Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

 

Mereka yang berangkat untuk memberi, pasti akan pulang dengan membawa kebaikan.
Mereka yang  menanam kebaikan, kelak akan memetik manisnya kebaikan.
Mereka yang berjalan menikmati dunia, akan berlari mengejar indahnya akhirat.

 

Allah tak pernah salah hitung, tak mungkin juga salah ukur. Allah itu selalu tepat waktu, hanya kita yang terlalu terburu-buru. Terburu-buru melabeli diri kita tak bisa apa-apa. Terburu-buru menilai orang lain lebih hebat dari kita. Terburu-buru ingin segera menjadi mereka. Ujung-ujungnya apa? Mata kita terlalu sibuk melihat kanan kiri, tapi lupa menatap derap langkah kaki kita sendiri. Akhirnya arah langkah kita yang salah. Kita lupa kalau ternyata setiap orang sudah memiliki zona waktunya tersendiri. Zona waktu untuk menjadi dirinya sendiri dengan menatap lurus ke depan, memandangi dirinya yang hebat pada yang akan datang.

 

Potensi dan waktu kita terlalu berharga untuk sekadar digadai merisaukan kehebatan orang lain. Menghebatlah digaris takdir kita sendiri. Tak masalah jalan kita masih pelan. Tak masalah hasilnya belum kelihatan. Selama kita fokus dijalur yang sedang kita lalui, kita telah mengantongi sebuah kepastian bahwa kita sedang bergerak. Dan orang yang bergerak akan sampai pada tujuannya. Karena kita memang tidak bisa mengubah takdir, namun kita bisa megubah cari pandang kita tentang takdir yang sedang menimpa.

 

Keajaiban itu akan hadir saat kita menggantungkan seluruh urusan kepada-Nya, tempat bermuaranya seluruh kemungkinan dan kemustahilan. Siapa saja yang mampu berpasrah dengan kepasrahan terbaik. Mampu berpasrah dengan keterserahan sempurna. Sanggup bergantung dengan ketergantungan tanpa cela, maka Allah sendiri yang akan turun tangan, menyelesaikan masalah-masalahnya dengan keajaiban yang tak pernah terduga sebelumnya. maka luruskan kembali hati dan niatmu itu, karena Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya.  Bekerja, bekerja, bekerja, lalu keajaiban.

 

Selesaikan urusanmu, dan biarkan Dia menyelesaikan urusan-Nya untukmu. Dialah Allah, Yang Maha Esa tempat  bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 

Sob kamu pasti sudah paham jika Al-Qur’an ialah rahmat bagi semesta alam, tapi ternyata Al-Qur’an memiliki kekuatan penawar dan pengobat hati. Ketika sedang gundah gulana, gelisah, resah, sedih dan bingung, kamu bisa membaca satu surat ini saja. Bukan sulap bukan sihir dijamin surat ini mampu menenangkan hati dan menyembuhkan fisik dan psikis yang sedang tak tenang.

 

 

Lalu surat apakah itu?

 

 

Jawabannya Surat Al-Fatihah. Surat Al-Fatihah adalah surat pembuka Al-Qur’an. Surat ini memiliki banyak keutamaan atau fadilah. Surah yang memiliki banyak keistimewaan ini disebut juga sebagai Ummul Qur’an. Rasulullah saw. bersabda “Demi Zat Yang Jiwaku ada di Tangan-Nya, Allah Swt. tidak menurunkan surah yang setara dengan surah Al Fatihah dalam Taurat, Injil, dan Zabur, bahkan dalam Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

 

Supaya hati lebih tenang dan semua gundah hilang kamu bisa membaca dan mengulang surat ini sebanyak tujuh kali, InsyaAllah dengan izin Allah Swt., surat ini bisa membantu membuat hati lebih adem dari biasanya.

 

 

Dicoba ya Sob!

 

Bagi umat muslim Al-Qur’an memiliki posisi strategis. Selain suci, di dalamnya terdapat panduan strategis yang berkorelasi dengan hajat hidup manusia di seluruh dunia, karena itulah Islam sangat menganjurkan umatnya senantiasa membaca, mengamalkan, dan menghormati Al-Qur’an.

 

 

Namun tahukah kamu jika Allah sangat membenci bila Al-Qur’an dibawa ke dalam kamar mandi atau WC?

 

Al-Qur’an merupakan anugrah, kitab suci yang berasal langsung dari Allah, sudah sepatutnya kita jaga dan hormati. Maka dari itu Allah sangat melarang para umatnya untuk membaca Al-Qur’an ke dalam kamar mandi, bahkan meski hanya sekadar membawanya.

 

Allah juga telah memberikan sebuah pedoman hidup yang tertuang semuanya di dalam Al-Qur’an, pedoman hidup ini seharusnya selalu dijaga dan dihormati, tetapi jika Al-Qur’an dibaca di kamar mandi, Allah sangat tidak menyukai akan hal tersebut, karena hal tersebut merupakan sebuah penghinaan terhadap kitab suci Al-Qur’an.

Dijuluki Al-Amin (dapat dipercaya) dan As-Saadiq (yang benar), tak membuatnya tinggi hati. Diperlakukan semena-mena, tak lantas membuatnya menjadi pendendam. Sosoknya santun, lembut, tindakannya arif serta bijaksana, dan akhlaknya yang mulia mampu menebarkan Rahmatan lil Alamin; rahmat dan kasih sayang bagi semesta alam.

Dialah Muhammad saw. sang pembawa risalah kebenaran bagi umat manusia. Teladan bagi umat muslim seluruh dunia.

Sang penebar kebaikan, toleransi, dan kebajikan.

Sang pemimpin yang nilai-nilai perjuangannya bagaikan mata air, tidak pernah kering.

Saatnya jadikan momentum Maulid Nabi Muhammad saw. sebagai penyemangat memperbaiki diri dan ajang meningkatkan gairah keislaman kita.

Oleh: Ari Kholis Fazari, Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

 

Cerita ini tentang pengalaman saya sebagai wali kelas di SMART Ekselensia Indonesia. Suatu pagi saya mendapat laporan dari wali asrama bahwa salah seorang siswa saya tidak mau sekolah.

“Penyebabnya apa, ya, Pak?” tanya saya pada wali asrama.

“Dia selalu ingat rumah, kampung halamannya. Dia selalu ingat ibunya.”

“Oh, begitu, ya, Pak.”

Selepas kerja, pada hari yang sama, saya ke asrama menemui siswa tersebut. Saya coba mengajaknya mengobrol.

Tapi, jawabannya hanya satu, yaitu diam seribu bahasa. Saya tahu ia tidak mungkin langsung percaya dengan saya sehingga ketika saya menemuinya, ia hanya diam. Akhirnya, saya pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan harinya saya mencoba lagi. Kali ini saya mencari tahu ke teman-teman guru yang dekat dengannya supaya saya bisa menggali banyak informasi. Dengan banyak mengetahui informasi tentangnya, saya bisa membantunya kembali bersemangat ke sekolah.

Hari itu juga ia masih dengan kondisi yang sama. Ia tidak mau sekolah, dan ingin pulang ke kampung halamannya tanpa alasan yang jelas. Saya pun tidak putus asa membujuknya untuk kembali ke sekolah.

Saya menggali lagi informasi ke beberapa guru yang bekerja lebih lama dari saya di SMART.

“Kenapa ya siswa saya itu tidak mau sekolah?” kembali saya mengajukan pertanyaaan yang sama.

“Hal yang wajar terjadi di sini, Taz. Itu adalah masa ia beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Wajar jika terjadi pada siswa kelas 1,” tukas salah seorang guru.

Jawaban dari rekan guru itu membuat saya bersemangat.

Hanya soal adaptasi. Tetapi, dalam hati saya bergemuruh: harus saya mulai dari mana mengatasinya?

Jangankan untuk kembali sekolah, mengajaknya mengobrol saja ia bergeming.

Sehari, dua hari, sampai satu minggu, belum ada cara yang tepat untuk mendekati anak ini. Tiba-tiba saya

teringat perkataan seorang teman bahwa segala sesuatu itu tergantung rida orang tua kita. Jadi, dalam hal ini doa orangtua sangat berpengaruh pada kesuksesan anaknya.

Saya pun bertanya kembali ke salah seorang wali asrama. “Penyebab dia tidak mau sekolah apa ya, Pak?”

“Dia selalu ingat ibunya, Taz,” jawab seorang ustaz.

Mendengar jawaban itu, saya langsung berpikir, mungkin ketika ia berangkat ke SMART, ibunya belum sepenuhnya ridha melepas kepergian anaknya.

Saya pun langsung menghubungi ibunya. Kemudian saya, selaku wali kelas, menjelaskan persoalan anaknya di SMART.

“Bu, anak Ibu sudah beberapa minggu ini tidak mau sekolah.”

“Iya, Pak, saya juga sudah dapat informasi ini dari anak saya melalui telepon,” ibunya menjawab sambil terisak menahan tangis.

“Bu, dia tidak mau sekolah karena selalu ingat akan kampung halaman, dan dia selalu ingat Ibu.”

Sebelum berbicara dengan ibu anak itu, saya selalu berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK). Dari guru BK-lah saya mendapatkan data psikologis siswa tersebut, seperti hasil psikotes.

“Bu, cobalah untuk mengikhlaskan dia untuk sekolah di sini. Karena doa Ibulah yang bisa mengantarkan kesuksesan anak Ibu. Anak Ibu cerdas. Akan tetapi, semuanya tergantung Ibu, yang bisa Ibu lakukan sekarang berdoa, dan saya pun di sini berusaha semampu saya agar bisa membimbing putra Ibu.”

Ibunya pun menjawab, “Iya, Pak, memang salah saya juga, saya selalu ingat dia.”

“Nah, mungkin itu, Bu, yang menjadi penyebabnya. Jadi, mulai sekarang, coba Ibu relakan kepergiannya untuk sementara ini, dan berdoa untuk kesuksesan dirinya.”

“Baik, Pak, akan saya coba.”

Keesokan harinya saya pun berupaya kembali membujuk anak itu untuk bersekolah.

Siang itu, saya ke asrama ditemani guru BK. Sampai di asrama, kami mencarinya. Terlihat ia sedang menangis di sudut koridor asrama sambil memegang buku. Saya mendekatinya. Ia sebenarnya tahu kehadiran saya. Tapi, sepertinya ada penolakan dari dalam hatinya sehingga ia langsung diam sambil berpura-pura melihat bukunya.

Saya coba mengajaknya bicara, sekadar menanyakan kabar. Seperti biasa, ia hanya diam. Pandangan mata saya beralih ke bukunya. Buku yang dipegangnya buku Fisika.

Sepertinya ia sangat suka dengan pelajaran tersebut. Tiba- tiba saya mendapatkan ide.

“Lagi belajar apa, Dik?”

Ia tidak menjawab dengan lisannya, hanya menunjukkan bukunya dan bab yang sedang dipelajarinya.

Saya pun duduk di sebelahnya. “Kamu sangat suka pelajaran Fisika, ya, Dik?” Anak itu hanya mengangguk.

“Wah, hebat, ya, tapi sayang kalau kemampuan dan kesukaan kamu harus berhenti di sini.”

Dia pun menatap saya. Saya pun mencoba membuka diri.

“Saya juga lulusan Teknik, Dik, Teknik Elektro, tepatnya. Dasar dari beberapa kuliah teknik adalah Fisika.”

Dia masih menatap saya.

“Kamu asalnya dari mana?”

Saya sebenarnya tahu jawabannya, tapi sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk melancarkan “aksi” berikutnya.

Benar! Ia akhirnya menjawab untuk pertama kalinya ke saya, “Saya dari Sumatera Barat, Pak.”

“Bukannya di Sumatera itu banyak sekali pertambangan?” Ia mengangguk.

“Wah, harusnya kamu bangga bisa sekolah di sini! Bakat kamu bisa tersalurkan. Setelah kamu selesai sekolah di sini, kamu bisa kuliah di Teknik karena sekolah ini membantu kamu sampai masuk kuliah. Kalau kamu memaksakan diri untuk pulang, apa kamu bisa sekolah seperti sekolah di sini? Guru-guru di sini sangat perhatian dan baik ke kamu.” Ia terdiam.

“Sekolah ini siap mengantarkan kamu ke tempat kuliah yang kamu inginkan. Apalagi di Sumatera banyak sekali pertambangan. Kamu bisa kuliah di Teknik Pertambangan, Teknik Geologi, atau Teknik Perminyakan karena dasar Fisika kamu bagus. Selepas kuliah, kamu bisa kembali ke rumah kamu, dan insya Allah posisi kamu ketika bekerja di sana akan lebih dihargai karena keahlianmu. Tetapi, kalau kamu berhenti di sini, dan kamu pulang, apa yang kamu dapat? Kamu tidak akan dapat apa-apa. Selepas sekolah, apakah kamu bisa kuliah? Apakah sekolah kamu akan sama dengan sekolah di sini, yang mencarikan siswanya beasiswa?” Ia masih bungkam.

“Cobalah pikirkan lagi, Dik, kamu punya kesempatan untuk sukses. Jangan disia-siakan.”

Ia tetap membisu, tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya. Saya pun pamit padanya.

Saya terkejut bercampur senang. Anak itu tampak di sekolah bersama teman-temannya. Berminggu-minggu tidak mau sekolah, akhirnya ia kembali seperti anak-anak SMART. Ceria belajar dan bermain dengan teman temannya. Ia juga sudah tidak canggung lagi mengobrol dengan saya.

Saya tahu, ia anak yang cerdas. Terbukti, pelajaran yang ditinggalkan selama ia mogok sekolah mampu dikejarnya. Ia tidak lagi rapuh hanya karena merindukan keluarganya di rumah, terutama sang ibu.

Saya bersyukur atas perubahan yang dialaminya. Sesyukur saya mengenang kisah yang terjadi lima tahun silam pada Mitra Pargantian. Mitra tidak hanya membahagiakan kami di sini dengan kelulusannya di SMART, tetapi juga mewujudkan impiannya berkuliah di Teknik. Memilih untuk merantau menuntut ilmu di pulau seberang di Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Sebuah jalan kesuksesan tengah dirintisnya, dengan tetap dibersamai ridha orang tuanya.

Sob mulai sekarang tetap dijaga dijaga yuk pola makannya. Sebab kita adalah yang kita makan, salah makan bisa berakibat fatal untuk jantung. Nah ada beberapa hal yang kudu kita  ketahui agar jantung tetap aman.

 

1. Terlalu banyak makan makanan yang manis

Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan produksi insulin. Kondisi ini dapat menyebabkan iritasi dan perkembangan plak di pembuluh darah. Plak dapat menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan berbagai penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

 

2. Terlalu banyak asupan garam

Tak hanya gula, garam berlebih juga tak baik untuk jantung. Konsumsi garam meningkatkan tekanan darah, nantinya dapat berimplikasi langsung ke jantung. Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.

 

3. Terlalu banyak minum soda

Studi oleh Journal of the American Heart Association menunjukkan bahwa mengonsumsi minuman bersoda meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, serta stroke.

 

4. Terlalu banyak makan lemak jenuh

Dikutip dari Eat This, konsumsi lemak jenuh tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol. Dalam waktu lama kondisi ini dapat menyumbat arteri dan menyebabkan penyakit jantung.

 

5. Kurang asupan serat

Asupan serat dapat mengurangi kadar kolesterol jahat. Serat juga punya peran penting dalam mengontrol kadar gula darah. Kondisi ini berperan penting dalam kesehatan jantung.

 

Jangan lupa untuk tetap hidup sehat ya.

Oleh: Nadhif Putra Widiansah

Masih terus ku mencari
namun tak jua kutemukan
hingga semua diujung pencarian

Telaga waktu hisap semua daya
dikala letih tuk usaha
peluh hujani bebatuan
terka semua yang kurasakan

Senyuman dan candamu
selalu dapat kubayangkan
wajahmu dan hatimu
telah terlalu lama kudambakan

Mungkinkah,
bila kita kan selalu bersama

mungkinkah,
cintaku dan cintamu selamanya
hanya jika kita bersama
dan engkau milikku
milikku

Oleh: Ahmad Juwaini

Banyak sekali anak Indonesia yang berpotensi luar biasa yang terlahir dari keluarga sederhana namun tidak berkembang potensinya. Karena ketiadaan layanan proses pengembangan yang baik, anak-anak cerdas dari keluarga marjinal itu akhirnya tersisih dan tidak menunjukkan keunggulannya. Ibarat sebuah permata, tanpa proses penanganan yang baik, perhiasan yang bernilai tinggi akan terpuruk menjadi sesuatu yang rendah atau hilang.

SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah yang dirangkai dari sebuah mimpi keluarga besar Dompet Dhuafa (DD) tentang sekolah unggulan bagi orang-orang yang kurang mampu. Membayangkan sekolah bagi orang miskin, biasanya yang tergambar adalah sekolah seadanya. Dari mulai sekolah di bawah pohon, di bawah jembatan, di serambi masjid, atau di teras sebuah rumah kontrakan sederhana. Akan tetapi, DD berimajinasi tentang sekolah untuk kaum marjinal yang bebas biaya dengan standar mutu unggulan. Mimpi itu mulai menjadi nyata ketika pada akhir 2003 DD menyediakan kompleks sekolah unggulan di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat. Menjelang tahun ajaran baru pada Juli 2004, anak-anak mulai berdatangan dari berbagai pelosok negeri. Mereka ini hasil seleksi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Terpilihlah anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi namun berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang kurang.

Waktu demi waktu terus berganti. Anak-anak yang datang dengan segala kesederhanaannya tersebut, setelah menjalani proses pendidikan, mulai berubah. Mereka mulai kelihatan bersih dan rapi. Mereka juga mulai hidup tertib dan disiplin. Pengetahuan dan keterampilan mereka telah meningkat dengan sangat pesat. Wawasan dan kekayaan khazanah kehidupannya telah meluas ke mana-mana. Dengan proses pendidikan yang berkualitas, banyak prestasi yang telah dicapai. Tidak heran jika lulusan SMART Ekselensia Indonesia setiap tahun 93 persen diterima di berbagai perguruan tinggi negeri kenamaan di Indonesia. Selain itu, para alumnus SMART Ekselensia Indonesia sekarang pun telah menjadi sekelompok kecil pemuda Indonesia yang memiliki kesempatan untuk melakukan lompatan besar dalam perubahan diri, keluarga, dan menjadi pemimpin masyarakatnya.

Senyampang dengan perubahan yang ada pada para siswa SMART Ekselensia Indonesia, sesungguhnya masih banyak lagi anak-anak Indonesia yang belum menikmati agungnya pendidikan. Mereka ini tersebar di seluruh penjuru negeri menunggu tindakan dan kerja sama semua pihak. Untuk itulah, perlu ada perluasan pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan kualitas asupan pendidikan kepada jutaan anakanak Indonesia.

Keberhasilan SMART Ekselensia Indonesia mendorong DD untuk menyebarkan konsep, dengan mereplikasi sekolah ala SMART ini di berbagai wilayah. Penyebaran ini didasari oleh satu keyakinan bahwa suatu kebajikan seharusnya dapat diperluas sehingga dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin orang. Proses penyebaran ini bisa dilakukan oleh DD sendiri secara langsung, juga bisa dilakukan melalui kerja sama dengan segenap pemerhati dan pelaku pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan sebagian pelaku pendidikan lainnya, motif penyebaran sekolah SMART yang dilakukan DD berorientasi non-profit motive. DD meyakini harus ada spirit replikasi sistem pendidikan unggul yang betul-betul orientasinya adalah meningkatkan benefit. Semangat yang dibentangkan DD adalah agar semakin banyak anak-anak Indonesia yang bisa mengecap sistem belajar mengajar yang berkualitas. Di dalamnya juga melekat, semangat memberi kesempatan lebih banyak bagi kaum marginal untuk menikmati pendidikan berkualitas.

Kini sudah delapan belas tahun sudah terlewati. Suka duka bagi para guru untuk mencetak para calon pemimpin negeri. Tentunya komitmen penyediaan layanan pendidikan berkualitas bagi kaum marginal semakin diperluas, ini berarti semakin banyak potensi luar biasa pada anak-anak marjinal bisa diselamatkan. Dengan demikian, juga berarti semakin banyak permata kehidupan yang bisa dikilaukan. Lebih dari itu, ke depan kilauannya akan menjadi cahaya penunjuk negeri ini. Ujungnya kita berharap terjadinya kecemerlangan pendidikan yang akan mendorong terwujudnya kecemerlangan Indonesia. 

 

Oleh: Masfufatun

Pertama kali saya mendengar nama SMART Ekselensia Indonesia adalah dari teman, saat menginfokan bahwa di sana ada lowongan pekerjaan. Teman saya sudah lebih awal bekerja di sana, tapi bukan di SMARTnamun di divisi lain yang memang masih dalam satu lembaga. Ya, baru mendengar namanya saja, SMART, rasanya asing dan unik. Ternyata SMART adalah nama sebuah sekolah.  SMART sendiri adalah kependekan dari Sekolah Menengah Akselerasi Internat. Sedangkan Ekselensia adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu Excellent yang artinya luar biasa, unggul, istimewa.

 

Saat saya datang ke SMART untuk pertama kalinya, dari luar gedung, saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa sekolah ini nampak sepi ya. Ternyata aktivitas KBM anak-anak berada di lantai dua. Jadi, sekolah ini bukan hanya bangunan yang khusus untuk kegiatan center aktivitas KBM anak-anak seperti sekolah pada umumnya. Sekolah ini berada di lingkungan kerja divisi-divisi lainnya yang masih dalam satu lembaga, maka pantas saat saya pertama kali datang saya melihat ada tulisan “Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD)”.

 

SMART berada di tengah-tengah lingkungan kerja yang mana sudah pasti para siswa juga berinteraksi dengan karyawan lainnya yang bekerja di divisi lain, adalah suatu keunikan. Tanpa disadari mereka akan mengerti dan memahami bagaimana seluk-beluk dunia kerja karena memang mereka hidup di lingkungan karyawan yang bekerja di divisi lainnya. Inilah salah satu dari sekian yang membuat SMART berbeda dengan sekolah lainnya.

 

SMART merupakan sekolah bebas biaya, akselerasi dan berasrama pertama di Indonesia. Diresmikan pada 29 Juli 2004, sekolah ini adalah salah satu departemen Dompet Dhuafa Pendidikan. Sekolah SMART fokus pada pendidikan tingkat menengah (SMP dan SMA) khusus bagi siswa laki-laki lulusan sekolah dasar yang memiliki potensi intelektual tinggi namun memiliki keterbatasan finansial. Dan siswa yang direkrut sekolah ini berasal dari seluruh Indonesia.

 

Tak terbayangkan saya bisa mengajar di sekolah yang penuh dengan keunikan, dengan siswanya yang beragam dari seluruh Indonesia apalagi seluruh siswanya laki-laki. Pada umumnya sekolah yang siswanya laki-laki itu adalah sekolah menengah kejuruan tapi ini ada di sekolah menengah umum.

 

Sungguh luar biasa Dompet Dhuafa berani mendirikan sebuah sekolah gratis yang siswanya diambil dari seluruh Indonesia dan saat itu usia mereka masih kecil, lulusan SD. Di usia yang masih kecil itu mereka harus berpisah bahkan ada yang berpisah jauh karena mereka berasal dari luar Jawa. Dan perpisahan itu tidak sebentar, lima tahun untuk menimba Ilmu di SMART. Di sinilah kekuatan hati diuji, baik orang tua maupun anak untuk siap berpisah jauh dan dalam waktu lama, demi cita-cita.

 

Dan tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru-guru khususnya pembina asrama yang akan menemani dan membersamai tumbuh kembang mereka lima tahun ke depan. Bagaimana, layaknya mereka yang juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru yang berbeda beda suku, kami pun para guru juga sama harus beradaptasi dalam menghadapi mereka di kelas. Bayangkan semua karakter dan kebiasaan tiap daerah seluruh Indonesia berkumpul menjadi satu. Dan belum lagi, perbedaan tingkat pemahaman dalam menerima pelajaran juga sangat berbeda bahkan mungkin berbeda drastis.

 

Beragam sifat, karakter, dan kebiasaan siswa-siswa SMART inilah yang menjadi keunikan dan kekayaan khasanah tersendiri bagi kami. Ada siswa yang dari luar Jawa, dari daerah timur yang memiliki sifat keras, ada siswa yang dari Jawa yang memiliki sifat lembut. Tak dipungkiri, karena perbedaan itu acapkali terjadi perselisihan diantara mereka. Di sinilah tantangan kami bagaimana kami terus belajar pola asuh anak dengan beragam latar belakang sifat dan karakter ini.

 

Banyak kisah lucu dan unik dari anak-anak “khas” ini. Pernah suatu ketika, beberapa hari setelah kedatangan siswa-siswa baru. Mereka sedang berada di sekitar koridor kantor lantai bawah, hanya sekedar untuk melihat-lihat mading ataupun piala yang terpajang disana. Saya baru saja tiba di SMART lalu mulai memasuki koridor, dan saya dapati ada beberapa anak yang tidak memakai alas kaki. Lalu saya bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian tidak memakai alas kaki?” Mereka menjawab “Lantainya bersih, sayang kalau diinjak pakai sendal/sepatu”. MasyaAllah, mendengar jawaban seperti itu saya merasa antara terharu dan merasa mereka polos. Mungkin mereka baru merasakan lantai koridor kantor yang begitu bersih bahkan mungkin kinclong, yang selalu dipel pegawai kebersihan tiap beberapa jam sekali. Bisa jadi tempat tinggal mereka dalam kondisi kumuh karena mereka memang anak-anak marginal yang hidup dengan keterbatasan finansial.

 

Kisah unik lainnya adalah saat pembina asrama sedang sosialisasi cara hidup bersih di asrama. Salah satunya adalah harus menyikat gigi. Pembina asrama pun menjelaskan cara menyikat gigi yang benar, yaitu menggunakan sikat gigi dan pasta gigi, setelah itu kumur-kumur lalu dibuang. Lalu ada salah satu siswa yang berceletuk, “Ustad oh itu pasta gigi tidak boleh dimakan to?” (dengan logat timurnya), kemarin saya kira itu (pasta gigi) sejenis makanan, lalu saya makanlah dan rasanya enak.” Sontak pembina asrama dan anak-anak pun ketawa. Itulah pentingnya sosialisasi, karena kami paham mereka beragam latar belakang budaya, adat istiadat dan kebiasaan. Anak ini berasal dari daerah yang memang terpencil dan didaerahnya belum mengenal pasta gigi jadi wajar ketika di kamar mandi asrama menemukan benda seperti itu dia merasa asing.

 

Itulah SMART yang didedikasikan oleh Dompet Dhuafa untuk seluruh anak pelosok negeri ini. Berharap dengan adanya SMART dapat memutus rantai kemiskinan dan bahkan cita-cita kami adalah menjadikan mereka Muzakki yang tak lupa dari lembaga mana mereka terlahir. Serta menjadikan mereka berkontribusi lebih bagi bangsa ini dengan segala keahlian yang mereka punya, baik kemandirian maupun kepemimpinan.