Oleh: Aziz dan Zaky, Kelas 12

“Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq”. Hadis yang disabdakan ini menunjukan bahwa Nabi Muhammad Saw. diutus oleh Allah Swt. bukan untuk “mengganti” akhlak, akan tetapi “memperbaiki” akhlak yang sudah ada. Hal ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad menghargai usaha kemanusiaan sejak beribu tahun dahulu daripadanya.

Dalam literatur sejarah kita bisa melihat dan mengetahui bahwa dengan budi pekerti (Al-Qur’an), bangsa Arab Jahiliyah bertransisi menjadi sebuah bangsa yang besar yang peradabannya diakui sebagai salah satu rantai emas yang gilang gemilang dalam sejarah kemanusiaan.

Datangnya Zaman Renaisans di Benua Biru, Eropa, sejak dari kebangkitan Luther dan Calvin  hingga Revolusi Prancis, membuat Eropa mendapat jiwa yang baru, teknik yang modern dan organisasi yang teratur. Semuanya berawal dari kebangkitan budi pekerti Islam zaman dulu  yang mereka contoh dan terapkan dalam kehidupan sedang pada saat itu negeri Timur hanya diselimuti oleh budi yang telah mati.

Budi pekerti atau karakter menjadi salah satu dasar untuk meraih kesuksesan yang hakiki. Tanpa budi pekerti, sepandai apapun manusia tidak ada harganya. Tanpa budi pekerti, sekaya apapun manusia tidaklah bernilai dibandingkan dengan kekayaan yang ia miliki.

Menurut  para ahli timbulnya kebobrokan karakter manusia adalah  lantaran sempitnya tempat manusia untuk tegak di dalam hidupnya. Orang yang sempit hidupnya kurang peduli pada keadaan orang lain dan hanya mementingkan keadaan dirinya saja. Orang-orang yang demikian dinamakan manusia yang lemah pikirannya dalam membedakan mudharat dan manfaat. Ia tidak mengetahui dan pura-pura mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukannya akan merugikan orang lain.

Dalam proses pembinaan karakter, kita bisa mencontoh proses pembinaan  karakter anak muda di Korea Selatan. Setiap pemuda yang menjadi warga negara Korea Selatan diwajibkan untuk mengikuti Wajib Militer (WaMil). Kita tahu bahwa pola pelatihan militer yang terkesan keras itu bertujuan membentuk kecakapan fisik dan mental serta salah satu proses pembentukan karakter kedisiplinan.

Selain itu, kita bisa melihat proses pembinaan karakter budi pekerti di dalam sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam membawa pengaruh yang signifikan dalam pembinaan karakter anak bangsa. Bahkan, banyak tokoh-tokoh bangsa yang berpengaruh di Indonesia  adalah alumni  dari sistem pendidikan ini.

Dalam sistem pendidikan Islam, untuk melatih kedisiplinan, pembiasaan shalat Qiyamul Lail menjadi salah satu instrumen yang penting dilaksanakan, tak hanya untuk melatih kedisiplinan, shalat Qiyamul Lail juga membiasakan diri untuk tunduk  dan merendah di hadapan Maha Kuasa.

Dalam melatih kesabaran, puasa sunnah adalah instrumen yang tak ketinggalan, bersabar dalam menahan lapar dan hawa nafsu berperan besar dalam pendidikan karakter.

Dewasa ini, sistem pendidikan di Indonesia telah mengacu dan mengutamakan kurikulum pendidikan karakter budi pekerti dalam sistem pembelajaran kurikulum 2013. Pembinaan karakter siswa menjadi salah satu prioritas utama. Sudah sepantasnya pendidikan karakter ditingkatkan di negeri ini, negeri yang sedikit demi sedikit  moral dan karakternya mulai binasa, kriminalitas mulai menjadi hal yang biasa, korupsi telah jadi budaya, serta diskriminasi politik dan agama bukan lagi peristiwa yang langka.

Berpikir untuk kemajuan bangsa harus kita canangkan dari jauh-jauh hari. Tentu saja untuk memajukan suatu bangsa, terlebih dahulu kita harus memperbaiki budi pekerti diri kita sendiri. SMART Ekselensia Indonesia, sekolah kami, sebagai sekolah yang memiliki visi “membentuk pemuda yang berjiwa pemimpin”, tentu menjadikan pendidikan karakter sebagai kurikulum dalam sistem pendidikannya. Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus memaksimalkan kesempatan untuk perbaikan karakter di SMART ini untuk memajukan bangsa Indonesia.

Milenials Kamu Kudu Baca Ini!

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

Oleh: Syafei Al Bantanie

Kisah ini ditulis dengan indah dalam Sirah Nabawiyah. Kisah yang membuat saya semakin cinta dengan agama ini (Islam), baginda Nabi tercinta, dan para sahabat mulia.

Satu hari, sebakda melakukan perjalanan panjang nan melelahkan, Rasulullah dan para sahabat singgah di sebuah tempat. Haus terasa mencekik. Maklum saat itu tengah musim panas dengan teriknya.

Beberapa sahabat Anshar segera mengambil air. Pun dengan beberapa sahabat Muhajirin. Di tengah perjalanan mengambil air, karena lelah yang sangat, sahabat Anshar bertabrakan dengan sahabat Muhajirin. Tumpahlah air masing-masing. Terjadi ketegangan mulut di antara mereka.

Mengetahui ketegangan yang terjadi, apa yang dilakukan sahabat-sahabat senior? Sebuah demonstrasi kualitas individu dan akhlak mulia. Sahabat Umar bin Khattab tidak menunjukkan ego sektoralnya dengan membela Muhajirin. Pun dengan sahabat Sa’ad bin Muadz tidak menampilkan ego sektoralnya dengan mendukung Anshar.

Sahabat-sahabat senior itu dengan kata-kata penuh hikmahnya berupaya mengingatkan tentang persaudaraan di antara mereka. Tentang ukhuwah yang telah terajut mesra.

Yang paling memikat hati adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Baginda Rasul menyerukan agar perjalanan segera dilanjutkan agar cepat sampai Madinah. Ada apa dengan Madinah?

Rupanya baginda Rasul ingin membangkitkan memori indah para sahabatnya. Madinah adalah rumah bersama. Di Madinah mereka merajut persaudaraan yang indah. Kualitas persaudaraan yang hanya ada dalam Islam. Sebagaimana, dilukiskan dengan memesona dalam QS. Al-Hasyr ayat 8-10. Mereka, Muhajirin dan Anshar, saling mencintai, mengutamakan saudaranya, dan sama sekali tiada dengki di antara mereka.

Begitu sampai Madinah. Baginda Rasul mengingatkan tentang memori indah persaudaraan para sahabat. Detail dengan sudut-sudut di Madinah yang menjadi saksi bisu betapa indahnya persaudaraan mereka. Para sahabat pun mengharu biru. Mereka yang bersitegang itu saling berpelukan satu sama lain. Mereka saling meminta maaf. Ah, indah sekali. Indah…

Bersaudara sesama muslim memang bukan berarti tiada perselisihan di dalamnya. Bukankah dalam QS. Al-Hujurat ayat 9, sebakda menegaskan Mukmin itu bersaudara, lanjutan ayatnya adalah, “…maka damaikanlah di antara saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Inilah indahnya persaudaraan sesama muslim. Ketegangan dan perselisihan di antara mereka tetap dalam bingkai ukhuwah. Justru hal ini kemudian membuat mereka lebih saling memahami, mengerti, dan menyayangi satu sama lain.

Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim mengumpulkan kita kembali di surga Firdaus bersama baginda tercinta Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para sahabat mulia.

 

Oleh: Purwoudiutomo

“Innovation distinguishes between a leader and a follower” (Steve Jobs)

Dalam KBBI, inovasi didefinisikan sebagai pembaharuan, atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovasi berbeda dengan penemuan (invention/ discovery) yang hanya menghasilkan pengetahuan (knowledge) baru. Inovasi merupakan sebuah proses transformasi yang memberikan nilai tambah sehingga menghasilkan produk baru, baik berupa barang, jasa, sistem, dan sebagainya.

Inovasi bukan sekadar membedakan antara pemimpin dengan pengikut sebagaimana penuturan Steve Jobs, namun inovasi akan sangat menentukan jatuh bangun bahkan hidup matinya sebuah organisasi atau perusahaan. Daur hidup produk (product life cycle) mulai dari development, introduction, growth, mature, hingga decline juga dirasakan dalam lingkup organisasi atau perusahaan. Tidak sedikit organisasi dan perusahaan yang berhasil tumbuh lalu kemudian mati karena gagal berinovasi. Terlena dengan zona nyaman, sekadar mengerjakan hal yang itu-itu saja, dan lalai dalam berinovasi sehingga tertinggal. Perusahaan game Atari mungkin salah satu contohnya, sempat menguasai pasar namun pada akhirnya tersisihkan dengan berbagi produk inovasi dari kompetitornya seperti Nintendo, Sega dan PlayStation. Hal serupa juga dialami Nokia dan BlackBerry dalam bisnis gadget dan telekomunikasi, tergerus oleh iOS dan Android. Atari dan Nokia perlahan memang mencoba bangkit namun era keemasan sudah berlalu.

Arti pentingnya inovasi untuk tetap survive di organisasi ataupun perusahaan seringkali sudah dipahami. Namun dalam implementasinya, ada berbagai mitos ataupun jebakan yang menghambat sebuah inovasi. Padahal urgensi inovasi bukan hanya menyoal baik tidaknya sebuah produk inovasi, tetapi juga cepat lambatnya inovasi dilakukan. Di tengah dunia yang semakin bergerak cepat, sedikit terlambat saja bisa jadi akan tertinggal. Berikut beberapa mitos yang kerap menjadi jebakan dalam berinovasi.

Inovasi membutuhkan kreativitas tinggi
Tidak sedikit mereka yang urung berinovasi berdalih bahwa mereka kurang kreatif dalam menelurkan sebuah karya inovatif. Apakah inovasi membutuhkan kreativitas? Bisa jadi. Namun kreativitas bukan syarat pokok. Ada tiga komponen penting inovasi: ide, implementasi, dan dampak. Ide tidak harus bersumber dari kreativitas, bahkan idealnya sumber ide inovatif adalah untuk menjawab kebutuhan atau mengatasi masalah yang dihadapi. Kondisi mendesak juga bisa memunculkan produk inovasi, misalnya uang kertas dan makanan kaleng yang merupakan produk inovasi di masa perang. Bahkan produk inovasi bisa lahir dari ketidaksengajaan, misalnya penisilin dan resep Cocacola. Jadi, kreativitas memang penting untuk melahirkan inovasi, namun ketiadaannya tidak dapat menjadi alasan untuk tidak berinovasi.

Inovasi butuh landasan riset yang rumit
Dalam organisasi konvensional, inovasi biasanya diampu oleh tim penelitian dan pengembangan, karenanya inovasi tidak terlepas dari riset dan kajian mendalam. Produk hasil inovasi dapat dipastikan mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun organisasi modern memandang inovasi lebih sederhana dan fleksibel, sehingga dapat dilakukan oleh seluruh anggota organisasi tanpa kecuali. Riset dan pengembangan tentu tetap dibutuhkan, tetapi untuk menguatkan produk inovasi, bukan membuatnya. Alhasil, semakin banyak produk inovasi yang bersumber dari ideyang sederhana, dibuat secara sederhana oleh orang-orang yang tidak harus memahami dunia penelitian dan pengembangan.

Inovasi tidak jauh dari produk teknologi
Terminologi inovasi saat ini identik dengan pembaharuan teknologi, misalnya telepon genggam, kendaraan bermotor, ataupun peralatan elektronik. Padahal inovasi banyak jenisnya, tidak hanya berupa barang hasil pembaharuan teknologi, tetapi bisa juga berupa inovasi sistem, jaringan, bisnis, hingga inovasi pendidikan, sosial ataupun budaya. Inovasi kurikulum pendidikan tentu tidak melulu bicara tentang alih teknologi, demikian pula dengan inovasi sistem lembaga keuangan syariah, misalnya. Banyak produk inovasi yang nyata bermanfaat bagi masyarakat namun tidak dihasilkan oleh para ilmuwan, insinyur, ataupun teknolog. Dimana masih ada gap atau masalah, disitulah terbuka peluang untuk melakukan inovasi.

Inovasi butuh biaya mahal
Di beberapa negara maju, ada bagian jalan yang dipasangi sel surya sebagai sumber energi alternatif. Memasang solar cell di sepanjang jalan tentu butuh biaya besar, dan memang tidak sedikit produk inovasi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, misalnya kereta api cepat ataupun mobil listrik. Biaya yang dianggap wajar untuk sebuah pembaharuan, tetapi apakah inovasi harus berbiaya mahal? Tentu tidak. Grameen Bank sebagai sebuah contoh inovasi sosial yang saat ini asetnya sudah mencapai miliaran dolar ternyata dimulai hanya dengan modal 20 sen. Wikipedia yang jauh mengalahkan Microsoft Encarta bahkan Encyclopedia Britannica dari segi jumlah kontributor dan banyaknya pengetahuan yang tersimpan di dalamnya, ternyata biaya pembuatan dan perawatannya jauh lebih murah dibandingkan ensiklopedia besar lain yang sudah lebih dulu eksis. Inovasi tidak harus berbiaya mahal, dan inovasi berbiaya mahal belum tentu juga lebih baik dari inovasi rendah biaya.

Semakin banyak produk inovatif yang ditawarkan berarti semakin baik
Perusahaan-perusahaan besar memiliki perhatian yang sangat besar terhadap produk inovasi, ketatnya kompetisi membuat mereka terus berinovasi. Hanya saja tidak jarang inovasi yang dilakukan justru kontraproduktif dengan keberhasilan yang mereka harapkan. Terus berinovasi memang penting namun tidak semua produk inovasi akan cocok di pasaran. Coca Cola dan Pepsi pernah mengalaminya ketika membuat varian rasa baru. Alih-alih menarik konsumen, inovasi produk tersebut justru berakhir pada kegagalan. Bahkan perusahaan sekelas Microsoft dan Google pun pernah mengeluarkan produk inovasi yang justru mendatangkan kerugian yang tidak sedikit. Inovasi tidak seharusnya sekadar menawarkan hal yang baru namun tidak sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan pasar. Perhatian terhadap kekhasan dan keunggulan produk juga perlu menjadi perhatian. Memperbanyak varian produk –seinovatif apapun—belum tentu berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh.

Inovasi yang berhasil adalah inovasi yang berbeda, besar, dan berkualitas
Era industri yang telah berlalu, digantikan dengan era informasi dan pengetahuan ternyata turut memberi dampak pada paradigma inovasi. Di masa lalu, semakin baru dan canggih sebuah produk inovasi, maka semakin hebat. Saat ini, ukuran kualitas sebuah inovasi justru lebih banyak dilihat kesesuaian dengan kebutuhan dan permintaan pasar, serta dampak dan kebermanfaatannya. Jika dahulu karya inovasi yang unggul adalah yang unik dan sulit ditiru, di era pengetahuan justru kemudahan sebuah produk inovasi untuk bisa digunakan oleh semua orang menjadi nilai keunggulan. Tidak perlu benar-benar berbeda dan rumit, karya inovasi yang sederhana namun dapat dimanfaatkan secara luas akan lebih dianggap berkualitas.

Inovator adalah sosok luar biasa dan berbakat
Apakah inovasi merupakan bakat atau dapat dibentuk? Setiap manusia sejatinya dikaruniai kemampuan berpikir dan mengeluarkan ide, tetapi berapa banyak di antara mereka yang mengimplementasikan ide tersebut dalam sebuah karya inovatif. Sebesar apapun bakat kreativitas seseorang, jika tidak disertai dengan aksi nyata, tentu takkan berbuah inovasi. Aksi seadanya ternyata tidak cukup, belajar dari para inovator hebat seperti Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs, inovasi harus disertai dengan konsistensi dan persistensi. Kesungguhan dalam menghasilkan sebuah karya inovasi lebih menentukan dibandingkan sekadar bakat. Dan ternyata hampir semua karya inovatif adalah hasil kolaborasi bukan karya seorang individu, pun mungkin sosok yang muncul dikenal public hanya seorang. Ya, selain imajinasi, transformasi, aksi dan konsistensi, inovasi juga butuh kolaborasi. Sehingga tidak ada seseorang yang paling layak menjadi seorang innovator, sebab setiap diri kita punya bakat untuk menjadi seorang inovator.

Pemuda merupakan gelar yang sangat istimewa. Adapun peranan pemuda yang tidak akan berubah, yaitu agent of change, social control, dan iron stock.  Agent of change adalah peran pemuda dalam melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik. Pemuda yang sedang berada tahap belajar, mulai memahami kaidah- kaidah yang semestinya yang diterapkan pada kehidupan bernegara.

 

Jika ada sesuatu yang tidak berada dalam aturannya, maka mahasiswalah yang akan mengembalikan ke jalur yang semestinya. Social control adalah peran pemudadalam mengamati lingkungan dan negaranya. Seringkali, pemerintah yang berada diatas hirarki bernegara melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi masyarakatnya atau dapat dikatakatan menguntungkan diri sendiri. Maka itulah peran pemuda memperbaiki hal tersebut dengan tanpa kepetingan tertentu di dalamnya. Yang terakhir adalah Iron stock, pemuda diharapkan menjadi pemimpin- pemimpin negara yang lebih baik. Karena pemudatelah mengetahui bagaimana hal yang semestinya diperbaiki untuk menyejahterakan negara, hal tersebut Karena pemuda telah mengkaji kebijakan-kebijakan pemimpin sebelumnya. Dengan mengetahui hal yang dipaparkan tersebut hendaknya kita sebagai pemuda menjadi pemimpin yang dapat berguna bagi rakyat.

Kontribusi dalam kamus besar bahasa Indonesia dapat berarti sumbangan. Nah, sumbangan seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini. Menilik dari permasalahan bangsa ini di saat sekarang sudah jelaslah solusi dari permasalahn tersebut, dibutuhkan kesadaran pemuda bangsa ini untuk menjadi pemimpin negeri ini dalam memberantas krisis ideologi yang tengah terjadi. Seorang pemimpin yang terus mempelajari dan berbagi mengenai seluk beluk ideologi pancasila yang sebenar–benarnya.

Adalah suatu kesia-siaan jika gelar pemuda ini tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sangat mubazir jika kita hanya menjadi seorang apatis yang hanya kuliah-pulang atau kuliah-kafe. Belum lagi peran kita sebagai manusia yang diciptakan dimuka bumi untuk menjadi pemimpin umat sedunia.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali ‘Imran: 110).

Berbicara tentang pemimpin, pemimpin Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi zaman sekarang, seharusnya pemimpin Indonesia dapat membuat terobosan terbaru yang efektif dan efesien dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Biarlah terobosan tersebut hanya hal kecil. Bisa saja hal kecil seperti sebuah akun khusus dan laman khusus yang akan otomatis ada ketika sebuah akun pemuda Indonesia aktif. Akun khusus inilah nantinya yang menjadi media berbagi serta menguatkan prinsip – prinsip Pancasila kepada setiap pengguna media sosial di tanah air.

Selain itu, pemimpin juga harus mengetahui segala problematika yang terjadi di Indonesia. Permasalahan saat ini sebenarnya dapat teratasi jika generasi muda sebagai calon pemimpin benar-benar menerapkan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Namun sayangnya ada pemuda yang menganggap pancasila itu tidak relevan. Meskipun ada pemuda yang mengaku mencintai pancasila, tapi mereka tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila seutuhnya. Mereka memang mempunyai nilai nasonalisme yang cukup tinggi, tapi apakah nasionalisme saja sudah cukup untuk memahami makna pancasila? Tidak, karena dalam pancasila telah dirumuskan nilai-nilai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan kepada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Untuk itu, pemimpin dengan pemahaman tinggi terhadap ideologi sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu janganlah kita menyia-nyiakan waktu yang kita miliki, karena Ahmad Rifa’i Rif’an seorang penulis buku Hidup Sekali, Berarti lalu Mati pernah menyampaikan dalam bukunya:

Bukankah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan maha karya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah? Lahir, hidup, mati tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya.

 

 

Oleh: Syafei Al-Bantanie

Bila kita menginginkan kemuliaan, maka harus berani menantang ketidaknyamanan. Lihatlah Musa ‘Alaihissalam. Demi kemuliaan di sisi Allah, Ia tinggalkan kenyamanan negeri Madyan. Melepaskan hidup tentram bersama mertua, Nabi Syuaib, yang sabar dan penyantun. Melupakan asyiknya menggembala dan berkebun.

Musa bawa serta istrinya pergi menuju Mesir menantang ketidaknyamanan. Temui Fir’aun dan mendakwahinya. Datang ke Mesir untuk selamatkan kaumnya. Risikonya tak tanggung-tanggung. Hingga Allah memutuskan untuk dirinya; syahid dalam dakwah atau memenangkan dakwah.

Demikianlah rekam jejak orang-orang yang memilih kemuliaan. Ada yang syahid dalam dakwah layaknya Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Ada pula yang dimenangkan oleh Allah layaknya Nabi Musa dan Nabi Daud. Pun dengan generasi jauh setelahnya. Sebut saja sebagai contoh Sayidina Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Thariq bin Ziyad, Muhammad Al-Fatih.

Nama mereka ditulis dalam sejarah dengan tinta emas bukan karena berleha-leha dan menikmati hidup untuk dirinya. Mereka adalah orang-orang yang mengambil tanggung jawab atas setiap masalah umat. Mereka marah saat yang lain memaklumi. Mereka sedih ketika yang lain tak ada rasa. Mereka lelah dengan kelelahan yang tak biasa. Mereka terus berkarya saat yang lain terlena. Tapi, di situlah letak kemuliaan mereka. Maka, pantas saja Allah sematkan amanah-amanah besar ke pundak mereka.

Lantas, bagaimana dengan kita? Masih memilih berleha-leha dan menikmati hidup untuk diri sendiri?

 

Setiap orang ingin sukses. Tidak ada yang ingin menjadi pecundang, gagal, dan kalah. Mungkin arti sukses di dunia ini sebanyak jumlah manusia itu sendiri, karena setiap orang memiliki arti sukses mereka sendiri. Sukses adalah sesuatu yang kasat mata. Ia ada dalam diri kita, ada dalam pikiran kita. Sebenarnya untuk apa kita mengejar kesuksesan? Apa yang menjadi dasar alasan yang mendorong kita untuk meraih kesuksesan? Ada banyak hal yang menjadi alasan kenapa kita rela bekerja keras demi meraih kesuksesan yang kita impikan.

 

Being Happy

 

Menjadi bahagia adalah sebuah hal yang harus dimiliki semua orang tanpa terkecuali. Tubuh yang bahagia akan lebih mudah dalam menjalankan aktivitas. Ketika kita sukses menyelesaikan sekolah, kuliah, atau pekerjaan, kita akan merasa bahagia. Ketika kita sukses menjadi seorang pengusaha kita bahagia. Saat kita sukses menjadi apa yang kita inginkan, kita akan merasa bahagia. Kebahagiaan tidak hanya kita rasakan saat kesuksesan tersebut sudah dapat kita raih. Tapi melalui proses yang kita lalui, bekerja, dan berusaha meraih kesuksesan.

 

Being a Child

Sebenarnya ketika kita ingin menjadi orang sukses kita harus berpikir seperti anak kecil. Mengapa? Ternyata banyak sekali sifat positif anak kecil yang tidak dimiliki oleh orang dewasa. Sifat pantang menyerah, seorang anak kecil memiliki sifat ini yaitu pada umumnya seorang anak kecil atau baby selalu berusaha mempelajari sesuatu hingga mereka berhasil, coba kamu perhatikan ketika anak kamu mulai belajar berjalan, dia mulai dari merangkak kemudian berdiri dan terjatuh lagi, entah tak terhitung berapa kali seorang anak kecil terjatuh dalam proses belajar berjalan namun tak pernah berhenti untuk belajar meskipun selalu terjatuh, bandingkan dengan diri kamu sudah berapakali kamu terjatuh dan bangkit lagi karena itu jika kamu ingin sukses miliki sifat pantang menyera, karena itu jangan lihat berapa kali kamu gagal tapi lihatlah sudah berapa kali kamu bangkit dari kegagalan.

 

Kedua mudah memaafkan, kalau kita mencermati perilaku anak kecil kadang mereka bertengkar satu sama lain hingga sala satu diantara mereka menangis, namun uniknya sesudah mereka menangis mereka kembali bermain bersama. Semua ini bisa terjadi karena adanya sifat yang mereka miliki yaitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, dan susah melupakan kebaikan orang lain, bagaimana denganmu? Apakah kamu memiliki sifat pemaaf ini?

 

Ketiga positif thinking, seorang anak kecil di dalam pola pikirnya selalu melihat masalah secara positif dan dalam benaknya tak pernah ada kata gagal dan selalu ingin belajar dan mencoba hingga berhasil,coba saja kamu tanya anak kecil mau jadi apa dia pasti dia menjawab mau jadi polisi bahkan presiden mungkin juga kasus seperti ini kamu alami juga di waktu kecil, kenapa cita-cita mereka sangat tinggi semua itu disebabkan pikiran positif pada anak kecil sangat dominan, nanti setelah dewasa karena adanya faktor lingkungan maupun keluarga hingga pikiran negatif itu mulai mendominasi sehingga mereka tidak mengejar lagi cita-citanya, karena itu jika kamu ingin sukses bumi dan langit senantiasa berfikir positif dalam menghadapi masalah termasuk berpikiran positif kepada Tuhan.

 

Being a Striker

Konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu atau fokus ketika menjalani kehidupan sekitarnya bahkan ketika mereka bermain bola selalu fokus pada saat itu, mereka tidak berfikir akan hari esok bahkan hari kemarin,mereka menyadari eksistensinya pada saat itu juga, sehingga mereka senantiasa bahagia,sangat kontras dengan kamu yang lebih fokus akan hari esok sehingga selalu gelisah dan tak tenang, karena itu kalau kamu ingin sukses maka fokuslah. Kekuatan fokus ini sungguh dahsyat lihat saja cahaya matahari kalau difokuskan bisa membakar apapun. Karena itu fokuslah sebagai langkah awal kamu menjadi sukses.

 

 

Saatnya sambut bulan penuh ampunan dengan hati terbuka.

Saatnya persiapkan diri sebaik-baiknya di bulan penuh pahala.

Saatnya kita sambut Ramadan dengan sukacita.

Segera hadir Ramadan EduAction Festival 2021 Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

Oleh: Dede Iwanah

Badannya ramping, mungkin paling ramping di kelas atau bahkan angkatannya kala itu. Rona wajahnya suram, entah bakat alam atau sekadar untuk memperdaya para lawan bicara. Bisa swafoto dengan senyumnya adalah sebuah hal langka. Tutur kata dan gesturnya hampir berbanding lurus dengan ekspresinya. Tobi, itulah namanya. Ia adalah salah satu siswa kelas cerdas istimewa di SMART Ekselensia Indonesia. Kini, Tobi telah mendahului kami semua, ia telah berpulang ke Rahmatullah beberapa tahun lalu.

Adapun Icha, tampak kontras dengan Tobi Ifanda Putra. Ia senantiasa memberikan senyuman dan sapaan kepada setiap insan. Pipinya tembam apalagi saat tertawa. Gemas sekali melihatnya. Ia pun tidak sungkan menyapa orang yang baru dilihatnya. Tidak jelas memang ucapannya, namun semua memakluminya. Ya, maklumlah karena Icha hanyalah seorang balita. Tiga tahun usianya.

Tobi adalah anak didik umi*, sedangkan Icha adalah anak kandung umi. Bukan tanpa maksud umi menyandingkan keduanya di pelaminan, eh, di dalam tulisan maksud umi.

Icha, putri bungsu umi, kini tidak bisa jauh dari tempat umi bekerja. Ia kini belajar, bermain, dan beraktivitas di day care Bumi Pengembangan Insani. Ini adalah sebuah program baru yang berada di Lembaga Pengembangan Insani, sebuah program yang sangat membantu para karyawan yang memiliki putra atau putri yang masih harus mendapatkan perhatian ekstra.

Icha dan Hira menjadi peserta perdana program tersebut. Dua balita cantik, aktif, cerdas, dan menggemaskan, terutama bagian pipi mereka tentu saja. Icha telah beberapa kali berganti pengasuh sehingga cukup mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Terkadang tidak sulit bagi Icha untuk menunjukkan rasa sayang kepada pengasuhnya. Akan tetapi, beberapa kali Icha pun kesulitan untuk dekat dengan pengasuh lainnya meski sang pengasuh sudah menjaga Icha dalam durasi cukup lama. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada jalan lain selain mencari pengasuh baru. Mungkin benar apa kata orang, anak kecil tidak bisa berbohong, dia bisa merasakan kasih sayang dan ketulusan hati seseorang.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Waktunya Icha pulang belajar dari day care, tempatnya belajar. Akan tetapi, karena sore itu umi harus mengikuti rapat di kantor, Icha pun harus turut serta dalam rapat tersebut. Tak lama berselang, Icha merasa bosan dan memutuskan bermain dengan Hira yang juga turut menunggu bundanya yang sedang rapat. Akhirnya, umi mengantar Icha menemui Hira di Pusat Sumber Belajar (PSB). Sesampainya di sana, Icha menemukan Hira sedang bermain dengan kak Tobi. Melihat wajah kak Tobi, Icha pun urung mendatangi Hira dan sang lelaki asing.

Tidak lama duduk bersama Umi, lagi-lagi Icha merasa bosan dan keluar ruangan tanpa ucapan. Beberapa waktu kemudian, Bunda Hira menyampaikan bahwa Icha sudah bergabung dengan Hira dan kak Tobi menjadi tiga sekawan. Awalnya umi heran, namun rasa tersebut terlupakan saat Hira tersenyum menawan. Setelah rapat selesai, akhirnya Icha pamit kepada Hira dan kak Tobi untuk pulang.

Keesokan harinya, Icha belajar kembali di PSB dan bertemu dengan kak Tobi untuk kali kedua. Sesekali terlihat Icha berusaha merebut hati kak Tobi dari Hira. Tampaknya konflik dan intrik akan segera terjadi di antara mereka bertiga. Hira yang telah menganggap Kak Tobi bagaikan kakak kandungnya, tentu tak rela kehilangan kasih sayang sang kakak. Icha, sebagai seorang balita, tentu ingin menunjukkan egonya. Ia ingin juga mendapatkan hati Tobi Ifanda Putra. Sungguh kisah drama yang adiwarna.

Entah dengan ilmu apa, entah dengan teori siapa, Tobi bisa menyatukan hati Hira dan Icha. Kini mereka menjadi trio tak terpisahkan. Trio unik dan nyentrik yang terdiri seorang remaja dan dua orang balita.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, sudah waktunya Icha dan Hira pulang. Mereka berdua bersiap-siap untuk segera pulang. Dan, di saat itu juga, Icha melihat kak Tobi dengan kakak lainnya menuju lapangan futsal SMART Ekselensia Indonesia. Drama kembali terjadi. Icha seolah tak ikhlas memalingkan pandangan dari kak Tobi. Icha ingin menyaksikan bagaimana perjuangan Kak Tobi saat beradu fisik dan strategi di lapangan futsal hingga tiga puluh menit beranjak dari pukul 16.00.

Sampai pukul 16.30, Icha tetap tidak mau beranjak dari duduknya. Berkali-kali umi berhitung memberikan kesempatan Icha menonton permainan futsal, namun usaha itu selalu gagal. Icha tetap tidak mau pulang.

Mulut kecilnya berujar bahwa Icha hanya mau pulang jika diantar kak Tobi! Seketika itu umi terkaget bukan kepalang. Umi pun kemudian berusaha memberikan pengertian bahwa kaka Tobi sedang bermain, tidak bisa mengantar Icha pulang. Usaha umi kembali gagal sehingga umi meminta tolong kepada seorang kakak yang berada dekat tempat Icha duduk untuk menyampaikan permintaan Icha kepada kak Tobi nan cemerlang.

Untuk beberapa saat, kak Tobi tidak memenuhi permintaan Icha karena sedang asyik bermain futsal. Icha terlihat sedih sekali. Air hangat seolah akan segera meleleh dari mata sayunya. Kekecewaan nyaris saja menghinggapi dirinya. Namun, tidak beberapa lama kemudian, sang pahlawan pun datang. Akhirnya, kak Tobi keluar lapangan dan memenuhi permintaan dan mengantar Icha pulang. Tidak sampai rumah memang. Sampai parkir motor pun sudah membuat Hira senang. Icha dan kak Tobi pun harus mengucapkan salam perpisahan di sore hari yang mendung dan cukup kelam.

Sejak hari itu, berbagai pertanyaan timbul di benak saya. Entah mengapa Hira dan Icha begitu nyaman bermain dengan seorang Tobi Ifanda Putra. Bukan karena fisik pastinya. Bukan juga karena harta tentu saja. Mungkin hanya ketulusan hati anak-anak kecil itu yang bisa menjawabnya.

Di balik wajahnya yang (maaf) suram dan kelam itu, ternyata seorang Tobi memiliki hati istimewa. Hati yang mungkin tidak dimiliki orang lain yang berpenampilan lebih wah. Tobi memiliki kekayaan dan ketulusan hati untuk mencintai anak-anak kecil yang manja. Ia tulus, tanpa meminta apa-apa. Sorot mata Tobi menunjukkan betapa ikhlasnya saat ia bersama Hira dan Icha. Pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak peraih beasiswa Dompet Dhuafa Pendidikan. Darinya, kita belajar bahwa penampian fisik bukanlah segalanya, darinya kami belajar keikhlasan. Terima kasih, Tobi Ifanda Putra.

Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, aamiin.

 

*umi merupakan panggilan sayang siswa SMART, anak, dan suami kepada ibu Dede (red.)

 

Oleh: Andi Ahmadi, Koordinator Sekolah Literasi Indonesia, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Jika ditanya siapa guru yang paling berpengaruh terhadap kehidupan saya saat ini, maka ia adalah Bu Titah Nurjannah, guru saya sewaktu SD dulu. Sosoknya begitu membekas di hati, bukan hanya karena kecerdasannya, melainkan juga karena kewibawaan dan keteladanannya.

***

Pada masa awal kemerdekaan hingga awal tahun 2000-an, guru adalah sosok yang begitu mulia dan diagungkan, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Di sekolah, guru begitu dihormati dan menjadi teladan bagi murid-muridnya, sedangkan di lingkungan masyarakat guru menjadi rujukan, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun pemikiran.

Posisi guru yang begitu agung tersebut bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, guru pada saat itu sangatlah menjadi panutan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Slogan “Guru; digugu dan ditiru” benar-benar melekat pada dirinya, bukan sekadar ungkapan tanpa makna. Bahkan masyarakat tidak akan melihat mata pelajaran apa yang diampu oleh guru tersebut, asalkan dia adalah seorang guru maka masyarakat akan sepakat bahwa ia bisa diandalkan.

Namun, dewasa ini slogan digugu dan ditiru perlahan mulai luntur dari diri sebagian besar guru di negeri ini.  Tidak sedikit dari mereka yang dalam menjalankan profesinya hanya sebatas untuk menggugurkan tugas, dan terjebak pada rutinitas mengajar yang kadang minim akan pemaknaan.

Ungkapan guru sebagai orang yang bisa digugu dan ditiru maknanya amatlah dalam. Digugu memiliki arti dipercaya atau dipatuhi, sedangkan ditiru berarti diikuti atau diteladani. Sudah sepatutnya seorang guru memiliki dua hal tersebut. Segala penyampaian dari guru haruslah sebuah kebenaran yang menumbuhkan keyakinan kepada setiap yang mendengarnya, dan segala tingkah lakunya haruslah menjadi contoh bagi setiap yang melihatnya.

Kemampuan guru untuk bisa digugu dan ditiru erat kaitannya dengan empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Pada hakikatnya, jika empat kompetensi tersebut dimiliki oleh guru, maka predikat digugu dan ditiru dengan sendirinya akan mengikut pada diri guru tersebut.

Agar bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah memiliki pemahaman yang luas dan mendalam terhadap ilmu pengetahuan yang hendak ia sampaikan. Tidak cukup dengan itu, seorang guru juga harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai metode dalam menyampaikannya. Bagaimana mungkin seorang guru bisa meyakinkan muridnya kalau ia lemah dalam pemahaman dan penyampaian. Maka seorang guru harus senantiasa memperbaharui kompetensinya, baik dalam hal keilmuan maupun metode pembelajarannya. Itulah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.

Selain bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah bisa menjadi teladan atau panutan. Dan inilah yang sebenarnya jauh lebih penting dari peran seorang guru dalam pendidikan. Banyak guru yang berhasil mengajar muridnya hingga menjadi orang pintar, namun hanya sedikit di antara mereka yang bisa mencetak  generasi yang berakhlak mulia. Ironisnya lagi, sebagian dari guru di republik ini malah mempertontonkan sikap yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang guru.  Tengok saja data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), seperti dilansir keterangan tertulis Kemdikbud, Selasa (14/6), di mana sepanjang Januari 2011 sampai Juli 2015 terdapat 1.880 kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Hal ini menunjukkan betapa guru sudah sangat jauh dari keteladanan.

Bagaimana mungkin pendidikan kita akan melahirkan generasi yang unggul jika gurunya tidak mampu memberikan keteladanan, baik dalam ucapan, pemikiran, maupun perbuatannya. Bangsa ini tengah dilanda krisis keteladanan, maka guru harus mampu berdiri paling depan untuk memberi keteladanan.

Siapapun dia, jika telah memilih profesi guru sebagai jalan hidupnya, maka ia harus siap mengembalikan profesi mulia tersebut pada khittahnya. Seorang guru haruslah memiliki kepribadian yang dewasa, luhur, berwibawa, dan mulia akhlaknya. Selain itu, melalui kemampuan komunikasinya, guru juga harus mampu menciptakan hubungan yang baik dalam setiap interaksinya, baik interaksi dengan warga sekolah maupun warga masyarakat secara umum. Itulah kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.

Melalui peringatan Hari Guru Nasional, sebagai guru mari kita mengintrospeksi diri, sejauh mana kita bisa menjadi figur yang mampu menginspirasi. Di tangan gurulah masa depan generasi bangsa ini dititipkan, maka hadirnya guru sudah selayaknya memberi kehangatan, perkataannya memberi pencerahan, dan sikapnya penuh keteladanan. Itulah hakikatnya seorang pahlawan.