik sekolah-asrama setiap hari, bertemu orang-orang yang sama, tempat-tempat yang tak ada ubahnya dengan hari kemarin, kegiatan yang itu-itu saja, tapi cerita di setiap harinya, yang pasti berbeda, PASTI.

Kami melalui semua hal selama lima tahun di SMART bersama-bersama, hingga akhirnya wisuda hadir dan mengubah segalanya. Momen penanda akhir perjuangan kami di sekolah yang penuh cerita dan kenangan indah, yang paling kami nanti-nantikan di awal perjuangan, tapi menjadi salah satu yang paling menyedihkan yang pernah kami alami, setidaknya saya pribadi. Wisuda menyadarkan kami, bahwa lima tahun bukanlah waktu yang sangat lama, bahwa kita akan hidup sendiri-sendiri dan tak lagi bersama, bahwa semua yang pernah kami lakukan akan tinggal menjadi cerita, bahwa tak akan ada lagi dihukum bersama, isak tangis menggemuruh, atau lelucon basi yang menjadi segar. Kami dihadapkan pada realitas bahwa berkumpul bersama kelak tidak semudah biasanya, harus menyesuaikan waktu kosong, tidak ada lagi teman sekamar yang akan terganggu atas kikikan tawa puas teman lainnya, dan harus keluar untuk menghadapi hidup sesungguhnya.

Mereka menjadi alasan kedua saya setelah keluarga di rumah atas bertahannya saya di SMART hingga akhir dan tentu saya berkewajiban berterima kasih kepada mereka atas semangat dan dukungan itu. Kelak, ketika saya telah mencapai sukses yang saya definisikan dan hidup dengan keluarga baru, saya akan mengajak anak-anak dan istri-istri, eh, istri, saya ke SMART. Menunjuk dengan bangga ke arah sekolah yang megah itu, sambil berkata, “Di sana, di setiap sudutnya, ada cerita menarik yang terpendam, tentang orang-orang jauh yang disatukan, serta menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang pernah lemah namun bangkit tak kenal lelah”.

Memang ada benarnya kata-kata petinju tenar di atas, pertemanan bukan hal yang kita pelajari di sekolah bersama matematika dan sebagainya, tapi kalau kita tidak mempelajari arti pertemanan, kita sungguh tidak belajar apa-apa. Terima kasih SMART, terima kasih INDIERS.

 

Sincerely,

-Calon Duta Besar Indonesia untuk Inggris

 

Oleh: Aidil Ritonga.

Umar bin Khathab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil 2 pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah SAW menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

Sob sebelum memasuki krisis paruh hidup atau dikenal dengan istilah quater life crisis adalah suatu fase hidup (usia 20-30 tahun) di mana pada fase ini, seseorang akan merasa dipersimpangan jalan yang membuatnya dilema dalam menentukan arah karena dihadapkan dengan berbagai tuntutan. Hal ini menyebabkan sering kali individu bersangkutan merasa tertekan dan stress dengan berbagai pilihan yang memiliki konsekuensi tersendiri seperti dari bangku perguruan tinggi menuju masyarakat, mencari pekerjaan, melanjutkan studi, atau rencana lainnya.  Kondisi ini pada akhirnya membuat banyak penulis menjelaskan saran untuk menghadapi tekanan dan stress yang semakin hari semakin tinggi, salah satunya Mark Manson.

 

 

Dalam buku international best seller berjudul Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (terjemahan indonesia), Mark Manson menjelaskan bagaimana seni untuk mengabaikan tekanan dan tuntutan dewasa ini. Berdasarkan uraiannya, Manson berpandangan bahwa hidup terkadang memang menyebalkan. Banyak keinginan yang tidak tercapai, seperti kita bukanlah seorang yang populer di kampus, belum memiliki pasangan, tidak terlalu kaya, dll. “Namun, apa yang salah dengan itu?” “Bukankah hal tersebut tidak mempengaruhi apapun?” Maksud Manson, kita tentu masih tetap bisa berkarya dan hidup seperti biasa. Perasaan inferior yang didapat dari tekanan tren media sosial atau masyarakat sering kali membuat kita menciptakan parameter palsu dimana hidup bahagia adalah seperti hidup orang lain, meskipun pada faktanya, hidup orang lain tidak sesempurna yang kita kira.  Oleh karena itu menurut Manson, “peduli amat dengan semua hal-hal keren versi masyarakat?” “Kita sejatinya dapat hidup dengan parameter dan kebahagiaan kita sendiri”.“Jadi, masa bodo sajalah!”

 

 

Meskipun menarik dan solutif, permasalahan yang diajukan oleh Manson dengan quater life crisis sangat berbeda. Manson dengan seni bersikap masa bodoh versinya, menyorot tekanan tren di masa kini sebagai masalah. Sehingga, solusi yang diajukan yakni menyadari kepalsuan dari tren dan mulai menerima hidup yang lebih realistis guna mencapai kebahagian. Namun, dalam krisis paruh hidup, yang membuat individu merasa tertekan bukan tren dimasa kini, melainkan tekanan dari kemungkinan  yang akan terjadi dimasa depan. Rasa khawatir tentang pekerjaan, pendidikan, atau bahkan pasangan hidup, tentu saja tidak dapat diabaikan dengan masa bodoh. Maksud penulis, “bagaimana mungkin bersikap masa bodoh tentang masa depan?” Oleh sebab itu, pada tulisan ini, penulis mencoba menguraikan bagaimana seni untuk bertindak masa pintar (sebagai anti-thesis masa bodoh) versi filsafat stoisisme, khusus bagi siapa saja yang sedang menghadapi quater life crisis.

 

 

Filsafat Stoisisme ; Sebuah Pengantar

Filsafat Stoisisme adalah aliran filsafat Yunani-Romawi yang pada awalnya dikembangkan oleh masyarakat Stoa melalui kombinasi filsafat Plato dan Aristoteles dengan etika versi Stoa. Inti dari dasar pemikiran stoisisme yaitu bagaimana mengendalikan afeksi manusia dan alam serta bagaimana menanggung penderitaan dengan tenang dan hidup bahagia dengan melakukan kebajikan. Berbeda dengan filsafat Plato dan Aristoteles yang lebih menekankan rasionalisme dan empirisme, stoisisme justru menekankan metafisisme (ketuhanan). Filsafat Stosisme dimulai dari 3 abad sebelum masehi dan terus berkembang hingga 3 abad setelah masehi. Adapun tokoh-tokoh Stosisme yakni Zeno (generasi awal), Saneca (generasi tengah), hingga generasi akhir (Marcus Aurelius).

 

 

Dari pekembangannya selama ratusan tahun, Stosisme waktu demi waktu membentuk asumsi-asumsi dasar. Setidaknya, terdapat 3 asumsi dasar Stosisme yang relevan dengan konteks krisis paruh hidup. Asumsi dasar pertama yaitu dunia berjalan dengan pola-pola tertentu, walaupun dalam praktiknya tidak selalu sama. Di setiap pola ini, selalu ada Tuhan yang meliputi. Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebutnya hukum alam atau Sunnatullah. Pola-pola yang sudah ditetapkan ini, membuat setiap makhluk, termasuk manusia memiliki perannya sendiri. Asumsi kedua, karena dunia berjalan berdasarkan hukum yang ditetapkan Tuhan, maka tidak semua keadaan yang terjadi dapat ditentukan manusia. Terakhir, untuk dapat hidup dengan tentang, manusia harus berdamai dengan alam dan dirinya sendiri.

 

 

Seni Untuk Bertindak Pintar Amat

Masih segar di dalam pikiran, ketika penulis tengah menghadapi masa kelulusan dan menuju perguruan tinggi. Masa itu memberikat efek khawatir yang tidak tergambarkan. Perasaan takut apakah dapat lulus pada PTN yang diinginkan, apakah dapat memperoleh beasiswa, apakah dapat menjalani studi dengan nilai yang memuaskan, dan lainnya selalu berkecamuk di pikiran. Namun, seiring berjalan waktu, semua kekhawatiran dan ketakutan hilang. Kini, penulis mendapati bahwa empat tahun sudah berlalu dan penulis telah lulus dari perguruan tinggi. Memang, terdapat kekhawatiran yang benar-benar terjadi. Akan tetapi, dalam prosesnya terdapat skenario yang juga tidak terduga sehingga dapat masa sulit dapat dilalui. Ini berarti, setiap kekhawatiran dan ketakutan yang kita alami hari ini, sebetulnya adalah hasil dari olah pikiran yang tidak pada tempatnya. Masa depan adalah sesuatu yang ada diluar jangkauan manusia. Namun, ketika masa itu datang, manusia akan selalu beradaptasi dengan sendirinya, sebagaimana penulis dan pembaca beradaptasi dengan segala hal yang ada pada hari ini. Dalam mengahadapi quater life crisis,individu harus menyadari bahwa segala kekhawatiran dimasa depan akan terselesaikan di tempatnya yaitu di masa depan. Setiap hari, memiliki penyelesaian tersendiri. Jadi, tenanglah

Privilege. Isu ini kembali jadi trending gegara pelantikan staf khusus  Presiden Jokowi beberapa waktu lalu lho Sob. Seperti yang kita tahu, salah satu staf yang dilantik adalah Putri Tanjung, yang notabene merupakan anak dari pengusaha terkenal, Chairul Tanjung. Banyak orang yang menganggap bahwa pencapaian Putri Tanjung menjadi staf khusus presiden di usianya yang baru 23 tahun, tidak lepas dari kenyataan dari garis keturunan yang ia miliki.

Memang apa sih privilege? Berdasarkan Cambridge Dictionary, privilege memiliki arti keuntungan yang hanya dimiliki seseorang atau sebagian kelompok, biasanya karena posisi atau kekayaan mereka. Seperti apa bentuk privilege? Ya macam – macam. Sekolah ke luar negri tanpa mikir biaya, itu privilege. Lulus kerja langsung dimodalin buat usaha, itu privilege. Punya tempat nyaman buat tidur malam hari ini, itu privilege.

Privilege itu nyata. kita bisa menjadi yang sekarang juga tidak terlepas dari privilege yang kita miliki. Kalau tidak memiliki akses pendidikan hingga jenjang sarjana, kita mungkin tidak bisa mendapat pekerjaan yang kita inginkan.

See, kita semua tahu bahwa keberhasilan dan pencapaian dalam hidup bukan hanya karena kerja keras, melainkan ada hak – hak istimewa yang kita dapatkan secara cuma-cuma –yang tidak ada hubungannya dengan apa yang telah kita perbuat.

Privilege yang dimiliki orang jelas berbeda-beda bentuk dan tingkat levelnya. Saat kita melihat orang dengan tingkat privilege di atas kita, ya wajar saja untuk merasa iri. Kita sendiri terkadang masih suka berkhayal kalau orang tua kita bisa se-tajir itu, mungkin kita bisa kuliah ke luar negri seperti Maudy Ayunda tanpa repot-repot ikut pendaftaran beasiswa. Masih bisa hidup layak pula! Tapi toh iri juga tidak membawa kita ke mana-mana kan Sob? Tidak bakal mengubah apa-apa juga. Jadi, daripada energi kita habiskan buat iri, akan lebih baik kalau diarahkan untuk fokus ke tujuan pribadi saja. Tujuan hari ini, tujuan buat besok. Saya suka menghibur diri, bahwa setidaknya kita sudah melakukan yang terbaik yang kita mampu untuk menjalani hidup.

Saatnya berpikir bahwa setiap orang punya benchmark masing-masing. Dengan modal yang dia punya, seharusnya dia bisa meraih tingkat atau hasil yang seberapa. Bisa jadi seseorang (A) terlihat sudah sukses bagi orang lain (B), karena  benchmark B lebih rendah dari A. Seharusnya dengan modal yang A miliki, dia bisa meraih lebih dari itu. Benchmark ini yang sangat absurd dan abstrak untuk dilihat dan diukur dalam hidup. Kadang kita lebih suka mengartikannya dalam bentuk uang dan materi. Tapi untuk ketenangan hidup, alangkah baiknya kita fokus ke benchmark kita, ke hidup kita, tanpa membanding-bandingkan dengan orang lain.

Mengerti bahwa privilege itu ada dan sebagian dari kita memilikinya, membuat kita seharusnya mau mengakui bahwa sebuah kesuksesan –apapun definisi dan bentuknya, bukan hanya dibangun dengan keringat dan air mata kita, namun juga ada faktor ‘untung’ dan hak cuma-cuma. Dengan begitu, akan membuat kita semakin bijak untuk tidak meremehkan atau merendahkan orang lain yang menurut kita (manusia yang suka khilaf untuk sombong) tidak sesukses kita.