,

Membekas di Kalbu Kenangan Ramadanku di SMART

Membekas di Kalbu Kenangan Ramadanku di SMART

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumni SMART Angkatan 10 berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum 2018

“…waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Segera bangun dan santap sahur di kantin!” seru seorang wali asrama kami yang membangunkan siswa-siswa tercintanya untuk santap sahur melalui pelantang suara.

Hari itu masihlah sangat gelap. Ayam-ayam pun belum sempat berkokok tanda mentari masih malu-malu menampakan dirinya. Akan tetapi, kami sudah harus bangun dan bersemangat memulai aktivitas di bulan penuh ampunan ini. Santap sahur secara bersama mengawali aktivitas harian kami kala itu. Sebenarnya tidak ada perasaan sahur yang berbeda dengan sahur di bulan-bulan lainnya, karena di asrama pun kami sudah dibiasakan sahur untuk menjalankan puasa sunnah. Lantas, setelah dirasa cukup kenyang, kami langsung bersiap menuju masjid untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah. Banyak siswa juga yang memaksimalkan waktu untuk mencapai target tilawah di bulan penuh berkah.

Kegiatan belajar di sekolah secara reguler tetap dilaksanakan walau ada sedikit perbedaan kegiatan di siang hari, yaitu kultum yang disampaikan oleh para ustaz. Mereka tidak bosan-bosan untuk memotivasi siswa agar memaksimalkan potensi ibadah.

Terbenamnya matahari menjadi tanda akan dilaksanakannya  buka puasa bersama. Buka puasa bersama menjadi momen menjalin silaturahim dan melepas penat secara menyenangkan setelah berpuasa seharian penuh. Para siswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan nama sahabat Rasul, dari kelas satu hingga lima.

Momen kece selanjutnya adalah Salat Tarawih. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti Salat Tarawih secara tertib dan berjamaah. Hampir tidak ada yang berbeda dari pelaksanaan Salat Tarawih kebanyakan, kami tidak luput untuk menambah tabungan tilawah setelahnya. Buku-buku pelajaran sekolah telah menanti untuk dibaca sebelum kami beristirahat menutup hari yang indah di bulan penuh rahmat. Kebetulan, pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) bertepatan dengan Ramadan. Akan tetapi, kami tetap bersemangat dan fokus meraih hasil ujian yang terbaik.

Setelah bergulat dengan soal-soal ujian, akhirnya, tiba juga liburan akhir semester. Dalam liburan saat itu, kami mengisi hari dengan berbagai kegiatan menyemarakkan Ramadan. Dari sisi kreativitas dan seni, terdapat lomba menghias kamar dan asrama serta menghias parsel. Setiap siswa saling bekerja sama mengembangkan kreativitas dan potensi untuk meraih hasil yang terbaik. Tak pelak, seluruh sudut asrama penuh dengan dekorasi bertema Ramadan, Sahabat Nabi, kota-kota bersejarah, dan lainnya. Parsel-parsel lebaran juga disulap menjadi rapi dan menarik serta memilliki nilai lebih tinggi.

Dari sisi olah suara, terdapat lomba azan. Para muazin-muazin terbaik SMART saling beradu kemampuan untuk menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini. Masing-masing pemenang lomba mendapatkan hadiah menarik dan pastinya memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dalam semarak Ramadan.

Setelah asyik berkecimpung dalam dunia lomba-lomba, pada malam tujuh belas Ramadan, diadakanlah sebuah acara untuk memeringati pertama kalinya diturunkan Al-Quran, Nuzulul Quran. Setiap siswa dibagi menjadi beberapa halaqoh untuk menuntaskan tilawah 30 Juz. Setelah tilawah usai, ustaz-ustaz memberikan kajian tentang keutamaan Al-Quran dan memberikan penghargaan kepada siswa dengan tilawah terbanyak. Tak disangka, banyak diantara teman-temanku mendapatkan penghargaan tersebut. Kegiatan ini semakin menguatkan semangatku untuk selalu berusaha terbaik.

Di saat sepuluh malam terakhir,terdapat sebuah kegiatan yang menjadi rutinitas kami selama Ramadan, Itikaf. Dalam kegiatan Itikaf, siswa-siswa disebar ke berbagai masjid untuk melaksanakan sunnah Nabi tersebut. Di sana kami tidak hanya sekadar beristirahat melainkan menambah keberkahan Ramadan dengan mengikuti kajian-kajian, bertilawah, dan salat tarawih serta tahajud berjamaah. Banyak diantara kami saling bercengkrama dengan sesama peserta Itikaf dari berbagai daerah untuk saling menebar keceriaan dan pesan-pesan Ramadan.  Malam yang paling kami nantikan dan harapkan akan tiba, Lailatul Qadar. Walaupun tidak ada yang tahu persis kapan ada Lailatul Qadar, tetapi beberapa sumber banyak yang menyebutkan bahwa malam yang lebih baik daripada 1000 bulan tersebut jatuh pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Banyak peserta Itikaf yang bersungguh-sungguh dalam beribadah untuk mendapatkan kesempatan malam penuh dengan kedamaian tersebut.

Selain mengikuti Itikaf, beberapa teman kami terpilih untuk mengikuti kegiatan HOME STAY. Dalam kegiatan HOME STAY, dipilihlah beberapa siswa scmenginap bersama keluarga donatur untuk saling berbagi keceriaan di bulan penuh kemuliaan. Selain itu, dengan mengikuti HOME STAY, diharapkan mendapat  inspirasi-inspirasi untuk menggapai kesuksesan di masa depan.

Di masa pengujung bulan kemuliaan, sebuah aktivitas yang kami nantikan akhirnya tiba, takbiran. Seluruh siswa bersuka cita menyambut datangnya Idul Fitri sekaligus sedih ditinggal bulan penuh dengan rahmat dan hidayah. Semoga Ramadan-Ramadan selanjutnya kita lebih maksimal beribadah dan banyak menebar keceriaan serta senyuman impian sesama umat manusia.

Sekarang saya telah lulus dari SMART, walau belum mulai berkuliah namun perasaan yang dulu singgah tetap terpetri di hati. Kangen? Jeas, karena ini kali pertama saya tak berpuasa di SMART. Ah sungguhpun SMART membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

,

Sebuah Kisah Tentang Takjil, Ramadan, dan SMART

Sebuah Kisah Tentang Takjil, Ramadan, dan SMART

Oleh: Kabul Hidayatullah

Alumni SMART Angkatan 8 berkuliah di Universitas Indonesia

Takjil dan Ramadan sepertinya sudah seperti sahabat karib yang tak terpisahkan. Setiap kali bertemu Ramadan (hampir) selalu kita pikirkan takjil apa sore ini? Atau ketika akan berbuka kita sering bertanya-tanya: “Loh, takjilnya mana? Tumben nggak barengan?”

Ah takjil dan Ramadan memang sudah menjadi kawan yang akrab.

Begitu juga dengan Ramadan saya tahun lalu dan kali ini. Intensitas perjumpaan dengan takjil lebih sering dari biasanya. Di Ramadan tahun ini saya sudah menjelma menjadi seorang mahasiswa, saya juga diberikan amanah menjadi Ketua Lembaga Dakwah Asrama Universitas Indonesia atau Sahabat Asrama UI. Kalau biasanya kami menyediakan takjil untuk para mahasiswa sepekan sekali (khusus untuk mereka yang berpuasa sunah), sekarang hampir tiap hari.

Selesai dengan takjilan dan Salat Magrib, tugas saya selanjutnya ialah mengkoordinasi massa (baca: mahasiswa asrama) menuju Masjid UI menggunakan kendaraan identik, yak Bus Kuning. Pelaksanaan Salat Isya serta Tarawih khusus mahasiswa asrama UI memang dipusatkan di masjid kampus agar lebih semarak. Ya begitulah, Ramadan sebagai mahasiswa asrama terkadang membawa pikiran saya terbang ke masa lima tahun lalu sewaktu masih berasrama di SMART Ekselensia Indonesia.

Ramadan, sahur, buka puasa, dan tarawih adalah hal paling berkesan untuk saya. Tentu saja  karena kesemuanya tidak akan bisa ditemukan di sebelas bulan lain, dan masa-masa Ramadan di SMART adalah cerita lain. Cerita lain karena satu bulan penuh plus Lebaran saya habiskan dengan keluarga lain (baca: teman-teman asrama) karena kami semua tak pulang ke kampung halaman. Begitulah nasib anak rantau yang berjuang menuntut ilmu. Cerita lain karena banyak kenangan bersama para pembelajar sejati dengan rasa; tekad; dan semangat berjuang yang sama.

Lain padang lain pula belalang. Ketika sahur, jika anak-anak di sebuah keluarga dibangunkan dengan cara kekeluargaan, maka berbeda dengan kami yang dibangunkan menggunakan bel super cempreng (yang meninggalkan kesan teramat sangat di telinga). Belum lagi ustaz-ustaz pembina asrama yang rajin mengetuk pintu kamar sambal berkata: “Assalamu’alaikum. Ayo bangun tahajud dulu” atau untuk kesekian kali, “Ayo bangunkan temannya, sebentar lagi imsak tuh”.

Pun ketika siang hari (biasanya ba’da Zuhur), jika para ustaz menjumpai kami terlelap setelah membaca Quran di masjid, maka mereka akan membangunkan kami melalui pengeras suara. Tak pelak hal tersebut membuat kami ketar ketir, bahkan beberapa nampak masih setengah tertidur ketika bangun dari mimpi indahnya. Ada-ada saja memang.

Saat matahari condong ke barat, murotal sore mulai diputar seantero asrama. Itu tanda untuk kami yang masih saja berolahraga (walau berpuasa tapi main futsal atau latihan silat tetap berjaln) di lapangan untuk segera pulang dan bebersih lalu ke masjid. Di masjid, kami mengambil mushaf masing-masing lalu mencari tempat “semedi” terbaik untuk bekomunikasi dengan Sang Khalik. Jelang Magrib biasanya kami mengadakan nobar alias nonton bareng. Film Islami seputar perjuangan Sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab menjadi pilihan jitu, karena mampu membakar semangat kami. Puas menyaksikan film, kegiatan selanjutnya kami habiskan untuk mendalami kisah tesebut hingga menjelang azan. Kala itu saya sering melihat kakak-kakak SDS (SMART Discipline Squad) membagikan takjil diberbagai penjuru masjid sambil memberi tanda centang di buku absensi angkatan.

Mungkin buka bersama untuk segelintir orang menjadi sangat istimewa, namun bagi kami waktu berbuka adalah waktunya kebersamaan dengan format yang tak dapat dijumpai di tempat bukber manapun. Di SMART ketika waktu berbuka tiba maka seluruh siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil berisi sekitar sepuluh orang. Setiap kelompok berisikan seluruh angkatan (dari yang termuda sampai yang paling senior), oleh karenanya momen ini menjadi momen membaur dan momen keakraban antar angkatan.

Maka ketika ditanya berkesankah Ramadan di SMART ? Maka jawabannya adalah: “Bagaimana tidak?” Ketika saya diminta membuat tulisan seputar Pengalaman Ramadan Berkesan ini, iseng-iseng saya turut membuka laman web SMART, web almamater tercinta. Tiba-tiba saya jadi rindu dengan suasana SMART, dengan takjilannya, dengan antrean ketika mengambil takjil, dengan tidurnya, dengan ustaz-ustazahnya, dengan kenangannya, dan dengan semuanya. Rindu. (KH x AR)

***

Yuk Sob bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika 2881 2881 26 Call Center : 0812 8833 884

,

PENGUMUMAN SELEKSI BEASISWA PROGRAM TAHFIZH “ EKSELENSIA TAHFIZH SCHOOL” 2018

PENGUMUMAN SELEKSI BEASISWA PROGRAM TAHFIZH

“ EKSELENSIA TAHFIZH SCHOOL” 2018

SMART Ekselensia Indonesia

 

Ekselensia Tahfizh School (ETS) merupakan program investasi SDM yang berfokus pada tahfidz-plus (Al-Qur’an, Islamic studies, dan leadership), yang diperuntukkan bagi anak-anak pilihan lulusan SMP/MTs/sederajat yang memiliki kemampuan akademik tinggi namun memiliki keterbatasan finansial.

Program ini dirancang dengan idealis dalam sebuah inkubasi kurikulum khas Ekselensia untuk menghasilkan lulusan (output) yang hafizh , kompetensi dalam ilmu-ilmu keislaman, dan unggul dalam kepemimpnan (kepemimpinan diri dan sosial).

Kurikulum khas Ekselensia dirancang selama 2 tahun penguatan keilmuan dan kompetensi kepemimpinan, 2 semester penguatan sukses PTN dalam negeri atau Perguruan Tinggi  Luar Negeri dan perencanaan karir pasca pendidikan.  Kurikulum khas Ekselensia juga di dukung dengan penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2015 dan Baldrige Excellence Framework (BEF), fasilitas yang mendukung dan kondusif di kawasan Zona Madina, dan quality control proses pembelajaran tahfizh.

Para calon peserta Ekselensia Tahfizh School (ETS) angkatan pertama berasal dari 10 daerah seleksi yaitu :

  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Riau
  • Sumatera Selatan
  • Jabodetabek
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Jogjakarta
  • Nusa Tenggara Barat

Mereka harus melewati serangkaian tes yang terdiri dari tes administrasi, psikotes dan interview dengan Psikolog, kunjungan rumah (home visit) dan Pantuhir. Pada hari Senin, 14 Mei 2018 melalui rapat, diputuskan bahwa 6 orang berhak menjadi peserta Ekselensia Tahfizh School tahun pelajaran 2018 – 2019, yaitu :

  • Bagus Pribadi, Palembang Sumatera Selatan
  • Sultan Ilyas Fadlurrahman, Bogor Jawa Barat
  • Usamah Imam Khomeini Al Kadafi, Jogjakarta
  • Ibrahim Al-Mutaqiy, Pasuruan Jawa Timur
  • Muhammad Saifuddin, Kediri Jawa Timur
  • Ihsan Muhammad Taqiyuddin, Surabay Jawa Timur

 Selamat datang generasi Qurani! (MS)

,

Vikram Adalah Kamu, Ramadan 1938 H

Vikram Adalah Kamu, Ramadan 1938 H

Oleh: Vikram Makrif
Alumni SMART Angkatan 9 berkualiah di UNDIP

“Bahagialah setiap saat! Bukan karena segala hal baik-baik saja, tapi karena ada yang baik dalam segala hal”

Halo para pembaca yang baik hati. Aku adalah sore menjelang magrib. Aku akan berbagi tentang kamu. Siapakah kamu? Siapapun kamu yang sedang membaca tulisan ini, kamu adalah Vikram Makrif. Kamu dipanggil Vikram oleh teman-temanmu. Aku akan berbagi tentang kegiatanmu saat sore kala itu mejelang magrib di bulan suci Ramadan 1438 H.

Apa saja kegiatan kamu di bulan Ramadan kala itu Vikram? Kamu sendiri mungkin sudah tahu. Kala itu kamu sedang menunggu pengumuman SBMTPN 2017. Selama menunggu hasil SBMPTN 2017 kamu mencari kegiatan yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Sehingga mulai dari Ramadan ke-3 sampai Ramadan ke-16 kamu mengajar pesantren kilat (SANLAT) di sebuah masjid.

Kamu mengajar pesantren kilat setelah Salat Asar sampai menjelang berbuka puasa. Kamu mengajar bersama pengurus DKM lainnya dan guru madrasah di sana. Awalnya kamu bingung dengan metode pengajaran di sana yang berbeda dengan cara mengajarmu. Tapi setelah melihat cara mengajar guru dan juga melihat anak-anak SANLAT yang luar biasa, kamu dapat menyesuaikan diri mengajar di sana.

Ini semua tentang kamu Vikram. Tentang kamu di sore menjelang magrib. Seusai bersujud pada Sang Khalik kamu berbagi pada anak-anak. Kamu tersenyum menyapa mereka yang sedang berlari-larian di halaman masjid. Mereka pun juga tersenyum manis padamu.

“Assalamualaikum adik-adik yuk kita ngaji,” katamu pada mereka memberi salam.
“Walaikumsalam Kak Vi em. Hari ini ngajinya di mana kak? Aula apa masjid?” tanya mereka padamu.
“Hari ini kita di aula lagi ya, biar tempatnya luas,” jawabmu sambil tersenyum dan berjalan menuju aula.

Kamu sebenarnya senang mengajar mereka. Mereka pun juga senang diajarkan olehmu. Tapi terkadang kamu bingung sendiri dengan tingkah laku mereka. Kamu tidak ingin terlalu dekat dengan mereka, anak-anak SANLAT yang lucu dan luar biasa itu. Tak dapat dielakkan lagi kamu dan anak-anak itu bagaikan magnet dan besi. Sangat dekat sekali jika sudah berjumpa. Apakah itu perumpamaan yang benar untukmu? Mungkin saja benar.

“Ayoo adik-adik kita buat lingkaran yang besar ya biar bisa kebagian tempat semua,” ajakmu pada murid-muridmu bersiap untuk game seusai mengaji.
“Aku pengen dekat Kak Vi em,” kata salah satu muridmu.
“Aku juga, aku juga,” kata muridmu yang lainnya saling berebut memegang tanganmu.
“Eh eh jangan dorong-dorongan gitu dong, sekarang kita buat lingkaran besar ya adik-adik,” katamu pada mereka dengan kedua tanganmu yang masih ditarik-tarik.
“Gak mau, maunya dekat Kak Vi em,” kata salah satu muridmu.
“Gak, aku duluan dekat Kak Vi em,” kata muridmu yang lain dengan nada yang sedikit naik.

Kamu semakin pusing melihat tingkah laku mereka saling berebut ingin berada di samping dirimu. Seketika kamu menghilang dan telah berada di dimensi yang berbeda dengan anak-anak. Kamu melihat sekitar. Semua terlihat gelap olehmu. Kamu langsung menatap ke bawah. Di sana kamu melihat dirimu sendiri sedang mengajar mengaji anak-anak SANLAT. Setelah itu kamu mengajak mereka untuk membuat lingkaran. Kamu melihat dirimu sendiri bersusah payah mengurus anak-anak kecil usia TK dan SD kelas satu hingga tiga. Kamu juga melihat guru madrasah dan pengurus DKM Al-Furqon sedang memperhatikan tadarus anak-anak SANLAT yang sudah Al-Quran.

Melihat kejadian itu dari dimensi lain, kamu berkata dalam hati. Andaikan aku bisa berubah menjadi banyak sesuai dengan jumlah adik-adik itu mungkin mereka tidak akan berebutan. Tapi semua hanyalah hayalanmu Vikram. Kamu tidak bisa berubah menjadi banyak seperti di film kartun anak. Karena kamu hanyalah manusia biasa. Hehehe…

Kembali lagi pada episode anak-anak berebut bedara di sampingmu. Kamu langsung maju ke tengah lingkaran dan berkata “Biar adil kakak di tengah-tengah aja ya, ayo lingkarannya dilebarin lagi!”. Kamu melihat mereka langsung membuat lingkaran besar. Mereka senang saat kamu memulai bernyanyi. “Lingkaran besar, lingkaran besar, lingkaran besar… lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran kecil…” kamu pun tertawa saat mereka juga ikut bernyanyi.
***
Ini semua tentang kamu Vikram. Tentang kamu di sore menjelang magrib. Seusai bersujud pada sang Khalik kamu berbagi pada anak-anak. Kamu tersenyum menyapa anak-anak SANLAT ketika mereka sedang menatap tetesan air yang jatuh dari awan-awan di langit. Mereka pun tersenyum manis padamu.

“Assalamualaikum adik-adik yuk kita masuk ke dalam,” katamu pada mereka memberi salam sambil mengajak mereka masuk ke dalam masjid.
“Walaikumsalam. Iya Kak Vi em” jawab mereka padamu dan bergegas masuk masjid mengikutimu.

Kamu tahu hari itu hujan turun dari langit sangat deras. Kamu pun mengajak anak-anak mengaji di dalam masjid bukan di aula. Kamu memulai kegiatan dengan mengajak mereka untuk berdoa. Setelah itu kamu muroja’ah hafalan mereka surah An-nisa ayat 58-65. Kamu tersenyum seperti hari-hari yang lalu saat mereka juga muroja’ah hafalan. Kamu kagum melihat mereka hafal ayat yang panjang itu. Walaupun kamu melihat mereka membacanya sambil bermain menjahili teman di sampingnya.

Setelah kamu muroja’ah hafalan, kamu menyuruh mereka untuk mengikuti para pengajarnya masing-masing. Seperti biasa jika pengurus DKM bisa mengajar, maka kamu mengajar anak-anak yang masih iqro bukan yang Al-Quran. Karena anak-anak lebih suka diajar olehmu dari pada yang lain.

“Adik-adik, kakak punya cerita keren nih. Tapi kalian harus jadi patung ya, mulutnya dikunci, kuncinya dibuang, telinganya dipasang, duduk yang rapi,” katamu pada anak-anak yang masih iqro.

“Siap, Yes Yes Okee..” jawab mereka serentak setalah kamu berkata ‘duduk yang rapi’.
“Ceritanya yang serem gak kak?” tanya salah satu murid yang duduk di depanmu.
“Gak lah, sekarang ceritanya tentang nabi kita Nabi Muhammad Saw.,” Jawabmu pada anak di depanmu itu.
“Nah jadi gini ceritanya. Nabi kita telah berjumpa sama Allah. Di depan nabi telah ditampakkan surga tempat beliau tinggal. Allah berkata pada Nabi ‘Ya Muhammad ini adalah surgamu silahkan engkau masuk’. Nabi diam sejenak dan berkata ‘Ya Allah ya Tuhanku, bagaimanakah nasib umatku?’.

Subhanallah ya adik-adik Nabi kita nanti di hari akhir terus memikirkan kita, padahal surga sudah di depan matanya. Nah apa kata Allah setelah itu? Mau dilanjutin ceritanya?” katamu panjang lebar pada anak-anak.

Kamu senang mereka semua terdiam mendengarkan ceritamu. Walaupun kamu melihat mereka tidak diam menjadi patung saat kamu bercerita. Adakalanya saat bercerita kamu sesekali berhenti dan menegur murid yang menjahili temannya.

“Setelah itu Nabi kita berlari lagi mencari para umatnya yang masih memiliki iman di hatinya untuk masuk ke dalam surga. Walaupun imannya sebesar biji zarrah. Tahu gak adik-adik biji zarrah itu sebesar apa?” tanyamu pada anak-anak.

“Lebih kecil lagi lah Kak. Kan tadi biji sawi lebih kecil dari biji kurma. Berarti segede upil Kak” jawab salah satu murid padamu dengan pemikirannya sendiri.
“Bukanlah, masa segede upil. Kalo zaman dulu orang-orang tahunya biji zarrah itu sebesar biji sawi. Sebenarnya Dika bener sih lebih kecil dari biji sawi, tapi bukan segede upil. Biji zarrah itu yang kakak tahu dari guru kakak lebih kecil dari partikel sub atomik” jelasmu pada anak-anak.

Mereka semua bingung dengan penjelasanmu tadi tentang ukuran biji zarrah. Mereka yang masih TK dan SD kamu jelaskan tentang partikel sub atomik. Berarti kamu salah audien nih dalam penjelasan tentang ukuran fisika modern.

“Nah partikel sub atomik itu jutaan kali jauh lebih kecil dari pada biji sawi. Jadi intinya gak bisa kita lihatlah gitu. Subhanallah kan adik-adik. Orang yang imannya kecil banget aja masih bisa masuk surga dengan syafaat dari Nabi kita tercinta,” lanjutmu menjelaskan ukuran biji zarrah.

Setelah kamu bercerita anak-anak mulai mengaji iqro denganmu secara bergantian. Kamu mengajari mereka satu persatu. Saat mengajar tiba-tiba ada yang murid yang tertawa melihatmu mengajar.

“Ih Om lucu deh,” kata Syilmi salah satu muridmu.
“Apa? OM?” katamu seketika.
“Eh iya lupa lagi, Kakak Vi em, itu lucu banget jerawatnya gede banget” kata Syilmi padamu.
“Udah jangan dilihatin terus jerawat kakak, nanti pecah” katamu bercanda pada Syilmi.
“Itu Om juga lucu kumisnya, panjang banget. Hihihi..” kata Syilmi lagi kepadamu.
“Apa?Om lagi?”katamu seketika.
“Eh lupa lagi, abisnya Kakak kumisnya panjang banget tuh,” kata Syilmi sambil menunjuk jenggotmu.
“Waduh Syilmi ini jenggot bukan kumis,” jelasmu singkat.
“Ooh iya tuh jenglot kakak panjang, jadi lucu,” kata Syilmi padamu sambil tertawa.
“Bukan jenglot, tapi jenggot,” jelasmu gregetan.
“Hahaha jengkol? Mata kakak kayak jengkol tuh,” ucap Syilmi blak-blakkan padamu.

Tiba-tiba kamu menghilang ke dimensi lain. Semua pandanganmu seketika gelap. Kamu merasakan tubuhmu membesar. Perutmu menjadi gendut. Wajahmu berubah menjadi badut. Matamu menjadi jengkol. Kamu melihat anak-anak SANLAT yang sedang berlari-larian. Kamu langsung memakan mereka semua sekaligus. Mereka berteriak-teriak takut melihat wajahmu. Tubuh raksasamu dengan cepat melahap pada anak-anak yang lucu dan gemesin di sana.

Semua tentang raksasa badut mata jengkol hanyalah hayalanmu. Kembali lagi ke adegan kamu mengajar dan berbicara kepada Syilmi salah satu muridmu.

“Terserah Syilmi deh, nih kakak lagi ngajar jadi nanti ya ngobrolnya,” jelasmu pada Syilmi.
“Ayo Adli lanjut lagi ngajinya” katamu kepada Adli sambil menunjuk iqronya.
Tiba-tiba ada anak yang berlari menghampirimu dan berkata “Kak Vi em Dinda nangis tuh di sana”
“Kenapa ko bisa nangis Dinda nya?” tanyamu pada anak itu.
“Tadi Dinda dipukul sama Dika Kak” jawab anak itu padamu.
“Iya iya nanti kakak ke sana” katamu singkat.

Kamu menghampiri Dinda yang sedang menangis. Lalu kamu memanggil Dika yang memukul Dinda untuk meminta maaf. Kamu melihat Dika dengan tatapan sedikit memaksa untuk meminta maaf. Akhirnya dengan tatapan supermu Dika pun meminta maaf pada Dinda muridmu yang menangis. Kamu membawa Dinda duduk di dekatmu dan terus mengajaknya untuk tidak menangis lagi.

Tiba-tiba ada anak yang berlari menghampirimu dan berkata “Kak Vi em Hana nangis juga”
“Kenapa lagi, kok bisa?” tanyamu pada anak itu.
“Gak tau kak, tiba-tiba aja nangis” jawab anak itu padamu.
“Oke deh, bawa Hananya ke sini kakak lagi ngajar nih!” serumu pada anak itu.
“Hana nya nagis terus tuh kak, lihat aja di sana, megang-megang kepalanya” jelas anak itu padamu.

Kamu langsung berdiri dan menggendong Hana ke tempat Dinda yang masih menangis. Kamu bingung dengan keadaan itu. Kamu melihat dua anak menangis. Kamu juga masih belum selesai mengajar.

Akhirnya Allah membantu mu. Beberapa saat kemudian mereka berhenti menangis di dekatmu. Kamu terlihat bagaikan seorang ayah yang memiliki banyak anak-anak yang lucu. Kamu bahagia bisa mengajar mereka. Walaupun hanya mengajarkan menbaca dan menulis iqro dan Al-Quran.

Itu lah kisah nyata tentangmu di bulan Ramadan 1438 H kemarin. Kisah tentang kamu di sore menjelang magrib.

“Bahagia bukan hanya karena memiliki sesuatu yang luar biasa, tapi bahagia itu membagikan sesuatu yang kita miliki walaupun tidak terlalu luar biasa”

***

Sob jangan lupa bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika 2881 2881 26 Call Center : 0812 8833 884

,

Ini Dia Pengumuman Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART Ekselensia Indonesia 2018

Ini Dia Pengumuman Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) SMART Ekselensia Indonesia 2018

IMG-20171105-WA00012

Halo Sob, untuk kamu yang telah menunggu hasil seleksi SNB SMART 2018, sekarang nama-nama yang lolos sudah bisa kamu cek di bawah ini ya. Kami ucapkan selamat kepada kamu yang lolos dan kami ucapkan selamat bergabung bersama kami di SMART Ekselensia Indonesia.

No Nama Asal Daerah
1 Daffa Muhammad Al Ghazali Jabodetabek
2 Iltizam Haq Jabodetabek
3 M. Azlan Triandi Jabodetabek
4 Muhammad Fauzan Muzakki Jabodetabek
5 Muhammad Rasyid Maulana Aldrian Jabodetabek
6 Raihan Eka Pramudita Jabodetabek
7 Renaldy Bagus Pratama Jabodetabek
8 Ceisap Wijaya Jawa Barat
9 Rifa Diaz Maulana Kosasih Jawa Barat
10 Hamdan Qo’du Ilal Hakim Jawa Tengah
11 Mu’adz Jawa Tengah
12 Nur Islami Dwi Nugroho Jawa Tengah
13 Sandy Firdaus Kalimantan Selatan
14 Trio Bagus Mulyono Kalimantan Selatan
15 Arief Nurahman Kalimantan Timur
16 Muhammad Fahmi Fikri Kepulauan Riau
17 Muhamad Aqshal Ilham Lampung
18 Hairul Salam NTB
19 Ade Hendrawan Riau
20 Raafi Muslim Riau
21 Rendi Pratama Riau
22 Taufik Juliandi Suratmi Sulawesi Selatan
23 Alfin Umbe Sulawesi Tengah
24 Moh. Askia Rahman Sulawesi Tengah
25 Muh. Agung Danati Sulawesi Tengah
26 Rabiansya J. S Sulawesi Tengah
27 Ahmad Khairul Sumatera Barat
28 Daffa Al-Hakim Ismed Sumatera Barat
29 Dhanny Fathurroziq Digjaya Sumatera Barat
30 Geri Mardiansah Sumatera Barat
31 Ibnu Muhamad Rifai Sumatera Barat
32 Ilham Akbar Sumatera Barat
33 M Afwandi Sumatera Barat
34 M Ikwan Sumatera Barat
35 Roni Putra Sumatera Barat
36 Arjun Elvas Janggara Sumatera Selatan
37 M. Rendi Sagita Sumatera Selatan
38 Abdul Haris Nasution Sumatera Utara
39 M. Haikal Fahtoni Sumatera Utara
40

Muhammad Sidiq Maulana

Sumatera Utara

 

Sebuah Pengalaman Berharga dari HOMESTAY

Sebuah Pengalaman Berharga dari HOMESTAY

Nama saya Ika Said, saya adalah Host Parent siswa SMART Ekselensia Indonesia untuk kegiatan HOMESTAY SMART. Pertama kali memutuskan untuk berpartisipasi dalam program HOMESTAY ini, saya menjadi Host Parent dari siswa SMART Ekselensia Indonesia bernama Somad. Ia berasal dari Bali, saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya.
Anak asuh yang kedua adalah M. Yani Al Rizki, kemudian yang paling kecil adalah Adik Agung dari Medan, saat ini menempuh kelas 3 di SMART Ekselensia Indonesia.
Sejujurnya, saya dan keluarga justru banyak belajar dari mereka. Sebab mereka adalah anak-anak yang soleh, rajin dan cerdas. Kami sangat bahagia bisa berbagi hidup dengan mereka memalui program HOMESTAY ini.
Saya dan keluarga berharap, anak-anak SMART Ekselensia Indonesia ini dapat menjadi orang yang sukses, memiliki akhlak yang baik dan tetap menjaga nama baik lembaga yang telah mendidik mereka, yakni SMART Ekselensia Indonesia dan Dompet Dhuafa.
Saya juga berharap semakin banyak orang-orang yang dapat berpartisipasi menjadi Host Parent dalam program HOME STAY, sebab menjadi Host Parent bukan hanya kita yang memberi, namun kita juga mendapatkan keuntungan dengan belajar banyak hal dari siswa yang menjadi anak asuh kita. Sebab mereka yang memiliki keterbatasan dari segi ekonomi dapat meraih cita-cita
***
Sob, ingin berbagi kebahagiaan bersama kami selama Ramadan dan Idul Fitri? Yuk ikut menjadi Host Parent dalam program HOMESTAY Idul Fitri 1439 H. HOMESTAY Idul Fitri merupakan gerakan berbagi inspirasi serta kehangatan keluarga dengan menjadi orangtua asuh (Host Parent) bagi siswa SMART Ekselensia Indonesia dan mengajak mereka merayakan Idul Fitri bersama.
SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah jenjang SMP dan SMA bebas biaya yang diperuntukkan bagi anak-anak pilihan yang kurang beruntung secara ekonomi di seluruh provinsi di Indonesia.Saat ini total siswa SMART Ekselensia adalah 213 siswa. Jadi, masih banyak kesempatan untuk menjadi Host Parent bagi mereka.
Info lengkap tentang HOME STAY dan syara-syarat menjadi Host Parent dapat diakses di www.smartekselensia.net/home-stay-idul-fitri/
—————————————————-
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADAN 1439 H

Semoga ibadah puasa diterima oleh Allah Swt. Aamiin

—————————————————–

Mari bergabung bersama Dompet Dhuafa Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke

*Rekening BNI Syariah an Yayasan Dompet Dhuafa Republika
2881 2881 26*

Call Center :
0812 8833 8840

,

Lebih Kreatif Bersama Mural Kebaikan

Lebih Kreatif Bersama Mural Kebaikan

 SMART Ekselensia Indonesia 5

Halo Sob! Tahukah kamu kalau kreativitas merupakan salah satu manifestasi mumpuni bagi generasi milenials. “Lho kok bisa?” Iya Sob karena dengan kreativitas para milenials mampu menciptakan sumber lapangan kerja baru di bidang kreatif. Hmm hanya saja mencipta generasi milenials yang kreatif ternyata bukanlah hal mudah, ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah.

Nah Menjawab tantangan tersebut Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Pendidikan menggelar kegiatan Mural Kebaikan yang dilaksanakan di SMART Ekselensia Indonesia pada 15-16 Mei 2018.

SMART Ekselensia Indonesia 1

Kalau menurut Ustaz Hassan, Head of Resources and Mobilization Dompet Dhuafa Pendidikan,  Dompet Dhuafa berusaha memfasilitasi kreativitas para siswa SMART agar mampu menghasilkan karya-karya hebat. “Kegiatan ini juga efektif dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif,” katanya.

SMART Ekselensia Indonesia

Oh iya di kegiatan Mural Kebaikan ini Kak Chiky Fawzi, animator sekaligus influencer, didapuk menjadi relawan untuk memfasilitasi kami semua. Aaah senang sekali rasanya.

SMART Ekselensia Indonesia 2

“Saya sangat bahagia bisa berbagi kreativitas dengan adik-adik SMART, mereka adalah anak-anak hebat yang memiliki segudang prestasi dan kebaikan,” papar Kak Chiky.

SMART Ekselensia Indonesia 3

Selain berorientasi mengembangkan kreativitas kami, kegiatan Mural Kebaikan juga memiliki tujuan menghindarkan generasi muda dari kegiatan negatif seperti penggunaan narkoba dan terorisme Sob. Sampai jumpa di kegiatan selanjutnya. (AR)

Mau Masuk Jurusan Ilmu Hukum? Wajib Baca Tulisan Alumni SMART Ini!

Mau Masuk Jurusan Ilmu Hukum? Wajib Baca Tulisan Alumni SMART Ini!

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam,

Alumni SMART Angkatan 8, saat ini berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum

“Bukan politik yang kotor, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya saja yang tidak bisa menjaga kemurnian politik”

Itu merupakan jawaban yang sering saya katakan kepada setiap orang yang meragukan saya untuk terjun ke dalam dunia politik. Mulai dari keluarga besar, teman-teman, guru BK, kepala sekolah semua meragukan saya. Tapi saya keukeuh untuk masuk politik. Lalu, kenapa sih saya ingin sekali masuk dunia politik? Oke semuanya akan saya jelaskan di sini.

Semua bermula saat usia saya menginjak 10 tahun, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat di mana -saya rasa- itu merupakan masa untuk membentuk kepribadian dan masa depan. Saya yang sedang asik menikmati waktu libur panjang ditawari hal menarik  oleh ayah saya, seorang yang paling saya hormati.

“Cep, besok mau ikut kampanye partai gak? Lumayan sekalian bapak ajak jalan-jalan keliling Bandung”.  Tanpa pikir panjang aku menerima ajakan itu, bukan ajakan untuk kampanye yang membuat saya bersemangat, melainkan ajakan untuk jalan-jalan keliling Bandungnya. Yah, saat itu saya belum mengerti yang namanya politik.

Keesokan harinya setelah bangun tidur, saya langsung bergegas mandi. Ini hari yang paling saya tunggu. Bapak saya sudah bersiap dengan menggunakan kaos dengan gambar lambang salah satu partai politik di Indonesia. Tanpa saya minta, bapak memberikan satu kaos yang sama dan pastinya pas dengan ukuran badan saya. Kami pun berangkat dengan motor, aku yang dibonceng oleh bapak memegang bendera partai dengan semangat.

Belum juga melewati desa, motor yang ayah saya kemudikan tiba-tiba berhenti, ternyata sudah banyak orang yang menunggu dengan seragam yang sama dengan kami. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, keliling Bandung berbondong-bondong dengan orang yang baru saya kenal. Gumam saya dalam hati.

Setelah beberapa menit mendengar orang yang berpidato lewat pengeras suara, kami pun berangkat. Benar-benar di luar dugaan ku, perjalanan menuju pusat Kota Bandung sangat menyenangkan. Bunyi klakson terdengar bersaut-sautan, banyak bendera partai berkibaran, dan pastinya massa semakin banyak menyelimuti jalan raya. Banyak orang yang sedang berjalan di pinggir jalan raya berhenti sejenak untuk melihat kami, rasanya seperti penguasa jalan!!

Saking semangatnya hingga tak terasa bahwa kami sudah sampai di pusat Kota Bandung. Sudah ada ribuan orang dengan seragam dan atribut partai yang sama dengan kami menutupi lapangan. Dari kejauhan terlihat berdiri kokoh panggung megah yang nantinya akan dijadikan tempat orasi oleh partai tersebut. Nyanyian sudah terdengar samar-samar dari depan panggung. Saya turun dari motor dan menunggu bapak yang sedang memarkirkan motornya. Bapak memegang tanganku, “ Jangan jauh-jauh dari bapak, nanti kamu bisa berpisah dari bapak. Bahaya!” saya hanya menganggukkan kepala.

Kami mulai menuju kerumunan, benar-benar penuh sesak. Tapi entah mengapa, saya merasa menyukai suasana seperti ini, saya hanyut dalam acara. Banyak sekali acara yang diadakan oleh partai yang kami dukung. Salah satu hal yang membuat kami semakin bersemangat adalah ketika Iwan Fals menyanyikan lagunya, Wakil Rakyat. Semua ikut bernyanyi.

“Wakil rakyat seharusnya merakyat….Jangan tidur waktu sidang soal rakyat….Wakil Rakyat bukan paduan suara”. Semuanya hanyut dalam nyanyian.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, namun tanpa adanya aba-aba, hujan pun turun dengan derasnya. Saya kira semuanya akan berteduh, tapi tidak! Semuanya semakin bersemangat. Ada bendera merah putih ukuran yang berkibar di atas panggung utama. Ini luar biasa!!  Saya semakin terbawa suasana, bergoyang menikmati lagu-lagu yang terus dilantunkan oleh sang presiden masyarakat, Iwan Fals.

Saat sedang asik bergoyang, bapak menyuruh saya untuk ikut dengannya. Begitu juga dengan rombongan yang satu desa dengan saya. Kami akan siapa-siap untuk Salat Zuhur, setelah itu kami siap-siap untuk pulang. Diperjalanan pulang, suasana jalan masih ramai. Banyak rombongan yang memilih untuk pulang juga. Suasana masih ramai hingga kami tiba di desa kami.

Sesampainya di rumah saya mandi, bapak sudah menunggu di ruang tamu. Nampaknya ada yang ingin bapak sampaikan kepada saya.

“Cep sini. Ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu”

“Iya pak,” saya duduk di depan bapak.

“Gimana tadi Cep? Serukan?”

“ Iya pak,” saya mengusap-ngusap tangan yang masih kedinginan.

“ Begitulah Cep dunia politik. Semuanya siap dilakukan asalkan kita bahagia. Banyak orang yang rela hujan-hujanan demi mendukung orang yang belum tentu akan membuat mereka bahagia. Tapi kita yang memilih itu percaya, bahwa yang kita pilih adalah yang terbaik”. Bapak berhenti sejenak dan meneguk kopi yang ada di depannya.”Memang banyak yang bilang politik itu kotor, banyak korupsi, terus banyak kejahatan-kejahatan. Tapi ingatlah bahwa orang-orang yang kotor itu bukanlah orang-orang yang mengerti politik. Mereka hanya penikmat”.

“Saya pengen masuk politik pak”. Entah mengapa, seketika saya sangat ingin masuk politik.

“Bapak sih dukung-dukung aja kamu masuk politik. Tapi ingat, kamu harus amanah sama orang-orang yang udah percaya sama kamu yang udah bela-belain hujan-hujanan demi dukung kamu. Jangan sampai kamu mengecewakan mereka dan kamu termasuk ke dalam orang-orang yang menjadi penikmat politik saja. Kamu jangan sampai korupsi dan melakukan hal-hal kotor lainnya. Kamu bisa banyak teman kalau hidup di dunia politik dan bukan teman baik saja yang bakalan kamu miliki, tapi kamu juga bakalan punya temen-temen yang kotor,” ujar bapak penuh kesungguhan.

Muhun pak, saya paham”

“Dan satu lagi, Kamu ubah nasib Negara ini. Kita semua kalangan bawah udah bosan dibohongin sama orang yang kita pilih”

Saat itulah keinginan saya untuk masuk dunia politik makin kuat, bukan untuk mencari kekayaan. Tapi saya sangat menyukai dunia politik. Dunia politik itu gak ada kata lelah dan pastinya bakalan punya banyak teman. Terserah kata orang mau bilang saya bakal korupsilah, bakalan sombonglah, bakan apalah. Tapi lihat saja nanti, siapa yang akan merubah negeri ini!.

Dan sekarang saya, Cecep Muhammad Saepul Islam, seorang anak desa telah menapakkan kakinya di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hukum. Insya Allah saya akan membalas semua keraguan yang datang pada saya dengan bukti nyata bahwa saya akan mengubah image politik yang dianggap kotor oleh kalangan masyarakat.

Lalu ada pertanyaan, “Lah kok jadinya masuk Ilmu hukum bukan Ilmu Politik atau Ilmu Pemerintahan? Karena Hukum merupakan atasan segala hal yang berkaitan dengan perpolitikan di dunia.

Sampai Berjumpa Kembali SMART, Angkatan X Akan Kembali Dengan Sukses di Tangan

 

Sampai Berjumpa Kembali SMART, Angkatan X Akan Kembali Dengan Sukses di Tangan

Pagi tadi udara Bogor lebih segar dari biasanya, mungkin karena hari ini merupakan hari besar untuk kami yang duduk di Kelas 5. Iya, hari ini kami resmi diwisuda. Sungguh kami tak menyangka bahwa waktu berlalu begitu cepat, rasanya seperti baru kemarin kami yang berasal dari daerah ini menapaki lantai-lantai asrama yang dingin, lalu tetiba sudah mau meninggalkan semuanya. Termasuk kenangan indah di asrama bersama teman seangkatan dan adik kelas lainnya.
Ada rasa sedih menyeruak dalam kalbu, namun kami tak dapat berbuat banyak karena memang sudah masanya dan sudah saatnya untuk pergi. Kalau kata selebgram “kudu bisa move on“, maka kami memilih untuk terus maju sebab cita kami telah menunggu.
SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School hari ini mewisuda  53 siswa terbaik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Wisuda Angkatan X ini merupakan sebuah bentuk rasa syukur, sekaligus prosesi penanda tuntasnya seluruh proses pembinaan di bangku sekolah menengah dan mengantarkan ke pintu gerbang pendidikan tinggi. Kami telah bersiap sejak lepas Subuh, tak sabar menanti memakai toga penuh kebanggaan.
Wisuda tahun ini mengangkat tema “Membentang Kebaikan, Mencetak Pemimpin Masa Depan Gemilang”, sebuah tema pengingat akan kiprah Sekolah Pemimpin SMART Ekselensia Indonesia selama 14 tahun dalam membina dan mendidik kami, anak-anak Indonesia, untuk menjadi calon pemimpin bangsa yang berkontribusi di masa yang akan datang.
Berdiri sejak 2004, SMART telah terakreditasi A dan bersertifikat ISO 9001:2015.  Setiap tahunnya SMART berhasil mengantarkan lebih dari 90 persen anak didiknya ke Perguruan  Tinggi Negeri (PTN) terakreditasi A. Tahun ini, sebanyak 16 teman kami telah lolos dan diterima di PTN terbaik Indonesia melalui jalur SNMPTN 2018. Kami sangat senang melihat mereka bisa masuk PTN yang mereka inginkan, sekarang tugas kami untuk berjuang melanjutkan pendidikan mereka melalui jalur ujian tulis Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018.
Kami tak akan menyerah, kami akan terus berjuang hingga semua cita dan semua mimpi terwujud. Terima kasih kepada para guru hebat di SMART yang telah membina dan membimbing kami selama lima tahun terakhir, kami tak akan pernah lupa jasa bapak dan ibu sekalian. (AR)

Asiknya Mengeksplorasi Aspek Kognitif C5 Melalui Boardgame

Asiknya Mengeksplorasi Aspek Kognitif C5 Melalui Boardgame

Oleh: Dede Iwanah

Guru IPS SMART

 

Pada Jumat, 27 April 2018 seperti biasanya suasana Kelas Sosial begitu gaduh. Riuh rendah suasana selebrasi di setiap kemenangan tim begitu membahana, ada siswa yang bersorak sorai, ada yang loncat-loncat kesenangan, ada yang berangkulan dengan teman satu tim, bahkan ada yang sampai terjatuh dari kursi dan tergeletak di lantai saking serunya suasana, serta berbagai ekspresi lain yang tidak dapat digambarkan satu persatu. Selain itu, ada juga yang tersenyum sambil menunduk karena kalah, tidak bisa menjawab pertanyaan dengan tepat dan harus keluar permainan, ada yang terkena hukuman coretan di muka, bahkan sit up dan push up pun harus dilakukan sebagai konsekuensi. Berbagai ekspresi inilah yang terlihat ketika boardgame yang mereka ciptakan diujikan kepada tim lain.

Ya, ini adalah ekspresi siswa kelas 2A dan 2B ketika belajar IPS materi keunggulan dan keterbatasan antar ruang dan pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi, sosial, budaya di Indonesia dan ASEAN. Materi setebal 58 halaman ini, terasa lebih mudah dipahami dan lebih menyenangkan ketika terangkum dalam delapan buah produk boardgame yang unik dan orisinil hasil karya siswa kelas 2A dan 2B SMART Ekselensia Indonesia.

Terlebih, dengan penugasan pembuatan board game ini, aspek kognitif yang hendak dicapai adalah C5, yaitu siswa mampu melakukan penemuan-penemuan baru dalam materi terkait. Setidaknya ada delapan produk board game yang mampu diciptakan secara berkelompok dengan kekhasan ide dan orisinalitas, baik poduk adaptif dari karya yang sudah ada maupun orisinil karya siswa. Adapun, produk-produk boardgame tersebut adalah:

  1. Maag Game (Maritim Agriculture Games)
  2. Beukah (Bebas Melangkah)
  3. Joe Biasa
  4. Papan Pancang
  5. Asri Safina (Asdar, Rizal, Saleh, Fiky, Najib)
  6. Joepardy
  7. Rodamu
  8. Ambil Peran Jawab Pertanyaan

Pada kesempatan kali ini, model pembelajaran yang digunakan adalah Project Based Learning dengan Pemanfaatan Boardgame dalam Pembelajaran IPS. Tujuan pembelajaran yang diharapkan adalah siswa mampu memperoleh pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sekaligus melakukan penemuan baru dalam materi yang dipelajari. Selain itu, dengan tugas tidak terstruktur, siswa dapat lebih mengeksplorasi potensi dan ekspresi setiap anggota timnya.

Adapun nilai karakter yang hendak dicapai adalah bersungguh-sungguh, mampu bekerja dalam tim, peduli, bertanggung jawab, jujur dan sportif dalam menerima kemenangan atau kekalahan serta aturan main dari tim lain. Selain itu, diharapkan juga mampu meminimalisir praktek plagiarisme dalam sebuah karya.

Pembelajaran diakhiri dengan konfirmasi, refleksi, penguatan materi dari guru, pemberian reward kepada tim dengan perolehan nilai tertinggi, dan tidak lupa berdo’a. Semoga proses pembelajaran kali ini, bermanfaat bagi kreativitas dan skill motorik para sisiwa.