SKS Mulai, Bersiaplah Bertarung

1

 

Oleh: Alfian, kelas 9 Angkatan 11

Mulai tahun ajaran baru (2016/2017), Angkatan 10 SMART Ekselensia Indonesia direncanakan menggunakan sistem kurikulum baru, yakni Sstem SKS (Sistem Kredit Semester). Pada tahun pertama, SMART mencoba menggunakan sistem ini untuk jenjang SMA terlebih dahulu.

SKS ini menggunakan kurikulum 2013 dan terbagi menjadi tiga bagian: 4 seri (2 tahun), 6 seri (3 tahun), dan 8 seri (4 tahun). SMART berencana akan mengambil 4 seri dan atau 6 seri. Oleh karena itu, siswa yang memiliki kelebihan pada suatu mapel, dia bisa lebih dulu lulus daripada teman-temannya. SKS ini digunakan untuk setiap mata pelajaran .

Sistem SKS tidak mengenal istilah kelas dalam penerapannya, karena lebih menekankan pada sistem IPK. Setiap mata pelajaran memiliki kriteria IPK masing-masing, jika siswa bisa mencapai IPK yang baik maka siswa tersebut dapat menentukan jumlah SKS mereka dikehendaki.

Manfaat dari sistem ini yaitu dapat mengakomodasi kapasitas siswa. Namun sistem ini ternyata memiliki kekurangan, oleh karenanya untuk mengantisipasi kekurangan tersebut SMART mengadakan beberapa persiapan antara lain pembagian tugas, Workshop SKS, pembuatan paket mata pelajaran, dan studi banding.

Untuk studi banding pihak SMART merencanakan berkunjung ke PB Soedirman, Jakarta dan Sekolah Insan Kamil, Bandung, Jawa Barat. Bukan tanpa alasan SMART menggunakan sistem ini, semua sudah dipikirkan masak-masak. Karena berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, bahwa sekolah penyelenggara CI (Cerdas Istimewa) wajib menggunakan sistem SKS. SMART akan dimodifikasi serupa kampus, maka para siswa harus bersiap dan bersaing untuk bisa lulus SMART lebih cepat. Semangat!

Berkawan Kenangan

Smart ekselensia

 

Tlah lama kita mengukir kisah
Kisah suka maupun duka
Kisah sakit maupun perih
Kisah abadi maupun semu
Sebuah kisah
Yang terangkai dalam sebuah kerangka

Kerangka nan indah
Yang tertulis dengan tinta kasih sayang
Dan melebur menjadi sebuah kenangan

Oh kawan…
Betapa berartinya kau bagiku
Betapa indahnya hidupku bersamamu
Ku tak sanggup melepasmu
Ku tak sanggup melihat kepergianmu
Karna ku takut batinku terisak tampamu
Walau ku tahu kau pergi demi keluargamu

Oh kawan…
Ku tahu kau bukan segalanya
Ku tahu ku tidak dapat bergantung trus padamu
Aku bingung melihat semuanya
Ya semua!
Ornamen-ornamen indah
Panggung yang megah
Ya! Aku bingung
Bingung karna keperihanku
Bingung karna kesedihan

Sedih karna kita tlah berpisah
Kau dengan hidupmu sekarang
Dan aku dengan hidupku
Ku rindukan kita yang dulu
Kita yang penuh kebersamaan

Kini hanya serpihan memori menemani
Kini tak ada lagi pelipur lara dalam diri
Aku sendiri dalam keramaian
Aku merindukan kita
Kita yang dulu, kini hanya abadi dalam kenangan
*Sebuah puisi yang didekasikan untuk para alumni SMART di luar sana*
(IW x AR)

Cerdas Intelektual dan Spiritual Dengan Media Sosial

cerdas intelektual

Oleh: Syahrizal, Kelas 11 Jurusan IPS.

Saat ini media sosial melekat di segala lini masyarakat. Bagaimana tidak, setiap harinya orang-orang di sekitar kita, dekat ataupun jauh, menggunakan media sosial sebagai sarana aktualisasi diri, silaturahmi, hingga berbisnis. Hal ini memastikan para pengguna media sosial menulis dan membaca isi dari media sosialnya masing-masing. Di Indonesia sendiri terdapat 83,7 juta pengguna aktif dari internet pada 2013. Hal tersebut menjadikan media sosial semakin “memasyarakat” dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa pemersatu keragaman yang ada di nusantara. Saat ini bahasa Indonesia menjadi pilihan dalam penggunaan bahasa diberbagai jejaring sosial terpopuler di dunia seperti Facebook, Twitter, Instagram, dsb.  Hal ini menjadikan semakin mudahnya pengguna media sosial menggunakan bahasa Indonesia untuk bersosialisasi. Hal yang menjadi permasalahan adalah seberapa sering kah pengguna media sosial membaca dan menulis? Bagi sebagian orang menulis dan membaca isi dari media sosialnya masing-masing merupakan kebutuhan, mengakses media sosial di mana pun dan kapan pun sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan baik di tempat umum ataupun di rumah masing- masing. Hal yang biasanya ditulis oleh pengguna media sosial adalah emosi dan perasaan terhadap lika-liku kehidupannya sehari-hari.

Semakin seringnya pengguna media sosial membaca dan menulis (terutama hal-hal yang sifatnya pribadi) pada media sosial akan menjadikan pengguna rentan menyalahgunakan fungsi dan tujuan sebuah media sosial. Pengawasan terhadap isi dan konten dari media sosial diperlukan untuk mempertahankan fungsi utama dari media sosial, yakni saling berkomunikasi dengan positif antar sesama penggunanya.

Banyak sekali pengguna media sosial yang hanya menggunakan media sosial –hanya- sebagai sarana mengobrol sesama pengguna, padahal media sosial sendiri dapat dimanfaatkan sebagai sarana berpikir kritis dan mencari jalan keluar permasalahan bangsa. Contohnya seperti tawuran antar pelajar, tawuran sendiri dapat dicegah dengan saling berinteraksi antara sesama pelajar dengan memperhatikan isi dan konten serta kesantunan berbahasa dari tulisan yang dipos. Para pelajar dapat saling berbagi pengalaman , pengetahuan dan kegiatan positif di sekolahnya masing-masing.

Sosialisasi dari berbagai pihak untuk meningkatkan budaya membaca dan menulis melalui media sosial sangat perlu untuk ditingkatkan. Kampanye kesadaran untuk menggunakan media sosial secara positif dapat  dilakukan dengan saling berbagi tulisan yang bermanfaat untuk memperkaya wawasan akan ilmu pengetahuan. Dalam menumbuhkan minat baca yang melalui media sosial, para pemegang kebijakan pemerintahan dan masyarakat dapat bekerjasama memfasilitasi seluruh rakyat Indonesia dalam mendapatkan akses yang optimal terhadap internet. Dengan ini cita-cita untuk mencerdaskan intelektual dan spiritual dapat tercapai dengan optimal dan sukses.

Pengalaman Perdana Bertugas Sebagai Duta Gemari Baca 2016

cover

Oleh: Vikram Makrif

Sebelumnya aku tak pernah menyangka jika terpilih menjadi salah satu Duta Gemari Baca 2016. Aku tahu kalau tugasku tidak mudah karena aku harus berjuang mensosialisasikan pentingnya membaca pada masyarakat. Beberapa waktu lalu aku dan para Duta Gemari Baca 2016 membuka Pojok Baca Inspirasi di Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. Ini kali pertama aku turun lapangan untuk melaksanakan tugasku sebagai seorang Duta.

Pukul 6 pagi kami sudah berangkat menuju lokasi, ternyata tidak terlalu jauh dari SMART, dan tepat pukul 9 pagi kami memulai acara, para Duta sedari pukul 07.00 WIB telah bersiap dan berdandan untuk menampilkan sebuah drama tentang pentingnya membaca, selesai persiapan akhirnya waktu kami tampil tiba juga.

Penampilan drama kami berlangsung dengan sangat baik, hal tersebut terlihat dari respon para penonton yang  memerhatikan dengan seksama dan tergelak karena melihat polah kami di atas panggung.  Bahkan setelah penampilan  drama selesai , ada anak yang ingin para Duta tampil lagi. “Kak, ada drama lagi tidak?” tanya salah satu peserta padaku. “Maaf ya dik sudah tak ada lagi,” jawabku dengan sedih. Walau kecewa namun mereka mengaku senang sekali dengan penampilan kami, Alhamdulillah.

Setelah penampilan drama, seluruh peserta menuju ke lapangan untuk bermain permainan literasi. Ada banyak jenis permainan yang disodorkan kepada anak-anak, mulai dari estafet tali, estafet bola, memindahkan gelas plastik menggunakan tali dan gelang karet, dan menyusun kalimat dengan mencari kata pada koran. Semua permainan dilakukan dengan tujuan agar kemampuan motorik mereka terasah dengan cara yang menyenangkan. Seluruh peserta juga para Duta mengikuti permainan dengan semangat, dan tak disangka permainan yang kami mainkan malah menambah pengetahuan literasi kami, sungguh pengalaman yang mengasyikkan.

Setelah istirahat dan makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan menggambar dan membuat origami untuk menghias Pojok Baca Inspirasi. Sebelum kegiatan menggambar dimulai, beberapa anak memintaku untuk bercerita. “Kak cerita dong!” pinta mereka.” Cerita apa?” tanyaku.”Cerita yang seram,” jawab mereka dengan semangat. “Cerita apa ya yang seram?” tanyaku sambil menggaruk kepala. “Itu saja kak, Conjuring!” teriak mereka. “Iya kak cerita Conjuring saja yang ke-2!”. Aku sempat berpikir namun akhirnya aku menjawab, ”Iya deh, kakak ceritakan ya,” jawabku lalu menegakkan punggung dan duduk bersila untuk bersiap menceritakan Conjuring 2.

“Di suatu malam terdengar suara perempuan dari dalam sebuah ruangan. Ruangan itu memiliki sebuah lukisan yang sangat besar. Yaitu lukisan seorang perempuan. Tiba-tiba sang pemilik rumah penasaran dengan suara yang berasal dari ruangan itu. Lalu ia mencoba untuk melihatnya. Namun tidak ada siapa-siapa,” jelasku kepada mereka yang sedari tadi memerhatikan dengan saksama. ”Tiba-tiba dari dalam lukisan terdengar KHAAAA,” teriakku sangat kencang. Sampai seluruh anak terkaget-kaget. ”Yaah kakak, jadi kaget kan,” keluh mereka. “Nah, bagaimana? Seram tidak ceritanya?” tanyaku pada mereka sambil tersenyum-senyum melihat mereka kaget. ”Tidak kak, cuma mengagetkan, lagipula aku lebih suka cerita di drama tadi karena lebih bermakna,” jawab salah satu peserta. Aku terdiam karena seharusnya memilih cerita yang lebih berfaedah hehe.

Setelah bercerita barulah acara menggambar dan membuat origami untuk menghias Pojok Baca Inspirasi dimulai. Kegiatan berlangsung hingga waktu Ashar tiba, maka kami segera berbenah merapikan buku dan menggantungkan gambar-gambar yang dibuat sendiri oleh mereka. Pojok Baca Inspirasi akhirnya rampung kami kerjakan, warga Pancoran Mas nampak bahagia karena sekarang ada perpustakaan di wilayah mereka, melihat senyum mereka membuatku makin yakin untuk menjadi duta yang lebih baik lagi.

Hari itu menjadi pengalaman yang sangat mengesankan bagiku dan juga para Duta Gemari Baca 2016. (VM x AR)

 

img_3687 img_3765

Pesta Demokrasi Bernama PEMIRA: Sebuah Catatan Harian KPUR SMART (Bagian 3)

Berkenalan Dengan CapRes OASE 2016/2017 dan Debat PEMIRA 2016

 

22 September 2016

Lapangan apel terlihat lengang karena masa kampanye PEMIRA telah berakhir. Ah kami baru ingat kalau belum memperkenalkan kalian pada kandidat dari tiga partai yang bersaing dalam PEMIRA OASE 2016, yuk kita berkenalan.

 

1. Partai Ainnurofiq.

pemira-1

Partai dengan nomor urut pertama ini digawangi oleh Muhammad Rofiq Sidiq dengan Usamah sebagai wakilnya. Pemuda yang lahir di Sragen 16 tahun lalu ini merupakan Wakil Presiden OASE periode sebelumnya dan ia telah berpengalaman diberbagai kegiatan OASE, tak heran jika banyak yang mendorongnya untuk mengikuti bursa pencalonan Presiden OASE selanjutnya. Rofiq, sapaan akrabnya, memiliki visi untuk menjadikan OASE sebagai organisasi model yang berdaya guna dan dikenal secara luas. Misinya sendiri menjadikan OASE sebagai wadah bagi para siswa dan merangkul siswa untuk membangun OASE dan SMART agar makin maju.

Doakan Rofiq agar mendapatkan yang terbaik ya

 

2. Partai Izzatul Islam

pemira-2

Namanya Ahmad Roni Erlangga, namun Panggil saja ia Roni. Lahir di Kutai Kertanegara 15 tahun silam, sejak lama ia ingin mengubah wajah OASE agar siswa SMART tak ragu untuk menyalurkan aspirasi mereka. “Visi kami ingin menjadikan OASE sebagai organisasi yang berfokus pada pengembangan potensi siswa,” ujarnya penuh keyakinan ketika kami temui disela-sela kampanye. Ia dan Aji, calon WaPres OASE, berkomitmen untuk menjadikan OASE organisasi yang kuat, kuat di dalam maupun kuat di luar SMART.

Semoga keyakinan Roni akan membawanya pada kursi panas OASE.

 

3. Partai Quratta’yun

pemira-3

Muhammad Hafizh Musyaffu merupakan calon presiden yang digadang Partai Quratta’yun dengan Syarif sebagai calon wakil presidennya. Partai ini optimis akan mendulang banyak suara dari warga SMART karena visi yang mereka usung dianggap mewakili OASE periode selanjutnya yakni mengharumkan nama baik SMART melalui OASE dan program-programnya, jika ditanya visi sudah jelas mereka akan menjelaskannya dengan gamblang karena visi mereka antara lain membuat program  master piece yang mampu mengubah OASE menjadi organisasi terdepan. Hafiz dan Syarif dikenal sebagai kandidat yang aktif berorganisasi, keduanya diprediksikan akan terus melaju menuju OASE 1.

Mari doakan keduanya agar sukses menuju OASE 1.

 

pemira-4

Nah sore ini ketiga pasangan  mengikuti Debat PEMIRA 2016 yang diselenggarakan di Aula Al-Insan. Pada acara debat kali ini ketiga pasangan akan mempresentasikan keunggulan partai masing-masing dihadapan 50 siswa SMART dan guru pendamping.

pemira-5

pemira-6

Debat dimulai pukul 16.00 WIB. Sebelum memulai debat ketiga pasangan calon diberi kesempatan menyampaikan visi dan misi selama 15 menit, oleh panelis semua pemaparan akan diverifikasi ulang kesesuaiannya dengan kondisi SMART dan OASE saat ini. Oh iya ketiga partai memiliki hak bertanya, menyanggah, dan menambahkan yang perlu ditambahkan, sayang waktu yang sempit membuat partai-partai ini terlihat kesulitan namun mereka gigih mempertahankan idealisme masing-masing.

pemira-7

Debat berlangsung cukup alot, walau alot namun debat tetap berlangsung tertib. Para kandidat dan peserta yang hadir mengikuti jalannya debat dengan damai. Namun begitu, kami Komisi Pemilihan Umum Raya (KPUR) tak mau kecolongan. Alhamdulillah Debat PEMIRA 2016 selesai dengan baik, dan kami siap menghadapi PEMIRA OASE 2016 esok hari! (AR)

 

Adaptasi Secepat Bunglon

cover

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam, Alumni Angkatan 8, berkuliah di Fakultas Hukum UNPAD

Bunglon? Siapa yang tidak mengenal bunglon? Hampir setengah dari spesies bunglon di dunia  hidup di pulau Madagaskar, dan sisanya -sebanyak 59 spesies- berada di luar Madagaskar. Seluruhnya ada sekitar 160 spesies bunglon yang hidup di dunia. Mereka berkisar dari Afrika ke Eropa Selatan dan diseluruh Asia Selatan ke Sri Lanka. Mereka juga telah diperkenalkan ke Amerika Serikat di tempat-tempat seperti Hawaii, California, dan Florida. Tapi bukan jumlah spesies dan tempat-tempat bunglon berada yang saya akan bahas pada kesempatan langka ini, yang saya akan bahas pada kesempatan ini adalah kehidupan baru saya yang harus sehebat bunglon.

Sudah banyak yang tahu kehebatan dari seekor bunglon yakni soal berubah warna, bunglon juga memiliki jiwa adaptasi yang sangat cepat. Bayangkan, hanya dalam 20 detik saja bunglon bisa menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan sekitar, sangat cepat sekali, hal itulah yang mungkin harus saya lakukan ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Bandung lebih tepatnya di Universitas Padjadjaran. Ya, saya harus beradaptasi dengan cepat.

Saya memulai hidup baru di Universitas Padjadjaran atau biasa di sebut UNPAD, setelah melewati masa “karantina” di SMART Ekselensia Indonesia. Yap! Kini saya bukan lagi seorang siswa SMART Ekselensia Indonesia yang selalu dimanja manjakan, kini saya adalah seorang mahasiswa hukum di Universitas Padjadjaran yang hidupnya penuh dengan kerumitan. Namun, Suatu kebanggan tersendiri bisa menjadi alumni SMART dan menjadi bagian dari Keluarga FH UNPAD.

Banyak sekali perbedaan-perbedaan yang saya rasakan ketika pertama berada di Universitas Padjadjaran, yang pastinya sangat berbeda dengan SMART Ekselensia Indonesia. Tidak ada lagi makan gratis, ustadz dan ustadzah yang selalu bawel dalam hal kebaikan dan juga tidak ada lagi absensi solat berjamaah di masjid. Kini benar benar berbeda, banyak yang saya dapatkan di SMART tidak saya dapatkan di UNPAD. Kini saya harus masak sendiri ataupun beli makanan sendiri, ketemu para dosen yang mungkin menjadi “pembunuh” secara perlahan dengan sikap acuhnya, tak ada lagi absensi untuk shalat berjamaah di masjid secara berjamaah. Kini segalanya serba sendiri, tak ada yang mengatur kita. Semua yang kita lakukan, kita yang menerima dan kita yang mempertanggungjawabkannya. Orang-orang disekitar kita memiliki kesibukannya sendiri-sendiri, tak ada waktu untuk mengingatkan ataupun mengurusi temannya.

Proses adaptasi sangat diperlukan ketika saya mulai kuliah di UNPAD . Tak adalagi bel masuk, guru yang mengingatkan dan sebagainya. Saya harus benar-benar mandiri dan tepat waktu. Itu sebabnya saya memberikan judul adaptasi secepat bunglon. Saya ingin bercerita tentang cepatnya saya dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, saya ingin menjadikan diri saya seorang yang mandiri tanpa harus selalu diingatkan. Hal yang saya dapatkan dari pertama kali kuliah adalah ketika kita lambat dalam adaptasi maka kita akan kesusahan untuk selanjutnya. Lupakan manja-manja yang dulu diberikan oleh sekolah semasa smp dan sma, sekarang saatnya untuk  menjadi diri sendiri dengan tujuan sendiri tanpa harus meminta minta pada orang lain. Kita adalah kita, tidak menggantungkan diri pada orang lain. Kini semua punya kesibukan sendiri-sendiri dan pastinya  tak ada waktu untuk mengurusi kita yang kesusahan.

Ada sedikit cerita, selama 2 minggu ini saya termasuk orang yang dikenal di angkatan saya. Hampir ¾ dari total 453 mahasiswa Fakultas Hukum mengenal saya, walaupun saya belum mengenal teman-teman saya sebanyak itu. Mencoba berbaur, itulah cara saya untuk dapat memiliki banyak teman. Saya belajar dari seekor bunglon, memposisikan diri dengan lingkungan. Hingga pada akhirnya kita diterima di lingkungan itu. Rasa nyaman karena memiliki banyak teman membuat saya mudah dalama adaptasi di Universitas Padjadjaran ini. Semua kemanja-manjaan saya selama di SMART mulai saya hilangkan. Kini saya bukan lagi seorang siswa, melainkan seorang mahasiswa hukum Universitas Padjadjaran. Dengan banyak teman saya rasa kesusahan yang saya alami selama di UNPAD ini akan terlewati dengan gampang, tanpa harus kesusahan.

Justru yang niatnya hanya memudahkan dalam menyesuaikan diri di lingkungan baru. Justru kini lebih dari itu, kini saya bukan  hanya dikenal oleh teman-teman baru saya di UNPAD, saya juga menjadi orang  yang dicalonkan oleh teman teman saya untuk menjadi Ketua Angkatan Fakultas Hukum 2016. Suatu kebanggaan yang saya rasakan dengan hal itu. Menjadi ketua angkatan FH UNPAD, itu sama saja saya menjadi dua kalinya Presiden OASE SMART Ekselensia. Presiden OASE hanya mengurusi sekitar 200 orang siswa, sedangkan jika saya menjadi ketua angkatan maka saya akan mengurusi 453 orang mahasiswa. Itu artinya saya mengurusi 2 kalinya presiden OASE. Saya rasa ini merupakan nilai positif dan bonus dari adaptasi yang cepat, namun saya merasa belum pantas untuk mengurusi mahasiswa sebanyak itu, belum ada keberanian dalam diri saya.

Walaupun tidak menjadi ketua angkatan, ada jabatan lain yang menghampiri saya. Hal yang saya rasa sama tanggung jawabnya dengan ketua angkatan, yaitu ketua kelas. Saya menjadi ketua kelas di mata kuliah Sosiohumaniora, mengurusi sekitar 90 orang. Sama saja saya mengurusi 2 angkatan di SMART Ekselensia Indonesia. Amanat yang saya coba jalankan dengan sebaik mungkin, mencoba untuk dikenal lebih jauh oleh teman-teman dan juga dikenal oleh para dosen.

Hewan Bunglonlah yang menjadi inspirasi saya dalam beradaptasi di kampus ini, semuanya harus cepat dan tepat. Itulah yang saya dapatkan dari seekor bunglon. Menjadikan diri sebagai bagian dalam lingkungan tersebut. Membuat orang-orang kenal dan menghargai kita, menjadi teman yang mengasyikkan untuk teman-teman kita dan menjadi orang yang mengatur lingkungan.

Hal terakhir dari tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada bunglon yang sudah menjadi sumber inspirasi saya. Kehebatannya beradaptasi menjadikan saya berani bertarung di lingkungan baru saya, terima kasih juga untuk guru-guru yang menakut-nakuti tentang kuliah dan ternyata itu benar adanya. Terima kasih untuk keluarga yang selalu mendukung dan mendoakan saya selamanya. Selain itu, terima kasih untuk SMART yang saya sadari penuh dengan kebaikan, kini tak ada lagi makan 3 kali sehari secara gratis, tak ada lagi guru-guru yang selalu mengasyikkan dan juga penuh kepedulian, serta tak ada lagi absensi shalat berjamaah. Terima kasih atas segalanya. SMART menjadi bagian dalam sejarah hidup saya, doakan saya untuk selalu sukses di UNPAD ini. Memberikan kebanggan untuk SMART Ekselensia Indonesia nantinya.

 

smartekselensia

Di Mana Ada Kemauan Di Situ Ada Jalan

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah SWT. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

Cara Menarik Hati Juri Story Telling di Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA)

FB_IMG_14731661807330515-01

Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) akan segera kami gelar pada 26-27 Oktober 2016 mendatang. Sekadar informasi, OHARA merupakan gelaran berskala nasional yang kami adakan rutin setiap tahun lho. Akan ada banyak lomba seru yang kami adakan, salah satunya Lomba Story Telling.

Nah kalau dengar kata story telling apa yang pertama kali kamu tangkap?  “Bercerita dengan menggunakan bahasa Inggris di sebuah lomba?” Benar. “Nnng kalau kegiatan yang mengasah kemampuan berbahasa dan bercerita di depan umum?” Itu juga betul kok. Pokoknya jawaban kamu semuanya betuuul.

Tapiii tahukah kamu cara menarik hati juri ketika mengikuti lomba Story Telling? Belum tahu? Kami punya tips yang berguna untuk menarik hati juri nih, yuk intip yuk:

  1. Pilih cerita yang sesuai dengan kebisaan kamu. Kenapaaa? Karena kalau kamu salah pilih cerita maka kamu akan sulit mengembangkan cerita tersebut
  2. Pahami alur cerita. Ingat! Mengerti belum tentu paham, tapi kalau kamu sudah paham maka dijamin kamu sudah mengerti. Stortel itu selalu berhubungan dengan pemahaman cerita yang kamu pilih
  3. Kuasai materi cerita yang telah kamu pilih. Menguasai cerita dengan baik akan membuatmu menjadi favorit para juri, kami jamin
  4. PD alias Percaya Diri. Percaya diri memegang peranan sangat penting. Kenapa? Karena kalau cerita dan penguasaan materimu sudah oke, tapi kamu tidak percaya diri, maka semuanya akan menguap begitu saja
  5. Berlatih, berlatih, berlatih. Latihan bercerita di depan cermin atau merekam aksi stortel-mu akan membuat bakatmu terasah. Walau sulit, kamu harus percaya dengan kemampuan yang kamu punya. Ingat (lagi)! Hanya dengan kemauan keras semua hal yang ingin kamu gapai bisa diraih, jika kamu rajin berlatih maka penampilanmu akan semakin kuat dan bukan tidak mungkin kamu akan keluar menjadi juaranya kan?

Semoga tips di atas mampu membuatmu menjadi story teller keren. Eits jangan lupa untuk mendaftarkan dirimu di OHARA 2016 di laman web kami > ohara.smartekselensia.net atau hubungi nara hubung kami di 081289917484 (Akhie).

Ayooo ikutan OHARA dan harumkan nama sekolahmu ya. SEMANGAT! (AR)

#OHARAKita

FB_IMG_14731662214405389-01

Kisah Perjuangan Melabuhkan Kapal OASE 2015/2016

cover

Oleh: Azzam, Ketua OASE Periode 2015/2016.

Pernahkah kamu membayangkan seorang nahkoda melabuhkan kapal besar melewati berbagai samudra untuk menuju tempat yang menjadi tujuannya? Pasti tidak mudah melakukannya kan? Karena sesungguhnya perjuangan yang harus dilakukan oleh seorang nahkoda yang melabuhkan sebuah kapal itu berat dan tantangannya pastilah besar.

Bagaimana tidak, seorang nahkoda lah yang harus memimpin kapal membawa seluruh penumpang beserta isinya sampai ditujuan dengan selamat , dan  ketika semua hal tersebut terlampaui perjuangan itu terasa manis, bagaikan menggenggam keberhasilan hakiki.

Begitulah yang kini saya rasakan. Saya Muhammad Ikram Azzam, telah mengabdi  di kapal organisasi terbesar di SMART yakni OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) selama periode 2015/2016. Berada di OASE terasa begitu spesial, pasalnya OASE yang saya pimpin telah tiba pada waktu berlabuh. Alhamdulillah  nilai kinerja kami 90% dari Pembina OSIS serta 80% dari kongres yang turut menghasilkan angka 8% di akhir kinerja, benar-benar membuat saya bangga menahkodai OASE. Sungguh pun satu tahun tak terasa, di awal saya dan teman-taman harus berjuang membangun OASE yang telah lama menjadi inti dari seluruh kegiatan di SMART.

Melabuhkan kapal besar OASE ke angka 85 yang dimulai dari September 2015 hingga Agustus 2016 membuat perasaan saya campur aduk, akhirnya saya dan tim berhasil melalui berbagai tantangan dan rintangan yang menghadang. Kami bangga pernah menjadi bagian dari OASE yang mampu mengubah sudut pandang kami akan organisasi intra sekolah. Berkat OASE saya belajar banyak dari kegiatan-kegiatan yang kami adakan. Saya belajar banyak seputar leadership dan juga pendekatan pada individu dan kelompok. Saya juga banyak belajar negosiasi baik di internal OASE maupun di luar OASE. Alhamdulillah semua telah terlewati. Terima kasih saya ucapkan pada semua tim OASE, tim kongres, juga para Pembina yangtelah membantu kami sampai sejauh ini

 

Saat ini saya hanya bisa berkata ”Sukses besar OASE masa bakti 2015/2016!”

Selamat bertugas untuk Ketua OASE periode selanjutnya, semangat!

 

14055028_1103720516389642_4619218639917034256_n 14102220_1103719889723038_6552155021733889547_n 14068168_1103719866389707_2720379347845584942_n 14064220_1103719886389705_3658591823409087978_n

Pembelajaran Menyenangkan di Kelas Bisa Dilakukan dengan Mudah!

Ketika saya baru saja menutup pelajaran dengan doa, seorang siswa buru-buru mendekat. Ia berjalan dengan langkah yang besar-besar. Senyumnya mengembang, menggamit tangan saya dan menciumnya khidmat sambil berkata:
“Ustad, pelajaran Matematika siang ini nggak kerasa banget. Tahu-tahu udah selesai aja!”
Saya mengusap bahunya penuh hangat dan menjawab, “Alhamdulillah kalau begitu. Kamu suka?”
Ia mengangguk, masih dengan simpul bibir yang indah sekali dipandang.
“…dan tumben-tumbenan saya tidak mengantuk sepanjang pelajaran,” katanya lagi. Kali ini, ia meringis nakal.
Saya membalas kalimat jujurnya barusan dengan tawa ringan. Ada bahagia yang dalam di rongga dada saya. Karena apa? Tentu saja disebabkan hal kecil barusan: ada siswa yang biasanya mengantuk dan jarang memperhatikan, eh tadi siang malah senang bukan alang kepalang.
Apa sih yang menyebabkan ia bisa demikian senang?
Tidak muluk-muluk sebenarnya. Saya hanya menggunakan kemampuan saya bercerita saja.
Jadi…
…ketika saya baru masuk ke kelas dan mendapati hampir semua siswa mengantuk    mungkin karena tadi mereka berpuasa dan suhu di siang hari agak panas, maka saya tidak langsung memulai pelajaran.
Tidak baik memulai pembahasan dengan kondisi siswa demikian. Apalagi ini pelajaran Matematika, di jam terakhir pula!
Saya justru menutup rencana pembelajaran yang sudah saya buat beberapa jenak, sedikit memutar otak, dan mencari cara agar mereka bisa lebih on dan bisa diajak belajar.
Aha! Kenapa tidak dimulai dengan bercerita saja! 
Ide itu muncul karena saya tetiba teringat pada seorang teman yang pernah memuji dengan ketulusan, “Salah satu kelebihan Bang Syaiha adalah, mampu bercerita dengan suara yang meyakinkan dan membuat orang mudah percaya. Jadi, kembangkan dengan baik kemampuan ini, Bang!”
Maka mulailah saya berkisah, tentang cerita rakyat dari Afrika. Tentang kijang dan singa yang harus bangun pagi-pagi sekali. Tidak boleh kesiangan. Sesaat setelah bangun, kijang dan singa harus segera berlari, sesegera mungkin dan sekencang-kencangnya.
Karena apa?
Inilah jawabannya… kijang melakukan hal demikian agar tidak tertangkap singa. Sedangkan singa, mengerjakan itu semua agar bisa memangsa kijang.
Keduanya harus segera bangun, tidak malas-malasan, dan harus bekerja keras mengeluarkan segala daya dan kemampuan.
Anak-anak mendengarkan dengan antusiasme yang tinggi ketika saya mengungkapkan kisah ini.
Melihat hal demikian, saya justru semakin semangat menyelesaikan dan menarik sebuah kesimpulan, “Bahwa kita semua punya mimpi dan harapan. Kita semua bahkan seperti kijang dan singa tadi, saling berkejar-kejaran menggapai harapan yang sudah ditetapkan.”
“Orang yang bermalas-malasan, jelas akan ketinggalan dan tidak diperhitungkan jaman. Hidup, menjadi besar dan dewasa, menua, lalu mati. Dikuburkan dan kemudian dilupakan. Orang-orang seperti ini menjadi manusia yang tidak penting sekali. Kepergiannya tidak ditangisi, tidak disesali.”
“Sedangkan kita semua, tentu tidak ingin demikian. Kita harus menjadi besar dan mampu menebar manfaat ke sebanyak-banyaknya orang. Jadilah inisiator kebaikan di tempat tinggal dan dimana saja kita berada. Jadilah bermanfaat.”
Sesimpel itulah…
Yang saya lakukan hanya kecil saja sebenarnya, bercerita di awal pembelajaran. Tidak lebih.
Tapi hasilnya, tanpa pernah saya duga, mampu memberikan semangat dan motivasi yang tinggi. Hingga siswa yang selama ini tidak bergairah belajar sekalipun, dengan jujur mengucapkan terimakasih dan bilang ia senang.
Saya lalu menjadi riang.
Semoga hal demikian bisa saya pertahankan.
Sumber: http://www.bangsyaiha.com/2016/08/pembelajaran-menyenangkan-di-kelas-bisa.html