Sob kamu pasti tahu deh kalau Rasulullah adalah contoh sosok motivator yang dapat menjalankan perannya sebagai Rasul, kepala keluarga, pedagang, dan guru bagi umat Muslim tanpa menomorduakan salah satunya, maka patut jika kita menjadikan beliau sebagai motivator dalam beribadah. Allah senantiasa dekat dengan para hamba-Nya, Allah memberi petunjuk bagi hamba-Nya yang beriman pada-Nya, Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa yakin dalam menjalani hidup dan yakin akan kehidupan di akhirat nanti, berikut 17 Ayat Alquran tentang motivasi : 1. QS At Taubah : 40 “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah selalu bersama kita”. Ketika menghadapi suatu ujian, tak perlu bersedih hati, kebahagiaan dan kesedihan kadang datang silih berganti tergantung bagaimana kita menghadapinya dan mengambil pelajaran darinya. Kembalikan segalanya pada sang pencipta bahwa segala yang terjadi adalah ketetapan yang terbaik dari-Nya. 2. QS Al Baqarah : 155 – 156 “Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar, yaitu yang ketika ditimpa musibah mereka mengucapkan : sungguh kita semua ini milik Allah dan sungguh kepada-Nya lah kita kembali”.  Sabar bukan hal yang mustahil untuk dimiliki semua mukmin, ketika ditimpa suatu ujian kadang kita menyalahkan diri sendiri atau bahkan menyalahkan takdir. Ingatlah bahwa segala ujian pasti ada hikmah di dalamnya. 3. QS Yusuf : 87 “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah melainkan orang orang yang kufur”.  Harapan selalu ada bagi orang yang percaya, hadapi setiap tantangan dalam hidup dengan niat mencari ridho-Nya, lakukan usaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan disertai dengan doa. bahaya putus asa dalam Islam sudah jelas di dalam Alquran, berarti ia bukan termasuk golongan orang beriman. “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu berharap”. Orang mukmin senantiasa berharap hanya kepada Allah, bukan kepada orang lain atau berbangga diri berharap sepenuhnya dari diri sendiri. Dalam setiap kepentingan hendaknya melibatkan Allah dengan memohon kemudahan dan keberkahan dari-Nya. 5. QS Al Mukmin : 60Berdoalah kepada ku pastilah aku kabulkan untukmu”. Setiap kali memiliki hajat atau menginginkan sesuatu hendaknya mengusahakan dengan sungguh sungguh dan meminta pada Allah untuk mengabulkan hajat anda. Allah senang pada hamba-Nya yang senantiasa berdoa, karena doa menghubungkan langsung antara seorang hamba dengan Allah. 6. QS Al Imran : 139Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman”. Tidak diperkenankan senantiasa memandang diri sebagai orang yang buruk atau penuh kekurangan, setiap manusia mendapat anugrah dari Allah berupa kelebihan dan kelemahan masing masing. Berpikir negatif terhadap diri sendiri menandakan kurang nya rasa syukur. Maksimalkan kelebihan yang Haqers punya untuk kebaikan dan jadikan kekurangan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri. 7. QS Al Baqarah : 186Hendaknya mereka memenuhi perintah Ku dan hendaklah mereka yakin kepada Ku agar selalu berada dalam kebenaran”.  Ikuti perintah Allah dan syariat Islam dalam kehidupan sehari hari agar anda berada pada jalan yang lurus, senantiasa yakin kepada Allah bahwa setiap insan yang diciptakan memiliki peran dan bermanfaat untuk orang lain. 8. QS Al Baqarah : 286Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya”. Jelas sekali dalam firman tersebut Allah senantiasa mengasihi hamba-Nya, tidak akan diberikan ujian jika hamba-Nya tidak sanggup melewati. Karena itu tidak selayaknya kita berputus asa dalam menghadapi segala tantangan hidup. 9. QS. Al Imraan : 200Bersabarlah kamu dan kuatkkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu menang”. Allah memerintahkan kepada orang orang beriman untuk senantiasa berusaha dalam kesabaran dan keyakinan. keutamaan sabar dalam Islam memang sangat dianjurkan. 10. QS. Al Insyirah : 5 “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Jika seorang hamba menghadapi sebuah ujian dan menghadapinya dengan ikhtiar dan doa serta dalam kesabaran, maka Allah akan menunjukkan baginya petunjuk berupa jalan keluar atau kemudahan atas kesulitan yang dialaminya, seusai dari selesainya ujian tersebut akan lebih menguatkan tingkat keimanannya.   Demikian pembahasan tentang ayat Alquran yang mengandung motivasi, amalkan setiap ayat tersebut dalam kehidupan sehar hari agar kita senantiasa memiliki motivasi untuk memperbaiki diri dan menjadi manusia dengan kualitas keimanan yang lebih baik. Sampai bertemu lagi di artikel selanjutnya dan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel saya ini. Sekian semoga bermanfaat.

Cuma di SMART Aku Bisa Belajar Banyak

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, Undip Jurusan Sastra Indonesia 2017

 

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

 

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama 5 tahun untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

 

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada

disekitarku.

 

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan. Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan oleh SMART kepadaku. Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

 

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

 

Berada di SMART selama 4 tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

 

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Al-Quran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadits tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Jampang mengaji salah satu cara agar aku dapat mengajarkan ilmu yang telah aku dapat kepada anak-anak disekitar Jampang dengan memberikan mereka pengetahuan tentang Al-Quran dengan baik dan benar.

 

Pada program Jampang Mengaji aku ditunjuk menjadi koordinator selama enam bulan atau satu semester. Menjadi koodinator sekaligus pengajar Jampang Mengaji membuatku senang karena dengan begitu aku dapat menyebarkan ilmu yang telah didapat dari SMART kepada anak-anak disekitar Jampang.

 

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat melihat para peserta Jampang Mengaji  bersemangat dalam mempelajari  ilmu Al-Quran. Tentunya para pengajar merasa senang, terutama aku sebagai koordinator Jampang Mengaji. Saat para peserta mengaji dengan sungguh-sungguh dan ceria, bahkan ada beberapa peserta Jampang Mengaji yang sudah datang ke SMART pukul 14:00 WIB padahal kegiatan baru dimulai setelah Asar.

 

Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain.  Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika,fisika,bahasa, biologi atau yang lain seperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

 

 

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu.

 

Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

 

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar.  Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

 

Duta Gemari Baca ini bertugas untuk menyebarkan informasi  tentang literasi kepada semua orang dan mengajak orang lain untuk senang membaca. Aku sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian dari Duta Gemari Baca yang dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Menjadi Duta Gemari Baca membuatku merasa menjadi orang yang berguna untuk mengajak orang lain mengenal dan menyukai literasi.

 

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di Desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

 

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

 

Memang Kenapa Kalau Jones? Bangga Dong!

Oleh: Reza Bagus

Alumni SMART Angkatan 9 berkuliah di UGM Jurusan Sosiatri 2017

Sendirian, kepanasan, kehujanan, ketiduran, kelaparan, semua aktivitas jomblo itu sudah biasa bagiku. Aku sudah menjomblo sekitar…. Berapa abad ya??? Eh salah berapa tahun ya? Hmm saking lamanya aku sampai lupa.

Aku menjomblo karena aku memang jomblo. Jadi, dulu waktu aku  kudet (kurang update) dan nggak tahu apa itu jomblo, teman-temanku banyak yang ngomongin tentang jomblo. Aku pun mulai bingung. Jomblo itu kantong kresek jenis apa ya? Dijual di pasar nggak? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bermunculan di kepalaku dan datang nggak bilang-bilang dan ngilang-ngilang.

Aku semakin bingung setelah mendengar kalau ternyata jomblo itu ada berbagai macam jenis. Ada jomblo petualang, ada jomblo ngenes, ada jomblo kaleng (ini kok malah kayak banci kaleng ya? ataukah ini jomblo yang suka ngumpulin kaleng?), ada jomblo kritis (mungkin kelamaan menjomblo), ada juga jomblo dramatis (suka mendramatisir keadaan), dan jomblo fisabilillah alias jomblo bukan karena nasib melainkan prinsip.

Aku yang semakin penasaran akhirnya nanya ke teman yang cudet (celalu update) perihal jomblo-menjomblo ini, namanya Irvan.

“Eh, Pan. Jomblo itu apa sih? Kantong kresek bukan?”tanyaku.

“Hahaha… Hari gini, nggak tahu apa itu jomblo? Jomblo itu nggak punya pacar! Persis deh kayak kamu gitu,.” jawabnya.

Akupun sempat nanya ke beberapa teman lain. Akhirnya,  dapat disimpulkan bahwa kalau jomblo itu selalu nyesek kerjaannya. Ngeliat cowok sama cewek berduaan, nyesek. Ngeliat cewek sama cewek berduaan, nyesek. Ngeliat sendal sepasang, nyesek. Ngeliat orang lain nyesek, nyesek juga.

Gitu doang??? Ah, itu sih gampang. Aku sudah terbiasa sendiri. Secara mental, fisik, serta matematis, aku siap jadi jomblo. Beberapa bulan kemudian, cobaan itu mulai datang silih berganti, dari kanan dan kiri, dari sana dan sini, dari sekarang dan tadi, pokoknya dari-dari lah.

Cobaan pertama. Waktu itu aku lagi jalan kaki, jalan sambil Ngeliatin kaki, sambil bilang, “Ini kaki, yaa?” Tiba-tiba aku melewati sebuah warung. Di dalamnya ada cowok dan cewek, kayaknya mereka lagi pacaran. Aku perhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata mereka sedang suap-suapan. Sontak seperti ada anak panah yang nyucuk dada aku, JLEB!!!

Cobaan kedua. Waktu itu aku lagi di taman, duduk, sendirian di kursi goyang. Aku rasa tempat ini adalah tempat penyiksaan jomblo. Dikit-dikit ada orang berduaan dan dikit-dikit ada orang pegangan tangan. JLEB level 2

Cobaan ketiga. Aku sedang berjalan di sebuah kompleks. Aku melewati sebuah danau. Di sana ada banyak sekali pasangan berdua-duaan, dan mereka nampak sedang bercumbu. Miris

Aku akhirnya sadar, kalo jadi jomblo itu nggak mudah, nggak gampang. Aku pun masuk ke dalam tahap galau karena status kejombloanku. Aku sedikit sedih, tapi rasa lapar lebih banyak menghampiri, akhirnya aku berniat membeli bakso untuk menghilangkan kesedihan. Sesampainya di kedai penjual nbakso, aku langsung memesan bakso seporsi.

“Mang, bakso satu porsi, nggak pake lama ya mang,” ucapku mantap penuh rasa lapar.

“Ini, Mas. Baksonya, 10.000 aja,” kata mamang penjual bakso.

Setelah selesai makan, kubuka dompetku untuk membayar. Di sana, nampak foto kedua orangtuaku sedang tersenyum manis, semanis madu. Melihat senyum mereka aku tersadar kalau aku sudah terlalu berlebihan meratapi nasibku sebagai seorang jomblo. Aku juga terlau berlebihan karena selalu mencari ‘orang yang akan memberikanku kebahagiaan’ sementara itu semua bisa kudapatkan dari orangtua yang telah membesarkanku selama ini, merekalah yang seharusnya aku bahagiakan, merekalah seumber kebahagiaanku.

Orangtuaku menginginkanku belajar dengan baik, jadi orang yang baik, dan taat agama. Pacaran? Sama sekali nggak ada di agama Islam. Aku akan menjadi orang paling berdosa kalau sampai membuat kedua senyum itu berubah menjadi cemberut tanda kecewa, apalagi tangisan. Akhirnya aku memutuskan, aku akan jadi JONES, bukan jomblo ngenes, tapi jomblo happiness. No khalwat, until akad. Satu-satunya alasanku menjomblo adalah kedua orangtuaku, aku belum bisa membahagiakan mereka, tak pantas rasanya berbuat macam-macm. So, you can call me JONES. Tapi, sebenernya sih aku bukan jomblo, tapi single. Karena single itu prinsip, sedangkan jomblo itu nasib.

Sovb, menulis adalah menuangkan gagasan, pikiran dan ide ke dalam sebuah tulisan. Banyak orang sebenarnya memiliki gagasan dan keinginan untuk menulis, namun terasa sulit ketika hendak menuangkan ke dalam tulisan. Banyak orang yang mengatakan menulis itu membutuhkan talenta. Ada lagi yang mengatakan bahwa menulis itu diperuntukkan bagi orang yang berpendidikan atau setidaknya telah mengenyam perguruan tinggi. Pernyataan ini mungkin wajar mengingat mahasiswa sudah terlalu kenyang disuguhi tugas membuat karya tulis ilmiah, tugas akhir skripsi, tesis maupun disertasi. Melalui karya tulis, mahasiswa belajar mengemas hasil penelitiannya untuk kemudian dapat dipublikasikan. Tentunya hal ini mengajarkan mahasiswa untuk menyusun sebuah karya tulis secara logis dan sistematis.

 

Menulis sebenarnya tidak mesti memiliki latar belakang perguruan tinggi. Kalau kita sadari, sejak bangku sekolah dasar kita sudah diajarkan untuk mengarang, Faktanya, tidak sedikit penulis terkenal yang mampu menghasilkan karya dalam usia yang sangat muda. Sebut saja Nadia Shafianarahma, gadis cilik kelahiran Yogyakarta tahun 2004 memilih terjun ke dunia sastra sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD. Nadia berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi di dunia internasional pada tahun 2015 silam. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan, bahkan di usianya yang masih belia yakni 11 tahun.

 

Secara umum, menulis bukanlah pekerjaan yang harus memiliki pendidikan khusus. Tidak perlu embel-embel lulusan perguruan tinggi untuk bisa menulis. Meskipun demikian bukan berarti menulis itu tidak ada teorinya. Ada tekniknya. Makanya banyak sekali kursus atau kelas menulis yang mengajarkan kiat-kiat dan teknik menulis; ataupun komunitas penulis yang saling berbagi pengalaman menulisnya. Intinya menulis itu merupakan ilmu yang bisa dipelajari. Menulis itu adalah talent learned, bakat yang bisa dipelajari. Pilihan kata learned disini sama dengan istilah lifelong learning artinya belajar sepanjang hayat, seumur hidup tidak ada batasnya. Inilah kenyataannya.

 

Sayangnya masih banyak orang yang berpikir bahwa menulis itu merupakan pekerjaan yang sulit. Padahal menulis itu ibarat bernafas, salah satu jargon yang melekat pada penulis terkenal Cahyadi Takariawan lewat tulisannya “Agar menulis semudah bernafas” (Cahyadi, 2017). Bernafas merupakan suatu proses menghirup oksigen dari udara bebas (inspirasi) dan mengeluarkan karbondioksida dari dalam tubuh (ekspirasi). Dalam ilmu kedokteran, secara normal bayi yang baru lahir akan bernafas 40-60 kali/menit sementara orang dewasa mempunyai frekuensi bernafas 12-20 kali/menit. Pertanyaan apakah seorang bayi yang baru lahir “berpikir” untuk bernafas? Dalam keadaan normal, usaha bernafas hanya memerlukan 3% dari pemakaian energi total. Dengan kata lain, bernafas bisa dikatakan effortless.

 

Bernafas itu mudah karena kita tidak perlu berpikir untuk bernafas. Seperti bernafas, menulis akan menjadi sulit kalau kita mulai berpikir. Misalnya terbersit dalam hati apakah tulisan saya sudah bagus atau pilihan kosa kata sudah tepat? Menulis adalah menuangkan pemikiran kita bak mengalir seperti air. Menulis itu tidak ada urusannya dengan kualitas tulisan. Kita sering kali mencampur-adukan tugas menulis dengan mengedit (menyunting). Mengedit adalah pekerjaan yang sulit karena perlu berpikir, kehati-hatian, dan ketelitian sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengedit lebih lama daripada menulis. Mengapa? Ada banyak sekali yang harus diedit mulai dari substansi (isi), gaya bahasa, kosa kata, paragraf, sistematika, tanda baca, dll Jadi mengedit jelas membutuhkan keahlian khusus selain kecermatan dan kesabaran. Makanya penulis dan editor adalah dua profesi yang berbeda. Seorang editor berperan untuk memastikan hanya tulisan berkualitas yang layak untuk diterbitkan.

 

Jadi jika kita menulis sembari mengedit maka kita akan lama menyelesaikan tulisan kita karena akan mudah lelah. Bahkan mengedit dapat menganggu proses penulisan. Tulisan tidak akan selesai tepat pada waktunya karena kita kehabisan ide dan tenaga. Jadi agar menulis itu dianggap semudah bernafas maka kita harus memisahkan antara pekerjaan menulis dan mengedit. Berkonsentrasilah hanya untuk menulis, tidak perlu berpikir dan cukup tuliskan secara alami. Biarkan kesulitan itu terkumpul dan bertumpu pada proses editing selanjutnya. (Dikutip dari website warstek.com)

 

Daftar Pustaka:

 

 

 

Oleh: Johan FJR, Alumni SMART Angkatan 7, bekerja di NGO Lingkungan Hidup

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI. Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu. Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI. Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4. “Gantian woi!” Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang. Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti. Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci. “Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?” “Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.” Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata! “Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …” Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau. “ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ” Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana? “ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ” … nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA! “NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah! “NAMAKU JUGA!” ujar Rofi Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?’ Kami berdua mengerubungi bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe. Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Al-Qur’an. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau. Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa. Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:

1. Ilmu Komunikasi UI Yap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura.

2. Sosiatri UGM Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari

3. Jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe. 3. Jurnalistik Unpad Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART  dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.

Saatnya KolaborAksi Tingkatkan Kualitas Pendidikan Anak Negeri bersama LPI DD

Masalah pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Saatnya aku, kamu, aksi berkolaboraksi membangun Indonesia lebih baik dalam perspektif strategis agar terwujud pendidikan berkualitas untuk anak negeri.

Lembaga Pengembangan Insani (LPI DD) mengundang Sahabat Pendidikan dalam Public Expose dan Education Outlook 2022 bertema “EduAction: KolaborAksi Tingkatkan Kualitas Pendidikan Anak Negeri” yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal: Jumat/28 Januari 2022
Waktu : 18.30 – 21.00 Wib
Tempat : CoHive 101 Kuningan Jakarta dan kanal Youtube, IG LPI DD

Selain membangun sinergi dan kolaboraksi, Sahabat Pendidikan juga akan kami ajak berdiskusi dengan narasumber kompeten di bidangnya, antara lain:
1. Dr. Iwan Syahril, Ph.D., Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
2. Dr. Mukhamad Najib, Dosen IPB serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Australia;
3. Budi Sugandi, Ketua Komisi Pendidikan PPI Dunia serta Co-Founder dan CEO Klinikcoaching.com;
4. Ust. Ahmad Shonhaji, Direktur Dakwah, Budaya, dan Pelayanan Masyarakat Dompet Dhuafa;
5. Mulyadi Saputra, Kepala LPI DD;
6. M. Syafi’ie El Bantanie, Kepala LPI DD Periode 2017-2021.

Acara ini GRATIS! Segera daftarkan diri melalui pranala berikut: https://loket.com/event/lpidd.

Untuk informasi lebih lengkap sila menghubungi narahubung kami di nomor 081288338840 (hanya WA).

 

Oleh: Dede Iwanah

Badannya ramping, mungkin paling ramping di kelas atau bahkan angkatannya kala itu. Rona wajahnya suram, entah bakat alam atau sekadar untuk memperdaya para lawan bicara. Bisa swafoto dengan senyumnya adalah sebuah hal langka. Tutur kata dan gesturnya hampir berbanding lurus dengan ekspresinya. Tobi, itulah namanya. Ia adalah salah satu siswa kelas cerdas istimewa di SMART Ekselensia Indonesia. Kini, Tobi telah mendahului kami semua, ia telah berpulang ke Rahmatullah beberapa tahun lalu.

Adapun Icha, tampak kontras dengan Tobi Ifanda Putra. Ia senantiasa memberikan senyuman dan sapaan kepada setiap insan. Pipinya tembam apalagi saat tertawa. Gemas sekali melihatnya. Ia pun tidak sungkan menyapa orang yang baru dilihatnya. Tidak jelas memang ucapannya, namun semua memakluminya. Ya, maklumlah karena Icha hanyalah seorang balita. Tiga tahun usianya.

Tobi adalah anak didik umi*, sedangkan Icha adalah anak kandung umi. Bukan tanpa maksud umi menyandingkan keduanya di pelaminan, eh, di dalam tulisan maksud umi.

Icha, putri bungsu umi, kini tidak bisa jauh dari tempat umi bekerja. Ia kini belajar, bermain, dan beraktivitas di day care Bumi Pengembangan Insani. Ini adalah sebuah program baru yang berada di Lembaga Pengembangan Insani, sebuah program yang sangat membantu para karyawan yang memiliki putra atau putri yang masih harus mendapatkan perhatian ekstra.

Icha dan Hira menjadi peserta perdana program tersebut. Dua balita cantik, aktif, cerdas, dan menggemaskan, terutama bagian pipi mereka tentu saja. Icha telah beberapa kali berganti pengasuh sehingga cukup mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Terkadang tidak sulit bagi Icha untuk menunjukkan rasa sayang kepada pengasuhnya. Akan tetapi, beberapa kali Icha pun kesulitan untuk dekat dengan pengasuh lainnya meski sang pengasuh sudah menjaga Icha dalam durasi cukup lama. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada jalan lain selain mencari pengasuh baru. Mungkin benar apa kata orang, anak kecil tidak bisa berbohong, dia bisa merasakan kasih sayang dan ketulusan hati seseorang.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Waktunya Icha pulang belajar dari day care, tempatnya belajar. Akan tetapi, karena sore itu umi harus mengikuti rapat di kantor, Icha pun harus turut serta dalam rapat tersebut. Tak lama berselang, Icha merasa bosan dan memutuskan bermain dengan Hira yang juga turut menunggu bundanya yang sedang rapat. Akhirnya, umi mengantar Icha menemui Hira di Pusat Sumber Belajar (PSB). Sesampainya di sana, Icha menemukan Hira sedang bermain dengan kak Tobi. Melihat wajah kak Tobi, Icha pun urung mendatangi Hira dan sang lelaki asing.

Tidak lama duduk bersama Umi, lagi-lagi Icha merasa bosan dan keluar ruangan tanpa ucapan. Beberapa waktu kemudian, Bunda Hira menyampaikan bahwa Icha sudah bergabung dengan Hira dan kak Tobi menjadi tiga sekawan. Awalnya umi heran, namun rasa tersebut terlupakan saat Hira tersenyum menawan. Setelah rapat selesai, akhirnya Icha pamit kepada Hira dan kak Tobi untuk pulang.

Keesokan harinya, Icha belajar kembali di PSB dan bertemu dengan kak Tobi untuk kali kedua. Sesekali terlihat Icha berusaha merebut hati kak Tobi dari Hira. Tampaknya konflik dan intrik akan segera terjadi di antara mereka bertiga. Hira yang telah menganggap Kak Tobi bagaikan kakak kandungnya, tentu tak rela kehilangan kasih sayang sang kakak. Icha, sebagai seorang balita, tentu ingin menunjukkan egonya. Ia ingin juga mendapatkan hati Tobi Ifanda Putra. Sungguh kisah drama yang adiwarna.

Entah dengan ilmu apa, entah dengan teori siapa, Tobi bisa menyatukan hati Hira dan Icha. Kini mereka menjadi trio tak terpisahkan. Trio unik dan nyentrik yang terdiri seorang remaja dan dua orang balita.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, sudah waktunya Icha dan Hira pulang. Mereka berdua bersiap-siap untuk segera pulang. Dan, di saat itu juga, Icha melihat kak Tobi dengan kakak lainnya menuju lapangan futsal SMART Ekselensia Indonesia. Drama kembali terjadi. Icha seolah tak ikhlas memalingkan pandangan dari kak Tobi. Icha ingin menyaksikan bagaimana perjuangan Kak Tobi saat beradu fisik dan strategi di lapangan futsal hingga tiga puluh menit beranjak dari pukul 16.00.

Sampai pukul 16.30, Icha tetap tidak mau beranjak dari duduknya. Berkali-kali umi berhitung memberikan kesempatan Icha menonton permainan futsal, namun usaha itu selalu gagal. Icha tetap tidak mau pulang.

Mulut kecilnya berujar bahwa Icha hanya mau pulang jika diantar kak Tobi! Seketika itu umi terkaget bukan kepalang. Umi pun kemudian berusaha memberikan pengertian bahwa kaka Tobi sedang bermain, tidak bisa mengantar Icha pulang. Usaha umi kembali gagal sehingga umi meminta tolong kepada seorang kakak yang berada dekat tempat Icha duduk untuk menyampaikan permintaan Icha kepada kak Tobi nan cemerlang.

Untuk beberapa saat, kak Tobi tidak memenuhi permintaan Icha karena sedang asyik bermain futsal. Icha terlihat sedih sekali. Air hangat seolah akan segera meleleh dari mata sayunya. Kekecewaan nyaris saja menghinggapi dirinya. Namun, tidak beberapa lama kemudian, sang pahlawan pun datang. Akhirnya, kak Tobi keluar lapangan dan memenuhi permintaan dan mengantar Icha pulang. Tidak sampai rumah memang. Sampai parkir motor pun sudah membuat Hira senang. Icha dan kak Tobi pun harus mengucapkan salam perpisahan di sore hari yang mendung dan cukup kelam.

Sejak hari itu, berbagai pertanyaan timbul di benak saya. Entah mengapa Hira dan Icha begitu nyaman bermain dengan seorang Tobi Ifanda Putra. Bukan karena fisik pastinya. Bukan juga karena harta tentu saja. Mungkin hanya ketulusan hati anak-anak kecil itu yang bisa menjawabnya.

Di balik wajahnya yang (maaf) suram dan kelam itu, ternyata seorang Tobi memiliki hati istimewa. Hati yang mungkin tidak dimiliki orang lain yang berpenampilan lebih wah. Tobi memiliki kekayaan dan ketulusan hati untuk mencintai anak-anak kecil yang manja. Ia tulus, tanpa meminta apa-apa. Sorot mata Tobi menunjukkan betapa ikhlasnya saat ia bersama Hira dan Icha. Pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak peraih beasiswa Dompet Dhuafa Pendidikan. Darinya, kita belajar bahwa penampian fisik bukanlah segalanya, darinya kami belajar keikhlasan. Terima kasih, Tobi Ifanda Putra.

Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, aamiin.

 

*umi merupakan panggilan sayang siswa SMART, anak, dan suami kepada ibu Dede (red.)

 

Oleh: Andi Ahmadi, Koordinator Sekolah Literasi Indonesia, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Jika ditanya siapa guru yang paling berpengaruh terhadap kehidupan saya saat ini, maka ia adalah Bu Titah Nurjannah, guru saya sewaktu SD dulu. Sosoknya begitu membekas di hati, bukan hanya karena kecerdasannya, melainkan juga karena kewibawaan dan keteladanannya.

***

Pada masa awal kemerdekaan hingga awal tahun 2000-an, guru adalah sosok yang begitu mulia dan diagungkan, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Di sekolah, guru begitu dihormati dan menjadi teladan bagi murid-muridnya, sedangkan di lingkungan masyarakat guru menjadi rujukan, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun pemikiran.

Posisi guru yang begitu agung tersebut bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, guru pada saat itu sangatlah menjadi panutan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Slogan “Guru; digugu dan ditiru” benar-benar melekat pada dirinya, bukan sekadar ungkapan tanpa makna. Bahkan masyarakat tidak akan melihat mata pelajaran apa yang diampu oleh guru tersebut, asalkan dia adalah seorang guru maka masyarakat akan sepakat bahwa ia bisa diandalkan.

Namun, dewasa ini slogan digugu dan ditiru perlahan mulai luntur dari diri sebagian besar guru di negeri ini.  Tidak sedikit dari mereka yang dalam menjalankan profesinya hanya sebatas untuk menggugurkan tugas, dan terjebak pada rutinitas mengajar yang kadang minim akan pemaknaan.

Ungkapan guru sebagai orang yang bisa digugu dan ditiru maknanya amatlah dalam. Digugu memiliki arti dipercaya atau dipatuhi, sedangkan ditiru berarti diikuti atau diteladani. Sudah sepatutnya seorang guru memiliki dua hal tersebut. Segala penyampaian dari guru haruslah sebuah kebenaran yang menumbuhkan keyakinan kepada setiap yang mendengarnya, dan segala tingkah lakunya haruslah menjadi contoh bagi setiap yang melihatnya.

Kemampuan guru untuk bisa digugu dan ditiru erat kaitannya dengan empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Pada hakikatnya, jika empat kompetensi tersebut dimiliki oleh guru, maka predikat digugu dan ditiru dengan sendirinya akan mengikut pada diri guru tersebut.

Agar bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah memiliki pemahaman yang luas dan mendalam terhadap ilmu pengetahuan yang hendak ia sampaikan. Tidak cukup dengan itu, seorang guru juga harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai metode dalam menyampaikannya. Bagaimana mungkin seorang guru bisa meyakinkan muridnya kalau ia lemah dalam pemahaman dan penyampaian. Maka seorang guru harus senantiasa memperbaharui kompetensinya, baik dalam hal keilmuan maupun metode pembelajarannya. Itulah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.

Selain bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah bisa menjadi teladan atau panutan. Dan inilah yang sebenarnya jauh lebih penting dari peran seorang guru dalam pendidikan. Banyak guru yang berhasil mengajar muridnya hingga menjadi orang pintar, namun hanya sedikit di antara mereka yang bisa mencetak  generasi yang berakhlak mulia. Ironisnya lagi, sebagian dari guru di republik ini malah mempertontonkan sikap yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang guru.  Tengok saja data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), seperti dilansir keterangan tertulis Kemdikbud, Selasa (14/6), di mana sepanjang Januari 2011 sampai Juli 2015 terdapat 1.880 kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Hal ini menunjukkan betapa guru sudah sangat jauh dari keteladanan.

Bagaimana mungkin pendidikan kita akan melahirkan generasi yang unggul jika gurunya tidak mampu memberikan keteladanan, baik dalam ucapan, pemikiran, maupun perbuatannya. Bangsa ini tengah dilanda krisis keteladanan, maka guru harus mampu berdiri paling depan untuk memberi keteladanan.

Siapapun dia, jika telah memilih profesi guru sebagai jalan hidupnya, maka ia harus siap mengembalikan profesi mulia tersebut pada khittahnya. Seorang guru haruslah memiliki kepribadian yang dewasa, luhur, berwibawa, dan mulia akhlaknya. Selain itu, melalui kemampuan komunikasinya, guru juga harus mampu menciptakan hubungan yang baik dalam setiap interaksinya, baik interaksi dengan warga sekolah maupun warga masyarakat secara umum. Itulah kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.

Melalui peringatan Hari Guru Nasional, sebagai guru mari kita mengintrospeksi diri, sejauh mana kita bisa menjadi figur yang mampu menginspirasi. Di tangan gurulah masa depan generasi bangsa ini dititipkan, maka hadirnya guru sudah selayaknya memberi kehangatan, perkataannya memberi pencerahan, dan sikapnya penuh keteladanan. Itulah hakikatnya seorang pahlawan.

Oleh: Syafei Al-Bantanie

Bila kita menginginkan kemuliaan, maka harus berani menantang ketidaknyamanan. Lihatlah Musa ‘Alaihissalam. Demi kemuliaan di sisi Allah, Ia tinggalkan kenyamanan negeri Madyan. Melepaskan hidup tentram bersama mertua, Nabi Syuaib, yang sabar dan penyantun. Melupakan asyiknya menggembala dan berkebun.

Musa bawa serta istrinya pergi menuju Mesir menantang ketidaknyamanan. Temui Fir’aun dan mendakwahinya. Datang ke Mesir untuk selamatkan kaumnya. Risikonya tak tanggung-tanggung. Hingga Allah memutuskan untuk dirinya; syahid dalam dakwah atau memenangkan dakwah.

Demikianlah rekam jejak orang-orang yang memilih kemuliaan. Ada yang syahid dalam dakwah layaknya Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Ada pula yang dimenangkan oleh Allah layaknya Nabi Musa dan Nabi Daud. Pun dengan generasi jauh setelahnya. Sebut saja sebagai contoh Sayidina Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Thariq bin Ziyad, Muhammad Al-Fatih.

Nama mereka ditulis dalam sejarah dengan tinta emas bukan karena berleha-leha dan menikmati hidup untuk dirinya. Mereka adalah orang-orang yang mengambil tanggung jawab atas setiap masalah umat. Mereka marah saat yang lain memaklumi. Mereka sedih ketika yang lain tak ada rasa. Mereka lelah dengan kelelahan yang tak biasa. Mereka terus berkarya saat yang lain terlena. Tapi, di situlah letak kemuliaan mereka. Maka, pantas saja Allah sematkan amanah-amanah besar ke pundak mereka.

Lantas, bagaimana dengan kita? Masih memilih berleha-leha dan menikmati hidup untuk diri sendiri?

Pemuda merupakan gelar yang sangat istimewa. Adapun peranan pemuda yang tidak akan berubah, yaitu agent of change, social control, dan iron stock.  Agent of change adalah peran pemuda dalam melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik. Pemuda yang sedang berada tahap belajar, mulai memahami kaidah- kaidah yang semestinya yang diterapkan pada kehidupan bernegara.

 

Jika ada sesuatu yang tidak berada dalam aturannya, maka mahasiswalah yang akan mengembalikan ke jalur yang semestinya. Social control adalah peran pemudadalam mengamati lingkungan dan negaranya. Seringkali, pemerintah yang berada diatas hirarki bernegara melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi masyarakatnya atau dapat dikatakatan menguntungkan diri sendiri. Maka itulah peran pemuda memperbaiki hal tersebut dengan tanpa kepetingan tertentu di dalamnya. Yang terakhir adalah Iron stock, pemuda diharapkan menjadi pemimpin- pemimpin negara yang lebih baik. Karena pemudatelah mengetahui bagaimana hal yang semestinya diperbaiki untuk menyejahterakan negara, hal tersebut Karena pemuda telah mengkaji kebijakan-kebijakan pemimpin sebelumnya. Dengan mengetahui hal yang dipaparkan tersebut hendaknya kita sebagai pemuda menjadi pemimpin yang dapat berguna bagi rakyat.

Kontribusi dalam kamus besar bahasa Indonesia dapat berarti sumbangan. Nah, sumbangan seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini. Menilik dari permasalahan bangsa ini di saat sekarang sudah jelaslah solusi dari permasalahn tersebut, dibutuhkan kesadaran pemuda bangsa ini untuk menjadi pemimpin negeri ini dalam memberantas krisis ideologi yang tengah terjadi. Seorang pemimpin yang terus mempelajari dan berbagi mengenai seluk beluk ideologi pancasila yang sebenar–benarnya.

Adalah suatu kesia-siaan jika gelar pemuda ini tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sangat mubazir jika kita hanya menjadi seorang apatis yang hanya kuliah-pulang atau kuliah-kafe. Belum lagi peran kita sebagai manusia yang diciptakan dimuka bumi untuk menjadi pemimpin umat sedunia.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali ‘Imran: 110).

Berbicara tentang pemimpin, pemimpin Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi zaman sekarang, seharusnya pemimpin Indonesia dapat membuat terobosan terbaru yang efektif dan efesien dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Biarlah terobosan tersebut hanya hal kecil. Bisa saja hal kecil seperti sebuah akun khusus dan laman khusus yang akan otomatis ada ketika sebuah akun pemuda Indonesia aktif. Akun khusus inilah nantinya yang menjadi media berbagi serta menguatkan prinsip – prinsip Pancasila kepada setiap pengguna media sosial di tanah air.

Selain itu, pemimpin juga harus mengetahui segala problematika yang terjadi di Indonesia. Permasalahan saat ini sebenarnya dapat teratasi jika generasi muda sebagai calon pemimpin benar-benar menerapkan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Namun sayangnya ada pemuda yang menganggap pancasila itu tidak relevan. Meskipun ada pemuda yang mengaku mencintai pancasila, tapi mereka tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila seutuhnya. Mereka memang mempunyai nilai nasonalisme yang cukup tinggi, tapi apakah nasionalisme saja sudah cukup untuk memahami makna pancasila? Tidak, karena dalam pancasila telah dirumuskan nilai-nilai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan kepada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Untuk itu, pemimpin dengan pemahaman tinggi terhadap ideologi sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu janganlah kita menyia-nyiakan waktu yang kita miliki, karena Ahmad Rifa’i Rif’an seorang penulis buku Hidup Sekali, Berarti lalu Mati pernah menyampaikan dalam bukunya:

Bukankah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan maha karya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah? Lahir, hidup, mati tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya.