Kerja Keras dan Keberhasilan

img-20160928-wa0002-01

Oleh: Syaiha, Guru Matematika SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa

Tadi siang, sembari meluruskan tulang punggung, tiduran, di masjid, tanpa sengaja, saya melihat ada seekor cicak yang marayap di langit-langit. Berlari ke depan, diam sebentar dan kemudian balik kanan, lalu berlari lagi ke arah semula. Ia melakukan itu tidak hanya sekali, lebih dari tiga kali malah. Bolak balik seperti setrikaan rusak.

Entah apa yang ada di pikirannya.

Mungkin ia seperti Hajar, Ibunya Ismail, yang melihat ada air di ujung sana, lalu segera berlari mendekat. Sampai di tujuan, air yang terlihat malah tidak ada. Malangnya, ketika ia mengarahkan pandangan ke tempat semula, ia tertegun. Bagaimana mungkin disana ada air? Padahal, beberapa menit lalu ia berdiri di titik itu, tidak ada apa-apa! Benarkah itu air?

Berlari kembalilah ia. Ngos-ngosan. Lelah bukan main. Panasnya minta ampun.

Waktu itu, pasti belum ada pelindung kaki secanggih sekarang. Tidak ada sandal kenamaan dan sepatu kulit yang melindungi dengan kenyamanan. Sehingga boleh jadi, kedua telapak kaki Hajar terbakar dan merah. Tidak menutup kemungkinan malah lecet-lecet. Nggak kebayang, betapa perihnya jika demikian.

Hajar bolak-balik, jatuh bangun hingga tujuh kali. Berkeingat dan kehausan. Lalu, ketika Hajar mulai menyerah, ia mendekati anaknya, Ismail. Si anak yang masih bayi, terus menangis karena lapar dan haus sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Ajaib! Tepat di tempat hentakan kaki Ismail itu, kemudian memancarlah air yang bersih dan menyegarkan.

Kita mengenalnya sekarang sebagai air zam-zam. Salah satu bukti kekuasaan Allah di dunia bagi orang-orang yang berpikir.

Mendapati cicak berlari bolak-balik nggak karuan tadi siang, yang terlintas di kepala adalah kisah Hajar dan Ismail.

Jika semua yang terjadi kepada saya adalah karena kehendak Allah, maka siang tadi, barangkali Allah ingin mengajarkan kepada saya tentang pentingnya bekerja keras dan pantang menyerah. Teruslah mencoba dan jangan mudah putus asa.

Seperti cicak itu, mungkin ia melihat nyamuk di ujung sana, makanya ia berlari mengejar. Eh, setelah sampai, malah tidak ada siapa-siapa. Yang ia kira nyamuk, hanya senoktah noda berwarna hitam yang entah apa. Cicak memalingkan wajah lagi, di tempat ia semula, dipandangnya, seperti ada mangsanya disana. Berdiri lengah.

Ia kejarlah kesana. Berlari sekuat tenaga agar bisa melahapnya dengan segenap daya. Malang, ia kembali mendapati tidak ada apa-apa.

Tapi pelajaran dari cicak itu, yang saya yakin berasal dari Allah, bukanlah tentang kesia-siaan. Cicak tersebut mengajarkan tentang kerja keras. Masa depan memang tidak jelas. Tapi itu tidak penting. Tetap kejar dan gapailah apa yang sudah direncakan dan seakan terlihat oleh kita. Lalu, jika di depan sana ada kegagalan yang menyapa, segera bangkit dan berlari lagi. Jangan mudah menyerah dan putus asa.

Setiap kerja dan usaha, tidak akan pernah terbuang percuma. Selalu ada keberhasilan yang datang tersebab apa yang sudah kita upayakan. Ia mungkin memang tidak datang dari tangan dan peluh kita, tapi dari orang lain yang kita sayang. Dari istri dan anak-anak barangkali. Dari saudara atau kerabat yang kita cintai.

Seperti Hajar!

Ia yang berlari tujuh kali bolak balik Shafa-Marwah. Ia yang lelah dan bersusah payah. Ia yang mengejar air, berharap bisa mengambilnya dengan tangan, lalu menuangkannya pelan-pelan ke kerongkongan keringnya Ismail

Tapi apa? Usahanya tidak menghasilkan apapun kecuali keringat dan kepayahan yang sangat.

Sekali lagi, Allah selalu benar. Kebaikan selalu berbalas kebaikan. Kerja keras yang ikhlas selalu dihadiahi keberhasilan, dari arah yang tidak terduga-duga malah.

Begitulah seharusnya kita, jangan mudah angkat tangan dan balik kanan. Selalu gigit kuat mimpi dan harapan. Jangan mudah menyerah, tetaplah berusaha dengan upaya yang indah. Suatu hari nanti, yakin saja, pasti ada keberhasilan yang akan kita dapat. Entah dari usaha yang memang kita kerjakan, atau dari orang lain di sekitar kita yang kita sayang.

Belajar untuk Berbicara, Berbicara untuk Belajar

dsc_0120

Oleh: Vikram Makrif, kelas XII IPA

“Cintai apa yang anda lakukan dan lakukan apa yang anda cintai”

Pagi itu aku mengikuti pelatihan Public Speaking bersama para Duta Gemari Baca 2016 dan 3 orang guru SGI. Tepat pukul 09.30 setelah kami semua Salat Dhuha acara pun di mulai, pada Minggu pagi  (23/10). Aku duduk di kursi terdepan Ruang Audiovisual Pusat Sumber Belajar dan Komunitas (PSBK) pada pelatihan kala itu. Di samping kananku ada Azzam,salah satu dari 20 Duta Gemari Baca 2016, yang memberikan lembar presensi padaku saat aku duduk di sana. Kak Hani sebagai MC memulai acara dengan bertanya pada para peserta tentang literasi. Salah satu peserta yang ditanya adalah aku. Lalu aku pun menjawab pertanyaan kak Hani apa adanya.

Kak Asta Dewanti adalah pembicara dalam pelatihan Public Speaking tersebut. Beliau  merupakan pakar dalam psikologi memulai acara dengan pengenalan ilmu psikologi diri. “Sebelum berbicara di depan umum, dan membereskan orang lain, maka kita harus membereskan diri kita terlebih dahulu,” kata kak Asta saat menjelaskan tentang bagaimana cara kita memulai berbicara di depan umum.

Selama kurang lebih dua setengah jam dari pukul 09.30 hingga pukul 12.00 aku mengikuti pelatihan Public Speaking sesi  1 sebelum istirahat Salat Zuhur. Aku mendapatkan banyak ilmu bagaimana cara menenangkan diri saat berdiri di depan umum, juga cara mengetahui dan mengenal karakter diri sendiri. Aku merasa senang dengan pelatihan yang kudapatkan dari kak Asta. Beliau menyampaikan materi dengan energik dan penuh semangat muda. Selama pelatihan sesi pertama kak Asta terus mencoba melihat keberanian peserta dengan memberikan kesempatan untuk berbicara bagi peserta yang datang. Kak Asta dapat membuat aku dan juga para peserta lain tertawa dengan humornya, sehingga suasana di dalam ruangan menjadi ruang gembira.

Setelah Salat Zuhur dan istirahat makan siang. Aku dan teman-teman yang lain masuk ke Ruang Audiovisual PSBK untuk melanjutkan pelatihan Public Speaking sesi kedua. Pada pelatihan sesi kedua ini cukup berbeda dari sesi pertama, karena pada sesi pertama peserta banyak menulis dalam kertas tentang tujuan mengikuti pelatihan, kelebihan dan kekurangan diri, teori SWOT, serta memberikan saran untuk teman-teman yang lain dalam pelatihan itu baik ikhwan maupun akhwat. Sedangkan pada pelatihan pada sesi kedua kita di ajarkan dan muali mempraktikkan berbicara di depan umum.

Aku mendapatkan cara paling baik untuk berbicara. Pertama sikap tubuh yang baik saat berdiri, kedua cara memproduksi suara yang benar, ketiga intonasi dan artikulasi bahasa saat berbicara, keempat cara berbicara lewat mata, dan terakhir menentukan kerangka berpikir dalam berbicara. Setelah kak Asta mengajarkan semua ilmu Public Speaking kami pun diajak untuk mempraktikkannya di ruangan itu. Aku berusaha untuk berani maju di depan semua orang dan mulai berbicara tentang dunia literasi. Aku mencoba mempraktikkan semua yang diajarkan kak Asta mulai dari memegang mic yang benar serta sikap tubuh yang baik saat berdiri. Semua ku coba walau masih banyak kekurangan dan masih grogi. Acara pun selesai pada pukul 14.30 dan kami semua merasa senang mendapat ilmu baru di hari libur sekolah. Cintailah dirimu saat berbicara atau beranikan diri saat berbicara agar engkau mencintai dirimu.

,

Emas Untuk SMART

1

Peluh membasahi baju silatku. Keringat sebesar biji jagung menghiasi keningku. Lawanku berbadan besar, aku yang kecil ini hanya bisa menatap dengan tatapan takjub, namun tak takut. Siapapun lawanku, aku takkan menyerah sampai di sini karena aku yakin bisa membawa emas untuk SMART

***

Perkenalkan namaku Muhammad Tsalats Ramadani, saat ini aku duduk di kelas 8 SMART Ekselensia Indonesia. Pada 8-9 Oktober lalu aku dan 15 kawanku kembali membawa nama SMART di kejuaraan South Jakarta Fighting Championship II yang diadakan di Gandul, Cinere, Depok. Kami telah berlatih keras untuk pertandingan kali ini, persiapan mulai dari yang kecil sampai yang besar telah kami pikirkan masak-masak. Bukan hanya itu bahkan strategi untuk menghadapi kemungkinan terburuk pun telah kami atur.

Kejuaraan ini diikuti oleh beragam sekolah se-JaBoDeTaBek, beberapa diantaranya telah kukenal karena pernah bertemu dalam sebuah pertandingan, mereka merupakan lawan-lawan yang sulit karena semuanya telah memiliki pengalaman hebat diberbagai pertandingan silat. Aku sih tak khawatir karena aku memiliki keyakinan untuk menang, maka aku akan menang. Ada beberapa kategori usia di kejuaraan kali ini antara lain Usia Dini, Pra-Remaja, Remaja, dan Dewasa, SMART sendiri mengirimkan perwakilan untuk kategori Pra Remaja: 11-14, Remaja: 14-17, dan Dewasa: 17-20. Aku sendiri masuk ke dalam kategori Pra Remaja.

Satu persatu nomor urut kami dipanggil, sampai juga giliranku. Gerakan demi gerakan mantap kukerahkan untuk menumbangkan musuh di depanku. Peluh membasahi baju silatku. Keringat sebesar biji jagung menghiasi keningku. Lawanku berbadan besar, aku yang kecil ini hanya bisa menatap dengan tatapan takjub, namun tak takut. Siapapun lawanku, aku takkan menyerah sampai di sini karena aku yakin bisa membawa emas untuk SMART, itu tekadku. Aku mulai mengatur strategi, satu demi satu jurus andalan kukerahkan hingga lawan demi lawan bisa kukalahkan. Setelah selesai aku perhatikan sekitar, ternyata teman-temanku yang lain juga sedang bertanding,mereka terlihat keren saat bertanding, ada semangat ditiap gerakan mereka. Aku senang rasanya bisa bergabung di tim silat ini.

2

Alhamdulillah usaha dan kerja keras kami berbuah manis, aku dan kak Edi berhasil memboyong emas, sisanya berhasil merebut 4 perak dan 6 perunggu. Sekali lagi aku berhasil membawa nama harum SMART dengan menggondol emas, ada rasa bangga tersendiri yang tak bisa kuceritakan namun hanya bisa kubuktikan melalui medali yang kudapatkan di kejuaraan ini.

3

Semoga aku dan teman-teman silatku bisa terus berjuang mengharumkan nama sekolah kami tercinta, SMART Ekselensia Indonesia (AR).

 

 

Lebih Dekat Dengan SMART

img-20161015-wa0001-01

Salah satu hal yang membuat saya bertahan di Dompet Dhuafa Pendidikan sampai sekarang adalah anak-anak yang bertebaran di seantero Lembaga Pengembangan Insani (LPI). Mereka seperti oksigen yang kerap membuat saya merasa hidup dan bernyawa.

Siswa SMART bagi saya bukan saja seperti adik tapi juga guru yang mengajarkan saya untuk terus bersemangat meraih impian juga hidup penuh syukur.

Oleh karena itu, setiap ada kesempatan saya akan mencoba lebih dekat dengan mereka. Kemudian bertanya apa yang bisa saya lakukan untuk membuat mereka dan tentunya saya sendiri  semakin yakin bahwa Man Jadda Wajada adalah mantra hebat untuk menjadi ‘kuat’!

Hal ini dibuktikan mereka pada sore kemarin. Hanya berbekal latihan 2 kali mereka mampu tampil menawan dihadapan mantan Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para tokoh budaya serta museum yang hadir pada acara 5th Museum Awards 2016 Malam Anugerah Purwakalagrha di Anjungan Provinsi Kalimantan Barat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Semua orang memuji penampilan adik-adik SMART mulai dari teman-teman Putri Indonesia, Komunitas Koko Cici Jakarta, teman-teman Abang None hingga SBY sendiri saat bersalaman dengan mereka. Hasilnya adik-adik begitu bahagia sampai terus bercerita tak habis-habisnya tentang semua hal yang terjadi sebelum dan setelah tampil. Di mobil saat perjalanan pulang ke Parung mereka sudah seperti radio yang menemani saya dan Pak Neming menerobos jalan-jalan Jakarta yang padat.

img-20161016-wa0003

Pertunjukan Operet van Museum dengan judul Bilung dan Lingling adalah naskah drama pertama yang saya tulis dengan spontanitas dalam waktu satu jam. Drama ini berlatar tahun 1800-an di Mempawah, Kalimantan. Saat di mana banyak kongsi Tionghoa yang kala itu berniaga emas dan orang Dayak dengan hasil buminya selalu diteror Kompeni Belanda terkait monopoli perdagangan juga upeti yang tidak masuk  akal. Karena khawatir membosankan maka saya masukkan kisah cinta antara Bilung (Dayak) dan Lingling (Tionghoa) yang menjadi simbol pertentangan hubungan beda ras dan strata sosial. Operet yang -hanya- berdurasi 25 menit ini apik dibawakan oleh Bobby sebagai Pengganggu Lingling, Reza dan Indra sebagai pedagang Tionghoa, Anto dan Hafizh sebagai pedagang Dayak, dan Sandy sebagai Bineng adik Bilung.

img-20161015-wa0005

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Ust Juli & para ustad asrama yang memberi izin kepada adik-adik untuk bisa bergabung dalam acara operet ini. Juga untuk para ustadz dan ustadzah yang sudah sangat baik dan tulus mendidik adik-adik SMART ini menjadi pribadi yang hebat. Akhir kata, jika ada sumur di ladang bolehlah kami menumpang mandi, jika ada umur kami panjang bolehlah kami bermain drama di LPI.

img-20161016-wa0007-01 img-20161016-wa0006

With love,

Dini Wikartaatmadja

Creative Librarian Dompet Dhuafa Pendidikan

Yang Ikutan LINTARA Harus Tahu Hal-Hal Berikut Ini

lintara-1

Buat kamu penggila ilmu sosial, pasti sudah tahu kan kalau kami punya lomba yang anti mainstream yakni LINTARA alias Lintas Nusantara. Di mana lagi kalian bisa nemuin lomba yang isinya soal-soal masa pra-aksara, soal kerajaan nusantara, atau tentang isu publik? Cuma di LINTARA. Nah buat kamu penggila ilmu sosial yang ingin mengikuti LINTARA, ada baiknya mengetahui  hal-hal berikut ini nih

  1. Kamu Harus Kuat !!!

Kenapa harus kuat? Memangnya ini lomba angkat beban? Ya tentu saja bukan. Lalu kenapa kamu harus kuat? Karena kamu harus siap melewati satu sesi yang bakal melelahkan. Jangan heran kalau nanti kamu bakal banjir keringat. Kamu juga harus siap untuk memainkan permainan tradisional seperti  EGRANG. Kamu pasti sudah tahu kan betapa susah memainkan egrang, kamu harus siap jatuh, bangun, jatuh lagi, ya bangun lagi. Nah, itu semua memerlukan energi yang tak sedikit Sob, maka siapkan staminammu, minum jamu atau vitamin yang banyak!

  1. Kamu Harus Cepat!

LINTARA tahun ini berbeda dari tahun yang kemarin lho Sob. Supaya nuansa kebudayaannya lebih kental maka kami mengganti sistem debat menjadi berbalas PANTUN. Iya PANTUN Sob! Seperti yang kamu tahu kalau pantun merupakan salah satu budaya yang perlu kita pertahankan, agar kelak tak hilang dri budaya Indonesia. Nah di permainan pantun kamu memerlukan kecepatan dan ketepatan, maka kamu dituntut harus selalu siap menjadi orang yang berpikir degan cepat. Namun cepat saja tidak cukup karena kamu juga harus memikirkan  jumlah suku kata, rima, hingga isi dari pantun itu sendiri. Oleh karenanya siapkan dirimu sebaik-baiknya, banyak berlatih, dan selamat menyelami indahnya pantun.

  1. Kamu Harus Bisa Bekerjasama Dengan Baik

Kerjasama tim merupakan hal paling utama yang ditekankan di LINTARA, jika kamu tak kompak maka akan sulit untuk mengikuti sesi demi sesinya, nah di situ lah kamu semua dituntut untuk bisa menyatukan pikiran-pikiran jenius serta gila sosial menjadi satu, dengan begitu kalian akan memiliki “senjata” yang kuat untuk bisa mengalahkan rival-rival kalian.

  1. Kamu Harus Punya Kepercayaan Diri Yang Tinggi

Ini serius Sob, ngapain juga panitia ngebohongin kamu semua. Dalam LINTARA, kamu harus tampil dengan percaya diri. Karena kalau bukan tidak percaya sama diri kamu sendiri, ya siapa lagi? Kenapa kamu perlu percaya diri? Kamu semua pasti ingin masuk final dong? Nah sedikit gambaran untukmu nih Sob, di final nanti ada sesi yang mengharuskan kamu berargumen di depan para juri dan para panitia serta penonton, kalau kamu tak percaya diri pasti kamu akan dilibas oleh pihak lawan

Itu dia Sob, sedikit tips buat kamu yang akan mengikuti LINTARA. Semoga kamu makin semangat dan menjadi juaranya ya.

lintara-3 lintara-2

Gen Z VS Guru Abad 21

gurusmart

Oleh: Nurul Aeni

Creative Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan.

Salah satu ciri khas manusia abad 21 ialah tangan yang hampir tak pernah lepas dari gawai, hal ini tentu saja merupakan implikasi dari perubahan teknologi yang ekstrem.  Saat ini orang mengubah cara hidup secara radikal, baik itu dari cara berbelanja, ke bank, mengambil foto, mengerjakan tugas, berpolitik, berbagi informasi dan masih banyak lagi yang lainnya. Perubahan tersebut terjadi sangat  cepat namun tetap terlihat di depan mata walau kita tidak menyadarinya.

Dahsyatnya perubahan ini secara tidak langsung memengaruhi perubahan keyakinan dan perilaku, perubahan tersebut sangat berat diterima oleh orang dewasa namun diterima dengan riang oleh anak-anak yang terlahir di masa ini. Perubahan merupakan proses dari kehidupan itu sendiri, di mana orang dewasa/orang tua juga mengalaminya. Dulu pesawat terbang dianggap tidak mungkin ada, namun sekarang hampir setiap orang menaikinya.  Bedanya perubahan saat ini sangat cepat sehingga orang dewasa menerima ini dengan kemampuan yang lebih terbatas.

Sementara anak–anak yang lahir di era ini tumbuh dan menerima dengan suka cita kondisi tersebut, mereka adalah Digital Native, Don Tapscott menamai mereka dengan generasi Z. Generasi Z ialah mereka yang lahir di tahun 1998 hingga sekarang. Mereka lahir seiring dengan perkembangan teknologi tersebut, bahkan sebelum lahir mereka merasakan kehadiran teknologi ketika masih dalam kandungan ibunya, sejumlah alat USG terkini dan berbagai peralatan medis lain hadir menyertai kelahiran generasi ini. Setelah lahir mereka juga tumbuh berkembang dikelilingi teknologi diberagam bidang. Memang mereka tidak mengalami perubahan dalam setiap hal, namun perkembangan pengalaman, cara berpikir dan intelektual berubah secara cepat dan massive.

Celakanya, walaupun perubahan tersebut terlihat jelas baik di rumah maupun di sekolah, beberapa pendidik masih mengajar dengan cara yang sama dan melalaikan bahkan ada yang menolak perubahan penting tersebut. Padahal, di lingkungan mereka teknologi saling bersaing untuk mendapatkan perhatian anak-anak, baik melalui film, musik, permainan, teve, game daring, media sosial, dan lainnya. Mereka memposisikan diri sebagai konsumen aktif yang menghabiskan waktu untuk mempelajari atau menggunakan teknologi tersebut, sementara sebagian para pendidik masih mencoba untuk mendidik anak-anak dengan metode dan piranti tahun 80-an.

Di sekolah anak-anak mengalami kebosanan terutama ketika banyak pertanyaan–pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh guru, namun bisa dijawab dengan mudah oleh Google. Usai sekolah, mereka akan bergumul dengan teknologi karena banyak hal yang bisa mereka pelajari sendiri di sana, utamanya karena mereka tertarik dan rasanya menyenangkan. Jim Groom menyebut hal ini dengan istilah edupunk, ialah pendekatan proses belajar mengajar yang dihasilkan dari sikap DIY (Do It Yourself). Sikap DIY ini memungkinkan anak-anak secara mandiri dapat mempelajari dan menyelesaikan tugasnya, ini sangat memungkinkan sekali dilakukan oleh anak-anak karena informasi dapat dengan mudah didapatkan hanya dengan gawai yang mereka miliki. Namun bukan berarti, anak–anak ini akan jadi lebih baik dan bijaksana, terdapat juga informasi yang mungkin dapat menyesatkan mereka, bagaimanapun kondisi psikologi dan fisik mereka tetaplah sesuai usianya, di sini pendidik perlu hadir untuk meluruskan kesalahpamahan tentunya harus dengan metode baru sesuai kebutuhan mereka saat ini.

Lalu apa yang perlu dipersiapkan oleh guru abad 21? Apa yang perlu dikuasai para guru abad 21 agar dapat bersahabat dengan Gen Z ini? British Council membagi keterampilan dasar pengajaran abad 21 ke dalam enam bagian yaitu:

  1. Berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah
  2. Komunikasi dan kolaborasi
  3. Kreatif dan Imajinatif
  4. Kewarganegaraan digital
  5. Literasi digital
  6. Kepemimpinan siswa dan pengembangan diri.

Pada game daring yang sering dimainkan anak saat ini, pada level kompleks mereka akan belajar bagaimana menyelesaikan masalah yang sulit, mereka dilatih mengambil kesimpulan ilmiah dan harus membuat keputusan yang efektif di bawah tekanan, maka jika anak–anak sudah melakukan tahap ini, pendidik harus lebih mampu menguasainya. Anak–anak juga menggunakan teknologi digital untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dalam jarak jauh, maka guru harus berperan memfasilitasi hal ini di dalam pembelajaran. Guru memfasilitasi mereka dalam mendemonstrasikan hasil kreativitas dan inovasi mereka dalam bidang teknologi, dalam hal ini mereka tidak selalu jadi konsumen teknologi namun mereka mampu menghasilkan karya orisinil, hal ini butuh dukungan pendidik sehingga anak–anak dapat mengekspresikan karyanya.

Di tengah gencarnya teknologi berbasis digital yang mudah di akses anak, guru dituntut memberikan penyadaran praktik penggunaan informasi dan teknologi bahwa anak–anak  harus menggunakannya secara bijak, penuh tanggung jawab, dan mampu menunjukkan sikap yang baik ketika menggunakan teknologi. Di samping itu mereka dituntut cerdas mengelola informasi digital, mulai dari menemukan, menganilis, mengevaluasi, mensinstesis dan menggunakan informasi tersebut sesuai kebutuhan secara etis dan penuh tanggung jawab.

Dengan enam keterampilan dasar tersebut harapannya akan tercipta persahabatan antara guru abad  21 dengan Gen Z ini di tengah perubahan yang sangat cepat , yang menurut Atsususi “2c Hirumi” kecepatannya setingkat atom.

 

Referensi       

Berawal dari Ibukota, Perjalanan Menaklukkan Candradimuka

Amma Muliya Romadoni

Oleh : Amma Muliya Romadoni*

*Kandidat Master Thermal-Fluid Engineering ITB.

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, tidak serta merta membuat saya menjadi terlena dengan segala kegemerlapan ibukota. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan diperlukan kegigihan untuk mencapai tujuan hidup. Seluruh nikmat yang diperoleh patut disyukuri, salah satunya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan jenjang sekolah menengah di Bogor. Untuk bisa bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Sekolah berasrama bertaraf internasional, akselerasi SMP-SMA hanya ditempuh 5 tahun, dan diperuntukan bagi anak-anak berprestasi dari seluruh Indonesia yang memiliki keterbatasan finansial. Sekolah ini pertama kali dirintis pada tahun 2004 sebagai salah satu program Dompet Dhuafa dalam bidang pendidikan. Saya adalah angkatan pertama Smart Ekselensia Indonesia.

Bagi saya, Jakarta dan Bogor sangatlah jauh karena harus terpisah dari orangtua untuk menjalani kehidupan sebagai seorang siswa berasrama layaknya tinggal di pesantren. Kondisi seperti ini harus bisa dilewati agar bisa beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungan dan keluarga baru. SMART Ekselensia Indonesia, sebagai sekolah unggulan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global. Terbukti dari prestasi yang telah ditorehkan baik perlombaan tingkat nasional dan internasional. Misalnya Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan lainnya.

Kombinasi antara keilmuan dan spiritualitas menjadi ciri khas sekolah ini. Pelajaran Bahasa Arab dan Al-Quran menjadi pembeda sekaligus menjadi ruh dari sekolah SMART Ekselensia Indonesia ini. Selain itu pelajaran umum lainn­ya diajarkan berdasarkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Saya adalah salah satu siswa yang berhasil menjadi Finalis Indonesian Science Project Olympiad (ISPO), serta menjuarai perlombaan Karya Ilmiah lain yang diadakan di wilayah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, terpilih menjadi asisten pada mata pelajaran Al-Quran merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, disamping prestasi akademik lainnya. Dekat dengan Al-Quran akan membuat segala aktivitas duniawi terasa lebih mudah untuk dijalani. Hal ini dikarenakan keberkahan yang ada pada Al-Quran. Walhasil,Alhamdulillah saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia berbekal 4 Juz hafalan Al-Quran.

Setelah menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, saya melanjutkan studi di Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB). Awalnya, diterimanya sebagai mahasiswa USU tidak mendapatkan restu dari orangtua, karena lagi-lagi harus terpisah jarak dengan orangtua di Jakarta. Akan tetapi, saya memberikan pemahaman kepada orangtua bahwa ini merupakan sebuah proses yang harus dijalani. Allah telah menentukan pilihan terbaik bagi hamba Nya, hanya saja sebagai seorang hamba, kita tidak pernah tahu rahasia apa yang akan Allah berikan pada kita. Dengan bermodalkan ilmu dan kegigihan untuk belajar, saya beranikan diri untuk berangkat ke Medan bersama beberapa teman lainnya. Kultur yang berbeda, mengharuskan saya untuk selalu sigap dalam beradaptasi selama menjalani kehidupan di Medan. Ada anggapan bahwa masyarakat Medan keras dalam berbicara, tapi bagi saya itulah ciri khas yang dimiliki kota Medan. Disinilah saya berproses dan belajar banyak hal yang baru. Banyak hal yang bisa diperoleh dari kota yang terkenal dengan oleh-oleh “Bika Ambonnya” ini.

Layaknya seperti mahasiswa lainnya, perkuliahan terasa belum sempurna tanpa diisi dengan aktivitas organisasi untuk meng-upgrade kemampuan softskill. Tercatat selama menjadi mahasiswa di USU, saya pernah diamanahkan untuk memimpin beberapa organisasi, baik organisasi kerohanian, Unit Kegiatan Mahasiswa, ataupun Riset Mahasiswa. Klimaksnya, ketika saya bersama teman-teman Tim Horas USU lainnya bisa membanggakan Indonesia di kancah Internasional pada perlombaan mobil hemat energi, Shell Eco-marathon Asia 2014. Bagi saya, menimba ilmu bukan hanya duduk dan mendengarkan dosen berbicara memaparkan materi yang dijelaskannya. Banyak hal di luar sana yang bisa diambil untuk dijadikan ilmu, hanya saja kita harus cerdas untuk memilah-milih ilmu tersebut sehingga sesuai dengan kebutuhan. Janganlah terlalu menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. “Waktu adalah pedang”. Maka gunakan waktu dengan bijak untuk memperoleh kebermanfaatan. Kemampuan berwirausaha juga sangat dibutuhkan bagi seorang mahasiswa. Selain pernah mendapatkan bantuan wirausaha dariStudent Enterpreneurship Center (SEC) USU, pada akhir semester saya juga membuat sebuah lembaga training khusus Engineering Software untuk mengasahskill technopreneurship.

Fitrah sebagai seorang manusia, kita tidak akan pernah merasa puas terhadap ilmu. Setelah menyandang gelar sarjana, Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan ke jenjang master melalui program beasiswa LPDP dari Kementrian Keuangan RI. Setelah Jakarta, Bogor, dan Medan, maka Bandung merupakan destinasi selanjutnya untuk tempat menimba ilmu. Tentunya setiap tempat memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang harus diambil hikmah kehidupannya.Thermal-Fluid Engineering Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan rumah baru saya untuk menimba ilmu selama di Bandung. Saya harus siap untuk memulai petualangan baru menjalani kehidupan di Bandung. Karena target saya berikutnya adalah menyelesaikan perkuliahan dengan hasil yang memuaskan dan menuntaskan hafalan 30 Juz yang merupakan cita-cita sejak dulu. Semoga harapan itu bisa terwujud. Amiin..

Kreatif Mengolah Kelas Tahfizh

Oleh : Syahid Abdul Qodir Thohir

Guru Tahsin Tilawah-Tahfizh Al Quran dan Penggagas Metode Tahfiz Quranuna

Ada 42 anak dalam satu sesi kelas tahfizh gabungan dari kelas 2A dan 2B di SMART Ekselensia Indonesia. Bagaimana mengolah sejumlah besar siswa tersebut dalam satu kegiatan belajar-mengajar yang hampir-hampir mustahil bisa efektif. Ditambah lagi waktunya yang disediakan setelah Dzhuhur. Waktu di saat siswa justru sedang keletihan dan rentan mengantuk bahkan terkadang dalam keadaan puasa sunnah, karena pelajarannya memang bertepatan di hari Senin dan Kamis. Namun demikian semangat mereka sungguh luar biasa, berikut ini saya ceritakan apa yang telah berjalan di kelas tahfizh.

Semua siswa aktif memainkan kesepuluh jari tangannya masing-masing. Berbagai cara mereka menggerakkan jari-jari sesuai rumus Quranuna Tahfizh Metode Jari yang sudah mereka kuasai. Setelah bersenam jari sambil mengulang hafalan kepala ayat dari surat Al Mulk, semua siswa bergegas menuju halaman masjid untuk melanjutkan tahfiz pendekatan kungfu. Berjurus kungfu dengan instruksi menggunakan perkataan dari setiap kepala ayat yang terdapat di dalam surah ke-67.

Gambaran kegiatan tahfizh pada paragraf kedua tersebut di atas, saya ceritakan pada paragraf berikutnya di bawah ini;

  1. SENAM 10 JARI DAN TAHFIZH

Rumus Jari:    

Dimulai dengan senam  10 jari dari genggaman, dibuka satu per satu dari jari paling kecil (kelingking), jari manis, jari tengah, telunjuk sehingga ibu jari (jempol).  Sambil membuka satu per satu jari-jari tersebut diucapkan angka 1 sehingga 5. Ini berarti sebgai berikut;

  • Angka 1: Jari kelingking dibuka sedangkan keempat jari yang lainnya digenggam
  • Angka 2: Jari kelingking dan jari manis dibuka dan ketiga jari yang lainnya digenggam/dilipat.
  • Angka 3: Jari kelingking, jari manis dan tengah dibuka dan kedua jari yang lainnya digenggam/dilipat.
  • Angka 4: Keempat jari dari kelingking hingga telunjuk dibuka sedangkan ibu jari dilipat/digenggam.
  • Angka 5: Kelima jari semuanya dibuka.

Aplikasi Rumus Jari:  

Genggam kelima jari tangan kanan kita, kemudian kita buka jari kelingking kita dan kita baca ayat pertama dari Al Muthoffifin. Masih posisi kelingking terbuka, kita lanjutkan dengan membuka jari manis, lalu kit abaca ayat yang ke-2 dari Al Muthoffifin. Dan begitu seterusnya aplikasi rumus jari untuk ayat 1 sampai dengan 5.

Rumus jari ini merupakan salah satu metode dari total 10 metode Quranuna untuk menghafal Al Quran.

 

  1. BERJURUS DAN TAHFIZH

Seperti biasanya, kegiatan belajar-mengajar dimulai dengan doa belajar dan diteruskan dengan pengecekan kehadiran (absensi) siswa satu per satu. Hari ini ada beberapa siswa yang datang ke kelas agak telat dengan sebab seperti lazimnya setiap kali belajar Al Quran, beberapa siswa asyik berwudhu sambil bercanda.

Saya berinisiatif untuk memberikan sanksi ringan dengan setting-an olahraga. Semua siswa yang masuk ke masjid (kelas Al- Quran) setelah melebihi 5 menit dari waktu yang seharusnya mereka sudah berada di dalam masjid (10.05), saya minta agar mereka berdiri sejenak di pintu masuk dan agar mereka berjalan dengan lutut dengan kedua tangan diletakkan di kepala bagian belakang. Mereka harus berjalan terseok dari pintu masuk hingga ke mihrab (kira-kira 3 meter).

“Oke. Karena diantara kalian masih ada yang telat masuk kelas dan harus melalui sanksi fisik, maka kali ini kita akan menghafal At Takwir ala kungfu. Silahkan semua berdiri membentuk barisan sehingga 3 shaf,” saya meminta seluruh siswa berdiri dan bersedia mengikuti gerakan apa saja yang saya lakukan (jurus-jurus kungfu). Saya memeragakan gerakan satu sehingga gerakan lima dalam simulasi pukulan genggam. Gerakan satu dibacakan ayat pertama dari At Takwir, gerakan dua dibacakan ayat kedua dan begitu seterusnya sehingga beberapa gerakan. Intinya adalah berjurus sambil menghafal.

Sejak saat inilah, kemudian saya bertekad untuk memberikan berbagai gerakan jurus kungfu untuk menghafal beberapa ayat dari setiap surah berikutnya yang akan dihafal siswa.

Kreatif, mahal,  dan berharga.

Tidak selalu yang mahal dan berharga itu identik dengan cost (biaya) yang tinggi. Gambaran kelas tahfizh di permulaan tulisan ini sebagai bukti. Dengan modal GERAK JARI DAN BADAN yang sudah tersedia di dalam diri masing-masing siswa, berubah menjadi suasana yang mahal dan berharga. Mahal karena cetusan ide brilian seorang guru tahfiz mengolah proses pembelajarannya dan berharga bagi dirinya, pelajar-pelajar dan bisa jadi untuk umat secara meluas. Orang kulit putih bilang; proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) seperti di atas dengan istilah think globally, act locally.

Konon biaya pendidikan di Indonesia sangat mahal. Apalagi sekolah-sekolah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih dan lengkap. Dan kononnya lagi sekolah-sekolah yang mahal itu banyak peminatnya sebab paradigma yang berkembang adalah semakin berkualitas sebuah sekolah maka akan semakin mahal biayanya. Betulkah? Jawabannya bisa ya dan bahkan lebih besar kemungkinan tidak. Karena memang kualitas pendidikan itu bukan diukur dengan murah dan mahalnya biaya. Sama sekali tidak. Dan perlu Anda tahu, bahwa gambaran kelas tahfiz tersebut terjadi di sebuah sekolah gratis seratus persen untuk anak-anak miskin yang dibiayai dari zakat dan donasi masyarakat.

Kini saatnya, sekolah-sekolah tahfiz dan sekolah-sekolah yang mengunggulkan program tahfiz membuktikan kualitas pendidikan di Indonesia dengan meningkatkan kreatifitas paling mahal dan berharga dalam proses kegiatan belajar-mengajarnya. Semua yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sediakan di bumi ini adalah sebagai fasilitas pendidikan umat manusia, dan bagaimana kita bisa mengolah dan mengkreasikan semua yang tersedia.

 

Menghafal Ayat Terakhir dari Al Baqoroh

Lihatlah juga sebuah rekayasa kelas Tahfiz di sebuah Taman Kanak-Kanak di pinggiran kota Jakarta. Seorang guru tahfiz sedang mengangkat beban; Pertama, ember berisi pasir seberat 10 kg. Kedua, ember berisi pasir 4 kg, dan ketiga kaleng bekas cat berisi pasir 1 kg.

Guru Al-Quran mempertontonkan kemampuannya mengangkat beban tersebut dengan kedua tangannya. Lalu meletakkannya di depan kelas dan meminta satu per satu anak-anak untuk memilih dan mengangkat beban mana yang bisa diangkat. Singkat cerita, setiap anak mampu mengangkat yang ketiga (beban 1 kg). Berlanjut dengan yang kedua, guru meminta agar dua anak maju dan mengangkat beban kedua dan mampu. Namun ketika diminta mengangkat beban yang pertama (10 kg) ternyata mereka berdua kurang kuat, dan akhirnya secara bersama-sama mengangkat beban tersebut sehingga menjadi ringan dan bahkan dengan riangnya diangkat keliling ruang kelas. Saat itulah guru membacakan terjemah Surah Al-Baqarah ayat 286 yang sudah dipasang di dinding kelas berbunyi;

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Dilanjutkan dengan talaqqi ayat. Guru membacakan ayat tersebut dan anak-anak mengikutinya. Begitulah setiap pagi selama satu minggu anak-anak TK menghafal ayat dan doa yang terkadung di dalamnya. Datang saja ke sekolah, anak-anak sudah bersemangat untuk mengangkat beban-beban yang tersedia. Baik mengangkat bersendirian, berdua dan beramai-ramai sebagaimana juga guru mereka akan membacakan terjemah ayat dan men-talaqqi ayat. Inilah ‘three in one’, jiwa sehat, otak hebat dan otot kuat.

12813903_10204024834981739_7282424751880847051_n

Mencari Nafkah ….

Awal tahun 2013…

Setelah sekitar 7 tahun saya mengajar di SMART Ekselensia Indonesia, saya diberi amanah untuk mendampingi siswa-siswa SMART kelas 5 dalam salah satu kegiatan menjelang mereka Ujian Nasional.

Jika dikonversi, kelas 5 di SMART sama dengan kelas XII SMA di luar SMART.  Beberapa bulan menjelang Ujian Nasional, siswa SMART biasanya diberi pembekalan sebagai motivasi untuk menjaga semangat mereka, juga diberi kesempatan untuk refleksi diri.  Harapannya melalui refleksi diri ini, dengan memberi banyak energi positif dan membuang semua energi negatif, siswa akan lebih prima untuk tampil minimal hingga mereka lulus dari SMART.

Boot camp adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh SMART terkhusus untuk siswa kelas 5, yang dilakukan di luar lingkungan SMART.  Kegiatan ini menurut saya adalah kegiatan  eksklusif, karena selain dikhususkan untuk kelas 5, juga karena isi kegiatan di acara ini luar biasa sekali, sangat menginspirasi buat setiap orang yang mengikutinya.  Maka buat saya pribadi, mendampingi siswa-siswa memiliki kesan tersendiri.

Boot camp dilakukan selama 2 hari 2 malam.  Dan untuk mengoptimalkan program ini, kami meminta fasilitator-fasilitator dari suatu lembaga profesional.  Namun yang luar biasa, sekalipun fasilitator tersebut berasal dari luar SMART, siswa mudah untuk beradaptasi dengan fasilitator tersebut, sehingga mereka mendapatkan banyak bekal sepulang dari acara boot camp.

Dalam rangkaian acara boot camp ini, ada bagian yang begitu berkesan bagi saya untuk diingat dan juga berhikmah.  “Mencari nafkah” adalah salah satu sesi pada acara tersebut.  Siswa disebar di suatu tempat dengan modal badan mereka sendiri dan diminta untuk bisa mengumpulkan uang dengan target jumlah tertentu dan pada waktu tertentu.

Siswa bertebaran ke pasar, ke warung-warung, ke toko-toko, ke masjid, ke jalan-jalan raya  dan lain-lain untuk menawarkan jasa ataupun kemampuan kepada pemilik toko atau apapun yang diperkirakan membutuhkan tenaga atau jasa mereka, serta mereka akan mendapatkan imbalan dari hasil kerja mereka.  Intinya mereka tidak mengemis, namun mereka bisa memberikan berbagai macam kontribusi, baik tenaga, pikiran atau lainnya, sehingga jerih payah mereka nanti akan menghasilkan uang.

Salah seorang siswa, setelah berkeliling kesana kemari menawarkan jasa namun berkali-kali ditolak, maka dia berinisiatif untuk mengamen dengan modal suara yang menurutnya cukup bagus untuk didengar.   Bagus, sebutlah nama siswa tersebut.  Bagus memasuki beberapa toko ataupun kerumunan orang-orang untuk menyanyi tanpa alat musik dengan modal suara yang ia miliki dan ia yakini bisa menghibur orang-orang serta akan mendapat hasil.  Dan yang tidak kalah penting adalah modal menahan malu serta percaya diri.   Bagus pun berjalan dari satu toko ke toko yang lain untuk bernyanyi, namun begitu sedikit bahkan hampir tidak ada satupun orang yang menanggapinya.  Hingga sampailah Bagus bernyanyi di salah satu kios penjual buah-buahan.  “Permisi Pak”, begitu sapaan pertama Bagus kepada penjual buah.  Lalu dengan semangat, bagus langsung bernyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan sendiri tanpa peduli didengar atau dinikmati oleh penjual buah itu ataukah tidak.  Karena memang hanya itu modal yang ia miliki.  Namun belum lagi Bagus selesai bernyanyi untuk satu bait, tiba-tiba penjual buah tersebut memberi 2 buah salak kepada Bagus, dengan berkata:  “Sudah dek, ini salak!”.  Hal ini dipahami agar Bagus segera berhenti bernyanyi dan pergi.  “Deg” mungkin degup jantung itu yang terdengar apabila bisa didengar.  Akhirnya Bagus bergegas pergi setelah menerima salak tersebut, karena juga tidak ingin lama-lama ditonton oleh pedagang lainnya.  Maluuu itu perasaan yang ada pada saat itu.  Bagus berlari  jauh sambil mencari teman-teman lainnya yang juga sedang mengadu nasib untuk menutupi rasa malunya.

Sebenarnya bukan salak yang diharapkan oleh Bagus, karena targetnya adalah mendapatkan uang untuk memenuhi target.  Namun untuk menolak salak, juga tidak mungkin, karena memang Bagus juga merasa lapar, maka diterimanya salak itu lalu Bagus pun pergi.  Ketika Bagus bertemu dengan teman-temannya yang lain,  Bagus langsung bercerita sambil berbagi untuk makan salak.  Bagus berkata : “Aduh.., sial gua! Nyanyi belum selesai, sudah dikasih salak!! Kesel gua! Malu tau!”.  Bagus mengungkapkan perasaannya sambil makan 1 bagian salak tadi.  Karena 2 salak yang diterimanya dibagi rata buat teman-temannya.  Bagus memang merasa kalau suaranya sedang serak, tapi Bagus juga yakin, kalau saja diberi kesempatan bernyanyi minimal sampai “Ref”-nya, kayaknya asyik tuh lagu.  Tapi apa boleh buat, rupanya orang lain belum tentu paham dengan harapannya.

Rasa senang, kesan lucu sekaligus sedih bercampur menjadi satu ketika sesama siswa kelas 5 bertemu dan saling curhat.  Rasa senang muncul manakala mereka mendapat sambutan dan tawaran serta dihargai oleh orang-orang sekitar.  Rasa lucu pun muncul ketika mereka benar-benar sudah merasa mempersiapkan diri dengan baik, namun ternyata reaksi orang-orang sekitar justru sebaliknya, mereka dilihat seperti aneh. Rasa sedih pun muncul ketika mereka tidak merasa dihargai sebagaimana harapan mereka.  Sehingga bukan saja terbersit bagaimana bisa dihargai oleh orang lain, yang ternyata memang sulit mendapatkannya, juga ternyata untuk mendapatkan uang itu sulit,

Siswa kembali ke base camp dengan hasil apapun yang mereka dapatkan.  Karena ternyata bukan saja salak atau uang yang mereka dapatkan, tapi baju kotor, muka, tangan dan kaki yang juga berlumur debu putih juga mereka dapatkan sebagai hasil kerja sebagai kuli panggul beras dan terigu…  Minuman “Mijon” dan lain-lain.  Emm…, luar biasa….

Di akhir sesi mencari nafkah ini, seluruh siswa diberi kesempatan buat refleksi diri terhadap suka duka selama berada di dunia nyata.  Hampir 100% siswa mengatakan bahwa ternyata sulit sekali untuk bisa mendapatkan uang, sehingga mereka mampu menghargai uang yang mereka miliki.  Dan yang lebih menarik adalah mereka merasakan rasa  persaudaraan yang semakin erat antara satu dan lainnya di antara mereka.  Mereka merasakan senasib sepenanggungan ketika berada dalam dunia nyata dimana mereka ditantang untuk bisa mandiri.  Sementara orang-orang sekitar yang belum mereka kenal, tidak semua menilai mereka positif.  Sehingga mereka benar-benar membutuhkan support diantara mereka.

Melalui program boot camp ini, terlihat perkembangan yang baik dari para siswa.  Terbentuk konsep diri yang positif, sehingga mereka lebih tenang dan lebih giat  dalam  mempersiapkan ujian nasional dan dunia perkuliahan.  Yang juga tidak kalah penting adalah mereka mampu menjaga kestabilan persaudaraan di antara mereka.  Mereka jauh lebih kompak, lebih care, dan lebih bersahabat diantara mereka.

Subhanallah. Semoga segala ikhtiar yang dilakukan para ustadz-ustadzah buat siswa-siswa SMART bisa memberikan arti dan manfaat buat kehidupan mereka di masa yang akan datang.

with love….Zah Eka

Sharing-sharing tentang Story Telling

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Oleh: Boby Anggara, Kelas XII-IPS

Assalamu’alaikum.

Yo Sob!

Saya ingin berbagi cerita nih tentang Olimpiade Humaniora Nusantara. Eh, sebelumnya sudah tahu belum apa itu Olimpiade Humaniora Nusantara atawa biasa disingkat OHARA? Pasti tahu dong! Tapi buat kamu yang belum tahu, OHARA ialah olimpiade yang berbeda dari olimpiade-olimpiade lain yang ada di Indonesia! Sesuai dengan namanya, di OHARA, yang dilombakan adalah bermacam kompetisi yang berkaitan dengan humaniora dan kebudayaan. Jadi pokoknya seru dan gak bosenin deh.

Nah, sebelum masuk ke cerita yang ingin saya bagi, saya akan memberitahukan bahwa salah satu lomba di OHARA adalah lomba Story Telling! Ini adalah lomba menyampaikan cerita dengan menggunakan bahasa Inggris dan yang pasti ceritanya harus cerita lokal sesuai dengan tema yang ditentukan. Jadi langsung aja ke cerita, saya waktu itu pernah ikut lomba Story Telling di OHARA. Saya pernah dua kali ikut lomba tersebut ketika saya bersekolah di SMART 1 Bogor —SMART 1 merupakan filial atau cabang dari SMART Ekselensia Indonesia— lebih tepatnya pada OHARA 2014 dan 2015 lalu.

Jadi ada kenangan pahit nih, Sob. Waktu di tahun 2014, saya tampil di babak Final Story Telling dengan memaksimalkan kemampuan saya. Waktu itu saya menceritakan tentang tokoh pahlawan yang namanya pasti kita sudah tahu karena proklamasinya. Siapa itu? Ya, benar sekali! Bapak Ir. Soekarno!

Selama sekitar tujuh menit tampil, saya mendapat tepuk tangan yang lumayan meriah. Saya optimis sekali waktu itu. Saya berpikir, saya akan menang! Dan akhirnya saya hanya menunggu pengumuman di siang harinya dengan perasaan lumayan lega.

Tetapi sebuah bencana terjadi! Ternyata, tanpa diduga-duga, saya tidak mendapat juara sama sekali! Saat itu saya kecewa. Kecewa sekali. Dan apalagi, setelah mengetahui dari salah satu teman saya yang menjadi panitia lomba Story Telling, saya seharusnya mendapat juara 2. Namun, ternyata saya melebihi waktu maksimal penampilan yaitu 7 menit 10 detik! Saya lebih 10 detik! Saat itu saya amat sakit hati. Nyaris sekali!

Namun saya bisa menyimpulkan bahwa betapa objektifnya penjurian di lomba Story Telling OHARA. Walau bagaimanapun karena saya telah melanggar peraturan yang ada nilai saya dikurangi. Ya, tidak apa-apa lah, setidaknya saya sudah berusaha maksimal.

Selain itu, ketika saya mengikuti OHARA 2015 dalam lomba Story Telling lagi, di babak final saya akhirnya bisa tampil kurang dari 7 menit! Tidak ada pengurangan nilai. Dan akhirnya, alhamdulillah, bisa meraih juara 3 dalam lomba Story Telling OHARA tingkat Nasional.

Niatnya, saya ingin membalas dendam dengan berusaha mendapat juara 1 di lomba yang sama pada OHARA 2016. Namun saya sekarang sudah dipindahkan ke SMART Ekselensia Indonesia pusat, yang berarti saya tidak bisa lagi ikut serta dalam Olimpiade Humaniora Nusantara. Agak kecewa sih, tapi tidak apa-apa. Saya masih bisa ikut kok pada perlombaan lain di luar sekolah.

Nah Sob, saya rekomendasikan banget nih lomba Story Telling OHARA 2016 buat kamu yang suka bercerita menggunakan bahasa Inggris dan mencintai budaya Indonesia! Karena dalam lomba Story Telling OHARA, dijamin tidak ada kecurangan dan jurinya juga berkualitas! Ayo semua buruan daftar di Olimpiade Humaniora Nusantara 2016 dan cintai budaya bangsa!