Ada Pelajaran Keren di Ramadan Tahun Ini

 

Oleh: Ahmad Dimas Subrata, Guru SMART

 

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Ali Imran/3: 103]

 

 

Beberapa hari ke depan, bulan Ramadan yang mulia kan datang….

Beberapa hari ke depan, ibadah Puasa Wajib kan kita lakukan di bulan suci ini…

Beberapa hari ke depan, ibadah Tarawih kan kita jalani…

Sahur dan buka puasa Ramadan pun akan mulai terbiasa kita lakukan…

Ta’jil dan ifthar pun akan mulai akrab di telinga kita…

 

 

Baca Al-Qur’an, kuliah subuh dan berbagai kajian Ramadan pun kembali bermunculan dengan semarak. Namun, apakah Ramadan ini kan sama dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya? Lihatlah hati kita, adakah kekhusyukan bertambah pada tahun-tahun Ramadan sebelumnya?

Lihatlah amal kita, adakah keihklasan bertambah dan perhatian terhadap benarnya ibadah juga bertambah pada tahun-tahun Ramadan sebelumnya?

 

Ingatlah, Allah hanya melihat hati dan amal seorang hamba! Nabi Saw. pernah bersabda,

 

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat kepada bentuk tubuh dan harta kalian, akan tetapi melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian” [HR. Muslim]

 

 

Ramadan bulan peningkatan taqwa dan pengendalian hawa nafsu merupakan madrasah yang luar biasa untuk membentuk seorang mukmin menjadi pribadi yang produktif. Mendedikasikan diri menjadi penghimpun kebaikan, memperbanyak amalan, dengan harapan bahwa kelak tatkala Ramadan telah berlalu, segala kebiasaan baik yang dilatihkan selama Ramadan itu kemudian menjadi watak dan kebiasaan yang berketerusan. Bahwa orang bertaqwa itu menjadikan dirinya sebagai saluran bertumbuhnya manfaat bagi orang lain. Kesadaran penuh dan kemudian menjadi kebiasaan untuk secara sadar menerima eksistensi orang lain sebagai syarat mutlak bagi tersegeranya kebaikan memberikan manfaat yang luar biasa bagi menguatnya persuadaraan dan silaturahim di antara kaum muslimin.

 

 

Bulan suci Ramadan sering disebut juga dengan bulan tarbiyah atau bulan pembelajaran. Lingkup pembelajaran tersebut begitu luasnya karena menyangkut tarbiyah jasadiyah, tarbiyah fikriyah, dan tarbiyah qolbiyah. Berbagai gelar mulia yang disandang Ramadan menunjukkan keagungan dan kekayaan hikmah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Itu semua disiapkan oleh Allah Swt. untuk orang-orang yang beriman dan mau melaksanakan ibadah shaum tersebut. Sebagai Kholiq yang menciptakan manusia berikut alam semesta dan isinya, Allah sangat paham akan tugas-tugas yang harus diemban oleh manusia dalam menjalankan kehidupannya. Ramadan dihadirkan sebagai suatu bentuk arena penggemblengan atau “kawah chandra dimuka” agar manusia memahami kembali apa hakikat kehidupan, kemana arah yang akan ditempuh, dan apa yang harus dilakukan untuk sampai pada tujuan tersebut.

 

 

Tujuan dalam memaksimalkan madrasah Ramadan adalah agar terbentuknya pribadi-pribadi yang bertakwa (la’alakum tattaquun). Karena hakikat keberadaan manusia adalah menjalani qodratnya dalam memimpin dan memakmurkan bumi. Kehidupan adalah ibarat satu episode perjalanan dalam menuju suatu kampung yang kekal dan abadi, yaitu kampung akhirat. Taqwa merupakan capaian utama dari pelaksanaan madrasah Ramadan. Untuk mengukur apakah seseorang berhasil melaksanakan shaum dan ibadah-ibadah lainnya di Bulan Ramadan, maka salah satu indikatornya seberapa kuat ketakwaannya meningkat selepas Bulan Ramadan, itulah pentingnya madarsah Ramadan bagi seorang muslim.

 

 

Ada sembilan paket kompetensi pembelajaran dalam madrasah Ramadan yang harus ditempuh dan dicapai oleh seorang muslim. Ramadan yang mulia ini dijadikan ajang pendidikan oleh kaum muslimin demi menjadikan diri mereka memiliki kebiasaan untuk menjadi insan yang mampu menciptakan dan menyegerakan amalan yang nilai kebaikannya berketerusan bahkan bisa bernilai seribu bulan bahkan setelah Ramadan berlalu.

  1. Shaum Ramadan di siang harinya.
  2. Qiyam Ramadan (solat Tarawih) di malam harinya.
  3. Tilawatul Qur’an di waktu-waktu khusus dan senggangnya.
  4. Ifthor li shoimin; memberikan makan dan minum untuk yang berbuka puasa.
  5. Taktsiru shodaqoh wal infaq; memperbanyak sedekah dan infak.
  6. al-I’tikaf fi asyril awakhiri min Ramadan; menunaikan I’tikaf (mengkhususkan ibadah di masjid bagi yang diberi keleluasaan) pada sepuluh hari atau malam terakhir Ramadan.
  7. Taharri fi lailatil qodr; melakukan perburuan (bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam kemulian yang kedudukannya lebih baik dari seribu bulan).
  8. al-Umratu fi Ramadan; menjalankan umrah di bulan Ramadan (bagi yang diberi kemampuan) yang pahalanya laksana menjalankan ibadah haji bersama Rasulullah Saw.
  9. al-Jihadu fi sabilillah; berjuang di jalan Allah, dalam segala bentuk amalan, ucapan, dan perbuatan hanya untuk meninggikan agamaNya.

Dari ke 9 paket tersebut, ada beberapa yang bisa kita jadikan bentuk amalan berkepanjangan dalam pendidikan di keluarga-keluarga kita. Bahkan beberapa hal tersebut sudah banyak diaplikasikan dalam model pembelajaran karakter di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Salah satunya di SMART Ekselensia Indonesia, melalui program pembinaan keIslaman dan kepemimpinan (leadership) yang menjadi core tujuan pendidikannya.

 

 

 

Inilah sejatinya yang Allah inginkan dengan hadirnya madrasah Ramadan. Untuk mengembalikan arah kehidupan melalui madrasahNya. Kita dihadirkan di muka Bumi bukan hanya untuk bersenang-senang tanpa pertanggungjawaban. Allah sengaja menghadirkan kita untuk berlomba dalam kebaikan sehingga tahu mana amal yang baik dan amal yang kurang baik. Melalui bulan Ramadan ini, kita menginginkan agar termasuk dalam jiwa-jiwa yang bertakwa. Jika sudah bertakwa bisa dengan mudah menerima hidayah dalam Al-Qur’an, mudah menerima nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

 

 

Bulan Ramadan adalah saatnya memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Terlebih di tengah wabah Covid-19 ini, tilawah, tadabur bahkan mendengarkan lantunan ayat-ayat cinta dari Allah Swt. harus menjadi amalan utama. Jika kita lulus dalam interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan, maka kita akan bawa semangat itu di luar Ramadan. Manusia adalah hamba Rabbani bukan hamba Ramadani. Derajat takwa yang ia raih selama Ramadan akan terus bertahan meskipun di luar Ramadan.

 

 

Tujuan berikutnya dalam madrasah Ramadan adalah menjadi hamba yang bersyukur. Dalam kehidupan kita, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia tanpa harus dipinta jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah nikmat yang diminta. Kita mungkin amat jarang meminta agar esok hari mata masih bisa melihat, tangan masih bisa bergerak, kaki masih bisa melangkah, telinga masih bisa mendengar dan sebagainya. Namun, Allah SWT memberikan nikmat tersebut kepada kita tanpa harus kita memintanya setiap hari. Alasan ini saja sejatinya harus membuat manusia terus membasahi lisannya untuk bersyukur.

 

 

Ramadan dihadirkan Allah Swt. sebagai sebuah madrasah. Jika seorang hamba, termasuk kita memanfaatkannya dengan baik, maka maghfirah akan menanti. Ramadan adalah bulan tarbiyah. Waktu yang disediakan oleh Allah agar manusia menempa dirinya selama sebulan penuh. Seiring berjalannya waktu, lewatnya hari, bulan, tahun manusia kadang lupa, lalai terhadap tujuan kehidupan di dunia. Allah Swt. sengaja menghadirkan Ramadan sebagai bulan tarbiyah yang utuh. Allah Swt. menginginkan agar manusia ingat orientasi kehidupanya di dunia yakni al-‘Ubudiyah. Ramadan itu madrasah imaniyah, madrasah takwa membentuk insan yang terus ingat kepada Allah Swt.

 

 

Maka jelas bahwa sejatinya Ramadan itu adalah sebenar-benarnya madrasah yang dapat membentuk watak seorang yang bertaqwa. Begitulah Allah mendidik orang beriman untuk kemudian memliki peluang mempertahankan kebiasaan baik dari proses tarbiyah selama menjalankan ibadah puasa (Ramadan) itu dengan dimunculkan tuntunan tentang beragam ibadah sunah. Itulah yang akan membantu seorang mukmin meneruskan pengendalian sepanjang tahun hingga ia bersua Ramadan berikutnya (jika Allah mengehndaki dan memberkatinya dengan usia yang cukup hinga datangnya Ramadan).

 

Wallahualam.