ASP.net., HTML, dan CSS (Cascading Style Sheets) Santapan Siswa SMART

ASP.net., HTML, dan CSS (Cascading Style Sheets) Santapan Siswa SMART

Selasa pagi mengawali pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMART Ekselensia Indonesia. Diawali dengan kelas 3 yang mendapatkan materi web programming. Sebagai langkah awal, untuk memperkenalkan HyperText Markup Language (HTML), saya meminta para siswa untuk mencari definisi HTML melalui internet, kemudian menuliskannya dalam secarik kertas. Setelah itu, saya bersama dengan para siswa menarik kesimpulan dari materi tersebut.

Ketertarikan para siswa sangat terlihat dari beberapa pertanyaan terkait dengan web programming. Misalnya aplikasi web programming dalam dunia kerja. Pertanyaan siswa tersebut, saya jawab dengan sebuah cerita tentang kakak tingkat saya di kampus yang kala itu bekerja sebagai freelance programming di salah satu perusahaan BUMN terkemuka. Dia mendapat sebuah proyek untuk membangun sebuah web dengan bahasa pemrograman ASP.net.

“Berapa penghasilan yang didapatkan dari proyek itu, Ustazah?” seorang siswa menginterupsi.

“Yang saya tahu, setelah menyelesaikan proyek itu, beliau memberangkatkan keluarganya naik haji,” jawab saya.

Mendengar jawaban saya, wajah para siswa tampak makin bersemangat. Pekan berikutnya, saya membawa sebuah kotak yang berisi gulungan-gulungan kertas kecil.

“Ustadzah, apa isi dari gulungan-gulungan kertas kecil itu?” tanya salah satu siswa.

Dengan nada penasaran, siswa yang lain bertanya, “Memang kita mau ngapain sih hari ini, Ustadzah?”

Saya meminta para siswa untuk berhitung dan membentuk kelompok. Saya memanggil satu orang perwakilan kelompok untuk maju mengambil salah satu gulungan kertas tersebut. Kertas-kertas tersebut berisikan tema pembuatan web sederhana yang akan dikerjakan oleh tiap-tiap kelompok.

Hasilnya sangat menakjubkan. Sebuah web sederhana yang sangat menarik dan kreatif dari tiap-tiap kelompok. Bahkan, melalui internet, mereka dapat mengkreasikan lebih menarik lagi. Ada yang menambahkan tag <marquee> agar tulisan dapat berjalan. Ada yang mengganti background dengan gambar dan foto sehingga tampilan web menjadi sangat menarik dan unik. Sebuah awalan yang menakjubkan.

Agni Ardi Rein menanyakan hal yang belum pernah terpikirkan oleh teman-temannya. Sebuah pertanyaan yang unik dan menarik pada pekan berikutnya.

“Ustadzah, kalau blog itu bisa dijual gak sih?” Sontak saya sedikit terkejut. Kemudian saya menjawab dengan sebuah pertanyaan,

“Memangnya, trafic blogmu sudah berapa banyak?”

“Kurang lebih sekitar 12 ribu, Ustadzah.”

Saya kembali terkejut, tapi bercampur kagum. Ternyata siswa SMART yang menggunakan komputer dalam waktu yang relatif sedikit mampu membuat sebuah blog dengan pengunjung sebanyak itu.

“Subhanallah, sungguh menakjubkan!” Kalimat ini yang bisa saya katakan untuk Agni.

Sore harinya saya bertanya kepada salah satu rekan di Bandung. Dia adalah freelance animator. Saya bertanya tentang jual-beli blog.

“Bisa. Sebuah blog dapat diperjualbelikan seperti barang lainnya,” jawab rekan saya, yang kemudian memberikan alamat situs jual-beli blog. Esok harinya, saya menyampaikan informasi ini kepada Agni.

Nama blog milik Agni tutor-tekno.blogspot.com. Isinya segala hal tentang teknologi komputer. Bahkan apa yang dipelajarinya di laboratorium komputer (labkom) saat mata pelajaran TIK dituliskan di blognya itu. Sebuah karya yang sangat luar biasa dan layak dijadikan teladan untuk siswa yang lainnya.

Tiga pak kertas origami saya bawa ke pertemuan pekan berikutnya. Selain kertas origami dan dua gulung tali rafia berwarna ungu dan kuning, saya menyediakan peralatan utama, yaitu spidol, pensil, pensil warna, board marker/ permanent, dan pelubang kertas. Raut wajah bingung dengan seribu tanya terpancar dari wajah para siswa.

“Hari ini kita ngapain, Ustadzah? Kita mau buat produk atau display, ya?” Saya hanya menjawab dengan tersenyum dan mengangguk sambil membawa peralatan-peralatan tersebut ke depan kelas. Saya pun menjelaskan mengenai produk yang akan dibuat oleh para siswa. Produk mata pelajaran TIK biasanya selalu terkait dengan komputer, baik itu sotfware maupun hardware. Namun, kali ini produk TIK adalah membuat sebuah buku saku sederhana yang berisi tentang materi-materi HTML dan CSS (Cascading Style Sheets) seperti membuat border, menampilkan foto atau gambar, dan mengubah warna tulisan dan background.

Alhasil, lab komputer SMART yang terdiri dari 22 unit PC itu pun disulap menjadi tempat pameran kriya berupa buku saku sederhana. Suatu hal yang unik dan menarik untuk berbagi ilmu. Bukan hanya melalui sebuah web/blog sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu baru. Sebuah buku saku sederhana pun dapat menjadi sarana yang menarik untuk berbagi ilmu.

Berada jauh dari orangtua adalah keadaan yang tidak mudah untuk dihadapi seorang siswa. Walaupun begitu, siswa-siswa SMART masih menunjukkan prestasi di kelas dan di luar sekolah. Mereka juga mampu mempelajari sesuatu secara otodidak meskipun bukan dengan fasilitas pribadi. Di asrama, mereka tidak mendapatkan komputer secara individu. Untuk dapat mengerjakan tugas sekolah ataupun tugas tambahan di luar jam kegiatan belajar mengajar, para siswa harus mengambil form di labkom SMART. Form ini kemudian ditandatangani oleh guru yang memberikan tugas dan penanggung jawab labkom. Dan pada akhirnya, jika disetujui, ditandatangani oleh kepala sekolah SMP atau SMA.

Bukan hal yang sederhana. Namun, demi tanggung jawab, mereka mampu melakukan ini dengan baik dan disiplin. Sering kali saya mendapati para siswa yang mengerjakan tugas yang lain di luar mata pelajaran TIK di labkom, seperti tugas membuat majalah beserta isinya, atau membuat desain sertifikat, piala, dan piagam perlombaan yang diadakan sekolah.

Itulah yang membedakan SMART Ekselensia Indonesia dengan sekolah pada umumnya, sekolah formal berbayar dan tidak berasrama. Jika setiap hari anak-anak di luar SMART mendapat curahan kasih sayang dari kedua orangtua dan keluarga serta mendapat kebebasan untuk bermain, menonton televisi, dan menggunakan komputer; maka tidak dengan para siswa di SMART.

SMART sangat berbeda. Siswa di sekolah ini berasal dari kaum marginal, dengan latar belakang keluarga dan adat istiadat yang berbeda-beda. Ada yang sudah pernah mengenal komputer di kampung halamannya. Namun, tidak sedikit yang belum pernah memegang komputer sekali pun. Maka, saat di sekolah ini, mereka diperkenalkan dengan betapa menakjubannya pemanfaatan teknologi komputer untuk kegiatan positif. Dampaknya, kreativitas siswa SMART yang tak terbatas dapat disalurkan ketika mereka berada di labkom. Tidak hanya saat pembelajaran TIK, tapi juga pembelajaran mata pelajaran lainnya, misalnya untuk membuat presentasi.

Jumlah jam penggunaan yang relatif singkat ternyata sama sekali tidak menjadi hambatan untuk berkreasi dan berprestasi lebih. Sebagai bukti, saat ini, website SMART dikelola oleh siswanya sendiri. Sebuah proses belajar yang cepat. Hal ini merupakan prestasi yang luar biasa, dan tidak semua orang dapat melakukannya.