Lulusan Smart Ekselensia Diharapkan Jadi Agen Perubahan

Corporate Communication Dompet Dhuafa, Dian Mulyadi menambahkan, sekolah SMART Ekselensia Indonesia tidak ingin melahirkan anak-anak yang pintar di bidang akademis saja, tapi setelah terjun ke masyarakat seperti orang asing. Maka mereka diajari berbagai budaya dan akulturasinya, sehingga mereka mudah berdapatasi di tengah masyarakat.

Maka lulusan SMART Ekselensia Indonesia diharapkan dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Anak-anak SMART Ekselensia Indonesia sejak duduk di bangku SMP sudah praktik membuat proyek sosial. Jadi selama lima tahun sekolah di SMART Ekselensia Indonesia, minimal para siswa sudah membuat lima proyek sosial.

Ia mencontohkan, saat terjadi pembakaran masjid di Kabupaten Tolikara, Papua. Anak-anak SMART Ekselensia Indonesia ditantang kepeduliannya. Akhirnya mereka membuat mini konser amal di Stasiun Bogor. Mereka meminta izin kepada pihak kepolisian dan mempersiapkan berbagai kebutuhan acara konser tersebut

“Hanya satu jam mereka konser, terhimpun dana jutaan rupiah, disalurkan ke Dompet Dhuafa untuk Tolikara, mereka juga membuat program sosial untuk anak-anak sekitar, melalui program SMART mengajar,” jelasnya.

Dian berharap, anak-anak lulusan SMART Ekselensia Indonesia tumbuh jiwa kepemimpinan dan sosialnya. Hal yang paling penting, anak-anak harus sadar mereka punya tanggungjawab terhadap masyarakat setelah mereka sukses nanti. Sehingga mereka bisa berguna untuk masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Petuah dari penumpang angkot

Petuah Hidup dari Penumpang Angkot

Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.00. Aku baru saja selesai berobat di Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di Ciputat. LKC adalah lembaga kesehatan nonprofit di bawah naungan Dompet Dhuafa yang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Hujan deras mengguyur kawasan Ciputat mengakibatkan diriku berteduh di sana. Padahal, sesuai izinku, harusnya aku sudah berada di asrama SMART Ekselensia Indonesia.

Setelah aku keluar dari LKC, tak satu pun angkot 29 jurusan Parung-Ciputat yang terlihat berlalu lalang. Aku lirik jam tanganku, sudah pukul 17.30. Tidak terasa hari mulai petang. Lampu-lampu gerobak para tukang gorengan sudah menyala menunggu pengunjung yang datang ke lapaknya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ke LKC tanpa ada teman dari SMART.

Alhamdulillah, sebuah pertolongan dari Allah datang. Beberapa menit kemudian setelah lama aku menunggu, angkot 29 jurusan Parung-Ciputat tampak di jalanan Ciputat. Aku langsung bergegas naik ke dalam angkot, sembari menahan rasa dingin yang kurasakan karena bajuku basah kuyup di terjang air hujan.

Ketika di dalam angkot, aku tersadar menjadi pusat perhatian para penumpang. Mereka seakan berpikiran, “Ngapain nih anak jam segini baru pulang, mana bajunya basah lagi.” Tak kuhiraukan perhatian mereka kepadaku. Aku santai saja menikmati perjalanan. Aku melihat keluar kaca mobil angkot, terlihat genangan air membanjiri jalanan Ciputat. Kemacetan pun tak terelakkan. Aku pun harus rela menunggu angkot yang aku tumpangi keluar dari rantai kemacetan ini.

Jam tanganku telah menunjukkan pukul 18.00. Setelah beberapa waktu tertidur di dalam angkot, akhirnya aku sampai di Pasar Raya Parung. Kulihat orang-orang berlalu lalang di jalanan pasar bergegas lari dari rintik hujan. Lampu-lampu yang ada di gerobak pedagang kaki lima sangat menyilaukan mataku sehingga tanpa sadar aku salah menapakkan kaki. Sepatuku kotor terjerembab ke dalam lumpur jalanan Pasar Parung. Jalanan yang basah dan becek menyulitkan langkahku untuk terus berjalan mencari angkot 06 jurusan Parung-Bogor.

Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan juga angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Aku langsung masuk angkot.

Di dalam angkot, kulihat para penumpang memasang muka kelelahan dan kedinginan. Muka yang telah membuktikan kerja keras mereka dalam bekerja mulai pagi hingga petang. Inilah kehidupan, butuh perjuangan agar tetap bertahan.

Di antara deretan penumpang angkot kulihat sosok seorang nenek tua yang menurutku sedang gelisah. Ia terus saja berbicara sendiri tanpa ada yang memberi perhatian kepadanya. Hingga akhirnya ia membuka percakapan denganku.

“Nak, sekolah di mana?” Tanya si nenek kepadaku.
SMART Ekselensia Indonesia, Nek.” Jawabku dengan nada polos.
“Nak, Nenek ini sekarang hidup sendiri,” ujar si nenek kepadaku dengan nada sedih.
“Hmm….” Ujarku dengan santai.

Detik berikutnya, aku hanya bisa diam tanpa dapat berkata-kata. Mukaku tertunduk hanya bisa mendengarkan cerita nenek itu. Ia terus saja berbincang denganku. Para penumpang tak acuh dengan yang diceritakannya. Hanya aku yang merasa simpati dengan apa yang terjadi pada si nenek.

“Nak, Nenek baru habis jatuh. Lutut Nenek luka. Nenek udah enggak punya siapa-siapa lagi. Anak-anak Nenek udah pada nikah. Setiap kali anak Nenek yang pertama datang ke rumah, kerjaannya marah-marahin nenek terus. Dipukullah, ditendanglah. Nenek enggak pernah dikasih duit sama mereka.”

Nenek kalau mau makan ngarepin dari tetangga. Di rumah itu kadang ada makanan, kadang enggak ada. Anak-anak Nenek itu udah enggak pernah jenguk lagi. Cuma si anak yang pertama yang sering ke rumah. Itu pun niatnya mau ngusir Nenek dari rumah. Katanya, rumah Nenek mau dijual buat kepentingan dia. Sekarang saja Nenek cuma punya uang dua ribu buat pulang. Enggak ada uang lagi buat makan.” Nenek itu berkata dengan nada penuh kecewa.

“Memangnya rumah Nenek di mana?” Tanya salah satu penumpang.
“Jampang, Pak. Tolong, Pak bantuin Nenek. Nenek lagi kena musibah,” pinta nenek itu dengan rasa sedih.
“Iya… Iya. Sekarang Nenek pegang saja itu uang dua ribu. Biarin Bapak saja yang bayar ongkos pulang Nenek,” kata si penumpang yang bertanya tadi.
“Makasih, makasih, Pak. Nenek udah enggak punya uang lagi.” Nenek itu tampak bungah.
Iya… Iya… udah nenek tenang saja,”ujar si penumpang.
Aku hanya bisa kembali diam. Duduk termangu mendengarkan penuturan nenek tua itu. Tapi, nenek itu mengajakku berbincang.
Nak, pamali kan durhaka sama orangtua?” tanyanya kepadaku.
“Iya, Nek,” jawabku dengan singkat.
“Itu si Sinyo kerjaannya marah-marah terus sama Nenek. Nenek doain kalau hidupnya melarat. Doanya ibu kepada anaknya itu bener kan ya, Nak?”

“Iya, Nek,” ujarku dengan rasa was-was.
Begitu kecewanya si nenek terhadap anak-anaknya hingga ia mendoakan anaknya dengan doa yang tidak baik. Setahuku, doa ibu itu paling mujarab mengingat berkat jasanyalah kita dapat hidup di dunia ini. Tidak sepatutnya kita melecehkan kehidupannya. Kita harus tetap memerhatikannya walaupun sudah berkeluarga.

Perlahan-lahan aku mulai melihat bangunan kokoh berwarna hijau yang terpampang jelas di mataku. Akhirnya aku telah sampai di kampus SMART Ekselensia Indonesia. Aku pun pamit kepada si nenek.
“Nek, aku pamit dulu ya.”
“Iya. Nenek pesen: jangan pernah durhaka sama orangtua ya.”

Aku pun langsung memberikan kode kepada supir angkot untuk berhenti. Setelah itu aku membayar ongkos. Lantas, aku masuk ke lingkungan SMART. Kulirik lagi jam tanganku: pukul 19.15. Aku belum Shalat Maghrib. Aku pun bergegas ke masjid dan langsung menunaikannya.

Setelah shalat, sejenak aku memikirkan ungkapan hati nenek di angkot tadi. Ia begitu kecewa dengan perbuatan anak-anaknya. Ini menjadi perjalanan kehidupanku. Aku harus berpikir kembali, untuk apa aku hidup dan dedikasi apa yang harus aku torehkan sebelum nantinya aku meninggalkan dunia ini. Pertemuan dengan nenek tadi menjadi cambuk semangatku untuk menghargai hasil jerih payah seorang ibu sekaligus pemicu semangatku untuk menatap masa depan yang lebih indah. Jangan sampai kita menjadi hamba Allah yang kufur nikmat yang tak menghargai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Yang terjadi pada si nenek di angkot menjadi pelajaran dan petuah kehidupan bagi diriku khususnya dalam bersungguh-sungguh menjalani hidup ini. []

Kontributor : Muh. Ikhwanul Muslim (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

Cerita SMART Ekselensia Indonesia

Tumbuh Bersama dalam Inkubator

Mengulang Ingatan

Tiba-tiba mata Kakak tertuju pada tumpukan koran bekas di kolong tempat duduk warung nasi. Entah karena pang­gilan dari mana ia tertarik dengan tumpukan koran usang tersebut. Padahal, sebelumnya sekalipun ia tidak pernah ter­tarik untuk mengotak-atik apalagi membaca tumpukan koran bekas.

Dibukanya ikatan tali plastik yang mengikat rapi koran dengan perlahan. Dipilihnya lipatan koran paling bagus di an­tara semuanya, lalu setelah dipilih ia buka lipatan koran itu secara perlahan. Ia perhatikan lembar demi lembar hingga sebuah iklan di pojok kolom menarik perhatiannya. Kakak tersenyum. Diambilnya gunting dari tas, lalu dengan hati-hati ia gunting kolom iklan itu. Tampaknya iklan itulah yang sejak tadi memanggil-manggil Kakak.

“Ya, mungkin dengan potongan iklan 5×4 cm itu dapat mengubah kondisi keluarga saya,” gumam Kakak. Sejurus ke­mudian ia teringat dengan perjuangan adik paling kecilnya.

Seribu rupiah mungkin hanya nilai yang kecil bagi banyak orang, tetapi justru karena seribu rupiah itulah si adik terkecil sering berjalan empat kilometer berangkat sekolah. Demi seribu rupiah itu si adik terkecil memulung tumpukan sampah sekitar kampung. Suatu hari sang adik bercerita bah­wa ketika lapar ia pernah hampir memakan kertas. Bukannya terlihat sedih, ia malah tertawa meskipun takut kalau makan kertas ia bisa sakit. Untuk itu, ia menggantinya dengan berimajinasi makan makanan enak sambil terus menjilati sendok.

Setetes air yang menggenang di pelupuk mata menyadar­kan Kakak dari lamunannya.

Adikku pasti bisa sekolah tinggi, ia harus mencoba seleksi masuk sekolah ini,” gumamnya sembari menggenggam erat potongan iklan.

Empat bulan kemudian, si adik dinyatakan lulus.

Andaikan kehidupan merupakan cakram DVD, ia akan memutar balik adegan lima tahun berikutnya di SMART Ekselensia Indonesia. Begitu banyak hikmah yang patut dikenang. Tak terasa si adik telah menghabiskan waktu lima tahunnya yang berharga di sana. Adik kecil itu tidak lain adalah saya.

Sebuah Pertanyaan Retorik

Satu hal yang terus menjadi pertanyaan retorik dalam pikiran saya mengenai SMART Ekselensia Indonesia, mengapa sekolah ini begitu idealis? Di saat sekolah lain li­bur, sekolah ini masuk. Di saat sekolah lain masuk, sekolah ini libur. Saat sekolah berasrama lain memberikan kesempatan leluasa kepada siswanya untuk bertemu keluarga, sekolah ini malah memberikan waktu liburan ‘hanya’ tiga minggu tiap tahun. Dan di saat sekolah lain punya heterogenitas gender, sekolah ini tumbuh bangga dengan homogenitasnya dengan hanya menerima siswa dari kaum Adam.

Idealis tersebut tidak hanya diwujudkan dalam sistem yang bersifat abstrak, perangkat yang berada di dalamnya pun hidup beriringan dengan menciptakan sebuah kausalitas yang membingungkan: sistem yang sengaja dibuat idealis un­tuk memaksa anggota berlaku idealis, ataukah anggota yang idealis yang memaksa sistem berlaku idealis.

Idealisme para ustadz dan ustadzah SMART Ekselensia Indonesia saya rasakan ketika saya belum mengerti kosakata idealisme itu sendiri, yakni ketika saya masih siswa baru. Ke­tika baru pertama kali masuk di SMART, seperti di film Indiana Jones, saya seperti melihat dunia baru yang sebelumnya be­lum pernah saya temukan. Lingkungan tempat saya pertama kali melihat sekelompok manusia yang selalu tersenyum, sa­bar dalam mengayomi, lingkungan yang tidak ada kosakata ‘materi sentris’ di dalamnya, dan lingkungan yang tidak per­nah ada kata lelah dalam berbagi untuk sesama.

Saya memiliki rasa sensitif yang tinggi dan saya melihat fenomena ini sebagai fenomena yang aneh. Bayangkan, sebe­lumnya ketika masih tinggal di Medan dan Jakarta, saya tidak pernah melihat bahkan mendengar kisah sebuah lingkungan yang memiliki asas kebermanfaatan dan kemanusiaan yang tinggi. Bukan sekadar pleonasme. Seperti sebuah legenda, lingkungan SMART Ekselensia Indonesia menurut saya memang seperti lingkungan yang sangat langka yang orang lain dapat temukan di muka bumi ini.

Butuh proses beradaptasi dengan lingkungan mul­tikultural seperti di SMART Ekselensia Indonesia mengingat siswanya berasal dari berbagai latar belakang dan budaya. Saya pribadi membutuhkan waktu sekitar satu semester untuk memahami situasi di SMART. Saya orang Medan. Orang Medan terkenal dengan ketegasannya dan selalu bicara apa adanya. Budaya bicara apa adanya ini terasa begitu pedas bagi orang yang belum pernah bersinggungan dengan kami. Beberapa bulan pertama merupakan waktu yang berat dalam beradap­tasi. Saya terus berusaha menekan ego khas orang Medan saya serendah-rendahnya. Gaya bicara nyelekit saya ubah sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, dengan bantuan wali asrama dan para guru, saya dapat melewati tahap beradaptasi ini.

Guru Ikhlas

Jika disuruh mengatakan satu kata yang cukup untuk mewakili SMART Ekselensia Indonesia, saya akan berkata: keikhlasan. Merupakan sebuah keberuntungan yang besar bagi saya dapat hidup dengan sosok-sosok yang begitu luar biasa ikhlasnya dalam menjalani amanah sebagai tenaga pen­didik. Dulu, ketika saya masih menjalani pendidikan di kam­pung halaman, hanya ada dua tipe guru yang saya kenal: guru kejam dan guru baik. Kenapa saya lebih dahulu mengatakan guru kejam? Ya, sebab mereka sangat memorable sekali di alam pikiran saya. Bagian tata usaha sekolah sampai harus membeli penggaris kayu sebulan sekali akibat ulah guru-guru tersebut.

Setelah saya di SMART, saya mengenal tipe guru ketiga: guru ikhlas. Bayangkan, ketika saya rindu dengan sosok orang­tua nun jauh di sana, guru-guru dapat berperan seakan orang­tua saya sendiri. Ketika saya butuh teman diskusi, guru-guru dapat berperan seperti selayaknya seorang teman dekat. Ti­dak ada anggapan saya lebih pintar dari murid saya, dan Anda selaku murid harus mengiyakan apa kata saya ucapkan karena saya lebih pintar. Tidak ada. Semua guru di SMART Ekselensia Indonesia merupakan teman diskusi paling nyaman. Mereka mendengarkan sekaligus memberikan bimbingan dengan be­gitu sabar dan lembut.

Ya, guru-guru SMART seperti pemeran dalam sebuah si­netron kehidupan. Sinetron sering kali lebay, guru-guru saya ini pun sangat lebay dalam mengayomi siswa. Betapa tidak lebay, sering kali mereka menyisihkan waktu berharga mereka dengan keluarga di rumah hanya untuk mengurus nilai atau sekadar mendampingi lomba siswa. Sering kali adegan dalam sinetron merupakan imajinasi yang tak pernah tersen­tuh dalam realitas nyata. Begitu pun guru-guru SMART, sikap mereka seperti hanya mengambang dalam imajinasi. Bedanya dengan sinetron, imajinasi itu terimplementasikan dalam re­alitas nyata. Guru SMART pun sangat pintar berganti peran dari seorang guru, menjadi seorang teman, malah tak jarang pula tampak seakan sahabat karib.

Kadang tebersit pertanyaan di kepala saya, sebera­pa pentingkah saya dan teman-teman saya bagi mereka sam­pai membuat mereka rela mendampingi kami hingga lembur tanpa digaji? Seberapa pentingkah kami di mata guru-guru ini hingga mereka rela menyisihkan waktu berharganya dengan keluarga? Kalau kenyataannya demikian, apakah kami meru­pakan bagian dari keluarga mereka? Saya terharu ketika sendirian memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Ternyata masih ada keluarga di tanah rantau yang sungguh asing bagi kami bocah-bocah dari pelosok Indonesia.

Kenapa kita selalu berbeda dengan sekolah lain?” Ung­kap salah seorang ustadz dalam tausyiah apel pagi.

“Karena kita satu dua langkah lebih maju dibanding­kan teman-teman kita di luar sana. Mereka mungkin sekolah diantar orangtuanya, bisa keluar lingkungan pendidikan ka­pan saja mereka mau, sedangkan kalian hanya sekali dalam seminggu diperbolehkan keluar. Mereka diberi uang jajan tiap hari, tak perlu repot-repot mencuci baju sendiri karena sudah dicucikan orangtua atau pembantu.”

“Kalian berbeda! Kalian melakukan semuanya dengan mandiri, dengan disiplin tinggi. Kalian jauh dari handai tolan, bahkan hanya sekali dalam setahun kalian bertemu dengan sanak saudara. Akan tetapi, ini adalah proses untuk mem­bayar kesuksesan besar kalian di masa depan!”

Ustaz tersebut kembali menambahkan.

“Insya Allah, dengan penggodokan dalam sebuah inku­bator ilmu selama lima tahun, kawah candradimuka SMART Ekselensia ini akan menghasilkan generasi peduli dan berkarakter sehingga dapat berkontribusi positif aktif bagi kemajuan bangsa Indonesia!”

Tausyiah pagi tersebut ditutup dengan riuh tepuk tangan para siswa peserta apel pagi. Ada yang tepuk tangan karena mengerti esensi tausyiah ustaz tersebut, ada yang ikut-ikutan, ada pula yang hanya sebatas ironi. Golongan terakhir ini yang sering meratapi nasib ‘kurang beruntung’ mereka dibanding­kan teman-teman di luar sekolah SMART Ekselensia Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, entah itu masih sebagai siswa atau ketika sudah alumnus, golongan ironi ini akan sa­dar dan melakukan yang terbaik sebagai ucapan terima ka­sih mereka kepada para ustadz dan ustadzah serta Dompet Dhuafa Pendidikan selaku pucuk organisasi sekolah SMART. []

Kontributor : Kurnia Sandi Girsang

SMART Ekselensia Indonesia

Manajemen Sekolah Kelas Dunia

Dalam perjalanan mewujudkan visi sebagai Sekolah Kelas Dunia, SMART Ekselensia Indonesia membuat sistem manajemen profesional pengelolaan sekolah. Upaya ini juga untuk mematahkan stigma buruk bahwa manajemen sekolah bagi kaum papa selalu dikelola seadanya.

SMART menolak stigma itu. Tidak cukup siswa marjinal sekadar bisa bersekolah, lebih dari itu mereka diharapkan menghadirkan kemampuan berprestasinya. Untuk itulah, input, proses, dan output yang terlibat dalam SMART harus berkualitas. Dari input (siswa dan guru) yang berkualitas, dan proses (kurikulum, metode pembelajaran, infrastruktur) yang berkualitas pula, diharapkan hadir output yang berkualitas. Dengan hadirnya output berkualitas, terputus pula rantai kemiskinan yang ada di tengah masyarakat.

Sri Nurhidayah dalam kertas ilmiahnya yang berjudul

“Intelligence Optimalization for Marjinal Student; Case Study on Students of SMART Ekselensia Indonesia”, menyebutkan bahwa optimalisasi inteligensi siswa yang berasal dari keluarga miskin adalah sebuah proses yang melibatkan banyak pihak, termasuk lingkungan pendidikan. Modifikasi lingkungan dan fungsi guru (sekolah dan asrama) menjadi sebuah keharusan.

Pendidik Visioner

SMART memiliki guru-guru tetap dengan latar belakang pendidikan minimal S-1 dari berbagai kampus terkemuka di Indonesia, seperti UI, ITB, UGM, dan IPB. Keteladanan adalah hal yang selalu dibuktikan oleh para guru ke dalam gerak-gerik keseharian mengingat SMART menghendaki mereka menjadi model bagi para peserta didik. SMART memberikan ruang kepada guru-guru untuk tidak sekadar mengajar, namun juga memberikan arti lebih dalam dari sebuah makna mendidik. Guru-guru SMART tidak hanya memberikan pelajaran di kelas, namun juga memberikan pendidikan moral dan karakter di luar kelas. Dengan demikian, guru-guru SMART memiliki karakter sebagai pendidik yang patut digugu dan ditiru oleh siswanya.

Sebagai sekolah model bagi anak-anak marjinal, tentu memiliki tantangan tersendiri bagi setiap guru SMART. Oleh karena itu, setiap guru SMART dilatih dan dikondisikan untuk menjadi figur yang bersikap optimis, bersemangat, dan penuh kerja keras.

Dalam pertemuan rutin pun, guru senantiasa diingatkan tentang visi dan misi SMART. Demikian pula dalam pelbagai training pengembangan SDM SMART, guru selalu diingatkan tentang tugas dan tanggung jawabnya bagi anak-anak Indonesia yang kelak menjadi pemimpin- pemimpin bangsa. Jadi, selain menjadikan para siswa sebagai manusia unggul dan berkarakter, SMART pun menghendaki para guru sebagai manusia visioner.

Anak-anak Cerdas

Peserta didik di SMART adalah anak-anak cerdas yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia dengan latar belakang adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda. Dengan latar belakang keluarga marjinal, siswa SMART mempunyai tekad yang kuat untuk belajar. Kondisi yang jauh dari keluarga menjadikan siswa SMART terlatih untuk mandiri dan gigih
belajar. Dalam kesehariannya, siswa SMART terbiasa untuk saling menyemangati satu sama lain, baik dalam kehidupan akademis ataupun non-akademis. Mereka berupaya untuk berprestasi bersama-sama; bukan melangkah maju seorang diri. Hasilnya, siswa SMART mampu mencapai kelulusan Ujian Nasional tanpa meninggalkan satu orang pun rekan mereka yang gagal. Demikian pula saat mereka bersama-sama berhasil meraih kursi PTN favorit.

Stimulasi Potensi

Infrastruktur disediakan untuk menstimulasi potensi dan kreativitas semua warga SMART. Untuk memenuhi kebutuhan kognitif siswa, SMART memberikan dukungan penuh dengan menyediakan sistem Moving Class, Ceruk Ilmu, dan fasilitas buku yang lengkap di Pusat Sumber Belajar Untuk memberikan ruang yang luas bagi kebutuhan psikomotorik siswa, SMART menyediakan laboratorium kom puter dan laboratorium MIPA. Adapun untuk memenuhi kebugaran fisik serta kebutuhan kreativitas dan afektif siswa, SMART memiliki sendiri lapangan olahraga (sepak bola, futsal, basket) dan peralatan musik (gitar, organ, biola, arumba, trash music).

Mimpi Anak Marjinal

Mimpi Anak Marjinal untuk Dunia

Pada dasarnya pendidikan merupakan hak asasi semua warga negara Republik ini. Tanpa terkecuali bagi anak-anak marjinal. Kondisi ekonomi yang membelit keluarga menghilangkan kesempatan mereka untuk sekolah. Cita-cita yang lazim diinginkan anak-anak seusia mereka pun seolah tidak berhak diraih. Padahal, mereka juga mengharapkan kehidupan layak seperti anak-anak lainnya. Inilah kondisi yang pahit dirasakan oleh anak-anak marjinal di tanah air. Panggilan untuk mengangkat bakat dan harkat anak-anak marjinal itulah yang melatari lahirnya SMART Ekselensia Indonesia.

Bakat dan harkat anak-anak marjinal itu dapat diangkat ke permukaan apabila pendidikan yang diberikan kepada mereka dilakukan dengan baik dan benar. Kehadiran SMART tidak ingin sekadar menjadi sekolah bebas biaya namun abai pada soal kualitas. Selain akses pendidikan yang tidak merata, kualitas guru yang rendah melengkapi potret gelap dunia pendidikan kita. Tidak heran bila dunia pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan negaranegara maju. Karena kualitas gurunya rendah, tidak aneh bila kualitas anak didiknya pun tidak berbeda jauh.

Wajah pendidikan di tanah air juga masih dihiasi kenyataan bahwa siswa dibebani untuk lebih mengejar capaian-capaian akademis. Tidak banyak sekolah yang memilih untuk mengedepankan pembangunan karakter siswa. Akibatnya, maraklah fenomena sontek massal dalam pelaksanaan Ujian Nasional, tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba, hingga pergaulan bebas.

Menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, sekolah butuh guru yang berkualitas dalam pengajaran sekaligus juga mampu menjadi model bagi siswa. Dua hal ini mutlak adanya untuk membentuk karakter dan prestasi siswa, tidak terkecuali anak-anak marjinal. Sejak didirikan, para pengelola SMART optimis bahwa SMART merupakan modal dasar yang penting untuk memberikan nilai dan karakter kepada anak-anak marjinal. Dalam kondisi pendidikan nasional jauh dari ideal untuk menanamkan nilai dan karakter, SMART memilih untuk membina siswa lulusan SD. Selain sudah bisa dilatih untuk tidak bergantung kepada orangtua masingmasing, siswa pada usia ini lebih mudah dibina sehingga nilai dan karakter dapat tertanam sejak dini.

Menempa Mental

Pembinaan nilai dan karakter diutamakan karena lulusan SD yang masuk SMART memang dipersiapkan untuk mengikuti program akselerasi. Setamatnya dari jenjang SMA, pendidikan bagi mereka masih berlanjut. Mereka tidak dicetak untuk hanya berpuas diri karena mampu lulus SMA, kemudian menjadikannya sebagai modal untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, mereka justru dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bonafide di dalam dan luar negeri. Untuk membina dan menempa nilai dan karakter sekolah kepada siswa, SMART didesain sebagai sekolah berasrama (boarding school). Sistem sekolah berasrama cocok untuk mengondisikan para siswa agar fokus menggapai mimpimimpinya.

Melalui sekolah berasrama, siswa tidak sekadar dibina secara nilai dan karakter, namun juga disiapkan untuk menempuh pendidikan akselerasi, yakni menyelesaikan jenjang pendidikan SMPSMA selama 5 tahun. Siswa ditempatkan di asrama karena akan memudahkan dalam pengayaan materi pelajaran. Saat yang sama, lebih efektif dan efisien secara waktu karena konsentrasi mereka dilatih agar terpusat pada aktivitas belajar.

Penerapan program akselerasi di SMART dapat dilakukan karena dalam setiap pelajaran memuat materi esensial dan non-esensial, sebagaimana yang diatur dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Nasional. Dengan menerapkan skala prioritas di antara materi esensial dan non-esensial, pemberian pelajaran dapat diefisiensikan sekaligus diefektifkan. Dengan demikian, masa pendidikan yang umumnya 6 tahun dapat ditempuh dalam waktu 5 tahun tanpa ada pengurangan kualitas pengajaran ataupun prestasi akademis peserta didik. Ringkasnya, program akselerasi di SMART bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa secara lebih komprehensif dan optimal, serta mengembangkan kreativitas siswa secara optimal.

Merawat Keragaman

Siswa SMART berasal dari seluruh penjuru tanah air. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang ekonomi keluarga. Keragaman menjadi niscaya seiring bertemunya anak-anak berbakat itu di SMART. Menghadapi perbedaan suku, bahasa, bahkan karakter, SMART memiliki kiat-kiat khusus untuk mendayagunakannya sebagai sebuah kekuatan. SMART membiasakannya semua warganya untuk bersikap toleran dan saling menghargai perbedaan yang ada. Dalam pembelajaran, siswa selalu diingatkan dan disadarkan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memiliki kewajiban menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang besar. Siswa juga belajar untuk menghargai adat istiadat tempatnya berasal. Rasa keindonesiaan yang kental dalam lingkungan SMART membuat mereka siap menghadapi kehidupan global yang tanpa sekat seperti saat ini. Efek teknologi yang sangat pesat menjadikan batas-batas geografis sebuah negara tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk dapat menjalin hubungan, termasuk pada siswa yang berlatar belakang dari keluarga marjinal.

Kesadaran ini dibangun di SMART untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa bahwa mereka bukan saja pantas maju sebagai warga Indonesia, tapi juga sebagai warga dunia. Dengan demikian, siswa SMART mampu menjadi pemimpin global dengan tetap memegang warna keindonesiaannya

Menuju Sekolah Kelas Dunia

Pada awal berdiri, SMART sudah berkreasi mengembangkan program khas yang diimplementasikan di sekolah dan akan dikontribusikan bagi dunia pendidikan di tanah air. Bentuknya berupa pembentukan karakter, kepemimpinan, wirausaha, program kemandirian, program interaktif dengan masyarakat, serta penanaman disiplin. Saat awal berdiri, para siswa SMART sudah dicitakan tidak hanya menduduki kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) berkelas di tanah air, namun juga di kampus-kampus mancanegara. Untuk mencapainya, siswa SMART sudah dikondisikan dengan penggunaan dwibahasa (bilingual). Tidak ada yang salah dengan mendorong anak-anak marjinal untuk terus menggapai impiannya yang setinggi langit sekalipun. Terbukti siswa-siswa dari pelbagai penjuru tanah air itu mampu menembus ketatnya persaingan menjadi mahasiswa kampus negeri favorit. Sampai saat ini, SMART masih mempertahankan tradisi setiap tahun lulusannya 100 persen dapat menembus PTN terbaik dan berakreditasi A. Atas capaian yang ada itu, segenap jajaran di SMART tidak ingin berpuas diri. Masih ada capaian yang perlu dituju: menjadikan SMART sebagai Sekolah Kelas Dunia (World Class School).

Untuk menjawab visi menjadi Sekolah Kelas Dunia, SMART membuat beberapa strategi, yakni menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing global, menjalankan sistem pendidikan terbuka dan diakui dunia, menyiapkan fasilitas dan teknologi yang bernuansa budaya global, menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global, serta membangun jaringan dengan seluruh pemangku kepentingan. []

Menjadi SAhabat Bagi SIswa

Menjadi Sahabat bagi Siswa

Dalam mengajar dan mendidik anak-anak SMART Ekselensia Indonesia, saya selalu menekankan aspek ibadah dan akhlak mulia. Bukan hanya karena saya mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), namun memang bagi saya tujuan belajar adalah agar siswa benar dalam beribadah dan memiliki akhlak mulia. Ini selalu saya sampaikan kepada anak-anak. Anak-anak sudah paham jika pelajaran PAI, maka mereka harus mengambil air wudhu terlebih dahulu. Kemudian, sebelum pelajaran dimulai, saya mengajak anak-anak untuk berzikir dan berdoa. Mudah mudahan materi pelajaran yang dipelajari hari itu menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah.

 “Siapa yang belum wudhu?” tanya saya satu hari ketika akan memulai pelajaran.

“Aldo dan Johan, Ustadz,” jawab Ridho menyebutkan teman-temannya yang belum berwudhu.

Saya memandang ke arah Aldo dan Johan. Keduanya segera menuju tempat wudhu. Rupanya mereka sudah paham dengan isyarat pandangan mata saya. Tidak lama keduanya telah kembali ke masjid (kami biasa belajar PAI di masjid) dengan wajah yang basah dengan air wudhu.

“Baiklah, seperti biasa kita mulai berzikir dan berdoa terlebih dahulu,” terang saya.

Anak-anak mulai berzikir diawali dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Lalu, berzikir kalimat tahlil seratus kali dan ditutup dengan doa sesuai hajat masing-masing. Kegiatan ini berlangsung sekitar 10-15 menit. Bagi saya, tak masalah memberikan waktu 10- 15 menit untuk melakukan kegiatan ini di awal pembelajaran karena manfaatnya yang besar.

Pertama kali saya memberlakukan kegiatan ini, sebagian anak-anak protes.

Ustadz, kenapa sih kalau pelajaran Ustadz kita harus berwudhu dulu, lalu berzikir dan berdoa?” protes beberapa anak.

“Kamu tahu kisah Imam Syafi’i yang mengadukan hafalannya yang lemah kepada gurunya, Imam Waqi’?” tanya saya.

“Belum tahu, Ustadz!” sahut mereka serempak.

 “Begini, Imam Syafi’i pernah mengadukan hafalannya yang lemah kepada Imam Waqi’ gurunya. Lalu, Imam Waqi’ menjawab, ‘Ilmu itu cahaya Allah. Dan ia tidak diberikan kepada pelaku maksiat’.”

Kalian bayangkan,” terang saya lagi, “seberapa kecilnya maksiat yang dilakukan oleh Imam Syafi’i? Tapi, beliau masih merasa hafalannya lemah. Padahal, Imam Syafi’i hafal Al- Qur`an 30 juz, 12 kitab Al Muwatha` karya Imam Malik, dan puluhan kitab lainnya. Terapi itulah yang diberikan gurunya agar Imam Syafi’i menjauhi maksiat.

“Oh, kami paham. Jadi, kita berwudhu, berzikir, danberdoa sebelum belajar agar dosa-dosa yang kami lakukan diampuni oleh Allah sehingga ilmu yang kami pelajari dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat. Gitu kan, Ustadz?” sahut Zuhad.

Yes, that’s point,” tegas saya.

Setelah menyadari penting dan manfaatnya, mereka tidak pernah protes lagi. Mereka berusaha selalu berwudhu, berzikir, dan berdoa sebelum belajar PAI. Semoga selanjutnya menjadi terbiasa untuk berwudhu, berzikir, dan berdoa setiap kali akan belajar. Awalnya dipaksa, lama-lama jadi bisa dan terbiasa, akhirnya menjadi habit dan value.

Cara pandang saya tentang belajar rupanya membuat beberapa anak sangat tertarik untuk mengobrol dan sharing. Beberapa anak yang cukup sering mengobrol dan sharing dengan saya adalah Fajar Sidiq, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan. Banyak hal yang mereka curhatkan kepada saya. Tapi, lebih banyak tentang masa depan, impian, dan cita-cita.

Fajar adalah anak yang suka berorganisasi. Ia pernah menjadi presiden OASE SMART Ekselensia Indonesia. Ia juga tertarik dengan dunia tulis-menulis. Ketika menulis Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS), saya dan Ustadz Andi Rahman menjadi pembimbingnya.

“Fajar, kamu tulis KISS-nya dengan serius. Nanti, Ustadz akan terbitkan jadi buku,” tantang saya ketika itu.

“Wah berat, Ustadz, tapi saya akan usahakan,” jawab Fajar.

“Kamu pasti bisa menulis dengan baik. Kamu akan menjadi siswa pertama yang KISS-nya diterbitkan menjadi buku,” tegas saya.

Alhamdulillah, Fajar berhasil menulis KISS-nya dengan baik, dan diterbitkan menjadi buku. Buku karyanya diluncurkan saat ia wisuda. Bukan hanya itu, KISS yang ditulis Fajar juga terpilih sebagai KISS Terbaik I tahun itu.

“Terima kasih kepada Ustadz Andi dan Ustadz Syafi’ie yang telah membimbing saya menulis KISS dan menerbitkannya menjadi buku,” demikian sepenggal cuplikan sambutan Fajar saat peluncuran bukunya. Fajar kini kuliah di Teknik Geologi Universitas Diponegoro.

Sandi adalah anak yang visioner. Pikirannya jauh ke depan. Pada usianya yang masih belia, ia kerap mengobrol dengan saya tentang peran pemuda dalam kebangkitan Islam. Semangatbelajarnya tinggi. Sandi memiliki kemampuan menulis yangbaik. Ia sering aktif dalam forum-forum kepenulisan, seperti magang di Kompas sebagai wartawan muda.

 “Ustadz, coba Ustadz baca tulisan saya dan berikan masukan atau komentar?” ujar Sandi satu ketika sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.

“Oke, tapi tidak sekarang, ya. Ustadz ada kerjaan. Insya Allah besok Ustadz kasih komentarnya,” jawab saya. Besoknya saya bertemu dengan Sandi.

“San, tulisan kamu sudah oke. Ustadz tantang kamu untuk menulis buku,” sahut saya.

“Insya Allah, Ustadz. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini karena saya mau fokus mempersiapkan diri untuk UN dan SNMPTN dulu,” jawabnya.

Semoga Sandi masih ingat dengan tantangan saya ini. Kini, Sandi kuliah di Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung.

Faiq adalah seorang anak yang cenderung pendiam. Cool and calm. Tapi, di balik itu potensinya luar biasa. Ia anak yang cerdas, mudah menangkap pelajaran. Adapun Zamroni, ia adalah anak yang sangat santun kepada guru dan teman-temannya. Teman-temannya menjulukinya sebagai anak yang paling saleh. Semangat belajarnya tinggi dan gigih dalam belajar.

Selain karena mengajar mereka, saya dekat dengan Zamroni dan Faiq karena keduanya adalah redaktur buletin Muqaddas. Saya pembimbing buletin terbitan OASE. Kami sering mengobrol dan berdiskusi menyiapkan buletin setiap kali akan terbit. Kini, Faiq kuliah di Teknik Elektro Universitas Indonesia, sedangkan Zamroni kuliah di Agrobisnis Perikanan Universitas Brawijaya.

Satu siswa lagi yang sering mengobrol dengan saya adalah Ikhwan. Ia adik kelas Fajar, Sandi, Faiq, dan Zamroni. Ikhwan anak yang sangat rajin. Semua tugas dari guru dikerjakannya dengan baik. Ia selalu antusias dan semangat saat belajar dan gemar membaca buku. Kini, Ikhwan kuliah di Manajemen Universitas Diponegoro. Selain berbakat dan cerdas, Fajar, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan adalah anak-anak yang baik dan rajin ibadahnya. Saya memang selalu pesankan hal ini setiap kali mereka mengobrol dengan saya.

“Kamu boleh kuliah di luar negeri, mengejar segudang prestasi, tapi ingatlah bahwa taat beribadah dan akhlak mulia adalah fondasinya. Jika kamu taat beribadah dan berakhlak mulia, insya Allah kamu akan diberikan kemudahan dalam meraih cita-citamu,” pesan saya.

Fajar, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan sangat menjaga shalat lima waktu berjamaah. Mereka juga terbiasa berpuasa Senin-Kamis. Selain itu, hafalan Al-Qur`an mereka juga cukup banyak. Mereka hafal juz 28, 29, dan 30. Bahkan Zamroni lebih banyak lagi hafalannya.

Menjaga ibadah dan berakhlak mulia akan menerangkan hati. Hati kita akan disinari oleh cayaha hidayah dan taufik dari Allah Swt. Jika Allah telah memberikan hidayah dan taufik-Nya, maka kita akan memperoleh kemudahan dalam menyerap ilmu dan pelajaran. Lebih dari itu, ilmu yang kita miliki akan bermanfaat dan berkah.

Saya berdoa untuk mereka, juga untuk anak-anak SMART lainnya, semoga senantiasa diberikan hidayah dan taufik oleh Allah sehingga memperoleh kemudahan dalam meraih cita-cita. Kemudian, menjadi manusia yang mampu menebar manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama dan lingkungannya. []

Kontributor : M. Syafiie (Mantan Guru SMART Ekselensia Indonesia, Direktur DD Pendidikan)

Budaya Salam di sekolah Unggul dan Berkualitas

Budaya Salam di Sekolah Unggul dan Berkualitas

 “Assalamu’alaikum, Ustadz….”

“Assalamu’alakum, Ustadzah…”

Kata-kata tersebut sering kali diucapkan oleh siswa-siswa SMART Ekselensia Indonesia ketika bertemu guru-gurunya, wali asrama, atau orang yang lebih tua di lingkungan sekolah. Salam kepada para guru dan/atau wali asrama bergaung di kelas, di luar kelas, di selasar, di masjid, di tangga, dan di mana pun di lingkungan SMART, salah satu sekolah Unggul yang berada di kota Bogor.

Ketika pertama kali bergabung di SMART, saya langsung disapa dengan salam tersebut. Sebuah sapaan yang sangat berkesan buat saya mengingat di sekolah-sekolah tempat mengajar sebelumnya saya belum menemukan budaya salam seperti di SMART.

Seyogianya, ucapan salam dan budaya positif seperti ini, dimiliki oleh setiap pelajar Muslim di sekolah mana pun. Menyebarkan salam merupakan salah satu sunnah Rasulullah yang perlu diterapkan dalam kehidupan seharihari. Alhamdulillah, guru-guru SMART sudah layak berbangga dengan terbudayakannya salam ini, sebuah budaya untuk mewujudkan model pendidikan berkualitas Sebagai sekolah berasrama, mungkin mudah menerapkan budaya salam. Pekerjaan rumah guru dan wali asrama adalah bagaimana mendidik siswa untuk tetap menerapkan budaya salam ini di masyarakat pada saat mereka sedang liburan atau pulang ke rumahnya. Liburan ke daerah asal ala siswa SMART dinamakan sebagai “pulang kampung”. Saya berharap tinggi sebenarnya bahwa selain siswa dievaluasi ibadahnya oleh orangtuanya pada saat pulang kampung, alangkah baiknya budaya salam ini juga masuk di dalamnya.

Substansi Budaya Salam

Substansi dari budaya salam ini adalah bagaimana siswa dapat membangun dan mengembangkan kecerdasan interpersonal. Dengan kecerdasan interpersonal ini, setiap siswa diharapkan mampu hidup dalam kehidupan kolektif. Hidup secara kolektif merupakan fitrah manusia. Hidup secara kolektif membutuhkan tegur sapa, komunikasi, kerja sama, termasuk juga menyelesaikan konflik.

Dalam budaya salam ini, guru dan wali asramanya sudah cukup berperan aktif sebagai fasilitator dan pengarah bagi siswa. Bola terakhir sebetulnya ada di tangan siswa untuk mengejawantahkan budaya salam ini di dalam masyarakat ataupun ketika kelak berada di lingkungan perguruan tinggi. []

Rahasia kecerdasan siswa SMART Ekselensia Indonesia

Rahasia kecerdasan siswa SMART Ekselensia Indonesia

Saya pernah meminta siswa untuk membuat cerita tentang pengalaman mereka bersama Al-Qur`an. Ternyata isi tulisan mereka hampir sama. Mereka mengenal Al-Qur`an saat sudah masuk SMART Ekselensia Indonesia. Ini tentu menjadi perjuangan yang berat untuk mereka, baik dalam membaca (tilawah) maupun menghafal. Lain halnya jika proses berinteraksi dengan Al-Qur`an sudah dimulai sedini mungkin, saat mereka masih kecil. Sebagian mereka bercerita bahwa tidak ada yang sulit dalam berinteraksi dengan Al-Qur`an. Kisah mereka bersama ibu-ibu mereka dulu pun menjadi kenangan indah saat mereka jauh dari keluarga dan bertemu kembali dengan Al- Qur`an di SMART.

Fenomena ini membuat saya semakin merindukan bahwa Al-Qur`an memang harus menjadi yang pertama dan utama untuk diajarkan pada siswa-siswa SMART Ekselensia Indonesia dan buah hati kita di rumah. Fokus mengajari mereka, terutama dalam kemampuan ber-Qur`an yang mumpuni. Tidak terbayangkan bila kemampuan mumpuni ini sudah ada sejak kecil, maka ilmu-ilmu lain pun terserap oleh otak mereka bagai tarikan magnet.

Fakta ini merupakan janji Allah. Terbukti dalam sejarah, bahkan penelitian masa kini pun semakin menguatkan. Ulama-ulama Islam terdahulu tidak menerima apa pun untuk belajar sebelum membaca, menghafal, dan mempelajari Al-Qur`an. Hasilnya tidak hanya berupa kecerdasan, tapi juga akhlak. Dari tradisi ini, dihasilkanlah orang-orang pintar seperti Imam Syafi’i (pakar ilmu fikih), Ibnu Sina (ahli kedokteran), al-Jabar (ahli matematika), dan masih banyak nama lainnya.

Bukan proses yang sebentar dan mudah guna menuju cita-cita itu. Proses ini merupakan jalan panjang yang harus terus diperjuangkan. Bukan hanya sampai siswa-siswa dinyatakan lulus, tapi juga sampai mereka menghadap Allah. Selama bersama Al-Qur`an, Allah akan menjaga mereka, meliputi keberkahan dunia dan akhirat. Adakah nikmat yang lebih besar daripada jaminan masuk surga?

Keberhasilan siswa ada pada usaha orangtua, selain juga guru. Seorang ibu adalah sosok yang seharusnya bersama anak lebih lama dibandingkan sosok yang lain. Bagaimana dengan siswa SMART yang hidup tidak bersama ibu dan ayah? Peran orangtua sehari-hari memang nyaris diwakili oleh para guru, baik di kelas maupun asrama. Namun, ini tidak berarti menihilkan andil orangtua. Walaupun dipisahkan oleh jarak, orangtua dapat mengajarkan anak secara tidak langsung.

Misalnya saat orangtua menelepon, anak-anak selalu ditanyai perkembangannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur`an. Orangtua terus memberikan dorongan dan motivasi yang kuat agar buah hatinya terus mencintai Al-Qur`an. Bila saat berjauhan saja disarankan untuk terus menguatkan anaknya, lebih-lebih saat siswa bersama mereka pada saat liburan di rumah. Intinya, pengawasan pada anak harus selalu ada, dalam hal ini memantau interaksi siswa SMART dengan Al- Qur`an.

Di sinilah salah satu cara SMART sebagai lembaga pendidikan menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa Al-Qur`an sebagai pedoman hidup mereka selaku insan beriman di Indonesia perlu diakrabi. Sejak selepas subuh hingga subuh kembali, aktivitas sehari-hari di sekolah dijalankan dengan tetap berinteraksi dengan Al-Qur`an di waktu-waktu tertentu yang diprogramkan. Tidak langsung banyak, yang penting bertahap dan berkesinambungan. Dari sini, cinta kepada Al-Qur`an dipupuk tanpa henti. []

Kontributor : Saifullah Amin (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Ajarkan anak memimpin di kelas

Cara ajarkan siswa memimpin di kelas

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Dzah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memerhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustadzah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Dzah?”

“Ustadzah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Dzah?” Siswa-siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustadzah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustadzah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Dzah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustadzah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Dzah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauhjauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustadzah jadi siswa kan? Saya minta Ustadzah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together.” Saya memimpin doa dalam bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang ,mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

Oleh : Uci Febria (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pelajaran yang termasuk ke rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam, khususnya pelajaran Kimia, banyak ditakuti bahkan tidak disukai oleh para siswa. Kimia menjadi bagian pelajaran yang tergolong pada mata pelajaran MAFIA (Matematika, Fisika, dan Kimia) dan mempunyai predikat “mengerikan” serta menjadi momok di sekolah. Sudah lumrah bahwa pelajaran tersebut identik dengan perhitungan yang rumit dan membuat kepala pening tujuh keliling.

Di samping berlimpah dengan rumus-rumus dan perhitungan yang rumit, pelajaran Kimia juga dikenal jauh dari nilai-nilai seni dan otak kanan. Bahkan siswa-siswa yang masuk ke dalam penjurusan IPA dikenal dengan “siswa kiri”, yakni siswa yang memiliki kemampuan otak kiri yang dominan dan konon kurang kreatif

Tetapi, stigma tersebut tidak berlaku di SMART Ekselensia Indonesia. Siswa-siswa SMART, dalam pandangan saya, rata-rata kreatif dan mempunyai nalar seni yang bagus. Pandangan saya ini bukan tanpa dasar. Banyak fakta yang saya temukan di SMART yang menunjukkan bahwa mereka kreatif dan berselera seni tinggi, salah satunya terlihat pada trashic (trasch music).

Mendapati anak-anak dengan kreativitas yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru; bagaimana saya harus mengelola pembelajaran dalam kelas dan berusaha menyuguhkan pembelajaran yang kreatif, terutama dalam memberikan pembelajaran Kimia kepada siswa kelas 4 dan 5 IPA yang pada tingkatan ini penuh dengan rumus dan perhitungan rumit. Untuk mengajar anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata (diketahui dari hasil psikotes pada saat seleksi penerimaan siswa) dan tingkat kreativitas yang bagus, saya pun lebih memosisikan diri sebagai fasilitator. Artinya, 60-70 persen siswa yang aktif di dalam proses pembelajaran, sedangkan saya hanya melihat dan menilai serta memberikan arahan.

Seperti dalam pembelajaran kimia untuk kelas 4 IPA. Ketika membahas materi hidrolisis garam, saya menggunakan metode Developmentally Appropriate Practices, yaitu suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada potensi kemampuan siswa. Karena siswa SMART umumnya mempunyai kecerdasan seni yang bagus, saya pun memanfaatkan potensi ini dalam pembelajaran Kimia.

Saya meminta siswa untuk membuat komik tentang beberapa subbab di dalam bab hidrolisis garam secara berkelompok. Komik yang telah mereka buat kemudian dipentaskan menjadi drama. Dalam pembelajaran ini siswa terasah otak kiri maupun otak kanannya, yaitu menyampaikan pesan berupa teori kimia dalam sebuah pementasan.

Tahapan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

Pertama, setiap siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk memahami tema subbab yang diberikan, dan membuat konsep pembuatan komik. Kedua, siswa membuat komik yang telah mereka konsep. Dan ketiga, mementaskan komik yang telah dibuat dalam sebuah drama.

Peran saya sebagai guru pada tahapan pertama adalah menjadi fasilitator untuk menjawab pertanyaan para siswa jika ada konsep dalam teori yang tidak bisa mereka pecahkan dalam kelompok. Pada tahapan kedua saya berperan memberikan penilaian terhadap proses pembuatan komik. Pada tahapan ketiga, saya berperan melakukan penilaian performa dan memberikan konfirmasi terhadap penampilan siswa.

Metode pembelajaran seperti ini membuat 100 persen siswa terlibat aktif di kelas sehingga tidak ada siswa yang mengantuk atau tertidur. Di lain pihak, saya sebagai guru bisa memaksimalkan fungsi sebagai fasilitator yang melakukan kontrol kelas, penilaian, dan konfirmasi terhadap apa yang dilakukan siswa. Di samping itu, metode pembelajaran ini merangsang kreativitas siswa.

Saya tercengang melihat kreativitas siswa, yang menurut saya luar biasa. Kreativitas mereka terlihat jelas pada saat pembuatan komik. Komik yang mereka buat bagusbagus; tidak hanya kualitas gambarnya, isi ceritanya pun menarik. Yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah saat mereka menampilkan drama. Saya tidak menyangka bahwa siswa begitu menghayati peran dalam drama tersebut. Saya pikir karena pelajaran ini pelajaran eksakta mereka akan menampilkan drama biasa-biasa saja. Tetapi dugaan saya salah, ternyata mereka menampilkan drama dengan penghayatan yang sangat bagus, dan menyiapkan secara sungguh-sungguh properti-properti tambahan untuk penampilannya.

Setelah penampilan drama dilakukan, selanjutnya saya menguji pengetahuan mereka dengan mengadakan posttest. Hasilnya mengjutkan dimana mereka mendapatkan nilai rata-rata post-test yang bagus, yaitu 80.55, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran cukup berhasil. Mereka dapat menjelaskan konsep teori dalam hidrolisis garam dengan penampilan drama, dan pesan-pesan dalam drama itu tertangkap baik pula oleh setiap kelompok.

Kembali harus saya akui dan syukuri, siswa-siswa SMART tidak hanya cerdas otak kirinya saja, tetapi juga cerdas otak kanannya. Mengajar di SMART memberikan peluang bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik dalam mengajar dan mengembangkan berbagai metode pembelajaran karena siswanya kooperatif dan mampu mengikuti setiap metode yang saya berikan.

Abdul Gani
Guru SMART Ekselensia Indonesia