Aku, SMART, dan ITB

_20161201_105420

Oleh: Doni Septian

Alumni SMART Angkatan 8
Saat ini berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan MIPA

“Kriing”. Aduh kok berisik sekali sih. Seingatku aku hampir tidak pernah menyetel alarm sepagi itu. Satu hal yang kusadari setelah berhasil memaksa tubuh ini untuk bangun yakni “AKU SUDAH ADA DI BOGOR”. Seketika kepala berdesir, pusing, pengin pulang ke kampung.

Pagi itu tanggal 1 Juli 2011, untuk pertama kalinya aku menjalani Shalat Shubuh tepat waktu, tidak seperti di Pekanbaru dulu. Tapi seperti kebanyakan anak normal lainnya, aku tak bisa jauh dari orang tua, alhasil aku sering sekali menangis di dalam toilet supaya tak ketahuan yang lain. Keran kubuka besar-besar dan aku bisa menangis sepuasnya, aku kangen ayah dan ibu. Namun seiring berjalannya waktu aku sudah mulai jarang menangis, aku dan Angkatan 8 lainnya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan baru kami di SMART Ekselensia Indonesia, kami mulai bisa bercanda sama-sama, lari ke sana ke sini, dan masih banyak lagi keseruan lainnya. Menangis? Masih suka juga, tapi itu juga karena ada anak Bali yang mengejekku.

Di sekolah kami ada peraturan di mana siswa boleh memakai gawai asrama dan juga izin keluar, tapi khusus anak baru jika ingin izin keluar harus didampingi oleh kakak kelas. Hanya saja yang menarik perhatianku dan Angkatan 8 lainnya hanya jatah menelpon orang tua, saking kangennya banyak yang menangis ketika dapat giliran menelpon, mungkin kangen. Rasa kangen pada orang tua juga membuat kami bertingkah aneh, aku ingat betul dulu aku dan Sutrisno sama-sama memimpin Angkatan 8 untuk menyanyikan lagu Bunda milik Melly Goeslaw. Sampai di bait “oooh Bunda ada dan tiada dirimu ada di dalam hatiku”, eh pada nangis kejer hahahahaha. Pengin ketawa ngakak, tapi gak enak. Dan hari itu menjadi hari di mana masa-masa sedih, indah, mengharukan, dan bahkan memalukan terukir dalam hidupku.

Pada 2012 lalu ketika Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) dihelat, aku mengikuti lomba story telling. Aku membawakan kisah  Jaka Tarub dan Nawang Wulan, tak disangka di tengah pertunjukkan aku lupa naskah, daripada malu akhirnya aku pura-pura serak dan batuk-batuk syantik gitu, lah malah dikasih air sama panitia. Tahu gitu mending aku pingsan sekalian. Di tahun yang sama dan kelas yang sama (kelas 1) aku ditunjuk oleh bu Lisa untuk mengikuti lomba FL2SN cabang story telling dan aku menduduki peringkat 3, bangganya.

Waktu terus berjalan, eh tapi aneh ya kalau waktu jalan-jalan.  Ya sudahlah ya lanjut lagi deh, dulu ada anggapan kalau anak-anak dhuafa seperti aku dan teman-temanku tak akan bisa bertemu dengan orang-orang penting, tapi mereka salah. Selama di SMART Ekselensia Indonesia aku banyak bertemu dengan tokoh terkenal bahkan artis seperti Ustad Maulana, Nikita Willy, Baim Wong, bahkan Dubes Jerman dan Amerika Serikat. Senanglah pokoknya bisa bertemu mereka semua.

Lalu tak terasa sudah empat tahun di SMART Ekselensia Indonesia dan sekarang aku sudah kelas 5 (kelas 3 SMA di sekolah lain), yang lebih menyenangkan akhirnya aku masuk jurusan IPA. Masuk IPA membuatku lebih banyak berpikir terutama berpikir tentang Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kala itu aku selalu berpikir untuk masuk Kimia UI, aku sudah minta doa ke kanan dan ke kiri macam sedang maaf-maafan sewaktu Lebaran, sedihnya aku tak akan bisa dapat kesempatan ke sana karena SNMPTN UI tidak mencakup ke SMART Ekselensia Indonesia. Alhasil  aku pilih ITB Fakultas MIPA untuk SNMPTN tahun ini. Setelah berunding dengan guru BK dan pimpinan SMART panjang lebar aku tak disarankan masuk ITB, terlepas dari itu aku cukup terharu karena mereka mau menyisihkan waktunya untuk mendengar ocehanku,. Akhirnya aku harus mengikuti konseling lanjutan bersama bu Amal (guru BK) yang berakhir dengan kesimpulan kalau aku harus memiih Manajemen IPB.

Percaya atau tidak, sebenarnya konseling alias diskusi dengan bu Amal yang panjang itu tak menghasilkan kesimpulan akhir, karena pada saat pendaftaran SNMPTN aku keukeuh memilih FMIPA ITB. Titik dan aku yakin makanya pilihanku tersebut kufinalisasi alias tak bisa diubah lagi. Bu Amal agak kesal dibuatnya seraya berkata “Doni, kamu mempermainkan saya?!” dengan ekspresi muka yang susah digambarkan, itu membuatku kepikiran. Aku hanya membatin “paling juga tak lolos, tapi kan bisa ikutan SBMPTN terus masuk UI”. Itu prinsipku saat itu hingga jelang pengumuman SNMPTN tiba.

Keresahanku tak kunjung reda bahkan makin menjadi karena ternyata pengumuman SNMPTN diundur hingga 9 Mei. Kulupakan sejenak saja si SNMPTN dan fokus belajar untuk SBMPTN, sampai beberapa hari kemudian ketika kami sedang belajar tiba-tiba di koridor luar terdengar teriakan dan sorak sorai. Kami yang di kelas sudah yakin kalau SNMPTN telah diumumkan, makin gelisah saja aku dibuatnya. Sejurus kemudian masuklah Alfian ke kelas sambil memberi selamat. Aku bingung, apakah ini mimpi? Aku berhasil masuk ITB? FAKULTAS MIPA ITB? Alhamdulillah ya Allah aku senang sekali, aku keluar kelas lalu berlarian sepanjang koridor. Kulihat Renald, sahabat kentalku di ujung koridor, ia melihatku dan berlari ke arahku lalu ia memelukku seraya berkata: “Kita lolos Don, gue keterima di UNPAD ya Allah”. Tak ada yang lebih menyenangkan mendengar kabar itu.

Alhamdulillah kabar kelolosanku ke FMIPA ITB menjadi kado terindah yang bisa kuberikan untuk ibukku di kampung halaman.