Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

 

Cara Jitu Mengatasi Siswa Mogok Sekolah

Oleh: Ari Kholis Fazari, Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

 

Cerita ini tentang pengalaman saya selaku wali kelas di SMART Ekselensia Indonesia. Suatu pagi saya mendapat laporan dari wali asrama bahwa salah seorang siswa saya tidak mau sekolah.

“Penyebabnya apa, ya, Pak?” tanya saya pada wali asrama.

“Dia selalu ingat rumah, kampung halamannya. Dia selalu ingat ibunya.”

“Oh, begitu, ya, Pak.”

Selepas kerja, pada hari yang sama, saya ke asrama menemui siswa tersebut. Saya coba mengajaknya mengobrol.

Tapi, jawabannya hanya satu, yaitu diam seribu bahasa. Saya tahu ia tidak mungkin langsung percaya dengan saya sehingga ketika saya menemuinya, ia hanya diam. Akhirnya, saya pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan harinya saya mencoba lagi. Kali ini saya mencari tahu ke teman-teman guru yang dekat dengannya supaya saya bisa menggali banyak informasi. Dengan banyak mengetahui informasi tentangnya, saya bisa membantunya kembali bersemangat ke sekolah.

Hari itu juga ia masih dengan kondisi yang sama. Ia tidak mau sekolah, dan ingin pulang ke kampung halamannya tanpa alasan yang jelas. Saya pun tidak putus asa membujuknya untuk kembali ke sekolah.

Saya menggali lagi informasi ke beberapa guru yang bekerja lebih lama dari saya di SMART.

“Kenapa ya siswa saya itu tidak mau sekolah?” kembali saya mengajukan pertanyaaan yang sama.

“Hal yang wajar terjadi di sini, Taz. Itu adalah masa ia beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Wajar jika terjadi pada siswa kelas 1,” tukas salah seorang guru.

Jawaban dari rekan guru itu membuat saya bersemangat.

Hanya soal adaptasi. Tetapi, dalam hati saya bergemuruh: harus saya mulai dari mana mengatasinya?

Jangankan untuk kembali sekolah, mengajaknya mengobrol saja ia bergeming.

Sehari, dua hari, sampai satu minggu, belum ada cara yang tepat untuk mendekati anak ini. Tiba-tiba saya

teringat perkataan seorang teman bahwa segala sesuatu itu tergantung ridha orang tua kita. Jadi, dalam hal ini doa orangtua sangat berpengaruh pada kesuksesan anaknya.

Saya pun bertanya kembali ke salah seorang wali asrama. “Penyebab dia tidak mau sekolah apa ya, Pak?”

“Dia selalu ingat ibunya, Taz,” jawab seorang ustaz.

Mendengar jawaban itu, saya langsung berpikir, mungkin ketika ia berangkat ke SMART, ibunya belum sepenuhnya ridha melepas kepergian anaknya.

Saya pun langsung menghubungi ibunya. Kemudian saya, selaku wali kelas, menjelaskan persoalan anaknya di SMART.

“Bu, anak Ibu sudah beberapa minggu ini tidak mau sekolah.”

“Iya, Pak, saya juga sudah dapat informasi ini dari anak saya melalui telepon,” ibunya menjawab sambil terisak menahan tangis.

“Bu, dia tidak mau sekolah karena selalu ingat akan kampung halaman, dan dia selalu ingat Ibu.”

Sebelum berbicara dengan ibu anak itu, saya selalu berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK). Dari guru BK-lah saya mendapatkan data psikologis siswa tersebut, seperti hasil psikotes.

“Bu, cobalah untuk mengikhlaskan dia untuk sekolah di sini. Karena doa Ibulah yang bisa mengantarkan kesuksesan anak Ibu. Anak Ibu cerdas. Akan tetapi, semuanya tergantung Ibu, yang bisa Ibu lakukan sekarang berdoa, dan saya pun di sini berusaha semampu saya agar bisa membimbing putra Ibu.”

Ibunya pun menjawab, “Iya, Pak, memang salah saya juga, saya selalu ingat dia.”

“Nah, mungkin itu, Bu, yang menjadi penyebabnya. Jadi, mulai sekarang, coba Ibu relakan kepergiannya untuk sementara ini, dan berdoa untuk kesuksesan dirinya.”

“Baik, Pak, akan saya coba.”

Keesokan harinya saya pun berupaya kembali membujuk anak itu untuk bersekolah.

Siang itu, saya ke asrama ditemani guru BK. Sampai di asrama, kami mencarinya. Terlihat ia sedang menangis di sudut koridor asrama sambil memegang buku. Saya mendekatinya. Ia sebenarnya tahu kehadiran saya. Tapi, sepertinya ada penolakan dari dalam hatinya sehingga ia langsung diam sambil berpura-pura melihat bukunya.

Saya coba mengajaknya bicara, sekadar menanyakan kabar. Seperti biasa, ia hanya diam. Pandangan mata saya beralih ke bukunya. Buku yang dipegangnya buku Fisika.

Sepertinya ia sangat suka dengan pelajaran tersebut. Tiba- tiba saya mendapatkan ide.

“Lagi belajar apa, Dik?”

Ia tidak menjawab dengan lisannya, hanya menunjukkan bukunya dan bab yang sedang dipelajarinya.

Saya pun duduk di sebelahnya. “Kamu sangat suka pelajaran Fisika, ya, Dik?” Anak itu hanya mengangguk.

“Wah, hebat, ya, tapi sayang kalau kemampuan dan kesukaan kamu harus berhenti di sini.”

Dia pun menatap saya. Saya pun mencoba membuka diri.

“Saya juga lulusan Teknik, Dik, Teknik Elektro, tepatnya. Dasar dari beberapa kuliah teknik adalah Fisika.”

Dia masih menatap saya.

“Kamu asalnya dari mana?”

Saya sebenarnya tahu jawabannya, tapi sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk melancarkan “aksi” berikutnya.

Benar! Ia akhirnya menjawab untuk pertama kalinya ke saya, “Saya dari Sumatera Barat, Pak.”

“Bukannya di Sumatera itu banyak sekali pertambangan?” Ia mengangguk.

“Wah, harusnya kamu bangga bisa sekolah di sini! Bakat kamu bisa tersalurkan. Setelah kamu selesai sekolah di sini, kamu bisa kuliah di Teknik karena sekolah ini membantu kamu sampai masuk kuliah. Kalau kamu memaksakan diri untuk pulang, apa kamu bisa sekolah seperti sekolah di sini? Guru-guru di sini sangat perhatian dan baik ke kamu.” Ia terdiam.

“Sekolah ini siap mengantarkan kamu ke tempat kuliah yang kamu inginkan. Apalagi di Sumatera banyak sekali pertambangan. Kamu bisa kuliah di Teknik Pertambangan, Teknik Geologi, atau Teknik Perminyakan karena dasar Fisika kamu bagus. Selepas kuliah, kamu bisa kembali ke rumah kamu, dan insya Allah posisi kamu ketika bekerja di sana akan lebih dihargai karena keahlianmu. Tetapi, kalau kamu berhenti di sini, dan kamu pulang, apa yang kamu dapat? Kamu tidak akan dapat apa-apa. Selepas sekolah, apakah kamu bisa kuliah? Apakah sekolah kamu akan sama dengan sekolah di sini, yang mencarikan siswanya beasiswa?” Ia masih bungkam.

“Cobalah pikirkan lagi, Dik, kamu punya kesempatan untuk sukses. Jangan disia-siakan.”

Ia tetap membisu, tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya. Saya pun pamit padanya.

Saya terkejut bercampur senang. Anak itu tampak di sekolah bersama teman-temannya. Berminggu-minggu tidak mau sekolah, akhirnya ia kembali seperti anak-anak SMART. Ceria belajar dan bermain dengan teman temannya. Ia juga sudah tidak canggung lagi mengobrol dengan saya.

Saya tahu, ia anak yang cerdas. Terbukti, pelajaran yang ditinggalkan selama ia mogok sekolah mampu dikejarnya. Ia tidak lagi rapuh hanya karena merindukan keluarganya di rumah, terutama sang ibu.

Saya bersyukur atas perubahan yang dialaminya. Sesyukur saya mengenang kisah yang terjadi lima tahun silam pada Mitra Pargantian. Mitra tidak hanya membahagiakan kami di sini dengan kelulusannya di SMART, tetapi juga mewujudkan impiannya berkuliah di Teknik. Memilih untuk merantau menuntut ilmu di pulau seberang di Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Sebuah jalan kesuksesan tengah dirintisnya, dengan tetap dibersamai ridha orang tuanya.

Khazanah Keberagaman di SMART

Oleh: Ahmad Juwaini

Banyak sekali anak Indonesia yang berpotensi luar biasa yang terlahir dari keluarga sederhana namun tidak berkembang potensinya. Karena ketiadaan layanan proses pengembangan yang baik, anak-anak cerdas dari keluarga marjinal itu akhirnya tersisih dan tidak menunjukkan keunggulannya. Ibarat sebuah permata, tanpa proses penanganan yang baik, perhiasan yang bernilai tinggi akan terpuruk menjadi sesuatu yang rendah atau hilang.

SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School adalah sekolah yang dirangkai dari sebuah mimpi keluarga besar Dompet Dhuafa (DD) tentang sekolah unggulan bagi orang-orang yang kurang mampu. Membayangkan sekolah bagi orang miskin, biasanya yang tergambar adalah sekolah seadanya. Dari mulai sekolah di bawah pohon, di bawah jembatan, di serambi masjid, atau di teras sebuah rumah kontrakan sederhana. Akan tetapi, DD berimajinasi tentang sekolah untuk kaum marjinal yang bebas biaya dengan standar mutu unggulan. Mimpi itu mulai menjadi nyata ketika pada akhir 2003 DD menyediakan kompleks sekolah unggulan di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat. Menjelang tahun ajaran baru pada Juli 2004, anak-anak mulai berdatangan dari berbagai pelosok negeri. Mereka ini hasil seleksi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Terpilihlah anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi namun berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang kurang.

Waktu demi waktu terus berganti. Anak-anak yang datang dengan segala kesederhanaannya tersebut, setelah menjalani proses pendidikan, mulai berubah. Mereka mulai kelihatan bersih dan rapi. Mereka juga mulai hidup tertib dan disiplin. Pengetahuan dan keterampilan mereka telah meningkat dengan sangat pesat. Wawasan dan kekayaan khazanah kehidupannya telah meluas ke mana-mana. Dengan proses pendidikan yang berkualitas, banyak prestasi yang telah dicapai. Tidak heran jika lulusan SMART Ekselensia Indonesia setiap tahun 100 persen diterima di berbagai perguruan tinggi negeri kenamaan di Indonesia. Selain itu, para alumnus SMART Ekselensia Indonesia sekarang pun telah menjadi sekelompok kecil pemuda Indonesia yang memiliki kesempatan untuk melakukan lompatan besar dalam perubahan diri, keluarga, dan menjadi pemimpin masyarakatnya.

Senyampang dengan perubahan yang ada pada para siswa SMART Ekselensia Indonesia, sesungguhnya masih banyak lagi anak-anak Indonesia yang belum menikmati agungnya pendidikan. Mereka ini tersebar di seluruh penjuru negeri menunggu tindakan dan kerja sama semua pihak. Untuk itulah, perlu ada perluasan pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan kualitas asupan pendidikan kepada jutaan anakanak Indonesia.

Keberhasilan SMART Ekselensia Indonesia mendorong DD untuk menyebarkan konsep, dengan mereplikasi sekolah ala SMART ini di berbagai wilayah. Penyebaran ini didasari oleh satu keyakinan bahwa suatu kebajikan seharusnya dapat diperluas sehingga dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin orang. Proses penyebaran ini bisa dilakukan oleh DD sendiri secara langsung, juga bisa dilakukan melalui kerja sama dengan segenap pemerhati dan pelaku pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan sebagian pelaku pendidikan lainnya, motif penyebaran sekolah SMART yang dilakukan DD berorientasi non-profit motive. DD meyakini harus ada spirit replikasi sistem pendidikan unggul yang betul-betul orientasinya adalah meningkatkan benefit. Semangat yang dibentangkan DD adalah agar semakin banyak anak-anak Indonesia yang bisa mengecap sistem belajar mengajar yang berkualitas. Di dalamnya juga melekat, semangat memberi kesempatan lebih banyak bagi kaum marjinal untuk menikmati pendidikan berkualitas.

Kini sudah 18 belas tahun sudah terlewati. Suka duka bagi para guru untuk mencetak para calon pemimpin negeri. Tentunya komitmen penyediaan layanan pendidikan berkualitas bagi kaum marjinal semakin diperluas, ini berarti semakin banyak potensi luar biasa pada anak-anak marjinal bisa diselamatkan. Dengan demikian, juga berarti semakin banyak permata kehidupan yang bisa dikilaukan. Lebih dari itu, ke depan kilauannya akan menjadi cahaya penunjuk negeri ini. Ujungnya kita berharap terjadinya kecemerlangan pendidikan yang akan mendorong terwujudnya kecemerlangan Indonesia. 

Beranikah Kita Keluar Dari Zona Nyaman?

 

Wajahnya datar, malah cenderung terlihat gelisah. Seperti biasa, ia berdiri dari bangkunya. Di SMART Ekselensia Indonesia, selama mengikuti pembelajaran siswa-siswa memang tidak diharuskan duduk di kursi. Ada hamparan karpet yang bisa mereka gunakan selama pembelajaran. Namun, anak ini juga tidak duduk di karpet. Ia berdiri, selalu begitu, lalu berjalan memandangi mind mapping materi yang ditempel di papan display. Lalu duduk lagi. Sebentar memandang ke papan tulis, ia lalu kembali berdiri dan berkeliling kelas. Di kelas saya, ia sering begitu. Tidak mengapa karena saya tahu ia tetap memerhatikan penjelasan saya. Hal ini dibuktikan dengan nilai ujiannya yang selalu di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Demikian pula dalam kedisiplinan, ia tidak pernah terlambat, baik saat memasuki kelas maupun menyerahkan tugas.

Saat diselenggarakan pemilihan presiden OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia; semacam OSIS di sekolah umumnya), ia maju sebagai calon. Entah itu keinginannya sendiri atau dorongan—dan keisengan—dari beberapa temannya. Dari nama-nama yang masuk ke Panitia Pemilu Raya, semua diloloskan tanpa catatan, kecuali dia.

“Dia itu kritis,” kata Guru Bimbingan Konseling yang dimintai pertimbangannya terkait calon-calon yang akan berkompetisi di pentas demokrasi ala SMART.

“Kritis, maksudnya?” tanya saya keheranan sebab setahu saya ia tidak pernah melakukan pelanggaran aturan di sekolah dan asrama. Kritis dalam artian bodoh? Saya tidak yakin juga karena seluruh siswa SMART merupakan anak-anak cerdas. Walaupun harus diakui juga bahwa ia bukan siswa yang menonjol prestasi akademisnya.

Dari penjelasan Guru BK, diketahui bahwa ia senang mengkritisi hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan norma keharusan. Ia adalah pembangkang dalam pemaknaan yang positif. Ia anti kemapanan yang melenakan dan menghambat orang untuk terus maju dan berkembang. Ia banyak bertanya dan mempertanyakan.

Apa salahnya dengan sifat kritisnya itu? Tidak. Sama sekali tidak salah. Kalaupun ada yang disebut salah, maka itu adalah kondisi kita, para guru dan pendidik, yang belum berani keluar dari zona nyaman. Kita belum siap menerima sikap kritis dari anak didik karena kita merasa lebih pintar dari mereka. Kita belum siap menerima fakta bahwa murid akan segera mengungguli kita.

Sikapnya yang kritis ini menjadi alasan sebagian guru yang menyarankan agar namanya dieliminasi dari bursa presiden OASE. Paradigma mereka masih konvensional, yaitu bahwa presiden OASE (ketua OSIS bila di sekolah lainnya) haruslah anak yang memiliki segudang prestasi dan memiliki sifat penurut. Presiden OASE haruslah menjadi role model atau teladan bagi siswa lainnya. Sifat penurut artinya tidak perlu banyak bertanya. Tukang kritik yang banyak bertanya, tidak masuk kriteria ini.

Namun, saya dan sebagian guru yang lain melihat dengan perspektif yang berbeda. Anak ini memiliki potensi yang sangat besar, yang belum teraktualisasikan sehingga ia melakukan banyak hal yang menurut sebagian orang dikategorikan sebagai “tidak wajar”. Anak ini perlu wadah yang bisa menyalurkan energinya yang melimpah itu. Anak ini perlu difasilitasi kecerdasannya. Dan wadah yang tepat adalah OASE—Organisasi Akademika SMART Ekselensia. Syukurlah, namanya batal dieliminasi dari bursa pencalonan.

Hari pertama kampanye. Tim sukses dari masing-masing calon mulai riuh menjual kelebihan calon yang diusungnya. Tidak ada suara dan pergerakan dari tim sukses si cerdas kritis tadi. Keesokan hari, kami dihebohkan dengan banyaknya selebaran yang ditempel di seutas tali sepanjang lorong sekolah. Berlembar-lembar kertas bekas menggantung dengan tulisan seperti “partai anu mendukung SBD”, “partai ikan dower mendukung SBD”, dan bersama “partai pencinta dangdut mendukung SBD”. Out of the box? Mari kita cermati penjelasannya.

Lembaran-lembaran yang digunakan berkampanye adalah kertas-kertas bekas yang sudah digunakan. Ada banyak di sekolah, tinggal meminta saja. Toh kertas-kertas ini juga akan segera masuk tempat sampah. Menggunakan barang bekas? Recycle? Pemikiran yang jenius! Tali yang diikatkan di balkon dijadikan media tempel kertas kampanye. Mudah juga didapat. Namun, keekonomisan menjadi alasan yang disampaikannya. Dengan menempel— atau menggantung—kertas kampanye di tali, artinya kita tidak mengotori tembok. Mudah ditempel, dan mudah pula dibersihkan. Walaupun punya kepentingan, tidak sampai mengotori dan merusak sekolah.

Partai pendukung yang “aneh-aneh”? Cerdas! Salah satu cara menarik simpati adalah dengan menonjolkan sisi kemalangan diri sehingga para pemilih akan empati. Namun, cara ini tidak pantas dipilih oleh calon presiden OASE yang disyaratkan memiliki ketegasan dan ketegaran diri. Memunculkan partai-partai fiktif dengan propaganda yang lucu dan unik akan menanamkan ingatan di alam bawah sadar yang akan memengaruhi siswa-siswa di bilik suara. Maka, ia pun menjadi trending topic. Siswa-siswa membicarakannya, guru-guru juga membicarakannya. Pada keesokan hari, hampir seluruh kandidat yang lain melakukan hal yang serupa. Ia akhirnya terpilih menjadi presiden OASE. Setelah melihat kinerjanya, kepemimpinan ia sangat visioner. Saya dan guru-guru sangat berbangga dengannya, sebagaimana kami bangga terhadap seluruh anak didik kami.

Sebagai guru, kita perlu memahami bahwa kecerdasan itu tidak satu, dan tidak melulu diartikan sebagai nilai jauh di atas KKM. Tugas setiap guru adalah menggali dan memfasilitasi bakat dan minat mereka. Ketika ada siswa yang melakukan hal-hal yang tidak lumrah atau bahkan melanggar aturan sekolah, ingatlah bahwa ia adalah anak kita yang tangannya akan menarik kita ke kemuliaan dan surga. Jangan berputus asa untuk selalu menanam kebaikan dan memercayai bahwa kebaikan itu akan berkembang dan kita memanennya kemudian hari. Perbuatan yang oleh sebagian orang disebut sebagai “pembangkangan” dan “kenakalan” bisa jadi hakikatnya merupakan luapan energi yang tidak terfasilitasi dan tersalurkan.

Jika kita bisa arif dan cermat, perbuatan yang kita namai sebagai kenakalan bisa menjadi kreativitas yang membawa kebaikan. Terima kasih, anak-anakku. Kami bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. []

Mimpi Anak Marjinal

Menghilang

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

Inikah Pencarian Jati Diri?

Oleh: Nadhif Putra Widiansah

Masih terus ku mencari
namun tak jua kutemukan
hingga semua diujung pencarian

Telaga waktu hisap semua daya
dikala letih tuk usaha
peluh hujani bebatuan
terka semua yang kurasakan

Senyuman dan candamu
selalu dapat kubayangkan
wajahmu dan hatimu
telah terlalu lama kudambakan

Mungkinkah,
bila kita kan selalu bersama

mungkinkah,
cintaku dan cintamu selamanya
hanya jika kita bersama
dan engkau milikku
milikku

Guru Adalah Contoh yang Baik Bagi Siswanya

Oleh: Hodam Wijaya, Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia

Suasana asrama lantai tiga sore itu tidak seperti biasanya. Sepi, tidak terdengar suara canda anak-anak. Saya seakan berada di gedung kosong yang sudah lama ditinggal penghuninya. Koridor gelap; hujan di luar deras sekali dari tadi siang. Saya heran apa mungkin anak-anak masih di sekolah karena terjebak hujan. Dengan penuh rasa penasaran, saya nyalakan lampu dan mengecek kamar-kamar. Oh, ternyata mereka sedang terlelap tidur. Alhamdulillah, gumamku dalam hati. Maklum hari itu Senin, mungkin mereka kelelahan atau lemas karena seharian menahan lapar. Sebagai gurunya, saya merasa bangga, murid yang saya didik sudah bisa belajar menghidupkan salah satu amalan Nabi, yaitu berpuasa (shaum) sunnah. Puasa sunnah ini sudah menjadi satu dari puluhan kebiasaan berkarakter di asrama SMART Ekselensia Indonesia. Kebiasaan yang dapat membentuk kepribadian, mentalitas, dan kesehatan tubuh anak-anak.

Saya melihat jam yang dipampang di dinding koridor asrama sebelah barat sudah menunjukan pukul 17.05. Waktunya anak-anak mandi sore, persiapan berbuka, dan Salat Magrib berjamaah di Masjid Al-Insan. Sekali lagi, saya berputar melihat mereka yang sedang asyik dengan mimpi-mimpinya. Wajah mereka kelihatan lelah sekali. Saya tidak tega jika harus membangunkannya. Maka, saya putuskan untuk memberikan waktu setengah jam lagi agar mereka menikmati mimpi-mimpinya itu.

Ketika saya masuk ke kamar Kairo, Angkatan 9, saya dapati ada dua anak yang sedang asyik mengobrol di atas ranjang sambil makan camilan. Muhammad Alhamid, dan Insan Maulana. Mereka berdua tidak berpuasa. Saya penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Suara mereka tidak begitu jelas. Lalu perlahan saya menghampiri mereka.

“Assalamu’alaikum, kayaknya seru nih obrolannya?” tanya saya.

Hamid dan Insan terdiam sejenak, terpaku, menghentikan obrolannya. Ekspresi mereka berdua seperti orang tepergok berbuat salah.

“Wa’alaikumsalam, Ustaz,” jawab mereka dengan kaku sambil menyembunyikan camilannya ke belakang badan. Sepertinya mereka ketakutan karena tidak berpuasa.

“Kalian gak shaum, ya?”

“Hmmm… gak, Ustaz.”

“Kenapa?”

“Hmmm….” Mereka kikuk.

“Kalau Ustaz shaum gak?” mereka malah balik bertanya.

Waktu itu, saya tidak langsung menjawab. Saya hanya menarik napas kemudian duduk di samping mereka. Saya kikuk seperti mereka yang saya tanya barusan. Duh, saya benar-benar bingung harus jawab apa karena saya juga tidak sedang berpuasa. Sudah dua hari saya kurang sehat.

“Hmmm… ini kan shaum sunnah, Nak. Jadi, boleh kan Ustaz juga gak shaum seperti kalian?” saya sedikit membela diri walau sebenarnya hati ini merasa malu.

“Yeee… ternyata Ustaz juga gak shaum, San!” Hamid teriak kegirangan sambil melirik Insan. Mereka mengelus dada, membuang napas, mereka kelihatan lega sekali. Suasana yang tadinya kaku menjadi cair setelah mereka tahu kalau saya juga tidak berpuasa.

“Kok, Ustaz, gak shaum sih?” sekarang giliran Insan menginterogasi saya.

“Ustaz lagi kurang sehat, San. Lagian ini kan shaum sunnah,” saya kembali membela diri.

“Tapi kan walaupun sunnah, setidaknya Ustaz memberikan contoh yang baik buat anak-anak. Guru kan digugu dan ditiru.”

Saya terdiam mendengar perkataan Insan. Kata-katanya pendek, tapi sangat menancap ke hati. Seketika saya merasa jadi kerdil di hadapan mereka. Malu. Saya malu sekali. Saya pikir yang disampaikan Insan benar adanya.

“Ustaz minta maaf, ya, apa yang kamu sampaikan memang benar, insya Allah nanti hari Kamis Ustaz akan shaum, tapi kalian juga, ya?” saya tersenyum malu.

“Insya Allah, Ustaz,” mereka berdua menjawab dengan kompak.

Kamis harinya, sekuat tenaga saya ikut makan sahur dan berpuasa bersama anak-anak. Alhamdulillah, ketika mengambil takjil, saya bertemu di tempat makan mereka berdua. Hamid dan Insan menepati janjinya untuk berpuasa sunnah.

“Alhamdulillah, akhirnya kalian shaum juga,” sapa saya penuh bahagia.

“Alhamdulillah, Ustaz! Ustaz juga shaum kan?”

“InsyaAllah,” saya menjawab diiringi tawa kecil.

Mantab, Ustaz,” kata mereka sambil memberikan dua jempol.

Oh ya, Ustaz, mohon maaf ya kalau Senin lalu perkataan saya kurang berkenan.” Sepertinya Insan merasa bersalah.

“Sip. Teu nanaon, San,” saya jawab dengan bahasa Sunda karena kami sama-sama orang Bandung, sambil memberikan dua jempol seperti mereka barusan.

Sebagai guru, saya banyak belajar dari kejadian ini. Ternyata bukan hal yang mudah menjadi seorang pendidik. Kita harus menjadi teladan dalam setiap hal. Karena anakanak didik kita lebih banyak melihat kita daripada mendengar yang kita sampaikan kepada mereka. Mungkin selama ini pola pendidikan saya salah. Terlalu banyak meminta banyak hal ini dan itu kepada anak-anak, tetapi saya sendiri tidak memberikan contoh yang baik kepada mereka. Senin petang itu saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga sepanjang masa. Mencerahkan hati dan jiwa.

Benar yang dikatakan orang-orang bahwa murid kita adalah guru kita. Anak-anak didik kita pasti memiliki keunikan setiap individunya. Akan tetapi, hikmah itu selalu ada pada setiap jiwa. Ambillah pelajaran dari siapa pun walau ia hanya seorang anak kecil. Seperti kata pepatah, “Lihatlah perkataannya, jangan lihat siapa yang mengatakannya.”

 

SMART Bukan Penjara

Oleh: Ahfie Rofi. Alumni SMART Angkatan 7. Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata Ustazah Dini, guruku, menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

 

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.

Pentingnya Budaya Salam

  “Assalamu’alaikum, Ustaz….” “Assalamu’alakum, Ustazah…” Kata-kata tersebut sering kali diucapkan oleh siswa-siswa SMART Ekselensia Indonesia ketika bertemu guru-gurunya, wali asrama, atau orang yang lebih tua di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan. Salam kepada para guru dan/atau wali asrama bergaung di kelas, di luar kelas, di selasar, di masjid, di tangga, dan di mana pun di lingkungan SMART, salah satu sekolah unggul yang berada di Bogor. Ketika pertama kali bergabung di SMART, saya langsung disapa dengan salam tersebut. Sebuah sapaan yang sangat berkesan buat saya mengingat di sekolah-sekolah tempat mengajar sebelumnya saya belum menemukan budaya salam seperti di SMART. Seyogianya, ucapan salam dan budaya positif seperti ini, dimiliki oleh setiap pelajar Muslim di sekolah mana pun. Menyebarkan salam merupakan salah satu sunnah Rasulullah yang perlu diterapkan dalam kehidupan seharihari. Alhamdulillah, guru-guru SMART sudah layak berbangga dengan terbudayakannya salam ini, sebuah budaya untuk mewujudkan model pendidikan berkualitas Sebagai sekolah berasrama, mungkin mudah menerapkan budaya salam. Pekerjaan rumah guru dan wali asrama adalah bagaimana mendidik siswa untuk tetap menerapkan budaya salam ini di masyarakat pada saat mereka sedang liburan atau pulang ke rumahnya. Liburan ke daerah asal ala siswa SMART dinamakan sebagai “pulang kampung”. Saya berharap tinggi sebenarnya bahwa selain siswa dievaluasi ibadahnya oleh orangtuanya pada saat pulang kampung, alangkah baiknya budaya salam ini juga masuk di dalamnya. Substansi dari budaya salam ini adalah bagaimana siswa dapat membangun dan mengembangkan kecerdasan interpersonal. Dengan kecerdasan interpersonal ini, setiap siswa diharapkan mampu hidup dalam kehidupan kolektif. Hidup secara kolektif merupakan fitrah manusia. Hidup secara kolektif membutuhkan tegur sapa, komunikasi, kerja sama, termasuk juga menyelesaikan konflik. Dalam budaya salam ini, guru dan wali asramanya sudah cukup berperan aktif sebagai fasilitator dan pengarah bagi siswa. Bola terakhir sebetulnya ada di tangan siswa untuk mengejawantahkan budaya salam ini di dalam masyarakat ataupun ketika kelak berada di lingkungan perguruan tinggi. []

Sob, tau gak kalau kita membiasakan berpuasa Syawal setelah puasa Ramadan itu tandanya ibadah puasa Ramadan kita diterima Allah Swt., karena jika Allah menerima amal ibadah seseorang, maka Allah akan mempermudah untuk beramal saleh berikutnya. Sebagian ulama berpendapat, bahwa pahala amal kebaikan adalah kemudahan untuk membuat kebaikan berikutnya.

 

Jikla kita berbuat kebaikan lalu diikuti dengan kebaikan berikutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa kebaikan yang pertama diterima Allah, sebaliknya jika seseorang berbuat kebaikan lalu diikuti dengan kejelekan, maka itu menandakan perbuatan kebaikannya tertolak dan tidak diterima Allah Swt.

 

Dilansir dari Republika, berpuasa enam hari di bulan Syawal memiliki beberapa keutamaan lo, antara lain:

 

1. Memperoleh pahala puasa setahun penuh, sesuai dengan hadits Muslim di atas dan diperkuat hadits riwayat Imam As Suyuți dari Tsauban (maula Rasul saw.) dari Rasulullah saw., beliau bersabda:

صيامُ شهرِ رمضانَ بعشرةِ أشهرٍ، وصيامُ ستةِ أيامٍ بعدَهُ بشهرينِ، فذلكَ صيامُ السنةِ

“Berpuasa Ramadan pahalanya seperti puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari setelahnya (Syawal) pahalanya seperti puasa dua bulan, maka jumlahnya menjadi satu tahun” (HR Imam As Suyuți  hadis sahih dalam al-Jāmi al-Shagīr, No. 5100).

Para ahli hadis mensyarahi bahwa setiap kebaikan bernilai 10 kebaikan, Puasa Ramadhan 30 kebaikan sehingga bernilai 300 kebaikan. Puasa enam hari bernilai 60 kebaikan. Dengan demikain berpuasa Ramadan plus puasa enam hari Syawal: 300 kebaikan + 60 kebaikan = 360 kebaikan (satu tahun).

 

2. Menambal dan menyempurnakan kewajiban yang terkadang terabaikan. Berdasarkan hadis Tamim Ad Dariy r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

أوّلُ ما يحاسَبُ بهِ العبدُ يومَ القيامةِ صلاتُهُ فإن أكملَها كُتِبَت لَه نافلةً فإن لم يَكن أكمَلَها قالَ اللَّهُ سبحانَهُ لملائكتِهِ انظُروا هل تجِدونَ لعبدي مِن تطَوُّعٍ فأكمِلوا بِها ما ضَيَّعَ مِن فريضتِهِ ثمَّ تؤخَذُ الأعمالُ علَى حَسْبِ ذلِكَ

“Perbuatan hamba yang pertama dihisab di Hari Kiamat ialah salatnya. Apabila yang bersangkutan telah melaknanakan salat dengan sempurna maka ia telah memperoleh pahala sunat, namun jika yang bersangkutan belum menyempurnakannya, maka Allah Swt. berfirman kepada para malaikat perhatikan  apakah hambaku melaksanakan ibadah sunat? Maka sempurnakanlah  ibadah fardlu yang hilang (terabaikan)dengannya, lalu perhitungkanlah amal-amalnya setelah disempurnakannya itu” (HR Ibnu Majah: No 1181).

 

3. Menambah kedekatan hamba kepada Rabb-nya dan memperoleh rida dan mahabbah-Nya. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah r.a.:

ما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها

“Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunat sehingga Aku (Allah) mencintainya. Apabila Aku (Allah) mencintainya, maka Aku menjadi telingannya yang dipakai untuk mendengar, menjadi matanya yang dipakai  untuk melihat, mejadi tangannya yang dipakai untuk menyentuh, dan menjadi kakinya yang dipakai untuk berjalan.” (HR Bukhari: No 6502).

 

4. Mempermudah melaksanakan ibadah wajib, dan bisa melaksanakannya secara berkelanjutan tanpa terputus dalam berbagai situasi dan kondisi, karena kontinuitas dalam melaksanakan ibadah  sunat merupakan faktor yang memotivasi hamba mengerjakan ibadah wajib tanpa melalaikannya.

 

Yuk kita laksanakan puasa Syawal Sob