Beranikah Kita Keluar Dari Zona Nyaman?

Beranikah Kita Keluar Dari Zona Nyaman?

 

Wajahnya datar, malah cenderung terlihat gelisah. Seperti biasa, ia berdiri dari bangkunya. Di SMART Ekselensia Indonesia, selama mengikuti pembelajaran siswa-siswa memang tidak diharuskan duduk di kursi. Ada hamparan karpet yang bisa mereka gunakan selama pembelajaran. Namun, anak ini juga tidak duduk di karpet. Ia berdiri, selalu begitu, lalu berjalan memandangi mind mapping materi yang ditempel di papan display. Lalu duduk lagi. Sebentar memandang ke papan tulis, ia lalu kembali berdiri dan berkeliling kelas. Di kelas saya, ia sering begitu. Tidak mengapa karena saya tahu ia tetap memerhatikan penjelasan saya. Hal ini dibuktikan dengan nilai ujiannya yang selalu di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Demikian pula dalam kedisiplinan, ia tidak pernah terlambat, baik saat memasuki kelas maupun menyerahkan tugas.

Saat diselenggarakan pemilihan presiden OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia; semacam OSIS di sekolah umumnya), ia maju sebagai calon. Entah itu keinginannya sendiri atau dorongan—dan keisengan—dari beberapa temannya. Dari nama-nama yang masuk ke Panitia Pemilu Raya, semua diloloskan tanpa catatan, kecuali dia.

“Dia itu kritis,” kata Guru Bimbingan Konseling yang dimintai pertimbangannya terkait calon-calon yang akan berkompetisi di pentas demokrasi ala SMART.

“Kritis, maksudnya?” tanya saya keheranan sebab setahu saya ia tidak pernah melakukan pelanggaran aturan di sekolah dan asrama. Kritis dalam artian bodoh? Saya tidak yakin juga karena seluruh siswa SMART merupakan anak-anak cerdas. Walaupun harus diakui juga bahwa ia bukan siswa yang menonjol prestasi akademisnya.

Dari penjelasan Guru BK, diketahui bahwa ia senang mengkritisi hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan norma keharusan. Ia adalah pembangkang dalam pemaknaan yang positif. Ia anti kemapanan yang melenakan dan menghambat orang untuk terus maju dan berkembang. Ia banyak bertanya dan mempertanyakan.

Apa salahnya dengan sifat kritisnya itu? Tidak. Sama sekali tidak salah. Kalaupun ada yang disebut salah, maka itu adalah kondisi kita, para guru dan pendidik, yang belum berani keluar dari zona nyaman. Kita belum siap menerima sikap kritis dari anak didik karena kita merasa lebih pintar dari mereka. Kita belum siap menerima fakta bahwa murid akan segera mengungguli kita.

Sikapnya yang kritis ini menjadi alasan sebagian guru yang menyarankan agar namanya dieliminasi dari bursa presiden OASE. Paradigma mereka masih konvensional, yaitu bahwa presiden OASE (ketua OSIS bila di sekolah lainnya) haruslah anak yang memiliki segudang prestasi dan memiliki sifat penurut. Presiden OASE haruslah menjadi role model atau teladan bagi siswa lainnya. Sifat penurut artinya tidak perlu banyak bertanya. Tukang kritik yang banyak bertanya, tidak masuk kriteria ini.

Namun, saya dan sebagian guru yang lain melihat dengan perspektif yang berbeda. Anak ini memiliki potensi yang sangat besar, yang belum teraktualisasikan sehingga ia melakukan banyak hal yang menurut sebagian orang dikategorikan sebagai “tidak wajar”. Anak ini perlu wadah yang bisa menyalurkan energinya yang melimpah itu. Anak ini perlu difasilitasi kecerdasannya. Dan wadah yang tepat adalah OASE—Organisasi Akademika SMART Ekselensia. Syukurlah, namanya batal dieliminasi dari bursa pencalonan.

Hari pertama kampanye. Tim sukses dari masing-masing calon mulai riuh menjual kelebihan calon yang diusungnya. Tidak ada suara dan pergerakan dari tim sukses si cerdas kritis tadi. Keesokan hari, kami dihebohkan dengan banyaknya selebaran yang ditempel di seutas tali sepanjang lorong sekolah. Berlembar-lembar kertas bekas menggantung dengan tulisan seperti “partai anu mendukung SBD”, “partai ikan dower mendukung SBD”, dan bersama “partai pencinta dangdut mendukung SBD”. Out of the box? Mari kita cermati penjelasannya.

Lembaran-lembaran yang digunakan berkampanye adalah kertas-kertas bekas yang sudah digunakan. Ada banyak di sekolah, tinggal meminta saja. Toh kertas-kertas ini juga akan segera masuk tempat sampah. Menggunakan barang bekas? Recycle? Pemikiran yang jenius! Tali yang diikatkan di balkon dijadikan media tempel kertas kampanye. Mudah juga didapat. Namun, keekonomisan menjadi alasan yang disampaikannya. Dengan menempel— atau menggantung—kertas kampanye di tali, artinya kita tidak mengotori tembok. Mudah ditempel, dan mudah pula dibersihkan. Walaupun punya kepentingan, tidak sampai mengotori dan merusak sekolah.

Partai pendukung yang “aneh-aneh”? Cerdas! Salah satu cara menarik simpati adalah dengan menonjolkan sisi kemalangan diri sehingga para pemilih akan empati. Namun, cara ini tidak pantas dipilih oleh calon presiden OASE yang disyaratkan memiliki ketegasan dan ketegaran diri. Memunculkan partai-partai fiktif dengan propaganda yang lucu dan unik akan menanamkan ingatan di alam bawah sadar yang akan memengaruhi siswa-siswa di bilik suara. Maka, ia pun menjadi trending topic. Siswa-siswa membicarakannya, guru-guru juga membicarakannya. Pada keesokan hari, hampir seluruh kandidat yang lain melakukan hal yang serupa. Ia akhirnya terpilih menjadi presiden OASE. Setelah melihat kinerjanya, kepemimpinan ia sangat visioner. Saya dan guru-guru sangat berbangga dengannya, sebagaimana kami bangga terhadap seluruh anak didik kami.

Sebagai guru, kita perlu memahami bahwa kecerdasan itu tidak satu, dan tidak melulu diartikan sebagai nilai jauh di atas KKM. Tugas setiap guru adalah menggali dan memfasilitasi bakat dan minat mereka. Ketika ada siswa yang melakukan hal-hal yang tidak lumrah atau bahkan melanggar aturan sekolah, ingatlah bahwa ia adalah anak kita yang tangannya akan menarik kita ke kemuliaan dan surga. Jangan berputus asa untuk selalu menanam kebaikan dan memercayai bahwa kebaikan itu akan berkembang dan kita memanennya kemudian hari. Perbuatan yang oleh sebagian orang disebut sebagai “pembangkangan” dan “kenakalan” bisa jadi hakikatnya merupakan luapan energi yang tidak terfasilitasi dan tersalurkan.

Jika kita bisa arif dan cermat, perbuatan yang kita namai sebagai kenakalan bisa menjadi kreativitas yang membawa kebaikan. Terima kasih, anak-anakku. Kami bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. []