Ini Dia Keutamaan Ramadan

Tahukah Sahabat Pendidikan kalau bulan Ramadan memilikibanyak sekali keutamaan. Lalu apa saja keutamaan Ramadan? Cek bareng-bareng yuk.

Ramadan Bulan Diturunkannya Al-Qur’an


Ramadan merupakan syahrul Quran (bulan Al-Quran). Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadan. Allah Swt. berfirman: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)” – QS. Al-Baqarah: 185.

 

Bulan Penuh Keberkahan


Bulan ini disebut juga dengan bulan syahrun mubarak. Hal ini didasarkan pada dalil hadis Rasulullah saw:”Sungguh telah datang kepada kalian bulan penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian” – HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi

 

Malam Lailatulqadar


Kemuliaan bulan Ramadan salah satunya adalah hadirnya malam penuh kemuliaan dan keberkahan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil di yaitu malam Lailatuqadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

 

 Bulan Ramadan Bulan Pengampunan Dosa

 

Melalui berbagai aktivitas ibadah di bulan Ramadan Allah Swt. akan menghapuskan dosa kita sebagaimana sabda Nabi saw.: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt., maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”- HR.Bukhari dan Muslim.

 

Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup


Kemuliaan Bulan Ramadan ialah pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga melalui serangkaian ibadah dan amal shalih yang bisa dilakukan selama bulan Ramadan.

 

 

 

 

Belanja Kebutuhan Ramadan Check

 

Ramadan sudah di depan mata, namun kebutuhan di rumah mulai menipis, saatnya belanja kebutuhan Ramadan. Ada baiknya membeli bahan baku yang bisa dimasak dalam waktu cepat untuk berbuka maupun sahur.

Hanya saja penting diingat jangan sampai panic buying. Belilah kebutuhan yang memang diperlukan dalam jumlah wajar.

Kira-kira apa saja ya yang perlu kita beli agar kebutuhan saat Ramadan dapat terpenuhi. Yuk simak sama-sama.

  1. Karbohidrat

Tentu saja karbohidrat seperti beras memegang kuncian penting karena orang Indonesia tak bisa hidup tanpa nasi, namun belilah sesuai kebutuhan ya;

  1. Protein

Saat Ramadan asupan protein haruslah teercukupi, sebab itu jangan lupa memasok daging, ikan, tempe, tahu, dan jenis protein lain agar tubuh tetap fit;

  1. Kurma

Kurma menjadi salah satu penganan khas Ramadan yang tak boleh dilewatkan, terlebih Rasulullah menganjurkan untuk menongsumsi tiga buah kurma ketika berbuka

  1. Bumbu Dapur

Bumbu dapur juga memiliki peranan luar biasa di ranah kebutuhan Ramadan, tanpa bumbu dapur apa jadinya masakan kita, maka jangan sampai keskip ya.

 

 

Sambut Ramadan Starter Pack

Ramadan sudah di depan mata, saatnya kita mempersiapkan banyak hal. Lalu apa saja yang perlu disiapkan?

  1. Persiapkan Fisik

Di musim pandemi seperti saat ini ketahanan fisik menjadi modal utama dalam beraktivitas, pun saat Ramadan nanti. Mempersiapkan fisik sebelum Ramadan tiba bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi, minum vitamin, dan berolahraga secara teratur.

 

  1. Persiapkan Rohani

Persiapan fisik, sudah. Nah penting diingat kalau Ramadan tidak hanya tentang mempersiapkan fisik tetapi juga tentang mempersiapkan rohani misalnya mulai rutin membaca Al-Qur’an, mulai sering perbanyak zikir, dan mulai rutin bersedekah.

 

  1. Buat Target Ramadan

Meminimalkan rebahan selama Ramadan, ada baiknya kita membuat target aktivitas supaya momen Ramadan tak berlalu begitu saja.

 

  1. Lis Kebutuhan Selama Ramadan

Meskipun PPKM belum diberlakukan kembali, namun tak ada salahnya jika kita mulai mempersiapkan kebutuhan Ramadan dari sekarang. Catat dengan teliti apa-apa saja yang perlu kita beli untuk memenuhi kebutuhan, jangan lupa beli yang penting saja ya.

 

 

 

Setelah penantian cukup lama, setelah melewati ragam proses ini dan itu, hari ini kami mau mengumumkan nama-nama yang RESMI MENJADI SISWA SMART EKSELENSIA INDONESIA tahun pelajaran 2022/2023.

 

Pengumuman ini didasarkan pada Surat Keputusan Nomor: 028/SMART/Pcl/Seleksi/III/2022 tentang Penetapan Hasil Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) Dinyatakan Lulus dan Diterima Sebagai Siswa Baru SMART lo, berikut kami umumkan daftar siswa yang dinyatakan lolos.

 

Yuk  KLIK DI SINI adakah namamu di sana? Kami ucapkan selamat buat kamu yang RESMI menjadi siswa SMART.

 

Do’s & Dont’s Saat Sahur Sob

Ramadan merupakan bulan penuh berkah, bulan yang sangat dinanti-nantikan muslim di mana pun. Mengikuti sunnah Rasulullah saw., lazimnya puasa diawali dengan makan sahur, namun kita perlu mengetahui hal-hal yang boleh dan tak boleh kita lakukan saat sahur di antaranya

  1. Jaga Pola Tidur

Selama Ramadan pola tidur kita akan berubah karena harus bangun lebih awal untuk sahur. Nah, agar tidak kesiangan dan waktu tidur tetap tercukupi, ada baiknya selalu tidur lebih awal. Dengan waktu tidur yang cukup, rasa kantuk dan lemas bisa dihindari.

  1. Batasi Konsusmi Kafein

Minum kopi atau asupan berkafein lainnya saat sahur bisa membuat tubuh cepat kehilangan air, sehingga orang jadi mudah haus di siang hari. Hal itu dipengaruhi sifat kafein yang diuretik. Konsumsi kafein bisa merangsang produksi air seni, dan membuat orang jadi sering kencing. Alih-alih memilih minum kopi saat sahur, orang yang berpuasa dianjurkan minum cairan yang mudah diserap dan serat sehat yang bisa bertahan lama di perut.

  1. Kebanyakan Konsumsi Karbohidrat

Karbohidrat memiliki peranan penting untuk memberikan energi pada tubuh. Namun saat sahur kita perlu memerhatikan porsi karbohidrat. Mengonsumsi karbohidrat terlalu banyak akan membuat kamu cepat lapar.

  1. Makan terburu-Buru

Di momen sahur ada masanya kita bangun kesiangan lalu makan terburu-buru Padahal, makan terburu-buru akan membuat kita berisiko menelan udara. Hal ini akan menyebabkan makanan tidak dicerna dengan optimal oleh mulut, bisa membuat perut kembung, dan badan mudah lemas. Oleh karena itu, agar tak terburu-buru, kita bisa atur waktu makan sahur setidaknya tiga puluh menit sebelum imsak.

  1. Minum terlalu banyak

Minum banyak air saat sahur bukanlah pilihan tepat untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh. Hal ini malah akan membuat asam lambung naik dan bisa mengakibatkan retensi urin.

  1. Tidur Lagi Setelah Sahur

Perut kenyang, hati riang lalu kantuk pun datang. Eits pantang tidur setelah sahur sebab akan membuat kondisi lambung tidak bekerja secara maksimal.

 

Doa Menyambut Ramadan

Sahabat Pendidikan, sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan. Ramadan merupakan bulan yang selalu ditunggu-tunggu muslim seluruh dunia. “Kenapa selalu ditunggu-tunggu?” Karena Ramadan meiliki banyak keutamaan. Sebagai bentuk rasa syukur ada baiknya kita memanjatkan doa sebelum Ramadan, yuk simak doanya di bawah

Doa pertama dibaca satu hari sebelum bulan Ramadan

 اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِيْ مُتَقَبَّلاً

 Allahumma Sallimnii ilaa romadhoona wa sallim lii romadhoona wa tasallamhu minni mutaqobbalan

Artinya: “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”

 

Doa Kedua dikutip dari Imam Nawawi dan dibaca setelah melihat hilal bulan Ramadan.

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا نُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ

 Allahumma ahillaahu ‘alaina bilamni wal iimaani, wasalaamati wal islaami wattaufiiqi limaa nuhibbu wa tardhii robbana wa robbukallahu.

Artinya: “Allahu akbar, ya Allah jadikanlah hilal itu bagi kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, dan membawa taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah.” (HR. Ahmad)

Doa ketiga biasa dibaca saat Rajab dan Syaban agar bisa dipertemukan dengan Ramadan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allahumma baariklanaa fii rajaba wasya’baana waballighna ramadhoona

Artinya: Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.

Semangat Menjadi Seorang Pelajar Pembelajar!

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

Sekolah kami SMART Ekselensia
Kami dari Sumatra hingga Papua
Hanya satu tekad di dalam diri
Menjadi pembelajar sejati…

Bait di atas adalah penggalan reff dari mars SMART Ekselensia Indonesia. Ketika pertama kali saya bergabung dengan SMART Ekselensia pada 26 Juli 2010 dan pertama kali mendengar mars di atas, saya bergumam, “Wah keren sekali mars-nya.” Sedari dulu saya menyukai istilah “pembelajar sejati”. Bukan karena kemegahan intelektual yang tersirat dari istilah itu, melainkan spirit untuk terus membaca, menelaah, merenungi, memikirkan, dan menginsyafi, inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan istilah ini.

Pembelajar sejati merupakan penafsiran dari wahyu pertama, Iqra. Seorang pembelajar sejati mesti menginsyafi bahwa belajar tidak terbatas waktu, tempat, dan usia. Tepat sekali sabda Rasulullah saw. yang merangkan, “Menuntut ilmu itu sedari buaian hingga datangnya kematian.”

Di mana saja berada, dengan siapapun berinteraksi, seorang pembelajar sejati bisa memetik hikmah dan mereguk wawasan. Berjalan ke penjuru negeri dan mengamati perilaku manusia merupakan inspirasi untuk berkarya bagi pembelajar sejati. Peristiwa sepele dan sederhana bagi kebanyakan orang, bisa menjadi ide cemerlang bagi pembelajar sejati untuk menuliskannya. Dan, dengan tulisan itu dia berbagi inspirasi ke sebanyak mungkin orang. Lebih hebat lagi bila dengan tulisan itu banyak orang yang tercerahkan dan tersadarkan.

Itulah mengapa Alquran menyuruh kita untuk berjalan di penjuru bumi, perhatikan dan pikirkan alam semesta serta cermati dan saksamai jejak perilaku orang-orang terdahulu untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang di masa kini. Menurut penulis buku Ayat-ayat Semesta, ayat-ayat Alquran tentang semesta jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat tentang hukum. Mengapa? Karena, dengan mengamati dan merenungi semesta akan semakin menambah keimanan kita kepada Allah. Dan, berapa banyak di dalam Alquran, setelah menerangkan betapa harmoninya disain alam semesta, selalu diakhiri dengan ungkapan, “Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan”. Sebagai contoh saksamailah surat Ar-Rum ayat 22 – 26.

Oleh karena itu, sungguh ironi jika masyarakat sekarang memahami belajar adalah sekolah. Tugas orangtua selesai dengan menyekolahkan anaknya. Anak pun seperti itu, merasa telah cukup belajar dengan bersekolah. Atas nama lulus sekolah, tak mengapa ujian nasional menyontek. Bila perlu menyontek masal dan difasilitasi oleh sekolah. Pemutihan nilai rapor pun menjadi legal. Sekali lagi atas nama sekolah. Tak beda juga dengan kelakuan oknum para pegawai negeri yang mengejar ijazah demi kenaikan pangkat dan jabatan meski kuliahnya asal-asalan. Bahkan, skripsi atau tesis pun bisa jadi dituliskan oleh orang lain. Sekali lagi atas nama sekolah.

Makna belajar telah sedemikian terpalingkan dari makna aslinya. Tegas sekali yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah. Sekolah hanyalah salah satu cara dan tempat untuk belajar, namun bukan satu-satunya. Bahkan, bisa jadi sekolah (yang tidak bermutu) bisa menjadi tempat yang salah untuk belajar. Ini bukan berarti meng-absurd-kan sekolah. Tidak sama sekali. Saya hanya bermaksud untuk menyadarkan kita semua bahwa yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah.

Maka, jadikan sekolah sebagai salah satu saja sarana untuk belajar. Selain itu, belajarlah di sekolah kehidupan ini. Belajarlah di sekolah alam semesta ini. Maka, belajar tak pernah mengenal kata lulus. Kita selamanya pembelajar. Dari sini bisa dikenali mana pembelajar sejati, dan pembelajar musiman. Ketika musim sekolah dan kuliah, jadi pembelajar. Begitu musim wisuda, berhenti jadi pembelajar.

Misalnya, seorang mahasiswa yang lulus menjadi sarjana pendidikan dan kemudian menjadi guru. Lalu, karena sudah menjadi guru semangat belajarnya menjadi luntur, bahkan perlahan menghilang. Sejatinya, dia adalah pembelajar musiman. Dia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Dan, untuk sekolah yang memiliki guru-guru semacam ini, sulit untuk menjadi sekolah peradaban yang melahirkan generasi pembangun peradaban.

Menutup tulisan ini, saya ingin menceritakan seorang teman saya, lebih tepatnya senior saya, sekadar untuk memantik semangat belajar kita. Kami sama-sama lulusan UIN Jakarta. Hanya beda generasi. Dia seorang pemimpin redaksi penerbit nasional. Gelar akademisnya cukup sarjana saja. Namun, intelektualitasnya mungkin bisa setaraf doktor. Kemampuan Bahasa Inggris dan Arab-nya pun tak diragukan. Karena, ia biasa menerjemahkan buku-buku berbahasa Inggris dan Arab. Dan, kualitas terjemahannya juga berbobot dan enak dibaca. Dengan kompetensinya itu, dia kerap diundang keluar negeri untuk berbicara pada forum-forum internasional. Terakhir, beliau bercerita baru saja menjelajah beberapa negara Eropa atas undangan UNESCO, PBB.

Dari cerita di atas, kita juga bisa menginsyafi bahwa kualitas seseorang belum tentu dilihat dari sederet gelar akademis yang menyertai namanya di depan dan di belakang. Melainkan, sekuat dan sekonsisten apa dia belajar dan terus belajar sepanjang hayatnya. Selamat menjadi pembelajar sejati.

 

Sob, menghafal Al-Qur’an merupakan sarana kita mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun tahukah kamu kalau ada beberapa faedah menghafalkan Al-Qur’an? Yuk simak poin-poinnya di bawah

 

1. Bahwasanya orang yang hafal Al-Qur’an akan Allah jadikan baginya kedudukan di hati-hati manusia dan kemuliaan

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما و يضع به آخرين

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab ini dan menghinakan yang lain dengannya.” (HR Muslim)

 

2. Menghafal Al-Qur’an akan membantu lisan sang penghafal senantiasa terjaga dan mampu mengucapkan ayat-ayat Alquran dengan baik

 

3. Membantu kekuatan daya ingat

 

4. Jika sang penghafal adalah pelajar maka Allah akan memberikan ia kedudukan yang lebih diantara teman-teman di kelasnya -tentu saja dengan izin Allah- karena Allah mencintainya sebagai seorang penghafal Al-Qur’an.

 

5. Menghafal Al-Qur’an dapat menambah keimanan

 

6. Orang yang hafal Al-Qur’an termasuk orang yang paling baik diantara manusia dan paling mulia diantara manusia lainnya.

 

7. Penghafal Al-Qur’an termasuk ke dalam orang yang paling tinggi derajatnya diantara manusia di Jannah. Sebagaimana firman di dalam Alquran:

اقرأ وارتق و رتّل كما كنت ترتّل في الدنيا, فإنّ منزلتك عند آخر آية تقرؤها

“Bacalah dengan baik dan baguskanlah sebagaimana kamu membacanya dengan tartil pada waktu kamu di dunia. Karena sesungguhnya tempatmu tergantung pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dan dia berkata Hadits Shahih).

 

8. Orang yang menghafal Al-Qur’an akan bersama-sama dengan malaikat yang mulia :

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله : الذي يقرأ القرآن و هو ماهر به مع السفرة الكرام البررة, و الذي يقرأ القرآن و يتتعتع فيه و هو عليه شاق له أجران

“Dari ‘Aisyah berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: Orang yang mahir membaca Al-Qur’an maka nanti akan berkumpul bersama-sama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang kesulitan dan berat jika membaca Al-Qur’an maka dia mendapat dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

عن أبي موسى الأشعري قال : قال رسول الله : مثل المؤمن الذي يقرأ القرآن مثل الأترجة: ريحها طيب و طعمها طيب, و مثل المؤمن الذي لا يقرأ القرآن كمثل التمر لا ريح لها و طعمها حلو,و مثل المنافق الذي يقرأ القرآن كمثل الريحانة: ريحها طيب و طعمها مرّ, و مثل المنافق الذي يقرأ القرآن كمثل الحنظلة: ليس ريح و طعمها مرّ

Dari Abu Musa Al Asy’ary berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti Utrujah, harum baunya dan lezat rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma, tidak berbau tetapi manis rasanya. Dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al-Qur’an seperti raihanah, harum baunya tapi pahit rasanya, sedangkan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca Al-Qur’an seperti handzolah yang tidak ada baunya dan pahit rasanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

9. Sesungguhnya Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada orang yang membacanya pada hari kiamat dan memasukkannya ke dalam jannah.

عن أبي أمامة قال : سمعت رسول الله يقول: اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

Dari Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu ia berkataa: saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya.” (HR Muslim)

 

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dicintai Allah karena gemar menghafal Al-Qur’an ya Sob, aamiin.

 

Sumber: https://wanitasalihah.com/faidah-faidah-menghafal-al-quran/

 

Siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Dosa pandangan kita, dosa pendengaran kita, dosa lisan kita, dosa tangan kita, dan dosa-dosa lainnya yang pernah kita lakukan. Bahkan sehari pun kita tidak bisa lepas dari berbuat dosa. Astaghfirullah.

 

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

 

Dosa dan maksiat adalah tabiat manusia.

 

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

 

 

Tidakkah firman Allah ini dapat melapangkan hati, menghilangkan keresahan, dan menghapuskan kegundahan kita? Ayat diatas adalah seruan untuk segenap orang yang terjerumus ke dalam dosa agar segera bertaubat dan kembali kepada Allah. Sekalipun dosa anak adam sangat banyak, namun kasih sayang Allah jauh lebih luas terhadap hambaNya.

 

 

Amalan-amalan Penghapus Dosa

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam kitabnya Majmu’ Al Fatwa memberikan nasihat indah tentang amalan-amalan yang dapat menjadi penghapus dosa.  Beliau berkata, dosa dapat terhapus oleh beberapa hal:

 

 

Taubat

Taubat secara bahasa berasal dari kata at-tauba yang dimaknai ‘kembali’. Orang yang bertaubat artinya ia kembali/berpaling dari dosanya [1]. Sementara secara syar’iy taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad untuk tidak melakukannya lagi, dan memperbaiki amalnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullahu dalam kitabnya Majalis Syahri Ramadhan [2] mengatakan “Taubat yang diperintahkan Allah Ta’ala adalah taubat nasuha (yang tulus) yang mencakup lima syarat”:

  1. Hendaknya taubat itu dilakukan dengan ikhlas.
  2. Menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan.
  3. Berhenti dari perbuatan maksiat.
  4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut.
  5. Taubat dilakukan bukan pada saat masa penerimaan taubat telah habis
  6. Istighfar

Istighfar meskipun tampak sama dengan taubat, namun hakikatnya berbeda. Terdapat beberapa perbedaan antara taubat dan istighfar diantaranya:

Pertama: Taubat terdapat batas waktu, sementara istighfar tidak. Hal inilah yang menyebabkan orang yang sudah meninggal dapat dimohonkan ampunan, adapun taubat tidak lagi diterima tatkala nyawa sudah sampai pada kerongkongan.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hashr :10).

Kedua: Taubat hanya bisa dilakukan oleh pelaku dosa itu sendiri, sementara istighfar dapat dilakukan oleh pelaku dosa dan juga orang lain untuknya. Oleh karena itu seorang anak dapat memohonkan ampunan untuk orang tuanya.

Ketiga: Taubat disyaratkan harus berhenti dari dosa yang dilakukan sementara istighfar tidak disyaratkan demikian. Terdapat perselisihan ulama dalam hal ini, namun ada kesimpulan yang sangat baik dari Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili hafidzahullah dalam permasalahan ini [3]. Beliau menjelaskan bahwa istighfar ada dua keadaan:

  • Istighfar untuk dosa yang dilakukan oleh orang lain. Hal ini sebagaimana istighfarnya malaikat untuk orang-orang yang duduk di tempat sholat selama wudhunya belum batal maupun istighfar seorang anak untuk orang tuanya.
  • Istighfar untuk dosa yang dilakukan oleh diri sendiri. Istighfar bagi diri sendiri bermanfaat meski belum bertaubat, namun dengan syarat istighfar yang ia lakukan semata-mata karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala.2

 

 

Amal Shalih

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Hadis ini menunjukan bahwa apabila hamba terjatuh dalam perbuatan dosa, maka hendaklah ia bersegera menghapusnya dengan taubat dan melakukan amal shalih. Dosa yang dibiarkan lama mengendap dalam diri karena tidak segera ditaubati, dikhawatirkan akan menjadi sebab lahirnya perbuatan dosa-dosa lainnya.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam kitabnya Washiyah Sughro [4] menjelaskan bahwa amalan shalih yang dapat menghapus dosa terbagi menjadi dua:

Pertama: Amal shalih yang dapat menghapus dosa tertentu saja. Contohnya yakni pembayaran diyat bagi jamaah haji yang melanggar larangan-larangan ihram.

Kedua: Amal shalih yang dapat menghapus dosa secara umum. Contohnya yakni puasa di bulan Ramadhan yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

 

 

Musibah menghapuskan dosa

Musibah yang menimpa seorang muslim akan menjadi penghapus dosa baginya apabila ia bersabar dan menerima musibah yang menimpanya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمِّ، وَلاَ حُزْنٍ، وَلاَ أَذًى، وَلاَ غَمِّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا؛ إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Apa saja yang menimpa seseorang Muslim seperti rasa letih, sedih, sakit, gelisah, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allâh akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu semua”. [Muttafaqun ‘alaihi]

Setiap dosa yang dilakukan seorang hamba itu buruk, namun akan jauh lebih buruk apabila ia tidak mau bertaubat atas dosa yang telah dilakukan. Maka hendaklah kita mempergunakan waktu yang kita miliki untuk banyak bertaubat kepada Allah Ta’ala dan melakukan banyak amal kebaikan.

Ditulis oleh: Yuli Widiyatmoko

_________________________________________________________________________

Referensi:

[1]        Prof. DR. Shalih Ghanim as-sadlan, At-Taubatu Ilallâh, Maknâhâ, Haqîqatuhâ,
Fadhluhâ, syurutuhâ
, hlm. 10.

[2]       Ibnu Faris, Mu’jam Maqâyis al-Lughah, 1/357.

[3]        Ahmad Anshori. 2017. “Perbedaan Istighfar dan Taubat”. Diakses melalui
https://muslim.or.id/29214-perbedaan-istighfar-dan-taubat.html pada 09 Januari 2019.

[4]       Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, Washiyah Sughro.

Oleh: Irani Soraya, Guru BK SMART

 

“Maka makanlah yang Halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Alah kepadamu. Dan syukurilah nikmat Allah jika hanya kepadaNya sajalah kamu menyembah” Terjemah QS.An Nahl:114

 

Dalam kehidupan keluarga muslim, menyediakan kebutuhan hidup dengan barang yang halal lagi baik merupakan sebuah kebutuhan. Sedari kecil tentunya kita telah diajarkan bagaimana etika atau adab seorang muslim dalam makan dan minum. Dan Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang begitu apik lagi rapi terencana. Contohnya adalah bagaimana islam mengajarkan untuk makan dengan tangan kanan[1], larangan makan dan minum sambil berdiri, larangan bersikap berlebih-lebihan dalam urusan makan dan minum serta sebuah keharusan untuk memilih makanan dan minuman yang tidak hanya halal akan tetapi baik (Thayib).

 

Halalan thayiban adalah sebuah keharusan standar bagi kita, dan bentuk implementasinya adalah mengajarkan sedini mungkin pada anak-anak kita tentang memilih makanan yang halal lagi thayib. Standar kehalalan meski nampak remeh namun memiliki dampak yang besar terhadap diterimanya ibadah-ibadah kita serta doa-doa yang kita panjatkan.

 

Dalam salah satu Hadis Arbain yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.  Rasulullah SAW bersabda :

sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan para RasulNya dengan firmanNya,”Wahai Para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah, dan Dia berfirman,”Wahai orang orang yang beriman , makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezkikan kepada kalian”, kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, ”Ya Rabbi, Ya Rabb”, Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannaya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan (HR.Muslim)[2].

 

Halalan thayiban juga menjadi salah satu bukti betapa integral dan holistiknya islam mengatur apa apa yang baik bagi manusia dan kehidupannya. Ianya menjadi sebuah tolak ukur bagaimana kita hanya memberi asupan yang terbaik lagi diridhoiNya. Dan kita patut berbangga sebagai seorang muslim karena aturan aturan yang berkenaan dengan pola makan, mutu makanan, kualitas makanan begitu ketat diatur dalam syariah islam. Kebudayaan barat telah membuktikan betapa negara negara multipower semacam Amerika berjuang keras untuk menurunkan persentase obesitas  masyarakat Amerika yang dipengaruhi oleh budaya berlebih-lebihan dalam makan dan minum.

 

Persoalan standardisasi halalan thayiban bukan melulu mengenai makanan atau minuman agar tidak terkandung bahan bahan dari unsur yang diharamkan akan tetapi halalan thayiban telah menjadi etika muslim dalam menentukan standar kualitas dan mutu makanan yang baik, memenuhi standar kesehatan, serta standar bagi sistem pengemasan serta etika lingkungan produsen penghasil makanan[3].

 

Namun ironisnya di Indonesia, negeri yang memiliki umat muslim terbanyak dari seluruh negara di dunia, isu halal hanyalah menjadi topik segelintir orang. Kebutuhan akan standardisasi halalan thayiban tidak menjadi perhatian dari masyarakat sebagai konsumen dan perusahaan sebagai produsen, sebagai contohnya data dari persatuan kosmetik indonesia(porkosmi) menyebutka bahwa dari 744 perusahaan kosmetik di seluruh indonesia baru 23 perusahaan yang mensertifikasi halal dari BPOM-MUI atau senilai 3% saja, sisanya 97% kosmetik yang beredar di pasaran tidak jelas[4].

 

Pada saat ini banyak negara tengah membidik issue halal sebagai sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Anton Apriyanto menggungkapkan:

“sudah selayaknya Indonesia menjadi leader (dalam produk dan standardisasi halal) sebab konsumen muslim kita terbesar sehingga produk-produk di Indonesia harus halal”[5].

Hal ini diungkapkan beliau sebagai sebuah kritik yang menantang dunia usaha dan bisnis. Indonesia mungkin saat ini tengah menjadi role model bagi issu keberagaman agama, toleransi dan kerukunan umat beragama namun sejauh mana nilai-nilai agama dijalankan masih merupakan sebuah pertanyaan.

 

Dalam hal kesadaran, undang-undang mengenai standardisasi produk halal nampaknya Malaysia tengah berada didepan saat ini. Malaysia dipandang oleh ahli ekonomi sebagai sebuah negara yang dinamis dan mengalami masa keemasan. Bisnis dan perbankan syariahnya jauh lebih kuat dan besar ketimbang Indonesia, dan soal standardisasi halal malaysia tidak main main, telah tersedia pendidikan master dibidang halal food analysis, dan kerjasama berbagai departemen dalam mempromosikan serta mempermudah sertifikasi halal, bahkan tiap tahunnya diadakan pameran skala internasional akan potensi pasar halal global di Kuala lumpur. Malaysia rupanya tengah bersiap untuk mengambil kesempatan ini dan bertindak tidak lagi sebagai konsumen akan tetapi sebagai produsen dan tidak hanya sebagai penonton akan tetapi sebagai pemain.

 

Pada tingkat masyarakat dan keluarga di Indonesia bahkan kesadaran akan produk yang halal dan thoyib tidak menjadi perhatian, dengan penduduk muslim mayoritas di dalam negeri masyarakat seolah merasa diri  aman dan tentram asalkan tidak memakan daging babi maupun tidak memakan daging anjing. Masyarakat muslim pada tingkat pedesaan maupun perkotaan, dalam wilaya-wilaya padat tanpa disadari banyak menkonsumsi makanan yang bisa jadi halal namun belum tentu thoyib. Standar thoyib sendiri sangat sulit diterapkan tanpa adanya kesadaran diri akan apa-apa yang baik maupun buruk bagi tubuh kita. Sebagai contoh: seorang yang fit dan baik staminanya dalam usia yang relative muda masih memungkinkan baginya memakan  soto betawi dengan kuah santan serta jeroan, tapi penderita jantung dan hipertensi mengkonsumsi soto betawi dengan kuah santan kental dan daging jeroan ditambah kerupuk emping bisa menjadi ancaman baginya yang membuat makanan tersebut jatuh dalam hukum makruh sampai ke haram.

 

Dan contoh lain sebagai ilustrasi, di masa Ramadan biasanya umat muslim amat sangat menggemari membeli takjil, katakanlah seminimalnya mereka akan beli lontong dengan bumbu kacang ditambah dengan tahu berontak yang hangat dengan cabe rawit, menu yang sudah sangat lumrah bukan bagi sebagian besar kita, kita kadang lupa bawa sebagai muslim tuntunan hidup kita mengacu pada seorang manusia mulia, Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana cara berbuka yan baik, sederhana namun jika contohnya dari rasulullah bukankah itu adalah sebaik-baiknya contoh. Maka masihkan gorengan menghiasi meja berbuka kita, ataukah kurma dan segelas air cukup memenuhi  dahaga kebutuan kita. Wallahu a’lam bi showab.

 

 

 

 

 

[1]    HR.Bukhari muslim diriwayatkan oleh Umar Bin Abu Salamah, terdapat dalam shahih bukhari , bab makanan5/2056, hadits 5061

[2]    HR.Muslim, Hadits Arbain dan Al Ma’tsurat, Indiva Pustaka, Surakarta, 2008

[3]    Www.halalguide.com februari 2010

[4]    Www.halalsehat.com

[5]    Anton apriyanto dalam pidatonya pada Pmeran halal internasional kedua di Jakarta 2010