,

Aku, Nisa, dan Mimpi Ramadan Kami

Aku, Nisa, dan Mimpi di Bulan Ramadan

Oleh : Vikram Makrif

Alumnis SMART Angkatan 9 berkuliah di UNDIP Jurusan Sastra Indonesia 2017

Aku selalu suka tempat tinggi apalagi ketika Ramadan. Karena di sanalah aku bisa merasakan angin yang bertiup menerpa kulit wajahku. Di sana juga aku bisa menyampaikan pesanku pada angin. Pesan yang dengan cepat terbawa entah ke mana. Entah sampai pada orang yang dituju atau tidak. Tapi aku bahagia di tempat yang tinggi. Walau pesan itu hanya sebatas curhatanku pada angin.

Hari ini aku tahu kalian mungkin tak berada di tempat tinggi sepertiku. Aku pun juga tahu kalian tak bisa membayangkan betapa perihnya menjadi diriku. Sekarang kalian pun tak berada dalam beban masalah yang teramat berat dirasa. Mungkin semua ini hanya terkaanku semata, terkaan yang aku buat sendiri. Tapi aku tetap yakin, kalian pasti tak merasakan beban yang sangat berat di hati kalian.

Senja ini semua terasa sama seperti senja lalu. Angin terus membelai daun telingaku. Mentari sebentar lagi bersembunyi di balik tabirnya. Burung-burung pun telah beterbangan pulang ke sarangnya. Aku selalu suka tempat tinggi. Maka senja ini pun aku berada di tempat itu. Tempat yang jauh dari orang-orang di bawah sana. Tempat sepi yang nyaman tuk berdiam diri.

Gedung tertinggi di kota ini, itu lah tempat aku berdiri. Menikmati senja bersama angin yang selalu setia menemani ku sampai detik ini. Di atap sebuah gedung 40 lantai aku menatap ke bawah. Terlihat ratusan jiwa sedang melakukan aktivitas sorenya. Lampu-lampu di setiap jalanan telah nyala beberapa menit yang lalu. Mobil motor berlalu-lalang meramaikan kota ini setiap hari.

Aku mencoba menikmati senja terakhir ini dengan hati yang cukup berat. Walau aku suka tempat tinggi, tapi ini adalah terakhir kali aku dapat menikmati tempat ini di bulan Ramadan. Sebelum kepergian ku untuk selama-lamanya, aku mencoba tuk menghirup seluruh udara yang kurasa. Mencoba menenangkan diri. Menatap ke langit senja. Memejamkan mata tuk mengingat masa-masa getir itu. Sebelum tubuh ini jatuh ke bawah dari atap gedung 40 lantai. Aku menatap ke bawah lagi. Terbayangkan tubuh ini akan hancur berkeping-keping, kepala hancur, dan jiwa lepas dari jasadnya.

Ini adalah waktunya untukku pergi dari dunia ini selama-lamanya. Meninggalkan beban berat yang menyesakkan dada. Menjumpai dia yang lebih dulu meninggalkanku. Di tempat yang sama. Tempat yang sama-sama kami sukai, yaitu tempat yang tinggi. Di sanalah dia orang yang ku cintai telah lebih dulu meninggalkan ku sendirian di tempat tinggi, tempat yang kami sukai.

Aku mulai merentangkan kedua tangan. Menatap kosong ke depan. Merebahkan diri ke depan dengan cepat. Sedetik kemudian tubuhku telah terjun bebas dari gedung 40 lantai, gedung tertinggi di kota ini. Aku tak merasakan apa pun lagi. Angin yang selama ini membelai wajahku dengan lembut. Kini angin menampar wajah ini dengan keras. Tubuhku terjatuh dengan sangat cepat. Melayang di udara sore yang menyesakkan. Terjatuh, jatuh, terus jatuh. Tapi aku merasa lama sekali. Waktu terasa melambat. Bahkan aku merasa waktu berhenti seketika. Bulir air menetes dari pelupuk mataku. Terbayang masa-masa itu. Apakah aku menyesal telah melompat dari gedung ini? Percuma menyesal, waktu tak dapat kembali. Tubuhku telah jatuh dari tempat tinggi. Semua hanya tinggal menunggu waktu. Waktu yang membawaku hilang dari kehidupan ini.

***

Aku selalu suka tempat tinggi terutama di bulan Ramadan. Karena di sana lah aku aku bisa merasakan angin yang bertiup menerpa kulit wajahku. Di sana juga aku bisa menyampaikan pesanku pada angin. Pesan yang dengan cepat terbawa entah ke mana. Entah sampai pada orang yang dituju atau tidak. Tapi aku bahagia di tempat yang tinggi. Walau pesan itu hanya sebatas curhatanku pada angin.

Hari ini aku tahu kalian mungkin tak berada di tempat tinggi sepertiku. Aku pun juga tahu kalian tak bisa membayangkan betapa indahnya menjadi diriku. Sekarang kalian pun tak berada dalam kehidupan yang penuh cinta seperti yang kurasa. Mungkin semua ini hanya terkaanku semata, terkaan yang aku buat sendiri. Tapi aku tetap yakin, kalian pasti tak merasakan indahnya kasih sayang seperti yang kurasakan saat ini.

Senja ini semua terasa sama seperti senja lalu. Angin terus membelai hijab Nisa yang duduk di sampingku. Mentari sebentar lagi bersembunyi di balik tabir, sayup sayup terdengar suara takbir. Burung-burung pun telah beterbangan pulang ke sarangnya. Kami selalu suka tempat tinggi kala Ramadan. Maka senja ini pun kami berada di tempat tinggi. Tempat yang jauh dari orang-orang di bawah sana. Tempat yang nyaman tuk berbagi cerita.

Gedung tertinggi di kota ini, itu lah tempat aku dan Nisa duduk. Menikmati senja bersama hanya tuk sekadar membicarakan hal-hal yang tak jelas sembari menunggu azan berkumandang. Di atap sebuah gedung 40 lantai kami menatap ke bawah. Terlihat indah cahaya lampu jalanan yang menghiasi kota ini. Ratusan manusia berlalu-lalang meramaikan kota sore itu. Terlihat bagaikan semut-semut kecil yang lucu. Tapi bagiku lebih lucu melihat senyum manis Nisa di sampingku. Nisa menatap ke bawah melihat pemandangan gedung-gedung yang tersusun rapi. Sesekali melirik padaku dan langsung memalingkan pandangan itu ke bawah lagi sambil tersenyum.

“Kok senyum-senyum sih Sa?” tanyaku padanya saat dia memalingkan pandangannya dari ku.

“Hmm… Gak kok…” jawab Nisa tetap memandang ke bawah sambil tersenyum manis.

“Gedungnya bagus ya Sa, rapi banget,” kataku yang juga ikut tersenyum.

“Iya Lif bagus banget,” jawab Nisa singkat.

Duh mau ngomong apa lagi nih? Selalu saja aku yang memulai setiap obrolan bersamanya. Nisa selalu menjawab singkat sebelum aku menemukan obrolan yang menyenangkan.

“Sa, aku mau bilang sesuatu…” kataku memulai percakapan lagi.

“Mau bilang apa Lif?” tanya Nisa singkat.

“Nggak, udah waktunya berbuka nih,” jawabku singkat juga.

“Iiih iya benar juga, hampir saja aku lupa. Yuk ah kita makan,” kata Nisa.

“hehe…okedeh. Tapi kok kamu senyum-senyum gaje gitu,” kataku padanya.

Aku bingung dan kehabisan bahan obrolan dan makanan berbuka itu. Ditambah Nisa yang hanya diam dan menjawab singkat saat ditanya. Sore itu sama seperti sore-sore sebelumnya. Selalu memulai obrolan dengan percakapan yang tidak jelas. Berakhir pun juga tidak jelas. Namun aku tetap bahagia dengan semua ini. Duduk berdua dengannya. Menikmati sore di tempat yang tinggi. Tempat yang kami sukai.

 

***

Semua terasa menyilaukan. Kepalaku pusing, badanku terasa lemah, aku tak tahu sekarang entah berada di mana. Apakah aku sudah benar-benar tak di dunia lagi atau belum. Ternyata tidak, aku berada di sebuah ruangan, ruangan yang kulihat sekarang berbeda. Semua terlihat rapi. Meja dan kursi kayu tersusun rapi di depan sana. Juga ada papan tulis putih tergantung di temboknya. Aku lihat ke depan ada seorang wanita yang memakai kerudung tersenyum kepadaku.

“Lif sudah selesai tidurnya?” wanita itu bertanya kepadaku sambil tersenyum.

“hhmm?” hanya itu jawabanku masih bingung.

“Lif ayo pulang teman-teman yang lain sudah selesai belajar matematikanya! Kamu sih tidur terus kalau belajar matematika siang hari” jelas wanita itu yang ternyata adalah guru matematikaku.

“oohh, maaf ya Bu! Alif tidur mulu kalo jam pelajaran Ibu”kataku meminta maaf masih dengan wajah ngantuk.

“Iya Ibu maafin. Kamu sudah biasa kok tidur di kelas Ibu. Tapi saat ujian nilai kamu bagus terus. Yuk pulang!”kata Bu guru kepadaku sambil tersenyum.

“Iya Bu makasih”kataku singkat.

Siang itu aku langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Biasanya aku pulang bersama teman-temanku yang rumahnya dekat denganku. Kali ini aku hanya pulang sekolah sendiri diteriknya sinar matahari siang.

Aduh ketiduran lagi deh di kelasnya Bu Novi. Hmmm kalau Ramadan begini kenapa cepat sekali mengantuk ya? Ah pasti setiap belajar matematika aku selalu tidur. Terus selalu mimpi yang aneh-aneh. Duh sudahlah yang penting pulang dulu ke rumah bantu ibu memasak makanan berbuka. Terus lanjut tidur lagi sampai bedug Magrib menyapa hehe… 🙂

***

Yuk bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika 2881 2881 26 Call Center : 0812 8833 884