Anak Muda, Orang Tua dan Sejarahnya

Keras kepala, suka memberontak, suka tantangan, dinamis, cepat dan bersemangat itulah karakter anak muda. Anak muda mencoba dulu, soal hasil belakangan. Anak muda tak banyak pertimbangan. Anak muda merupakan antitesa dari orang tua. Orang tua cenderung lambat, banyak pertimbangan, dan menyukai kestabilan.

Anak muda merupakan masa depan suatu bangsa. Namun anak muda kebanyakan minim pengalaman, tak tau sejarah bangsanya. Anak muda cenderung malas mengetahui cerita masa lalu dari bangsanya. Coba saja anak muda dminta menyebutkan 100 pahlawan Indonesia, bisa dipastikan sebagian besar akan kesulitan. Apalagi cerita tentang kerajaan Sriwijaya yang mashur dalam dunia kemaritiman, Majapahit jaya dengan kekuatan maritim. Bahkan, nenek moyang kita sebelum cerita-cerita Colombus yang mengelilingi dunia telah berlayar sampai Madagaskar dengan perahu penisi.

Sejarah tak selalu bercerita tentang hal yang ribet penuh teka teki dan konspirasi namun terkadang menggelikan. Kisah ini pasti diketahui oleh civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) dan alumninya. Saat itu UGM semakin besar, jumlah fakultas yang dikelola paling banyak dan paling lengkap, salah satunya fakultas keguruan. Fakultas keguruan memiliki ribuan mahasiswa. UGM merasa akan lebih baik ketika fakultas keguruan berubah menjadi perguruan tinggi sendiri sehingga focus dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Namun masalah kemudian muncul ketika fakultas keguruan sudah berpisah dan sedang mencari nama perguruan tinggi.

UGM geger akibat isu adanya rencana nama perguruan tinggi yang hanya dipisahkan oleh jalan selebar 5 meter itu, Hayam Wuruk. Hayam Wuruk merupakan raja yang memimpin Majapahit ketika Gadjah Mada menjadi Maha Patih. Tentu tidak lucu, kampus yang dulunya merupakan bagian dari UGM memisahkan diri, kemudian mengambil nama raja dalam satu kerajaan dan dalam satu waktu. Posisi raja dalam strata pemerintahan zaman dahulu merupakan spimpinan tertinggi di atas Patih. Sekali lagi ini soal sejarah.

Sejarah itu ibarat spion mobil atau motor. Kita bisa menengok ke belakang melihat sebagian kejadian-kejadian masa lalu. Cerita tentang masa lalu yang mengajarkan banyak hal. Kita mengambil pelajaran dari kesalahan -kesalahan masa lalu sehingga ketika kita mengalami kejadian yang sama persis dengan kejadian masa lalu kita mampu menimilisir kesalahan. Sebuah ungkapan thomas Alfa Edison akhirnya bisa kita pahami bahwa ia bahagia bukan karena ia telah menemukan bohlam lampu namun ia telah mengetahui 1000 kesalahan dalam membuat lampu.

Orang tua merupakan saksi sejarah jadi perjalanan bangsa. Orang tua memiliki pengalaman yang tidak dimiliki oleh anak muda. Namun, sering kali orang tua menyepelekan anak muda karena merasa punya pengalaman yang dimiliki oleh orang tua. Orang tua cenderung feodal dan anti kritik.

Berbagai kelebihan orang tua dan kekurangan anak muda harus dipertemukan, duduk bersama kemudian bicara tentang mimpi masa depan Indonesia.

Anak muda harus belajar dari orang tua. Belajar untuk melapangkan dada menerima pelajaran dari pengalaman orang tua kemudian membuat formula yang sesuai dengan cita rasa zaman. Anak muda harus mengikuti perkembangan zaman jika tidak anak muda terlindas oleh zaman. Namun, anak muda tak boleh melupakan sejarah karena sejarah itu akan terulang.

Orang tua pun harus legowo bahwa waktu senja bagi mereka telah dating. Saatnye mereka mewariskan ilmu dan estafet kepemimpinan kepada anak muda. Kepercayaan terhadap kualitas dan kemampuan anak muda harus ditumbuhkan dan dipersiapkan. Tidak mungkin, anak muda langsung melanjutkan estafet kepemimpinan tanpa teori, latihan dan benturan-benturan di lapangan tanpa di damping orang tua. Itulah substansi tugas sebagi orang tua. Banyak kisah tentang kehebatan orang tua namun ia tak bisa melahirkan kaderisasi anak muda yang lebih hebat dari dirinya.

Orang tua pun tak boleh egois, feodalistik ketika memilih tongkat estafet kepemimpinan hanya berdasarkan trah keturunan. Dunia saat ini semkian berkembang, ketika pemimpin dipilih hanya berdasarkan cerita masa lalu tentang kebesaran nama, perjuangan dan posisi orant tuanya dahulu tanpa memperhatikan kualitas dan kapabilitas calon penerusnya maka terompet kehancuran tinggal menunggu waktu.

Akhirnya ketika saat terbaik dalam rekayasa atau takdir pergiliran kepemimpinan datang, selamat datang anak muda masa depan milik kalian. Kemudian, terima kasih orang tua, jasa dan pengalaman kalian dalam membangun pondasi negeri akan kami kenang dan lanjutkan. Sebuah transisi yang indah tentang kerja sama antara anak muda dan orang tua.

Aza El Munadiyan
Manajer Beasiswa Aktivis Dan Kepakaran Dompet Dhuafa