Belajar untuk Berbicara, Berbicara untuk Belajar

dsc_0120

Oleh: Vikram Makrif, kelas XII IPA

“Cintai apa yang anda lakukan dan lakukan apa yang anda cintai”

Pagi itu aku mengikuti pelatihan Public Speaking bersama para Duta Gemari Baca 2016 dan 3 orang guru SGI. Tepat pukul 09.30 setelah kami semua Salat Dhuha acara pun di mulai, pada Minggu pagi  (23/10). Aku duduk di kursi terdepan Ruang Audiovisual Pusat Sumber Belajar dan Komunitas (PSBK) pada pelatihan kala itu. Di samping kananku ada Azzam,salah satu dari 20 Duta Gemari Baca 2016, yang memberikan lembar presensi padaku saat aku duduk di sana. Kak Hani sebagai MC memulai acara dengan bertanya pada para peserta tentang literasi. Salah satu peserta yang ditanya adalah aku. Lalu aku pun menjawab pertanyaan kak Hani apa adanya.

Kak Asta Dewanti adalah pembicara dalam pelatihan Public Speaking tersebut. Beliau  merupakan pakar dalam psikologi memulai acara dengan pengenalan ilmu psikologi diri. “Sebelum berbicara di depan umum, dan membereskan orang lain, maka kita harus membereskan diri kita terlebih dahulu,” kata kak Asta saat menjelaskan tentang bagaimana cara kita memulai berbicara di depan umum.

Selama kurang lebih dua setengah jam dari pukul 09.30 hingga pukul 12.00 aku mengikuti pelatihan Public Speaking sesi  1 sebelum istirahat Salat Zuhur. Aku mendapatkan banyak ilmu bagaimana cara menenangkan diri saat berdiri di depan umum, juga cara mengetahui dan mengenal karakter diri sendiri. Aku merasa senang dengan pelatihan yang kudapatkan dari kak Asta. Beliau menyampaikan materi dengan energik dan penuh semangat muda. Selama pelatihan sesi pertama kak Asta terus mencoba melihat keberanian peserta dengan memberikan kesempatan untuk berbicara bagi peserta yang datang. Kak Asta dapat membuat aku dan juga para peserta lain tertawa dengan humornya, sehingga suasana di dalam ruangan menjadi ruang gembira.

Setelah Salat Zuhur dan istirahat makan siang. Aku dan teman-teman yang lain masuk ke Ruang Audiovisual PSBK untuk melanjutkan pelatihan Public Speaking sesi kedua. Pada pelatihan sesi kedua ini cukup berbeda dari sesi pertama, karena pada sesi pertama peserta banyak menulis dalam kertas tentang tujuan mengikuti pelatihan, kelebihan dan kekurangan diri, teori SWOT, serta memberikan saran untuk teman-teman yang lain dalam pelatihan itu baik ikhwan maupun akhwat. Sedangkan pada pelatihan pada sesi kedua kita di ajarkan dan muali mempraktikkan berbicara di depan umum.

Aku mendapatkan cara paling baik untuk berbicara. Pertama sikap tubuh yang baik saat berdiri, kedua cara memproduksi suara yang benar, ketiga intonasi dan artikulasi bahasa saat berbicara, keempat cara berbicara lewat mata, dan terakhir menentukan kerangka berpikir dalam berbicara. Setelah kak Asta mengajarkan semua ilmu Public Speaking kami pun diajak untuk mempraktikkannya di ruangan itu. Aku berusaha untuk berani maju di depan semua orang dan mulai berbicara tentang dunia literasi. Aku mencoba mempraktikkan semua yang diajarkan kak Asta mulai dari memegang mic yang benar serta sikap tubuh yang baik saat berdiri. Semua ku coba walau masih banyak kekurangan dan masih grogi. Acara pun selesai pada pukul 14.30 dan kami semua merasa senang mendapat ilmu baru di hari libur sekolah. Cintailah dirimu saat berbicara atau beranikan diri saat berbicara agar engkau mencintai dirimu.