Oleh: Je Firman, Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

Oleh: Syahrizal, Alumni SMART Angkatan 10 berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

Saat ini media sosial melekat di segala lini masyarakat. Bagaimana tidak, setiap harinya orang-orang di sekitar kita, dekat ataupun jauh, menggunakan media sosial sebagai sarana aktualisasi diri, silaturahmi, hingga berbisnis. Hal ini memastikan para pengguna media sosial menulis dan membaca isi dari media sosialnya masing-masing. Di Indonesia sendiri terdapat 83,7 juta pengguna aktif dari internet pada 2013. Hal tersebut menjadikan media sosial semakin “memasyarakat” dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa pemersatu keragaman yang ada di nusantara. Saat ini bahasa Indonesia menjadi pilihan dalam penggunaan bahasa diberbagai jejaring sosial terpopuler di dunia seperti Facebook, Twitter, Instagram, dsb.  Hal ini menjadikan semakin mudahnya pengguna media sosial menggunakan bahasa Indonesia untuk bersosialisasi. Hal yang menjadi permasalahan adalah seberapa sering kah pengguna media sosial membaca dan menulis? Bagi sebagian orang menulis dan membaca isi dari media sosialnya masing-masing merupakan kebutuhan, mengakses media sosial di mana pun dan kapan pun sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan baik di tempat umum ataupun di rumah masing- masing. Hal yang biasanya ditulis oleh pengguna media sosial adalah emosi dan perasaan terhadap lika-liku kehidupannya sehari-hari.

Semakin seringnya pengguna media sosial membaca dan menulis (terutama hal-hal yang sifatnya pribadi) pada media sosial akan menjadikan pengguna rentan menyalahgunakan fungsi dan tujuan sebuah media sosial. Pengawasan terhadap isi dan konten dari media sosial diperlukan untuk mempertahankan fungsi utama dari media sosial, yakni saling berkomunikasi dengan positif antar sesama penggunanya.

Banyak sekali pengguna media sosial yang menggunakan media sosial –hanya- sebagai sarana hiburan, padahal media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana berpikir kritis dan berbagi. Contohnya seperti tawuran antar pelajar, tawuran sendiri dapat dicegah dengan saling berinteraksi antara sesama pelajar dengan memperhatikan isi dan konten serta kesantunan berbahasa dari tulisan yang dipos. Para pelajar dapat saling berbagi pengalaman , pengetahuan dan kegiatan positif di sekolahnya masing-masing.

Sosialisasi dari berbagai pihak untuk meningkatkan budaya membaca dan menulis melalui media sosial sangat perlu untuk ditingkatkan. Kampanye kesadaran menggunakan media sosial secara positif dapat  dilakukan dengan saling berbagi tulisan yang bermanfaat agar memperkaya wawasan ilmu pengetahuan. Dalam menumbuhkan minat baca  melalui media sosial, para pemegang kebijakan dan masyarakat dapat bekerjasama memfasilitasi seluruh rakyat Indonesia dalam mendapatkan akses internet optimal. Semoga cita-cita mencerdaskan intelektual dan spiritual bangsa dapat tercapai.

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4, Lulusan Kedokteran UI

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah Swt. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

 

Oleh Ervan Nugroho

Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

 

Kok bisa Siswa SMP SMART menjawab tantangan global sih….? Kok bisa…..he he he….ada strategi donk….kata bang Ucok.

 

Waktu itu bulan Januari di setiap tahunnya panitia seleksi nasional beasiswa siswa  bergotong royong bersama untuk’ mencerna‘ dan ‘menghisap’ bibit-bibit anak muda yang dari tak mampu secara ekonomi menjadi siswa yang akan hidup selama lima tahun dengan visi besar dan mengalahkan atas keterpurukan ekonomi menjadi kemapanan ekonomi.

 

Bung…..gimana cara kau membuat siswa miskin menjadi percaya diri banget…! Kita punya strategi bang, sekolah kita SMART Ekselensia Indonesia memiliki karantina yang beken buat para siswa. Kita awali dulu bang dengan seleksi siswa yang ‘pinter’ tapi miskin untuk kita rubah mindseat hidupnya. Terus bang, kita jemput dan kita didik di sekolah Dompet Dhuafa punya nih di desa Jampang.

 

Sesampainya siswa di sekolah kita, siswa kita beri asupan gizi berupa matrikulasi. Apa itu bang, matrikulasi…? Itu lho bang…semacam penyamaan kemampuan antar siswa dari berbagai desa di daerah daerah. Apa isinya bang ucok…? isi matrikulasi dengan Quantum learning, matrikulasi dengan materi krusial dan pendidikan dasar karakter kepemimpinan (PDK).

 

Mas Udin aja tahu kalo quantum learning itu keren abis. Kok bisa….? Gimana mas Udin tuh quantum learning, Quantum learning itu ada empat materi yang diberikan buat siswa baru kita, materi baru itu berupa super memory system; speed reading, easy writing dan mind mapping.

 

Gimana….? Mantab kan.

 

Kita siapkan para siswa dengan kondisi yang ‘culun’ menjadi peribadi yang berani tampil didepan umum. Jangan salah lho….siswa kita pada awalnya masih memiliki pandangan yang polos. Kita poles mereka dengan aktivitas individu dan kelompok hingga muncul rasa percaya diri yang tinggi. Problem anak dari ‘kaum miskin’ adalah PD yang rendah.

 

Kembali ke QL, siswa kita gembleng untuk mampu mengingat super, membaca super, menulis super dan memetakan hal-hal super. Dalam kegiatan MPLS, program wajib dari pemerintah kita tambahkan kegiatan khusus sekolah, kegiatan khusus berupa latihan dasar kelompok. Pertandingan , games dan kompetisi antar group kita gelorakan sehingga visi menjadi pribadi yang super tertanam.

 

Kita rubah cara pandang siswa ‘marginal’ dengan cara pandang seorang negarawan, seniman, relawan, dermawan, budiman hingga hartawan. Gimana tuh cara ngrubah mereka…? Pinta bang Jupri. Insya Allah ada jalannya bang, jalannya dengan kita berikan tiga hari dalam satu pekan, para siswa ‘unggul’ kita menjadi keynote speaker dalam kegiatan apel pagi kita. Mereka gelorakan semangat dalam kajian fiksi dan non fiksi, kalau kita hitung dalam sebulan ada 12 kali siswa menggelorakan semangat jiwa muda mereka.

 

Bung, permasalahan global kita bisa kita mindmappkan. Problem global kita berupa kemiskinan, kebodohan, dan ketamakan. Kemiskinan merupakan problem yang menyeluruh, miskin dalam bahasa berarti serba kekurangan, serba kekurangan ini multi tafsir, bisa kurang harta, bisa kurang ilmu, bisa kurang pahala, bisa juga kurang amal ibadah. Kemiskinan yang muncul di muka bumi adalah karena ketimpangan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Semakin giat seseorang berusaha mandiri tanpa putus harapan, akan mendapatkan hasilnya. “Hasil tidak pernah membohongi proses’, itu pepatah yang sering kita dengar.

 

Trus gimana cara siswa SMART mengalahkan masalah global tadi? Tanya mbak Mirna. Jawabannya dengan kita memproses selama lima tahun dengan bantuan para donatur untuk menjembatani para siswa ‘marginal’ dididik, dibina dan di lahirkan kembali menjadi siswa yang siap bertarung, siap ambil bagian dalam memutus tali ekonomi yang buruk keluarga. Siswa sejak kelas 7 dilatih belajar tanpa henti atas semua ilmu dan belajar berdagang di sela-sela hidupnya di asrama.

 

Siswa diajari memiliki profil Giat berusaha. Giat berusaha merupakan salah satu kunci untuk berhasil, Fakta mengatakan bahwa para penemu hebat dunia, berhasil menemukan alat hebat mereka tidak dalam waktu singkat namun membutuhkan proses waktu yang lama. Mereka tidak lelah dan tidak putus harapan, mereka memiliki profil giat berusaha.

 

Siswa kita yang telah memutus tali kemiskinan menjadi tali kekayaan di masyarakat alhamdulillah telah banyak, ada yang berhasil menjadi pengusaha gorengan molen arab, ada yang berhasil terlibat dalam dunia telekomunikasi dan informasi, dan banyak lagi. Profil Giat berusaha akan menghasilkan yang baik.

 

Tantangan global kedua adalah kebodohan. Kebodohan adalah sumber kedzoliman, orang bisa berbuat zalim karena tidak tahu akan ilmu. Orang tidak berilmu akan menghancurkan apa saja. Masih ingatkah kau kawan akan nasehat sahabat nabi, serahkanlah suatu urusan kepada ahlinya. Barang siapa yang mengurusi suatu pekerjaan tanpa ilmu maka tunggulah kehancurannya. Siswa kita rubah dari siswa ‘biasa’ menjadi siswa luar biasa. Gimana strateginya mas Bejo….? Celetuk dek Puji. Menurut mas Bejo, siswa SMART Ekselensia Indonesia, sudah didoakan dengan nama sekolah yang bagus banget artinya, SMART berarti pintar, ekselensia berarti pinter benar. Kurikulum internal sekolah dan kurikulum eksternal kita padukan menjadi kurikulum yang holistik bagi siswa. Materi khas sekolah kita optimalkan dengan waktu tatap muka yang sedikit berbeda dengan waktu dinas pendidikan. Quantum learning selalu kita gunakan dalam kegiatan moving class kita, guru yang di ‘ciptakan’ dengan model –model pembelajaran, inovasi pembelajaran dan waktu reading book yang banyak dengan perpustakaan yang memfasilitasi belbagai referensi yang dibutuhkan.

 

Mencipta siswa menjadi pembelajar sejati merupakah visi sekolah ini, lantunan mars SMART yang meniupkan angin segar membangun diri sebagai pembelajar sejati terus mengiringi. Moment kejuaraan, pertandingan dan olimpiade terus diikuti guna mengasah pikiran dan harapan. Kegiatan ilmiah berupaya dikembangkan dalam diri siswa.

 

Banyak siswa SMART yang telah menjadi pemimpin dikampusnya. Menjadi pemimpin bagi mahasiswa lainnya, menunjukkan bahwa sebagai pribadi manusia yang soleh perlu dan penting untuk beramal baik bagi sesama. Kalau mereka memilikim ‘kebodohan’ belum tentu dipercaya menjadi seorang pemimpin dikampusnya.

 

Saat ini mereka memimpin organisasi kampus, suatu saat akan memimpin organisasi dunia.

 

Kepekaan sosial, daya nalar, kemampuan berpikir kritis dari para guru berikan dalam proses belajar mengajar yang apik di setiap waktunya. Kemampuan berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi dikembangkan dalam moment-moment pembelajaran dalam kelas dan luar kelas. Profil kedua siswa SMART adalah Pembelajar sejati.

 

Profil Pembelajar sejati menitik beratkan dalam berapa banyak buku yang telah dipelajari, dibaca dan dikaji kandungan ilmunya, untuk kemudian dibuat menjadi bahan diskusi bersama. Jangan salah kira lho….Siswa kita doyan melahap buku hingga berbuku-buku. Mantab pisan mereka, buku mereka lahap, internet mereka lahap, hingga perfilman pun merek lahap dengan sempurna.

 

Belajar yang menyenangkan insya Allah menghasilkan buah yang baik. Seperti apakah belajar yang menyenagkan itu….? Belajar dengan model dan media yang menarik, model dan media yang rutin diupgrade sehingga tak muncul rasa bosan.

 

Memang sih, butuh waktu dan energi lebih untuk itu semua.

 

Tapi bro, permasalahan kebodohan bisa kita atasi dengan menyemangati para ‘darah muda’ untuk senantiasa baca,baca, dan baca buku. Quantum learning dioptimalkan dan forum diskusi bermutu dioptimalkan.

Profil Siswa Pembelajar sejati pun diwujudkan dengan menjadi mahasiswa pasca sarjana di negara orang lain. Siswa SMART Ekselensia menjadi mahasiswa program pasca di belanda, pengalaman yang baik untuk kaum marginal menimba ilmu di negeri sebrang.

 

Pembelajar sejati profil yang senantiasa diikuti para siswa hingga belajar dimalaysia, perancis dan negara lainnya.

 

Bang masih ada permasalahan global ketiga, problem itu berupa ketamakan. Ketamakan menjadi masalah global karena hampir banyak manusia itu tamak. Dalam bahasa ketamakan merupakan sebuah berupaya mendapatkan lebih untuk diri sendiri. Ketamakan menggerogoti dunia, bisnis dikuasai segelintir orang, sekelompok kecil manusia, dunia dikuasai oleh kebijakan segelintir negara, perusahaan dikuasai oleh segelintir orang, hingga muncul monopoli, liberalisme dan kapitalisme.

 

Profil siswa SMART adalah kedermawanan. Kedermawanan siswa disuguhkan dengan pola hidup sederhana, pola makan yang sederhana, pola komunikasi yang seadanya dan belajar yang mengoptimalkan potensi sarana prasarana yang ada. Siswa senantiasa ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Kegiatan membangun desa. Siswa beberapa hari belajar didesa orang lain untuk berbagi ilmu, berbagi kesempatan dan berbagi amal ibadah dengan membangun sarana pendidikan, ibadah dan karakter masyarakat.

 

Siswa SMART berprofil kedermawanan untuk dunia, mereka lahir dari keluarga miskin dan merasakan menjadi orang yang kurang. Rasa terima dilatih untuk beradaptasi menjadi pribadi sederhana. Tanpa melupakan kulit mereka, siswa kita berubah menjadi pribadi yang berada namun tidak tamak.

 

Lembaga yang mengajarkan untuk mendahulukan kepentingan orang lain sebelum kepentingan pribadi. Dompet dhuafa membangun sekolah ini untuk menciptakan pribadi siswa SMART yaang dikemudain hari menjadi dermawan. Peduli untuk negara dan bangsanya.

 

Kedermawanana profil siswa SMART untuk mengalahkan permasalahan global. Dengan empat puluh siswa disetiap angkatannya, para guru dan lembaga berupaya mem’cipta’kan siswa dengan profil ideal bagi dunia. Giat berusaha, Pembelajar sejati dan Kedermawanan dibingkai dalam religius sejati akan menciptakan pribadi yang diidamkan olah para leluhur bangsa. Bangsa Indonesai akan menjadi negara maju dan jaya dengan keberadaan para siswa, generasi muda yang berkarakter SMART.

 

Sesuatu yang besar pastilah berawal dari kecil. Sebab semua bertahap. Ibarat mendaki dimulai dari bawah, hingga akhirnya sampailah di puncak tertinggi. Dia yang saat ini berada di puncak pastilah pernah berada di bawah. Semua memang di mulai dari bawah, dari tingkatan terendah. Seperti bayi yang kemudian tumbuh besar dan menjadi dewasa. Semua pernah berada di bawah, tidak ada sukses yang datang dengan tiba-tiba. Semua memerlukan proses. Benar bukan? Tidak ada sesuatu pun yang instan di dunia ini. Tidak ada hal yang besar dengan tiba-tiba. Hal besar pastilah datang dari hal kecil. Sebab semua pastilah melewati sebuah tahapan yang dinamakan proses, termasuk kamu. Jadi sudah siapkah kamu untuk berproses? Setiap pribadi itu unik. Setiap individu itu luar biasa. Sebab kalian tidak pernah terlahir sia-sia. Tidak ada insan yang diciptakan dengan sia-sia. Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan alasan yang tidak jelas.

 

 

Kita memang tidak dilahirkan dengan sempurna, tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Sebab kesempurnaan hanya milik Tuhan. Ketidak-sempurnaan bukan alasan merasa rendah apalagi tidak berdaya. Karena semua manusia diciptakan sama, sama-sama terlahir sepaket. Lengkap dengan kekurangan serta kelebihan masing-masing. Kamu mungkin pernah merasa bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, lalu berpikir bahwa kamu tidak berhak untuk bermimpi. Merasa tidak pantas bahkan tidak punya hak sama sekali untuk bermimpi. Benar? Jika diam-diam jawabmu adalah iya. Maka bacalah tulisan ini sampai selsai. Jangan di skip, apalagi di close. Sebab melalui tulisan ini saya akan berusaha menyadarkanmu bahwa tidak peduli siapa kamu, kamu tetap berhak melangitkan mimpi. Karena sejatinya setiap dari kita punya kesempatan yang sama, sama-sama berhak bermimpi. Merajut asa, menggapai prestasi.

 

 

Saat merasa bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa. Merasa tidak berguna, lantas berpikir tidak ada harapan. Kamu mungkin melupakan sesuatu. Mau tahu apa? Kamu adalah makhluk dari Sang Kuasa. Tuhan tidak akan diam, Dia akan selalu bersama hambaNya yang mau berjuang dengan sebenar-benarnya perjuangan. Usaha yang selalu melibatkan Sang Kuasa tidak akan pernah jadi sia-sia. Tidak percaya? Buktikan sendiri! Dan jadilah bagian dari seorang yang telah memetik keajaiban. Keajaiban datang dari ketidakmungkinan. Kamu masih punya Tuhan, Dia akan selalu membersamaimu. Ingat baik-baik. Lagipula apa kamu tahu? Dia yang saat ini adalah siapa, berada di posisi teratas, di puncak tertinggi pun pernah menjadi bukan siapa-siapa. Mereka pernah berada di posisimu saat ini. Merasa bukan siapa-siapa, tidak punya apa. Merasa tidak berdaya dalam menghadapi setiap rintangan. Mereka yang saat ini berhasil menyandang gelar sukses adalah dia yang berhasil menapik semua ragu, menghapus takut, serta mengalahkan gelisah kemudian bertindak sebagai bagian dari usaha.

 

Orang sukses adalah dia yang selalu melangitkan harapan dalam doa terbaik, percaya akan setiap ketentuan Sang Kuasa. Meyakini dengan segenap hati apa yang telah Tuhan tentukan adalah yang terbaik. Orang sukses adalah dia yang tidak pernah menyerah. Melakukan segala cara terbaik. Dia tidak sampai di posisi ini dengan cuma-cuma, pernah merasakan pahit serta asam-manisnya berjuang. Bahkan bukan tidak mungkin pernah merasakan bagaimana tidak enaknya bertemu kegagalan. Tapi apa dia menyerah? Tidak, dia sama sekali tidak pernah menyerah. Jatuh, kemudian bangkit lagi, jatuh, bangun. Begitu terus sampai keberhasilan datang menghampiri. Begini, ya Sebelum menjadi orang tua, ayah dan ibumu pastiah pernah merasakan menjadi anak. Pendidik pastilah pernah menjadi peserta didik. Sebelum menjadi tenaga pengajar, seorang pengajar pastilah pernah menjadi pelajar. Guru pernah berada di posisi sebagai murid. Seorang pemimpin besar bukan tidak mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi bawahan. Mereka yang saat ini berada di atas, di puncak. Tidaklah melewati semua dengan mudah. Mereka adalah orang-orang hebat yang berhasil melewati semua, segala rintangan dalam jalan yang membawa mereka menemukan keberhasilan. Sukses adalah hadiah dari kegigihan serta tekad mereka yang begitu kuat. Jangan lihat mereka yang sekarang. Tapi cobalah untuk melihat bagaimana mereka terdahulu.

 

Perjuangan serta pengorbanan yang telah mereka lalui tidak bisa dianggap remeh, apalagi enteng. Semua tidak pernah mudah, selalu ada rintangan di setiap langkah. Bahkan terkadang mereka harus mencari jalan yang baru. Belajarlah dari kegigihan serta ketangguhan mereka. Ketangguhan saat bangkit ketika terjatuh, kala memilih tetap melangkah di saat harus melewati jalan terjal. Saat memutuskan untuk tetap melangkah meski harus tertatih. Milikilah tekad kuat serta semangat membara seperti mereka. Tidak harus melewati jalan yang sama memang, tapi setidaknya contohlah mereka dalam berproses menjadi manusia hebat.

 

Pemuda merupakan generasi penerus bangsa memang telah menjadi suatu pemahaman yang tidak baru lagi. Bahkan kemajuan suatu bangsa juga sering dikaitkan dengan bagaimana peran pemuda di dalamnya, seperti bagaimana produktivitas pemuda demi kemajuaan dan eksistensi bangsanya. Tidak terkecuali bagi bangsa Indonesia, generasi muda juga menjadi suatu tonggak bagi kemajuan dan pembangunan bangsa.

 

 

Hal ini bahkan sudah terjadi dari masa perjuangan sejarah kemerdekaan Indonesia, yaitu saat adanya beberapa peranan pemuda dalam meningkatkan semangat perjuangan demi mengusir penjajah dan mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, dalam kesempatan kali ini akan dibahas mengenai peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, apa dan bagaimana pemuda seharusnya berperan sebagai kunci atau penerus bangsa Indonesia.

 

 

Memang ketika pernyataan peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa biasanya lebih mengarah pada masa-masa sekarang, tetapi bukan berarti peran pemuda kemerdekaan RI di mana lalu bukan merupakan sebuah penerus bangsa. Bahkan jika dipikir ulang tanpa peran pemuda di masa perjuangan dulu, maka bangsa Indonesia mungkin tidak dapat berdiri kokoh seperti sekarang ini. Inilah mengapa peranan pemuda, terutama pemuda Indonesia sendiri bagi bangsa Indonesia sudah terjadi sejak dahulu dan juga tercatat di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, mengingat kembali apa saja peranan pemuda di masa sejarah tersebut juga penting sebelum mengetahui atau memahami peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa saat ini.

 

 

Peran pemuda dalam sejarah yang pertama bisa dilihat dari adanya pergerakan Budi Utomo yang berlangsung pada tahun 1908. Setelah itu ada pula peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi pada tahun 1928 di mana menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda seluruh Indonesia dalam semangat kemerdekaan Indonesia. Ada pula peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 yang mana juga menyangkut golongan muda didalamnya. Terlebih lagi banyak sekali pergerakan pemuda, pelajar, dan juga mahasiswa yang berlangsung pada sekitar tahun 1966, hingga pergerakan mahasiswa yang kemudian berhasil meruntuhkan kekuasaan orde baru pada tahun 1998 yang juga sekaligus mengantarkan bangsa Indonesia pada masa reformasi.

 

 

Dilihat dari beberapa peristiwa sejarah yang penting untuk dikenang tersebut, memang dapat disimpulkan bahwa peran pemuda dalam mencapai suatu kemerdekaan Indonesia menjadi suatu titik awal dari peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini juga membuktikan bahwa pemuda menjadi suatu tonggak bagi bangsa Indonesia dalam masa pembangunan nasional, artinya bahwa penting adanya peran pemuda dalam pembangunan nasional. Sebagai penerus bangsa, generasi muda berarti menanggung harga dan martabat bangsa Indonesia terutama di dunia Internasional, dimana persaingan dan penjajahan identitas bangsa dapat berlangsung di berbagai macam bidang kehidupan. Oleh sebab itulah penting pula menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda dan juga sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa saja peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, terutama dalam masa atau jaman yang semakin global dan berkembang modern ini.

 

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pemuda merupakan generasi penerus bangsa Indonesia, maka sebenarnya generasi muda juga menjadi komponen yang penting dan perlu dilibatkan dalam pembangunan bangsa Indonesia, baik secara nasional maupun daerah. Mengapa demikian? Hal ini berkaitan erat dengan dasar dari generasi muda yang sebenarnya memiliki fisik yang kuat, pengetahuan yang baru, inovatif, dan juga memiliki tingkat kreativitas yang tinggi pula.

 

Kondisi tersebutlah yang membuat peranan pemuda sebenarnya penting dalam proses pembangunan bangsa Indonesia maupun sebagai penerus bangsa. Tanpa adanya peranan generasi muda atau pemuda Indonesia maka bangsa Indonesia pastinya akan sulit mengalami perubahan dan akan mudah pula kehilangan identitas bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa sebenarnya memiliki beberapa peranan yang seharusnya dapat dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Beberapa peranan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

 

  • Agent of Change

Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa Indonesia yang pertama dapat dilihat dari peran pemuda sebagai agent of change atau agen perubahan. Artinya bahwa pemuda Indonesia sebenarnya memiliki peranan untuk menjadi pusat dari kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri. Dalam hal ini dapat dilakukan melalui pengadaan perubahan-perubahan dalam lingkungan masyarakat, baik secara nasional maupun daerah, menuju kepada arah yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa ada pernyataan seperti peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, karena yang menentukan kemajuan bangsa Indonesia dimasa depan adalah para generasi mudanya melalui keberhasilan perubahan-perubahan positif yang dapat dilakukan. Memang berbagai macam tantangan pastinya akan dihadapi atau dialami oleh para generasi muda, tetapi setidaknya para pemuda dapat kembali menengok pada makna sumpah pemuda atau pun makna kemerdekaan Indonesia.

 

Di mana segala tantangan yang ada akan dapat dihadapi jika perbedaan-perbedaan yang ada dapat dihadapi dengan positif dan dilakukan secara bersama-sama yang juga sesuai dengan asas Bhinneka Tunggal Ika. Seperti melalui upaya saling memotivasi dan mendorong adanya kemajuan pada masyarakat. Salah satu kunci agar dapat sukses menjadi agent of change pastinya adalah keyakinan yang dimiliki para pemuda, maksudnya adalah para generasi muda harus yakin akan apa yang mereka miliki dan selalu melakukannya dengan baik dan benar.

 

  • Agent of Developmet

Selain menjadi agen perubahan, peran pemuda juga sebagai agent of development atau agen pembangunan sebagai penerus bangsa. Artinya bahwa para pemuda Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab dalam upaya melancarkan atau melaksanakan berbagai macam pembangunan di berbagai macam bidang, baik pembangunan nasional maupun pembangunan daerah.

Mengapa agen pembangunan juga menjadi suatu peran penting pemuda sebagai penerus bangsa? Hal ini disebabkan karena para pemuda Indonesia wajib menjaga eksistensi bangsa Indonesia di kancah dunia, serta selalu dapat memberikan kesan yang baik di mata dunia. Sebagai contoh seperti mengembangkan bidang kebudayaan daerah Indonesia, kemudian memperkenalkannya pada dunia internasional.

Bahkan agen pembangunan di sini bukan hanya sebatas pembangunan fisik maupun non fisik secara nasional dan daerah saja, tetapi juga menyangkut mengenai kemampuan pengembangan potensi generasi muda lainnya. Artinya adalah diperlukan adanya upaya bagaimana potensi dan produktivitas yang ada di diri para generasi muda dapat dikembangkan secara bersama-sama demi mencapai tujuan pembangunan bangsa Indonesia dimana sekarang maupun dimasa yang akan datang.

 

  • Agent of Modernizations

Peran yang selanjutnya adalah menjadi agent of modernization atau agen pembaharuan bangsa Indonesia. Artinya bahwa para pemuda Indonesia wajib memiliki kemampuan dalam menganalisa perubahan zaman yang pastinya memberi pengaruh besar pada bangsa Indonesia, sehingga mereka dapat memilih mana yang memang perlu untuk dirubah dan juga mana yang seharusnya dipertahankan.

Sebagai contoh seperti perkembangan teknologi yang semakin maju di berbagai bidang, dimana melalui aktivitas pemuda pula bangsa Indonesia kemudian dapat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang semakin maju, sehingga tidak menjadi suatu bangsa yang tertinggal. Namun dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin maju dan modern juga menjadikan segala pengaruh bahkan kebudayaan asing masuk lebih mudah, maka disinilah muncul tantangan bagi pemuda Indonesia untuk tetap dapat mempertahankan identitas bangsa Indonesia.

 

  • Membangun Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu pondasi dari berbagai peranan diatas, tanpa adanya pendidikan yang kuat maka para pemuda Indonesia pastinya akan merasakan kesusahan dalam menjalankan peran mereka sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, wajib berpendidikan juga penting untuk ditanamkan pada generasi muda bangsa Indonesia. Beberapa peran pemuda dalam membangun pendidikan di Indonesia juga dapat dilihat dari adanya banyak tenaga pendidik yang masih tergolong muda dan semangat memberikan pendidikan yang bermutu pada generasi penerusnya. Belum lagi banyak pula kegiatan-kegiatan pemuda Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama pada daerah-daerah terpencil di pulau-pulau yang tersebar diseluruh pelosok bangsa Indonesia. Kondisi tersebut juga sudah termasuk dalam upaya para pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa dalam usahanya membangun pendidikan yang lebih baik lagi dari masa-masa sebelumnya.

 

  • Memiliki Semangat Juang yang Tinggi

Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang terakhir adalah tertanamnya jiwa semangat perjuangan yang tinggi pada generasi muda baik pada masa sekarang maupun masa terdahulu. Hal yang dapat dilakukan adalah seperti selalu berusaha sebaik mungkin untuk dapat mencapai prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia di mata dunia, menghilangkan jiwa mudah menyerah, menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, dan lain sebagainya. Terlebih lagi semangat pemuda dalam usahanya mencapai tujuan pembangunan nasional, seperti dengan menyampaikan ide-ide pembangunan yang baru maupun keinginan untuk terjun langsung dalam pembangunan bangsa Indonesia. Walaupun kegagalan sering dialami oleh para pemuda Indonesia, tetapi perlu diingat kembali untuk tidak mudah menyerah karena sebenarnya kegagalan merupakan suatu awal dari kebangkitan dan juga kesuksesan. Tidak lupa pula, semangat yang tinggi ini juga dapat diraih dengan terus menerapkan makna sumpah pemuda dan juga makna kemerdekaan Indonesia.

 

 

Itulah dia beberapa peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang penting untuk dipahami dan juga diupayakan untuk dilakukan demi kebaikan bangsa Indonesia sendiri, baik masa masa dahulu, sekarang, maupun di masa depan. Dari beberapa peranan tersebut juga dapat disimpulkan bahwa memang benar pemuda merupakan suatu tonggak atau kunci dari adanya pembangunan dan perubahan yang terjadi pada bangsa Indonesia, oleh sebab itulah pemuda dianggap sebagai suatu penerus bangsa, terutama bagi bangsa Indonesia sendiri. Dengan adanya peran pemuda yang signifikan, seperti peran generasi muda dalam mengisi kemerdekaan, dapat menjadi suatu langkah atau pintu awal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi lebih maju dan berkembang lagi dimasa yang akan datang, terlebih di mata dunia. Demikian ulasan mengenai peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, semoga bermanfaat.

Wajahnya datar, malah cenderung terlihat gelisah. Seperti biasa, ia berdiri dari bangkunya. Di SMART Ekselensia Indonesia, selama mengikuti pembelajaran siswa-siswa memang tidak diharuskan duduk di kursi. Ada hamparan karpet yang bisa mereka gunakan selama pembelajaran. Namun, anak ini juga tidak duduk di karpet. Ia berdiri, selalu begitu, lalu berjalan memandangi mind mapping materi yang ditempel di papan display. Lalu duduk lagi. Sebentar memandang ke papan tulis, ia lalu kembali berdiri dan berkeliling kelas. Di kelas saya, ia sering begitu. Tidak mengapa karena saya tahu ia tetap memerhatikan penjelasan saya. Hal ini dibuktikan dengan nilai ujiannya yang selalu di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Demikian pula dalam kedisiplinan, ia tidak pernah terlambat, baik saat memasuki kelas maupun menyerahkan tugas.

Saat diselenggarakan pemilihan presiden OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia; semacam OSIS di sekolah umumnya), ia maju sebagai calon. Entah itu keinginannya sendiri atau dorongan—dan keisengan—dari beberapa temannya. Dari nama-nama yang masuk ke Panitia Pemilu Raya, semua diloloskan tanpa catatan, kecuali dia.

“Dia itu kritis,” kata Guru Bimbingan Konseling yang dimintai pertimbangannya terkait calon-calon yang akan berkompetisi di pentas demokrasi ala SMART.

“Kritis, maksudnya?” tanya saya keheranan sebab setahu saya ia tidak pernah melakukan pelanggaran aturan di sekolah dan asrama. Kritis dalam artian bodoh? Saya tidak yakin juga karena seluruh siswa SMART merupakan anak-anak cerdas. Walaupun harus diakui juga bahwa ia bukan siswa yang menonjol prestasi akademisnya.

Dari penjelasan Guru BK, diketahui bahwa ia senang mengkritisi hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan norma keharusan. Ia adalah pembangkang dalam pemaknaan yang positif. Ia anti kemapanan yang melenakan dan menghambat orang untuk terus maju dan berkembang. Ia banyak bertanya dan mempertanyakan.

Apa salahnya dengan sifat kritisnya itu? Tidak. Sama sekali tidak salah. Kalaupun ada yang disebut salah, maka itu adalah kondisi kita, para guru dan pendidik, yang belum berani keluar dari zona nyaman. Kita belum siap menerima sikap kritis dari anak didik karena kita merasa lebih pintar dari mereka. Kita belum siap menerima fakta bahwa murid akan segera mengungguli kita.

Sikapnya yang kritis ini menjadi alasan sebagian guru yang menyarankan agar namanya dieliminasi dari bursa presiden OASE. Paradigma mereka masih konvensional, yaitu bahwa presiden OASE (ketua OSIS bila di sekolah lainnya) haruslah anak yang memiliki segudang prestasi dan memiliki sifat penurut. Presiden OASE haruslah menjadi role model atau teladan bagi siswa lainnya. Sifat penurut artinya tidak perlu banyak bertanya. Tukang kritik yang banyak bertanya, tidak masuk kriteria ini.

Namun, saya dan sebagian guru yang lain melihat dengan perspektif yang berbeda. Anak ini memiliki potensi yang sangat besar, yang belum teraktualisasikan sehingga ia melakukan banyak hal yang menurut sebagian orang dikategorikan sebagai “tidak wajar”. Anak ini perlu wadah yang bisa menyalurkan energinya yang melimpah itu. Anak ini perlu difasilitasi kecerdasannya. Dan wadah yang tepat adalah OASE—Organisasi Akademika SMART Ekselensia. Syukurlah, namanya batal dieliminasi dari bursa pencalonan.

Hari pertama kampanye. Tim sukses dari masing-masing calon mulai riuh menjual kelebihan calon yang diusungnya. Tidak ada suara dan pergerakan dari tim sukses si cerdas kritis tadi. Keesokan hari, kami dihebohkan dengan banyaknya selebaran yang ditempel di seutas tali sepanjang lorong sekolah. Berlembar-lembar kertas bekas menggantung dengan tulisan seperti “partai anu mendukung SBD”, “partai ikan dower mendukung SBD”, dan bersama “partai pencinta dangdut mendukung SBD”. Out of the box? Mari kita cermati penjelasannya.

Lembaran-lembaran yang digunakan berkampanye adalah kertas-kertas bekas yang sudah digunakan. Ada banyak di sekolah, tinggal meminta saja. Toh kertas-kertas ini juga akan segera masuk tempat sampah. Menggunakan barang bekas? Recycle? Pemikiran yang jenius! Tali yang diikatkan di balkon dijadikan media tempel kertas kampanye. Mudah juga didapat. Namun, keekonomisan menjadi alasan yang disampaikannya. Dengan menempel— atau menggantung—kertas kampanye di tali, artinya kita tidak mengotori tembok. Mudah ditempel, dan mudah pula dibersihkan. Walaupun punya kepentingan, tidak sampai mengotori dan merusak sekolah.

Partai pendukung yang “aneh-aneh”? Cerdas! Salah satu cara menarik simpati adalah dengan menonjolkan sisi kemalangan diri sehingga para pemilih akan empati. Namun, cara ini tidak pantas dipilih oleh calon presiden OASE yang disyaratkan memiliki ketegasan dan ketegaran diri. Memunculkan partai-partai fiktif dengan propaganda yang lucu dan unik akan menanamkan ingatan di alam bawah sadar yang akan memengaruhi siswa-siswa di bilik suara. Maka, ia pun menjadi trending topic. Siswa-siswa membicarakannya, guru-guru juga membicarakannya. Pada keesokan hari, hampir seluruh kandidat yang lain melakukan hal yang serupa. Ia akhirnya terpilih menjadi presiden OASE. Setelah melihat kinerjanya, kepemimpinan ia sangat visioner. Saya dan guru-guru sangat berbangga dengannya, sebagaimana kami bangga terhadap seluruh anak didik kami.

Sebagai guru, kita perlu memahami bahwa kecerdasan itu tidak satu, dan tidak melulu diartikan sebagai nilai jauh di atas KKM. Tugas setiap guru adalah menggali dan memfasilitasi bakat dan minat mereka. Ketika ada siswa yang melakukan hal-hal yang tidak lumrah atau bahkan melanggar aturan sekolah, ingatlah bahwa ia adalah anak kita yang tangannya akan menarik kita ke kemuliaan dan surga. Jangan berputus asa untuk selalu menanam kebaikan dan memercayai bahwa kebaikan itu akan berkembang dan kita memanennya kemudian hari. Perbuatan yang oleh sebagian orang disebut sebagai “pembangkangan” dan “kenakalan” bisa jadi hakikatnya merupakan luapan energi yang tidak terfasilitasi dan tersalurkan.

Jika kita bisa arif dan cermat, perbuatan yang kita namai sebagai kenakalan bisa menjadi kreativitas yang membawa kebaikan. Terima kasih, anak-anakku. Kami bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. []

Oleh: Nadhif Putra Widiansah

 

Masih terus ku mencari
namun tak jua kutemukan
hingga semua di ujung pencarian

Telaga waktu hisap semua daya
di kala letih tuk usaha
peluh hujani bebatuan
terka semua yang kurasakan

Senyuman dan candamu
selalu dapat kubayangkan
wajahmu dan hatimu
telah terlalu lama kudambakan

Mungkinkah,
bila kita kan selalu bersama

mungkinkah,
cintaku dan cintamu selamanya
hanya jika kita bersama
dan engkau milikku
milikku

 

Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

 

Mereka yang berangkat untuk memberi, pasti akan pulang dengan membawa kebaikan.
Mereka yang  menanam kebaikan, kelak akan memetik manisnya kebaikan.
Mereka yang berjalan menikmati dunia, akan berlari mengejar indahnya akhirat.

 

Allah tak pernah salah hitung, tak mungkin juga salah ukur. Allah itu selalu tepat waktu, hanya kita yang terlalu terburu-buru. Terburu-buru melabeli diri kita tak bisa apa-apa. Terburu-buru menilai orang lain lebih hebat dari kita. Terburu-buru ingin segera menjadi mereka. Ujung-ujungnya apa? Mata kita terlalu sibuk melihat kanan kiri, tapi lupa menatap derap langkah kaki kita sendiri. Akhirnya arah langkah kita yang salah. Kita lupa kalau ternyata setiap orang sudah memiliki zona waktunya tersendiri. Zona waktu untuk menjadi dirinya sendiri dengan menatap lurus ke depan, memandangi dirinya yang hebat pada yang akan datang.

 

Potensi dan waktu kita terlalu berharga untuk sekadar digadai merisaukan kehebatan orang lain. Menghebatlah digaris takdir kita sendiri. Tak masalah jalan kita masih pelan. Tak masalah hasilnya belum kelihatan. Selama kita fokus dijalur yang sedang kita lalui, kita telah mengantongi sebuah kepastian bahwa kita sedang bergerak. Dan orang yang bergerak akan sampai pada tujuannya. Karena kita memang tidak bisa mengubah takdir, namun kita bisa megubah cari pandang kita tentang takdir yang sedang menimpa.

 

Keajaiban itu akan hadir saat kita menggantungkan seluruh urusan kepada-Nya, tempat bermuaranya seluruh kemungkinan dan kemustahilan. Siapa saja yang mampu berpasrah dengan kepasrahan terbaik. Mampu berpasrah dengan keterserahan sempurna. Sanggup bergantung dengan ketergantungan tanpa cela, maka Allah sendiri yang akan turun tangan, menyelesaikan masalah-masalahnya dengan keajaiban yang tak pernah terduga sebelumnya. maka luruskan kembali hati dan niatmu itu, karena Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya.  Bekerja, bekerja, bekerja, lalu keajaiban.

 

Selesaikan urusanmu, dan biarkan Dia menyelesaikan urusan-Nya untukmu. Dialah Allah, Yang Maha Esa tempat  bergantung kepada-Nya segala sesuatu.