Saatnya sambut bulan penuh ampunan dengan hati terbuka.

Saatnya persiapkan diri sebaik-baiknya di bulan penuh pahala.

Saatnya kita sambut Ramadan dengan sukacita.

Segera hadir Ramadan EduAction Festival 2021 Dompet Dhuafa Pendidikan.

Oleh: Ana Mariana Mujahid

 

Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah dan memberikan sepucuk surat kepada mamanya. Ia berkata “Guru saya memberikan surat ini pada saya dan berpesan agar surat ini hanya diberikan pada mama.”

Dengan airmata berlinang, sang ibu membacakan isi surat tersebut “Anakmu terlalu jenius, sekolah ini terlalu sederhana dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk melatih dia. Ajarilah dia secara langsung.”

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas Alva Edison pun sudah meninggal. Ia sekarang sudah menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yang dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya. “Anakmu punya masalah. Ia sangat bodoh. Kami tidak mengizinkan lagi untuk datang ke sekolah ini selamanya.”

Edison menangis berjam-jam dan menulis ini di buku hariannya. “Thomas Alva Edison adalah anak gila yang oleh seorang pahlawan yaitu mama saya, diubahnya menjadi yang paling jenius sepanjang abad.

Terlepas dari akurat atau tidaknya cerita yang saya dapatkan dari media sosial di atas, isi ceritanya mengingatkan saya pada istilah labelling. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan “kamu, nakal sekali sih!” “bodoh, begitu saja tidak bisa”, “dasar pemalas!” dsb, baik itu dari orang tua, guru ataupun teman sebaya. Nakal, bodoh, malas bisa dikategorikan sebagai bentuk labelling atau pemberian cap terhadap seseorang atau sesuatu.

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak atau seseorang untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, menyebutkan seseorang yang telah melanggar hukum sebagai seorang kriminal. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah disebut sebagai anak bodoh, anak yang sering mengganggu temannya disebut sebagai anak nakal. Atau anak yang tidak mengumpulkan PR disebut pemalas dll.

Dalam teori psikologi sosial, labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A handbook for The Study of Mental Health, label adalah definisi yang ketika diberikan pada seseorang menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu. Terkadang yang menjadi masalah adalah dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat label tersebut sebagai gambaran keseluruhan, bukan gambaran perilakunya satu per satu.

Labelling ada dua macam, label negatif dan label positif. Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labelling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga terhadap perlakuan orang tua atau orang-orang di lingkungan anak itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik (http://ruangpsikologi.com/topic/labeling-pada-anak/).

Hal ini juga berlaku pada seorang pendidik (guru). Seperti cerita Thomas Alva Edison di atas yang terlanjur di cap bodoh oleh gurunya karena kerap tertinggal dalam pelajaran, padahal sebenarnya Edison tidak bodoh. Namun di tangan yang tepat, yakni ibunya yang justru memberi label positif pada anaknya, Edison menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah dengan 1093 hak paten.

Dalam makalah HERLINA/LABELING_DAN_PERKEMBANGAN_ANAK-salman.pdf. Labelling negatif memberikan dampak melalui tiga cara. Pertama, melalui self labelling (self concept). Menurut Sigmund Freud konsep diri berkembang melalui pengalaman. Terutama perlakuan orang lain terhadap diri sendiri secara berulang-ulang. Dengan menerima label “nakal” dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal. Dan anak akan mengukuhkan konsep tersebut dengan menampilkan perilaku tertentu yang menurut anggapan umum disebut perilaku anak nakal.

Kedua, melalui persepsi orang dewasa terhadap anak. Persepsi yang berupa, apapun yang anak nakal lakukan pastilah negatif. Walaupun anak berusaha menampilkan perilaku positif , namun dianggap ada niat tersembunyi, atau persepsi “pasti ada maunya nih”, atau “ah paling cuma hari ini dia begitu, besok pasti sudah nakal lagi” sehingga tidak diapresiasi oleh orang dewasa. Hal ini bisa membuat anak frustasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya.

Ketiga, melalui perilaku orang dewasa terhadap anak. Orang dewasa yang sudah menganggap atau melabel anak negatif, tidak memberikan peluang pada anak untuk berubah. Misalnya dengan ungkapan “sudahlah tidak usah dinasihati lagi, buang waktu saja. Anak itu memang nakal, dan tidak akan berubah.” Akibatnya anak makin tidak tahu mana perilaku yang bisa diterima masyarakat dan terus berperilaku negatif.

Sebagai seorang pendidik sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mendidik anak menjadi orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan mengembangkan bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak didik agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Dalam teori psikososial, erikson mengatakan bahwa dalam diri individu ada dua kutub yang akan berkembang pada setiap tahap perkembangan anak, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub mana yang akan berkembang sangat tergantung dari stimulasi lingkungan yang diterimanya. Bila lingkungan memberikan stimulasi yang negatif seperti pemberian label negatif maka kutub negatiflah yang akan berkembang, begitu pula sebaliknya. Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk menjadi yang terbaik.

Ada beberapa cara yang berupa stimulasi positif dalam mendidik anak yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru, diantaranya; memberi atau memanggil dengan nama atau julukan yang baik. Memberikan respon yang spesifik, maksudnya berikan respon terhadap perilaku anak bukan pada kepribadiannya. Memberikan pujian dan hukuman secara tepat. Jangan berlebih dan jangan kurang, berikan pujian dan hukuman jika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan. Pujian dan hukuman pun harus disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin anak, misalkan anak laki-laki usia dua tahun akan senang jika diberi permen beda halnya dengan anak usia 12 tahun yang lebih suka jika diberi tas baru daripada permen.

Berikutnya adalah konsisten dalam memberikan pujian ataupun hukuman karena inkonsisteni malah akan membuat anak bingung menentukan perilaku yang harus dilakukan dan terakhir jangan lupa untuk memberikan pemahaman mana yang boleh dilakukan dana mana yang tidak boleh dilakukan.

Terakhir saya tutup dengan mengutip kata-kata dari Lawrence G lovasik “if you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word think a kind thought.”

 

Semoga bermanfaat.

Sob menghafal Alquran bisa dilakukan kapan pun, bahkan di tengah kesibukan sekolah, nah menurut Ustaz Yusuf Mansyur cara menghafal Alquran bagi pelajar sibuk kayak kita cukup dengan one day one ayat atau satu hari satu ayat namun berulang, lagi dan lagi, terus dan terus. Agar semakin hafal, ayat tersebut bisa pula dibaca saat salat wajib ataupun sunah, termasuk ketika menjadi imam salat. Kemudian menjelang tidur, kata dia, ulangi kembali ayat yang sudah dihafal dan yang baru dihafal. Selanjutnya, bentuk komunitas menghafal Alquran. “Jangan menghafal sendiri. Jadi, bisa tukar-tukar peran, setor-setoran hafalan. Saling baca satu sama lain, saling menyimak satu sama lain, yang paling efektif, komunitas itu ya keluarga bareng-bareng menghafal satu hari satu ayat,” ujarnya. Ia mengingatkan, jangan lupa saat menghafal Alquran, niatkan untuk menghafal 30 juz. Harapannya supaya saat kita meninggal tetap mendapat pahala seolah hafal 30 juz, meski sebenarnya baru hafal 5 juz. “Ini sama seperti orang yang dari Asar sudah niat mau salat malam, eh Magribnya meninggal, maka amal terakhirnya yang tercatat adalah salat malam meski belum terlaksana,” ujarnya. Jika menghafal satu hari satu ayat masih terasa berat, Ustaz YM menuturkan, menghafal bisa dilakukan dengan satu pekan satu ayat. Cara tersebut bisa dipilih asalkan rutin dijalankan. Sambil menghafal, lanjutnya, jangan lupa menadaburi makna berbagai ayat dalam Alquran. “Di lihat-lihat terjemahannya, dibaca sambil ditulis atau dicatat yang ditemui, yang diperhatikan, yang didapat, dan yang digali, maupun yang tergali. Jadi, tambah kuat hafalannya,” kata Ustaz YM. Dia menambahkan, menghafal Alquran perlu niat, tetapi jangan cuma menghafal untuk diri sendiri. Niatkan agar sebanyak mungkin orang di bumi juga hafal Alquran. “Sehingga ketika kita meninggal dunia, seakan satu bumi sudah hafal Alquran. Itu pahala kekuatan niat,” tuturnya. Dia menjelaskan, memulai sua tu kegiatan baik, seperti meng hafal Alquran, memang berat. Apalagi, bila kita tidak terbiasa atau belum pernah melakukannya sama sekali.

Assalamualaikum Sob!

 

 

Pasti kamu sudah nungguin pengumuman lanjutan kan? Tenang Sob, setelah melewati ragam proses ini dan itu, sore ini kami  mengumumkan nama-nama yang LOLOS Seleksi Akademik SNB SMART Ekselensia Indonesia tahun pelajaran 2021/2022.

Pengumuman ini bukan kaleng-kaleng karena semua berdasarkan Surat Keputusan Nomor: 029/SMART/Pcl/Seleksi/III/2021 tentang Penetapan Hasil Seleksi Nasional Beasiswa ya Sob.

 

Daripada berlama-lama kuy cek pengumuman yang lolos dan juga jadwal wawancara di bawah ini:

INI DIA NAMA-NAMA YANG LOLOS SMP

INI DIA NAMA-NAMA YANG LOLOS SMA

 

Berikut jadwal wawancaranya ya:

JADWAL WAWANCARA SMP

JADWAL WAWANCARA SMA

 

 

Kami ucapkan selamat untuk kamu yang lolos Seleksi Akademik SNB SMART Ekselensia Indonesia tahun pelajaran 2021/2022. Tetap semangat ya!

 

Sob! Alhamdulillah sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan. Bulan yang Allah janjikan sepanjang harinya penuh dengan keberkahan. Untuk memasuki bulan yang mulia ini, tentu kita harus punya persiapan yang matang

 

Ramadan bukan hanya seremoni, ia bukan siklus yang datang kemudian pergi. Siapa yang bisa menjamin jika umur kita bisa sampai di Ramadan nanti? Ayo buat Ramadan kali ini lebih bermakna dan terencana!

 

Untuk menemanimu menyambut dan menjalani Ramadan, yuk unduh Handbook Ramadan 1442H yang InsyaAllah bermanfaat dan dapat menambah kualitas ibadah kita di Ramadan nanti.

 

Untuk mengunduh sila klik di sini: http://etahfizh.org/handbookramadan1442h/

 

Bagikan seluas-luasnya dengan menyebarkan pesan ini ke sahabat, kerabat, tetangga, kenalan, dan mereka yang kamu sayangi ya.

Semoga kita bisa bertemu Ramadan dalam keadaan sebaik-baik iman, aamiin.

Sob, pada 1 Maret lalu Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menerima informasi adanya dua kasus positif COVID-19 dengan mutasi virus corona dari Inggris atau B.1.1.7. Dua kasus tersebut merupakan hasil temuan dari 462 sampel yang diperiksa. Mutasi virus Corona B.1.1.7 sebelumnya pertama kali diumumkan di Inggris pada Desember 2020.

 

Mutasi terjadi pada bagian tanduk atau spike dari virus yang menyebabkan virus lebih mudah masuk ke sel sasaran sehingga penularannya akan lebih cepat dibanding varian yang lama. Kecepatan penularan mutasi virus tersebut tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit, namun penelitian terkait varian baru ini terus dilakukan.

 

Para peneliti yang mendalami virus Corona B.1.1.7 mengonfirmasi bahwa efektivitas inokulasi terhadap virus masih ada di level yang bisa diterima sehingga sejauh ini belum mengganggu kinerja vaksin. Sahabat Baik tak perlu panik dan kudu tenang, hanya saja juga harus tetap waspada meskipun tingkat keganasan varian baru virus COVID-19 ini belum diketahui.

 

Pokoknya jangan lupa disiplin & perketat menerapkan protokol kesehatan, memperkuat upaya 3T (Testing, Tracing, dan Treatment) demi mencegah varian baru corona B117 meluas, dan jaga kesehatan diri sendiri beserta orang tersayang.

 

Meskipun saat ini kemampuan berliterasi masyarakat Indonesia masih di bawah rata-rata dan kemampuan membacanya hanya mampu bertengger di angka 30 persen saja*, bukan berarti kita hanya berdiam diri.

 

Dompet Dhuafa Pendidikan melalui Jaringan Sekolah Indonesia (JSI), program yang peduli akan kualitas pendidikan Indonesia menginisasi program Si Mobil Baca (Si MoBa).

 

Si MoBa merupakan perpustakaan keliling yang dihadirkan karena keterbatasan masyarakat dalam menjangkau serta mendapatkan aksesibilitas terhadap perpustakaan dan manfaat program Gemari Baca yang digaungkan JSI. Si MoBa telah berkeliling di beberapa titi di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dengan menyasar sekolah dan masyarakat daerah marginal.

 

Si MoBa bukan sekadar perpustakaan keliling semata, melainkan pengimplementasian sisi lain literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, melalui program pemberdayaan dan sarana penyembuhan trauma (trauma healing) atas masalah apapun yang sedang dihadapi masyarakat.

 

Si MoBa menjadi jawaban mengatasi rendahnya kemampuan literasi masyarakat Indonesia dengan menyediakan wadah serta sarana pendidikan menyenangkan, wahana edukasi serta rekreasi berbasis literasi, dan wahana belajar untuk meningkatkan kemampuan diri dan minat baca masyarakat,

 

Terus dukung para Pejuang Pendidikan meningkatkan budaya literasi ke berbagai pelosok nusantara.

 

Kirimkan donasi terbaikmu melalui

2881288126

BNI Syariah Dompet Dhuafa Republika

(Sertakan kode 19 di belakang nominal donasi)

Misalnya 100.019

 

 

*Berdasarkan hasil skor Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis The Organisation flor Economic Cooperation and Development (OECD). Menurut skor tersebut, saat ini, kemampuan berliterasi masyarakat Indonesia (khususnya pelajar) berada  di bawah rata-rata), dengan skor 371 dari 487.

Saatnya mengehebat seperti kak Muhammad Ikrom Azzam, Sob. Ia merupakan Alumni Penerima Manfaat SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 9 dan Young Leader (YOULEAD) serta inisiator Yayasan Sosial @effocommunity, sebuah gerakan mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak panti asuhan. Melalui komunitas tersebut, ia berfokus pada perwujudan pendidikan inklusif bagi anak-anak panti asuhan dan anak-anak kurang mampu secara ekonomi di Rawamangun. “Melalui semangat #Eduaction saya tak akan lelah memperjuangkan pendidikan Indonesia. Saya yakin usaha saya bisa menjadi amalan baik serta bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan,“ ujarnya .⁣





Selain memiliki kepedulian tinggi di bidang pendidikan, kak Azzam yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ), juga aktif mengikuti berbagai kompetisi bergengsi, salah satunya menyabet gelar Penalaran Terbaik dari Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai apresiasi atas prestasi yang diraihnya di bidang Penalaran dan Kepenulisan seperti KTI, Essai, Artikel Ilmiah, Paper, dan Konferensi Tingkat Nasional maupun İnternasional. Belum lagi Anugerah Mahasiswa Berprestasi Universitas Negeri Jakarta 2019, Peraih Premium Award Katılım Belgesi Asya Pasifik ISABET Yayınları Turki, Delegate Regional Conference On Student Activism, Malaysia, Juara  1 LKTI IDEA Nasional, Juara 2 LKTI NEts UNSOED, dan Best Presenter LKTI Censorfest UNS. 2019 lalu ia dinobatkan sebagai Duta Bahasa DKI Jakarta.⁣




Semangat kak Azzam melakukan aksi nyata untuk pendidikan juga bisa kamu tiru, kalau bukan kita siapa lagi Sob? ⁣

Assalamualaikum Sob,

 

Saat ini  Abdullah Azzam Arafa siswa Ekselensia Tahfizh School Dompet Dhuafa Pendidikan Angkatan 2 sedang mengikuti Lomba English Speech #L2CFH2021 yang diadakan oleh Telkom University. Kami meminta bantuanmu untuk like dan share sebanyak-banyaknya supaya Azzam bisa melaju cepat menggapai impiannya dalam Preserving Mother Languages and Improving Foreign Languages ​.

 

Kamu cukup klik video di bawah ini ya

Semoga kebaikanmu dibalas berlipat ganda kebaikan 🤲