Adaptasi Secepat Bunglon

cover

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam, Alumni Angkatan 8, berkuliah di Fakultas Hukum UNPAD

Bunglon? Siapa yang tidak mengenal bunglon? Hampir setengah dari spesies bunglon di dunia  hidup di pulau Madagaskar, dan sisanya -sebanyak 59 spesies- berada di luar Madagaskar. Seluruhnya ada sekitar 160 spesies bunglon yang hidup di dunia. Mereka berkisar dari Afrika ke Eropa Selatan dan diseluruh Asia Selatan ke Sri Lanka. Mereka juga telah diperkenalkan ke Amerika Serikat di tempat-tempat seperti Hawaii, California, dan Florida. Tapi bukan jumlah spesies dan tempat-tempat bunglon berada yang saya akan bahas pada kesempatan langka ini, yang saya akan bahas pada kesempatan ini adalah kehidupan baru saya yang harus sehebat bunglon.

Sudah banyak yang tahu kehebatan dari seekor bunglon yakni soal berubah warna, bunglon juga memiliki jiwa adaptasi yang sangat cepat. Bayangkan, hanya dalam 20 detik saja bunglon bisa menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan sekitar, sangat cepat sekali, hal itulah yang mungkin harus saya lakukan ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Bandung lebih tepatnya di Universitas Padjadjaran. Ya, saya harus beradaptasi dengan cepat.

Saya memulai hidup baru di Universitas Padjadjaran atau biasa di sebut UNPAD, setelah melewati masa “karantina” di SMART Ekselensia Indonesia. Yap! Kini saya bukan lagi seorang siswa SMART Ekselensia Indonesia yang selalu dimanja manjakan, kini saya adalah seorang mahasiswa hukum di Universitas Padjadjaran yang hidupnya penuh dengan kerumitan. Namun, Suatu kebanggan tersendiri bisa menjadi alumni SMART dan menjadi bagian dari Keluarga FH UNPAD.

Banyak sekali perbedaan-perbedaan yang saya rasakan ketika pertama berada di Universitas Padjadjaran, yang pastinya sangat berbeda dengan SMART Ekselensia Indonesia. Tidak ada lagi makan gratis, ustadz dan ustadzah yang selalu bawel dalam hal kebaikan dan juga tidak ada lagi absensi solat berjamaah di masjid. Kini benar benar berbeda, banyak yang saya dapatkan di SMART tidak saya dapatkan di UNPAD. Kini saya harus masak sendiri ataupun beli makanan sendiri, ketemu para dosen yang mungkin menjadi “pembunuh” secara perlahan dengan sikap acuhnya, tak ada lagi absensi untuk shalat berjamaah di masjid secara berjamaah. Kini segalanya serba sendiri, tak ada yang mengatur kita. Semua yang kita lakukan, kita yang menerima dan kita yang mempertanggungjawabkannya. Orang-orang disekitar kita memiliki kesibukannya sendiri-sendiri, tak ada waktu untuk mengingatkan ataupun mengurusi temannya.

Proses adaptasi sangat diperlukan ketika saya mulai kuliah di UNPAD . Tak adalagi bel masuk, guru yang mengingatkan dan sebagainya. Saya harus benar-benar mandiri dan tepat waktu. Itu sebabnya saya memberikan judul adaptasi secepat bunglon. Saya ingin bercerita tentang cepatnya saya dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, saya ingin menjadikan diri saya seorang yang mandiri tanpa harus selalu diingatkan. Hal yang saya dapatkan dari pertama kali kuliah adalah ketika kita lambat dalam adaptasi maka kita akan kesusahan untuk selanjutnya. Lupakan manja-manja yang dulu diberikan oleh sekolah semasa smp dan sma, sekarang saatnya untuk  menjadi diri sendiri dengan tujuan sendiri tanpa harus meminta minta pada orang lain. Kita adalah kita, tidak menggantungkan diri pada orang lain. Kini semua punya kesibukan sendiri-sendiri dan pastinya  tak ada waktu untuk mengurusi kita yang kesusahan.

Ada sedikit cerita, selama 2 minggu ini saya termasuk orang yang dikenal di angkatan saya. Hampir ¾ dari total 453 mahasiswa Fakultas Hukum mengenal saya, walaupun saya belum mengenal teman-teman saya sebanyak itu. Mencoba berbaur, itulah cara saya untuk dapat memiliki banyak teman. Saya belajar dari seekor bunglon, memposisikan diri dengan lingkungan. Hingga pada akhirnya kita diterima di lingkungan itu. Rasa nyaman karena memiliki banyak teman membuat saya mudah dalama adaptasi di Universitas Padjadjaran ini. Semua kemanja-manjaan saya selama di SMART mulai saya hilangkan. Kini saya bukan lagi seorang siswa, melainkan seorang mahasiswa hukum Universitas Padjadjaran. Dengan banyak teman saya rasa kesusahan yang saya alami selama di UNPAD ini akan terlewati dengan gampang, tanpa harus kesusahan.

Justru yang niatnya hanya memudahkan dalam menyesuaikan diri di lingkungan baru. Justru kini lebih dari itu, kini saya bukan  hanya dikenal oleh teman-teman baru saya di UNPAD, saya juga menjadi orang  yang dicalonkan oleh teman teman saya untuk menjadi Ketua Angkatan Fakultas Hukum 2016. Suatu kebanggaan yang saya rasakan dengan hal itu. Menjadi ketua angkatan FH UNPAD, itu sama saja saya menjadi dua kalinya Presiden OASE SMART Ekselensia. Presiden OASE hanya mengurusi sekitar 200 orang siswa, sedangkan jika saya menjadi ketua angkatan maka saya akan mengurusi 453 orang mahasiswa. Itu artinya saya mengurusi 2 kalinya presiden OASE. Saya rasa ini merupakan nilai positif dan bonus dari adaptasi yang cepat, namun saya merasa belum pantas untuk mengurusi mahasiswa sebanyak itu, belum ada keberanian dalam diri saya.

Walaupun tidak menjadi ketua angkatan, ada jabatan lain yang menghampiri saya. Hal yang saya rasa sama tanggung jawabnya dengan ketua angkatan, yaitu ketua kelas. Saya menjadi ketua kelas di mata kuliah Sosiohumaniora, mengurusi sekitar 90 orang. Sama saja saya mengurusi 2 angkatan di SMART Ekselensia Indonesia. Amanat yang saya coba jalankan dengan sebaik mungkin, mencoba untuk dikenal lebih jauh oleh teman-teman dan juga dikenal oleh para dosen.

Hewan Bunglonlah yang menjadi inspirasi saya dalam beradaptasi di kampus ini, semuanya harus cepat dan tepat. Itulah yang saya dapatkan dari seekor bunglon. Menjadikan diri sebagai bagian dalam lingkungan tersebut. Membuat orang-orang kenal dan menghargai kita, menjadi teman yang mengasyikkan untuk teman-teman kita dan menjadi orang yang mengatur lingkungan.

Hal terakhir dari tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada bunglon yang sudah menjadi sumber inspirasi saya. Kehebatannya beradaptasi menjadikan saya berani bertarung di lingkungan baru saya, terima kasih juga untuk guru-guru yang menakut-nakuti tentang kuliah dan ternyata itu benar adanya. Terima kasih untuk keluarga yang selalu mendukung dan mendoakan saya selamanya. Selain itu, terima kasih untuk SMART yang saya sadari penuh dengan kebaikan, kini tak ada lagi makan 3 kali sehari secara gratis, tak ada lagi guru-guru yang selalu mengasyikkan dan juga penuh kepedulian, serta tak ada lagi absensi shalat berjamaah. Terima kasih atas segalanya. SMART menjadi bagian dalam sejarah hidup saya, doakan saya untuk selalu sukses di UNPAD ini. Memberikan kebanggan untuk SMART Ekselensia Indonesia nantinya.

 

smartekselensia