Arti Sebuah Perjuangan

Arti Sebuah Perjuangan

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Guru Agama Islam SMART Ekselensia Indonesia 2010 – 2012)
Setiap orang pasti punya cerita kehidupan masing-masing yang sifatnya personal. Cerita tentang kuliah sambil kerja barangkali bukan hal baru. Banyak mahasiswa yang punya cerita kehidupan seperti itu.
Namun, bisa saja itu cerita kehidupan yang bermakna dan berkesan bagi seorang mahasiswa yang menjalaninya. Dibaliknya, ada cerita tentang bertahan untuk bisa kuliah dan kelangsungan kehidupan. Dibaliknya mungkin saja ada air mata perjuangan, yang bagi orang yang tidak mengalaminya, tidak bisa merasakan maknanya. Layaknya manisnya gula tak pernah sempurna dijelaskan, kecuali dengan merasakannya.
Dibaliknya, ada cerita tentang kesabaran dan keyakinan akan kebenaran janji Tuhan. Bahwa satu kesulitan diapit oleh banyak kemudahan. Bahwa ada janji pertolongan Tuhan usai kegigihan ditunjukkan.
Singkatnya, ini tentang arti sebuah perjuangan. Setiap perjuangan punya makna dan kesan personal. Tidak bisa dikatakan perjuangan si A lebih bermakna dan berkesan daripada perjuangan si B. Hanya ada satu kesamaan dalam perjuangan, yakni kemuliaan. Selebihnya, punya makna sendiri-sendiri (personal).
Siang tadi (2/11/2019), usai menyampaikan materi “Pemimpin Muda: Integritas dan Intelektualitas” di FIB Undip, saya dibonceng motor Vikram menuju sebuah cafe untuk makan siang dan janjian ketemuan dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia yang di Semarang (Undip dan Unnes).
Kejutan. Sosok pemuda yang membukakan pintu cafe dan mempersilakan masuk adalah anak muda yang saya kenal. Namanya Lazuda (alumni SMART Ekselensia Indonesia), angkatan X, mahasiswa semester III Fakultas Perikanan dan Kelautan Undip. Rupanya Lazuda bekerja di cafe tersebut. Inilah satu cerita perjuangan seorang Lazuda.
Vikram, mahasiswa semester V Fakultas Ilmu Budaya Undip, juga punya cerita perjuangan yang personal. Sampai saat ini Vikram berjualan pempek di kantin fakultasnya. Ini tentang menjaga izzah diri dari membebani oranglain. Ini tentang nilai diri seorang pemuda. Maka, cerita ini mengingatkan saya pada firman Allah,
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba [34]: 13).
Bekerja itu bentuk syukur. Syukur atas nikmat anggota tubuh. Maka, gunakan untuk bekerja, bukan meminta-minta. Hasil bekerja gunakan untuk nafkah yang diridhai-Nya. Ini bentuk syukur kita.
Dua cerita tentang Lazuda dan Vikram mengawali banyak cerita kehidupan dalam perjumpaan saya dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia di Semarang. Ujungnya tentang  kesamaan cita-cita berjuang bagi kejayaan Islam dan kemaslahatan umat.
Cerita-cerita kehidupan inspiratif ini akan terus diproduksi di inkubasi kehidupan bernama SMART Ekselensia Indonesia. Maka, berbahagialah orang-orang yang terlibat di dalamnya.