Pernahkah berpikir “kenapa sedekah di hari Jumat?” Kami punya jawabannya, hal tersebut dikarenakan banyak keutamaan melakukan sedekah di hari yang mulia dibanding pada hari-hari biasa.

 

Dalam hadis Rasulullah saw., disebutkan anjuran khusus tentang keutamaan sedekah di hari Jumat: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى مِنْبَرِهِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا وَبَادِرُوا إِلَيْهِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَصِلُوا الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنكُمْ بِكَثْرَةِ ذِكْرِكُمْ وَبِكَثْرَةِ الصَّدَقَةِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَّةِ، تُؤْجَرُوا، وَتُنْصَرُوا، وَتُرْزَقُوا،

 

“Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah saw. bersabda saat beliau berada di atas mimbarnya, wahai manusia bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Bersegeralah kembali pada-Nya dengan amal-amal saleh, sambunglah hubungan antara Tuhan dan kalian dengan memperbanyak dzikir dan sedekahlah di saat sepi dan ramai, maka kalian akan diganjar, ditolong dan diberi rizki.” (HR. al-Kassi dalam kitab al-Muntakhab min Musnad Abd bin Humaid).

 

Ibnul Qayyim berkata ”Bersedekah pada hari Jumat dibandingkan hari-hari lainnya dalam sepekan, seperti bersedekah pada bulan Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya”.

 

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: والصدقة فيه أعظم من الصدقة في سائر الأيام ”Bersedekah di dalamnya lebih besar (pahalanya) daripada bersedekah pada hari lainnya”. (hadits mauquf shahih namun memiliki hukum marfu’).

 

Di Jumat penuh berkah ini yuk kita perbanyak sedekah

 

Oleh: Masfufatun

Pertama kali saya mendengar nama SMART Ekselensia Indonesia adalah dari teman, saat menginfokan bahwa di sana ada lowongan pekerjaan. Teman saya sudah lebih awal bekerja di sana, tapi bukan di SMARTnamun di divisi lain yang memang masih dalam satu lembaga. Ya, baru mendengar namanya saja, SMART, rasanya asing dan unik. Ternyata SMART adalah nama sebuah sekolah.  SMART sendiri adalah kependekan dari Sekolah Menengah Akselerasi Internat. Sedangkan Ekselensia adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu Excellent yang artinya luar biasa, unggul, istimewa.

 

Saat saya datang ke SMART untuk pertama kalinya, dari luar gedung, saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa sekolah ini nampak sepi ya. Ternyata aktivitas KBM anak-anak berada di lantai dua. Jadi, sekolah ini bukan hanya bangunan yang khusus untuk kegiatan center aktivitas KBM anak-anak seperti sekolah pada umumnya. Sekolah ini berada di lingkungan kerja divisi-divisi lainnya yang masih dalam satu lembaga, maka pantas saat saya pertama kali datang saya melihat ada tulisan “Lembaga Pengembangan Insani” di bagian atas gedung ini. Ketika saya pertama kali bergabung di lembaga ini tahun 2010 namanya masih Lembaga Pengembangan Insani, sekarang telah berubah menjadi Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

Dompet Dhuafa Pendidikan memiliki empat Divisi yaitu Makmal Pendidikan, Beastudi Indonesia dan salah satunya sekolah ini yang berada di bawah naungan Sekolah Ekselensia Indonesia. Sebuah sekolah yang berada di tengah-tengah lingkungan kerja yang mana sudah pasti para siswa juga berinteraksi dengan karyawan lainnya yang bekerja di divisi lain, adalah suatu keunikan. Tanpa disadari mereka akan mengerti dan memahami bagaimana seluk-beluk dunia kerja karena memang mereka hidup di lingkungan karyawan yang bekerja di divisi lainnya. Inilah salah satu dari sekian yang membuat SMART berbeda dengan sekolah lainnya.

 

SMART merupakan sekolah bebas biaya, akselerasi dan berasrama pertama di Indonesia. Diresmikan pada 29 Juli 2004, sekolah ini adalah salah satu departemen Dompet Dhuafa Pendidikan. Sekolah SMART fokus pada pendidikan tingkat menengah (SMP dan SMA) khusus bagi siswa laki-laki lulusan sekolah dasar yang memiliki potensi intelektual tinggi namun memiliki keterbatasan finansial. Dan siswa yang direkrut sekolah ini berasal dari seluruh Indonesia.

 

Tak terbayangkan saya bisa mengajar di sekolah yang penuh dengan keunikan, dengan siswanya yang beragam dari seluruh Indonesia apalagi seluruh siswanya laki-laki. Pada umumnya sekolah yang siswanya laki-laki itu adalah sekolah menengah kejuruan tapi ini ada di sekolah menengah umum.

 

Sungguh luar biasa Dompet Dhuafa berani mendirikan sebuah sekolah gratis yang siswanya diambil dari seluruh Indonesia dan saat itu usia mereka masih kecil, lulusan SD. Di usia yang masih kecil itu mereka harus berpisah bahkan ada yang berpisah jauh karena mereka berasal dari luar Jawa. Dan perpisahan itu tidak sebentar, 5 tahun untuk menimba Ilmu di SMART. Di sinilah kekuatan hati diuji, baik orang tua maupun anak untuk siap berpisah jauh dan dalam waktu lama, demi cita-cita.

Dan tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru-guru khususnya pembina asrama yang akan menemani dan membersamai tumbuh kembang mereka lima tahun ke depan. Bagaimana, layaknya mereka yang juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru yang berbeda beda suku, kami pun para guru juga sama harus beradaptasi dalam menghadapi mereka di kelas. Bayangkan semua karakter dan kebiasaan tiap daerah seluruh Indonesia berkumpul menjadi satu. Dan belum lagi, perbedaan tingkat pemahaman dalam menerima pelajaran juga sangat berbeda bahkan mungkin berbeda drastis.

 

Beragam sifat, karakter, dan kebiasaan siswa-siswa SMART inilah yang menjadi keunikan dan kekayaan khasanah tersendiri bagi kami. Ada siswa yang dari luar Jawa, dari daerah timur yang memiliki sifat keras, ada siswa yang dari Jawa yang memiliki sifat lembut. Tak dipungkiri, karena perbedaan itu acapkali terjadi perselisihan diantara mereka. Di sinilah tantangan kami bagaimana kami terus belajar pola asuh anak dengan beragam latar belakang sifat dan karakter ini.

 

Banyak kisah lucu dan unik dari anak-anak “khas” ini. Pernah suatu ketika, beberapa hari setelah kedatangan siswa-siswa baru. Mereka sedang berada di sekitar koridor kantor lantai bawah, hanya sekedar untuk melihat-lihat mading ataupun piala yang terpajang disana. Saya baru saja tiba di SMART lalu mulai memasuki koridor, dan saya dapati ada beberapa anak yang tidak memakai alas kaki. Lalu saya bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian tidak memakai alas kaki?” Mereka menjawab “Lantainya bersih, sayang kalau diinjak pakai sendal/sepatu”. MasyaAllah, mendengar jawaban seperti itu saya merasa antara terharu dan merasa mereka polos. Mungkin mereka baru merasakan lantai koridor kantor yang begitu bersih bahkan mungkin kinclong, yang selalu dipel pegawai kebersihan tiap beberapa jam sekali. Bisa jadi tempat tinggal mereka dalam kondisi kumuh karena mereka memang anak-anak marginal yang hidup dengan keterbatasan finansial.

 

Kisah unik lainnya adalah saat pembina asrama sedang sosialisasi cara hidup bersih di asrama. Salah satunya adalah harus menyikat gigi. Pembina asrama pun menjelaskan cara menyikat gigi yang benar, yaitu menggunakan sikat gigi dan pasta gigi, setelah itu kumur-kumur lalu dibuang. Lalu ada salah satu siswa yang berceletuk, “Ustad oh itu pasta gigi tidak boleh dimakan to?” (dengan logat timurnya), kemarin saya kira itu (pasta gigi) sejenis makanan, lalu saya makanlah dan rasanya enak.” Sontak pembina asrama dan anak-anak pun ketawa. Itulah pentingnya sosialisasi, karena kami paham mereka beragam latar belakang budaya, adat istiadat dan kebiasaan. Anak ini berasal dari daerah yang memang terpencil dan didaerahnya belum mengenal pasta gigi jadi wajar ketika di kamar mandi asrama menemukan benda seperti itu dia merasa asing.

 

Itulah SMART yang didedikasikan oleh Dompet Dhuafa untuk seluruh anak pelosok negeri ini. Berharap dengan adanya SMART dapat memutus rantai kemiskinan dan bahkan cita-cita kami adalah menjadikan mereka Muzakki yang tak lupa dari lembaga mana mereka terlahir. Serta menjadikan mereka berkontribusi lebih bagi bangsa ini dengan segala keahlian yang mereka punya, baik kemandirian maupun kepemimpinan.

 

 

 

 

Meskipun Ramadan, mulai sekarang tetap dijaga dijaga yuk pola makannya. Sebab kita adalah yang kita makan, salah makan bisa berakibat fatal untuk jantung. Nah ada beberapa hal yang kudu kita  ketahui agar jantung tetap aman selama dan setelah Ramadan.

 

1. Terlalu banyak makan makanan yang manis

Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan produksi insulin. Kondisi ini dapat menyebabkan iritasi dan perkembangan plak di pembuluh darah. Plak dapat menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan berbagai penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

 

2. Terlalu banyak asupan garam

Tak hanya gula, garam berlebih juga tak baik untuk jantung. Konsumsi garam meningkatkan tekanan darah, nantinya dapat berimplikasi langsung ke jantung. Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.

 

3. Terlalu banyak minum soda

Studi oleh Journal of the American Heart Association menunjukkan bahwa mengonsumsi minuman bersoda meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, serta stroke.

 

4. Terlalu banyak makan lemak jenuh

Dikutip dari Eat This, konsumsi lemak jenuh tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol. Dalam waktu lama kondisi ini dapat menyumbat arteri dan menyebabkan penyakit jantung.

 

5. Kurang asupan serat

Asupan serat dapat mengurangi kadar kolesterol jahat. Serat juga punya peran penting dalam mengontrol kadar gula darah. Kondisi ini berperan penting dalam kesehatan jantung.

 

Jangan lupa untuk tetap hidup sehat ya.

Hingga saat ini pandemi belum juga menunjukkan tanda-tanda hilang dari muka bumi. Tentu saja selama setahun terakhir banyak hal mengubah aktivitas kita sehari-hari. Kebosanan pasti –sering- melanda mereka yang memilih di rumah saja, tapi tenang banyak jalan menuju Roma; ada cara jitu supaya selama Ramadan di rumah saja ktetap menyenangkan, misalnya memasak bersama. Iya memasak dengan adik, sepupu, atau ponakan  (enaknya kamu aja mau ngajak siapa ya) di rumah bisa menjadi alternatif pilihan ngabuburit menyenangkan sekaligus mengeratkan kedekatan antara kita dan bocil di rumah.

Menurut Jennifer Tyler Lee, Penulis Buku Half the Sugar, All the Love; ada tiga tips sederhana untuk menjaga adik  bisa terlibat di dapur dengan cara menyenangkan.

 

Buat kegiatan memasak sebagai permainan

Percaya saja jika semua hal lebih menyenangkan jika dibuat menjadi permainan. Sebab dengan  permainan adik akan lebih mudah beradaptasi. Ajak mereka membuat resep sederhana, libatkan mereka mengatur dan mengukur bahan-bahan atau memasukkan bahan ke dalam wadah masak.

 

Biarkan adik memimpin sesi memasak

Membiarkan adik memilih resep mana yang ingin dibuat atau bahan apa yang ingin dimasak menjadi salah satu cara positif mengasah kreativitas mereka.. Semakin banyak kebebasan yang diberikan, semakin banyak pengalaman baru mereka dapatkan. Ajak mereka mengeksplorasi makanan sahur dan berbuka favorit atau resep kue kering untuk di Hari Raya nanti.

 

Memasak sambil belajar

Pembelajaran jarak jauh daring sampai saat ini masih berlangsung. Ajak adik belajar sambil memasak supaya mereka tidak bosan, misalnya untuk anak-anak pra sekolah bisa kita ajari aritmatika sederhana dengan mengukur bahan. Untuk siswa sekolah menengah kita bisa arahkan mereka membuat resep menggunakan sedikit divisi sederhana atau multiplikasi. Banyak cara lain yang bisa dikembangkan dan dikreasikan.

Selamat bersenang-senang meskipun di rumah saja ya.

Seringkali kita merasa bahwa bau mulut kita tidak bersahabat ketika berpuasa, nah tentunya hal ini akan membuat kita merasa kurang percaya diri ketika harus berkomunikasi. Betul tidak? Kalau merasa seperti itu maka kiya harus memperhatikan hadis berikut. Rasulullah saw. bersabda:

 

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

 

Artinya, “Demi Zat yang berkuasa atas nyawaku, sungguh bau mulut orang puasa itu lebih wangi menurut Allah daripada bau misik” (Imam Bukhari).

 

 

Namun bukan berarti kita tak menjaga kesehatan gigi dan mulut selama berpuasa ya. Tak merawat kesehatan gigi bukan hanya menyebabkan bau mulut, tetapi juga bisa menyebabkan komplikasi penyakit lain.

 

Pada saat menjalani ibadah puasa, mulut terasa kering dalam waktu cukup lama. Kondisi ini berpotensi membuat kuman atau bakteri berkembang sehingga menyebabkan kerusakan gigi atau masalah pada kesehatan mulut. Dilansir dari Halodoc ada baiknya melakukan beberapa hal di bawah agar kesehatan gigi terjaga.

 

1. Jangan Lupa Sikat Gigi

Selama berpuasa jangan lupa sikat gigi minimal dua kali satu hari setelah sahur dan sebelum tidur. Pastikan menyikat semua bagian gigi yaitu bagian dalam gigi, permukaan dalam gigi, dan permukaan luar gigi yang digunakan untuk mengunyah. Hal ini berguna untuk menghilangkan sisa makanan yang dapat menjadi plak atau sarang bakteri pada gigi.

 

2. Bersihkan Lidah

Jangan lupa juga membersihkan bagian lidah. Membersihkan lidah sama pentingnya dengan menyikat gigi. Campuran liur dan bakteri pada lidah membuat lapisan pada lidah yang dikenal dengan plak. Cara membersihkan lidah yang baik dan benar dilakukan setelah menggosok gigi. Sikat lidah secara perlahan menggunakan alat khusus pembersih lidah. Lakukan sebanyak minimal dua kali sehari untuk menjaga kesehatan mulut serta gigi selama menjalani ibadah puasa.

3. Gunakan Pasta Gigi Berfluoride

Fluoride adalah unsur alami yang ditemukan pada makanan dan minuman yang diserap tubuh untuk menguatkan enamel gigi. Fluoride akan melindungi dari kerusakan gigi, karena itulah gunakan pasta gigi mengandung fluoride setiap menggosok gigi.

 

4. Hindari Konsumsi Makanan dengan Pemanis Buatan Ketika Sahur

Makanan manis bisa diubah menjadi asam oleh bakteri dalam mulut. Hal inilah yang dapat menjadi penyebab kerusakan gigi. Batasi pengonsumsian makanan manis saat sahur atau berbuka. Tidak hanya itu, setelah mengonsumsi makanan yang mengandung pemanis, jangan lupa menggosok gigi.

 

5. Gunakan Benang Gigi

Selain menggunakan pasta gigi berfluoride, kesehatan gigi bisa dijaga menggunakan benang gigi atau dental flossDental floss tidak hanya berguna menghilangkan makanan yang berada di sela-sela gigi, tapi juga mengurangi risiko infeksi gigi, bau mulut, dan menghilangkan plak sepanjang garis gusi.

 

6. Gunakan Obat Kumur

Menggunakan obat kumur setelah menyikat gigi bisa menjadi alternatif menjaga kesehatan gigi selama menjalankan ibadah puasa. Pilih obat kumur yang tidak mengandung alcohol, dan gunakan selepas sahur maupun setelah berbuka agar mulut senantiasa segar.

 

Jangan malas lagi merawat kesehatan gigi saat berpuasa ya.

 

Oleh: Eka Kurniasih

Saat saya menulis ini WFH (work from home) sudah berlalu lima pekan, termasuk di SMART. Selama lima pekan tersebut diberlakukan WFH terjadwal, dengan diberikan beberapa kriteria.  Guru yang diberikan direct WFH adalah guru yang usianya di atas lima puluh tahun, guru yang menyusui, guru yang sakit, guru yang tempat tinggalnya jauh serta mengandalkan kendaraan umum dalam mobilisasi pulang pergi ke sekolah nya.  Sementara guru-guru lain di luar kriteria tersebut diberikan WFH terjadwal untuk piket dengan waktu sepekan sekali mendapatkan amanah piket.

 

Piket dilakukan untuk mengontrol keberlangsungan penugasan kepada siswa yang tetap berada di asrama.  Anak-anak setiap hari diberikan tugas dari guru-guru tanpa tatap muka.  Pun karena keterbatasan fasilitas elektronik, berupa komputer atau latop ataupun tab, maka tugas yang diberikan kepada anak-anak masih berupa paper and pen.  Semoga dalam waktu dekat fasilitas berupa laptop ataupun tab yang diharapkan dapat segera terwujud.

 

Detik-detik menjelang masuknya bulan Ramadan adalah momen yang diharapkan oleh saya, keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan juga yang pasti adalah buat anak-anak SMART.  Sampainya kami di bulan Ramadan menjadi harapan besar….  Semoga Allah meridhoi harapan ini.

 

Buat saya dan keluarga, Ramadan memang banyak istimewanya.  Istimewanya (dalam kondisi normal) seperti saat maghrib tiba diupayakan bisa buka bersama keluarga, sekalipun sudah bertahun-tahun jumlah kami dalam keluarga inti, tidak lengkap… tapi yang tersisa ini sangat mengusahakan bisa berbuka puasa di rumah, kecuali ada jadwal-jadwal khusus buka bersama di luar bersama saudara atau teman-teman atau lainnya.  Tentunya menu yang saya siapkan sekalipun tidak mahal, namun agak istimewa dan disukai oleh kami semua.  Anggaplah sebagai bentuk apresiasi terhadap Ramadan, terhadap diri sendiri dan juga keluarga.  Karena saya ingin Ramadan dilihat sebagai bulan istimewa, bukan sekedar bulan tidak makan siang atau bulan lemas ataupun bulan berhemat.   Istimewa yang lain sebetulnya sama dengan orang-orang lain, seperti tarawih, sahur dan lainnya.

 

Ramadan tahun ini, tanpa direncanakan khusus oleh kami, ternyata menjadi Ramadan istimewa.  Istimewanya bisa jadi dirasakan oleh hampir semua umat Islam di seluruh dunia.  Terutama untuk keluarga yang biasanya anggota keluarga nya menyebar ke beberapa tempat, baik karena studi ataupun karena bekerja di luar kota atau bahkan luar negri.  Mewabahnya covid-19 menjadi sebab anggota keluarga rata-rata kembali ke rumah untuk WFH, learn from home (LFH) atau lainnya. Kondisi ini memberi kesan dan hikmah yang besar buat kami.  Kami akan ber-Ramadan bersama keluarga inti dengan lengkap.

 

Dalam rangka mengambil hikmah besar dan memaksimalkan ibadah Ramadan dengan kebersamaan keluarga kecil kami dan dengan kondisi saat ini, kami membuat program pencapaian target ibadah Ramadan dan pembagian tugas di antara kami.  Sholat berjama’ah menjadi ibadah harian yang sudah kami laksanakan sebelum Ramadan yang harus terus dipertahankan dan diperbaiki untuk kekurangannya serta dilengkapi dengan tarawih berjama’ah dengan imam bergantian di antara anggota laki-laki yang ada di rumah kami, sehingga menuai optimalisasi pahala ibadah Ramadan.  Target khatam qur’an di syahrul qur’an juga kami targetkan, begitu juga kultum di antara kami yang dipergilirkan  agar kami dapat saling mengingatkan. Semoga Allah memudahkan segala ikhtiar ibadah  kami dalam memanfaatkan kebersamaan Ramadan di tengah wabah covid 19 ini.

 

Ramadan pun selalu menjadi hari-hari istimewa bagi anak-anak SMART Ekselensia.  Dalam kondisi normal, kami dan anak-anak SMART  seperti biasa tetap belajar di kelas. Menu berbuka dan menu sahur akan menjadi istimewa, karena hadir di saat-saat yang dibutuhkan.  Anak-anak SMART akan berbinar-binar, juga haru manakala di sela-sela hari menjelang berbuka, ada guru, ustadz atau ustadzah-nya datang dengan memberikan sedikit tambahan makanan berbuka untuk mereka. Ada kebahagiaan tersendiri buat kami, para guru, ustadz ustadzah nya ketika menyempatkan memberi atau berbuka bersama anak-anak.  Serasa seperti kepada anak-anak kandung, saling membantu, ada tawa dan juga ada sedikit ke-riweuh-an, tapi menyenangkan. Namun kondisi saat ini, semoga juga tetap istimewa buat anak-anak SMART.  Mereka tidak belajar di kelas, tapi akan tetap belajar, belajar di asrama, belajar di lapangan, belajar di alam, juga bisa belajar di dapur asrama.  Begitu banyak sebetulnya fasilitas belajar yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak di luar kelas.  Yang diperlukan oleh mereka adalah bimbingan, pendampingan, juga pantauan dari guru-guru atau pembina asrama nya.  Keterbatasan kami saat ini adalah tidak dapat membersamai anak-anak dengan full time and full teamSocial distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan lockdown menjadi aturan yang harus kita ikuti, semaksimal mungkin untuk kebaikan anak-anak dan juga guru-guru serta para pembina asrama.  Keputusan anak-anak tidak pulang kampung di lebaran tahun ini disebabkan wabah covid-19 sebetulnya ada harapan terjalinnya kembali ikatan dan kesempatan host parents untuk mengajak anak-anak SMART dalam program home stay.  Dimana program ini sempat terhenti tahun lalu karena anak-anak pulang kampung (berlibur) di rumah mereka masing-masing.  Semoga dalam kondisi mewabahnya covid 19 inipun tidak menghalangi para donator, host parent untuk mendukung dan ikut serta program home stay ini. Besar harapan juga, anak-anak yang nantinya terpilih dalam program home stay nanti bisa mencapai 50% dari jumlah anak-anak SMART yang ada saat ini.  Agar batalnya program pulang kampung dapat tergantikan dengan berlebaran bersama para donator dan host parent.  Besar harapan pula agar para donator dan host parent tidak takut atau kuatir jika menerima kedatangan orang luar, dalam hal ini anak-anak SMART ke rumahnya saat lebaran nanti.

 

Himbauan ber-Ramadan dan lebaran tahun ini adalah stay at home, juga tidak ada pulang kampung/pulang kota.  Bahkan diperkirakan salat Tarawih tetap di rumah.  Dan bahkan mungkin sholat Idul fitri pun ditiadakan, karena lockdown nya masjid, untuk menghindari kerumunan orang.  Wallaahu a’laam.  Semoga tidak mengurangi esensi dan makna Ramadan dan berlebaran di hari raya Idulfitri.

 

Ada hal yang menarik dari kebiasaan Ramadan kami di SMART.  Biasanya menjelang akhir-akhir Ramadan kami membuat mini parsel yang diperuntukkan buat anak-anak SMART.  Parsel-parsel tersebut berisi kue-kue lebaran, camilan, permen ataupun coklat, minuman-minuman dan lain sebagainya yang kami perkirakan disukai oleh anak-anak SMART.  Parsel-parsel tersebut kami siapkan sebagai bentuk tanda kasih kami buat anak-anak, sehingga lebaran mereka di asrama tetap dapat menikmati kue-kue lebaran seperti hal nya kue-kue lebaran yang biasa ada dan ditemui di rumah-rumah saat lebaran.  Kami biasanya mengumpulkan donasi dari teman-teman guru dan karyawan di sekitar Dompet Dhuafa Pendidikan yang ingin ikut berbagi dalam kegiatan “parsel lebaran anak SMART”.  Alhamdulillah… sejauh ini, telah bertahun-tahun kami buat program ini, mendapat sambutan yang cukup baik, sehingga parsel lebaran dapat kami buat dan bagi ke semua anak-anak dengan dibuat per-kelas dalam pengemasannya.  Dan untuk Ramadan tahun ini, kami berharap tetap dapat membuat parsel lebaran buat anak-anak.  Sehingga anak-anak akan merasa bahagia dan merasa seperti berada di rumah, sekalipun pada kenyataannya mereka berlebaran tanpa orang tua.  Ada banyak cara berbagi di antara mereka yang selalu ditumbuhkan agar seberapa banyak rizki yang mereka dapat, dibagi rata dengan adil.  Semoga kebersamaan mereka dapat terus tumbuh dan senantiasa menjaga kekeluargaan yang menjadi dasar ukhuwah mereka selama di asrama.  Karena rasa kekeluargaan ini akan terus mereka bawa dan jaga saat mereka nanti keluar dari SMART Ekselesia.  SMART akan menjadi rumah kedua setelah rumah pertama mereka bersama orang tua mereka.  SMART akan menjadi tempat yang dirindukan dan penuh kenangan buat anak-anak dan juga kami, para guru, ustadz dan ustadzah nya.  Dari SMART, mereka akan punya cerita, inspirasi dan juga cinta.

O;eh: Irani Soraya

 

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Alah kepadamu. Dan syukurilah nikmat Allah jika hanya kepadaNya sajalah kamu menyembah” Terjemah QS.An Nahl:114

Dalam kehidupan keluarga muslim, menyediakan kebutuhan hidup dengan barang yang halal lagi baik merupakan sebuah kebutuhan. Sedari kecil tentunya kita telah diajarkan bagaimana etika atau adab seorang muslim dalam makan dan minum. Dan Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang begitu apik lagi rapi terencana. Contohnya adalah bagaimana islam mengajarkan untuk makan dengan tangan kanan[1], larangan makan dan minum sambil berdiri, larangan bersikap berlebih-lebihan dalam urusan makan dan minum serta sebuah keharusan untuk memilih makanan dan minuman yang tidak hanya halal akan tetapi baik (Thayib).

Halalan thayiban adalah sebuah keharusan standar bagi kita, dan bentuk implementasinya adalah mengajarkan sedini mungkin pada anak-anak kita tentang memilih makanan yang halal lagi thayib. Standar kehalalan meski nampak remeh namun memiliki dampak yang besar terhadap diterimanya ibadah-ibadah kita serta doa-doa yang kita panjatkan.

Dalam salah satu hadits arbain yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a.  Rasulullah saw. bersabda :

sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan para RasulNya dengan firmanNya,”Wahai Para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah, dan Dia berfirman,”Wahai orang orang yang beriman , makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezkikan kepada kalian”, kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, ”Ya Rabbi, Ya Rabb”, Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannaya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan (HR.Muslim)[2].

Halalan thayiban juga menjadi salah satu bukti betapa integral dan holistiknya islam mengatur apa apa yang baik bagi manusia dan kehidupannya. Ianya menjadi sebuah tolak ukur bagaimana kita hanya memberi asupan yang terbaik lagi diridhoiNya. Dan kita patut berbangga sebagai seorang muslim karena aturan aturan yang berkenaan dengan pola makan, mutu makanan, kualitas makanan begitu ketat diatur dalam syariah islam. Kebudayaan barat telah membuktikan betapa negara negara multipower semacam Amerika berjuang keras untuk menurunkan persentase obesitas  masyarakat Amerika yang dipengaruhi oleh budaya berlebih-lebihan(eksessif) dalam makan dan minum.

Persoalan standardisasi halalan thayiban bukan melulu mengenai makanan atau minuman agar tidak terkandung bahan bahan dari unsur yang diharamkan akan tetapi halalan thayiban telah menjadi etika muslim dalam menentukan standar kualitas dan mutu makanan yang baik, memenuhi standar kesehatan, serta standar bagi sistem pengemasan serta etika lingkungan produsen penghasil makanan[3].

Namun ironisnya di Indonesia, negeri yang memiliki umat muslim terbanyak dari seluruh negara di dunia, isu halal hanyalah menjadi topik segelintir orang. Kebutuhan akan standardisasi halalan thayiban tidak menjadi perhatian dari masyarakat sebagai konsumen dan perusahaan sebagai produsen, sebagai contohnya data dari persatuan kosmetik indonesia(porkosmi) menyebutka bahwa dari 744 perusahaan kosmetik di seluruh indonesia baru 23 perusahaan yang mensertifikasi halal dari BPOM-MUI atau senilai 3% saja, sisanya 97% kosmetik yang beredar di pasaran tidak jelas[4].

Pada saat ini banyak negara tengah membidik issue halal sebagai sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Anton Apriyanto menggungkapkan:

“sudah selayaknya Indonesia menjadi leader (dalam produk dan standardisasi halal) sebab konsumen muslim kita terbesar sehingga produk-produk di Indonesia harus halal”[5].

Hal ini diungkapkan beliau sebagai sebuah kritik yang menantang dunia usaha dan bisnis. Indonesia mungkin saat ini tengah menjadi role model bagi issu keberagaman agama, toleransi dan kerukunan umat beragama namun sejauh mana nilai-nilai agama dijalankan masih merupakan sebuah pertanyaan.

Dalam hal kesadaran, undang-undang mengenai standardisasi produk halal nampaknya Malaysia tengah berada didepan saat ini. Malaysia dipandang oleh ahli ekonomi sebagai sebuah negara yang dinamis dan mengalami masa keemasan. Bisnis dan perbankan syariahnya jauh lebih kuat dan besar ketimbang Indonesia, dan soal standardisasi halal malaysia tidak main main, telah tersedia pendidikan master dibidang halal food analysis, dan kerjasama berbagai departemen dalam mempromosikan serta mempermudah sertifikasi halal, bahkan tiap tahunnya diadakan pameran skala internasional akan potensi pasar halal global di Kuala lumpur. Malaysia rupanya tengah bersiap untuk mengambil kesempatan ini dan bertindak tidak lagi sebagai konsumen akan tetapi sebagai produsen dan tidak hanya sebagai penonton akan tetapi sebagai pemain.

Pada tingkat masyarakat dan keluarga di Indonesia bahkan kesadaran akan produk yang halal dan thoyib tidak menjadi perhatian, dengan penduduk muslim mayoritas di dalam negeri masyarakat seolah merasa diri  aman dan tentram asalkan tidak memakan daging babi maupun tidak memakan daging anjing. Masyarakat muslim pada tingkat pedesaan maupun perkotaan, dalam wilaya-wilaya padat tanpa disadari banyak menkonsumsi makanan yang bisa jadi halal namun belum tentu thoyib. Standar thoyib sendiri sangat sulit diterapkan tanpa adanya kesadaran diri akan apa-apa yang baik maupun buruk bagi tubuh kita. Sebagai contoh: seorang yang fit dan baik staminanya dalam usia yang relative muda masih memungkinkan baginya memakan  soto betawi dengan kuah santan serta jeroan, tapi penderita jantung dan hipertensi mengkonsumsi soto betawi dengan kuah santan kental dan daging jeroan ditambah kerupuk emping bisa menjadi ancaman baginya yang membuat makanan tersebut jatuh dalam hukum makruh sampai ke haram.

Dan contoh lain sebagai ilustrasi, di masa Ramadan biasanya umat muslim amat sangat menggemari membeli takjil, katakanlah seminimalnya mereka akan beli lontong dengan bumbu kacang ditambah dengan tahu berontak yang hangat dengan cabe rawit, menu yang sudah sangat lumrah bukan bagi sebagian besar kita, kita kadang lupa bawa sebagai muslim tuntunan hidup kita mengacu pada seorang manusia mulia, Rasulullah saw. telah mencontohkan bagaimana cara berbuka yan baik, sederhana namun jika contohnya dari rasulullah bukankah itu adalah sebaik-baiknya contoh. Maka masihkan gorengan menghiasi meja berbuka kita, ataukah kurma dan segelas air cukup memenuhi  dahaga kebutuan kita. Wallahu a’lam bi showab.

 

 

 

 

 

[1]    HR.Bukhari muslim diriwayatkan oleh Umar Bin Abu Salamah, terdapat dalam shahih bukhari , bab makanan5/2056, hadits 5061

[2]    HR.Muslim, Hadits Arbain dan Al Ma’tsurat, Indiva Pustaka, Surakarta, 2008

[3]    Www.halalguide.com februari 2010

[4]    Www.halalsehat.com

[5]    Anton apriyanto dalam pidatonya pada Pmeran halal internasional kedua di Jakarta 2010

 

Dalam Al-Qur’an dijelaskan mengenai golongan yang dicintai Allah. Merekalah yang akan mendapatkan pertolongan dari segala kesulitan, kabar gembira dan segala kesedihan, keamanan dari segala ketakutan dan kepastian dari setiap keraguan. Di bulan Ramadan ini kami ingin teman-teman menjadi golongan tersebut. Tapi kira-kira siapa saja yang termasuk ke dalamnya? Mari kita kupas satu per satu.

 

Pertama, orang yang bersabar. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 153 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Allah mencintai orang yang bersabar, karena merekalah yang membuktikan cinta dan pengorbanan yang tulus untuk Allah ta’ala. Mereka pulalah orang yang lulus dari segala ujian yang menghadang.

 

 

Kedua, orang yang bertakwa. Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertakwa” (QS Attaubah : 07)

Al-Qur’an  memberikan definisi yang jelas tentang ciri mereka, yaitu mereka yang beriman dengan yang gaib, mendirikan salat, beriman terhadap agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. dan kitab-kitab sebelumnya, menginfakkan sebagian harta mereka serta meyakini akan adanya hari kiamat, seperti yang didefinisikan di QS Al-Baqarah ayat 3 dan 4. Itulah ciri-ciri orang yang bertakwa yang dicintai oleh Allah Swt..

 

 

Ketiga, orang yang berbuat kebaikan. Sesuai firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 13 yang artinya,”Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

Orang yang berbuat baik adalah golongan yang dicintai oleh Allah. Dalam ayat itu disebutkan bahwa memaafkan, termasuk perbuatan baik yang dicintai Allah Swt.

 

Saatnya ubah diri di Bulan Suci, masih belum terlambat kok.

Seperti yang kita tahu jika Ramadan ialah bulan penuh pengampunan. Banyak cara bisa kita lakukan untuk mengetuk Pintu Langit agar Allah mau menerima ibadah kita, salah satunya dengan bersujud.

“Hah bersujud? Kenapa?”

Iya sujud. Selain menjadi salah satu rukun salat dan sarana bagi kita berbicara kepada Sang Khalik, ternyata sujud merupakan sarana komunikasi mujarab; sebab ketika bersujud hampir tiada hijab yang menghalangi komunikasi antara kita dengan Allah. Sujud juga menjadi momen pas untuk memanjatkan doa serta memohon ampunan.

Supaya sujud kita lebih bermakna, saatnya panjatkan doa ini  ketika bersujud

اللهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ‎

Allahumma laka sajad-tu, wa bika aamantu, wa laka aslam-tu. Sajada wajhii lilladzii khala-qohuu, wa shawwa-rohuu, wa syaqqo sam’ahuu wa basharahuu, tabaarokallahu ahsanul kholiqiin.

 

Artinya: Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, kepada-Mu aku beriman dan kepada-Mu lah aku menyerahkan diriku. Dan Engkaulah Rabb-ku. Wajahku bersujud kepada Zat yang telah menciptakan dan membentuknya, maka baikkanlah bentuknya. Dan Yang telah menjadikan diriku mendengar dan melihat. Maka Maha Suci Allah, sebaik-baiknya pencipta.

 

Oleh Ahmad Dimas Subrata

 

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Ali Imran/3: 103]

 

Beberapa hari ke depan, bulan Ramadan yang mulia kan datang….

Beberapa hari ke depan, ibadah Puasa Wajib kan kita lakukan di bulan suci ini…

Beberapa hari ke depan, ibadah Tarawih kan kita jalani…

Sahur dan buka puasa Ramadan pun akan mulai terbiasa kita lakukan…

Ta’jil dan ifthar pun akan mulai akrab di telinga kita…

Baca Al-Qur’an, kuliah subuh dan berbagai kajian Ramadan pun kembali bermunculan dengan semarak.

 

Namun, apakah Ramadan ini kan sama dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya?

Lihatlah hati kita, adakah kekhusyukan bertambah pada tahun-tahun Ramadan sebelumnya?

 

Lihatlah amal kita, adakah keihklasan bertambah dan perhatian terhadap benarnya ibadah juga bertambah pada tahun-tahun Ramadan sebelumnya?

 

Ingatlah, Allah hanya melihat hati dan amal seorang hamba! Nabi Saw. pernah bersabda,

 

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

 

“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat kepada bentuk tubuh dan harta kalian, akan tetapi melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian” [HR. Muslim]

 

 

 

Ramadan bulan peningkatan taqwa dan pengendalian hawa nafsu merupakan madrasah yang luar biasa untuk membentuk seorang mukmin menjadi pribadi yang produktif. Mendedikasikan diri menjadi penghimpun kebaikan, memperbanyak amalan, dengan harapan bahwa kelak tatkala Ramadan telah berlalu, segala kebiasaan baik yang dilatihkan selama Ramadan itu kemudian menjadi watak dan kebiasaan yang berketerusan. Bahwa orang bertaqwa itu menjadikan dirinya sebagai saluran bertumbuhnya manfaat bagi orang lain. Kesadaran penuh dan kemudian menjadi kebiasaan untuk secara sadar menerima eksistensi orang lain sebagai syarat mutlak bagi tersegeranya kebaikan memberikan manfaat yang luar biasa bagi menguatnya persuadaraan dan silaturahim di antara kaum muslimin.

 

Bulan suci Ramadan sering disebut juga dengan bulan tarbiyah atau bulan pembelajaran. Lingkup pembelajaran tersebut begitu luasnya karena menyangkut tarbiyah jasadiyah, tarbiyah fikriyah, dan tarbiyah qolbiyah. Berbagai gelar mulia yang disandang Ramadan menunjukkan keagungan dan kekayaan hikmah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Itu semua disiapkan oleh Allah Swt. untuk orang-orang yang beriman dan mau melaksanakan ibadah shaum tersebut. Sebagai Kholiq yang menciptakan manusia berikut alam semesta dan isinya, Allah sangat paham akan tugas-tugas yang harus diemban oleh manusia dalam menjalankan kehidupannya. Ramadan dihadirkan sebagai suatu bentuk arena penggemblengan atau “kawah chandra dimuka” agar manusia memahami kembali apa hakikat kehidupan, kemana arah yang akan ditempuh, dan apa yang harus dilakukan untuk sampai pada tujuan tersebut.

 

Tujuan dalam memaksimalkan madrasah Ramadan adalah agar terbentuknya pribadi-pribadi yang bertakwa (la’alakum tattaquun). Karena hakikat keberadaan manusia adalah menjalani qodratnya dalam memimpin dan memakmurkan bumi. Kehidupan adalah ibarat satu episode perjalanan dalam menuju suatu kampung yang kekal dan abadi, yaitu kampung akhirat. Taqwa merupakan capaian utama dari pelaksanaan madrasah Ramadan. Untuk mengukur apakah seseorang berhasil melaksanakan shaum dan ibadah-ibadah lainnya di Bulan Ramadan, maka salah satu indikatornya seberapa kuat ketakwaannya meningkat selepas Bulan Ramadan, itulah pentingnya madarsah Ramadan bagi seorang muslim.

 

Ada sembilan paket kompetensi pembelajaran dalam madrasah Ramadan yang harus ditempuh dan dicapai oleh seorang muslim. Ramadan yang mulia ini dijadikan ajang pendidikan oleh kaum muslimin demi menjadikan diri mereka memiliki kebiasaan untuk menjadi insan yang mampu menciptakan dan menyegerakan amalan yang nilai kebaikannya berketerusan bahkan bisa bernilai seribu bulan bahkan setelah Ramadan berlalu.

  1. Shaum Ramadan di siang harinya.
  2. Qiyam Ramadan (solat Tarawih) di malam harinya.
  3. Tilawatul Qur’an di waktu-waktu khusus dan senggangnya.
  4. Ifthor li shoimin; memberikan makan dan minum untuk yang berbuka puasa.
  5. Taktsiru shodaqoh wal infaq; memperbanyak sedekah dan infak.
  6. al-I’tikaf fi asyril awakhiri min Ramadan; menunaikan I’tikaf (mengkhususkan ibadah di masjid bagi yang diberi keleluasaan) pada sepuluh hari atau malam terakhir Ramadan.
  7. Taharri fi lailatil qodr; melakukan perburuan (bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam kemulian yang kedudukannya lebih baik dari seribu bulan).
  8. al-Umratu fi Ramadan; menjalankan umrah di bulan Ramadan (bagi yang diberi kemampuan) yang pahalanya laksana menjalankan ibadah haji bersama Rasulullah Saw.
  9. al-Jihadu fi sabilillah; berjuang di jalan Allah, dalam segala bentuk amalan, ucapan, dan perbuatan hanya untuk meninggikan agamaNya.

 

Dari sembilan paket tersebut, ada beberapa yang bisa kita jadikan bentuk amalan berkepanjangan dalam pendidikan di keluarga-keluarga kita. Bahkan beberapa hal tersebut sudah banyak diaplikasikan dalam model pembelajaran karakter di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Salah satunya di SMART Ekselensia Indonesia, melalui program pembinaan keIslaman dan kepemimpinan (leadership) yang menjadi core tujuan pendidikannya.

 

Inilah sejatinya yang Allah inginkan dengan hadirnya madrasah Ramadan. Untuk mengembalikan arah kehidupan melalui madrasah-Nya. Kita dihadirkan di muka Bumi bukan hanya untuk bersenang-senang tanpa pertanggungjawaban. Allah sengaja menghadirkan kita untuk berlomba dalam kebaikan sehingga tahu mana amal yang baik dan amal yang kurang baik. Melalui bulan Ramadan ini, kita menginginkan agar termasuk dalam jiwa-jiwa yang bertakwa. Jika sudah bertakwa bisa dengan mudah menerima hidayah dalam Al-Qur’an, mudah menerima nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

 

Bulan Ramadan adalah saatnya memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Terlebih di tengah wabah covid-19 ini, tilawah, tadabur bahkan mendengarkan lantunan ayat-ayat cinta dari Allah Swt. harus menjadi amalan utama. Jika kita lulus dalam interaksi dengan al-Qur’an selama Ramadan, maka kita akan bawa semangat itu di luar Ramadan. Manusia adalah hamba Rabbani bukan hamba Ramadani. Derajat takwa yang ia raih selama Ramadan akan terus bertahan meskipun di luar Ramadan.

 

Tujuan berikutnya dalam madrasah Ramadan adalah menjadi hamba yang bersyukur. Dalam kehidupan kita, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia tanpa harus dipinta jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah nikmat yang diminta. Kita mungkin amat jarang meminta agar esok hari mata masih bisa melihat, tangan masih bisa bergerak, kaki masih bisa melangkah, telinga masih bisa mendengar dan sebagainya. Namun, Allah Swt. memberikan nikmat tersebut kepada kita tanpa harus kita memintanya setiap hari. Alasan ini saja sejatinya harus membuat manusia terus membasahi lisannya untuk bersyukur.

 

Ramadan dihadirkan Allah Swt. sebagai sebuah madrasah. Jika seorang hamba, termasuk kita memanfaatkannya dengan baik, maka maghfirah akan menanti. Ramadan adalah bulan tarbiyah. Waktu yang disediakan oleh Allah agar manusia menempa dirinya selama sebulan penuh. Seiring berjalannya waktu, lewatnya hari, bulan, tahun manusia kadang lupa, lalai terhadap tujuan kehidupan di dunia. Allah Swt. sengaja menghadirkan Ramadan sebagai bulan tarbiyah yang utuh. Allah Swt. menginginkan agar manusia ingat orientasi kehidupanya di dunia yakni al-‘Ubudiyah. Ramadan itu madrasah imaniyah, madrasah takwa membentuk insan yang terus ingat kepada Allah Swt.

 

Maka jelas bahwa sejatinya Ramadan itu adalah sebenar-benarnya madrasah yang dapat membentuk watak seorang yang bertaqwa. Begitulah Allah mendidik orang beriman untuk kemudian memliki peluang mempertahankan kebiasaan baik dari proses tarbiyah selama menjalankan ibadah puasa (Ramadan) itu dengan dimunculkan tuntunan tentang beragam ibadah sunah. Itulah yang akan membantu seorang mukmin meneruskan pengendalian sepanjang tahun hingga ia bersua Ramadan berikutnya (jika Allah mengehndaki dan memberkatinya dengan usia yang cukup hinga datangnya Ramadan).

 

Wallahualam.