———–
Pelan-Pelan Meredup
———–

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

 

Menyenangkan Sekali Bisa Belajar Kimia

Oleh: Abdul Gani. Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

Pelajaran yang termasuk ke rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam, khususnya pelajaran Kimia, banyak ditakuti bahkan tidak disukai oleh para siswa. Kimia menjadi bagian pelajaran yang tergolong pada mata pelajaran MAFIA (Matematika, Fisika, dan Kimia) dan mempunyai predikat “mengerikan” serta menjadi momok di sekolah. Sudah lumrah bahwa pelajaran tersebut identik dengan perhitungan yang rumit dan membuat kepala pening tujuh keliling.

Di samping berlimpah dengan rumus-rumus dan perhitungan yang rumit, pelajaran Kimia juga dikenal jauh dari nilai-nilai seni dan otak kanan. Bahkan siswa-siswa yang masuk ke dalam penjurusan IPA dikenal dengan “siswa kiri”, yakni siswa yang memiliki kemampuan otak kiri yang dominan dan konon kurang kreatif

Tetapi, stigma tersebut tidak berlaku di SMART Ekselensia Indonesia. Siswa-siswa SMART, dalam pandangan saya, rata-rata kreatif dan mempunyai nalar seni yang bagus. Pandangan saya ini bukan tanpa dasar. Banyak fakta yang saya temukan di SMART yang menunjukkan bahwa mereka kreatif dan berselera seni tinggi, salah satunya terlihat pada trashic (trasch music).

Mendapati anak-anak dengan kreativitas yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru; bagaimana saya harus mengelola pembelajaran dalam kelas dan berusaha menyuguhkan pembelajaran yang kreatif, terutama dalam memberikan pembelajaran Kimia kepada siswa kelas 4 dan 5 IPA yang pada tingkatan ini penuh dengan rumus dan perhitungan rumit. Untuk mengajar anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata (diketahui dari hasil psikotes pada saat seleksi penerimaan siswa) dan tingkat kreativitas yang bagus, saya pun lebih memosisikan diri sebagai fasilitator. Artinya, 60-70 persen siswa yang aktif di dalam proses pembelajaran, sedangkan saya hanya melihat dan menilai serta memberikan arahan.

Seperti dalam pembelajaran kimia untuk kelas 4 IPA. Ketika membahas materi hidrolisis garam, saya menggunakan metode Developmentally Appropriate Practices, yaitu suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada potensi kemampuan siswa. Karena siswa SMART umumnya mempunyai kecerdasan seni yang bagus, saya pun memanfaatkan potensi ini dalam pembelajaran Kimia.

Saya meminta siswa untuk membuat komik tentang beberapa subbab di dalam bab hidrolisis garam secara berkelompok. Komik yang telah mereka buat kemudian dipentaskan menjadi drama. Dalam pembelajaran ini siswa terasah otak kiri maupun otak kanannya, yaitu menyampaikan pesan berupa teori kimia dalam sebuah pementasan.

Tahapan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

Pertama, setiap siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk memahami tema subbab yang diberikan, dan membuat konsep pembuatan komik. Kedua, siswa membuat komik yang telah mereka konsep. Dan ketiga, mementaskan komik yang telah dibuat dalam sebuah drama.

Peran saya sebagai guru pada tahapan pertama adalah menjadi fasilitator untuk menjawab pertanyaan para siswa jika ada konsep dalam teori yang tidak bisa mereka pecahkan dalam kelompok. Pada tahapan kedua saya berperan memberikan penilaian terhadap proses pembuatan komik. Pada tahapan ketiga, saya berperan melakukan penilaian performa dan memberikan konfirmasi terhadap penampilan siswa.

Metode pembelajaran seperti ini membuat 100 persen siswa terlibat aktif di kelas sehingga tidak ada siswa yang mengantuk atau tertidur. Di lain pihak, saya sebagai guru bisa memaksimalkan fungsi sebagai fasilitator yang melakukan kontrol kelas, penilaian, dan konfirmasi terhadap apa yang dilakukan siswa. Di samping itu, metode pembelajaran ini merangsang kreativitas siswa.

Saya tercengang melihat kreativitas siswa, yang menurut saya luar biasa. Kreativitas mereka terlihat jelas pada saat pembuatan komik. Komik yang mereka buat bagusbagus; tidak hanya kualitas gambarnya, isi ceritanya pun menarik. Yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah saat mereka menampilkan drama. Saya tidak menyangka bahwa siswa begitu menghayati peran dalam drama tersebut. Saya pikir karena pelajaran ini pelajaran eksakta mereka akan menampilkan drama biasa-biasa saja. Tetapi dugaan saya salah, ternyata mereka menampilkan drama dengan penghayatan yang sangat bagus, dan menyiapkan secara sungguh-sungguh properti-properti tambahan untuk penampilannya.

Setelah penampilan drama dilakukan, selanjutnya saya menguji pengetahuan mereka dengan mengadakan posttest. Hasilnya mengjutkan dimana mereka mendapatkan nilai rata-rata post-test yang bagus, yaitu 80.55, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran cukup berhasil. Mereka dapat menjelaskan konsep teori dalam hidrolisis garam dengan penampilan drama, dan pesan-pesan dalam drama itu tertangkap baik pula oleh setiap kelompok.

Kembali harus saya akui dan syukuri, siswa-siswa SMART tidak hanya cerdas otak kirinya saja, tetapi juga cerdas otak kanannya. Mengajar di SMART memberikan peluang bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik dalam mengajar dan mengembangkan berbagai metode pembelajaran karena siswanya kooperatif dan mampu mengikuti setiap metode yang saya berikan.

 

Sudah Pagi Kawan

Karya: Laksmana Khatulistiwa

Kala senja tiba
Waktunya menatap duka
Melupakan luka
Menurunkan senjata

Kala senja tiba
Mentari meredupkan sinarnya
Tanda dunia tlah sirna
Dari dunia yang fana

Kala senja tiba
Hari beranjak gelap
Mengajak untuk terlelap
Beranjak dari siap

Kala senja tiba
Cahaya meredup muram
Meninggalkan rasa suram
Hari tlah beranjak malam

Bila malam tiba
Muncul serdadu gerilya
Menciptakan bahaya
Menyiagakan semua

Bila malam tiba
Hati takkan tenang
Sulit berharap menang
Apalagi untuk bersenang

Bila malam tiba
Rasa takut meninggi
Seakan tak mau pergi
Hingga mulailah pagi

Sudah pagi
Mentari bersinar cerah
Memulai pertumpahan darah
Menuju ke satu arah

Sudah pagi
Waktunya merengkuh duka
Menerima luka
Waktunya mengangkat senjata

Semangat Kami Tak Akan Pernah Terisolasi

Oleh: Miftahul Chairi (Alumni SMART Ekselensia Indonesia) Jumat itu azan subuh baru saja selesai dikumandangkan. Tapi, tidak seperti biasanya. Aku telah memakai seragam sekolah untuk Salat Subuh. Bukan cuma aku yang telah bersiap-siap, tapi semua siswa kelas 4 IPS SMART Ekselensia Indonesia juga sudah siap. Beberapa menit kemudian iqamah pun dikumandangkan. Aku langsung bergegas menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah di Masjid “Al-Insan”. Dalam balutan dinginnya subuh, aku tetap menghadapkan diriku ke hadapan-Nya. Aku pun mengikuti rangkaian Salat Subuh mulai dari takbiratul ihram sampai berakhirnya zikir. Setelah menyelesaikan semua tugasku di masjid, aku melanjutkan langkah ke lapangan apel. Dari kejauhan terlihat siswa kelas 4 IPS lainnya sedang menikmati sarapannya masing-masing. Aku terus menyusuri koridor sekolah yang diterangi oleh lampu. Sampai di keramaian tersebut, aku mengambil sarapan yang telah disediakan. Sarapan kali ini nasi goreng yang ditemani satu telur mata sapi dan dua buah nugget. Tanpa basa-basi, aku langsung menyantap sarapan tersebut. Perut yang tadinya kosong akhirnya terisi sebagai penambah kekuatan siang nanti. Setelah selesai makan, aku berjalan mendekati tong sampah untuk membuang kotak nasi yang telah kosong. Aku melihat ada sebuah motor yang memasuki gerbang sekolah. Sorotan cahaya lampu motor tersebut sangat menyilaukan sehingga aku tidak dapat melihat wajah sang pengendaranya. Setelah motor berhenti, barulah terlihat wajah pengendara tersebut walaupun tidak jelas karena matahari belum menampakkan wajahnya. Ternyata itu adalah ustazah yang diantar oleh suaminya. Dialah yang akan mendampingi kami kali ini menuju ke Desa Cibuyutan. Cibuyutan merupakan desa terisolasi di Jawa Barat, letaknya ada di Kecamatan Sukarasa, Kabupaten Bogor. Pukul 06.30 kami mulai memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke tempat tujuan. Barang yang dibawa adalah nasi untuk makan siang, air minum, dan snack untuk persediaan di jalan. Setelah semua beres, kami pun berangkat dengan menggunakan dua mobil. Sekitar sepuluh menit setelah meninggalkan lingkungan sekolah, kami harus berhenti lagi untuk menjemput seorang ustaz. Kami menunggu selama kurang lebih 30 menit, setelah itu mobil melanjutkan perjalanannya kembali. Pada saat memasuki tol, aku merasa mengantuk. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tidurku semakin nyenyak, ditambah dengan segarnya udara pagi yang masuk melalui jendela yang sengaja kubiarkan terbuka. Kondisi jalan yang tidak rata membangunkanku dari tidur. Matahari telah sepenuhnya menampakkan dirinya, cahaya mentari mengintip dari sela-sela jendela mobil, cahayanya menyilaukan mataku. Tak terasa mobil telah melewati setengah dari perjalanan. Aku mencoba mengintip dari jendela mobil. Terlihat hamparan sawah yang luas terhampar di sekitar sisi jalan yang kami lewati. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami semakin dekat dengan tujuan. Justru pada saat itulah hal yang paling memusingkan bagi kami. Ustadz Ahmad dan Ustadzah Dini saling bergantian menanyai warga tentang jalan menuju Desa Cibuyutan. Setelah beberapa kali bolak-balik di jalan yang sama, akhirnya kami menemukan jalan yang menuju ke lokasi yang dicari-cari. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami beristirahat sebentar di sebuah masjid. Di masjid tersebut kami melepas penat selama 15 menit. Kemudian beberapa orang perwakilan dari kami melakukan survei jalan yang akan dilewati. Setelah mendapat laporan dari mereka yang melakukan survei, akhirnya kami menyusul mereka ke sana.

Kami harus berjalan kaki untuk masuk ke desa tersebut. Jalan yang kami lalui bukanlah jalan aspal, melainkan kumpulan batu yang disusun secara rapi selebar kira-kira 2,5 meter. Setelah berjalan kaki selama 30 menit, kami berkumpul pada sebuah pondok pesantren. Di pondok pesantren itulah kami melakukan makan siang dan Salat Jumat. Kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu. Menu untuk makan siang adalah ayam goreng, sayur, dan saus sebagai teman dari nasi. Setelah menyelesaikan santap siang, kami melanjutkan kegiatan dengan Salat Jumat. Setelah menjalankan Salat Jumat, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Cibuyutan. Sebelum berangkat, kami melakukan briefing terlebih dahulu. Setelah semua siap, tibalah tantangan yang sebenarnya. Kami akan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer. Jalannya pun menanjak dan lebarnya hanya satu meter dan hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Mungkin banyak yang iri pada Ustadzah Dini karena beliau pergi dengan menggunakan ojek. Aku berjalan berbarengan dengan Tan dan Kasman. Kami bertiga terus berjalan tanpa ada istirahat. Siswa lain banyak yang memilih beristirahat karena kecapekan. Kami bertiga terus berjalan tanpa henti. Jalan yang terbuat dari batu membuat kaki kami terasa sakit. Panasnya terik matahari terus menemani setiap langkah kaki kami. Jalan yang menanjak ditambah panasnya terik matahari membuat keringat kami mengalir dengan deras dan membasahi baju yang kami kenakan. Tan dan Kasman sempat membuka baju mereka karena kepanasan. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan segerombolan kerbau. Untungnya, kerbau-kerbau tersebut menghindar begitu melihat kami sehingga kami bisa melewatinya. Sementara itu, Ridhwan yang ada di belakang kami terlihat ketakutan melihat kerbau yang mulai lepas kendali. Di sepanjang perjalanan menuju Desa Cibuyutan, aku melihat pemandangan yang sangat indah. Ada hamparan sawah nun luas. Sejauh mata memandang, hanyalah hamparan sawah yang hijau. Kehidupan di sana terlihat masih sangat alami. Belum ada mesin untuk membajak sawah, tenaga kerbau masih menjadi sumber kekuatan untuk membajak sawah. Rumah-rumah yang kulihat juga masih sangat tradisional, kayu masih menjadi bahan dasar dalam pembuatan rumah warga. Kami terus menyusuri jalan yang hanya satu arah tersebut hingga kami dihadapkan pada tantangan baru. Ada dua cabang jalan yang harus kami pilih. Setelah melakukan perundingan, akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan yang kiri. Kami terus berjalan menyusuri jalan tersebut hingga kami menemukan sebuah rumah warga setempat. Dari kejauhan telah terlihat banyak atap-atap rumah yang mengintip dari balik pepohonan yang rindang. Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami mulai memasuki Desa Cibuyutan. Setelah berhasil menemukan sekolah yang dimaksud, kami belum melihat tanda-tanda keberadaan pendamping kami tersebut. Kami terlihat seperti orang yang tak tahu arah tujuan, dan kami memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang terdapat di depan sekolah tersebut. Tak lama kemudian datanglah Zuhhad menghampiri kami dengan wajah yang kelelahan, dan sekarang kami terlihat seperti lima orang siswa yang kebingungan. Setelah mengobrol cukup lama di bangku tersebut, Genta mulai frustrasi dan memilih untuk meninggalkan kami berempat. Tak berselang lama setelah Genta meninggalkan kami, terdengar suara yang memanggil kami dari arah belakang. Setelah kami menoleh ke belakang, ternyata itu adalah suara pendamping kami yang dari tadi kami diajak bermain petak umpat. Ustazah kami mempersilakan kami untuk beristirahat di salah satu ruang sekolah tersebut. Pada saat kami mau memasuki ruangan sekolah tersebut, terlihat seseorang sedang berlari ke arah kami. Ternyata Genta yang tadi meninggalkan kami. Di sekolah tersebut, kami menunggu kedatangan rombongan kami yang lainnya. Setelah semua anggota rombongan lengkap, kami di ajak untuk mengunjungi rumah Pak RT Desa Cibuyutan oleh salah seorang guru di sekolah tersebut. Beliau jugalah yang tadi menyambut kami di sekolah dan menyiapkan minuman. Sampai di rumah Pak RT, kami disambut hangat oleh beliau dan warga desa.

Setelah mendapatkan izin dari Pak RT, barulah kami melaksanakan tugas kami. Kami datang ke desa ini bukan tanpa ada tujuan. Tujuan kami adalah untuk survei lapangan. Bukan hanya itu, kami juga mendapat tugas dari mata pelajaran sosiologi untuk mewawancarai beberapa warga tentang unsur-unsur kebudayaan yang ada di desa tersebut. Sebelumnya kami telah dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan tugas ini. Hasil dari wawancara akan kami buat dalam bentuk makalah. Setelah diberi aba-aba, barulah kami berpencar ke semua sudut desa untuk mencari narasumber yang akan diwawancarai. Setelah berkeliling desa, akhirnya aku dan anggota kelompokku memutuskan untuk menanyai salah seorang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Sesi wawancara berjalan dengan lancar. Aku dan beberapa kelompok lain yang telah menyelesaikan tugasnya segera berkumpul kembali ke tempat awal. Di sana terlihat ustaz kami sedang asyik makan durian pemberian warga yang baru saja selesai memanennya. Kami pun juga mendapat bagian dalam menyantap buah yang baunya menggoda itu. Setelah semua kelompok berkumpul, kami mengambil beberapa foto untuk dokumentasi sebagai bukti laporan ke sekolah. Selanjutnya kami kembali ke sekolah tadi untuk melaksanakan Salat Ashar. Setelah salat, kami mengambil beberapa foto lagi di depan sekolah tersebut bersama dengan Pak RT dan juga guru yang mengajar di sana. Setelah selesai sesi foto-foto, kami berpamitan pulang kepada Pak RT dan mulai berjalan kembali melewati jalan yang telah membuat kaki kami pegal-pegal. Walaupun tubuh sangat capek, kami senang bisa bersilaturahim dengan orang-orang yang masih bisa bertahan hidup dalam keterisolasian. Kami juga bisa memetik beberapa hikmah dari kunjungan kali ini. Salah satunya adalah kami harus bersyukur karena masih bisa menikmati cahaya lampu di dalam gelapnya malam. Masih bisa menikmati segarnya air dalam jumlah yang banyak, padahal bagi warga Desa Cibuyutan air itu barang berharga yang susah didapatkan. Setelah selesai dengan semua kegiatan di Desa Cibuyutan, kami segera memasuki mobil dan bersiap-siap untuk kembali ke sekolah. Dalam perjalanan pulang, langit mulai mendung dan meneteskan air dari langit. Hujan mulai membasahi bumi yang makin lama makin deras. Hari mulai gelap, matahari mulai menyembunyikan wajahnya. Akhirnya malam pun tiba, kami masih terus melanjutkan perjalanan dengan keadaan jalan yang becek karena hujan.  

Kamu Kudu Banget Tau Cara Menjaga Diri Dari Godaan Setan Sob!

 

Pacaran? Nggak dulu deh. Serius, pacaran itu unfaedah. Ini bukan sok alim atau sok suci, bukan pula karena nggak laku, melainkan berdasarkan fakta dan kenyataan. Memang nyatanya pacaran itu nggak ada manfaatnya, malah banyak mudaratnya. Tidak sedikit lho remaja dan mahasiswi yang terjerumus dalam zina karena pacaran. Miris setiap kali menerima konseling masalah ini. Kok bisa ya? Kalau sudah kejadian kehormatannya direnggut gratisan oleh pacar, baru deh nyesel dan nangis bombay. Sayangnya, penyesalan yang terlambat. Bunga sudah layu tak bisa dibuat mekar kembali. Kalaupun kamu tidak sampai terjerumus dalam hubungan seks, harga diri kamu juga sudah terendahkan. Karena, kamu sudah dipegang-pegang dan dicium-cium oleh pacarmu, seperti orang beli mangga. Sudah gitu, ujung-ujungnya putus. Terang saja kamu yang rugi, Sob. Seolah kamu tidak ada harga dirinya. Bisa diperlakukan seperti itu. Emang kamu mau digituin? Nggak ‘kan! Hormati dan sayangi dirimu dengan tidak pacaran. Pacaran hanya merendahkan perempuan. Tidak ada pacaran yang memuliakan perempuan. Kenapa? Karena, orientasi pacaran itu fisik. Banyak remaja dan mahasiswi pacaran alasannya untuk penjajakkan. Ia yang terjadi adalah penjajakkan fisik. Sudah didapat, ditinggal pergi. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Kurang ajar ‘kan? Makanya, kamu jangan mau jadi korban pacaran, Sist. Sudahlah putusin sekarang juga dan jangan pacaran lagi ya. Pada waktunya nanti, jika kamu sudah siap, menikahlah. Hanya dengan menikah kamu akan termuliakan.

 

 

Sudahlah jangan ngeles. Nggak ada pacaran yang sehat. Kamu mau ngomong gitu ‘kan? Pacaran sehat. Hehehe. Mana ada pacaran sehat? Ngawur orang yang berpendapat kayak gitu. Lebih ngawur lagi pacaran Islami. Waduh tambah kacau nih pola pikirnya. Emang kayak gimana pacaran Islami? Pacarannya di bawah tangga masjid gitu? Atau pacarannya sms-an ngingetin shalat dan ngaji. Hadeeuhh, itu cuma pembenaran  untuk melegalkan pacaran. Pokoknya nggak ada kompromi. Sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Titik. Yap, pacaran itu dilarang dalam Islam. Maka, sudah semestinya kamu menjauhinya. Islam melarang pacaran mesti ada hikmahnya, antara lain agar tidak ada celah masuk setan untuk menjerumuskan kamu ke perbuatan hina (zina).

 

 

Berpacaran berarti membuka celah masuk yang lebar kepada setan untuk menggoda dan menjerumuskan kamu dan pacarmu pada kemaksiatan. Ingat, setan itu super licik dan gigih buat menjerumuskan kamu dan pacarmu pada maksiat. Setan akan menyerang kamu dan pacarmu habis-habisan; dari depan-belakang dan kanan-kiri. Dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok kamu berdua. Kamu tidak akan dibiarkan lolos sampai terperangkap pada maksiat. Dada akan terasa bergemuruh karena bisikan setan yang terus berhembus. Apa kamu dan pacarmu bisa tahan? Sadarilah iman kamu masih tipis ‘kan? Hehehe… Karena itu, hindari berpacaran dan berdua-duaan dengan pacar. Jangan beri celah setan untuk menjerumuskan kamu pada zina. Boleh jadi kamu awalnya nggak ada niat, tetapi ketika kesempatan terbuka, setan menyerang habis-habisan, pacarmu juga terus mendesak, apa kamu kuat bertahan, Sist? Dari konseling yang saya terima, banyak remaja perempuan yang terjebak dalam perangkap zina. Okelah, saya anggap kamu bisa teguh menjauhi zina meski berpacaran. Namun demikian, pikirkanlah waktu produktifmu. Apakah dengan pacaran kamu bisa mengisi waktumu untuk kegiatan produktif? Nggak ‘kan. Malah, pacaran itu menghambat banget untuk pengembangan diri. Alasannya? Sederhana saja, waktumu akan habis tersedot oleh pacar. Mulai dari SMS/WA/DM IG nanyain kabar sampai merayu gembel eh salah maksudnya gombal. Berangkat dan pulang sekolah berdua, jalan-jalan berdua dengan pacar, wah banyak banget deh waktu kamu yang tersita. Eh ujung-ujungnya putus. Sudah banyak yang kamu korbankan, eh doi malah pacaran lagi sama cewek lain. Sakitnya tuh di sini (ngelus dada). Kok bisa? Ya, bisa sajalah. Lha wong, pacaran itu nggak ada ikatan hukumnya, nggak ada statusnya. Kamunya saja yang mau di PHP-in. Mau-maunya menjalin hubungan tanpa ikatan hukum. Mungkin kamu mau ngeles lagi, pacaran ‘kan dalam rangka mencari jodoh. Saya ingatkan ya, jangan pernah berharap mendapatkan jodoh yang baik dengan pacaran. Nggak akan pernah didapat. Bagaimana bisa mendapatkan sesuatu yang baik dengan jalan yang tidak baik. Pacaran bukan jalan yang disyariatkan agama untuk mendapatkan jodoh.

 

 

Mari kita pikir dengan saksama, dalam Islam, pernikahan itu sesuatu yang serius dan agung. Islam menyebutnya dengan mitsaqan ghalizhan (perjanjian yang berat). Ya, sejatinya orang yang menikah itu membuat perjanjian yang berat dengan Allah untuk menjalankan syariat pernikahan. Nah, sekarang kamu pikirkan jika ada seorang laki-laki yang bilang cinta padamu dan ingin menikah denganmu, tapi tidak berani melamarmu, hanya berani memacarimu, apakah cintanya benar dan serius? Kamu bisa jawab sendiri ya. Tanda laki-laki serius dan benar cintanya padamu adalah dia berani datang ke orangtuamu untuk melamarmu. Itu baru laki-laki yang serius dan benar cintanya. Kalau lelaki yang hanya berani menyatakan cinta dan memacarimu, tolak cintanya dan tinggalkan saja. Dia hanya ingin senang-senang denganmu. Makanya, beraninya memacarimu. Sudah banyak kok buktinya. Alih-alih mencari jodoh, yang terjadi malah kehilangan kehormatan dan harga diri. Serius, Sob. Sudah banyak lho remaja perempuan yang terjebak dalam pacaran yang melegalkan hubungan seks. Awalnya sih menolak, tapi karena terus didesak oleh pacar, akhirnya mau juga. Terjadilah dosa besar itu (zina). Dosa yang menghinakan kamu dalam pandangan Allah. Dosa yang menghalangi ibadah selama empat puluh tahun jika tidak ditobati dengan tobat nasuha. Kalau sampai kejadian seperti itu, coba kamu pikir masih mungkinkah kamu memperoleh jodoh yang baik? Kamu menikah dengan pacarmu yang sudah merenggut kehormatanmu? Iya, kalau dia mau tobat nasuha. Jika tidak, kamu hanya akan melewati masa-masa kelabu bersamanya. Jika sebelum menikah saja dia berani berbuat seperti itu kepada kamu, bukan tidak mungkin saat sudah menikah denganmu, dia melakukan hal yang sama kepada perempuan lain. Kalau sudah begitu, pasti rumit masalahnya. Karena itu, sekali lagi saya ingatkan, sebelum kejadian, lebih baik kamu jauhi pacaran. Kalau yang sudah terlanjur pacaran, segeralah putusin. Jangan sampai kamu jadi korban pacaran. Kamu sendiri yang rugi, Sist. Kerugiannya bukan sesaat, tetapi bertahun-tahun, bahkan bisa jadi sepanjang hidupmu. Tiada jalan lain bagi yang ingin mencari jodoh yang baik selain melalui menikah. Ungkapan dan ekspresi cinta yang tulus hanya bisa terwujud melalui pernikahan. Karena, dengan menikah, berarti kamu telah menjadi satu jiwa dengan pasanganmu. Alquran menyebutnya dengan ungkapan sangat indah, “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.” (Istri-istrimu pakaian bagimu, dan kamu pakaian bagi mereka).

 

 

Jelas sekali ‘kan? Kalau mau mencari jodoh yang baik, bukan dengan pacaran. Karena itu, jadilah jomblo bermartabat. Fokus saja menata masa depanmu. Terus mempersiapkan dan memantaskan diri untuk diberikan jodoh terbaik. Pada waktunya, ketika kamu sudah siap dan memantaskan diri, InsyaAllah jodoh akan bertamu ke rumahmu. Indah ‘kan?

 

 

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/pacaran-no-way/

Oleh: Muhammad Fatih Daffa

Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

 

 

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

 

 

Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

 

 

 

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

 

 

 

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”.

 

Sekian.

Sebuah Harapan Besar Guru Komputer Kami

Oleh: Ari Kholis Fazari Guru TIK SMART Ekselensia Indonesia

 

Awal semester sebentar lagi akan dimulai,  tak ada yang berbeda masih sama seperti dulu ketika pertama kali saya berada di SMART Ekselensia Indonesia. Masing-masing anak di SMART mempunyai karakteristik berbeda, bahkan kemampuan tentang penguasaan teknologi juga berbeda; terutama kemampuan mereka tentang komputer khususnya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mata pelajaran yang saya ajarkan untuk anak-anak kelas 1 dan 2.

Saat memulai pelajaran pun jelas terlihat kebingungan mereka ketika berkenalan dengan komputer.

“Ustaz gimana cara nyalain TV-nya?” salah seorang anak bertanya kepada saya.

“TV yang mana, Dik?”

Anak tadi kemudian menunjuk ke monitor komputer. Itulah sebagian dari keawaman anak SMART ketika baru pertama kali masuk ke kelas komputer. Ketika pertama kali saya berada di sini, saya pun sempat kebingungan mulai dari mana saya harus mengajar. Sebabnya, masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berbeda tentang komputer, mulai dari yang benar-benar tidak tahu nama masing-masing hardware komputer sampai yang sudah tahu komputer. Apalagi, SMART mempunyai target yang cukup tinggi terhadap siswanya dalam hal penguasaan komputer.

Tantangan lain, sistem operasi komputer yang digunakan di SMART berbeda dengan sistem operasi komputer yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, yakni menggunakan open source software. Otomatis saya harus membuat sendiri administrasi pembelajaran mulai dari silabus sampai ke Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebab saya belum menemukan sekolah setingkat SMP yang belajar sistem operasi dan program-program yang sama seperti yang ada di SMART ini.

Ada suatu pengalaman yang tidak mudah saya lupakan ketika awal saya bekerja di sini sebagai guru komputer. Ketika itu, saya dihadapkan oleh komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswanya, dalam arti jumlah komputer yang bisa digunakan hanya separuh dari jumlah siswa yang ada. Terlebih lagi komputer komputer tersebut tampak sudah jadul di eranya. Jadi, secara otomatis banyak masalah ketika mulai digunakan oleh siswa yang notabene siswa kelas 1 yang masih belum mengerti sama sekali tentang komputer, apalagi pada saat itu warnet atau rental-rental komputer belum menjamur seperti sekarang ini. Ketika saya tanya sebagian siswa tentang pengetahuan komputer, hampir semuanya belum pernah memegang komputer sama sekali. Belum lagi ada beberapa siswa yang menangis ketika belajar komputer lantaran rindu dengan orangtuanya. Ketika itu saya bertanya pada diri saya sendiri, “Harus dimulai dari manakah semua ini?”

Saya pun berusaha mencari metode-metode yang sesuai untuk menangani hal ini, mulai dari mencoba sesuai dengan text book sampai dengan saya coba-coba sendiri. Pada akhirnya, saya mulai mengerti bahwa yang saya hadapi adalah anak-anak cerdas dan saya yakin mereka akan cepat belajar. Itulah yang muncul dari dalam hati saya sampai saat ini. Ketika saya berpikir mereka adalah anak-anak cerdas, maka saya akan semakin bersemangat untuk belajar dan belajar lagi.

Tidak terasa, tahun kelima akan dilalui para siswa SMART. Sesuai tradisi di SMART, setiap anak yang akan meninggalkan sekolah atau lulus dari sini mereka wajib mengerjakan Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS). Ada beberapa siswa yang membuat saya terharu ketika saya mengujikan KISS, karena judul KISS yang diajukan berkaitan dengan komputer. Ya, mereka mengambil topik seputar dunia komputer. Entah mengapa ada perasaan bangga ketika mereka lulus dari sidang KISS.  Segera saja saya teringat masa lalu mereka tatkala pertama kali mengenal mouse, keyboard, monitor, Linux, OpenOffice, sampai akhirnya ia dapat menganalisis kekurangan dan kelebihan sebuah sotiware komputer.

Dan tibalah saatnya mereka harus meninggalkan SMART untuk mengarungi dunia yang sesungguhnya. Momentum wisuda SMART menjadi pembuka semua itu. Pada saat prosesi wisuda, seperti angkatan sebelumnya, para siswa memberikan bunga kertas kepada guru- guru mereka. Ketika itu ada salah satu siswa memberikan bunga kepada saya. Padahal, saya sudah diberi bunga kertas oleh siswa yang lain. Tiba-tiba siswa itu datang dan memeluk saya sambil menangis.

“Ini buat Ustadz. Terima kasih, Ustadz, selama ini sudah membimbing saya, dan maatian saya….”

Setelah ia melepaskan pelukan, saya pun terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Apa sih yang pernah saya berikan pada mereka?”

Meskipun “hanya” mengajar komputer, saya juga ingin membangun harapan untuk mereka. Karena bagaimanapun juga, saya sudah menjadi bagian dari keluarga SMART yang berusaha mengubah senyum-senyum anak bangsa semakin lebar. Saya rasa, mungkin seperti inilah kebanggaan seorang guru, sebuah profesi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Semoga anak-anak didik saya itu bisa mengamalkan ilmu komputer yang didapat di kemudian hari untuk kebaikan.

 

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Praktisi Pendidikan Remaja

SALAH satu godaan berat bagi remaja adalah pornografi. Apalagi di zaman gadget sekarang ini. Konten pornografi bisa disebar dengan mudahnya melalui smartpone. Kabarnya, remaja sekarang tahu pertama kali pornografi dari gadget yang disebar teman sekolahnya. Bahaya banget ‘kan? Bisa jadi awalnya tidak berniat, tapi karena dapat kiriman temannya, rasa ingin tahunya menggedor-gedor akal sehatnya. Ayolah, sekadar ingin tahu aja kayak gimana sih film porno itu?

Di sinilah terjadi pertarungan batin antara menolak dan menuruti. Tidak sedikit remaja yang berkompromi dengan dirinya. Lalu, membuka dan menonton konten porno tersebut. Padahal, perlu dicatat sama kamu, sekali kamu melihat film porno pasti kamu bakal ingin menonton yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Gradasinya pun bakalan meningkat. Awalnya mungkin setengah porno, meningkat menjadi porno, lalu kamu ingin melihat segala jenis film porno. Karena, yang biasa-biasa buat kamu sudah nggak ngefek lagi. Ini harus kamu sadari, bro.

Efek dari menonton film porno, remaja terbangkitkan libidonya. Ini membuat remaja pusing untuk menyalurkannya. Pilihannya onani. Kalau sudah berulangkali onani, bisa dipastikan remaja akan kecanduan pornografi. Karena, pornografi menimbulkan sensasi dalam otaknya. Otak memproduksi hormon dopamine yang memberikan sensasi melayang layaknya orang mengonsumsi narkoba.

Padahal, bahayanya adalah otak bisa mengalami kerusakan akibat terpapar pornografi. Bahaya lebih serius lagi, ternyata kerusakan otak akibat kecanduan pornografi lebih berbahaya daripada kecanduan narkoba. Hasil riset menunjukkan bahwa kerusakan otak akibat terpapar pornografi terus menerus bisa bersifat permanen sebagaimana otak yang rusak akibat benturan kecelakaan.

Tidak cukup sampai di sini mudharatnya, tidak sedikit remaja yang kemudian melampiaskan libidonya ke pacarnya. Ini lebih berbahaya lagi. Ini sudah tindakan kriminal. Saya berkali-kali menerima konseling remaja yang pacaran sampai kebablasan. Bahkan, ada yang sampai ketagihan. Bisa jadi pemicunya adalah pornografi. Otak remaja sudah demikian kotor terpapar pornografi, sehingga di otaknya terekam, “Bukan pacaran namanya jika tidak making love.”

Kasus-kasus remaja pacaran yang saya tangani memang diawali dari remaja cowok. Si remaja cowok yang otaknya sudah terpapar pornografi mendesak pacarnya untuk ML. Awalnya, si cewek menolak. Namun, perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, si cewek luluh juga oleh bujuk rayu dan desakan si cowok. Terjadilah perbuatan nista itu. Perbuatan yang nikmatnya sesaat, tapi deritanya berkepanjangan. Masa depan pun seketika runyam. Bahkan, bisa terasing dan terkucilkan di tengah pergaulan masyarakat.

Karena itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Remaja keren itu bukan hanya dia yang tidak pacaran, tapi juga menjauhi pornografi. Sayang sekali potensi otak kamu yang luar biasa itu menjadi tumpul akibat terpapar pornografi.

Imam Waqi’ (gurunya Imam Asy-Syafi’i) sudah menasihatkan bahwa ilmu itu cahaya Allah. Dan, cahaya Allah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.

Sekolah kamu nggak bakalan sukses dan berhasil meraih prestasi jika kamu dekat-dekat dengan pornografi. Kamu akan terlena dan terlalaikan oleh bayang-bayang pornografi. Kamu akan sulit untuk fokus belajar. Sulit untuk mengingat dan memahami pelajaran. Karena, fungsi berpikir otak kamu tercemar oleh pornografi.

Karena itu, jauhi pornografi. Jangan ada kompromi untuk coba-coba melihat pornografi. Jangan berikan celah sekecil apapun bagi setan untuk memerangkapmu dalam candu pornografi. Jika sudah kecanduan, tidak mudah mengobatinya. Perlu kesungguhan ekstra dan proses untuk bisa lepas dari jerat candu pornografi. Energi dan waktu kamu akan terkuras karenanya.

Padahal, jika kamu tidak pernah berkompromi dengan pornografi, kamu bisa memanfaatkan waktu dan energimu untuk melukis masa depanmu. Sayangi dirimu. Lebih baik manfaatkan otak kamu untuk membaca, menelaah, mengamati, memikirkan, merenungkan ilmu dan semesta ini. Kelak kau akan menjadi remaja keren karena ilmu dan akhlakmu. []

Sumber: https://www.islampos.com/drugs-baru-bernama-pornografi-249644/

31

Saat seleksi SNMPTN tahun 2009, kehendak Allah memutuskan saya diterima di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Sebelumnya, saya berharap bisa lolos di Paramadina Fellowship atau STAN. Rupanya, Unair adalah pilihan terbaik Allah. Saat saya masuk, Unair termasuk kampus yang termasuk peringkat lima besar di Indonesia. Namun meningkat pada saat saya lulus di tahun 2013 menjadi tiga besar di Indonesia. Perjuangan berangkat ke Surabaya adalah perjuangan meretas asa. Berbekal kenalan teman-teman etos, saya memulai membangun mimpi di kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Tahun pertama kuliah saya memutuskan untuk menjadi “yang terbaik di Unair” karena saya adalah lulusan sekolah akselerasi. Beasiswa dari SMART hanya mampu men-support saya di tahun pertama sehingga saya mesti berpindah satu beasiswa ke beasiswa lain selama kuliah 4 tahun ke depan. Terhitung ada tiga beasiswa yang saya dapatkan. Pertama, Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (BPPA) Unair. Beasiswa ini saya dapatkan karena IP cumlaude saya 4,00 di semester pertama kuliah. Setelah mendapat BPPA, Kepala Jurusan memberikan saya “hadiah” jalan-jalan ke Medan, Sumatera Utara untuk mewakili Unair dalam Konferensi Mahasiswa Sejarah se-Indonesia.

Beasiswa kedua adalah PPSDMS Nurul Fikri yang memberikan pembekalan kepemimpinan serta pengembangan diri. Beasiswa ini cukup bergengsi di perguruan tinggi negeri (PTN). Melalui beasiswa ini, saya sering mengikuti pelatihan bersama para tokoh Nasional sekelas Ketua MPR dan Menteri-menteri Negara. Beasiswa terakhir adalah Beasiswa Filantrofi DD yang saya gunakan untuk menyelesaikan skripsi. Prinsip saya“Menjadi terbaik di Unair” bukan tanpa alasan, karena sebagai lulusan akselerasi, saya ingin membuktikan bahwa di mana pun kita berada, yang membuat kita berkembang adalah diri kita sendiri. Bagaimana caranya kita membangun lingkungan positif di sekitar kita.

Dua tahun setelah kuliah, saya menyabet prestasi Mahasiswa Berprestasi 1 FIB Universitas Airlangga dan menjadi nominasi finalis MAWAPRES Unair di akhir tahun 2011. Setahun kemudian, saya ditunjuk sebagai Menteri Kebijakan Publik BEM Unair serta mendapat “hadiah” dari rektorat untuk jalan-jalan ke Brunei Darussalam. Saya turut mewakili Unair dalam Pertukaran Budaya ASEAN (10th ASEAN Youth Cultural Forum). Menjelang akhir 2013, saya berhasil lulus dengan predikat “lulusan terbaik” setelah bersusah-payah mengerjakan tugas-tugas akhir. Ingat, di dalam sebuah kesulitan pasti ada kemudahan.

Setelah lulus, saya sempat diterima di media terbesar di Indonesia, TEMPO Media Group. Sempat magang dua bulan di TEMPO biro Jawa Timur sebelum memutuskan untuk mundur dan mengajar di Yogyakarta, serta pernah mendapat undangan wawancara beasiswa S2 di Kedutaan Besar Turki. Namun sengaja tidak saya lanjutkan karena saya ingin mengekstraksi pengetahuan di dunia kerja sebelum lanjut studi. Bagi saya, menjadi wartawan atau pendidik adalah pengembangan diri yang sama sebelum memutuskan untuk melanjutkan hidup di kemudian hari.

Pesan terbesar saya untuk pembaca: Hidup adalah soal pilihan. Pilihan memutuskan untuk bekerja keras, bekerja cerdas atau bekerja sebaliknya. Kuliah saya adalah pilihan keras untuk dijalani. Saya dihadapkan pada iklim kuliah anak-anak fakultas sastra/ilmu budaya yang notabene santai. Sementara saya sendiri lulusan akselerasi yang terbiasa bekerja cepat, risk taker, dan visioner. Saya memutuskan untuk mewarnai jurusan danalhamdulillah keputusan saya tepat. Saya tidak pernah menyesal dengan segala keputusan, karena keputusan yang disertai dengan usaha dan doa adalah separuh ikhtiar yang diberkahi Allah. Sisanya adalah hak prerogatif Allah untuk menentukan.

Apapun keputusan kita ketika akan masuk kuliah, memasuki dunia kerja, atau suatu saat nanti menikah dan melanjutkan studi, selalu libatkan Allah dalam pengambilan keputusan. Saya masih ingat sekali, saat angkatan pertama mempersiapkan ujian SBMPTN, kami rajin sholat qiyamullail dan memutuskan untuk mabit di masjid. Selamat bekerja keras!!!

IDENTITAS PENULIS

Subandi Rianto, merupakan lulusan angkatan pertama SMART Ekselensia. Meraih gelar sarjana dari Departemen Ilmu Sejarah FIB, Universitas Airlangga dengan predikat cumlaude, juga menerima Beasiswa Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri Angkatan V, Mahasiswa Berprestasi Unair 2011, Delegasi Unair pada 10th ASEAN Youth Cultural Forum Brunei Darussalam 2012, serta pernah menjabat sebagai Menteri Kebijakan Publik BEM Unair 2012.

Subandi juga pernah menjadi editor buku “Mahasiswa Menggagas Kebangkitan Indonesia” (BEM Unair; 2012) dan “Menafsir Peristiwa, Merentas Peradaban” (Departemen Ilmu Sejarah Unair; 2013). Tulisannya tersebar di KOMPAS, JAWA POS, Radar Surabaya dan Tribun Jogja. Saat ini, ia mengabdikan diri untuk mendidik dan mengajar di Yogyakarta sebelum merancang kuliah pascasarjana. Cita-cita terbesarnya adalah meraih gelar doctor in philosophy (Ph.D) sebelum umur 30 tahun. Karya artikel penulis dapat dibaca di www.subandi-rianto.webnode.com.

1433901623237

Fase dalam hidup tak ubahnya episode-episode yang silih berganti. Lima tahun mengasah potensi dalam lingkungan yang sangat membangun di SMART Ekselensia Indonesia, sudah cukup sebagai bekal untuk menapaki kehidupan dunia kampus.

Pada Juli 2011, suratan takdir mengharuskan saya untuk kembali ke kampung halaman, Makassar. Saya, Muhammad Fadli Budiman, alumni angkatan 3 SMART, diabsahkan sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin (UNHAS). Saat itu perasaan saya bercampur aduk, karena sangat mengharapkan untuk melanjutkan perantauan sebagaimana mayoritas alumni SMART lainnya.

Ternyata skema dunia kampus tak ubahnya miniatur kehidupan masyarakat luas. Terdapat banyak tipikal mahasiswa dan pilihan jalan hidup yang akan kita tempuh. Selama di UNHAS, saya banyak menghabiskan waktu terlibat dalam dinamika organisasi atau lembaga kemahasiswaan. Mengikuti pelatihan kepemimpinan, menjalankan roda organisasi, dan menjadi delegasi fakultas dalam berbagai kegiatan. Tak luput disyukuri, sedari awal mengenyam pendidikan di UNHAS, saya mendapat beasiswa Bidikmisi. Anugerah itulah yang meringankan segala macam bentuk beban finansial kala itu.

Alih-alih berkiprah meningkatkan pencapaian akademik dan karir berorganisasi di UNHAS, baru genap dua tahun rupanya saya dihadapkan dengan jalan hidup yang baru. Pasca lulus serangkaian tes sekolah tinggi kedinasan, timbul dilema untuk melanjutkan studi di UNHAS atau beralih ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Awalnya sangat sulit untuk menentukan pilihan, namun didasari oleh beberapa pertimbangan dan kehendak orang tua, akhirnya saya memilih STAN sebagai lahan berikutnya untuk kembali melebarkan sayap.

Selama mengenyam pendidikan di STAN, saya mulai fokus menyelami dunia penulisan dan memorak-porandakan kinerja verbal dan imajiner otak. Saya sempat beberapa kali mengikuti perlombaan, baik yang diselenggarakan oleh STAN maupun institusi eksternal, walaupun pada akhirnya hanya menjadi masterpiece pribadi 🙂. Tapi itu tak menyurutkan niat saya untuk terus berkarya, walaupun hanya sebuah tulisan lusuh. Semakin banyak mencoba dan justru dihadapkan dengan kegagalan, bukanlah sesuatu yang harus diratapi. Karena kegagalan pun ada jatahnya. Oleh karenanya, sedini mungkin habiskan jatah gagalmu, dan bersiaplah menerima keberhasilan.

Setelah yudisium, berangkat dari rasa keingintahuan akan peradaban dan budaya kehidupan masyarakat Jawa, saya bersama sembilan orang rekan memutuskan melintasi Pulau Jawa pada pertengahan Oktober 2014. Sebagai pijakan pembuka, kami berlayar dari Makassar menuju Kota Pahlawan, Surabaya. Perjalanan berlanjut ke Kota Malang, Batu, Yogyakarta, Bogor, dan Tangerang Selatan sebagai garis finish.

Saya sangat menikmati dan memaknai setiap momen kala itu. Wisata alam dalam mengeksplorasi panorama pegunungan Kota Batu. Wisata ilmu saat mengunjungi situs bersejarah Candi Borobudur dan Prambanan. Tak ketinggalan persoalan mencicipi makanan khas setiap daerah melengkapi misi wisata kuliner sebagai seorang travelista. Dan tentunya momen pertemuan sesama alumni SMART di Yogyakarta dan Depok menjadi yang paling membahagiakan.

Februari 2015 merupakan awal saya melangkahkan kaki dalam dunia profesional: mengabdi dalam suatu instansi di bawah naungan Kementerian Keuangan yang berlokasi di Kota Kediri, Jawa Timur. Masyarakat, lingkungan, tantangan dan tanggung jawab baru hadir beriringan dalam satu waktu membentu gairah guna memperbesar kualitas diri. Satu yang istimewa dari Kota Tahu, Kediri, yakni perannya sebagai surga pelajar bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Hal inilah yang mendorong saya untuk terus bergulat menggembleng kemampuan bahasa di tengah rutinitas kantor.

Satu nasihat yang saya terus kenang, teruslah mengedukasi diri, bagaimana pun dan dengan alasan apapun. Selain sebagai rangka memantaskan diri dalam mewujudkan setiap rangkaian mimpi, edukasi juga sejatinya menghaluskan budi, menajamkan akal, dan melembutkan hati. Kurang lebih begitu pula amanat yang termaktub dalam lirik mars SMART Ekselensia Indonesia, “Menjadi Pembelajar Sejati”. Senantiasa terpatri mengilhami perjalanan kita sampai kapan pun.