Al-Qur’an dan Mahkota Kemuliaan

IMG-20160518-WA0007

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.

(GM Sekolah Model Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, Penulis 48 Buku)

Basyir, demikian remaja asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini biasa disapa oleh guru-guru dan teman-temannya di SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI). Ahmad Basyir Najwan, demikian nama lengkap pemberian orangtuanya, adalah salah seorang siswa SMP  SMART EI yang berprestasi pada dua bidang keilmuan sekaligus. Yakni ilmu Agama dan ilmu umum. Pada bidang ilmu umum, Basyir adalah finalis Olimpiade Sains Nasional cabang IPA. Sedang, pada bidang ilmu Agama, Basyir telah memiliki hafalan Al-Qur’an di atas 20 juz.

Terkhusus untuk hafalan Al-Qur’an Basyir memang bercita-cita menjadi hafizh. Ia ingin menghafal Al-Qur’an 30 juz. Karena itulah, Basyir mengikuti program Takhasus Tahfizh di SMART EI. Ia ingin memberikan hadiah terindah untuk Ibu dan Ayahnya. Yakni, mahkota kemuliaan di surga kelak. Ia ingin memuliakan Ibu dan Ayahnya dengan hafalan Al-Qur’annya.

Basyir menyadari betapa besar jasa orangtuanya, terkhusus Ibunya. Ibunya bersimbah darah dan bertaruh nyawa saat melahirkannya. Sakitnya saat melahirkan membuat ribuan syaraf sang Ibu seolah terputus. Rasa sakit yang hanya bisa ditanggung oleh perempuan. Bahkan, laki-laki yang secara kasat mata fisiknya lebih kuat, tak akan sanggup menanggung sakitnya melahirkan.

Begitu sang anak lahir, Ibu spontanitas menyunggingkan senyumnya yang berbuncah. Seolah hilang rasa sakit itu seketika. Sang anak diciumi dengan hangat. Hari-hari selanjutnya Ibu terus melimpahi sang anak dengan kasih sayang. Disusui hingga 2 tahun. Di rawat dan dibesarkan dengan harapan sang anak kelak menjadi anak saleh yang berbakti.

Maka, sebuah kewajiban bagi anak untuk berbakti kepada Ibunya. Menjadi tempat bersandar bagi Ibunya dihari senjanya. Menjadi tumpuan harapan saat kesendiriannya. Menjadi syafaat di akhirat dengan kesalehannya. Inilah yang terukir di hati Basyir. Ia ingin Ibunya bangga memiliki anak sepertinya. Maka, hadiah terbaik yang ingin dipersembahkan itu adalah hafalan Al-Qur’an secara sempurna 30 juz.

Lahir di tengah keluarga kurang beruntung secara ekonomi tidak membuat Basyir kehilangan cita-cita. Berbekal doa dan semangat dari orangtuanya, setelah dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa SMART EI, Basyir mantap merantau ke Bogor untuk sebuah misi besar sebagai muslim. Menuntut ilmu di SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School. Sebuah sekolah jenjang SMP dan SMA yang didirikan oleh Dompet Dhuafa sebagai kontribusi nyata untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan.

Sejak berdiri 2004 hingga kini 2016, SMART EI telah meluluskan 7 angkatan dengan torehan 100% lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri. Harapannya anak-anak ini kelak bisa memutus rantai kemiskinan keluarganya. Tidak hanya itu, kelak anak-anak ini pun diharapkan bisa berkontribusi bagi umat, bagi anak-anak kurang beruntung lainnya untuk memperoleh pendidikan yang baik.

Kembali ke cerita Basyir. Ketika menginjakkan kaki di SMART dan mengawali proses pembelajaran, anak ini memang sudah terlihat kecerdasannya. Semua mata pelajaran selalu mendapat nilai bagus. Belajar bersama para guru yang berdedikasi adalah nikmat yang sangat disyukurinya. Di SMART EI pula minatnya untuk menghafal Al-Qur’an mulai tumbuh dan berbunga. Ust Syahid, guru Tahfizh, adalah orang yang selalu mengompori Basyir untuk menghafal Al-Qur’an. Guru Tahfizh yang juga Shivu Thifan Po Khan ini memang terkenal “tukang kompor” yang positif bagi murid-muridnya. Terkadang anak-anak diajak menghafal Al-Qur’an sambil berlatih jurus-jurus Thifan.

Basyir sangat menikmati proses pembelajaran Al-Qur’an di SMART EI. Tak heran perkembangan hafalannya berjalan cepat. Saat ini Basyir duduk di kelas 3 SMP SMART EI dan telah memiliki hafalan Al-Qur’an lebih dari 20 juz. Targetnya sebelum lulus SMA SMART EI, Basyir telah menyelesaikan hafalannya. Berkat hafalan Al-Qur’annya, Basyir memperoleh hadiah umroh dari sebuah bank syariah pada Desember 2015 lalu.

Teriring doa dari kami, nak. Semoga kau segera menyelesaikan hafalan Al-Qur’anmu dan menghadiahkannya untuk Ibumu, terutama untuk almarhum Ayahmu. Semoga pula sekolah ini semakin berkah dengan lahirnya para penghafal Al-Qur’an yang saleh. Semoga pula kebaikannya turut mengalir kepada guru-guru yang berdedikasi mengajarkan ilmunya di sekolah ini.

Mahasuci Allah dan segala puji hanya untuk-Nya.    

Ramadhan Berkah di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Farid Ilham.

Kelas 5 Jurusan IPA

 

DSC_0158Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, itu memang betul, ya betul karena berkahnya gak main-main. Mulai dari shalat sunat yang pahalanya seperti shalat wajib, dll. Pokoknya segala kebaikan yang dinilai Allah baik – insha Allah- pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan.

Sebagai siswa SMART Ekselensia Indonesia, saya bisa dibilang aktif karena mengikuti banyak ekstrakulikuler *pret! Salah duanya adalah nasyid dan Trashic alias Trash Music. Di bulan Ramadhan saya dan teman-teman  mendapatkan banyak berkah dari dua ekstrakulikuler tersebut. Seakan sudah menjadi kebiasaan  tim Trashic dan nasyid akan banyak orderan di bulan penuh berkah tersebut *asek. Begitupun dengan Ramadhan 1436 H kemarin, macam artis kami banyak penggilan ke sana dan ke sini.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, tapi karena kayaknya kebanyakan jadi saya tulis tiga cerita saja yang menurut saya paling berkesan di dalam dompet saya, eh hati saya maksudnya, uhuk. Yang pertama adalah cerita ketika Trashic tampil di Desa Cilincing, Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Indonesia, Bumi, Galaksi Bima Sakti. Nah kalau gak salah saat itu masih awal-awal bulan Ramadhan, saya dan teman-teman diundang oleh Remaja Masjid Sunda Kelapa untuk menghibur masyarakat dan juga tamu yang datang. Konon katanya masjid ini lekat sekali dengan sejarah Raden Fatahillah –Kalau gak salah sih-. Yang unik dari tempat kami tampil kala itu ya lingkungannya, kami tampil di pinggir laut. Semula saya pikir akan berhadapan dengan pemandangan dan aroma laut yang khas, namun saya gak nyangka ternyata baunya semerbak sekali alias bau. Sebelum tampil saya dan teman-teman sempat berkeliling dan terkejut karena mendapati air lautnya  berwarna hitam dan sampahnya bejibun. Mungkin hal itulah yang menyebabkan timbulnya bau menyengat seperti bau ikan asin bercampur sampah yang usianya ratusan tahun, Subhanallah.  Yasudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk kembali karena giliran kami tampil telah tiba, acara ini diisi oleh banyak pengisi acara, sayang penontonnya seperti tak antusias malah cenderung sepi. Semua berbeda ketika kami tampil, luar biasa, Allahu Akbar! Warga yang tadinya tak antusias mulai berdatangan, mulai dari yang imut-imut sampai yang gak imut, dari yang muda sampai yang gak muda lagi berkumpul membentuk kerumunan, bahkan kalau saya tak salah ingat ada yang naik sampai ke atap masjid untuk menonton kami. Bangganya kami. Setiap kali selesai bermain kami diminta main lagi, jadilah kami main sampai sebulan di sana, hehe bercanda. Tampil maksimal sudah, saatnya kami pulang, namun penonton seperti enggan melepas kami. Tapi mau bagaimana lagi kami harus pergi karena sudah semakin larut dan perjalanan menuju asrama masih panjang. Akhirnya kami berpamitan diiringi lagu Indonesia Raya, lah, tepuk tangan maksudnya.

Cerita kedua masih tentang Trashic. Ini cerita ketika saya dan tim Trashic manggung di Hotel Sultan, Jakarta. Kami jadi pengisi Ramadhan Fair, ada banyak kegiatan di acara tersebut seperti buka bersama. Karena hotelnya bukan hotel ecek-ecek maka hidangannya pun tidak main-main, pokoknya ntap! Karena jarang menyantap makanan sekelas itu kami jadi kalap dibuatnya, semua kami cicipi dari ujung ke ujung. Perut super kenyang, hati sangat senang. Di acara tersebut turut hadir mbak Terry Putri sebagai pembawa acara, ia makin cantik semenjak berhijab, jadi saja saya pengin foto bareng hehehehe. Setelah selesai tampil kami dibekali kue-kue yang banyak sekali, Alhamdulillah ada oleh-oleh untuk kawan-kawan di asrama.

Nah cerita ketiga ini tentang grup nasyid kami yang bernama Voicexelensia (ribet yah namanya hehe). Kala itu kami diminta untuk tampil di acara santunan anak yatim dan dhuafa yang diadakan MNC TV, kami tampil dihadapan ratusan tamu undangan termasuk kawan-kawan kami di SMART EI karena mereka semua diajak berpartisipasi. Awalnya kami hanya tampil untuk satu segmen, setelah selesai tiba-tiba seorang kru MNC TV memanggil kami dan kami diminta untuk tampil dihadapannya. Waw ternyata ia merupakan salah satu kru inti DMD Show yang tayang tiap Selasa-Kamis pukul 19.00 WIB, tak disangka kami disuruh tampil di acara DMD Show, kami senangnya luar biasa karena bisa tampil di teve. Saking senangnya sampai kami menelpon orang tua kami satu-satu hahahaha. Menurut kru yang bertugas kami harus tampil pukul 20.00 WIB, ternyata pukul 20.00 WIB acara DMD Show baru mengudara dan kami baru akan tampil pukul 22.00 WIB, sedaaaap sedap ngantuk. Sebelum tampil kami di-make up bak selebriti, lumayan akhirnya merasakan di-make up-in make up artist hehe. Ketika waktu tampil tiba kami deg-degan karena banyak sekali artis di sana, tapi kami cuek saja bahkan gak mikirin hasilnya bagaimana, yang penting tampil ketemu JuPe. Sudah hahahaha. Tapi karena tampilnya malam, kami yakin sebagian teman, keluarga, bahkan karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan pasti telah terlelap, namun tak apalah. Keesokan harinya tim Nasid Voicexlensia mendadak jadi artis di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan, ternyata ada karyawan yang merekam performa kami dan menyebarkannya, wah begini ya rasanya jadi artis hehe.

Dan Ramadhan 1436 H kemarin menjadi Ramadhan terakhir saya di SMART EI…

Selama di SMART EI pengalaman seperti ini akan selalu saya kenang, sebenarnya masih banyak pengalaman menyenangkan lainnya yang tak akan saya lupakan. Berada di sini bagaikan berada di rumah sendiri, saya dan kami semua diayomi dan disayang bagai adik sendiri. Sebentar lagi waktu saya akan berakhir, saya akan lulus dari SMART EI. Rasa sedih pasti akan saya rasakan, namun saya akan terus mengingat semua hal indah yang saya dapat selama di SMART EI.

Tahun Tahunku di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Yudi

Kelas 5 Jurusan IPA

 

10423883_1046184145445609_2216341307783267451_nAku tidak tahu apakah pemikiranku benar atau salah, aku berpikir SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah yang berbeda dengan sekolah berasrama lainnya. Layaknya Taman Mini Indonesia Indah (TMII)  yang merangkum seluruh adat dan budaya setiap provinsi di Nusantara, begitu pun SMART Ekselensia Indonesia. SMART EI adalah miniatur Indonesia yang merangkum ratusan kepribadian serta bermacam cara pandang. Selama lima tahun menjalani masa-masa indah di kampus biru SMART Ekselensia Indonesia banyak pengalaman yang kudapatkan.

Teringat  pada tahun pertama, aku hanyalah seorang bocah yang duduk memikirkan rumah. Mungkin aku akan terus dalam posisi itu apabila seorang Bali tak menyapaku, ia mengajakku berkenalan dengan yang lainnya. Yap itulah pelajaran pertamaku dari anak Bali yang kutemui di hari pertama. Darinya aku belajar bahwa teman itu dicari, didatangi, tak ada orang yang tertarik dengan si pendiam yang membosankan. Di tahun pertama juga aku belajar caranya waspada, terutama waspada ketika bermain bola. Terdengar aneh sih tapi tak mengapa hehe. Pertama kali bermain bola di SMART EI, aku langsung mendapatkan pengalaman tak mengenakkan, tendangan kakak kelas yang super kencang mengenai perutku dan membuatku perutku nyeri. Lalu pernah juga gawang setinggi dua meter menimpa kakiku, mau tahu rasanya? Sakiiit, sakitnya lebih sakit dari sakit hati hahaha. Di tahun yang sama aku akhirnya merasakan hukuman karena aku melanggar aturan, aku dihukum karena aku meladeni seorang lelaki kelahiran Padang yang mudah naik darah dan mudah tersulut amarahnya, namun dari situ aku belajar banyak terutama belajar meladeni orang lain dengan melihat kepribadian mereka.

“Ceritanya di tahun pertama saja nih?” Tentu saja tidak, di tahun kedua bahkan aku belajar lebih banyak lagi di SMART EI.  Sebut saja ia “kesabaran”, aku jadi teringat ketika tak sengaja aku menendang seorang teman yang hendak mengikuti lomba, lagi-lagi aku kena hukum dan membuat temanku kesusahan, kesabaranku diuji karena musibah seperti tak ada habisnya menerpaku.  Belum selesai dengan itu semua sekarang tiba masa di mana aku mulai bosan dengan yang namanya belajar, sehingga nilai-nilaiku buruk di semester pertama. Seperti itulah kehidupan tahun keduaku.

Di tahun ketiga aku dikejutkan dengan banyak hal, salah satunya ketika keunggulan semua siswa SMART EI diuji, di akhir tahun kami harus menghadapi UKK dan UN dan kami harus mengulang materi SMP lalu kembali memperkuat materi kelas 1 SMA, tentu saja tidak mudah, apalagi bagiku yang saat itu sedang bosan. Bahkan nih di semester pertama aku menempati peringkat bawah kelas, fuh mau tak mau aku harus berusaha lagi.  Di akhir tahun nilai UN ku ternyata kurang bagus bahkan bisa dibilang buruk, namun nilai raporku menempati 5 besar di kelas.

Hingga akhirnya tiba di tahun keempat, aku mengikuti tiga organisasi sekaligus saat itu. Dengan berorganisasi banyak hal kudapat, salah banyaknya organisasi mengajarkanku tentang  bagaimana harus –makin- bersabar menghadapi ketidakpatuhan adik kelas dan menghadapi ego kakak kelas di organisasi, memutar otak mencari solusi agar organisasi tetap berjalan baik tanpa masalah, bermusyawarah untuk mufakat, dan memutuskan hal sulit yang kadang dianggap mudah. Selain itu organisasi mengajarkanku membuat acara yang tadinya terlihat musathil menjadi nyata dan prosesnya sungguh menyenangkan, di sinilah hidup terasa benar-benar hidup. Tahun keempatku melelahkan, tapi juga menyenangkan. Mungkin ini tahun terbaik untukku. Mungkin.

Namun diantara semua tahun yang aku jalani di SMART EI, tahun kelima merupakan tahun yang paling melelahkan. Aku dan teman-temanku harus rela meninggalkan organisasi yang kami bina, harus rela meminimalisasi kegiatan yang kurang bermanfaat karena kami harus fokus pada Ujian Nasional (UN), SNMPTN, dan SBMPTN. Hari-hariku dipenuhi dengan belajar, belajar, bimbingan, belajar, bimbingan. Agak monoton dan sedikit membosankan, tapi aku harus melakukannya demi masa depan yang lebih baik. Di tahun kelima ini aku belajar bagaimana belajar bersabar pada level yang lebih tinggi lagi. Lima tahun di SMART EI sungguh merubahku menjadi pribadi yang lebih baik, dan tak terasa ini adalah tahun terakhirku, waktuku di sini tinggal sebentar lagi. Sedih? Jelas namun aku juga harus terus maju.

Buatku SMART EI bukan sekadar hanya sekolah, pulang ke asrama, tidur, makan, shalat. Bahkan di sini akan ada waktu ketika kami tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan bahkan tidak kembali ke asrama dari sekolah yang hanya berjarak sangat dekat. Namun semua kenangan di SMART EI tak akan pernah aku lupakan. Semua kebahagiaan, kesedihan, kebersamaan, persaudaraan, bahkan rasa kesal akan tetap kusimpan sampai kapan pun. Setiap tahun di sini mengandung makna dan pelajaran yang kelak akan berguna saat aku pergi meninggalkan kampus tercinta ini.

 

11 Mei 2016

Pusing memikirkan SBMPTN, doakan aku ya

Saya dan SMART Ekselensia Indonesia

WhatsApp-Image-20160513(1)

Oleh: Muhamad Reza Alamsyah,

Angkatan 7, saat ini berkuliah di Unpad jurusan Bahasa dan Sastra Inggris

 

”Friendship is not something you learn in SCHOOL. But if you haven’t learned the meaning of FRIENDSHIP, you really haven’t learned anything.”
Muhammad Ali

Kalimat pembuka yang sangat sok-sokan ya hmm. Biarkan terlebih dahulu saya bercerita sedikit mengenai siapa saya sebenarnya. Nama lengkap saya Muhamad Reza Alamsyah, angkatan 7 SMART Ekselensia Indonesia (kami mengidentitaskan diri sebagai INDIERS), berhasil lulus dengan selamat pada tahun 2015, dan sekarang berkuliah di Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Iya, memang belum lama.

Rasanya baru kemarin saya berangkat meninggalkan Makassar, kota kelahiran saya, dengan berat hati sambil membawa tekad kuat untuk mencapai sukses. Sangat klise memang, tapi begitu manis, apalagi untuk seorang anak yang baru memasuki usia 12 tahun pada saat itu.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di SMART Ekselensia Indonesia dan mengetahui saya akan berada di sini selama lima tahun ke depan yang tentu bukan waktu yang singkat, saya langsung diserang rasa takut dan sedih secara bersamaan sehingga berkeinginan kuat untuk berhenti melangkah dan lebih baik pulang saja ke Makassar. Tapi, ya tentu ada tapinya, setelah beberapa bulan merasakan atmosfer yang betu-betul sebuah hal baru bagi saya, kesadaran bahwa saya tidak akan sendiri melangkah dan mengingat betapa banyaknya orang di kampung saya, khusunya keluarga, yang mengharapkan masa depan yang cerah bagi saya, keputusan untuk menetap sambil melanjutkan perjuangan akhirnya bulat.

Saya dipertemukan dengan anak-anak yang Subhanallah dalam banyak hal. Melakukan banyak kegiatan bersama membuat saya tidak ada keraguan untuk menganggap mereka sebagai sahabat atau mungkin lebih jauh, sebagai saudara baru, yang akhirnya dipertemukan di sekolah ini.

Masih amat jelas melekat mengenai begitu banyaknya kisah yang kami alami bersama. Kami pernah menundukkan kepala sambil menggerutu dalam hati ketika dihukum massal oleh Anggota KOPASSUS atas kesalahan kami yang katanya menjadi contoh buruk bagi adik kelas kami. Pernah juga menangis jika mengingat atau diingatkan mengenai keluarga yang jauh di sana oleh ustad atau ustadzah kami yang entah sengaja atau tidak, dan juga tertawa puas atas lelucon-lelucon lama yang sebenarnya tidak terlalu lucu tapi entah bagimana jadi lucu dan segar kembali untuk dibahas. Berkelana ke berbagai tempat yang dulunya hanya bisa kami saksikan melalui layar kaca dan mengagumi indahnya dari sana. Pulang balik sekolah-asrama setiap hari, bertemu orang-orang yang sama, tempat-tempat yang tak ada ubahnya dengan hari kemarin, kegiatan yang itu-itu saja, tapi cerita di setiap harinya, yang pasti berbeda, PASTI.

Kami melalui semua hal selama lima tahun di SMART Ekselensia bersama-bersama, hingga akhirnya wisuda hadir dan mengubah segalanya. Momen penanda akhir perjuangan kami di sekolah yang penuh cerita dan kenangan indah, yang paling kami nanti-nantikan di awal perjuangan, tapi menjadi salah satu yang paling menyedihkan yang pernah kami alami, setidaknya saya pribadi. Wisuda menyadarkan kami, bahwa lima tahun bukanlah waktu yang sangat lama, bahwa kita akan hidup sendiri-sendiri dan tak lagi bersama, bahwa semua yang pernah kami lakukan akan tinggal menjadi cerita, bahwa tak akan ada lagi dihukum bersama, isak tangis menggemuruh, atau lelucon basi yang menjadi segar. Kami dihadapkan pada realitas bahwa berkumpul bersama kelak tidak semudah biasanya, harus menyesuaikan waktu kosong, tidak ada lagi teman sekamar yang akan terganggu atas kikikan tawa puas teman lainnya, dan harus keluar untuk menghadapi hidup sesungguhnya.

Mereka menjadi alasan kedua saya setelah keluarga di rumah atas bertahannya saya di SMART Ekselensia Indonesia hingga akhir dan tentu saya berkewajiban berterima kasih kepada mereka atas semangat dan dukungan itu. Kelak, ketika saya telah mencapai sukses yang saya definisikan dan hidup dengan keluarga baru, saya akan mengajak anak-anak dan istri-istri, eh, istri, saya ke SMART Ekselensia Indonesia. Menunjuk dengan bangga ke arah sekolah yang megah itu, sambil berkata, “ Di sana, di setiap sudutnya, ada cerita menarik yang terpendam, tentang orang-orang jauh yang disatukan, serta menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang pernah lemah namun bangkit tak kenal lelah.”

Memang ada benarnya kata-kata petinju tenar di atas, pertemanan bukan hal yang kita pelajari di sekolah bersama matematika dan sebagainya, tapi kalau kita tidak mempelajari arti pertemanan, kita sungguh tidak belajar apa-apa. Terima kasih SMART, terima kasih INDIERS.

 

Sincerely,

-Calon Duta Besar Indonesia untuk Inggris

 

Hakikat Haru Perpisahan

Oleh: Kabul Hidayatulloh.

Kelas 11 IPS Angkatan 8

 

Saat kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 1436, entri kedua, yang akan kita jumpai adalah kata ‘Temu’ sebagai kata dasar ‘Pertemuan’. Sedangkan, saat kita mencari kata ‘Pertemuan’ di dalam kamus, antonimnya tentulah akan didapati kata ‘Perpisahan’.

Tentu saja semua yang di dunia mempunyai sisi berkebalikan. Ada pertemuan, tentu ada perpisahan, dan diantara keduanya pasti ada perasaan bahagia dan sedih.

Begitu pun  dalam masa perjuangan di SMART EI. Begitu banyak kata pertemuan yang kemudian diiringi dengan perpisahan. Mulai dari pertemuan dengan pengajar maupun dengan kawan seperjuangan. Hanya saja, rasanya ada sebuah variabel tetap ketika perpisahan kembali muncul, haru dan sedih. Baik pada pihak yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan. Atau dua-duanya.

Sebagai contoh dalam setiap momen prosesi perpisahan kelas akhir akan ada banyak hujan air mata –atau bahkan badai- karena suasana haru yang begitu menusuk. Entah karena kami (adik kelas atau guru) merasa sedih akan ditinggal, atau wisudawan yang tak sepenuhnya rela meninggalkan kampus penuh cinta berisi kenangan selama 5 tahun.

Tak hanya prosesi wisuda kelulusan, tetapi  juga pada perpisahan-perpisahan yang lainnya. Seperti misalnya ketika seorang guru harus meninggalkan SMART EI. Masih teringat sekali saat seorang ustadz (panggilan kami untuk guru lelaki) tiba-tiba berpamitan di masjid setelah Shalat Ashar. Bisa dibilang sang ustadz tidak terlalu dekat dengan kami semua, kebersamaan dengan beliau selama di SMART EI pun bisa dihitung bulan, akan tetapi entah kenapa saat menyampaikan permintaan maaf sebagai bentuk perpisahan matanya terlihat bekaca-kaca, seperti menahan keharuan. Momen yang tidak biasa kalau menurut saya. Ketika saya hampiri di kelas, di wajahnya jelas terlihat rasa berat hati meninggalkan SMART EI.

Lain halnya dengan seorang ustadzah yang sudah lebih dari 4 tahun mengajar di SMART EI. Saat itu kami tengah melaksanakan apel pagi, setelah selesai beliau berpamitan pada kami semua, menyatakan kepindahannya.  Suasana  seketika hening, kesedihan membawa kesunyian yang mengalahkan panasnya terik matahari pagi itu. Semua terdiam melihat beliau mematung di hadapan kami seperti kehilangan kata-kata.  Lalu beliau tersenyum, di kejauhan kami bisa melihat butiran air mata membasahi pipinya. Suasana semakin sendu, kami membeku penuh haru.

Entahlah hal apa yang memberatkan langkah serta hati mereka ketika meninggalkan SMART EI. Entah faktor apa yang membuat seorang ustadz yang tabu jika terlihat sedih, seketika berkaca-kaca meninggalkan kami. Entah hal apa yang menjadikan seorang ustadzah yang selalu terlihat tegar seketika membeku, perbendaharaan katanya mendadak hilang ketika berpamitan pada kami. Hal tersebut tak terjadi sekali dua kali, namun seperti menjadi tradisi ketika ada yang meninggalkan SMART EI.

Analisis saya, mungkin interaksi sehari-hari di SMART EI menumbuhkan rasa cinta yang mendalam bagi orang yang berada di dalamnya. Walaupun sepertinya selama masih “resmi” menjadi keluarga SMART EI rasa cinta itu belum terlalu terasa, malah mungkin yang ada hanyalah rasa kesal dan jengkel. Namun mungkin itulah lika likunya. Saya menerka, mereka yang pergi meninggalkan SMART EI  merasakan sesuatu yang amat abstrak bernama cinta (atau mungkin faktor lainnya selama berada di sini). Perasaan yang selama ini hanya dapat saya terka-terka nampaknya mulai muncul kebenarannya, di penghujung masa perjuangan ini seakan-akan terhampar semua kenangan penuh cinta di SMART EI. Ada rasa entah apa namanya yang membuat hati terasa sulit menerimanya dan membuat sesak dada.

5 tahun adalah waktu yang lama, tetapi terasa sangat sebentar saat berada di ujung jalan seperti ini.

Setahun yang lalu ketika wisuda kakak kelas Angkatan 7, salah seorang pegawai Dompet Dhuafa Pendidikan ikut bersedih melihat kelulusan mereka, padahal ia baru beberapa bulan saja di sini. Ternyata hari itu akan datang juga pada saya, sebentar lagi saya akan lulus dan meninggalkan SMART EI. Sang pegawai yang dulu bersedih ketika melihat Angkatan 7 diwisuda, sekarang selalu terlihat berkaca-kaca ketika kami, Angkatan 8, ribut membicarakan wisuda dan kelulusan. Waktu cepat sekali berlalu. Dan memang berat mengakuinya.

Bagaimanapun juga ini semua adalah ketentuan Sang Maha. Ada pertemuan tentulah ada perpisahan. Saya jadi teringat, dulu ada seorang ustadz yang mengajar hanya 90 hari, namun ia berlinang air mata saat berpamitan. Ia berpesan: “Pertemuan dan perjumpaan adalah kehendak-Nya, kalaupun rasa kasih sayang telah tumbuh bukan hal yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan kembali”.

 

Parung, 01 Mei 2016

Kala hujan dan kala mempersiapkan diri menghadapi try out SBMPTN di sekolah.

 

Aku dan Lomba Matematika

Oleh: Muhammad Fatih Daffa.

Kelas 11 IPA Angkatan 8

 

DSC_0136

Namaku Fatih, nama lengkapku Muhammad Fatih Daffa. Saat ini aku duduk di kelas 11 (setara kelas 3 SMA kalau di sekolah lain) jurusan IPA, angkatan 8. Teman-teman mengenalku sebagai orang yang jago matematika, padahal bisa dibilang nggak terlalu jago juga. Bahkan nilai UN matematika SMP ku pun ada yang melampaui. Aku juga bukan orang pertama yang pertama kali meraih piala olimpiade lomba matematika di angkatanku. Namun bisa dibilang kalau aku lumayan berpengalaman dibandingkan teman-teman seangkatanku karena aku sering ikut perlombaan matematika baik tingkat regional hingga internasional.

Dulu, pertama kali ikut lomba matematika aku langsung disandingkan dengan kakak kelas (kak Beny angkatan 6 & kak Fadhly angkatan 7), saat itu aku yang masih baru merasa sangat gugup, yah sebut saja aku si anak bawang yang masih belajar. Tak disangka ternyata kami meraih juara 1 Lomba Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Senang? Tentu saja aku senang karena ini kali pertama untukku menyumbangkan piala untuk sekolah, dan sejak saat itu aku yakin ini awal yang baik untukku.

Beberapa bulan kemudian aku beserta lima temanku mendapat kesempatan untuk mengikuti Olimpiade Sains Kota/Kabupaten (OSK) tingkat Kabupaten Bogor bidang matematika. Kami pun dikumpulkan dalam kelompok Enrichment OSK Matematika. Kami mempersiapkan diri kurang lebih 3 bulan. Dari 6 orang anggota enrichment, 3 orang merupakan kakak kelasku di Angkatan 7, sedangkan 3 sisanya merupakan Angkatan 8 termasuk aku di dalamnya. Belajar, belajar, dan belajar, sampailah kami di hari pelaksanaan OSK, kami semua berangkat penuh harap. Namun aku merasa ketika sampai di sana hanya mengerjakan, selesai, dan pulang.

Selama enrichmet ada satu kakak kelasku yang selalu menonjol dan selalu terlihat paling unggul, bahkan ketika OSK tiba tetap ia yang diunggulkan. Namun ketika pengumuman betapa kagetnya aku karena akulah yang lolos ke babak selanjutnya dan menjadi wakil SMART EI untuk bidang matematika. Tak ada yang menyangka kalau aku berhasil masuk dengan menyabet juara 3, itu tandanya siap tak siap aku kudu memberanikan diri melaju ke Olimpiade Sains Propinsi (OSP) di Bandung, Jawa Barat.

Sebelum melaksanakan OSP kami, para peserta terpilih, dikumpulkan dalam Training Centre (TC). Di sana kami belajar bersama, saling berbagi pengalaman, dan saling mengukur kemampuan. Di sana pula aku tersadar bahwa ternyata banyak sekali orang-orang hebat yang kemampuannya jauh di atasku. Aku kembali tersadar, ternyata aku tak sehebat yang kuduga. Aku mulai merasa minder, rasa percaya diriku luruh, tak mampu optimis.

Benar saja, aku tak lolos.

Beberapa minggu setalah pengumuman OSP berlalu aku memutuskan untuk lebih serius. Setiap ada lomba -terutama yang ada matematikanya- aku selalu diikutsertakan. Dari lomba-lomba yang aku ikuti aku mendapatkan banyak hal baru, termasuk teman baru. Aku dan dia selalu bertemu di lomba yang kami ikuti dan ia selalu keluar menjadi juara pertama. Ia pernah bercerita kalau setiap malam ia selalu mengerjakan minimal satu soal yang baru juga sulit, semua ia lakukan dengan hati riang tanpa beban sejak kelas 3 SD.

Aku takjub, aku banyak belajar darinya.

Sejak saat itu aku bertekad bahwa aku harus selalu berusaha dengan baik, tak peduli bagaimana hasilnya. Aku sangat percaya bahwa usaha terbaik yang kukerahkan akan memberikan hasil terbaik, dan itu merupakan “bonus” yang Allah SWT berikan untukku.

 

#SMARTSemangat

Laporan TO

IMG_3794

“Insyaallah akan ibu bantu untuk acara ini, tapi ibu pelajari dulu ya, insyallah hari senin sudah ada kejelasan ibu pilih paket mana” jawab ummi hani setelah kami bertanya tentang pilihan paket kontrapretasi. Presentasi proposal yang cukup memuaskan untuk ukuran siswa kelas 2 SMA yang sedang mencari dana untuk acara “kecil-kecilan” yang mereka buat. Kami—siswa kelas 2 SMA program IPS—telah merencanakan acara “kecil-kecilan” ini selama berminggu-minggu.

Ya, kuulangi, kami siswa kelas 2 SMA telah merencanakan acara yang cukup besar untuk ukuran kami yang belum berpengalaman. Inisiator acara ini adalah guru kami sendiri, ustazah Nurhayati, yang akrab disapa zah Yati atau Bunda yati. Beliau adalah guru bahasa indonesia di sekolah kami, SMART Ekselensia Indonesia, sekolah akselerasi, berasrama dan bebas biaya yang pertama di Indonesia. Diusung oleh Dompet Dhuafa untuk para generasi penerus indonesia yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata namun orangtuanya memiliki keterbatasan dibidang finansial.

Belajar di SMART Ekselensia Indonesia tak ubahnya penggodokan di kawah Candradimuka. Tak pernah ada kata membosankan, biasa atau yang lainnya disini. Selalu penuh kejutan, penuh tantangan, juga sarat dengan pembelajaran. Pembelajaran SMP-SMA yang seharusnya 6 tahun disingkat menjadi 5 tahun membuat kami tak hanya berlari disaat yang lain berjalan. Namun memacu dan mematahkan batas-batas yang orang lain anggap tak mungkin.

SMP-SMA yang ditempuh selama 5 tahun bukannya membuat kami setiap hari harus duduk di kelas dan mendengar ceramah dari guru—ini rahasia kita, hal yang kusebutkan tadi adalah hal yang paling ku benci di sekolah—namun banyak sekali peran yang harus kami jalankan selain menjadi pelajar. Mulai dari tukang laundry (kami nyuci sendiri, lho), event organizer (kami memiliki acara tahunan yang berskala nasional, Olimpiade Humaniora), Artist (banyak sekali pilihannya, mau jadi penari, pemain musik, penyanyi dll) hal itulah yang membuat kami tak pernah bosan untuk menimba ilmu di SMART Ekselensia Indonesia. Kembali ke acara yang kami adakan. Sebenarnya ini adalah usul guru bahasa indonesia kami kala belajar tentang proposal. Yah, kalian pasti tahu apa itu proposal, namun mungkin kalian belum pernah mempresentasikannya pada calon sponsor, mengurus tetek-bengek acara, menerima komplain dari guru pendamping peserta, kan? Nah, dari pada kami hanya belajar dikelas, mendengarkan penjelasan guru— sudah kubilang, aku benci yang satu itu—dan tertidur ditengah pelajaran, lebih baik praktek langsung. Lebih seru, menantang dan juga mendapatkan pelajaran yang kita takkan pernah dapat jika hanya mendengarkan penjelasan guru.

Lalu setujulah semua anggota kelas untuk membuat acara alih-alih mendengarkan penjelasan panjang lebar dari guru—yang sudah kubilang, itu membosankan—dan memacu adrenalin kami hingga tingkat tinggi. Awalnya kami sekelas—yang berjumlah 20 orang—dibagi menjadi 2 kelompok yang akan mengadakan 2 acara yang berbeda. Sempat terjadi ketegangan antara kami dengan guru kami, karena kami berpendapat tak mampu untuk membuat acara yang berpanitia 10 orang. Sebelum ketegangan berlarut-larut terjadi kompromi diantara kami. Akhirnya kami sepakat untuk membuat acara TryOut untuk siswa kelas tiga SMP yang berpanitiakan seluruh anggota kelas 4 IPS. Masalah baru muncul, awal bulan mei nanti siswa-siswi kelas 3 SMP akan melaksanakan UN, sementara itu kami memiliki jadwal kegiatan yang cukup padat di bulan april, maka diputuskanlah bahwa acara akan diadakan pada hari minggu, 10 april 2016 satu-satunya akhir pekan yang bebas dari acara lain.

Dimulailah perencanaan acara dari awal, rapat-rapat sampai begadang, pembuatan proposal, dan seterusnya. Setelah perencanaan selesai, kami siap mencari sponsor untuk acara yang akan kami buat. Seluruh warga kelas ditugaskan untuk mencari sponsor ke berbagai perusahaan. Aku dan dua temanku mendapat tugas untuk mempresentasikan proposal kami pada seorang pengusaha yoghurt yang kebetulan adalah ibu dari kakak kelas kami yang sudah lulus. Kami yang awalnya malu-malu untuk presentasi mendapat kepercayaan diri setelah mendapat sambutan yang hangat oleh tuan rumah. Tak disangka, calon sponsor kami langsung memberi respon positif atas acara yang akan kami buat. Beliau menyanggupi saat ditanya akankah beliau akan bekerjasama dengan kami. Namun belum sampai keluar nominal berapa yang beliau sanggup tanggung. Kejutan selanjutnya adalah ternyata tak hanya kami disambut dengan ramah, namun saat kami pulang kami dibekali dengan seplastik besar yoghurt beserta pesan untuk membagikannya di asrama.

Tak terasa sudah di H-2, atmosfer acara sudah mulai terasa, tegangnya saat memastikan kedatangan peserta, mempersiapkan logistik acara, dan seabrek keperluan lain yang dibutuhkan untuk suksesnya acara ini. Lebih sering bekerja jaauh malam tak membuat kami tumbang, namun malah memacu semangat kami. Karena bukan hanya siswa yang ikut andil dalam persiapan malam tersebut, namun guru kami juga. memang bukan ustazah yati sendiri yang mengontrol pekerjaan kami, namun ada seorang guru bahasa inggris yang rumahnya dekat dengan sekolah sehingga dapat mengarahkan kami. The Moment of Truth datang, keriuhan acara yang hanya sekitar 6 jam itu sukses membuat kami bernegosiasi dengan kasur lebih lama dari pada biasanya. Meminjam istilah Tere Liye di Kau, aku dan sepucuk angpau merah, hari itu tak hanya fisik yang di forsir, namun juga perasaan yang seakan dibawa mobil jip ber-offroad ria. Tak terasa, aku yang bertugas sebagai penanggung jawab dokumentasi selesai mengerjakan tugas di acara itu, namun bukan berarti selesainya acara itu selesailah kewajiban kami. Kami (masih) harus membereskan seluruh tempat yang digunakan untuk acara. Namun segala lelah seakan menguap saat mendapat apresiasi dari guru Bahasa Indonesia kami, Ustazah Yati atas acara yang telah sukses kami jalankan.

DSCN0289 DSCN0303 DSCN0315 DSCN0228

FL2SN SMP 2016. Kami Bisa!

Pukul 05.30 WIB kami sudah rapi jali, sudah makan pagi, lalu menyiapkan bermacam perlengkapan yang akan kami bawa untuk kegiatan hari ini (19/03). Pukul 06.00 WIB akhirnya kami meluncuuur ke tempat dilaksanakannya kegiatan. Mau ke mana sih? Nng ikuti tulisan kami di bawah ya.

Hati riang mengiringi keberangkatan kami, namun macet yang teramat sangat karena jalanan sempit serta menanjak ditambah panas tetiba sangat membuat kami mual dan perasaan campur aduk itu terus mengiringi perjalanan kami pagi tadi ke SMPN 1 yang terletak di Ciawi, Kabupaten Bogor. Hari ini 25 teman kita yang berasal dari kelas 1 & 2 SMP mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa SMP (FLS2N) Kabupaten Bogor Sob, FL2SN sendiri merupakan ajang yang rutin diadakan tiap setahun sekali oleh Dinas Pendidikan lho. Setiap tahunnya kami mengirimkan kontingen untuk unjuk kebolehan sekaligus membawa nama SMART Ekselensia Indonesia agar makin dikenal. Nah siang tadi kami cukup terkejut karena yang mengikuti FLS2N ini mencapai 1300 peserta yang berasal dari berbagai sekolah di Bogor dan sekitarnya. Wow. Tapi karena kami sudah siap jadi kami tak takut untuk bersaing.

Ada 10 lomba yang kami ikuti antara lain Lomba Desain Poster, Lomba MTQ, Lomba Cipta Cerpen Bahasa Indonesia, Lomba Story Telling, Lomba Seni Lukis, Lomba Cipta Puisi, Lomba Desain Motif Batik, Lomba Baca Puisi, Lomba Debat Bahasa Indonesia, dan Lomba Seni Musik Tradisional. Alhamdulillah kami bisa mengikuti semua perlombaan dengan sangat baik.

Namun diantara semua lomba yang ada, Lomba Seni Musik Tradisional menjadi yang paling banyak menyita perhatian. Bagaimana tidak Sob, ketika peserta lain hanya membawakan satu instrumentalia lagu daerah ketika tampil, kami membawakan tiga instrumentalia lagu daerah  (Manuk Dadali, Cing Cangkeling, dan Tokecang) sekaligus yang dibawakan remix. Kebayang dong kerennya? Hehe. Penuh semangat kami bermain hingga GOR tempat kami unjuk gigi seketika disesakki penonton. Setelah selesai tepuk tangan riuh membahana memenuhi GOR yang penuh gema, waah senangnya, terima kasih kak Haidar untuk bimbingannya.

Kami saat ini masih dag dig dug karena keputusan pemenang dari tiap lomba yang kami ikuti belum keluar. Kami berharap semua kerja keras dan latihan kami selama beberapa minggu terakhir ini akan setimpal, aamiin. Tapi jikalau ternyata gelar jawara untuk melaju ke babak selanjutnya tak kami kantongi setidaknya kami telah berjuang dan berusaha . Doakan kami ya Sob.

#SMARTSemangat

 

20160419_083401-1 20160419_083614 20160419_084019 20160419_120224 20160419_121218 IMG-20160419-WA0004 IMG-20160419-WA0005 IMG-20160419-WA0006 IMG-20160419-WA0007 IMG-20160419-WA0008 IMG-20160419-WA0009

From Nothing to Something

Muhammad Fatih Daffa’ siswa SMART Ekselensia Indonesia angkatan ke-8 yang berasal dari daerah Lumajang, Jawa Timur. Remaja yang akrab disapa Fatih ini merupakan siswa panutan adik kelas dan rekan-rekannya, karena  karakter dan kecerdasannya. Remaja yang ramah, dan rendah hati (hummble), mempunyai cita-cita kelak menjadi seorang ulama saintis. Dia mengagumi sosok kepribadian, leadership dan kecerdasan  Presiden RI ketiga, yaitu Dr. Ing BJ Habibie dan ulama besar nan kharismatik Imam Syafi’ie. Tokoh idolanya ini sangat mempengaruhi motivasinya untuk berkiprah baik di asrama maupun di sekolah.

Putra ke-4 dari 9 bersaudara yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang berprofesi sebagai tukang jahit dan ayah sebagai pegiat sosial di lingkungan desa tempat tinggalnya, telah tumbuh dan  bermetamorfosa menjadi seorang calon generasi penerus bangsa Indonesia yang mempunyai karakter dan kompetensi. Remaja yang hobi membaca segala jenis buku serta piawai dalam menulis juga terlatih dalam bermain musik, bernyanyi (Nasyid) dan juga gemar menghafal Al-Qur’an . Selama mengenyam pendidikan di SMART telah banyak tinta prestasi yang sudah ditorehkan, baik dalam bidang akademik maupun non akademik, diantaranya meraih merit award (penghargaan  untuk 5 besar)  bidang matematika di Singapura dan tampil mendendangkan lagu bernafaskan Islam di MNC TV secara live.

Selain Fatih, ada alumni SMART Ekselensia Indonesia lainnya yang telah bermetamorfosa, yaitu Nurkholis yang berasal dari Waingapu Nusa Tenggara Timur. Pasca dari SMART Ekselensia Indonesia, Nurkholis diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesai (FK-UI) melalui jalur tanpa tes (SNMPTN) dan saat ini sedang menempuh semester ke-7.  Kholis – begitu sapaan akrabnya, tinggal di Dusun Manubara, Waingapu, Sumba Timur NTT. Nurkholis dididik dan tumbuh dalam sebuah keluarga sederhana, ayahnya  sebagai penjual kue.

Kedua remaja tersebut mengalami metamorfosa dan transformasi  setelah dididik dan dibimbing dalam sebuah sekolah inkubator SMART Ekselensia Indonesia. Fatih dan Kholis  tumbuh dan berkembang sebagai pembelajar sejati dan perubahan nyata baik dari karakter maupun kompetensinya. SMART Ekselensia Indonesia  telah mengubah anak seorang pegiat sosial dan penjual gorengan yang awalnya selalu merasa minder (inferior) menjadi pribadi yang percaya diri, multi talent, pengetahuan  keagamaan lebih mendalam,  leadership, rajin menghafal Al-Qur’an dan baca Hadits. Di  asrama mereka belajar tentang, kemandirian,  kebersihan, peduli terhadap sesama, soft skill (public speaking, debate, adab) dan hard skill (menjahit, berkebun, wirausaha), dan empati.

Dua kisah diatas menggambarkan bagaimana sekolah SMART Ekselensia Indonesia berkomitmen untuk mengubah mindset dan metamorfosa siswa from nothing to something sesuai dengan bakat dan minatnya menjadi lebih produktif dan kontributif. Komitmen itu tercantum dalam sebuah misi yaitu melahirkan lulusan yang berkepribadian Islam, berjiwa pemimpin, mandiri, berprestasi, dan berdaya guna. Komitmen tersebut di support oleh ketulusan guru-guru yang mempunyai kompetensi (kreatif, inovatif), karakter, memahami dunia remaja (parenting) dan juga harus memahami tumbuh kembang anak, sehingga bisa menemukenali minat dan bakat anak.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah bebas biaya, berasrama dan akselerasi ( SMP & SMA 5 tahun ) pertama di Indonesia. Diresmikan pada 29 Juli 2004 dengan lokasi di Jalan Raya Parung KM 42-Bogor, Jawa Barat. Sekolah ini merupakan salah satu organ yayasan  pendidikan Dompet Dhuafa, yang merupakan sekolah menengah setingkat SMP dan SMA khusus bagi siswa laki-laki lulusan Sekolah Dasar atau sederajat  yang memiliki potensi intelektual tinggi namun memiliki keterbatasan finansial. SMART Ekselensia Indonesia selain memperoleh akreditasi A (BNSP) juga sudah bersertifikat ISO 9001 : 2008 sejak 27 Februari 2013 oleh SAI Global.

Untuk menghadapi tantangan global dan program Indonesia Emas 2045,  SMART Ekselensia Indonesia menyadari bahwa tantangan yang dihadapi sangat komplek dan  kompetitif, maka SMART berikhtiar terus memperkuat fondasi dasar dengan menyuguhkan kurikulum sekolah dan asrama yang lebih terintegrasi, agar menghasilkan lulusan yang berkarakter dan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan global.

Salah satu ikhtiar untuk meningkatkan kompetensi global, SMART Ekselensia Indonesia menjalin kemitraan  dengan Diaspora E-Class – Indonesia Diaspora  Network (IDN) dalam bentuk program “Diaspora Online Conversation Class”,  dimana dalam program ini siswa SMART Ekselensia Indonesia belajar bahasa Inggris secara virtual via skype dengan Mahasiswa/i yang ada di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Australia. Jalinan kemitraan lainnya dengan Queen Marry, Jepang dalam program ini siswa SMART Ekselensia Indonesia belajar bahasa Jepang secara virtual via skype.

Selain itu, reliability merupakan salah satu dimensi kualitas SMART yang harus didukung dengan kurikulum  komprehensif yang memadukan sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan asrama (internat/boarding school). Kurikulum menjadi panglima yang menjadi pedoman yang mengarahkan pembentukan siswa yang berkarakter, berjiwa pemimpin,  mandiri,  berprestasi, dan berdaya guna. Sistem active learning  yang diterapkan dalam setiap pembelajaran dan  didukung dengan  suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) dan moving class, sehingga mampu menjaga tradisi lulusannya diterima 100% di PTN terakreditasi A. [MS]

Labelling

Oleh: Ana Mariana Mujahid

 

Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah dan memberikan sepucuk surat kepada mamanya. Ia berkata “Guru saya memberikan surat ini pada saya dan berpesan agar surat ini hanya diberikan pada mama.”

Dengan airmata berlinang, sang ibu membacakan isi surat tersebut “Anakmu terlalu jenius, sekolah ini terlalu sederhana dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk melatih dia. Ajarilah dia secara langsung.”

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas Alva Edison pun sudah meninggal. Ia sekarang sudah menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yang dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya. “Anakmu punya masalah. Ia sangat bodoh. Kami tidak mengizinkan lagi untuk datang ke sekolah ini selamanya.”

Edison menangis berjam-jam dan menulis ini di buku hariannya. “Thomas Alva Edison adalah anak gila yang oleh seorang pahlawan yaitu mama saya, diubahnya menjadi yang paling jenius sepanjang abad.

Terlepas dari akurat atau tidaknya cerita yang saya dapatkan dari media sosial di atas, isi ceritanya mengingatkan saya pada istilah labelling. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan “kamu, nakal sekali sih!” “bodoh, begitu saja tidak bisa”, “dasar pemalas!” dsb, baik itu dari orang tua, guru ataupun teman sebaya. Nakal, bodoh, malas bisa dikategorikan sebagai bentuk labelling atau pemberian cap terhadap seseorang atau sesuatu.

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak atau seseorang untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, menyebutkan seseorang yang telah melanggar hukum sebagai seorang kriminal. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah disebut sebagai anak bodoh, anak yang sering mengganggu temannya disebut sebagai anak nakal. Atau anak yang tidak mengumpulkan PR disebut pemalas dll.

Dalam teori psikologi sosial, labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A handbook for The Study of Mental Health, label adalah definisi yang ketika diberikan pada seseorang menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu. Terkadang yang menjadi masalah adalah dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat label tersebut sebagai gambaran keseluruhan, bukan gambaran perilakunya satu per satu.

Labelling ada dua macam, label negatif dan label positif. Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labelling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga terhadap perlakuan orang tua atau orang-orang di lingkungan anak itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik (http://ruangpsikologi.com/topic/labeling-pada-anak/).

Hal ini juga berlaku pada seorang pendidik (guru). Seperti cerita Thomas Alva Edison di atas yang terlanjur di cap bodoh oleh gurunya karena kerap tertinggal dalam pelajaran, padahal sebenarnya Edison tidak bodoh. Namun di tangan yang tepat, yakni ibunya yang justru memberi label positif pada anaknya, Edison menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah dengan 1093 hak paten.

Dalam makalah HERLINA/LABELING_DAN_PERKEMBANGAN_ANAK-salman.pdf. Labelling negatif memberikan dampak melalui tiga cara. Pertama, melalui self labelling (self concept). Menurut Sigmund Freud konsep diri berkembang melalui pengalaman. Terutama perlakuan orang lain terhadap diri sendiri secara berulang-ulang. Dengan menerima label “nakal” dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal. Dan anak akan mengukuhkan konsep tersebut dengan menampilkan perilaku tertentu yang menurut anggapan umum disebut perilaku anak nakal.

Kedua, melalui persepsi orang dewasa terhadap anak. Persepsi yang berupa, apapun yang anak nakal lakukan pastilah negatif. Walaupun anak berusaha menampilkan perilaku positif , namun dianggap ada niat tersembunyi, atau persepsi “pasti ada maunya nih”, atau “ah paling cuma hari ini dia begitu, besok pasti sudah nakal lagi” sehingga tidak diapresiasi oleh orang dewasa. Hal ini bisa membuat anak frustasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya.

Ketiga, melalui perilaku orang dewasa terhadap anak. Orang dewasa yang sudah menganggap atau melabel anak negatif, tidak memberikan peluang pada anak untuk berubah. Misalnya dengan ungkapan “sudahlah tidak usah dinasihati lagi, buang waktu saja. Anak itu memang nakal, dan tidak akan berubah.” Akibatnya anak makin tidak tahu mana perilaku yang bisa diterima masyarakat dan terus berperilaku negatif.

Sebagai seorang pendidik sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mendidik anak menjadi orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan mengembangkan bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak didik agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Dalam teori psikososial, erikson mengatakan bahwa dalam diri individu ada dua kutub yang akan berkembang pada setiap tahap perkembangan anak, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub mana yang akan berkembang sangat tergantung dari stimulasi lingkungan yang diterimanya. Bila lingkungan memberikan stimulasi yang negatif seperti pemberian label negatif maka kutub negatiflah yang akan berkembang, begitu pula sebaliknya. Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk menjadi yang terbaik.

Ada beberapa cara yang berupa stimulasi positif dalam mendidik anak yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru, diantaranya; memberi atau memanggil dengan nama atau julukan yang baik. Memberikan respon yang spesifik, maksudnya berikan respon terhadap perilaku anak bukan pada kepribadiannya. Memberikan pujian dan hukuman secara tepat. Jangan berlebih dan jangan kurang, berikan pujian dan hukuman jika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan. Pujian dan hukuman pun harus disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin anak, misalkan anak laki-laki usia dua tahun akan senang jika diberi permen beda halnya dengan anak usia 12 tahun yang lebih suka jika diberi tas baru daripada permen.

Berikutnya adalah konsisten dalam memberikan pujian ataupun hukuman karena inkonsisteni malah akan membuat anak bingung menentukan perilaku yang harus dilakukan dan terakhir jangan lupa untuk memberikan pemahaman mana yang boleh dilakukan dana mana yang tidak boleh dilakukan.

Terakhir saya tutup dengan mengutip kata-kata dari Lawrence G lovasik “if you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word think a kind thought.”

 

Semoga bermanfaat.