Rasa Itu Bernama SMART

 

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari kala itu. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata seoranng ustazah menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata, “Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan Azan Zuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar, sudah hampir lulus kuliah, teman-teman yang tadinya selalu dekat sekarang sudah mulai berjauhan. Sungguh pun aku kangen akan masa-masa itu, tak terasa lima tahun di SMART telah kulewati, ingin rasanya kuulang momen kebersamaan yang tak terlupakan. Terima kasih SMART atas banyak hal yang semakin kusyukuri keberadaannya.

Mau Masuk Jurusan Ilmu Hukum? Wajib Baca Tulisan Alumni SMART Ini!

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam,

Alumni SMART Angkatan 8, saat ini berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum

“Bukan politik yang kotor, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya saja yang tidak bisa menjaga kemurnian politik”

Itu merupakan jawaban yang sering saya katakan kepada setiap orang yang meragukan saya untuk terjun ke dalam dunia politik. Mulai dari keluarga besar, teman-teman, guru BK, kepala sekolah semua meragukan saya. Tapi saya keukeuh untuk masuk politik. Lalu, kenapa sih saya ingin sekali masuk dunia politik? Oke semuanya akan saya jelaskan di sini.

Semua bermula saat usia saya menginjak 10 tahun, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat di mana -saya rasa- itu merupakan masa untuk membentuk kepribadian dan masa depan. Saya yang sedang asik menikmati waktu libur panjang ditawari hal menarik  oleh ayah saya, seorang yang paling saya hormati.

“Cep, besok mau ikut kampanye partai gak? Lumayan sekalian bapak ajak jalan-jalan keliling Bandung”.  Tanpa pikir panjang aku menerima ajakan itu, bukan ajakan untuk kampanye yang membuat saya bersemangat, melainkan ajakan untuk jalan-jalan keliling Bandungnya. Yah, saat itu saya belum mengerti yang namanya politik.

Keesokan harinya setelah bangun tidur, saya langsung bergegas mandi. Ini hari yang paling saya tunggu. Bapak saya sudah bersiap dengan menggunakan kaos dengan gambar lambang salah satu partai politik di Indonesia. Tanpa saya minta, bapak memberikan satu kaos yang sama dan pastinya pas dengan ukuran badan saya. Kami pun berangkat dengan motor, aku yang dibonceng oleh bapak memegang bendera partai dengan semangat.

Belum juga melewati desa, motor yang ayah saya kemudikan tiba-tiba berhenti, ternyata sudah banyak orang yang menunggu dengan seragam yang sama dengan kami. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, keliling Bandung berbondong-bondong dengan orang yang baru saya kenal. Gumam saya dalam hati.

Setelah beberapa menit mendengar orang yang berpidato lewat pengeras suara, kami pun berangkat. Benar-benar di luar dugaan ku, perjalanan menuju pusat Kota Bandung sangat menyenangkan. Bunyi klakson terdengar bersaut-sautan, banyak bendera partai berkibaran, dan pastinya massa semakin banyak menyelimuti jalan raya. Banyak orang yang sedang berjalan di pinggir jalan raya berhenti sejenak untuk melihat kami, rasanya seperti penguasa jalan!!

Saking semangatnya hingga tak terasa bahwa kami sudah sampai di pusat Kota Bandung. Sudah ada ribuan orang dengan seragam dan atribut partai yang sama dengan kami menutupi lapangan. Dari kejauhan terlihat berdiri kokoh panggung megah yang nantinya akan dijadikan tempat orasi oleh partai tersebut. Nyanyian sudah terdengar samar-samar dari depan panggung. Saya turun dari motor dan menunggu bapak yang sedang memarkirkan motornya. Bapak memegang tanganku, “ Jangan jauh-jauh dari bapak, nanti kamu bisa berpisah dari bapak. Bahaya!” saya hanya menganggukkan kepala.

Kami mulai menuju kerumunan, benar-benar penuh sesak. Tapi entah mengapa, saya merasa menyukai suasana seperti ini, saya hanyut dalam acara. Banyak sekali acara yang diadakan oleh partai yang kami dukung. Salah satu hal yang membuat kami semakin bersemangat adalah ketika Iwan Fals menyanyikan lagunya, Wakil Rakyat. Semua ikut bernyanyi.

“Wakil rakyat seharusnya merakyat….Jangan tidur waktu sidang soal rakyat….Wakil Rakyat bukan paduan suara”. Semuanya hanyut dalam nyanyian.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, namun tanpa adanya aba-aba, hujan pun turun dengan derasnya. Saya kira semuanya akan berteduh, tapi tidak! Semuanya semakin bersemangat. Ada bendera merah putih ukuran yang berkibar di atas panggung utama. Ini luar biasa!!  Saya semakin terbawa suasana, bergoyang menikmati lagu-lagu yang terus dilantunkan oleh sang presiden masyarakat, Iwan Fals.

Saat sedang asik bergoyang, bapak menyuruh saya untuk ikut dengannya. Begitu juga dengan rombongan yang satu desa dengan saya. Kami akan siapa-siap untuk Salat Zuhur, setelah itu kami siap-siap untuk pulang. Diperjalanan pulang, suasana jalan masih ramai. Banyak rombongan yang memilih untuk pulang juga. Suasana masih ramai hingga kami tiba di desa kami.

Sesampainya di rumah saya mandi, bapak sudah menunggu di ruang tamu. Nampaknya ada yang ingin bapak sampaikan kepada saya.

“Cep sini. Ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu”

“Iya pak,” saya duduk di depan bapak.

“Gimana tadi Cep? Serukan?”

“ Iya pak,” saya mengusap-ngusap tangan yang masih kedinginan.

“ Begitulah Cep dunia politik. Semuanya siap dilakukan asalkan kita bahagia. Banyak orang yang rela hujan-hujanan demi mendukung orang yang belum tentu akan membuat mereka bahagia. Tapi kita yang memilih itu percaya, bahwa yang kita pilih adalah yang terbaik”. Bapak berhenti sejenak dan meneguk kopi yang ada di depannya.”Memang banyak yang bilang politik itu kotor, banyak korupsi, terus banyak kejahatan-kejahatan. Tapi ingatlah bahwa orang-orang yang kotor itu bukanlah orang-orang yang mengerti politik. Mereka hanya penikmat”.

“Saya pengen masuk politik pak”. Entah mengapa, seketika saya sangat ingin masuk politik.

“Bapak sih dukung-dukung aja kamu masuk politik. Tapi ingat, kamu harus amanah sama orang-orang yang udah percaya sama kamu yang udah bela-belain hujan-hujanan demi dukung kamu. Jangan sampai kamu mengecewakan mereka dan kamu termasuk ke dalam orang-orang yang menjadi penikmat politik saja. Kamu jangan sampai korupsi dan melakukan hal-hal kotor lainnya. Kamu bisa banyak teman kalau hidup di dunia politik dan bukan teman baik saja yang bakalan kamu miliki, tapi kamu juga bakalan punya temen-temen yang kotor,” ujar bapak penuh kesungguhan.

Muhun pak, saya paham”

“Dan satu lagi, Kamu ubah nasib Negara ini. Kita semua kalangan bawah udah bosan dibohongin sama orang yang kita pilih”

Saat itulah keinginan saya untuk masuk dunia politik makin kuat, bukan untuk mencari kekayaan. Tapi saya sangat menyukai dunia politik. Dunia politik itu gak ada kata lelah dan pastinya bakalan punya banyak teman. Terserah kata orang mau bilang saya bakal korupsilah, bakalan sombonglah, bakan apalah. Tapi lihat saja nanti, siapa yang akan merubah negeri ini!.

Dan sekarang saya, Cecep Muhammad Saepul Islam, seorang anak desa telah menapakkan kakinya di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hukum. Insya Allah saya akan membalas semua keraguan yang datang pada saya dengan bukti nyata bahwa saya akan mengubah image politik yang dianggap kotor oleh kalangan masyarakat.

Lalu ada pertanyaan, “Lah kok jadinya masuk Ilmu hukum bukan Ilmu Politik atau Ilmu Pemerintahan? Karena Hukum merupakan atasan segala hal yang berkaitan dengan perpolitikan di dunia.

Millenials Ooooo Millenials, Baca Ini Yuk

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

  • [1] http://jarvis-store.com/
  • [2] http://timorexpress.fajar.co.id/

Ingat Sob Ukuran Passion Tak Melulu Kesenangan Pribadi

Oleh: Yonatan Y. Anggara

 

Semoga kita akan sadar kalau ukuran passion bukan hanya tentang suatu hal yang kita senangi. Passion tidak lantas berhenti pada titik kulminasi yang banyak di bangga bangga kan di media sosial saat ini: pencapaian. Semoga kita akan mengerti bahwa passion berbeda dengan titik nyaman. Bisa jadi, passion justru tumbuh dari sesuatu yang di paksakan. Sesuatu hal yang dulu nya sangat tidak mungkin untuk kita kerjakan.

 

 

Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu hal yang menjadikan kita bermanfaat. Artinya passion tidak melulu tentang ketertarikan kita. Passion adalah hadiah dari ketekunan dan kedisiplinan kita. Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu yang amat kita cintai. Bukan karena kita menyukai atau tertarik denganya, melainkan karena sesuatu itu kita lakukan dengan mengharap ridho Allah semata. Lakukanlah setiap kebaikan dengan penuh ketulusan niat, niscaya passion akan tumbuh beriring dengan kebahagiaan yang semakin melapangkan hati.

 

 

Seperti halnya Abdurahman Bin Auf yang tidak ragu membantu banyak urusan umat muslim. Menyumbangkan harta-hartanya untuk umat. Mungkin sebelum Rasul ada, ia tidak punya passion memberi semenakjubkan itu. Setelah islam datang, Ada suatu hal yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

 

 

Seperti halnya Utsman bin Affan yang dengan cekatan memutar otak mengatasi kekeringan waktu itu. Kapitalisasi sumur oleh Yahudi akhirnya disudahi oleh 152 juta harta Utsman. Dengan santainya ia memberikannya pada masyarakat. Mungkin sebelum datang risalah Islam ia tidak punya passion problem solving seperti itu. Setelah Islam datang, ada yang jauh lebih penting dari sekedar passion.

 

 

Seperti halnya Abu bakar yang dengan yakinya merogoh uang sekitar 143 juta hanya untuk menebus budak hitam bernama Bilal yang sedang ditindih batu besar di padang pasir yang panas. Mungkin sebelum datangnya Muhammad itu tidak pernah punya passion take care. Namun setelah Islam datang, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

 

 

Ada yang jauh lebih penting dari sekadar passion, yaitu menjadi bermanfaat

Sob Saatnya Mengasah Inovasi dalam Pelestarian Bahasa

Oleh: Syahrizal Rachim,

Alumni SMART Angkatan X Berkuliah di Unpad Jurusan Hukum 2018

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya, kaya akan budaya dan adat istiadat masyarakatnya. Salah satu dari kekayaan Bangsa Indonesia adalah bahasa yang beragam di seluruh penjuru negeri untuk dijaga sebagai warisan budaya nusantara.

Dewasa ini, perkembangan zaman sangatlah pesat. Globalisasi semakin menyebar  ke segala penjuru dunia. Perkembangan teknologi dan semakin mudahnya berkomunikasi menjadi sebagian kecil dampak positif globalisasi.

Para pemuda saat ini sangatlah mudah terpengaruh dampak dari globalisasi. Tanpa disadari, perkembangan globalisasi yang pesat pada generasi muda memengaruhi  kelestarian budaya negeri, salah satunya budaya daerah. Pengaruh globalisasi yang kuat mengubah kecintaan terhadap bahasa daerahnya sendiri ke budaya asing tanpa disaring terlebih dahulu.

Banyak pemuda menganggap bahasa daerah itu kuno, tidak berkembang dan tidak sesuai tren. Tidak sedikit para pemuda zaman sekarang yang bangga menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya. Kurangnya rasa bangga menggunakan bahasa daerah semakin membuat warisan budaya nusantara ini hilang tergerus oleh perkembangan zaman.

Generasi  muda zaman sekarang lebih banyak yang tertarik mendalami dan menggunakan bahasa asing. Terdapat segelintir pemuda yang takut masa depannya tidak berkembang jika mempelajari bahasa daerah. Kurang optimalnya sosialisasi yang menyeluruh kepada generasi muda tentang pentingya menjaga kelestarian bahasa daerah turut menjadikan bahasa daerah hilang tergerus zaman. Aktivitas-aktivitas belajar bahasa daerah di sekolah ataupun di tempat-tempat lainnya masih sangat sedikit dan hanya digunakan sebagai bahan pelengkap nilai rapor siswa.

Aktivitas-aktivitas pelestarian bahasa daerah di abad ke-21 harus senantiasa ditingkatkan. Kegiatan pelestarian bahasa daerah dapat diisi dengan kegiatan yang kreatif dan inovatif. Berbagai pihak dapat memanfaatkan tren generasi muda sekarang yang banyak menggunakan jejaring sosial.  Dengan total 93 juta pengguna jejaring sosial di Indonesia tahun 2016, berbagai pihak terkait dapat memanfaatkan kampanye-kampanye pemertahanan bahasa daerah lebih luas jangkauannya dan sesuai dengan tren generasi muda saat ini.

Para pemuda dapat menunjukan geliatnya dalam pelestarian bahasa daerah dengan mengikuti lomba-lomba bernuansa kearifan lokal. Semangat nyata pemuda cinta bahasa daerah dapat disalurkan pula dengan menciptakan berbagai kreasi, baik dalam bentuk tulisan, gambar ataupun media-media lainnya seraya mengasah inovasi dalam pelestarian bahasa. Pengaplikasian inovasi dari para pemuda haruslah senantiasa diteruskan sehingga pemertahanan bahasa daerah tidak terehenti pada satu orang saja serta tertanam sebagai nilai moral dan persaudaraan dari kebudayaan daerah itu sendiri.

Peran aktif dari berbagai pihak diperlukan untuk mewujudkan secercah harapan generasi muda peduli bahasa. Para orangtua dan pemangku kebijakan harus selalu menanamkan pentingnya pemertahanan bahasa daerah sebagai salah satu identitas bangsa serta kebanggaan negeri kini dan nanti.

Kiprah Pemuda Belum Usai Kawan

Oleh: Muhammad Sapei

Apa yang terlintas dalam benak dan terpikir dalam pikiran kita ketika disebut kata remaja dan pemuda? Mungkin banyak di antara kita yang berpikir bahwa remaja dan pemuda adalah masa-masa labil dan bergejolak, masanya mencari jati diri. Benarkah demikian?

Celakanya, kita, orang dewasa, membenarkan hal itu tanpa mengkajinya lebih mendalam, sehingga kita memaklumi jika remaja dan pemuda melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Kita mentolelir jika remaja dan pemuda ibadahnya tidak bagus dan akhlaknya tidak baik.

Salah satu faktor yang menyebabkan kita bersikap seperti itu bisa jadi karena teori yang kita jadikan rujukan. Kita banyak merujuk teori-teori dari Psikologi Barat tanpa membandingkannnya dengan teori dalam Psikologi Islam, bahkan lebih tegas lagi dengan Alquran dan Hadis. Data dari Barat memang menunjukkan hal itu bahwa remaja dan pemuda di Barat memang kacau; hedonis dan permisif. Hidupnya banyak hura-hura dan aktifitas yang tidak bermanfaat. Orang-orang Barat mentolelirnya sebagai masa pencarian jati diri.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau ikut-ikutan pola pikir mereka? Konyol sekali menurut saya. Akankah kita menjadikan anak-anak dan murid-murid kita hari ini menjadi korban pendidikan ala Barat? Saya tidak menafikan ada hal-hal positif dari Barat. Tetapi, poin yang ingin saya sampaikan adalah mari kita memfilternya dengan pedoman hidup kita, Alquran dan Hadis. Jangan menelan mentah-mentah teori dari Barat dan dianggap sebagai aksioma. Jika baik, kita ambil. Namun, jika buruk, tentu saja tinggalkan.

Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pemuda memiliki peran strategis bagi kelangsungan sebuah peradaban. Karena itulah, Yahudi dan Barat berusaha menghancurkan peradaban Islam dengan menghancurkan pemudanya. Mereka masuk lewat konsep-konsep pendidikan dan psikologi agar kita mengekor teori mereka. Mereka rusak pemuda Islam dengan gaya hidup hedonis dan pola pikir permisif.

Kita pun sama-sama memahami bahwa masa muda adalah masa yang (semestinya) paling produktif. Karena, tenaga sedang prima-primanya, pikiran sedang kuat-kuatnya, dan semangat pun sedang menggebu-gebunya. Maka, jika para pemuda sebuah negeri baik, maka besarlah kebermanfaatan yang akan terwujud. Sebaliknya, jika para pemuda sebuah negeri buruk, maka besar pula keburukan yang akan terjadi.

Karena itu, mari kita telaah Alquran dan sejarah untuk membantah anggapan masa muda adalah masa labil dan pencarian jati diri.

Pertama, Ibrahim as. ketika melawan tirani Raja Namrud dan menghancurkan berhala masih diusia sangat muda. Hal ini tegas dari kata “fata” yang digunakan Alquran untuk menyebut Ibrahim as. Bahkan, kata fata itu lebih muda daripada kata syabab (pemuda). Artinya, sangat muda sekali, belia.

Kedua, Yusuf as. ketika menunjukkan keimanan yang kokoh saat digoda oleh istri pejabat Mesir juga berusia sangat muda. Kita bisa bayangkan Yusuf hanya berdua dengan perempuan cantik jelita itu di dalam sebuah kamar. Tetapi, Yusuf dapat mempertahankan keimanannya.

Ketiga, Daud as. ketika ikut berperang melawan Jalut dan berhasil membunuhnya juga masih dalam usia sangat belia. Kita bisa membayangkan bagaimana Daud pada usia yang sangat belia memiliki keberanian sebesar itu menghadapi Jalut.

Keempat, para pemuda Ashabul Kahfi yang tegas mempertahankan akidahnya meski harus mengasingkan diri. Mereka juga berusia sangat belia. Alquran menggunakan kata “fityah” (jama’ dari fata) untuk menyebut mereka.

Lihat pula kisah Isma’il as., Yahya as., dan kisah Yusya, seorang yang menemani Nabi Musa as. untuk menemui Nabi Khidir as. Yusya diusia yang masih belia telah menjadi seorang ahli ilmu di bawah bimbingan Nabi Musa as.

Lihatlah, betapa para pelaku sejarah itu, orang-orang besar itu telah mendemonstrasikan kekokohan akidah dan imannya, serta keteguhan sikapnya sebagai seorang pemuda. Maka, salah besar jika masa muda dianggap sebagai masa labil dan pencarian jati diri.

Mari kita telaah lebih dalam lagi dengan mengkaji sejarah para pemuda yang mengelilingi dakwah Rasulullah saw. Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al-Kahfi yang mengisahkan tentang para pemuda Ashabul Kahfi menerangkan, “Demikianlah dakwah Rasulullah saw juga dikelilingi oleh para pemuda.”

Dari sepuluh orang sahabat Rasulullah saw generasi awal yang dijamin masuk surga hanya tiga orang yang usianya kepala tiga, yakni Sayidina Abu Bakar, Sayidina Usman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf, dua orang usianya kepala dua, bahkan lima orang di antara mereka usianya di bawah dua puluh tahun. Jelas sekali betapa anak-anak muda ini telah matang emosional dan spiritualnya. Tidak ada galau dan pencarian jati diri diusia mudanya.

Mari kita telaah lebih dekat, siapa sebenarnya aktor dibalik pembukaan Madinah sebagai pusat dakwah Islam? Merekalah enam pemuda belia. Rasulullah menemui enam pemuda ini ketika musim haji di Mekah. Seperti biasa, Rasulullah memanfaatkan musim haji untuk berdakwah mengunjungi satu tenda ke tenda lain. Hingga sampailah ke tenda enam pemuda ini yang berasal dari Madinah. Terjadilah dialog antara Rasulullah dan enam pemuda ini.

Singkat cerita, enam pemuda ini tertarik dengan Islam dan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Enam pemuda ini bertekad, “Ya Rasulullah, tahun depan di tempat yang sama dan diwaktu yang sama, kami akan datang kembali kepadamu dengan pemuda yang lebih banyak dari sekarang.”

Satu tahun kemudian, enam pemuda ini menepati janjinya. Mereka datang dengan membawa tujuh pemuda lain untuk mengingkarkan dua kalimah syahadat. Saat itulah, terjadi Bai’at Aqabah I. Dari sini saja bisa dibayangkan betapa hebatnya peran pemuda dalam dakwah. Enam orang berhasil mengajak tujuh orang. Keberhasilannya seratus persen. Tapi, mari kita telisik lebih dekat lagi.

Kemudian, 13 pemuda ini kembali ke Madinah dan melanjutkan dakwahnya. Untuk mengawal dan mempercepat proses dakwah di Madinah, Rasulullah mengutus Mus’ab bin Umair untuk menyertai 13 pemuda ini. Siapakah Mus’ab bin Umair? Ya, ia tak lain seorang pemuda belia. Setahun kemudian, 13 pemuda ini berhasil mengajak 75 orang untuk menemui Rasulullah pada musim haji dan terjadilah Bai’at Aqabah II. Cermati percepatannya, pada tahun pertama enam pemuda berhasil mendakwahi tujuh orang. Pada tahun kedua 13 pemuda berhasil mendakwahi 75 orang. Berapa persen peningkatannya?

Namun, kiprah para pemuda ini belum usai. Mereka menyusun strategi dakwah bersama Mus’ab bin Umair. Mereka merancang pertemuan Mus’ab dengan para pemimpin suku-suku di Madinah. Sampai akhirnya, Mus’ab bertemu dengan pemimpin besar suku-suku Madinah, Sa’ad bin Mu’adz. Terjadi dialog dan diskusi antara Sa’ad bin Mu’adz dan Mus’ab bin Umair. Sekali lagi cermati bagaimana Mus’ab, seorang pemuda belia, mampu menaklukkan Sa’ad bin Mu’adz, seorang pemimpin besar Madinah? Seperti apa kualitas diri Mus’ab bin Umair?

Pada akhirnya, Sa’ad bin Mu’adz memperoleh hidayah dan masuk Islam. Masuk Islamnya Sa’ad diikuti oleh masuk Islamnya suku-suku di bawah pimpinan Sa’ad bin Mu’adz. Cermati bagaimana strategi dakwah para pemuda ini. Mereka tentu tidak punya kekuatan dan bukan pemegang kekuasaan untuk memaksa warga Madinah memeluk Islam. Tapi, saksamailah bagaimana para pemuda ini mengatur pertemuan dengan para pemimpin Madinah dan mempengaruhi mereka.

Dari sinilah peristiwa hijrah yang monumental itu bermula. Tonggak awal perjuangan dakwah Islam memasuki babak baru, fase Madinah. Ternyata ada peran besar para pemuda dibaliknya. Para pemuda didikan Rasulullah saw. Para pemuda hebat yang kokoh akidahnya dan teguh keimanannya.

Karena itu, sebuah kesalahan besar jika dalam pembangunan peradaban, kita mengabaikan pemuda. Dalam konteks yang lebih kecil, dalam upaya membangun peradaban di Bumi Pengembangan Insani, peran pemuda di dalamnya sangatlah sentral. Perlu ditegaskan bahwa bukan menafikan peran para orangtua. Tidak sama sekali. Para orangtua memiliki tempat tersendiri di hati para pemuda. Merekalah para pembimbing, penasehat, dan guru bagi para pemuda.

Sebagai penutup, mari kita resapi kisah indah antara Usamah bin Zaid (17 tahun) dan Khalifah Abu Bakar (60 tahun). Kisah ini bermula dari keputusan Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang.

Menjelang wafatnya, Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang pasukan muslim untuk diberangkatkan ke Romawi Timur. Saat itu, ada beberapa sahabat yang sempat mempertanyakan. Rasulullah menjawab, “Demi Allah, Usamah pantas menjadi pemimpin.”

Usamah berangkat memimpin pasukannya. Namun, baru beberapa mil, Usamah mendengar kabar kewafatan Rasulullah saw. Usamah memutuskan kembali ke Madinah. Usai Sayidina Abu Bakar dipilih menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah saw dalam tugas memimpin negara, Khalifah Abu Bakar tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang dan memerintahkan Usamah untuk segera berangkat.

Khalifah Abu Bakar meminta Usamah naik ke atas kuda. Kemudian, Khalifah Abu Bakar menuntun kuda Usamah dan bermaksud mengantarnya sampai gerbang kota Madinah.

“Jangan perlakukan aku seperti itu, wahai khalifah,” ujar Usamah dan dengan sigap turun dari kudanya.

Usamah meminta Khalifah Abu Bakar yang naik ke atas kuda dan ia yang akan menuntun kuda tersebut. Namun, Khalifah Abu Bakar menolak. Usamah pun menolak untuk naik ke atas kuda. Hingga akhirnya, Khalifah Abu Bakar mengucapkan kata-kata pamungkas, “Wahai Usamah, engkau akan pergi berjihad. Maka, izinkan aku mengotori kakiku dengan debu-debu jihad.”

Lihatlah, Usamah sebagai anak muda memiliki adab menghormati Khalifah Abu Bakar. Namun, Khalifah Abu Bakar sebagai orangtua pun tahu menempatkan pemuda (Usamah) sebagai pemimpin. Indah sekali.
Bangkitlah para pemuda. Ambillah peran dan tanggung jawabmu untuk kejayaan Islam. Demi tegaknya agama Allah di bumi ini. Energimu masih besar. Semangatmu masih membara. Kobarkan dan pekikkan Allaahu Akbar!

“Tiada bergerak satu langkah pun seorang di antara kamu hingga kau ditanya empat hal, salah satunya, ‘Masa mudamu, untuk apa kau habiskan?…’”, demikian wasiat Rasulullah saw.

Berbicara tentang hidup, maka setiap orang tentu menginginkan hidup yang berkualitas. Setiap orang mengklasifikasikan kualitas hidup dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengklasifikasikannya dengan 3 Ta; Harta Tahta Wanita. Ada yang mengklasifikasikannya dengan kontribusi ke masyarakat yang melimpah. Semua klasifikasinya tentang hidup adalah hak setiap orang untuk memilih. Proses klasifikasi hidup ini tentu tidak lepas dari bagaimana cara seseorang itu merespon setiap kejadian di dalam hidupnya. Respon dalam hidup ini ada berbagai tingkatannya. Semakin tinggi tingkatnya maka semakin berkualitas hidup seseorang. RESPON; hal yang penting untuk dikendalikan oleh setiap manusia.

Ada salah satu trainer hebat, bernama Bapak Harry Firmansyah, mengajarkan saya bahwa : Quality of Respon = Quality of Life. Jika ingin hidupnya berkualitas maka berikan respon yang berkualitas juga atas semua kejadian di hidup ini.

Salah satu contoh, saat guru memberikan tugas kepada kita, lalu kita meresponnya dengan kata-kata “Alah Pak/Bu, kok Tugas lagi. Bosennya saya seperti ini terus setiap hari” Dan kata-kata keluhan lainnya, artinya respon kita masih berada di level “BASIC”. Level paling rendah dari 5 Level of Response. Dan di level ini, setiap orang bisa melalukannya, dan kebanyakan orang yang berada di level ini merespon sesuatu tanpa berpikir atau bisa disebut dengan Reaktif.

Berbeda halnya jika, ketika guru memberikan tugas ke kita, lalu kita merespon guru kita dengan baik, melakukan tugasnya dengan sempurna, dan tepat waktu, maka, Respon kita sudah baik (?) Mungkin bisa dikatakan baik, namun, dalam 5 Level of Response, hal ini masih berada di level “EXPECTED”. Level ini memberikan makna bahwa, respon kita itu ya memang harusnya seperti itu. Harusnya dan layaknya seperti itu. Tidak ada yang hebat dalam respon seperti itu, karena attitude harusnya selalu dijunjung tinggi.

Level ketiga dalam 5 Level of Response adalah “DESIRED” artinya yang diharapkan. Pada contoh guru dan murid seperti di atas, Murid di level “DESIRED” akan merespon guru dan tugasnya dengan melakukan lebih dari yang seharusnya, seperti memberikan ide-ide baru dalam pengerjaan tugas, dan selalu berusaha untuk menyenangkan hati guru, karena adab di atas ilmu.

Lalu, ketika sang murid mampu menginspirasi murid-murid lain karena tugas yang dikerjakannya, maka sang murid naik level menjadi level “WOW SURPRISING”. Sang murid yang berada di level ini, akan terus berfikir “What’s new? What’s next? What’s Better? Tak ada kata puas hingga memberikan potensi terbaik dalam penyelesaian tugas. Ketika sampai di level ini, maka butuh banyak perjuangan dan pengorbanan dalam penyelesaian tugas. Hasil tak akan pernah mengkhianati usaha.

Level tertinggi dalam 5 Level of Response adalah “UNBELIEVABLE”. Di level ini, murid tadi, dalam penyelesaian tugasnya, mampu membawa orang banyak untuk mengikuti caranya dalam menyelesaikan tugas tersebut. Banyak orang yang juga meneladani hidupnya. Ketika sang murid sudah berada di level ini, maka amal jariyah akan mengalir kepadanya, karena “cara hidupnya” dicontoh banyak orang.

“UNBELIEVABLE” menjadi tujuan banyak orang untuk mendapatkan kualitas hidup. Dan tentu jalan menuju level ini sangat menantang. Namun, belum tentu mustahil untuk dilakukan. Ada 3 cara yang bisa menjaga bahkan menaikkan Quality of Response kita.
Cara-caranya adalah;

  1. Take an off! Kok di cara pertama udah diminta untuk berhenti? Take an off yang dimaksud di sini adalah, Beri jeda. Jeda untuk apa? untuk berfikir terlebih dahulu sebelum merespon sesuatu. Mengubah respon yang awalnya Reaktif (respon langsung tanpa berfikir) menjadi respon Proaktif (respon setelah berfikir). Dengan adanya jeda, maka kita bisa memilih, mau di level mana respon yang kita berikan. BASIC kah? EXPECTED? atau UNBELIEVABLE?
  2. Design WOW Response. Setelah berfikir pada jeda yang kita buat. Maka berikan respon yang WOW terhadap sesuatu. Cara yang kedua ini dapat menguji kita, seberapa paham kita tentang 5 Level of Response ini.
  3. Communicate it. Cara ketiga adalah cara yang mengkolaborasikan value hidup kita. Nilai-nilai hidup apa saja yang kita pilih dalam hidup. Yang selalu memotivasi kita untuk menjaga kualitas hidup.5 Level of Response in Life di atas, mampu menjamin hidup seseorang menjadi lebih baik dan dikenang baik oleh generasi selanjutnya. Maka dengan jaminan seperti ini, masih mau untuk tidak meningkatkan respon kita ke tingkat UNBELIEVABLE?

Seorang Pendidik Harus Memberi Teladan yang Baik

Oleh : J. Firman Sofyan, S.Pd.

Disebuah sekolah yang terletak di sebuah Desa Jampang, Kemang, Bogor, hampir setiap bulan selalu ada pergantian spanduk di halaman sekolah yang berisi prestasi-prestasi yang diraih para siswanya. Berbagai prestasi pernah ditampilkan dalam spanduk tersebut, baik prestasi tingkat regional, nasional, maupun internasional. Padahal, sekolah tersebut adalah sebuah sekolah milik pemerintah, tidak ada huruf  N di belakang setiap jenjang sekolahnya. Tidak jauh dari sekolah tersebut, sekolah lain yang memiliki gerbang dan tentu saja gedung lebih megah pun melakukan hal yang sama. Spanduk bahkan baliho berisi prestasi para siswa dengan mudahnya silih berganti.  Wah, hebat-hebat sekali prestasi para siswa yang menempuh pendidikan disekitar desa tersebut? Jika prestasi siswa desa saja seperti itu, bagaimana prestasi siswa-siswa kota? Pasti lebih fantastis, kan? Jika pergantian spanduk prestasi dilakukan di setiap bulan oleh sekolah di desa, berarti pergantian spanduk prestasi sekolah di kota pasti lebih dari seminggu sekali, kan? Mudah-mudahan!

Terus, apa masalahnya? Toh, tidak ada yang salah dengan sekolah-sekolah tersebut! Penempelan dan pergantian spanduk ataupun baliho tersebut wajar-wajar saja dilakukan oleh sekolah di mana pun. Tujuannya pun searah dengan tujuan spanduk dan baliho tersebut: promosi dan iklan! Jadi, kalau itu bukan masalah, ngapain dibahas? Yang perlu diperhatikan, dibahas, dikritisi, dan direnungkan adalah isi dalam spanduk tersebut! Sudah berapa kali sosok guru muncul dalam spanduk-spanduk tersebut sejak sekolah tersebut didirikan? Berapa banyak prestasi yang pernah diraih para guru sehingga mereka cukup pantas dan layak dijadikan sebagai ajang promosi dan iklan sebuah sekolah atau institusi pendidikan?

Beruntung, sekolah pertama yang saya sebutkan dalam tulisan ini, meski tidak sesering siswanya,  termasuk yang mau dan bangga memasang wajah guru-guru berprestasi dalam spanduk mereka. Padahal, sekolah yang bernama SMART Ekselensia Indonesia tersebut merupakan sebuah sekolah yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Bagaimana dengan sekolah-sekolah lain yang sudah dikelola bertahun-tahun secara profesional, sekolah yang dikelola pemerintah, atau sekolah-sekolah mahal yang katanya berstatus internasional? Berapa kali spanduk dan baliho mereka menampilkan sosok para pendidiknya? Mudah-mudahan pernah atau malah sering sekali! Kalau tidak pernah, semoga penyebabnya bukan karena tidak pernah ada prestasi yang ditoreh oleh para pendidik! Semoga saja, asalannya karena memang ajang promosi hanya diperuntukkan bagi para siswa yang mungkin secara fisik pun lebih “menjual” dengan para pendidik mereka di kelas. Dan, yang jangan sampai terjadi adalah sekolah tidak pernah mengapresiasi prestasi para pendidiknya meski hanya dengan menampilkan sosok mereka pada sehelai kertas berukuran raksasa di halaman sekolah mereka.

Entah sebuah jargon, pepatah, atau dagelan, mungkin kita pernah mendengar ini: GURU berarti yang digugu dan ditiru. Gugu (menggugu) sendiri menurut KBBI berarti mempercayai, menuruti, mengindahkan. Berarti digugu berarti dipercai, dituruti, diindahkan.  Adapun tiru (meniru) berarti melakukan sesuatu seperti yang diperbuat orang lain dsb; mencontoh; meneladan. Ditiru berarti dicontoh dan diteladani. Jika jargon di atas benar, ternyata kata guru adalah sebuah profesi mengandung makna yang sangat dalam. Akan tetapi, coba renungkan! Makna yang tersurat dari kata guru ternyata adalah sebuah tantangan dan tuntutan besar untuk siapa pun yang akhirnya memutuskan atau terpaksa menjadi seorang guru. Akhirnya, muncul berbagai pertanyaan. Bagaimana kondisi guru saat ini? Teladan apa yang bisa diambil dari seorang guru? Sudah sehebat apa sehingga sorang guru bisa dicontoh dan diteladani? Guru memang manusia dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang tidak akan luput dari dosa dan alpa. Guru pun tidak mungkin disejajarkan dengan teladan umat Muslim, Nabi Muhammad saw. sehingga pantas untuk dicontoh dan diteladani. Salah satu cara agar seorang guru bisa digugu dan ditiru adalah dengan meraih prestasi.

Dalam hal ini, mohon maaf, saya kesampingkan dulu masalah akhlak guru yang tentu saja harus lurus dan searah dengan agama yang dianutnya masing-masing karena semua agama pasti mengajarkan segala kebaikan dan menuntut kebajikan. Secara tersirat pun, seorang guru memang sudah seharusnya memiliki akhlak mulia karena guru hal tersebut merupakan kewajiban seorang manusia terhadap Tuhannya. Ironisnya, dewasa ini banyak sekali terdengar berita yang negatif yang dilakukan oleh para guru. Salah satu kata yang kini identik dengan kata guru dalam sebuah berita justru kata maaf,  cabul!

Kasus pencabulan sepertinya tak henti-hentinya mencoreng dunia pendidikan. Di berbagai daerah muncul kasusnya silih berganti, seperti berlomba-lomba ingin memburamkan wajah pendidikan kita yang sudah lusuh. Khususnya di wilayah Kepri, beberapa tahun silam kasus pencabulan anak SMA oleh guru agama di Tanjung Pinang mencuat, kemarin kasus serupa terjadi di Batam. Hornyzon, Kepala sekolah SMP negeri di Batam diduga mencabuli 15 siswanya. Kasus ini terbongkar setelah salah satu korban bercerita kepada temannya. Selanjutnya berita tersebar dari mulut ke mulut dan menjadi perbincangan hangat diantara siswa. Sampailah masalah ini ke telinga wali murid. Usut punya usut, 15 siswi mengaku pernah dicabuli kepala sekolahnya (metro.kompasiana.com/18 April 2013).

Bukannya berlomba-lomba meraih prestasi, para guru dan bahkan kepala sekolah justru malah berlomba-lomba menjadi penghancur negri. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari!” kata orang bijak menasihati kita. Jika guru dan kepala sekolahnya melakukan tindakan tidak senonoh, maka siswanya akan melakukan tindakan yang jauh lebih tidak senonoh!

Gelar Itu Harus dan Pasti

Sejenak kita lupakan berita-berita di atas. Berita-berita yang tentu dipublikasikan oleh para media. Tidak perlulah kita menyalahkan mereka yang mungkin luput memberitakan berita-berita prestasi-prestasi prestisius yang pernah dibuat oleh para guru di Indonesia. Toh, itu hak mereka. Itu tuntutan mereka agar banyak orang yang membaca.

Kini, sudah saatnya mengintrospeksi diri. Sudah waktunya para guru bangkit dan berdiri. Prestasi yang akan akan menyebabkan guru memang menjadi sosok yang memang layak dicontoh dan diteladani. Prestasi yang akan membuat media-media bangga menjadikan berita seputar guru sebagai topik utama mengalahkan berita-berita utama seputar olahraga.

Lantas, prestasi apa yang bisa diraih oleh seorang guru? Peluang untuk meraih prestasi saya kira selalu ada. Salah ajang pencarian bakat untuk guru adalah Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) yang setiap tahun diadakan secara rutin. Kalau itu berat, seorang guru bisa memulai prestasi dengan menulis! Bukan menulis di papan tulis, di daftar hadir, atau sekadar membuat administrasi pembelajaran tentu saja. Media, baik cetak maupun elektronik sekarang semakin terbuka untuk dimanfaatkan. Guru, adalah salah satu profesi yang diharapkan untuk mengisi berbagai forum, tulisan, atau jurnal di dalam media-media tersebut karena untuk sekadar menulis sebuah artikel di dalam sebuah koran, misalnya, saya kira semua guru pasti mampu jika mau!

Bukannya guru saat ini adalah sebuah profesi dengan berbagai tuntutan dan permintaan? Bukankah guru saat ini disibukkan dengan berbagai pekerjaan? Mengajar, mengoreksi, menyiapkan materi, membuat administrasi saja sudah sangat melelahkan, rasanya sudah tidak ada waku luang untuk mengerjakan hal lain lagi. Tidak salah memang. Akan tetapi, saya kira paling tidak dalam waktu 5-8 jam seorang guru di sekolah pasti jika memang mau dan berniat pasti mampu menghasilkan sesuatu. Siswa-siswa  yang dari pagi sampai siang atau sore harus berada di kelas untuk mendapatkan pelajaran dari satu kelas ke kelas lain saja mampu menghasilkan sesuatu. Namun, mengajar dan teman-temannya memang sudah menjadi sebuah kewajiban, keharusan, dan rutinitas, saya kira. Guru, perlu lebih dari sekadar itu agar menjadi individu yang minimal bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ibarat pohon yang tentu harus mendapatkan makanan dan minuman, pohon pun wajib mendapatkan pupuk agar bisa memproduksi buah yang unggul.

Berprestasi, kalau kata itu terlalu berat, jauh dari jangkauan, minimal berkaryalah karena manusia akan dikenang dan diabadikan karena karya-karya yang pernah dibuatnya. Berlomba-lomba meraih gelar formal dari berbagai universitas dan institut, baik dalam maupun luar negri tidaklah salah. Gelar memang penting, akan tetapi, maaf, saya katakan itu bukanlah sebuah karya apalagi prestasi karena gelar adalah sebuah kepastian dan keharusan yang harus diraih seorang guru! Faktanya, kini guru di Indonesia memang rata-rata telah minimal bergelar sarjana, apalagi pemerintah memberi waktu hingga akhir 2015 agar para guru telah lulus klasifikasi dibidangnya minimal S1 atau DIV sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Bahkan, tidak sedikit guru yang telah menyelesaikan pendidikan S2 bahkan S3.Akan tetapi, sayang lebih banyak lagi yang tidak pernah berkarya apalagi berprestasi. Akhirnya,  gelar-gelar yang diraihnya bertahun-tahun pun seolah-olah hampa.

Berlomba-lomba mengikuti pelatihan, seminar, dan lokakarya juga, maaf, saya kira itu pun bukanlah sebuah prestasi. Apalagi jika ujung-ujungnya sertifikatlah yang dicari yang kata para pengisi pelatihan bahwa semakin banyak seritifikat yang didapat, maka semakin banyak poin yang akan diraih untuk sertifikasi! Akhirnya, sertifikat sih dapat, namun bagaimana ilmunya? Sayang jika akhirnya semua sekadar pepesan kosong belaka.

Di dalam dunia sepak bola, tidak sedikit  pemain-pemain sepak bola dari berbagai belahan dunia yang digelari ‘Lionel Messinya …….’ karena dianggap memiliki keterampilan dan kehebatan mendekati atau menyerupai salah satu pemain yang dinobatkan sebagai pemain terbaik di dunia tersebut. Di Indonesia sendiri, di dunia perbulutangkisan banyak pemain yang diberi gelar ‘The Next Taufik Hidayat’ karena dianggap memiliki bakat dan kemampuan bermain mirip dengan salah satu pemain bulu tangkis terbaik dunia yang pernah ada itu. Siapa pun yang memangku kedua gelar tersebut pasti akan merasa sangat bangga karena disejajarkan dengan para manusia terbaik dibidangnya masing-maasing.

Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, kita tentu bukannya tidak memiliki figur yang patut dibanggakan karena prestasi-prestasinya. Kita semua mungkin pernah mendengar nama Ki Hajar Dewantara. Kita juga sepertinya tidak asing dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”, atau dalam istilah aslinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Arti dari semboyan ini adalah tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik). Indonesia saat ini tentu saja merindukan figur-figur guru yang mampu memberikan dorongan dari belakang, menciptakan ide dari tengah, dan memberikan teladan di depan kepada para anak didiknya hingga akhirnya sang guru pun layak diberi gelar ‘Ki Hajar Dewantara Selanjutnya (The Next Ki Hajar Dewantara)’. Salah satu caranya adalah dengan berprestasi. Namun jika itu sulit, jadilah seorang guru yang membuat karya. Kalau itu pun masih tidak bisa, jadilah guru yang menulis karya. Karena dengan menulis, manusia menjadi baka.

Belajar dari Al Fatih yuk Gaees

 

Menurut KBBI arti dari kata konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak); dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan secara singkta bahwa tidaklah mudah dalam membangun sebuah konsistensi, dibutuhkan komitmen yang tinggi, pengulangan yang dilakukan berulang akan suatu hal sehingga menjadikan hukum konsistensi itu bekerja sesuai dengan tujuan akhir yang diharapkan. Seseorang yang sudah melakukan sesuatu dengan konsisten akan menjadikan dirinya memiliki kepakaran dalam suatu bidang, menjadi ahli dan menggapai sukses.

 

 

Simak contoh berikut, kita tentu pernah mendengar kekayaan daripada seorang Bill Gates, ataupun Warren Buffet, ataupun Walt Disney, ya mereka adalah para pejuang sukses dalam hidupnya yang berhasil melawan segenap potensi keburukan dan mengubahnya menjadi potensi kebaikan, jika kita telisik seberapa jauh hidup seorang Bill Gates dalam melakukan pencapaian besar dalam hidupnya, hampir ia habiskan dengan penuh kegagalan. Itulah harga yang harus dibayar untuk seonggok kesuksesan. Konsistensi mampu memberikan enegri untuk mengalahkan setiap konsekuensi kekalahan yang akan dihadapi dalam menggapai suksesnya.

 

 

Konsistensi Al Fatih akan shalat tahajjud yang tidak pernah ia tinggalkan sejak balig menghantarkan ia menjadi pemimpin terhebat penakluk benteng konstantinopel. Konsistensi mba Dewi Nur Aisyah untuk tidur hanya selama tiga jam sehari berhasil membuat dirinya menamatkan kuliah kurun waktu tiga setengah tahun dengan predikat lulusan terbaik disamping menjalani belasan amanah di berbagai organisasi yang dia ikuti.

 

 

Begitulah juga dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang ada dalam keseharian kita, seperti mengalahkan sikap egois dalam diri bukanlah hal yang gampang. Melatih diri dengan kebiasaan kebiasaan baik tentunya bukan hal yang mudah, membentuk kebiasaan ibarat memperbaiki mesin daripada sebuah kapal, memperbaiki sistem pusat yang akan bekerja mengatur kehidupan. Hukum konsistensi ini akan menciptakan sebuah produk yang dinamakan kebiasaan, pola kebiasaan akan merubah dan masuk ke dalam alam bawah sadar.

 

 

Terbiasa tahajjud tiap hari, tentunya ada sebuah proses panjang dalam menggapainya, itulah yang dinamakan hukum konsistensi, melakukan secara terus menerus, ibarat batu yang ditetesi oleh air, tentu akan berlubang bukan. Orang yang membiasakan diri untuk tenang dalam menghadapi masalah akan membentuk karakter yang tegar, dan cenderung tidak gegabah dalam mengambil keputusan, orang yang senantiasa membiasakan untuk berdzikir, tentunya Allah akan mudahkan ia dalam menyebut tiap asmanya di segala kondisi.

 

 

Mari bangun komitmen yang baik, agar dapat menciptakan konsisten dalam hal kebaikan pula.

Hoax Menghibur? Baca Di Sini Sob!

Oleh: Anisa Sholihat.

Duta Gemari Baca PSB Makmal Pendidikan, saat ini berkuliah di Fakultas Pendidikan Guru SD (UNJ). Kontributor SMART Corner

Pada zaman modern seperti saat ini, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sudah semakin maju. Proses penyampaian pesan dan informasi tidak hanya dilakukan melalui surat menyurat ataupun Short Message Service (SMS), melainkan dapat dilakukan melalui gadget dan media sosial yang mutakhir seperti Twitter, Facebook (FB), Instagram (IG), Whatsapp (WA) dan BlackBerry Messenger (BBM). Hal itu mengakibatkan melesatnya penyampaian informasi yang terjadi di masyarakat. Membludaknya informasi yang kita terima melalui media sosial merupakan salah satu bukti kemajuan teknologi. Sayangnya, kemudahan untuk mendapatkan informasi tidak selalu memberikan dampak positif, terselip pula beberapa dampak negatif seperti mudah tersebarnya berbagai berita bohong yang tidak jelas kebenarannya atau berita hoax.

Berita-berita hoax sangat mudah kita temui ketika sedang berselancar di dunia maya. Parahnya, berita tersebut amat mudah tersebar dan menjadi viral di kalangan masyarakat. Rendahnya sikap kritis masyarakat ketika mendapatkan berita, menjadi salah satu penyebab menjamurnya peredaran berita hoax. Berita yang diterima melalui media sosial, biasanya ditelan mentah-mentah, kemudian segera dibagikan kepada khalayak ramai.

Bagi sebagian besar orang, berita hoax dianggap sangat meresahkan dan mengganggu. Namun, bagi beberapa orang yang memiliki daya kreativitas yang tinggi, viralnya berita hoax di masyarakat dimanfaatkan untuk membuat akun parodi yang memuat berita-berita hoax yang menggelitik dan memancing tawa pembaca. Berita-berita hoax tersebut tentunya sangat tidak serius dan hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat, namun di sisi lain, mereka tetap meraup keuntungan, misalnya pendapatan dari iklan suatu produk karena viralnya berita yang mereka buat.

Berikut ini beberapa akun media sosial yang kerap mengunggah berita dan menyampaikan informasi yang tidak benar atau hoax dari sisi parodi yang tentunya sangat tidak serius dan menggelitik.

Liputan9

Akun Liputan9 merupakan akun parodi dari Liputan6 yang digagas oleh Federal Marcos dan diasuh oleh co founder Rahmat Saputra. Akun yang memiliki tagline kedaluwarsa, tumpul dan tidak dapat dipercaya ini dibentuk pada 14 Februari 2012. Latar belakang dibentuknya akun Liputan9 karena melihat peluang di mana saat itu belum banyak akun yang menyiarkan berita-berita parodi. Liputan9 hadir sebagai salah satu akun penyebar  berita parodi di sosial media. Tanggapan positif mereka terima dari masyarakat yang merasa terhibur, namun ada beberapa pihak yang kontra ketika membahas isu politik.

Selama lima tahun menggeluti akun Liputan9, tentu saja banyak sekali pengalaman dan suka duka yang tim Liputan9 rasakan diantaranya kebahagiaan karena mendapatkan keuntungan berupa invoice dari viralnya berita yang mereka buat serta iklan dari beberapa produk. Selain kisah bahagia, tentu terdapat pula kisah kurang menyenangkan, semisal, karya yang mereka buat diklaim oleh akun lain.

Berawal dari keisengan, kini, akun Liputan9 telah memiliki follower dalam jumlah fantastis, yaitu 868.000 pengikut di twitter, 9.000 pengikut di instagram dan 39.500 penyuka di LINE.

Contoh berita yang diunggah Liputan9:

“Perplocoan di dunia satwa, flamingo ini disetrap dengan mengangkat satu kaki.”

“Hormati bulan Ramadhan, Arsenal datang ke Indonesia dengan puasa gelar selama 8 tahun”.

“Harga bawang naik, Nia Ramadhani dan Revalina S. Temat sepi job”.

Rahmat Saputra, selaku co-founder liputan9, merasa sangat prihatin dengan banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial dan dapat membuat orang lain saling membenci dan bermusuhan. Lebih disayangkan lagi, menurutnya, hoax menjadi bisnis menggiurkan bagi pihak tertentu. Meskipun ia juga memanfaatkan momen viralnya berita hoax, namun liputan9 tidak memprovokasi ataupun memberitakan kabar yang dapat meresahkan masyarakat. Berita-berita hoax yang diunggahnya, tak lain hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat.

Berita Ngakak (@BeritaBodor)

Akun twitter Berita Ngakak (@BeritaBodor) dibuat pada 2011, setelah mengamati tren di kalangan anak muda. Seperti halnya Liputan9, akun Berita Ngakak pun menyajikan berita-berita parodi yang bertujuan menghibur pembaca, biasanya berita yang disiarkan berupa plesetan dari berita sungguhan.

Contoh berita yang diunggah Berita Ngakak di Twitter:

“Karena mata duitan, Tuan Crab ditangkap dan diperiksa KPK”

“Karena maraknya kebakaran akibat arus listrik hubungan pendek maka PLN akan merubah arus listrik jadi hubungan LDR.”

“Karena kebut-kebutan, jenazah di dalam mobil jenazah kini terbangun dan sopir mobil jenazah tersebut tewas karena terkena serangan jantung.”

Sampai saat ini, pengikut di akun twitter @BeritaBodor sebanyak 950.000 follower, sedang di instagram sebanyak 135.000 pengikut. Dengan followers sebanyak itu, bukan hal yang aneh jika mereka mendapatkan banyak sekali tawaran iklan dari berbagai produk. Dari situlah, mereka mendapatkan keuntungan.