Di SMART Setiap Sore Adem Karena Ini lho Sob

Sejak angkatan pertama hingga angkatan lima belas ada sebuah kegiatan yang membuat kami selalu merasa nyaman berada di SMART. Bukan hanya nyaman, tapi juga ada perasaan tenang yang menyusup diantara penatnya pikiran kami akan banyaknya pelajaran yang haus akan perhatian.

“Lalu kegiatan apakah itu?” nah kamu sudah mulai penasaran deh, kami menyebutnya SMART Ma’tsurat. SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap Selasa, Rabu, dan Jumat lepas Salat Asar. Semua siswa wajib mengikuti kegiatan ini, tak ada kecuali. Kami yang berjumlah ratusan orang berkumpul di Masjid Al-Insan, satu orang memimpin dan memandu kami selama Al-Ma’tsurat dibacakan, sisanya mengikuti.

Selama kurang lebih tiga puluh menit kami bersama-sama membaca Ma’tsurat dengan khidmat dan penuh kesyahduan. Suasana sangat tenang, damai, dan penuh kesejukan. Suara kami menggema ke seantero area masjid, tak jarang hingga membuat mereka yang lalu lalang berhenti untuk turut serta.

“SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang selalu kutunggu, karena aku bisa membaca Ma’tsurat bersama teman-tema sekelasku dan kakak kelas yang lain,” ujar Syehan, kelas V. “Kebersamaannya yang membuatku kangen,” tambahnya.

Tapi tahukah kamu kalau membaca Al-Ma’tsurat memiliki beberapa keutamaan yang baik untukmu, antara lain:

  • Diriwayatkan dari Sya’bi dari Ibnu Mas’ud: “Siapa yang membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di rumah, setan tidak masuk ke rumah tersebut malam itu hingga pagi hari, empat ayat yang pertama, ayat kursi, dan dua ayat setelahnya, dan penutupnya ( tiga ayat terakhir). (HR.Thabrani )
  • Dari Abdullah bin Hubaib berkata rasulullah saw bersabda kepadaku, “bacalah Qul huwallahu ahad’, dan mu’awwadzataini (qul a’udzubirabbil falaq.. dan qul a’udzubirabbinnas.. ketika pagi dan sore tiga kali, cukup untukmu segala sesuatu’. (HR.abu Dawud dan Turmudzi)
  • Keutamaan membaca Al-Ma’tsurt lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, “siapa yang mengucapkan ketika pagi hari, ‘Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin’ tiga kali ketika pagi hari dan tiga kali ketika sore, Allah menyempurnakan nikmatnya atasnya” (HR.Ibnu Saunni)
  • Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi, sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda,” Siapa yang membaca ketika pagi ‘Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min khalkika falakal hamdu walakasyukr’ sungguh telah menunaikan syukur hari itu, dan siapa yang membaca pada sore hari, sungguh telah menunaikan syukur malamnya”.  (HR.Abu Dawud)
  • Dari Tsauban, berkata Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang mengucapkan ketika sore hari “radhitu billahi rabba wabil islami diina wabi muhammadin nabiyyah adalah hak atas Allah untuk menjadikan dia ridha”. ( HR.Turmudzi)
  • Ibnu Abbas berkata Rasulullah saw. Keluar dari (menemui) Juwairiyyah, dan dia berada di mushalanya dan beliau kembali sedang Juwairiyyah masih di mushallanya. Lantas Rasulullah bersabda, ”Engkau tak henti-hentinya di mushollamu ini“. Dia menjawab, “ya beliau bersabda “sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali kalau ditimbang dengan apa yang engkau katakan niscaya lebih berat dari yang engkau ucapkan,” ” Subhanallahu wabihamdihi ‘adada kholqihi”(HR.Muslim).
  • Dari Utsman bin Affan ra. Berkata, Rasulullah bersabda, ”Tidak ada seorang hamba membaca pada pagi hari setiap hari dan pada sore hari setiap malam, “Bismillaahi lladzi laa yadzurru m’asmihi syai’un……’ tiga kali maka tidak ada satu pun yang membahayakannya”. (HR.Abu dawud dan Turmudzi).
  • Dari Abi Sa’id Al-Khudri berkata, beliau bersabda,”Katakanlah jika engkau masuk pagi dan di sore hari “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali” Ia berkata,” maka aku lakukan hal itu lantas Allah menghilangkan kesusahanku dan menunaikan utangnya”. (HR.Abu Dawud).
  • Dari Abdurrohman bin Abi Bakrah dia berkata kepada bapaknya, ”wahai bapakku, sungguh aku mendengar engkau berdoa setiap pagi: ‘ Allahumma ‘aafini fi badani ….’engkau ulang tiga kali setiap pagi dan sore, dan engkau juga mengucapkan ‘ Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri…’ engkau ulang tiga kali tiap pagi dan sore. ‘ dia berkata. ”Ya wahai anakku, aku mendengar Nabi Muhammad saw. berdoa dengannya dan aku ingin mengikuti sunnahnya”. (HR.Abu Dawud, Ahmad, dan Nasai).
  • Dari Nabi saw, “penghulu istighfar adalah Allahumma anta rabbi ’barangsiapa membacanya di siang hari yakin dengannya, kemudian mati hari itu sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yang membaca pada malam hari yakin dengannya lalu ia mati sebelum pagi hari, maka dia termasuk ahli surga”. (HR.Bukhari)
  • Dari Abu Ayyasy, sesungguhnya Rasulullah Saw, bersabda, ‘siapa yang mengucapkan ketika pagi hari ‘Laa ilaaha illallah….adalah baginya sebanding memerdekakan budak dari putra Isma’il, ditulis untuknya sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kesalahan, diangkat sepuluh derajat, dan dia dalam penjagaan dari setan hingga sore, dan jika ia baca ketika masuk sore maka baginya seperti itu pula (HR.Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Waaah ternyata banyak sekali ya keutamaan membaca Al-Ma’tsurat, kami jadi semakin semangat mengikuti SMART Ma’Tsurat, selain mendamaikan juga banyak kebaikannya. Yuk kita biasakan membaca Al-Ma’tsurat agar Allah meridhoi semua hajat yang ingin kita lakukan. (AR)

SMART Mewadahi Usahaku Menjadi Orang yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

SMART Mewadahi Usahaku Menjadi Orang yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, Undip Jurusan Sastra Indonesia 2017

 

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

 

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama 5 tahun untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

 

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada

disekitarku.

 

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan. Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan oleh SMART kepadaku. Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

 

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

 

Berada di SMART selama lima tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

 

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Alquran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadis tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Alquran dan mengajarkannya.

 

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat mengajar dan yang kuajarkan bersemangat dalam mempelajari  ilmu Alquran. Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain.  Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika, fisika, bahasa, biologi atau yang lain seperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

 

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang dulu aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu. Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

 

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar.  Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

 

Duta Gemari Baca ini bertugas untuk menyebarkan informasi  tentang literasi kepada semua orang dan mengajak orang lain untuk senang membaca. Aku sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian dari Duta Gemari Baca yang dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Menjadi Duta Gemari Baca membuatku merasa menjadi orang yang berguna untuk mengajak orang lain mengenal dan menyukai literasi.

 

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di Desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

 

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

 

Jangan Jadi Pemuda yang Hanya Bermodal Eksistensi

 Jangan Jadi Pemuda yang Hanya Bermodal Eksistensi

Oleh: Purwoudiutomo

 

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp. 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika dilis, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

Arti Sebuah Perjuangan

Arti Sebuah Perjuangan

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Guru Agama Islam SMART Ekselensia Indonesia 2010 – 2012)
Setiap orang pasti punya cerita kehidupan masing-masing yang sifatnya personal. Cerita tentang kuliah sambil kerja barangkali bukan hal baru. Banyak mahasiswa yang punya cerita kehidupan seperti itu.
Namun, bisa saja itu cerita kehidupan yang bermakna dan berkesan bagi seorang mahasiswa yang menjalaninya. Dibaliknya, ada cerita tentang bertahan untuk bisa kuliah dan kelangsungan kehidupan. Dibaliknya mungkin saja ada air mata perjuangan, yang bagi orang yang tidak mengalaminya, tidak bisa merasakan maknanya. Layaknya manisnya gula tak pernah sempurna dijelaskan, kecuali dengan merasakannya.
Dibaliknya, ada cerita tentang kesabaran dan keyakinan akan kebenaran janji Tuhan. Bahwa satu kesulitan diapit oleh banyak kemudahan. Bahwa ada janji pertolongan Tuhan usai kegigihan ditunjukkan.
Singkatnya, ini tentang arti sebuah perjuangan. Setiap perjuangan punya makna dan kesan personal. Tidak bisa dikatakan perjuangan si A lebih bermakna dan berkesan daripada perjuangan si B. Hanya ada satu kesamaan dalam perjuangan, yakni kemuliaan. Selebihnya, punya makna sendiri-sendiri (personal).
Siang tadi (2/11/2019), usai menyampaikan materi “Pemimpin Muda: Integritas dan Intelektualitas” di FIB Undip, saya dibonceng motor Vikram menuju sebuah cafe untuk makan siang dan janjian ketemuan dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia yang di Semarang (Undip dan Unnes).
Kejutan. Sosok pemuda yang membukakan pintu cafe dan mempersilakan masuk adalah anak muda yang saya kenal. Namanya Lazuda (alumni SMART Ekselensia Indonesia), angkatan X, mahasiswa semester III Fakultas Perikanan dan Kelautan Undip. Rupanya Lazuda bekerja di cafe tersebut. Inilah satu cerita perjuangan seorang Lazuda.
Vikram, mahasiswa semester V Fakultas Ilmu Budaya Undip, juga punya cerita perjuangan yang personal. Sampai saat ini Vikram berjualan pempek di kantin fakultasnya. Ini tentang menjaga izzah diri dari membebani oranglain. Ini tentang nilai diri seorang pemuda. Maka, cerita ini mengingatkan saya pada firman Allah,
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba [34]: 13).
Bekerja itu bentuk syukur. Syukur atas nikmat anggota tubuh. Maka, gunakan untuk bekerja, bukan meminta-minta. Hasil bekerja gunakan untuk nafkah yang diridhai-Nya. Ini bentuk syukur kita.
Dua cerita tentang Lazuda dan Vikram mengawali banyak cerita kehidupan dalam perjumpaan saya dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia di Semarang. Ujungnya tentang  kesamaan cita-cita berjuang bagi kejayaan Islam dan kemaslahatan umat.
Cerita-cerita kehidupan inspiratif ini akan terus diproduksi di inkubasi kehidupan bernama SMART Ekselensia Indonesia. Maka, berbahagialah orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Ide Hebat dari Watt

Ide Hebat dari Watt

 

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

 

 

Guru Terbaik Sepanjang Masa

Hidup atau mati

Keringat bercucuran dari tubuhnya

Teriak keras pada dunia

Sampai nyawa pun rasa tercekat

Hidup

Tampaklah senyum di bibirnya

Bahagia penuh pada hatinya

Walaupun mati di depan mata

Bahagia

Guru terbaik sepanjang masa

Walaupun dia pernah terluka

Senyum bahagia tetap ada

 

Manfaat Menghafal Alquran yang Perlu Kamu Tahu

Manfaat Menghafal Alquran yang Perlu Kamu Tahu Sob

  Sob seperti yang kita tahu kalau Alquran merupakan mukjizat terbesar Rasulullah saw. yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Bukan hanya menjadi pedoman hidup, ternyata Alquran juga dapat memberikan banyak keberkahan dalam hidup. Tahukah kamu Sob jika ada kajian baru yang membuktikan tentang pengaruh menghafal Alquran terhadap kesehatan? Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, Guru Besar Psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, Arab Saudi,  meneliti dua kelompok responden; mereka terdiri dari mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz dan kelompok mahasiswa Al Imam Asy-Syathibi, yang mana dari kedua kelompok tersebut berjumlah sama yakni 170 responden. Ia menyebutkan bahwa kondisi sehat secara psikologis dapat dinyatakan dengan adanya keselarasan psikis individu. Menurutnya terdapat tiga faktor utama yang digunakan untuk dapat mendefinisikan kesehatan psikologis seseorang, yakni dari aspek agama (spiritual), sosiologis, dan jasmani. Parameter yang digunakan pada penelitian ini adalah kesehatan psikis dari Sulaiman Duwairiat, terdiri dari 60 unit. Berdasarkan hasil penelitian ini, menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis. Mahasiswa yang unggul dalam hafalan Alquran memiliki perbedaan tingkat kesehatan psikis yang sangat jelas. Berikut manfaat-manfaat yang dapat dirasakan dari menghafal Alquran:
  1. Pikiran yang jernih.
  2. Kekuatan memori.
  3. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
  4. Senang dan bahagia.
  5. Terbebas dari takut, sedih, dan cemas.
  6. Mampu berbicara di depan publik.
  7. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
  8. Terbebas dari penyakit takut.
  9. Dapat meningkatkan IQ.
  10. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.
Karena Allah Swt. berfirman: بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ “Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim” (QS. Al ‘Ankabut: 49). Disadur dari: Islampos.com
,

Saatnya Gunakan Medsos untuk Mencerdaskan Intelektual dan Spiritual Sob!

Saatnya Gunakan Medsos untuk Mencerdaskan Intelektual dan Spiritual Sob!

Oleh: Syahrizal, Alumni SMART Angkatan 10 berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

Saat ini media sosial melekat di segala lini masyarakat. Bagaimana tidak, setiap harinya orang-orang di sekitar kita, dekat ataupun jauh, menggunakan media sosial sebagai sarana aktualisasi diri, silaturahmi, hingga berbisnis. Hal ini memastikan para pengguna media sosial menulis dan membaca isi dari media sosialnya masing-masing. Di Indonesia sendiri terdapat 83,7 juta pengguna aktif dari internet pada 2013. Hal tersebut menjadikan media sosial semakin “memasyarakat” dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa pemersatu keragaman yang ada di nusantara. Saat ini bahasa Indonesia menjadi pilihan dalam penggunaan bahasa diberbagai jejaring sosial terpopuler di dunia seperti Facebook, Twitter, Instagram, dsb.  Hal ini menjadikan semakin mudahnya pengguna media sosial menggunakan bahasa Indonesia untuk bersosialisasi. Hal yang menjadi permasalahan adalah seberapa sering kah pengguna media sosial membaca dan menulis? Bagi sebagian orang menulis dan membaca isi dari media sosialnya masing-masing merupakan kebutuhan, mengakses media sosial di mana pun dan kapan pun sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan baik di tempat umum ataupun di rumah masing- masing. Hal yang biasanya ditulis oleh pengguna media sosial adalah emosi dan perasaan terhadap lika-liku kehidupannya sehari-hari.

Semakin seringnya pengguna media sosial membaca dan menulis (terutama hal-hal yang sifatnya pribadi) pada media sosial akan menjadikan pengguna rentan menyalahgunakan fungsi dan tujuan sebuah media sosial. Pengawasan terhadap isi dan konten dari media sosial diperlukan untuk mempertahankan fungsi utama dari media sosial, yakni saling berkomunikasi dengan positif antar sesama penggunanya.

Banyak sekali pengguna media sosial yang hanya menggunakan media sosial –hanya- sebagai sarana mengobrol sesama pengguna, padahal media sosial sendiri dapat dimanfaatkan sebagai sarana berpikir kritis dan mencari jalan keluar permasalahan bangsa. Contohnya seperti tawuran antar pelajar, tawuran sendiri dapat dicegah dengan saling berinteraksi antara sesama pelajar dengan memperhatikan isi dan konten serta kesantunan berbahasa dari tulisan yang dipos. Para pelajar dapat saling berbagi pengalaman , pengetahuan dan kegiatan positif di sekolahnya masing-masing.

Sosialisasi dari berbagai pihak untuk meningkatkan budaya membaca dan menulis melalui media sosial sangat perlu untuk ditingkatkan. Kampanye kesadaran untuk menggunakan media sosial secara positif dapat  dilakukan dengan saling berbagi tulisan yang bermanfaat untuk memperkaya wawasan akan ilmu pengetahuan. Dalam menumbuhkan minat baca yang melalui media sosial, para pemegang kebijakan pemerintahan dan masyarakat dapat bekerjasama memfasilitasi seluruh rakyat Indonesia dalam mendapatkan akses yang optimal terhadap internet. Dengan ini cita-cita untuk mencerdaskan intelektual dan spiritual dapat tercapai dengan optimal dan sukses.

SOCIAL FUN(D)

SOCIAL FUN(D)

Kebahagiaan datang dengan berbagai bentuk, tapi seringkali dia datang lewat cara-cara yang sederhana. Itulah yang saya dapatkan ketika bersilaturahmi ke Panti Asuhan Putra Darussolihin, Salabenda. Panti asuhan yang memiliki halaman yang cukup luas dengan bangunan panti yang berbentuk huruf ‘U’ ini sudah berdiri sejak tahun 1998. Di sini tinggal 31 orang anak asuh, dari siswa SD hingga mahasiswa.

Saya dan teman-teman berkunjung ke panti ini bukan tanpa alasan. Kami bermaksud ingin donasi dan menyumbangkan beberapa barang yang kami (seluruh siswa SMART) miliki, seperti baju, uang, serta alat-alat kebersihan bagi penghuni panti. Acara ini adalah realisasi dari program OASE 2018-2019 yang sudah dirancangkan oleh divisi kami, Divisi Sosial, Komunikasi dan Informasi (Diskominfo).

Kami berkunjung ke Darussolihin pada Sabtu pagi, 21 September 2019 lalu. Saya pergi ke panti asuhan itu dengan teman-teman Diskominfo lainnya, yaitu,  Syarif, Dafa, Thorik, Agil dan Wawan.

Awalnya, program ini sangat sulit untuk direalisasikan karena terhalang beberapa faktor, seperti sulit mencari panti asuhan yang cocok, mencari tanggal yang tepat dan menyiapkan anggaran yang sesuai. Beberapa kali kami ingin mengganti program ini dengan mengadakan bakti sosial kepada siswa-siswa SD yang membutuhkan bantuan di sekitar SMART. Namun ide itu juga kami batalkan karena satu dan lain hal.

Akhirnya, setelah beberapa kali diskusi dengan Ustazah Dina Rahmawati sebagai pembina OASE, pilihan kami jatuh pada Panti Asuhan Putra Darussolihin. Setelah itu, berbagai persiapan pun kami lakukan. Kami mulai dengan melakukan survei ke Panti Asuhan Putra Darussolihin. Survei ini dilakukan untuk menilai seberapa cocok panti menerima donasi.

Selain itu, survei dilakukan untuk membuat janji pelaksanaan kegiatan apabila panti dirasa cocok untuk menerima donasi. Tapi sepertinya takdir berkata lain, pengurus panti pada saat itu sedang tidak ada di tempat. Kami pun menerima kartu nama pengurus panti dan diminta untuk menghubungi lewat Whatsapp oleh Pak Security.

Satu minggu pun berlalu. Saya teringat untuk menghubungi pihak panti guna membuat janji pelaksanaan. Dengan menggunakan ponsel milik OASE, saya pun menghubungi pihak panti. Setelah mendapat kepastian tanggal pelaksanaan, kami pun mulai menyiapkan barang-barang yang akan kami donasikan kepada Panti Asuhan Putra Darussolihin.

Donasi berupa baju dan uang kami kumpulkan secara sukarela dari seluruh siswa SMART. Awalnya, terbesit keraguan untuk mengajak siswa SMART ikut berdonasi, karena kami akan memotong uang saku setiap siswa sebesar Rp 5.000 dan meminta mereka menyumbangkan baju.

Ternyata keraguan kami tidak terbukti, semua siswa mau ikut berpartisipasi. Satu hari sebelum pelaksanaan acara, kami pun menyiapkan semua donasi yang akan kami berikan. Alhamdulillah, terkumpul uang tunai satu juta rupiah dan baju dua kardus besar. Kami juga bisa membeli alat-alat kebersihan untuk teman-teman di panti asuhan.

Hari pelaksanaan pun tiba. Kami pergi dengan menaiki Bus Pusaka dari Jampang menuju Salabenda. Karena sehari sebelumnya kami tidak sempat untuk membeli makanan, maka saya pun memisahkan diri dari rombongan untuk membeli Bolu Lapis Bogor. Kue khas Bogor ini akan kami hadiahkan kepada teman-teman di panti.

Tak butuh waktu lama, 25 menit kemudian kami semua sudah memasuki halaman Panti Asuhan Putra Darussalihin. Kami pun menyiapkan barang-barang yang kami bawa agar terlihat rapi. Sebelumnya kami cukup kerepotan menggotong dua kardus besar berisi baju, alat-alat kebersihan dan Bolu Lapis Bogor dengan berjalan kaki. Ditambah jarak dari pemberhentian Bus Pusaka ke panti asuhan lumayan jauh.

Kami disambut oleh bapak setengah baya, Pak Arif, beliau adalah salah satu pengurus panti. Kami kemudian diajak untuk masuk ke ruang tamu. Lalu kami memperkenalkan diri dan berbincang tentang Panti Asuhan Putra Darussolihin.

Pak Arif menjelaskan bahwa panti ini sudah memiliki cabang di wilayah Ciawi, khusus untuk balita dan perempuan. Penghuni panti juga berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Pak Arif pun berkisah tentang latar belakang anak-anak pantinya. Ada anak yang ditinggal cerai oleh kedua orang tuanya dan tidak terurus. Ada juga anak yang berasal dari jalanan.

Namun yang membuat kami miris adalah ada anak yang ditinggal di rumah sakit oleh orang tuanya sejak lahir. Anak itu diberi nama Imam, sekarang sudah berumur enam tahun,  Kelas 1 SD. Imam tumbuh menjadi anak yang baik dan lucu. Di sisi lain, kisahnya membuat kami berpikir betapa tak punya hati orang yang “membuang” Imam. Pak Arif juga menambahkan bahwa rata-rata anak di panti sudah jarang atau bahkan tidak dijenguk lagi oleh orang tuanya. Jadi jika lebaran tiba, mereka hanya berada di panti. Jika sedang beruntung meraka diajak jalan-jalan oleh para donatur.

Semua penuturan Pak Arif membuat kami teringat dengan kondisi kami dan siswa SMART lainnya. Kondisi kami pun tidak beda jauh dengan para anak panti ini. Kami semua berasal dari daerah yang berbeda-beda di Indonesia dan tentunya latar belakang yang berbeda-beda pula. Teman-teman kami pun ada juga yang memiliki masalah keluarga yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak panti asuhan ini.

Kami memang kekurangan secara materi, tapi kami tidak kekurangan secara nurani. Dengan  keterbatasan yang kami miliki, tidak membuat kami mempunyai alasan untuk tidak membantu sesama. Karena pada hakikatnya, seburuk apa pun kondisi kita, masih ada lagi orang yang ditimpa musibah lebih berat. Selama ini kami lebih sering mengeluh tentang apa yang tidak kami punya daripada mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Perlahan, rasa malu dan bersyukur menelusup ke dada kami. Sesuatu yang seharusnya sudah lama kami punya.

Setelah cukup lama berbincang di ruang tamu panti, kami pun diarahkan menuju ruangan seperti musala kecil. Ruangan ini tidak besar, tetapi tidak bisa dibilang kecil juga. Pak Arif menjelaskan, bahwa anak-anak mengaji dan kajian di sini.

Acara ini kunjungan kami pun dimulai. Pak Arif membuka acara dengan takzim. Setelah pembukaan, acara pun diserahkan kepada kami. Kami pun memperkenalkan diri masing-masing, seraya menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami. Anak-anak panti  manggut-manggut saja karena sepertinya mereka sudah sering dihadapkan pada situasi ini.

Setelah perkenalan diri, saya memberikan mereka sedikit motivasi. Saya mulai motivasi dengan sebuah cerita perompak gurun pasir yang saling bunuh untuk mendapatkan harta. Hingga akhirnya tak ada yang memiliki harta itu karena semuanya mati terbunuh. Semua peserta menyimak dengan serius dan sesekali tersenyum.

Anak-anak panti menyimak dengan serius karena sepertinya jarang ada yang datang dan memberi motivasi dengan berapi-api seperti seorang yang sedang orasi. Saya sengaja mengeraskan suara saya seperti sedang orasi, untuk membangkitkan semangat mereka. Saya ingin menyampaikan bahwa manusia yang dibentuk dengan kepedihan sedari kecil akan menjadi manusia yang tangguh.

Selayaknya berlian yang sangat berharga, hanya dapat terbentuk setelah melewati panggangan ribuan derajat Celsius di magma dan ditempa oleh bumi. Saya juga ingin menyampaikan bahwa, kita yang berasal dari golongan bawah bukan berarti tidak bisa menyebarkan kebaikan. Sebarkanlah kebaikan itu walau sekecil apa pun. Karena berbuat kebaikan itu seperti sebuah bandul. Ia akan kembali lagi kepada kita dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Setelah selesai memberi motivasi singkat, acara pun kami lanjutkan dengan penyerahan donasi. Saya menjelaskan bahwa donasi ini berasal dari seluruh siswa SMART Ekselensia Indonesia. Acara pun dilanjutkan dengan menyantap Bolu Lapis Bogor besama-sama. Awalnya kami memberikan Bolu Lapis Bogor untuk dimakan oleh seluruh anak panti, tetapi Pak Arif ingin agar makannya bersama-sama.

“Agar lebih afdhol,” kata Pak Arif. Kami pun mengiyakan saja.

Disaat memotong Bolu Lapis Bogor, Pak Arif berkata, “Jarang sekali kami bisa makan Bolu Lapis seperti ini.” Saya bisa melihat raut kejujuran dari wajah Pak Arif.

Selesai makan bolu bersama, kami semua pun berfoto bersama. Kemudian saya dan teman-teman kembali berbincang singkat dengan Pak Arif tentang kunjungan ini. Beliau mengucapkan banyak terima kasih dan mengundang kami untuk tidak sungkan berkunjung kembali ke panti.

Acara selesai, kami pun bersiap untuk kembali ke SMART. Kami mengucapkan selamat tinggal kepada semua anak panti serta tak lupa bersalaman dengan Pak Arif. Acara ini memang sangat sederhana, tetapi bekas yang ditinggalkan sangat tidak sederhana,  Kawan!

Dari acara sederhana ini kami seperti sedang diajarkan banyak tentang hidup. Dilema kehidupan yang biasanya hanya terlihat di acara-acara televisi, dapat kami lihat langsung dengan mata kepala kami.

Banyak sekali orang yang merasa hidupnya sudah sangat berat, karena dia terus mendongak ke atas, lupa untuk melihat ke bawah. Seandainya dia sering melihat ke bawah, dia akan sadar bahwa masih banyak orang yang lebih susah darinya. Mereka yang menanti uluran tangan, tak peduli walau sekecil apa pun “tangan” yang datang kepada mereka.

 

,

Ketika Kedokteran Terasa Jauh, Yakinlah Allah Maha Dekat

Ketika Kedokteran Terasa Jauh, Yakinlah Allah Maha Dekat

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4, Lulusan Kedokteran UI Depok

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah Swt. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.