Sob, tau gak kalau kita membiasakan berpuasa Syawal setelah puasa Ramadan itu tandanya ibadah puasa Ramadan kita diterima Allah Swt., karena jika Allah menerima amal ibadah seseorang, maka Allah akan mempermudah untuk beramal saleh berikutnya. Sebagian ulama berpendapat, bahwa pahala amal kebaikan adalah kemudahan untuk membuat kebaikan berikutnya.

 

Jikla kita berbuat kebaikan lalu diikuti dengan kebaikan berikutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa kebaikan yang pertama diterima Allah, sebaliknya jika seseorang berbuat kebaikan lalu diikuti dengan kejelekan, maka itu menandakan perbuatan kebaikannya tertolak dan tidak diterima Allah Swt.

 

Dilansir dari Republika, berpuasa enam hari di bulan Syawal memiliki beberapa keutamaan lo, antara lain:

 

1. Memperoleh pahala puasa setahun penuh, sesuai dengan hadits Muslim di atas dan diperkuat hadits riwayat Imam As Suyuți dari Tsauban (maula Rasul saw.) dari Rasulullah saw., beliau bersabda:

صيامُ شهرِ رمضانَ بعشرةِ أشهرٍ، وصيامُ ستةِ أيامٍ بعدَهُ بشهرينِ، فذلكَ صيامُ السنةِ

“Berpuasa Ramadan pahalanya seperti puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari setelahnya (Syawal) pahalanya seperti puasa dua bulan, maka jumlahnya menjadi satu tahun” (HR Imam As Suyuți  hadis sahih dalam al-Jāmi al-Shagīr, No. 5100).

Para ahli hadis mensyarahi bahwa setiap kebaikan bernilai 10 kebaikan, Puasa Ramadhan 30 kebaikan sehingga bernilai 300 kebaikan. Puasa enam hari bernilai 60 kebaikan. Dengan demikain berpuasa Ramadan plus puasa enam hari Syawal: 300 kebaikan + 60 kebaikan = 360 kebaikan (satu tahun).

 

2. Menambal dan menyempurnakan kewajiban yang terkadang terabaikan. Berdasarkan hadis Tamim Ad Dariy r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

أوّلُ ما يحاسَبُ بهِ العبدُ يومَ القيامةِ صلاتُهُ فإن أكملَها كُتِبَت لَه نافلةً فإن لم يَكن أكمَلَها قالَ اللَّهُ سبحانَهُ لملائكتِهِ انظُروا هل تجِدونَ لعبدي مِن تطَوُّعٍ فأكمِلوا بِها ما ضَيَّعَ مِن فريضتِهِ ثمَّ تؤخَذُ الأعمالُ علَى حَسْبِ ذلِكَ

“Perbuatan hamba yang pertama dihisab di Hari Kiamat ialah salatnya. Apabila yang bersangkutan telah melaknanakan salat dengan sempurna maka ia telah memperoleh pahala sunat, namun jika yang bersangkutan belum menyempurnakannya, maka Allah Swt. berfirman kepada para malaikat perhatikan  apakah hambaku melaksanakan ibadah sunat? Maka sempurnakanlah  ibadah fardlu yang hilang (terabaikan)dengannya, lalu perhitungkanlah amal-amalnya setelah disempurnakannya itu” (HR Ibnu Majah: No 1181).

 

3. Menambah kedekatan hamba kepada Rabb-nya dan memperoleh rida dan mahabbah-Nya. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah r.a.:

ما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها

“Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunat sehingga Aku (Allah) mencintainya. Apabila Aku (Allah) mencintainya, maka Aku menjadi telingannya yang dipakai untuk mendengar, menjadi matanya yang dipakai  untuk melihat, mejadi tangannya yang dipakai untuk menyentuh, dan menjadi kakinya yang dipakai untuk berjalan.” (HR Bukhari: No 6502).

 

4. Mempermudah melaksanakan ibadah wajib, dan bisa melaksanakannya secara berkelanjutan tanpa terputus dalam berbagai situasi dan kondisi, karena kontinuitas dalam melaksanakan ibadah  sunat merupakan faktor yang memotivasi hamba mengerjakan ibadah wajib tanpa melalaikannya.

 

Yuk kita laksanakan puasa Syawal Sob