,

Bongkar Kebiasaan Lama. Saatnya Pemuda Bangkit!

Bongkar Kebiasaan Lama. Saatnya Pemuda Bangkit!

Oleh: Muhammad Ikrom Azzam

Alumni SMART Angkatan IX, Sastra Arab UNJ 2017

 

Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang di perbudak jabatan
(*) O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar
O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar

Lirik lagu Iwan Fals berjudul “Bongkar” di atas sedikit banyak menggambarkan suara hati dan kegelisahan rakyat Indonesia saat ini. Meski bukan lagu baru, maknanya masih berlaku hingga hari ini.

Bongkar, adalah sebuah kata yang patut kita sampaikan dan perlu kita lakukan terhadap negeri ini. Bagaimana tidak, negeri Indonesia yang makmur ini tengah menjadi rebutan negara-negara adikuasa. Tak heran jika Indonesia selalu menjadi tujuan utama negara-negara adikuasa untuk dimanfaatkan, karena negeri ini adalah negeri yang sungguh kaya, baik sumber daya alam maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

Sayangnya bangsa kita sedang galau oleh banyaknya masalah, mulai dari dominanya peran asing, kedaulatan nasional yang digerogoti globalisasi, perpecahan yang mulai menghancurkan persatuan, dan makin lunturnya nasionalisme budaya nasional. Korupsi merajalela yang turut menghancurkan kredibilitas kebangsaan dan kepemimpinan nasional. Negara dilanda ketidakpatuhan dalam hukum dan pemerintahan. Lantas, lupakah bangsa ini pada wawasan kebangsaan yang telah ditanam pejuang Indonesia terdahulu? Dan pemimpin macam apa yang kita butuhkan dalam keadaan Indonesia yang sedang kacau balau ini?

Muhammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia mengingatkan: “Dengan ra’jat kita akan naik dan dengan ra’jat kita akan toeroen. Hidoep matinja Indonesia merdeka, semoenja itoe tergantoeng kepada semangat ra’jat. Pengandjoer-pengandjoer dan golongan kaoem terpeladjar baroe ada berarti kaloe dibelakangnya ada ra’jat jang sadar dan insyaf akan kadaoelatan dirinja”. (Daulat Ra’jat, 20 September 1931)

Kita harus mengingatkan masyarakat untuk selalu memahami wawasan kebangsaan yang telah diwariskan para pejuang Indonesia terdahulu. Serta, kita juga harus mengingatkan masyarakat untuk tidak salah memilih calon pemimpin, khususnya memilih Kepala Negara. Rakyat pasti akan salah dalam memahami makna kebangsaan dan salah dalam memilih pemimpin bila rakyat hanya bermodal ”rasa suka”, “selera dangkal”, “cita rasa pop”, tanpa memahami persoalan rakyat sendiri, bangsa dan negara, yang saat ini sedang berada diujung tanduk, terancam dan tergerus globalisasi ganas, oleh hutang-hutang berbunga kepada bangsa asing, dan oleh kegagalan-kegagalan serius pemerintah dan negara menjadi “failed state”. Rakyat akan mampu memilih pemimpinya dan memahami wawasan kebangsaan dengan lebih benar bila menyadari bahwa kedaulatan nasional negara kita sedang dicabik-cabik dan berpengaruh pada bidang politik, budaya, hankam, dan tak terkecuali dalam bidang ekonomi (meliputi pertaniant, industri, teknologi, obat-obatan dasar dan energi).

Patut dicurigai bahwa para pemimpin yang muncul dan dimunculkan media saat ini tidak mengenal Tanah Air Indonesia, sehingga negara kita terus saja ketergantungan bangsa asing dengan hutang-hutang negara yang menjulang tinggi. Padahal secara potensi Indonesia sangat berpeluang menjadi negara paling maju di dunia. Bayangkan saja, negeri ini punya ribuan pulau membentang dengan ragam hayati, budaya, adat, dan kebiasaan yang luar biasa banyak. Semua potensi dan peluang Indonesia tersebut, tak ayal membuat negeri ini begitu heterogen. Dengan landasan keheterogenan itulah Indonesia menganut dan menjunjung tinggi nilai toleransi yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945.

Namun, asas yang hingga kini dianut Indonesia belum mampu menjadikan Indonesia utuh dan sempurna. Masih banyak masalah yang timbul dan hadir di negara ini salah satu contohnya adalah masalah kebangsaan. Tak jarang, isu kebangsaan selalu muncul dalam berbagai situasi sehingga sangat perlu bagi kita memahami lebih dalam tentang wawasan kebangsaan yang sebenarnya, karena dengan memahami makna kebangsaan dapat membantu kita mengatasi berbagai problematika yang kini dihadapi Indonesia.

 “Kita memiliki 750 suku bangsa yang membanggakan, yang bhineka, ibarat pecahan yang beraneka disatukan oleh Pancasila sebagai penyebut yang sama. Pancasila menyatukan yang bhineka menjadi tunggal ika dan persatuan adalah dalam arti “persatuan hati”, satu ruh kehidupan yang sama. “Persatuan” bukan “persatean” (Moh. Hatta, Daulat Ra’jat, 1931)