FL2SN SMP 2016. Kami Bisa!

Pukul 05.30 WIB kami sudah rapi jali, sudah makan pagi, lalu menyiapkan bermacam perlengkapan yang akan kami bawa untuk kegiatan hari ini (19/03). Pukul 06.00 WIB akhirnya kami meluncuuur ke tempat dilaksanakannya kegiatan. Mau ke mana sih? Nng ikuti tulisan kami di bawah ya.

Hati riang mengiringi keberangkatan kami, namun macet yang teramat sangat karena jalanan sempit serta menanjak ditambah panas tetiba sangat membuat kami mual dan perasaan campur aduk itu terus mengiringi perjalanan kami pagi tadi ke SMPN 1 yang terletak di Ciawi, Kabupaten Bogor. Hari ini 25 teman kita yang berasal dari kelas 1 & 2 SMP mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa SMP (FLS2N) Kabupaten Bogor Sob, FL2SN sendiri merupakan ajang yang rutin diadakan tiap setahun sekali oleh Dinas Pendidikan lho. Setiap tahunnya kami mengirimkan kontingen untuk unjuk kebolehan sekaligus membawa nama SMART Ekselensia Indonesia agar makin dikenal. Nah siang tadi kami cukup terkejut karena yang mengikuti FLS2N ini mencapai 1300 peserta yang berasal dari berbagai sekolah di Bogor dan sekitarnya. Wow. Tapi karena kami sudah siap jadi kami tak takut untuk bersaing.

Ada 10 lomba yang kami ikuti antara lain Lomba Desain Poster, Lomba MTQ, Lomba Cipta Cerpen Bahasa Indonesia, Lomba Story Telling, Lomba Seni Lukis, Lomba Cipta Puisi, Lomba Desain Motif Batik, Lomba Baca Puisi, Lomba Debat Bahasa Indonesia, dan Lomba Seni Musik Tradisional. Alhamdulillah kami bisa mengikuti semua perlombaan dengan sangat baik.

Namun diantara semua lomba yang ada, Lomba Seni Musik Tradisional menjadi yang paling banyak menyita perhatian. Bagaimana tidak Sob, ketika peserta lain hanya membawakan satu instrumentalia lagu daerah ketika tampil, kami membawakan tiga instrumentalia lagu daerah  (Manuk Dadali, Cing Cangkeling, dan Tokecang) sekaligus yang dibawakan remix. Kebayang dong kerennya? Hehe. Penuh semangat kami bermain hingga GOR tempat kami unjuk gigi seketika disesakki penonton. Setelah selesai tepuk tangan riuh membahana memenuhi GOR yang penuh gema, waah senangnya, terima kasih kak Haidar untuk bimbingannya.

Kami saat ini masih dag dig dug karena keputusan pemenang dari tiap lomba yang kami ikuti belum keluar. Kami berharap semua kerja keras dan latihan kami selama beberapa minggu terakhir ini akan setimpal, aamiin. Tapi jikalau ternyata gelar jawara untuk melaju ke babak selanjutnya tak kami kantongi setidaknya kami telah berjuang dan berusaha . Doakan kami ya Sob.

#SMARTSemangat

 

20160419_083401-1 20160419_083614 20160419_084019 20160419_120224 20160419_121218 IMG-20160419-WA0004 IMG-20160419-WA0005 IMG-20160419-WA0006 IMG-20160419-WA0007 IMG-20160419-WA0008 IMG-20160419-WA0009

From Nothing to Something

Muhammad Fatih Daffa’ siswa SMART Ekselensia Indonesia angkatan ke-8 yang berasal dari daerah Lumajang, Jawa Timur. Remaja yang akrab disapa Fatih ini merupakan siswa panutan adik kelas dan rekan-rekannya, karena  karakter dan kecerdasannya. Remaja yang ramah, dan rendah hati (hummble), mempunyai cita-cita kelak menjadi seorang ulama saintis. Dia mengagumi sosok kepribadian, leadership dan kecerdasan  Presiden RI ketiga, yaitu Dr. Ing BJ Habibie dan ulama besar nan kharismatik Imam Syafi’ie. Tokoh idolanya ini sangat mempengaruhi motivasinya untuk berkiprah baik di asrama maupun di sekolah.

Putra ke-4 dari 9 bersaudara yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang berprofesi sebagai tukang jahit dan ayah sebagai pegiat sosial di lingkungan desa tempat tinggalnya, telah tumbuh dan  bermetamorfosa menjadi seorang calon generasi penerus bangsa Indonesia yang mempunyai karakter dan kompetensi. Remaja yang hobi membaca segala jenis buku serta piawai dalam menulis juga terlatih dalam bermain musik, bernyanyi (Nasyid) dan juga gemar menghafal Al-Qur’an . Selama mengenyam pendidikan di SMART telah banyak tinta prestasi yang sudah ditorehkan, baik dalam bidang akademik maupun non akademik, diantaranya meraih merit award (penghargaan  untuk 5 besar)  bidang matematika di Singapura dan tampil mendendangkan lagu bernafaskan Islam di MNC TV secara live.

Selain Fatih, ada alumni SMART Ekselensia Indonesia lainnya yang telah bermetamorfosa, yaitu Nurkholis yang berasal dari Waingapu Nusa Tenggara Timur. Pasca dari SMART Ekselensia Indonesia, Nurkholis diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesai (FK-UI) melalui jalur tanpa tes (SNMPTN) dan saat ini sedang menempuh semester ke-7.  Kholis – begitu sapaan akrabnya, tinggal di Dusun Manubara, Waingapu, Sumba Timur NTT. Nurkholis dididik dan tumbuh dalam sebuah keluarga sederhana, ayahnya  sebagai penjual kue.

Kedua remaja tersebut mengalami metamorfosa dan transformasi  setelah dididik dan dibimbing dalam sebuah sekolah inkubator SMART Ekselensia Indonesia. Fatih dan Kholis  tumbuh dan berkembang sebagai pembelajar sejati dan perubahan nyata baik dari karakter maupun kompetensinya. SMART Ekselensia Indonesia  telah mengubah anak seorang pegiat sosial dan penjual gorengan yang awalnya selalu merasa minder (inferior) menjadi pribadi yang percaya diri, multi talent, pengetahuan  keagamaan lebih mendalam,  leadership, rajin menghafal Al-Qur’an dan baca Hadits. Di  asrama mereka belajar tentang, kemandirian,  kebersihan, peduli terhadap sesama, soft skill (public speaking, debate, adab) dan hard skill (menjahit, berkebun, wirausaha), dan empati.

Dua kisah diatas menggambarkan bagaimana sekolah SMART Ekselensia Indonesia berkomitmen untuk mengubah mindset dan metamorfosa siswa from nothing to something sesuai dengan bakat dan minatnya menjadi lebih produktif dan kontributif. Komitmen itu tercantum dalam sebuah misi yaitu melahirkan lulusan yang berkepribadian Islam, berjiwa pemimpin, mandiri, berprestasi, dan berdaya guna. Komitmen tersebut di support oleh ketulusan guru-guru yang mempunyai kompetensi (kreatif, inovatif), karakter, memahami dunia remaja (parenting) dan juga harus memahami tumbuh kembang anak, sehingga bisa menemukenali minat dan bakat anak.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah bebas biaya, berasrama dan akselerasi ( SMP & SMA 5 tahun ) pertama di Indonesia. Diresmikan pada 29 Juli 2004 dengan lokasi di Jalan Raya Parung KM 42-Bogor, Jawa Barat. Sekolah ini merupakan salah satu organ yayasan  pendidikan Dompet Dhuafa, yang merupakan sekolah menengah setingkat SMP dan SMA khusus bagi siswa laki-laki lulusan Sekolah Dasar atau sederajat  yang memiliki potensi intelektual tinggi namun memiliki keterbatasan finansial. SMART Ekselensia Indonesia selain memperoleh akreditasi A (BNSP) juga sudah bersertifikat ISO 9001 : 2008 sejak 27 Februari 2013 oleh SAI Global.

Untuk menghadapi tantangan global dan program Indonesia Emas 2045,  SMART Ekselensia Indonesia menyadari bahwa tantangan yang dihadapi sangat komplek dan  kompetitif, maka SMART berikhtiar terus memperkuat fondasi dasar dengan menyuguhkan kurikulum sekolah dan asrama yang lebih terintegrasi, agar menghasilkan lulusan yang berkarakter dan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan global.

Salah satu ikhtiar untuk meningkatkan kompetensi global, SMART Ekselensia Indonesia menjalin kemitraan  dengan Diaspora E-Class – Indonesia Diaspora  Network (IDN) dalam bentuk program “Diaspora Online Conversation Class”,  dimana dalam program ini siswa SMART Ekselensia Indonesia belajar bahasa Inggris secara virtual via skype dengan Mahasiswa/i yang ada di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Australia. Jalinan kemitraan lainnya dengan Queen Marry, Jepang dalam program ini siswa SMART Ekselensia Indonesia belajar bahasa Jepang secara virtual via skype.

Selain itu, reliability merupakan salah satu dimensi kualitas SMART yang harus didukung dengan kurikulum  komprehensif yang memadukan sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan asrama (internat/boarding school). Kurikulum menjadi panglima yang menjadi pedoman yang mengarahkan pembentukan siswa yang berkarakter, berjiwa pemimpin,  mandiri,  berprestasi, dan berdaya guna. Sistem active learning  yang diterapkan dalam setiap pembelajaran dan  didukung dengan  suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) dan moving class, sehingga mampu menjaga tradisi lulusannya diterima 100% di PTN terakreditasi A. [MS]

Labelling

Oleh: Ana Mariana Mujahid

 

Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah dan memberikan sepucuk surat kepada mamanya. Ia berkata “Guru saya memberikan surat ini pada saya dan berpesan agar surat ini hanya diberikan pada mama.”

Dengan airmata berlinang, sang ibu membacakan isi surat tersebut “Anakmu terlalu jenius, sekolah ini terlalu sederhana dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk melatih dia. Ajarilah dia secara langsung.”

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas Alva Edison pun sudah meninggal. Ia sekarang sudah menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yang dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya. “Anakmu punya masalah. Ia sangat bodoh. Kami tidak mengizinkan lagi untuk datang ke sekolah ini selamanya.”

Edison menangis berjam-jam dan menulis ini di buku hariannya. “Thomas Alva Edison adalah anak gila yang oleh seorang pahlawan yaitu mama saya, diubahnya menjadi yang paling jenius sepanjang abad.

Terlepas dari akurat atau tidaknya cerita yang saya dapatkan dari media sosial di atas, isi ceritanya mengingatkan saya pada istilah labelling. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan “kamu, nakal sekali sih!” “bodoh, begitu saja tidak bisa”, “dasar pemalas!” dsb, baik itu dari orang tua, guru ataupun teman sebaya. Nakal, bodoh, malas bisa dikategorikan sebagai bentuk labelling atau pemberian cap terhadap seseorang atau sesuatu.

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak atau seseorang untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, menyebutkan seseorang yang telah melanggar hukum sebagai seorang kriminal. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah disebut sebagai anak bodoh, anak yang sering mengganggu temannya disebut sebagai anak nakal. Atau anak yang tidak mengumpulkan PR disebut pemalas dll.

Dalam teori psikologi sosial, labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A handbook for The Study of Mental Health, label adalah definisi yang ketika diberikan pada seseorang menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu. Terkadang yang menjadi masalah adalah dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat label tersebut sebagai gambaran keseluruhan, bukan gambaran perilakunya satu per satu.

Labelling ada dua macam, label negatif dan label positif. Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labelling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga terhadap perlakuan orang tua atau orang-orang di lingkungan anak itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik (http://ruangpsikologi.com/topic/labeling-pada-anak/).

Hal ini juga berlaku pada seorang pendidik (guru). Seperti cerita Thomas Alva Edison di atas yang terlanjur di cap bodoh oleh gurunya karena kerap tertinggal dalam pelajaran, padahal sebenarnya Edison tidak bodoh. Namun di tangan yang tepat, yakni ibunya yang justru memberi label positif pada anaknya, Edison menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah dengan 1093 hak paten.

Dalam makalah HERLINA/LABELING_DAN_PERKEMBANGAN_ANAK-salman.pdf. Labelling negatif memberikan dampak melalui tiga cara. Pertama, melalui self labelling (self concept). Menurut Sigmund Freud konsep diri berkembang melalui pengalaman. Terutama perlakuan orang lain terhadap diri sendiri secara berulang-ulang. Dengan menerima label “nakal” dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal. Dan anak akan mengukuhkan konsep tersebut dengan menampilkan perilaku tertentu yang menurut anggapan umum disebut perilaku anak nakal.

Kedua, melalui persepsi orang dewasa terhadap anak. Persepsi yang berupa, apapun yang anak nakal lakukan pastilah negatif. Walaupun anak berusaha menampilkan perilaku positif , namun dianggap ada niat tersembunyi, atau persepsi “pasti ada maunya nih”, atau “ah paling cuma hari ini dia begitu, besok pasti sudah nakal lagi” sehingga tidak diapresiasi oleh orang dewasa. Hal ini bisa membuat anak frustasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya.

Ketiga, melalui perilaku orang dewasa terhadap anak. Orang dewasa yang sudah menganggap atau melabel anak negatif, tidak memberikan peluang pada anak untuk berubah. Misalnya dengan ungkapan “sudahlah tidak usah dinasihati lagi, buang waktu saja. Anak itu memang nakal, dan tidak akan berubah.” Akibatnya anak makin tidak tahu mana perilaku yang bisa diterima masyarakat dan terus berperilaku negatif.

Sebagai seorang pendidik sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mendidik anak menjadi orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan mengembangkan bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak didik agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Dalam teori psikososial, erikson mengatakan bahwa dalam diri individu ada dua kutub yang akan berkembang pada setiap tahap perkembangan anak, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub mana yang akan berkembang sangat tergantung dari stimulasi lingkungan yang diterimanya. Bila lingkungan memberikan stimulasi yang negatif seperti pemberian label negatif maka kutub negatiflah yang akan berkembang, begitu pula sebaliknya. Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk menjadi yang terbaik.

Ada beberapa cara yang berupa stimulasi positif dalam mendidik anak yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru, diantaranya; memberi atau memanggil dengan nama atau julukan yang baik. Memberikan respon yang spesifik, maksudnya berikan respon terhadap perilaku anak bukan pada kepribadiannya. Memberikan pujian dan hukuman secara tepat. Jangan berlebih dan jangan kurang, berikan pujian dan hukuman jika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan. Pujian dan hukuman pun harus disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin anak, misalkan anak laki-laki usia dua tahun akan senang jika diberi permen beda halnya dengan anak usia 12 tahun yang lebih suka jika diberi tas baru daripada permen.

Berikutnya adalah konsisten dalam memberikan pujian ataupun hukuman karena inkonsisteni malah akan membuat anak bingung menentukan perilaku yang harus dilakukan dan terakhir jangan lupa untuk memberikan pemahaman mana yang boleh dilakukan dana mana yang tidak boleh dilakukan.

Terakhir saya tutup dengan mengutip kata-kata dari Lawrence G lovasik “if you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word think a kind thought.”

 

Semoga bermanfaat.

Amar, Pemustaka Jawara Calon Programmer yang Ingin Jadi Novelis

amar a9 presetHalo Sobat SMART! Kamu semua pasti setuju deh kalau buku merupakan jendela dunia. Melalui buku kita bisa menjelajah ke mana pun kita mau, buku juga akan membuka wawasan kita tentang dunia dan jagat raya, dan dengan membaca buku otak kita akan terus terasah lho Sob.

Kami, para siswa SMART Ekselensia Indonesia, sangat senang membaca buku. Rasa ingin tahu kami yang besar tersalurkan melalui buku yang kami baca. Nah di sekolah kami ada satu tempat yang mewadahi itu semua, sebut saja Perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan. Namun sore itu Perpustakaan PSB nampak lengang, padahal jam tutup perpustakaan belum diumumkan. Samar-samar di rak khusus buku seputar komputer terlihat sosok Amar, ia nampak serius memerhatikan tiap detil isi buku ‘Menjadi Seorang Programmer Komputer’. Amar? Siapakah Amar? Kenalan yuk.

Amar Ma’ruf atau biasa disapa Amar merupakan siswa kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMART Ekselensia Indonesia. Pada Selasa (1/3) lalu ia dinobatkan sebagai Pemustaka Jawara No. 1 di Perpustakaan PSB. Sekadar informasi untukmu Sob, Pemustaka Jawara masuk ke dalam rangkaian Gemari Baca yang diinisasi Makmal Pendidikan dan merupakan program reward dari PSB kepada pemustaka yang telah melakukan proses peminjaman terbanyak selama periode 2015-2016.

“Saya bahkan gak pernah tahu kalau ada program Pemustaka Jawara, jadi saya meminjam saja seperti biasa. Gak nyangka bisa menjadi Pemustaka Jawara No. 1,” kata Amar dengan logat Belitungnya yang khas.

Sejak 2014 Amar telah terdaftar di Perpustakaan PSB, setiap minggunya anak kedua dari empat bersaudara ini meminjam 3 buku sekaligus. Sebenarnya jangka waktu peminjaman satu buku sekitar dua minggu, tapi karena Amar gemar membaca ia mampu menghabiskan tiga buku dalam seminggu. Ia mengaku kalau gemar sekali membaca terutama buku-buku seputar programming serta novel detektif dan misteri. “Buku favorit saya Sherlock Holmes dan Assasin, kalau pengarang favorit jelas Sir Arthur Conan Doyle. Caranya membuat dan memecahkan suatu masalah itu unik sekali, dan secara tidak langsung karya-karyanya membuat saya lebih teliti dalam melakukan sesuatu,” ujarnya riang. Oh iya tahukah kamu Sob kalau dalam setahun Amar telah melahap sebanyak 167 buku! Wow. Berkat prestasinya tersebut ia dan beberapa Pemustaka Jawara lain mendapatkan kesempatan untuk berbelanja buku dan bertemu penulis favorit mereka di 15th Islamic Book fair pada Sabtu (5/3) lalu.

Ketika ditanya tentang cita-cita, dengan mantap ia menjawab: “Saya ingin menjadi seorang programmer”. Namun ada satu mimpinya lagi yang ingin sekali ia wujudkan yakni menjadi seorang novelis. “Saya sangat senang dengan karya-karya Tere Liye dan yang mengejutkan ternyata ia seorang akuntan, saya ingin seperti dia. Menjadi seorang programmer juga novelis,” tandasnya. Ingin berbagi ilmu, ingin agar pembacanya kelak mampu mengungkapkan perasaaan yang tak dapat diungkapkan, dan menuliskan semuanya kembali merupakan alasan utama Amar ingin menjadi seorang novelis. Keren ya Sob.

Yuk kita doakan Amar semoga cita yang inginkan terwujud, aamiin. (AR).

Menjelajah

Salah satu perintah Allah, yang bagi saya, menarik adalah perintah menjelajahi bumi. Bahasa anak Rohisnya rihlah, kalau bahasa gaulnya traveling alias jalan-jalan. Namun, memang bukan sembarang traveling, melainkan traveling dalam rangka menghayati kebesaran dan keagungan Allah yang terhampar di bumi dan memetik pelajaran dari rekam jejak umat-umat atau bangsa-bangsa terdahulu. Perintah menjelajahi bumi banyak tersebar dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an menerangkan, “Katakanlah (Muhammad), ‘Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyekutukan (Allah).’” (QS. Ar-Rum [30]: 42).

Saya sendiri menikmati sekali setiap kali keluar kota dan keluar negeri dalam rangka memberikan training atau mengisi kajian Islam. Sedari awal saya niatkan untuk berdakwah. Maka, setiap langkah perjalanannya, saya menikmati sekali. Ketika di bandara menunggu jadwal pesawat, saya biasanya memerhatikan orang yang hilir mudik. Betapa manusia itu bermacam-macam, tapi tak ada yang sama wajahnya. Nyata sekali kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Ketika sudah naik di atas pesawat, lebih hebat lagi kebesaran dan keagungan Allah yang tersaji. Saya selalu terkagum-kagum menyaksikan langit membentang dan gugusan awan berarak. Wah, terasa sekali deh kebesaran dan keagungan Allah. Dan, berasa banget kalau diri ini kecil, nggak ada apa-apanya. Biasanya ada rasa nyeess di dalam dada. Sejuk dan damai sekali. Makanya, saya selalu meminta kursi dekat jendela saat check in supaya bisa menikmati pemandangan indah itu.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah para awak kabin alias pramugari. Setiap pramugari pasti melayani dengan sopan dan santun. Saya berpikir semoga ini tidak hanya tuntutan pekerjaan, namun juga terejawantah dalam kehidupan sehari-harinya. Karena, sopan santun adalah bagian akhlak seorang muslim dan muslimah. Saya juga berpikir andai para pramugari itu diberikan haknya untuk mengenakan busana muslimah dan jilbab, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Bisa jadi di antara mereka ada yang berkeinginan untuk mengenakan jilbab, namun terhalang oleh peraturan perusahaan.

Saya pernah mendapat curhatan dari seorang pembaca buku saya yang berprofesi sebagai pramugari. Ia menyampaikan kegundahannya. Ia ingin sekali berjilbab karena itu kewajiban sebagai muslimah, namun terhalang peraturan perusahaan. Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak maskapai penerbangan di Indonesia. Setahu saya baru ada satu maskapai penerbangan yang memberikan hak kepada pramugarinya untuk mengenakan jilbab. Semoga segera disusul oleh maskapai penerbangan lainnya. Terutama, maskapai penerbangan milik pemerintah.

Kembali ke asyiknya menjelajahi bumi. Tiba di bandara tujuan, lalu menaiki mobil menuju tempat tujuan juga tak kalah asyiknya. Terutama, ketika saya mengisi training dan kajian Islam di sudut-sudut kota di Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Dari Bandara kota setempat masih menempuh perjalanan darat antara 2 sampai 6 jam perjalanan. Membelah bukit dan menyusuri hutan dan tepian jurang. Seru banget ‘kan?. Sesekali monyet-monyet liar berlarian di tepi jalan mencari makanan. Terjadi pemandangan hijau dan rimbunnya pepohonan di bukit dan hutan. Belum lagi track yang berkelok-kelok dan menanjak. Anak muda banget pokoknya.

Kamu ingin ‘kan? Bisa jalan-jalan dan makan gratis, menginspirasi banyak orang, dan pulangnya dikasih oleh-oleh. Makanya, seriuslah belajar dan menuntut ilmu. Agar kelak dengan ilmumu, kau bisa berdakwah ke segenap penjuru Indonesia dan bumi. Bonusnya bisa jalan-jalan gratis. Hehehe…

Mumpung kalian masih muda, belum ada tanggung jawab keluarga, menjelajahlah. Jejakilah setiap jengkal dan sudut bumi ini. Minimal bumi Indonesia. Rasakan guyuran hujannya, hiruplah aroma tanahnya, tataplah jejeran pepohonan, bukit-bukit, dan rawa-rawa yang terhampar. Dengarkan gemericik airnya, suara binatang malam yang sejatinya sedang bertasbih. Resapi dan hayati kebesaran dan keagungan Allah di mana saja kalian menjejakkan kaki.

Petiklah pelajaran dari rekam jejak bangsa-bangsa terdahulu di kota atau negara yang kamu singgahi itu. Akrabilah warganya dengan segala keunikannya. Galilah informasi dan wawasan sebanyak-banyaknya dari mereka. Cermatilah betapa indahnya Allah jadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Lalu, atas semua catatan perjalanan yang mencerahkan itu, jadikan sebagai inspirasi untuk berkontribusi bagi dakwah Islam dan perbaikan umat. Masa depan Islam di masa mendatang ada pada pundak para pemudanya. Pemuda harus berada di garis depan, mengambil peran untuk kejayaan Islam dan kesejahteraan umat.

Sumber: http://www.sahabatremaja.id/ruang-konseling/kolom-konseling-remaja/menjelajah/46.html

Berawal Dari Ibukota, Perjalanan Menaklukkan Candradimuka

Oleh : Amma Muliya Romadoni*

*Kandidat Master Thermal-Fluid Engineering ITB.

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, tidak serta merta membuat saya menjadi terlena dengan segala kegemerlapan ibukota. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan diperlukan kegigihan untuk mencapai tujuan hidup. Seluruh nikmat yang diperoleh patut disyukuri, salah satunya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan jenjang sekolah menengah di Bogor. Untuk bisa bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Sekolah berasrama bertaraf internasional, akselerasi SMP-SMA hanya ditempuh 5 tahun, dan diperuntukan bagi anak-anak berprestasi dari seluruh Indonesia yang memiliki keterbatasan finansial. Sekolah ini pertama kali dirintis pada tahun 2004 sebagai salah satu program Dompet Dhuafa dalam bidang pendidikan. Saya adalah angkatan pertama Smart Ekselensia Indonesia.

Bagi saya, Jakarta dan Bogor sangatlah jauh karena harus terpisah dari orangtua untuk menjalani kehidupan sebagai seorang siswa berasrama layaknya tinggal di pesantren. Kondisi seperti ini harus bisa dilewati agar bisa beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungan dan keluarga baru. SMART Ekselensia Indonesia, sebagai sekolah unggulan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global. Terbukti dari prestasi yang telah ditorehkan baik perlombaan tingkat nasional dan internasional. Misalnya Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan lainnya.

Kombinasi antara keilmuan dan spiritualitas menjadi ciri khas sekolah ini. Pelajaran Bahasa Arab dan Al-Quran menjadi pembeda sekaligus menjadi ruh dari sekolah SMART Ekselensia Indonesia ini. Selain itu pelajaran umum lainn­ya diajarkan berdasarkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Saya adalah salah satu siswa yang berhasil menjadi Finalis Indonesian Science Project Olympiad (ISPO), serta menjuarai perlombaan Karya Ilmiah lain yang diadakan di wilayah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, terpilih menjadi asisten pada mata pelajaran Al-Quran merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, disamping prestasi akademik lainnya. Dekat dengan Al-Quran akan membuat segala aktivitas duniawi terasa lebih mudah untuk dijalani. Hal ini dikarenakan keberkahan yang ada pada Al-Quran. Walhasil, Alhamdulillah saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia berbekal 4 Juz hafalan Al-Quran.

Setelah menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, saya melanjutkan studi di Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB). Awalnya, diterimanya sebagai mahasiswa USU tidak mendapatkan restu dari orangtua, karena lagi-lagi harus terpisah jarak dengan orangtua di Jakarta. Akan tetapi, saya memberikan pemahaman kepada orangtua bahwa ini merupakan sebuah proses yang harus dijalani. Allah telah menentukan pilihan terbaik bagi hamba Nya, hanya saja sebagai seorang hamba, kita tidak pernah tahu rahasia apa yang akan Allah berikan pada kita. Dengan bermodalkan ilmu dan kegigihan untuk belajar, saya beranikan diri untuk berangkat ke Medan bersama beberapa teman lainnya. Kultur yang berbeda, mengharuskan saya untuk selalu sigap dalam beradaptasi selama menjalani kehidupan di Medan. Ada anggapan bahwa masyarakat Medan keras dalam berbicara, tapi bagi saya itulah ciri khas yang dimiliki kota Medan. Disinilah saya berproses dan belajar banyak hal yang baru. Banyak hal yang bisa diperoleh dari kota yang terkenal dengan oleh-oleh “Bika Ambonnya” ini.

Layaknya seperti mahasiswa lainnya, perkuliahan terasa belum sempurna tanpa diisi dengan aktivitas organisasi untuk meng-upgrade kemampuan softskill. Tercatat selama menjadi mahasiswa di USU, saya pernah diamanahkan untuk memimpin beberapa organisasi, baik organisasi kerohanian, Unit Kegiatan Mahasiswa, ataupun Riset Mahasiswa. Klimaksnya, ketika saya bersama teman-teman Tim Horas USU lainnya bisa membanggakan Indonesia di kancah Internasional pada perlombaan mobil hemat energi, Shell Eco-marathon Asia 2014. Bagi saya, menimba ilmu bukan hanya duduk dan mendengarkan dosen berbicara memaparkan materi yang dijelaskannya. Banyak hal di luar sana yang bisa diambil untuk dijadikan ilmu, hanya saja kita harus cerdas untuk memilah-milih ilmu tersebut sehingga sesuai dengan kebutuhan. Janganlah terlalu menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. “Waktu adalah pedang”. Maka gunakan waktu dengan bijak untuk memperoleh kebermanfaatan. Kemampuan berwirausaha juga sangat dibutuhkan bagi seorang mahasiswa. Selain pernah mendapatkan bantuan wirausaha dari Student Enterpreneurship Center (SEC) USU, pada akhir semester saya juga membuat sebuah lembaga training khusus Engineering Software untuk mengasah skill technopreneurship.

Fitrah sebagai seorang manusia, kita tidak akan pernah merasa puas terhadap ilmu. Setelah menyandang gelar sarjana, Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan ke jenjang master melalui program beasiswa LPDP dari Kementrian Keuangan RI. Setelah Jakarta, Bogor, dan Medan, maka Bandung merupakan destinasi selanjutnya untuk tempat menimba ilmu. Tentunya setiap tempat memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang harus diambil hikmah kehidupannya. Thermal-Fluid Engineering Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan rumah baru saya untuk menimba ilmu selama di Bandung. Saya harus siap untuk memulai petualangan baru menjalani kehidupan di Bandung. Karena target saya berikutnya adalah menyelesaikan perkuliahan dengan hasil yang memuaskan dan menuntaskan hafalan 30 Juz yang merupakan cita-cita sejak dulu. Semoga harapan itu bisa terwujud. Amiin..

Menyoal Kurikulum Pendidikan

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.
(GM Sekolah Model Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa,
Praktisi Pendidikan Remaja, Pengasuh www.sahabatremaja.id)

Salah satu instrumen penting dalam pendidikan adalah kurikulum. Maka, tak heran di negeri ini pembicaraan seputar kurikulum tak pernah sepi. Namun, sayangnya diskusinya lebih berkutat pada tataran politis ketimbang pragmatis, apalagi ideologis. Maka, muncul adagium, “Ganti mentri, ganti kurikulum.” Saya tidak ingin berpanjang kata diskusi dalam tataran ini. Silakan Anda mengambil persepsi masing-masing tentang fenomena ganti mentri ganti kurikulum di negeri ini.

Saya ingin mengajak Anda diskusi tentang kurikulum pada tataran ideologis. Karena saya muslim, maka saya menulis dalam perspektif Islam. Namun, tak perlu khawatir atau phobia. Karena, Islam itu rahmat bagi semesta. Islam dengan semua sistem yang ada di dalamnya, termasuk sistem pendidikan, pasti menghadirkan kemaslahatan bagi semua manusia. Pasti memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara.

Berbicara tentang kurikulum pendidikan, maka kita mesti memulainya dari tujuan pendidikan. Karena, kurikulum inilah perangkat yang diharapkan mengantarkan kepada tercapainya tujuan pendidikan. Dalam Islam, tujuan pendidikan itu ada dua; yaitu mendidik anak-anak menjadi hamba yang ta’at (QS. Adz-Dzariyat: 56) dan mengkader anak-anak menjadi khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30).

Tujuan besar ini mesti diturunkan dalam kurikulum pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan. Maka, dari sini pula terlihat jelas urutan kurikulum pendidikan dalam Islam. Ada dua aktifitas besar dalam pendidikan; pertama mendidik anak-anak agar menjadi hamba yang ta’at. Ini tidak ada pilihan. Karena, setiap anak (muslim), apapun pilihan profesinya nanti, menjadi pengusahakah, ekonomkah, politisikah, dokterkah, insinyurkah, mereka harus menjadi hamba yang ta’at kepada Allah.

Aktifitas kedua adalah mengkader anak-anak agar mampu mengemban amanah sebagai khalifah di bumi. Untuk hal ini, barulah pilihan profesi. Anak-anak boleh mengambil kompetensi dibidangnya masing-masing. Kemudian, dengan kompetensi itu anak mesti berkontribusi bagi dakwah Islam dan kemaslahatan umat. Inilah tugas khalifah untuk memakmurkan bumi, bukan merusak bumi. Tugas ini akan terlaksana dengan baik jika telah terbentuk hamba yang ta’at dalam diri anak-anak. Sehingga, mereka akan memberikan kontribusi terbaik dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT.

Dalam tataran yang lebih praktis, maka disain kurikulum dalam proses pendidikan pada setiap jenjang pendidikan mesti mengacu pada dua poin di atas. Artinya, pada tahun-tahun awal mestinya muatan kurikulum itu lebih banyak berfokus pada pendidikan Agama dengan semua turunannya; Tauhid, Al-Qur’an dan Hadis, akhlak, ibadah, dan sejarah Islam. Metode pembelajaran mesti dirancang dengan apik agar proses pendidikan Agama itu berjalan dengan baik dan sukses.

Targetnya ketika anak memasuki usia baligh, dia telah siap sebagai seorang muslim untuk menerima taklif (kewajiban menjalankan ajaran Islam secara total). Ini yang perlu menjadi perhatian serius bagi para pejuang pendidikan. Fase baligh yang pasti dilalui oleh setiap anak. Pertanyaannya, “Apakah pendidikan kita menyiapkan dengan baik dan serius setiap anak didiknya untuk siap memasuki usia baligh?” Ketika anak mencapai fase baligh, maka setiap perkataan dan perbuatannya sudah berkonsekuensi hukum. Pahala atau dosa, neraka atau surga, ridha atau murka Allah.

Seiring sejalan dengan pendidikan Agama ini, anak-anak juga diajarkan ilmu pegetahuan dan kompetensi, namun porsinya masih sedikit. Ilmu pengetahuan dan kompetensi yang dasar-dasar saja dulu. Tidak terlalu dalam karena memang belum waktunya. Pada tingkat sekolah dasar misalnya, ajarkan anak-anak membaca, berhitung, dan menulis. Kenalkan anak-anak dengan lingkungan sekitar untuk mengamati semesta sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Tak perlu dulu diajari rumus-rumus matematika yang rumit-rumit itu.

Mari sejenak kita tengok wajah pendidikan negeri ini. Sedari jenjang sekolah dasar, anak-anak kita sudah dijejali dengan muatan ilmu pengetahuan yang beraneka macam. Namun, porsi pendidikan Agama kurang mendapat porsi semestinya. Akibatnya, ketika anak memasuki usia baligh, terlebih anak-anak zaman sekarang lebih cepat baligh dari anak-anak generasi sebelumnya, mereka belum siap menjadi muslim. Mereka belum siap menerima taklif. Shalatnya masih berantakan, membaca Al-Qur’an masih mengeja dan terbata-bata, miskin akhlak dan adab, puncaknya mereka tidak kenal kepada Tuhannya dan Rasul.

Ini adalah sebuah kecelakaan dalam pendidikan. Jika tidak ada perbaikan sistem pendidikan, artinya model kurikulum seperti ini terus diberikan pada jenjang pendidikan selanjutnya, maka bisa jadi pendidikan kita hanya akan melahirkan himar-himar pendidikan. Al-Qur’an sudah mengingatkan hal ini ketika menyindir keras ahli ilmu dari Bani Israil. Mereka punya ilmu banyak, namun ilmunya tidak menjadikannya ta’at kepada Allah dan semakin dekat kepada-Nya. Ilmunya tidak membuatnya berlomba-lomba menebar kebaikan pada sesama. Sebaliknya, dengan ilmunya itu, mereka malah semakin ingkar kepada Allah dan berbuat kerusakan di bumi.

Maka, Al-Qur’an menyindir keras mereka dengan mengumpamakannya seperti keledai yang memikul kitab-kitab di punggungnya. Ilmu yang banyak itu tidak memberikan manfaat sama sekali bagi mereka. Mestinya ini menjadi pelajaran bagi kita, umat Nabi Muhammad SAW, agar tidak menjadi bagian yang terkena peringatan keras itu. Karena itu, pembaruan kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah kita adalah sebuah keniscayaan agar sekolah-sekolah kita tidak lagi meluluskan himar-himar pendidikan.

Oleh karena itu, mari kita melakukan tugas besar ini bersama-sama. Kita lakukan kajian kurikulum, bedah kurikulum, untuk kemudian membuat disain kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan dalam Islam. Tentu saja bukan di sini tempatnya saya memaparkan dengan detail contoh muatan kurikulum berdasarkan Islam. Garis besarnya sudah saya tuliskan di atas, tinggal kita mengkaji dan membedah kurikulum sekolah-sekolah kita.

Satu hal lagi yang penting dalam konteks kurikulum pendidikan Islam adalah Islamisasi sains. Artinya, nilai-nilai Islam harus masuk ke setiap mata pelajaran. Belajar mata pelajaran apapun, anak-anak harus dikenalkan kepada Tuhannya dan Rasulullah SAW. Tujuannya agar keimanan terinternalisasi dalam jiwa anak-anak. Sebagai contoh, dulu kita belajar Biologi bab sistem reproduksi, hanya diajarkan bahwa proses reproduksi manusia itu berawal dari pertemuan sel sperma ayah dengan sel telur ibu dalam rahim, lalu terjadi pembuahan, berkembang jadi embrio dan seterusnya sampai lahirnya bayi. Selesai sampai di sini. Tidak ada penjelasan tentang Tuhan yang mengatur proses itu semua.

Padahal, Al-Qur’an berbicara tentang proses penciptaan manusia pada surat Al-Mukminun ayat 12 sampai 16. Dan, ayatnya tidak berhenti sampai lahirnya bayi, melainkan dilanjutkan dengan penegasan Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik. dilanjutkan dengan peringatan bahwa setelah hidup, pasti akan mati. Dan, setelah kematian, pasti akan dibangkitkan untuk dimintai pertanggungjawaban.

Bayangkan, ketika belajar Biologi, disaat yang sama anak-anak ditanamkan keimanan kepada Allah dan hari akhirat. Jika model pembelajaran ini terus dilakukan, maka anak-anak akan tumbuh menjadi anak-anak yang ta’at kepada Tuhannya (Allah SWT), meneladani Rasulullah SAW, dan serius mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Karena, mereka mengimani kehidupan akhirat itu ada dan pasti berjumpa dengan Tuhannya.

Model pendidikan seperti inilah yang perlu kita ikhtiarkan dengan maksimal dalam sekolah-sekolah kita. Sehingga, sekolah-sekolah kita melahirkan generasi yang ta’at kepada Allah dan siap membangun peradaban Islam di bumi ini. Wallahu A’lam…

ilustrasi: pgri-jateng.info

Drugs Baru Bernama Pornografi

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Praktisi Pendidikan Remaja, pengasuh www.sahabatremaja.id.

SALAH satu godaan berat bagi remaja adalah pornografi. Apalagi di zaman gadget sekarang ini. Konten pornografi bisa disebar dengan mudahnya melalui smartpone. Kabarnya, remaja sekarang tahu pertama kali pornografi dari gadget yang disebar teman sekolahnya. Bahaya banget ‘kan? Bisa jadi awalnya tidak berniat, tapi karena dapat kiriman temannya, rasa ingin tahunya menggedor-gedor akal sehatnya. Ayolah, sekadar ingin tahu aja kayak gimana sih film porno itu?

Di sinilah terjadi pertarungan batin antara menolak dan menuruti. Tidak sedikit remaja yang berkompromi dengan dirinya. Lalu, membuka dan menonton konten porno tersebut. Padahal, perlu dicatat sama kamu, sekali kamu melihat film porno pasti kamu bakal ingin menonton yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Gradasinya pun bakalan meningkat. Awalnya mungkin setengah porno, meningkat menjadi porno, lalu kamu ingin melihat segala jenis film porno. Karena, yang biasa-biasa buat kamu sudah nggak ngefek lagi. Ini harus kamu sadari, bro.

Efek dari menonton film porno, remaja terbangkitkan libidonya. Ini membuat remaja pusing untuk menyalurkannya. Pilihannya onani. Kalau sudah berulangkali onani, bisa dipastikan remaja akan kecanduan pornografi. Karena, pornografi menimbulkan sensasi dalam otaknya. Otak memproduksi hormon dopamine yang memberikan sensasi melayang layaknya orang mengonsumsi narkoba.

Padahal, bahayanya adalah otak bisa mengalami kerusakan akibat terpapar pornografi. Bahaya lebih serius lagi, ternyata kerusakan otak akibat kecanduan pornografi lebih berbahaya daripada kecanduan narkoba. Hasil riset menunjukkan bahwa kerusakan otak akibat terpapar pornografi terus menerus bisa bersifat permanen sebagaimana otak yang rusak akibat benturan kecelakaan.

Tidak cukup sampai di sini mudharatnya, tidak sedikit remaja yang kemudian melampiaskan libidonya ke pacarnya. Ini lebih berbahaya lagi. Ini sudah tindakan kriminal. Saya berkali-kali menerima konseling remaja yang pacaran sampai kebablasan. Bahkan, ada yang sampai ketagihan. Bisa jadi pemicunya adalah pornografi. Otak remaja sudah demikian kotor terpapar pornografi, sehingga di otaknya terekam, “Bukan pacaran namanya jika tidak making love.”

Kasus-kasus remaja pacaran yang saya tangani memang diawali dari remaja cowok. Si remaja cowok yang otaknya sudah terpapar pornografi mendesak pacarnya untuk ML. Awalnya, si cewek menolak. Namun, perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, si cewek luluh juga oleh bujuk rayu dan desakan si cowok. Terjadilah perbuatan nista itu. Perbuatan yang nikmatnya sesaat, tapi deritanya berkepanjangan. Masa depan pun seketika runyam. Bahkan, bisa terasing dan terkucilkan di tengah pergaulan masyarakat.

Karena itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Remaja keren itu bukan hanya dia yang tidak pacaran, tapi juga menjauhi pornografi. Sayang sekali potensi otak kamu yang luar biasa itu menjadi tumpul akibat terpapar pornografi.

Imam Waqi’ (gurunya Imam Asy-Syafi’i) sudah menasihatkan bahwa ilmu itu cahaya Allah. Dan, cahaya Allah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.

Sekolah kamu nggak bakalan sukses dan berhasil meraih prestasi jika kamu dekat-dekat dengan pornografi. Kamu akan terlena dan terlalaikan oleh bayang-bayang pornografi. Kamu akan sulit untuk fokus belajar. Sulit untuk mengingat dan memahami pelajaran. Karena, fungsi berpikir otak kamu tercemar oleh pornografi.

Karena itu, jauhi pornografi. Jangan ada kompromi untuk coba-coba melihat pornografi. Jangan berikan celah sekecil apapun bagi setan untuk memerangkapmu dalam candu pornografi. Jika sudah kecanduan, tidak mudah mengobatinya. Perlu kesungguhan ekstra dan proses untuk bisa lepas dari jerat candu pornografi. Energi dan waktu kamu akan terkuras karenanya.

Padahal, jika kamu tidak pernah berkompromi dengan pornografi, kamu bisa memanfaatkan waktu dan energimu untuk melukis masa depanmu. Sayangi dirimu. Lebih baik manfaatkan otak kamu untuk membaca, menelaah, mengamati, memikirkan, merenungkan ilmu dan semesta ini. Kelak kau akan menjadi remaja keren karena ilmu dan akhlakmu. []

Sumber: https://www.islampos.com/drugs-baru-bernama-pornografi-249644/

Aku dan Lumajang

Bogor, 29 Desember 2015. Siang itu matahari seolah menantang kami. Menantang keberanian kami untuk keluar dari asrama menuju bus yang telah menunggu kami di parkiran. Kala itu kami, para punggawa SMART EI asal Jawa Timur, telah siap untuk berangkat menuju kampung halaman tercinta.

Setiap setahun sekali kegiatan pulang kampung sangat kami tunggu, ini merupakan momen yang akan kami selalu sukai. Setelah berbenah dan memastikan kalau semua ranjang rapi dan lemari asrama tim kami terkunci, aku dengan sigap memimpin grup Jawa Timur ke bus. Alhamdulillah pada Rabu (30 Desember 2015) aku dan rombongan Jawa Timur tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 03.30 WIB dengan selamat dan bahagia. Kemudian kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, agak sedih karena tidak bisa bersama lagi karena kami tinggal di daerah yang berbeda-beda. Beberapa ada yg dijemput, beberapa ada yang naik bis sendiri. Aku sampai rumah pukul 09.00 WIB, namun sebagai ketua tim aku harus memastikan dan memantau kondisi tim ku agar semua sampai rumah dengan selamat. Lega rasanya ketika mengetahui mereka sampai rumah tanpa kekurangan satu hal pun.

Sampai lupa, namaku Muhammad Fatih Daffa. Saat ini aku duduk di kelas 5 jurusan IPA. Aku lahir dan besar di kota Lumajang, kota yang dikenal dengan pisangnya. Iya pisang, karena kotaku termasuk kota yang terkenal akan kualitas pisangnya yang bagus. Di Lumajang kamu akan menemukan banyak hal menyenangkan seperti kulinernya yang maknyus, sebut saja lontong petis, lupis Lumajang, pecel telo, dan bledus (jagung pipil kering kemudian direndam semalaman) khas Lumajang. Aku bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan keluargaku lagi dan bermain bersama adik-adikku lagi, Alhamdulillah.

Selama liburan aku banyak menghabiskan waktu berplesir ria bersama keluargaku. Sekitar seminggu yang lalu lepas ba’da Dzuhur, aku dan keluargaku berangkat ke rumah kakek di Jember. Sesampainya di Jember, kami langsung pergi ke Pantai Payangan. Pantai Payangan memiliki pasir berwarna hitam, namun tetap cantik dengan air yang jernih dan bersih. Daya tarik lain dari Pantai Payangan ini adalah keberadaan bukit-bukit yang cukup tinggi yang ada disekeliling pantai, dari bukit-bukit ini kita bisa menikmati pesona Pantai Payangan dari ketinggian. Pokoknya keren. Di Pantai Payangan kamu akan menemukan banyak perahu-perahu nelayan yang sedang di parkir karena pantai ini merupakan salah satu pantai yang menjadi pusat kegiatan nelayan di Jember. Tanpa ba bi bu aku langsung berlarian bak orang kehilangan arah disepanjang bibir pantai sebelum berenang hahahaha.

Pantai Payangan masih terbilang bersih dan alami karena ternyata belum banyak wisatawan yang mampir ke sini. Walalupun sulit menemukan sampah di sini, tapi kadang aku geram jika menemukan satu atau dua buah sampah yang tergeletak di sana. Sangat disayangkan ketika alam memberikan kita pemandangan menakjubkan namun kita malah membalasnya dengan membuang sampah sembarangan, sungguh tidak menghargai alam sekali.

Selama di Jember kami bermalam di rumah salah satu sepupuku, suasana malam perkampungan selalu membuatku bahagia. Suasananya tenang, suara jangkrik di mana-mana, belum lagi suara angin yang berhembus memecah keheningan kala itu. Damai sekali. Paginya aku dan keluargaku kembali ke Pantai Payangan, kami kembali bersenang-senang sambil piknik. Karena aku jarang sekali menikmati pantai maka pada kesempatan kala itu aku membuat istana pasir super besar yang kemudian kuhancurkan lagi setelah jadi. Hahahaha, ternyata bagus juga untuk melampiaskan kekesalan lho.

Liburanku kali ini sungguh menyenangkan. Banyak bertemu teman, banyak bertemu saudara, banyak bertemu dengan orang-orang hebat di keluargaku yang belum pernah kutemui sebelumnya. Namun ada sedikit kesedihan tersendiri terutama ketika teman-teman dan adik-adikku kembali ke pesantren masing-masing karena waktu libur mereka telah usai. Sepi memang, namun aku masih bisa ikut berbagai kegiatan seru di kampung halaman seperti pesantren kilat yang diadakan tiap Shubuh, Maghrib, dan Isya. Selama di kampung aku juga jadi sering jogging di sore hari hehe, dan merawat kebun pisang keluarga bersama ayah dan ibu. Pokoknya liburanku hebat.

Kapan-kapan kamu harus mampir ke Lumajang ya.

Salam hangat dari Lumajang,

Muhammad Fatih Daffa

#YukPulangKampung

Manfaat Membaca Keras

Oleh: Vera Darmastuti

Di sekolah kami kegiatan membaca diadakan bersama siswa-siswa kelas 1 SMP SMART Ekselensia Indonesia pada jam pengayaan bahasa setelah Dzuhur. Sebagai anggota Goodreads Indonesia, komunitas berbasis kegiatan daring bidang baca-membaca, saya terpacu untuk bisa melihat minat baca di kalangan siswa paling muda SMART EI tahun ajaran ini.

Sebabnya, karena ada survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan penurunan minat baca masyarakat. Berdasarkan hasil survei 2006-2012, untuk surat kabar ada tren penurunan. Pada 2006, persentase orang yang membaca ada 19,98, selanjutnya untuk 2009 turun menjadi 16,26, dan 2012 menjadi 15,06.

Penurunan jumlah pembaca juga terjadi terhadap tabloid/majalah. Persentase masyarakat yang membaca tabloid/majalah berkurang, dari 11,26 persen pada 2006, turun menjadi 7,45 persen pada 2009, dan 6,92 persen selama 2012.

Sementara itu, untuk pembaca buku cerita cenderung stabil. Pada 2006, angkanya sebesar 6,46 persen, turun jadi 4,58 persen pada 2009, dan naik lagi menjadi 5,01 persen untuk 2012. Selanjutnya, yang membaca buku pelajaran sekolah meningkat, dari 18,27 persen pada 2006 menjadi 19,13 persen selama 2009, dan 20,48 persen pada 2012 (data dari VivaNews.com, 19 Desember 2014)

Apakah hasil survei tersebut sesuai dengan kondisi di SMART EI, saya tidak tahu karena belum pernah ada penelitiannya. Tapi mengenai “membaca dengan suara keras” (reading aloud) yang dilakukan guru (atau orang dewasa) kepada siswa (atau anak-anak) konon ada beberapa manfaatnya, yaitu memberikan contoh proses membaca secara positif; mengekspos siswa untuk memperkaya kosa kata; memberi siswa informasi baru; mengenalkan kepada siswa berbagai aliran sastra; serta memberi siswa kesempatan menyimak dan menggunakan daya imajinasinya.

Tentu kegiatan membaca keras ini harus ada persiapannya. Persiapan utama adalah mencari buku-buku yang sesuai untuk pembaca dan pendengarnya. Saya sudah bongkar buku-buku saya di tiga lemari terpisah untuk kegiatan ini, lalu terkumpullah sepuluh buku yang menurut saya cocok untuk dibaca siswa usia 12-13 tahun. Semuanya buku terjemahan (waaah… apa boleh buat) dari pengarang2 dunia dengan cerita mengenai dunia anak-anak tentunya.

Mestinya ada 35 siswa yang ikut, sayangnya tiga di antara mereka hari itu mendapat cobaan berupa tubuh yang kurang mendukung untuk berangkat ke sekolah. Jadi ya di hadapan tiga puluh dua siswa ini saya contohkan terlebih dahulu pembacaan dengan dua keras dua paragraf dari buku “Kisah Hidup” Roald Dahl, penulis cerita anak Inggris keturunan Norwegia. Buku ini saya pilih karena merupakan otobiografi Dahl, yang mengisahkan saat sang penulis masuk sekolah asrama terpisah dari ibu dan saudara2nya pada usia yang juga belia.

Berikutnya, saya dibantu ustadzah Retno, pengajar Bahasa Indonesia yang keren di SMP kami. Tiga puluh dua siswa itu kami bagi menjadi delapan kelompok kecil, dan tiap kelompok dipinjami buku untuk dibaca bersama. Mereka bergantian membacakan bagian dalam buku masing2 dalam kelompok, dengan gaya dan intonasi yang menarik.

Setiap kelompok kami kunjungi, dengan tujuan mencari cerita yang dibacakan dengan asyik dan seru untuk seisi kelas. Sungguh menarik mengamati kesepakatan di antara mereka untuk menentukan giliran membacakan dan seberapa banyak bagian yang dibaca setiap orang.

Setelah keliling delapan kelompok ini, mengamati keseruan tiap kelompok menikmati pembacaan keras2 dari teman2, akhirnya ada sesi Yahya membacakan buku yang ada di kelompoknya untuk semua temannya di kelas. Buku yang dibacanya adalah karya terbaru Neil Gaiman, spesialis cerita “tidak biasa” mengenai dunia anak2. Ini lho aksi Yahya:

Nah, nah… membaca cerita dengan suara keras itu menyenangkan, ya? Semoga selalu semangat membaca, ya Nak 🙂