,

Aku Makin Semangat Berbuat Baik Berkat Pengumpul Kertas

Makmal Pendidikan 2

Aku Makin Semangat Berbuat Baik Berkat Pengumpul Kertas

Oleh: Bambang Widyatmoko

 

Pagi tadi saat kutatap lamat dari dalam bilik kamar, kulihat tumpukan kertas memenuhi gerobak hijau yang terparkir di depan asrama. Aku bertanya-tanya: “Siapa yang mengumpulkan ya? Buat apa kertas-kertas itu?”
Rasa penasaran mendorongku mendekati objek menarik tersebut. Kulewati lantai pualam asrama yang masih basah bekas jilatan kain pel tiga menit sebelumnya. Tak lama kemudian, muncul seorang anak dengan tubuh kurus tanpa mengenakan alas kaki. Postur tubuhnya pendek untuk anak seusianya, dengan lengan mungilnyan ia menarik gerobak hijau tadi.

Di kejauhan aku dapat melihat wajahnya memerah dengan tetesan keringat meluncur deras melewati pori-pori kulitnya. Walau terengah-engah semangatnya sungguh luar biasa, sesekali kulihat ia beristirahat, mungkin lelah dengan beban yang ia bawa.

Kuberanikan diri untuk mendekatinya sambil menatap tumpukan kertas di gerobak, “hei, kamukah yang mengumpulkan kertas-kertas ini?” tanyaku. Ia menjawab “Iya kak, sama teman satu lagi”. Aku hanya mengangguk. “Oh begitu, boleh kubantu untuk menarik gerobak ini?” pintaku. Iya mengiyakan dengan senyum terbit di wajahnya, tetapi ia terlihat sedikit ragu jika aku sanggup menarik gerobak miliknya. Kujawab keraguannya dengan berkata “Aaah tenang saja aku kuat kok,” lalu kuangkat gerobak tersebut daaaan ya ternyata berat sekali. Melihatku kepayahan ia tergelak sembari berkata “tuh kan benar, sudah kubilang kalau gerobaknya berat”. Akhirmya kami tergelak bersama. “Ya sudah aku yang dorong, kamu yang narik ya. Tapi sampai gerbang SMART saja tak apa kan?” pintaku, “oke tak apa kak. Bismillah saja,” responnya. Bahu membahu kami mendorong gerobak hijau tua itu. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul, “kerta-kertas ini mau dijualkah?” tanyaku. “Iya kak  uangnya mau aku tabungkan, lalu sisanya untukku jajan”. Jawabannya sontak menyadarkanku bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur karena sangat beruntung bisa bersekolah di SMART.

Sepanjang jalan kami bercengkrama dan berkali-kali terpingkal, sayangnya percakapan kami harus disudahi. Aku sedikit sedih ketika harus berpisah dengannya, saat itu juga rasa malu menyelimutiku, benar-benar malu. Usianya jauh di bawahku, tetapi ia memiliki pemikiran yang jauuuuuh lebih dewasa dariku. Semangatnya mengumpulkan pundi-pundi Rupiah memberikan banyak pelajaran bagiku bahwa hidup memang penuh perjuangan, dan mimpi pun sungguh harus diperjuangkan. Kita tak perlu malu untuk terus berusaha, bahkan jika perlu menyusuri jalanan Ibu Kota itupun tak mengapa selama perjuangan tersebut mampu membawa kita kepada mimpi-mimpi yang didamba.

Ini pelajaran hidup berharga untukku, semoga membuatku semakin dewasa.