AFI dan Racun Pendidikan

AFI, remaja yang berasal dari Banyuwangi membuat geger warganet dengan tulisannya. “Warisan” adalah judul tulisannya yang kritis. Namun sayang kekritisan tersebut didasarkan pada sudut pandang yang salah.

Pada kesempatan ini saya ingin mengupas bukan tentang tulisannya yang terindikasi berpemahaman liberalisme dan pluralisme tersebut. Namun membahas dari aspek mengapa ada remaja yang punya pemikiran seperti itu.

Sejak Kekhilafahan Islam diruntuhkan pada 3 Maret 1924, praktis ideologi yang berkuasa di dunia adalah Kapitalisme dan Sosialisme. Ideologi Kapitalisme yang berasas Sekulerisme akhirnya menjadi pemimpin dunia pasca keruntuhan Uni Soviet, negara pengemban ideologi Sosialisme, pada tahun 1991.

Meskipun Islam dengan entitas politiknya, Khilafah Islam, sudah mampu dihancurkan Barat, namun potensi kebangkitan Islam masih menghantui mereka. Kenapa demikian? Karena umat Islam masih mengkaji tsaqofah agamanya yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Tsaqofah merupakan pemikiran dan pandangan hidup yang didasarkan pada akidah tertentu. Tsaqofah inilah yang akan membentuk pola pikir dan perilaku seseorang. Tsaqofah menyangkut akidah dan segala sesuatu yang terpancar dari akidah, baik berupa hukum, solusi sistem, maupun ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh akidah tadi, termasuk di dalamnya segala sesuatu yang terjadi dan terkait dengan akidah tersebut, seperti riwayat-riwayat dan sejarah umat.

Keberadaan tsaqofah ini sangat vital bagi sebuah peradaban, karena tsaqofah merupakan tulang punggung tegaknya peradaban suatu bangsa. Apabila tsaqofah ini terhapus, maka tamatlah peradaban bangsa tersebut.

Karena itu, tidaklah mengherankan berbagai bangsa di dunia ini berupaya menjaga dan menyebarkan tsaqofahnya di tengah-tengah masyarakat. Tugas ini diemban dan merupakan tanggung jawab utama negara.

Maka, kita akan mendapati pada masa lalu, Uni Soviet “menyusui anak-anaknya” dengan tsaqofah komunis, dan mencegah penetrasi pemikiran apapun dari kapitalisme atau Islam ke dalam tsaqofah warga negaranya.

Kita juga dengan mudah akan menemukan, Khilafah pun ketika masih tegak berdiri, serius menanamkan tsaqofah Islam ke dalam diri “anak-anaknya”, dan mencegah siapa saja yang menyerukan pemikiran selain yang didasarkan pada akidah Islam di dalam negeri, dan mengemban tsaqofah Islam ke negara-negara dan bangsa-bangsa lain.

Begitu juga dengan Barat. Ia bersungguh-sungguh “mendidik anak-anaknya” dengan tsaqofah Kapitalisme-nya. Barat menjadikan peradabannya berdiri dan didasarkan atas tsaqofah tersebut, menciptakan berbagai peperangan dan akan senantiasa menciptakan peperangan untuk mencegah masuknya tsaqofah Islam ke dalam akidah dan tsaqofahnya.

Fenomena seperti itu akan terus terjadi sampai akhir zaman. Dan inilah yang tengah terjadi saat ini. Disaat Khilafah sebagai negara pengemban tsaqofah Islam telah berhasil diruntuhkan oleh Barat, praktis umat Islam tidak memiliki perisai dari serangan kaum kafir, baik serangan fisik maupun pemikiran / tsaqofah.

Agar peradaban Islam tetap hilang, dan puing-puingnya “bersih” dari benak umat Islam,  Barat kemudian menggunakan strategi menjauhkan umat Islam dari tsaqofah agamanya. Inilah yang kemudian disebut dengan perang pemikiran. Ghazwul Fikri, atau Ghazwuts Tsaqofi.

Serangan pemikiran pun dilakukan. Sekulerisasi di negeri-negeri kaum muslimin dijalankan dengan tujuan menjauhkan tsaqofah Islam dari umatnya.

Perang tsaqofah secara efektif dilakukan lewat pendidikan. Sekulerisasi pendidikan pun dilancarkan ke seluruh negeri kaum muslimin. Alhasil, agama (Islam) dijauhkan dan dikerdilkan dari pendidikan.

Namun ternyata tidak hanya berhenti di situ saja, lewat kurikulum pendidikan yang bercorak sekuler, tsaqofah asing pun dijejalkan kepada para pelajar di negeri-negeri Islam. Lewat mata pelajaran, seluruh ide-ide, paham, maupun pandangan hidup Barat yang bertentangan dengan Islam diajarkan kepada pelajar yang notabene muslim.

Akhirnya, jadilah generasi umat Islam tidak mengenal tsaqofahnya. Disisi lain, mereka malah akrab dan tidak merasa asing dengan tsaqofah asing (Barat). Kenapa demikian? Karena para pelajar muslim setiap hari dicekoki dengan tsaqofah Barat.

Jika disampaikan tentang sirah nabi, sistem politik Islam, ekonomi Islam, teologi Islam, haramnya pacaran dan ikhtilat, wajibnya berkerudung dan jilbab, generasi muda Islam merasa asing.

Namun mereka tidak merasa asing ketika berbicara sejarah manusia purba, sejarah Revolusi Perancis dan Eropa, pemikiran politik Rousseau dan Montesqueu, ekonomi ala Adam Smith, teologi Barat, budaya gaul bebas, pakaian tengtop, rok mini dan pakaian ketat.

Sebagai akibatnya, cara mereka berpikir dan bersikap dipengaruhi oleh tsaqofah asing tadi. Nah, inilah yang terjadi pada Afi dan juga generasi Islam lainnya. Mereka teracuni dengan tsaqofah yang bukan berasal dari Islam.

Tsaqofah asing adalah racun. Racun yang berbahaya bagi masa depan diri, keluarga dan negara. Baik masa depan di dunia terlebih di akhirat.

Tsaqofah asing yang bertentangan dengan Islam tersebut saat ini masih diajarkan dalam kurikulum pendidikan negeri-negeri muslim.

Karena itu waspadalah dan jagalah diri kita, keluarga kita dan generasi muda Islam dari bahaya racun pendidikan ini.

Sumber: http://www.zaydsayfullah.com/2017/06/21/afi-dan-racun-pendidikan/