Aku dan Lomba Matematika

Oleh: Muhammad Fatih Daffa.

Kelas 11 IPA Angkatan 8

 

DSC_0136

Namaku Fatih, nama lengkapku Muhammad Fatih Daffa. Saat ini aku duduk di kelas 11 (setara kelas 3 SMA kalau di sekolah lain) jurusan IPA, angkatan 8. Teman-teman mengenalku sebagai orang yang jago matematika, padahal bisa dibilang nggak terlalu jago juga. Bahkan nilai UN matematika SMP ku pun ada yang melampaui. Aku juga bukan orang pertama yang pertama kali meraih piala olimpiade lomba matematika di angkatanku. Namun bisa dibilang kalau aku lumayan berpengalaman dibandingkan teman-teman seangkatanku karena aku sering ikut perlombaan matematika baik tingkat regional hingga internasional.

Dulu, pertama kali ikut lomba matematika aku langsung disandingkan dengan kakak kelas (kak Beny angkatan 6 & kak Fadhly angkatan 7), saat itu aku yang masih baru merasa sangat gugup, yah sebut saja aku si anak bawang yang masih belajar. Tak disangka ternyata kami meraih juara 1 Lomba Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Senang? Tentu saja aku senang karena ini kali pertama untukku menyumbangkan piala untuk sekolah, dan sejak saat itu aku yakin ini awal yang baik untukku.

Beberapa bulan kemudian aku beserta lima temanku mendapat kesempatan untuk mengikuti Olimpiade Sains Kota/Kabupaten (OSK) tingkat Kabupaten Bogor bidang matematika. Kami pun dikumpulkan dalam kelompok Enrichment OSK Matematika. Kami mempersiapkan diri kurang lebih 3 bulan. Dari 6 orang anggota enrichment, 3 orang merupakan kakak kelasku di Angkatan 7, sedangkan 3 sisanya merupakan Angkatan 8 termasuk aku di dalamnya. Belajar, belajar, dan belajar, sampailah kami di hari pelaksanaan OSK, kami semua berangkat penuh harap. Namun aku merasa ketika sampai di sana hanya mengerjakan, selesai, dan pulang.

Selama enrichmet ada satu kakak kelasku yang selalu menonjol dan selalu terlihat paling unggul, bahkan ketika OSK tiba tetap ia yang diunggulkan. Namun ketika pengumuman betapa kagetnya aku karena akulah yang lolos ke babak selanjutnya dan menjadi wakil SMART EI untuk bidang matematika. Tak ada yang menyangka kalau aku berhasil masuk dengan menyabet juara 3, itu tandanya siap tak siap aku kudu memberanikan diri melaju ke Olimpiade Sains Propinsi (OSP) di Bandung, Jawa Barat.

Sebelum melaksanakan OSP kami, para peserta terpilih, dikumpulkan dalam Training Centre (TC). Di sana kami belajar bersama, saling berbagi pengalaman, dan saling mengukur kemampuan. Di sana pula aku tersadar bahwa ternyata banyak sekali orang-orang hebat yang kemampuannya jauh di atasku. Aku kembali tersadar, ternyata aku tak sehebat yang kuduga. Aku mulai merasa minder, rasa percaya diriku luruh, tak mampu optimis.

Benar saja, aku tak lolos.

Beberapa minggu setalah pengumuman OSP berlalu aku memutuskan untuk lebih serius. Setiap ada lomba -terutama yang ada matematikanya- aku selalu diikutsertakan. Dari lomba-lomba yang aku ikuti aku mendapatkan banyak hal baru, termasuk teman baru. Aku dan dia selalu bertemu di lomba yang kami ikuti dan ia selalu keluar menjadi juara pertama. Ia pernah bercerita kalau setiap malam ia selalu mengerjakan minimal satu soal yang baru juga sulit, semua ia lakukan dengan hati riang tanpa beban sejak kelas 3 SD.

Aku takjub, aku banyak belajar darinya.

Sejak saat itu aku bertekad bahwa aku harus selalu berusaha dengan baik, tak peduli bagaimana hasilnya. Aku sangat percaya bahwa usaha terbaik yang kukerahkan akan memberikan hasil terbaik, dan itu merupakan “bonus” yang Allah SWT berikan untukku.

 

#SMARTSemangat