Ajarkan anak memimpin di kelas

Cara ajarkan siswa memimpin di kelas

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Dzah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memerhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustadzah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Dzah?”

“Ustadzah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Dzah?” Siswa-siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustadzah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustadzah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Dzah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustadzah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Dzah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauhjauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustadzah jadi siswa kan? Saya minta Ustadzah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together.” Saya memimpin doa dalam bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang ,mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

Oleh : Uci Febria (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pelajaran yang termasuk ke rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam, khususnya pelajaran Kimia, banyak ditakuti bahkan tidak disukai oleh para siswa. Kimia menjadi bagian pelajaran yang tergolong pada mata pelajaran MAFIA (Matematika, Fisika, dan Kimia) dan mempunyai predikat “mengerikan” serta menjadi momok di sekolah. Sudah lumrah bahwa pelajaran tersebut identik dengan perhitungan yang rumit dan membuat kepala pening tujuh keliling.

Di samping berlimpah dengan rumus-rumus dan perhitungan yang rumit, pelajaran Kimia juga dikenal jauh dari nilai-nilai seni dan otak kanan. Bahkan siswa-siswa yang masuk ke dalam penjurusan IPA dikenal dengan “siswa kiri”, yakni siswa yang memiliki kemampuan otak kiri yang dominan dan konon kurang kreatif

Tetapi, stigma tersebut tidak berlaku di SMART Ekselensia Indonesia. Siswa-siswa SMART, dalam pandangan saya, rata-rata kreatif dan mempunyai nalar seni yang bagus. Pandangan saya ini bukan tanpa dasar. Banyak fakta yang saya temukan di SMART yang menunjukkan bahwa mereka kreatif dan berselera seni tinggi, salah satunya terlihat pada trashic (trasch music).

Mendapati anak-anak dengan kreativitas yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru; bagaimana saya harus mengelola pembelajaran dalam kelas dan berusaha menyuguhkan pembelajaran yang kreatif, terutama dalam memberikan pembelajaran Kimia kepada siswa kelas 4 dan 5 IPA yang pada tingkatan ini penuh dengan rumus dan perhitungan rumit. Untuk mengajar anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata (diketahui dari hasil psikotes pada saat seleksi penerimaan siswa) dan tingkat kreativitas yang bagus, saya pun lebih memosisikan diri sebagai fasilitator. Artinya, 60-70 persen siswa yang aktif di dalam proses pembelajaran, sedangkan saya hanya melihat dan menilai serta memberikan arahan.

Seperti dalam pembelajaran kimia untuk kelas 4 IPA. Ketika membahas materi hidrolisis garam, saya menggunakan metode Developmentally Appropriate Practices, yaitu suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada potensi kemampuan siswa. Karena siswa SMART umumnya mempunyai kecerdasan seni yang bagus, saya pun memanfaatkan potensi ini dalam pembelajaran Kimia.

Saya meminta siswa untuk membuat komik tentang beberapa subbab di dalam bab hidrolisis garam secara berkelompok. Komik yang telah mereka buat kemudian dipentaskan menjadi drama. Dalam pembelajaran ini siswa terasah otak kiri maupun otak kanannya, yaitu menyampaikan pesan berupa teori kimia dalam sebuah pementasan.

Tahapan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

Pertama, setiap siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk memahami tema subbab yang diberikan, dan membuat konsep pembuatan komik. Kedua, siswa membuat komik yang telah mereka konsep. Dan ketiga, mementaskan komik yang telah dibuat dalam sebuah drama.

Peran saya sebagai guru pada tahapan pertama adalah menjadi fasilitator untuk menjawab pertanyaan para siswa jika ada konsep dalam teori yang tidak bisa mereka pecahkan dalam kelompok. Pada tahapan kedua saya berperan memberikan penilaian terhadap proses pembuatan komik. Pada tahapan ketiga, saya berperan melakukan penilaian performa dan memberikan konfirmasi terhadap penampilan siswa.

Metode pembelajaran seperti ini membuat 100 persen siswa terlibat aktif di kelas sehingga tidak ada siswa yang mengantuk atau tertidur. Di lain pihak, saya sebagai guru bisa memaksimalkan fungsi sebagai fasilitator yang melakukan kontrol kelas, penilaian, dan konfirmasi terhadap apa yang dilakukan siswa. Di samping itu, metode pembelajaran ini merangsang kreativitas siswa.

Saya tercengang melihat kreativitas siswa, yang menurut saya luar biasa. Kreativitas mereka terlihat jelas pada saat pembuatan komik. Komik yang mereka buat bagusbagus; tidak hanya kualitas gambarnya, isi ceritanya pun menarik. Yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah saat mereka menampilkan drama. Saya tidak menyangka bahwa siswa begitu menghayati peran dalam drama tersebut. Saya pikir karena pelajaran ini pelajaran eksakta mereka akan menampilkan drama biasa-biasa saja. Tetapi dugaan saya salah, ternyata mereka menampilkan drama dengan penghayatan yang sangat bagus, dan menyiapkan secara sungguh-sungguh properti-properti tambahan untuk penampilannya.

Setelah penampilan drama dilakukan, selanjutnya saya menguji pengetahuan mereka dengan mengadakan posttest. Hasilnya mengjutkan dimana mereka mendapatkan nilai rata-rata post-test yang bagus, yaitu 80.55, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran cukup berhasil. Mereka dapat menjelaskan konsep teori dalam hidrolisis garam dengan penampilan drama, dan pesan-pesan dalam drama itu tertangkap baik pula oleh setiap kelompok.

Kembali harus saya akui dan syukuri, siswa-siswa SMART tidak hanya cerdas otak kirinya saja, tetapi juga cerdas otak kanannya. Mengajar di SMART memberikan peluang bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik dalam mengajar dan mengembangkan berbagai metode pembelajaran karena siswanya kooperatif dan mampu mengikuti setiap metode yang saya berikan.

Abdul Gani
Guru SMART Ekselensia Indonesia

Dari sampah kok bisa jadi musik

Sampah kok bisa jadi alat musik?

Dalam wacana kreativitas di dunia pendidikan, semangat mencoba dan mau tampil beda merupakan syarat utama untuk bisa mendalami dan menggelutinya. Banyaknya jam terbang dalam menjalaninya, juga bagian yang mampu menajamkan potensi diri menjadi inspirasi yang imajiner kala mengembangkan ide-ide segar. Berani memandang dari sisi yang bukan pada umumnya adalah bagian keunikan yang bersifat orisinal dan alamiah.

Inspirasi untuk memberdayakan siswa marginal yang tergabung di SMART Ekselensia Indonesia merupakan tantangan tersendiri. Bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengembangkan bakat dan potensi mereka. Butuh berbagai variasi ketajaman teori perkembangan peserta didik dan keluasan referensi metode mendidik yang tidak hanya mengajar secara konvensional.

Sentuhannya bukan hanya semangat, melainkan juga tambahan suplemen pengorbanan dan tingginya tingkat kepedulian. Inilah perpaduan tangguh untuk menjadikan siswa kreatif. Bentuk inspirasi itu antara lain berupa gabungan mengolah sampah anorganik menjadi tampilan musik. Istilah yang sering dikenal orang banyak adalah trashic (trash music) atau musik sampah.

Awal kali gagasan ini dimunculkan memang cukup mengerutkan dahi yang mendengarnya. Bisa dibayangkan, panci bolong, wajan usang, pelek motor bekas, tempat jemuran, semua ini difungsikan sebagai perkusi. Ditambah ritmis suara yang mengaplikasi dari gema hukum fisika pada botol yang berisikan air. Alat-alat musik kagetan ini mampu mengeluarkan harmoni tangga nada yang memainkan peran sebagai melodi. Dan sebagai penguat semangat warna musik terdapat pada bas yang dimainkan dari tong plastik berkapasitas 100 liter, yang berteman setia pada jeriken minyak plastik berkapasitas 20 liter. Fungsi esensinya pada ritme keterpaduan cara pukul dan waktu masuk dalam satu alunan lagu.

“Kok bisa ya, Pak? Itu semua kan barang yang enggak layak pakai? Terus cara ngedapatinnya juga harus keliling satu RW, ya?”

Cetus keheranan salah satu anggota masyarakat itu bukan sekali saya dengar. Awalnya, sebagian (besar) orang memandangnya aneh bercampur heran, tapi berikutnya mereka akan memuji setelah alat-alat perkusi itu dimainkan oleh siswa SMART. Permainan musik ala siswa-siswa SMART ini pernah meraih penghargaan pemenang pertama dalam sebuah acara unjuk kreativitas di sebuah stasiun televisi  swasta nasional.

“Wah, keren-keren! Ini baru yang namanya kreatif. Jarang-jarang yang bisa kaya begini.”

Awal mula dibentuknya musik trashic ini berdasarkan pada keisengan siswa-siswa SMART. Sekolah ini memang berupaya menggali potensi kecerdasan siswanya, salah satu nya dalam bakat bermusik. Keisengan mereka berupa seringnya memukul-mukul bangku, meja, dinding pembatas kelas, bahkan ujung ballpoint dan pensil, menjadi inspirasi  untuk membuat satu alat musik yang dijadikan sebagai sarana hiburan mereka. Bakat-bakat siswa itu kemudian di berdayakan dalam satu wadah yang mendukung pembelajaran mereka di kelas. Tantangan kepada mereka untuk bisa mengaransemen satu lagu dalam wadah dan alat yang telah disediakan dari barang bekas tersebut ternyata disambut dengan penuh antusias.

Regenerasi tim yang ada juga sudah tertata dengan sistem yang cukup baik. Setiap angkatan baru masuk, semangat memainkan alat musik trashic sudah ditularkan. Dorongan memotivasi juga diembuskan kepada siswa kelas 1 itu dengan menjelaskan manfaat ikut bergabung dalam trashic.

“Selain waktu untuk berjalan-jalan semakin luas dan lama, tabungan kalian juga bisa bertambah banyak.” Kata-kata ini diberikan untuk membangkitkan ketertarikan para siswa.

Ya, karena bergabung dalam trashic memiliki keuntungan tersendiri. Selain mereka bisa menghibur orang lain, terkadang mereka menerima uang amplop dari pihak pengundang. Isi dalam amplop itu diatur seadil mungkin dalam pembagiannya. Dari lima tahun mereka berada di SMART, mereka akan menerima undangan untuk menghibur orang banyak dalam beberapa kali kesempatan. Dari pembagian ini, para siswa itu bisa menabung. Tabungan para alumni SMART sendiri cukup terbilang besar, setidaknya dalam ukuran mereka, yakni rata-rata satu juta rupiah.

Satu juta rupiah bagi anak-anak kota mungkin tidaklah besar. Namun, bagi siswa SMART, yang semuanya memang berlatar belakang anak marginal, satu juta rupiah adalah spirit, kesabaran, daya juang, ekspresi seni, dan semangat penuh ketangguhan. Satu juta yang dihasilkan dari niat yang tulus menghibur, berkampanye mengenai pemanasan global, peduli terhadap lingkungan, dan yang terpenting adalah usaha mereka untuk mau dan mampu menjadi manusia Indonesia yang mandiri, cerdas, dan penuh keimanan. []

Di Antara Dua Ujian Siswa

Di Antara Dua Ujian Siswa

Aku dipercaya untuk mengajarkan Bahasa Inggris di SMART Ekselensia Indonesia. Sebagai guru full time, ada tiga kelas yang aku ajar, yaitu 2B, 3A, dan 3B. Karena kelas 3A dan 3B bakal menghadapi Ujian Nasional (UN), aku harus membuat mereka siap. Semampuku aku membantu mereka untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, khususnya di pelajaranku. Pada try out pertama Diknas dilaksanakan, siswa-siswaku terlihat kurang siap menghadapinya. Hasilnya terbukti, sebagian dari mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata.

“Kamu kenapa bisa dapat nilai segitu? Emang soalnya susah banget?” tanyaku kepada salah satu siswa yang mendapatkan nilai terendah.

 “Gak tahu, Dzah. Kami baru tahu ada try out itu pas paginya, dan kami belum belajar apa-apa.”

“Kok gitu? Kamu kurang cari informasi mungkin? Ayo nilainya ditingkatkan, nanti Ustadzah kasih bonus kalau sampai nilai kamu meningkat,” kataku mengimingi dengan menyebut sebuah merek wafer.

“Iya, Dzah, nanti mah saya serius ngerjainnya, saya bakal dapet 8, Dzah.”

Aku tidak meragukan kemampuan mereka dalam menjawab soal try out, toh mereka adalah anak-anak pilihan. Aku hanya mengkhawatirkan kesungguhan dan keseriusan mereka dalam menghadapi ujian. Beberapa kali aku kurangi jam mengajarku hanya untuk menceramahi mereka agar lebih serius lagi dalam mengerjakan dan menghadapi try out. Sempat aku ingin menyerah dalam situasi seperti ini.

Tapi, aku tersadar, bukankah Allah tidak suka dengan orang yang mudah putus asa? Try out kedua pun dilaksanakan. Kembali aku khawatir dengan hasilnya. Namun, aku percayakan kepada mereka dan pastinya terhadap Allah.

“Semangat, ya… pasti bisa,” ucapku sebelum mereka masuk ruang ujian.

Mereka hanya tersipu, entah apa yang ingin mereka sampaikan.

Tidak Lama Kemudian, HASIL try out kedua keluar. Alhamdulillah, nilai mereka meningkat, dan sebagai penyemangat aku memberikan reward untuk mereka sesuai janji. Ini salah satu apresiasiku terhadap usaha dan kesungguhan mereka. Belum selesai kegembiraanku, try out ketiga siap menanti.

Salah satu usahaku untuk membantu mereka siap menghadapi UN adalah memberikan latihan-latihan soal. Setelah mereka menyelesaikan try out ketiga Diknas, selama tiga jam mata pelajaran (3×40 menit) kami membahas soalsoal di kelas 3A. Berhubung soal Bahasa Inggris ini banyak berupa teks, volume suaraku pun mengecil. Untungnya, seorang siswa mengerti keadaanku.

“Dzah, biar saya bantu menjelaskan ya, tadi pagi kan kelompok saya sudah membahas soal yang ini waktu bimbel.”

Bimbel atau bimbingan belajar adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar jam pelajaran, dimulai sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 khusus untuk kelas 3. Aku hanya tersenyum melihat tindakan siswa ini karena biasanya ia suka membuat ribut di kelas dengan pertanyaanpertanyaan yang kadang tidak berhubungan dengan materi yang dibahas. Aku terima niat baiknya. Setelah membahas soal, aku memberikan PR yang harus dikumpulkan besok.

Keesokan harinya, aku mengajar kelas 3B. Jam pelajaran Bahasa Inggris dimulai setelah istirahat. Ketika aku dan siswa kelas 3B sudah di kelas, masih ada beberapa siswa kelas 3A yang singgah karena jam pelajaran selanjutnya belum dimulai.

Dan kesempatan ini pun aku gunakan untuk mengobrol bersama siswa kelas 3A. Aku mengumumkan siapa saja di antara mereka yang masuk ke dalam datiar Klinik Bahasa Inggris (salah satu program sekolah untuk menindaklanjuti anak-anak yang masih lemah dalam mata pelajaran Bahasa Inggris).

“Kamu, Ustadzah masukkan ke klinik, ya?” Aku bertanya kepada siswa 3A yang membantuku menjelaskan soal dan jawaban kepada temannya di kelas.

“Iya, Ustadzah,” jawabnya sambil tersenyum.

Mendengar jawabannya aku merasa ada yang beda karena biasanya bukan respons seperti itu yang ia berikan. Akan ada tawar-menawar terlebih dahulu sebelum ia mengiyakan pernyataanku.

“Kamu gak masuk ke lab komputer? Kan sebentar lagi kelasnya dimulai?” tanyaku lagi. Jarang-jarang ada siswa yang datang terlambat ke ruang lab komputer.

“Iya, Dzah, nanti saja,” jawabnya dengan tatapan yang kosong.

Setelah mengajar aku pun menjalankan aktivitas seperti biasanya. Kemudian ditambah jadwal video conference (VC) yang biasanya aku lakukan seminggu dua sampai tiga kali. Video conference adalah program menghubungkan siswa SMART dengan anak-anak Indonesia yang bersekolah atau berkuliah di luar negeri, seperti di Kanada, Australia, dan Jepang. Mereka berbincang dan bersilaturahim melalui aplikasi Skype. VC dimulai dari pukul 16.00 sampai 17.00. Sambil mengawasi anak-anak melakukan kegiatan VC, aku juga menunggu PR kelas 3A yang mereka kumpulkan hari itu. Beberapa siswa kelas 3A bergantian mengumpulkan tugas mereka, tapi masih ada beberapa siswa yang belum mengumpulkan, mungkin karena lupa.

Di Rumah, Ketika Jam menunjukkan pukul 03.00 aku terbangun. Aku mendengar getaran ponselku yang terletak tidak jauh dari kepalaku. Ada pesan di WhatsApp grup para guru SMART. Betapa kagetnya aku begitu membaca isi pesan yang menyebutkan bahwa ibunda salah satu siswa kelas 3A meninggal dunia pada hari kemarin, tepatnya pagi hari. Rasa kagetku tak berhenti sampai di situ karena aku membaca bahwa yang meninggal adalah ibunda dari anak yang dua hari sebelumnya membantuku menjelaskan jawaban atas soal-soal yang sedang kami bahas. Ya, siswa yang ketika aku tanya tentang klinik, ia hanya menjawab iya dan tersenyum; anak yang ketika di kelas kadang bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran.

Seketika aku terdiam membayangkan wajah siswa itu, yang biasanya ceria dan sering berpendapat tentang apa pun. Aku membayangkan betapa pedih hatinya karena ditinggal ibundanya tersayang, bahkan sekaligus kehilangan calon adiknya yang masih berada di dalam kandungan sang ibunda. Saat itu juga aku berdoa agar hati dan jiwanya kuat menghadapi cobaan dari Allah dalam usia semuda itu.

Ingin rasanya waktu segera menunjukkan pukul 06.00 agar aku dapat langsung ke sekolah dan mengetahui keadaannya. Sayangnya, saat aku sampai di sekolah, anak itu ternyata sudah pergi ke  bandara menuju Batam, tempat keluarganya tinggal.

“Semoga ia diberi kekuatan dan keselamatan,” doaku dalam hati.

Kemudian aku menuju kelas untuk menyimpan tas karena setiap hari kami selalu melaksanakan apel pagi pada pukul 06.40. Sesampainya di kelas, kulihat ada kertas jawaban seorang anak yang mungkin diletakkan sekitar pukul 17.00 ke atas karena kemarin aku tidak menemukan apa-apa di atas mejaku. Aku tahu itu kertas jawaban siswa 3A yang harusnya dikumpulkan kemarin.

Setelah kulihat, ternyata di situ tertulis nama “Muhammad Ihda Alhusnayain”, anak yang baru saja ditinggal oleh ibundanya. Dalam keadaan bersedih ia masih berpikir untuk mengumpulkan tugasnya. Dalam keadaan terpuruk dan pasti sangat terpukul, ia masih merasa bertanggung jawab untuk memenuhi tugasnya karena ia tahu dirinya tidak bisa mengumpulkan tugasnya dalam tiga hari ke depan dikarenakan harus pulang menengok keluarganya.

Sekembalinya dari batam tak banyak yang berubah dari Ihda. Dia tetap semangat menjalani hari-harinya walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Semoga setelah musibah ini Ihda tetap mempunyai semangat untuk menghadapi UN. Semoga anak ini tetap ceria, tetap aktif dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk ustadz dan ustadzahnya, tetap tegar demi adik dan ayahnya, dan  yang pasti semoga ia tambah pintar. Begitu juga dengan siswa-siswa yang lain, khususnya kelas 3 yang semoga tetap diberi semangat dan kecerdasan agar mereka dapat melewati UN dengan baik dan lancar serta mendapatkan hasil yang terbaik.

Aku percaya pada anak-anak pilihan ini. []

Penulis:

Irena Daniati
Guru Bahasa Inggris SMART Ekselensia Indonesia

SMART

Jejak Potensi di Sketsa Pensil

Jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan. Itulah salah satu tujuan field trip kami ketika itu bersama rombongan guru dan siswa SMART Ekselensia Indonesia dari kelas 1 sampai kelas 5. Tentunya ini suatu kegiatan yang meriah dan menyenangkan. Senang rasanya melihat antusiasme para siswa, terutama siswa-siswa kelas 1, yang begitu bersemangat untuk menjumpai atau sekadar menyapa hewan-hewan yang biasanya hanya mereka tonton di TV atau gambar. Aku bertugas mendampingi wali kelas 1 untuk membantu mengawasi dan mendampingi siswa-siswanya. Aku juga naik kendaraan yang sama bersama mereka. Karena aku belum hafal betul nama seluruh siswa kelas 1 dan takut sok tahu serta salah panggil, akhirnya aku bertanya nama dan asal mereka.

 “Hamzah dari Jakarta, Dzah,” jawab anak tinggi kurus yang duduk di samping jendela mobil.

“Saya Sukrismon dari Padang, Dzah,” sahut anak kedua yang duduknya persis di sebelahku.

“Wah… sama dong, Ustadzah juga orang Padang!” kataku senang.

Akhirnya, obrolan kami pun mengalir sepanjangperjalanan. Aku terus berusaha mengetahui latar belakang mereka melalui obrolan-obrolan ringan itu.

“Hamzah sudah pernah ke kebun binatang sebelumnya atau belum?” tanyaku.

“Udah pernah, Dzah, sekali, waktu saya masih SD,” jawab Hamzah.

“Kalau Sukrismon, sudah pernah?”

Belum pernah, Dzah. Ada sih di dekat rumah saya, tapi kami hanya sekadar lewat, tidak pernah ke sana,” katanya dengan logat Sumatera yang masih kental.

“Lho, kok belum pernah? Memangnya kenapa Sukrismon?” tanyaku penasaran.

“Pengen sih Dzah, tapi gak punya uang,” sahutnya polos.

Nyeesss… rasanya wajahku langsung memerah, bodoh sekali menanyakan hal itu dan tidak peka untuk dapat memprediksi jawabannya. Tetapi ia menjawab dengan ringan saja, tanpa beban, walaupun terlihat sekilas keinginannya yang sangat untuk pergi ke sana.

Dalam sekelebat, aku kilas balik ke masa SD. Aku sangat menikmati masa kecilku, terutama saat-saat yang tak terlupakan. Sangat menyenangkan rasanya di waktu istirahat bisa bermain petak umpet, petak jongkok, benteng, main karet, dan lain sebagainya. Begitu pun waktu diajak jalan-jalan ke Taman Mini, Ancol, Ragunan, dan tempat-tempat rekreasi lainnya. Aku pun merasa bahwa seharusnya di masa itu—masa tanpa beban dan menikmati hidup, aku menyebutnya—semua anak kecil sepatutnya sudah pernah

mengunjungi tempat-tempat rekreasi walaupun hanya sekali. Ah, betapa naifnya aku, ternyata masih ada juga anakanak yang kurang beruntung. Aku sungguh terkesan oleh kepolosan Sukrismon. Hmmm, beberapa kali terlintas di benakku, mengapa ia diberi nama Sukrismon? Ia lahir pada tahun 1998, bertepatan dengan tahun terjadinya gonjang-ganjing perekonomian di Indonesia, yang kita kenal dengan sebutan ‘krismon’, krisis moneter. Apakah orangtuanya tidak tahu arti dari krismon? Bukankah nama itu adalah sebuah doa? Apakah menurut mereka nama Sukrismon itu artinya baik? Tak tahulah aku.

Setelah Field Trip ke Ragunan, nama Sukrismon kembali hadir. Bukan karena ia sedaerah asal denganku. Seiring rutinitas sekolah berlanjut, aku cukup sering mendengar bahwa Sukrismon acap kali menjadi biang ribut. Ia tidak henti-hentinya mengganggu teman-temannya. Dengan alasan sekadar iseng, hampir semua dilakukannya secara spontan dan tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Tidak banyak kawannya yang dengan senang hati bersedia menjadi teman dekatnya. Aku jadi bertanya-tanya, mengapa ia seperti itu? Apakah ia tipikal anak yang hiperaktif atau hanya ingin diperhatikan saja? Mungkin saja ia memiliki kelebihan energi yang belum dapat tersalurkan dengan baik.

Sebagai penanggung jawab bidang perlombaan, aku bertekad ingin mengetahui potensi Sukrismon. Ia pasti punya potensi yang menonjol di bidang tertentu, dan semestinya dapat menjadi curahan perhatian hingga energinya bisa disalurkan untuk melakukan hal-hal yang positif. Sampai suatu hari aku dimintai tolong oleh Ustadzah Uci yang ketika itu berhalangan hadir karena tugas lembaga.

Hari itu ada jam pelajarannya, dan aku diminta tolong menyampaikan kepada anak-anak bahwa tugas mereka hari itu adalah meneruskan produk membuat buku yang dikerjakan secara berkelompok sesuai pertemuan sebelumnya.

“Ustadzah Uci gak masuk ya, Dzah?” tanya seorang anak di awal pertemuan dalam kelas.

Iya, Ustadzah Uci lagi ada tugas lembaga, dan beliau berpesan kepada Ustadzah untuk menyampaikan tugas untuk kalian. Ada yang tahu kira-kira apa tugas dari Ustadzah Uci?” aku coba melempar pertanyaan.

“Pasti ngelanjutin produk membuat buku yang kemarin, ya, Dzah?” tebak salah seorang siswa.

“Iya, betul, bagi yang kemarin tidak masuk, tolong bergabung dengan kelompok yang sudah ditentukan. Temanya sudah diberi tahu, kan? Hanya melanjutkan yang kemarin, masing-masing kelompok sudah dibagi-bagi berdasarkan judul bab. Dikerjakan di kertas HVS yang kemarin sudah dibagikan, pewarna sudah disiapkan Ustadzah Uci bagi yang mau meminjam, dan jangan lupa cantumkan nama-nama kelompok kalian, ya.”

“Dikumpulinnya kapan, Dzah?”

“Dikumpulkan hari ini, ya. Maksimalkan waktu yang masih ada.”

 “Kalo enggak dikumpulin sekarang boleh kan, Dzah?” tawar siswa yang lain.

“Boleh saja kalau mau nilainya dikurangi. Kalau dikumpulkan lewat dari jam pelajaran Ustadzah Uci, maka akan ada pengurangan poin penilaian. Semakin lama kalian mengumpulkan dari batas waktu, maka semakin banyak juga poin produk kelompok kalian yang dikurangi. Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Hening sejenak tanda semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang ditanyakan. Sejenak aku berada di kelas itu, yang dihiasi dengan riuh rendah dan lalu lalang anak-anak yang sibuk mengerjakan dan berkoordinasi dengan teman-teman sekelompoknya, mencari konsep yang sesuai, membagi tugas, maupun berdebat tentang gambar dan pilihan warna. Tampaknya serius sekali. Aku hanya tersenyum.

Beberapa kali aku berkeliling untuk melihat hasil kerja mereka yang masih dalam tahap perampungan. Dan aku tidak heran, gambar mereka umumnya bagus-bagus dan kreatif walaupun mereka baru duduk di bangku kelas 1. Aku tidak tahu apakah karena faktor anak laki-laki yang memang dianugerahi bakat lebih di bidang seni, khususnya menggambar, dibandingkan anak perempuan, ataukah memang kultur di SMART yang siswanya dari zaman ke zaman memiliki bakat menggambar yang menonjol dan di atas rata-rata? Setelah semua karya dikumpulkan, aku beranjak ke ruanganku. Aku pun tergoda untuk melihat hasil kerja anak-anak itu. Aku memeriksanya sambil senyum-senyum, melihat gambar-gambar yang menarik dan kreatif, yang dikolaborasikan dengan teori dan rumus-rumus fisika yang sudah diajarkan Ustadzah Uci. Mereka memang cerdas dan anak-anak pilihan. Sampai tibalah di satu kertas, aku terpana melihat suatu gambar yang sangat indah. Sederhana dibandingkan gambar lain yang penuh warna. Gambar yang menarik minatku itu hanya berupa sketsa pensil. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi tampak nyata sekali. Aku penasaran ingin tahu siapa yang membuat gambar itu.

Keesokan harinya, ustadzah Uci berterima kasih dan meminta produk hasil karya anak-anak yang dikerjakan hari sebelumnya. Saat itu juga aku langsung teringat hal yang membuatku penasaran kemarin.

“UN, kemarin aku lihat gambar sketsa tangan di salah satu produk anak-anak, bagus banget deh, padahal Cuma pake pensil. Uni tahu enggak siapa yang buat?” tanyaku. Aku memang terbiasa memanggil Ustadzah Uci dengan sebutan

Uni” karena kami sama-sama orang Padang.

“Yang mana, Din?” tanya Ustadzah Uci sambil mencaricari gambar yang dimaksud.

“Nah, ini nih, yang ini. Bagus banget kan?” tanyaku meminta persetujuan sambil menunjuk gambar tersebut.

“Oh… iya, emang bagus, ini tuh gambarnya Sukrismon,” kata Ustadzah Uci.

Aku pun agak kaget bercampur senang. Akhirnya aku menemukan bakatnya. Belakangan aku diberi tahu, menurut beberapa rekan guru dan guru seni Sukrismon, ia memang berbakat untuk soal seni.

Sampai saat ini, sudah beberapa kali aku merekomendasikannya untuk mengikuti lomba yang berkaitan dengan menggambar. Walaupun ia belum pernah menang, aku yakin suatu saat nanti Sukrismon bisa membawa pulang piala dan mengharumkan nama SMART Ekselensia Indonesia. Jalan masih panjang untuk mengasah keterampilannya menjadi makin baik lagi. []

SMART Sekolah pemimpin

Mencegah Hilangnya Permata Indonesa

Banyak sekali anak Indonesia yang berpotensi luar biasa yang terlahir dari keluarga sederhana namun tidak berkembang potensinya. Karena ketiadaan layanan proses pengembangan yang baik, anak-anak cerdas dari keluarga marjinal itu akhirnya tersisih dan tidak menunjukkan keunggulannya. Ibarat sebuah permata, tanpa proses penanganan yang baik, perhiasan yang bernilai tinggi akan terpuruk menjadi sesuatu yang rendah atau hilang.

SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School adalah sekolah yang dirangkai dari sebuah mimpi keluarga besar Dompet Dhuafa (DD) tentang sekolah unggulan bagi orang-orang yang kurang mampu. Membayangkan sekolah bagi orang miskin, biasanya yang tergambar adalah sekolah seadanya. Dari mulai sekolah di bawah pohon, di bawah jembatan, di serambi masjid, atau di teras sebuah rumah kontrakan sederhana. Akan tetapi, DD berimajinasi tentang sekolah untuk kaum marjinal yang bebas biaya dengan standar mutu unggulan. Mimpi itu mulai menjadi nyata ketika pada akhir 2003 DD menyediakan kompleks sekolah unggulan di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat. Menjelang tahun ajaran baru pada Juli 2004, anak-anak mulai berdatangan dari berbagai pelosok negeri. Mereka ini hasil seleksi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Terpilihlah anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi namun berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang kurang.

Waktu demi waktu terus berganti. Anak-anak yang datang dengan segala kesederhanaannya tersebut, setelah menjalani proses pendidikan, mulai berubah. Mereka mulai kelihatan bersih dan rapi. Mereka juga mulai hidup tertib dan disiplin. Pengetahuan dan keterampilan mereka telah meningkat dengan sangat pesat. Wawasan dan kekayaan khazanah kehidupannya telah meluas ke mana-mana. Dengan proses pendidikan yang berkualitas, banyak prestasi yang telah dicapai. Tidak heran jika lulusan SMART Ekselensia Indonesia setiap tahun 100 persen diterima di berbagai perguruan tinggi negeri kenamaan di Indonesia. Selain itu, para alumnus SMART Ekselensia Indonesia sekarang pun telah menjadi sekelompok kecil pemuda Indonesia yang memiliki kesempatan untuk melakukan lompatan besar dalam perubahan diri, keluarga, dan menjadi pemimpin masyarakatnya.

Senyampang dengan perubahan yang ada pada para siswa SMART Ekselensia Indonesia, sesungguhnya masih banyak lagi anak-anak Indonesia yang belum menikmati agungnya pendidikan. Mereka ini tersebar di seluruh penjuru negeri menunggu tindakan dan kerja sama semua pihak. Untuk itulah, perlu ada perluasan pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan kualitas asupan pendidikan kepada jutaan anakanak Indonesia.

Keberhasilan SMART Ekselensia Indonesia mendorong DD untuk menyebarkan konsep, dengan mereplikasi sekolah ala SMART ini di berbagai wilayah. Penyebaran ini didasari oleh satu keyakinan bahwa suatu kebajikan seharusnya dapat diperluas sehingga dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin orang. Proses penyebaran ini bisa dilakukan oleh DD sendiri secara langsung, juga bisa dilakukan melalui kerja sama dengan segenap pemerhati dan pelaku pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan sebagian pelaku pendidikan lainnya, motif penyebaran sekolah SMART yang dilakukan DD berorientasi non-profit motive. DD meyakini harus ada spirit replikasi sistem pendidikan unggul yang betul-betul orientasinya adalah meningkatkan benefit. Semangat yang dibentangkan DD adalah agar semakin banyak anak-anak Indonesia yang bisa mengecap sistem belajar mengajar yang berkualitas. Di dalamnya juga melekat, semangat memberi kesempatan lebih banyak bagi kaum marjinal untuk menikmati pendidikan berkualitas.

Kini sudah 18 belas tahun sudah terlewati. Suka duka bagi para guru untuk mencetak para calon pemimpin negeri. Tentunya komitmen penyediaan layanan pendidikan berkualitas bagi kaum marjinal semakin diperluas, ini berarti semakin banyak potensi luar biasa pada anak-anak marjinal bisa diselamatkan. Dengan demikian, juga berarti semakin banyak permata kehidupan yang bisa dikilaukan. Lebih dari itu, kedepan kilauannya akan menjadi cahaya penunjuk negeri ini. Ujungnya kita berharap terjadinya kecemerlangan pendidikan yang akan mendorong terwujudnya kecemerlangan Indonesia. (Ahmad Juwaini)

wisuda

Perubahan di Ujung Doa

Pukul 16.15, sekolah sudah mulai sepi. Hanya beberapa siswa yang masih beraktivitas di beberapa kelas. Ada yang remedial, ada yang , ada yang mempersiapkan acara OASE, ada juga yang sekadar mengobrol bersama teman-temannya. Aku sendiri masih menunggu dua orang siswa. Aku memutuskan untuk memanggil mereka setelah selesai rapat penilaian Ujian Akhir Semester (UAS) semester ganjil.

“Ustadz memanggil saya?” kata seorang siswa setelah mengucapkan salam.

“Iya,” jawabku, “silakan duduk. Mana Fajar?”

Dua siswa yang aku panggil adalah Dian dan Fajar. Dian sudah berada di depanku, tapi Fajar belum datang. Mereka berdua adalah siswa kelas 4 SMART Ekselensia Indonesia.

“Saya tidak ketemu, Ustadz. Tapi dia sudah tahu kok,” jawab Dian.

Tatapanku tajam pada muka Dian. Ia tampak penasaran karena tidak tahu alasan aku memanggilnya.

“Ya sudah, mungkin Fajar tidak datang, nanti saja menyusul,” kataku.

“Memangnya ada apa, Ustadz?” tanya Dian penasaran.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menyampaikan berita itu padanya. Mungkin bagi sebagian guru hal ini wajar-wajar saja, tapi tidak untukku. Begitu juga untuk anak itu seharusnya. Mata pelajaran yang aku ajarkan adalah mata pelajaran wajib jurusan. Setiap siswa yang mengambil jurusan IPA harus lulus pelajaran ini.

“Kamu masih ingat, dulu di awal semester saya pernah memanggil kamu sama Fajar?” kataku dengan nada rendah dan agak berat.

“Iya, Ustadz.”

“Dulu saya mengingatkan kamu bahwa dengan cara belajar, sikap, dan semangat kamu yang seperti itu, kamu sulit untuk lulus pelajaran saya,” kataku lagi.

“Iya, Ustadz, saya ingat.” Dian menunduk, mungkin ia sudah bisa menebak apa yang akan aku sampaikan. Fisika. Mayoritas anak SMA merasa bahwa pelajaran ini cukup sulit untuk dikuasai. Bahkan ada yang menganggap lulus saja sudah cukup. Tidak usah mengharapkan nilai yang muluk-muluk. Aku sendiri saat masih pelajar SMA juga merasakan bahwa Fisika itu tidak mudah. Akibatnya, guru Fisika sering kali merasa bahwa siswa harus berusaha lebih keras agar mendapatkan nilai baik. Tidak sedikit guru yang terkesan galak agar para siswanya bisa menjaga keseriusan dan konsentrasi selama belajar Fisika.

“Saya baru selesai rapat nilai. Dan kamu, maaf, belum lulus.”

Dian terdiam. Aku tidak tahu apa kira-kira yang ada dalam benaknya saat itu. Tapi bisa jadi ini adalah sesuatu yang berat bagi dia, mengingat bahwa nilai Fisika menentukan naik kelas atau tidaknya siswa jurusan IPA. Tetapi karena ini baru nilai UAS semester ganjil, maka tidak berpengaruh pada kenaikan kelas, asalkan saat ujian kenaikan kelas hasilnya bagus.

Ketika rapat nilai bersama guru-guru SMA, wali kelas, wakil kurikulum, dan kepala sekolah, tidak sedikit yang terkejut dengan ketidaklulusan kedua siswaku itu. Terkejut karena khawatir nilai itu akan berpengaruh pada saat SNMPTN Undangan. Ada peserta rapat yang menyarankan kepadaku agar kedua siswa itu diberi kesempatan untuk memperbaiki nilainya. Tetapi, guru-guru yang lain mengingatkan bahwa nilai hasil rapat hari itu adalah final dan sudah tidak bisa diubah lagi. Aku sendiri bertanggung jawab penuh atas nilai yang kuberikan. Sebenarnya bisa saja aku memberikan beberapa tugas tambahan sebelum rapat nilai untuk mendongkrak nilai mereka. Tapi, jauh dalam batinku bertanya: apakah ini esensi dari pendidikan yang aku berikan pada mereka, siswa-siswaku? Apakah memang orientasinya angka-angka saja? Aku yakin tidak. Biarlah nilai kedua anak itu apa adanya agar mereka bisa belajar dari sana bahwa nilai sebesar itulah yang bisa mereka peroleh dengan tingkat usaha yang mereka lakukan selama ini.

“Sebenarnya, mungkin wali kelasmu akan menyampaikannya pula. Menyampaikan nilai apa saja yang belum lulus atau perlu ditingkatkan lagi. Tapi, saya ingin menyampaikannya sendiri.”

“Iya, Ustadz,” jawab Dian singkat.

Sepertinya aku tidak melihat raut sedih di wajahnya. Entah aku salah mengira, atau Dian berusaha tegar, atau memang ia tidak sedih dengan nilai yang diperolehnya.

“Saya berharap, di semester depan kamu lebih sungguh-sungguh. Ingat, Fisika adalah mata pelajaran jurusan sehingga jika kamu tidak lulus, maka kamu tidak naik kelas.”

Dian hanya terlihat mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Padahal, dalam hatiku, aku merasa banyak sekali yang ingin disampaikan, ingin sekali ketidaklulusannya kujadikan kayu bakar untuk membakar semangatnya sehingga ia bisa mencapai nilai lebih baik di masa depan, tidak hanya semester berikutnya. Ingin sekali aku mengingatkan Dian bahwa ia adalah siswa terpilih; bahwa dalam dirinya terkandung potensi yang sangat besar untuk tumbuh menjadi seorang siswa yang sangat cerdas karena hasil tes tingkat kecerdasannya memang menunjukkan bahwa kemampuannya di atas rata-rata. Entah mengapa, semua itu tidak keluar dari mulutku.

“Baiklah kalau begitu, kamu boleh kembali ke asrama,” kataku menutup pertemuan.

“Baik, Ustadz, makasih Ustadz.” Dian kemudian keluar dari ruangan kelasku setelah bersalaman dan mengucapkan salam.

Adapun Fajar, anak ini mulai menarik perhatianku ketika rapat pra-penjurusan. Guru Bimbingan Konseling mengabarkan bahwa Fajar ingin sepertiku, kuliah di Institut Teknologi Bandung. Tapi waktu itu, di kelas 3 semester 1 ia tidak menunjukkan sikap belajar seperti yang diinginkannya. Guru-guru pun tidak merekomendasikannya masuk IPA, tapi IPS. Berdasarkan informasi dari guru BK itu, selama semester 2 aku memerhatikannya; sikapnya, belajarnya, motivasinya, dan nilai-nilainya. Alhamdulillah, ada peningkatan sehingga di rapat penjurusan aku menyetujui Fajar masuk IPA.

Sayangnya, saat semester 1 kelas 4 itu, lagi-lagi kebiasaan ia semasa kelas 3 muncul. Bukan sekali dua kali aku memergokinya sedang mengisengi temannya dengan mencopot tali sepatu atau hal-hal lain. Sering ia malah berjalan-jalan dan ketawa-tawa di dalam kelas ketika aku memberikan tugas sehingga aku tidak bosan-bosan memanggil dan mengingatkannya. Karena tidak ada perubahan sikap dalam belajar, nilai Fisikanya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Ia pun terancam tidak lulus dalam pelajaran ini.

Beberapa hari setelah pemanggilan Dian, Fajar datang ke ruanganku. Pertama-tama aku tanya kenapa dirinya tidak hadir pada hari ketika aku menungguinya. Kemudian aku menyampaikan hal yang sama dengan yang aku sampaikan pada Dian. Dan respons Fajar pun tidak jauh berbeda seperti Dian.

Semester 2 dimulai setelah siswa-siswa pulang kampung. Aku tidak henti-hentinya mengamati sikap Dian dan Fajar. Aku bahagia melihatnya. Ada harapan besar. Mereka berubah, mereka lebih rajin dan lebih serius di kelas. Meskipun sesekali keusilan Fajar muncul, aku tetap bahagia karena sudah jauh lebih baik dibandingkan semester 1. Hasil dari perubahan sikap mereka berdua adalah pada ulangan-ulangan Fisika nilai mereka selalu di atas KKM. Bahkan pada ulangan terakhir tentang termodinamika, Fajar memperoleh nilai di atas 90, sedangkan Dian 80-an. Subhanallah. Mahasuci Allah, Dzat yang mampu membolak- balikkan hati hamba-Nya. Semoga Allah menetapkan hati mereka pada kesungguh-sungguhan, keimanan, ketaatan, dan kecintaan pada-Nya. Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa,’alaa diinika, wa’alaa thaa’atika. [] (Agus Suherman)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”

Siswa Kritis

Pelajaran dari Siswa Kritis

Wajahnya datar, malah cenderung terlihat gelisah. Seperti biasa, ia berdiri dari bangkunya. Di SMART Ekselensia Indonesia, selama mengikuti pembelajaran siswa-siswa memang tidak diharuskan duduk di kursi. Ada hamparan karpet yang bisa mereka gunakan selama pembelajaran. Namun, anak ini juga tidak duduk di karpet. Ia berdiri, selalu begitu, lalu berjalan memandangi mind mapping materi yang ditempel di papan display. Lalu

duduk lagi. Sebentar memandang ke papan tulis, ia lalu kembali berdiri dan berkeliling kelas. Di kelas saya, ia sering begitu. Tidak mengapa karena saya tahu ia tetap memerhatikan penjelasan saya. Hal ini dibuktikan dengan nilai ujiannya yang selalu di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Demikian pula dalam kedisiplinan, ia tidak pernah terlambat, baik saat memasuki kelas maupun menyerahkan tugas.

Saat diselenggarakan pemilihan presiden OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia; semacam OSIS di sekolah umumnya), ia maju sebagai calon. Entah itu keinginannya sendiri atau dorongan—dan keisengan—dari beberapa temannya. Dari nama-nama yang masuk ke Panitia Pemilu Raya, semua diloloskan tanpa catatan, kecuali dia.

“Dia itu kritis,” kata Guru Bimbingan Konseling yang dimintai pertimbangannya terkait calon-calon yang akan berkompetisi di pentas demokrasi ala SMART.

“Kritis, maksudnya?” tanya saya keheranan sebab setahu saya ia tidak pernah melakukan pelanggaran aturan di sekolah dan asrama. Kritis dalam artian bodoh? Saya tidak yakin juga karena seluruh siswa SMART merupakan anak-anak cerdas. Walaupun harus diakui juga bahwa ia bukan siswa yang menonjol prestasi akademisnya.

Dari penjelasan Guru BK, diketahui bahwa ia senang mengkritisi hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan norma keharusan. Ia adalah pembangkang dalam pemaknaan yang positif. Ia anti kemapanan yang melenakan dan menghambat orang untuk terus maju dan berkembang. Ia banyak bertanya dan mempertanyakan.

Apa salahnya dengan sifat kritisnya itu? Tidak. Sama sekali tidak salah. Kalaupun ada yang disebut salah, maka itu adalah kondisi kita, para guru dan pendidik, yang belum berani keluar dari zona nyaman. Kita belum siap menerima sikap kritis dari anak didik karena kita merasa lebih pintar dari mereka. Kita belum siap menerima fakta bahwa murid akan segera mengungguli kita.

Sikapnya yang kritis ini menjadi alasan sebagian guru yang menyarankan agar namanya dieliminasi dari bursa presiden OASE. Paradigma mereka masih konvensional, yaitu bahwa presiden OASE (ketua OSIS bila di sekolah lainnya) haruslah anak yang memiliki segudang prestasi dan memiliki sifat penurut. Presiden OASE haruslah menjadi role model atau teladan bagi siswa lainnya. Sifat penurut artinya tidak perlu banyak bertanya. Tukang kritik yang banyak bertanya, tidak masuk kriteria ini.

Namun, saya dan sebagian guru yang lain melihat dengan perspektif yang berbeda. Anak ini memiliki potensi yang sangat besar, yang belum teraktualisasikan sehingga ia melakukan banyak hal yang menurut sebagian orang dikategorikan sebagai “tidak wajar”. Anak ini perlu wadah yang bisa menyalurkan energinya yang melimpah itu. Anak ini perlu difasilitasi kecerdasannya. Dan wadah yang tepat adalah OASE—Organisasi Akademika SMART Ekselensia. Syukurlah, namanya batal dieliminasi dari bursa pencalonan.

Hari pertama kampanye. Tim sukses dari masing-masing calon mulai riuh menjual kelebihan calon yang diusungnya. Tidak ada suara dan pergerakan dari tim sukses si cerdas kritis tadi. Keesokan hari, kami dihebohkan dengan banyaknya selebaran yang ditempel di seutas tali sepanjang lorong sekolah. Berlembar-lembar kertas bekas menggantung dengan tulisan seperti “partai anu mendukung SBD”, “partai ikan dower mendukung SBD”, dan bersama “partai pencinta dangdut mendukung SBD”. Out of the box? Mari kita cermati penjelasannya.

Lembaran-lembaran yang digunakan berkampanye adalah kertas-kertas bekas yang sudah digunakan. Ada banyak di sekolah, tinggal meminta saja. Toh kertas-kertas ini juga akan segera masuk tempat sampah. Menggunakan barang bekas? Recycle? Pemikiran yang jenius! Tali yang diikatkan di balkon dijadikan media tempel kertas kampanye. Mudah juga didapat. Namun, keekonomisan menjadi alasan yang disampaikannya. Dengan menempel— atau menggantung—kertas kampanye di tali, artinya kita tidak mengotori tembok. Mudah ditempel, dan mudah pula dibersihkan. Walaupun punya kepentingan, tidak sampai mengotori dan merusak sekolah.

Partai pendukung yang “aneh-aneh”? Cerdas! Salah satu cara menarik simpati adalah dengan menonjolkan sisi kemalangan diri sehingga para pemilih akan empati. Namun, cara ini tidak pantas dipilih oleh calon presiden OASE yang disyaratkan memiliki ketegasan dan ketegaran diri. Memunculkan partai-partai fiktif dengan propaganda yang lucu dan unik akan menanamkan ingatan di alam bawah sadar yang akan memengaruhi siswa-siswa di bilik suara. Maka, ia pun menjadi trending topic. Siswa-siswa membicarakannya, guru-guru juga membicarakannya. Pada keesokan hari, hampir seluruh kandidat yang lain melakukan hal yang serupa. Ia akhirnya terpilih menjadi presiden OASE. Setelah melihat kinerjanya, kepemimpinan ia sangat visioner. Saya dan guru-guru sangat berbangga dengannya, sebagaimana kami bangga terhadap seluruh anak didik kami.

Sebagai guru, kita perlu memahami bahwa kecerdasan itu tidak satu, dan tidak melulu diartikan sebagai nilai jauh di atas KKM. Tugas setiap guru adalah menggali dan memfasilitasi bakat dan minat mereka. Ketika ada siswa yang melakukan hal-hal yang tidak lumrah atau bahkan melanggar aturan sekolah, ingatlah bahwa ia adalah anak kita yang tangannya akan menarik kita ke kemuliaan dan surga. Jangan berputus asa untuk selalu menanam kebaikan dan memercayai bahwa kebaikan itu akan berkembang dan kita memanennya kemudian hari. Perbuatan yang oleh sebagian orang disebut sebagai “pembangkangan” dan “kenakalan” bisa jadi hakikatnya merupakan luapan energi yang tidak terfasilitasi dan tersalurkan.

Jika kita bisa arif dan cermat, perbuatan yang kita namai sebagai kenakalan bisa menjadi kreativitas yang membawa kebaikan. Terima kasih, anak-anakku. Kami bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. [] (Andi Rahman)

* Diambil dari buku “Marginal Parenting”

Blues

Si Cuek Penggemar The Blues

Pintu diketuk dari luar. Seorang remaja masuk ke kelas yang tengah saya ajar dengan langkah ragu-ragu.

“Maaf, Tadz, tadi saya asyik baca koran di perpustakaan. Maaf saya salah, Tadz.”

“Huuuhh… keluar, keluar, keluar!!!” Teman-temannya menyorakinya.

Tidak ada pilihan bagi anak itu, ia harus meninggalkan ruangan kelas. Saya yang ada di depan mereka dalam posisi bimbang. Batin saya bergejolak. Di satu sisi, saya merasa kasihan anak itu jadi tidak bisa mengikuti pelajaran. Tetapi, di sisi lain, saya harus menegakan disiplin dan konsekuen dengan kontrak belajar yang pernah dibuat bersama di awal tahun pelajaran. Saya rasa, ia selaku pembelajar sejati bisa menerima konsekuensi itu.

Sesuai aturan, saya tidak mengizinkannya untuk mengikuti pelajaran di kelas karena terlambat lebih dari 20 menit. Pengujung Desember 2011 almanak waktu itu, ketika pelajaran Ekonomi untuk persiapan UN, saya membuat siswa terusir itu nyaris menangis.

Hampir seantero Bumi Pengembangan Insani mengenal remaja pembelajar sejati tersebut. Ia sangat familiar, entah dengan adik kelas, tim pantry, karyawan jejaring lain, tim sekuriti, ataupun dengan direktur lembaga sekalipun. Wajahnya wara-wiri setiap hari menghiasi suasana belajar di kawah candradimuka, SMART Ekselensia Indonesia.

Badannya kurus tinggi, rambut warna kuning keemasan yang selalu jingkrak ke atas, dan senyum lebar mengembang, menjadi ciri khas pembelajar sejati dari kota Semarang ini. Hobinya membaca, menulis, dan olahraga. Hampir setiap hari waktu luangnya diisi dengan membaca buku-buku di perpustakaan dan mencari berita sepak bola di koran Kompas, Republika, atau bahkan menumpang pinjam komputer lembaga untuk sekadar berselancar mencari berita sepak bola terutama update Liga Primer Inggris, Seri A Italia, La liga Spanyol, dan Liga Super Indonesia.

Pertengahan Juli 2008 awal perkenalan saya dengan anak sulung putra pasangan bapak Azis dan Ibu Marlina ini. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi dan selalu ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Ayahnya bekerja sebagai tukang servis komputer dan pernah mengenyam pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang, walaupun kandas di tengah jalan. Bakat menulis remaja asal Tembalang ini sudah terlihat ketika salah satu puisinya yang bercerita tentang tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung, Tangerang Selatan, dimuat salah satu majalah. Bakatnya semakin terasah ketika ia terpilih menjadi pemimpin redaksi buletin olahraga milik OASE. Ia sangat pintar dan piawai menyuguhkan tulisan yang ciamik, lugas, informatif, dengan pilihan diksi bak seorang jurnalis olahraga profesional.

Setiap Senin pagi, ia pasti datang menghampiri saya di kelas. Ada dua ritual yang ia lakukan. Pertama, bertanya kabar saya hari itu. Kedua, soal urusan berita sepak bola.

Gimana pertandingan semalam, Tadz? Nonton gak?”

Saya dan Mujahid merupakan penggemar berat The Blues Chelsea FC dan kami selalu membahas perkembangan sepak bola dunia. Di luar soal bola, saya melihat ada bakat dan potensi besar pada remaja ini, di antaranya dalam pelajaran Ekonomi- Akuntansi yang saya ampu. Ia termasuk siswa yang cerdas dan cepat menyelesaikan tugas. Ia selalu ingin menjadi orang pertama dalam mengerjakan soal dan selalu mengajari teman-temannya yang belum paham. Selain itu, Mujahid selalu meminta saya untuk mengajarinya matematika karena ia merasa kemampuan matematikanya belum terasah. Setiap hari ia menenteng buku kumpulan soal-soal matematika yang harus ia kerjakan. Saat bertemu saya, ia selalu meminta soal-soal yang baru.

Mujahid juga pribadi yang unik, cuek, dan tidak peduli dengan penampilan diri. Seragamnya lusuh dan kumal, sepatunya kotor, sobek, dan menganga. Bahkan terkadang giginya tidak disikat sama sekali! Ia tidak merasa risih dengan penampilan seadanya itu, walaupun orangorang di sekelilingnya kadang-kadang merasa tidak nyaman.

Selain itu, ia kurang peduli dengan barang-barang yang dimilikinya. Ia sering menyimpan barang-barangnya secara sembarangan, padahal ia juga mudah lupa. Ia sering lupa membawa buku paket pelajaran dan kalau ditanya kenapa, jawabannya simpel.

“Maaf, Ustadz, saya lupa menyimpannya, hehehe…. Maaf, ya, Tadz.”

Terlepas dari kekurangpeduliannya pada soal penampilan, Mujahid dikenal sangat peduli terhadap teman-temannya yang kesulitan dalam memahami pelajaran. Ia supel dan mudah dimintai bantuan. [] (Mulyadi Saputra)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”

Makna Kesuksesan dan Disiplin

Makna Kesuksesan dan Berdisiplin

Usai melaksanakan Shalat Ashar berjamaah, seorang siswa SMART Ekselensia Indonesia datang menghampiri saya.

“Ustadz, bolehkah saya bertanya? Bagaimana caranya agar kita bisa sukses?”

Sejenak saya berpikir, kemudian saya menjawab pertanyaan siswa tersebut.

“Nak, ketahuilah, sungguh sangat sederhana sekali untuk bisa sukses dan berhasil atas target kita. Kita hanya butuh sebuah keyakinan; yakin akan tercapainya setiap target kita.”

 “Allah tidak meminta kita bagaimana memikirkan caranya. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan jalan kemudahan dalam setiap tahapan pencapaian target kita karena Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Kalau kita yakin bisa berhasil, maka Allah akan memudahkan tercapainya target kita.” Siswa ini menyimak serius perkataan saya.

“Nak, bukankah Rasulullah pada saat berada dalam situasi sulit, seperti saat Perang Badar, selalu yakin bahwa Allah bakal memberikan kemenangan? Nak, kesuksesan dan keberhasilan atas target kita adalah sejauh mana keyakinan kita. Silakan kamu baca kisah-kisah sukses orang-orang hebat di seluruh dunia. Bekal mereka satu: yakin bahwa mereka akan bisa melakukannya.”

“Mereka tidak pernah memikirkan caranya. Sebab, memikirkan caranya, justru hanya akan merintangi proses kreatif yang berjalan di benak mereka. Mereka hanya perlu untuk pandai-pandai melihat peluang, memanfaatkannya, dan kemudian menikmati hasilnya,” lanjut saya menjelaskan.

Memotivasi siswa yang bertanya sudah menjadi kewajiban saya. Mereka harus didampingi agar bisa mencapai cita-citanya. Bersama mimpi-mimpi mereka, saya tanamkan pentingnya berusaha. Dan sebagai konsekuensi dari sekolah unggulan, mereka harus tetap terpantau untuk terus berada dalam jalur yang tepat.

Setelah siswa pertama pergi, datang temannya seorang diri. Seorang siswa kelas 2 yang baru terkena hukuman sekolah berupa rambut dicukur sampai gundul.

“Ustadz, apa hikmah di balik kejadian pahit?”

Tampaknya siswa ini mencoba merefleksikan hukuman yang baru saja diterimanya. Penggundulan rambut siswa di SMART biasanya terkait dengan satu tindakan siswa yang melanggar peraturan.

“Kejadian pahit itu dapat digolongkan menjadi dua: sebagian dari kejadian pahit itu dikarenakan diri kita sendiri, dan sebagian lainnya tidak berada dalam kuasa kita,” jawab saya.

“Nak,” jelas saya, “kebanyakan kejadian pahit dalam kehidupan kita muncul dari tidak adanya ketelitian dan manajemen yang baik dari diri kita. Bila kita tidak menjaga kebersihan, maka kita akan mudah sakit. Di sini kita yang bersalah. Bila kita tidak menaati peraturan berlalu lintas, maka kita rentan mengalami kecelakaan di jalan. Di sini kita juga yang bersalah. Sementara sebagian kejadian pahit yang di luar dari kehendak kita memiliki banyak sebab. Kesulitan membuat tumbuh dan sempurnanya manusia.”

“Kejadian-kejadian pahit dalam kehidupan manusia, kebanyakan sebagai tebusan atas kesalahan-kesalahan manusia sendiri,” tegas saya.

Sejatinya, saya ingin mengajak siswa ini untuk sadar atas akibat perbuatannya yang tidak berdisiplin. Hukuman yang diberikan di SMART tetap dalam kerangka untuk mengingatkan para siswa. Jangan sampai mereka mudai lalai, atau bahkan meremehkan peraturan. Sebagai orang yang diamanahi dalam hal kedisiplinan siswa, saya menyadari tanggung jawab ini tidaklah mudah.

Teringat ketika pertama kali diminta sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan tim kedisiplinan di SMART, tertanam dalam hati saya tekad untuk mendisiplinkan siswa dengan segala risiko yang ada di dalamnya. Sadar bahwa bakal ada pro dan kontra terkait dengan pendisiplinan, entah

itu datang dari siswa atau bahkan dari dewan guru, ketika niat sudah tertancap dan ikhlas sudah mendarah, maka saya harus menjalankan amanah ini.

Saya menyadari bahwa pendidikan tanpa disiplin bakal menjadikan siswa liar, sedangkan disiplin tanpa hukuman hanyalah omong kosong. Hukuman dalam dunia pendidikan mutlak adanya. Tentu saja bukan untuk sarana melepaskan amarah, melainkan untuk menunjukkan kualitas disiplin di lembaga pendidikan itu masih terjaga dan peraturan yang dibuat dilaksanakan dengan sepenuhnya. Oleh karena itu, yang menghukum dan dihukum sekalipun harus terikat disiplin yang ada. Hukuman yang ditegakkan harus dalam sarana mengingatkan dan meluruskan. Jadi, kalau dijewer saja bisa mengingatkan tingkah salah siswa, mengapa siswa harus dicubit? Jika dicubit bisa meluruskan perilaku siswa, mengapa siswa harus dipukul?

Semoga siswa-siswa SMART menyadari arti berdisiplin, termasuk ketika mereka menerima hukuman akibat melanggar peraturan sekolah. Pada waktunya nanti, semoga mereka memahami bahwa pendisiplinan merupakan tangga yang akan membimbing mereka meraih kesuksesan. [] (Asep Rogia, Guru SMART Ekselensia Indonesia)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”