Sudah Jadikan Aktivitas Sebagai Ibadah, Supaya Hidup Berkah Belum Sob?.

Amma Muliya Romadoni, ia adalah alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan Pertama, ia memiliki kecintaaan besar dalam bidang  enterpreneurship. Kegiatan enterpreneurship yang ia tekuni selama masa kuliah diantaranya wirausaha dan technopreneur. Dalam bidang wirausaha ia menekuni bisnis konveksi khususnya dalam student entrepreneurship center. Technopreneur pun tidak luput digeluti pria muda ini, ia menjadi CEO AMR Engineering lembaga Training Engineering Software pada 2014 lalu. Berbagai penghargaan dalam bidang enterpreneur pun pernah ia dapatkan, salah satunya sebagai penerima dana wirausaha Student Enterpreneurship Center USU 2011.

Dalam kegiatan keorganisasian di kampus, Kak Amma telah melakoni serangkaian pengalaman organisasi softskill yang pernah ia ikuti antara lain organisasi keislaman khususnya lembaga dakwah kampus (LDK), badan eksekutif mahasiswa (BEM), serta badan pers fakultas teknik. Di dalam kegiatan LDK kak Amma -demikian sapaan akrabnya- menjabat sebagai ketua pada tahun 2010-2011. menuru Menjadi staf departemen riset dan teknologi di BEM fakultas telah dijalaninya tahun 2011. Jabatan sebagai ketua redaksi koran “Simetrikal Engineering” di 2012 menjadi pengalaman organisasi berikutnya.

Serangkaian pengalaman berharga ia dapatkan selama berkuliah di Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara (USU). Ia juga pernah mengharumkan nama Indonesia dalam kejuaran membuat mobil hemat energi tingkat Asia Pasifik di Filipina tahun 2014. Juara satu kategori urban konsep bahan bakar etanol berhasil diraihnya dalam lomba yang diadakan salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia tersebut.  Tidak tanggung-tanggung, Gubernur Sumatera Utara memberikan penghargaan kepada tim pembuat mobil yang dikomandoi olek Kak Amma tersebut lho Sob.

Bidang penelitian merupakan bidang yang tak asing bagi kakak kelahiran 30 maret ini. Membantu pengerjaan proyek penelitian tingkat pascasarjana  selama kuliah Strata Satu (SI) menjadikannya terampil dan memberikan pengalaman lebih untuk bekal pengerjaan penelitian nantinya, sampai akhirnya pada 2011 Kak Amma terpilih menjadi peserta Studi Banding dan Presentasi Green Technology USU- USM di Malaysia. Tak sampai situ saja Sob, berkat keuletannya Kak Amma menerima Beasiswa dari LPDP Kementerian Keuangan RI.

Kak Amma mengatakan jika hidup tak pernah lepas dari berbagai pengaruh baik maupun buruk dalam setiap aktivitas karena itulah kita ditantang untuk bisa konsisten dalam memilah-milah pengaruh baik maupun buruk sehingga tidak mudah terbawa arus tidak baik.

“Mengamalkan nilai-nilai baik yang telah diajarkan di SMART  menjadi tantangan nyata karena kehidupan pasca SMART menjadi hambatan yang cukup nyata,” tegas Kak Amma.

Kakak yang murah senyum ini berpesan kepada seluruh siswa SMART jika selalu jadikan segala aktivitas sebagai ibadah, agar hidup menjadi berkah.

Saatnya Jadi Generasi Anti Pornografi Pornografi Club Sob

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

SALAH satu godaan berat bagi remaja adalah pornografi. Apalagi di zaman gadget sekarang ini. Konten pornografi bisa disebar dengan mudahnya melalui smartpone. Kabarnya, remaja sekarang tahu pertama kali pornografi dari gadget yang disebar teman sekolahnya. Bahaya banget ‘kan? Bisa jadi awalnya tidak berniat, tapi karena dapat kiriman temannya, rasa ingin tahunya menggedor-gedor akal sehatnya. Ayolah, sekadar ingin tahu aja kayak gimana sih film porno itu?

Di sinilah terjadi pertarungan batin antara menolak dan menuruti. Tidak sedikit remaja yang berkompromi dengan dirinya. Lalu, membuka dan menonton konten porno tersebut. Padahal, perlu dicatat sama kamu, sekali kamu melihat film porno pasti kamu bakal ingin menonton yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Gradasinya pun bakalan meningkat. Awalnya mungkin setengah porno, meningkat menjadi porno, lalu kamu ingin melihat segala jenis film porno. Karena, yang biasa-biasa buat kamu sudah nggak ngefek lagi. Ini harus kamu sadari, bro.

Efek dari menonton film porno, remaja terbangkitkan libidonya. Ini membuat remaja pusing untuk menyalurkannya. Pilihannya onani. Kalau sudah berulangkali onani, bisa dipastikan remaja akan kecanduan pornografi. Karena, pornografi menimbulkan sensasi dalam otaknya. Otak memproduksi hormon dopamine yang memberikan sensasi melayang layaknya orang mengonsumsi narkoba.

Padahal, bahayanya adalah otak bisa mengalami kerusakan akibat terpapar pornografi. Bahaya lebih serius lagi, ternyata kerusakan otak akibat kecanduan pornografi lebih berbahaya daripada kecanduan narkoba. Hasil riset menunjukkan bahwa kerusakan otak akibat terpapar pornografi terus menerus bisa bersifat permanen sebagaimana otak yang rusak akibat benturan kecelakaan.

Tidak cukup sampai di sini mudharatnya, tidak sedikit remaja yang kemudian melampiaskan libidonya ke pacarnya. Ini lebih berbahaya lagi. Ini sudah tindakan kriminal. Saya berkali-kali menerima konseling remaja yang pacaran sampai kebablasan. Bahkan, ada yang sampai ketagihan. Bisa jadi pemicunya adalah pornografi. Otak remaja sudah demikian kotor terpapar pornografi, sehingga di otaknya terekam, “Bukan pacaran namanya jika tidak making love.”

Kasus-kasus remaja pacaran yang saya tangani memang diawali dari remaja cowok. Si remaja cowok yang otaknya sudah terpapar pornografi mendesak pacarnya untuk ML. Awalnya, si cewek menolak. Namun, perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, si cewek luluh juga oleh bujuk rayu dan desakan si cowok. Terjadilah perbuatan nista itu. Perbuatan yang nikmatnya sesaat, tapi deritanya berkepanjangan. Masa depan pun seketika runyam. Bahkan, bisa terasing dan terkucilkan di tengah pergaulan masyarakat.

Karena itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Remaja keren itu bukan hanya dia yang tidak pacaran, tapi juga menjauhi pornografi. Sayang sekali potensi otak kamu yang luar biasa itu menjadi tumpul akibat terpapar pornografi.

Imam Waqi’ (gurunya Imam Asy-Syafi’i) sudah menasihatkan bahwa ilmu itu cahaya Allah. Dan, cahaya Allah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.

Sekolah kamu nggak bakalan sukses dan berhasil meraih prestasi jika kamu dekat-dekat dengan pornografi. Kamu akan terlena dan terlalaikan oleh bayang-bayang pornografi. Kamu akan sulit untuk fokus belajar. Sulit untuk mengingat dan memahami pelajaran. Karena, fungsi berpikir otak kamu tercemar oleh pornografi.

Karena itu, jauhi pornografi. Jangan ada kompromi untuk coba-coba melihat pornografi. Jangan berikan celah sekecil apapun bagi setan untuk memerangkapmu dalam candu pornografi. Jika sudah kecanduan, tidak mudah mengobatinya. Perlu kesungguhan ekstra dan proses untuk bisa lepas dari jerat candu pornografi. Energi dan waktu kamu akan terkuras karenanya.

Padahal, jika kamu tidak pernah berkompromi dengan pornografi, kamu bisa memanfaatkan waktu dan energimu untuk melukis masa depanmu. Sayangi dirimu. Lebih baik manfaatkan otak kamu untuk membaca, menelaah, mengamati, memikirkan, merenungkan ilmu dan semesta ini. Kelak kau akan menjadi remaja keren karena ilmu dan akhlakmu.

Ini lho Sob Alasan Kenapa Kita Tak Boleh Sembarangan Menilai Orang

Oleh: Ana Mariana Mujahid

 

Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah dan memberikan sepucuk surat kepada mamanya. Ia berkata “Guru saya memberikan surat ini pada saya dan berpesan agar surat ini hanya diberikan pada mama.”

Dengan airmata berlinang, sang ibu membacakan isi surat tersebut “Anakmu terlalu jenius, sekolah ini terlalu sederhana dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk melatih dia. Ajarilah dia secara langsung.”

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas Alva Edison pun sudah meninggal. Ia sekarang sudah menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yang dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya. “Anakmu punya masalah. Ia sangat bodoh. Kami tidak mengizinkan lagi untuk datang ke sekolah ini selamanya.”

Edison menangis berjam-jam dan menulis ini di buku hariannya. “Thomas Alva Edison adalah anak gila yang oleh seorang pahlawan yaitu mama saya, diubahnya menjadi yang paling jenius sepanjang abad.

Terlepas dari akurat atau tidaknya cerita yang saya dapatkan dari media sosial di atas, isi ceritanya mengingatkan saya pada istilah labelling. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan “kamu, nakal sekali sih!” “bodoh, begitu saja tidak bisa”, “dasar pemalas!” dsb, baik itu dari orang tua, guru ataupun teman sebaya. Nakal, bodoh, malas bisa dikategorikan sebagai bentuk labelling atau pemberian cap terhadap seseorang atau sesuatu.

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak atau seseorang untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, menyebutkan seseorang yang telah melanggar hukum sebagai seorang kriminal. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah disebut sebagai anak bodoh, anak yang sering mengganggu temannya disebut sebagai anak nakal. Atau anak yang tidak mengumpulkan PR disebut pemalas dll.

Dalam teori psikologi sosial, labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A handbook for The Study of Mental Health, label adalah definisi yang ketika diberikan pada seseorang menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu. Terkadang yang menjadi masalah adalah dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat label tersebut sebagai gambaran keseluruhan, bukan gambaran perilakunya satu per satu.

Labelling ada dua macam, label negatif dan label positif. Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labelling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga terhadap perlakuan orang tua atau orang-orang di lingkungan anak itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik (http://ruangpsikologi.com/topic/labeling-pada-anak/).

Hal ini juga berlaku pada seorang pendidik (guru). Seperti cerita Thomas Alva Edison di atas yang terlanjur di cap bodoh oleh gurunya karena kerap tertinggal dalam pelajaran, padahal sebenarnya Edison tidak bodoh. Namun di tangan yang tepat, yakni ibunya yang justru memberi label positif pada anaknya, Edison menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah dengan 1093 hak paten.

Dalam makalah HERLINA/LABELING_DAN_PERKEMBANGAN_ANAK-salman.pdf. Labelling negatif memberikan dampak melalui tiga cara. Pertama, melalui self labelling (self concept). Menurut Sigmund Freud konsep diri berkembang melalui pengalaman. Terutama perlakuan orang lain terhadap diri sendiri secara berulang-ulang. Dengan menerima label “nakal” dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal. Dan anak akan mengukuhkan konsep tersebut dengan menampilkan perilaku tertentu yang menurut anggapan umum disebut perilaku anak nakal.

Kedua, melalui persepsi orang dewasa terhadap anak. Persepsi yang berupa, apapun yang anak nakal lakukan pastilah negatif. Walaupun anak berusaha menampilkan perilaku positif , namun dianggap ada niat tersembunyi, atau persepsi “pasti ada maunya nih”, atau “ah paling cuma hari ini dia begitu, besok pasti sudah nakal lagi” sehingga tidak diapresiasi oleh orang dewasa. Hal ini bisa membuat anak frustasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya.

Ketiga, melalui perilaku orang dewasa terhadap anak. Orang dewasa yang sudah menganggap atau melabel anak negatif, tidak memberikan peluang pada anak untuk berubah. Misalnya dengan ungkapan “sudahlah tidak usah dinasihati lagi, buang waktu saja. Anak itu memang nakal, dan tidak akan berubah.” Akibatnya anak makin tidak tahu mana perilaku yang bisa diterima masyarakat dan terus berperilaku negatif.

Sebagai seorang pendidik sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mendidik anak menjadi orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan mengembangkan bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak didik agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Dalam teori psikososial, erikson mengatakan bahwa dalam diri individu ada dua kutub yang akan berkembang pada setiap tahap perkembangan anak, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub mana yang akan berkembang sangat tergantung dari stimulasi lingkungan yang diterimanya. Bila lingkungan memberikan stimulasi yang negatif seperti pemberian label negatif maka kutub negatiflah yang akan berkembang, begitu pula sebaliknya. Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk menjadi yang terbaik.

Ada beberapa cara yang berupa stimulasi positif dalam mendidik anak yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru, diantaranya; memberi atau memanggil dengan nama atau julukan yang baik. Memberikan respon yang spesifik, maksudnya berikan respon terhadap perilaku anak bukan pada kepribadiannya. Memberikan pujian dan hukuman secara tepat. Jangan berlebih dan jangan kurang, berikan pujian dan hukuman jika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan. Pujian dan hukuman pun harus disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin anak, misalkan anak laki-laki usia dua tahun akan senang jika diberi permen beda halnya dengan anak usia 12 tahun yang lebih suka jika diberi tas baru daripada permen.

Berikutnya adalah konsisten dalam memberikan pujian ataupun hukuman karena inkonsisteni malah akan membuat anak bingung menentukan perilaku yang harus dilakukan dan terakhir jangan lupa untuk memberikan pemahaman mana yang boleh dilakukan dana mana yang tidak boleh dilakukan.

Terakhir saya tutup dengan mengutip kata-kata dari Lawrence G lovasik “if you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word think a kind thought.”

 

Semoga bermanfaat.

Karya Je Firman, Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

Pemuda Kudu Baca Ini!

Oleh: Muhammad Sapei

Apa yang terlintas dalam benak dan terpikir dalam pikiran kita ketika disebut kata remaja dan pemuda? Mungkin banyak di antara kita yang berpikir bahwa remaja dan pemuda adalah masa-masa labil dan bergejolak, masanya mencari jati diri. Benarkah demikian?

Celakanya, kita, orang dewasa, membenarkan hal itu tanpa mengkajinya lebih mendalam, sehingga kita memaklumi jika remaja dan pemuda melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Kita mentolelir jika remaja dan pemuda ibadahnya tidak bagus dan akhlaknya tidak baik.

Salah satu faktor yang menyebabkan kita bersikap seperti itu bisa jadi karena teori yang kita jadikan rujukan. Kita banyak merujuk teori-teori dari Psikologi Barat tanpa membandingkannnya dengan teori dalam Psikologi Islam, bahkan lebih tegas lagi dengan Alquran dan Hadis. Data dari Barat memang menunjukkan hal itu bahwa remaja dan pemuda di Barat memang kacau; hedonis dan permisif. Hidupnya banyak hura-hura dan aktifitas yang tidak bermanfaat. Orang-orang Barat mentolelirnya sebagai masa pencarian jati diri.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau ikut-ikutan pola pikir mereka? Konyol sekali menurut saya. Akankah kita menjadikan anak-anak dan murid-murid kita hari ini menjadi korban pendidikan ala Barat? Saya tidak menafikan ada hal-hal positif dari Barat. Tetapi, poin yang ingin saya sampaikan adalah mari kita memfilternya dengan pedoman hidup kita, Alquran dan Hadis. Jangan menelan mentah-mentah teori dari Barat dan dianggap sebagai aksioma. Jika baik, kita ambil. Namun, jika buruk, tentu saja tinggalkan.

Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pemuda memiliki peran strategis bagi kelangsungan sebuah peradaban. Karena itulah, Yahudi dan Barat berusaha menghancurkan peradaban Islam dengan menghancurkan pemudanya. Mereka masuk lewat konsep-konsep pendidikan dan psikologi agar kita mengekor teori mereka. Mereka rusak pemuda Islam dengan gaya hidup hedonis dan pola pikir permisif.

Kita pun sama-sama memahami bahwa masa muda adalah masa yang (semestinya) paling produktif. Karena, tenaga sedang prima-primanya, pikiran sedang kuat-kuatnya, dan semangat pun sedang menggebu-gebunya. Maka, jika para pemuda sebuah negeri baik, maka besarlah kebermanfaatan yang akan terwujud. Sebaliknya, jika para pemuda sebuah negeri buruk, maka besar pula keburukan yang akan terjadi.

Karena itu, mari kita telaah Alquran dan sejarah untuk membantah anggapan masa muda adalah masa labil dan pencarian jati diri.

Pertama, Ibrahim as. ketika melawan tirani Raja Namrud dan menghancurkan berhala masih diusia sangat muda. Hal ini tegas dari kata “fata” yang digunakan Alquran untuk menyebut Ibrahim as. Bahkan, kata fata itu lebih muda daripada kata syabab (pemuda). Artinya, sangat muda sekali, belia.

Kedua, Yusuf as. ketika menunjukkan keimanan yang kokoh saat digoda oleh istri pejabat Mesir juga berusia sangat muda. Kita bisa bayangkan Yusuf hanya berdua dengan perempuan cantik jelita itu di dalam sebuah kamar. Tetapi, Yusuf dapat mempertahankan keimanannya.

Ketiga, Daud as. ketika ikut berperang melawan Jalut dan berhasil membunuhnya juga masih dalam usia sangat belia. Kita bisa membayangkan bagaimana Daud pada usia yang sangat belia memiliki keberanian sebesar itu menghadapi Jalut.

Keempat, para pemuda Ashabul Kahfi yang tegas mempertahankan akidahnya meski harus mengasingkan diri. Mereka juga berusia sangat belia. Alquran menggunakan kata “fityah” (jama’ dari fata) untuk menyebut mereka.

Lihat pula kisah Isma’il as., Yahya as., dan kisah Yusya, seorang yang menemani Nabi Musa as. untuk menemui Nabi Khidir as. Yusya diusia yang masih belia telah menjadi seorang ahli ilmu di bawah bimbingan Nabi Musa as.

Lihatlah, betapa para pelaku sejarah itu, orang-orang besar itu telah mendemonstrasikan kekokohan akidah dan imannya, serta keteguhan sikapnya sebagai seorang pemuda. Maka, salah besar jika masa muda dianggap sebagai masa labil dan pencarian jati diri.

Mari kita telaah lebih dalam lagi dengan mengkaji sejarah para pemuda yang mengelilingi dakwah Rasulullah saw. Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al-Kahfi yang mengisahkan tentang para pemuda Ashabul Kahfi menerangkan, “Demikianlah dakwah Rasulullah saw juga dikelilingi oleh para pemuda.”

Dari sepuluh orang sahabat Rasulullah saw generasi awal yang dijamin masuk surga hanya tiga orang yang usianya kepala tiga, yakni Sayidina Abu Bakar, Sayidina Usman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf, dua orang usianya kepala dua, bahkan lima orang di antara mereka usianya di bawah dua puluh tahun. Jelas sekali betapa anak-anak muda ini telah matang emosional dan spiritualnya. Tidak ada galau dan pencarian jati diri diusia mudanya.

Mari kita telaah lebih dekat, siapa sebenarnya aktor dibalik pembukaan Madinah sebagai pusat dakwah Islam? Merekalah enam pemuda belia. Rasulullah menemui enam pemuda ini ketika musim haji di Mekah. Seperti biasa, Rasulullah memanfaatkan musim haji untuk berdakwah mengunjungi satu tenda ke tenda lain. Hingga sampailah ke tenda enam pemuda ini yang berasal dari Madinah. Terjadilah dialog antara Rasulullah dan enam pemuda ini.

Singkat cerita, enam pemuda ini tertarik dengan Islam dan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Enam pemuda ini bertekad, “Ya Rasulullah, tahun depan di tempat yang sama dan diwaktu yang sama, kami akan datang kembali kepadamu dengan pemuda yang lebih banyak dari sekarang.”

Satu tahun kemudian, enam pemuda ini menepati janjinya. Mereka datang dengan membawa tujuh pemuda lain untuk mengingkarkan dua kalimah syahadat. Saat itulah, terjadi Bai’at Aqabah I. Dari sini saja bisa dibayangkan betapa hebatnya peran pemuda dalam dakwah. Enam orang berhasil mengajak tujuh orang. Keberhasilannya seratus persen. Tapi, mari kita telisik lebih dekat lagi.

Kemudian, 13 pemuda ini kembali ke Madinah dan melanjutkan dakwahnya. Untuk mengawal dan mempercepat proses dakwah di Madinah, Rasulullah mengutus Mus’ab bin Umair untuk menyertai 13 pemuda ini. Siapakah Mus’ab bin Umair? Ya, ia tak lain seorang pemuda belia. Setahun kemudian, 13 pemuda ini berhasil mengajak 75 orang untuk menemui Rasulullah pada musim haji dan terjadilah Bai’at Aqabah II. Cermati percepatannya, pada tahun pertama enam pemuda berhasil mendakwahi tujuh orang. Pada tahun kedua 13 pemuda berhasil mendakwahi 75 orang. Berapa persen peningkatannya?

Namun, kiprah para pemuda ini belum usai. Mereka menyusun strategi dakwah bersama Mus’ab bin Umair. Mereka merancang pertemuan Mus’ab dengan para pemimpin suku-suku di Madinah. Sampai akhirnya, Mus’ab bertemu dengan pemimpin besar suku-suku Madinah, Sa’ad bin Mu’adz. Terjadi dialog dan diskusi antara Sa’ad bin Mu’adz dan Mus’ab bin Umair. Sekali lagi cermati bagaimana Mus’ab, seorang pemuda belia, mampu menaklukkan Sa’ad bin Mu’adz, seorang pemimpin besar Madinah? Seperti apa kualitas diri Mus’ab bin Umair?

Pada akhirnya, Sa’ad bin Mu’adz memperoleh hidayah dan masuk Islam. Masuk Islamnya Sa’ad diikuti oleh masuk Islamnya suku-suku di bawah pimpinan Sa’ad bin Mu’adz. Cermati bagaimana strategi dakwah para pemuda ini. Mereka tentu tidak punya kekuatan dan bukan pemegang kekuasaan untuk memaksa warga Madinah memeluk Islam. Tapi, saksamailah bagaimana para pemuda ini mengatur pertemuan dengan para pemimpin Madinah dan mempengaruhi mereka.

Dari sinilah peristiwa hijrah yang monumental itu bermula. Tonggak awal perjuangan dakwah Islam memasuki babak baru, fase Madinah. Ternyata ada peran besar para pemuda dibaliknya. Para pemuda didikan Rasulullah saw. Para pemuda hebat yang kokoh akidahnya dan teguh keimanannya.

Karena itu, sebuah kesalahan besar jika dalam pembangunan peradaban, kita mengabaikan pemuda. Dalam konteks yang lebih kecil, dalam upaya membangun peradaban di Bumi Pengembangan Insani, peran pemuda di dalamnya sangatlah sentral. Perlu ditegaskan bahwa bukan menafikan peran para orangtua. Tidak sama sekali. Para orangtua memiliki tempat tersendiri di hati para pemuda. Merekalah para pembimbing, penasehat, dan guru bagi para pemuda.

Sebagai penutup, mari kita resapi kisah indah antara Usamah bin Zaid (17 tahun) dan Khalifah Abu Bakar (60 tahun). Kisah ini bermula dari keputusan Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang.

Menjelang wafatnya, Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang pasukan muslim untuk diberangkatkan ke Romawi Timur. Saat itu, ada beberapa sahabat yang sempat mempertanyakan. Rasulullah menjawab, “Demi Allah, Usamah pantas menjadi pemimpin.”

Usamah berangkat memimpin pasukannya. Namun, baru beberapa mil, Usamah mendengar kabar kewafatan Rasulullah saw. Usamah memutuskan kembali ke Madinah. Usai Sayidina Abu Bakar dipilih menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah saw dalam tugas memimpin negara, Khalifah Abu Bakar tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang dan memerintahkan Usamah untuk segera berangkat.

Khalifah Abu Bakar meminta Usamah naik ke atas kuda. Kemudian, Khalifah Abu Bakar menuntun kuda Usamah dan bermaksud mengantarnya sampai gerbang kota Madinah.

“Jangan perlakukan aku seperti itu, wahai khalifah,” ujar Usamah dan dengan sigap turun dari kudanya.

Usamah meminta Khalifah Abu Bakar yang naik ke atas kuda dan ia yang akan menuntun kuda tersebut. Namun, Khalifah Abu Bakar menolak. Usamah pun menolak untuk naik ke atas kuda. Hingga akhirnya, Khalifah Abu Bakar mengucapkan kata-kata pamungkas, “Wahai Usamah, engkau akan pergi berjihad. Maka, izinkan aku mengotori kakiku dengan debu-debu jihad.”

Lihatlah, Usamah sebagai anak muda memiliki adab menghormati Khalifah Abu Bakar. Namun, Khalifah Abu Bakar sebagai orangtua pun tahu menempatkan pemuda (Usamah) sebagai pemimpin. Indah sekali.
Bangkitlah para pemuda. Ambillah peran dan tanggung jawabmu untuk kejayaan Islam. Demi tegaknya agama Allah di bumi ini. Energimu masih besar. Semangatmu masih membara. Kobarkan dan pekikkan Allaahu Akbar!

“Tiada bergerak satu langkah pun seorang di antara kamu hingga kau ditanya empat hal, salah satunya, ‘Masa mudamu, untuk apa kau habiskan?…’”, demikian wasiat Rasulullah saw.

Siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat dosa Sob? Dosa pandangan kita, dosa pendengaran kita, dosa lisan kita, dosa tangan kita, dan dosa-dosa lainnya yang pernah kita lakukan. Bahkan sehari pun kita tidak bisa lepas dari berbuat dosa. Astaghfirullah.

 

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

 

Dosa dan maksiat adalah tabiat manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

 

 

Tidakkah firman Allah ini dapat melapangkan hati, menghilangkan keresahan, dan menghapuskan kegundahan kita? Ayat diatas adalah seruan untuk segenap orang yang terjerumus ke dalam dosa agar segera bertaubat dan kembali kepada Allah. Sekalipun dosa anak adam sangat banyak, namun kasih sayang Allah jauh lebih luas terhadap hambaNya.

 

 

Amalan-amalan Penghapus Dosa

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam kitabnya Majmu’ Al Fatwa memberikan nasihat indah tentang amalan-amalan yang dapat menjadi penghapus dosa.  Beliau berkata, dosa dapat terhapus oleh beberapa hal:

 

 

Taubat

Taubat secara bahasa berasal dari kata at-tauba yang dimaknai ‘kembali’. Orang yang bertaubat artinya ia kembali/berpaling dari dosanya [1]. Sementara secara syar’iy taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad untuk tidak melakukannya lagi, dan memperbaiki amalnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullahu dalam kitabnya Majalis Syahri Ramadhan [2] mengatakan “Taubat yang diperintahkan Allah Ta’ala adalah taubat nasuha (yang tulus) yang mencakup lima syarat”:

  1. Hendaknya taubat itu dilakukan dengan ikhlas.
  2. Menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan.
  3. Berhenti dari perbuatan maksiat.
  4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut.
  5. Taubat dilakukan bukan pada saat masa penerimaan taubat telah habis
  6. Istighfar

Istighfar meskipun tampak sama dengan taubat, namun hakikatnya berbeda. Terdapat beberapa perbedaan antara taubat dan istighfar diantaranya:

Pertama: Taubat terdapat batas waktu, sementara istighfar tidak. Hal inilah yang menyebabkan orang yang sudah meninggal dapat dimohonkan ampunan, adapun taubat tidak lagi diterima tatkala nyawa sudah sampai pada kerongkongan.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hashr :10).

Kedua: Taubat hanya bisa dilakukan oleh pelaku dosa itu sendiri, sementara istighfar dapat dilakukan oleh pelaku dosa dan juga orang lain untuknya. Oleh karena itu seorang anak dapat memohonkan ampunan untuk orang tuanya.

Ketiga: Taubat disyaratkan harus berhenti dari dosa yang dilakukan sementara istighfar tidak disyaratkan demikian. Terdapat perselisihan ulama dalam hal ini, namun ada kesimpulan yang sangat baik dari Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili hafidzahullah dalam permasalahan ini [3]. Beliau menjelaskan bahwa istighfar ada dua keadaan:

  • Istighfar untuk dosa yang dilakukan oleh orang lain. Hal ini sebagaimana istighfarnya malaikat untuk orang-orang yang duduk di tempat sholat selama wudhunya belum batal maupun istighfar seorang anak untuk orang tuanya.
  • Istighfar untuk dosa yang dilakukan oleh diri sendiri. Istighfar bagi diri sendiri bermanfaat meski belum bertaubat, namun dengan syarat istighfar yang ia lakukan semata-mata karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala.2

 

 

Amal Shalih

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Hadis ini menunjukan bahwa apabila hamba terjatuh dalam perbuatan dosa, maka hendaklah ia bersegera menghapusnya dengan taubat dan melakukan amal shalih. Dosa yang dibiarkan lama mengendap dalam diri karena tidak segera ditaubati, dikhawatirkan akan menjadi sebab lahirnya perbuatan dosa-dosa lainnya.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam kitabnya Washiyah Sughro [4] menjelaskan bahwa amalan shalih yang dapat menghapus dosa terbagi menjadi dua:

Pertama: Amal shalih yang dapat menghapus dosa tertentu saja. Contohnya yakni pembayaran diyat bagi jamaah haji yang melanggar larangan-larangan ihram.

Kedua: Amal shalih yang dapat menghapus dosa secara umum. Contohnya yakni puasa di bulan Ramadhan yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

 

 

Musibah menghapuskan dosa

Musibah yang menimpa seorang muslim akan menjadi penghapus dosa baginya apabila ia bersabar dan menerima musibah yang menimpanya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمِّ، وَلاَ حُزْنٍ، وَلاَ أَذًى، وَلاَ غَمِّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا؛ إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Apa saja yang menimpa seseorang Muslim seperti rasa letih, sedih, sakit, gelisah, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allâh akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu semua”. [Muttafaqun ‘alaihi]

Setiap dosa yang dilakukan seorang hamba itu buruk, namun akan jauh lebih buruk apabila ia tidak mau bertaubat atas dosa yang telah dilakukan. Maka hendaklah kita mempergunakan waktu yang kita miliki untuk banyak bertaubat kepada Allah Ta’ala dan melakukan banyak amal kebaikan.

Ditulis oleh: Yuli Widiyatmoko

_________________________________________________________________________

Referensi:

[1]        Prof. DR. Shalih Ghanim as-sadlan, At-Taubatu Ilallâh, Maknâhâ, Haqîqatuhâ,
Fadhluhâ, syurutuhâ
, hlm. 10.

[2]       Ibnu Faris, Mu’jam Maqâyis al-Lughah, 1/357.

[3]        Ahmad Anshori. 2017. “Perbedaan Istighfar dan Taubat”. Diakses melalui
https://muslim.or.id/29214-perbedaan-istighfar-dan-taubat.html pada 09 Januari 2019.

[4]       Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, Washiyah Sughro.

 

“Setiap orang punya impian. Ada yang terwujud ada juga yang tidak. Namun itulah yang membuat hidup menjadi lebih menarik dan menantang”

 

Salah satu impian saya sejak awal kuliah yakni menjadi awardee LPDP selepas lulus nanti. Hal tersebut membuat saya tertarik untuk mencari tahu berbagai hal tentang beasiswa ini, mulai dari gambaran umumnya, persyaratannya, awardee-awardeenya, alumninya, dan sebagainya. Namun hal itu tidak saya lakukan secara intens sehingga informasi yang didapat pun tidak banyak. Sebaiknya teman-teman bisa mulai mencari tahu tentang kampus tujuan, program studi yang diminati, peluang riset, dan hal-hal terkait jauh hari sebelum mendaftar LPDP.

 

Berikut ini ada beberapa hal yang ingin saya bagikan kepada rekan-rekan terkait perjalanan saya selama mengikuti seleksi LPDP 2019:

 

“Ketahui Apa Itu LPDP”

 

Ketika memutuskan ingin mengikuti seleksi LPDP, pertanyaan pertama yang muncul di pikiran saya dan harus saya jawab yakni “Apa itu LPDP?”. Saya meyakini bahwa mengenali profil suatu beasiswa sebelum memutuskan untuk mengikuti seleksi beasiswa tersebut adalah keputusan yang baik. Jangan sampai kita tidak tahu serba-serbi tentang beasiswa yang akan diikuti. Hal ini juga akan bermanfaat untuk menambah semangat kita dalam meraihnya. Diantara cara yang bisa kita lakukan untuk mengenali LPDP yakni dengan membaca buku panduan yang sudah disediakan di website resmi lpdp di lpdp.kemenkeu.go.id. Lengkap. Bertanya dengan awardee LPDP tahun-tahun sebelumnya, sharing dengan dosen, ikuti akun-akun sosial media mereka, bisa jadii langkah yang bagus untuk hal ini.

 

Ada beberapa tahapan dalam seleksi beasiswa LPDP, diantaranya:

  1. Seleksi Administrasi

Seleksi awal beasiswa LPDP yakni seleksi administrasi. Kita diminta mengumpulkan berkas-berkas sesuai dengan jalur yang kita ikuti. Jalurnya apa aja sih? Cek di website resmi LPDP, lengkap. Setiap jalur memiliki persyaratan yang sedikit berbeda, maka kita harus paham betul melihat jalur mana yang memiliki peluang paling besar bagi kita.

Tips untuk seleksi administrasi yakni: 1) Persiapkan dari jauh hari, ada beberapa berkas yang tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat seperti sertifikat kemampuan Bahasa, surat rekomendasi, dll. 2) Sesuaikan format berkas dengan format LPDP, jangan sampai luput dari hal ini ya.

  1. Seleksi Berbasis Komputer:

Setelah kita lulus seleksi administrasi, pada tahun 2019 ini terdapat tahapan Seleksi Berbasis Komputer. Mirip dengan tes CAT BKN. Materi yang diujikan yakni: 1) Tes TPA (Analisis, numerik, verbal); 2) Soft Competency atau Tes Karakter Kepribadian; 3) On the Spot Essay Writing. Seluruhnya dikerjakan menggunakan computer.

Teman-teman bisa mulai belajar TPA dari jauh hari meskipun belum tahu apakah akan lolos ke tahap ini atau tidak, namun belajar TPA akan sangat dibutuhkan bukan hanya untuk mengikuti seleksi LPDP namun juga jika teman-teman hendak mengikuti CPNS, seleksi beasiswa/ kampus tertentu di Indonesia, atau keperluan lainnya.

Terkait Soft Competency saya tidak ada pesan khusus, namun pilihlah jawaban yang menurutmu paling ‘bijak’ sebagai seorang masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai aparatur negara. Sementara untuk essay on the spot, memperbanyak membaca isu-isu terkini dan latihan menulis esai akan sangat membantu menangani tes ini.

  1. Seleksi Wawancara:

Tahapan terakhir dari seleksi LPDP tahun 2019 yakni seleksi wawancara/substansi. Tahun ini terdapat dua jenis wawancara, yakni wawancara 1 tentang akademik, rencana dan proposal studi dan hal-hal personal lainnya yang kita kirim saat mendaftar. Sementara wawancara 2 tentang kebangsaan dan nasionalisme.

Wawancara 1:

Jawablah JUJUR dan tidak dibuat-buat. Wawancara pertama terdiri dari 1 orang psikolog, 1 orang akademisi, dan 1 orang dari pihak LPDP. Interviewer akan paham jika kita berbohong saat wawancara dan ini akan sangat mempengaruhi nilai akhir. Pelajari kembali berkas-berkas yang sudah dikirim khususnya tentang rencana dan proposal studi yang sudah dibuat agar mampu meyakinkan mereka bahwa kita SIAP untuk melaksanakan apa-apa yang tertuang di dalam dua berkas tersebut.

Wawancara 2:

Wawancara 2 hanya terdiri dari 1 orang interviewer, ada yang bilang pewawancara di wawancara 2 adalah petugas BIN (Badan Intelijen Negara), tapi saya kurang tahu benar tidaknya. Beliau akan menanyakan tentang isu-isu seperti PKI, nasionalisme, radikalisme, sejarah Indonesia, dan lainnya. Pada tahap inilah kita akan mendapat keputusan dari interviewer apakah kita direkomendasikan menjadi awardee ataukah tidak. Tentu LPDP hanya ingin membiayai calon awardee yang punya nasionalisme dan tidak berpemahaman radikal atau paham-paham yang dilarang lainnya.

 

Tips utama wawancara LPDP: Tenang, ramah, jawab dengan terstruktur dan meyakinkan, dan jujur.

 

Setelah selesai seleksi wawancara/substansi, kita tinggal menunggu pengumuman resmi dari LPDP. Pada seleksi tahap 2 LPDP tahun 2019 yang saya ikuti, pengumuman kelulusan semula dilaksanakan tanggal 18 Desember 2019 namun diundur menjadi tanggal 20 Desember 2019.

 

Selagi menunggu jangan galau ataupun terlalu khawatir dengan hasil yang akan didapatkan nantinya. Tawakkal selalu, sibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat, dan tetap berbuat baik sebagaimana yang biasa kamu lakukan ya. Bagi kamu yang memang berkeinginan melanjutkan studi dengan beasiswa LPDP harus atur strategi dari sekarang dan update dengan informasi seputar beasiswa ini. Hal ini karena hampir setiap tahun ketentuan dalam seleksi LPDP mengalami perubahan.

 

Jangan memaksakan diri harus mengikuti seleksi LPDP, kalau cocok lanjut, kalau tidak cocok maka pilih beasiswa yang lain. Ada begitu banyak beasiswa studi lanjut selain LPDP seperti PMDSU (S2 langsung S3), Beasiswa Unggulan, Beasiswa dari Kemenag, Beasiswa dari Kominfo, Beasiswa dari negara-negara tertentu di luar negeri seperti AAS, DAAD, Chevening, Fulbright, dan lainnya serta banyak juga beasiswa dari pihak kampus.

 

Jika memang sudah mantap ingin lanjut studi selepas S1 maka jangan ragu langsung mengikuti seleksi LPDP meskipun berstatus freshgraduate dengan catatan  -berkas yang disyaratkan sudah bisa kamu lengkapi tentunya.

 

Selamat dan semangat berproses.

 

Sob, Iduladha merupakan momen pengingat betapa pentingnya melakukan kurban untuk membantu sesama dan pengingat tentang bentuk pengorbanan serta ketakwaan kita pada Allah Swt., sebab rida Allah  ialah tujuan tertinggi selama hidup di dunia.

 

Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para donatur dan kamu yang telah memercayakan 27 kambing dan 1 sapi untuk kami kelola. Di momen Iduladha yang dilaksanakan pada 20 Juli 2021 lalu Alhamdulillah sebanyak 334 penerima manfaat telah menerima daging kurban.

 

Terima kasih telah memberi senyum terindah unuk 28 santri eTahfizh, 166 siswa SMART Ekselensia Indonesia, 110 masyarakat di lingkungan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa, dan 30 panitia kurban. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala berlipat ganda, aamiin.

Oleh: Asep Rogia, Kesiswaan SMART Ekselensia Indonesia

 

Berdiri sejak 29 Juni 2004 SMART Ekselensia Indonesia sebagai sekolah akselerasi yang diperuntukan bagi anak-anak dengan keterbatasan ekonomi. SMART memberikan beasiswa secara penuh kepada putra-putra terbaik dari seluruh pelosok nusantara selama lima tahun. Selain bebas biaya, SMART juga memberikan fasilitas asrama agar para siswa kerasan selama menimba ilmu.

 

 

Di asrama para siswa diberikan keleluasaan membentuk karakter secara efektif dan menyeluruh, merka juga mendapatkan pejaran membentuk idealisme perjuangan, berkepribadian akhlakul karimah, pendidikan bermasyarakat, keorganisasian dan kepemimpinan. Filosofi pendidikan asrama ini merupakan implementasi dari Firman Allah Swt.

 

 

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (QS. Ibrahmi : 24-25).

 

 

SMART Ekselensia Indonesia ibarat pohon buah yang rimbun daunnya, yang lebat buahnya, yang terus tumbuh dan berkembang semakin besar hingga akhirnya memberikan kebermanfaatan untuk orang lain. Sebagai pohon besar, tentu saja SMART disokong akar yang kuat hingga menghujam bumi, akar ini adalah perwujudan prinsip-prinsip kebaikan yang menjadi landasan serta pondasi bagi seluruh siswa.

 

 

SMART akan selalu menjadi balai pendidikan yang selalu menjunjung nilai Jujur, Santun, Sunguh-sungguh, Disiplin dan Peduli. Nilai-nilai tersebut akan selalu dipegang teguh oleh siswa, guru, dan seluruh civitas akademika SMART.

Di tengah ujian pandemi ini kami mengajak kamu semua untuk terus bersyukur sebab masih diberikan kesempatan bertemu Hari Raya Iduladha, masih bisa mencicipi manisnya berkurban, bersedekah serta berbagi.

 

 

Sob, Iduladha mengajarkan kita bahwa ibadah kurban ialah bentuk pengorbanan dan ketakwaan kita pada Allah Swt. Sebab rida Allah  adalah tujuan tertinggi selama kita hidup di dunia.

 

 

Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa juga ingin mengucapkan banyak terima kasih, karena Sahabat Pendidikan telah memercayakan pengelolaan hewan kurbannya kepada kami. Terima kasih, meski kondisi ekonomi sedang tak pasti namun Sahabat Pendidikan tetap memiliki semangat berbagi, InsyaAllah kami akan menyalurkan daging kurban kepada mereka yang berhak.

 

 

Semoga pandemi lekas berlalu dan semoga Allah memberikan kita kesabaran, kekuatan, dan keluasan rezeki. Aamiin.

 

 

Selamat Iduladha 1442 Hijriah Sob!