Bukan Pertemanan Biasa

Reza

Oleh: Muhamad Reza Alamsyah,
Alumni SMART Angkatan 7, saat ini berkuliah di Unpad jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
”Friendship is not something you learn in SCHOOL. But if you haven’t learned the meaning of FRIENDSHIP, you really haven’t learned anything.”
Muhammad Ali

Kalimat pembuka yang sangat sok-sokan ya hmm. Biarkan terlebih dahulu saya bercerita sedikit mengenai siapa saya sebenarnya. Nama lengkap saya Muhamad Reza Alamsyah, angkatan 7 SMART Ekselensia Indonesia (kami mengidentitaskan diri sebagai INDIERS), berhasil lulus dengan selamat pada tahun 2015, dan sekarang berkuliah di Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Iya, memang belum lama.

Rasanya baru kemarin saya berangkat meninggalkan Makassar, kota kelahiran saya, dengan berat hati sambil membawa tekad kuat untuk mencapai sukses. Sangat klise memang, tapi begitu manis, apalagi untuk seorang anak yang baru memasuki usia 12 tahun pada saat itu.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di SMART Ekselensia Indonesia dan mengetahui saya akan berada di sini selama lima tahun ke depan yang tentu bukan waktu yang singkat, saya langsung diserang rasa takut dan sedih secara bersamaan sehingga berkeinginan kuat untuk berhenti melangkah dan lebih baik pulang saja ke Makassar. Tapi, ya tentu ada tapinya, setelah beberapa bulan merasakan atmosfer yang betu-betul sebuah hal baru bagi saya, kesadaran bahwa saya tidak akan sendiri melangkah dan mengingat betapa banyaknya orang di kampung saya, khusunya keluarga, yang mengharapkan masa depan yang cerah bagi saya, keputusan untuk menetap sambil melanjutkan perjuangan akhirnya bulat.

Saya dipertemukan dengan anak-anak yang Subhanallah dalam banyak hal. Melakukan banyak kegiatan bersama membuat saya tidak ada keraguan untuk menganggap mereka sebagai sahabat atau mungkin lebih jauh, sebagai saudara baru, yang akhirnya dipertemukan di sekolah ini.
Masih amat jelas melekat mengenai begitu banyaknya kisah yang kami alami bersama. Kami pernah menundukkan kepala sambil menggerutu dalam hati ketika dihukum massal oleh Anggota KOPASSUS atas kesalahan kami yang katanya menjadi contoh buruk bagi adik kelas kami. Pernah juga menangis jika mengingat atau diingatkan mengenai keluarga yang jauh di sana oleh ustad atau ustadzah kami yang entah sengaja atau tidak, dan juga tertawa puas atas lelucon-lelucon lama yang sebenarnya tidak terlalu lucu tapi entah bagimana jadi lucu dan segar kembali untuk dibahas. Berkelana ke berbagai tempat yang dulunya hanya bisa kami saksikan melalui layar kaca dan mengagumi indahnya dari sana. Pulang balik sekolah-asrama setiap hari, bertemu orang-orang yang sama, tempat-tempat yang tak ada ubahnya dengan hari kemarin, kegiatan yang itu-itu saja, tapi cerita di setiap harinya, yang pasti berbeda, PASTI.

Kami melalui semua hal selama lima tahun di SMART bersama-bersama, hingga akhirnya wisuda hadir dan mengubah segalanya. Momen penanda akhir perjuangan kami di sekolah yang penuh cerita dan kenangan indah, yang paling kami nanti-nantikan di awal perjuangan, tapi menjadi salah satu yang paling menyedihkan yang pernah kami alami, setidaknya saya pribadi. Wisuda menyadarkan kami, bahwa lima tahun bukanlah waktu yang sangat lama, bahwa kita akan hidup sendiri-sendiri dan tak lagi bersama, bahwa semua yang pernah kami lakukan akan tinggal menjadi cerita, bahwa tak akan ada lagi dihukum bersama, isak tangis menggemuruh, atau lelucon basi yang menjadi segar. Kami dihadapkan pada realitas bahwa berkumpul bersama kelak tidak semudah biasanya, harus menyesuaikan waktu kosong, tidak ada lagi teman sekamar yang akan terganggu atas kikikan tawa puas teman lainnya, dan harus keluar untuk menghadapi hidup sesungguhnya.

Mereka menjadi alasan kedua saya setelah keluarga di rumah atas bertahannya saya di SMART hingga akhir dan tentu saya berkewajiban berterima kasih kepada mereka atas semangat dan dukungan itu. Kelak, ketika saya telah mencapai sukses yang saya definisikan dan hidup dengan keluarga baru, saya akan mengajak anak-anak dan istri-istri, eh, istri, saya ke SMART. Menunjuk dengan bangga ke arah sekolah yang megah itu, sambil berkata, “Di sana, di setiap sudutnya, ada cerita menarik yang terpendam, tentang orang-orang jauh yang disatukan, serta menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang pernah lemah namun bangkit tak kenal lelah”.

Memang ada benarnya kata-kata petinju tenar di atas, pertemanan bukan hal yang kita pelajari di sekolah bersama matematika dan sebagainya, tapi kalau kita tidak mempelajari arti pertemanan, kita sungguh tidak belajar apa-apa. Terima kasih SMART, terima kasih INDIERS.

Sincerely,
-Calon Duta Besar Indonesia untuk Inggris

SNMPTN/SBMPTN: Intinya Jadi Maba Kampus

Juno

Oleh: Johan FJR, Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK).

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI. Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu. Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI. Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4. “Gantian woi!” Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang. Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti. Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci. “Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?” “Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.” Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata! “Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …” Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau. “ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ” Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana? “ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ” … nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA! “NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah! “NAMAKU JUGA!” ujar Rofi Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?’ Kami berdua mengerubungi bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe. Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau. Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa. Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:
1. Ilmu Komunikasi UI Yap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura. 2. Sosiatri UGM Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe. 3. Jurnalistik Unpad Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART EI dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.

Politik Jalan Hidup Saya

Oleh: Cecep Muhammad Saepul Islam

Alumni SMART Angkatan 8. Saat Ini Berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum.

cecep“Bukan politik yang kotor, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya saja yang tidak bisa menjaga kemurnian politik”

Itu merupakan jawaban yang sering saya katakan kepada setiap orang yang meragukan saya untuk terjun ke dalam dunia politik. Mulai dari keluarga besar, teman-teman, guru BK, kepala sekolah semua meragukan saya. Tapi saya keukeuh untuk masuk politik. Lalu, kenapa sih saya ingin sekali masuk dunia politik? Oke semuanya akan saya jelaskan di sini.

Semua bermula saat usia saya menginjak 10 tahun, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat di mana -saya rasa- itu merupakan masa untuk membentuk kepribadian dan masa depan. Saya yang sedang asik menikmati waktu libur panjang ditawari hal menarik  oleh ayah saya, seorang yang paling saya hormati.

“Cep, besok mau ikut kampanye partai gak? Lumayan sekalian bapak ajak jalan-jalan keliling Bandung”.  Tanpa pikir panjang aku menerima ajakan itu, bukan ajakan untuk kampanye yang membuat saya bersemangat, melainkan ajakan untuk jalan-jalan keliling Bandungnya. Yah, saat itu saya belum mengerti yang namanya politik.

Keesokan harinya setelah bangun tidur, saya langsung bergegas mandi. Ini hari yang paling saya tunggu. Bapak saya sudah bersiap dengan menggunakan kaos dengan gambar lambang salah satu partai politik di Indonesia. Tanpa saya minta, bapak memberikan satu kaos yang sama dan pastinya pas dengan ukuran badan saya. Kami pun berangkat dengan motor, aku yang dibonceng oleh bapak memegang bendera partai dengan semangat.

Belum juga melewati desa, motor yang ayah saya kemudikan tiba-tiba berhenti, ternyata sudah banyak orang yang menunggu dengan seragam yang sama dengan kami. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, keliling Bandung berbondong-bondong dengan orang yang baru saya kenal. Gumam saya dalam hati.

Setelah beberapa menit mendengar orang yang berpidato lewat pengeras suara, kami pun berangkat. Benar-benar di luar dugaan ku, perjalanan menuju pusat Kota Bandung sangat menyenangkan. Bunyi klakson terdengar bersaut-sautan, banyak bendera partai berkibaran, dan pastinya massa semakin banyak menyelimuti jalan raya. Banyak orang yang sedang berjalan di pinggir jalan raya berhenti sejenak untuk melihat kami, rasanya seperti penguasa jalan!!

Saking semangatnya hingga tak terasa bahwa kami sudah sampai di pusat Kota Bandung. Sudah ada ribuan orang dengan seragam dan atribut partai yang sama dengan kami menutupi lapangan. Dari kejauhan terlihat berdiri kokoh panggung megah yang nantinya akan dijadikan tempat orasi oleh partai tersebut. Nyanyian sudah terdengar samar-samar dari depan panggung. Saya turun dari motor dan menunggu bapak yang sedang memarkirkan motornya. Bapak memegang tanganku, “ Jangan jauh-jauh dari bapak, nanti kamu bisa berpisah dari bapak. Bahaya!” Saya hanya menganggukkan kepala.

Kami mulai menuju kerumunan, benar-benar penuh sesak. Tapi entah mengapa, saya merasa menyukai suasana seperti ini, saya hanyut dalam acara. Banyak sekali acara yang diadakan oleh partai yang kami dukung. Salah satu hal yang membuat kami semakin bersemangat adalah ketika Iwan Fals menyanyikan lagunya, Wakil Rakyat. Semua ikut bernyanyi.

“Wakil rakyat seharausnya merakyat….Jangan tidur waktu sidang soal rakyat….Wakil Rakyat bukan paduan suara”. Semuanya hanyut dalam nyanyian.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, namun tanpa adanya aba-aba, hujan pun turun dengan derasnya. Saya kira semuanya akan berteduh, tapi tidak! Semuanya semakin bersemangat. Ada bendera merah putih ukuran yang berkibar di atas panggung utama. Ini luar biasa!!  Saya semakin terbawa suasana, bergoyang menikmati lagu-lagu yang terus dilantunkan oleh sang presiden masyarakat, Iwan Fals.

Saat sedang asik bergoyang, bapak menyuruh saya untuk ikut dengannya. Begitu juga dengan rombongan yang satu desa dengan saya. Kami akan siapa-siap untuk Shalat Dzuhur, setelah itu kami siap-siap untuk pulang. Diperjalanan pulang, suasana jalan masih ramai. Banyak rombongan yang memilih untuk pulang juga. Suasana masih ramai hingga kami tiba di desa kami.

Sesampainya di rumah saya mandi, bapak sudah menunggu saya di ruang tamu. Nampaknya ada yang ingin bapak sampaikan kepada saya.

“Cep sini. Ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu”

“Iya pak,” saya duduk di depan bapak.

“Gimana tadi Cep? Serukan.”

“ Iya pak,” saya mengusap-ngusap tangan yang masih kedinginan.

“ Begitulah Cep dunia politik. Semuanya siap dilakukan asalkan kita bahagia. Banyak orang yang rela hujan-hujanan demi mendukung orang yang belum tentu akan membuat mereka bahagia. Tapi kita yang memilih itu percaya, bahwa yang kita pilih adalah yang terbaik”. Bapak berhenti sejenak dan meneguk kopi yang ada di depannya.”Memang banyak yang bilang politik itu kotor, banyak korupsi, terus banyak kejahatan-kejahatan. Tapi ingatlah bahwa orang-orang yang kotor itu bukanlah orang-orang yang mengerti politik. Mereka hanya penikmat”.

“Saya pengen masuk politik pak”. Entah mengapa, seketika saya sangat ingin masuk politik.

“Bapak sih dukung-dukung aja kamu masuk politik. Tapi ingat, kamu harus amanah sama orang-orang yang udah percaya sama kamu yang udah bela-belain hujan-hujanan demi dukung kamu. Jangan sampai kamu mengecewakan mereka dan kamu termasuk ke dalam orang-orang yang menjadi penikmat politik saja. Kamu jangan sampai korupsi dan melakukan hal-hal kotor lainnya. Kamu bisa banyak teman kalau hidup di dunia politik dan bukan teman baik saja yang bakalan kamu miliki, tapi kamu juga bakalan punya temen-temen yang kotor,” ujar bapak penuh kesungguhan.

Muhun pak, saya paham”

“Dan satu lagi, Kamu ubah nasib Negara ini. Kita semua kalangan bawah udah bosan dibohongin sama orang yang kita pilih”

Saat itulah keinginan saya untuk masuk dunia politik makin kuat, bukan untuk mencari kekayaan. Tapi saya sangat menyukai dunia politik. Dunia politik itu gak ada kata lelah dan pastinya bakalan punya banyak teman. Terserah kata orang mau bilang saya bakal korupsilah, bakalan sombonglah, bakan apalah. Tapi lihat saja nanti, siapa yang akan merubah negeri ini!.

Dan sekarang saya Cecep Muhammad Saepul Islam seorang anak desa akan menapakkan kakinya di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hukum. Terima kasih atas segala doa dan bantuannya dari kalian semua teman-teman Angkatan 8, karena tanpa kalian semuanya ini semua tak akan terjadi. Insya Allah saya akan membalas semua keraguan yang datang pada saya dengan bukti nyata bahwa saya akan mengubah image politik yang dianggap kotor oleh kalangan masyarakat.

Lalu ada pertanyaan, “Lah kok jadinya masuk Ilmu hukum bukan Ilmu Politik atau Ilmu Pemerintahan? Karena Hukum merupakan atasan segala hal yang berkaitan dengan perpolitikan di dunia.

Perjuangan Setelah SMART

Oleh: Muhammad Fatih Daffa

Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

Fatih(1)Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

WhatsApp Image 2017-02-18 at 6.56.41 AM

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”.

Sekian.

Anak Zaman Now Kudu Paham Amalan Cerdas

IMG-20180206-WA0000

Sob pernahkah kamu merasa banyak sekali melakukan kesalahan yang berujung pada dosa? Lalu apa yang kamu lakukan untuk menghilangkan dan meminimalisasi perasaan tersebut? Kalau kami biasanya banyak-banyak membaca Qur’an, karena kami tahu ketika membaca Quran kami akan mendapatkan pahala dan kebaikan dari kemuliaannya. Selain itu kami juga berusaha mencari amalan cerdas. Amalan cerdas? Apa itu? Jadi Sob amalan cerdas ialah amalan yang pahalanya bisa mengalir sampai  kita meninggal dunia. Nah kalau menurut Ustaz Adi Hidayat, LC amalan ini biasa disebut dengan Shodaqoh Jariyah.

“Ketika kita punya uang Rp 100.000. Bagaimana caranya agar uang Rp 100.000 tersebut awet sampai ke akhirat? Caranya, cari amalan cerdas. Misalnya belikan mushaf berikan ke penghafal Al-Qur’an. Begitu dibacakan Al-Qur’annya, kita dapat pahalanya,” lanjutnya.

Seperti sabda Rasulullah saw., “Dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu): Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal”. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astâr, halaman 149. hadis ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam shahihul Jami’ no. 3602

Salah satu nikmat besar Allah yang diberikan kepada hamba-Nya adalah menyediakan pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak. Pintu-pintu kebaikan tersebut diberikan bagi mereka yang mendapat taufik dan hidayah semasa hidupnya, dan pahalanya akan mengalir ketika mereka meninggal. Karena orang yang sudah meninggal itu mereka tidak bisa lagi beramal dan mereka akan diminta pertanggunjawaban lalu diberi balasan dari perbuatan-perbuatan yang pernah mereka lakukan dalam hidup mereka.

Dengan memperbanyak amalan-amalan jariah, maka sebenarnya kita sedang menanam benih-benih pahala yang buahnya akan dipanen ketika seseorang sudah tidak berada di dunia lho Sob. Selama amalan kita bermanfaat bagi orang lain di dunia, maka pahala-pahala kita akan terus mengalir di akhirat kelak.

Semoga Allah Azza wa Jalla menghapus dosa-dosa kita dari pahala-pahala kebaikan yang kita lakukan dan senantiasa memberikan kita kesempatan untuk selalu berbuat kebaikan ya Sob.

Donasi Pendidikan untuk Ekselensia Tahfidz School:

Transfer bank ke rekening BNI Syariah 2881 2881 26 a.n. Yys Dompet Dhuafa Republika. Sertakan kode 18 di akhir nominal transaksi, misalkan 500.018

Konfirmasi donasi:

Whatsapp 081288338840

Telepon (0251) 8612044

 

Kamu Harus Tahu Keutamaan Al-Quran Ini!

IMG-20180129-WA0004

Sob seperti yang telah kamu ketahui kalau Al-Quran memiliki peranan penting dalam hidup manusia. Di dalam Al-Quran tertera berbagai keajaiban alam hingga kegiatan muamalah  yang sangat pas serta relevan dengan kehidupan kita hingga saat ini, padahal Al-Quran telah ada di Bumi sejak ribuan tahun silam lho. Luar biasa sekali kan? Tak mengherankan jika Al-Quran memang pas dijadikan pedoman bagi kita semua.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi Shahibul Qur’an” – (HR. Muslim  804)

Selain dipelajari, ternyata Al-Quran juga bagus bila kita menghapalnya. Para penghapal Al-Quran biasa disebut dengan Shahibul Qur’an, Sob, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani pernah berkata bahwasanya Shahibul Qur’an adalah orang yang menghafalkan Quran di hati, hal itu didasarkan atas sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

“Hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ (paling hafal) terhadap kitabullah”

 

Lalu apakah kamu tahu kalau banyaaak sekali keutamaan menghafal Al-Quran diantaranya:.

  • Mendapatkan ridho Allah swt.
  • Quran akan menjadi penolong (syafaat) bagi penghafalnya
  • Akan menjadi benteng dan perisai hidup
  • Pedoman dalam menjalankan kehidupan
  • Kebaikan dan berkah bagi penghafalnya
  • Rasulullah sering mengutamakan yang hafalannya lebih banyak (Mendapat tasyrif nabawi)
  • Para ahli Quran adalah keluarga Allah yang berjalan di atas bumi
  • “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
  • Dipakaikan mahkota dari cahaya di hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari
  • Kedua orang tuanya dipakaikan jubah kemuliaan yang tak dapat ditukarkan dengan dunia dan seisinya
  • Kedudukannya di akhir ayat yang dia baca
  • Tiap satu huruf adalah satu hasanah hingga 10 hasanah

Setelah mengetahui keutamaann menghafal Al-Quran, maka kamu harus mengerahui kalau derajat surga yang didapatkan seseorang itu tergantung pada banyak hafalan Al Qur’annya di dunia, bukan pada banyak bacaannya, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Maka di sini kita ketahui keutamaan yang besar bagi pada penghafal Al Qur’an. Namun dengan syarat ia menghafalkan Al Qur’an untuk mengharap wajah Allah tabaaraka wa ta’ala, bukan untuk tujuan dunia atau harta” (Silsilah Ash Shahihah, 5/281).

Nah Dompet Dhuafa Pendidikan sebagai lembaga yang peduli dengan pendidikan anak negeri serta turut serta mencetak para penghafal muda Al-Qur’an melalui program-program pendidikannya akan meluncurkan program Ekselensia Tahfidz School yang segera diresmikan dalam waktu dekat.

Kami mengajak kamu semua untuk ikut berinvestasi untuk masa depan Indonesia dengan bersedekah untuk program-program Dompet Dhuafa Pendidikan.

Yuk salurkan sedekahmu melalui transfer bank ke rekening BNI Syariah 2881 2881 26 a.n. Yys Dompet Dhuafa Republika. Sertakan kode 18 di akhir nominal transaksi, misalkan 500.018.

Informasi dan konfirmasi:

Whatsapp 081288338840

Telepon (0251) 8612044

 

Pelajaran dalam Perjalanan?

Oleh: Usamah Ismail

Semuanya berawal dari spontanitas. Berawal dari celetukan bibiku –yang memang suka nyeletuk— tentang wisata sekeluarga mengunjungi “Kampung Coklat” yang ada di Kota  Blitar. Sebuah celetukan yang membuat kami sekeluarga berunding hebat. Tak disangka gayung bersambut karena nenek pulang membawa kabar gembira, beliau menyampaikan kalau baru saja mendapatkan uang arisan. “Ya sudah, ini pakai saja uang nenek untuk biaya kamu jalan-jalan. Nenek ikhlas,” ujar nenek seraya menggelontorkan sejumlah uang. Aku senang bukan kepalang karena tanpa terlalu banyak diskusi rencana “iseng” ini berhasil. Hanya butuh celetukan, rejeki, dan orang yang mengiyakan maka jadilah rencana kami sekeluarga jalan-jalan. Nah ada dua pelajaran yang kupetik dari sini, yuk simak.

IMG-20171228-WA0011

–Pelajaran 1–

Spontanitas tak selamanya buruk. Bahkan, kadang dibutuhkan untuk menghasilkan sesuatu yang wah. Karena, terlalu banyak pertimbangan biasanya hanya menghancurkan rencana yang telah atau sedang dibuat. Jadi, aku berpikir bahwa memang, terlalu banyak berpikir itu tak baik.

Kala itu, kami berangkat menggunakan mobil elf yang sudah disewa pada diskusi singkat sebelumnya. Aku mendapat tempat duduk di bagian paling depan di samping pak sopir. Selama perjalanan aku hanya duduk terdiam memangku sepupuku yang masih berusia dua tahun. Apa hal yang membuatku terdiam, padahal ini adalah wisata keluarga yang seharusnya diisi dengan canda tawa? Yah, perlu diketahui bahwa dari semua penumpang mobil besar itu, kaum lelaki duduk di kursi bagian terdepan mobil (aku, sopir dan sepupu bayi). Di belakang? Diisi oleh kaum hawa, mulai dari mbak-mbak, ibu-ibu, sampai nenek-nenek, termasuk adik perempuanku. Jadi, aku hanya diam mendengarkan dan berusaha memahami apa maksud obrolan kaum hawa di belakang (yah, kurang lebih isinya gosip ibu-ibu yang aku tak pernah paham).

–Pelajaran 2–

“Mungkin ini memang saatnya mengambil pelajaran,” pikirku.

Manusia sebagai makhluk hidup harus memiliki kemampuan beradaptasi. Selama ini aku bisa beradaptasi dan hidup tentram di lingkungan yang semuanya lelaki. Iya sekolahku, SMART Ekselensia Indonesia, isinya memang lelaki semua. Nah yang aku bingung seharusnya aku juga bisa beradaptasi dan membaur dengan lingkungan heterogen. Ahh… aneh memang. Tapi aku tak menyerah aku terus “memaksa” diri ini agar lebih baik dalam membaur di lingkungan baru dan lebih heterogen.

IMG-20171228-WA0000

Aku tiba di Kampung Coklat – Blitar dengan wajah sumringah, begitupula dengan keluargaku. Kami mulai memasuki gerbang dan disambut lorong gelap serta remang-remang. Di sepanjang lorong, terlihat banyak lukisan-lukisan yang menggambarkan semua sejarah tentang coklat. Rombongan keluargaku berjalan terlalu terburu-buru, jadi aku tak sempat membaca dan memahami semua lukisan di sana. Setelah melewati lorong, sampailah kami  di tempat rindang penuh dengan pohon coklat yang ternyata tak terlalu tinggi pohonnya.

IMG_20171226_100530

Aku terkejut saat melihat bagian dalam dari tempat wisata ini, ternyata indah. Yah walaupun isinya hanya orang berjualan berbagai macam produk berbahan dasar coklat, seperti es krim coklat, coklat panas, permen coklat berbagai rasa, dsb.  Aku hanya melihat-lihat ke sana ke mari dan tertawa. Karena memang dasarnya coklat itu harganya mahal, dan aku tak bawa uang karena aku juga tak tahu bahwa akan jadi seperti ini. Lalu, setelah diperhatikan lagi, ternyata ada tempat khusus -yang bukan untuk lapak jualan-, tempat terapi kaki dengan ikan. Entah apa sebutan dan khasiatnya, hanya karena ini yang termurah diantara yang lain, aku langsung menceburkan kakiku ke dalam kolam ikan itu dan menghabiskan waktu yang cukup lama hanya terduduk di sana sambil menunggu para wanita menyelesaikan urusannya -berbelanja, makan, dan mengobrol-.

IMG_20171226_105546

–Pelajaran 3–

Ambil hikmahnya. Liburan Pulang Kampung SMART kali ini aku banyak mengambil hikmah berharga dari awal tiba di kampung halaman hingga perjalanan ke Kampung Coklat.  Aku merasa menjadi sosok baru yang siap menyongsong kehidupan SMART lebih baik lagi. Ah tak sabar rasanya segera kembali ke sekolah.

IMG-20171228-WA0000

Yah apapun yang terjadi pada liburan kali ini, aku ambil saja hikmahnya…

With Scout We Lead the World

Oleh: Asep Rogia 
KAMI PRAMUKA TAPI KAMI MUSLIM. Kalau ada aturan pramuka yang bertentangan dengan nilai Islam, maka aturan Pramuka layak diterjang.
Jiwa kemandirian dalam pramuka, ketaqwaan, kesederhanaan, persatuan dan patriotisme diajarkan dalam setiap sendi kehidupan maka bukan hal yang mustahil jika kita melihat pemuda dan pemudi Indonesia menjadi generasi kuat.
Jika semangat “permainan menarik yang mengandung pendidikan” sebagai ajaran dasar kepanduan dunia, diterapkan dan diejawantahkan dalam berbagai perilaku organisasi dan sistem pengajaran, bukan tidak mungkin jika pemuda dan pemudi Indonesia akan menjadi generasi penuh tekad.
Jika saja kedisplinan yang menjadi ruh pramuka diterapkan dalam setiap sendi kehidupan, dimulai dari bangun tidur hingga terlelap kembali maka tidak mustahil jika pemuda dan pemudi Indonesia memimpin dunia.
Di arena pramuka banyak terjalin persatuan. Tak peduli ras, suku, dan agama karena persatuan ialah hal utama.
Jika nilai-nilai kepramukaan tentang kepemimpinan sudah merasuk ke dalam sanubari para pemuda dan pemudi Indonesia, maka bukan mustahil jika di masa depan akan  muncul  benih-benih  unggul  calon  pemimpin  Negara  Kesatuan  Republik Indonesia bahkan pemimpin dunia!
Di SMART, ajaran inti kepanduan sudah diterapkan sehari-hari. Sebab bagi para siswa SMART mereka harus tetap hidup disiplin, kreatif, bertaqwa, aktif, dinamis, dan berjiwa luhur dalam setiap nadi kehidupan walau ada atau tidaknya kegiatan pramuka. Karena nilai-nilai pramuka sudah lama bersarang di dalam jiwa mereka.
Salam PRAMUKA!!
(Tulisan telah mengalami proses editing (AR))

 

Karena Seorang Guru Pantang Tak Kreatif

Oleh: Dede Iwanah, S.Pd.

Guru IPS SMP SMART Ekselensia Indonesia

 

Hari itu, Sabtu siang nan terik, berkumpulah belasan bapak/ibu guru dari berbagai jenjang sekolah mulai PAUD, SD baik negeri maupun swasta dan MI di Pusat Studi Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Mereka datang dari beberapa wilayah di Kabupaten Bogor.

Nampak dari raut wajah mereka sangat antusias dn terlihat semangat menimba ilmu meski terpaut usia yang cukup timpang satu sama lain. Ya, siang itu saya diamanahi menjadi fasilitator workshop media pembelajaran pada kegiatan Komunitas Guru Pembuat Media Pembelajaran (KOMED) yang dimotori oleh PSB.

Siang itu, saya mempresentasikan tentang Monasean, sebuah produk permainan yang diadopsi serupa monopoli baik bentuk ataupun permainannya dan dipadukan dengan materi ASEAN pada mata pelajaran IPS kelas IX semester 1. Monasean adalah salah satu produk orisinil karya siswa kelas IX A SMP SMART Ekselensia Indonesia tempat saya mengajar.

Tibalah saat lokakarya, di mana mereka dipersilahkan mempraktikkan membuat permainan sejenis dengan tema yang berbeda dan cara bermain yang berbeda pula sesuai dengan jenjang pendidikan siswa yang mereka ajar. Di luar dugaan para peserta lokakarya sangat antusias dengan produk Monasean, sehingga tidak perlu menunggu lama untuk mereka langsung bergerak dan menyiapkan seluruh peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Dengan sigap mereka langsung membentuk kelompok dan berbagi tugas, sehingga  beberapa waktu kemudian terciptalah Monopes (Monopoli Pesawat Sederhana), Monua (Monopoli Benua), dan Monomazi (Monopoli Makanan Bergizi) meski belum rampung 100%.

Subhanallah, siswa/siswi mereka patut berbangga kepada mereka, bahkan Indonesia patut mengapresiasi dedikasi mereka. Di saat orang lain berakhir pekan dengan keluarga, guru-guru yang tergabung dengan KOMED harus rela berakhir pekan dengan membuat berbagai media pembelajaran sebagai bahan ajar di kelas mereka demi melihat senyum di wajah polos para siswanya. Dua jempol untuk semangat mereka yang luar biasa.

Sungguh menyenangkan menjadi bagian dari mereka yang bekerja keras demi sebuah media pembelajaran dan larut dalam sebuah situasi di mana kertas karton warna warni, spidol, lem, aneka gambar berserakan mewarnai lantai berkarpet Ruang Audio Visual PSB. Sungguh membanggakan, merekalah guru sejati.

Setiap dari kita adalah seorang guru, seorang pembelajar sejati, seorang inspirator bagi seluruh siswanya dan bagi dunia. Kita lah guru harapan masa depan pendidikan Indonesia. Semoga semangat berkontribusi terpatri pada setiap diri kita meski bagai buih di lautan.

“A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron (seorang guru yang berusaha mengajarkan tanpa menginspirasi muridnya dengan keinginan untuk belajar adalah seperti memalu besi dingin) ~ Horace Mann

 

Karena Kegiatan Ini (Insha Allah) Pahala Kami Semakin Banyak

Sejak angkatan pertama hingga angkatan dua belas ada sebuah kegiatan yang membuat kami selalu merasa nyaman berada di SMART. Bukan hanya nyaman, tapi juga ada perasaan tenang yang menyusup diantara penatnya pikiran kami akan banyaknya pelajaran yang haus akan perhatian.

“Lalu kegiatan apakah itu?” nah kamu sudah mulai penasaran deh, kami menyebutnya SMART Ma’tsurat. SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap Selasa, Rabu, dan Jumat lepas Salat Asar. Semua siswa wajib mengikuti kegiatan ini, tak ada kecuali. Kami yang berjumlah 240 orang berkumpul di Masjid Al-Insan lalu bershaf dan saling berhadapan, satu orang memimpin dan memandu kami selama Al-Ma’tsurat dibacakan, sisanya mengikuti.

Selama kurang lebih tiga puluh menit kami bersama-sama membaca Ma’tsurat dengan khidmat dan penuh kesyahduan. Suasana sangat tenang, damai, dan penuh kesejukan. Suara kami menggema ke seantero area masjid, tak jarang hingga membuat mereka yang lalu lalang berhenti untuk turut serta.

“SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang selalu kutunggu, karena aku bisa membaca Ma’tsurat bersama teman-tema sekelasku dan kakak kelas yang lain,” ujar Qurtubi, kelas VIII. “Kebersamaannya yang membuatku kangen,” tambahnya.

Tapi tahukah kamu kalau membaca Al-Ma’tsurat memiliki beberapa keutamaan yang baik untukmu, antara lain:

  • Diriwayatkan dari Sya’bi dari Ibnu Mas’ud: “Siapa yang membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di rumah, setan tidak masuk ke rumah tersebut malam itu hingga pagi hari, empat ayat yang pertama, ayat kursi, dan dua ayat setelahnya, dan penutupnya ( tiga ayat terakhir). (HR.Thabrani )
  • Dari Abdullah bin Hubaib berkata rasulullah saw bersabda kepadaku, “bacalah Qul huwallahu ahad’, dan mu’awwadzataini (qul a’udzubirabbil falaq.. dan qul a’udzubirabbinnas.. ketika pagi dan sore tiga kali, cukup untukmu segala sesuatu’. (HR.abu Dawud dan Turmudzi)
  • Keutamaan membaca Al-Ma’tsurt lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, “siapa yang mengucapkan ketika pagi hari, ‘Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin’ tiga kali ketika pagi hari dan tiga kali ketika sore, Allah menyempurnakan nikmatnya atasnya” (HR.Ibnu Saunni)
  • Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi, sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda,” Siapa yang membaca ketika pagi ‘Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min khalkika falakal hamdu walakasyukr’ sungguh telah menunaikan syukur hari itu, dan siapa yang membaca pada sore hari, sungguh telah menunaikan syukur malamnya”.  (HR.Abu Dawud)
  • Dari Tsauban, berkata Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang mengucapkan ketika sore hari “radhitu billahi rabba wabil islami diina wabi muhammadin nabiyyah adalah hak atas Allah untuk menjadikan dia ridha”. ( HR.Turmudzi)
  • Ibnu Abbas berkata Rasulullah saw. Keluar dari (menemui) Juwairiyyah, dan dia berada di mushalanya dan beliau kembali sedang Juwairiyyah masih di mushallanya. Lantas Rasulullah bersabda, ”Engkau tak henti-hentinya di mushollamu ini“. Dia menjawab, “ya beliau bersabda “sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali kalau ditimbang dengan apa yang engkau katakan niscaya lebih berat dari yang engkau ucapkan,” ” Subhanallahu wabihamdihi ‘adada kholqihi”(HR.Muslim).
  • Dari Utsman bin Affan ra. Berkata, Rasulullah bersabda, ”Tidak ada seorang hamba membaca pada pagi hari setiap hari dan pada sore hari setiap malam, “Bismillaahi lladzi laa yadzurru m’asmihi syai’un……’ tiga kali maka tidak ada satu pun yang membahayakannya”. (HR.Abu dawud dan Turmudzi).
  • Dari Abi Sa’id Al-Khudri berkata, beliau bersabda,”Katakanlah jika engkau masuk pagi dan di sore hari “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali” Ia berkata,” maka aku lakukan hal itu lantas Allah menghilangkan kesusahanku dan menunaikan utangnya”. (HR.Abu Dawud).
  • Dari Abdurrohman bin Abi Bakrah dia berkata kepada bapaknya, ”wahai bapakku, sungguh aku mendengar engkau berdoa setiap pagi: ‘ Allahumma ‘aafini fi badani ….’engkau ulang tiga kali setiap pagi dan sore, dan engkau juga mengucapkan ‘ Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri…’ engkau ulang tiga kali tiap pagi dan sore. ‘ dia berkata. ”Ya wahai anakku, aku mendengar Nabi Muhammad saw. berdoa dengannya dan aku ingin mengikuti sunnahnya”. (HR.Abu Dawud, Ahmad, dan Nasai).
  • Dari Nabi saw, “penghulu istighfar adalah Allahumma anta rabbi ’barangsiapa membacanya di siang hari yakin dengannya, kemudian mati hari itu sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yang membaca pada malam hari yakin dengannya lalu ia mati sebelum pagi hari, maka dia termasuk ahli surga”. (HR.Bukhari)
  • Dari Abu Ayyasy, sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda, ‘siapa yang mengucapkan ketika pagi hari ‘Laa ilaaha illallah….adalah baginya sebanding memerdekakan budak dari putra Isma’il, ditulis untuknya sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kesalahan, diangkat sepuluh derajat, dan dia dalam penjagaan dari setan hingga sore, dan jika ia baca ketika masuk sore maka baginya seperti itu pula (HR.Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Waaah ternyata banyak sekali ya keutamaan membaca Al-Ma’tsurat, kami jadi semakin semangat mengikuti SMART Ma’Tsurat, selain mendamaikan juga banyak kebaikannya. Yuk kita biasakan membaca Al-Ma’tsurat agar Allah meridhoi semua hajat yang ingin kita lakukan. (AR)