Saatnya Kita Belajar Untuk Belajar Sob

Oleh: Saiful Choirudin

Alumni SMART Angkatan 1

Assalamu’alaikum. Nama saya Saiful Choirudin, lulusan angkatan pertama SMART. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman berharga saya.

Sejak kuliah di Universitas Paramadina, saya sudah mengajar membuat kartun di SMP Islam Al- Syukro Universal, Ciputat. Di sana, saya mengajar ekstrakurikuler khusus untuk membuat dan belajar mengetahui apa-apa saja yang berhubungan dengan kartun. Saya tahu ada lowongan kerja sambilan di sekolah itu dari seorang ustadz yang sebelumnya pernah mengajar pelajaran bahasa Inggris dan juga menjadi kepala asrama di SMART yaitu Ustadz Heri Sriyanto.

Saya mengajar untuk satu tujuan yang besar, yaitu untuk belajar. Jadi, saya masih ingin belajar meskipun sudah bekerja. Hanya belajar dan belajar.

Setelah mendapat gelar S1, saya masih ingin belajar lagi. Saat itu, belum ada pikiran yang muncul tentang mencari kerja. Kalau teman-teman saya sudah banyak yang mencari lowongan pekerjaan, saya tidak. Saya masih ingin belajar. Seakan-akan hanya ada pemikiran tentang belajar saja. Saya mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Mahardika juga masih untuk belajar, tepatnya belajar bersyukur.

Mungkin kebanyakan orang menganggap anak-anak yang berada di SLB itu gila, jelek, kotor, dsb. Tetapi saya tidak. Saya menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah Swt. sebagai tempat untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua.

Di SLB sendiri ada banyak hal yang unik dan berbeda dari sekolah-sekolah biasa. Satu kelas di SLB hanya berisi 5-8 siswa. Berbeda dari sekolah biasa yang bisa menampung lebih dari 20 siswa untuk satu kelas. Ketika mengajar, harus ada tenaga ekstra untuk memerhatikan dan mengawasi para siswa. Apabila seorang pengajar lalai sedikit saja, salah satu muridnya bisa melakukan hal yang tidak baik.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya pernah mengajar menggambar dan saya sedikit lalai. Apa yang terjadi? Salah satu murid saya ada yang memakan krayon yang dipegangnya. Mungkin dia mengira bahwa itu adalah sebuah permen. Saya juga pernah diludahi ketika masuk ke sebuah kelas. Saya sudah terbiasa akan hal seperti itu. Apabila di sekolah biasa seorang pengajar bisa mengajar setiap hari, di SLB tidak bisa. Seorang pengajar biasanya hanya mengajar 3 kali dalam seminggu.

Ada hal unik lain di SLB. Salah satunya adalah para orangtua murid yang selalu bersemangat mengawasi anak-anaknya. Mereka bagaikan mesin penjaga 24 jam bagi anak mereka.

Anak-anak yang bersekolah di SLB memang memiliki banyak kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, tersimpan banyak hal yang kadang tidak dimiliki oleh orang biasa.

Bangunlah Pemuda!

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.

Yuk Kita Belajar Dari Umar bin Khattab, Sob

Oleh: Aidil Ritonga

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil 2 pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah SAW menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Rasa Itu Bernama SMART

 

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari kala itu. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata seoranng ustazah menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata, “Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan Azan Zuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar, sudah hampir lulus kuliah, teman-teman yang tadinya selalu dekat sekarang sudah mulai berjauhan. Sungguh pun aku kangen akan masa-masa itu, tak terasa lima tahun di SMART telah kulewati, ingin rasanya kuulang momen kebersamaan yang tak terlupakan. Terima kasih SMART atas banyak hal yang semakin kusyukuri keberadaannya.

Mau Masuk Jurusan Ilmu Hukum? Wajib Baca Tulisan Alumni SMART Ini!

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam,

Alumni SMART Angkatan 8, saat ini berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum

“Bukan politik yang kotor, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya saja yang tidak bisa menjaga kemurnian politik”

Itu merupakan jawaban yang sering saya katakan kepada setiap orang yang meragukan saya untuk terjun ke dalam dunia politik. Mulai dari keluarga besar, teman-teman, guru BK, kepala sekolah semua meragukan saya. Tapi saya keukeuh untuk masuk politik. Lalu, kenapa sih saya ingin sekali masuk dunia politik? Oke semuanya akan saya jelaskan di sini.

Semua bermula saat usia saya menginjak 10 tahun, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat di mana -saya rasa- itu merupakan masa untuk membentuk kepribadian dan masa depan. Saya yang sedang asik menikmati waktu libur panjang ditawari hal menarik  oleh ayah saya, seorang yang paling saya hormati.

“Cep, besok mau ikut kampanye partai gak? Lumayan sekalian bapak ajak jalan-jalan keliling Bandung”.  Tanpa pikir panjang aku menerima ajakan itu, bukan ajakan untuk kampanye yang membuat saya bersemangat, melainkan ajakan untuk jalan-jalan keliling Bandungnya. Yah, saat itu saya belum mengerti yang namanya politik.

Keesokan harinya setelah bangun tidur, saya langsung bergegas mandi. Ini hari yang paling saya tunggu. Bapak saya sudah bersiap dengan menggunakan kaos dengan gambar lambang salah satu partai politik di Indonesia. Tanpa saya minta, bapak memberikan satu kaos yang sama dan pastinya pas dengan ukuran badan saya. Kami pun berangkat dengan motor, aku yang dibonceng oleh bapak memegang bendera partai dengan semangat.

Belum juga melewati desa, motor yang ayah saya kemudikan tiba-tiba berhenti, ternyata sudah banyak orang yang menunggu dengan seragam yang sama dengan kami. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, keliling Bandung berbondong-bondong dengan orang yang baru saya kenal. Gumam saya dalam hati.

Setelah beberapa menit mendengar orang yang berpidato lewat pengeras suara, kami pun berangkat. Benar-benar di luar dugaan ku, perjalanan menuju pusat Kota Bandung sangat menyenangkan. Bunyi klakson terdengar bersaut-sautan, banyak bendera partai berkibaran, dan pastinya massa semakin banyak menyelimuti jalan raya. Banyak orang yang sedang berjalan di pinggir jalan raya berhenti sejenak untuk melihat kami, rasanya seperti penguasa jalan!!

Saking semangatnya hingga tak terasa bahwa kami sudah sampai di pusat Kota Bandung. Sudah ada ribuan orang dengan seragam dan atribut partai yang sama dengan kami menutupi lapangan. Dari kejauhan terlihat berdiri kokoh panggung megah yang nantinya akan dijadikan tempat orasi oleh partai tersebut. Nyanyian sudah terdengar samar-samar dari depan panggung. Saya turun dari motor dan menunggu bapak yang sedang memarkirkan motornya. Bapak memegang tanganku, “ Jangan jauh-jauh dari bapak, nanti kamu bisa berpisah dari bapak. Bahaya!” saya hanya menganggukkan kepala.

Kami mulai menuju kerumunan, benar-benar penuh sesak. Tapi entah mengapa, saya merasa menyukai suasana seperti ini, saya hanyut dalam acara. Banyak sekali acara yang diadakan oleh partai yang kami dukung. Salah satu hal yang membuat kami semakin bersemangat adalah ketika Iwan Fals menyanyikan lagunya, Wakil Rakyat. Semua ikut bernyanyi.

“Wakil rakyat seharusnya merakyat….Jangan tidur waktu sidang soal rakyat….Wakil Rakyat bukan paduan suara”. Semuanya hanyut dalam nyanyian.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, namun tanpa adanya aba-aba, hujan pun turun dengan derasnya. Saya kira semuanya akan berteduh, tapi tidak! Semuanya semakin bersemangat. Ada bendera merah putih ukuran yang berkibar di atas panggung utama. Ini luar biasa!!  Saya semakin terbawa suasana, bergoyang menikmati lagu-lagu yang terus dilantunkan oleh sang presiden masyarakat, Iwan Fals.

Saat sedang asik bergoyang, bapak menyuruh saya untuk ikut dengannya. Begitu juga dengan rombongan yang satu desa dengan saya. Kami akan siapa-siap untuk Salat Zuhur, setelah itu kami siap-siap untuk pulang. Diperjalanan pulang, suasana jalan masih ramai. Banyak rombongan yang memilih untuk pulang juga. Suasana masih ramai hingga kami tiba di desa kami.

Sesampainya di rumah saya mandi, bapak sudah menunggu di ruang tamu. Nampaknya ada yang ingin bapak sampaikan kepada saya.

“Cep sini. Ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu”

“Iya pak,” saya duduk di depan bapak.

“Gimana tadi Cep? Serukan?”

“ Iya pak,” saya mengusap-ngusap tangan yang masih kedinginan.

“ Begitulah Cep dunia politik. Semuanya siap dilakukan asalkan kita bahagia. Banyak orang yang rela hujan-hujanan demi mendukung orang yang belum tentu akan membuat mereka bahagia. Tapi kita yang memilih itu percaya, bahwa yang kita pilih adalah yang terbaik”. Bapak berhenti sejenak dan meneguk kopi yang ada di depannya.”Memang banyak yang bilang politik itu kotor, banyak korupsi, terus banyak kejahatan-kejahatan. Tapi ingatlah bahwa orang-orang yang kotor itu bukanlah orang-orang yang mengerti politik. Mereka hanya penikmat”.

“Saya pengen masuk politik pak”. Entah mengapa, seketika saya sangat ingin masuk politik.

“Bapak sih dukung-dukung aja kamu masuk politik. Tapi ingat, kamu harus amanah sama orang-orang yang udah percaya sama kamu yang udah bela-belain hujan-hujanan demi dukung kamu. Jangan sampai kamu mengecewakan mereka dan kamu termasuk ke dalam orang-orang yang menjadi penikmat politik saja. Kamu jangan sampai korupsi dan melakukan hal-hal kotor lainnya. Kamu bisa banyak teman kalau hidup di dunia politik dan bukan teman baik saja yang bakalan kamu miliki, tapi kamu juga bakalan punya temen-temen yang kotor,” ujar bapak penuh kesungguhan.

Muhun pak, saya paham”

“Dan satu lagi, Kamu ubah nasib Negara ini. Kita semua kalangan bawah udah bosan dibohongin sama orang yang kita pilih”

Saat itulah keinginan saya untuk masuk dunia politik makin kuat, bukan untuk mencari kekayaan. Tapi saya sangat menyukai dunia politik. Dunia politik itu gak ada kata lelah dan pastinya bakalan punya banyak teman. Terserah kata orang mau bilang saya bakal korupsilah, bakalan sombonglah, bakan apalah. Tapi lihat saja nanti, siapa yang akan merubah negeri ini!.

Dan sekarang saya, Cecep Muhammad Saepul Islam, seorang anak desa telah menapakkan kakinya di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hukum. Insya Allah saya akan membalas semua keraguan yang datang pada saya dengan bukti nyata bahwa saya akan mengubah image politik yang dianggap kotor oleh kalangan masyarakat.

Lalu ada pertanyaan, “Lah kok jadinya masuk Ilmu hukum bukan Ilmu Politik atau Ilmu Pemerintahan? Karena Hukum merupakan atasan segala hal yang berkaitan dengan perpolitikan di dunia.

Oleh: Reza Bagus Yustriawan

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

 

Anak IPS??  Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orangtua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

 

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

 

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

 

Hayoo… Ngaku…

 

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling gue keselin itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya nggak?? Ngaku lho!! Ngaku!! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi hari kesaktian pancasila??

 

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh!! Jangan salah!! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

 

Yaa, ribet dua-duanya lah.

 

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

Aku nggak setuju!!

 

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

*Ngaco

Pentingnya Komunikasi Bagi Generasi Kekinian

Oleh: Zealandia Sarah

Penerima Manfaat BAKTI NUSA 6 Yogyakarta

Setiap pemimpin memiliki masa, dan tiap masa ada pemimpinnya”

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, dan sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.

Oleh: Nadhif Putra Widiansah

Alumni SMART berkuliah di MIPA UI

 

Masih terus ku mencari
namun tak jua kutemukan
hingga semua diujung pencarian

Telaga waktu hisap semua daya
dikala letih tuk usaha
peluh hujani bebatuan
terka semua yang kurasakan

Senyuman dan candamu
selalu dapat kubayangkan
wajahmu dan hatimu
telah terlalu lama kudambakan

Mungkinkah,
bila kita kan selalu bersama

mungkinkah,
cintaku dan cintamu selamanya
hanya jika kita bersama
dan engkau milikku
milikku

 

Oleh: Syahrizal Rachim,

Alumni SMART berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya, kaya akan budaya dan adat istiadat masyarakatnya. Salah satu dari kekayaan Bangsa Indonesia adalah bahasa yang beragam di seluruh penjuru negeri untuk dijaga sebagai warisan budaya nusantara.

 

Dewasa ini, perkembangan zaman sangatlah pesat. Globalisasi semakin menyebar  ke segala penjuru dunia. Perkembangan teknologi dan semakin mudahnya berkomunikasi menjadi sebagian kecil dampak positif globalisasi.

 

Para pemuda saat ini sangatlah mudah terpengaruh dampak dari globalisasi. Tanpa disadari, perkembangan globalisasi yang pesat pada generasi muda memengaruhi  kelestarian budaya negeri, salah satunya budaya daerah. Pengaruh globalisasi yang kuat mengubah kecintaan terhadap bahasa daerahnya sendiri ke budaya asing tanpa disaring terlebih dahulu.

 

Banyak pemuda menganggap bahasa daerah itu kuno, tidak berkembang dan tidak sesuai tren. Tidak sedikit para pemuda zaman sekarang yang bangga menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya. Kurangnya rasa bangga menggunakan bahasa daerah semakin membuat warisan budaya nusantara ini hilang tergerus oleh perkembangan zaman.

 

Generasi  muda zaman sekarang lebih banyak yang tertarik mendalami dan menggunakan bahasa asing. Terdapat segelintir pemuda yang takut masa depannya tidak berkembang jika mempelajari bahasa daerah. Kurang optimalnya sosialisasi yang menyeluruh kepada generasi muda tentang pentingya menjaga kelestarian bahasa daerah turut menjadikan bahasa daerah hilang tergerus zaman. Aktivitas-aktivitas belajar bahasa daerah di sekolah ataupun di tempat-tempat lainnya masih sangat sedikit dan hanya digunakan sebagai bahan pelengkap nilai rapor siswa.

 

Aktivitas-aktivitas pelestarian bahasa daerah di abad ke-21 harus senantiasa ditingkatkan. Kegiatan pelestarian bahasa daerah dapat diisi dengan kegiatan yang kreatif dan inovatif. Berbagai pihak dapat memanfaatkan tren generasi muda sekarang yang banyak menggunakan jejaring sosial.  Dengan total 93 juta pengguna jejaring sosial di Indonesia tahun 2016, berbagai pihak terkait dapat memanfaatkan kampanye-kampanye pemertahanan bahasa daerah lebih luas jangkauannya dan sesuai dengan tren generasi muda saat ini.

 

Para pemuda dapat menunjukan geliatnya dalam pelestarian bahasa daerah dengan mengikuti lomba-lomba bernuansa kearifan lokal. Semangat nyata pemuda cinta bahasa daerah dapat disalurkan pula dengan menciptakan berbagai kreasi, baik dalam bentuk tulisan, gambar ataupun media-media lainnya seraya mengasah inovasi dalam pelestarian bahasa. Pengaplikasian inovasi dari para pemuda haruslah senantiasa diteruskan sehingga pemertahanan bahasa daerah tidak terehenti pada satu orang saja serta tertanam sebagai nilai moral dan persaudaraan dari kebudayaan daerah itu sendiri.

 

Peran aktif dari berbagai pihak diperlukan untuk mewujudkan secercah harapan generasi muda peduli bahasa. Para orangtua dan pemangku kebijakan harus selalu menanamkan pentingnya pemertahanan bahasa daerah sebagai salah satu identitas bangsa serta kebanggaan negeri kini dan nanti.

img-20160928-wa0002-01

Oleh: Syaiha, Guru Matematika SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa

Tadi siang, sembari meluruskan tulang punggung, tiduran, di masjid, tanpa sengaja, saya melihat ada seekor cicak yang marayap di langit-langit. Berlari ke depan, diam sebentar dan kemudian balik kanan, lalu berlari lagi ke arah semula. Ia melakukan itu tidak hanya sekali, lebih dari tiga kali malah. Bolak balik seperti setrikaan rusak.

Entah apa yang ada di pikirannya.

Mungkin ia seperti Hajar, Ibunya Ismail, yang melihat ada air di ujung sana, lalu segera berlari mendekat. Sampai di tujuan, air yang terlihat malah tidak ada. Malangnya, ketika ia mengarahkan pandangan ke tempat semula, ia tertegun. Bagaimana mungkin disana ada air? Padahal, beberapa menit lalu ia berdiri di titik itu, tidak ada apa-apa! Benarkah itu air?

Berlari kembalilah ia. Ngos-ngosan. Lelah bukan main. Panasnya minta ampun.

Waktu itu, pasti belum ada pelindung kaki secanggih sekarang. Tidak ada sandal kenamaan dan sepatu kulit yang melindungi dengan kenyamanan. Sehingga boleh jadi, kedua telapak kaki Hajar terbakar dan merah. Tidak menutup kemungkinan malah lecet-lecet. Nggak kebayang, betapa perihnya jika demikian.

Hajar bolak-balik, jatuh bangun hingga tujuh kali. Berkeingat dan kehausan. Lalu, ketika Hajar mulai menyerah, ia mendekati anaknya, Ismail. Si anak yang masih bayi, terus menangis karena lapar dan haus sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Ajaib! Tepat di tempat hentakan kaki Ismail itu, kemudian memancarlah air yang bersih dan menyegarkan.

Kita mengenalnya sekarang sebagai air zam-zam. Salah satu bukti kekuasaan Allah di dunia bagi orang-orang yang berpikir.

Mendapati cicak berlari bolak-balik nggak karuan tadi siang, yang terlintas di kepala adalah kisah Hajar dan Ismail.

Jika semua yang terjadi kepada saya adalah karena kehendak Allah, maka siang tadi, barangkali Allah ingin mengajarkan kepada saya tentang pentingnya bekerja keras dan pantang menyerah. Teruslah mencoba dan jangan mudah putus asa.

Seperti cicak itu, mungkin ia melihat nyamuk di ujung sana, makanya ia berlari mengejar. Eh, setelah sampai, malah tidak ada siapa-siapa. Yang ia kira nyamuk, hanya senoktah noda berwarna hitam yang entah apa. Cicak memalingkan wajah lagi, di tempat ia semula, dipandangnya, seperti ada mangsanya disana. Berdiri lengah.

Ia kejarlah kesana. Berlari sekuat tenaga agar bisa melahapnya dengan segenap daya. Malang, ia kembali mendapati tidak ada apa-apa.

Tapi pelajaran dari cicak itu, yang saya yakin berasal dari Allah, bukanlah tentang kesia-siaan. Cicak tersebut mengajarkan tentang kerja keras. Masa depan memang tidak jelas. Tapi itu tidak penting. Tetap kejar dan gapailah apa yang sudah direncakan dan seakan terlihat oleh kita. Lalu, jika di depan sana ada kegagalan yang menyapa, segera bangkit dan berlari lagi. Jangan mudah menyerah dan putus asa.

Setiap kerja dan usaha, tidak akan pernah terbuang percuma. Selalu ada keberhasilan yang datang tersebab apa yang sudah kita upayakan. Ia mungkin memang tidak datang dari tangan dan peluh kita, tapi dari orang lain yang kita sayang. Dari istri dan anak-anak barangkali. Dari saudara atau kerabat yang kita cintai.

Seperti Hajar!

Ia yang berlari tujuh kali bolak balik Shafa-Marwah. Ia yang lelah dan bersusah payah. Ia yang mengejar air, berharap bisa mengambilnya dengan tangan, lalu menuangkannya pelan-pelan ke kerongkongan keringnya Ismail

Tapi apa? Usahanya tidak menghasilkan apapun kecuali keringat dan kepayahan yang sangat.

Sekali lagi, Allah selalu benar. Kebaikan selalu berbalas kebaikan. Kerja keras yang ikhlas selalu dihadiahi keberhasilan, dari arah yang tidak terduga-duga malah.

Begitulah seharusnya kita, jangan mudah angkat tangan dan balik kanan. Selalu gigit kuat mimpi dan harapan. Jangan mudah menyerah, tetaplah berusaha dengan upaya yang indah. Suatu hari nanti, yakin saja, pasti ada keberhasilan yang akan kita dapat. Entah dari usaha yang memang kita kerjakan, atau dari orang lain di sekitar kita yang kita sayang.