Liburan Berkesan ala Kami

Oleh: Yudi (kelas 5 IPA) & Wildan (kelas 5 IPS)

Selama setahun sekali, kami para siswa SMART Ekselensia Indonesia akan kembali pulang ke kampung halaman masing-masing. Begitupula dengan saya, Muhammad Wahyudin Nur dan Wildan Khairul Anam. Kami berdua saat ini duduk di kelas 5, saya kelas 5 IPA sedangkan Wildan kelas 5 IPS. Saya pulang ke Karaba Indah, Karawang dan Wildan pulang ke Cibiru, Bandung.

Foto 1

Walaupun kami beda kelas, beda jurusan, dan juga beda kampung halaman (tapi masih sama-sama di Jawa Barat hehe), namun hati kami terpaut pada satu sosok guru kesayangan, Ustadzah Tri Artivining. Zah Vivi, sebutan sayang kami, merupakan guru IPS SMP di SMART Ekselensia Indonesia. Murid-murid SMART baik dari kelas 1 sampai kelas 5 mengagumi sosoknya. Beliau orang yang sederhana, murah senyum, dan juga gigih dalam mengajarkan banyak ilmu. Sayang, zah Vivi memutuskan untuk menyudahi masa kerjanya sebagai guru pada pertengahan 2014 karena harus ikut suami hijrah ke Bandung. Sedih? Itu sudah pasti, namun tidak banyak yang bisa kami perbuat selain mendoakan dari jauh, karena hanya itu yang bisa kami lakukan.

Seperti menjadi sebuah kebiasaan, tiap tahun pada momen pulang kampung saya dan Wildan berinisiatif untuk mengagendakan sowan ke tempat zah Vivi sekaligus melepas rasa rindu. Saya yang tinggal Karawang mengontak Wildan yang tinggal di Bandung untuk janji temu tanggal 04 Januari di salah satu tempat makan di Bandung. Setelah sampai di Bandung kami membeli mangga sebagai buah tangan dan langsung menuju rumah zah Vivi di daerah Cibiru.

Pukul 09.30 WIB kami sampai di rumah beliau, beliau sempat terkejut seraya mempersilakan kami masuk. Dengan senyum manis khasnya, Zah Vivi bercerita dengan riang seputar kehidupannya saat ini, beliau tidak berubah tetap semangat dan ceria seperti dulu. Setelah mengobrol panjang lebar Zah Vivi melihat gelagat aneh dari kami, gelagat lapar hehe. Namun zah Vivi tak akan membiarkan kami berdiam diri begitu saja, dengan satu komando beliau meminta kami mengupas mangga (niat awalnya kami bawa buat zah Vivi hihi), memotong pisang, membuat adonan untuk pisang goreng, lalu menggoreng hingga adonan tandas. Yes babak pertama selesai. Di babak kedua kami ke warung untuk membeli bahan-bahan masakan seperti ikan Patin, sawi, tahu, kulit lumpia, cabe, dan masih banyak lagi. Sesampainya di rumah zah Vivi kami kembali berkutat dengan kesibukan membuat makan siang, saya bertugas membuat ikan Patin goreng tepung, sayur sawi, dan bumbu batagor. Sedangkan Wildan bertugas membuat batagor. Sekadar informasi buat kalian nih, semua masakan kami buat sendiri lho (ehem tentu saja dengan resep dan “sedikit” bantuan zah Vivi hehehehe). Setelah semua masakan babak 1 dan babak 2 selesai, kami makan dengan lahapnya sampai kekenyangan, sampai sepertinya hampir tak ada ruang kosong lagi di perut. Tak ada yang lebih membahagiakan ketika bisa makan masakan sendiri bersama orang yang kami kasihi. Alhamdulillah.

Foto 2 Foto 3 Foto 4

Setelah super kekenyangan dan sulit berdiri, zah Vivi menghampiri dan memuji masakan hasil kreasi kami, wah bangganya. Karena kami tak mau merepotkan, piring dan peralatan dapur bekas memasak yang kotor kami cuci dengan hati riang. Hal itu memang menjadi kebiasaan yang ditanamkan ketika kami berkunjung ke rumah zah Vivi. “Dipaksa” masak, makan, mencuci piring, dan menghapal resep serta pulang dalam keadaan perut buncit.

Foto 5 Foto 6

Alhamdulillah tahun ini kami masih bisa berkunjung ke rumah salah satu guru kesayangan kami. Banyak sekali pelajaran yang kami dapat selama berkunjung ke rumah beliau tiap tahunnya, mulai dari perbendahaaraan resep, belajar mandiri dengan masak sendiri, belajar cara menghargai tamu, dan belajar bagaimana memanusiakan manusia. Semoga zah Vivi selalu sehat sehingga kami bisa selalu bertandang ke rumahnya.

Terima kasih zah, tetap menginsiprasi ya.

 

Tulisan ini kami dedikasikan untuk zah Vivi.

Karawang, 13 januari 2016

#YukPulangKampung

Di Mana Ada Kemauan Di Situ Ada Jalan

Oleh: Nurkholis

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah SWT. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

“Mencari Nafkah….”

Awal tahun 2013…

Setelah sekitar 7 tahun saya mengajar di SMART Ekselensia Indonesia, saya diberi amanah untuk mendampingi siswa-siswa SMART kelas 5 dalam salah satu kegiatan menjelang mereka Ujian Nasional.

Jika dikonversi, kelas 5 di SMART sama dengan kelas XII SMA di luar SMART. Beberapa bulan menjelang Ujian Nasional, siswa SMART biasanya diberi pembekalan sebagai motivasi untuk menjaga semangat mereka, juga diberi kesempatan untuk refleksi diri. Harapannya melalui refleksi diri ini, dengan memberi banyak energi positif dan membuang semua energi negatif, siswa akan lebih prima untuk tampil minimal hingga mereka lulus dari SMART.

Boot camp adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh SMART terkhusus untuk siswa kelas 5, yang dilakukan di luar lingkungan SMART. Kegiatan ini menurut saya adalah kegiatan eksklusif, karena selain dikhususkan untuk kelas 5, juga karena isi kegiatan di acara ini luar biasa sekali, sangat menginspirasi buat setiap orang yang mengikutinya. Maka buat saya pribadi, mendampingi siswa-siswa memiliki kesan tersendiri.

Boot camp dilakukan selama 2 hari 2 malam. Dan untuk mengoptimalkan program ini, kami meminta fasilitator-fasilitator dari suatu lembaga profesional. Namun yang luar biasa, sekalipun fasilitator tersebut berasal dari luar SMART, siswa mudah untuk beradaptasi dengan fasilitator tersebut, sehingga mereka mendapatkan banyak bekal sepulang dari acara boot camp.

Dalam rangkaian acara boot camp ini, ada bagian yang begitu berkesan bagi saya untuk diingat dan juga berhikmah. “Mencari nafkah” adalah salah satu sesi pada acara tersebut. Siswa disebar di suatu tempat dengan modal badan mereka sendiri dan diminta untuk bisa mengumpulkan uang dengan target jumlah tertentu dan pada waktu tertentu.

Siswa bertebaran ke pasar, ke warung-warung, ke toko-toko, ke masjid, ke jalan-jalan raya dan lain-lain untuk menawarkan jasa ataupun kemampuan kepada pemilik toko atau apapun yang diperkirakan membutuhkan tenaga atau jasa mereka, serta mereka akan mendapatkan imbalan dari hasil kerja mereka. Intinya mereka tidak mengemis, namun mereka bisa memberikan berbagai macam kontribusi, baik tenaga, pikiran atau lainnya, sehingga jerih payah mereka nanti akan menghasilkan uang.

Salah seorang siswa, setelah berkeliling kesana kemari menawarkan jasa namun berkali-kali ditolak, maka dia berinisiatif untuk mengamen dengan modal suara yang menurutnya cukup bagus untuk didengar.   Bagus, sebutlah nama siswa tersebut. Bagus memasuki beberapa toko ataupun kerumunan orang-orang untuk menyanyi tanpa alat musik dengan modal suara yang ia miliki dan ia yakini bisa menghibur orang-orang serta akan mendapat hasil. Dan yang tidak kalah penting adalah modal menahan malu serta percaya diri.   Bagus pun berjalan dari satu toko ke toko yang lain untuk bernyanyi, namun begitu sedikit bahkan hampir tidak ada satupun orang yang menanggapinya. Hingga sampailah Bagus bernyanyi di salah satu kios penjual buah-buahan. “Permisi Pak”, begitu sapaan pertama Bagus kepada penjual buah. Lalu dengan semangat, bagus langsung bernyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan sendiri tanpa peduli didengar atau dinikmati oleh penjual buah itu ataukah tidak. Karena memang hanya itu modal yang ia miliki. Namun belum lagi Bagus selesai bernyanyi untuk satu bait, tiba-tiba penjual buah tersebut memberi 2 buah salak kepada Bagus, dengan berkata: “Sudah dek, ini salak!”. Hal ini dipahami agar Bagus segera berhenti bernyanyi dan pergi. “Deg” mungkin degup jantung itu yang terdengar apabila bisa didengar. Akhirnya Bagus bergegas pergi setelah menerima salak tersebut, karena juga tidak ingin lama-lama ditonton oleh pedagang lainnya. Maluuu itu perasaan yang ada pada saat itu. Bagus berlari jauh sambil mencari teman-teman lainnya yang juga sedang mengadu nasib untuk menutupi rasa malunya.

Sebenarnya bukan salak yang diharapkan oleh Bagus, karena targetnya adalah mendapatkan uang untuk memenuhi target. Namun untuk menolak salak, juga tidak mungkin, karena memang Bagus juga merasa lapar, maka diterimanya salak itu lalu Bagus pun pergi. Ketika Bagus bertemu dengan teman-temannya yang lain, Bagus langsung bercerita sambil berbagi untuk makan salak. Bagus berkata : “Aduh.., sial gua! Nyanyi belum selesai, sudah dikasih salak!! Kesel gua! Malu tau!”. Bagus mengungkapkan perasaannya sambil makan 1 bagian salak tadi. Karena 2 salak yang diterimanya dibagi rata buat teman-temannya. Bagus memang merasa kalau suaranya sedang serak, tapi Bagus juga yakin, kalau saja diberi kesempatan bernyanyi minimal sampai “Ref”-nya, kayaknya asyik tuh lagu. Tapi apa boleh buat, rupanya orang lain belum tentu paham dengan harapannya.

Rasa senang, kesan lucu sekaligus sedih bercampur menjadi satu ketika sesama siswa kelas 5 bertemu dan saling curhat. Rasa senang muncul manakala mereka mendapat sambutan dan tawaran serta dihargai oleh orang-orang sekitar. Rasa lucu pun muncul ketika mereka benar-benar sudah merasa mempersiapkan diri dengan baik, namun ternyata reaksi orang-orang sekitar justru sebaliknya, mereka dilihat seperti aneh. Rasa sedih pun muncul ketika mereka tidak merasa dihargai sebagaimana harapan mereka. Sehingga bukan saja terbersit bagaimana bisa dihargai oleh orang lain, yang ternyata memang sulit mendapatkannya, juga ternyata untuk mendapatkan uang itu sulit,

Siswa kembali ke base camp dengan hasil apapun yang mereka dapatkan. Karena ternyata bukan saja salak atau uang yang mereka dapatkan, tapi baju kotor, muka, tangan dan kaki yang juga berlumur debu putih juga mereka dapatkan sebagai hasil kerja sebagai kuli panggul beras dan terigu… Minuman “Mijon” dan lain-lain. Emm…, luar biasa….

Di akhir sesi mencari nafkah ini, seluruh siswa diberi kesempatan buat refleksi diri terhadap suka duka selama berada di dunia nyata. Hampir 100% siswa mengatakan bahwa ternyata sulit sekali untuk bisa mendapatkan uang, sehingga mereka mampu menghargai uang yang mereka miliki. Dan yang lebih menarik adalah mereka merasakan rasa persaudaraan yang semakin erat antara satu dan lainnya di antara mereka. Mereka merasakan senasib sepenanggungan ketika berada dalam dunia nyata dimana mereka ditantang untuk bisa mandiri. Sementara orang-orang sekitar yang belum mereka kenal, tidak semua menilai mereka positif. Sehingga mereka benar-benar membutuhkan support diantara mereka.

Melalui program boot camp ini, terlihat perkembangan yang baik dari para siswa. Terbentuk konsep diri yang positif, sehingga mereka lebih tenang dan lebih giat dalam mempersiapkan ujian nasional dan dunia perkuliahan. Yang juga tidak kalah penting adalah mereka mampu menjaga kestabilan persaudaraan di antara mereka. Mereka jauh lebih kompak, lebih care, dan lebih bersahabat diantara mereka.

Subhaanallaah…. Semoga segala ikhtiar yang dilakukan para ustadz-ustadzah buat siswa-siswa SMART bisa memberikan arti dan manfaat buat kehidupan mereka di masa yang akan datang….

 

 

with love….

Belajar Pengendali Mikro (Microcontroller) Untuk Anak SMP

Oleh: Ari Kholis Fazari

Beberapa bulan yang lalu, siswa SMART Ekselensia Indonesia diramaikan dengan aksi robotika oleh klub robotika yang sengaja diundang untuk menampilkan hasil karya robotikanya. Dari peristiwa itu, saya melihat betapa besarnya antusiasme siswa SMART ketika melihat karya-karya robotika. Nurani saya pun mulai bertanya, “Kapan kira-kira siswa SMART tahu alur kerja dari robotika tersebut?”

Jika antusiasme ini diaplikasikan ke dalam tahap berikutnya, saya yakin siswa-siswa SMART akan punya karya robotika sejenis, bahkan mungkin lebih hebat dibandingkan yang telah mereka saksikan. Jalan menuju ke sana memang panjang dan akan banyak aral menerjang, namun tahap pertama bisa mereka raih jika ada ekstrakurikuler robotika di sekolah yang dikeloloa lembaga nirlaba ini. Tidak harus menghadirkan kembali tim robotika di atas agar para siswa meraih tahap pertama ini. Di SMART Ekselensia, ada seorang guru yang cukup paham materi robotika sejenis, yaitu saya sendiri: Ari Kholis Fazari.

Gayung pun bersambut ketika akhirnya Wakasek Bidang Kesiswaan melihat rona siswa yang begitu berharap bisa meniru para aksi tim robotika tersebut. Tidak sedikit siswa yang mengajukan kepada Pak Eko, Wakasek Bidang Kesiswaan, agar mulai tahun pelajaran 2014-2015 diadakan ekskul robotika. Dan Ekskul robotika pun dimulai di bawah bimbingan guru TIK SMART Ekselensia Indonesia.

Di ekskul ini siswa belajar komponen-komponen elektronika, mulai dari cara pengenalan resistor, transistor, dioda dan lain-lain. Tidak ingin berhenti di situ, suatu hari saya berinisatif mengembangkan lagi komponen yang ada karena saya yakin siswa bisa. Saya mencoba mengajarkan pengendali mikro (microcontroller).

Pengendali mikro adalah sebuah chip yang berfungsi sebagai pengontrol rangkaian elektronik dan umunya dapat menyimpan program di dalamnya. Pengendali mikro umumnya terdiri dari CPU (Central Processing Unit), memori, I/O tertentu, dan unit pendukung seperti Analog-to-Digital Converter (ADC) yang sudah terintegrasi di dalamnya.

Perkembangan pengendali mikro sendiri sangat pesat, mulai dari microprosessor MCS-51, microcontroller AT-Mega, dan microcontroller terbaru, yaitu Arduino Uno. Lantas apa yang dimaksud dengan Arduino Uno? Arduino Uno adalah salah satu dari pengendali mikro yang memiliki kelebihan dibanding pengendali mikro sebelumnya. Dalam pengendali mikro ini sudah terdapat rangkaian pengonversi rangkaian analog to digital atau ADC. Fitur ini mempermudah kita dalam membuat rangkaian elektronika, seperti sensor suhu, pengendali lampu merah, bahkan rangkaian robotika.

Alhamdulillah, antusiasme siswa semakin besar ketika saya mengajarkan materi ini. Semangat mereka begitu terlihat saat menyimak materi maupun praktik. Bahkan ada siswa yang sudah menunggu di ruangan praktik sebelum saya datang. Beberapa siswa pun tidak sungkan bertanya ketika mengalami kesulitan.

Adapun hambatan dalam menyampaikan materi ini adalah ketika saya harus menyamakan antara persepsi saya dan persepsi mereka. Hal yang lumrah karena kita tahu siswa yang saya hadapi ini yaitu siswa SMP yang tentu saja belum mampu bernalar seperti orang dewasa. Akan tetapi, saya yakin mereka adalah siswa yang sangat cerdas. Butki nyatanya adalah mereka sudah bisa membuat simulasi rangkaian, lampu flip-flop, simulasi lampu merah, sensor suhu dll. Setelah satu bulan saya mengajarkan ini, saya berharap semoga suatu hari nanti siswa SMART bisa mengakplikasikan ilmu ini dengan tepat. Saya pun berangan-angan agar suatu saat nanti para siswa marjinal ini bukan sekadar berkarya, namun mampu berlomba dan menjadi juara untuk lomba-lomba robotika.

 

Terima Kasih Pak Suroso

Oleh: Rina Fatimah (Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa)

“Rina, setelah lulus SD kamu lanjut sekolah ke mana?” tanya guruku. Pertanyaan terakhir yang masih kuingat sampai sekarang dari sosok guru terbaikku. Pak Suroso, namanya. Guru yang mengajariku sejak kelas 4 hingga aku lulus di SDN 01 Panjang Utara, Bandar Lampung. Fisiknya yang tambun dan suaranya yang besar mungkin bisa membuat anak-anak takut diajarnya. Ternyata salah, pak Suroso bagiku sosok yang penyabar, bersahaja, dan lembut terhadap anak-anak.  Mengapa aku simpulkan demikian? Karena hingga hari ini, aku mencoba untuk bernostalgia kembali dimasa SD, tak ada satu pun peristiwa yang membekas yang menunjukkan peringai buruk dari beliau. Aku hanya bisa mengingat kebaikannya, senyumnya, dan suaranya. Sesekali beliau suka meletakkan salah satu tangannya di pinggang, tapi bukan marah. Gaya tolak pinggang beliau manandakan beliau tengah asyik ngobrol dengan salah satu rekan kerjanya.

Aku paling senang Pak Suroso mengajar di kelas kesenian. Kami diajarkan tangga lagu, membaca not, dan menyanyi sesuai dengan notasi. Semua lagu yang diajarkan beliau adalah lagu-lagu wajib nasional. Makanya hingga hari ini, aku masih hafal lagu-lagu wajib nasional seperti Gugur Bunga, Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, Dari Sabang sampai Merauke. Mungkin hari ini anak-anak Indonesia sudah tidak hafal lagi karena lebih tergiur menghafal lagu-lagu tema kekinian. Memang dibanding dengan guru-guru yang lain, pak Suroso memang jago bernyanyi. Beliau memiliki suara bariton yang enak didengar. Wajar saja, kelas kami selalu tampil bagus ketika paduan suara upacara bendera. Dan aku selalu terpilih menjadi diriennya. Sampai hari ini, jika di kantorku ada acara-acara resmi, aku selalu ditunjuk menjadi dirigennya.

Pelajaran yang paling aku sukai semasa SD dulu yakni matematika. Agak aneh saja kalau ada anggapan pelajaran matematika, pelajaran yang paling menakutkan dan momok bagi anak-anak. Bersyukur, kesabaran pak Suroso mengajar kami, membuat kami paham. Tips yang paling kuingat yang diajarkan oleh pak Suroso yakni bagaimana menyelesaikan soal cerita. Pertama baca soal cerita dengan perlahan, jangan terburu-buru.  Kedua tulislah apa saja yang perlu diketahui dari soal tersebut. Ketiga tulislah apa yang ditanya dari soal. Setiap mengerjakan soal cerita, beliau selalu mengingatkan kami akan tiga langkah pengerjaan. Kalau masih bingung dengan pertanyaannya, silakan baca soalnya dan lihat kembali tulisan diketahuinya. Begitulah tips pak Suroso untuk menyelesaikan soal cerita.

Tak hanya pelajaran yang kami peroleh, sikap toleransi karena perbedaan keyakinan juga diajarkan oleh beliau. Pak Suroso beragama katolik, sebagian besar murid yang diajarkan beliau beragama islam. Pulang sekolah, aku dan teman-teman ikut les di rumah pak Suroso. Ssssstttt…bukan sembarangan les yang dijadikan sebagai pendokrak nilai raport yah. Les diberikan pak Suroso, murni untuk anak-anak yang masih ingin belajar lebih. Seingatku, tidak ada soal ulangan yang dibocorkan atau nilaiku jadi tambah bagus. Les dimulai pukul 1 siang, istirahat saat adzan ashar, dan kembali lagi sampai jam 4 sore. Kebetulan, jarak antara rumahku-rumah pak Suroso tidak terlalu jauh. Aku selalu mengendarai sepeda mini. Saat natalan, kami semua diundang ke rumah beliau mencicipi kue natalan buatan istrinya. Yah namanya masih anak-anak, aku sikat aja. Lagipula kuenya enak.

Tahun lalu, aku berkesempatan tugas di Lampung. Sudah ada niatan ingin berjumpa dengan beliau. Aku tanya kepada Ibu Dahlia kepala sekolah SDN Bumi Waras 1, Bandar Lampung yang sekolahnya mendapatkan pendampingan dari kantorku, “bu, kenal dengan pak Suroso yang tinggal di Panjang?  Dulunya mengajar di SDN 01 Panjang Utara?” tanyaku. “Kenal…beliau sekarang sudah menjadi kepala sekolah tapi bukan di sekolah itu lagi. Agak jauh dari rumahnya” jawab ibu Dahlia. Syukurlah, aku jawab dalam hati. Semoga esok hari ada kesempatan berkunjung.

Namun, sayangnya kesempatanku untuk berkunjung ke rumah beliau harus diurungkan. Karena pekerjaanku di Lampung belum juga rampung. Akhirnya… aku hanya bisa berkesempatan mampir melihat  SD ku dulu. Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk guru terbaikku, pak Suroso. Kesabaran dan kasih sayangmu masih lekat di dalam hatiku. Suaramu hingga hari ini masih jelas di telingaku. Rasanya aku ingin kembali ke masa 14 tahun yang lalu, saat aku duduk di kelas 4 SD. Semoga engkau selalu diberi kesehatan dan terus dalam lindungan Tuhan, amiiin.

1aaarinafat

Ruang kelas 6, tempat penulis menimba ilmu semasa SD. Kursi yang diduduki penulis adalah tempat duduk semasa SD dulu.

Pembelajar Sejati

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

Sekolah kami SMART Ekselensia
Kami dari Sumatra hingga Papua
Hanya satu tekad di dalam diri
Menjadi pembelajar sejati…

Bait di atas adalah penggalan reff dari mars SMART Ekselensia Indonesia. Ketika pertama kali saya bergabung dengan SMART Ekselensia pada 26 Juli 2010 dan pertama kali mendengar mars di atas, saya bergumam, “Wah keren sekali mars-nya.” Sedari dulu saya menyukai istilah “pembelajar sejati”. Bukan karena kemegahan intelektual yang tersirat dari istilah itu, melainkan spirit untuk terus membaca, menelaah, merenungi, memikirkan, dan menginsyafi, inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan istilah ini.

Pembelajar sejati merupakan penafsiran dari wahyu pertama, Iqra. Seorang pembelajar sejati mesti menginsyafi bahwa belajar tidak terbatas waktu, tempat, dan usia. Tepat sekali sabda Rasulullah SAW yang merangkan, “Menuntut ilmu itu sedari buaian hingga datangnya kematian.”

Di mana saja berada, dengan siapapun berinteraksi, seorang pembelajar sejati bisa memetik hikmah dan mereguk wawasan. Berjalan ke penjuru negeri dan mengamati perilaku manusia merupakan inspirasi untuk berkarya bagi pembelajar sejati. Peristiwa sepele dan sederhana bagi kebanyakan orang, bisa menjadi ide cemerlang bagi pembelajar sejati untuk menuliskannya. Dan, dengan tulisan itu dia berbagi inspirasi ke sebanyak mungkin orang. Lebih hebat lagi bila dengan tulisan itu banyak orang yang tercerahkan dan tersadarkan.

Itulah mengapa Al-Qur’an menyuruh kita untuk berjalan di penjuru bumi, perhatikan dan pikirkan alam semesta serta cermati dan saksamai jejak perilaku orang-orang terdahulu untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang di masa kini. Menurut penulis buku Ayat-ayat Semesta, ayat-ayat Al-Qur’an tentang semesta jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat tentang hukum. Mengapa? Karena, dengan mengamati dan merenungi semesta akan semakin menambah keimanan kita kepada Allah. Dan, berapa banyak di dalam Al-Qur’an, setelah menerangkan betapa harmoninya disain alam semesta, selalu diakhiri dengan ungkapan, “Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan”. Sebagai contoh saksamailah surat Ar-Rum ayat 22 – 26.

Oleh karena itu, sungguh ironi jika masyarakat sekarang memahami belajar adalah sekolah. Tugas orangtua selesai dengan menyekolahkan anaknya. Anak pun seperti itu, merasa telah cukup belajar dengan bersekolah. Atas nama lulus sekolah, tak mengapa ujian nasional menyontek. Bila perlu menyontek masal dan difasilitasi oleh sekolah. Pemutihan nilai rapor pun menjadi legal. Sekali lagi atas nama sekolah. Tak beda juga dengan kelakuan oknum para pegawai negeri yang mengejar ijazah demi kenaikan pangkat dan jabatan meski kuliahnya asal-asalan. Bahkan, skripsi atau tesis pun bisa jadi dituliskan oleh orang lain. Sekali lagi atas nama sekolah.

Makna belajar telah sedemikian terpalingkan dari makna aslinya. Tegas sekali yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah. Sekolah hanyalah salah satu cara dan tempat untuk belajar, namun bukan satu-satunya. Bahkan, bisa jadi sekolah (yang tidak bermutu) bisa menjadi tempat yang salah untuk belajar. Ini bukan berarti meng-absurd-kan sekolah. Tidak sama sekali. Saya hanya bermaksud untuk menyadarkan kita semua bahwa yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah.

Maka, jadikan sekolah sebagai salah satu saja sarana untuk belajar. Selain itu, belajarlah di sekolah kehidupan ini. Belajarlah di sekolah alam semesta ini. Maka, belajar tak pernah mengenal kata lulus. Kita selamanya pembelajar. Dari sini bisa dikenali mana pembelajar sejati, dan pembelajar musiman. Ketika musim sekolah dan kuliah, jadi pembelajar. Begitu musim wisuda, berhenti jadi pembelajar.

Misalnya, seorang mahasiswa yang lulus menjadi sarjana pendidikan dan kemudian menjadi guru. Lalu, karena sudah menjadi guru semangat belajarnya menjadi luntur, bahkan perlahan menghilang. Sejatinya, dia adalah pembelajar musiman. Dia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Dan, untuk sekolah yang memiliki guru-guru semacam ini, sulit untuk menjadi sekolah peradaban yang melahirkan generasi pembangun peradaban.

Menutup tulisan ini, saya ingin menceritakan seorang teman saya, lebih tepatnya senior saya, sekadar untuk memantik semangat belajar kita. Kami sama-sama lulusan UIN Jakarta. Hanya beda generasi. Dia seorang pemimpin redaksi penerbit nasional. Gelar akademisnya cukup sarjana saja. Namun, intelektualitasnya mungkin bisa setaraf doktor. Kemampuan Bahasa Inggris dan Arab-nya pun tak diragukan. Karena, ia biasa menerjemahkan buku-buku berbahasa Inggris dan Arab. Dan, kualitas terjemahannya juga berbobot dan enak dibaca. Dengan kompetensinya itu, dia kerap diundang keluar negeri untuk berbicara pada forum-forum internasional. Terakhir, beliau bercerita baru saja menjelajah beberapa negara Eropa atas undangan UNESCO, PBB.

Dari cerita di atas, kita juga bisa menginsyafi bahwa kualitas seseorang belum tentu dilihat dari sederet gelar akademis yang menyertai namanya di depan dan di belakang. Melainkan, sekuat dan sekonsisten apa dia belajar dan terus belajar sepanjang hayatnya. Selamat menjadi pembelajar sejati.

Salam,
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(GM Sekolah Model YPnDD)

Cara Menghentikan Peredaran Narkoba

Oleh: Wildan Khoirul Anam, Peraih Penghargaan Lomba Penulisan Esai Lingkungan Hidup, Sosial, dan Budaya Yang Diadakan Kedubes AS.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, zat yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pecandu narkotika atau biasa disebut junkies bertebaran di muka Bumi, termasuk di Indonesia. Dan apakah para junkies menyebabkan masalah bagi negara? Dari sudut pandang mereka, mereka tidak merugikan siapapun secara langsung. Mereka mamakai narkoba dan itu merugikan diri mereka sendiri. Namun, lain halnya jika kita berbicara tentang perdaran narkotika di Indonesia. Jelas itu merupakan masalah negara.

Menurut hasil pengungkapan Polri dalam Data Tindak Pidana Narkoba Tahun 2007-2011, data kasus narkoba berdasarkan jenis dari tahun 2007 hingga 2011 berjumlah total kasus 138.475 kasus dengan jenis Ganja, Heroin, Hashish, Kokain, Kode’in, Morfin, Ekstasi, Shabu (Meth), Daftar G, Benzodiazepine, Barbiturate, Ketamine, dan Miras. Kasus terbanyak terjadi pada 2009, kasus paling sedikit adalah untuk jenis morfin, hanya satu kasus dan itu pun hanya pada 2008.

Jika dilihat dari data di atas, kasus narkoba di Indonesia sudah sangat parah. Jika keadaan seperti ini terus menerus berlanjut, mau jadi apa generasi mendatang? Apakah masih ada generasi harapan bangsa yang kita nantikan? Ataukah hanya ada generasi pecandu narkoba yang akan memimpin Indonesia di masa mendatang? Oleh karena itu, pemberantasan narkoba perlu dilakukan. Namun bagaimana caranya? Itulah pertanyaan besar bagi kita. Bagaimana cara memberantas narkoba?

Sebenarnya sulit bagi pihak berwajib untuk menangani narkoba tanpa bantuan dari masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat punya kewajiban untuk ikut serta mencegah dan memberantas narkoba. Bagaimana cara masyarakat melakukannya? Dengan memastikan bahwa semua anggota keluarganya tidak tersentuh narkoba, sebenarnya cara itu sudah efektif jika semua keluarga melakukannya. Berapa orang di Indonesia yang tidak memiliki keluarga? Mungkin hanya segelintir yang sama sekali tidak memiliki keluarga.

Namun bagaimana jika cara tersebut tidak efekif? Apa yang harus dilakukan? Pertanyaan bagus. Apa yang harus dilakukan? Seperti yang disebutkan dalam UUD nomor 5 tahun 1997 pasal 54 tentang peran serta masyarakat. Disebutkan pada ayat satu bahwa masyarakat memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam membantu mewujudkan upaya pencegahan penyalahgunaan psikotropika sesuai dengan undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Dan ayat dua yang berbunyi masyarakat wajib melaporkan kepada pihak yang berwenang bila mengetahui tentang psikotropika yang disalahgunakan dan/atau dimiliki secara tidak sah.

Saya punya cara yang cukup mantap namun sangat berisiko dan mungkin sudah sering dilakukan oleh pihak berwajib untuk menangkap para pengedar dan pecandu narkoba. Cara tersebut saya beri nama “Bos Pengkhianat”. Berikut adalah langkah-langkahnya :

  1. Siapkan satu orang polisi yang sudah siap fisik dan mental. Untuk selanjutnya si polisi akan kita sebut dengan “The Actor”.
  2. Jadikan “The Actor” tersebut agen narkoba dan ketika dia sudah mendapat banyak klien, biarkan! Tunggu waktu.
  3. Klien “The Actor”akan semakin banyak seiring berjalannya waktu dan secara bertahap dia akan menjadi agen besar.
  4. Di dunia per-narkobaan “The Actor” akan bertemu banyak orang yang terkait sindikat narkoba.
  5. Lalu tinggal menunggu waktu sampai “The Actor”bertemu bos narkoba di Indonesia. Dan kalau beruntung, dia bisa bertemu “pemain-pemain besar” dunia.
  6. The Actor” berteman dengan bos itu lalu mereka pun jadi teman akrab.
  7. Ketika si bos akan pensiun, dia akan menyarahkan tahtanya pada“The Actor” selaku teman dekatnya. Dan ketika dia mendapatkan tahtanya, maka dia mendapat data agen-agen dan bandar-bandar di Indonesia.
  8. Dan saat itulah saatnya membuka aib per-narkobaan di Indonesia. Terbongkarlah semua rahasia yang tersimpan. Dan langkah selanjutnya setelah menangkap para junkies tersebut adalah eksekusi massal.

Kelemahan dari teknik tersebut adalah keadaan si polisi penyamar dan waktu. Cara ini akan memakan waktu yang lama namun hasilnya tidak main-main. Dan jika si polisi tergelincir sedikit saja maka dia akan menjadi di luar kendali. Namun tak masalah kita punya data pribadinya karena dia dulu seorang polisi. Saya mendapat ide ini dari film kesukaan saya yang berjudul “Homefront” yang diperankan oleh idola saya, Jason Statham.

Delapan langkah mematikan yang telah saya paparkan mungkin terdengar sangat fiksi. Namun tidak salah untuk dicoba. Dan ketika semua langkah berjalan sukses, kehidupan “The Actor” mungkin agak sedikit terganggu oleh penghianatan yang dilakukannya. Namun sebenarnya dia telah berjasa besar dan mungkin dia bisa mendapat gelas “Pahlawan Negara”.

Pemuda, Pembangun Peradaban

Oleh: Muhammad Sapei

Apa yang terlintas dalam benak dan terpikir dalam pikiran kita ketika disebut kata remaja dan pemuda? Mungkin banyak di antara kita yang berpikir bahwa remaja dan pemuda adalah masa-masa labil dan bergejolak, masanya mencari jati diri. Benarkah demikian?

Celakanya, kita, orang dewasa, membenarkan hal itu tanpa mengkajinya lebih mendalam, sehingga kita memaklumi jika remaja dan pemuda melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Kita mentolelir jika remaja dan pemuda ibadahnya tidak bagus dan akhlaknya tidak baik.

Salah satu faktor yang menyebabkan kita bersikap seperti itu bisa jadi karena teori yang kita jadikan rujukan. Kita banyak merujuk teori-teori dari Psikologi Barat tanpa membandingkannnya dengan teori dalam Psikologi Islam, bahkan lebih tegas lagi dengan Al-Qur’an dan Hadis. Data dari Barat memang menunjukkan hal itu bahwa remaja dan pemuda di Barat memang kacau; hedonis dan permisif. Hidupnya banyak hura-hura dan aktifitas yang tidak bermanfaat. Orang-orang Barat mentolelirnya sebagai masa pencarian jati diri.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau ikut-ikutan pola pikir mereka? Konyol sekali menurut saya. Akankah kita menjadikan anak-anak dan murid-murid kita hari ini menjadi korban pendidikan ala Barat? Saya tidak menafikan ada hal-hal positif dari Barat. Tetapi, poin yang ingin saya sampaikan adalah mari kita memfilternya dengan pedoman hidup kita, Al-Qur’an dan Hadis. Jangan menelan mentah-mentah teori dari Barat dan dianggap sebagai aksioma. Jika baik, kita ambil. Namun, jika buruk, tentu saja tinggalkan.

Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pemuda memiliki peran strategis bagi kelangsungan sebuah peradaban. Karena itulah, Yahudi dan Barat berusaha menghancurkan peradaban Islam dengan menghancurkan pemudanya. Mereka masuk lewat konsep-konsep pendidikan dan psikologi agar kita mengekor teori mereka. Mereka rusak pemuda Islam dengan gaya hidup hedonis dan pola pikir permisif.

Kita pun sama-sama memahami bahwa masa muda adalah masa yang (semestinya) paling produktif. Karena, tenaga sedang prima-primanya, pikiran sedang kuat-kuatnya, dan semangat pun sedang menggebu-gebunya. Maka, jika para pemuda sebuah negeri baik, maka besarlah kebermanfaatan yang akan terwujud. Sebaliknya, jika para pemuda sebuah negeri buruk, maka besar pula keburukan yang akan terjadi.

Karena itu, mari kita telaah Al-Qur’an dan sejarah untuk membantah anggapan masa muda adalah masa labil dan pencarian jati diri.

Pertama, Ibrahim as. ketika melawan tirani Raja Namrud dan menghancurkan berhala masih diusia sangat muda. Hal ini tegas dari kata “fata” yang digunakan Al-Qur’an untuk menyebut Ibrahim as. Bahkan, kata fata itu lebih muda daripada kata syabab (pemuda). Artinya, sangat muda sekali, belia.

Kedua, Yusuf as. ketika menunjukkan keimanan yang kokoh saat digoda oleh istri pejabat Mesir juga berusia sangat muda. Kita bisa bayangkan Yusuf hanya berdua dengan perempuan cantik jelita itu di dalam sebuah kamar. Tetapi, Yusuf dapat mempertahankan keimanannya.

Ketiga, Daud as. ketika ikut berperang melawan Jalut dan berhasil membunuhnya juga masih dalam usia sangat belia. Kita bisa membayangkan bagaimana Daud pada usia yang sangat belia memiliki keberanian sebesar itu menghadapi Jalut.

Keempat, para pemuda Ashabul Kahfi yang tegas mempertahankan akidahnya meski harus mengasingkan diri. Mereka juga berusia sangat belia. Al-Qur’an menggunakan kata “fityah” (jama’ dari fata) untuk menyebut mereka.

Lihat pula kisah Isma’il as., Yahya as., dan kisah Yusya, seorang yang menemani Nabi Musa as. untuk menemui Nabi Khidir as. Yusya diusia yang masih belia telah menjadi seorang ahli ilmu di bawah bimbingan Nabi Musa as.

Lihatlah, betapa para pelaku sejarah itu, orang-orang besar itu telah mendemonstrasikan kekokohan akidah dan imannya, serta keteguhan sikapnya sebagai seorang pemuda. Maka, salah besar jika masa muda dianggap sebagai masa labil dan pencarian jati diri.

Mari kita telaah lebih dalam lagi dengan mengkaji sejarah para pemuda yang mengelilingi dakwah Rasulullah saw. Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al-Kahfi yang mengisahkan tentang para pemuda Ashabul Kahfi menerangkan, “Demikianlah dakwah Rasulullah saw juga dikelilingi oleh para pemuda.”

Dari sepuluh orang sahabat Rasulullah saw generasi awal yang dijamin masuk surga hanya tiga orang yang usianya kepala tiga, yakni Sayidina Abu Bakar, Sayidina Usman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf, dua orang usianya kepala dua, bahkan lima orang di antara mereka usianya di bawah dua puluh tahun. Jelas sekali betapa anak-anak muda ini telah matang emosional dan spiritualnya. Tidak ada galau dan pencarian jati diri diusia mudanya.

Mari kita telaah lebih dekat, siapa sebenarnya aktor dibalik pembukaan Madinah sebagai pusat dakwah Islam? Merekalah enam pemuda belia. Rasulullah menemui enam pemuda ini ketika musim haji di Mekah. Seperti biasa, Rasulullah memanfaatkan musim haji untuk berdakwah mengunjungi satu tenda ke tenda lain. Hingga sampailah ke tenda enam pemuda ini yang berasal dari Madinah. Terjadilah dialog antara Rasulullah dan enam pemuda ini.

Singkat cerita, enam pemuda ini tertarik dengan Islam dan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Enam pemuda ini bertekad, “Ya Rasulullah, tahun depan di tempat yang sama dan diwaktu yang sama, kami akan datang kembali kepadamu dengan pemuda yang lebih banyak dari sekarang.”

Satu tahun kemudian, enam pemuda ini menepati janjinya. Mereka datang dengan membawa tujuh pemuda lain untuk mengingkarkan dua kalimah syahadat. Saat itulah, terjadi Bai’at Aqabah I. Dari sini saja bisa dibayangkan betapa hebatnya peran pemuda dalam dakwah. Enam orang berhasil mengajak tujuh orang. Keberhasilannya seratus persen. Tapi, mari kita telisik lebih dekat lagi.
Kemudian, 13 pemuda ini kembali ke Madinah dan melanjutkan dakwahnya. Untuk mengawal dan mempercepat proses dakwah di Madinah, Rasulullah mengutus Mus’ab bin Umair untuk menyertai 13 pemuda ini. Siapakah Mus’ab bin Umair? Ya, ia tak lain seorang pemuda belia. Setahun kemudian, 13 pemuda ini berhasil mengajak 75 orang untuk menemui Rasulullah pada musim haji dan terjadilah Bai’at Aqabah II. Cermati percepatannya, pada tahun pertama enam pemuda berhasil mendakwahi tujuh orang. Pada tahun kedua 13 pemuda berhasil mendakwahi 75 orang. Berapa persen peningkatannya?

Namun, kiprah para pemuda ini belum usai. Mereka menyusun strategi dakwah bersama Mus’ab bin Umair. Mereka merancang pertemuan Mus’ab dengan para pemimpin suku-suku di Madinah. Sampai akhirnya, Mus’ab bertemu dengan pemimpin besar suku-suku Madinah, Sa’ad bin Mu’adz. Terjadi dialog dan diskusi antara Sa’ad bin Mu’adz dan Mus’ab bin Umair. Sekali lagi cermati bagaimana Mus’ab, seorang pemuda belia, mampu menaklukkan Sa’ad bin Mu’adz, seorang pemimpin besar Madinah? Seperti apa kualitas diri Mus’ab bin Umair?

Pada akhirnya, Sa’ad bin Mu’adz memperoleh hidayah dan masuk Islam. Masuk Islamnya Sa’ad diikuti oleh masuk Islamnya suku-suku di bawah pimpinan Sa’ad bin Mu’adz. Cermati bagaimana strategi dakwah para pemuda ini. Mereka tentu tidak punya kekuatan dan bukan pemegang kekuasaan untuk memaksa warga Madinah memeluk Islam. Tapi, saksamailah bagaimana para pemuda ini mengatur pertemuan dengan para pemimpin Madinah dan mempengaruhi mereka.

Dari sinilah peristiwa hijrah yang monumental itu bermula. Tonggak awal perjuangan dakwah Islam memasuki babak baru, fase Madinah. Ternyata ada peran besar para pemuda dibaliknya. Para pemuda didikan Rasulullah saw. Para pemuda hebat yang kokoh akidahnya dan teguh keimanannya.

Karena itu, sebuah kesalahan besar jika dalam pembangunan peradaban, kita mengabaikan pemuda. Dalam konteks yang lebih kecil, dalam upaya membangun peradaban di Bumi Pengembangan Insani, peran pemuda di dalamnya sangatlah sentral. Perlu ditegaskan bahwa bukan menafikan peran para orangtua. Tidak sama sekali. Para orangtua memiliki tempat tersendiri di hati para pemuda. Merekalah para pembimbing, penasehat, dan guru bagi para pemuda.

Sebagai penutup, mari kita resapi kisah indah antara Usamah bin Zaid (17 tahun) dan Khalifah Abu Bakar (60 tahun). Kisah ini bermula dari keputusan Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang.

Menjelang wafatnya, Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang pasukan muslim untuk diberangkatkan ke Romawi Timur. Saat itu, ada beberapa sahabat yang sempat mempertanyakan. Rasulullah menjawab, “Demi Allah, Usamah pantas menjadi pemimpin.”

Usamah berangkat memimpin pasukannya. Namun, baru beberapa mil, Usamah mendengar kabar kewafatan Rasulullah saw. Usamah memutuskan kembali ke Madinah. Usai Sayidina Abu Bakar dipilih menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah saw dalam tugas memimpin negara, Khalifah Abu Bakar tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima perang dan memerintahkan Usamah untuk segera berangkat.

Khalifah Abu Bakar meminta Usamah naik ke atas kuda. Kemudian, Khalifah Abu Bakar menuntun kuda Usamah dan bermaksud mengantarnya sampai gerbang kota Madinah.

“Jangan perlakukan aku seperti itu, wahai khalifah,” ujar Usamah dan dengan sigap turun dari kudanya.

Usamah meminta Khalifah Abu Bakar yang naik ke atas kuda dan ia yang akan menuntun kuda tersebut. Namun, Khalifah Abu Bakar menolak. Usamah pun menolak untuk naik ke atas kuda. Hingga akhirnya, Khalifah Abu Bakar mengucapkan kata-kata pamungkas, “Wahai Usamah, engkau akan pergi berjihad. Maka, izinkan aku mengotori kakiku dengan debu-debu jihad.”

Lihatlah, Usamah sebagai anak muda memiliki adab menghormati Khalifah Abu Bakar. Namun, Khalifah Abu Bakar sebagai orangtua pun tahu menempatkan pemuda (Usamah) sebagai pemimpin. Indah sekali.
Bangkitlah para pemuda. Ambillah peran dan tanggung jawabmu untuk kejayaan Islam. Demi tegaknya agama Allah di bumi ini. Energimu masih besar. Semangatmu masih membara. Kobarkan dan pekikkan Allaahu Akbar!

“Tiada bergerak satu langkah pun seorang di antara kamu hingga kau ditanya empat hal, salah satunya, ‘Masa mudamu, untuk apa kau habiskan?…’”, demikian wasiat Rasulullah saw.

Salam Pemuda,
Muhammad Syafiie el-Bantanie

Ujian Nasional, Ujian Untuk Kita Semua

Wah Sobat SMART tak terasa ya Ujian Nasional (UN) telah datang lagi. Berbagai persiapan pasti telah kamu lakukan, begitupula dengan teman-teman kita di SMART Ekselensia Indonesia. Saat ini mereka sedang berjuang dan bertarung dengan soal-soal dan mata pelajaran yang menentukan kelulusan mereka. Keheningan jelas menyelimuti SMART EI, teman-teman kita yang lain seperti hilang dan tak diketahui keberadaannya. Lho memang pada ke mana? Mereka tidak ke mana-mana, hanya saja untuk menghormati kakak-kakak kelas yang sedang UN dan agar tidak menganggu jalannya UN para adik kelas belajar di tempat yang agak jauh.

Tahukah Sobat SMART kalau Setiap tahunnya SMART EI berhasil meluluskan semua muridnya, 100%! Oleh karenanya banyak pihak yang yakin kalau UN tahun ini SMART EI akan mampu meluluskan 100% murid-muridnya. Oh iya untuk kalian yang masih bingung dan bertanya-tanya: “Apa sih UN?” akan kami jelaskan sedikit nih, Ujian Nasional atau UN merupakan sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003. Nah kehadiran UN pernah menjadi momok karena beberapa tahun silam banyak sekolah yang gagal meluluskan murid-murid mereka, syukurlah sekarang sistemnya menjadi sedikit jauh lebih baik sehingga tingkat kelulusan tak seburuk tahun sebelumnya.

Setiap tahunnya banyak juga lho teman-teman kita yang stres menjelang dan saat UN tiba. Selain -mungkin- karena kurangnya kesiapan, bisa juga karena standar yang dipatok lumayan tinggi. Nah kami ada beberapa tips nih untuk kalian agar tidak stres menghadapi UN tahun depan. Yang pertama, kamu harus siap lahir batin! Jangan anggap UN sebagai sesuatu yang menakutkan, anggap saja ulangan biasa dengan soal yang lebih menantang. Kedua, persiapkan mental dan diri sebaik mungkin, karena yang tahu kapasitasmu kan hanya kamu. Ketiga, banyak-banyak berdoa karena kekuatan doa itu maha dahsyat. Keempat, jangan lupa sarapan sebelum ke sekolah, karena sarapan terbukti mampu menambah daya konsentrasi. Kelima, percaya diri dan jangan pernah menyontek! Keenam, kerjakan soal yang menurut kamu paling mudah. Ketujuh, jangan lupa bawa peralatan ujian sendiri, jadi kamu tidak ganggu konsentrasi temanmu yang lain. Semoga tips tersebut membantu kamu ya.

Kami juga mendoakan agar kalian semua juga lulus dengan nilai terbaik aamiin! Doakan kami juga ya Sobat SMART!

Tetap semangat! Tetap optimis!

Anak Muda, Orang Tua dan Sejarahnya

Keras kepala, suka memberontak, suka tantangan, dinamis, cepat dan bersemangat itulah karakter anak muda. Anak muda mencoba dulu, soal hasil belakangan. Anak muda tak banyak pertimbangan. Anak muda merupakan antitesa dari orang tua. Orang tua cenderung lambat, banyak pertimbangan, dan menyukai kestabilan.

Anak muda merupakan masa depan suatu bangsa. Namun anak muda kebanyakan minim pengalaman, tak tau sejarah bangsanya. Anak muda cenderung malas mengetahui cerita masa lalu dari bangsanya. Coba saja anak muda dminta menyebutkan 100 pahlawan Indonesia, bisa dipastikan sebagian besar akan kesulitan. Apalagi cerita tentang kerajaan Sriwijaya yang mashur dalam dunia kemaritiman, Majapahit jaya dengan kekuatan maritim. Bahkan, nenek moyang kita sebelum cerita-cerita Colombus yang mengelilingi dunia telah berlayar sampai Madagaskar dengan perahu penisi.

Sejarah tak selalu bercerita tentang hal yang ribet penuh teka teki dan konspirasi namun terkadang menggelikan. Kisah ini pasti diketahui oleh civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) dan alumninya. Saat itu UGM semakin besar, jumlah fakultas yang dikelola paling banyak dan paling lengkap, salah satunya fakultas keguruan. Fakultas keguruan memiliki ribuan mahasiswa. UGM merasa akan lebih baik ketika fakultas keguruan berubah menjadi perguruan tinggi sendiri sehingga focus dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Namun masalah kemudian muncul ketika fakultas keguruan sudah berpisah dan sedang mencari nama perguruan tinggi.

UGM geger akibat isu adanya rencana nama perguruan tinggi yang hanya dipisahkan oleh jalan selebar 5 meter itu, Hayam Wuruk. Hayam Wuruk merupakan raja yang memimpin Majapahit ketika Gadjah Mada menjadi Maha Patih. Tentu tidak lucu, kampus yang dulunya merupakan bagian dari UGM memisahkan diri, kemudian mengambil nama raja dalam satu kerajaan dan dalam satu waktu. Posisi raja dalam strata pemerintahan zaman dahulu merupakan spimpinan tertinggi di atas Patih. Sekali lagi ini soal sejarah.

Sejarah itu ibarat spion mobil atau motor. Kita bisa menengok ke belakang melihat sebagian kejadian-kejadian masa lalu. Cerita tentang masa lalu yang mengajarkan banyak hal. Kita mengambil pelajaran dari kesalahan -kesalahan masa lalu sehingga ketika kita mengalami kejadian yang sama persis dengan kejadian masa lalu kita mampu menimilisir kesalahan. Sebuah ungkapan thomas Alfa Edison akhirnya bisa kita pahami bahwa ia bahagia bukan karena ia telah menemukan bohlam lampu namun ia telah mengetahui 1000 kesalahan dalam membuat lampu.

Orang tua merupakan saksi sejarah jadi perjalanan bangsa. Orang tua memiliki pengalaman yang tidak dimiliki oleh anak muda. Namun, sering kali orang tua menyepelekan anak muda karena merasa punya pengalaman yang dimiliki oleh orang tua. Orang tua cenderung feodal dan anti kritik.

Berbagai kelebihan orang tua dan kekurangan anak muda harus dipertemukan, duduk bersama kemudian bicara tentang mimpi masa depan Indonesia.

Anak muda harus belajar dari orang tua. Belajar untuk melapangkan dada menerima pelajaran dari pengalaman orang tua kemudian membuat formula yang sesuai dengan cita rasa zaman. Anak muda harus mengikuti perkembangan zaman jika tidak anak muda terlindas oleh zaman. Namun, anak muda tak boleh melupakan sejarah karena sejarah itu akan terulang.

Orang tua pun harus legowo bahwa waktu senja bagi mereka telah dating. Saatnye mereka mewariskan ilmu dan estafet kepemimpinan kepada anak muda. Kepercayaan terhadap kualitas dan kemampuan anak muda harus ditumbuhkan dan dipersiapkan. Tidak mungkin, anak muda langsung melanjutkan estafet kepemimpinan tanpa teori, latihan dan benturan-benturan di lapangan tanpa di damping orang tua. Itulah substansi tugas sebagi orang tua. Banyak kisah tentang kehebatan orang tua namun ia tak bisa melahirkan kaderisasi anak muda yang lebih hebat dari dirinya.

Orang tua pun tak boleh egois, feodalistik ketika memilih tongkat estafet kepemimpinan hanya berdasarkan trah keturunan. Dunia saat ini semkian berkembang, ketika pemimpin dipilih hanya berdasarkan cerita masa lalu tentang kebesaran nama, perjuangan dan posisi orant tuanya dahulu tanpa memperhatikan kualitas dan kapabilitas calon penerusnya maka terompet kehancuran tinggal menunggu waktu.

Akhirnya ketika saat terbaik dalam rekayasa atau takdir pergiliran kepemimpinan datang, selamat datang anak muda masa depan milik kalian. Kemudian, terima kasih orang tua, jasa dan pengalaman kalian dalam membangun pondasi negeri akan kami kenang dan lanjutkan. Sebuah transisi yang indah tentang kerja sama antara anak muda dan orang tua.

Aza El Munadiyan
Manajer Beasiswa Aktivis Dan Kepakaran Dompet Dhuafa