Bulan Hujan

Oleh: Nadhif Putra

Dipeluk sepi malam rindang,
menjejak di serpihan gang lengang,
sisanya hanya terdengar pijar tawa,
mata bening mulai merembas, pada
sekujur lapis bernadi milikku
sedang, rinai tawa yang tadi
menggubah titik noktah ilusi
malam sepi, yang lantunkan singkat
sajak dingin pemeran pikat

Kembali pada meja nomor satu
memula, peruntungan pada waktu
pertaruhan tentang dingin, biku
jari-jariku mulai membisu
terguyur basah sore tadi, rindu
sejenak mulai melepasiku
lewat sendi-sendi kata, dirimu
menutur frasa-frasa malamku
yang, merangkai sajak waktu

Masih membekas aroma hujan
di kota, pemilik pameran hujan
membuatku rindu, kecup peluh itu
tak tahan sebab lebam merenggut
kilasan rautmu,
sebentar saja, bulan hujanku
tanpa terasa akan bersua
memupus ruang lewat kata
tatap mata, juga rona
tujuh warna setelahnya

Hanya dengan begitu,
aku dapat kembali mengenalmu
seperti awal waktu,
saat aku menemukanmu,
potongan hujan, sepertimu

21.37 WIB
(Bogor, 2016)