“Ayo, cepetan!” Sebuah suara memintaku untuk segera bergabung.
“Tunggu sebentar!” Suaraku ikut menggema pagi itu. “Oke, oke aku siap!”
Kuambil langkah seribu dan langsung memburu. Di sana, Yunus, Arif, Jayeng, dan Syahid teman-temanku sudah menanti. Kami tergabung dalam tim Trashic (Trash Music) SMART Ekselensia Indonesia. Hari itu kami menggelar pertunjukan musik di kantor Kementerian Keuangan.

Musik? Musik macam apa itu? Mungkin jika orang melihat kami, alis tertaut dan kening berkerut sembari bertanya-tanya: apa ini? Mau apa mereka? Akan segera bertengger tanya di ujung benak. Aku dapat banyak pengalaman dengan jerigen, drum, kaleng-kaleng, dan botol kaca. Dari barang-barang bekas ini aku dapat belajar bagaimana bicara di depan orang lain, membangun kepercayaan diri, dan menampilkan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.

“Reza enggak bisa ikut nih, gimana dong?”
“Tenang saja, Ustadz, ada Yunus.”
Kami meyakinkan pembimbing.
“Emang Reza ke mana?”
“Sakit, Ustadz. Enggak memungkinkan untuk ikut,” jelasku.

Kami masih menyibak pagi dengan ketukan-ketukan ritmis sembari merapat nada, mencoba untuk menirukan lagu yang nanti kami mainkan. Tak jarang kami berhenti, mengoreksi, menimbang-nimbang, dan mengulangnya lagi. Lagi dan lagi. Ini memang sulit. Reza tak bisa datang dan kami tak punya banyak pilihan. Yunus yang paling memungkinkan pun masih terasa berbeda. Salah dan teledor, sudah biasa.

Waktu takkan mau berbelas kasih menunggu kami. Namun, bukanlah Trashic jika berhenti dan lantas beranjak pergi. Kami terus mencoba dan mencoba lagi. Sedikit rasa malu karena mata-mata yang mencuri pandang dan dengar tak mengentaskan usaha kami. Langit masih biru dan kini ruangan itu mulai ramai dijejali orang. Aku tak kenal dan tak begitu peduli dengan semua itu. Yang kupikirkan adalah bagaimana kami tampil sebaik mungkin dan menghibur mereka semua.

Sesapu pandang kulihat. Warna berkilau, kesan mewah dan kesan priyayi terasa dari bagian depan tamu-tamu yang hadir. Pikirku jahil menari-nari.
“Kementerian Keuangan, wanita-wanita itu istri para pemegang uang, kudengar ini acara ibu-ibu arisan, wah bisa dibayangkan….”
“Ayo masuk!” Arif menyenggolku.
“Ya, ya, santai bro hehehe….”

Kami memasuki ruangan khusus pengisi acara. Sembari menunggu, kami bersantai sejenak. Lelah, pusing, dan pegal masih menggantung. Pikiranku kembali menari. “Apa yang kubawa nanti ya? Aku ingin sekali memberikan sesuatu padanya. Uangku tak mungkin kugunakan karena untuk persediaan hingga pulang kampung. Mungkin, bisa.

“Coba lagi yuk, lancari.” Kuambil stik dan mengajak anggota yang lain ikut bergabung.
“Habis ini siap-siap ya!”
“Sip, Ustadz!”

Yang kami yakini adalah kami harus bermain sebaik-baiknya dan jangan pikirkan soal imbalan. Luruskan niat bahwa kami ingin menghibur dan memberikan yang terbaik. Ustadz selalu berkata demikian.

Aku hanya percaya bahwa aku masih bisa memberikan sesuatu untuknya, untuk mereka.

Kami dipanggil. Kaki melangkah, dan kami telah siap. Kami mulai. Kami tenggelam dalam ketukan dan harmonisasi. Menjaga dan coba selaraskan hingga akhir. Sejenak terlupa tentang apa yang harus kubawa untuknya. Lagu berakhir, kami beristirahat sejenak.

Kubuka percakapan. Kusebut seperti itu dengan penonton. Tidak percakapan dalam arti sebenarnya namun tetap kuanggap begitu. Sekadar hilangkan ketegangan. Aku cukup bisa membaur. Mereka terlihat antusias dan menginginkan satu lagi dari kami.

Penampilan selanjutnya berjalan cukup baik. Yunus lupa dan kehilangan ketukan. Improvisasi darinya selamatkan penampilan kami. Penonton riuh redam, tepuk tangan menyerbu. Kami berhasil lagi. Sedikit celetukan mengatakan bahwa kami harus bermain sekali lagi. Waktu kami habis. Sedikit basa-basi dan penutup dariku, lantas kami turun dari panggung. Senang Trashic selalu bisa membuatku senang pada saat seperti ini. Melihat sambutan tadi, aku kembali menepi. Berpikir bahwa kami memang punya sesuatu.

Di ujung acara kami kembali dipanggil. Bukan untuk kembali menggebuk drum, jerigen, dan kaleng namun untuk menerima ‘sedikit’ bingkisan. Jepretan kamera dan blitz silih berganti. Pasang senyum dan bertindak wajar sukses!

Wanita yang menyerahkan bingkisan ini pastilah orang penting. Aku lupa siapa atau posisinya, yang jelas ia seperti orang yang memiliki pengaruh besar.

Sedikit berat bingkisan ini. Tak tahulah apa isinya. Bukan sekarang saatnya. Kami kembali ke ruangan pengisi acara. Bingkisan dibuka dan aku langsung berpikir untuk memberikan ini pada mereka.

“Al-Qur`an untuk Ayah dan Ibu. Pasti mereka senang!” Sorakku dalam hati. []

Kontributor : Panji Laksono (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)