ASP.net., HTML, dan CSS (Cascading Style Sheets) Santapan Siswa SMART

ASP.net., HTML, dan CSS (Cascading Style Sheets) Santapan Siswa SMART

Selasa pagi mengawali pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMART Ekselensia Indonesia. Diawali dengan kelas 3 yang mendapatkan materi web programming. Sebagai langkah awal, untuk memperkenalkan HyperText Markup Language (HTML), saya meminta para siswa untuk mencari definisi HTML melalui internet, kemudian menuliskannya dalam secarik kertas. Setelah itu, saya bersama dengan para siswa menarik kesimpulan dari materi tersebut.

Ketertarikan para siswa sangat terlihat dari beberapa pertanyaan terkait dengan web programming. Misalnya aplikasi web programming dalam dunia kerja. Pertanyaan siswa tersebut, saya jawab dengan sebuah cerita tentang kakak tingkat saya di kampus yang kala itu bekerja sebagai freelance programming di salah satu perusahaan BUMN terkemuka. Dia mendapat sebuah proyek untuk membangun sebuah web dengan bahasa pemrograman ASP.net.

“Berapa penghasilan yang didapatkan dari proyek itu, Ustazah?” seorang siswa menginterupsi.

“Yang saya tahu, setelah menyelesaikan proyek itu, beliau memberangkatkan keluarganya naik haji,” jawab saya.

Mendengar jawaban saya, wajah para siswa tampak makin bersemangat. Pekan berikutnya, saya membawa sebuah kotak yang berisi gulungan-gulungan kertas kecil.

“Ustadzah, apa isi dari gulungan-gulungan kertas kecil itu?” tanya salah satu siswa.

Dengan nada penasaran, siswa yang lain bertanya, “Memang kita mau ngapain sih hari ini, Ustadzah?”

Saya meminta para siswa untuk berhitung dan membentuk kelompok. Saya memanggil satu orang perwakilan kelompok untuk maju mengambil salah satu gulungan kertas tersebut. Kertas-kertas tersebut berisikan tema pembuatan web sederhana yang akan dikerjakan oleh tiap-tiap kelompok.

Hasilnya sangat menakjubkan. Sebuah web sederhana yang sangat menarik dan kreatif dari tiap-tiap kelompok. Bahkan, melalui internet, mereka dapat mengkreasikan lebih menarik lagi. Ada yang menambahkan tag <marquee> agar tulisan dapat berjalan. Ada yang mengganti background dengan gambar dan foto sehingga tampilan web menjadi sangat menarik dan unik. Sebuah awalan yang menakjubkan.

Agni Ardi Rein menanyakan hal yang belum pernah terpikirkan oleh teman-temannya. Sebuah pertanyaan yang unik dan menarik pada pekan berikutnya.

“Ustadzah, kalau blog itu bisa dijual gak sih?” Sontak saya sedikit terkejut. Kemudian saya menjawab dengan sebuah pertanyaan,

“Memangnya, trafic blogmu sudah berapa banyak?”

“Kurang lebih sekitar 12 ribu, Ustadzah.”

Saya kembali terkejut, tapi bercampur kagum. Ternyata siswa SMART yang menggunakan komputer dalam waktu yang relatif sedikit mampu membuat sebuah blog dengan pengunjung sebanyak itu.

“Subhanallah, sungguh menakjubkan!” Kalimat ini yang bisa saya katakan untuk Agni.

Sore harinya saya bertanya kepada salah satu rekan di Bandung. Dia adalah freelance animator. Saya bertanya tentang jual-beli blog.

“Bisa. Sebuah blog dapat diperjualbelikan seperti barang lainnya,” jawab rekan saya, yang kemudian memberikan alamat situs jual-beli blog. Esok harinya, saya menyampaikan informasi ini kepada Agni.

Nama blog milik Agni tutor-tekno.blogspot.com. Isinya segala hal tentang teknologi komputer. Bahkan apa yang dipelajarinya di laboratorium komputer (labkom) saat mata pelajaran TIK dituliskan di blognya itu. Sebuah karya yang sangat luar biasa dan layak dijadikan teladan untuk siswa yang lainnya.

Tiga pak kertas origami saya bawa ke pertemuan pekan berikutnya. Selain kertas origami dan dua gulung tali rafia berwarna ungu dan kuning, saya menyediakan peralatan utama, yaitu spidol, pensil, pensil warna, board marker/ permanent, dan pelubang kertas. Raut wajah bingung dengan seribu tanya terpancar dari wajah para siswa.

“Hari ini kita ngapain, Ustadzah? Kita mau buat produk atau display, ya?” Saya hanya menjawab dengan tersenyum dan mengangguk sambil membawa peralatan-peralatan tersebut ke depan kelas. Saya pun menjelaskan mengenai produk yang akan dibuat oleh para siswa. Produk mata pelajaran TIK biasanya selalu terkait dengan komputer, baik itu sotfware maupun hardware. Namun, kali ini produk TIK adalah membuat sebuah buku saku sederhana yang berisi tentang materi-materi HTML dan CSS (Cascading Style Sheets) seperti membuat border, menampilkan foto atau gambar, dan mengubah warna tulisan dan background.

Alhasil, lab komputer SMART yang terdiri dari 22 unit PC itu pun disulap menjadi tempat pameran kriya berupa buku saku sederhana. Suatu hal yang unik dan menarik untuk berbagi ilmu. Bukan hanya melalui sebuah web/blog sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu baru. Sebuah buku saku sederhana pun dapat menjadi sarana yang menarik untuk berbagi ilmu.

Berada jauh dari orangtua adalah keadaan yang tidak mudah untuk dihadapi seorang siswa. Walaupun begitu, siswa-siswa SMART masih menunjukkan prestasi di kelas dan di luar sekolah. Mereka juga mampu mempelajari sesuatu secara otodidak meskipun bukan dengan fasilitas pribadi. Di asrama, mereka tidak mendapatkan komputer secara individu. Untuk dapat mengerjakan tugas sekolah ataupun tugas tambahan di luar jam kegiatan belajar mengajar, para siswa harus mengambil form di labkom SMART. Form ini kemudian ditandatangani oleh guru yang memberikan tugas dan penanggung jawab labkom. Dan pada akhirnya, jika disetujui, ditandatangani oleh kepala sekolah SMP atau SMA.

Bukan hal yang sederhana. Namun, demi tanggung jawab, mereka mampu melakukan ini dengan baik dan disiplin. Sering kali saya mendapati para siswa yang mengerjakan tugas yang lain di luar mata pelajaran TIK di labkom, seperti tugas membuat majalah beserta isinya, atau membuat desain sertifikat, piala, dan piagam perlombaan yang diadakan sekolah.

Itulah yang membedakan SMART Ekselensia Indonesia dengan sekolah pada umumnya, sekolah formal berbayar dan tidak berasrama. Jika setiap hari anak-anak di luar SMART mendapat curahan kasih sayang dari kedua orangtua dan keluarga serta mendapat kebebasan untuk bermain, menonton televisi, dan menggunakan komputer; maka tidak dengan para siswa di SMART.

SMART sangat berbeda. Siswa di sekolah ini berasal dari kaum marginal, dengan latar belakang keluarga dan adat istiadat yang berbeda-beda. Ada yang sudah pernah mengenal komputer di kampung halamannya. Namun, tidak sedikit yang belum pernah memegang komputer sekali pun. Maka, saat di sekolah ini, mereka diperkenalkan dengan betapa menakjubannya pemanfaatan teknologi komputer untuk kegiatan positif. Dampaknya, kreativitas siswa SMART yang tak terbatas dapat disalurkan ketika mereka berada di labkom. Tidak hanya saat pembelajaran TIK, tapi juga pembelajaran mata pelajaran lainnya, misalnya untuk membuat presentasi.

Jumlah jam penggunaan yang relatif singkat ternyata sama sekali tidak menjadi hambatan untuk berkreasi dan berprestasi lebih. Sebagai bukti, saat ini, website SMART dikelola oleh siswanya sendiri. Sebuah proses belajar yang cepat. Hal ini merupakan prestasi yang luar biasa, dan tidak semua orang dapat melakukannya.

,

Sudah Pagi Kawan

Sudah Pagi Kawan

Karya: Laksmana Khatulistiwa

Kala senja tiba
Waktunya menatap duka
Melupakan luka
Menurunkan senjata

Kala senja tiba
Mentari meredupkan sinarnya
Tanda dunia tlah sirna
Dari dunia yang fana

Kala senja tiba
Hari beranjak gelap
Mengajak untuk terlelap
Beranjak dari siap

Kala senja tiba
Cahaya meredup muram
Meninggalkan rasa suram
Hari tlah beranjak malam

Bila malam tiba
Muncul serdadu gerilya
Menciptakan bahaya
Menyiagakan semua

Bila malam tiba
Hati takkan tenang
Sulit berharap menang
Apalagi untuk bersenang

Bila malam tiba
Rasa takut meninggi
Seakan tak mau pergi
Hingga mulailah pagi

Sudah pagi
Mentari bersinar cerah
Memulai pertumpahan darah
Menuju ke satu arah

Sudah pagi
Waktunya merengkuh duka
Menerima luka
Waktunya mengangkat senjata

Mujahid Sang The Blues

Mujahid Sang The Blues

Oleh: Mulyadi Saputra

 

Pintu diketuk dari luar. Seorang remaja masuk ke kelas yang tengah saya ajar dengan langkah ragu-ragu.

“Maaf, Taz, tadi saya asyik baca koran di perpustakaan. Maaf saya salah, Taz.”

“Huuuhh… keluar, keluar, keluar!!!” Teman-temannya menyorakinya.

Tidak ada pilihan bagi anak itu, ia harus meninggalkan ruangan kelas. Saya yang ada di depan mereka dalam posisi bimbang. Batin saya bergejolak. Di satu sisi, saya merasa kasihan anak itu jadi tidak bisa mengikuti pelajaran. Tetapi, di sisi lain, saya harus menegakan disiplin dan konsekuen dengan kontrak belajar yang pernah dibuat bersama di awal tahun pelajaran. Saya rasa, ia selaku pembelajar sejati bisa menerima konsekuensi itu.

Sesuai aturan, saya tidak mengizinkannya untuk mengikuti pelajaran di kelas karena terlambat lebih dari 20 menit. Pengujung Desember 2011 almanak waktu itu, ketika pelajaran Ekonomi untuk persiapan UN, saya membuat siswa terusir itu nyaris menangis.

Hampir seantero Bumi Pengembangan Insani mengenal remaja pembelajar sejati tersebut. Ia sangat familiar, entah dengan adik kelas, tim pantry, karyawan jejaring lain, tim sekuriti, ataupun dengan direktur lembaga sekalipun. Wajahnya wara-wiri setiap hari menghiasi suasana belajar di kawah candradimuka, SMART Ekselensia Indonesia.

Badannya kurus tinggi, rambut warna kuning keemasan yang selalu jingkrak ke atas, dan senyum lebar mengembang, menjadi ciri khas pembelajar sejati dari kota Semarang ini. Hobinya membaca, menulis, dan olahraga. Hampir setiap hari waktu luangnya diisi dengan membaca buku-buku di perpustakaan dan mencari berita sepak bola di koran Kompas, Republika, atau bahkan menumpang pinjam komputer lembaga untuk sekadar berselancar mencari berita sepak bola terutama update Liga Primer Inggris, Seri A Italia, La liga Spanyol, dan Liga Super Indonesia.

Pertengahan Juli 2008 awal perkenalan saya dengan anak sulung putra pasangan bapak Azis dan Ibu Marlina ini. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi dan selalu ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Ayahnya bekerja sebagai tukang servis komputer dan pernah mengenyam pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang, walaupun kandas di tengah jalan. Bakat menulis remaja asal Tembalang ini sudah terlihat ketika salah satu puisinya yang bercerita tentang tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung, Tangerang Selatan, dimuat salah satu majalah. Bakatnya semakin terasah ketika ia terpilih menjadi pemimpin redaksi buletin olahraga milik OASE. Ia sangat pintar dan piawai menyuguhkan tulisan yang ciamik, lugas, informatif, dengan pilihan diksi bak seorang jurnalis olahraga profesional.

Setiap Senin pagi, ia pasti datang menghampiri saya di kelas. Ada dua ritual yang ia lakukan. Pertama, bertanya kabar saya hari itu. Kedua, soal urusan berita sepak bola.

Gimana pertandingan semalam, Taz? Nonton gak?”

Saya dan Mujahid merupakan penggemar berat The Blues Chelsea FC dan kami selalu membahas perkembangan sepak bola dunia. Di luar soal bola, saya melihat ada bakat dan potensi besar pada remaja ini, di antaranya dalam pelajaran Ekonomi- Akuntansi yang saya ampu. Ia termasuk siswa yang cerdas dan cepat menyelesaikan tugas. Ia selalu ingin menjadi orang pertama dalam mengerjakan soal dan selalu mengajari teman-temannya yang belum paham. Selain itu, Mujahid selalu meminta saya untuk mengajarinya matematika karena ia merasa kemampuan matematikanya belum terasah. Setiap hari ia menenteng buku kumpulan soal-soal matematika yang harus ia kerjakan. Saat bertemu saya, ia selalu meminta soal-soal yang baru.

Mujahid juga pribadi yang unik, cuek, dan tidak peduli dengan penampilan diri. Seragamnya lusuh dan kumal, sepatunya kotor, sobek, dan menganga. Bahkan terkadang giginya tidak disikat sama sekali! Ia tidak merasa risih dengan penampilan seadanya itu, walaupun orangorang di sekelilingnya kadang-kadang merasa tidak nyaman.

Selain itu, ia kurang peduli dengan barang-barang yang dimilikinya. Ia sering menyimpan barang-barangnya secara sembarangan, padahal ia juga mudah lupa. Ia sering lupa membawa buku paket pelajaran dan kalau ditanya kenapa, jawabannya simpel.

“Maaf, Ustaz, saya lupa menyimpannya, hehehe…. Maaf, ya, Taz.”

Terlepas dari kekurangpeduliannya pada soal penampilan, Mujahid dikenal sangat peduli terhadap teman-temannya yang kesulitan dalam memahami pelajaran. Ia supel dan mudah dimintai bantuan.

 

Khazanah Keberagaman di SMART

Khazanah Keberagaman di SMART

Oleh: Ahmad Juwaini

Banyak sekali anak Indonesia yang berpotensi luar biasa yang terlahir dari keluarga sederhana namun tidak berkembang potensinya. Karena ketiadaan layanan proses pengembangan yang baik, anak-anak cerdas dari keluarga marjinal itu akhirnya tersisih dan tidak menunjukkan keunggulannya. Ibarat sebuah permata, tanpa proses penanganan yang baik, perhiasan yang bernilai tinggi akan terpuruk menjadi sesuatu yang rendah atau hilang.

SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School adalah sekolah yang dirangkai dari sebuah mimpi keluarga besar Dompet Dhuafa (DD) tentang sekolah unggulan bagi orang-orang yang kurang mampu. Membayangkan sekolah bagi orang miskin, biasanya yang tergambar adalah sekolah seadanya. Dari mulai sekolah di bawah pohon, di bawah jembatan, di serambi masjid, atau di teras sebuah rumah kontrakan sederhana. Akan tetapi, DD berimajinasi tentang sekolah untuk kaum marjinal yang bebas biaya dengan standar mutu unggulan. Mimpi itu mulai menjadi nyata ketika pada akhir 2003 DD menyediakan kompleks sekolah unggulan di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat. Menjelang tahun ajaran baru pada Juli 2004, anak-anak mulai berdatangan dari berbagai pelosok negeri. Mereka ini hasil seleksi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Terpilihlah anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi namun berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang kurang.

Waktu demi waktu terus berganti. Anak-anak yang datang dengan segala kesederhanaannya tersebut, setelah menjalani proses pendidikan, mulai berubah. Mereka mulai kelihatan bersih dan rapi. Mereka juga mulai hidup tertib dan disiplin. Pengetahuan dan keterampilan mereka telah meningkat dengan sangat pesat. Wawasan dan kekayaan khazanah kehidupannya telah meluas ke mana-mana. Dengan proses pendidikan yang berkualitas, banyak prestasi yang telah dicapai. Tidak heran jika lulusan SMART Ekselensia Indonesia setiap tahun 100 persen diterima di berbagai perguruan tinggi negeri kenamaan di Indonesia. Selain itu, para alumnus SMART Ekselensia Indonesia sekarang pun telah menjadi sekelompok kecil pemuda Indonesia yang memiliki kesempatan untuk melakukan lompatan besar dalam perubahan diri, keluarga, dan menjadi pemimpin masyarakatnya.

Senyampang dengan perubahan yang ada pada para siswa SMART Ekselensia Indonesia, sesungguhnya masih banyak lagi anak-anak Indonesia yang belum menikmati agungnya pendidikan. Mereka ini tersebar di seluruh penjuru negeri menunggu tindakan dan kerja sama semua pihak. Untuk itulah, perlu ada perluasan pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan kualitas asupan pendidikan kepada jutaan anakanak Indonesia.

Keberhasilan SMART Ekselensia Indonesia mendorong DD untuk menyebarkan konsep, dengan mereplikasi sekolah ala SMART ini di berbagai wilayah. Penyebaran ini didasari oleh satu keyakinan bahwa suatu kebajikan seharusnya dapat diperluas sehingga dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin orang. Proses penyebaran ini bisa dilakukan oleh DD sendiri secara langsung, juga bisa dilakukan melalui kerja sama dengan segenap pemerhati dan pelaku pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan sebagian pelaku pendidikan lainnya, motif penyebaran sekolah SMART yang dilakukan DD berorientasi non-profit motive. DD meyakini harus ada spirit replikasi sistem pendidikan unggul yang betul-betul orientasinya adalah meningkatkan benefit. Semangat yang dibentangkan DD adalah agar semakin banyak anak-anak Indonesia yang bisa mengecap sistem belajar mengajar yang berkualitas. Di dalamnya juga melekat, semangat memberi kesempatan lebih banyak bagi kaum marjinal untuk menikmati pendidikan berkualitas.

Kini sudah 18 belas tahun sudah terlewati. Suka duka bagi para guru untuk mencetak para calon pemimpin negeri. Tentunya komitmen penyediaan layanan pendidikan berkualitas bagi kaum marjinal semakin diperluas, ini berarti semakin banyak potensi luar biasa pada anak-anak marjinal bisa diselamatkan. Dengan demikian, juga berarti semakin banyak permata kehidupan yang bisa dikilaukan. Lebih dari itu, ke depan kilauannya akan menjadi cahaya penunjuk negeri ini. Ujungnya kita berharap terjadinya kecemerlangan pendidikan yang akan mendorong terwujudnya kecemerlangan Indonesia. 

,

Cara Jitu Mengatasi Siswa Mogok Sekolah

Cara Jitu Mengatasi Siswa Mogok Sekolah

Oleh: Ari Kholis Fazari, Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

 

Cerita ini tentang pengalaman saya selaku wali kelas di SMART Ekselensia Indonesia. Suatu pagi saya mendapat laporan dari wali asrama bahwa salah seorang siswa saya tidak mau sekolah.

“Penyebabnya apa, ya, Pak?” tanya saya pada wali asrama.

“Dia selalu ingat rumah, kampung halamannya. Dia selalu ingat ibunya.”

“Oh, begitu, ya, Pak.”

Selepas kerja, pada hari yang sama, saya ke asrama menemui siswa tersebut. Saya coba mengajaknya mengobrol.

Tapi, jawabannya hanya satu, yaitu diam seribu bahasa. Saya tahu ia tidak mungkin langsung percaya dengan saya sehingga ketika saya menemuinya, ia hanya diam. Akhirnya, saya pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan harinya saya mencoba lagi. Kali ini saya mencari tahu ke teman-teman guru yang dekat dengannya supaya saya bisa menggali banyak informasi. Dengan banyak mengetahui informasi tentangnya, saya bisa membantunya kembali bersemangat ke sekolah.

Hari itu juga ia masih dengan kondisi yang sama. Ia tidak mau sekolah, dan ingin pulang ke kampung halamannya tanpa alasan yang jelas. Saya pun tidak putus asa membujuknya untuk kembali ke sekolah.

Saya menggali lagi informasi ke beberapa guru yang bekerja lebih lama dari saya di SMART.

“Kenapa ya siswa saya itu tidak mau sekolah?” kembali saya mengajukan pertanyaaan yang sama.

“Hal yang wajar terjadi di sini, Taz. Itu adalah masa ia beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Wajar jika terjadi pada siswa kelas 1,” tukas salah seorang guru.

Jawaban dari rekan guru itu membuat saya bersemangat.

Hanya soal adaptasi. Tetapi, dalam hati saya bergemuruh: harus saya mulai dari mana mengatasinya?

Jangankan untuk kembali sekolah, mengajaknya mengobrol saja ia bergeming.

Sehari, dua hari, sampai satu minggu, belum ada cara yang tepat untuk mendekati anak ini. Tiba-tiba saya

teringat perkataan seorang teman bahwa segala sesuatu itu tergantung ridha orang tua kita. Jadi, dalam hal ini doa orangtua sangat berpengaruh pada kesuksesan anaknya.

Saya pun bertanya kembali ke salah seorang wali asrama. “Penyebab dia tidak mau sekolah apa ya, Pak?”

“Dia selalu ingat ibunya, Taz,” jawab seorang ustaz.

Mendengar jawaban itu, saya langsung berpikir, mungkin ketika ia berangkat ke SMART, ibunya belum sepenuhnya ridha melepas kepergian anaknya.

Saya pun langsung menghubungi ibunya. Kemudian saya, selaku wali kelas, menjelaskan persoalan anaknya di SMART.

“Bu, anak Ibu sudah beberapa minggu ini tidak mau sekolah.”

“Iya, Pak, saya juga sudah dapat informasi ini dari anak saya melalui telepon,” ibunya menjawab sambil terisak menahan tangis.

“Bu, dia tidak mau sekolah karena selalu ingat akan kampung halaman, dan dia selalu ingat Ibu.”

Sebelum berbicara dengan ibu anak itu, saya selalu berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK). Dari guru BK-lah saya mendapatkan data psikologis siswa tersebut, seperti hasil psikotes.

“Bu, cobalah untuk mengikhlaskan dia untuk sekolah di sini. Karena doa Ibulah yang bisa mengantarkan kesuksesan anak Ibu. Anak Ibu cerdas. Akan tetapi, semuanya tergantung Ibu, yang bisa Ibu lakukan sekarang berdoa, dan saya pun di sini berusaha semampu saya agar bisa membimbing putra Ibu.”

Ibunya pun menjawab, “Iya, Pak, memang salah saya juga, saya selalu ingat dia.”

“Nah, mungkin itu, Bu, yang menjadi penyebabnya. Jadi, mulai sekarang, coba Ibu relakan kepergiannya untuk sementara ini, dan berdoa untuk kesuksesan dirinya.”

“Baik, Pak, akan saya coba.”

Keesokan harinya saya pun berupaya kembali membujuk anak itu untuk bersekolah.

Siang itu, saya ke asrama ditemani guru BK. Sampai di asrama, kami mencarinya. Terlihat ia sedang menangis di sudut koridor asrama sambil memegang buku. Saya mendekatinya. Ia sebenarnya tahu kehadiran saya. Tapi, sepertinya ada penolakan dari dalam hatinya sehingga ia langsung diam sambil berpura-pura melihat bukunya.

Saya coba mengajaknya bicara, sekadar menanyakan kabar. Seperti biasa, ia hanya diam. Pandangan mata saya beralih ke bukunya. Buku yang dipegangnya buku Fisika.

Sepertinya ia sangat suka dengan pelajaran tersebut. Tiba- tiba saya mendapatkan ide.

“Lagi belajar apa, Dik?”

Ia tidak menjawab dengan lisannya, hanya menunjukkan bukunya dan bab yang sedang dipelajarinya.

Saya pun duduk di sebelahnya. “Kamu sangat suka pelajaran Fisika, ya, Dik?” Anak itu hanya mengangguk.

“Wah, hebat, ya, tapi sayang kalau kemampuan dan kesukaan kamu harus berhenti di sini.”

Dia pun menatap saya. Saya pun mencoba membuka diri.

“Saya juga lulusan Teknik, Dik, Teknik Elektro, tepatnya. Dasar dari beberapa kuliah teknik adalah Fisika.”

Dia masih menatap saya.

“Kamu asalnya dari mana?”

Saya sebenarnya tahu jawabannya, tapi sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk melancarkan “aksi” berikutnya.

Benar! Ia akhirnya menjawab untuk pertama kalinya ke saya, “Saya dari Sumatera Barat, Pak.”

“Bukannya di Sumatera itu banyak sekali pertambangan?” Ia mengangguk.

“Wah, harusnya kamu bangga bisa sekolah di sini! Bakat kamu bisa tersalurkan. Setelah kamu selesai sekolah di sini, kamu bisa kuliah di Teknik karena sekolah ini membantu kamu sampai masuk kuliah. Kalau kamu memaksakan diri untuk pulang, apa kamu bisa sekolah seperti sekolah di sini? Guru-guru di sini sangat perhatian dan baik ke kamu.” Ia terdiam.

“Sekolah ini siap mengantarkan kamu ke tempat kuliah yang kamu inginkan. Apalagi di Sumatera banyak sekali pertambangan. Kamu bisa kuliah di Teknik Pertambangan, Teknik Geologi, atau Teknik Perminyakan karena dasar Fisika kamu bagus. Selepas kuliah, kamu bisa kembali ke rumah kamu, dan insya Allah posisi kamu ketika bekerja di sana akan lebih dihargai karena keahlianmu. Tetapi, kalau kamu berhenti di sini, dan kamu pulang, apa yang kamu dapat? Kamu tidak akan dapat apa-apa. Selepas sekolah, apakah kamu bisa kuliah? Apakah sekolah kamu akan sama dengan sekolah di sini, yang mencarikan siswanya beasiswa?” Ia masih bungkam.

“Cobalah pikirkan lagi, Dik, kamu punya kesempatan untuk sukses. Jangan disia-siakan.”

Ia tetap membisu, tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya. Saya pun pamit padanya.

Saya terkejut bercampur senang. Anak itu tampak di sekolah bersama teman-temannya. Berminggu-minggu tidak mau sekolah, akhirnya ia kembali seperti anak-anak SMART. Ceria belajar dan bermain dengan teman temannya. Ia juga sudah tidak canggung lagi mengobrol dengan saya.

Saya tahu, ia anak yang cerdas. Terbukti, pelajaran yang ditinggalkan selama ia mogok sekolah mampu dikejarnya. Ia tidak lagi rapuh hanya karena merindukan keluarganya di rumah, terutama sang ibu.

Saya bersyukur atas perubahan yang dialaminya. Sesyukur saya mengenang kisah yang terjadi lima tahun silam pada Mitra Pargantian. Mitra tidak hanya membahagiakan kami di sini dengan kelulusannya di SMART, tetapi juga mewujudkan impiannya berkuliah di Teknik. Memilih untuk merantau menuntut ilmu di pulau seberang di Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Sebuah jalan kesuksesan tengah dirintisnya, dengan tetap dibersamai ridha orang tuanya.

,

Bakat Tersembunyi Dibalik Coretan Siswa

Bakat Tersembunyi Dibalik Coretan Siswa

Jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan. Itulah salah satu tujuan field trip kami ketika itu bersama rombongan guru dan siswa SMART Ekselensia Indonesia dari kelas 1 sampai kelas 5. Tentunya ini suatu kegiatan yang meriah dan menyenangkan. Senang rasanya melihat antusiasme para siswa, terutama siswa-siswa kelas 1, yang begitu bersemangat untuk menjumpai atau sekadar menyapa hewan-hewan yang biasanya hanya mereka tonton di TV atau gambar. Aku bertugas mendampingi wali kelas 1 untuk membantu mengawasi dan mendampingi siswa-siswanya. Aku juga naik kendaraan yang sama bersama mereka. Karena aku belum hafal betul nama seluruh siswa kelas 1 dan takut sok tahu serta salah panggil, akhirnya aku bertanya nama dan asal mereka.

 “Hamzah dari Jakarta, Zah,” jawab anak tinggi kurus yang duduk di samping jendela mobil.

“Saya Sukrismon dari Padang, Zah,” sahut anak kedua yang duduknya persis di sebelahku.

“Wah… sama dong, Ustazah juga orang Padang!” kataku senang.

Akhirnya, obrolan kami pun mengalir sepanjangperjalanan. Aku terus berusaha mengetahui latar belakang mereka melalui obrolan-obrolan ringan itu.

“Hamzah sudah pernah ke kebun binatang sebelumnya atau belum?” tanyaku.

“Udah pernah, Zah, sekali, waktu saya masih SD,” jawab Hamzah.

“Kalau Sukrismon, sudah pernah?”

Belum pernah, Zah. Ada sih di dekat rumah saya, tapi kami hanya sekadar lewat, tidak pernah ke sana,” katanya dengan logat Sumatera yang masih kental.

“Lho, kok belum pernah? Memangnya kenapa Sukrismon?” tanyaku penasaran.

“Pengen sih Zah, tapi gak punya uang,” sahutnya polos.

Nyeesss… rasanya wajahku langsung memerah, bodoh sekali menanyakan hal itu dan tidak peka untuk dapat memprediksi jawabannya. Tetapi ia menjawab dengan ringan saja, tanpa beban, walaupun terlihat sekilas keinginannya yang sangat untuk pergi ke sana.

Dalam sekelebat, aku kilas balik ke masa SD. Aku sangat menikmati masa kecilku, terutama saat-saat yang tak terlupakan. Sangat menyenangkan rasanya di waktu istirahat bisa bermain petak umpet, petak jongkok, benteng, main karet, dan lain sebagainya. Begitu pun waktu diajak jalan-jalan ke Taman Mini, Ancol, Ragunan, dan tempat-tempat rekreasi lainnya. Aku pun merasa bahwa seharusnya di masa itu—masa tanpa beban dan menikmati hidup, aku menyebutnya—semua anak kecil sepatutnya sudah pernah

mengunjungi tempat-tempat rekreasi walaupun hanya sekali. Ah, betapa naifnya aku, ternyata masih ada juga anakanak yang kurang beruntung. Aku sungguh terkesan oleh kepolosan Sukrismon. Hmmm, beberapa kali terlintas di benakku, mengapa ia diberi nama Sukrismon? Ia lahir pada tahun 1998, bertepatan dengan tahun terjadinya gonjang-ganjing perekonomian di Indonesia, yang kita kenal dengan sebutan ‘krismon’, krisis moneter. Apakah orangtuanya tidak tahu arti dari krismon? Bukankah nama itu adalah sebuah doa? Apakah menurut mereka nama Sukrismon itu artinya baik? Tak tahulah aku.

Setelah Field Trip ke Ragunan, nama Sukrismon kembali hadir. Bukan karena ia sedaerah asal denganku. Seiring rutinitas sekolah berlanjut, aku cukup sering mendengar bahwa Sukrismon acap kali menjadi biang ribut. Ia tidak henti-hentinya mengganggu teman-temannya. Dengan alasan sekadar iseng, hampir semua dilakukannya secara spontan dan tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Tidak banyak kawannya yang dengan senang hati bersedia menjadi teman dekatnya. Aku jadi bertanya-tanya, mengapa ia seperti itu? Apakah ia tipikal anak yang hiperaktif atau hanya ingin diperhatikan saja? Mungkin saja ia memiliki kelebihan energi yang belum dapat tersalurkan dengan baik.

Sebagai penanggung jawab bidang perlombaan, aku bertekad ingin mengetahui potensi Sukrismon. Ia pasti punya potensi yang menonjol di bidang tertentu, dan semestinya dapat menjadi curahan perhatian hingga energinya bisa disalurkan untuk melakukan hal-hal yang positif. Sampai suatu hari aku dimintai tolong oleh Ustazah Uci yang ketika itu berhalangan hadir karena tugas lembaga.

Hari itu ada jam pelajarannya, dan aku diminta tolong menyampaikan kepada anak-anak bahwa tugas mereka hari itu adalah meneruskan produk membuat buku yang dikerjakan secara berkelompok sesuai pertemuan sebelumnya.

“Ustad=zah Uci gak masuk ya, Zah?” tanya seorang anak di awal pertemuan dalam kelas.

Iya, Ustazah Uci lagi ada tugas lembaga, dan beliau berpesan kepada Ustazah untuk menyampaikan tugas untuk kalian. Ada yang tahu kira-kira apa tugas dari Ustazah Uci?” aku coba melempar pertanyaan.

“Pasti ngelanjutin produk membuat buku yang kemarin, ya, Zah?” tebak salah seorang siswa.

“Iya, betul, bagi yang kemarin tidak masuk, tolong bergabung dengan kelompok yang sudah ditentukan. Temanya sudah diberi tahu, kan? Hanya melanjutkan yang kemarin, masing-masing kelompok sudah dibagi-bagi berdasarkan judul bab. Dikerjakan di kertas HVS yang kemarin sudah dibagikan, pewarna sudah disiapkan Ustazah Uci bagi yang mau meminjam, dan jangan lupa cantumkan nama-nama kelompok kalian, ya.”

“Dikumpulinnya kapan, Zah?”

“Dikumpulkan hari ini, ya. Maksimalkan waktu yang masih ada.”

 “Kalo enggak dikumpulin sekarang boleh kan, Zah?” tawar siswa yang lain.

“Boleh saja kalau mau nilainya dikurangi. Kalau dikumpulkan lewat dari jam pelajaran Ustazah Uci, maka akan ada pengurangan poin penilaian. Semakin lama kalian mengumpulkan dari batas waktu, maka semakin banyak juga poin produk kelompok kalian yang dikurangi. Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Hening sejenak tanda semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang ditanyakan. Sejenak aku berada di kelas itu, yang dihiasi dengan riuh rendah dan lalu lalang anak-anak yang sibuk mengerjakan dan berkoordinasi dengan teman-teman sekelompoknya, mencari konsep yang sesuai, membagi tugas, maupun berdebat tentang gambar dan pilihan warna. Tampaknya serius sekali. Aku hanya tersenyum.

Beberapa kali aku berkeliling untuk melihat hasil kerja mereka yang masih dalam tahap perampungan. Dan aku tidak heran, gambar mereka umumnya bagus-bagus dan kreatif walaupun mereka baru duduk di bangku kelas 1. Aku tidak tahu apakah karena faktor anak laki-laki yang memang dianugerahi bakat lebih di bidang seni, khususnya menggambar, dibandingkan anak perempuan, ataukah memang kultur di SMART yang siswanya dari zaman ke zaman memiliki bakat menggambar yang menonjol dan di atas rata-rata? Setelah semua karya dikumpulkan, aku beranjak ke ruanganku. Aku pun tergoda untuk melihat hasil kerja anak-anak itu. Aku memeriksanya sambil senyum-senyum, melihat gambar-gambar yang menarik dan kreatif, yang dikolaborasikan dengan teori dan rumus-rumus fisika yang sudah diajarkan Ustazah Uci. Mereka memang cerdas dan anak-anak pilihan. Sampai tibalah di satu kertas, aku terpana melihat suatu gambar yang sangat indah. Sederhana dibandingkan gambar lain yang penuh warna. Gambar yang menarik minatku itu hanya berupa sketsa pensil. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi tampak nyata sekali. Aku penasaran ingin tahu siapa yang membuat gambar itu.

Keesokan harinya, Ustazah Uci berterima kasih dan meminta produk hasil karya anak-anak yang dikerjakan hari sebelumnya. Saat itu juga aku langsung teringat hal yang membuatku penasaran kemarin.

“UN, kemarin aku lihat gambar sketsa tangan di salah satu produk anak-anak, bagus banget deh, padahal cuma pake pensil. Uni tahu enggak siapa yang buat?” tanyaku. Aku memang terbiasa memanggil Ustazah Uci dengan sebutan

Uni” karena kami sama-sama orang Padang.

“Yang mana, Din?” tanya Ustazah Uci sambil mencari gambar yang dimaksud.

“Nah, ini nih, yang ini. Bagus banget kan?” tanyaku meminta persetujuan sambil menunjuk gambar tersebut.

“Oh… iya, emang bagus, ini tuh gambarnya Sukrismon,” kata Ustazah Uci.

Aku pun agak kaget bercampur senang. Akhirnya aku menemukan bakatnya. Belakangan aku diberi tahu, menurut beberapa rekan guru dan guru seni Sukrismon, ia memang berbakat untuk soal seni.

Sampai saat ini, sudah beberapa kali aku merekomendasikannya untuk mengikuti lomba yang berkaitan dengan menggambar. Walaupun ia belum pernah menang, aku yakin suatu saat nanti Sukrismon bisa membawa pulang piala dan mengharumkan nama SMART Ekselensia Indonesia. Jalan masih panjang untuk mengasah keterampilannya menjadi makin baik lagi.

,

Sebuah Kepercayaan Pada Siswa

Sebuah Kepercayaan Pada Siswa

 

Aku dipercaya untuk mengajarkan Bahasa Inggris di SMART Ekselensia Indonesia. Sebagai guru full time, ada tiga kelas yang aku ajar, yaitu 2B, 3A, dan 3B. Karena kelas 3A dan 3B bakal menghadapi Ujian Nasional (UN), aku harus membuat mereka siap. Semampuku aku membantu mereka untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, khususnya di pelajaranku. Pada try out pertama Diknas dilaksanakan, siswa-siswaku terlihat kurang siap menghadapinya. Hasilnya terbukti, sebagian dari mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata.

“Kamu kenapa bisa dapat nilai segitu? Emang soalnya susah banget?” tanyaku kepada salah satu siswa yang mendapatkan nilai terendah.

 “Gak tahu, Zah. Kami baru tahu ada try out itu pas paginya, dan kami belum belajar apa-apa.”

“Kok gitu? Kamu kurang cari informasi mungkin? Ayo nilainya ditingkatkan, nanti Ustadzah kasih bonus kalau sampai nilai kamu meningkat,” kataku mengimingi dengan menyebut sebuah merek wafer.

“Iya, Dzah, nanti mah saya serius ngerjainnya, saya bakal dapet 8, Zah.”

Aku tidak meragukan kemampuan mereka dalam menjawab soal try out, toh mereka adalah anak-anak pilihan. Aku hanya mengkhawatirkan kesungguhan dan keseriusan mereka dalam menghadapi ujian. Beberapa kali aku kurangi jam mengajarku hanya untuk menceramahi mereka agar lebih serius lagi dalam mengerjakan dan menghadapi try out. Sempat aku ingin menyerah dalam situasi seperti ini.

Tapi, aku tersadar, bukankah Allah tidak suka dengan orang yang mudah putus asa? Try out kedua pun dilaksanakan. Kembali aku khawatir dengan hasilnya. Namun, aku percayakan kepada mereka dan pastinya terhadap Allah.

“Semangat, ya… pasti bisa,” ucapku sebelum mereka masuk ruang ujian.

Mereka hanya tersipu, entah apa yang ingin mereka sampaikan.

Tidak Lama Kemudian, HASIL try out kedua keluar. Alhamdulillah, nilai mereka meningkat, dan sebagai penyemangat aku memberikan reward untuk mereka sesuai janji. Ini salah satu apresiasiku terhadap usaha dan kesungguhan mereka. Belum selesai kegembiraanku, try out ketiga siap menanti.

Salah satu usahaku untuk membantu mereka siap menghadapi UN adalah memberikan latihan-latihan soal. Setelah mereka menyelesaikan try out ketiga Diknas, selama tiga jam mata pelajaran (3×40 menit) kami membahas soalsoal di kelas 3A. Berhubung soal Bahasa Inggris ini banyak berupa teks, volume suaraku pun mengecil. Untungnya, seorang siswa mengerti keadaanku.

“Zah, biar saya bantu menjelaskan ya, tadi pagi kan kelompok saya sudah membahas soal yang ini waktu bimbel.”

Bimbel atau bimbingan belajar adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar jam pelajaran, dimulai sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 khusus untuk kelas 3. Aku hanya tersenyum melihat tindakan siswa ini karena biasanya ia suka membuat ribut di kelas dengan pertanyaanpertanyaan yang kadang tidak berhubungan dengan materi yang dibahas. Aku terima niat baiknya. Setelah membahas soal, aku memberikan PR yang harus dikumpulkan besok.

Keesokan harinya, aku mengajar kelas 3B. Jam pelajaran Bahasa Inggris dimulai setelah istirahat. Ketika aku dan siswa kelas 3B sudah di kelas, masih ada beberapa siswa kelas 3A yang singgah karena jam pelajaran selanjutnya belum dimulai.

Dan kesempatan ini pun aku gunakan untuk mengobrol bersama siswa kelas 3A. Aku mengumumkan siapa saja di antara mereka yang masuk ke dalam datiar Klinik Bahasa Inggris (salah satu program sekolah untuk menindaklanjuti anak-anak yang masih lemah dalam mata pelajaran Bahasa Inggris).

“Kamu, Ustazah masukkan ke klinik, ya?” Aku bertanya kepada siswa 3A yang membantuku menjelaskan soal dan jawaban kepada temannya di kelas.

“Iya, Ustazah,” jawabnya sambil tersenyum.

Mendengar jawabannya aku merasa ada yang beda karena biasanya bukan respons seperti itu yang ia berikan. Akan ada tawar-menawar terlebih dahulu sebelum ia mengiyakan pernyataanku.

“Kamu gak masuk ke lab komputer? Kan sebentar lagi kelasnya dimulai?” tanyaku lagi. Jarang-jarang ada siswa yang datang terlambat ke ruang lab komputer.

“Iya, Zah, nanti saja,” jawabnya dengan tatapan yang kosong.

Setelah mengajar aku pun menjalankan aktivitas seperti biasanya. Kemudian ditambah jadwal video conference (VC) yang biasanya aku lakukan seminggu dua sampai tiga kali. Video conference adalah program menghubungkan siswa SMART dengan anak-anak Indonesia yang bersekolah atau berkuliah di luar negeri, seperti di Kanada, Australia, dan Jepang. Mereka berbincang dan bersilaturahim melalui aplikasi Skype. VC dimulai dari pukul 16.00 sampai 17.00. Sambil mengawasi anak-anak melakukan kegiatan VC, aku juga menunggu PR kelas 3A yang mereka kumpulkan hari itu. Beberapa siswa kelas 3A bergantian mengumpulkan tugas mereka, tapi masih ada beberapa siswa yang belum mengumpulkan, mungkin karena lupa.

Di Rumah, Ketika Jam menunjukkan pukul 03.00 aku terbangun. Aku mendengar getaran ponselku yang terletak tidak jauh dari kepalaku. Ada pesan di WhatsApp grup para guru SMART. Betapa kagetnya aku begitu membaca isi pesan yang menyebutkan bahwa ibunda salah satu siswa kelas 3A meninggal dunia pada hari kemarin, tepatnya pagi hari. Rasa kagetku tak berhenti sampai di situ karena aku membaca bahwa yang meninggal adalah ibunda dari anak yang dua hari sebelumnya membantuku menjelaskan jawaban atas soal-soal yang sedang kami bahas. Ya, siswa yang ketika aku tanya tentang klinik, ia hanya menjawab iya dan tersenyum; anak yang ketika di kelas kadang bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran.

Seketika aku terdiam membayangkan wajah siswa itu, yang biasanya ceria dan sering berpendapat tentang apa pun. Aku membayangkan betapa pedih hatinya karena ditinggal ibundanya tersayang, bahkan sekaligus kehilangan calon adiknya yang masih berada di dalam kandungan sang ibunda. Saat itu juga aku berdoa agar hati dan jiwanya kuat menghadapi cobaan dari Allah dalam usia semuda itu.

Ingin rasanya waktu segera menunjukkan pukul 06.00 agar aku dapat langsung ke sekolah dan mengetahui keadaannya. Sayangnya, saat aku sampai di sekolah, anak itu ternyata sudah pergi ke  bandara menuju Batam, tempat keluarganya tinggal.

“Semoga ia diberi kekuatan dan keselamatan,” doaku dalam hati.

Kemudian aku menuju kelas untuk menyimpan tas karena setiap hari kami selalu melaksanakan apel pagi pada pukul 06.40. Sesampainya di kelas, kulihat ada kertas jawaban seorang anak yang mungkin diletakkan sekitar pukul 17.00 ke atas karena kemarin aku tidak menemukan apa-apa di atas mejaku. Aku tahu itu kertas jawaban siswa 3A yang harusnya dikumpulkan kemarin.

Setelah kulihat, ternyata di situ tertulis nama “Muhammad Ihda Alhusnayain”, anak yang baru saja ditinggal oleh ibundanya. Dalam keadaan bersedih ia masih berpikir untuk mengumpulkan tugasnya. Dalam keadaan terpuruk dan pasti sangat terpukul, ia masih merasa bertanggung jawab untuk memenuhi tugasnya karena ia tahu dirinya tidak bisa mengumpulkan tugasnya dalam tiga hari ke depan dikarenakan harus pulang menengok keluarganya.

Sekembalinya dari Batam tak banyak yang berubah dari Ihda. Dia tetap semangat menjalani hari-harinya walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Semoga setelah musibah ini Ihda tetap mempunyai semangat untuk menghadapi UN. Semoga anak ini tetap ceria, tetap aktif dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk ustaz dan ustazahnya, tetap tegar demi adik dan ayahnya, dan  yang pasti semoga ia tambah pintar. Begitu juga dengan siswa-siswa yang lain, khususnya kelas 3 yang semoga tetap diberi semangat dan kecerdasan agar mereka dapat melewati UN dengan baik dan lancar serta mendapatkan hasil yang terbaik.

Aku percaya pada anak-anak pilihan ini.

Selalu Ada Potensi Dalam Diri Siswa

Selalu Ada Potensi Dalam Diri Siswa

Oleh : Uci Febria (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

 

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Zah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memerhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustadzah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Dzah?”

“Ustazah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Zah?” Siswa-siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustazah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustazah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Zah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustazah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Zah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauh-jauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustazah jadi siswa kan? Saya minta Ustazah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together.” Saya memimpin doa dalam bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang ,mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

 

Sekuat dan Sekokoh Teri

Sekuat dan Sekokoh Teri

 

Ada keluguan dan kelucuan jika kita mau mengamati kelakuan anak-anak daerah yang bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Hal itu dapat ditemukan pada saat mereka melakukan aktivitas belajar, baik di asrama maupun di sekolah. Dua tempat itulah yang menjadikan tereksplorasikannya pengalaman menarik yang didapat dari hasil mengamati tingkah lakunya. Dua sisi keluguan dan kelucuan siswa pada tulisan ini didapat dari aktivitas mereka ketika berada di asrama.

Seperti yang tertulis pada program kerja satu tahun pengajaran SMART, target utama yang menjadi fokus kerja para guru dan wali asrama adalah keseimbangan antara pengetahuan yang berorientasi pada kognitif maupun yang mengoptimalkan peran motorik. Target proses yang bisa menjadi acuan dari para siswa adalah diperkayanya pengalaman belajar mereka. Pengalaman tersebut harus mampu menyatukan dua potensi kognitif yang berpadu dengan motorik sehingga dapat menghasilkan satu inside learning (hikmah) yang bermetamorfosis dalam tingkah laku, yang selanjutnya biasa diistilahkan menjadi satu sikap tingkah laku (afektif).

Dari sisi kognitif, bekal yang harus kita penuhi berupa wawasan guru yang baik. Hal tersebut dapat berupa wawasan pedagogik (pengetahuan mendidik) maupun wawasan profesional keilmuan (wawasan keahlian ilmu). Dua elemen pengetahuan tersebut akan berpadu membentuk sisi keragaman etos kerja dari kinerja dan dedikasi guru.

Sementara pengembangan dari sisi motorik, selain membutuhkan pembekalan strategi pengajaran dan variasi games, juga memerlukan asupan gizi yang layak dari setiap hidangan yang disajikan. Gizi makanan menjadi satu perhatian khusus yang tidak bisa ditinggalkan, baik pada saat makan pagi, makan siang, maupun makan malam.

Khusus untuk biaya makan di SMART; dalam satu hari, biaya yang harus dikeluarkan sebanyak Rp 3 juta untuk 175 siswa. Variasi makanan pun menjadi menu yang cukup bisa dinikmati di setiap harinya. Hal ini yang senantiasa digaungkan untuk menjadi satu kepedulian siswa, sebagai satu bentuk rasa syukur mereka. Bagaimanapun juga, mereka telah mendapatkan banyak nikmat: gedung sekolah yang representatif, makanan yang penuh gizi, guru yang baik, seragam, dan buku mata pelajaran. Semuanya didapat secara gratis alias tak perlu bayar sepeser pun!

Ada satu hal menarik yang pernah diungkapkan oleh salah satu siswa baru. Ketika baru dua minggu merasakan makanan di SMART, ia bertanya kepada saya.  “Ustaz Ahmad, waktu saya sekolah di SD dulu, saya diajarkan untuk selalu mengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Ada sayur mayur, daging, kacang-kacangan, buah, dan susu,” ujar siswa tersebut.

“Oh begitu. Jadi, di SMART ini kamu tidak merasakan apa yang kamu ketahui sewaktu di SD dulu?” tanya saya menerka arah pembicaraan si siswa.

“Alhamdulillah, Ustaz, semua sudah pernah saya rasakan. Tapi, yang sering saya rasakan sama teman-teman, jenis makanan yang menunya baru, Ustaz. Kandungan vitaminnya juga pasti akan dirasakan baru, Ustaz.”

Saya pun terkejut. “Masya Allah, menu makanan apa itu, Nak?”

Siswa itu pun menjelaskannya dengan sangat antusias.

“Di sini, Ustaz, makanan pagi, siang, dan malam, jika kita mau polakan selama satu Minggu, masakannya tak lain memiliki menu LIMA T Plus SATU B, Ustaz.”

Saya pun langsung menimpalinya dengan pertanyaan yang lebih spesifik lagi.

“Wah, makanan apa lagi itu, ya? Saya baru mendengarnya selama hampir empat tahun mengajar di sini, lho. Makanan apa itu, Nak?”

Siswa baru itu pun dengan sigap kembali menguraikan.

“Setiap kita makan selama hampir dua Minggu, menu lauknya tak jauh dari… toge, tempe, tahu, terong, dan teri rasa baja, Ustaz. Kenapa teri ada rasa bajanya, Ustaz?”

“Itu teri kok ada rasa bajanya? Kira-kira kenapa, Nak?”

“Iya, Ustaz, karena dimasaknya kurang matang atau setengah mentah. Itu ikan teri. Jadi, alot rasanya. Susah dikunyah!”

Saya berusaha bersikap bijak menghadapi siswa baru ini.

“Oh, itu maksud dari menu dan vitamin barunya, Nak.”

“Semua yang baru tidak selamanya baik buat saya, Ustaz.”

“Apanya yang tidak baik?”

“Jika kita selalu disuguhkan yang baru-baru,” terang siswa itu, “kita akan melalaikan yang lama-lama atau yang telah lalu. Dan itu yang tidak baik, Ustaz. Ayah kandung dan ibu kandung kita kan bukan orang baru. Mereka orang yang sudah lama menemani kita, membimbing kita, mendidik kita, masak mereka mau dilupakan, Ustaz? Itu yang pertama, Ustaz.”

Saya menyimak kata-kata siswa yang luar biasa ini.

“Ada lagi yang kedua, Ustaz. Kampung kita semua jenis budayanya, makanannya, ciri khas yang menjadikan rindu ini terus ada di dalam hati. Itu semua kan keunikan yang ada di masa lalu, yang memang tidak boleh kita lupakan, Ustaz?” Saya segera menangkap arah pernyataan penuh hikmah ini.

“Subhanallah, itu yang Ustaz maksud, Nak. Jangan pernah kita terlena dengan fasilitas yang ada, bahkan hati-hati dengan fasilitas yang ada. Jika kita tidak pandai mengaturnya, fasilitas itu akan menjadi penghambat semangat belajar kita. Kalau semangat sudah terhambat, yang muncul adalah sifat malas, acuh tak acuh dengan prestasi. Yang ada, tinggal kita yang ditinggal maju oleh teman-teman kita.”

“Saya paham, Ustaz. Saya juga paham kenapa ikan teri sengaja dibuat alot.”

Saya tercekat heran. “Kenapa, Nak?”

“Teri itu sengaja dimasak alot supaya kita punya mental seperti baja. Kuat, kokoh, dan tangguh dalam belajar.”

Saya mengacungkan jempol atas jawabannya.

“Anak cerdas!” spontan saya memujinya walau di dalam hati. Dan saya tidak lupa segera mendoakan kesuksesan baginya, baik di dunia maupun di akhirat. []

 

,

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMART Tak Terlupakan

Serunya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMART

Sebuah awal baru, tempat baru, dan suasana baru tentu membutuhkan proses adaptasi. Begitu pun dengan lingkungan sekolah. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi sarana proses adapatasi siswa baru terhadap lingkungan sekolahnya.

Bagaimana dengan di SMART?

Tentu sebagai salah satu sekolah yang berada di bawah Diknas, SMART menjalankan MPLS sebagai menu pembuka tahun ajaran baru bagi siswa-siswa barunya.

Sebagai sekolah berasrama yang terdiri dari jenjang SMP-SMA tentu siswa baru di SMART adalah lulusan dari SMP SMART sendiri. Lantas untuk apa diadakan MPLS jika siswa-siswanya telah mengenal lingkungannya sendiri?

Selain sebagai kegiatan refreshing pikiran setelah liburan pulang kampung selama hampir 2 bulan, MPLS tahun 2019 ini juga menjadi ajang perkenalan siswa baru. Yup, tahun 2019 menjadi edisi perdana SMART membuka pendaftaran siswa SMA dari luar sehingga siswa lama yang notabenenya lulusan SMP SMART mendapatkan teman-teman baru.

Alasan penting lainnya adalah sistem pembelajaran yang berbeda. Hal ini dikarenakan SMA SMART Ekselensia menerapkan program SKS sehingga pengenalan program tersebut penting untuk dilaksanakan.

Diawali dengan pengenalan profil sekolah menggenai seluk-beluk direksi kepemimpina sampai kegiatan ekstrakulikuler. MPLS 2019 melakuka start di hari Selasa, 16 Juli 2019. Dilanjutkan dengan materi literasi yang membuka cakrawala pengetahuan bahwa literasi bukan hanya tentang baca dan tulis tetapi juga tentang bagaimana cara berpikir kritis.

Sejalan dengan kurikulum 2013 yang mengedepankan pendidikan karakter. MPLS 2019 juga menghadirkan materi-materi pendidikan akhlak seperti kedisiplinan dan adab-adab belajar seperti halnya takzim kepada guru.

Wawasan kebangsaan disampaikan dengan materi kesatuan dan persatuan di  era disrupsi tentang bagaimana menjaga, membangun dan memperbaiki persatuan dan kesatuan di tengah keterbukaan data dan menjaga keimanan di tengah kemaksiatan yang merajalela.

Tak hanya kegiatan indoor saja. MPLS 2019 juga terintegrasi dengan kegiatan kepramukaan. Sehingga kegiatan menjelajah menjadi salah satu kegiatan seru yang hadir di MPLS termasuk yel-yel kreatif dari setiap kelompok yang membuat MPLS semakin berwarna.

Dengan semangat REKONSTRUKSI PERADABAN. MPLS menjadi gerbang untuk menjawab pertanyaan perjuangan apa yang akan kamu lakukan untuk Indonesia.