Ayah, Ibu, dan Bakso Berbalut Pengalaman Hidup

Langit Sorong terlihat sangat bersih. Sejauh mata memandang yang ada hanyalah hamparan awan putih dengan bentangan langit biru cerah. Burung-burung pantai saling bekejaran, ombak bergulung, dan angin semilir membelai helaian daun kelapa.

Panggil saja aku Rofiq, nama lengkapku Muhammad Rofiq Sidiq. Saat ini aku duduk di kelas XI jurusan IPS dan beberapa bulan lalu aku terpilih sebagai Presiden OASE Periode 2016/2017.

 

1

Sejak berumur tujuh bulan orangtuaku memboyong kami semua ke Sorong di Papua Barat untuk merantau, menurut bapak kami mengikuti program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah kala itu. Kehidupan di Sorong sama seperti kehidupan di kota lain di Indonesia, yang membedakan hanya sulitnya akses menuju kota besar. Walaupun begitu, aku senang tinggal di sini karena masih sangat asri, setiap pagi aku dibangunkan suara desir ombak dan sejuknya angin pantai. Kuhabiskan masa kecilku di sini, Sorong menjadi saksi bisu betapa aku mencintai kota ini.

 

2

Setelah lulus SD aku kembali merantau, aku merantau seorang diri ke Bogor, Jawa Barat, karena aku diterima di SMART Ekselensia Indonesia. Sebuah sekolah keren yang aku yakini akan menjadi gerbang pembuka masa depanku kelak. Mulanya aku sulit beradaptasi karena hati ini masih tertambat di Sorong, aku berjuang dan berjuang hingga akhirnya kerasan, tetapi bayang-bayang wajah ayah-ibu dan adik-adik di Sorong sering menghantuiku. Kalau sudah begitu aku hanya bisa menangis dan berwudhu agar tenang.

Seakan menjawab rasa gelisah dalam diri, Alhamdulillah SMART memberikan kesempatan pada siswa-siswanya untuk Pulang Kampung setahun sekali. Selama beberapa minggu kami semua akan menghabiskan waktu bersama keluarga di kampung halaman, bersua kembali dan melepas semua rasa rindu di hati.

Di Pulang Kampungnya SMART tahun ini aku telah membuat daftar panjang untuk menghabiskan masa liburanku di sini, namun ada yang berbeda dan ini membuatku bahagia.

 

***

“Ropek, anter bapak yuk,” suara berat bapak membangunkanku yang kembali terlelap lepas Subuh tadi. “Ke mana pak?” tanyaku penasaran, “Ikut saja,” jawab bapak lembut. Setelah memanaskan motor bebek kesayangannya aku dan bapak meluncur menuju pasar terdekat, walau bingung hendak ke mana namun aku senang bisa melihat Kota Sorong tercinta.

 

3

Mataku berenang ke berbagai arah, kotaku ini sungguh lengang namun indah, rasanya enggan meninggalkannya lagi.

 

4

5

 

Tiba-tiba motor bapak berhenti, aku yang sedari tadi tidak fokus agak sedikit terkejut, “kita sudah sampai,” ujarnya. Ternyata kami berhenti di tempat penggilingan daging.

 

6

Aku yang masih bingung hanya memerhatikan bapak yang bercengkarama dengan kaka (abang) penjual daging giling, sesekali kuperhatikan proses menggiling daging (yang kelihatannya menyenangkan), setelah selesai bapak kembali menyuruhku untuk naik ke motor dan kami pun pulang ke rumah.

 

7

Sepanjang jalan bapak banyak mengobrol denganku, banyak hal ia ceritakan mulai dari pekerjaan hingga betapa kangennya ia padaku. Tak terasa air mata menggenang, dada ini sesak karena akupun merasakan hal yang sama, aku kangen bapak. Entah kapan terakhir aku mengobrol seperti ini dengannya, momen ini membuatku bahagia. Jarang sekali momen ini terjadi, aku tak kuasa menahan emosi diri, betapa sayangnya aku pada sosok yang memegang kendali motor di depanku ini. Aku berdoa semoga Allah menyehatkan dan menjaga bapak selalu.

“Pek kamu kenapa?” panggil bapak kebingungan ketika sampai di rumah, aku hanya menggeleng pelan sembari mengajak bapak masuk ke dalam rumah. Ibu telah menanti dengan sabar, tanpa ba bi bu beliau mengambil kantong belanjaan yang sedari tadi kupegang, “mau masak apa bu?” tanyaku. Ibu hanya tersenyum seraya berkata “ayo ikut ibu ke dapur”. Aku kembali kebingungan.

“Hari ini ibu akan mengajarkanmu memasak nak, memang hanya memasak yang sederhana, hanya memasak bakso untuk dimakan nanti siang bersama-sama,” ujar ibu. “Tapi ibu ingin  agar kamu menikmati proses yang akan kita lakukan nanti, ibu ingin agar kebersamaan kita yang sebentar ini meninggalkan kesan yang dalam,” tutupnya dengan senyuman khasnya yang manis. Aku terharu, tak sanggup berkata-kata, namun kuikuti semua arahan ibu. Ini kali pertama aku membuat bakso dan ternyata mudah, kamu juga bisa membuatnya di rumah

 

8

Bahan-bahan yang harus kamu siapkan untuk membuat bakso ala ibuku antara lain:

  • 50 gr tepung sagu/kanji
  • 350 gr daging sapi
  • 4 siung bawang putih
  • 1/2 sdt merica
  • 100 cc air es
  • 3 sdt garam
  • 1 butir telur

Awalnya kupikir membuat bakso itu sulit tapi setelah mencoba sendiri ternyata mudah, hal yang perlu kamu lakukan:

  1. Haluskan bawang putih, garam dan merica. Giling daging hingga halus.
  2. Campurkan dengan tepung sagu, bumbu yang telah dihaluskan sebelumnya, air es dan telur. Aduk hingga rata.
  3. Panaskan air hingga mendidih, jika sudah mendidih matikan apinya.
  4. Ambil adonan bakso dan bentuk bulat-bulat sesuai dengan selera.
  5. Celupkan dalam air rebusan, lakukan sampai habis.
  6. Nyalakan kembali apinya dan masak hingga baksonya mengapung ya, karena tandanya itu sudah matang. Angkat dan tiriskan.
  7. Untuk penyajian kamu cukup siapkan mangkuk, tata mie kuning basah, bihun dan bakso serta sayuran.
  8. Tuangi dengan kuahnya, nah bahan untuk kuah bakso antara lain
  • 2 btg daun bawang, iris
  • 6 siung bawang putih
  • 3 sdt garam
  • 2 liter air
  • 1/2 sdt merica
  • 600 gr lutut/tulang sapi

Untuk membuat kuah yang kamu perlu lakukan: Haluskan bawang putih, garam dan merica. Didihkan air dengan bumbu tersebut dan tulang, masak hingga mendidih dengan api sedang ya, setelah selesai jangan lupa saring.

9. Taburi bawang goreng dan daun bawang.
10. Yeeey siap santap

 

 

9

Sesekali kulihat bapak mengabadikan gambar aku dan ibu yang sedang membuat bakso di dapur.

 

10

Ada kebanggaan tersendiri ketika aku melihat bakso-bakso bundar nikmat bertengger di dalam baskom besar, bakso-bakso itu adalah hasil kerja kerasku bersama ibu.

 

11

11b

Senangnya melihat keluargaku makan bakso buatanku dan ibu dengan lahap sampai nambah berkali-kali, bakso mengeratkan kami sebagai satu keluarga utuh.

 

12

Aku bersyukur ibu masih mau mengajarkanku memasak, menurut ibu memasak ialah hal penting yang harus dikuasai para perantau untuk bertahan hidup. Pelajaran hidup baru lagi-lagi kudapatkan, betapa bahagianya aku memiliki orangtua yang mengajarkan banyak hal tentang hidup.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, buatku Ini adalah Pulang Kampung terbaik dan berbeda. Momen sedekat ini dengan ibu dan bapak tak akan pernah aku lupakan, Pulang Kampung tahun depan akan kumaksimalkan intensitas interaksi dengan mereka.

Terima kasih bu, terima kasih pak. (AR)

 

Salam Hangat dari Papua,

Muhammad Rofiq Sidiq

#PulangKampungnyaSMART