Mau Jadi Pebisnis Kudu Baca Tulisan Ini!

“Karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” – (QS.94:5) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Fa-inna ma’al ‘usri yusran

Quran Surah Al Insyirah di atas menjadi janji Allah bahwa ketika manusia merasakan kesulitan, ada kemudahan bersamanya. Namun tergantung bagaimana sang manusia bersikap terhadap takdirnya. Berburuk atau berbaik sangkakah ia. Karena lagi, Allah tergantung prasangka hambanya.

 

Dalam kehidupan, tentu banyak pertimbangan yang diperhitungkan. Termasuk pada saat manusia melakukan berbagai usaha dalam memenuhi kebutuhan hidup terlebih dengan cara berdagang seperti ajaran Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam. Berdagang dalam skala besar di zaman sekarang bisa diartikan dengan telah mendirikan perusahaan yang usahanya bergerak dalam berbagai bidang baik tergolong Fast Moving Consumer Goods (FMCG) maupun di industri lainnya seperti properti, obat dan kesehatan, kecantikan, dan lain sebagainya. Keadaan sebuah usaha/bisnis tak mungkin mulus meroket begitu saja. Ia pasti ada menanjak dan berkelok. Hal ini sesuai dengan teori Product Life Cycle yang menjelaskan bahwa secara garis besar, siklus hidup suatu produk terbagi dalam introduction, growth, maturity, dan termination/decline.

 

Dalam keadaan tertentu, tentu sang pemilik usaha / bisnis harus memutar otak untuk berusaha menstabilkan usahanya. Untuk itu, Strategic Management oleh Fred R David dengan buku terbarunya pada tahun 2017 wajib diperhitungkan guna menyeleksi strategi terbaik bagi perusahaan / produk yang dijadikan sumber usaha. David (2017) menyimpulkan manajemen strategik menjadi tiga tahapan yang adalah Formulasi Strategi, Implementasi Strategi, hingga Evaluasi Strategi. Hal ini tergantung dari kondisi perusahaan dan usaha-usaha yang telah diupayakan.

 

Namun untuk fokus pada penelitian permasalahan dan solusinya, batasan fokus pada formulasi strategi patut diperhitungkan. Formulasi strategi sendiri terbagi dalam tiga tahapan antara lain:

  1. The Input Stage (Tahap Input / Masukan)
  2. The Matching Stage (Tahap Pencocokan)
  3. The Decision Stage (Tahap Pengambilan Keputusan)

 

Input Stage yang dimaksud lebih kepada tahap meneliti keadaan internal dan eksternal perusahaan dengan tiga pilihan alat yakni Internal Factor Evaluation Matrix (IFE), External Factor Evaluation Matrix (EFE), dan Competitive Profile Matrix (CPM). Sementara Matching Stage bisa menggunakan lima pilihan alat di antaranya Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats (SWOT) Matrix, Strategic Position and Action Evaluation (SPACE) Matrix, Boston Consulting Group (BCG) Matrix, Internal-External (IE) Matrix, dan Grand Strategy Matrix. Ditutup dengan alat terakhir dari tahap terakhir yang adalah Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Adapun semua alat ini memiliki kelebihan tersendiri sesuai kebutuhan dan keadaan perusahaan.

 

Selamat bebenah!

Jangan Hanya Fokus Menghafal Pelajaran

Tahukah kamu Sob kalau menghafal Alquran bisa dilakukan kapan pun, bahkan di tengah kesibukan sekolah, nah menurut Ustaz Yusuf Mansyur cara menghafal Alquran bagi pelajar sibuk kayak kita cukup dengan one day one ayat atau satu hari satu ayat namun berulang, lagi dan lagi, terus dan terus.   Agar semakin hafal, ayat tersebut bisa pula dibaca saat salat wajib ataupun sunah, termasuk ketika menjadi imam salat. Kemudian menjelang tidur, kata dia, ulangi kembali ayat yang sudah dihafal dan yang baru dihafal. Selanjutnya, bentuk komunitas menghafal Alquran.   “Jangan menghafal sendiri. Jadi, bisa tukar-tukar peran, setor-setoran hafalan. Saling baca satu sama lain, saling menyimak satu sama lain, yang paling efektif, komunitas itu ya keluarga bareng-bareng menghafal satu hari satu ayat,” ujarnya.   Ia mengingatkan, jangan lupa saat menghafal Alquran, niatkan menghafal 30 juz. Harapannya supaya saat kita meninggal tetap mendapat pahala seolah hafal 30 juz, meski sebenarnya baru hafal 5 juz.  “Ini sama seperti orang yang dari Asar sudah niat mau salat malam, eh Magribnya meninggal, maka amal terakhirnya yang tercatat adalah salat malam meski belum terlaksana,” ujarnya.   Jika menghafal satu hari satu ayat masih terasa berat, Ustaz YM menuturkan, menghafal bisa dilakukan dengan satu pekan satu ayat. Cara tersebut bisa dipilih asalkan rutin dijalankan. Sambil menghafal, lanjutnya, jangan lupa menadaburi makna berbagai ayat dalam Alquran.   “Di lihat-lihat terjemahannya, dibaca sambil ditulis atau dicatat yang ditemui, yang diperhatikan, yang didapat, dan yang digali, maupun yang tergali. Jadi, tambah kuat hafalannya,” kata Ustaz YM.  Dia menambahkan, menghafal Alquran perlu niat, tetapi jangan cuma menghafal untuk diri sendiri. Niatkan agar sebanyak mungkin orang di bumi juga hafal Alquran.

Baca Ini Dulu Supaya Pemuda Paham Ideologi Negara

Saat ini, masyarakat serta pemuda Indonesia dihadapkan dengan sebuah problematika yang seolah – olah ingin mencabik–cabik persatuan bangsa ini yakni hoax yang menghancurkan demokrasi. Mengapa paham yang mengobrak–abrik negara ini bisa merajalela? Masuknya informasi salah ke dalam sendi-sendi bangsa Indonesia disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang paling kuat adalah gagalnya pemahaman masyarakat terhadap demokrasi. Mereka meyakini bahwa para koruptor maupun pemimpin yang tidak mampu menampung aspirasi adalah hasil dari demokrasi Pancasila. Dicekalnya suara-suara dan jeritan masyarakat merupakan kesalahpahaman dalam penerapan sila dasar negara. Sehingga masyarakat tidak lagi mengamalkan nilai – nilai dari dasar negara ini dan bahkan sudah melupakannya.

 

 

Bukan hanya itu, materi wawasan kebangsaan dan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang dulu dipakai sebagai pemersatu kini sudah tidak dipakai lagi. Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia dan sekaligus pandangan hidup bangsa seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai filter atau penyaring berbagai pengaruh yang ditimbulkan oleh globalisasi. Namun dengan tidak adanya lagi sosialisasi, masyarakat serta para pemuda tidak mampu memahami apa sebenarnya makna yang terkandung dalam ideologi bangsa ini. Hal tersebut menjadi pemicu kemerosotan demokrasi dan kesenjangan sosial, sebagai dampak dari serangan-serangan globalisasi yang tidak disertai dengan adanya sosialisasi pancasila pada seluruh kalangan masyarakat. Sehingga masyarakat mudah terombang-ambing oleh isu  yang tidak sesuai dengan jati diri demokrasi bangsa yang seharusnya. Kegagalan pemahaman terhadap demokrasi pancasila ini,  merupakan kenistaan terparah dalam hidup seorang pemuda yang seharusnya berkontribusi lebih untuk bangsanya.

 

 

Kita sebagai pelajar bisa melakukan beberapa cara untuk mengatasi krisis yang tengah melanda Indonesia saat ini. Sebagai kaum intelektual, seharusnya kita tidak takut untuk melawan segala macam serangan yang mencoba menggoyahkan jati diri bangsa ini.

 

 

Oleh karena itu, salah satu kontribusi kecil namun berdampak besar yang dapat kita lakukan untuk menghadapi masalah yang terjadi di era globalisasi ini adalah dengan menggunakan globalisasi itu sendiri. Kita dapat menggunakan sarana komunikasi dan media massa yang merupakan poin penting dari globalisasi itu sendiri. Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan, ide maupun gagasan dari satu pihak kepada pihak lain, agar  terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya. Sedangkan media massa pada dasarnya diartikan sebagai beberapa media atau saluran yang digunakan secara terorganisir untuk berkomunikasi baik secara individu maupun kelompok.

 

 

Bagaimana komunikasi dan media massa tersebut dapat menyelesaikan permasalahan ideologi saat ini? Menurut Hedebro (1979) Salah seorang ahli komunikasi, komunikasi itu sendiri dapat menciptakan iklim bagi perubahan dengan membujukkan nilai–nilai, sikap, mental, dan bentuk perilaku masyarakat. Sedangkan media massa dapat bertindak sebagai pengganda sumber – sumber daya pengetahuan dan dapat membantu masyarakat menemukan norma – norma baru dan keharmonisan dari masa transisi. Bukan hanya itu, komunikasi efektif melalui media yang tepat akan mampu memberikan informasi yang dapat mempengaruhi dan merubah paradigma masyarakat. Dengan kata lain, melalui komunikasi yang efektif melalui media yang sesuai secara perlahan namun pasti, mengembalikan demokrasi pancasila ke dalam jiwa masyarakat Indonesia bukanlah hal yang mustahil.

 

 

Selain itu, mengingat bahwa Indonesia merupakan pasar potensial digital dengan 88,1 juta masyarakat pengguna internet aktif dan lebih dari 50% nya adalah user aktif di banyak sosial media, maka hal tersebut dapat dimanfaatkan. Sosial media dan sarana prasarana internet seperti Facebook, Twitter, Instagram, Blog, dan lain sebagainya umumnya digunakan untuk media komunikasi dan hiburan. Dengan beberapa ide – ide kreatif, kini dapat kita gunakan untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai demokrasi pancasia yang sesungguhnya. Dengan demikian secara perlahan–lahan, masyarakat dapat kembali memahami dan mengamalkan  nilai – nilai demokrasi pancasila di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

 

Intip Kuy Seni untuk Bertindak Pintar Amat

Sob sebelum memasuki krisis paruh hidup atau dikenal dengan istilah quater life crisis adalah suatu fase hidup (usia 20-30 tahun) di mana pada fase ini, seseorang akan merasa dipersimpangan jalan yang membuatnya dilema dalam menentukan arah karena dihadapkan dengan berbagai tuntutan. Hal ini menyebabkan sering kali individu bersangkutan merasa tertekan dan stress dengan berbagai pilihan yang memiliki konsekuensi tersendiri seperti dari bangku perguruan tinggi menuju masyarakat, mencari pekerjaan, melanjutkan studi, atau rencana lainnya.  Kondisi ini pada akhirnya membuat banyak penulis menjelaskan saran untuk menghadapi tekanan dan stress yang semakin hari semakin tinggi, salah satunya Mark Manson.

 

 

Dalam buku international best seller berjudul Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (terjemahan indonesia), Mark Manson menjelaskan bagaimana seni untuk mengabaikan tekanan dan tuntutan dewasa ini. Berdasarkan uraiannya, Manson berpandangan bahwa hidup terkadang memang menyebalkan. Banyak keinginan yang tidak tercapai, seperti kita bukanlah seorang yang populer di kampus, belum memiliki pasangan, tidak terlalu kaya, dll. “Namun, apa yang salah dengan itu?” “Bukankah hal tersebut tidak mempengaruhi apapun?” Maksud Manson, kita tentu masih tetap bisa berkarya dan hidup seperti biasa. Perasaan inferior yang didapat dari tekanan tren media sosial atau masyarakat sering kali membuat kita menciptakan parameter palsu dimana hidup bahagia adalah seperti hidup orang lain, meskipun pada faktanya, hidup orang lain tidak sesempurna yang kita kira.  Oleh karena itu menurut Manson, “peduli amat dengan semua hal-hal keren versi masyarakat?” “Kita sejatinya dapat hidup dengan parameter dan kebahagiaan kita sendiri”.“Jadi, masa bodo sajalah!”

 

 

Meskipun menarik dan solutif, permasalahan yang diajukan oleh Manson dengan quater life crisis sangat berbeda. Manson dengan seni bersikap masa bodoh versinya, menyorot tekanan tren di masa kini sebagai masalah. Sehingga, solusi yang diajukan yakni menyadari kepalsuan dari tren dan mulai menerima hidup yang lebih realistis guna mencapai kebahagian. Namun, dalam krisis paruh hidup, yang membuat individu merasa tertekan bukan tren dimasa kini, melainkan tekanan dari kemungkinan  yang akan terjadi dimasa depan. Rasa khawatir tentang pekerjaan, pendidikan, atau bahkan pasangan hidup, tentu saja tidak dapat diabaikan dengan masa bodoh. Maksud penulis, “bagaimana mungkin bersikap masa bodoh tentang masa depan?” Oleh sebab itu, pada tulisan ini, penulis mencoba menguraikan bagaimana seni untuk bertindak masa pintar (sebagai anti-thesis masa bodoh) versi filsafat stoisisme, khusus bagi siapa saja yang sedang menghadapi quater life crisis.

 

 

Filsafat Stoisisme ; Sebuah Pengantar

Filsafat Stoisisme adalah aliran filsafat Yunani-Romawi yang pada awalnya dikembangkan oleh masyarakat Stoa melalui kombinasi filsafat Plato dan Aristoteles dengan etika versi Stoa. Inti dari dasar pemikiran stoisisme yaitu bagaimana mengendalikan afeksi manusia dan alam serta bagaimana menanggung penderitaan dengan tenang dan hidup bahagia dengan melakukan kebajikan. Berbeda dengan filsafat Plato dan Aristoteles yang lebih menekankan rasionalisme dan empirisme, stoisisme justru menekankan metafisisme (ketuhanan). Filsafat Stosisme dimulai dari 3 abad sebelum masehi dan terus berkembang hingga 3 abad setelah masehi. Adapun tokoh-tokoh Stosisme yakni Zeno (generasi awal), Saneca (generasi tengah), hingga generasi akhir (Marcus Aurelius).

 

 

Dari pekembangannya selama ratusan tahun, Stosisme waktu demi waktu membentuk asumsi-asumsi dasar. Setidaknya, terdapat 3 asumsi dasar Stosisme yang relevan dengan konteks krisis paruh hidup. Asumsi dasar pertama yaitu dunia berjalan dengan pola-pola tertentu, walaupun dalam praktiknya tidak selalu sama. Di setiap pola ini, selalu ada Tuhan yang meliputi. Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebutnya hukum alam atau Sunnatullah. Pola-pola yang sudah ditetapkan ini, membuat setiap makhluk, termasuk manusia memiliki perannya sendiri. Asumsi kedua, karena dunia berjalan berdasarkan hukum yang ditetapkan Tuhan, maka tidak semua keadaan yang terjadi dapat ditentukan manusia. Terakhir, untuk dapat hidup dengan tentang, manusia harus berdamai dengan alam dan dirinya sendiri.

 

 

Seni Untuk Bertindak Pintar Amat

Masih segar di dalam pikiran, ketika penulis tengah menghadapi masa kelulusan dan menuju perguruan tinggi. Masa itu memberikat efek khawatir yang tidak tergambarkan. Perasaan takut apakah dapat lulus pada PTN yang diinginkan, apakah dapat memperoleh beasiswa, apakah dapat menjalani studi dengan nilai yang memuaskan, dan lainnya selalu berkecamuk di pikiran. Namun, seiring berjalan waktu, semua kekhawatiran dan ketakutan hilang. Kini, penulis mendapati bahwa empat tahun sudah berlalu dan penulis telah lulus dari perguruan tinggi. Memang, terdapat kekhawatiran yang benar-benar terjadi. Akan tetapi, dalam prosesnya terdapat skenario yang juga tidak terduga sehingga dapat masa sulit dapat dilalui. Ini berarti, setiap kekhawatiran dan ketakutan yang kita alami hari ini, sebetulnya adalah hasil dari olah pikiran yang tidak pada tempatnya. Masa depan adalah sesuatu yang ada diluar jangkauan manusia. Namun, ketika masa itu datang, manusia akan selalu beradaptasi dengan sendirinya, sebagaimana penulis dan pembaca beradaptasi dengan segala hal yang ada pada hari ini. Dalam mengahadapi quater life crisis,individu harus menyadari bahwa segala kekhawatiran dimasa depan akan terselesaikan di tempatnya yaitu di masa depan. Setiap hari, memiliki penyelesaian tersendiri. Jadi, tenanglah

Ini Dia Peran Kita Semua Sebagai Generasi Penerus Bangsa Sob

Ini Dia Peran Kita Semua Sebagai Generasi Penerus Bangsa Sob

 

Pemuda merupakan suatu generasi penerus bangsa memang telah menjadi suatu pemahaman yang tidak baru lagi. Bahkan kemajuan suatu bangsa juga sering dikaitkan dengan bagaimana peran pemuda didalamnya, seperti bagaimana produktifitas pemuda demi kemajuaan dan eksistensi bangsanya. Tidak terkecuali bagi bangsa Indonesia, generasi muda juga menjadi suatu tonggak bagi kemajuan dan pembangunan bangsa.

 

 

Hal ini bahkan sudah terjadi dari masa perjuangan sejarah kemerdekaan Indonesia, yaitu saat adanya beberapa peranan pemuda dalam meningkatkan semangat perjuangan demi mengusir penjajah dan mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, dalam kesempatan kali ini akan dibahas mengenai peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, apa dan bagaimana pemuda seharusnya berperan sebagai kunci atau penerus bangsa Indonesia.

 

Memang ketika pernyataan peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa biasanya lebih mengarah pada masa-masa sekarang, tetapi bukan berarti peran pemuda kemerdekaan RI dimana lalu bukan merupakan sebuah penerus bangsa. Bahkan jika di pikir ulang tanpa peran pemuda di masa perjuangan dulu, maka bangsa Indonesia mungkin tidak dapat berdiri kokoh seperti sekarang ini. Inilah mengapa peranan pemuda, terutama pemuda Indonesia sendiri bagi bangsa Indonesia sudah terjadi sejak dahulu dan juga tercatat didalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, mengingat kembali apa saja peranan pemuda dimasa sejarah tersebut juga penting sebelum mengetahui atau memahami peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa saat ini.

 

 

Peran pemuda dalam sejarah yang pertama bisa di lihat dari adanya pergerakan Budi Utomo yang berlangsung pada tahun 1908. Setelah itu ada pula peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi pada tahun 1928 dimana menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda seluruh Indonesia dalam semangat kemerdekaan Indonesia. Ada pula peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 yang mana juga menyangkut golongan muda didalamnya. Terlebih lagi banyak sekali pergerakan pemuda, pelajar, dan juga mahasiswa yang berlangsung pada sekitar tahun 1966, hingga pergerakan mahasiswa yang kemudian berhasil meruntuhkan kekuasaan orde baru pada tahun 1998 yang juga sekaligus mengantarkan bangsa Indonesia pada masa reformasi.

 

 

Dilihat dari beberapa peristiwa sejarah yang penting untuk dikenang tersebut, memang dapat disimpulkan bahwa peran pemuda dalam mencapai suatu kemerdekaan Indonesia menjadi suatu titik awal dari peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini juga membuktikan bahwa pemuda menjadi suatu tonggak bagi bangsa Indonesia dalam masa pembangunan nasional, artinya bahwa penting adanya peran pemuda dalam pembangunan nasional. Sebagai penerus bangsa, generasi muda berarti menanggung harga dan martabat bangsa Indonesia terutama di dunia Internasional, dimana persaingan dan penjajahan identitas bangsa dapat berlangsung di berbagai macam bidang kehidupan. Oleh sebab itulah penting pula menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda dan juga sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa saja peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, terutama dalam masa atau jaman yang semakin global dan berkembang modern ini.

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pemuda merupakan generasi penerus bangsa Indonesia, maka sebenarnya generasi muda juga menjadi komponen yang penting dan perlu dilibatkan dalam pembangunan bangsa Indonesia, baik secara nasional maupun daerah. Mengapa demikian? Hal ini berkaitan erat dengan dasar dari generasi muda yang sebenarnya memiliki fisik yang kuat, pengetahuan yang baru, inovatif, dan juga memiliki tingkat kreativitas yang tinggi pula.

 

Kondisi tersebutlah yang membuat peranan pemuda sebenarnya penting dalam proses pembangunan bangsa Indonesia maupun sebagai penerus bangsa. Tanpa adanya peranan generasi muda atau pemuda Indonesia maka bangsa Indonesia pastinya akan sulit mengalami perubahan dan akan mudah pula kehilangan identitas bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa sebenarnya memiliki beberapa peranan yang seharusnya dapat dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Beberapa peranan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

 

  • Agent of Change

Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa Indonesia yang pertama dapat dilihat dari peran pemuda sebagai agent of change atau agen perubahan. Artinya bahwa pemuda Indonesia sebenarnya memiliki peranan untuk menjadi pusat dari kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri. Dalam hal ini dapat dilakukan melalui pengadaan perubahan-perubahan dalam lingkungan masyarakat, baik secara nasional maupun daerah, menuju kepada arah yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa ada pernyataan seperti peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, karena yang menentukan kemajuan bangsa Indonesia dimasa depan adalah para generasi mudanya melalui keberhasilan perubahan-perubahan positif yang dapat dilakukan. Memang berbagai macam tantangan pastinya akan dihadapi atau dialami oleh para generasi muda, tetapi setidaknya para pemuda dapat kembali menengok pada makna sumpah pemuda atau pun makna kemerdekaan Indonesia.

 

Di mana segala tantangan yang ada akan dapat dihadapi jika perbedaan-perbedaan yang ada dapat dihadapi dengan positif dan dilakukan secara bersama-sama yang juga sesuai dengan asas Bhinneka Tunggal Ika. Seperti melalui upaya saling memotivasi dan mendorong adanya kemajuan pada masyarakat. Salah satu kunci agar dapat sukses menjadi agent of change pastinya adalah keyakinan yang dimiliki para pemuda, maksudnya adalah para generasi muda harus yakin akan apa yang mereka miliki dan selalu melakukannya dengan baik dan benar.

 

  • Agent of Developmet

Selain menjadi agen perubahan, peran pemuda juga sebagai agent of development atau agen pembangunan sebagai penerus bangsa. Artinya bahwa para pemuda Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab dalam upaya melancarkan atau melaksanakan berbagai macam pembangunan di berbagai macam bidang, baik pembangunan nasional maupun pembangunan daerah.

Mengapa agen pembangunan juga menjadi suatu peran penting pemuda sebagai penerus bangsa? Hal ini disebabkan karena para pemuda Indonesia wajib menjaga eksistensi bangsa Indonesia di kancah dunia, serta selalu dapat memberikan kesan yang baik di mata dunia. Sebagai contoh seperti mengembangkan bidang kebudayaan daerah Indonesia, kemudian memperkenalkannya pada dunia internasional.

Bahkan agen pembangunan disini bukan hanya sebatas pembangunan fisik maupun non fisik secara nasional dan daerah saja, tetapi juga menyangkut mengenai kemampuan pengembangan potensi generasi muda lainnya. Artinya adalah diperlukan adanya upaya bagaimana potensi dan produktifitas yang ada di diri para generasi muda dapat dikembangkan secara bersama-sama demi mencapai tujuan pembangunan bangsa Indonesia dimana sekarang maupun dimasa yang akan datang.

 

  • Agent of Modernizations

Peran yang selanjutnya adalah menjadi agent of modernization atau agen pembaharuan bangsa Indonesia. Artinya bahwa para pemuda Indonesia wajib memiliki kemampuan dalam menganalisa perubahan zaman yang pastinya memberi pengaruh besar pada bangsa Indonesia, sehingga mereka dapat memilih mana yang memang perlu untuk dirubah dan juga mana yang seharusnya dipertahankan.

Sebagai contoh seperti perkembangan teknologi yang semakin maju di berbagai bidang, dimana melalui aktivitas pemuda pula bangsa Indonesia kemudian dapat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang semakin maju, sehingga tidak menjadi suatu bangsa yang tertinggal. Namun dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin maju dan modern juga menjadikan segala pengaruh bahkan kebudayaan asing masuk lebih mudah, maka disinilah muncul tantangan bagi pemuda Indonesia untuk tetap dapat mempertahankan identitas bangsa Indonesia.

 

  • Membangun Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu pondasi dari berbagai peranan diatas, tanpa adanya pendidikan yang kuat maka para pemuda Indonesia pastinya akan merasakan kesusahan dalam menjalankan peran mereka sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, wajib berpendidikan juga penting untuk ditanamkan pada generasi muda bangsa Indonesia. Beberapa peran pemuda dalam membangun pendidikan di Indonesia juga dapat dilihat dari adanya banyak tenaga pendidik yang masih tergolong muda dan semangat memberikan pendidikan yang bermutu pada generasi penerusnya. Belum lagi banyak pula kegiatan-kegiatan pemuda Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama pada daerah-daerah terpencil di pulau-pulau yang tersebar diseluruh pelosok bangsa Indonesia. Kondisi tersebut juga sudah termasuk dalam upaya para pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa dalam usahanya membangun pendidikan yang lebih baik lagi dari masa-masa sebelumnya.

 

  • Memiliki Semangat Juang yang Tinggi

Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang terakhir adalah tertanamnya jiwa semangat perjuangan yang tinggi pada generasi muda baik pada masa sekarang maupun masa terdahulu. Hal yang dapat dilakukan adalah seperti selalu berusaha sebaik mungkin untuk dapat mencapai prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia di mata dunia, menghilangkan jiwa mudah menyerah, menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, dan lain sebagainya. Terlebih lagi semangat pemuda dalam usahanya mencapai tujuan pembangunan nasional, seperti dengan menyampaikan ide-ide pembangunan yang baru maupun keinginan untuk terjun langsung dalam pembangunan bangsa Indonesia. Walaupun kegagalan sering dialami oleh para pemuda Indonesia, tetapi perlu diingat kembali untuk tidak mudah menyerah karena sebenarnya kegagalan merupakan suatu awal dari kebangkitan dan juga kesuksesan. Tidak lupa pula, semangat yang tinggi ini juga dapat diraih dengan terus menerapkan makna sumpah pemuda dan juga makna kemerdekaan Indonesia.

 

 

Itulah dia beberapa peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang penting untuk dipahami dan juga diupayakan untuk dilakukan demi kebaikan bangsa Indonesia sendiri, baik masa masa dahulu, sekarang, maupun di masa depan. Dari beberapa peranan tersebut juga dapat disimpulkan bahwa memang benar pemuda merupakan suatu tonggak atau kunci dari adanya pembangunan dan perubahan yang terjadi pada bangsa Indonesia, oleh sebab itulah pemuda dianggap sebagai suatu penerus bangsa, terutama bagi bangsa Indonesia sendiri. Dengan adanya peran pemuda yang signifikan, seperti peran generasi muda dalam mengisi kemerdekaan, dapat menjadi suatu langkah atau pintu awal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi lebih maju dan berkembang lagi dimasa yang akan datang, terlebih di mata dunia. Demikian ulasan mengenai peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, semoga bermanfaat.

Tahun Baru Saatnya Asah Jiwa Kepemimpinanmu Sob!

Tahun Baru Saatnya Asah Jiwa Kepemimpinanmu Sob!

 

Memahami kepemimpinan Islam

Kepemimpinan merupakan karakter istimewa yang menjadi harga mahal dalam kehidupan manusia. Jika orang memiliki karakter pemimpin, maka pasti hidupnya akan disibukkan dengan kebutuhan masyarakat. Penerapan karakter pemimpin tidak hanya dinisbatkan pada posisi struktural belaka. Hampir semua aspek lini kehidupan, karakter pemimpin menjadi karakter yang sangat dituntut oleh masyarakat karena pentingnya sifat tersebut.

Maka dari itu penting bagi seseorang yang menjabat hajat orang banyak untuk memiliki karakter pemimpin, sebuah karakter yang mendahulukan kebutuhan jamaah (kelompok) diatas kepentingan pribadi. Dalam Alquran, istilah pemimpin identik kata Imam, yang berasal dari kata ‘amma ya’ummu yang berarti menuju, menumpu atau meladani. Kata tersebut seakar dengan kata umat, pemimpin masyarakatnya sering disebut Imam, sedangkan masyarakatnya disebut umat.[1] Dalam kajian kepemimpinan ilmuan barat (orientalisme), kepemimpinan cenderung materelistis mengedepankan keuntungan sebanyak-banyaknya dari yang dipimpinnya. Maka tak heran jika kita selalu mendengar masa sekolah dahulu, pemimpin adalah orang yang bisa mempengaruhi. Sedangkan dalam konsep Islam, bersumber pada wahyu Alquran dan Hadis dan Sirah Nabawi, kepemimpinan tidak hanya bersifat materelistik. Akan tetapi juga mempertimbangkan aspek ukhrawinya (akhirat), yang secara otomatis lebih humanis.

Menurut Bachtiar Firdaus[2] terdapat lima  unsur kepemimpin yang bersumber dari para Nabi (profetik) yang berkelindan tidak dapat dipisahkan satu diantaranya. Penjebaran dari lima unsur kepemimpinan tersebut akan diformulasikan dalam bagan sebagai berikut.

  1. Kepemimpinan berilmu;

Sudah selayaknya pemimpin berilmu, pemimpin adalah nahkoda bagi awak kapalnya yang membawa penumpang sampai pada tujuannya. Sungguh akan berbahaya jika pemimpin tidak memiliki ilmu, maka kesesatan dan kelayuan akan menimpa sekumpulan orang tersebut. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw., mengingatkan betul bahwa “jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (HR. Bukhari)

  1. Kepemimpinan kuat

Diriwayatkan dalam Imam Muslim bahwa Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah saw.” “Yaa Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku sebagai pengusa (amil)?” Rasulullah Menjawab, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan. Kecuali orang-orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya”. Maka sudah sepantasnya kita mengukur diri untuk meminta amanah, dan memastikan amanah datang pada orang yang tepat.

  1. Kepemimpinan bertaqwa

Ibarat kepala bagi sebuah badan, pemimpin adalah otaknya yang mengatur semua gerakan anggota tubuhnya. Karena pemimpin tidak hanya cerdas, tetapi adil dan jujur.  Dalam QS. Al-Maidah 5;8, I’diluu huwa aqrabu littaqwa – Berbuat adillah, karena adil itu dekat dengan taqwa. Dan dampak dari taqwa mempengaruhi segala aspek kehidupan. Jika penduduk bumi taqwa, niscaya Allah turunkan keberkahan dan rahmatnya.

  1. Kepemimpinan amanah

Para Nabi memberikan contoh integritas yang luar biasa dalam sirah para ulama’. Kredibelitas dan integritas tinggi yang dapat dipercaya oleh kaumnya beserta cobaannya membuat teguh para Nabi memegang amanah. Maka, orang yang amanah tidak akan mudah oleh godaan materi, berupa harta, tahta, dan tipu daya duniawi.

  1. Kepemimpinan regeneratif

Nabi Muhammad saw. selain sukses memegang amanah kenabian, ia juga sukses membangun generasi unggul. Setelah kepemimpinan nubuwwah (kenabian). Khulafarrassyidin, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali sukses melanjutkan risalah dakwah Islamiyah. Bahkan perkembangan dan pembebesan pada masa ini cukup besar dan luas membentang dari keseluruh penjuru negeri mencerahkan umat. Menyiapkan generasi yang lebih baik merupakan keharusan dari setiap pemimpin. Sekali lagi, kelima unsur tersebut akan saling berkaitan, berkelindan tidak dapat dipisahkan. Maka fainsyaAllaah jika kelimanya dalam sebuah pemimpin, keridhaan Allah beserta keberkahan rahmatnya turun kepada setiap entitas yang menerapkannya.

 

Pentingnya jaringan dalam kepemimpinan

Salah satu indikator berhasilnya organisasi atau secara personal adalah kemampuan membangun jejaring (networking). Mampu melihat peluang dari setiap sudut yang dilihatnya dan kemudian akan di follow up dengan kemampuan komunikasi yang matang untuk mendapatkan maksud dan tujuan yang diharapkan. Jejaring merupakan suatu hal yang penting di era millenium serba teknologi. Jika kita masih merasa bisa sendiri, merasa mampu melakukan suatuha sendiri layaknya Superman, tentu kita akan digilas oleh zaman.

Kondisi manusia millenial pada hari ini pun terkondisikan dengan semangat kolaboratif. Jika kebaikan proyek sosial bisa dilakukan bersama-sama, kenapa harus sendirian. Kiranya begitu tagline manusia millenial jaman now. Kita bisa melihat bagaimana munculnya platform digital crowdfunding begitu banyaknya dan memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat misalnya kita bisa sebut kitabisa.com dan masih banyak lagi. Artinya, tidak bisa dipungkiri berjejaring adalah keharusan bagi pemimpin di era sekarang.

Berjejaring akan menentukan kualitas pribadi seseorang atau kelembagaan tertentu. Kita tahu GoJek bisa semakin besar karena suntikan dana dari investor, sehingga bisa mengembangkan inovasi yang menghasilkan produk yang tepat sasaran menjadi kebutuhan masyarakat. Begitu seterusnya kualitas seseorang juga akan semakin baik hidupnya jika memiliki banyak jaringan untuk saling membantu melengkapi diantara satu dengan yang lain.

Untuk lebih dalam mengeksplorasi pentingnya membangun jaringan, penulis akan visualisasi pengelolaan jejaring dalam studi kasus di organisasi sebagai berikut.

  1. Strategi pengelolaan jejaring
  2. Inventarisisasi jejaring

Perlu diinventarisir siapa saja elemen eksternal yang sekiranya bisa membantu (support) baik kebutuhan personal ataupun kebutuhan organisasi. Misal jika posisi barada dalam organisasi maka perlu dicatat kembali siapa saja alumni yang bisa dihubungi untuk terus dimintai masukan baik dari segi pemikiran, atau bahkan finansial. Optimalisasi peran alumni sangat penting dalam organisasi. Kadang terdapat alumni yang sudah menjadi tokoh sehingga bisa menjadi pemateri yang tidak perlu dibayar lagi, dan bahkan memberikan support finansial ke organisasi. Perlu diinventarisir siapa saja alumni sesuai dengan pekerjaannnya sehingga kita bisa silaturahmi jika membutuhkan bantuan alumni. Selain alumni, perlu diinventarisir perusahaan yang biasa kerja sama dengan organisasi, donatur yang biasa membantu, dan elemen ekternal lain yang sekiranya bisa membantu.

 

 

Analisis kondisi jejaring

Analisis kembali hasil inventarisasi yang sudah dilakukan. Kategorikan ke dalam dua hal, alumni atau perusaahaan yang masih ada kontaknya dan bisa dikontak, sama alumni atau perusahaan yang sudah tidak ada datanya dan sudah tidak bisa kontak kembali.

Untuk alumni atau perusahaan yang hilang kontak tapi sekiranya dipertimbangkan bisa komunikasi dimintai bantuan, segera dicari kembali, juga lakukan peremajaan data alumni terbaru beserta perusahaan yang sevisi dan lumrah membantu kegiatan/kepanitian organisasi.

Sedangkan bagi alumni atau perusahaan yang sudah tidak bersedia diminta bantuan atau sekedar silaturahmi maka dibersihkan supaya organisasi fokus dengan data yang bisa dioptimalkan. Pendataan alumni dan perusahaan menjadi sangat penting dan cukup signifikan membantu organisasi.

 

 

Komunikasi kembali dengan jejaring

Lakukan komunikasi rutin dengan alumni dan perusahaan. Rajut silaturahmi di awal kepengurusan, tengah, dan akhir. Buat report bulanan yang singkat padat namun tetap informatif untuk memberikan kabar update. Hindari kontak mendadak dan meminta bantuan dana tanpa ada silaturrahmi sebelumnya dan atau setelah terdampak masalah.

 

Meeting menghasilkan kesepakatan

Pastikan kesiapan mental dan bahan meeting sudah terpenuhi sebelum melakukan meeting dengan alumni atau dengan perusahaan. Hindari kesalahan teknis di proposal.

 

Teknik lobi

Soft skill yang harus dimiliki dalam ikhtiar berjejaring adalah kemampuan lobi. Sebenarnya sederhana terkait ilmu lobbying, yakni kematangan publik speaking, emosional, pengetahuan terhadap lawan bicara dan memiliki attitude yang baik. Prinsip setiap perusahaan memiliki dana sosial (CSR) untuk dikeluarkan disalurkan kepada kegiatan yang dianggap sesuai dengan visinya. Maka kemungkinan besar jika acara tepat dengan keinginan perusahaan, beserta klasifikasi penanggung jawab (PJ) sponsorship yang mumpuni berjalan dengan baik, maka InsyaAllah semuanya akan berjalan baik pula.

 

Dalam studi kasus lain misalnya mengajak kerjasama komunitas juga jika acara cocok dengan komunitas yang diundang dan PJ delegasi sesuai dengan klasifikasi di atas pun InsyaAllah berhasil mendapatkan tujuan. Maka dari itu, disini perlu diperhatikan betul PJ humas atau delegasi sponsorship untuk melakukan lobbying menghasilkan kesepakatan. Kemampuan berjejaring dengan baik akan menentukan kualitas kepemimpinan seseorang yang akan memberikan dampak signifikan baik secara personal ataupun kelembagaan. (*)

 

[1] Bachtiar Firdaus. 2016. Prophetic Leadership. Surabaya : Saga. Hlm. 124.

[2] Bachtiar Firdaus. Ibid. hlm

 

 

Mumpung Libur Ngaji Dulu Kuy

Mumpung Libur Ngaji Dulu Kuy

 

Ngapain ngaji?” merupakan pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh orang awam, jangankan orang awam, dulu, akupun akan menanyakan hal yang sama Sob. Ngaji, membaca Alquran, menelaah Alquran, atau hal berbau Islami lainnya bukankah tidak diwajibkan secara turun-temurun? Kebanyakan orang dewasa hanya menekankan pada salat dan puasa, maka agama Islam yang dianut hanya seputar “Yang penting salat dan puasa” padahal, mengkaji Alquran dan Islam tidak sesempit itu.

 

 

 

Sebuah hadis berkata, “Apabila telah kamu taklukkan akhirat, maka dunia akan merunduk”. Hal ini yang sering tidak disadari oleh seseorang, khususnya umat muslim sendiri. Banyak muslim dan muslimah yang memandang sebelah mata tentang agamanya sendiri, menoleh tidak acuh pada fitnah yang terjadi pada umat ini,  men-judge penampilan takwa seperti jenggot, celana cingkrang, dan jilbab lebar, menganggap hal tersebut adalah hal yang aneh dan merupakan gerakan islam radikal yang membahayakan (Syukri, 2019).

 

 

 

Padahal, mereka hanya belum merasakan manisnya Islam, iman, dan apa efeknya yang terjadi pada diri mereka. Hal ini akan lebih mudah diterima apabila mereka merasakannya pada perubahan di dunia nyata.

 

 

 

Islam sebagai rahmatan lil a’lamin, agama yang memudahkan umatnya, yang setiap prosesnya dihitung sebagai pahala, akan mudah dipelajari bagi siapapun, bahkan umat non islam sekalipun. Jangan sampai karena minder kepada seseorang, teman, hingga sahabat yang pemahaman dan ilmu agamanya lebih baik, kita enggan mempelajari islam. Sebaliknya, seseorang yang pemahaman agamanya merasa sudah di atas rata-rata pun bukan jaminan akan masuk surga. Selama napas ini masih berhembus, masih ada kemungkinan untuk berbelok kearah kemaksiatan maupun kebaikan. Oleh karena itu, dakwah hadir untuk menjawab itu semua, menjaga seluruh umat islam tetap berada di jalan kebaikan dengan cara hubungan dua arah, baik pendakwah maupun yang didakwahinya akan mendapatkan efek penjagaan yang sama.

 

 

 

Namun karena cara yang dianggap kuno, kurang kekinian, terlalu mengikat sehingga membuat seseorang yang baru mau berhijrah sulit untuk mempertahankan keistiqomahannya. Pertanyaan “Ngapain ngaji?” adalah maksud dari tulisan ini untuk membedah alasan-alasan, kenapa? Why? Ketika seseorang sudah mengetahui strong why-nya, maka ia akan kembali pada track-nya saat godaan lalai muncul (Siauw, 2013). Yang pertama adalah alasan menuntut ilmu, dalam bahasa formalnya, aspek pendidikan. Yang kedua adalah meningkatkan rasa persaudaraan antar muslim dan muslimah.

 

 

 

Alasan menuntut ilmu

Seperti yang ada di dalam buku Fiqih Prioritas karya Dr. Yusuf Al-Qardawy, ilmu merupakan prioritas dibandingkan dengan amal. Contohnya, seseorang yang tidak mengetahui bacaan salat dan langsung mengkuti gerakan salat tidak akan diterima salatnya. Hal ini dapat dianalogikan ketika manusia hidup di dunia, ilmu tentang dunia telah lengkap dipaparkan islam melalui Alquran dan sunnahnya. Lemahnya ilmu dalam paparan Fathi Yakan di buku Robohnya Dakwah di Tangan Dai dapat menimbulkan penyakit hati sehingga menurunkan kualitas ketakwaan atau ketakutan dalam melakukan dosa.

 

 

 

Meningkatkan rasa persaudaraan

Dalam analogi setan ibarat serigala dan domba adalah manusia, maka serigala akan lebih mudah menerkam domba sendiri dengan domba yang selalu bersama kawan-kawannya. Hal ini dapat dipahami, bawha seseorang yang senantiasa berjalan bersama-sama, mengaji, menuntut ilmu akan lebih sulit digoyahkan dibandingkan seseorang yang hanya beribadah, wirid, dan sholat sendiri. Seperti di dalam hadis. “Seorang mukim bagi mukmin yang lain laksana bangunan yang saling mengukuhkan antara sesamanya.” (HR. Bukhari) (Yakan, 2009).

 

 

 

Memang, dalam berukhuwah, semua tidak akan lezat, kadang terasa pahit, asam, namun juga manis dan gurih. Rasa pahit dan asam akan selalu muncul jika kita tidak bisa menetralisirnya sendiri. Berjalan bersama-sama berarti harus menerima kekurangan antar kawan, memaklumi kelalaian yang terjadi, kekhilafan yang terungkap, karena bangunan dakwah bukanlah bangunan para malaikat. Benar, bahwa mayoritas pendakwah adalah orang yang  sudah memahami agama atau dalam proses tersebut, namun manusia tetaplah manusia yang tabiatnya adalah pelupa sehingga selalu ada celah ketidaksempurnaan. Tetapi hal ini pun bukan pembenaran bahwa kelalaian tersebut bisa dilakukan berulang-ulang. Salah satu nikmatnya berukhuwah adalah seseorang bisa saling mengingatkan satu sama lain tanpa merasa disakiti ataupun menyakiti karena hal tersebut adalah untuk kebaikan masing-masing.

 

 

 

Allah sendiri yang menjamin bahwa Ia lebih menyukai orang-orang yang berjalan bersama seperti barisan rapi yang diabadikan dalam Quran surah As- Saff ayat 4 yang bunyinya,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

 

 

 

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

 

 

 

Ketika ditanya “Ngapain ngaji?” atau menanyakan kembali kepada diri sendiri ditengah goncangan godaan setan, selain jawaban mutlak “Ingin masuk surga” kita bisa menambahkan alasan menuntut ilmu dan rasa persaudaraan ini di dalam jawaban “Ngapain ngaji?” ini.

 

 

 

Daftar pustaka :

Qardhawi Y. 2004. Fiqh Prioritas. Surakarta: Era Inter Media.

Quran Tajwid dan Terjemah. 2006. Jakarta: Maghfirah Pustaka

Siauw F. 2013. How to Master Your Habits. Jakarta: Al Fatih Press.

Syukri M, Karimah S. 2019. Nota Kontan untuk Tuhan. Jakarta: Elex Media.

Yakan F. 2009. Robohnya Dakwah di Tangan Dai. Surakarta: Era Inter Media.

Ini Serius! Kamu Jangan Apatis dong!

Ini Serius! Kamu Jangan Apatis dong!

Oleh:  Mustika Rani

 

Mahasiswa merupakan suatu gelar yang sangat istimewa yang ada pada pemuda. Adapun peranan mahasiswa yang tidak akan berubah ,yaitu agent of change, social control, dan iron stock. Agent of change adalah peran mahasiwa dalam melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik. Mahasiswa yang sedang berada tahap belajar, mulai memahami kaidah- kaidah yang semestinya yang diterapkan pada kehidupan bernegara. Jika ada sesuatu yang tidak berada dalam aturannya, maka mahasiswalah yang akan mengembalikan ke jalur yang semestinya. Social control adalah peran mahasiswa dalam mengamati lingkungan dan negaranya. Seringkali, pemerintah yang berada diatas hirarki bernegara melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi masyarakatnya atau dapat dikatakatan menguntungkan diri sendiri. Maka itulah peran mahasiswa memperbaiki hal tersebut dengan tanpa kepetingan tertentu didalamnya. Yang terakhir adalah Iron stock, mahasiswa diharapkan menjadi pemimpin- pemimpin negara yang lebih baik. Karena mahasiswa telah mengetahui bagaimana hal yang semestinya diperbaiki untuk menyejahterakan negara, hal tersebut Karena mahasiswa telah mengkaji kebijakan-kebijakan pemimpin sebelumnya. Dengan mengetahui hal yang dipaparkan tersebut hendaknya kita sebagai mahasiswa menjadi pemimpin yang dapat berguna bagi rakyat.

 

 

Kontribusi dalam kamus besar Bahasa Indonesia dapat berarti sumbangan. Nah, sumbangan seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini. Menilik dari permasalahan bangsa ini di saat sekarang sudah jelaslah solusi dari permasalahn tersebut, dibutuhkan kesadaran pemuda bangsa ini untuk menjadi pemimpin negeri ini dalam memberantas krisis ideologi yang tengah terjadi. Seorang pemimpin yang terus mempelajari dan berbagi mengenai seluk beluk ideologi pancasila yang sebenar–benarnya.

 

 

Adalah suatu kesia-siaan jika gelar mahasiswa ini tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sangat mubazir jika kita hanya menjadi seorang apatis yang hanya kuliah-pulang atau kuliah-kafe. Belum lagi peran kita sebagai manusia yang diciptakan dimuka bumi untuk menjadi pemimpin umat sedunia.

 

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

 

 

Berbicara tentang pemimpin, pemimpin Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi zaman sekarang, seharusnya pemimpin Indonesia dapat membuat terobosan terbaru yang efektif dan efesien dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Biarlah terobosan tersebut hanya hal kecil. Bisa saja hal kecil seperti sebuah akun khusus dan laman khusus yang akan otomatis ada ketika sebuah akun pemuda Indonesia aktif. Akun khusus inilah nantinya yang menjadi media berbagi serta menguatkan prinsip – prinsip Pancasila kepada setiap pengguna media sosial di tanah air.

 

 

Selain itu, pemimpin juga harus mengetahui segala problematika yang terjadi di Indonesia. Permasalahan saat ini sebenarnya dapat teratasi jika generasi muda sebagai calon pemimpin benar-benar menerapkan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Namun sayangnya ada pemuda yang menganggap pancasila itu tidak relevan. Meskipun ada pemuda yang mengaku mencintai pancasila, tapi mereka tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila seutuhnya. Mereka memang mempunyai nilai nasonalisme yang cukup tinggi, tapi apakah nasionalisme saja sudah cukup untuk memahami makna pancasila? Tidak, karena dalam pancasila telah dirumuskan nilai-nilai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan kepada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Untuk itu, pemimpin dengan pemahaman tinggi terhadap ideologi sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

 

 

Oleh karena itu janganlah kita menyia-nyiakan waktu yang kita miliki, karena Ahmad Rifa’i Rif’an seorang penulis buku Hidup Sekali, Berarti lalu Mati pernah menyampaikan dalam bukunya:

 

 

Bukankah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan maha karya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah? Lahir, hidup, mati tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya.

 

Keluar Sob! Keluar dari Zona Nyamanmu!

Mempertanyakan Kembali Definisi Zona Nyaman

Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Kalimat ini sering kita dengar baik dalam seminar motivasi, career coaching, hingga posting media sosial. Pada awalnya, penulis mendapati nasehat ini sangat rasional dan konstruktif. Pasalnya, nasehat ini mengajarkan kita untuk dapat memiliki hidup yang lebih menantang dimana kita dianjurkan melangkah ke zona yang dianggap belum pernah kita lakoni sebelumnya. Ini dianggap penting, karena dengan melakukan sesuatu yang rutinitas normal, kita akan dapat mengembangkan potensi diri, melalui pengalaman, pengetahuan dan kemampuan baru yang didapat.

 

 

Lama narasi ini beredar pada dalam ruang publik, belakangan penulis kembali mempertanyakan konsep yang sangat populer ini. Sebetulnya, apa yang dimaksud keluar dari zona nyaman? kepada apa kata zona itu merujuk? Apakah keluar dari kenyamanan adalah satu-satunya cara untuk mengeksplorasi diri dan potensi yang ada?. Melalui tulisan singkat ini, penulis akan mencoba membahas narasi keluar dari zona nyaman dari perspektif penulis sebagai upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

 

 Pertanyaan paling dasar dari narasi keluar dari zona nyaman adalah belum adanya konsep yang begitu jelas tentang apa itu zona dan seperti apa konteks dari kata zona, ketika diasosiasikan dengan kata sifat nyaman. Merujuk pada definisi kamus Oxford, comfort zone atau zona nyaman diartikan sebagai suatu situasi dimana seseorang merasa aman dan nyaman.[1] Sedangkan menurut  Alasdair A. K. White pada jurnal From Comfort Zone to Performance Management, zona nyaman adalah keadaan psikologis seseorang yang merasa tentram karena adanya kontrol terhadap pada lingkungan sekitarnya sehingga mengalami tingkat stres atau perasaan asing yang rendah.[2]  Disamping itu, dalam beberapa seminar penulis juga sering mendengar bahwa zona nyaman juga dapat diartikan sebagai pekerjaan yang telah menjadi rutinitas bagi seseorang. Contohnya, menjadi karyawan untuk sebuah perusahaan atau menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara). Dari 3 definisi di atas, tanpa memberturkan gagasan masing-masing perspektif, dapat disimpulkan bahwa secara umum zona dalam konteks zona nyaman dapat merujuk pada tiga hal yakni tempat, kondisi psikologis, atau sebuah kegiatan.

 

 

Relasi Zona dan Rasa Nyaman

Pertanyaan selanjutnya yang harus diurai yaitu dari mana rasa nyaman dapat muncul pada sebuah zona, baik dalam defenisi zona sebagai tempat, kondisi psikologis, atau sebuah pekerjaan. Pertama,  nyaman dalam definisi tempat.  Penulis lahir dan juga besar di Kota Padang, Sumatera Barat. Mulai dari bangku sekolah dasar penulis tidak pernah berdomisili di kota lain dalam waktu yang relatif lama hingga menyelesaikan S-1. Tentu saja dengan demikian sudah hampir semua macam karakteristik Kota Padang penulis pahami. Seperti kultur sosial, budaya, dan bahkan seluk belok area kota. Melanjutkan hidup di Kota Padang tidak akan menyulitkan bagi penulis. Sebab, penulis telah menguasai atau memiliki kontrol yang memadai mengenai lingkungan Kota Padang. Ini  berarti Padang, berdasarkan definisi Alasdair A. K. White, adalah zona nyaman penulis.

 

 

Dengan latar belakang seperti diatas, mayoritas pembicara publik normalnya akan menyarankan penulis untuk keluar dari zona nyaman (Padang). Pada tahun 2018 penulis juga berfikir demikian, dan kabar baiknya, penulis mendapatkan kesempatan untuk keluar dari Padang melalui sebuah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Vietnam Selatan. Melalui program ini, penulis berkesempatan untuk melakukan sejumlah kegiatan di 2 Provinsi Vietnam Selatan selama kurang lebih 1 bulan dengan bonus perjalanan transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Akan tetapi, perjalanan ini justru membuat penulis berfikir ulang tentang nasehat “keluar dari zona nyaman”. Pasalnya, sepanjang perjalanan di 2 negara tersebut, penulis tidak menemukan rasa tidak nyaman. Baik Padang ataupun Long Xuyen (Nama Kota yang penulis kunjungi), memiliki rasa nyaman yang sama (walaupun dalam hal yang berbeda). Memang, dalam bahasa, budaya, kuliner,dll  antara Long Xuyen dan Padang memiliki banyak perbedaan. Namun, Vietnam masih terasa sebagai rumah bagi penulis. Begitu juga dengan Kuala Lumpur, dimana penulis bahkan menemukan keluarga angkat yang hingga saat ini selalu seperti keluarga sendiri setiap kali penulis kembali berkunjung. Hingga penulis meninggalkan Long Xuyen, kota ini masih terasa dalam kontrol dan tingkat stress yang juga relatif sama dengan Padang. Terkadang memang terdapat masalah, namun kebanyakan momen dilalui dengan kebahagiaan.

 

 

Kasus yang mirip, juga terjadi pada saat penulis memilih dari jurusan Hubungan Internasional (HI) di mana sebelumnya penulis adalah siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di bangku SMA.  HI yang notabenenya mempelajari politik internasional, membuat penulis harus banyak membaca jurnal dan menulis  tulisan ilmiah. Akan tetapi, tetap saja, bagi penulis antara IPA dan HI, memiliki tingkat stress yang setara. Tsidak ada perbedaan tingkat stress yang signifikan hingga penulis menamatkan kedua jurusan ini. Disamping itu, seingat penulis kondisi psikologis penulis dalam merasakan nyaman juga relatif sama ketika di bangku SMA maupun di PTN. Terkadang terdapat masalah, namun kebanyakan momen dilalui dengan kegembiraan. Ini berarti, berubahnya rutinitas  penulis dari jurusan IPA (yang dapat dikatakan merupakan zona awal penulis) ke jurusan HI juga tidak serta-merta membuat penulis merasa tidak nyaman. Keduanya terasa berada pada keadaan psikologis yang sama.

 

 

Berangkat dari pengalaman diatas, penulis menyimpulkan bahwa zona nyaman hanyalah sebuah konsep. Kita tidak pernah benar-benar diubat nyaman oleh sesuatu diluar diri seperti tempat, orang-orang sekitar, ataupun kegiatan yang kita lakukan. Dengan kata lain, tidak terdapat suatu hubungan atau relasi antara tempat dan rasa nyaman yang kita rasakan. Atau, dapat dikatakan zona nyaman dapat dikatakan inexist (tidak ada).

 

 

Asal-Usul Rasa Nyaman Suatu Zona

Disebut inexist atau (tidak ada) karena tidak ada sejatinya tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang dapat dikategorikan nyaman atau tidak nyaman. Setiap tempat, keadaan, maupun kegiatan memang menawarkan pengalaman yang berbeda. Akan tetapi, rasa nyaman pada suatu hal tidak tergantung oleh tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang dilakukan. Misalnya, apabila sedari awal kita menetap pada kota kelahiran dan menganggap kota tersebut membosankan, maka kota yang dihuni selama ini juga tidak akan menjadi zona nyaman. Atau dalam kasus kedua, apabila suatu kegiatan yang kita telah kita lakukan bertahun-tahun dinilai sebagai kegitan yang menyebalkan, maka kegiatan tersebut juga tidak akan menjadi zona nyaman walaupun, segala hal telah berada pada kontrol individu dengan tingkat stress paling minim.

 

 

Menurut penulis, rasa nyaman pada zona apapun, berasal dari alam pikiran individu. Alam pikiran inilah yang menjadi penentu apakah suatu tempat, keadaan, atau kegiatan dapat dikatakan zona nyaman atau bukan. Apabila diawal penulis berfikir Long Xuyeng ataupun HI merupakan bukan zona nyaman bagi penulis, maka disaat yang sama, semua kegiatan yang penulis lakukan saat itu pasti akan terasa berbeda dengan di Padang maupun jurusan IPA. Mungkin, Long Xuyeng dapat terasa sebagai kota yang asing, berbeda, atau penuh dengan stres (setidaknya diawal). Namun sebaliknya, semua terasa nyaman karena segala hal dipersepsikan sama. Artinya, semua zona pada hakikatnya bersifat netral hingga kita membentuk persepsi-persepsi tertentu tentang zona tersebut. Adanya istilah keluar dari zona nyaman, sebetulnya disebabkan oleh kebanyakan orang mempersepsikan tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang akrab dengan kita saat ini sebagai kenyamanan. Sedangkan tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan apapun yang belum akrab, dianggap sebagai zona tidak nyaman yang harus dituju.

 

 

Padahal, semua zona pada dasarnya sama. Kita tetap dapat bertumbuh menjadi orang yang lebih baik kendati tetap berada pada zona yang sama. Begitu pun dengan orang yang berpindah-pindah zona. Mengapa? Karena, dimana pun manusia berada, selama manusia hidup akan selalu ada masalah. Masalah demi masalah ini akan menguji kehidupan manusia dan membuatnya lebih baik. Tentu saja selama invidu tersebut menjalani segala dinamika dengan tekun dan pantang menyerah.

 

 

Epilog

Kendati demikian, bukan berarti penulis ingin mengatakan bahwa pergi ke suatu tempat atau melakukan aktivitas yang berbeda adalah hal percuma. Karena setiap pengalaman di lain tempat akan membentuk kreativitas, kritisisme, dan juga kedewasaan. Akan tetapi, esai ini dimaksudkan untuk mengemukakan sebuah gagasan baru yakni kemanapun kita pergi, alam pikiran kitalah yang lebih menentukan kenyamanan. Pertanyaan yang menarik disini yaitu mengapa kita harus melangkah ke zona yang tidak nyaman, padahal ketidaknyamanan itu sendiri lahir dari persepsi kita sendiri. Bukankah perjalanan lebih menyenangkan jika kita mendapatkan semua pengalaman baru tanpa harus merasakan stress, asing, dan tidak nyaman? Karena kita dapat selalu ada dalam zona nyaman- pikiran kita sendiri.

Referensi

[1]Lexico powered by Oxford, “Comfort Zone Definition” https://www.lexico.com/en/definition/comfort_zone (diakses 2 Desember 2019)

[2]  Alasdair A. K. White “From Comfort Zone to Performance Management” http://www.whiteandmaclean.eu/from-comfort-zone-to-performance-management/ (diakses pada 2 Desember 2019)

Jangan Sampe deh Kita Jauh dari Allah Sob

Jangan Sampe deh Kita Jauh dari Allah Sob

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

 

 

Ketika Adam ‘Alaihissalam tinggal di surga, Allah mempersilakan Adam ‘Alaihissalam untuk memakan apapun yang ada di dalam surga. Hanya, satu yang tidak boleh, “Akan tetapi, janganlah kamu dekati pohon ini (walaa taqraba hadzihi asy-syajarah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 35).

 

 

 

Perhatikan ismul isyarah (kata tunjuk) yang digunakan pada ayat di atas! Alquran menggunakan kata “hadzihi” yang merupakan kata tunjuk dekat dan bermakna “ini”. Artinya, sebelum Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah, kedudukan Adam ‘Alaihissalam itu dekat sekali dengan Allah. Karenanya, redaksi Alqurannya menyebutkan, “…pohon ini” bukan “…pohon itu”. Ini menunjukkan dekatnya kedudukan Adam ‘Alaihissalam di sisi Allah.

 

 

 

Akan tetapi, ketika Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah dengan memakan buah dari pohon terlarang itu, ismul isyarah-nya berubah dari “hadzihi” (kata tunjuk dekat) menjadi “tilka” (kata tunjuk jauh) yang bermakna “itu”.

 

 

 

Alquran menerangkan, “…Tuhan menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu (tilkuma asy-syajarah) dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu berdua?’” (QS. AL-A’raf [7]: 22).

 

 

 

Berubahnya kata tunjuk yang digunakan Alquran setelah Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah menunjukkan berubahnya kedudukan Adam ‘Alaihissalam di sisi Allah. Semula kedudukannya dekat di sisi Allah menjadi menjauh karena pelanggaran itu.

 

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari, semestinya kisah Adam ‘Alaihissalam ini menjadi pelajaran bagi. Yakni, setiap dosa dan pelanggaran syariat yang kita lakukan menjadikan kita semakin menjauh dari Allah Subhanahu Wata’ala. Jika kita menjauh dari Allah, bagaimana mungkin kita bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup? Yang terjadi adalah hidup kita kering kerontang. Mungkin secara fisik materi dunia kita berkecukupan, bahkan mungkin lebih dari cukup. Namun, jiwa dan ruh kita merana dan meronta.

 

 

 

Dosa akan menggelapkan hati kita. Sedang, hati adalah tempat menerima pancaran cahaya hidayah dan taufik. Bila hati gelap pekat, mana bisa menerima cahaya hidayah. Jadi, sebenarnya bukan Allah tidak memberikan hidayah, namun kitalah yang menolak datangnya hidayah dengan dosa dan maksiat yang menggelapkan hati.

 

 

 

Karena itu, tiada yang lebih indah dalam hidup ini selain Allah dekat dalam kehidupan kita. Allah berkenan hadir dalam setiap gerak langkah kehidupan kita. Caranya dengan menjauhi dosa dan maksiat. Sehingga, hati menjadi jernih dan mudah menerima pancaran cahaya hidayah dan taufik. Hidayah dan taufik dari Allah inilah yang menjadikan hidup kita terarah, damai, dan bahagia.