Jeleknya Pacaran yang Kudu Kamu Ketahui Sob

Pacaran? No way. Serius, pacaran itu nggak ada manfaatnya. Ini bukan sok alim atau sok suci, bukan pula karena nggak laku, melainkan berdasarkan fakta dan kenyataan. Memang nyatanya pacaran itu nggak ada manfaatnya, malah banyak mudharatnya. Tidak sedikit lho remaja dan mahasiswi yang terjerumus dalam zina karena pacaran. Saya banyak menerima konseling masalah ini. Saya sangat miris setiap kali menerima konseling masalah ini. Kok bisa ya?

Kalau sudah kejadian kehormatannya direnggut gratisan oleh pacar, baru deh nyesel dan nangis bombay. Sayangnya, penyesalan yang terlambat. Bunga sudah layu tak bisa dibuat mekar kembali. Kalaupun kamu tidak sampai terjerumus dalam hubungan seks, harga diri kamu juga sudah terendahkan. Karena, kamu sudah dipegang-pegang dan dicium-cium oleh pacarmu, seperti orang beli mangga.

Sudah gitu, ujung-ujungnya putus. Terang saja kamu yang rugi, bro. Seolah kamu tidak ada harga dirinya. Bisa diperlakukan seperti itu. Emang kamu mau digituin? Nggak ‘kan! Hormati dan sayangi dirimu dengan tidak pacaran. Pacaran hanya merendahkan perempuan. Tidak ada pacaran yang memuliakan perempuan. Kenapa? Karena, orientasi pacaran itu fisik.

Banyak remaja dan mahasiswi pacaran alasannya untuk penjajakkan. Ia yang terjadi adalah penjajakkan fisik. Sudah didapat, ditinggal pergi. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Kurang ajar ‘kan? Makanya, kamu jangan mau jadi korban pacaran, Sist. Sudahlah putusin sekarang juga dan jangan pacaran lagi ya. Pada waktunya nanti, jika kamu sudah siap, menikahlah. Hanya dengan menikah kamu akan termuliakan.

Sudahlah jangan ngeles. Nggak ada pacaran yang sehat. Kamu mau ngomong gitu ‘kan? Pacaran sehat. Hehehe… Saya sudah banyak menerima curhatan remaja. Jadi, saya tahu ngelesnya remaja dengan menyebut pacaran sehat. Mana ada pacaran sehat? Ngawur orang yang berpendapat kayak gitu. Lebih ngawur lagi pacaran Islami. Waduh tambah kacau nih pola pikirnya.

Emang kayak gimana pacaran Islami? Pacarannya di bawah tangga masjid gitu? Atau pacarannya sms-an ngingetin shalat dan ngaji. Hadeeuhh, itu cuma pembenaran  untuk melegalkan pacaran. Pokoknya nggak ada kompromi. Sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Titik. Yap, pacaran itu dilarang dalam Islam. Maka, sudah semestinya kamu menjauhinya.

Islam melarang pacaran mesti ada hikmahnya, antara lain agar tidak ada celah masuk setan untuk menjerumuskan kamu ke perbuatan hina (zina). Berpacaran berarti membuka celah masuk yang lebar kepada setan untuk menggoda dan menjerumuskan kamu dan pacarmu pada kemaksiatan. Ingat, setan itu super licik dan gigih buat menjerumuskan kamu dan pacarmu pada maksiat.

Setan akan menyerang kamu dan pacarmu habis-habisan; dari depan-belakang dan kanan-kiri. Dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok kamu berdua. Kamu tidak akan dibiarkan lolos sampai terperangkap pada maksiat. Dada akan terasa bergemuruh karena bisikan setan yang terus berhembus. Apa kamu dan pacarmu bisa tahan?

Sadarilah iman kamu masih tipis ‘kan? Hehehe… Karena itu, hindari berpacaran dan berdua-duaan dengan pacar. Jangan beri celah setan untuk menjerumuskan kamu pada zina. Boleh jadi kamu awalnya nggak ada niat, tetapi ketika kesempatan terbuka, setan menyerang habis-habisan, pacarmu juga terus mendesak, apa kamu kuat bertahan, Sist? Dari konseling yang saya terima, banyak remaja perempuan yang terjebak dalam perangkap zina.

Okelah, saya anggap kamu bisa teguh menjauhi zina meski berpacaran. Namun demikian, pikirkanlah waktu produktifmu. Apakah dengan pacaran kamu bisa mengisi waktumu untuk kegiatan produktif? Nggak ‘kan. Malah, pacaran itu menghambat banget untuk pengembangan diri. Alasannya? Sederhana saja, waktumu akan habis tersedot oleh pacar. Mulai dari sms/wa/bbm nanyain kabar sampai merayu gembel eh salah maksudnya gombal.

Berangkat dan pulang sekolah berdua, jalan-jalan berdua dengan pacar, wah banyak banget deh waktu kamu yang tersita. Eh ujung-ujungnya putus. Sudah banyak yang kamu korbankan, eh doi malah pacaran lagi sama cewek lain. Sakitnya tuh di sini (ngelus dada). Kok bisa? Ya, bisa sajalah. Lha wong, pacaran itu nggak ada ikatan hukumnya, nggak ada statusnya. Kamunya saja yang mau di PHP-in. Mau-maunya menjalin hubungan tanpa ikatan hukum.

Mungkin kamu mau ngeles lagi, pacaran ‘kan dalam rangka mencari jodoh. Saya ingatkan ya, jangan pernah berharap mendapatkan jodoh yang baik dengan pacaran. Nggak akan pernah didapat. Bagaimana bisa mendapatkan sesuatu yang baik dengan jalan yang tidak baik. Pacaran bukan jalan yang disyariatkan agama untuk mendapatkan jodoh.

Mari kita pikir dengan saksama, dalam Islam, pernikahan itu sesuatu yang serius dan agung. Islam menyebutnya dengan mitsaqan ghalizhan (perjanjian yang berat). Ya, sejatinya orang yang menikah itu membuat perjanjian yang berat dengan Allah untuk menjalankan syariat pernikahan. Nah, sekarang kamu pikirkan jika ada seorang laki-laki yang bilang cinta padamu dan ingin menikah denganmu, tapi tidak berani melamarmu, hanya berani memacarimu, apakah cintanya benar dan serius? Kamu bisa jawab sendiri ya.

Tanda laki-laki serius dan benar cintanya padamu adalah dia berani datang ke orangtuamu untuk melamarmu. Itu baru laki-laki yang serius dan benar cintanya. Kalau lelaki yang hanya berani menyatakan cinta dan memacarimu, tolak cintanya dan tinggalkan saja. Dia hanya ingin senang-senang denganmu. Makanya, beraninya memacarimu.

Sudah banyak kok buktinya. Alih-alih mencari jodoh, yang terjadi malah kehilangan kehormatan dan harga diri. Serius, Sist. Sudah banyak lho remaja perempuan yang konseling langsung ke saya terjebak dalam pacaran yang melegalkan hubungan seks. Awalnya sih menolak, tapi karena terus didesak oleh pacar, akhirnya mau juga. Terjadilah dosa besar itu (zina). Dosa yang menghinakan kamu dalam pandangan Allah. Dosa yang menghalangi ibadah selama 40 tahun jika tidak ditobati dengan tobat nasuha.

Kalau sampai kejadian seperti itu, coba kamu pikir masih mungkinkah kamu memperoleh jodoh yang baik? Kamu menikah dengan pacarmu yang sudah merenggut kehormatanmu? Iya, kalau dia mau tobat nasuha. Jika tidak, kamu hanya akan melewati masa-masa kelabu bersamanya. Jika sebelum menikah saja dia berani berbuat seperti itu kepada kamu, bukan tidak mungkin saat sudah menikah denganmu, dia melakukan hal yang sama kepada perempuan lain. Kalau sudah begitu, pasti rumit masalahnya.

Karena itu, sekali lagi saya ingatkan, sebelum kejadian, lebih baik kamu jauhi pacaran. Kalau yang sudah terlanjur pacaran, segeralah putusin. Jangan sampai kamu jadi korban pacaran. Kamu sendiri yang rugi, Sist. Kerugiannya bukan sesaat, tetapi bertahun-tahun, bahkan bisa jadi sepanjang hidupmu.

Tiada jalan lain bagi yang ingin mencari jodoh yang baik selain melalui menikah. Ungkapan dan ekspresi cinta yang tulus hanya bisa terwujud melalui pernikahan. Karena, dengan menikah, berarti kamu telah menjadi satu jiwa dengan pasanganmu. Al-Qur’an menyebutnya dengan ungkapan sangat indah, “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.” (Istri-istrimu pakaian bagimu, dan kamu pakaian bagi mereka).

Jelas sekali ‘kan? Kalau mau mencari jodoh yang baik, bukan dengan pacaran. Karena itu, jadilah jomblo bermartabat. Fokus saja menata masa depanmu. Terus mempersiapkan dan memantaskan diri untuk diberikan jodoh terbaik. Pada waktunya, ketika kamu sudah siap dan memantaskan diri, insya Allah jodoh akan bertamu ke rumahmu. Indah ‘kan?

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/pacaran-no-way/

Kekhasan Pemimpin dan Generasi yang Mengikutinya

 

 

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, an sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.

Soleh Ingin Salat Berjamaah

Syamsumar (Wali Asrama SMART Ekselensia Indonesia)

 

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.15. Saya sedang duduk di kantor asrama Daarul Ilmi sambil mendata dan mengecek kartu izin siswa yang keluar hari itu. Kemudian saya bermaksud ingin menyalakan muratal sebagai tanda persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.

Semua aktivitas siswa yang tidak berhubungan dengan persiapan shalat berjamaah harus dihentikan. Ternyata salah seorang wali asrama yang lain sudah menyalakannya terlebih dahulu. Saya pun langsung pergi menuju tempat para siswa biasa menyaksikan televisi. Di situ saya melihat mereka sedang asyik menikmati salah satu siaran yang tampaknya tengah seru-serunya. Ada siswa yang tersenyum, ada yang tertawa, bahkan ada juga yang bercanda ria sambil mengikuti ekspresi sesuai yang mereka saksikan. Saya lantas ikut tersenyum sambil mengingatkan mereka.

“Sekarang sudah waktunya untuk melakukan persiapan shalat berjamaah. Silakan TV dimatikan.”

“Sebentar lagi, Ustaz. Kalau sudah iklan ya!” sahut sebagian siswa.

Saya pun menunggu dengan sabar sambil mengingatkan siswa yang lainnya yang ada di setiap kamar. Di salah satu kamar saya mendapatkan ada siswa yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca buku yang ada di tangannya. Saya pun mengingatkannya untuk melakukan persiapan Salat Magrib berjamaah.

“Buku apa yang sedang kamu baca?” tanya saya.

“Komik. Memangnya kenapa, Ustaz?” siswa itu balik bertanya, tapi tak lama kemudian meneruskan bacaannya.

“Tidak apa-apa,” jawab saya.

“Baiklah, sekarang sudah waktunya mandi dan persiapan untuk Salat Magrib berjamaah.”

“Kenapa kita harus shalat berjamaah di masjid, Ustaz?” tanya siswa bernama Sholeh.

“Shalat berjamaah pahalanya lebih besar dibandingkan salat sendiri.”

“Tapi bukankah di kamar kita juga bisa melakukan salat berjamaah?” sergah Sholeh tidak puas.

“Betul, tapi alangkah baiknya kita salat berjamahnya di masjid.”

Siswa yang sama masih menunjukkan ketidakpuasan atas jawaban saya. “Tapi, pahala jamaahnya sama saja kan?”

“Beda! Kalau kita salat berjamaah di masjid setiap langkah kita menuju masjid akan dihitung pahalanya oleh Allah Swt, begitu pula saat kembali dari masjid. Apalagi kita tinggal di salah satu lembaga tempat kita harus mengikuti disiplin dan menaati peraturan-peraturan yang ada.” Sholeh menyimak kata-kata saya tanpa menginterupsinya.

“Sebagai manusia,” lanjut saya, “kita harus ingat bahwa hidup ini tidak terlepas dari disiplin, kapan pun dan di mana pun kita berada. Jangankan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sekalipun harus hidup berdisiplin. Kalau tidak, ia akan mati. Lalu lintas juga ada disiplinnya, ada peraturannya. Kalau tidak diikuti, maka akan celaka, akan saling bertabrakan. Apalagi manusia, apa jadinya kalau hidup tanpa disiplin?”

“Benar, Ustaz. Terima kasih atas masukan dan sarannya.” Saya tersenyum senang. Anak-anak seusia Sholeh memang terkadang suka unjuk diri; semata untuk memenuhi keingintahuan atau bahkan membutuhkan perhatian dari orang dewasa di lingkungan sekolah atau asrama.

“Baik, sekarang silakan kamu mandi dan siap-siap untuk Salat Magrib berjamaah.” Anak itu pun menutup komik yang dipegangnya sedari tadi. Ia bersiap untuk beranjak ke kamar mandi.

“Baik, Ustaz!”

 

Pemuda merupakan suatu gelar yang sangat istimewa. Adapun peranan pemuda yang tidak akan berubah ,yaitu agent of change, social control, dan iron stock.  Agent of change adalah peran pemuda dalam melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik. Pemuda yang sedang berada tahap belajar, mulai memahami kaidah- kaidah yang semestinya yang diterapkan pada kehidupan bernegara.

 

 

Jika ada sesuatu yang tidak berada dalam aturannya, maka mahasiswalah yang akan mengembalikan ke jalur yang semestinya. Social control adalah peran pemudadalam mengamati lingkungan dan negaranya. Seringkali, pemerintah yang berada diatas hirarki bernegara melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi masyarakatnya atau dapat dikatakatan menguntungkan diri sendiri. Maka itulah peran pemuda memperbaiki hal tersebut dengan tanpa kepetingan tertentu di dalamnya. Yang terakhir adalah Iron stock, pemuda diharapkan menjadi pemimpin- pemimpin negara yang lebih baik. Karena pemudatelah mengetahui bagaimana hal yang semestinya diperbaiki untuk menyejahterakan negara, hal tersebut Karena pemuda telah mengkaji kebijakan-kebijakan pemimpin sebelumnya. Dengan mengetahui hal yang dipaparkan tersebut hendaknya kita sebagai pemuda menjadi pemimpin yang dapat berguna bagi rakyat.

 

Kontribusi dalam kamus besar bahasa Indonesia dapat berarti sumbangan. Nah, sumbangan seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini. Menilik dari permasalahan bangsa ini di saat sekarang sudah jelaslah solusi dari permasalahn tersebut, dibutuhkan kesadaran pemuda bangsa ini untuk menjadi pemimpin negeri ini dalam memberantas krisis ideologi yang tengah terjadi. Seorang pemimpin yang terus mempelajari dan berbagi mengenai seluk beluk ideologi pancasila yang sebenar–benarnya.

 

Adalah suatu kesia-siaan jika gelar pemuda ini tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sangat mubazir jika kita hanya menjadi seorang apatis yang hanya kuliah-pulang atau kuliah-kafe. Belum lagi peran kita sebagai manusia yang diciptakan dimuka bumi untuk menjadi pemimpin umat sedunia.

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali ‘Imran: 110).

 

Berbicara tentang pemimpin, pemimpin Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi zaman sekarang, seharusnya pemimpin Indonesia dapat membuat terobosan terbaru yang efektif dan efesien dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Biarlah terobosan tersebut hanya hal kecil. Bisa saja hal kecil seperti sebuah akun khusus dan laman khusus yang akan otomatis ada ketika sebuah akun pemuda Indonesia aktif. Akun khusus inilah nantinya yang menjadi media berbagi serta menguatkan prinsip – prinsip Pancasila kepada setiap pengguna media sosial di tanah air.

 

Selain itu, pemimpin juga harus mengetahui segala problematika yang terjadi di Indonesia. Permasalahan saat ini sebenarnya dapat teratasi jika generasi muda sebagai calon pemimpin benar-benar menerapkan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Namun sayangnya ada pemuda yang menganggap pancasila itu tidak relevan. Meskipun ada pemuda yang mengaku mencintai pancasila, tapi mereka tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila seutuhnya. Mereka memang mempunyai nilai nasonalisme yang cukup tinggi, tapi apakah nasionalisme saja sudah cukup untuk memahami makna pancasila? Tidak, karena dalam pancasila telah dirumuskan nilai-nilai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan kepada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Untuk itu, pemimpin dengan pemahaman tinggi terhadap ideologi sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

 

Oleh karena itu janganlah kita menyia-nyiakan waktu yang kita miliki, karena Ahmad Rifa’i Rif’an seorang penulis buku Hidup Sekali, Berarti lalu Mati pernah menyampaikan dalam bukunya:

 

Bukankah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan maha karya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah? Lahir, hidup, mati tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya.

 

 

Alquran dan hadis adalah landasan dan petunjuk hidup bagi umat Islam. Islam sebagai agama rabbani telah dan akan mengajarkan manusia tentang kehidupan secara menyeluruh. Syumulliyah atau menyeluruh artinya Islam mengatur semua hal dalam hidup ini, mulai dari hal paling sederhana (masuk ke toilet misalnya) sampai ke membangun sebuah peradaban. Alquran merupakan kitab suci yang authentic dan ilmiah. Keilmiahan Alquran dapat dibuktikan dengan ilmu sains yang saat ini berkembang, hal ini tidak bisa dipungkiri bukan? Maka sebagai seorang muslim sudah sepatutnya menggunakan Alquran dan hadis sebagai landasan berpikir dan bergerak. Begitu juga dalam mendefenisikan benar dan salah sudah seharusnya berlandaskan apa yang Islam ajarkan. Salah satunya adalah perbedaan pendapat tentang kewajiban memakai hijab bagi perempuan muslim.

 

Di dalam Islam perempuan sangat dimuliakan. Salah satu bentuk memuliakan perempuan adalah perintah untuk menutup aurat. Apakah itu sebagai bentuk perbudakan atau lambang ketidakbebasan? Tentu tidak. Menurut Prof. Syed Naquib Al-Attas, manusia yang bebas dalam Islam adalah mereka yang penghambaannya paling total terhadap Allah Swt. Tujuan kebebasan dari Islam sendiri ialah untuk menjadikan manusia tersebut maju dan tinggi derajatnya (The Center for Gender Studies 2019). Di Indonesia kerudung atau jilbab adalah penyebutan lain untuk hijab. Hijab merupakan kain yang menutupi aurat perempuan dari ujung kepala hingga bagian dadanya. Seperti kata Tawakkol Karman seorang jurnalis yang mendapatkan nobel perdamaian tahun 2011 berpendapat bahwa hijab adalah lambang peradaban tertinggi,

 

“Manusia di masa lalu hampir telanjang. Kemudian, kecerdasan manusia berkembang manusia mulai mengenakan pakaian. Apa yang saya hari ini dan apa yang saya kenakan merupakan tingkat tertinggi pemikiran dan peradaban yang manusia telah capai, bukan sebuah pengekangan. Jika manusia sekarang perlahan mengurangi bahan pakaian pada tubuhnya, ia kembali ke zaman purba dahulu!” (dikutip dari jejakislam.net).

 

Perintah menutup aurat adalah bentuk penghormatan dan kemulian. “Selamat berbahagia…! Karena engkau telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa Ramadan, melaksanakan ibadah haji, dan mengenakan hijab.” Begitulah kata Dr. ‘Aidh Al-Qarni dalam bukunya yang berjudul Menjadi Wanita Paling Bahagia. Kebahagian dengan mencari kebebasan sesuai fitrah.

 

“Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).” [HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah].

 

Perempuan dalam menggunakan hijab melewati perjalanan yang tidak selalu mulus, baik itu di Indonesia maupun di luar negeri. Tantangan itu hadir dari internal maupun eksternal. Akhir-akhir ini, masih sering mendengar berita seorang muslimah yang ditolak bekerja, dipukul, maupun dibullying karena menggunakan hijab. Kazma Khan yang saat ini menjadi seorang ibu rumah tangga juga pernah mengalaminya. Ia pindah dari Bangladesh ke US pada saat berumur 11 tahun bersama orangtuanya. Saat bersekolah dia adalah satu-satunya perempuan yang menggunakan kerudung. Hal itu membuatnya terlihat berbeda dan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.

 

Pengalaman menggunakan hijab di negara minoritas membuat Kasma Khan terinsipirasi untuk membuat gerakan World Hijab Day yang dilaksanakan setiap 1 Februari. Gerakan ini mengajak muslimah yang tidak memakai hijab dan perempuan non-muslim untuk memakai hijab dalam sehari. Tujuannya agar mereka dapat merasakan bagaimana rasanya memakai hijab. Tak hanya itu, gerakan ini juga bertujuan untuk mengadvokasi hak-hak muslimah yang berhijab agar memiliki hak yang sama dengan perempuan lainnya. Gerakan ini telah diikuti oleh 190 negara, dimana angka ini bertambah dari setiap tahunnya.

 

Di Indonesia sebagai masyarakat penganut Islam terbanyak di dunia juga memiliki kisah perjuangan tersendiri tentang hijab. Generasi Tradisionalist, Boomers, dan X tentu merasakan pelarangan menggunakan hijab kala itu. Pada tahun 1980-an muslimah menggunakan kerudung merupakan barang langka dan sulit untuk ditemukan. Perjuangan menggunakan hijab di Indonesia terangkum rapi di http://jejakislam.net/perjuangan-panjang-jilbab-diindonesia/ . Jika di negara Barat ada world Hijab Day maka di Indonesia ada Gerakan Menutup Aurat (GEMAR) yang dicetuskan oleh organisasi Peduli Jilbab sejak 2012. Tahun ini kegiatan ini akan dilaksanakan pada 16 Februari 2020. Sebagai negara dengan masyarakat Islam terbanyak tidak menutup kemungkinan masih ada kasus-kasus diskriminasi. Misalnya saja di NTT ada seorang remaja muslim yang mendapatkan perlakuan diskriminasi terhadap hijabnya oleh tenaga pendidik di sekolah. Maka GEMAR ingin mengajak muslimah yang belum berhijab untuk memakai hijab dan bangga akan identitasnya itu.

 

Akhir-akhir ini media sosial juga diramaikan oleh pernyataan dari seorang istri tokoh publik di Indonesia yang mengatakan bahwa Islam tidak wajib untuk dipakai. Tak lama setelah itu muncul juga sebuah gerakan hijabisasi. Nama gerakan tersebut adalah No Hijab Day yang dilaksanakan pada 1 Februari 2020. Gerakan ini dicetuskan oleh Yasmine Mohammed seorang aktivis HAM dari Kanada. Yasmine juga bergerak mengadvokasi hak-hak perempuan yang hidup di negara mayoritas Islam yang hidup dengan fundamentalisme agama. Gerakan No Hijab Day juga sampai ke Indonesia, sebuah ajakan untuk melepas hijab dan menggantikannya dengan baju adat Indonesia. Informasi ini dapat di akses di laman ajakan event No Hijab Day di Facebook.

 

Gerakan No Hijab Day merupakan gerakan Hijabisasi di Indonesia yang harus ditanggapi serius oleh perempuan-perempuan muslim. Para ulama telah sepakat bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, maka memakai hijab adalah sebuah kehormatan dengan kesadaran penuh akan kewajiban itu. Bukankah sepantasnya kita khawatir? Perkembangan pemikiran liberal, sekuler, feminisme, dan isme-isme lainnya telah merebak di tengah-tengah masyarakat. Jika virus corona dapat dideteksi dan semua orang takut mati karena hal itu, seharusnya begitu juga saat kita menyikapi virus-virus pemikiran yang tidak sesuai syariat Islam. Pemikiran yang membuat jiwa kita mati dan menggerus aqidah ummat.

 

Saat ini kata-kata Islam, Syariat, Jihad, tarbiyah, syar’i, dan istilah Islam lainnya menjadi momok yang mengerikan dan terkesan radikal di Indonesia. Begitulah framing yang dibentuk oleh dunia, media massa, tokoh publik yang diluncurkan ke telinga pendengar secara sistematis. Gerakan No Hijab Day harus ditolak baik dengan tangan, lisan, ataupun hati kita. Berdasarkan penelitian David Stillman (Generasi X) dan Jonah Stillman (Generasi Z) tahun 2017, generasi Z saat ini memiliki norma-norma baru yang dulu tabu untuk generasi X. Salah satunya sudah dilegalkan pernikahan sejenis, komposisi keluarga sudah tidak lagi berkutat pada 1 orang ayah laki-laki, 1 orang ibu perempuan, dan anak-anaknya. Pada generasi Z mereka merasa wajar jika keluarga itu berisikan 1 orang ayah berjenis kelamin perempuan, 1 orang ibu berjenis kelamin perempuan. Pola pikir dan pola perilaku sebuah generasi dibentuk oleh kondisi global, dari sisi ekonomi, politik, sosial, hingga pola asuh orangtua. Maka jika secara global saat ini pemikiran yang disisipkan di media massa, yang disampaikan oleh influencer, vlogger, tokoh publik, bertentangan dengan syariat Islam, apa kabar anak dan cucu kita? pemikiran tentang memakai hijab tidaklah wajib bagi muslimah di depan non-mahramnya mungkin saja diimani oleh generasi-generasi selanjutnya. Bukankah sepantasnya kita khawatir?

 

Terakhir, kampanye No Hijab Day adalah pertarungan pemikiran yang tidak bisa dideteksi dengan alat ukur kimia. Yang bisa kita lakukan adalah pertajam aqidah, pelajari tentang pemikiran Islam agar kita menjadi individu yang bijak dalam menanggapi gerakan seperti No Hijab Day. Sebagai seorang aktivis muslim maka seharusnya keberpihakan itu jelas pada Islam, tidak ada satu orangpun yang netral bahkan seorang atheis pun. #TolakNoHijabDay selamat hari menutup aurat untuk saudaraku. Dengan menjadi seorang muslimah, engkau sudah mulia.

 

Oleh: Anisa Sholihat.

Duta Gemari Baca PSB Makmal Pendidikan, saat ini berkuliah di Fakultas Pendidikan Guru SD (UNJ)

 

Pada zaman modern seperti saat ini, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sudah semakin maju. Proses penyampaian pesan dan informasi tidak hanya dilakukan melalui surat menyurat ataupun Short Message Service (SMS), melainkan dapat dilakukan melalui gadget dan media sosial yang mutakhir seperti Twitter, Facebook (FB), Instagram (IG), Whatsapp (WA) dan BlackBerry Messenger (BBM). Hal itu mengakibatkan melesatnya penyampaian informasi yang terjadi di masyarakat. Membludaknya informasi yang kita terima melalui media sosial merupakan salah satu bukti kemajuan teknologi. Sayangnya, kemudahan untuk mendapatkan informasi tidak selalu memberikan dampak positif, terselip pula beberapa dampak negatif seperti mudah tersebarnya berbagai berita bohong yang tidak jelas kebenarannya atau berita hoax.

Berita-berita hoax sangat mudah kita temui ketika sedang berselancar di dunia maya. Parahnya, berita tersebut amat mudah tersebar dan menjadi viral di kalangan masyarakat. Rendahnya sikap kritis masyarakat ketika mendapatkan berita, menjadi salah satu penyebab menjamurnya peredaran berita hoax. Berita yang diterima melalui media sosial, biasanya ditelan mentah-mentah, kemudian segera dibagikan kepada khalayak ramai.

Bagi sebagian besar orang, berita hoax dianggap sangat meresahkan dan mengganggu. Namun, bagi beberapa orang yang memiliki daya kreativitas yang tinggi, viralnya berita hoax di masyarakat dimanfaatkan untuk membuat akun parodi yang memuat berita-berita hoax yang menggelitik dan memancing tawa pembaca. Berita-berita hoax tersebut tentunya sangat tidak serius dan hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat, namun di sisi lain, mereka tetap meraup keuntungan, misalnya pendapatan dari iklan suatu produk karena viralnya berita yang mereka buat.

Berikut ini beberapa akun media sosial yang kerap mengunggah berita dan menyampaikan informasi yang tidak benar atau hoax dari sisi parodi yang tentunya sangat tidak serius dan menggelitik.

Liputan9

Akun Liputan9 merupakan akun parodi dari Liputan6 yang digagas oleh Federal Marcos dan diasuh oleh co founder Rahmat Saputra. Akun yang memiliki tagline kedaluwarsa, tumpul dan tidak dapat dipercaya ini dibentuk pada 14 Februari 2012. Latar belakang dibentuknya akun Liputan9 karena melihat peluang di mana saat itu belum banyak akun yang menyiarkan berita-berita parodi. Liputan9 hadir sebagai salah satu akun penyebar  berita parodi di sosial media. Tanggapan positif mereka terima dari masyarakat yang merasa terhibur, namun ada beberapa pihak yang kontra ketika membahas isu politik.

Selama lima tahun menggeluti akun Liputan9, tentu saja banyak sekali pengalaman dan suka duka yang tim Liputan9 rasakan diantaranya kebahagiaan karena mendapatkan keuntungan berupa invoice dari viralnya berita yang mereka buat serta iklan dari beberapa produk. Selain kisah bahagia, tentu terdapat pula kisah kurang menyenangkan, semisal, karya yang mereka buat diklaim oleh akun lain.

Berawal dari keisengan, kini, akun Liputan9 telah memiliki follower dalam jumlah fantastis, yaitu 868.000 pengikut di twitter, 9.000 pengikut di instagram dan 39.500 penyuka di LINE.

Contoh berita yang diunggah Liputan9:

“Perplocoan di dunia satwa, flamingo ini disetrap dengan mengangkat satu kaki.”

“Hormati bulan Ramadhan, Arsenal datang ke Indonesia dengan puasa gelar selama 8 tahun”.

“Harga bawang naik, Nia Ramadhani dan Revalina S. Temat sepi job”.

Rahmat Saputra, selaku co-founder liputan9, merasa sangat prihatin dengan banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial dan dapat membuat orang lain saling membenci dan bermusuhan. Lebih disayangkan lagi, menurutnya, hoax menjadi bisnis menggiurkan bagi pihak tertentu. Meskipun ia juga memanfaatkan momen viralnya berita hoax, namun liputan9 tidak memprovokasi ataupun memberitakan kabar yang dapat meresahkan masyarakat. Berita-berita hoax yang diunggahnya, tak lain hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat.

 

Berita Ngakak (@BeritaBodor)

Akun twitter Berita Ngakak (@BeritaBodor) dibuat pada 2011, setelah mengamati tren di kalangan anak muda. Seperti halnya Liputan9, akun Berita Ngakak pun menyajikan berita-berita parodi yang bertujuan menghibur pembaca, biasanya berita yang disiarkan berupa plesetan dari berita sungguhan.

Contoh berita yang diunggah Berita Ngakak di Twitter:

“Karena mata duitan, Tuan Crab ditangkap dan diperiksa KPK”

“Karena maraknya kebakaran akibat arus listrik hubungan pendek maka PLN akan merubah arus listrik jadi hubungan LDR.”

“Karena kebut-kebutan, jenazah di dalam mobil jenazah kini terbangun dan sopir mobil jenazah tersebut tewas karena terkena serangan jantung.”

Sampai saat ini, pengikut di akun twitter @BeritaBodor sebanyak 950.000 follower, sedang di instagram sebanyak 135.000 pengikut. Dengan followers sebanyak itu, bukan hal yang aneh jika mereka mendapatkan banyak sekali tawaran iklan dari berbagai produk. Dari situlah, mereka mendapatkan keuntungan.

Tingkatan Hidup yang Perlu Kamu Baca!

Oleh: Mamluatul Lailiyah

Berbicara tentang hidup, maka setiap orang tentu menginginkan hidup yang berkualitas. Setiap orang mengklasifikasikan kualitas hidup dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengklasifikasikannya dengan Tiga T; Harta Tahta Wanita. Ada yang mengklasifikasikannya dengan kontribusi ke masyarakat yang melimpah. Semua klasifikasinya tentang hidup adalah hak setiap orang untuk memilih. Proses klasifikasi hidup ini tentu tidak lepas dari bagaimana cara seseorang itu merespon setiap kejadian di dalam hidupnya. Respon dalam hidup ini ada berbagai tingkatannya. Semakin tinggi tingkatnya maka semakin berkualitas hidup seseorang. RESPON hal yang penting untuk dikendalikan oleh setiap manusia.

Ada salah satu trainer hebat, bernama bapak Harry Firmansyah, mengajarkan saya bahwa: Quality of Respon = Quality of Life. Jika ingin hidupnya berkualitas maka berikan respon yang berkualitas juga atas semua kejadian di hidup ini.

Salah satu contoh, saat guru memberikan tugas kepada kita, lalu kita meresponnya dengan kata-kata “Alah Pak/Bu, kok tugas lagi. Bosennya saya seperti ini terus setiap hari” Dan kata-kata keluhan lainnya, artinya respon kita masih berada di level “BASIC”. Level paling rendah dari lima Level of Response. Dan di level ini, setiap orang bisa melalukannya, dan kebanyakan orang yang berada di level ini merespon sesuatu tanpa berpikir atau bisa disebut dengan Reaktif.

Berbeda halnya jika, ketika guru memberikan tugas ke kita, lalu kita merespon guru kita dengan baik, melakukan tugasnya dengan sempurna, dan tepat waktu, maka, Respon kita sudah baik (?) Mungkin bisa dikatakan baik, namun, dalam 5 Level of Response, hal ini masih berada di level “EXPECTED”. Level ini memberikan makna bahwa, respon kita itu ya memang harusnya seperti itu. Harusnya dan layaknya seperti itu. Tidak ada yang hebat dalam respon seperti itu, karena attitude harusnya selalu dijunjung tinggi.

Level ketiga dalam 5 Level of Response adalah “DESIRED” artinya yang diharapkan. Pada contoh guru dan murid seperti di atas, Murid di level “DESIRED” akan merespon guru dan tugasnya dengan melakukan lebih dari yang seharusnya, seperti memberikan ide-ide baru dalam pengerjaan tugas, dan selalu berusaha untuk menyenangkan hati guru, karena adab di atas ilmu.

Lalu, ketika sang murid mampu menginspirasi murid-murid lain karena tugas yang dikerjakannya, maka sang murid naik level menjadi level “WOW SURPRISING”. Sang murid yang berada di level ini, akan terus berfikir “What’s new? What’s next? What’s Better? Tak ada kata puas hingga memberikan potensi terbaik dalam penyelesaian tugas. Ketika sampai di level ini, maka butuh banyak perjuangan dan pengorbanan dalam penyelesaian tugas. Hasil tak akan pernah mengkhianati usaha.

Level tertinggi dalam lima Level of Response adalah “UNBELIEVABLE”. Di level ini, murid tadi, dalam penyelesaian tugasnya, mampu membawa orang banyak untuk mengikuti caranya dalam menyelesaikan tugas tersebut. Banyak orang yang juga meneladani hidupnya. Ketika sang murid sudah berada di level ini, maka amal jariyah akan mengalir kepadanya, karena “cara hidupnya” dicontoh banyak orang.

“UNBELIEVABLE” menjadi tujuan banyak orang untuk mendapatkan kualitas hidup. Dan tentu jalan menuju level ini sangat menantang. Namun, belum tentu mustahil untuk dilakukan. Ada tiga cara yang bisa menjaga bahkan menaikkan Quality of Response kita.
Cara-caranya adalah;

  1. Take an off! Kok di cara pertama udah diminta untuk berhenti? Take an off yang dimaksud di sini adalah, Beri jeda. Jeda untuk apa? untuk berfikir terlebih dahulu sebelum merespon sesuatu. Mengubah respon yang awalnya Reaktif (respon langsung tanpa berfikir) menjadi respon Proaktif (respon setelah berfikir). Dengan adanya jeda, maka kita bisa memilih, mau di level mana respon yang kita berikan. BASIC kah? EXPECTED? atau UNBELIEVABLE?
  2. Design WOW Response. Setelah berfikir pada jeda yang kita buat. Maka berikan respon yang WOW terhadap sesuatu. Cara yang kedua ini dapat menguji kita, seberapa paham kita tentang lima Level of Response ini.
  3. Communicate it. Cara ketiga adalah cara yang mengkolaborasikan value hidup kita. Nilai-nilai hidup apa saja yang kita pilih dalam hidup. Yang selalu memotivasi kita untuk menjaga kualitas hidup. Lima Level of Response in Life di atas, mampu menjamin hidup seseorang menjadi lebih baik dan dikenang baik oleh generasi selanjutnya. Maka dengan jaminan seperti ini, masih mau untuk tidak meningkatkan respon kita ke tingkat UNBELIEVABLE?

Oleh: Dewi, Penerima Manfaat BAKTI NUSA

 

Kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah yang tiada tara, maka bersyukur adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan. Kesehatan menjadi pemberian yang terus menerus, dengan berbagai macam bentuk lahir dan batin. Hanya manusia sajalah yang kurang pandai dalam memelihara nikmat, sehingga ia merasa seolah-olah belum diberikan sesuatu pun oleh Allah. Tentu bukan karena kesehatan itu nikmat yang kecil dan sederhana, bahkan justru karena kesehatan ini begitu besar kenikmatannya, sehingga orang kerap terlena dan lupa diri karenanya. Jika direnungkan, ternyata justru di saat semuanya serba tak nyaman inilah orang menjadi sadar tentang betapa nikmatnya sehat. Justru melalui sakitlah kebanyakan orang diingatkan akan kelalaiannya bersyukur di kala sehat.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mensyukuri nikmat sehat adalah: Meyakini bahwa nikmat kesehatan sangat besar, Memuji dan mengingat segala kebesaran Allah, Memanfaat nikmat Allah untuk menebar kebaikan, dan yang terpenting adalah menjaga serta memelihara kesehatan tubuh.

Geliat Jejak Karbon yang Mengancam Kita Sob

 

Tentu kita semua sepakat bahwa perubahan iklim benarlah terjadi. Tentu kita semua merasakan cuaca yang semakin ekstrem. Peningkatan emisi karbon dioksida merupakan satu faktor peningkatan suhu. Apa teman-teman pernah menghitung jejak karbon yang teman-teman hasilkan setiap tahunnya? Penting untuk kita menghitung jejak karbon atau biasa disebut carbon footprint. Jejak karbon adalah akumulasi emisi gas rumah kaca yang diproduksi oleh suatu kelompok, kegiatan (event), maupun individu. Emisi karbon (CO2) yang kita hasilkan berasal dari berbagai aktifitas sehari-hari loh seperti penyalaan lamp, peralatan listrik, pola makan, dan cara bepergian. Seluruh aktivitas yang kita lakukan meninggalkan sisa-sisa karbon.

 

 

Di 2008 US Department of Energy’s Carbon Dioxide Information Analysis Center (CDIAC) menyatakan bahwa rata-rata emisi karbon per kapita di Indonesia adalah 1,8 ton setara CO. Jurnal Teknologi Lingkungan mengklaim bahwa Pegawai Instansi Pemerintah yang berkantor di kawasan Puspiptek Tangerang Selatan, secara rutin mengemisikan gas karbon sebesar 3,1-6,6 ton CO2-e/orang/tahun atau rata-rata sebesar 4,96±1,23) ton CO2-e/orang/tahun. Itu baru satu orang, bagaimana dengan seluruh manusia di dunia? Bayangkan berapa banyak beban pohon untuk menghisap karbon yang mana hutan juga semakin dibabat habis.

 

 

Kita bisa menghitung jejak karbon dengan aplikasi diberbagai website organisasi lingkungan. Teman-teman tinggal search jejak karbon di internet. Umumnya perhitungan ini tidaklah 100% akurat.  Karena perhitungan carbon footprint jauh lebih kompleks dan memerlukan lebih banyak parameter maupun variabel. Setidaknya teman-teman dapat mengukur seberapa besar sumbangsi teman-teman dalam pemanasan global di bumi ini sehingga menjadi acuan untuk teman-teman hidup lebih ramah lingkungan lagi ke depannya. Sehingga setiap tahun jejak karbon yang dihasilkan semakin sedikit.

 

Jangan lupa komen berapa jejak karbon yang teman-teman hasilkan ya!

Jangan Sampe deh Kita Jauh dari Allah Sob

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

 

 

Ketika Adam ‘Alaihissalam tinggal di surga, Allah mempersilakan Adam ‘Alaihissalam untuk memakan apapun yang ada di dalam surga. Hanya, satu yang tidak boleh, “Akan tetapi, janganlah kamu dekati pohon ini (walaa taqraba hadzihi asy-syajarah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 35).

 

 

 

Perhatikan ismul isyarah (kata tunjuk) yang digunakan pada ayat di atas! Alquran menggunakan kata “hadzihi” yang merupakan kata tunjuk dekat dan bermakna “ini”. Artinya, sebelum Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah, kedudukan Adam ‘Alaihissalam itu dekat sekali dengan Allah. Karenanya, redaksi Alqurannya menyebutkan, “…pohon ini” bukan “…pohon itu”. Ini menunjukkan dekatnya kedudukan Adam ‘Alaihissalam di sisi Allah.

 

 

 

Akan tetapi, ketika Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah dengan memakan buah dari pohon terlarang itu, ismul isyarah-nya berubah dari “hadzihi” (kata tunjuk dekat) menjadi “tilka” (kata tunjuk jauh) yang bermakna “itu”.

 

 

 

Alquran menerangkan, “…Tuhan menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu (tilkuma asy-syajarah) dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu berdua?’” (QS. AL-A’raf [7]: 22).

 

 

 

Berubahnya kata tunjuk yang digunakan Alquran setelah Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah menunjukkan berubahnya kedudukan Adam ‘Alaihissalam di sisi Allah. Semula kedudukannya dekat di sisi Allah menjadi menjauh karena pelanggaran itu.

 

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari, semestinya kisah Adam ‘Alaihissalam ini menjadi pelajaran bagi. Yakni, setiap dosa dan pelanggaran syariat yang kita lakukan menjadikan kita semakin menjauh dari Allah Subhanahu Wata’ala. Jika kita menjauh dari Allah, bagaimana mungkin kita bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup? Yang terjadi adalah hidup kita kering kerontang. Mungkin secara fisik materi dunia kita berkecukupan, bahkan mungkin lebih dari cukup. Namun, jiwa dan ruh kita merana dan meronta.

 

 

 

Dosa akan menggelapkan hati kita. Sedang, hati adalah tempat menerima pancaran cahaya hidayah dan taufik. Bila hati gelap pekat, mana bisa menerima cahaya hidayah. Jadi, sebenarnya bukan Allah tidak memberikan hidayah, namun kitalah yang menolak datangnya hidayah dengan dosa dan maksiat yang menggelapkan hati.

 

 

 

Karena itu, tiada yang lebih indah dalam hidup ini selain Allah dekat dalam kehidupan kita. Allah berkenan hadir dalam setiap gerak langkah kehidupan kita. Caranya dengan menjauhi dosa dan maksiat. Sehingga, hati menjadi jernih dan mudah menerima pancaran cahaya hidayah dan taufik. Hidayah dan taufik dari Allah inilah yang menjadikan hidup kita terarah, damai, dan bahagia.