Belajar Beratapkan Langit

Belajar Beratapkan Langit

Oleh: Mezy

Beberapa hari lalu seluruh siswa Angkatan 11 SMART hiking ke Gunung Salak sebagai rangkaian kegiatan Pendidikan Dasar Kepemimpinan II.

Rombongan berangkat pada pukul 22.00 WIB dan sampai di kaki Gunung Salak pukul 00.00 WIB. Di sana telah disediakan tenda oleh advance team yang berangkat pukul 17.00 WIB. Sebelum tidur, kami menyeruput minuman hangat berupa wedang jahe, setelah itu kami pun tidur dengan nyenyak.

Pada pagi harinya, kami bangun dan bersiap pukul 04.00 WIB untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah. Mengambil wudu kala itu menjadi tantangan yang lebih berat dari biasanya karena air sangat dingin hingga menusuk sendi. Tapi kami tak mau kalah, kewajiban harus ditegakkan.

Ba’da Subuh, cuaca khas pegunungan menjadi lebih hangat dengan olahraga thifan yang dibimbing oleh Ustaz Syahid. Setelah badan segar berolahraga, kami pun sarapan pagi. Kemudian pada pukul 07.00 WIB, kami bergabung dengan kelompok masing-masing melakukan pendakian.

Tiga puluh menit pendakian menuju pos pertama menjadi pertaruhan antara gengsi dan wibawa. Jika menyerah taruhannya malu. Malu karena menyerah terlalu dini. Jantung berdetak kencang, nafas putus-nyambung, penglihatan berkunang-kunang dan betis seolah ingin meledak karena tajamnya tanjakan hutan pinus. Tak ada pilihan, kami harus bertahan, setiap orang bertanggung jawab pada diri masing-masing. Sebisa mungkin tidak menjadi beban bagi kelompok. Tak ada kesempatan bermanja tapi bukan berarti menjadi takabur dihadapan alam. Sungguh pelajaran yang sangat berharga di kelas beratapkan langit itu.

Target pendakian adalah Kawah Ratu. Namun setelah satu jam pendakian, tiba-tiba kami dihentikan oleh petugas setempat dikarenakan tak boleh melanjutkan perjalanan. Bukan hanya kami, ada ratusan pendaki lainnya yang juga menumpuk di pintu gerbang. Kabarnya tiga hari sebelumnya ada dua orang pendaki yang hilang. Tim SAR masih melakukan pencarian.

Para penunjuk jalan yaitu Pak Tajan dan Pak Sutrisno, anggota TNI AD, berusaha mencari jalan keluar agar kekecewaan kami terobati. “Seru dan agak hampa karena tidak sampai ke Kawah Ratu yang berada di atas gunung,” ujar Ahmad, kelas XI. Di sana kami diajarkan beberapa yel-yel ala TNI, lalu kami melanjutkan perjalanan alternatif ke sebuah curug/ air terjun.

2

Jalan menuju curug cenderung menurun, kami diajarkan bagaimana bertahan hidup dengan tumbuhan dan akar yang bisa dimakan. Setelah sampai di curug, tanpa pikir panjang, kami terjun ke ceruk yang menampung air terjun. Segarnya air pegunungan dan ikatan ukhuwah sungguh obat yang mujarab bagi lelahnya jiwa dan raga.

Selesai bersenang-senang, kami kembali ke lokasi kemah. Melewati jalur berbeda, menikmati gerimis sepanjang jalan, dan perlahan memahat kenangan dalam hati.