Keluar Sob! Keluar dari Zona Nyamanmu!

Mempertanyakan Kembali Definisi Zona Nyaman

Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Kalimat ini sering kita dengar baik dalam seminar motivasi, career coaching, hingga posting media sosial. Pada awalnya, penulis mendapati nasehat ini sangat rasional dan konstruktif. Pasalnya, nasehat ini mengajarkan kita untuk dapat memiliki hidup yang lebih menantang dimana kita dianjurkan melangkah ke zona yang dianggap belum pernah kita lakoni sebelumnya. Ini dianggap penting, karena dengan melakukan sesuatu yang rutinitas normal, kita akan dapat mengembangkan potensi diri, melalui pengalaman, pengetahuan dan kemampuan baru yang didapat.

 

 

Lama narasi ini beredar pada dalam ruang publik, belakangan penulis kembali mempertanyakan konsep yang sangat populer ini. Sebetulnya, apa yang dimaksud keluar dari zona nyaman? kepada apa kata zona itu merujuk? Apakah keluar dari kenyamanan adalah satu-satunya cara untuk mengeksplorasi diri dan potensi yang ada?. Melalui tulisan singkat ini, penulis akan mencoba membahas narasi keluar dari zona nyaman dari perspektif penulis sebagai upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

 

 Pertanyaan paling dasar dari narasi keluar dari zona nyaman adalah belum adanya konsep yang begitu jelas tentang apa itu zona dan seperti apa konteks dari kata zona, ketika diasosiasikan dengan kata sifat nyaman. Merujuk pada definisi kamus Oxford, comfort zone atau zona nyaman diartikan sebagai suatu situasi dimana seseorang merasa aman dan nyaman.[1] Sedangkan menurut  Alasdair A. K. White pada jurnal From Comfort Zone to Performance Management, zona nyaman adalah keadaan psikologis seseorang yang merasa tentram karena adanya kontrol terhadap pada lingkungan sekitarnya sehingga mengalami tingkat stres atau perasaan asing yang rendah.[2]  Disamping itu, dalam beberapa seminar penulis juga sering mendengar bahwa zona nyaman juga dapat diartikan sebagai pekerjaan yang telah menjadi rutinitas bagi seseorang. Contohnya, menjadi karyawan untuk sebuah perusahaan atau menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara). Dari 3 definisi di atas, tanpa memberturkan gagasan masing-masing perspektif, dapat disimpulkan bahwa secara umum zona dalam konteks zona nyaman dapat merujuk pada tiga hal yakni tempat, kondisi psikologis, atau sebuah kegiatan.

 

 

Relasi Zona dan Rasa Nyaman

Pertanyaan selanjutnya yang harus diurai yaitu dari mana rasa nyaman dapat muncul pada sebuah zona, baik dalam defenisi zona sebagai tempat, kondisi psikologis, atau sebuah pekerjaan. Pertama,  nyaman dalam definisi tempat.  Penulis lahir dan juga besar di Kota Padang, Sumatera Barat. Mulai dari bangku sekolah dasar penulis tidak pernah berdomisili di kota lain dalam waktu yang relatif lama hingga menyelesaikan S-1. Tentu saja dengan demikian sudah hampir semua macam karakteristik Kota Padang penulis pahami. Seperti kultur sosial, budaya, dan bahkan seluk belok area kota. Melanjutkan hidup di Kota Padang tidak akan menyulitkan bagi penulis. Sebab, penulis telah menguasai atau memiliki kontrol yang memadai mengenai lingkungan Kota Padang. Ini  berarti Padang, berdasarkan definisi Alasdair A. K. White, adalah zona nyaman penulis.

 

 

Dengan latar belakang seperti diatas, mayoritas pembicara publik normalnya akan menyarankan penulis untuk keluar dari zona nyaman (Padang). Pada tahun 2018 penulis juga berfikir demikian, dan kabar baiknya, penulis mendapatkan kesempatan untuk keluar dari Padang melalui sebuah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Vietnam Selatan. Melalui program ini, penulis berkesempatan untuk melakukan sejumlah kegiatan di 2 Provinsi Vietnam Selatan selama kurang lebih 1 bulan dengan bonus perjalanan transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Akan tetapi, perjalanan ini justru membuat penulis berfikir ulang tentang nasehat “keluar dari zona nyaman”. Pasalnya, sepanjang perjalanan di 2 negara tersebut, penulis tidak menemukan rasa tidak nyaman. Baik Padang ataupun Long Xuyen (Nama Kota yang penulis kunjungi), memiliki rasa nyaman yang sama (walaupun dalam hal yang berbeda). Memang, dalam bahasa, budaya, kuliner,dll  antara Long Xuyen dan Padang memiliki banyak perbedaan. Namun, Vietnam masih terasa sebagai rumah bagi penulis. Begitu juga dengan Kuala Lumpur, dimana penulis bahkan menemukan keluarga angkat yang hingga saat ini selalu seperti keluarga sendiri setiap kali penulis kembali berkunjung. Hingga penulis meninggalkan Long Xuyen, kota ini masih terasa dalam kontrol dan tingkat stress yang juga relatif sama dengan Padang. Terkadang memang terdapat masalah, namun kebanyakan momen dilalui dengan kebahagiaan.

 

 

Kasus yang mirip, juga terjadi pada saat penulis memilih dari jurusan Hubungan Internasional (HI) di mana sebelumnya penulis adalah siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di bangku SMA.  HI yang notabenenya mempelajari politik internasional, membuat penulis harus banyak membaca jurnal dan menulis  tulisan ilmiah. Akan tetapi, tetap saja, bagi penulis antara IPA dan HI, memiliki tingkat stress yang setara. Tsidak ada perbedaan tingkat stress yang signifikan hingga penulis menamatkan kedua jurusan ini. Disamping itu, seingat penulis kondisi psikologis penulis dalam merasakan nyaman juga relatif sama ketika di bangku SMA maupun di PTN. Terkadang terdapat masalah, namun kebanyakan momen dilalui dengan kegembiraan. Ini berarti, berubahnya rutinitas  penulis dari jurusan IPA (yang dapat dikatakan merupakan zona awal penulis) ke jurusan HI juga tidak serta-merta membuat penulis merasa tidak nyaman. Keduanya terasa berada pada keadaan psikologis yang sama.

 

 

Berangkat dari pengalaman diatas, penulis menyimpulkan bahwa zona nyaman hanyalah sebuah konsep. Kita tidak pernah benar-benar diubat nyaman oleh sesuatu diluar diri seperti tempat, orang-orang sekitar, ataupun kegiatan yang kita lakukan. Dengan kata lain, tidak terdapat suatu hubungan atau relasi antara tempat dan rasa nyaman yang kita rasakan. Atau, dapat dikatakan zona nyaman dapat dikatakan inexist (tidak ada).

 

 

Asal-Usul Rasa Nyaman Suatu Zona

Disebut inexist atau (tidak ada) karena tidak ada sejatinya tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang dapat dikategorikan nyaman atau tidak nyaman. Setiap tempat, keadaan, maupun kegiatan memang menawarkan pengalaman yang berbeda. Akan tetapi, rasa nyaman pada suatu hal tidak tergantung oleh tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang dilakukan. Misalnya, apabila sedari awal kita menetap pada kota kelahiran dan menganggap kota tersebut membosankan, maka kota yang dihuni selama ini juga tidak akan menjadi zona nyaman. Atau dalam kasus kedua, apabila suatu kegiatan yang kita telah kita lakukan bertahun-tahun dinilai sebagai kegitan yang menyebalkan, maka kegiatan tersebut juga tidak akan menjadi zona nyaman walaupun, segala hal telah berada pada kontrol individu dengan tingkat stress paling minim.

 

 

Menurut penulis, rasa nyaman pada zona apapun, berasal dari alam pikiran individu. Alam pikiran inilah yang menjadi penentu apakah suatu tempat, keadaan, atau kegiatan dapat dikatakan zona nyaman atau bukan. Apabila diawal penulis berfikir Long Xuyeng ataupun HI merupakan bukan zona nyaman bagi penulis, maka disaat yang sama, semua kegiatan yang penulis lakukan saat itu pasti akan terasa berbeda dengan di Padang maupun jurusan IPA. Mungkin, Long Xuyeng dapat terasa sebagai kota yang asing, berbeda, atau penuh dengan stres (setidaknya diawal). Namun sebaliknya, semua terasa nyaman karena segala hal dipersepsikan sama. Artinya, semua zona pada hakikatnya bersifat netral hingga kita membentuk persepsi-persepsi tertentu tentang zona tersebut. Adanya istilah keluar dari zona nyaman, sebetulnya disebabkan oleh kebanyakan orang mempersepsikan tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan yang akrab dengan kita saat ini sebagai kenyamanan. Sedangkan tempat, keadaan psikologi, maupun kegiatan apapun yang belum akrab, dianggap sebagai zona tidak nyaman yang harus dituju.

 

 

Padahal, semua zona pada dasarnya sama. Kita tetap dapat bertumbuh menjadi orang yang lebih baik kendati tetap berada pada zona yang sama. Begitu pun dengan orang yang berpindah-pindah zona. Mengapa? Karena, dimana pun manusia berada, selama manusia hidup akan selalu ada masalah. Masalah demi masalah ini akan menguji kehidupan manusia dan membuatnya lebih baik. Tentu saja selama invidu tersebut menjalani segala dinamika dengan tekun dan pantang menyerah.

 

 

Epilog

Kendati demikian, bukan berarti penulis ingin mengatakan bahwa pergi ke suatu tempat atau melakukan aktivitas yang berbeda adalah hal percuma. Karena setiap pengalaman di lain tempat akan membentuk kreativitas, kritisisme, dan juga kedewasaan. Akan tetapi, esai ini dimaksudkan untuk mengemukakan sebuah gagasan baru yakni kemanapun kita pergi, alam pikiran kitalah yang lebih menentukan kenyamanan. Pertanyaan yang menarik disini yaitu mengapa kita harus melangkah ke zona yang tidak nyaman, padahal ketidaknyamanan itu sendiri lahir dari persepsi kita sendiri. Bukankah perjalanan lebih menyenangkan jika kita mendapatkan semua pengalaman baru tanpa harus merasakan stress, asing, dan tidak nyaman? Karena kita dapat selalu ada dalam zona nyaman- pikiran kita sendiri.

Referensi

[1]Lexico powered by Oxford, “Comfort Zone Definition” https://www.lexico.com/en/definition/comfort_zone (diakses 2 Desember 2019)

[2]  Alasdair A. K. White “From Comfort Zone to Performance Management” http://www.whiteandmaclean.eu/from-comfort-zone-to-performance-management/ (diakses pada 2 Desember 2019)

Jangan Sampe deh Kita Jauh dari Allah Sob

Jangan Sampe deh Kita Jauh dari Allah Sob

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

 

 

Ketika Adam ‘Alaihissalam tinggal di surga, Allah mempersilakan Adam ‘Alaihissalam untuk memakan apapun yang ada di dalam surga. Hanya, satu yang tidak boleh, “Akan tetapi, janganlah kamu dekati pohon ini (walaa taqraba hadzihi asy-syajarah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 35).

 

 

 

Perhatikan ismul isyarah (kata tunjuk) yang digunakan pada ayat di atas! Alquran menggunakan kata “hadzihi” yang merupakan kata tunjuk dekat dan bermakna “ini”. Artinya, sebelum Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah, kedudukan Adam ‘Alaihissalam itu dekat sekali dengan Allah. Karenanya, redaksi Alqurannya menyebutkan, “…pohon ini” bukan “…pohon itu”. Ini menunjukkan dekatnya kedudukan Adam ‘Alaihissalam di sisi Allah.

 

 

 

Akan tetapi, ketika Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah dengan memakan buah dari pohon terlarang itu, ismul isyarah-nya berubah dari “hadzihi” (kata tunjuk dekat) menjadi “tilka” (kata tunjuk jauh) yang bermakna “itu”.

 

 

 

Alquran menerangkan, “…Tuhan menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu (tilkuma asy-syajarah) dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu berdua?’” (QS. AL-A’raf [7]: 22).

 

 

 

Berubahnya kata tunjuk yang digunakan Alquran setelah Adam ‘Alaihissalam melanggar larangan Allah menunjukkan berubahnya kedudukan Adam ‘Alaihissalam di sisi Allah. Semula kedudukannya dekat di sisi Allah menjadi menjauh karena pelanggaran itu.

 

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari, semestinya kisah Adam ‘Alaihissalam ini menjadi pelajaran bagi. Yakni, setiap dosa dan pelanggaran syariat yang kita lakukan menjadikan kita semakin menjauh dari Allah Subhanahu Wata’ala. Jika kita menjauh dari Allah, bagaimana mungkin kita bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup? Yang terjadi adalah hidup kita kering kerontang. Mungkin secara fisik materi dunia kita berkecukupan, bahkan mungkin lebih dari cukup. Namun, jiwa dan ruh kita merana dan meronta.

 

 

 

Dosa akan menggelapkan hati kita. Sedang, hati adalah tempat menerima pancaran cahaya hidayah dan taufik. Bila hati gelap pekat, mana bisa menerima cahaya hidayah. Jadi, sebenarnya bukan Allah tidak memberikan hidayah, namun kitalah yang menolak datangnya hidayah dengan dosa dan maksiat yang menggelapkan hati.

 

 

 

Karena itu, tiada yang lebih indah dalam hidup ini selain Allah dekat dalam kehidupan kita. Allah berkenan hadir dalam setiap gerak langkah kehidupan kita. Caranya dengan menjauhi dosa dan maksiat. Sehingga, hati menjadi jernih dan mudah menerima pancaran cahaya hidayah dan taufik. Hidayah dan taufik dari Allah inilah yang menjadikan hidup kita terarah, damai, dan bahagia.

Kudu Paham Geliat Jejak Karbon yang Mengancam Kita Sob

Geliat Jejak Karbon yang Mengancam Kita Sob

 

Tentu kita semua sepakat bahwa perubahan iklim benarlah terjadi. Tentu kita semua merasakan cuaca yang semakin ekstrem. Peningkatan emisi karbon dioksida merupakan satu faktor peningkatan suhu. Apa teman-teman pernah menghitung jejak karbon yang teman-teman hasilkan setiap tahunnya? Penting untuk kita menghitung jejak karbon atau biasa disebut carbon footprint. Jejak karbon adalah akumulasi emisi gas rumah kaca yang diproduksi oleh suatu kelompok, kegiatan (event), maupun individu. Emisi karbon (CO2) yang kita hasilkan berasal dari berbagai aktifitas sehari-hari loh seperti penyalaan lamp, peralatan listrik, pola makan, dan cara bepergian. Seluruh aktivitas yang kita lakukan meninggalkan sisa-sisa karbon.

 

 

Di 2008 US Department of Energy’s Carbon Dioxide Information Analysis Center (CDIAC) menyatakan bahwa rata-rata emisi karbon per kapita di Indonesia adalah 1,8 ton setara CO. Jurnal Teknologi Lingkungan mengklaim bahwa Pegawai Instansi Pemerintah yang berkantor di kawasan Puspiptek Tangerang Selatan, secara rutin mengemisikan gas karbon sebesar 3,1-6,6 ton CO2-e/orang/tahun atau rata-rata sebesar 4,96±1,23) ton CO2-e/orang/tahun. Itu baru satu orang, bagaimana dengan seluruh manusia di dunia? Bayangkan berapa banyak beban pohon untuk menghisap karbon yang mana hutan juga semakin dibabat habis.

 

 

Kita bisa menghitung jejak karbon dengan aplikasi diberbagai website organisasi lingkungan. Teman-teman tinggal search jejak karbon di internet. Umumnya perhitungan ini tidaklah 100% akurat.  Karena perhitungan carbon footprint jauh lebih kompleks dan memerlukan lebih banyak parameter maupun variabel. Setidaknya teman-teman dapat mengukur seberapa besar sumbangsi teman-teman dalam pemanasan global di bumi ini sehingga menjadi acuan untuk teman-teman hidup lebih ramah lingkungan lagi ke depannya. Sehingga setiap tahun jejak karbon yang dihasilkan semakin sedikit.

 

Jangan lupa komen berapa jejak karbon yang teman-teman hasilkan ya!

Sebab yang Kita Butuhkan itu Konsistensi lho

Sebab yang Kita Butuhkan itu Konsistensi Sob

Oleh Halah

 

Menurut KBBI arti dari kata konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak); dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan secara singkta bahwa tidaklah mudah dalam membangun sebuah konsistensi, dibutuhkan komitmen yang tinggi, pengulangan yang dilakukan berulang akan suatu hal sehingga menjadikan hukum konsistensi itu bekerja sesuai dengan tujuan akhir yang diharapkan. Seseorang yang sudah melakukan sesuatu dengan konsisten akan menjadikan dirinya memiliki kepakaran dalam suatu bidang, menjadi ahli dan menggapai sukses.

 

 

Simak contoh berikut, kita tentu pernah mendengar kekayaan daripada seorang Bill Gates, ataupun Warren Buffet, ataupun Walt Disney, ya mereka adalah para pejuang sukses dalam hidupnya yang berhasil melawan segenap potensi keburukan dan mengubahnya menjadi potensi kebaikan, jika kita telisik seberapa jauh hidup seorang Bill Gates dalam melakukan pencapaian besar dalam hidupnya, hampir ia habiskan dengan penuh kegagalan. Itulah harga yang harus dibayar untuk seonggok kesuksesan. Konsistensi mampu memberikan enegri untuk mengalahkan setiap konsekuensi kekalahan yang akan dihadapi dalam menggapai suksesnya.

 

 

Konsistensi Al Fatih akan sholat tahajjud yang tidak pernah ia tinggalkan sejak balig menghantarkan ia menjadi pemimpin terhebat penakluk benteng konstantinopel. Konsistensi mba Dewi Nur Aisyah untuk tidur hanya selama tiga jam sehari berhasil membuat dirinya menamatkan kuliah kurun waktu tiga setengah tahun dengan perdikat lulusan terbaik disamping menjalani belasan amanah di berbagai organisasi yang dia ikuti.

 

 

Begitulah juga dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang ada dalam keseharian kita, seperti mengalahkan sikap egois dalam diri bukanlah hal yang gampang. Melatih diri dengan kebiasaan kebiasaan baik tentunya bukan hal yang mudah, membentuk kebiasaan ibarat memperbaiki mesin daripada sebuah kapal, memperbaiki sistem pusat yang akan bekerja mengatur kehidupan. Hukum konsistensi ini akan menciptakan sebuah produk yang dinamakan kebiasaan, pola kebiasaan akan merubah dan masuk ke dalam alam bawah sadar.

 

 

Terbiasa tahajjud tiap hari, tentunya ada sebuah proses panjang dalam menggapainya, itulah yang dinamakan hukum konsistensi, melakukan secara terus menerus, ibarat batu yang ditetesi oleh air, tentu akan berlubang bukan. Orang yang membiasakan diri untuk tenang dalam menghadapi masalah akan membentuk karakter yang tegar, dan cenderung tidak gegabah dalam mengambil keputusan, orang yang senantiasa membiasakan untuk berdzikir, tentunya Allah akan mudahkan ia dalam menyebut tiap asmanya di segala kondisi.

 

 

Mari bangun komitmen yang baik, agar dapat menciptakan konsisten dalam hal kebaikan pula.

Wiken Gini Enaknya Nyimak Alquran lho Sob

“Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS. 87: 6-7).   Surah Al-A’la adalah surat ke 87 dalam Alquran tergolong surat makiyyah yang terdiri atas 19 ayat. Dinamakan Al A’laa berarti Yang Paling Tinggi diambil dari perkataan Al A’laa dan terdapat pada ayat pertama surat ini.   Allah menjaga wahyu dan kitab-Nya dengan menurunkan malaikat Jibril yang terus memantau hafalan Nabi Muhammad saw. dan mengeceknya terus. Sebagian ulama mengartikan bahwa Nabi Muhammad saw. dikaruniai hafalan sangat kuat sehingga tidak akan lupa. Kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Dzat Yang Maha Tahu dan hal tersebut tidak terjadi.   Di akhir pekan ini jangan lupa untuk menyempatkan membaca dan menghafal Alquran ya Sob
https://youtu.be/u6k5Xd8bWwg

Kamu Kudu Banget Tau Cara Menjaga Diri Dari Godaan Setan Sob!

Kamu Kudu Banget Tau Cara Menjaga Diri Dari Godaan Setan Sob!

 

Pacaran? Nggak dulu deh. Serius, pacaran itu unfaedah. Ini bukan sok alim atau sok suci, bukan pula karena nggak laku, melainkan berdasarkan fakta dan kenyataan. Memang nyatanya pacaran itu nggak ada manfaatnya, malah banyak mudaratnya. Tidak sedikit lho remaja dan mahasiswi yang terjerumus dalam zina karena pacaran. Miris setiap kali menerima konseling masalah ini. Kok bisa ya? Kalau sudah kejadian kehormatannya direnggut gratisan oleh pacar, baru deh nyesel dan nangis bombay. Sayangnya, penyesalan yang terlambat. Bunga sudah layu tak bisa dibuat mekar kembali. Kalaupun kamu tidak sampai terjerumus dalam hubungan seks, harga diri kamu juga sudah terendahkan. Karena, kamu sudah dipegang-pegang dan dicium-cium oleh pacarmu, seperti orang beli mangga. Sudah gitu, ujung-ujungnya putus. Terang saja kamu yang rugi, Sob. Seolah kamu tidak ada harga dirinya. Bisa diperlakukan seperti itu. Emang kamu mau digituin? Nggak ‘kan! Hormati dan sayangi dirimu dengan tidak pacaran. Pacaran hanya merendahkan perempuan. Tidak ada pacaran yang memuliakan perempuan. Kenapa? Karena, orientasi pacaran itu fisik. Banyak remaja dan mahasiswi pacaran alasannya untuk penjajakkan. Ia yang terjadi adalah penjajakkan fisik. Sudah didapat, ditinggal pergi. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Kurang ajar ‘kan? Makanya, kamu jangan mau jadi korban pacaran, Sist. Sudahlah putusin sekarang juga dan jangan pacaran lagi ya. Pada waktunya nanti, jika kamu sudah siap, menikahlah. Hanya dengan menikah kamu akan termuliakan.

 

 

Sudahlah jangan ngeles. Nggak ada pacaran yang sehat. Kamu mau ngomong gitu ‘kan? Pacaran sehat. Hehehe. Mana ada pacaran sehat? Ngawur orang yang berpendapat kayak gitu. Lebih ngawur lagi pacaran Islami. Waduh tambah kacau nih pola pikirnya. Emang kayak gimana pacaran Islami? Pacarannya di bawah tangga masjid gitu? Atau pacarannya sms-an ngingetin shalat dan ngaji. Hadeeuhh, itu cuma pembenaran  untuk melegalkan pacaran. Pokoknya nggak ada kompromi. Sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Titik. Yap, pacaran itu dilarang dalam Islam. Maka, sudah semestinya kamu menjauhinya. Islam melarang pacaran mesti ada hikmahnya, antara lain agar tidak ada celah masuk setan untuk menjerumuskan kamu ke perbuatan hina (zina).

 

 

Berpacaran berarti membuka celah masuk yang lebar kepada setan untuk menggoda dan menjerumuskan kamu dan pacarmu pada kemaksiatan. Ingat, setan itu super licik dan gigih buat menjerumuskan kamu dan pacarmu pada maksiat. Setan akan menyerang kamu dan pacarmu habis-habisan; dari depan-belakang dan kanan-kiri. Dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok kamu berdua. Kamu tidak akan dibiarkan lolos sampai terperangkap pada maksiat. Dada akan terasa bergemuruh karena bisikan setan yang terus berhembus. Apa kamu dan pacarmu bisa tahan? Sadarilah iman kamu masih tipis ‘kan? Hehehe… Karena itu, hindari berpacaran dan berdua-duaan dengan pacar. Jangan beri celah setan untuk menjerumuskan kamu pada zina. Boleh jadi kamu awalnya nggak ada niat, tetapi ketika kesempatan terbuka, setan menyerang habis-habisan, pacarmu juga terus mendesak, apa kamu kuat bertahan, Sist? Dari konseling yang saya terima, banyak remaja perempuan yang terjebak dalam perangkap zina. Okelah, saya anggap kamu bisa teguh menjauhi zina meski berpacaran. Namun demikian, pikirkanlah waktu produktifmu. Apakah dengan pacaran kamu bisa mengisi waktumu untuk kegiatan produktif? Nggak ‘kan. Malah, pacaran itu menghambat banget untuk pengembangan diri. Alasannya? Sederhana saja, waktumu akan habis tersedot oleh pacar. Mulai dari SMS/WA/DM IG nanyain kabar sampai merayu gembel eh salah maksudnya gombal. Berangkat dan pulang sekolah berdua, jalan-jalan berdua dengan pacar, wah banyak banget deh waktu kamu yang tersita. Eh ujung-ujungnya putus. Sudah banyak yang kamu korbankan, eh doi malah pacaran lagi sama cewek lain. Sakitnya tuh di sini (ngelus dada). Kok bisa? Ya, bisa sajalah. Lha wong, pacaran itu nggak ada ikatan hukumnya, nggak ada statusnya. Kamunya saja yang mau di PHP-in. Mau-maunya menjalin hubungan tanpa ikatan hukum. Mungkin kamu mau ngeles lagi, pacaran ‘kan dalam rangka mencari jodoh. Saya ingatkan ya, jangan pernah berharap mendapatkan jodoh yang baik dengan pacaran. Nggak akan pernah didapat. Bagaimana bisa mendapatkan sesuatu yang baik dengan jalan yang tidak baik. Pacaran bukan jalan yang disyariatkan agama untuk mendapatkan jodoh.

 

 

Mari kita pikir dengan saksama, dalam Islam, pernikahan itu sesuatu yang serius dan agung. Islam menyebutnya dengan mitsaqan ghalizhan (perjanjian yang berat). Ya, sejatinya orang yang menikah itu membuat perjanjian yang berat dengan Allah untuk menjalankan syariat pernikahan. Nah, sekarang kamu pikirkan jika ada seorang laki-laki yang bilang cinta padamu dan ingin menikah denganmu, tapi tidak berani melamarmu, hanya berani memacarimu, apakah cintanya benar dan serius? Kamu bisa jawab sendiri ya. Tanda laki-laki serius dan benar cintanya padamu adalah dia berani datang ke orangtuamu untuk melamarmu. Itu baru laki-laki yang serius dan benar cintanya. Kalau lelaki yang hanya berani menyatakan cinta dan memacarimu, tolak cintanya dan tinggalkan saja. Dia hanya ingin senang-senang denganmu. Makanya, beraninya memacarimu. Sudah banyak kok buktinya. Alih-alih mencari jodoh, yang terjadi malah kehilangan kehormatan dan harga diri. Serius, Sob. Sudah banyak lho remaja perempuan yang terjebak dalam pacaran yang melegalkan hubungan seks. Awalnya sih menolak, tapi karena terus didesak oleh pacar, akhirnya mau juga. Terjadilah dosa besar itu (zina). Dosa yang menghinakan kamu dalam pandangan Allah. Dosa yang menghalangi ibadah selama empat puluh tahun jika tidak ditobati dengan tobat nasuha. Kalau sampai kejadian seperti itu, coba kamu pikir masih mungkinkah kamu memperoleh jodoh yang baik? Kamu menikah dengan pacarmu yang sudah merenggut kehormatanmu? Iya, kalau dia mau tobat nasuha. Jika tidak, kamu hanya akan melewati masa-masa kelabu bersamanya. Jika sebelum menikah saja dia berani berbuat seperti itu kepada kamu, bukan tidak mungkin saat sudah menikah denganmu, dia melakukan hal yang sama kepada perempuan lain. Kalau sudah begitu, pasti rumit masalahnya. Karena itu, sekali lagi saya ingatkan, sebelum kejadian, lebih baik kamu jauhi pacaran. Kalau yang sudah terlanjur pacaran, segeralah putusin. Jangan sampai kamu jadi korban pacaran. Kamu sendiri yang rugi, Sist. Kerugiannya bukan sesaat, tetapi bertahun-tahun, bahkan bisa jadi sepanjang hidupmu. Tiada jalan lain bagi yang ingin mencari jodoh yang baik selain melalui menikah. Ungkapan dan ekspresi cinta yang tulus hanya bisa terwujud melalui pernikahan. Karena, dengan menikah, berarti kamu telah menjadi satu jiwa dengan pasanganmu. Alquran menyebutnya dengan ungkapan sangat indah, “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.” (Istri-istrimu pakaian bagimu, dan kamu pakaian bagi mereka).

 

 

Jelas sekali ‘kan? Kalau mau mencari jodoh yang baik, bukan dengan pacaran. Karena itu, jadilah jomblo bermartabat. Fokus saja menata masa depanmu. Terus mempersiapkan dan memantaskan diri untuk diberikan jodoh terbaik. Pada waktunya, ketika kamu sudah siap dan memantaskan diri, InsyaAllah jodoh akan bertamu ke rumahmu. Indah ‘kan?

 

 

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/pacaran-no-way/

,

Jangan Asal Ngecap dong Sob!

Jangan Asal Ngecap dong Sob!

Oleh: Reza Bagus Yustriawan
Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

 

Anak IPS? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orang tua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

 

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

 

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

 

Hayoo… Ngaku…

 

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling bikin kesal itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya nggak? Ngaku! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi Hari Kesaktian Pancasila??

 

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh! Jangan salah! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

 

Yaa, ribet dua-duanya lah.

 

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

 

Aku nggak setuju!!

 

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

 

*Ngaco

Hidup Penuh Perjuangan, Mimpi Harus Diperjuangkan

Hidup Penuh Perjuangan, Mimpi Harus Diperjuangkan

Oleh: Bambang Widyatmoko, Alumni SMART 11 berkuliah di UNNES

 

Ini adalah kisahku sewaktu masih menjadi anak asrama di SMART. Semoga kalian terinspirasi ya Sob.

 

Di sebuah pagi kala itu saat kutatap lamat dari dalam bilik kamar, kulihat tumpukan kertas memenuhi gerobak hijau yang terparkir di depan asrama. Aku bertanya-tanya: “Siapa yang mengumpulkan ya? Buat apa kertas-kertas itu?”
Rasa penasaran mendorongku mendekati objek menarik tersebut. Kulewati lantai pualam asrama yang masih basah bekas jilatan kain pel tiga menit sebelumnya. Tak lama kemudian, muncul seorang anak dengan tubuh kurus tanpa mengenakan alas kaki. Postur tubuhnya pendek untuk anak seusianya, dengan lengan mungilnyan ia menarik gerobak hijau tadi.

 

Di kejauhan aku dapat melihat wajahnya memerah dengan tetesan keringat meluncur deras melewati pori-pori kulitnya. Walau terengah-engah semangatnya sungguh luar biasa, sesekali kulihat ia beristirahat, mungkin lelah dengan beban yang ia bawa.

 

Kuberanikan diri untuk mendekatinya sambil menatap tumpukan kertas di gerobak, “hei, kamukah yang mengumpulkan kertas-kertas ini?” tanyaku. Ia menjawab “Iya kak, sama teman satu lagi”. Aku hanya mengangguk. “Oh begitu, boleh kubantu untuk menarik gerobak ini?” pintaku. Iya mengiyakan dengan senyum terbit di wajahnya, tetapi ia terlihat sedikit ragu jika aku sanggup menarik gerobak miliknya. Kujawab keraguannya dengan berkata “Aaah tenang saja aku kuat kok,” lalu kuangkat gerobak tersebut daaaan ya ternyata berat sekali. Melihatku kepayahan ia tergelak sembari berkata “tuh kan benar, sudah kubilang kalau gerobaknya berat”. Akhirmya kami tergelak bersama. “Ya sudah aku yang dorong, kamu yang narik ya. Tapi sampai gerbang SMART saja tak apa kan?” pintaku, “oke tak apa kak. Bismillah saja,” responnya. Bahu membahu kami mendorong gerobak hijau tua itu. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul, “kerta-kertas ini mau dijualkah?” tanyaku. “Iya kak  uangnya mau aku tabungkan, lalu sisanya untukku jajan”. Jawabannya sontak menyadarkanku bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur karena sangat beruntung bisa bersekolah di SMART.

 

Sepanjang jalan kami bercengkrama dan berkali-kali terpingkal, sayangnya percakapan kami harus disudahi. Aku sedikit sedih ketika harus berpisah dengannya, saat itu juga rasa malu menyelimutiku, benar-benar malu. Usianya jauh di bawahku, tetapi ia memiliki pemikiran yang jauuuuuh lebih dewasa dariku. Semangatnya mengumpulkan pundi-pundi Rupiah memberikan banyak pelajaran bagiku bahwa hidup memang penuh perjuangan, dan mimpi pun sungguh harus diperjuangkan. Kita tak perlu malu untuk terus berusaha, bahkan jika perlu menyusuri jalanan Ibu Kota itupun tak mengapa selama perjuangan tersebut mampu membawa kita kepada mimpi-mimpi yang didamba.

 

Ini pelajaran hidup berharga untukku, semoga membuatku semakin dewasa.

,

Dejavu Penuh Memori Berarti

Dejavu Penuh Memori Berarti

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan V, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

 

 

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

 

 

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustaz ustazah di sana.

 

 

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

 

 

Dari dulu mungkin ustaz-ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

 

 

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk 5 orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon.

 

 

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

 

 

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

 

 

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

 

 

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh Ustaz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

 

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

 

 

 

Sejatinya Pemuda Memang Kudu Bermanfaat

Sejatinya Pemuda Memang Kudu Bermanfaat

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, berkuliah di Universitas Diponegoro Jurusan Bahasa Indonesia

 

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

 

 

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu  harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa  pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama lima tahun  untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

 

 

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut  tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima  manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada disekitarku.

 

 

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan.  Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan  oleh SMART kepadaku.  Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

 

 

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

 

 

Berada di SMART selama empat tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia  yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Alquran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadits tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Alquran dan mengajarkannya. Jampang mengaji salah satu cara agar aku dapat mengajarkan ilmu yang telah aku dapat kepada anak-anak disekitar Jampang dengan memberikan mereka pengetahuan tentang Alquran dengan baik dan benar.

 

 

Pada program Jampang Mengaji aku ditunjuk menjadi koordinator  selama enam bulan atau satu semester. Menjadi koodinator sekaligus pengajar Jampang Mengaji membuatku senang karena dengan begitu aku dapat menyebarkan ilmu yang telah didapat dari SMART kepada anak-anak disekitar Jampang.

 

 

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat melihat para peserta Jampang Mengaji  bersemangat dalam mempelajari  ilmu Al-Quran. Tentunya para pengajar merasa senang, terutama aku sebagai koordinator Jampang Mengaji. Saat para peserta mengaji dengan sungguh-sungguh dan ceria, bahkan ada beberapa peserta Jampang Mengaji yang sudah datang ke SMART pukul 14:00 WIB padahal kegiatan baru dimulai setelah Asar.

 

 

Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain. Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika,fisika,bahasa, biologi atau yang lainseperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

 

 

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu.

 

 

Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

 

 

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar. Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

 

 

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

 

 

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.