Arti Sebuah Perjuangan

Arti Sebuah Perjuangan

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Guru Agama Islam SMART Ekselensia Indonesia 2010 – 2012)
Setiap orang pasti punya cerita kehidupan masing-masing yang sifatnya personal. Cerita tentang kuliah sambil kerja barangkali bukan hal baru. Banyak mahasiswa yang punya cerita kehidupan seperti itu.
Namun, bisa saja itu cerita kehidupan yang bermakna dan berkesan bagi seorang mahasiswa yang menjalaninya. Dibaliknya, ada cerita tentang bertahan untuk bisa kuliah dan kelangsungan kehidupan. Dibaliknya mungkin saja ada air mata perjuangan, yang bagi orang yang tidak mengalaminya, tidak bisa merasakan maknanya. Layaknya manisnya gula tak pernah sempurna dijelaskan, kecuali dengan merasakannya.
Dibaliknya, ada cerita tentang kesabaran dan keyakinan akan kebenaran janji Tuhan. Bahwa satu kesulitan diapit oleh banyak kemudahan. Bahwa ada janji pertolongan Tuhan usai kegigihan ditunjukkan.
Singkatnya, ini tentang arti sebuah perjuangan. Setiap perjuangan punya makna dan kesan personal. Tidak bisa dikatakan perjuangan si A lebih bermakna dan berkesan daripada perjuangan si B. Hanya ada satu kesamaan dalam perjuangan, yakni kemuliaan. Selebihnya, punya makna sendiri-sendiri (personal).
Siang tadi (2/11/2019), usai menyampaikan materi “Pemimpin Muda: Integritas dan Intelektualitas” di FIB Undip, saya dibonceng motor Vikram menuju sebuah cafe untuk makan siang dan janjian ketemuan dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia yang di Semarang (Undip dan Unnes).
Kejutan. Sosok pemuda yang membukakan pintu cafe dan mempersilakan masuk adalah anak muda yang saya kenal. Namanya Lazuda (alumni SMART Ekselensia Indonesia), angkatan X, mahasiswa semester III Fakultas Perikanan dan Kelautan Undip. Rupanya Lazuda bekerja di cafe tersebut. Inilah satu cerita perjuangan seorang Lazuda.
Vikram, mahasiswa semester V Fakultas Ilmu Budaya Undip, juga punya cerita perjuangan yang personal. Sampai saat ini Vikram berjualan pempek di kantin fakultasnya. Ini tentang menjaga izzah diri dari membebani oranglain. Ini tentang nilai diri seorang pemuda. Maka, cerita ini mengingatkan saya pada firman Allah,
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba [34]: 13).
Bekerja itu bentuk syukur. Syukur atas nikmat anggota tubuh. Maka, gunakan untuk bekerja, bukan meminta-minta. Hasil bekerja gunakan untuk nafkah yang diridhai-Nya. Ini bentuk syukur kita.
Dua cerita tentang Lazuda dan Vikram mengawali banyak cerita kehidupan dalam perjumpaan saya dengan para alumni SMART Ekselensia Indonesia di Semarang. Ujungnya tentang  kesamaan cita-cita berjuang bagi kejayaan Islam dan kemaslahatan umat.
Cerita-cerita kehidupan inspiratif ini akan terus diproduksi di inkubasi kehidupan bernama SMART Ekselensia Indonesia. Maka, berbahagialah orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Ilmu Komputer untuk Kebaikan Kami Semua

Ilmu Komputer untuk Kebaikan Kami Semua

Oleh: Ari Kholis Fazari Guru TIK SMART Ekselensia Indonesia

 

Awal semester sebentar lagi akan dimulai,  tak ada yang berbeda masih sama seperti dulu ketika pertama kali saya berada di SMART Ekselensia Indonesia. Masing-masing anak di SMART mempunyai karakteristik berbeda, bahkan kemampuan tentang penguasaan teknologi juga berbeda; terutama kemampuan mereka tentang komputer khususnya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mata pelajaran yang saya ajarkan untuk anak-anak kelas 1 dan 2.

Saat memulai pelajaran pun jelas terlihat kebingungan mereka ketika berkenalan dengan komputer.

“Ustaz gimana cara nyalain TV-nya?” salah seorang anak bertanya kepada saya.

“TV yang mana, Dik?”

Anak tadi kemudian menunjuk ke monitor komputer. Itulah sebagian dari keawaman anak SMART ketika baru pertama kali masuk ke kelas komputer. Ketika pertama kali saya berada di sini, saya pun sempat kebingungan mulai dari mana saya harus mengajar. Sebabnya, masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berbeda tentang komputer, mulai dari yang benar-benar tidak tahu nama masing-masing hardware komputer sampai yang sudah tahu komputer. Apalagi, SMART mempunyai target yang cukup tinggi terhadap siswanya dalam hal penguasaan komputer.

Tantangan lain, sistem operasi komputer yang digunakan di SMART berbeda dengan sistem operasi komputer yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, yakni menggunakan open source software. Otomatis saya harus membuat sendiri administrasi pembelajaran mulai dari silabus sampai ke Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebab saya belum menemukan sekolah setingkat SMP yang belajar sistem operasi dan program-program yang sama seperti yang ada di SMART ini.

Ada suatu pengalaman yang tidak mudah saya lupakan ketika awal saya bekerja di sini sebagai guru komputer. Ketika itu, saya dihadapkan oleh komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswanya, dalam arti jumlah komputer yang bisa digunakan hanya separuh dari jumlah siswa yang ada. Terlebih lagi komputer komputer tersebut tampak sudah jadul di eranya. Jadi, secara otomatis banyak masalah ketika mulai digunakan oleh siswa yang notabene siswa kelas 1 yang masih belum mengerti sama sekali tentang komputer, apalagi pada saat itu warnet atau rental-rental komputer belum menjamur seperti sekarang ini. Ketika saya tanya sebagian siswa tentang pengetahuan komputer, hampir semuanya belum pernah memegang komputer sama sekali. Belum lagi ada beberapa siswa yang menangis ketika belajar komputer lantaran rindu dengan orangtuanya. Ketika itu saya bertanya pada diri saya sendiri, “Harus dimulai dari manakah semua ini?”

Saya pun berusaha mencari metode-metode yang sesuai untuk menangani hal ini, mulai dari mencoba sesuai dengan text book sampai dengan saya coba-coba sendiri. Pada akhirnya, saya mulai mengerti bahwa yang saya hadapi adalah anak-anak cerdas dan saya yakin mereka akan cepat belajar. Itulah yang muncul dari dalam hati saya sampai saat ini. Ketika saya berpikir mereka adalah anak-anak cerdas, maka saya akan semakin bersemangat untuk belajar dan belajar lagi.

Tidak terasa, tahun kelima akan dilalui para siswa SMART. Sesuai tradisi di SMART, setiap anak yang akan meninggalkan sekolah atau lulus dari sini mereka wajib mengerjakan Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS). Ada beberapa siswa yang membuat saya terharu ketika saya mengujikan KISS, karena judul KISS yang diajukan berkaitan dengan komputer. Ya, mereka mengambil topik seputar dunia komputer. Entah mengapa ada perasaan bangga ketika mereka lulus dari sidang KISS.  Segera saja saya teringat masa lalu mereka tatkala pertama kali mengenal mouse, keyboard, monitor, Linux, OpenOffice, sampai akhirnya ia dapat menganalisis kekurangan dan kelebihan sebuah sotiware komputer.

Dan tibalah saatnya mereka harus meninggalkan SMART untuk mengarungi dunia yang sesungguhnya. Momentum wisuda SMART menjadi pembuka semua itu. Pada saat prosesi wisuda, seperti angkatan sebelumnya, para siswa memberikan bunga kertas kepada guru- guru mereka. Ketika itu ada salah satu siswa memberikan bunga kepada saya. Padahal, saya sudah diberi bunga kertas oleh siswa yang lain. Tiba-tiba siswa itu datang dan memeluk saya sambil menangis.

“Ini buat Ustadz. Terima kasih, Ustadz, selama ini sudah membimbing saya, dan maatian saya….”

Setelah ia melepaskan pelukan, saya pun terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Apa sih yang pernah saya berikan pada mereka?”

Meskipun “hanya” mengajar komputer, saya juga ingin membangun harapan untuk mereka. Karena bagaimanapun juga, saya sudah menjadi bagian dari keluarga SMART yang berusaha mengubah senyum-senyum anak bangsa semakin lebar. Saya rasa, mungkin seperti inilah kebanggaan seorang guru, sebuah profesi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Semoga anak-anak didik saya itu bisa mengamalkan ilmu komputer yang didapat di kemudian hari untuk kebaikan.

 

,

Si Sunyi Bernama Sunyi

Si Sunyi Bernama Sunyi

Karya Muhammad Habibur Rohman

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di FIB UNS

 

Bagi Kesunyian

Bagi kesunyian

Hening adalah bunga

Atau semacam cahaya

Yang menyala di rimbun angkasa

 

Bagi kesunyian

Senyap bukan ketiadaan

Atau tahun-tahun yang usang

Yang begitu jauh dan terlupakan

 

Sajak ini, bagimu

Hanyalah semacam nyanyian

Pada suatu pagi, pada sebuah kesunyian

 

,

Sepi

Sepi

Oleh: Karya Nadhif Putra Widiansah

Sepi, sepi, sepi
sepi bukan mimpi
sepi bukan imaji
sepi bukan ilusi
sepi bukan puisi
sepi bukan diksi
sepi bukan narasi
sepi bukan petisi
sepi bukan mosi
sepi bukan intuisi
sepi juga bukan hati
sepi, sepi, sepi
sepi, untuk diriku sendiri

(Buitenzorg, 2017)

,

Hilang Tanpa Bekas

 

———–
Hilang Tanpa Bekas
———–

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

Akulah Si Pemuda Gagah 

Akulah Si Pemuda Gagah

Oleh: Ahmad Rofai alumni SMART Angkatan VI

 

SMART Ekselensia Indonesia telah membawaku ke dalam dunia yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tinggal jauh dari kasih sayang Ibu dan Ayah, kebersamaan keluarga yang begitu jauh dalam dirasa. Rasa rindu yang tiada terkira selalu merayap dalam segala malamku, dalam segala sepiku, pun dalam segala lamunanku.

 

 

 

Hari-hari pun berlalu. Kulihat sekelilingku. Lihatlah, be­gitu ceria sekali teman-temanku. Mengapa aku tak dapat seperti mereka, tetap tersenyum dan tertawa walau jauh dari rumah? Beginikah sikap yang harusnya aku miliki: tertawa riang meski jauh dari pandangan keluargaku? Tuhan, sungguh, aku tak yakin olehnya, kertasku selalu basah oleh air mataku keti­ka aku tengah menulis. Pandanganku selalu kosong pada saat sekelilingku tengah asyik bercanda ria satu sama lain.

 

 

 

Dalam keadaan rindu tiada tara yang tengah melanda, guru mengetahui kondisiku, hingga akhirnya dia mengham­piriku dan bernyanyi, tertawa riang menyorotkan mata yang indah dengan ekspresi cantik tak dapat dikata.

 

 

 

Belajar dari ketiadaan

 

 

 

Belajar untuk kemandirian

 

 

 

Mengasah potensi,

 

 

 

Mengukir prestasi,

 

 

 

Bersama kita majukan negeri

 

 

 

Belajar hilangkan kebodohan

 

 

 

Bersama jauhkan kemalasan

 

 

 

Satukan asa, tekadkan jiwa, bersama kita meraih cita

 

 

 

Sekolah kami SMART Ekselensia

 

 

 

Kami dari Sumatera hingga Papua

 

 

 

Hanya satu tekad di dalam diri,

 

 

 

Menjadi pembelajar sejati

 

 

 

Glek! Sungguh kala itu tangisku tumpah ruah, mendengar lagu yang disenandungkan begitu semangat dengan polesan se­nyumnya yang begitu manis—pahlawan tanpa tanda jasaku.

 

 

 

“Itu benar sekali, Zah,” ucapku sambil mengusap mata.

 

 

 

Nyanyian itu telah menyadarkanku dari mimpi buruk berkepanjangan, yang telah menggerogoti semangatku, se­mangat untuk belajar, semangat untuk bermimpi. Begitulah hari-hari pertama yang aku rasakan saat tinggal dan berseko­lah di sini. Sekarang, masa-masa lima tahun itu telah kulalui dengan tangis, canda, dan tawa bersama teman sepermainan dan seperjuanganku. Bertukar rasa, bertukar asa.

 

 

 

Lampuku yang dulu redup kini tengah bersinar kembali karena mereka yang kini telah menjadi bagian keluarga dalam hidupku. Bersama-sama melawan rasa rindu untuk tetap bela­jar demi masa depan yang telah kami impikan. Mimpiku yang hampir sirna kini kembali dan membentuk diriku menjadi tangguh tiada tandingan.

 

 

Dari sekian banyak cerita, cita rasa, dan segala asa yang aku dapatkan di sekolah tercinta ini, ada satu yang ingin kubagi untuk adik kelasku di SMART yakni kenangan bersama teman se-Indonesia dalam sebuah acara kerja sama Dewan Perwakilan Rakyat dan Universitas Indonesia, yakni Parlemen Remaja 2012.

 

 

 

Cerita berawal dari sebuah lembaran berwarna kuning ukuran A3 dengan gambar latar belakang gedung kura-kura, tertulis besar-besar “PARLEMEN REMAJA 2012” yang diserah­kan kepadaku oleh Ustaz Sucipto.

 

 

 

“Fai, ikutin sana, tulis esai, siapa tahu saja kamu keterima,” ajaknya.

 

 

 

Aku baca sebentar lembaran tersebut. Tertulis sebuah syarat untuk dapat mengikuti acara itu. Acara diperuntukkan bagi siswa-siswi SMA sederajat, diimbau untuk dapat mengirimkan karya tulis esai tentang pandangan mereka mengenai peran DPR terhadap kemajuan demokrasi di Indonesia, selan­jutnya akan dipilih karya terbaik untuk mengikuti acara Parlemen Remaja 2012. Tanpa berpikir panjang segera aku mencari informasi, browsing internet untuk mencari ba­han penulisanku.

 

 

 

Hari berlalu, telah kukirimkan karyaku bersama empat temanku yang juga tertarik. Hari-hari kulalui menunggu pengumuman, dan itu benar-benar telah banyak menyita waktuku. Aku begitu takut, deg-degan, dan gelisah. Semua bercampur aduk selama aku menunggu pengumuman.

 

 

 

Dua minggu berlalu. Hari itu adalah pengumuman esai terbaik yang berhak mengikuti serangkaian acara Parlemen Remaja 2012. Hari puncak campur aduk hatiku datang jua. Dengan langkah gontai beserta jantung yang berdenyut begitu cepatnya aku menuju layar komputer untuk membaca pengumuman. Kulihat daftar nama-nama siswa terpilih. Aku tidak menemukan namaku. Aku gulir mouse ke bawah, mataku tetap menelisik membaca satu per satu nama tertulis dan sesuatu telah membuatku tersentak!

 

 

 

Tertulis sebuah nama: Ahmad Rofai.

 

 

 

Alhamdulillah, ya Allah, segala puji bagi-Mu, namaku ter­tulis dalam jajaran nama siswa pembuat esai terbaik. Hari itu aku sungguh bahagia, tak pernah sedikit pun tebersit dalam pikiranku untuk dapat lolos seleksi. Segera setelah membaca, sontak saat itu juga aku letakkan keningku di atas lantai, ber­tasbih dan memuji-Nya sebagai tanda rasa syukurku atas kesempatan yang diberikan oleh-Nya untukku.

 

 

 

Telah tiba saatnya aku beserta ketiga temanku yang juga lolos seleksi pergi ke acara Parlemen Remaja 2012. Kami diantar Ustaz Wildan dengan mobil angkot langganan kami menuju tempat pertama acara, yakni Balai Sidang Universitas Indonesia. Cuaca begitu terik kala itu, ditambah lagi dengan pengapnya udara dalam angkot jelas membuatku perutku terasa mual. Untuk menghilangkan rasa mual, aku berusaha untuk tidur dalam angkot. Tak terasa ketika aku membuka mata, tujuan telah sampai.

 

 

 

Terlihat siswa-siswi tengah berbincang, saling berkenalan satu sama lain, berfoto-foto ria sembari menunggu acara pembukaan. Sedangkan kami, siswa SMART, hanya berempat, mengobrol sendiri, bermain sendiri. Tak sedikit pun rasa be­rani dari kami untuk dapat berkenalan dengan siswa-siswi lain. Bagaimana tidak, semua dari mereka memakai baju ba­gus dan bermerek pada saat kami hanya memakai seragam yang dibalut jas almamater sekolah kami. Mereka memegang kamera mewah masing-masing, sedangkan kami hanya mem­bawa handycam kecil, yang hasilnya buruk jika digunakan un­tuk berfoto; satu untuk berempat pula. Mereka juga masing-masing membawa notebook, sedangkan handphone pun kami tak punya.

 

 

 

Cuek is the best-lah yang menjadi jargon utama kami kala itu. Kami tetap tidak peduli akan keglamoran mereka. Kami tetap rendah hati dan percaya diri.

 

 

 

Pukul 14.00, semua peserta dari seluruh penjuru Nusan­tara telah datang dan berkumpul dalam ruangan. Telah ter­pilih 132 siswa-siswi SMA se-Indonesia dari ratusan pengirim esai. Berbagai sambutan dan rangkaian acara pun telah ter­lewati.

 

 

 

Acara akan diadakan selama empat hari, tiga hari per­tama kami menginap di Wisma DPR RI Griya Sabha Bogor. Satu hari terakhir menginap di Wisma Makara UI. Sekiranya inilah yang panitia sampaikan kepada kami. Setelah itu, terketuklah palu oleh ketua panitia bahwa acara Parlemen Remaja 2012 resmi dibuka. Riuh tepuk tangan membuncah sudah, memba­hana memenuhi ruangan beribu kursi itu.

 

 

 

Kini kurasakan betapa nikmat tiada tara dapat tidur di atas kasur yang begitu empuk, ber-AC, mencicipi mandi air panas dengan shower, menonton TV dengan puluhan channel tersedia.

 

 

 

Setiap pagi diawali dengan senam pagi di lapangan, kami berbaris, terlihat beberapa teman teriak, senyum, tertawa terbahak-bahak. Begitu pun aku, menunjukkan betapa baha­gia sekali kami waktu itu.

 

 

 

Siang pun datang, saatnya kami bersiap menuju ruang rapat sidang DPR. Sungguh pertama kali aku memasuki ruangan itu, beribu rasa bangga mencuat dari dalam hatiku. Me­makai jas hitam yang ketika kupakai tampak seperti eksekutif muda yang super penting dalam suatu tatanan negara.

 

 

 

Ruangan itu begitu luas dengan tembok ala bangunan luar negeri seperti yang selalu kulihat dalam film-film, ber­jejer ribuan kursi empuk berwarna cokelat dengan puluhan jejeran meja elegan di depannya. Sungguh tak bisa kugam­barkan bagaimana keindahan serta luasnya ruangan bagi aku yang sejatinya hanyalah siswa papa.

 

 

 

Aku duduk di atas kursi empuk dengan tersodorkan mik­rofon di depanku.

 

 

 

“Selamat datang para pemuda-pemudi gagah Indonesia!”

 

 

 

Sontak suara itu memecahkan suasana yang awalnya tenang menjadi membakar-bakar, sorak-sorai kami bersama tepuk tangan tumpah sudah.

 

 

 

Dua hari tepatnya kami di sana dipersiapkan untuk melakukan simulasi rapat sidang paripurna DPR. Kami diberi berbagai materi tentang apa itu DPR, bagaimana peran par­lemen dalam sebuah negara, serta pemberian pengajaran dalam bentuk pelatihan tentang bagaimana rapat paripurna DPR dapat berlangsung.

 

 

 

Sungguh benar-benar di luar dugaanku, pelatihan-pelatihan yang mereka berikan kepada kami telah membuatku sadar bahwa butuh waktu seharian penuh atau bahkan puluhan hari untuk membahas suatu rumusan undang-undang. Penentuan judul suatu undang-undang saja begitu lama penyelesaian­nya.

 

 

 

Pemberian materi beserta latihan-latihan kepada kami dilakukan dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Cukup melelahkan memang, namun herannya semua berja­lan begitu menyenangkan sehingga tidak terasa waktu terus bergulir.

 

 

 

Di gedung kura-kura, pelaksanaan simulasi sidang paripurna DPR RI. Merupakan hari ketiga dari kegiatan ini, acara puncak dari sekian kegiatan yang kami jalani. Setelah subuh, telah tersedia bus yang siap mengantar kami menuju Senayan.

 

 

 

Sebelum ke tempat persidangan, kami menuju ruang tamu DPR terlebih dahulu. Seperti biasa ada sambutan dan acara pembukaan. Setelah itu, kami segera menuju ruang sidang paripurna. Berbagai pemeriksaan ketat pun terjadi. Tas kami disensor oleh alat pendeteksi, begitu pula dengan tubuh kami.

 

 

 

 

Benar-benar mataku tak dapat berkedip. Tempat si­dang itu begitu luas. Deretan kursi terbagi atas fraksi-fraksi, kursinya pun empuk tak terelakkan, mikrofon tersedia di de­pan kami, tertempel di atas meja.

 

 

 

“Acara ini akan disiarkan di TVRI pukul 07.30,” ucap salah satu panitia kepada kami.

 

 

 

Segera aku menghubungi keluargaku di rumah (lewat ponsel yang dipinjamkan pihak asrama) untuk dapat menon­ton diriku, memakai jas hitam, duduk di atas kursi mewah berperan sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

 

 

 

Mungkin pengalaman ini biasa saja buat beberapa orang, namun tidak buatku. Ada satu pelajaran berharga yang telah aku dapatkan. Berdiskusi bersama anak-anak se-Indonesia dalam acara tersebut membuatku lebih aktif dan kritis selaku pelajar. Selain itu, aku tersadar bahwa selaku pemuda, aku merupakan agen perubahan dalam sebuah dinamika kehidupan.

 

 

 

Aku bersyukur atas berbagai pengalaman di SMART, ucapan terima kasih rasanya tak akan pernah cukup.

Bangga Jadi Anak SMART, Titik!

Bangga Jadi Anak SMART, Titik!

 

Pada dasarnya pendidikan merupakan hak asasi semua warga negara Republik ini. Tanpa terkecuali bagi anak-anak marjinal. Kondisi ekonomi yang membelit keluarga menghilangkan kesempatan mereka untuk sekolah. Cita-cita yang lazim diinginkan anak-anak seusia mereka pun seolah tidak berhak diraih. Padahal, mereka juga mengharapkan kehidupan layak seperti anak-anak lainnya. Inilah kondisi yang pahit dirasakan oleh anak-anak marjinal di tanah air. Panggilan untuk mengangkat bakat dan harkat anak-anak marjinal itulah yang melatari lahirnya SMART Ekselensia Indonesia.

 

 

 

Bakat dan harkat anak-anak marjinal itu dapat diangkat ke permukaan apabila pendidikan yang diberikan kepada mereka dilakukan dengan baik dan benar. Kehadiran SMART tidak ingin sekadar menjadi sekolah bebas biaya namun abai pada soal kualitas. Selain akses pendidikan yang tidak merata, kualitas guru yang rendah melengkapi potret gelap dunia pendidikan kita. Tidak heran bila dunia pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan negaranegara maju. Karena kualitas gurunya rendah, tidak aneh bila kualitas anak didiknya pun tidak berbeda jauh.

 

 

 

Wajah pendidikan di tanah air juga masih dihiasi kenyataan bahwa siswa dibebani untuk lebih mengejar capaian-capaian akademis. Tidak banyak sekolah yang memilih untuk mengedepankan pembangunan karakter siswa. Akibatnya, maraklah fenomena sontek massal dalam pelaksanaan Ujian Nasional, tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba, hingga pergaulan bebas.

 

 

 

Menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, sekolah butuh guru yang berkualitas dalam pengajaran sekaligus juga mampu menjadi model bagi siswa. Dua hal ini mutlak adanya untuk membentuk karakter dan prestasi siswa, tidak terkecuali anak-anak marjinal. Sejak didirikan, para pengelola SMART optimis bahwa SMART merupakan modal dasar yang penting untuk memberikan nilai dan karakter kepada anak-anak marjinal. Dalam kondisi pendidikan nasional jauh dari ideal untuk menanamkan nilai dan karakter, SMART memilih untuk membina siswa lulusan SD. Selain sudah bisa dilatih untuk tidak bergantung kepada orangtua masingmasing, siswa pada usia ini lebih mudah dibina sehingga nilai dan karakter dapat tertanam sejak dini.

 

 

 

Pembinaan nilai dan karakter diutamakan karena lulusan SD yang masuk SMART memang dipersiapkan untuk mengikuti program akselerasi. Setamatnya dari jenjang SMA, pendidikan bagi mereka masih berlanjut. Mereka tidak dicetak untuk hanya berpuas diri karena mampu lulus SMA, kemudian menjadikannya sebagai modal untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, mereka justru dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bonafide di dalam dan luar negeri. Untuk membina dan menempa nilai dan karakter sekolah kepada siswa, SMART didesain sebagai sekolah berasrama (boarding school). Sistem sekolah berasrama cocok untuk mengondisikan para siswa agar fokus menggapai mimpimimpinya.

 

 

 

Melalui sekolah berasrama, siswa tidak sekadar dibina secara nilai dan karakter, namun juga disiapkan untuk menempuh pendidikan akselerasi, yakni menyelesaikan jenjang pendidikan SMP SMA selama lima tahun. Siswa ditempatkan di asrama karena akan memudahkan dalam pengayaan materi pelajaran. Saat yang sama, lebih efektif dan efisien secara waktu karena konsentrasi mereka dilatih agar terpusat pada aktivitas belajar.

 

 

 

Penerapan program SKS di SMART dapat dilakukan karena dalam setiap pelajaran memuat materi esensial dan non-esensial, sebagaimana yang diatur dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Nasional. Dengan menerapkan skala prioritas di antara materi esensial dan non-esensial, pemberian pelajaran dapat diefisiensikan sekaligus diefektifkan. Dengan demikian, masa pendidikan yang umumnya enam tahun dapat ditempuh dalam waktu lima tahun tanpa ada pengurangan kualitas pengajaran ataupun prestasi akademis peserta didik. Ringkasnya, program akselerasi di SMART bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa secara lebih komprehensif dan optimal, serta mengembangkan kreativitas siswa secara optimal.

 

 

 

Siswa SMART berasal dari seluruh penjuru tanah air. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang ekonomi keluarga. Keragaman menjadi niscaya seiring bertemunya anak-anak berbakat itu di SMART. Menghadapi perbedaan suku, bahasa, bahkan karakter, SMART memiliki kiat-kiat khusus untuk mendayagunakannya sebagai sebuah kekuatan. SMART membiasakannya semua warganya untuk bersikap toleran dan saling menghargai perbedaan yang ada. Dalam pembelajaran, siswa selalu diingatkan dan disadarkan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memiliki kewajiban menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang besar. Siswa juga belajar untuk menghargai adat istiadat tempatnya berasal. Rasa keindonesiaan yang kental dalam lingkungan SMART membuat mereka siap menghadapi kehidupan global yang tanpa sekat seperti saat ini. Efek teknologi yang sangat pesat menjadikan batas-batas geografis sebuah negara tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk dapat menjalin hubungan, termasuk pada siswa yang berlatar belakang dari keluarga marjinal.

 

 

 

Kesadaran ini dibangun di SMART untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa bahwa mereka bukan saja pantas maju sebagai warga Indonesia, tapi juga sebagai warga dunia. Dengan demikian, siswa SMART mampu menjadi pemimpin global dengan tetap memegang warna keindonesiaannya.

 

 

 

Pada awal berdiri, SMART sudah berkreasi mengembangkan program khas yang diimplementasikan di sekolah dan akan dikontribusikan bagi dunia pendidikan di tanah air. Bentuknya berupa pembentukan karakter, kepemimpinan, wirausaha, program kemandirian, program interaktif dengan masyarakat, serta penanaman disiplin. Saat awal berdiri, para siswa SMART sudah dicitakan tidak hanya menduduki kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) berkelas di tanah air, namun juga di kampus-kampus mancanegara. Untuk mencapainya, siswa SMART sudah dikondisikan dengan penggunaan dwibahasa (bilingual). Tidak ada yang salah dengan mendorong anak-anak marjinal untuk terus menggapai impiannya yang setinggi langit sekalipun. Terbukti siswa-siswa dari pelbagai penjuru tanah air itu mampu menembus ketatnya persaingan menjadi mahasiswa kampus negeri favorit. Sampai saat ini, SMART masih mempertahankan tradisi setiap tahun lulusannya 100 persen dapat menembus PTN terbaik dan berakreditasi A. Atas capaian yang ada itu, segenap jajaran di SMART tidak ingin berpuas diri. Masih ada capaian yang perlu dituju: menjadikan SMART sebagai Sekolah Kelas Dunia (World Class School).

 

 

 

Untuk menjawab visi menjadi Sekolah Kelas Dunia, SMART membuat beberapa strategi, yakni menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing global, menjalankan sistem pendidikan terbuka dan diakui dunia, menyiapkan fasilitas dan teknologi yang bernuansa budaya global, menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global, serta membangun jaringan dengan seluruh pemangku kepentingan.

Investasi Kami Pokoknya Dunia Akhirat Sob, Ikutan yuk!

Ini Investasi Kami Dunia Akhirat Sob, Ikutan yuk!

Oleh: Syafei Al-Bantanie,Direktur Dompet Dh uafa Pendidikan

“Menolong layaknya sebuah investasi yang sangat menguntungkan. Kita akan memanennya disaat yang tepat.”

 

 

 

Alkisah, seorang ibu tua terlihat bingung di tepi sebuah jalan yang masih sepi. Mobil itu mogok. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia tidak mengerti mesin mobil. Saat itu, seorang lelaki muda melintas di jalan itu mengendarai sepeda motor. Ia berhenti tepat di sebelah si ibu. Lelaki muda itu menawarkan bantuannya untuk mengecek mobil. Si ibu mempersilakan dengan senang hati.

 

 

 

Lelaki muda itu membuka kap mobil, mengutak-ngatik kabel-kabel di dalamnya. Kemudian, ia juga tak sungkan untuk masuk ke kolong mobil. Mungkin ada bagian yang harus dibetulkan. Kurang lebih 30 menit, lelaki muda itu mencoba membetulkan mobil si ibu.

 

 

 

“Sudah selesai. Silakan coba nyalakan mesinnya,” ujar si lelaki muda.

 

 

 

Si ibu menyalakan stater, dan suara mesin mobil mulai menyala. Alhamdulillaah, mobil itu sudah bisa berjalan kembali. Si ibu tampak gembira. Ia membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar rupiah. Si ibu menyerahkannya ke lelaki muda itu sambil berucap terima kasih.

 

 

 

“Maaf ibu, saya tidak bisa menerimanya,” tegas lelaki itu.

 

 

 

“Mengapa? Anda sudah menolong saya. Ini ungkapan terima kasih saya kepada Anda,” terang si Ibu.

 

 

 

“Maaf ibu, bagi saya menolong bukanlah suatu pekerjaan. Karena itu, saya tidak berhak menerima imbalan. Kalau ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan,” terang si lelaki muda.

 

 

 

“Baiklah kalau begitu. Tapi siapa namamu?”

 

 

 

“Namaku Ihsan.”

 

 

 

Si Ibu berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. Mobil bergerak meninggalkan lelaki muda itu.

 

 

 

Di tengah perjalanan, si ibu singgah di sebuah kedai. Ia memesan makanan dan minuman. Seorang perempuan yang tengah hamil dengan sigap menyiapkan pesanan si Ibu. Melihat perempuan muda yang tengah hamil itu, si Ibu teringat dengan kata-kata Ihsan, “Kalau Ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan”.

 

 

 

Usai makan dan minum, si Ibu meminta bon. Ketika pelayan perempuan muda itu sedang membuatkan bon, si Ibu pergi tanpa diketahui pelayan perempuan itu. Pelayan perempuan itu menghampiri meja si Ibu. Ia bingung karena tidak mendapati si Ibu di mejanya. Di mejanya tergeletak secarik kertas dan uang yang cukup banyak.

 

 

 

Surat itu tertulis, “Di perjalanan, mobilku mogok. Ada seorang lelaki muda bernama Ihsan yang berbaik hati membetulkan mobilku. Akan tetapi, ia tidak mau menerima imbalan dariku. Ia meminta saya untuk menolong orang lain sebagai imbalannya. Aku melihat kau sedang hamil. Aku ingin membantu biaya persalinan anakmu nanti. Aku tinggalkan uang ini sebagai pembayaran makanan dan minumanku. Sisanya ambillah untuk biaya persalinan anakmu. Semoga kau berbahagia dengan suami dan anakmu”.

 

 

 

Perempuan muda itu berkaca-kaca membaca surat si Ibu. Sore hari, perempuan itu pulang ke rumahnya. Bertemu sang suami yang dicintainya. Malam harinya, saat si suami tertidur pulas karena lelah bekerja, si perempuan itu mengusap kepala suaminya sambil berbisik, “Mas Ihsan, kau tidak usah merisaukan biaya persalinan untuk anak kita. Keikhlasanmu menolong orang lain telah berbuah kebaikan untuk kita”.

 

 

 

***

 

 

 

Betapa indahnya hidup ini jika kita saling menolong satu sama lain. Menolong atas dasar keikhlasan bukan karena ada tujuan dibaliknya. Meski orang yang kita tolong tidak atau belum bisa membalas kebaikan kita, tetapi yakinlah Allah pasti menggerakan tangan-tangan lain untuk menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan.

 

 

 

Satu kebaikan kecil bisa berarti besar bagi orang yang membutuhkan. Saya teringat kisah yang diceritakan teman saya. Ia bercerita tentang seorang supir angkot yang masih muda. Disaat jam kerja angkot-angkot berlomba-lomba mencari penumpang untuk mengejar setoran.

 

 

 

Ketika itu, ada seorang Ibu dengan tiga anaknya berdiri di tepian jalan. Setiap angkot yang lewat disetopnya, angkot itu berhenti sejenak, lalu jalan kembali. Tibalah angkot yang disupiri oleh pemuda ini yang distop oleh si Ibu.

 

 

 

“Mas, angkot ini sampe terminal bis ya?” tanya si Ibu.

 

 

 

“Iya, Bu,” jawab supir angkot.

 

 

 

“Tapi, saya tidak punya uang untuk bayar ongkosnya,” ujar si Ibu jujur.

 

 

 

“Nggak apa-apa, Bu. Ayo, naiklah,” sahut pemuda supir angkot.

 

 

 

Si Ibu dan tiga anaknya pun naik. Disaat supir angkot lain berebut penumpang untuk mengejar setoran, pemuda supir angkot ini malah merelakan empat kursi untuk Ibu dan tiga anaknya.

 

 

 

Saat sampai terminal, para penumpang turun juga si Ibu dan tiga anaknya. Ibu ini berucap terima kasih pada si pemuda supir angkot itu. Ada penumpang seorang bapak yang juga turun dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah. Pemuda supir angkot itu memberikan kembalian enam belas ribu rupiah, namun bapak itu menolaknya.

 

 

 

“Ambil saja kembaliannya. Itu untuk ongkos Ibu dan tiga anaknya tadi. Dik, terus berbuat baik, ya,” pesan si Bapak itu pada pemuda supir angkot.

 

 

 

Lihatlah, betapa indah hidup saling tolong-menolong. Andaikan separuh saja penduduk bumi ini berpikir untuk menolong oranglain, maka akan damailah dunia ini. Karena itu, mari kita saling membantu dan menolong satu sama lain. Kita adalah saudara. Saudara itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian lain ikut merasakannya. Kemudian, sama-sama memulihkan bagian tubuh yang sakit itu.

 

 

 

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

Sayang, Jatah Waktuku Hanya Lima Tahun

Ini ceritaku waktu masih duduk di bangku SMART. Aku selalu merasa jika sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari kala itu. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai tempat “mengerikan”. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

 

 

 

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

 

 

 

Lalu apa kata seoranng ustazah menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata, “Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah”.

 

 

 

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

 

 

 

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan Azan Zuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orang tua kami masing-masing.

 

 

 

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

 

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

 

 

 

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

 

 

 

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

 

 

 

Sekarang kami sudah besar, sudah hampir lulus kuliah, teman-teman yang tadinya selalu dekat sekarang sudah mulai berjauhan. Sungguh pun aku kangen akan masa-masa itu, tak terasa lima tahun di SMART telah kulewati, ingin rasanya kuulang momen kebersamaan yang tak terlupakan. Terima kasih SMART atas banyak hal yang semakin kusyukuri keberadaannya.

,

Asal Ada Kemauan untuk Bekerja Keras, Kamu Pasti Bisa!

Asal Ada Kemauan untuk Bekerja Keras, Kamu Pasti Bisa!

 

Oleh: M.Atiatul Muqtadir, Ketua BM KM UGM

 

 

 

“Kerja Mengungguli bakat” begitu tulisan Richard St. John dalam bukunya 8 To Be Great. Delapan hal itu adalah kesimpulan dari penelitian dan wawancaranya dari lebih dari lima ratus orang sukses dunia.

 

 

 

Dalam perjalanan menuju Jakarta, aku menemukan sebuah paragraf menarik yang mengembalikan kesadaran kita tentang bakat selama ini.

 

 

 

Pernahkah dalam proses kerja keras kita, sesekali terpikir “coba saja aku punya bakat di sini, aku ga harus kerja sekeras ini”? Ya, kita terkadang menganggap, bakat sebagai satu-satunya modal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan di bidang itu.

 

 

 

Padahal Mozart, seorang pianis ternama dan ‘berbakat’ harus menghabiskan waktu dua belas jam sehari selama lebih dari satu dekade untuk menghasilkan masterpiece pertamanya. Pun begitu dengan Michaelangelo, seorang seniman dunia, dalam wawancaranya ia justru berterimakasih pada kerjanya dibandingkan dengan bakatnya. “Jika orang-orang tahu betapa keras aku bekerja untuk ini,” katanya yakin, “semuanya mungkin tak nampak menakjubkan lagi”.

 

 

 

Tidak semua orang berbakat mendapatkan kesuksesan. Bakat yang tidak disertai dengan kerja keras adalah harta karun yang disia-siakan. Mutiara yang tidak diasah. Emas yang tidak ditempa.

 

 

 

Mereka yang berpikir hanya dengan bakat ia dapat berjalan menuju sukses, sehingga tidak mengutamakan kerja, justru orang yang sedang mengikis bakatnya untuk lama-lama menghilang. Michael Jordan misalnya, merasa bakatnya cukup baik lantas permainannya mengendur saat berada di Tim universitasnya, hingga sang pelatih pun mengeluarkannya.

 

 

 

Syukurlah ia tersadar, bahwa permainannya tak bergantung pada bakat semata. Orang malas itu telah bertaubat dan menjadi salah satu pemain basket yang bekerja paling keras. Dan saat ini, siapa yang tidak mengenalnya?

 

 

 

“Kita terlalu memuja bakat,” kata Richard memulai paragraf terkahir di sub bab ini, “menandang rendah kerja karena kita tidak melihat segala usaha dibalik suatu kesuksesan. Yang kita lihat adalah ketenaran selama lima belas menit dari penari ‘berbakat’ dan bukannya usaha selama lima belas tahun untuk meraihnya. Kita melihat dua ratus halaman buku, dan bukan 20.000 jam penuh keringat yang dihabiskan oleh penulis ‘berbakat’.

 

 

 

Anda, saya, kita semua, mungkin telah memiliki percikan bakat untuk memulai, tapi kerjalah yang mengubah percikan tersebut menjadi nyala api yang bergelora. Ketahuilah, bakat memang merupakan suatu karunia, tetapi yang lebih besar dari itu adalah karunia berupa kemauan untuk bekerja keras.