Bukan Sebuah Satire atau Elegi

(Kebersamaan Guru SMART Ekselensia Indonesia)

JFS

 

Tepat dua pekan kami tidak bersua untuk berbagi tawa dan bertukar canda. Kini, setelah sejenak melepaskan para siswa kembali kepada orang tua, kami bertemu kembali untuk merangkai sebuah cerita. Bukan sebuah ode, satire, apalagi elegi. Ini adalah cerita penuh makna yang kami rangkai di satu hari pada awal bulan Januari.

Cerita bermula saat kami, para guru SMART Ekselensia Indonesia, berkumpul di lapangan apel pada hari Senin, 9 januari 2017, pukul 06.45. Beberapa guru tampak telah siap sebelum waktu yang ditentukan, termasuk saya. Ada pula yang melewati batas waktu tersebut dengan alasan yang logis dan masuk akal. Empat guru tidak bisa berpartisipasi langsung dalam cerita karena harus berperan dalam skenario lain yang sepertinya tidak bisa digantikan. Dan, seorang wali asrama memilih untuk ikut berperan saat cerita telah memasuki orientasi atau pengenalan. Namun, skenario yang telah disusun Ustaz Abdul Ghani, Koordinator Litbang SMART Ekselensia Indonesia, harus tetap kami mainkan.

Doa pun kami lantunkan saat bus berkapastias 59 tempat duduk mulai meninggalkan sekolah kami pada pukul 07.10. Kami menyusun kenyamanan di tempat duduk masing-masing. Biarlah para ibu guru memilih kursi-kursi terdepan. Kami, para bapak, mengalah saja untuk berada di kursi-kursi belakang.

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Bus yang didominasi warna jingga dan hitam ini memang sangat nyaman, bersih, dan hening. Sayang, fasilitas televisi yang tersedia tidak dimanfaatkan untuk sekadar memainkan irama-irama cinta sebagai latar belakang cerita kami. Yang sesekali terdengar hanya bunyi klakson yang sedang kekinian: telolet, telolet, telolet!

Setelah melewati sebuah konflik utama perjanalan, yaitu kemacetan, kami pun tiba di lokasi utama, yaitu RM Mojang Pasundan, Caringin, Bogor, pukul 08.44. Dan, dari latar tempat tersebutlah, cerita sesungguhnya akan segera dimulai.

DCIM100MEDIA

“Barang berharga harap dimasukkan ke dalam loker yang telah disediakan!” teriak sang sutradara. Tanpa berpanjang kalam, kami berinisiatif memasukkan gawai dan dompet ke dalam loker-loker kecil, namun aman. Barang berharga lain, seperti hatiku ini, biarlah kubawa hingga akhirnya ada sosok istimewa yang bisa memilikinya.

Tiga kendaraan bak terbuka ukuran kecil membawa kami ke latar berikutnya: arena paint ball. Di dalam arena tersebut, para guru pria dibagi ke dalam enam pasukan yang akan saling menghujani lawan dengan tembakan. Adapun para ibu guru hanya dibagi ke dalam dua pasukan. Maklumlah, jumlah ibu guru memang tidak sebanyak bapak guru, selain memang ada beberapa ibu guru yang tidak ikut karena memang kondisinya memang tidak memungkinkan.

Awalnya kami agak kecewa karena sebuah properti vital (jaring pengaman)  di arena pertempuran belum disiapkan. Setelah memakai dua jenis kostum yang berbeda dan mengangkat senjata masing-masing, kami pun siap turun di dalam medan pertempuran. Setelah itu, adegan peperangan dan pertempuran pun berlangsung menegangkan, menyenangkan, dan tentu saja mengharukan saat ada sebuah pasukan yang berhasil mengambil bendera lawan tanda kemenangan. Kekecewaan kami pun sirna dan hilang.

DCIM100MEDIA

Lelah, lebam, kotor, dan luka memang kami dapatkan. Dan, itu adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah konflik berupa peperangan, meski hanya perang khayalan. Namun, selalu ada hikmah di setiap kisah. Hikmah yang terlalu banyak untuk dituliskan, terlalu sulit untuk dilisankan, namun tentu sangat kami rasakan.

Tepat pukul 12.00 kami harus memanjatkan rasa syukur atas berbagai kisah dan hikmah yang telah kami dapatkan pada babak pertama ini. Kami pun tidak lupa memanjatkan doa untuk keselamatan dan keberkahan cerita pada babak kedua nanti. Cerita yang sepertinya akan menimbulkan banyak konflik. Sebuah cerita berlatarkan sebuah aliran sungai yang cukup deras: Sungai Cisadane. Ya, babak kedua nanti, kami akan memacu adrenalin kami di dalam sebuah adegan bernama rafting.

Perut keroncongan sejenak kami abaikan. Sepertinya penyakit lambung tidak akan kambuh jika hanya satu hari terlambat makan. Perahu-perahu karet yang berderet di tepi sungai saat ini lebih menggiurkan ketimbang sayur asem dan lalapan. Para instruktur rafting pun sudah sangat siap memicu adrenalin kami di derasnya aliran sungai dan tajamnya batu-batu hitam.

Kami menyusun pasukan baru, ada tujuh pasukan tepatnya, sesuai dengan jumlah perahu karet yang akan membawa kami. Di setiap perahu, dimunculkan tokoh protagonis baru. Baiklah, panggil saja tokoh tersebut dengan instruktur. Tokoh baru di perahu karet kami bernama Pak Uwa. Kulitnya hitam legam, badannya kekar dan atletis, dan logatnya mencerminkan bahwa beliau adalah orang pribumi. Beliau akan memandu saya, Ust. Gani, Ust. Ari Kholis, Ust. Syamsuumar, dan sang bintang serta ikon: Ust. Mahmud.

Pukul 12.39, dengan bekal alat pengaman yang lengkap, dayung, dan ilmu dari instruktur utama, perahu kami pun dengan perlahan mengarungi Sungai Cisadane yang cukup tenang. Namun, tenangnya aliran tampaknya hanya sebuah awalan untuk menuju jeram-jeram yang menghujam. Apalagi, suasana semakin dramatis saat awan mulai kelam hingga akhirnya turun hujan.

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Ini bukanlah pengalaman pertama saya (kami) melakukan rafting. Namun, jujur saja, rafting kali ini sangatlah menyenangkan, meski lelah, capek, dan pegal. Dan, tampaknya hal tersebut dirasakan oleh semua tokoh dalam cerita kali ini. Hal tersebut terlihat di dalam perjalanan kisah kami saat sekitar 7 km mengarungi Sungai Cisadane. Meski terjatuh, terkena batu, terkena dayung, terkena cipratan air tokoh lain, kami mencoba bangkit lagi. Kami tetap tersenyum, tertawa, bahkan terbahak-bahak.

Pemandangan bantaran sungai memperindah perjalanan perahu kami. Sesekali, Pak Uwa, intrsuktur kami, memainkan peran lain dengan menjadi pemandu wisata dengan berbagai pengetahuannya tentang seluk beluk arena rafting tersebut. Lawakan dan guyonannya senantiasa membuat kami melupakan kelelahan yang semakin memuncak. Pengalamannya menjadi instruktur rafting tidak perlu dipertanyakan lagi. Kami pun tidak panik saat melewati empat jeram yang menghujam di antara batu-batuan yang hitam legam.

DCIM100MEDIA

Konflik antarperahu memang tidak bisa dihindarkan. Namun, konflik di perahu kami justru menjadi kisah yang paling mengesankan. Di sebuah aliran sungai yang tenang, Pak Uwa, meminta kami semua untuk duduk di sebelah kiri perahu. Karena itu adalah permintaan instruktur, kami pun memilih untuk setuju. Saat posisi kami sudah sejajar di kiri perahu, Pak Uwa menarik perahu ke arah kiri pula hingga akhirnya perahu kami terbalik. Dan, seketika itu pula kami tenggelam di bagian sungai yang sangat dalam hingga kami, terutama Ust. Ari Kholis, panik bukan kepalang karena memang tidak bisa berenang. Mungkin beliau lupa kalau ada sebuah pelampung yang terikat sempurna di badannya. Saat pasukan lain mulai terlihat di permukaan sungai, Ust. Mahmud seolah sirna. Hanya dayungnya yang hanyut terbawa aliran sungai yang tenang. Sampai akhirnya Pak Uwa membalikkan perahu. Ust. Mahmud, dengan eskpresi datarnya, ternyata tepat berada di bawah perahu karet berwarna jingga. Adegan perahu kami akhirnya menjadi tontonan dan hiburan gratis pasukan lain.

Resolusi cerita kami dimulai saat perahu-perahu kami harus melewati jeram buatan setinggi tiga atau empat meter. Kepanikan tidak bisa disembunyikan. Ketakutan tidak bisa ditutupi. Namun, semua perahu beserta para tokoh cerita ini bisa melewati jeram tersebut dengan selamat dan bahagia.

Tiga mobil kendaraan bak terbuka kembali memindahkan latar kami saat waktu menunjukkan pukul 14.38. Dengan mimik dan gestur kelelahan, kami menikmati kisah-kisah di perahu masing-masing yang diceritakan dengan penuh canda dan tawa. Pukul 14.45, kami berpencar mencari kamar mandi dan kamar bilas. Jumlahnya cukup terbatas untuk mengakomodasi para tokoh di dalam cerita ini. Selesai membersihkan dan merapikan diri, kami akhirnya dipertemukan dengan hidangan khas Sunda. Hidangan yang cukup istimewa dalam hal kualitas, namun sederhana dalam hal kuantitas.

Usai sudah mengisi raga. Berikutnya, jiwa kami pun harus diisi dengan salat dan doa. Syukurlah, musala di latar pertama kami tiba, cukup representatif. Dengan khusyuk kami bersyukur dan beroda kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang masih bisa kami rasakan dari awal hingga akhir cerita.

Bus Bejeu berwarna hitam dan jingga pun membawa kami mengakhiri cerita pada pukul 16.00. Masih sunyi dan hening, bus kembali membunyikan “telolet”nya sekaligus menemani lelah dan lelap kami di kursi masing-masing. Dan, saat kami membuka mata, cerita benar-benar usai di gerbang SMART Ekselensia Indonesia, setengah jam sebelum magrib tiba.