Oleh: Saiful Chorudin

Assalamu’alaikum. Nama saya Saiful Choirudin, lulusan angkatan pertama SMART. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman berharga saya.

Sejak kuliah di Universitas Paramadina, saya sudah mengajar membuat kartun di SMP Islam Al- Syukro Universal, Ciputat. Di sana, saya mengajar ekstrakurikuler khusus untuk membuat dan belajar mengetahui apa-apa saja yang berhubungan dengan kartun. Saya tahu ada lowongan kerja sambilan di sekolah itu dari seorang ustadz yang sebelumnya pernah mengajar pelajaran bahasa Inggris dan juga menjadi kepala asrama di SMART yaitu Ustaz Heri Sriyanto.

Saya mengajar untuk satu tujuan yang besar, yaitu untuk belajar. Jadi, saya masih ingin belajar meskipun sudah bekerja. Hanya belajar dan belajar. Setelah mendapat gelar S1, saya masih ingin belajar lagi. Saat itu, belum ada pikiran yang muncul tentang mencari kerja. Kalau teman-teman saya sudah banyak yang mencari lowongan pekerjaan, saya tidak. Saya masih ingin belajar. Seakan-akan hanya ada pemikiran tentang belajar saja. Saya mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Mahardika juga masih untuk belajar, tepatnya belajar bersyukur.

Mungkin kebanyakan orang menganggap anak-anak yang berada di SLB itu gila, jelek, kotor, dsb. Tetapi saya tidak. Saya menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah SWT sebagai tempat untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua.

Di SLB sendiri ada banyak hal yang unik dan berbeda dari sekolah-sekolah biasa. Satu kelas di SLB hanya berisi 5-8 siswa. Berbeda dari sekolah biasa yang bisa menampung lebih dari 20 siswa untuk satu kelas. Ketika mengajar, harus ada tenaga ekstra untuk memerhatikan dan mengawasi para siswa. Apabila seorang pengajar lalai sedikit saja, salah satu muridnya bisa melakukan hal yang tidak baik.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya pernah mengajar menggambar dan saya sedikit lalai. Apa yang terjadi? Salah satu murid saya ada yang memakan krayon yang dipegangnya. Mungkin dia mengira bahwa itu adalah sebuah permen. Saya juga pernah diludahi ketika masuk ke sebuah kelas. Saya sudah terbiasa akan hal seperti itu. Apabila di sekolah biasa seorang pengajar bisa mengajar setiap hari, di SLB tidak bisa. Seorang pengajar biasanya hanya mengajar tiga kali dalam seminggu.

Ada hal unik lain di SLB. Salah satunya adalah para orangtua murid yang selalu bersemangat mengawasi anak-anaknya. Mereka bagaikan mesin penjaga 24 jam bagi anak mereka. Anak-anak yang bersekolah di SLB memang memiliki banyak kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, tersimpan banyak hal yang kadang tidak dimiliki oleh orang biasa.

Oleh: Ana Mariana Mujahid

 

Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah dan memberikan sepucuk surat kepada mamanya. Ia berkata “Guru saya memberikan surat ini pada saya dan berpesan agar surat ini hanya diberikan pada mama.”

Dengan airmata berlinang, sang ibu membacakan isi surat tersebut “Anakmu terlalu jenius, sekolah ini terlalu sederhana dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk melatih dia. Ajarilah dia secara langsung.”

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas Alva Edison pun sudah meninggal. Ia sekarang sudah menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yang dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya. “Anakmu punya masalah. Ia sangat bodoh. Kami tidak mengizinkan lagi untuk datang ke sekolah ini selamanya.”

Edison menangis berjam-jam dan menulis ini di buku hariannya. “Thomas Alva Edison adalah anak gila yang oleh seorang pahlawan yaitu mama saya, diubahnya menjadi yang paling jenius sepanjang abad.

 

:—————————————————————————————————————:

 

Terlepas dari akurat atau tidaknya cerita yang saya dapatkan dari media sosial di atas, isi ceritanya mengingatkan saya pada istilah labelling. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan “kamu, nakal sekali sih!” “bodoh, begitu saja tidak bisa”, “dasar pemalas!” dsb, baik itu dari orang tua, guru ataupun teman sebaya. Nakal, bodoh, malas bisa dikategorikan sebagai bentuk labelling atau pemberian cap terhadap seseorang atau sesuatu.

 

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak atau seseorang untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, menyebutkan seseorang yang telah melanggar hukum sebagai seorang kriminal. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah disebut sebagai anak bodoh, anak yang sering mengganggu temannya disebut sebagai anak nakal. Atau anak yang tidak mengumpulkan PR disebut pemalas dll.

 

Dalam teori psikologi sosial, labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A handbook for The Study of Mental Health, label adalah definisi yang ketika diberikan pada seseorang menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu. Terkadang yang menjadi masalah adalah dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat label tersebut sebagai gambaran keseluruhan, bukan gambaran perilakunya satu per satu.

 

Labelling ada dua macam, label negatif dan label positif. Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labelling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga terhadap perlakuan orang tua atau orang-orang di lingkungan anak itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik (http://ruangpsikologi.com/topic/labeling-pada-anak/).

 

Hal ini juga berlaku pada seorang pendidik (guru). Seperti cerita Thomas Alva Edison di atas yang terlanjur di cap bodoh oleh gurunya karena kerap tertinggal dalam pelajaran, padahal sebenarnya Edison tidak bodoh. Namun di tangan yang tepat, yakni ibunya yang justru memberi label positif pada anaknya, Edison menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah dengan 1093 hak paten.

 

Dalam makalah HERLINA/LABELING_DAN_PERKEMBANGAN_ANAK-salman.pdf. Labelling negatif memberikan dampak melalui tiga cara. Pertama, melalui self labelling (self concept). Menurut Sigmund Freud konsep diri berkembang melalui pengalaman. Terutama perlakuan orang lain terhadap diri sendiri secara berulang-ulang. Dengan menerima label “nakal” dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal. Dan anak akan mengukuhkan konsep tersebut dengan menampilkan perilaku tertentu yang menurut anggapan umum disebut perilaku anak nakal.

 

Kedua, melalui persepsi orang dewasa terhadap anak. Persepsi yang berupa, apapun yang anak nakal lakukan pastilah negatif. Walaupun anak berusaha menampilkan perilaku positif , namun dianggap ada niat tersembunyi, atau persepsi “pasti ada maunya nih”, atau “ah paling cuma hari ini dia begitu, besok pasti sudah nakal lagi” sehingga tidak diapresiasi oleh orang dewasa. Hal ini bisa membuat anak frustasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya.

 

Ketiga, melalui perilaku orang dewasa terhadap anak. Orang dewasa yang sudah menganggap atau melabel anak negatif, tidak memberikan peluang pada anak untuk berubah. Misalnya dengan ungkapan “sudahlah tidak usah dinasihati lagi, buang waktu saja. Anak itu memang nakal, dan tidak akan berubah.” Akibatnya anak makin tidak tahu mana perilaku yang bisa diterima masyarakat dan terus berperilaku negatif.

 

Sebagai seorang pendidik sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mendidik anak menjadi orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan mengembangkan bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak didik agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Dalam teori psikososial, erikson mengatakan bahwa dalam diri individu ada dua kutub yang akan berkembang pada setiap tahap perkembangan anak, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub mana yang akan berkembang sangat tergantung dari stimulasi lingkungan yang diterimanya. Bila lingkungan memberikan stimulasi yang negatif seperti pemberian label negatif maka kutub negatiflah yang akan berkembang, begitu pula sebaliknya. Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk menjadi yang terbaik.

 

Ada beberapa cara yang berupa stimulasi positif dalam mendidik anak yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru, diantaranya; memberi atau memanggil dengan nama atau julukan yang baik. Memberikan respon yang spesifik, maksudnya berikan respon terhadap perilaku anak bukan pada kepribadiannya. Memberikan pujian dan hukuman secara tepat. Jangan berlebih dan jangan kurang, berikan pujian dan hukuman jika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan. Pujian dan hukuman pun harus disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin anak, misalkan anak laki-laki usia dua tahun akan senang jika diberi permen beda halnya dengan anak usia 12 tahun yang lebih suka jika diberi tas baru daripada permen.

 

Berikutnya adalah konsisten dalam memberikan pujian ataupun hukuman karena inkonsisteni malah akan membuat anak bingung menentukan perilaku yang harus dilakukan dan terakhir jangan lupa untuk memberikan pemahaman mana yang boleh dilakukan dana mana yang tidak boleh dilakukan.

 

Terakhir saya tutup dengan mengutip kata-kata dari Lawrence G lovasik “if you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word think a kind thought.”

 

Semoga bermanfaat ya Sob.

Sob, bisa menghafal Al-Qur’an adalah keinginan sebagian besar umat Islam. Meski begitu, menghafal Al-Qur’an ternyata bukan perkara mudah bagi sebagian orang. Meski sudah mencoba berkali-kali, ayat-ayat Al-Qur’an belum juga tertanam dalam ingatan. Imam Syafi’i saja pernah mengalami kesulitan dalam menghafal Al-Qur’an. Padahal, Imam Syafi’i menggunakan berbagai cara menghafal Al-Qur’an sejak berusia tujuh tahun.

 

Pengalaman Imam Syafi’i dapat ditemukan dalam kitab I’anatuth Tholibin. ” Aku pernah mengadukan kepada Waki’ (guru) tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengatakan untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat”.

 

Bisa jadi, apa yang dialami Imam Syafi’i sebenarnya terjadi pada kita. Karena, dosa yang kecil saja bisa menjadi penghalang untuk menghafal Al-Qur’an. Selain itu, Allah menjamin bahwa ayat-ayat Al-Qur’an mudah dipelajari. Jadi, jika kamu mengalami kesulitan, mungkin cara menghafal Al-Qur’an kamu yang harus diubah.

 

Berikut tips cara menghafal Al-Qur’an 30 juz dengan mudah dan cepat bagi pemula.

 

  1. Meluruskan Niat dengan Ikhlas karena Allah

Niat yang benar itu merupakan salah satu syarat cara menghafal Al-Qur’an. Jika niatnya salah seperti ada riya (pamer), ujub (bangga pada diri sendiri), atau menghafal karena ingin dipanggil ‘al-hafidz, maka itu sangat fatal akibatnya. Dengan niat yang lurus dan hati ikhlas karena Allah maka rasa lelah, malas, dan perasaan sulit tidak akan jadi penghalang dalam menghafal Al-Qur’an.

 

  1. Melaksanakan Salat Hajat

Tips cara menghafal Al-Qur’an dengan mudah selanjutnya adalah melaksanakan salat hajat. Jadi, setelah menata niat karena mengharap ridho dan pahala Allah, hendaknya kita melaksanakan salat hajat sebelum mulai menghafal Al-Qur’an dengan cepat dan benar. Mohon kepada Allah agar mudah saat proses menghafal Al-Qur’an. Karena pemilik Al-Qur’an adalah Allah, maka kita memohon kepada pemiliknya agar diberi kemudahan.

 

  1. Menanamkan Keyakinan

Tanamkanlah pada diri kita bahwa menghafal Al-Qur’an itu sangat mudah, maka kita akan merasa mudah. Namun jika kita menanamkan pikiran bahwa menghafal Al-Qur’an itu sulit, maka ia akan terasa sulit. Jadi, selalu motivasi diri sendiri agar tumbuh keyakinan bahwa cara menghafal Al-Qur’an yang kita lakukan itu mudah.

 

  1. Mengakrabkan Diri dengan Al-Qur’an

Akrab dengan Al-Qur’an merupakan salah satu cara menghafal Al-Qur’an dengan mudah dan cepat yang paling ampuh. Jangan pikirkan metode menghafal Al-Qur’an yang ribet terlebih dahulu. Tapi pikirkanlah bagaimana caranya mulai hari ini saya bisa membaca 5 juz per hari atau hari ini harus hafal satu ayat per hari.

 

 

Hari Jumat datang lagi nih Sob! Banyak sekali amalan istimewa yang bisa dilakukan di hari ini. Salah satunya membaca surat Al-Kahfi. Kalau kamu ingin sekali bisa menamatkan Al-Kahfi di hari Jumat, tapi waktumu terlalu sibuk PJJ kamu bisa pakai cara ini!

 

 

Caranya, kamu buat waktu membaca menjadi empat sesi. Bisa dimulai membaca di hari Kamis saat Maghrib, sebab hitungan dalam  kalender hijriyah, hitungan satu hari itu dihitung dari awal malam (tepat dengan tenggelamnya matahari malam itu) dan berakhir dengan tenggelamnya matahari pada keesokan harinya (di sore hari).

 

 

  1. Ba’da Magrib di hari Kamis bisa untuk memulai membaca Al-Kahfi dimulai dari ayat 1-31. Pada ayat-ayat ini menceritakan Kisah Ashabul Kahfi.
  2. Ba’da Isya pada malam Kamis/malam Jumat dari ayat 32-59. Ayat-ayat ini menceritakan tentang Kisah Dua Pemilik Kebun
  3. Ba’da Subuh hari Jumat mulai dari ayat 60-83, ayat-ayat ini menceritakan Kisah Nabi Musa dan Khidir
  4. Ba’da Zuhur mulai dari ayat 84-110, ayat-ayat ini menceritakan tentang Zulkarnain dan Yakjuj Makjuj.

 

Selamat membaca ya Sob! Semoga bisa membantumu meraih pahala lebih banyak.

Seperti yang kita tahu jika sujud ialah salah satu rukun sholat. Nah sujud merupakan sarana bagi kita berbicara kepada Sang Khalik lho Sob. Hampir tiada hijab yang menghalangi komunikasi antara kita dengan Allah ketika salat, dan sujud menjadi momen pas untuk memanjatkan doa. Mintalah ampunan serta sampaikan keinginanan kita kepada Allah.

 

Di bawah ini doa yang bisa kita panjatkan ketika bersujud

اللهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ‎

Allahumma laka sajad-tu, wa bika aamantu, wa laka aslam-tu. Sajada wajhii lilladzii khala-qohuu, wa shawwa-rohuu, wa syaqqo sam’ahuu wa basharahuu, tabaarokallahu ahsanul kholiqiin.

 

Artinya: Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, kepada-Muaku beriman dan kepada-Mu lah aku menyerahkan diriku. Dan Engkaulah Rabb-ku. Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakan dan membentuknya, maka baikkanlah bentuknya. Dan Yang telah menjadikan diriku mendengar dan melihat. Maka Maha Suci Allah, sebaik-baiknya pencipta.

 

Jangan lupa ya Sob!

Oleh: M. Iqbal Rifqi Ardianto,

Alumni SMART Angkatan 7, mantan personel tim TRASHIC BRISHIC.
Lulusan Ekonomi Islam FEB Universitas Airlangga

 

Di SMART Ekselensia Indonesia banyak ekstrakulikuler yang bisa kami pilih, salah satunya Trashic alias Trash Music.  Di Trashic kami mencoba memanfaatkan barang-barang bekas untuk dijadikan serangkaian alat musik.

 

Setiap kali manggung kami harus menyewa angkot untuk mengangkut barang-barang yang diperlukan karena jika menggunakan mobil pribadi khawatir mobilnya akan lecet tergores “barang rongsokan” yang kami bawa. Maka tak heran ketika kami memasuki kawasan elit seperti mall, banyak orang yang melihat kami dengan tatapan penuh curiga kadang cenderung sinis, seakan-akan kami merusak pemandangan di mall tersebut.

 

Ada satu pengalaman menarik ketika kami tampil di salah satu mall di daerah Serpong, kala itu kami diundang untuk mengisi acara disebuah ajang pencarian bakat.  Kami turun dari angkot dan membawa satu per satu peralatan “perang” kami. Ketika sampai di depan pintu utama mall, satpam menghentikan kami dengan tegas, “Kalian mau ngapain?!”

“Maaf pak, kami pengisi acara di dalam, kami diundang oleh panitia,” sahut kami bersamaan.

 

Pak satpam sedikit keheranan, “Oh, tidak bisa, kalian tidak boleh lewat sini, harus lewat samping, ini mengganggu pengunjung,” lanjutnya.

 

Malas ribut, kami pun mengalah. Akhirnya kami masuk lewat pintu samping walau jaraknya agak lebih jauh. Kami letakkan semua perlengkapan kami di belakang panggung. Perlengkapan Trashic kami lumayan banyak, sebut saja panci, ember, botol kaca, jerigen, gentong plastik, dan lain-lain.

 

Setelah menaruh semua perlengkapan kami di tempatnya, tiba-tiba seorang panitia menghampiri dan menyampaikan kalau waktu tampil kami masih sekitar dua jam lagi alias masih lama. Sebagai anak asrama yang jarang ke mana-mana, maka kesempatan ini tak kami sia-siakan begitu saja, saatnya menjelajah dan berkeliling mall.

 

Dua jam berlalu, kami kembali ke belakang panggung. Alangkah terkejutnya kami ketika mendapati peralatan kami terisi banyak sekali sampah di dalamnya. Kemudian kami melihat seorang pengunjung melintas sembari membuang sampahnya di perlengkapan kami. Ooh kami paham, ternyata perlengkapan manggung kami dikira tong sampah oleh mereka. Emosi? Jelas, but whatever, sebentar lagi mereka akan melihat penampilan kami.

 

Kami lumayan terkejut karena panggung tempat kami tampil berada di tengah-tengah mall. Akhirnya waktu kami tampil tiba, awalnya deg-degan, namun karena kami sangat percaya diri maka hilang semua deg-degan yang menghinggapi diri ini. Tak dinyana banyak pengunjung yang menghentikan langkah mereka untuk menyaksikan kami, sekarang kami  menjadi pusat perhatian. Dengan senyum sangat merekah kami tampil dengan penuh semangat membara. Bidikan kamera hape tak henti-hentinya mengarah pada kami, tepuk tangan meriah seperti tak putus diberikan untuk kami, benar-benar pengalaman yang menyenangkan.

 

Penampilan kami pun selesai. Setelah berbenah, kami lambaikan tangan pada pak satpam yang pagi tadi menghentikkan langkah kami.

Karya Je Firman

Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

 

Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

 

Zaman ini tak dapat dipungkiri, kalau gawai memegang peranan besar dalam keseharian banyak kita. Namun di balik kemudahan dan teknologi yang ditawarkan ada sisi negatif yang harus kita waspadai Sob di antaranya:

  • Batasi penggunaan gawai menjadi seperlunya saja.
  • Cobalah untuk mematikan gawai setidaknya 30 menit sebelum tidur. Jaga suasana kamar agar tetap gelap dan tenang agar kualitas tidur lebih baik.
  • Kurangi cahaya di layar gawai, bersihkan layar secara rutin, jaga jarak antara mata dan layar, serta besarkan ukuran teks untuk mencegah risiko terjadinya mata lelah.
  • Hindari penggunaan gawai saat sedang berkendara. Jika benar-benar perlu, sebaiknya berhentilah di tepi jalan sejenak untuk menjawab panggilan telepon atau membalas pesan.
  • Saat menggunakan gawai, cobalah untuk tidak terlalu menunduk. Beristirahatlah setiap 20 menit dan lakukan peregangan pada tangan, lengan, punggung, dan leher.
  • Lakukan latihan seperti yoga atau pilates secara rutin untuk mengurangi kekakuan otot akibat terlalu banyak menggunakan gawai.
  • Jangan menggunakan gawai saat berjalan untuk menghindari risiko terjatuh dan cedera.
  • Gunakan hands-free saat menelepon atau mendengarkan musik jika khawatir terhadap dampak radiasi gawai pada otak.

Pengguna gawai disarankan untuk beristirahat sejenak dari melihat layar dan mengikuti aturan “20-20-20”, yaitu istirahat selama 20 detik setiap 20 menit penggunaan dengan melihat sesuatu yang berjarak 20 kaki (6 meter). Nah jangan berlebihan ya Sob.

Mau terhindar dari gangguan setan dan jin? Kamuk bisa membaca doa ini. Dijamin setan dan jin auto mingat Sob.

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 

Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi’uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai’in a’thaitanaa. Allahummaaj ‘alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa ‘iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin ‘aniid wa dzi ‘ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir.

 

Artinya: “Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.”

 

Bahagia.

 

Satu kata sederhana namun banyak orang tak menemukannya. Lho kenapa? Kok bisa? Jelas bisa karena manusia tak melulu berada di titik terbaik dalam hidupnya. Tapi jangan sampai rasa tidak bahagia malah menjadikan dirimu memiliki mental pecundang yang berakibat pada kurang memiliki arah dan tujuan  dalam berkehidupan. Misalnya, gara-gara gagal dapat kampus pilihan lalu kamu bermuram durja seakan dunia telah berakhir saat itu juga.

 

 

Ada cara keren dari kak Ahmad Shofwan Syaukani, PM 9 BAKTINUSA Regional Bandung, nih Sob supaya kamu bisa menjalankan setiap aktivitas dengan bahagia meskipun butuh usaha meraihnya. Di bawah ini merupakan hal-hal penting yang harus kamu garis bawahi ya:

 

  1. Setiap manusia berhak untuk memilih jalan hidupnya tersendiri.
  2. Menentukan prioritas dalam setiap aktivitasnya.
  3. Memaksimalkan perkembangan dirimu
  4. Bawa dirimu di satu titik supaya ketemu dengan versi terbaikmu, karena sejatinya Tuhan telah menciptakan kita dengan keunikan dan ciri khas masing-masing.
  5. Harus bisa menerima semua ketentuan yang telah digariskan oleh-Nya.

 

Yang perlu kamu ingat menjadi manusia dewasa berarti kita harus berani mengambil peran tanpa takut terjustifikasi oleh ocehan orang lain dan terus memainkan berbagai macam risiko pada setiap pertunjukan yang telah terpentaskan dalam kehidupannya. Tetap semangat ya Sob!