Bagaimana Baginda Rasulullah Memperbaiki Kesalahan Sahabatnya

IMG-20170116-WA0009

Oleh: Syafi’ie el-Bantanie 

 

Imam Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, meriwayatkan, satu ketika Rasulullah bersama muslimin melakukan perjalanan. Singgahlah disebuah tempat, Marru Zhahran namanya, antara Mekah dan Madinah.

Seorang sahabat, Khawad namanya, tak sengaja melihat sekelompok gadis tengah berlalu. Khawad yang masih lajang ini menghampiri gadis-gadis itu dan menyapanya ramah.

Pada saat yang sama, Rasulullah bersama rombongan hendak melanjutkan perjalanan. Menyadari Khawad tak ada dalam rombongan, Rasulullah mencarinya. Rupanya Khawad sedang berbincang dengan gadis-gadis itu.

“Khawad, sedang apa kau di sini?” Tanya Baginda Rasul.

Khawad gelagapan… “Ehhmm saya sedang mencari unta saya yang hilang ya, Rasulullah,” jawab Khawad berusaha menyelamatkan muka di depan Baginda Rasul.

Baginda Rasul tahu Khawad berdusta. Namun, alangkah mulianya akhlak beliau. Baginda Rasul tidak mencecar Khawad, apalagi memarahinya di depan gadis-gadis itu yang bisa menyebabkan harga dirinya runtuh, atau menjustifikasinya sebagai pendusta.

Apa yang dilakukan Baginda Rasul? Beliau tersenyum dan berkata, “Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Kita cari untamu sambil berjalan.”

Baginda Rasul bersama muslimin melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, Baginda Rasul berulang kali menanyakan kepada Khawad perihal untanya yang hilang. Apakah sudah ketemu. Jelas saja, Khawad menjadi bingung mau menjawab apa. Khawad merasa bersalah membohongi Rasulullah.

Sesampainya di Madinah, Khawad segera menuju Masjid Nabawi dan shalat 2 rakaat. Dalam hatinya, dia berjanji untuk berterus terang kepada Rasulullah. Baginda Rasul, tau Khawad sudah mulai sadar. Inilah waktu yang tepat untuk menasihatinya.

Maka, Baginda Rasul masuk ke Masjid Nabawi. Hanya ada beliau dan Khawad. Tak ada yang lain. Di situlah Khawad menangis dan meminta maaf kepada Rasulullah. Apa respon Rasulullah? Memarahinya? Menghukumnya?

“Rahimakallah, rahimakallah, rahimakallah,” ucap Baginda Rasul.

(Semoga Allah merahmatimu 3 x).

 

Indah nian akhlak Baginda Rasulullah, junjungan kita tercinta. Poin-poin penting sebagai pelajaran:

  1. Saat Rasul tahu Khawad berdusta, beliau tidak langsung mencecar apalagi menjatuhkan harga dirinya di depan umum (gadis-gadis itu). Karena, Rasul tahu Khawad tidak sepenuh hati ingin berdusta.
  1. Rasul menunggu waktu yang tepat untuk menasihati dan memperbaiki (Di Masjid Nabawi dalam kondisi Khawad sudah merasa bersalah) dan tak ada siapapun.
  1. Dan, ketika Khawad mengakui kesalahan dan meminta maaf, Rasul tidak memperpanjang urusan. Bahkan, mendoakannya. Pun, tidak menceritakan kepada para sahabat lain.

 

Belajar dari Khalifah Ali dan Abu Musa Al-Asy’ari

Saudaraku, ketika seorang muslim diambil haknya oleh orang lain yang terang-benderang pelakunya. Tepat di hadapan mata. Di sinilah bab mempertahankan hak milik dalam Fiqh tepat dikemukakan. Bahkan, wajib mempertahankan hak milik.

Namun, adalah berbeda kasus dengan seorang muslim yang kehilangan hartanya, namun tidak jelas apakah hilang, dipinjam, dighasab, ataukah dicuri; dan, tidak jelas pula siapa pelakunya, adalah berbeda bab hukumnya dalam Fiqh.

Khalifah Ali pernah kehilangan baju besinya. Belakangan diketahui ada pada seorang Yahudi. Apakah berhak langsung mengambil hak miliknya itu? dan dipastikan si Yahudi pencurinya? Tidak boleh. Ada aturan Fiqhnya.

Ketika disampaikan kepada Qadhi (Abu Musa Al-Asy’ari), dan saksi yang didatangkan adalah Sayidina Hasan, putra Sayidina Ali. Abu Musa tidak menerima kesaksian Sayidina Hasan karena kerabat khalifah Ali (putranya). Ketika Khalifah Ali tak bisa mendatangkan saksi diluar kerabatnya, maka Abu Musa memutuskan si Yahudi terbebas dari tuntutan. Belakangan si Yahudi masuk Islam karena indahnya keadilan Islam.

Saudaraku, benar mencari harta milik yang hilang adalah hak kita. Namun, menjaga kehormatan dan nama baik orang lain juga kewajiban yang harus kita jaga dan tunaikan. Adalah tidak benar dalam mencari harta milik yang hilang dengan menerabas kewajiban menjaga kehormatan dan nama baik , dan bahkan nama baik institusi. Semua ada babnya dalam Fiqh. Mari kita proporsional dalam menempatkan masalah sesuai hukum Fiqhnya.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita untuk saling memperbaiki diri. Wallaahu a’lam.