Kalam Kak Amma

13782254_10209108979673465_8916378976840808600_n

Kak Amma Muliya Romadoni, demikian nama lengkapnya, saat ini tengah berjuang menyelesaikan kuliahnya di jurusan Teknik Termo Fluida Intitut Teknologi Bandung. Pria muda yang hobi membaca buku ini lahir di Jakarta, 30 Maret 1992.

Alumni angkatan pertama  SMART Ekselensia Indonesia ini memiliki kecintaaan besar dalam bidang  enterpreneurship. Kegiatan enterpreneurship yang ia tekuni sema masa kuliah adalah wirausaha dan technopreneur. Dalam bidang wirausaha ia menekuni bisnis konveksi khususnya dalam student entrepreneurship center. Technopreneur pun tidak luput digeluti pria muda ini. Ia menjadi CEO AMR Engineering lembaga Training Engineering Software pada tahun 2014. berbagai penghargaan dalam bidang enterpreneur ini didapatkannnya, salah satunya  prestasi sebagai penerima dana wirausaha Student Enterpreneurship Center USU 2011.

Dalam kegiatan keorganisasian di kampus, kakak asal Jakarta ini telah melakoni serangkaian pengalaman baik sebagai anggota ataupun ketua tim.  Organisasi softskill yang pernah ia ikuti antara lain organisasi keislaman khususnya lembaga dakwah kampus (LDK), badan eksekutif mahasiswa (BEM), serta badan pers fakultas teknik. Didalam kegiatan LDK kak Amma -demikian sapaan akrabnya- menjabat sebagai ketua pada tahun 2010-2011. menuru Menjadi staf departemen riset dan teknologi di BEM fakultas telah dijalaninya tahun 2011. Jabatan sebagai ketua redaksi koran “Simetrikal Engineering” di 2012 menjadi pengalaman organisasi berikutnya.

Serangkaian pengalaman berharga ia dapatkan selama berkuliah di jurusan teknik mesin, fakultas teknik, Universitas Sumatera Utara (USU). Ia pernah mengharumkan nama Indonesia dalam kejuaran membuat mobil hemat energi tingkat Asia Pasifik di Filipina tahun 2014. Juara satu kategori urban konsep bahan bakar etanol berhasil diraihnya dalam lomba yang diadakan salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia tersebut.  Tidak tanggung-tanggung, gubernur Sumatera Utara memberikan penghargaan kepada tim pembuat mobil yang dikomandoi olek Kak Amma tersebut.

Bidang penelitian merupakan bidang yang tidak asing beagi kakak kelahiran 30 maret ini. Membantu pengerjaan proyek penelitian tingkat pascasarjana  selama kuliah strata satu (SI) menjadikannya terampil dan memberikan pengalaman lebih untuk bekal pengerjaan penelitian nantinya. Studi Banding dan Presentasi Green Technology USU- USM Malaysia dilaksanakannya di tahun 2011. Selanjutnya, beasiswa dari LPDP  Kementerian Keuangan RI ia raih atas hasiil dari kerja kerasnya dalam berusaha dan belajar.

Kakak angkatan satu SMART EI ini menyatakan bahwa kehidupan di kampus bersifat heterogen. Hal ini tidak lepas dari datangnya berbagai pengaruh baih maupun buruk dalam setiap aktivitasnya. Kita ditantang untuk bisa konsisten dalam memilah-milah pengaruh yang baik maupun yang buruk. Sehingga, kita tidak terbawa arus yang tidak baik. Mengamalkan nilai-nilai baik yang telah diajarkan di SMART EI  menmjadi tantangan nyata karena kehidupan pasca SMART menjadi hambatan yang cukup nyata.

Kakak yang murah senyum ini berpesan kepada seluruh siswa SMART EI  jikalau mengalami kepenatan dalam belajarkarena haus akan ilmu, maka akan memetik hasil yang indah di masa yang akan datang. Pesan selanjutnya adalah elalu jadikan segala aktivitas sebagai ibadah, agar hidup menjadi berkah.

 

Kegiatan Alumni di Kampus?

  • Organisasi (Softskill) > Organisasi Islam ( Ketua Lembaga Dakwah Kampus tingkat Fakultas 2010-2011), BEM Fakultas ( Staff Departemen Riset dan Teknologi 2011), Manajer Tim Horas (Ketua Tim Pembuat Mobil USU 2013-2014 ), Chief Editor Koran Simetrikal Engineering 2012
  • Wirausaha (Student Enterpreneurship Center) Konveksi 2010 > Anggota
  • CEO AMR Engineering Lembaga Training Engineering Software (Technopreneur) tahun 2014

 

Pengalaman unik

  • Membawa Indonesia menjuarai kejuaran membuat mobil hemat energi di Filipina kategoribahan bakar ethanol Shell Eco-marathon Asia 2014
  • Mencoba hal yang baru untuk mengerjakan projek penelitian pascasarjana selama menjadimahasiswa S1

Plus dan Minus

  • Lingkungan di SMART sudah homogen ketimbang lingkungan di luar SMART. Olehkarenaituharus bisa memilah segala bentuk kegiatan yang akan dilakukan.
  • Apabila buruk menanamkan nilai yang sudah ditanamkan di SMART, maka akan lebih beratuntuk menjalani kehidupan pasca SMART.

Pesan untuk siswa

  • Jika mengalami kepenatan belajar dikarenakan haus akan ilmu, maka kita akan memetikhasil yang indah di masa yang akan datang
  • Selalu jadikan segala aktifitas sebagai ibadah, agar hidup menjadi berkah

 

Biodata :

Nama : Amma Muliya Romadoni

Alumni : angkatan 1

Asal : Jakarta

Tanggal lahir : 30 Maret 1992

Hobi : Membaca

 

Prestasi :

  • Studi Banding dan Presentasi Green Technology USU- USM Malaysia 2011
  • Penerima Dana wirausaha Student Enterpreneurship Center USU 2011
  • Penghargaan Gubernur Sumatera Utara dalam pelombaan mobil hemat Energi Shell Eco-Marathon Asia 2014
  • Juara I Mobil Hemat Energi Kategori Urban Konsep Bahan Bakar Etanol Shell Eco-Marathon Asia 2014
  • Penerima beasiswa LPDP Kementrian Keuangan RI 2015

Pendidikan :

  • S1 Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU)
  • S2 Teknik Termo Fluida ITB (sedang berjalan)

Akhirnya Kami Lulus!

Kemarin malam (27/05) kami, Angkatan 8, mengadakan acara kumpul untuk terakhir kalinya. Suasana mendung, semua seperti dirundung murung. Mungkin karena nanti setelah lulus kami akan sulit untuk sekadar berkumpul atau bercengkrama seperti dulu. Mengingat itu sedih rasanya, tapi apa mau dikata, memang fasenya seperti itu kan? Malam itu banyak hal kami bicarakan, mulai dari yang sedih sampai menyenangkan. Lalu tiba-tiba kami teringat kalau pakaian wisuda kami belum disetrika, dan kami seperti lupa kalau besok ternyata…. wisuda.

Mari menyetrika, lalu istirahat….

Udara hari ini (28/05) terasa menusuk, dingin dan enak untuk menarik selimut kembali, bahkan sampai membuat mata kami seolah tak mau berkompromi, mungkin karena semalam kami tidur terlalu larut. Namun semangat kami untuk melaksanakan prosesi wisuda mengalahkan itu semua, dengan semangat super akhirnya kami bergegas mandi, memakai pakaian wisuda yang sudah licin disetrika, lalu ramai-ramai menuju Kelas Kimia untuk mengambil toga. Di Kelas Kimia bu Dina sudah menanti kami, mengingatkan agar kami jangan sampai terlambat. Ah segera saja kami memakai toga dan sedikit wefie di sana sini hehe lalu meluncur ke tenda besar tempat dilaksanakannya wisuda. Sesampainya di sana ternyata acara intinya belum dimulai dan kami harus menunggu selama beberapa menit, banyak dari kami yang mengeluh kepanasan karena tebalnya baju wisuda, tapi yasudahlah yang penting hari ini hari besar untuk kami.

Wisuda 16

Akhirnya kami dipanggil masuk ke dalam ruangan wisuda, beberapa dari kami mulai menitikkan air mata ketika lagu Gaudeamus Igitur dan Mars SMART dikumandangkan. 5 tahun, sungguh tak terasa. Rasanya baru kemarin kami ribut masalah sepele, menangis bersama-sama kerena rindu orang tua, dan melakukan kegiatan bersama-sama. Sekarang kami harus berhadapan dengan bab baru dalam hidup kami, bab kelulusan. Sedih, namun kami kuat. Berjauhan dengan orang tua dan saudara dalam waktu 5 tahun membuat kami semua terlatih menghadapi kesedihan, walau akhirnya air mata pasti akan tumpah juga.

Wisuda 13

Oke balik ke prosesi wisuda ya. Mengusung tema ‘Membentang Kebaikan, Menggapai Harapan, Melukis Masa Depan’ di wisuda Angkatan 8 ini banyak hal istimewa kami dapatkan. Seperti misalnya wejangan dan pembelajaran menjadi pribadi sukses dari pak Sendy Aditya Kamesvara, Marketing & Operation Director PT. Metra Digital Media by Telkom Indonesia, menurutnya yang penting dalam hidup itu perjuangan dan keinginan sungguh-sungguh untuk menggapai mimpi yang kita punya, tanpa itu semua maka mimpi kita hanya akan jadi bualan semata. Selain pak Sendy ada juga ibu Sri Nurhidayah, GM Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa yang membesarkan hati kami semua agar tidak minder dengan keadaan karena yang terpenting adalah bagaimana kela bisa sukses dan bermanfaat luas bagi orang lain. Wah pokoknya dua pembicara keren ini sungguh membuat kami merinding dan makin semangat untuk menggapai yang kami cita-citakan. Pun di prosesi wisuda tahun ini kami juga bisa melihat kemajuan adik-adik kelas kami yang tergabung dalam Tim Ansamble, Tari Saman, dan juga Paduan Suara. Sekarang mereka hebat-hebat, musikalitas dan harmonisasi gerakan mereka juga lebih selaras, kerenlah.

Wisuda 2

Wisuda 3

Wisuda 4

Wisuda 6

Wisuda 7

Wisuda 9

Sesi demi sesi berlalu, sampailah kami di sesi di mana kami resmi menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, sesi pengalungan dan pemberian sertifikat selama belajar di sini. Satu per satu nama kami dipanggil, satu per satu tali topi toga kami dipindah, senang dan sumringah terpancar di raut wajah kami. Jelas kami senang karena akhirnya bisa menamatkan pendidikan tingkat sekolah menengah dengan hasil yang baik, tak ada yang lebih menyenangkan dari itu. Setelah semua nama dipanggil, setelah kami semua duduk di bangku masing-masing, tak dinyana ternyata ada pengumuman tambahan, pengumuman wisudawan terbaik. Dag dig dug dag dig dug kami menerka-nerka kira-kira siapa yang berhasil menyabet gelar bergensi tersebut. Wisudawan terbaik merupakan gelar yang diberikan pada siswa terbaik selama belajar di SMART dalam kurun waktu lima tahun, penilaiannya sendiri dilakukan oleh para guru dan juga guru di asrama. Kami masih menanti, menanti dan menanti. Hingga akhirnya nama Muhammad Fatih Daffa terucap dari mulut pak July, Kepala Sekolah kami, sorak sorai sontak memenuhi ruangan karena Fatih memang selama ini dikenal menjadi siswa yang selalu di depan. Karena Fatih terpilih menjadi wisudawan terbaik maka ada dua tugas menanti Fatih di atas panggung, serah terima kendi ilmu pada adik kelas kami di Angkatan 13 –yang baru akan mulai belajar selepas Lebaran nanti- dan pembacaan ikrar alumni. Alhamdulillah semua dilakukan Fatih dengan baik.  Tak ketinggalan pada kesempatan tadi 11 orang yang berhasil lolos SNMPTN juga mendapatkan sesinya sendiri.

Wisuda 15

Wisuda 14

Wisuda 12

Oh iya seperti wisuda tahun-tahun sebelumnya alumni SMART dari berbagai angkatan pasti datang. Namun pada kesempatan kali ini agak berbeda karena salah satu alumni SMART, panggil saja ia kak Ama, yang saat ini sedang mengambil S2 di ITB memaparkan tentang IKA SMART Ekselensia Indonesia alias Ikatan Keluarga Alumni SMART Ekselensia Indonesia. Jadi IKA SMART Ekselensia Indonesia merupakan wadah bagi semua alumni SMART, para alumni akan ditempatkan dalam satu “rumah”, nah ada beberapa ketentuan yang harus diikuti para alumni agar hubungan mereka kian erat. Eh ternyata baru sadar kalau kami saat ini telah resmi menjadi alumni SMART. Bikin baper sih.

Wisuda 11

Setelah melewati beberapa sesi yang agak membosankan, sampailah kami dipenghujung acara, lebih tepatnya acara puncak. Di acara puncak ini para tamu undangan kami “paksa” menyaksikan video angkatan kami, syukurlah hasilnya melegakan karena banyak dari mereka yang terpingkal-pingkal. Sebelum video berakhir teman kami membawakan teatrikal puisi yang mampu menyihir tamu undangan yang datang dan membuat guru kami menangis. Tangisan makin banyak terlihat ketika kami yang ber-32 tampil menyanyikan lagu untuk guru kami tersayang, usai menyanyikan lagu kami semua meminta maaf pada mereka dengan berderai air mata. Berat rasanya meninggalkan SMART, berat rasanya meninggalkan kenangan indah selama lima tahun bersama, berat rasanya melupakan semua hal indah indah ketika kami di sini. Berat sekali *baper lagi deh.

Wisuda 8

Tak ada kata yang bisa kami ucapkan selain terima kasih, ini bukanlah perpisahan hanya sebuah pertemuan kembali yang tertunda. Terima kasih SMART atas pengalaman lima tahun yang tak terlupakkan.

 

KAMI SUDAH LULUS! DUNIA KAMPUS TUNGGU KAMI!

 

Titian Tangga Asrama

Oleh: Andrian Eka Wijaya.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

DSC_0167Pertama, saya ingin berterima kasih pada Allah SWT. Kedua, tak lupa shalawat serta salam tetap tercurah pada Nabi Muhammad SAW. Ketiga, pembuka tulisan ini memang aneh tapi bodo amat, ya saya mau cerita tentang kehidupan selama saya hidup di SMART Ekselensia Indonesia atau lebih tepatnya curahan hati yang saya alami selama di SMART Ekselensia Indonesia.

SMART Ekselensia Indonesia. Sekolah berasrama yang ditempuh hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Nah diantara kalian siapa coba yang gak tahu asrama? Di SMART kami juga tinggal di asrama lho. Di asrama kami “dipaksa” untuk bisa hidup mandiri dengan sendirinya seperti mencuci baju, piring, beres-beres, dan masih banyak lagi. Hufffft….banyak lah pokoknya. Percaya atau tidak, tapi saya bangga menjadi anak asrama. Kenapa? Karena ternyata anak asrama itu tak seperti anak-anak kebanyakan di luar sana, dengan hidup di asrama mental kami ditempa dari cengeng jadi tidak cengeng, dari malas jadi rajin, dari kotor jadi bersih. Eh tapi yang terakhir cuma pengin pencitraan saja hehe.

Asrama, asrama, asrama. Memang bosan sih hidup di asrama yang kerjaanya ya itu…itu…itu…saja. Mulai dari bangun sampai tidur lagi yang dilihat hanya itu-itu doang shay. Tapi ada satu hal yang saya kagumi dari Asrama SMART. Apa itu? Itu adalah “tangga” kenapa tangga? Karena tangga sudah seperti bagian dari hidup siswa di Asrama SMART. Mulai dari mau berangkat sekolah turun tangga, pulang sekolah naik tangga, mau makan kudu mesti harus lewat tangga, sampe mau tidur pun juga ketemu tangga … huh … bosan. Tapi karena tangga kami jadi kuat karena secara tidak langsung kami berolahraga tiap hari. Karena tangga juga saya jadi yakin kalau cita-cita itu memang harus dikejar, perlahan tapi pasti.

Saya yakin kelak saya dan teman-teman lainnya akan jadi mutiara yang bersinari ketika keluar dari asrama SMART, sehingga nanti kami akan dapat menyinari lingkungan sekiranya dengan cahaya keindahan hahaha… sekian curahan hati saya tentang hidup di Asrama SMART. Terimakasih sudah mau membaca tulisan saya yang singkat padat jelas bermakna.

 

HIDUP ASRAMA!

Cita-Cita?

Oleh: Afdal Firman.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

DSC_0146“Apa cita-citamu, Afdal? Tanya ayahku. Pertanyaan itu dilontarkan oleh ayahku lima tahun yang lalu. Lantas aku menjawabnya, “pemain bola professional, yah”. Ia terlihat manggut-manggut seraya bertanya kembali, “memang itu bisa dikatakan cita-cita?” sekenanya aku menjawab, “Cuma itu yang aku tahu yah, dan aku rasa aku bisa bermain bola. Lagipula jadi TNI, dokter, Polisi sudah pasaran yah”. Ayahku termangu mendengar jawabanku, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya setelah itu. Ada jeda panjang yang membuat suasana tak mengenakkan kala itu.

Dulu mungkin aku tidak tahu kenapa ayah menanyakan cita-cita kepadaku, tapi sekarang aku tahu jawabannya. Tak ubahnya seorang guru, ayahku merupakan orang pertama yang ingin melihat anaknya sukses. Begitu pun ibuku.

Ketika itu aku ingin masuk SSB selepas SD, namun sekolah menawarkan beasiswa SMART padaku. Dengan restu orang tua aku mengikuti tes beasiswa tersebut. Selepas tes aku yakin sekali tidak lulus. Banyak sekali kotak jawaban yang kosong. Lalu aku berpikir mungkin menjadi pesepakbola merupakan pilihan yang tepat, oleh karenanya aku aku meminta kepada ayahku untuk dibelikan sepatu bola. Setelah sekian lama nego akhirnya ayah membelikanku sepatu bola. “Nih Dal sepatu bolanya. Besok daftarnya ayah temanin,” ucap ayahku. Ucapannya membuat hatiku senang, namun kesenangan itu tak bertahan lama, rasa bahagia itu digantikan rasa sedih yang menggelora. Namun ini bukan sedih pada umumnya, rasa sedih ini merupakan ungkapan kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan.

Aku lulus seleksi beasiswa SMART, yap aku lulus, hilang sudah perbendaharaan kata-kataku setelah melihat pengumuman itu. Sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka yang kucintai. Cita-citaku kukubur, sepatu itu? Sepatu itu hanya kutaruh di dapur. Sedih, namun orang tuaku selalu punya obat untuk kesedihanku. “Ingat ketika dulu ayah bertanya tentang cita-cita?” Tanya ayahku seraya meredakan suasana hatiku. “Ya ayah,” jawabku singkat. “Sebagaimana darah Minang mengalir dalam tubuhku, aku ingin menjadi pengusaha,” jawabku sekenanya lagi. Berbinar mata ayahku mendengar kata-kata tersebut. Tentu ayahku senang karena anak-anaknya memiliki cita-cita yang jelas. Menurut ayahku, cita-cita yang tak jelas. SMART serasa menjawab semuanya.

Sekarang aku diambang pintu untuk memulai perjalanan mencari perwujudan cita-citaku. Tak terasa 5 tahun ditempa di kawah candradimuka SMART Ekselensia Indonesia telah kulewati segala prosesnya dengan caraku sendiri. Cita-cita yang kubanggakan dulu benar-benar telah kukubur untuk selamanya. Kini udara terasa sangat sejuk untuk kuhirup. Sebentar lagi aku akan melihat wajah bahagia orangtuaku. Yang dulu teramat sulit untuk menemukannya. Namun pada saat harinya tiba, wajah bahagia itu akan sangat mudah ditemukan. Semudah membalik telapak tangan

Ke mana sekarang?

Mengejar perwujudan cita-citaku!!!

 

Bogor, 26 Mei 2016

KAISS “Sang Penentu”

2015-07-04-22-16-37_deco-01

Oleh: Muhibuddin

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8

 

Yang namanya tugas akhir pasti selalu diidentikkan dengan skripsi atau tesis dan biasanya dilakukan oleh mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan sarjana atau masternya. Tapi kalau di SMART Ekselensia Indonesia jelas berbeda, tugas akhir  berlaku untuk para siswa kelas 5 (setara kelas 3 SMA di sekolah lain) yang akan menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas mereka di sini. Memang tak serupa skripsi atau tesis sih melainkan lebih kepada karya ilmiah yang biasa kami sebut Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS). Mungkin ini hanya karya ilmiah, tetapi harga yang harus dibayar setara dengan skripsi dan tesis, yakni kelulusan.

Sayang, tidak semua siswa menganggap serius KAISS sejak awal, ada yang masih bercanda dan santai-santai. Sedangkan siswa yang serius menganggap KAISS harus diselesaikan segera; mereka mulai mengajukan judul, bimbingan dan lain-lain. Tidak semua berjalan sesuai yang diharapkan, ada yang tidak diterima judulnya, ada yang kebingungan harus mulai dari mana, bahkan ada yang harus berganti judul di tengah jalan karena ada beberapa masalah.

Saya Muhib, salah satu siswa yang baru saja menyelesaikan hal  mengerikan di atas. Mengerikan? Ya, memang mengerikan. Untuk mengajukan judul saja banyak pertimbangan, harus ini lah harus itu lah, katanya sih kalau sudah bisa membuat KAISS nanti ketika berkuliah akan mudah membuat karya ilmiah. Saya akui memang tidak mudah menyelesaikan KAISS, banyak keterbatasan karena di sini kami berasrama dan fasilitas terbatas, oh iya juga sering tersandung karena keterbatasan dana. Ada yang menikmati dan ada juga yang terus mengeluh mengerjakan ini semua, kalau saya happy happy saja. Ketika sidang KAISS berlangsung ada yang berjalan lancar, ada juga yang melalui banyak hambatan di sana sini, tapi Alhamdulillah kalau saya termasuk yang dimudahkan.

Pesan saya untuk adik-adik kelas, ada baiknya semua yang kalian ingin teliti dikonsep dari sekarang dan jangan menunda-nunda. Kumpulkan data sebaik-baiknya, jangan hanya terpaku pada informasi daring di laman web karena referensi dari buku lebih menunjang untuk sebuah karya tulis karena dapat dipertanggungjawabkan. Satu hal yang pasti, nikmati saja semua prosesnya. Jatuh bangun ketika membuat KAISS anggap saja sebagai bumbu penyedap, kalau jatuh ya bangun lagi, tak perlu takut.

Al-Qur’an dan Mahkota Kemuliaan

IMG-20160518-WA0007

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.

(GM Sekolah Model Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, Penulis 48 Buku)

Basyir, demikian remaja asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini biasa disapa oleh guru-guru dan teman-temannya di SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI). Ahmad Basyir Najwan, demikian nama lengkap pemberian orangtuanya, adalah salah seorang siswa SMP  SMART EI yang berprestasi pada dua bidang keilmuan sekaligus. Yakni ilmu Agama dan ilmu umum. Pada bidang ilmu umum, Basyir adalah finalis Olimpiade Sains Nasional cabang IPA. Sedang, pada bidang ilmu Agama, Basyir telah memiliki hafalan Al-Qur’an di atas 20 juz.

Terkhusus untuk hafalan Al-Qur’an Basyir memang bercita-cita menjadi hafizh. Ia ingin menghafal Al-Qur’an 30 juz. Karena itulah, Basyir mengikuti program Takhasus Tahfizh di SMART EI. Ia ingin memberikan hadiah terindah untuk Ibu dan Ayahnya. Yakni, mahkota kemuliaan di surga kelak. Ia ingin memuliakan Ibu dan Ayahnya dengan hafalan Al-Qur’annya.

Basyir menyadari betapa besar jasa orangtuanya, terkhusus Ibunya. Ibunya bersimbah darah dan bertaruh nyawa saat melahirkannya. Sakitnya saat melahirkan membuat ribuan syaraf sang Ibu seolah terputus. Rasa sakit yang hanya bisa ditanggung oleh perempuan. Bahkan, laki-laki yang secara kasat mata fisiknya lebih kuat, tak akan sanggup menanggung sakitnya melahirkan.

Begitu sang anak lahir, Ibu spontanitas menyunggingkan senyumnya yang berbuncah. Seolah hilang rasa sakit itu seketika. Sang anak diciumi dengan hangat. Hari-hari selanjutnya Ibu terus melimpahi sang anak dengan kasih sayang. Disusui hingga 2 tahun. Di rawat dan dibesarkan dengan harapan sang anak kelak menjadi anak saleh yang berbakti.

Maka, sebuah kewajiban bagi anak untuk berbakti kepada Ibunya. Menjadi tempat bersandar bagi Ibunya dihari senjanya. Menjadi tumpuan harapan saat kesendiriannya. Menjadi syafaat di akhirat dengan kesalehannya. Inilah yang terukir di hati Basyir. Ia ingin Ibunya bangga memiliki anak sepertinya. Maka, hadiah terbaik yang ingin dipersembahkan itu adalah hafalan Al-Qur’an secara sempurna 30 juz.

Lahir di tengah keluarga kurang beruntung secara ekonomi tidak membuat Basyir kehilangan cita-cita. Berbekal doa dan semangat dari orangtuanya, setelah dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa SMART EI, Basyir mantap merantau ke Bogor untuk sebuah misi besar sebagai muslim. Menuntut ilmu di SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School. Sebuah sekolah jenjang SMP dan SMA yang didirikan oleh Dompet Dhuafa sebagai kontribusi nyata untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan.

Sejak berdiri 2004 hingga kini 2016, SMART EI telah meluluskan 7 angkatan dengan torehan 100% lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri. Harapannya anak-anak ini kelak bisa memutus rantai kemiskinan keluarganya. Tidak hanya itu, kelak anak-anak ini pun diharapkan bisa berkontribusi bagi umat, bagi anak-anak kurang beruntung lainnya untuk memperoleh pendidikan yang baik.

Kembali ke cerita Basyir. Ketika menginjakkan kaki di SMART dan mengawali proses pembelajaran, anak ini memang sudah terlihat kecerdasannya. Semua mata pelajaran selalu mendapat nilai bagus. Belajar bersama para guru yang berdedikasi adalah nikmat yang sangat disyukurinya. Di SMART EI pula minatnya untuk menghafal Al-Qur’an mulai tumbuh dan berbunga. Ust Syahid, guru Tahfizh, adalah orang yang selalu mengompori Basyir untuk menghafal Al-Qur’an. Guru Tahfizh yang juga Shivu Thifan Po Khan ini memang terkenal “tukang kompor” yang positif bagi murid-muridnya. Terkadang anak-anak diajak menghafal Al-Qur’an sambil berlatih jurus-jurus Thifan.

Basyir sangat menikmati proses pembelajaran Al-Qur’an di SMART EI. Tak heran perkembangan hafalannya berjalan cepat. Saat ini Basyir duduk di kelas 3 SMP SMART EI dan telah memiliki hafalan Al-Qur’an lebih dari 20 juz. Targetnya sebelum lulus SMA SMART EI, Basyir telah menyelesaikan hafalannya. Berkat hafalan Al-Qur’annya, Basyir memperoleh hadiah umroh dari sebuah bank syariah pada Desember 2015 lalu.

Teriring doa dari kami, nak. Semoga kau segera menyelesaikan hafalan Al-Qur’anmu dan menghadiahkannya untuk Ibumu, terutama untuk almarhum Ayahmu. Semoga pula sekolah ini semakin berkah dengan lahirnya para penghafal Al-Qur’an yang saleh. Semoga pula kebaikannya turut mengalir kepada guru-guru yang berdedikasi mengajarkan ilmunya di sekolah ini.

Mahasuci Allah dan segala puji hanya untuk-Nya.    

Ramadhan Berkah di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Farid Ilham.

Kelas 5 Jurusan IPA

 

DSC_0158Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, itu memang betul, ya betul karena berkahnya gak main-main. Mulai dari shalat sunat yang pahalanya seperti shalat wajib, dll. Pokoknya segala kebaikan yang dinilai Allah baik – insha Allah- pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan.

Sebagai siswa SMART Ekselensia Indonesia, saya bisa dibilang aktif karena mengikuti banyak ekstrakulikuler *pret! Salah duanya adalah nasyid dan Trashic alias Trash Music. Di bulan Ramadhan saya dan teman-teman  mendapatkan banyak berkah dari dua ekstrakulikuler tersebut. Seakan sudah menjadi kebiasaan  tim Trashic dan nasyid akan banyak orderan di bulan penuh berkah tersebut *asek. Begitupun dengan Ramadhan 1436 H kemarin, macam artis kami banyak penggilan ke sana dan ke sini.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, tapi karena kayaknya kebanyakan jadi saya tulis tiga cerita saja yang menurut saya paling berkesan di dalam dompet saya, eh hati saya maksudnya, uhuk. Yang pertama adalah cerita ketika Trashic tampil di Desa Cilincing, Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Indonesia, Bumi, Galaksi Bima Sakti. Nah kalau gak salah saat itu masih awal-awal bulan Ramadhan, saya dan teman-teman diundang oleh Remaja Masjid Sunda Kelapa untuk menghibur masyarakat dan juga tamu yang datang. Konon katanya masjid ini lekat sekali dengan sejarah Raden Fatahillah –Kalau gak salah sih-. Yang unik dari tempat kami tampil kala itu ya lingkungannya, kami tampil di pinggir laut. Semula saya pikir akan berhadapan dengan pemandangan dan aroma laut yang khas, namun saya gak nyangka ternyata baunya semerbak sekali alias bau. Sebelum tampil saya dan teman-teman sempat berkeliling dan terkejut karena mendapati air lautnya  berwarna hitam dan sampahnya bejibun. Mungkin hal itulah yang menyebabkan timbulnya bau menyengat seperti bau ikan asin bercampur sampah yang usianya ratusan tahun, Subhanallah.  Yasudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk kembali karena giliran kami tampil telah tiba, acara ini diisi oleh banyak pengisi acara, sayang penontonnya seperti tak antusias malah cenderung sepi. Semua berbeda ketika kami tampil, luar biasa, Allahu Akbar! Warga yang tadinya tak antusias mulai berdatangan, mulai dari yang imut-imut sampai yang gak imut, dari yang muda sampai yang gak muda lagi berkumpul membentuk kerumunan, bahkan kalau saya tak salah ingat ada yang naik sampai ke atap masjid untuk menonton kami. Bangganya kami. Setiap kali selesai bermain kami diminta main lagi, jadilah kami main sampai sebulan di sana, hehe bercanda. Tampil maksimal sudah, saatnya kami pulang, namun penonton seperti enggan melepas kami. Tapi mau bagaimana lagi kami harus pergi karena sudah semakin larut dan perjalanan menuju asrama masih panjang. Akhirnya kami berpamitan diiringi lagu Indonesia Raya, lah, tepuk tangan maksudnya.

Cerita kedua masih tentang Trashic. Ini cerita ketika saya dan tim Trashic manggung di Hotel Sultan, Jakarta. Kami jadi pengisi Ramadhan Fair, ada banyak kegiatan di acara tersebut seperti buka bersama. Karena hotelnya bukan hotel ecek-ecek maka hidangannya pun tidak main-main, pokoknya ntap! Karena jarang menyantap makanan sekelas itu kami jadi kalap dibuatnya, semua kami cicipi dari ujung ke ujung. Perut super kenyang, hati sangat senang. Di acara tersebut turut hadir mbak Terry Putri sebagai pembawa acara, ia makin cantik semenjak berhijab, jadi saja saya pengin foto bareng hehehehe. Setelah selesai tampil kami dibekali kue-kue yang banyak sekali, Alhamdulillah ada oleh-oleh untuk kawan-kawan di asrama.

Nah cerita ketiga ini tentang grup nasyid kami yang bernama Voicexelensia (ribet yah namanya hehe). Kala itu kami diminta untuk tampil di acara santunan anak yatim dan dhuafa yang diadakan MNC TV, kami tampil dihadapan ratusan tamu undangan termasuk kawan-kawan kami di SMART EI karena mereka semua diajak berpartisipasi. Awalnya kami hanya tampil untuk satu segmen, setelah selesai tiba-tiba seorang kru MNC TV memanggil kami dan kami diminta untuk tampil dihadapannya. Waw ternyata ia merupakan salah satu kru inti DMD Show yang tayang tiap Selasa-Kamis pukul 19.00 WIB, tak disangka kami disuruh tampil di acara DMD Show, kami senangnya luar biasa karena bisa tampil di teve. Saking senangnya sampai kami menelpon orang tua kami satu-satu hahahaha. Menurut kru yang bertugas kami harus tampil pukul 20.00 WIB, ternyata pukul 20.00 WIB acara DMD Show baru mengudara dan kami baru akan tampil pukul 22.00 WIB, sedaaaap sedap ngantuk. Sebelum tampil kami di-make up bak selebriti, lumayan akhirnya merasakan di-make up-in make up artist hehe. Ketika waktu tampil tiba kami deg-degan karena banyak sekali artis di sana, tapi kami cuek saja bahkan gak mikirin hasilnya bagaimana, yang penting tampil ketemu JuPe. Sudah hahahaha. Tapi karena tampilnya malam, kami yakin sebagian teman, keluarga, bahkan karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan pasti telah terlelap, namun tak apalah. Keesokan harinya tim Nasid Voicexlensia mendadak jadi artis di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan, ternyata ada karyawan yang merekam performa kami dan menyebarkannya, wah begini ya rasanya jadi artis hehe.

Dan Ramadhan 1436 H kemarin menjadi Ramadhan terakhir saya di SMART EI…

Selama di SMART EI pengalaman seperti ini akan selalu saya kenang, sebenarnya masih banyak pengalaman menyenangkan lainnya yang tak akan saya lupakan. Berada di sini bagaikan berada di rumah sendiri, saya dan kami semua diayomi dan disayang bagai adik sendiri. Sebentar lagi waktu saya akan berakhir, saya akan lulus dari SMART EI. Rasa sedih pasti akan saya rasakan, namun saya akan terus mengingat semua hal indah yang saya dapat selama di SMART EI.

Tahun Tahunku di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Yudi

Kelas 5 Jurusan IPA

 

10423883_1046184145445609_2216341307783267451_nAku tidak tahu apakah pemikiranku benar atau salah, aku berpikir SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah yang berbeda dengan sekolah berasrama lainnya. Layaknya Taman Mini Indonesia Indah (TMII)  yang merangkum seluruh adat dan budaya setiap provinsi di Nusantara, begitu pun SMART Ekselensia Indonesia. SMART EI adalah miniatur Indonesia yang merangkum ratusan kepribadian serta bermacam cara pandang. Selama lima tahun menjalani masa-masa indah di kampus biru SMART Ekselensia Indonesia banyak pengalaman yang kudapatkan.

Teringat  pada tahun pertama, aku hanyalah seorang bocah yang duduk memikirkan rumah. Mungkin aku akan terus dalam posisi itu apabila seorang Bali tak menyapaku, ia mengajakku berkenalan dengan yang lainnya. Yap itulah pelajaran pertamaku dari anak Bali yang kutemui di hari pertama. Darinya aku belajar bahwa teman itu dicari, didatangi, tak ada orang yang tertarik dengan si pendiam yang membosankan. Di tahun pertama juga aku belajar caranya waspada, terutama waspada ketika bermain bola. Terdengar aneh sih tapi tak mengapa hehe. Pertama kali bermain bola di SMART EI, aku langsung mendapatkan pengalaman tak mengenakkan, tendangan kakak kelas yang super kencang mengenai perutku dan membuatku perutku nyeri. Lalu pernah juga gawang setinggi dua meter menimpa kakiku, mau tahu rasanya? Sakiiit, sakitnya lebih sakit dari sakit hati hahaha. Di tahun yang sama aku akhirnya merasakan hukuman karena aku melanggar aturan, aku dihukum karena aku meladeni seorang lelaki kelahiran Padang yang mudah naik darah dan mudah tersulut amarahnya, namun dari situ aku belajar banyak terutama belajar meladeni orang lain dengan melihat kepribadian mereka.

“Ceritanya di tahun pertama saja nih?” Tentu saja tidak, di tahun kedua bahkan aku belajar lebih banyak lagi di SMART EI.  Sebut saja ia “kesabaran”, aku jadi teringat ketika tak sengaja aku menendang seorang teman yang hendak mengikuti lomba, lagi-lagi aku kena hukum dan membuat temanku kesusahan, kesabaranku diuji karena musibah seperti tak ada habisnya menerpaku.  Belum selesai dengan itu semua sekarang tiba masa di mana aku mulai bosan dengan yang namanya belajar, sehingga nilai-nilaiku buruk di semester pertama. Seperti itulah kehidupan tahun keduaku.

Di tahun ketiga aku dikejutkan dengan banyak hal, salah satunya ketika keunggulan semua siswa SMART EI diuji, di akhir tahun kami harus menghadapi UKK dan UN dan kami harus mengulang materi SMP lalu kembali memperkuat materi kelas 1 SMA, tentu saja tidak mudah, apalagi bagiku yang saat itu sedang bosan. Bahkan nih di semester pertama aku menempati peringkat bawah kelas, fuh mau tak mau aku harus berusaha lagi.  Di akhir tahun nilai UN ku ternyata kurang bagus bahkan bisa dibilang buruk, namun nilai raporku menempati 5 besar di kelas.

Hingga akhirnya tiba di tahun keempat, aku mengikuti tiga organisasi sekaligus saat itu. Dengan berorganisasi banyak hal kudapat, salah banyaknya organisasi mengajarkanku tentang  bagaimana harus –makin- bersabar menghadapi ketidakpatuhan adik kelas dan menghadapi ego kakak kelas di organisasi, memutar otak mencari solusi agar organisasi tetap berjalan baik tanpa masalah, bermusyawarah untuk mufakat, dan memutuskan hal sulit yang kadang dianggap mudah. Selain itu organisasi mengajarkanku membuat acara yang tadinya terlihat musathil menjadi nyata dan prosesnya sungguh menyenangkan, di sinilah hidup terasa benar-benar hidup. Tahun keempatku melelahkan, tapi juga menyenangkan. Mungkin ini tahun terbaik untukku. Mungkin.

Namun diantara semua tahun yang aku jalani di SMART EI, tahun kelima merupakan tahun yang paling melelahkan. Aku dan teman-temanku harus rela meninggalkan organisasi yang kami bina, harus rela meminimalisasi kegiatan yang kurang bermanfaat karena kami harus fokus pada Ujian Nasional (UN), SNMPTN, dan SBMPTN. Hari-hariku dipenuhi dengan belajar, belajar, bimbingan, belajar, bimbingan. Agak monoton dan sedikit membosankan, tapi aku harus melakukannya demi masa depan yang lebih baik. Di tahun kelima ini aku belajar bagaimana belajar bersabar pada level yang lebih tinggi lagi. Lima tahun di SMART EI sungguh merubahku menjadi pribadi yang lebih baik, dan tak terasa ini adalah tahun terakhirku, waktuku di sini tinggal sebentar lagi. Sedih? Jelas namun aku juga harus terus maju.

Buatku SMART EI bukan sekadar hanya sekolah, pulang ke asrama, tidur, makan, shalat. Bahkan di sini akan ada waktu ketika kami tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan bahkan tidak kembali ke asrama dari sekolah yang hanya berjarak sangat dekat. Namun semua kenangan di SMART EI tak akan pernah aku lupakan. Semua kebahagiaan, kesedihan, kebersamaan, persaudaraan, bahkan rasa kesal akan tetap kusimpan sampai kapan pun. Setiap tahun di sini mengandung makna dan pelajaran yang kelak akan berguna saat aku pergi meninggalkan kampus tercinta ini.

 

11 Mei 2016

Pusing memikirkan SBMPTN, doakan aku ya

Saya dan SMART Ekselensia Indonesia

WhatsApp-Image-20160513(1)

Oleh: Muhamad Reza Alamsyah,

Angkatan 7, saat ini berkuliah di Unpad jurusan Bahasa dan Sastra Inggris

 

”Friendship is not something you learn in SCHOOL. But if you haven’t learned the meaning of FRIENDSHIP, you really haven’t learned anything.”
Muhammad Ali

Kalimat pembuka yang sangat sok-sokan ya hmm. Biarkan terlebih dahulu saya bercerita sedikit mengenai siapa saya sebenarnya. Nama lengkap saya Muhamad Reza Alamsyah, angkatan 7 SMART Ekselensia Indonesia (kami mengidentitaskan diri sebagai INDIERS), berhasil lulus dengan selamat pada tahun 2015, dan sekarang berkuliah di Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Iya, memang belum lama.

Rasanya baru kemarin saya berangkat meninggalkan Makassar, kota kelahiran saya, dengan berat hati sambil membawa tekad kuat untuk mencapai sukses. Sangat klise memang, tapi begitu manis, apalagi untuk seorang anak yang baru memasuki usia 12 tahun pada saat itu.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di SMART Ekselensia Indonesia dan mengetahui saya akan berada di sini selama lima tahun ke depan yang tentu bukan waktu yang singkat, saya langsung diserang rasa takut dan sedih secara bersamaan sehingga berkeinginan kuat untuk berhenti melangkah dan lebih baik pulang saja ke Makassar. Tapi, ya tentu ada tapinya, setelah beberapa bulan merasakan atmosfer yang betu-betul sebuah hal baru bagi saya, kesadaran bahwa saya tidak akan sendiri melangkah dan mengingat betapa banyaknya orang di kampung saya, khusunya keluarga, yang mengharapkan masa depan yang cerah bagi saya, keputusan untuk menetap sambil melanjutkan perjuangan akhirnya bulat.

Saya dipertemukan dengan anak-anak yang Subhanallah dalam banyak hal. Melakukan banyak kegiatan bersama membuat saya tidak ada keraguan untuk menganggap mereka sebagai sahabat atau mungkin lebih jauh, sebagai saudara baru, yang akhirnya dipertemukan di sekolah ini.

Masih amat jelas melekat mengenai begitu banyaknya kisah yang kami alami bersama. Kami pernah menundukkan kepala sambil menggerutu dalam hati ketika dihukum massal oleh Anggota KOPASSUS atas kesalahan kami yang katanya menjadi contoh buruk bagi adik kelas kami. Pernah juga menangis jika mengingat atau diingatkan mengenai keluarga yang jauh di sana oleh ustad atau ustadzah kami yang entah sengaja atau tidak, dan juga tertawa puas atas lelucon-lelucon lama yang sebenarnya tidak terlalu lucu tapi entah bagimana jadi lucu dan segar kembali untuk dibahas. Berkelana ke berbagai tempat yang dulunya hanya bisa kami saksikan melalui layar kaca dan mengagumi indahnya dari sana. Pulang balik sekolah-asrama setiap hari, bertemu orang-orang yang sama, tempat-tempat yang tak ada ubahnya dengan hari kemarin, kegiatan yang itu-itu saja, tapi cerita di setiap harinya, yang pasti berbeda, PASTI.

Kami melalui semua hal selama lima tahun di SMART Ekselensia bersama-bersama, hingga akhirnya wisuda hadir dan mengubah segalanya. Momen penanda akhir perjuangan kami di sekolah yang penuh cerita dan kenangan indah, yang paling kami nanti-nantikan di awal perjuangan, tapi menjadi salah satu yang paling menyedihkan yang pernah kami alami, setidaknya saya pribadi. Wisuda menyadarkan kami, bahwa lima tahun bukanlah waktu yang sangat lama, bahwa kita akan hidup sendiri-sendiri dan tak lagi bersama, bahwa semua yang pernah kami lakukan akan tinggal menjadi cerita, bahwa tak akan ada lagi dihukum bersama, isak tangis menggemuruh, atau lelucon basi yang menjadi segar. Kami dihadapkan pada realitas bahwa berkumpul bersama kelak tidak semudah biasanya, harus menyesuaikan waktu kosong, tidak ada lagi teman sekamar yang akan terganggu atas kikikan tawa puas teman lainnya, dan harus keluar untuk menghadapi hidup sesungguhnya.

Mereka menjadi alasan kedua saya setelah keluarga di rumah atas bertahannya saya di SMART Ekselensia Indonesia hingga akhir dan tentu saya berkewajiban berterima kasih kepada mereka atas semangat dan dukungan itu. Kelak, ketika saya telah mencapai sukses yang saya definisikan dan hidup dengan keluarga baru, saya akan mengajak anak-anak dan istri-istri, eh, istri, saya ke SMART Ekselensia Indonesia. Menunjuk dengan bangga ke arah sekolah yang megah itu, sambil berkata, “ Di sana, di setiap sudutnya, ada cerita menarik yang terpendam, tentang orang-orang jauh yang disatukan, serta menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang pernah lemah namun bangkit tak kenal lelah.”

Memang ada benarnya kata-kata petinju tenar di atas, pertemanan bukan hal yang kita pelajari di sekolah bersama matematika dan sebagainya, tapi kalau kita tidak mempelajari arti pertemanan, kita sungguh tidak belajar apa-apa. Terima kasih SMART, terima kasih INDIERS.

 

Sincerely,

-Calon Duta Besar Indonesia untuk Inggris

 

Hakikat Haru Perpisahan

Oleh: Kabul Hidayatulloh.

Kelas 11 IPS Angkatan 8

 

Saat kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 1436, entri kedua, yang akan kita jumpai adalah kata ‘Temu’ sebagai kata dasar ‘Pertemuan’. Sedangkan, saat kita mencari kata ‘Pertemuan’ di dalam kamus, antonimnya tentulah akan didapati kata ‘Perpisahan’.

Tentu saja semua yang di dunia mempunyai sisi berkebalikan. Ada pertemuan, tentu ada perpisahan, dan diantara keduanya pasti ada perasaan bahagia dan sedih.

Begitu pun  dalam masa perjuangan di SMART EI. Begitu banyak kata pertemuan yang kemudian diiringi dengan perpisahan. Mulai dari pertemuan dengan pengajar maupun dengan kawan seperjuangan. Hanya saja, rasanya ada sebuah variabel tetap ketika perpisahan kembali muncul, haru dan sedih. Baik pada pihak yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan. Atau dua-duanya.

Sebagai contoh dalam setiap momen prosesi perpisahan kelas akhir akan ada banyak hujan air mata –atau bahkan badai- karena suasana haru yang begitu menusuk. Entah karena kami (adik kelas atau guru) merasa sedih akan ditinggal, atau wisudawan yang tak sepenuhnya rela meninggalkan kampus penuh cinta berisi kenangan selama 5 tahun.

Tak hanya prosesi wisuda kelulusan, tetapi  juga pada perpisahan-perpisahan yang lainnya. Seperti misalnya ketika seorang guru harus meninggalkan SMART EI. Masih teringat sekali saat seorang ustadz (panggilan kami untuk guru lelaki) tiba-tiba berpamitan di masjid setelah Shalat Ashar. Bisa dibilang sang ustadz tidak terlalu dekat dengan kami semua, kebersamaan dengan beliau selama di SMART EI pun bisa dihitung bulan, akan tetapi entah kenapa saat menyampaikan permintaan maaf sebagai bentuk perpisahan matanya terlihat bekaca-kaca, seperti menahan keharuan. Momen yang tidak biasa kalau menurut saya. Ketika saya hampiri di kelas, di wajahnya jelas terlihat rasa berat hati meninggalkan SMART EI.

Lain halnya dengan seorang ustadzah yang sudah lebih dari 4 tahun mengajar di SMART EI. Saat itu kami tengah melaksanakan apel pagi, setelah selesai beliau berpamitan pada kami semua, menyatakan kepindahannya.  Suasana  seketika hening, kesedihan membawa kesunyian yang mengalahkan panasnya terik matahari pagi itu. Semua terdiam melihat beliau mematung di hadapan kami seperti kehilangan kata-kata.  Lalu beliau tersenyum, di kejauhan kami bisa melihat butiran air mata membasahi pipinya. Suasana semakin sendu, kami membeku penuh haru.

Entahlah hal apa yang memberatkan langkah serta hati mereka ketika meninggalkan SMART EI. Entah faktor apa yang membuat seorang ustadz yang tabu jika terlihat sedih, seketika berkaca-kaca meninggalkan kami. Entah hal apa yang menjadikan seorang ustadzah yang selalu terlihat tegar seketika membeku, perbendaharaan katanya mendadak hilang ketika berpamitan pada kami. Hal tersebut tak terjadi sekali dua kali, namun seperti menjadi tradisi ketika ada yang meninggalkan SMART EI.

Analisis saya, mungkin interaksi sehari-hari di SMART EI menumbuhkan rasa cinta yang mendalam bagi orang yang berada di dalamnya. Walaupun sepertinya selama masih “resmi” menjadi keluarga SMART EI rasa cinta itu belum terlalu terasa, malah mungkin yang ada hanyalah rasa kesal dan jengkel. Namun mungkin itulah lika likunya. Saya menerka, mereka yang pergi meninggalkan SMART EI  merasakan sesuatu yang amat abstrak bernama cinta (atau mungkin faktor lainnya selama berada di sini). Perasaan yang selama ini hanya dapat saya terka-terka nampaknya mulai muncul kebenarannya, di penghujung masa perjuangan ini seakan-akan terhampar semua kenangan penuh cinta di SMART EI. Ada rasa entah apa namanya yang membuat hati terasa sulit menerimanya dan membuat sesak dada.

5 tahun adalah waktu yang lama, tetapi terasa sangat sebentar saat berada di ujung jalan seperti ini.

Setahun yang lalu ketika wisuda kakak kelas Angkatan 7, salah seorang pegawai Dompet Dhuafa Pendidikan ikut bersedih melihat kelulusan mereka, padahal ia baru beberapa bulan saja di sini. Ternyata hari itu akan datang juga pada saya, sebentar lagi saya akan lulus dan meninggalkan SMART EI. Sang pegawai yang dulu bersedih ketika melihat Angkatan 7 diwisuda, sekarang selalu terlihat berkaca-kaca ketika kami, Angkatan 8, ribut membicarakan wisuda dan kelulusan. Waktu cepat sekali berlalu. Dan memang berat mengakuinya.

Bagaimanapun juga ini semua adalah ketentuan Sang Maha. Ada pertemuan tentulah ada perpisahan. Saya jadi teringat, dulu ada seorang ustadz yang mengajar hanya 90 hari, namun ia berlinang air mata saat berpamitan. Ia berpesan: “Pertemuan dan perjumpaan adalah kehendak-Nya, kalaupun rasa kasih sayang telah tumbuh bukan hal yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan kembali”.

 

Parung, 01 Mei 2016

Kala hujan dan kala mempersiapkan diri menghadapi try out SBMPTN di sekolah.