Perkenalan Tak Terlupakan Dengan Lima Siswa Hebat SMART

 

Oleh: M. Syafiie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan  

 

Dalam mengajar dan mendidik anak-anak SMART Ekselensia Indonesia, saya selalu menekankan aspek ibadah dan akhlak mulia. Bukan hanya karena saya dulu mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), namun memang bagi saya tujuan belajar adalah agar siswa benar dalam beribadah dan memiliki akhlak mulia. Ini selalu saya sampaikan kepada anak-anak. Anak-anak sudah paham jika pelajaran PAI, maka mereka harus mengambil air wudhu terlebih dahulu. Kemudian, sebelum pelajaran dimulai, saya mengajak anak-anak untuk berzikir dan berdoa. Mudah mudahan materi pelajaran yang dipelajari hari itu menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah.

 

“Siapa yang belum wudhu?” tanya saya satu hari ketika akan memulai pelajaran.

“Aldo dan Johan, Ustaz,” jawab Ridho menyebutkan teman-temannya yang belum berwudhu.

 

Saya memandang ke arah Aldo dan Johan. Keduanya segera menuju tempat wudhu. Rupanya mereka sudah paham dengan isyarat pandangan mata saya. Tidak lama keduanya telah kembali ke masjid (kami biasa belajar PAI di masjid) dengan wajah yang basah dengan air wudhu.

 

“Baiklah, seperti biasa kita mulai berzikir dan berdoa terlebih dahulu,” terang saya.

 

Anak-anak mulai berzikir diawali dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Lalu, berzikir kalimat tahlil seratus kali dan ditutup dengan doa sesuai hajat masing-masing. Kegiatan ini berlangsung sekitar 10-15 menit. Bagi saya, tak masalah memberikan waktu 10- 15 menit untuk melakukan kegiatan ini di awal pembelajaran karena manfaatnya yang besar.

 

Pertama kali saya memberlakukan kegiatan ini, sebagian anak-anak protes.

 

Ustaz, kenapa sih kalau pelajaran Ustaz kita harus berwudhu dulu, lalu berzikir dan berdoa?” protes beberapa anak.

“Kamu tahu kisah Imam Syafi’i yang mengadukan hafalannya yang lemah kepada gurunya, Imam Waqi’?” tanya saya.

“Belum tahu, Ustaz!” sahut mereka serempak.

 “Begini, Imam Syafi’i pernah mengadukan hafalannya yang lemah kepada Imam Waqi’ gurunya. Lalu, Imam Waqi’ menjawab, ‘Ilmu itu cahaya Allah. Dan ia tidak diberikan kepada pelaku maksiat’.”

Kalian bayangkan,” terang saya lagi, “seberapa kecilnya maksiat yang dilakukan oleh Imam Syafi’i? Tapi, beliau masih merasa hafalannya lemah. Padahal, Imam Syafi’i hafal Al- Qur`an 30 juz, 12 kitab Al Muwatha` karya Imam Malik, dan puluhan kitab lainnya. Terapi itulah yang diberikan gurunya agar Imam Syafi’i menjauhi maksiat.

“Oh, kami paham. Jadi, kita berwudhu, berzikir, dan berdoa sebelum belajar agar dosa-dosa yang kami lakukan diampuni oleh Allah sehingga ilmu yang kami pelajari dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat. Gitu kan, Ustaz?” sahut Zuhad.

Yes, that’s the point,” tegas saya.

 

Setelah menyadari penting dan manfaatnya, mereka tidak pernah protes lagi. Mereka berusaha selalu berwudhu, berzikir, dan berdoa sebelum belajar PAI. Semoga selanjutnya menjadi terbiasa untuk berwudhu, berzikir, dan berdoa setiap kali akan belajar. Awalnya dipaksa, lama-lama jadi bisa dan terbiasa, akhirnya menjadi habit dan value.

 

Cara pandang saya tentang belajar rupanya membuat beberapa anak sangat tertarik untuk mengobrol dan sharing. Beberapa anak yang cukup sering mengobrol dan sharing dengan saya adalah Fajar Sidiq, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan. Banyak hal yang mereka curhatkan kepada saya. Tapi, lebih banyak tentang masa depan, impian, dan cita-cita.

 

Fajar adalah anak yang suka berorganisasi. Ia pernah menjadi presiden OASE SMART Ekselensia Indonesia. Ia juga tertarik dengan dunia tulis-menulis. Ketika menulis Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS), saya dan seorang Ustaz bernama Andi Rahman menjadi pembimbingnya.

 

“Fajar, kamu tulis KISS-nya dengan serius. Nanti, Ustaz akan terbitkan jadi buku,” tantang saya ketika itu.

“Wah berat, Ustaz, tapi saya akan usahakan,” jawab Fajar.

“Kamu pasti bisa menulis dengan baik. Kamu akan menjadi siswa pertama yang KISS-nya diterbitkan menjadi buku,” tegas saya.

 

Alhamdulillah, Fajar berhasil menulis KISS-nya dengan baik, dan diterbitkan menjadi buku. Buku karyanya diluncurkan saat ia wisuda. Bukan hanya itu, KISS yang ditulis Fajar juga terpilih sebagai KISS terbaik tahun itu.

 

“Terima kasih kepada Ustaz Andi dan Ustaz Syafi’ie yang telah membimbing saya menulis KISS dan menerbitkannya menjadi buku,” demikian sepenggal cuplikan sambutan Fajar saat peluncuran bukunya. Fajar kini telah lulus dari Teknik Geologi Universitas Diponegoro.

 

Sandi adalah anak yang visioner. Pikirannya jauh ke depan. Pada usianya yang masih belia, ia kerap mengobrol dengan saya tentang peran pemuda dalam kebangkitan Islam. Semangat belajarnya tinggi. Sandi memiliki kemampuan menulis yang baik. Ia sering aktif dalam forum-forum kepenulisan, seperti magang di Kompas sebagai wartawan muda.

 

“Ustaz, coba Ustaz baca tulisan saya dan berikan masukan atau komentar?” ujar Sandi sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.

“Oke, tapi tidak sekarang, ya. Ustaz ada kerjaan. Insya Allah besok Ustadz kasih komentarnya,” jawab saya. Besoknya saya bertemu dengan Sandi.

 

“San, tulisan kamu sudah oke. Ustaz tantang kamu untuk menulis buku,” sahut saya.

 

“Insya Allah, Ustaz. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini karena saya mau fokus mempersiapkan diri untuk UN dan SNMPTN dulu,” jawabnya.

 

Semoga Sandi masih ingat dengan tantangan saya ini. Kini, Sandi telah lulus dari Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB).

 

Faiq adalah seorang anak yang cenderung pendiam. Cool and calm. Tapi, di balik itu potensinya luar biasa. Ia anak yang cerdas, mudah menangkap pelajaran. Adapun Zamroni, ia adalah anak yang sangat santun kepada guru dan teman-temannya. Teman-temannya menjulukinya sebagai anak yang paling saleh. Semangat belajarnya tinggi dan gigih dalam belajar.

 

Selain karena mengajar mereka, saya dekat dengan Zamroni dan Faiq karena keduanya adalah redaktur buletin Muqaddas. Saya pembimbing buletin terbitan OASE. Kami sering mengobrol dan berdiskusi menyiapkan buletin setiap kali akan terbit. Kini, Faiq telah lulus dari Teknik Elektro Universitas Indonesia, sedangkan Zamroni telah lulus dari Agrobisnis Perikanan Universitas Brawijaya.

 

Satu siswa lagi yang sering mengobrol dengan saya adalah Ikhwan. Ia adik kelas Fajar, Sandi, Faiq, dan Zamroni. Ikhwan anak yang sangat rajin. Semua tugas dari guru dikerjakannya dengan baik. Ia selalu antusias dan semangat saat belajar dan gemar membaca buku. Kini, Ikhwan kuliah di Manajemen Universitas Diponegoro. Selain berbakat dan cerdas, Fajar, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan adalah anak-anak yang baik dan rajin ibadahnya. Saya memang selalu pesankan hal ini setiap kali mereka mengobrol dengan saya.

 

“Kamu boleh kuliah di luar negeri, mengejar segudang prestasi, tapi ingatlah bahwa taat beribadah dan akhlak mulia adalah fondasinya. Jika kamu taat beribadah dan berakhlak mulia, insya Allah kamu akan diberikan kemudahan dalam meraih cita-citamu,” pesan saya.

 

Fajar, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan sangat menjaga shalat lima waktu berjamaah. Mereka juga terbiasa berpuasa Senin-Kamis. Selain itu, hafalan Al-Qur`an mereka juga cukup banyak. Mereka hafal juz 28, 29, dan 30. Bahkan Zamroni lebih banyak lagi hafalannya.

 

Menjaga ibadah dan berakhlak mulia akan menerangkan hati. Hati kita akan disinari oleh cahaya hidayah dan taufik dari Allah Swt. Jika Allah telah memberikan hidayah dan taufik-Nya, maka kita akan memperoleh kemudahan dalam menyerap ilmu dan pelajaran. Lebih dari itu, ilmu yang kita miliki akan bermanfaat dan berkah.

 

Saya berdoa untuk mereka, juga untuk anak-anak SMART lainnya, semoga senantiasa diberikan hidayah dan taufik oleh Allah sehingga memperoleh kemudahan dalam meraih cita-cita. Kemudian, menjadi manusia yang mampu menebar manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama dan lingkungannya.

 

Tak Perlu Takut, Itu Hanya Lomba

 

Ini adalah kisahku sewaktu masih mengenyam pendidikan di SMART, saat ini aku telah berkuliah di Universitas Gajam Mada (UGM), aku harap cerita ini bisa membuatmu lebih semangat untuk belajar.

 

Oleh: Muhammad Fatihkur Rafi, alumni SMART Angkatan 9 saat ini berkuliah di UGM

 

di suatu siang kami para siswa tangguh SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa ustaz pergi ke Masjid Raya Kahuripan. Kami semua sangat bersemangat walaupun harus berjalan kaki. Setelah berjalan akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Di sana ustazah yang pergi dengan naik kendaraan masing-masing telah menunggu kedatangan kami.

Sebelum Salat Zuhur dan makan siang, para siswa diminta ke lantai dua masjid. Inilah saat untuk asyik-asyikan. Ustaz Ahmad sudah mempersiapkan beberapa permainan yang akan kami mainkan per kelas. Kunci dari permainan-permainan ini adalah kerja sama tim yang baik. Permainan ini dimulai dari memindahkan bola kecil dengan menggunakan paha. Cara bermainnya adalah seluruh siswa duduk berjejer, lalu cara memindahkan bolanya dengan mengoperkannya dari satu paha ke paha yang lainnya.

Permainan selanjutnya tidak kalah seru, yaitu satu siswa dengan siswa yang lainnya per kelas harus menduduki paha temanya, dan temanya itu juga harus menduduki teman yang lainnya lagi. Permainan pun dimulai, kami saling menduduki paha teman satu dan yang lainnya. Awalnya sih biasa saja, tetapi, selang beberapa menit rasa pegal mulai merambat. Satu per satu kelompok mulai berjatuhan. Akhirnya permainan pun dihentikan dan menyisakan empat kelompok sebagai pemenangnya.

Setelah semua permainan selesai, kami melaksanakan salat berjamaah.  Lalu kami diminta mengambil nasi kotak yang telah disediakan untuk makan siang. Setelah membuka boks makanan, yang kulihat adalah… hati. Oh tidak! Dari kecil aku memang kurang menyukai jeroan. Untunglah di dalam boks masih ada buah kesukaanku, semangka. Yes, Alhamdulillah. Ternyata dibalik kekurangan ada kelebihan.

Selesai makan siang kami menunggu jemputan pulang. Sambil menunggu, aku bermain dengan teman-teman. Karena capek berdiri terus, aku pun duduk di teras dan kebetulan di samping kiriku ada Ustazah Dina dan Ustazah Iif. Saya mengobrol dengan teman di samping kanan.

Beberapa saat kemudian Ustazah Iif baru menyadari kehadiranku. “Eh ada Opick.”

“Bukannya Opick itu nama panggilan Ade Mustopic?” tanya Ustazah Dina kepada Ustadzah Iif.

“Iya, tapi Rafi di rumahnya juga dipanggil Opick,” jawab Ustazah Iif.

Ustazah Dina berseru tanda paham. Kemudian mereka mengobrol, entah membicarakan apa.

Beberapa saat kemudian obrolan kedua guruku berakhir. “Pick, siap-siap lomba ya!” Tiba-tiba Ustazah Iif berkata. “Lomba Zah?” tanyaku. “Iya,” jawab Ustazah Iif beberapa saat kemudian. Aku pun berkata dalam hati, “Yes, akhirnya lomba juga!”

Aku begitu riang. Maklumlah, dari kelas 1 sampai saat itu aku belum pernah mengikuti lomba resmi.

Beberapa hari kemudian aku diberikan contoh soal Olimpiade Matematika oleh Kak Afdhal Firman. Soalnya susah-susah juga, batinku. Ternyata yang mengikuti lomba bukan hanya aku. Ada lima orang lainnya, yaitu teman seangkatanku Ade Mustopic, dan sisanya siswa Angkatan 8, yaitu Kak Fatih, KaK Afdhal, Kak Muhib, dan Kak Dion. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Kak Fatih, Kak Afdhal; sisanya tergabung dalam kelompok kedua.

Inilah hari pertama kami mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Sekitar pukul 06.30 kami sudah siap untuk berangkat ke MAN 2 Bogor, tempat dilaksanakannya lomba. Menunggu dimulai, kami melaksanakan Salat Dhuha terlebih dahulu di Masjid Raya Bogor, kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam mengikuti lomba.

Kami kembali ke MAN 2 Bogor untuk mengikuti acara pembukaan. Setelah selesai pembukaan, para peserta  memasuki ruangan lomba yang sudah disediakan. Ruangannya cukup sederhana dengan kursi dan meja terbuat dari kayu. Juga ada kreasi siswa yang menghiasi dinding ruangan itu.

Para pengawas, yang merupakan kakak mahasiswa, mulai membagikan soal olimpiade dan juga kertas buram untuk corat-coret. Beberapa menit kemudian kami mulai membuka soal dan mengisi biodata. Berikutnya kami mulai mengerjakan soal.

Menit demi menit berlalu. Akhirnya waktu habis dan kami berhasil menjawab 14 soal dari 25 soal. Setelah itu kami langsung keluar kelas lalu melaksanakan Salat Zuhur. Setelah salat kami langsung makan di rumah makan padang sebelum akhirnya kami pulang.

Beberapa saat kemudian, kami mendapatkan informasi bahwa kami lolos ke babak selanjutnya, yaitu olimpiade tingkat provinsi di Bandung. Alhamdulillah, kelompokku lolos, namun ternyata kelompok Ade Mustopic belum berhasil lolos.

Dalam perlombaan tingkat provinsi kami menghadapi dua sekolah yang dikenal tangguh. Kami sudah berusaha keras, dan hasilnya kami meraih juara ketiga. Meskipun belum berhasil menjadi juara pertama, aku senang sekali memberikan piala untuk SMART. Itulah piala pertamaku dan piala pertama di Angkatan 9. Piala tersebut bukanlah piala pertama sekaligus piala terakhirku.

 

Cara Ini Bisa Para Guru Terapkan Agar Mengajar di Kelas Lebih Menyenangkan!

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Zah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memperhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustazah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Zah?”

“Ustazah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Zah?” para siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustazah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustazah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Zah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustazah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Zah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauh-jauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustazah jadi siswa kan? Saya minta Ustazah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together,” saya memimpin doa dalam Bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan Bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang, mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

Yuk Manfaatkan Media Sosial Sebaik-baiknya

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

Idealisme Pemuda yang Harus Kamu Tahu Sob!

Oleh: Purwoudiutomo, GM Beastudi Indonesia

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika di-list, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

Mogok Siswa Rantau

———–
Jangan Pudar
———–

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

Sebuah Pelajaran Berharga di Angkot Menuju Parung

Oleh: Muh. Ikhwanul Muslim (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)   Matahari sore bersinar malu-malu, kulirik jam di tanganku, waktu menunjukkan pukul 17.00. Aku baru saja selesai berobat di Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di Ciputat. LKC adalah lembaga kesehatan nonprofit di bawah naungan Dompet Dhuafa yang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Hujan deras mengguyur kawasan Ciputat, membuatku terpaksa berteduh di sana. Padahal, sesuai izinku, harusnya aku sudah berada di asrama pukul 17.00 tepat. Setelah aku keluar dari LKC, tak satu pun angkot 29 jurusan Parung-Ciputat yang terlihat berlalu lalang. Aku lirik jam tanganku, sudah pukul 17.30. Tidak terasa hari mulai gelap, Lampu-lampu gerobak tukang gorengan sudah menyala menunggu pengunjung yang datang ke lapaknya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ke LKC tanpa ada teman dari SMART. Alhamdulillah pertolongan dari Allah datang. Beberapa menit kemudian setelah lama menunggu, angkot 29 jurusan Parung-Ciputat tampak di jalanan Ciputat. Aku langsung bergegas naik ke dalam angkot, sembari menahan rasa dingin yang kurasakan karena bajuku basah kuyup diterjang air hujan. Di dalam angkot, aku tersadar menjadi pusat perhatian para penumpang. Mereka seakan berpikiran, “Ngapain nih anak jam segini baru pulang, mana bajunya basah lagi.” Tak kuhiraukan tatapan mereka kepadaku. Aku santai saja menikmati perjalanan. Aku melihat keluar kaca mobil angkot, terlihat genangan air membanjiri jalanan Ciputat. Kemacetan pun tak terelakkan. Aku pun harus rela menunggu angkot yang aku tumpangi keluar dari rantai kemacetan ini. Jam tanganku telah menunjukkan pukul 18.00. Setelah beberapa waktu tertidur di dalam angkot, akhirnya aku sampai di Pasar Parung. Kulihat orang-orang berlalu lalang di jalanan pasar bergegas lari dari rintik hujan. Lampu-lampu yang ada di gerobak pedagang kaki lima sangat menyilaukan mataku sehingga tanpa sadar aku salah menapakkan kaki. Sepatuku kotor terjerembab ke dalam lumpur jalanan Pasar Parung. Jalanan yang basah dan becek menyulitkan langkahku untuk terus berjalan mencari angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan juga angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Aku langsung masuk angkot. Di dalam angkot, kulihat para penumpang memasang muka kelelahan dan kedinginan. Muka yang telah membuktikan kerja keras mereka dalam bekerja mulai pagi hingga petang. Inilah kehidupan, butuh perjuangan agar tetap bertahan. Di antara deretan penumpang angkot kulihat sosok nenek tua yang menurutku sedang gelisah. Ia terus saja berbicara sendiri tanpa ada yang memberi perhatian kepadanya. Hingga akhirnya ia membuka percakapan denganku. “Nak, sekolah di mana?” Tanya si nenek kepadaku. “SMART Ekselensia Indonesia, Nek.” Jawabku dengan nada polos. “Nak, Nenek ini sekarang hidup sendiri,” ujar si nenek kepadaku dengan nada sedih. “Hmm….” Ujarku dengan santai. Detik berikutnya, aku hanya bisa diam tanpa dapat berkata-kata. Mukaku tertunduk hanya bisa mendengarkan cerita nenek itu. Ia terus saja berbincang denganku. Para penumpang tak acuh dengan yang diceritakannya. Hanya aku yang merasa simpati dengan apa yang terjadi pada si nenek. “Nak, Nenek baru habis jatuh. Lutut Nenek luka. Nenek udah enggak punya siapa-siapa lagi. Anak-anak Nenek udah pada nikah. Setiap kali anak Nenek yang pertama datang ke rumah, kerjaannya marah-marahin nenek terus. Dipukullah, ditendanglah. Nenek enggak pernah dikasih duit sama mereka.”Nenek kalau mau makan ngarepin dari tetangga. Di rumah itu kadang ada makanan, kadang enggak ada. Anak-anak Nenek itu udah enggak pernah jenguk lagi. Cuma si anak yang pertama yang sering ke rumah. Itu pun niatnya mau ngusir Nenek dari rumah. Katanya, rumah Nenek mau dijual buat kepentingan dia. Sekarang saja Nenek cuma punya uang dua ribu buat pulang. Enggak ada uang lagi buat makan.” Nenek itu berkata dengan nada penuh kecewa. “Memangnya rumah Nenek di mana?” Tanya salah satu penumpang. “Jampang, Pak. Tolong, Pak bantuin Nenek. Nenek lagi kena musibah,” pinta nenek itu dengan rasa sedih. “Iya… Iya. Sekarang Nenek pegang saja itu uang dua ribu. Biarin Bapak saja yang bayar ongkos pulang Nenek,” kata si penumpang yang bertanya tadi. “Makasih, makasih, Pak. Nenek udah enggak punya uang lagi.” Nenek itu tampak bungah. “Iya… Iya… udah nenek tenang saja,”ujar si penumpang. Aku hanya bisa kembali diam. Duduk termangu mendengarkan penuturan nenek tua itu. Tapi, nenek itu mengajakku berbincang. “Nak, pamali kan durhaka sama orangtua?” tanyanya kepadaku. “Iya, Nek,” jawabku dengan singkat. “Itu si Sinyo kerjaannya marah-marah terus sama Nenek. Nenek doain kalau hidupnya melarat. Doanya ibu kepada anaknya itu bener kan ya, Nak?” “Iya, Nek,” ujarku dengan rasa was-was. Begitu kecewanya si nenek terhadap anak-anaknya hingga ia mendoakan anaknya dengan doa yang tidak baik. Setahuku, doa ibu itu paling mujarab mengingat berkat jasanyalah kita dapat hidup di dunia ini. Tidak sepatutnya kita melecehkan kehidupannya. Kita harus tetap memerhatikannya walaupun sudah berkeluarga. Perlahan-lahan aku mulai melihat bangunan kokoh berwarna hijau yang terpampang jelas di mataku. Akhirnya aku telah sampai di kampus SMART Ekselensia Indonesia. Aku pun pamit kepada si nenek. “Nek, aku pamit dulu ya.” “Iya. Nenek pesen: jangan pernah durhaka sama orangtua ya.” Aku pun langsung memberikan kode kepada supir angkot untuk berhenti. Setelah itu aku membayar ongkos. Lantas, aku masuk ke lingkungan SMART. Kulirik lagi jam tanganku: pukul 19.15. Aku belum Salat Magrib. Aku pun bergegas ke masjid dan langsung menunaikannya. Setelah salat, sejenak aku memikirkan ungkapan hati nenek di angkot tadi. Ia begitu kecewa dengan perbuatan anak-anaknya. Ini menjadi perjalanan kehidupanku. Aku harus berpikir kembali, untuk apa aku hidup dan dedikasi apa yang harus aku torehkan sebelum nantinya aku meninggalkan dunia ini. Pertemuan dengan nenek tadi menjadi cambuk semangatku untuk menghargai hasil jerih payah seorang ibu sekaligus pemicu semangatku untuk menatap masa depan yang lebih indah. Jangan sampai kita menjadi hamba Allah yang kufur nikmat yang tak menghargai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Yang terjadi pada si nenek di angkot menjadi pelajaran dan petuah kehidupan bagi diriku khususnya dalam bersungguh-sungguh menjalani hidup ini. []  

Kuncupku di Pojok SMART

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

Malam yang bunga
Jejak bulan di angkasa

Sekuntum bintang kecil
Seharum kerlip kantil

Di sini, tinggal mata menuju tua
Di sini, kuncup rindu senyap di dada

Way Halim, 2017

SMART Bagaikan Peta

Oleh: Wayan Muhammad Yusuf

Alumni SMART Angkatan 8 berkuliah di Universitas Brawijaya

 

 

Asrama. Sekolah. Asrama. Sekolah. Asarama lagi. Sekolah lagi. Yah begitulah keseharian kami di SMART Ekselensia Indonesia. Dikatakan bosan, gak juga. Tapi dibilang gak bosan, namun tak dapat digambarkan. Hampir lima tahun saya berada di SMART, selama di sini saya cukup mengerti arti jauh dari keluarga dan arti “terkekang” dalam aturan. Di tulisan ini saya tak akan bercerita tentang suka duka selama di SMART atau suka duka ketika jauh dari keluarga, melainkan tentang peta. Hah? Peta? Hubungannya apa coba? Ada, pasti ada.

 

Saya teringat cerita seorang guru, kata-katanya yang paling saya ingat adalah: “Nasihat (aturan) itu ibarat sebuah peta”. Tuh kan ada hubungannya sama peta. Lalu maksudnya bagaimana? Begini, SMART itu tak seperti sekolah lain pada umumnya dan kami yang ada di sini bisa dikatakan tidak seperti anak-anak di luar pada umumnya. Di sini kami harus taat pada aturan ini dan aturan itu. Terus kalo tak taat aturan dihukum? Paling dibotaki dan ujung-ujungnya dikeluarkan dari SMART. Eh lupa kok malah dijawab duluan. Saya lanjutkan dulu ya pesan guru saya: “Mungkin saat ini orang yang kita nasihati tidak mengikutinya. Ibarat orang akan terus berjalan tidak pada tempatnya, tapi apa yang membedakan antara orang yang dinasihati dan yang tidak? Bedanya –kalau misalnya- orang yang diberi peta ingin selalu berjalan pada tempatnya dan menjadi lebih baik, maka dia hanya perlu melihat peta tersebut. Berbeda dengan orang yang tak mempunyai peta, dia pasti bingung untuk mengambil jalan yang mana jika ia ingin berubah haluan.

 

Benar gak? Masih belum percaya? Saya paparkan beberapa pengalaman saya ya, saya mengenal seorang teman di SMART EI, di akhir semester ia menyatakan ingin berubah dan memutuskan untuk menghafal beberapa juz Al-Quran. Lalu kenapa dia memilih untuk menghafal Al-Quran? Jawabannya karena ia ingat nasihat yang disampaikan guru Al-Qurannya tentang keutamaan menghafal Quran, Quran itu diibaratkan peta yang akan membimbing kita semua ke jalan yang lebih baik. Dengan Quran juga kita takkan mudah tersesat karena Quran akan selalu memandu kita.

 

Sekarang sudah mengerti dong korelasi antara nasihat dengan peta? Di SMART mereka yang menurut akan aturan merupakan orang-orang yang mengikuti peta, mereka ingin menjadi lebih baik dan baik lagi walau mungkin terbersit perasaan jenuh. Sedangkan mereka yang dibotaki atau bahkan dikeluarkan dari SMART merupakan orang-orang yang tidak mengikuti atau bahkan menolak menggunakan peta.

 

Nah untuk adik-adik kelas saya di SMART, SMART bukanlah penjara; aturannya juga bukanlah kungkungan, walaupun terkadang aturannya terkesan “memaksa” namun dari sanalah kalian akan mampu untuk menggambarkan petamu sendiri walau mungkin saat ini kalian tidak mengerti, namun di masa depan pastilah sangat berguna.

Teruntuk Para Ibu, Terima Kasih

Ibu, terima kasih telah menjadi oase di kehidupanku yang gersang.
Ibu, terima kasih atas kesabaranmu yang seluas samudera.
Ibu, terima kasih telah mengajarkanku banyak hal yang menghebatkan.
Ibu, terima kasih sudah membersamaiku di saat susah maupun senang.
Ibu, terima kasih atas doa-doa baik yang kau panjatkan.
Ibu, terima kasih untuk kasih sayang tak terhingga.
Ibu, engkaulah bidadariku.
_________________________
Selamat Hari Ibu, teruntuk para ibu hebat di mana pun.