Sob seperti yang kita ketahui kalau bergaul merupakan salah satu cara kita berinteraksi, pokoknya Allah tidak pernah melarang hamba-hamba-Nya untuk saling berinteraksi. Dalam Islam pergaulan sudah diatur dengan etika dan berbagai syariatnya lho, nah untuk lebih memahami pergaulan dalam Islam, yuk simak lima belas ayat Al-Qur’an tentang pergaulan dalam Islam di bawah Sob! 1. Allah menciptakan manusia beraneka ragam Allah dengan kuasa-Nya menciptakan manusia beraneka ragam, tidak ada dua orang yang mirip dalam segi apapun walaupun merupakan kakak adik atau saudara kembar. Allah menciptakan setiap hamba dengan berbagai keunikannya dengan tujuan saling mengenal, saling toleransi, menghargai, serta saling berinteraksi secara Islami.
  • QS Al Hujarat Ayat 13
“Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal mengenal”. 2. Pergaulan secara syariat Islam Dalam Islam, diperbolehkan interaksi dengan cara Islami sesuai syariat yang telah diatur dalam Alquran dan Hadis, interaksi hendaknya sesuatu yang membawa kepada kebaikan dan saling mengingatkan agar tidak terjerumus pada kemungkaran.
  • QS Ali Imran Ayat 104
“Hendaklah ada diantara kami segolongan yang meneru kepada kebaikan dan melarang dari perbuatan munkar. Itulah orang yang paling bahagia”.  4Pergaulan dengan orang saleh Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa diri kita adalah teman kita, bagaimana kebiasaan atau tingkah laku seseorang dapat dilihat dari teman-teman pergaulannya, sebab itulah dalam Islam dianjurkan bergaul dengan orang-orang saleh sehingga kita nantinya dapat mencontoh teladan kebaikannya, dapat mengambil ilmu darinya, serta dapat mencegah kita dari pergaulan yang tidak sehat (tidak sesuai syariat Islam) sehingga pergaulan tersebut berdampak positif dan menjadi sarana kita memperbaiki diri. Berikut firman-firman Allah tentang hal tersebut:
  • QS Ali Imran Ayat 101
“Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan pada kalian dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian?”. Tindakan yang paling mudah dicontoh adalah kebiasaan dari tindakan dan tutur kata, jika kita bergaul dengan orang-orang yang bertindak dan bertutur kata baik secara langsung kita akan mencontoh dan hal tersebut ikut menjadi kebiasaan baik diri kita pula.
  • QS At Taubah Ayat 119
“Dan hendaklah kamu bersama orang orang yang benar (jujur)”.
  • QS Asy Syu’ara Ayat 99 – 101
“Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang berdosa. Maka kami tidak memberi syafaat seorangpun dan tidak pula mempunyai teman yang akrab”. Jika ada seseorang yang sering mengajak kemaksiatan, ada baiknya menjauh dari orang tersebut sebab manusia bisa saja dalam kondisi iman yang lemah dan mudah dipengaruhi oleh orang lain atau godaan syetan.
  • QS Ali Imran Ayat 118
“Hai orang orang yang beriman janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang di luar kalanganmu karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu”. 5. Pergaulan untuk silaturahmi dan menjaga edamaian Pergaulan dalam Islam ditujukan untuk hal positif, untuk menjalin persaudaraan dengan bersilaturahmi dan menjaga kedamaian dengan sesama. Silaturahmi yang dilakukan dengan niat ibadah dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Hukum tolong menolong dalam Islam memang sangat dianjurkan.
  • QS An Nisa Ayat 1
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersilaturahmi dengan jalan pergaulan yang sesuai syariat Islam, hal itu merupakan salah satu perbuatan yang disukai Allah, dengan silaturahmi, akan memperbanyak saudara dan melapangkan rejeki. “Dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.
  • QS An Nahl Ayat 90
Selain pergaulan dengan niat silaturahmi, tolong menolong dalam kebaikan juga dianjurkan dalam Islam, hal itu dapat memberikan kebahagiaan dan bermanfat untuk orang lain. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan pada orang lain dan kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. 6. Pergaulan dengan niat menyebarkan ilmu Rasulullah pernah bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR Bukhari no 3461). Hadis tersebut merupakan salah satu dari perintah Rasulullah untuk menyampaikan sebuah ilmu (ayat Alquran dan Hadis) walaupun hanya satu ayat atau satu kata. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pergaulan yang sehat dengan niat ibadahh karena Allah. Sesedikit ilmu yang disampaikan tetap akan menjadi amal jariyah bagi orang yang melakukannya.
  • QS An Nahl Ayat 44
“Dan Kami turunkan kepadamu Alquran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya”. Dalam firman tersebut contohnya ialah pergaulan dalam sebuah majelis atau pengajian yang membahas tentang syariat agama. Hal yang demikian selain menambah saudara dan ilmu, juga mendapat pahala dari Allah.
  • QS Al Furqon Ayat 57
“Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan mengharapkan kepatuhan orang orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya”. Dalam menyampaikan ilmu tak harus menerima upah atau imbalan, memberikan ilmu yang bermanfaat dijamin pahala kebaikannya oleh Allah. 7. Pergaulan Bukan dengan Niat Zina Contohnya yang demikian ialah pergaulan yang tidak ada batasan antar lawan jenis, misalnya pacaran, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, atau bepergian bersama dengan yang bukan mahram nya tanpa alasan sesuai syariat Islam. Hal itu tentu tidak diperbolehkan dalam Islam, sebab termasuk perbuatan yang menjurus kepada zina, sedangkan pergaulan dalam Islam boleh dilakukan dengan syarat bertujuan untuk kebaikan dan tetap enjaga diri serta kehormatan.
  • QS An Nisa Ayat 25
Wanita yang baik menurut Islam ialah yang baik dalam pergaulannya, mampu menjaga diri dan tidak berbuat sesuatu yang hanya bertujuan untuk hawa nafsu duniawi semata. “Sedang mereka pun wanita wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan pula wanita wanita yang mengambil laki laki hanya sebagai teman mainnya”.
  • QS Al Mu’minun Ayat 7
Pergaulan yang tidak sehat seperti pacaran tentu tidak diijinkan dalam Islam, sebab termasuk perbuatan zina yang melampaui batas dan tidak di ridhoi Allah. “Barang siapa mencari zina maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. 8. Menjaga Diri dalam Pergaulan Di jaman yang sangat terbuka seperti saat ini dimana berbagai contoh baik dan buruk mudah sekali didapat di media baik televisi maupun internet, sebagai umat mukmin wajib menghindari segala sesuatu yang tidak sesuai syariat Islam, iman adalah yang menjadi pondasinya, dengan memiliki iman yang kuat, seseorang akan mampu membedakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hendaknya dalam pergaulan tetap disertai dengan rasa istiqomah untuk menjaga diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat.
  • QS An Nuur Ayat 31 – 32
“Katakanlah kepada laki laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan kemaluannya”. Penjelasan dari firman Allah tersebut ialah perintah untuk laki laki dan perempuan mukmin agar senantiasa menjaga diri dan memelihara kehormatannya dengan jalan pergaulan yang sesuai dengan syariat Islam. 9. Pergaulan dengan tetap teguh pada syariat Islam Tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di lingkungan yang beraneka ragam, berbagai agama, suku, dan status sosial. Sebagai umat mukmin kita wajib berpegang teguh pada syariat Islam dalam pergaulan kita, boleh saja memiliki tetap bebrbagai agama dan suku, tetap syariat Islam tetap yang utama, dalam contoh kehidupan sehari hari ialah misalnya kita berteman dengan orang yang beragama lain yang mereka memiliki kebiasaan merayakan hari tertentu seperti hari Natal, hari Valentine, dll yang tidak ada dengan Islam maka kita tidak seharusnya untuk ikut merayakan sebab tidak ada dalam syariat agama Islam.
  • QS Asy Syura Ayat 15
“Bagi kami amal amal kami dan bagi kamu amal amal kamu”. Tetap berteman dengan semua orang di lingkungan kita tanpa terpengaruh hal hal yang di luar syariat Islam. Amal kita lah yang akan menjadi bekal di akherat nanti dan biar setiap hamba Allah bertaanggungjawab atas amalnya masing masing.
  • QS Al Kafirun 4 – 6
“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku lah agamaku”. Tiap agama tentu memiliki kepercayaan masing masing terhadap sesuatu yang mereka sembah. Tak perlu saling menjauhi, menghina, atau memusuhi, tetap lakukan pergaulan dengan lingkungan sekitar dan kuatkan diri dengan rasa iman.

Oleh: Yonatan Y. Anggara

 

Semoga kita akan sadar kalau ukuran passion bukan hanya tentang suatu hal yang kita senangi. Passion tidak lantas berhenti pada titik kulminasi yang banyak di bangga bangga kan di media sosial saat ini: pencapaian. Semoga kita akan mengerti bahwa passion berbeda dengan titik nyaman. Bisa jadi, passion justru tumbuh dari sesuatu yang di paksakan. Sesuatu hal yang dulu nya sangat tidak mungkin untuk kita kerjakan.

Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu hal yang menjadikan kita bermanfaat. Artinya passion tidak melulu tentang ketertarikan kita. Passion adalah hadiah dari ketekunan dan kedisiplinan kita. Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu yang amat kita cintai. Bukan karena kita menyukai atau tertarik denganya, melainkan karena sesuatu itu kita lakukan dengan mengharap rida Allah semata. Lakukanlah setiap kebaikan dengan penuh ketulusan niat, niscaya passion akan tumbuh beriring dengan kebahagiaan yang semakin melapangkan hati.

Seperti halnya Abdurahman Bin Auf yang tidak ragu membantu banyak urusan umat muslim. Menyumbangkan harta-hartanya untuk umat. Mungkin sebelum Rasul ada, ia tidak punya passion memberi semenakjubkan itu. Setelah Islam datang, Ada suatu hal yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

Seperti halnya Utsman bin Affan yang dengan cekatan memutar otak mengatasi kekeringan waktu itu. Kapitalisasi sumur oleh Yahudi akhirnya disudahi oleh 152 juta harta Utsman. Dengan santainya ia memberikannya pada masyarakat. Mungkin sebelum datang risalah Islam ia tidak punya passion problem solving seperti itu. Setelah Islam datang, ada yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

Seperti halnya Abu bakar yang dengan yakinya merogoh uang sekitar 143 juta hanya untuk menebus budak hitam bernama Bilal yang sedang ditindih batu besar di padang pasir yang panas. Mungkin sebelum datangnya Muhammad itu tidak pernah punya passion take care. Namun setelah Islam datang, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

Ada yang jauh lebih penting dari sekadar passion, yaitu menjadi bermanfaat

Oleh: Irani Soraya

Ada banyak cara yang kami gunakan dalam pelajaran di SMART untuk mengeksplorasi, refleksi dan muhasabah diri. Saya mengingat bahwa dalam perkembangan remaja saya  di tahun 1990-an metode refleksi dan muhasabah diri biasanya dilakukan guru menjelang ujian EBTA/EBTANAS atau UN di tahun 2000-an. Sebuah upaya dari generasi yang lebih tua dalam membangun kesadaran akan memanfaatkan waktu luang dan waktu remaja dengan lebih bertanggung jawab.

 

Salah satu yang saya apresiasi benar adalah metode yang dilakukan ustazah Syahtria, pengampu mata pelajaran PD atau Pengembangan Diri.

 

Judulnya adalah “Letter Forselves”, atau surat untuk diri, ungkapan yang mengingatkan kita akan buku yang ditulis oleh penulis kesayangan Oprah Winfrey yaitu Maya Angelou. Maya Angelou bisa disebut sebagai seorang “awakening writers” penulis yang membangkitkan, kata-kata yang ditulisnya bukan semacam kata-kata para motivator penulis buku buku motivasi populer, kata-katanya memiliki kekuatan untuk kita(terutama wanita) penerimaan diri yang positif dan pemaafan akan masa lalu. Salah satu kutipan dari buku “ letter for my daughters” adalah “ do the best until youknow better, when you know better, do better”.

 

Salah satu cara yang dilakukan ustazah Syahtria adalah dengan meminta siswa SMART menulis surat. Surat ini harus berisi tujuh paragraf. Dan paragraf pertama dimulai dengan kata: “Untuk diriku”.

 

Di bawah ini salah satu isi Letter Forselves karya siswa kami.

 

“Untuk diriku, hidupmu menjadi lebih baik dengan selalu berbagi. Dengan berbagi hidup kita akan damai. Dengan berbagi hidup kita akan menjadi berarti. Misalnya berbagi ilmu kalian. Bisa juga kalian membagi harta kepada orang yang membutuhkan, maka dari sekarang cobalah berbagi.

Berbagi waktu juga akan bermanfaat, masa lalu juga ingin diingat, maka luangkan waktumu sebentar untuk mengingat masa lalumu, karena masa lalumu akan menjadi cerminan masa depanmu. Waktulah yang paling penting untuk dibagi, karena dengan membagi waktu kamu akan merasa sukses. Sukses adalah sebuah pilihan, jadi jika ingin sukses cobalah bagi waktumu.

Untuk diriku, hidupmu menjadi lebih baik dengan menghargai masa lalu, masa lalu kalian jangan pernah dilupakan. Masa lalu adalah kenangan manis dan pahit kita selama hidup kita, jatuh dan bangkitnya juga akan menjadi bagian masa lalu. Sudahkah kalian luangkan waktu untuk kembali mengingat memori masa lalu?

Untuk diriku, hidupmu menjadi lebih baik dengan melihat hal-hal positif di dunia ini. Mengingat masa lalu, berbagi dengan sesama. Itu adalah hal positif yang patut kita lakukan. Dengan mengingat kita akan membuat sejarah dan dengan melupakan kita juga akan membuat sejarah.

Jadi mulailah dari sekarang melakukan hal positif, apa yang kamu lakukan hari ini akan kamu rasakan di kemudian hari. Dengan artian apa yang kamu lakukan di masa lalu tentu akan kamu rasakan manfaatnya saat ini. Berbagi juga begitu, dimulai dengan mencoba untuk bahagia di setiap hal yang kita lakukan.

Apapun yang akan kalian lakukan jangan lupa bahagia, apapun yang kalian coba harus bahagia. Percayalah dengan berbagi, kita akan merasa bahagia, walau kita harus menunggu 1000 tahun lamanya tapi percayalah jika kita mengingat masa lalu sebagai avun dan tak takut tuk mencoba dan berbahagia maka kita semua akan sukses”. – Aananda AF. 15 tahun, asal Sumatera Utara

 

Dalam tulisan di atas ananda mencoba memahami arti mengingat masa lalu bagi masa depannya. Sebagaimanaa kita ketahui bersama bahwa 198 siswa SMARTdipilih dari 28 provinsi dan melalui sebuah proses panjang seleksi. Salah satunya adalah seleksi tingkat kedhuafaan.  Kami menyadari bahwa beberapa siswa SMART yatim, piatu atau yatim piatu, sementara yang lainnya berasal dari keluarga dengan ekonomi lemah. Salah satu modal utama bagi siswa SMART untuk bisa berubah dan sukses di masa pendidikannya adalah kesadaran mendalam akan pemahaman dirinya sendiri. Kita tak bisa memilih orang tua seperti apa yang akan kita dapatkan saat lahir ke dunia ini. Kita tidak bisa memilih di negara apa atau bahkan tiap centimeter warna kulit kita. Tapi satu hal yang kita bisa lakukan adalah Allah memberikan kita anugerah bernama kehendak bebas, ya dengan kekuatan kehendak bebas manusia bisa memilih akan menjadi apa dalam hidupnya dan akan menggunakan hidupnya seperti apa. Apakah akan menjadi manusia egois yang melulu mencari keuntungan bagi dirinya ataukah akan menggunakan hidupnya untuk tujuan welas asih, membagi waktu, berbagi kebahagiaan pada sekitarnya, itulah kuasa manusia bernama pilihan. Wallahu alam bi showab.

 

 

 

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan V, baru saja menyeselasikan studinya di IPB Jurusan Biologi

 

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustaz ustazah di sana.

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

Dari dulu mungkin ustaz-ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk 5 orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh Ustaz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

 

 

 

Sob siapa coba yang gak pernah berbuat dosa? Dosa pandangan kita, dosa pendengaran kita, dosa lisan kita, dosa tangan kita, dan dosa-dosa lainnya yang pernah kita lakukan. Bahkan sehari pun kita tidak bisa lepas dari berbuat dosa.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Dosa dan maksiat adalah tabiat manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Tidakkah firman Allah ini dapat melapangkan hati, menghilangkan keresahan, dan menghapuskan kegundahan kita? Ayat diatas adalah seruan untuk segenap orang yang terjerumus ke dalam dosa agar segera bertaubat dan kembali kepada Allah. Sekalipun dosa anak adam sangat banyak, namun kasih sayang Allah jauh lebih luas terhadap hambaNya.

Amalan-amalan Penghapus Dosa

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam kitabnya Majmu’ Al Fatwa memberikan nasihat indah tentang amalan-amalan yang dapat menjadi penghapus dosa.  Beliau berkata, dosa dapat terhapus oleh beberapa hal:

  1. Taubat

Taubat secara bahasa berasal dari kata at-tauba yang dimaknai ‘kembali’. Orang yang bertaubat artinya ia kembali/berpaling dari dosanya [1]. Sementara secara syar’iy taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad untuk tidak melakukannya lagi, dan memperbaiki amalnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullahu dalam kitabnya Majalis Syahri Ramadhan [2] mengatakan “Taubat yang diperintahkan Allah Ta’ala adalah taubat nasuha (yang tulus) encakup lima syarat”:

  1. Hendaknya taubat dilakukan dengan ikhlas.
  2. Menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan.
  3. Berhenti dari perbuatan maksiat.
  4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut.
  5. Taubat dilakukan bukan pada saat masa penerimaan taubat telah habis
  6. Istigfar

Istighfar meskipun tampak sama dengan taubat, namun hakikatnya berbeda. Terdapat beberapa perbedaan antara taubat dan istighfar diantaranya:

Pertama: Taubat terdapat batas waktu, sementara istighfar tidak. Hal inilah yang menyebabkan orang yang sudah meninggal dapat dimohonkan ampunan, adapun taubat tidak lagi diterima tatkala nyawa sudah sampai pada kerongkongan.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hashr :10).

Kedua: Taubat hanya bisa dilakukan oleh pelaku dosa itu sendiri, sementara istighfar dapat dilakukan oleh pelaku dosa dan juga orang lain untuknya. Oleh karena itu seorang anak dapat memohonkan ampunan untuk orang tuanya.

Ketiga: Taubat disyaratkan harus berhenti dari dosa yang dilakukan sementara istighfar tidak disyaratkan demikian. Terdapat perselisihan ulama dalam hal ini, namun ada kesimpulan yang sangat baik dari Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili hafidzahullah dalam permasalahan ini [3]. Beliau menjelaskan bahwa istighfar ada dua keadaan:

  • Istighfar untuk dosa yang dilakukan oleh orang lain. Hal ini sebagaimana istighfarnya malaikat untuk orang-orang yang duduk di tempat sholat selama wudhunya belum batal maupun istighfar seorang anak untuk orang tuanya.
  • Istighfar untuk dosa yang dilakukan oleh diri sendiri. Istighfar bagi diri sendiri bermanfaat meski belum bertaubat, namun dengan syarat istighfar yang ia lakukan semata-mata karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala.
  1. Amal Shalih

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Hadis ini menunjukan bahwa apabila hamba terjatuh dalam perbuatan dosa, maka hendaklah ia bersegera menghapusnya dengan taubat dan melakukan amal shalih. Dosa yang dibiarkan lama mengendap dalam diri karena tidak segera ditaubati, dikhawatirkan akan menjadi sebab lahirnya perbuatan dosa-dosa lainnya.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam kitabnya Washiyah Sughro [4] menjelaskan bahwa amalan shalih yang dapat menghapus dosa terbagi menjadi dua:

Pertama: Amal shalih yang dapat menghapus dosa tertentu saja. Contohnya yakni pembayaran diyat bagi jamaah haji yang melanggar larangan-larangan ihram.

Kedua: Amal shalih yang dapat menghapus dosa secara umum. Contohnya yakni puasa di bulan Ramadhan yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

  1. Musibah menghapuskan dosa

Musibah yang menimpa seorang muslim akan menjadi penghapus dosa baginya apabila ia bersabar dan menerima musibah yang menimpanya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمِّ، وَلاَ حُزْنٍ، وَلاَ أَذًى، وَلاَ غَمِّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا؛ إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Apa saja yang menimpa seseorang Muslim seperti rasa letih, sedih, sakit, gelisah, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allâh akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu semua”. [Muttafaqun ‘alaihi]

Setiap dosa yang dilakukan seorang hamba itu buruk, namun akan jauh lebih buruk apabila ia tidak mau bertaubat atas dosa yang telah dilakukan. Maka hendaklah kita mempergunakan waktu yang kita miliki untuk banyak bertaubat kepada Allah Ta’ala dan melakukan banyak amal kebaikan.

Ditulis oleh: Yuli Widiyatmoko

_________________________________________________________________________

Referensi:

[1]        Prof. DR. Shalih Ghanim as-sadlan, At-Taubatu Ilallâh, Maknâhâ, Haqîqatuhâ,
Fadhluhâ, syurutuhâ
, hlm. 10.

[2]       Ibnu Faris, Mu’jam Maqâyis al-Lughah, 1/357.

[3]        Ahmad Anshori. 2017. “Perbedaan Istighfar dan Taubat”. Diakses melalui
https://muslim.or.id/29214-perbedaan-istighfar-dan-taubat.html pada 09 Januari 2019.

[4]       Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, Washiyah Sughro.

Siswa SMART di Hari Guru Nasional: “Ini Adalah Tanda Cinta Kami”

Bogor – Sebagai bentuk apresiasi kepada tenaga pendidik, pada Kamis (25/11) ratusan siswa SMART Ekselensia Indonesia Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) rayakan momen Hari Guru Nasional melalui persembahan istimewa bertajuk “Semua Karena Guru”.

 

Menurut Amir, Ketua OSIS SMART, para siswa telah menyiapkan serangkaian acara beserta kejutan dan bingkisan menarik buat para guru. “Perhelatan ini merupakan kegiatan tahunan OSIS di sekolah kami, sebab itulah kami mengusahakan yang terbaik di momen terbaik,” ujar Amir.

Hari Guru Nasional menjadi momen spesial bagi siswa SMART, pasalnya di momen ini mereka bisa mengeksplorasi sekaligus menggali kreativitas dan mengasah kepekaan sosial. “Setiap tahunnya kami membuat tema menarik, membuat ragam kreasi dari barang-barang layak pakai, dan mengajak kakak-kakak karyawan LPI DD agar lebih maksimal jadi semua pihak bisa ikut terlibat,” jelas Amir.

 

Selain kejutan dan bingkisan menarik, para siswa juga memberikan penghargaan simbolis kepada guru SMART atas dedikasi dan komitmen yang diwakili Khadija Djimran. Menurut zah Dija, panggilan akrabnya, ia dan para guru sangat berterimakasih kepada siswa SMART. “Penghargaan ini saya persembahkan untuk guru hebat di SMART dan guru hebat di seluruh Indonesia. Semua Karena Guru kita bisa berada di sini, Semua Karena Guru kita bisa mencicipi manisnya ilmu,” tutur zah Dija.

 

“Ini adalah tanda cinta kami,” tegas Amir. Ia berharap momen Hari Guru Nasional bisa terus digaungkan oleh siswa-siswa di sekolah lain. Amir menambahkan jika dalam pelaksanaannya mereka didukung penuh tim Strategic Partnership LPI DD. “Pelaksanaan momen Hari Guru Nasional tak akan berjalan tanpa dukungan kakak-kakak Strategic Partnership LPI DD dan para donatur,” tukasnya.

Selamat Hari Guru Nasional. Terima kasih atas perjuangan tulus para guru untuk mencerdaskan anak bangsa (AR).

Oleh: Muh. Ikhwanul Muslim, Alumni SMART Ekselensia Indonesia Matahari sore bersinar malu-malu, kulirik jam di tanganku, waktu menunjukkan pukul 17.00. Aku baru saja selesai berobat di Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di Ciputat. LKC adalah lembaga kesehatan nonprofit di bawah naungan Dompet Dhuafa yang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Hujan deras mengguyur kawasan Ciputat, membuatku terpaksa berteduh di sana. Padahal, sesuai izinku, harusnya aku sudah berada di asrama pukul 17.00 tepat. Setelah aku keluar dari LKC, tak satu pun angkot 29 jurusan Parung-Ciputat yang terlihat berlalu lalang. Aku lirik jam tanganku, sudah pukul 17.30. Tidak terasa hari mulai gelap, Lampu-lampu gerobak tukang gorengan sudah menyala menunggu pengunjung yang datang ke lapaknya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ke LKC tanpa ada teman dari SMART. Alhamdulillah pertolongan dari Allah datang. Beberapa menit kemudian setelah lama menunggu, angkot 29 jurusan Parung-Ciputat tampak di jalanan Ciputat. Aku langsung bergegas naik ke dalam angkot, sembari menahan rasa dingin yang kurasakan karena bajuku basah kuyup diterjang air hujan. Di dalam angkot, aku tersadar menjadi pusat perhatian para penumpang. Mereka seakan berpikiran, “Ngapain nih anak jam segini baru pulang, mana bajunya basah lagi.” Tak kuhiraukan tatapan mereka kepadaku. Aku santai saja menikmati perjalanan. Aku melihat keluar kaca mobil angkot, terlihat genangan air membanjiri jalanan Ciputat. Kemacetan pun tak terelakkan. Aku pun harus rela menunggu angkot yang aku tumpangi keluar dari rantai kemacetan ini. Jam tanganku telah menunjukkan pukul 18.00. Setelah beberapa waktu tertidur di dalam angkot, akhirnya aku sampai di Pasar Parung. Kulihat orang-orang berlalu lalang di jalanan pasar bergegas lari dari rintik hujan. Lampu-lampu yang ada di gerobak pedagang kaki lima sangat menyilaukan mataku sehingga tanpa sadar aku salah menapakkan kaki. Sepatuku kotor terjerembab ke dalam lumpur jalanan Pasar Parung. Jalanan yang basah dan becek menyulitkan langkahku untuk terus berjalan mencari angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan juga angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Aku langsung masuk angkot. Di dalam angkot, kulihat para penumpang memasang muka kelelahan dan kedinginan. Muka yang telah membuktikan kerja keras mereka dalam bekerja mulai pagi hingga petang. Inilah kehidupan, butuh perjuangan agar tetap bertahan. Di antara deretan penumpang angkot kulihat sosok nenek tua yang menurutku sedang gelisah. Ia terus saja berbicara sendiri tanpa ada yang memberi perhatian kepadanya. Hingga akhirnya ia membuka percakapan denganku. “Nak, sekolah di mana?” Tanya si nenek kepadaku. “SMART Ekselensia Indonesia, Nek.” Jawabku dengan nada polos. “Nak, Nenek ini sekarang hidup sendiri,” ujar si nenek kepadaku dengan nada sedih. “Hmm….” Ujarku dengan santai. Detik berikutnya, aku hanya bisa diam tanpa dapat berkata-kata. Mukaku tertunduk hanya bisa mendengarkan cerita nenek itu. Ia terus saja berbincang denganku. Para penumpang tak acuh dengan yang diceritakannya. Hanya aku yang merasa simpati dengan apa yang terjadi pada si nenek. “Nak, Nenek baru habis jatuh. Lutut Nenek luka. Nenek udah enggak punya siapa-siapa lagi. Anak-anak Nenek udah pada nikah. Setiap kali anak Nenek yang pertama datang ke rumah, kerjaannya marah-marahin nenek terus. Dipukullah, ditendanglah. Nenek enggak pernah dikasih duit sama mereka.”Nenek kalau mau makan ngarepin dari tetangga. Di rumah itu kadang ada makanan, kadang enggak ada. Anak-anak Nenek itu udah enggak pernah jenguk lagi. Cuma si anak yang pertama yang sering ke rumah. Itu pun niatnya mau ngusir Nenek dari rumah. Katanya, rumah Nenek mau dijual buat kepentingan dia. Sekarang saja Nenek cuma punya uang dua ribu buat pulang. Enggak ada uang lagi buat makan.” Nenek itu berkata dengan nada penuh kecewa. “Memangnya rumah Nenek di mana?” Tanya salah satu penumpang. “Jampang, Pak. Tolong, Pak bantuin Nenek. Nenek lagi kena musibah,” pinta nenek itu dengan rasa sedih. “Iya… Iya. Sekarang Nenek pegang saja itu uang dua ribu. Biarin Bapak saja yang bayar ongkos pulang Nenek,” kata si penumpang yang bertanya tadi. “Makasih, makasih, Pak. Nenek udah enggak punya uang lagi.” Nenek itu tampak bungah. “Iya… Iya… udah nenek tenang saja,”ujar si penumpang. Aku hanya bisa kembali diam. Duduk termangu mendengarkan penuturan nenek tua itu. Tapi, nenek itu mengajakku berbincang. “Nak, pamali kan durhaka sama orangtua?” tanyanya kepadaku. “Iya, Nek,” jawabku dengan singkat. “Itu si Sinyo kerjaannya marah-marah terus sama Nenek. Nenek doain kalau hidupnya melarat. Doanya ibu kepada anaknya itu bener kan ya, Nak?” “Iya, Nek,” ujarku dengan rasa was-was. Begitu kecewanya si nenek terhadap anak-anaknya hingga ia mendoakan anaknya dengan doa yang tidak baik. Setahuku, doa ibu itu paling mujarab mengingat berkat jasanyalah kita dapat hidup di dunia ini. Tidak sepatutnya kita melecehkan kehidupannya. Kita harus tetap memerhatikannya walaupun sudah berkeluarga. Perlahan-lahan aku mulai melihat bangunan kokoh berwarna hijau yang terpampang jelas di mataku. Akhirnya aku telah sampai di kampus SMART Ekselensia Indonesia. Aku pun pamit kepada si nenek. “Nek, aku pamit dulu ya.” “Iya. Nenek pesen: jangan pernah durhaka sama orangtua ya.” Aku pun langsung memberikan kode kepada supir angkot untuk berhenti. Setelah itu aku membayar ongkos. Lantas, aku masuk ke lingkungan SMART. Kulirik lagi jam tanganku: pukul 19.15. Aku belum Salat Magrib. Aku pun bergegas ke masjid dan langsung menunaikannya. Setelah salat, sejenak aku memikirkan ungkapan hati nenek di angkot tadi. Ia begitu kecewa dengan perbuatan anak-anaknya. Ini menjadi perjalanan kehidupanku. Aku harus berpikir kembali, untuk apa aku hidup dan dedikasi apa yang harus aku torehkan sebelum nantinya aku meninggalkan dunia ini. Pertemuan dengan nenek tadi menjadi cambuk semangatku untuk menghargai hasil jerih payah seorang ibu sekaligus pemicu semangatku untuk menatap masa depan yang lebih indah. Jangan sampai kita menjadi hamba Allah yang kufur nikmat yang tak menghargai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Yang terjadi pada si nenek di angkot menjadi pelajaran dan petuah kehidupan bagi diriku khususnya dalam bersungguh-sungguh menjalani hidup ini. []  

Oleh : J. Firman Sofyan (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Seekor katak spesies baru telah ditemukan di wilayah Ghats Barat, India (Kompas, 11 September 2012). Katak tersebut memiliki perbedaan dengan katak pada umumnya. Katak tersebut seolah-olah mengubah semua teori biologi selama ini. Teori yang mengatakan bahwa katak merupakan hewan amfibi yang melakukan sebuah tahapan kehidupan yang unik, berbeda dengan makhluk hidup pada umumnya. Sebuah tahapan kehidupan yang disebut dengan metamorfosis. Katak yang kemudian diberi nama Shrub Kakachi (Raorcgestes Kakachi) ini tidak mengalami metamorfosis seperti spesies katak lainnya. Katak ini tidak mengalami fase berudu. Jadi, bisa dikatakan setelah menetas dari telurnya, katak ini langsung dewasa.

Di bagian barat Pulau Jawa, seorang anak bernama Fajar Sidiq Abdul Mutholib, tampaknya mengalami fase kehidupan yang hampir sama dengan katak di atas. Anak tersebut menempuh sebuah jenjang pendidikan tingkat menengah dan atas yang berbeda dengan anak lainnya di negara kepulauan terluas di dunia ini. Anak tersebut menyandang gelar siswa hanya selama lima tahun untuk jenjang SMP dan SMA. Tentu berbeda dengan siswa lainnya yang harus menyelesaikan dua jenjang sekolah tersebut dalam waktu enam tahun. Realitas yang sepertinya membuat siswa lain di Indonesia ini menjadi cemburu dan iri. Kedua fakta tersebut menyimpulkan sebuah persamaan antara Fajar Sidiq A.M. dan Shrub Kakachi dalam hal keunikan.

Analogi yang tidak terlalu signifikan memang. Alasannya, Tuhan memang mengodratkan manusia menjadi makhluk paling istimewa di dunia ini. Kodrat yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Perbedaan itu pun terjadi dalam fase kehidupan antara Fajar dengan Kakachi. Fajar, dalam tahap kehidupannya yang unik, membuktikan bahwa kodrat yang diberikan Tuhan itu tidaklah salah.

Salah satu yang Tuhan berikan kepada manusia, khususnya siswa ini, adalah kecerdasan. Kecerdasan inilah yang membuat Fajar kembali bermetamorfosis, kali ini metamorfosis yang sempurna. Metamorfosis dari seorang anak dhuafa yang awalnya tidak pernah membayangkan untuk melanjutkan pendidikan setelah dinyatakan lulus dari sekolah dasar hingga kini telah menjadi seorang penulis buku. Penulis buku ilmiah di usianya yang bahkan belum genap tujuh belas tahun. Metamorfosis tersebut bahkan disempurnakan dengan statusnya yang telah menjadi seorang mahasiswa Teknik Geologi Universitas Diponegoro.

Kisah keberhasilan pemuda yang juga pernah menjadi presiden sebuah organisasi internal di sekolahnya tersebut hanyalah satu rangkaian cerita inspiratif tentang metamorfosis anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia hingga mendapatkan keberhasilannya masing-masing. Keberhasilan setelah lima tahun berbagi suka, duka, keakraban, dan berbagai macam rasa dengan para anak bertakdir sama dan dengan para orangtua yang tidak sungkan harus membacakan sebuah kisah klasik demi redanya tangisan mereka. Tangisan karena harus merelakan lima tahunnya jauh dari kedua orangtua kandungnya.

Lima tahun yang sungguh-sungguh spesial. Lima tahun hidup dengan berbagai metafora kehidupan. Kehidupan yang tentu tidak terlepas dari berbagai intrik. Di dalamnya ada sesuatu yang intim tentang saat-saat istimewa berbagi cerita. Cerita tentang bagaimana awal kedatangan mereka dengan bahasa ibunya masing-masing. Awal bagaimana mereka masih terlalu kecil untuk “disapih” dari orang tua kandungnya masing-masing. Kecil dalam arti sesungguhnya. Benar-benar kecil sehingga baju dan jaket yang mereka kenakan di awal kedatangan mereka ke sekolah ini terlihat kebesaran. Namun, dalam ukuran tubuh mini tersebut tersimpan berbagai harapan besar untuk mendapatkan kesuksesan yang lebih besar.

Cerita-cerita tentang keberhasilan yang diawali dari keterbatasan tersebut mungkin telah banyak kita lihat di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kumpulan cerita orang-orang papa yang akhirnya meraih sukses tersebut pun sudah sering ditampilkan di berbagai acara talk show. Tidak sedikit juga buku yang mengangkat tema yang sama. Fakta yang seolah-olah telah mengubah sesuatu yang tidak istimewa menjadi istimewa. Namun, kisah-kisah tentang anak-anak dhuafa yang meraih keberhasilan di dalam buku ini akan tetap istimewa. Istimewa karena cerita-cerita tersebut disampaikan dengan jujur tanpa manipulasi dari para “orang tua” mereka selama lima tahun di asrama dan sekolah: guru.

Dalam buku ini, akan kita lihat bagaimana perjuangan anak-anak marginal dari seluruh Indonesia berdinamika dengan berbagai unsur kehidupan. Dalam buku ini akan kita lihat bagaimana cara anak-anak cerdas tersebut memandang dan berinteraksi dengan dunia. Cerita-cerita di sebuah sekolah bernama SMART Ekselensia Indonesia. Sekolah yang dikelola sebuah lembaga zakat Dompet Dhuafa. Semua cerita tersebut disampaikan apa adanya dari sudut pandang guru sekolah maupun wali asrama. Para pendidik yang membantu para siswa bermetamorfosis. Pendidik yang selama lima tahun tanpa pernah sungkan—apalagi bosan—untuk menyusun rencana pembelajaran. Bukan, bukan hanya rencana pembelajaran, melainkan juga rencana keberhasilan. Inilah sebuah Marginal Parenting, sebuah pengalaman pengasuhan anak-anak marginal hingga mereka berani mimpi untuk jadi manusia luar biasa.

Oleh: Purwoudiutomo

 

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia tiga bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika dilis, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

Oleh: J. Firman Sofyan, Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Disadari atau tidak, waktu terasa begitu cepat berada di SMART. Kala itu saya kembali bertemu dengan siswa Angkatan 5 SMART Ekselensia Indonesia. Satu tahun saya tidak pernah bersama mereka secara formal di kelas, sekarang mereka telah lulus kuliah dan bekerja. Pertama kali mengajar di sekolah nonprofit ini, mereka masih kelas 1.

Di awal tahun pelajaran 2012/2013, saya memulai pertemuan dengan siswa kelas lima dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan terkait data diri siswa. Salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah “Berapa tinggi dan berat badanmu sekarang?” Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan cepat dan tepat oleh siswa. Namun, nyatanya mereka membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk menjawab pertanyaan dasar tersebut. Ini bukti kalau ada masalah di sini. Pertanyaan lain adalah “Berapa pertambahan tinggimu dari kelas satu sampai saat ini?”.

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan mudah karena tinggal mengurangi tinggi badan sekarang dengan tinggi badan ketika pertama kali datang ke SMART empat tahun yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab di dalam sebuah kertas kecil. Sisa pertanyaan sepertinya tidak perlu saya deskripsikan di sini.

Jawaban siswa terkait pertanyaan kedua memang sangat bervariasi. Ada yang cuma 3,5 cm, 8 cm, bahkan ada yang mencapai 40 cm. Jawaban-jawaban tersebut menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa rata-rata pertambahan tinggi siswa adalah antara 20-30 cm. Saya pun dapat menyimpulkan bahwa ada pengaruh gizi yang berbeda yang siswa dapatkan ketika mereka di rumahnya masing-masing dengan di SMART. Perbedaan yang cukup signifikan dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertama kali tiba ke sekolah ini, tinggi mereka berkisar 125-160 cm. Angka terakhir pun sangat jarang ditemukan. Biasanya siswa yang tingginya mencapai angka tersebut adalah siswa yang sebelum diterima di sekolah ini telah bersekolah selama satu tahun di jenjang menengah (SMP).

Perbedaan ini seolah mempertegas cerita beberapa siswa terkait kondisi mereka di desanya. Salah satunya adalah menu makanan. Beberapa kali saya mengobrol dengan siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Obrolan terkait menu makanan mereka sehari-hari yang menurut mereka jauh lebih tidak enak dan tidak bergizi dibandingkan di SMART. Fatqur, misalnya, siswa yang berasal dari Banggai, pernah mengatakan bahwa jarang sekali bisa makan dengan nasi. Ia bersama keluarganya yang berdomisili tidak jauh dari pantai lebih sering makan ikan tanpa nasi. Sepintas sangat bergizi karena setiap hari bisa mengonsumsi ikan laut. Kemiskinanlah penyebab utama sulitnya mereka mengonsumsi nasi yang harganya bisa sama dengan harga satu sak semen di Pulau Jawa. Namun, konsumsi makanan laut tanpa diimbangi sayur-sayuran dan buah-buahan tidak terlalu bagus. Tidak ada keseimbangan antara karbohidrat, vitamin, kalsium, dan mineral.

Andi, siswa yang berasal dari Sorong, pernah bercerita kalau keluarganya sanggup menikmati olahan dari ayam hanya satu kali dalam tiga bulan. Harga ayam di sana sama sekali tidak terjangkau oleh orangtuanya yang hanya bekerja sebagai pekerja bengkel kecil. Akhirnya, makanan sehariharinya tidak jauh dari sagu dan ikan hasil tangkapan sendiri. Itu pun kalau ada. Kalau tidak, ya makan sagu saja ditemani garam.  Sungguh ironis!

Mungkin hal tersebut bisa dianggap wajar karena terjadi terhadap siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Namun, bagaimana kalau yang bercerita adalah siswa yang berasal dari Pulau Jawa? Kisah yang satu ini memang tidak saya dapatkan secara lisan; kisah ini berbentuk audio visual. Sedih saya ketika melihat sebuah video yang telah diunggah di salah satu situs penyedia video tentang keluarga Ahmad Darmansyah, salah satu siswa SMART yang telah meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam video yang berdurasi sekitar delapan menit itu, saya bisa melihat bagaimana perjuangan keluarga Ahmad dalam mencari nafkah. Orang tua Ahmad hanya seorang pengusaha tahu skala rumah (industri rumah tangga) yang pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari-hari, yang mungkin tidak pernah diperhitungkan kandungan gizinya. Boro-boro untuk menabung atau menyekolahkan anak-anaknya, untuk membeli bahan baku tahu saja ia kesulitan.

Di tempat lain, saya mendapat cerita yang disampaikan salah satu pengajar SMART.

“Ane kaget, ternyata Muhib bisa marah-marah ke orang tuanya waktu pulang kampung,” ustaz Cipto memulai pembicaraan dengan saya. Ceritanya berisi cerita tentang salah satu siswa SMART angkatan 8 yang bernama Muhibudin.

“Kenapa emang?” saya menimpali.

“Dia memprotes ibunya karena membagi sebutir telur goreng menjadi empat bagian agar bisa dimakan bersama anggota keluarga lain. Padahal, di sekolah ia bisa mendapatkan sebuah telur yang utuh, diberi bumbu macam-macam pula!”

Saya tidak tahu harus menjawab apa lagi. Namun, kisah-kisah di atas tampaknya mewakili kondisi semua siswa yang memang berlatar belakang marginal ini. Gizi, ah, itu mungkin istilah asing bagi orang tua mereka di desa sana. Istilah yang sama sekali tidak pernah ada dalam memori ingatan mereka. Bisa membesarkan anak mereka sampai melewati tahap yang bernama bayi, anak-anak, remaja, atau bahkan dewasa itu sudah menjadi sebuah prestasi. Tidak peduli dengan terpenuhinya gizi atau tidak. Toh mereka “berhasil” mendidik anak-anak cerdas dan rendah hati, yang akhirnya terpilih dari ratusan anak Indonesia yang mendaftar di sekolah yang berlokasi di Parung, Bogor ini.

Kendatipun demikian, kadang-kadang, kondisi siswa yang “kurang gizi” ini menimbulkan pemandangan yang cukup unik. Salah satu pemandangan tersebut terjadi pada sebuah pertandingan futsal yang diselenggarakan SMART dalam rangkaian acara Olimpiade Humaniora Nusantara kala itu. Lomba yang sangat banyak peminatnya ini dikhususkan untuk siswa jenjang SMP atau sederajat. Salah satu pesertanya adalah tuan rumah sendiri, yang kemudian disebut tim SMART.

Di pertandingan pertama, tim SMART melawan salah satu SMP yang berasal dari daerah Parung. Yang menarik dalam pertandingan tersebut adalah adanya perbedaan yang sangat signifikan pada postur para pemain yang membela masing-masing tim. Siswa SMART, yang merupakan siswa jenjang pertama dan kedua, terlihat seperti para liliput di antara para pemain dari sekolah milik pemerintah tersebut. Sungguh seperti David dan Goliath. Bisa ditebak pemenangnya? Yang pasti siswa-siswa imut tersebut telah memberikan perlawanan yang maksimal meskipun akhirnya hanya mampu mencetak dua gol, berbanding lima gol dari kerja lawan. Lagi-lagi penyebabnya adalah gizi.

Itu semua berawal dari cerita yang disampaikan secara langsung atau tidak. Mau bukti yang lebih sahih? Datanglah ke sekolah kami. Lihatlah siswa-siswa yang masih di dua jenjang paling awal. Kulit mereka tidak hanya hitam, namun maaf, kusam, dekil, dan lusuh. Kulit tersebut membungkus tulang-tulang yang terlihat lebih dominan dibandingkan dengan daging. Daging tampaknya bersifat maya dalam tubuh mereka. Lemak? Dari apa mereka mendapatkan lemak jika daging saja tidak pernah mereka makan? Lebih parah lagi, rangkaian tulang dan selimut kulit tersebut memberikan aroma yang tidak pernah saya temukan sebelumnya. Bau yang hampir tidak bisa didefinisikan oleh indra penciuman saya. Bau yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata.

Cerminan dari ketidakmampuan pemerintah menjadikan warganya hidup layak sesuai dengan visi dan misi negara ini. Rasa syukur sudah selayaknya diucapkan oleh siswa-siswa cerdas tersebut. Lima tahun berada si sekolah ini, penampilan mereka berubah drastis, seperti sebuah jeans bolong yang baru saja dipermak. Bagaimana tidak, selain mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, mereka memiliki tim koki (yang kemudian lebih sering disebut pantry) yang peduli terhadap kandungan gizi pada setiap masakan yang mereka masak. Tidak perlu pengetahuan yang mendalam tentang gizi ini. Saya bisa menyimpulkan hal ini dari realitas yang memang nyata. Buktinya? Menunya pun variatif. Ukuran lauknya besar-besar. Tidak jarang pula disertai dengan segelas es buah atau bahkan jus yang variatif pula. Sesekali bahkan disediakan susu dalam kemasan.

Meskipun sering dikeluhkan oleh siswa, masakan yang koki masak setiap harinya tidak pernah saya caci. Selalu nikmat di lidah dan tidak pernah membuat saya tidak berselera makan. Oleh karena itu, tidak perlu heran ketika melihat siswa SMART angkatan berapa pun ketika mereka telah menginjakkan kaki di kelas 5, kulit mereka semakin bersih, postur proporsional, dan yang pasti lebih wangi dibandingkan empat atau lima tahun yang lalu. Tidak bisa dimungkiri bahwa ada campur tangan tim koki yang peduli terhadap keseimbangan gizi para siswa. Maka, jangan pernah sungkan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Terima kasih koki! []