Hidup Penuh Perjuangan, Mimpi Harus Diperjuangkan

Hidup Penuh Perjuangan, Mimpi Harus Diperjuangkan

Oleh: Bambang Widyatmoko, Alumni SMART 11 berkuliah di UNNES

 

Ini adalah kisahku sewaktu masih menjadi anak asrama di SMART. Semoga kalian terinspirasi ya Sob.

 

Di sebuah pagi kala itu saat kutatap lamat dari dalam bilik kamar, kulihat tumpukan kertas memenuhi gerobak hijau yang terparkir di depan asrama. Aku bertanya-tanya: “Siapa yang mengumpulkan ya? Buat apa kertas-kertas itu?”
Rasa penasaran mendorongku mendekati objek menarik tersebut. Kulewati lantai pualam asrama yang masih basah bekas jilatan kain pel tiga menit sebelumnya. Tak lama kemudian, muncul seorang anak dengan tubuh kurus tanpa mengenakan alas kaki. Postur tubuhnya pendek untuk anak seusianya, dengan lengan mungilnyan ia menarik gerobak hijau tadi.

 

Di kejauhan aku dapat melihat wajahnya memerah dengan tetesan keringat meluncur deras melewati pori-pori kulitnya. Walau terengah-engah semangatnya sungguh luar biasa, sesekali kulihat ia beristirahat, mungkin lelah dengan beban yang ia bawa.

 

Kuberanikan diri untuk mendekatinya sambil menatap tumpukan kertas di gerobak, “hei, kamukah yang mengumpulkan kertas-kertas ini?” tanyaku. Ia menjawab “Iya kak, sama teman satu lagi”. Aku hanya mengangguk. “Oh begitu, boleh kubantu untuk menarik gerobak ini?” pintaku. Iya mengiyakan dengan senyum terbit di wajahnya, tetapi ia terlihat sedikit ragu jika aku sanggup menarik gerobak miliknya. Kujawab keraguannya dengan berkata “Aaah tenang saja aku kuat kok,” lalu kuangkat gerobak tersebut daaaan ya ternyata berat sekali. Melihatku kepayahan ia tergelak sembari berkata “tuh kan benar, sudah kubilang kalau gerobaknya berat”. Akhirmya kami tergelak bersama. “Ya sudah aku yang dorong, kamu yang narik ya. Tapi sampai gerbang SMART saja tak apa kan?” pintaku, “oke tak apa kak. Bismillah saja,” responnya. Bahu membahu kami mendorong gerobak hijau tua itu. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul, “kerta-kertas ini mau dijualkah?” tanyaku. “Iya kak  uangnya mau aku tabungkan, lalu sisanya untukku jajan”. Jawabannya sontak menyadarkanku bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur karena sangat beruntung bisa bersekolah di SMART.

 

Sepanjang jalan kami bercengkrama dan berkali-kali terpingkal, sayangnya percakapan kami harus disudahi. Aku sedikit sedih ketika harus berpisah dengannya, saat itu juga rasa malu menyelimutiku, benar-benar malu. Usianya jauh di bawahku, tetapi ia memiliki pemikiran yang jauuuuuh lebih dewasa dariku. Semangatnya mengumpulkan pundi-pundi Rupiah memberikan banyak pelajaran bagiku bahwa hidup memang penuh perjuangan, dan mimpi pun sungguh harus diperjuangkan. Kita tak perlu malu untuk terus berusaha, bahkan jika perlu menyusuri jalanan Ibu Kota itupun tak mengapa selama perjuangan tersebut mampu membawa kita kepada mimpi-mimpi yang didamba.

 

Ini pelajaran hidup berharga untukku, semoga membuatku semakin dewasa.

,

Dejavu Penuh Memori Berarti

Dejavu Penuh Memori Berarti

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan V, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

 

 

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

 

 

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustaz ustazah di sana.

 

 

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

 

 

Dari dulu mungkin ustaz-ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

 

 

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk 5 orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon.

 

 

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

 

 

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

 

 

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

 

 

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh Ustaz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

 

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

 

 

 

Sejatinya Pemuda Memang Kudu Bermanfaat

Sejatinya Pemuda Memang Kudu Bermanfaat

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, berkuliah di Universitas Diponegoro Jurusan Bahasa Indonesia

 

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

 

 

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu  harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa  pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama lima tahun  untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

 

 

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut  tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima  manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada disekitarku.

 

 

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan.  Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan  oleh SMART kepadaku.  Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

 

 

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

 

 

Berada di SMART selama empat tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia  yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Alquran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadits tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Alquran dan mengajarkannya. Jampang mengaji salah satu cara agar aku dapat mengajarkan ilmu yang telah aku dapat kepada anak-anak disekitar Jampang dengan memberikan mereka pengetahuan tentang Alquran dengan baik dan benar.

 

 

Pada program Jampang Mengaji aku ditunjuk menjadi koordinator  selama enam bulan atau satu semester. Menjadi koodinator sekaligus pengajar Jampang Mengaji membuatku senang karena dengan begitu aku dapat menyebarkan ilmu yang telah didapat dari SMART kepada anak-anak disekitar Jampang.

 

 

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat melihat para peserta Jampang Mengaji  bersemangat dalam mempelajari  ilmu Al-Quran. Tentunya para pengajar merasa senang, terutama aku sebagai koordinator Jampang Mengaji. Saat para peserta mengaji dengan sungguh-sungguh dan ceria, bahkan ada beberapa peserta Jampang Mengaji yang sudah datang ke SMART pukul 14:00 WIB padahal kegiatan baru dimulai setelah Asar.

 

 

Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain. Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika,fisika,bahasa, biologi atau yang lainseperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

 

 

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu.

 

 

Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

 

 

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar. Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

 

 

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

 

 

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

 

Ini Cara Menghafal Alquran Buat Pelajar Sob

Ini Cara Menghafal Alquran Buat Pelajar Sob

    Sob menghafal Alquran bisa dilakukan kapan pun, bahkan di tengah kesibukan bekerja, nah menurut Ustaz Yusuf Mansyur cara menghafal Alquran bagi pelajar sibuk kayak kita cukup dengan one day one ayat atau satu hari satu ayat namun berulang, lagi dan lagi, terus dan terus.   Agar semakin hafal, ayat tersebut bisa pula dibaca saat salat wajib ataupun sunah, termasuk ketika menjadi imam salat. Kemudian menjelang tidur, kata dia, ulangi kembali ayat yang sudah dihafal dan yang baru dihafal. Selanjutnya, bentuk komunitas menghafal Alquran.   “Jangan menghafal sendiri. Jadi, bisa tukar-tukar peran, setor-setoran hafalan. Saling baca satu sama lain, saling menyimak satu sama lain, yang paling efektif, komunitas itu ya keluarga bareng-bareng menghafal satu hari satu ayat,” ujarnya.   Ia mengingatkan, jangan lupa saat menghafal Alquran, niatkan untuk menghafal 30 juz. Harapannya supaya saat kita meninggal tetap mendapat pahala seolah hafal 30 juz, meski sebenarnya baru hafal 5 juz.   “Ini sama seperti orang yang dari Asar sudah niat mau salat malam, eh Magribnya meninggal, maka amal terakhirnya yang tercatat adalah salat malam meski belum terlaksana,” ujarnya.   Jika menghafal satu hari satu ayat masih terasa berat, Ustaz YM menuturkan, menghafal bisa dilakukan dengan satu pekan satu ayat. Cara tersebut bisa dipilih asalkan rutin dijalankan. Sambil menghafal, lanjutnya, jangan lupa menadaburi makna berbagai ayat dalam Alquran.   “Di lihat-lihat terjemahannya, dibaca sambil ditulis atau dicatat yang ditemui, yang diperhatikan, yang didapat, dan yang digali, maupun yang tergali. Jadi, tambah kuat hafalannya,” kata Ustaz YM.   Dia menambahkan, menghafal Alquran perlu niat, tetapi jangan cuma menghafal untuk diri sendiri. Niatkan agar sebanyak mungkin orang di bumi juga hafal Alquran.   “Sehingga ketika kita meninggal dunia, seakan satu bumi sudah hafal Alquran. Itu pahala kekuatan niat,” tuturnya. Dia menjelaskan, memulai sua tu kegiatan baik, seperti meng hafal Alquran, memang berat. Apalagi, bila kita tidak terbiasa atau belum pernah melakukannya sama sekali.

Kan Mahal, Maka Kesehatan Kudu Dijaga Sob

Kan Mahal, Maka Kesehatan Kudu Dijaga Sob

 

Sob di era modern, manusia seakan dituntut untuk bekerja secara cepat dan mampu mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Tuntutan ini ternyata bisa dirasakan semua orang termasuk kita sebagai pelajar!  Terkadang tuntutan untuk menjadi multitasker andal membuat kita lupa menjaga pola hidup sehat seperti tidur larut malam, kurang berolahraga, tidak menjaga pola makan, bahkan sering memaksakan diri sendiri tidak beristirahat demi menyelesaikan berbagai macam kewajiban. Waduh.

 

 

 

Tahukah kamu bahwa beberapa kebiasaan buruk di atas dapat menimbulkan berbagai macam penyakit? Salah satu penyakit yang paling sering muncul dikalangan multitasker yakni asam lambung. Penyakit asam lambung yang memiliki nama ilmiah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi naiknya asam lambung menuju esophagus. Esofagus sendiri adalah saluran pencernaan yang menghubungkan mulut dengan lambung. Nah ternyata, naiknya asam lambung disebabkan oleh Lower Esophageal Spincher (LES) atau otot pada bagian bawah dari esophagus yang tidak berfungsi. LES berfungsi sebagai pintu otomatis ketika makanan dan minuman turun ke lambung. Setelah makanan atau minuman masuk, LES akan menutup untuk mencegah asam dan makanan yang ada di lambung agar tidak naik kembali ke esofagus. Apabila LES menjadi longgar dan tidak dapat menutup dengan baik, asam lambung bisa keluar dari perut dan menyebabkan penyakit asam lambung. Kebiasaan buruk seperti begadang, tidak menjaga pola makan, dan kurangnya berolahraga adalah kebiasaan yang bisa membuat LES ini tidak berfungsi secara normal.

 

 

Selain kebiasaan tersebut, kebiasaan buruk lain yang turut andil menjadi penyebab naiknya asam lambung yakni terlalu banyak konsumsi coklat, kafein, bahkan merokok. Kebiasaan-kebiasaan itu dapat membuat otot LES menjadi rileks sehingga asam lambung bisa naik. Nggak cuma itu, ternyata masih ada hal lain yang bisa menyebabkan naiknya asam lambung. Dr. Eunice Pingkan Najoan, SpKJ menyampaikan, bahwa sebagian besar pasiennya yang menderita GERD, salah satunya dipicu oleh pikiran yang stress, “Biasanya penderita GERD ini asam lambungnya naik karena banyak pikiran dan jadi tekanan bagi dirinya. Begitu pula sebaliknya, jika asam lambung naik juga bisa menimbulkan stress. Karena otak dan lambung juga saling terhubung”.

 

 

Ini dia yang perlu kamu perhatikan. Tuntutan untuk bekerja cepat dan multitasking terkadang tidak hanya membuat pola hidup berubah, tapi juga bisa menimbulkan stress yang akhirnya memicu munculnya penyakit asam lambung. Padahal jika sudah terkena asam lambung, kita akan banyak menjumpai dampak buruk loh! Selain mengganggu produktivitas, asam lambung juga bisa menimbulkan kerusakan gigi karena cairan lambung yang naik ke esophagus dan mulut dapat mengikis enamel gigi (lapisan luar gigi) yang keras. Radang kerongkongan pun bisa terjadi karena lapisan esofagus yang teriritasi hingga membengkak dan menyebabkan luka di kerongkongan dan struktur esofagus. Asam lambung juga bisa memperparah asma hingga membuat sesak nafas karena secara tidak sengaja tersedot saat bernapas. Dan yang paling menakutkan adalah kanker kerongkongan, yang dapat terdeteksi dari penurunan berat badan secara drastis dan kesulitan menelan.

 

 

Kamu tentu nggak mau berurusan dengan asam lambung dan penyakit lain di atas kan? Oleh karena itu, kita perlu menjaga kesehatan dan pola hidup. Meskipun tuntutan untuk mengerjakan berbagai macam tugas sangat banyak, jangan sampai kita lupa istirahat atau lupa menjaga pola makan. Hindarilah mengkonsumsi terlalu banyak coklat dan kafein.

 

 

Nah, bagi kamu yang terlanjur mengalami penyakit asam lambung, tak perlu khawatir karena penyakit tersebut masih bisa diobati. Selain melakukan cek kesehatan secara rutin, kita juga bisa mengkonsumsi buah pisang, jahe, apel, susu segar, teh hangat, dan makanan yang mengandung vitamin B seperti kacangan- kacangan, bayam, ikan salmon, tuna, dan sarden. Makanan-makanan tersebut bisa membantu menghindari kambuhnya penyakit asam lambung. Yang terpenting, selalu jaga pola hidup sehat ya Sob!

 

Mumpung Masih SMA, Kudu Paham Quarter Life Crisis

Mumpung Masih SMA, Kudu Paham Quarter Life Crisis

Oleh : Dinni Ramayani

 

“Keberhasilan orang lain bukanlah kegagalan bagimu”

 

Kutipan tersebut merupakan salah satu tulisan yang saya baca di blog Mr.Budi Waluyo. Barangkali, secara tidak sadar kamu sering merasa gagal ketika melihat teman berhasil meraih sesuatu. Kita mulai mengkhawatirkan diri kita sendiri yang berdampak pada menurunnya rasa percaya diri.

 

Berbicara tentang ini, ada inspirasi dari buku teh Novie Ocktaviane Mufti yang berjudul Healing Yourself, buku mantap untuk mereka yang tengah berada di masa Quarter Life Crisis (QLC) atau krisis seperempat abad. Pada zona ini kita rentan terkena virus “membanding-bandingkan dan penuh kekhawatiran”. Teh Novie dalam bukunya menceritakan bahwa semua orang tentunya sama-sama memiliki kekhawatiran pribadi tentang diri, kehidupan, dan masa depan. Pada usia 20-an, orang bilang kekhawatiran itu bertambah-tambah, bahkan mencapai puncaknya. Yap Haqers, itulah yang disebut masa QLC.

 

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Karena, kata teh Novie dalam bukunya, di usia-usia inilah individu berhadapan dengan keputusan-keputusan yang boleh jadi berdampak permanen untuk kehidupannya, seperti memilih pekerjaan, pasangan hidup, merencanakan masa depan, melanjutkan studi, bahkan keputusan memilih cita. Awalnya mungkin terasa biasa saja melalui fase ini, namun sedikit demi sedikit kebanyakan orang akan bertanya-tanya, “Kok dia hebat ya udah bisa jadi selebgram di usia segitu? Kok dia keren bisa bikin usaha sambil kuliah?” dan pertanyaan lainnya. Disadari atau tidak, pertanyaan itulah yang yang membuat Quarter Life Crisis ini semakin besar , besar, besar dan menjadi monster dalam keseharian kita. Kita merasa tertinggal akan keberhasilan orang lain.

 

Lantas, sebagai seorang muslim, bagaimana kita menghadapi Quarter Life Crisis ini?

 

Pola pikir seorang muslim dan muslimah itu seharusnya tidak sama dengan orang kebanyakan, tidak akan galau. Kenapa ? Tauhid. Tauhid/Keimanan mengajarkan keyakinan dan kebergantungan kepada Allah. Bukan berarti khawatir itu tidak ada, tapi iman membuat kita tahu ke mana kita bisa bergantung dan mengembalikan segala urusan. Jadi, QLC ini bisa terkelola dengan baik dengan iman dan berbaik sangka pada Allah. Nah, sekarang kalau kita galau, coba cek lagi jiwa kita, apakah terpaut sama Allah? Cek juga amalan shalih kita, apakah berantakan?

 

Sebenarnya kita menyadari bahwa khawatir itu melelahkan. Sayangnya, kita sering mengkhawatirkan apa-apa yang sudah Allah tetapkan. Padahal, akan seperti apa pencapaian mimpi-mimpi kita, bagaimana kisah hidup kita, dengan siapa kita menikah, dan bagaimana aktualisasi diri kita sudah Allah atur sedemikian rupa. Teh Novie dalam bukunya juga melempar sebuah pertanyaan yang patut jadi renungan, “Apa mungkin ketika kita mengambil sikap untuk khawatir berarti kita tanpa sadar sedang ragu bahwa Allah adalah yang maha mengatur dan menjamin dengan baik segalanya?” Astaghfirullah.

 

Selalu ingat bahwa kita punya garis start masing-masing, kita punya lintasan masing-masing, punya finish masing-masing, dan yang perlu disadari adalah kita punya waktu masing-masing. Dan semua itu telah Allah desain, dan Allah tahu kapan waktunya semua ingin kita akan tertunaikan. Bukankah semua telah Allah kendalikan? Masa lalu, masa sekarang dan masa depan tak pernah luput dari pengawasan Allah Swt.

 

Lalu, maukah mulai hari ini kita tak lagi khawatir atas apa-apa yang sudah Allah jamin? Maukah mulai hari ini kita tepis segera kekhawatiran itu dengan keimanan pada-Nya?

 

 

 

 

Yuk Gelorakan Semangat Pemuda yang Tangguh Serta Berkepribadian Luhur Sob

Yuk Gelorakan Semangat Pemuda yang Tangguh Serta Berkepribadian Luhur Sob

 

Bagi masyarakat Indonesia tanggal tujuh belas bulan delapan merupakan tanggal yang suci. Hari di mana diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, bebasnya Indonesia. Perjuangan dan peluh yang dikeluarkan para pejuang bukanlah harga murah yang mudah dilupakan begitu saja, perjuangan yang tak tau harus dinilai dengan apa, rasanya gelar pahlawan nasional saja belum cukup untuk mengganti darah yang rela mereka kucurkan. Bukan tanpa alasan beliau para pembela tanah air mau menumpahkan darah, memberikan hidup, dan memperjuangkan semuanya. Mereka inginkan kemerdekaan dan kebebasan bagi bangsa tercinta.

 

 

Berbagai siasat diaminkan oleh para tokoh pejuang saat itu, dengan harap akan terbukanya pintu kemerdekaan. Jiwa raga dipersembahkan untuk mencapai tujuan bersama yaitu bebasnya Indonesia dari cengkeraman koloni. Pemikiran-pemikiran mucul, gerakan-gerakan pemuda bermunculan, perlawanan demi perlawanan dilakukan, berharap akan sampainya pada pintu gerbang kemerdekaan bangsa. Tokoh-tokoh perjuangan mendengungkan berbagai semangat gelora membakar jiwa dan semangat. Para pemimipin mengerahkan pemikiran terbaiknya, para pemuda bergerak aktif mengembangkan berbagai kelompok pemuda daerah. Tidakkah kita berterimakasih atas segala pengorbanan yang mereka lakukan hingga titik darah penghabisan?

 

 

Saatnya indonesia memimpin, pemuda bergerak, tak hanya dengan embel-embel kata milenial namun dengan semangat kemerdekaan yang tak akan pernah meninggalkan citra dirinya. Pemuda adalah tonggak pertama bertahannya suatu bangsa. Indonesia telah merdeka, meskipun masih banyak peluh asing yang menetes ditanah pertiwi ini. Tugas kita adalah membuktikan bahwa pribumi mampu, pribumi bisa, dan pribumi tak kalah. Semangat persatuan dan kemerdekaan akan mengantarkan masyarakat Indonesia menjadi lebih berdaya, menjadi lebih berani tampil di panggung internasional, menyuarakan kemerdekaan bagi semua umat, persatuan untuk seluruh bangsa, dan kebebasan untuk setiap insan yang berlandaskan kemanusiaan.

 

 

Telah banyak bukti bagaimana para pejuang mau menumpahkan hidupnya demi terwujudnya Indonesia yang merdeka. Tidakkah kita lihat kemana arah kemerdekaan ini akan berlabuh? Pada 100 tahun merdekanya Indonesia, negara ini digadangkan akan mendapat bonus demografi yang sebagian akan didominasi oleh usia produktif. Bonus ini layaknya menjadi bonus positif yang akan banyak melakukan perkembangan untuk Indonesia. Indonesia akan menjadi bangsa yang berdaya, bangsa yang penuh dengan kebanggan akan berani bermain diluar kandang. Sekarang bukan tak berani, namun sedang bersiap. Karena yang penuh dengan kesiapan akan lebih memuaskan nantinya. Indonesia akan menjadi berdaya dengan kemajuan teknologinya, akan makmur dengan inovasi-inovasinya, dan akan berani dengan keberanian para pemudanya. Umur tujuh puluh empat ini bukanlah umur yang muda, umur yang akan menjadi matang dalam berbagai sektor pandangan. Mari rayakan umur Indonesia yang emas ini, dengan penuh semangat kemerdekaan, semangat berjuang, dan semangat gelora pemuda yang baik tangguh serta berkepribadian luhur.

,

Asal Yakin Semua Hal Bisa Kamu Raih Sob!

Asal Yakin Semua Hal Bisa Kamu Raih Sob!

 

 

“Berawal dari sebuah mimpi yang dituliskan di sebuah kertas ketika masih menjadi maba, dan kini mimpi tersebut nyata adanya dan gelar Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni 2019 itu pun dinobatkan padanya”.

 

 

Halo Sob! Perkenalkan nama saya Muhammad Ikrom Azzam, saya  lahir di Jakarta pada 02 April 2000, anak pertama dari empat bersaudara. Saya adalah alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX. Dua tahun yang lalu, pada saat mengikuti masa pengenalan akademik sebagai mahasiswa baru Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya pernah menuliskan sebuah impian di sebuah kertas. Ketika itu, panitia meminta untuk menuliskan tiga impian sebelum resmi menjadi mahasiswa di UNJ. Tak banyak berpikir panjang, saat itu segera saja saya tuliskan impian yang ingin dicapai dari dahulu, yakni: Selama kuliah ingin sekali rasanya bisa keluar negeri naik pesawat, ingin memenangkan berbagai macam perlombaan antar universitas dan menjadi Mahasiswa Berprestasi UNJ. Impian yang agak mustahil sebenarnya bisa saya capai pada saat itu, tapi tekad kuat membuat saya ingin merealisasikan impian tersebut. Alhasil dengan beraninya saya menempelkan kertas impian tersebut di lemari buku asrama.

 

 

Awal perjuangan belajar di kehidupan perkuliahan dimulai ketika masuk semester pertama, kesan manis dan pahit terhampar di masa ini. Awalnya merasa kewalahan dengan pembelajaran yang saya ikuti di perkuliahan karena merasa salah jurusan semakin menguat tiap harinya. Terlebih lagi karena memang dasar pelajaran yang belum banyak di bidang bahasa Arab membuat saya seringkali kesulitan. Tapi komitmen membuat saya terus berusaha, meskipun berat akan saya hadapi dengan kemampuan terbaik. Yang terpenting sudah berani mencoba.

 

 

Kesulitan pembelajaran selama kuliah pernah membuat hampir putus asa dan memutuskan mengubur jauh-jauh tiga mimpi di atas. Tapi rasa-rasanya akan sangat sayang sekali jika saya harus berhenti dan kerja keras yang sudah saya lakukan sampai saat ini, beasiswa demi beasiswa yang saya dapatkan sejak SMP hingga kuliah saat ini tak sepatutnya  manfaatnya berhenti hanya untuk saya, tapi sudah seharusnya terus dilanjutkan manfaatnya ke banyak oranglah yang memacu semangat saya untuk terus berusaha, belajar, dan bekerja keras untuk menggapai semua mimpi-mimpi saya. Pada saat semester dua, entah kenapa rasa optimis untuk tetap berjuang dan berprestasi kembali semakin memuncak. Karena itulah saya mulai mengikuti beragam perlombaan di beberapa PTS dan PTN di wilayah Jabodetabek, nasional, dan memberanikan diri untuk mengikuti perlombaan internasional.

 

 

Selama proses mengikuti dan memenangi berbagai perlombaan di bidang public speaking, literasi, dan penelitian Ilmiah selama semester dua dan semester tiga berkuliah di UNJ. Alhamdulillah semua prestasi saya mampu mengantarkan menjadi peserta termuda pada seleksi pemilihan Mahasiswa Berprestasi di UNJ pada 2019. Tak ada yang menyangka memang, mahasiswa semester tiga yang sebenarnya agak salah jurusan kuliah ini karena dasar bahasa Arabnya yang belum banyak dibandingkan mahasiswa pendidikan bahasa Arab UNJ lainnya mampu diamanahkan untuk mewakili prodi ke tingkat fakultas dan universitas sebagai mahasiswa berprestasi. Bukan sebuah undian berhadiah saya bisa terpilih menjadi Perwakilan Prodi Pendidikan Bahasa Arab maju pada pemilihan mahasiswa berprestasi karena pada saat itu syarat utamanya adalah harus punya IPK sementara di atas 3,5 dan Alhamdulillahnya IPK sementara saya dari semester 1-3 masuk syarat kualifikasi tersebut yakni 3,65 dan memiliki poin lebih karena punya 9 prestasi individu tingkat nasional, 1 prestasi kelompok tingkat nasional, dan 2 prestasi Internasional selama berkuliah dari semester 1-3 kuliah di UNJ.

 

 

Dalam pemilihan mahasiswa berprestasi, saya harus sering berlatih dan mempersiapkan mental karena aspek yang diujikan dalam pemilihan mahasiswa berprestasi meliputi kemampuan bahasa Inggris, kemampuan komunikasi, nilai IPK yang setinggi mungkin (rata-rata IPK di atas 3,5), memiliki karya ilmiah yang solutif, memiliki kepribadian yang baik dan lolos tahap wawancara psikologi. Saya selalu menekankan pada diri bahwa kalah menang itu biasa, yang penting ialah tetap semangat. Setiap mengikuti seleksi menjadi mahasiswa berprestasi di UNJ, saya selalu menyempatkan diri berdoa, berharap menjadi yang terbaik, dan tak lupa meminta restu orangtua. Meskipun saya pada saat itu masih semester tiga, dan harus bersaing dengan kakak kelas saya dari jurusan lainnya di Fakultas Bahasa dan Seni tak membuat gentar karena saya percaya bisa mengejar cita-cita selama kuliah sesuai impian di kertas lemari saya sebagai pemacu agar terus menampilkan yang terbaik. Alhamdulillah, “Kun FA Yakun” Allah menakdirkan saya menjadi Juara dua Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni di UNJ setelah melewati proses seleksi di Grand Final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni 2019 secara ketat dan kompetitif. Tangis haru dan sujud syukur saya panjatkan Kepada Allah Swt. di depan panggung pada saat prosesi pembagian hadiah pemilihan mahasiswa berprestasi, sungguh terharu karena mampu merealisasikan mimpi yang di catatan kala itu, tak sia-sia usaha keras pada awal menjadi mahasiswa baru. Meskipun pada awalnya tidak ada yang pernah percaya bahwa mahasiswa semester 3 tanpa dasar pelajaran Bahasa Arab dan sering mengira kalau ia salah masuk jurusan kuliah namun dengan semangat dan tekad ia mampu melawan semua keterbatasan.

 

 

Terima kasih atas segala doa, dan dukungan yang diberikan terkhusus untuk orang tua, para donatur, ustaz ustazah SMART Ekselensia Indonesia, dan para dosen di UNJ sehingga gelar dan kepercayaan menjadi Mahasiswa Berprestasi ini mampu saya raih dan semoga bisa jadi motivasi bagi adik-adik kelas dan kamu semua ya Sob supaya berani menuliskan mimpi dan berusaha melawan semua keterbatasan dengan tekad dan keyakinan yang besar bahwa kita mampu meraih segala mimpi yang kita harapkan. Aaamin. Semangat Berprestasi!

 

Kokoh dan Lemahnya Manusia Tergantung Kualitas Konsepsi di Dalam Jiwa Kita Sob

Kokoh dan Lemahnya Manusia Tergantung Kualitas Konsepsi di Dalam Jiwa Kita Sob

 

 

 

Sob siapa coba yang gak kenal sama sosok Umar bin Khattab? Ia adalah sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendiriannya. Ia juga dikenal sebagai orang yang selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

 

 

 

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad saw.) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya”.

 

 

 

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

 

 

 

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran yaitu sebagai berikut:

 

 

 

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

 

 

 

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan diawali dengan mengubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah saw. menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

 

 

 

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

 

 

 

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

 

 

 

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Sejatinya Selalu Ada Kemudahan Dibalik Kesulitan Sob

Sejatinya Selalu Ada Kemudahan Dibalik Kesulitan Sob

Sob masalah dan kesulitan ada untuk menguatkan kita, bukan melemahkan. Masalah dan kesulitan ada untuk mendewasakan kita. Tanpa ada masalah dan kesulitan, barangkali kita tidak belajar menjadi dewasa. Namun demikian, wajar dan manusiawi bila kita bersedih saat menghadapi masalah dan kesulitan. Yang dilarang adalah berputus asa. Karena, putus asa itu sifatnya orang kafir (QS. 12: 87) dan orang tersesat (QS. 15: 56).
Seorang mukmin haruslah memiliki ketangguhan mental dan spiritual saat menghadapi masalah serumit apapun dan kesulitan seberat apapun. Layaknya Bunda Hajar ketika hadapi kehausan Ismail di tengah padang pasir gersang dan tiada oase sekalipun.
Sejatinya, Allah telah menjanjikan satu kesulitan diapit banyak kemudahan. Ini jaminan-Nya yang tertuang indah dalam Alquran. Saksamailah firman indah-Nya dalam surat Al-Insyirah ayat lima dan enam. “Maka, sesungguhnya bersama kesulitan (al-‘usr) ada kemudahan (yusran). Sesungguhnya, bersama kesulitan (al-‘usr) ada kemudahan (yusran).” (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6).
Perhatikan, ketika Allah menyebut kesulitan, ada alif lam yang melekat. Ini artinya, al-‘usr bentuknya isim makrifat Sob. Sedangkan ketika Allah menyebut kemudahan tiada alif lam melekat. Ini artinya, yusran bentuknya isim nakirah. Isim makrifat bermakna spesifik, khusus, tertentu. Sedangkan, isim nakirah bermakna general, luas, banyak. Artinya, kesulitan pada ayat enam adalah kesulitan yang sama dengan ayat lima. Sedang, kemudahan pada ayat enam adalah kemudahan yang berbeda dengan ayat lima.
Maka, makna ayat di atas selengkapnya adalah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada banyak kemudahan. Indah sekali janji dari Allah ini. Tugas kita adalah mengerahkan kemampuan terbaik untuk menemukan jalan-jalan kemudahan tersebut.
Masihkah kita merasa lemah dalam menghadapi masalah dan kesulitan?
Disadur dari tulisan Muhammad Syafi’ie el-Bantanie