“Sometimes, getting things done is not easy. I think the most important thing is just do and finish it. At least when I don’t get what I want, I learn something”

Kutipan di atas kami ambil dari akun IG Kak Panji, Alhamdulillah Kak Panji telah menyelesaikan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan MIPA Departemen Biologi lho Sob. Nah untuk membangkitkan semangat kalian, kami mengunggah tulisan pengalaman Kak Panji selama mengenyam pendidikan di SMART. Yuk kita baca Sob!

 

Karena Tak Ada Perjuangan yang Sia-Sia!

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan 5, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustadz ustadzah di sana.

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

Dari dulu mungkin ustaz ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk lima orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh ustadz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

Dunia Impian Ini Untukku

Karya Azzam

 

 

Aku,

Yang kini berada di dunia impian

Menerbangkan jutaan harapan

Yang entah kapan jadi  kenyataan

 

Percaya,

Aku percaya pada harapan yang jadi kenyataan

Karena sejatinya

Semuanya ada di kehendak Tuhan

 

Ikhtiar,

Langkah perjuangan yang harus diteruskan

Capek, sakit, dan terluka hal yang terus dilakukan

Karena ingatlah! Tanpa ikhtiar semua akan jadi sia-sia

 

Doa,

Wujud penghargaan dan kesungguhan

Pelengkap ikhtiar dan rasa percaya

Akan seluruh impian yang diterbangkan

Demi tercapianya kenyataan

 

Dan tawakal,

Hal yang harus diyakini

Karena takdir telah tertulis

Selalu mengigatkan

Bahwa Tuhan pasti memberi yang terbaik

 

 

Kenangan Pembangkit Semangat di SMART

Oleh: Sandy Girsang alumni SMART Angkatan VI saat ini bekerja di Price Water House Cooopers (PWC) Consulting sebagai Associate Consultan.

 

Tiba-tiba mata Kakakku tertuju pada tumpukan koran bekas di kolong tempat duduk warung nasi. Entah karena pang­gilan dari mana ia tertarik dengan tumpukan koran usang tersebut. Padahal, sebelumnya sekalipun ia tidak pernah ter­tarik untuk mengotak-atik apalagi membaca tumpukan koran bekas.

Dibukanya ikatan tali plastik yang mengikat rapi koran dengan perlahan. Dipilihnya lipatan koran paling bagus di an­tara semuanya, lalu setelah dipilih ia buka lipatan koran itu secara perlahan. Ia perhatikan lembar demi lembar hingga sebuah iklan di pojok kolom menarik perhatiannya. Kakak tersenyum. Diambilnya gunting dari tas, lalu dengan hati-hati ia gunting kolom iklan itu. Tampaknya iklan itulah yang sejak tadi memanggil-manggilnya.

“Ya, mungkin dengan potongan iklan 5×4 cm itu dapat mengubah kondisi keluarga saya,” gumam Kakak. Sejurus ke­mudian ia teringat dengan perjuangan adik paling kecilnya.

Seribu Rupiah mungkin hanya nilai yang kecil bagi banyak orang, tetapi justru karena seribu Rupiah itulah si adik terkecil sering berjalan empat kilometer berangkat sekolah. Demi seribu Rupiah itu si adik terkecil memulung tumpukan sampah sekitar kampung. Suatu hari sang adik bercerita bah­wa ketika lapar ia pernah hampir memakan kertas. Bukannya terlihat sedih, ia malah tertawa meskipun takut kalau makan kertas ia bisa sakit. Untuk itu, ia menggantinya dengan berimajinasi makan makanan enak sambil terus menjilati sendok.

Setetes air yang menggenang di pelupuk mata menyadar­kan Kakak dari lamunannya.

Adikku pasti bisa sekolah tinggi, ia harus mencoba seleksi masuk sekolah ini,” gumamnya sembari menggenggam erat potongan iklan.

Empat bulan kemudian, si adik dinyatakan lulus.

Andaikan kehidupan merupakan cakram DVD, ia akan memutar balik adegan lima tahun berikutnya di SMART Ekselensia Indonesia. Begitu banyak hikmah yang patut dikenang. Tak terasa si adik telah menghabiskan waktu lima tahunnya yang berharga di sana. Adik kecil itu tidak lain adalah saya, Kurnia Sandy Girsang asal Medan.

 

 

Satu hal yang terus menjadi pertanyaan retorik dalam pikiran saya mengenai SMART Ekselensia Indonesia, mengapa sekolah ini begitu idealis? Di saat sekolah lain li­bur, sekolah ini masuk. Di saat sekolah lain masuk, sekolah ini libur. Saat sekolah berasrama lain memberikan kesempatan leluasa kepada siswanya untuk bertemu keluarga, sekolah ini malah memberikan waktu liburan ‘hanya’ tiga minggu tiap tahun. Dan di saat sekolah lain punya heterogenitas gender, sekolah ini tumbuh bangga dengan homogenitasnya dengan hanya menerima siswa dari kaum Adam.

Idealis tersebut tidak hanya diwujudkan dalam sistem yang bersifat abstrak, perangkat yang berada di dalamnya pun hidup beriringan dengan menciptakan sebuah kausalitas yang membingungkan: sistem yang sengaja dibuat idealis un­tuk memaksa anggota berlaku idealis, ataukah anggota yang idealis yang memaksa sistem berlaku idealis.

Idealisme para ustaz dan ustazah SMART Ekselensia Indonesia saya rasakan ketika saya belum mengerti kosakata idealisme itu sendiri, yakni ketika saya masih siswa baru. Ke­tika baru pertama kali masuk di SMART, seperti di film Indiana Jones, saya seperti melihat dunia baru yang sebelumnya be­lum pernah saya temukan. Lingkungan tempat saya pertama kali melihat sekelompok manusia yang selalu tersenyum, sa­bar dalam mengayomi, lingkungan yang tidak ada kosakata ‘materi sentris’ di dalamnya, dan lingkungan yang tidak per­nah ada kata lelah dalam berbagi untuk sesama.

Saya memiliki rasa sensitif yang tinggi dan saya melihat fenomena ini sebagai fenomena yang aneh. Bayangkan, sebe­lumnya ketika masih tinggal di Medan dan Jakarta, saya tidak pernah melihat bahkan mendengar kisah sebuah lingkungan yang memiliki asas kebermanfaatan dan kemanusiaan yang tinggi. Bukan sekadar pleonasme. Seperti sebuah legenda, lingkungan SMART Ekselensia Indonesia menurut saya memang seperti lingkungan yang sangat langka yang orang lain dapat temukan di muka bumi ini.

Butuh proses beradaptasi dengan lingkungan mul­tikultural seperti di SMART Ekselensia Indonesia mengingat siswanya berasal dari berbagai latar belakang dan budaya. Saya pribadi membutuhkan waktu sekitar satu semester untuk memahami situasi di SMART. Saya orang Medan. Orang Medan terkenal dengan ketegasannya dan selalu bicara apa adanya. Budaya bicara apa adanya ini terasa begitu pedas bagi orang yang belum pernah bersinggungan dengan kami. Beberapa bulan pertama merupakan waktu yang berat dalam beradap­tasi. Saya terus berusaha menekan ego khas orang Medan saya serendah-rendahnya. Gaya bicara nyelekit saya ubah sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, dengan bantuan wali asrama dan para guru, saya dapat melewati tahap beradaptasi ini.

Jika disuruh mengatakan satu kata yang cukup untuk mewakili SMART Ekselensia Indonesia, saya akan berkata: keikhlasan. Merupakan sebuah keberuntungan yang besar bagi saya dapat hidup dengan sosok-sosok yang begitu luar biasa ikhlasnya dalam menjalani amanah sebagai tenaga pen­didik. Dulu, ketika saya masih menjalani pendidikan di kam­pung halaman, hanya ada dua tipe guru yang saya kenal: guru kejam dan guru baik. Kenapa saya lebih dahulu mengatakan guru kejam? Ya, sebab mereka sangat memorable sekali di alam pikiran saya. Bagian tata usaha sekolah sampai harus membeli penggaris kayu sebulan sekali akibat ulah guru-guru tersebut.

Setelah saya di SMART, saya mengenal tipe guru ketiga: guru ikhlas. Bayangkan, ketika saya rindu dengan sosok orang­tua nun jauh di sana, guru-guru dapat berperan seakan orang­tua saya sendiri. Ketika saya butuh teman diskusi, guru-guru dapat berperan seperti selayaknya seorang teman dekat. Ti­dak ada anggapan saya lebih pintar dari murid saya, dan Anda selaku murid harus mengiyakan apa kata saya ucapkan karena saya lebih pintar. Tidak ada. Semua guru di SMART Ekselensia Indonesia merupakan teman diskusi paling nyaman. Mereka mendengarkan sekaligus memberikan bimbingan dengan be­gitu sabar dan lembut.

Ya, guru-guru SMART seperti pemeran dalam sebuah si­netron kehidupan. Sinetron sering kali lebay, guru-guru saya ini pun sangat lebay dalam mengayomi siswa. Betapa tidak lebay, sering kali mereka menyisihkan waktu berharga mereka dengan keluarga di rumah hanya untuk mengurus nilai atau sekadar mendampingi lomba siswa. Sering kali adegan dalam sinetron merupakan imajinasi yang tak pernah tersen­tuh dalam realitas nyata. Begitu pun guru-guru SMART, sikap mereka seperti hanya mengambang dalam imajinasi. Bedanya dengan sinetron, imajinasi itu terimplementasikan dalam re­alitas nyata. Guru SMART pun sangat pintar berganti peran dari seorang guru, menjadi seorang teman, malah tak jarang pula tampak seakan sahabat karib.

Kadang tebersit pertanyaan di kepala saya, sebera­pa pentingkah saya dan teman-teman saya bagi mereka sam­pai membuat mereka rela mendampingi kami hingga lembur tanpa digaji? Seberapa pentingkah kami di mata guru-guru ini hingga mereka rela menyisihkan waktu berharganya dengan keluarga? Kalau kenyataannya demikian, apakah kami meru­pakan bagian dari keluarga mereka? Saya terharu ketika sendirian memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Ternyata masih ada keluarga di tanah rantau yang sungguh asing bagi kami bocah-bocah dari pelosok Indonesia.

Kenapa kita selalu berbeda dengan sekolah lain?” Ung­kap salah seorang ustaz dalam tausyiah apel pagi.

“Karena kita satu dua langkah lebih maju dibanding­kan teman-teman kita di luar sana. Mereka mungkin sekolah diantar orang tuanya, bisa keluar lingkungan pendidikan ka­pan saja mereka mau, sedangkan kalian hanya sekali dalam seminggu diperbolehkan keluar. Mereka diberi uang jajan tiap hari, tak perlu repot-repot mencuci baju sendiri karena sudah dicucikan orangtua atau pembantu.”

“Kalian berbeda! Kalian melakukan semuanya dengan mandiri, dengan disiplin tinggi. Kalian jauh dari handai tolan, bahkan hanya sekali dalam setahun kalian bertemu dengan sanak saudara. Akan tetapi, ini adalah proses untuk mem­bayar kesuksesan besar kalian di masa depan!”

Ustaz tersebut kembali menambahkan.

“InsyaAllah, dengan penggodokan dalam sebuah inku­bator ilmu selama lima tahun, kawah candradimuka SMART Ekselensia ini akan menghasilkan generasi peduli dan berkarakter sehingga dapat berkontribusi positif aktif bagi kemajuan bangsa Indonesia!”

Tausyiah pagi tersebut ditutup dengan riuh tepuk tangan para siswa peserta apel pagi. Ada yang tepuk tangan karena mengerti esensi tausyiah ustaz tersebut, ada yang ikut-ikutan, ada pula yang hanya sebatas ironi. Golongan terakhir ini yang sering meratapi nasib ‘kurang beruntung’ mereka rajin membanding­kan diri dengan teman-teman di luar sekolah SMART Ekselensia Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, entah itu masih sebagai siswa atau ketika sudah menjadi alumni, golongan ironi ini akan sa­dar dan melakukan yang terbaik sebagai ucapan terima ka­sih mereka kepada para ustaz dan ustazah serta Dompet Dhuafa Pendidikan selaku pucuk organisasi sekolah SMART.

 

 

Oleh: Wayan Muhammad Yusuf, Alumni SMART Angkatan 8, berkuliah di Universitas Brawijaya

 

 

Asrama. Sekolah. Asrama. Sekolah. Asarama lagi. Sekolah lagi. Yah begitulah keseharian kami di SMART Ekselensia Indonesia beberapa tahun lalu. Dikatakan bosan, gak juga. Tapi dibilang gak bosan, namun tak dapat digambarkan. Hampir lima tahun saya berada di SMART, selama di sini saya cukup mengerti arti jauh dari keluarga dan arti “terkekang” dalam aturan. Di tulisan ini saya tak akan bercerita tentang suka duka selama di SMART atau suka duka ketika jauh dari keluarga, melainkan tentang peta. Hah? Peta? Hubungannya apa coba? Ada, pasti ada.

 

Saya teringat cerita seorang guru, kata-katanya yang paling saya ingat adalah: “Nasihat (aturan) itu ibarat sebuah peta”. Tuh kan ada hubungannya sama peta. Lalu maksudnya bagaimana? Begini, SMART itu tak seperti sekolah lain pada umumnya dan kami yang ada di sini bisa dikatakan tidak seperti anak-anak di luar pada umumnya. Di sini kami harus taat pada aturan ini dan aturan itu. Terus kalo tak taat aturan dihukum? Paling dibotaki dan ujung-ujungnya dikeluarkan dari SMART. Eh lupa kok malah dijawab duluan. Saya lanjutkan dulu ya pesan guru saya: “Mungkin saat ini orang yang kita nasihati tidak mengikutinya. Ibarat orang akan terus berjalan tidak pada tempatnya, tapi apa yang membedakan antara orang yang dinasihati dan yang tidak? Bedanya –kalau misalnya- orang yang diberi peta ingin selalu berjalan pada tempatnya dan menjadi lebih baik, maka dia hanya perlu melihat peta tersebut. Berbeda dengan orang yang tak mempunyai peta, dia pasti bingung untuk mengambil jalan yang mana jika ia ingin berubah haluan.

 

Benar gak? Masih belum percaya? Saya paparkan beberapa pengalaman saya ya, saya mengenal seorang teman di SMART, di akhir semester ia menyatakan ingin berubah dan memutuskan untuk menghafal beberapa juz Al-Qur’an. Lalu kenapa dia memilih untuk menghafal Al-Qur’an? Jawabannya karena ia ingat nasihat yang disampaikan guru Al-Qurannya tentang keutamaan menghafal Quran, Qur’an itu diibaratkan peta yang akan membimbing kita semua ke jalan yang lebih baik. Dengan Qur’an juga kita takkan mudah tersesat karena Qur’an akan selalu memandu kita.

 

Sekarang sudah mengerti dong korelasi antara nasihat dengan peta? Di SMART mereka yang menurut akan aturan merupakan orang-orang yang mengikuti peta, mereka ingin menjadi lebih baik dan baik lagi walau mungkin terbersit perasaan jenuh. Sedangkan mereka yang dibotaki atau bahkan dikeluarkan dari SMART merupakan orang-orang yang tidak mengikuti atau bahkan menolak menggunakan peta.

 

Nah untuk adik-adik kelas saya di SMART, SMART bukanlah penjara; aturannya juga bukanlah kungkungan, walaupun terkadang aturannya terkesan “memaksa” namun dari sanalah kalian akan mampu untuk menggambarkan petamu sendiri walau mungkin saat ini kalian tidak mengerti, namun di masa depan pastilah sangat berguna.

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7. Telah Lulus dari Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

Sisa waktuku kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa.

 

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

 

Lalu apa kata ustazah Dini guruku menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah”.

 

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

 

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan azan Zuhur, mobil jemputan kami tiba di tanah Lembaga Pengembangan Insani (LPI DD) tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan alih-alih gamer dan Fadlillah yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku, serta orang tua kami masing-masing.

 

Aku juga ingat, awal-awal aku di sini, aku pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari salah satu kota penghasil timah, agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal besok-besok, anak yang sebenarnya lebih kecil postur tubuhnya dariku ini malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa, itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari kasur tingkat ke bawah gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

 

Dan di antara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lo!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

 

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

 

Sekarang kami sudah besar. Sudah berpisah jarak, waktu, dan kesibukkan. Lima tahun kami bersama-sama di SMART. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam, Alumni SMART Angkatan 8, berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum

 

“Bukan politik yang kotor, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya saja yang tidak bisa menjaga kemurnian politik”

 

Itu merupakan jawaban yang sering saya katakan kepada setiap orang yang meragukan saya untuk terjun ke dalam dunia politik. Mulai dari keluarga besar, teman-teman, guru BK, kepala sekolah semua meragukan saya. Tapi saya keukeuh untuk masuk politik. Lalu, kenapa sih saya ingin sekali masuk dunia politik? Oke semuanya akan saya jelaskan di sini.

 

Semua bermula saat usia saya menginjak sepuluh tahun, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat di mana -saya rasa- itu merupakan masa untuk membentuk kepribadian dan masa depan. Saya yang sedang asik menikmati waktu libur panjang ditawari hal menarik  oleh ayah saya, seorang yang paling saya hormati.

 

“Cep, besok mau ikut kampanye partai gak? Lumayan sekalian bapak ajak jalan-jalan keliling Bandung”.  Tanpa pikir panjang aku menerima ajakan itu, bukan ajakan untuk kampanye yang membuat saya bersemangat, melainkan ajakan untuk jalan-jalan keliling Bandungnya. Yah, saat itu saya belum mengerti yang namanya politik.

 

Keesokan harinya setelah bangun tidur, saya langsung bergegas mandi. Ini hari yang paling saya tunggu. Bapak saya sudah bersiap dengan menggunakan kaos dengan gambar lambang salah satu partai politik di Indonesia. Tanpa saya minta, bapak memberikan satu kaos yang sama dan pastinya pas dengan ukuran badan saya. Kami pun berangkat dengan motor, aku yang dibonceng oleh bapak memegang bendera partai dengan semangat.

 

Belum juga melewati desa, motor yang ayah saya kemudikan tiba-tiba berhenti, ternyata sudah banyak orang yang menunggu dengan seragam yang sama dengan kami. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, keliling Bandung berbondong-bondong dengan orang yang baru saya kenal. Gumam saya dalam hati.

 

Setelah beberapa menit mendengar orang yang berpidato lewat pengeras suara, kami pun berangkat. Benar-benar di luar dugaan ku, perjalanan menuju pusat Kota Bandung sangat menyenangkan. Bunyi klakson terdengar bersaut-sautan, banyak bendera partai berkibaran, dan pastinya massa semakin banyak menyelimuti jalan raya. Banyak orang yang sedang berjalan di pinggir jalan raya berhenti sejenak untuk melihat kami, rasanya seperti penguasa jalan!!

 

Saking semangatnya hingga tak terasa bahwa kami sudah sampai di pusat Kota Bandung. Sudah ada ribuan orang dengan seragam dan atribut partai yang sama dengan kami menutupi lapangan. Dari kejauhan terlihat berdiri kokoh panggung megah yang nantinya akan dijadikan tempat orasi oleh partai tersebut. Nyanyian sudah terdengar samar-samar dari depan panggung. Saya turun dari motor dan menunggu bapak yang sedang memarkirkan motornya. Bapak memegang tanganku, “ Jangan jauh-jauh dari bapak, nanti kamu bisa berpisah dari bapak. Bahaya!” saya hanya menganggukkan kepala.

 

Kami mulai menuju kerumunan, benar-benar penuh sesak. Tapi entah mengapa, saya merasa menyukai suasana seperti ini, saya hanyut dalam acara. Banyak sekali acara yang diadakan oleh partai yang kami dukung. Salah satu hal yang membuat kami semakin bersemangat adalah ketika Iwan Fals menyanyikan lagunya, Wakil Rakyat. Semua ikut bernyanyi.

 

“Wakil rakyat seharusnya merakyat….Jangan tidur waktu sidang soal rakyat….Wakil Rakyat bukan paduan suara”. Semuanya hanyut dalam nyanyian.

 

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, namun tanpa adanya aba-aba, hujan pun turun dengan derasnya. Saya kira semuanya akan berteduh, tapi tidak! Semuanya semakin bersemangat. Ada bendera merah putih ukuran yang berkibar di atas panggung utama. Ini luar biasa!!  Saya semakin terbawa suasana, bergoyang menikmati lagu-lagu yang terus dilantunkan oleh sang presiden masyarakat, Iwan Fals.

 

Saat sedang asik bergoyang, bapak menyuruh saya untuk ikut dengannya. Begitu juga dengan rombongan yang satu desa dengan saya. Kami akan siapa-siap untuk Salat Zuhur, setelah itu kami siap-siap untuk pulang. Diperjalanan pulang, suasana jalan masih ramai. Banyak rombongan yang memilih untuk pulang juga. Suasana masih ramai hingga kami tiba di desa kami.

 

Sesampainya di rumah saya mandi, bapak sudah menunggu di ruang tamu. Nampaknya ada yang ingin bapak sampaikan kepada saya.

“Cep sini. Ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu”

“Iya pak,” saya duduk di depan bapak.

“Gimana tadi Cep? Serukan?”

“ Iya pak,” saya mengusap-ngusap tangan yang masih kedinginan.

“ Begitulah Cep dunia politik. Semuanya siap dilakukan asalkan kita bahagia. Banyak orang yang rela hujan-hujanan demi mendukung orang yang belum tentu akan membuat mereka bahagia. Tapi kita yang memilih itu percaya, bahwa yang kita pilih adalah yang terbaik”. Bapak berhenti sejenak dan meneguk kopi yang ada di depannya.”Memang banyak yang bilang politik itu kotor, banyak korupsi, terus banyak kejahatan-kejahatan. Tapi ingatlah bahwa orang-orang yang kotor itu bukanlah orang-orang yang mengerti politik. Mereka hanya penikmat”.

“Saya pengen masuk politik pak”. Entah mengapa, seketika saya sangat ingin masuk politik.

“Bapak sih dukung-dukung aja kamu masuk politik. Tapi ingat, kamu harus amanah sama orang-orang yang udah percaya sama kamu yang udah bela-belain hujan-hujanan demi dukung kamu. Jangan sampai kamu mengecewakan mereka dan kamu termasuk ke dalam orang-orang yang menjadi penikmat politik saja. Kamu jangan sampai korupsi dan melakukan hal-hal kotor lainnya. Kamu bisa banyak teman kalau hidup di dunia politik dan bukan teman baik saja yang bakalan kamu miliki, tapi kamu juga bakalan punya temen-temen yang kotor,” ujar bapak penuh kesungguhan.

Muhun pak, saya paham”

“Dan satu lagi, Kamu ubah nasib Negara ini. Kita semua kalangan bawah udah bosan dibohongin sama orang yang kita pilih”

 

Saat itulah keinginan saya untuk masuk dunia politik makin kuat, bukan untuk mencari kekayaan. Tapi saya sangat menyukai dunia politik. Dunia politik itu gak ada kata lelah dan pastinya bakalan punya banyak teman. Terserah kata orang mau bilang saya bakal korupsilah, bakalan sombonglah, bakan apalah. Tapi lihat saja nanti, siapa yang akan merubah negeri ini!.

 

Dan sekarang saya Cecep Muhammad Saepul Islam seorang anak desa telah menapakkan kakinya di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hukum. InsyaAllah saya akan membalas semua keraguan yang datang pada saya dengan bukti nyata bahwa saya akan mengubah image politik yang dianggap kotor oleh kalangan masyarakat.

 

Lalu ada pertanyaan, “Lah kok jadinya masuk Ilmu hukum bukan Ilmu Politik atau Ilmu Pemerintahan? Karena Hukum merupakan atasan segala hal yang berkaitan dengan perpolitikan di dunia.

Alhamdulillah, hari gajian yang ditunggu telah tiba. Sudah siap check out keranjang belanja yang mana nih Sob?

Jangan boros-boros ya Sob, tapi kalau kebutuhannya sudah dipenuhi. Jangan lupa berdonasi, supaya hidup makin berkah dan kita bisa terus bergandengan tangan membentang kebaikan untuk pendidikan Indonesia lebih baik

Yuk donasi sekarang juga ke nomor rekening BSI 2881 2881 26 a.n. Yys Dompet Dhuafa Republika.
Informasi dan konfirmasi donasi melalui wa.me/6281288338840

Semoga kebaikanmu diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Aamiin.

 

Sob seperti yang telah kamu ketahui kalau Al-Qur’an memiliki peranan penting dalam hidup manusia. Di dalam Al-Qur’an tertera berbagai keajaiban alam hingga kegiatan muamalah  yang sangat pas serta relevan dengan kehidupan kita hingga saat ini, padahal Al-Qur’an telah ada di Bumi sejak ribuan tahun silam lho. Luar biasa sekali kan? Tak mengherankan jika Al-Qur’an memang pas dijadikan pedoman bagi kita semua.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi Shahibul Qur’an” – (HR. Muslim  804)

Selain dipelajari, ternyata Al-Qur’an juga bagus bila kita menghapalnya. Para penghapal Al-Qur’an biasa disebut dengan Shahibul Qur’an, Sob, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani prnah berkata bahwasanya Shahibul Qur’an adalah orang yang menghafalkan Al-Qur’an di hati, hal itu didasarkan atas sabda Nabi saw.:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

“Hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ (paling hafal) terhadap kitabullah”

 

Lalu apakah kamu tahu kalau banyaaak sekali keutamaan menghafal Al-Qur’an di antaranya:.

  • Mendapatkan ridho Allah Swt.
  • Al-Qur’an akan menjadi penolong (syafaat) bagi penghafalnya
  • Akan menjadi benteng dan perisai hidup
  • Pedoman dalam menjalankan kehidupan
  • Kebaikan dan berkah bagi penghafalnya
  • Rasulullah sering mengutamakan yang hafalannya lebih banyak (Mendapat tasyrif nabawi)
  • Para ahli Al-Qur’an adalah keluarga Allah yang berjalan di atas bumi
  • “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
  • Dipakaikan mahkota dari cahaya di hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari
  • Kedua orang tuanya dipakaikan jubah kemuliaan yang tak dapat ditukarkan dengan dunia dan seisinya
  • Kedudukannya di akhir ayat yang dia baca
  • Tiap satu huruf adalah satu hasanah hingga 10 hasanah

Setelah mengetahui keutamaann menghafal Al-Qur,an, maka kamu harus mengerahui kalau derajat surga yang didapatkan seseorang itu tergantung pada banyak hafalan Al Qur’annya di dunia, bukan pada banyak bacaannya, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Maka di sini kita ketahui keutamaan yang besar bagi pada penghafal Al Qur’an. Namun dengan syarat ia menghafalkan Al Qur’an untuk mengharap wajah Allah tabaaraka wa ta’ala, bukan untuk tujuan dunia atau harta” (Silsilah Ash Shahihah, 5/281).

 

Oleh: Syafiie Al Bantanie, Direktur LPI DD

Membaca sejarah adalah upaya untuk memahami realitas. Ia memang peristiwa masa lalu, namun ada pola-pola kehidupan di sana. Pola-pola inilah yang mesti kita tangkap untuk bisa memahami realitas, lalu merekayasa masa depan.

 

Mega proyek membangun peradaban Islam tidak boleh berdasarkan asumsi. Melainkan, harus memiliki pijakan sejarah yang kuat. Karena, darinya kita pun belajar matematika sosial. Mega projek hijrah, misalnya. Hijrah adalah mega projek dakwah yang dirancang sistematis oleh Rasulullah.

 

Berawal dengan membaca dan menganalisis geo politik Madinah. Analisis detail tentang masyarakat yang mampu baca tulis, komposisi suku, dominasi ekonomi Yahudi, tingkat kemandirian ekonomi, kondisi geografis, peta kekuatan sosial dan tokoh-tokoh kuncinya, dan lainnya.

 

Inilah matematika sosial yang bisa kita dapatkan dari membaca sejarah. Untuk kemudian, kita temukan pola-polanya dalam rancang bangun peradaban Islam di Indonesia dan dunia. Bagaimana Rasulullah menata ulang kehidupan dari titik nol hingga menjadi imperium terbesar dan terlama sepanjang sejarah. Mulai 624 – 1924 M Islam memimpin peradaban bumi. Tentu saja dengan pasang surut di tengah-tengahnya.

Sob pernahkah kamu merasa banyak sekali melakukan kesalahan yang berujung pada dosa? Lalu apa yang kamu lakukan untuk menghilangkan dan meminimalisasi perasaan tersebut? Kalau kami biasanya banyak-banyak membaca Qur’an, karena kami tahu ketika membaca Quran kami akan mendapatkan pahala dan kebaikan dari kemuliaannya. Selain itu kami juga berusaha mencari amalan cerdas. Amalan cerdas? Apa itu? Jadi Sob amalan cerdas ialah amalan yang pahalanya bisa mengalir sampai  kita meninggal dunia. Nah kalau menurut Ustaz Adi Hidayat, LC amalan ini biasa disebut dengan Shodaqoh Jariyah.

“Ketika kita punya uang Rp100.000. Bagaimana caranya agar uang Rp100.000 tersebut awet sampai ke akhirat? Caranya, cari amalan cerdas. Misalnya belikan mushaf berikan ke penghafal Al-Qur’an. Begitu dibacakan Al-Qur’annya, kita dapat pahalanya,” lanjutnya.

Seperti sabda Rasulullah saw., “Dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu): Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal”. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astâr, halaman 149. hadis ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam shahihul Jami’ no. 3602

Salah satu nikmat besar Allah yang diberikan kepada hamba-Nya adalah menyediakan pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak. Pintu-pintu kebaikan tersebut diberikan bagi mereka yang mendapat taufik dan hidayah semasa hidupnya, dan pahalanya akan mengalir ketika mereka meninggal. Karena orang yang sudah meninggal itu mereka tidak bisa lagi beramal dan mereka akan diminta pertanggunjawaban lalu diberi balasan dari perbuatan-perbuatan yang pernah mereka lakukan dalam hidup mereka.

Dengan memperbanyak amalan-amalan jariah, maka sebenarnya kita sedang menanam benih-benih pahala yang buahnya akan dipanen ketika seseorang sudah tidak berada di dunia lho Sob. Selama amalan kita bermanfaat bagi orang lain di dunia, maka pahala-pahala kita akan terus mengalir di akhirat kelak.

Semoga Allah Azza wa Jalla menghapus dosa-dosa kita dari pahala-pahala kebaikan yang kita lakukan dan senantiasa memberikan kita kesempatan untuk selalu berbuat kebaikan ya Sob.